Enterprischool (Chapter 10)

Title : Enterpischool
Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang
Sub cast : find by yourself
Genre : GXG
Author : N
.
.
.
.
.

Musim telah berganti empat kali. Selama itu pula Taeyeon dan Tiffany tidak berjumpa. Taeyeon bagaikan hilang ditelan bumi. Bahkan sahabatnya pun tidak tahu dimana Taeyeon persisnya. Yang mereka tahu, Taeyeon berada di China. Selama itu pula Tiffany mencoba melupakan kejadian yang lalu dan tetap melanjutkan hidup seperti biasanya. Seperti sebelum dia bertemu dengan Taeyeon. Lagipula dia memiliki orang-orang terdekat yang selalu men-supportnya. Berterimakasihlah kepada Daddy nya, Jun, Seohyun, dan Yoona. Kini Tiffany telah melanjutkan sekolahnya. Berkat Jessica, gadis itu bisa bersekolah lagi dan sekarang memasuki tahun ketiga. Yang mengherankan, ketiga sahabatnya juga ikut pindah sekolah yang sama dengan Tiffany. Mereka bilang tidak akan seru dan lengkap jika salah satu berpencar. Maka dari itu, demi kekompakkan persahabatan mereka, jadilah mereka berempat bersama di satu sekolahan yang sama.
“Unnie, sudah kubilang berhenti memakan junkfood!” protes Seohyun.
Mereka berempat kini tengah berkumpul bersama di rumah Yoona. Gadis rusa bilang dia memiliki film baru dan mengajak sahabat-sahabatnya untuk menonton bersama.
Tiffany pura-pura mengabaikan ucapan Seohyun dan terus memakan potongan pizza nya.
“Hyunie, ini enak. Tidak ada yang bisa menolak makanan lezat seperti ini.” ujar Jun.
“Ada! Dan itu aku. Junkfood tidak sehat. Mereka bisa membunuhmu.” seru Seohyun tak terima.
“Diamlah, hyunie. Kau mau kumasukkan potongan pizza itu, huh? Kau mau kau mau?” Yoona mengambil pizza dan menyodorkannya di depan mulut Seohyun.
“Ya Im Yoona! Singkirkan itu. Ya ya ya ya!” teriak Seohyun.
Tiffany dan Jun tertawa melihat pemandangan di depan mereka. Dari dulu sampai sekarang kelakuan sahabatnya tidak pernah berubah.
“Yedeura, sebentar lagi libur musim panas. Kalian tidak ada rencana?” Jun memotong perkelahian kecil Yoonhyun.
“Ah matta! Libur musim panas! Yeay holidaaayyy! Ho- ho- holiday ho- ho- holiday hiiiiiii~” Yoona menari-nari dork seraya bernyanyi lagu favoritnya.
“Yaish berhenti dork! So, bagaimana dengan liburan bersama?” usul Jun.
“Tidak terlalu buruk. Aku juga ingin mencoba sesuatu yang baru. Bagaimana denganmu, Unnie?” tanya Seohyun pada Tiffany.
“Luar negeri?” tanya Tiffany. Mata mereka memandang satu sama lain bergantian. Mereka tersenyum.
“Call!”
***
Dua gadis berparas cantik dan bersinar bak model ataupun idol tengah duduk bersama di sofa yang tersedia di lobby sebuah perusahaan ternama. Mereka menengokkan kepalanya kesana kemari, berharap melihat seseorang yang mereka cari. Gadis berambut hitam berdiri saat melihat orang yang mereka cari.
“Itu.” ucapnya menggunakan bahasa China. Temannya yang duduk disampingnya ikut berdiri dan mereka langsung berjalan cepat ke arah orang tersebut.
“Permisi, Nona Kim.” ucap mereka berdua bersamaan.
Yang dipanggil Nona Kim menoleh. Dia mengerutkan keningnya melihat dua gadis di depannya.
“Saya Ms. Zhou dan teman saya Ms. Cheng. Anda menghubungi kami kemarin.”
Nona Kim berpikir sejenak, kemudian tersadar. “Ah benar. Ms. Zhou dan Ms. Cheng. Hampir saya lupa. Mengapa tidak menghubungiku kalau kalian datang kemari?”
“Maaf tetapi nomor ponsel anda tidak bisa dihubungi, dan resepsionis disana bilang anda sedang pergi keluar.” jawab gadis yang lebih pendek.
“Ah begitu. Maafkan saya, ponsel saya lowbat tadi. Mari, silakan ikut saya keruangan saya.” Nona Kim mempersilakan keduanya untuk mengikutinya, berjalan menuju ke ruangannya di lantai 15.
“Jadi Ms. Zhou dan Ms. Cheng.. tunggu-.. kalian berdua bisa berbahasa Korea, bukan?” tanya Nona Kim.
Kedua gadis di depannya terkekeh pelan. “Dayeonghaji, sajangnim.”
“Ah baguslah. Aku sedikit kurang nyaman jika berbicara menggunakan bahasa China.”
“Bahasa China anda bagus, Nona Kim. Pengucapannya juga.” puji gadis berambut hitam.
“Ah jinjjayo? Gamsahabnida Ms. Zhou.”
“Cheonmaneyo, sajangnim. Hmm, soal kemarin.. ada maksud apa anda menghubungi kami?”
Nona Kim menghela napas dan tersenyum. “Aku butuh bantuan kalian. Aku tahu kalian orang yang bisa diandalkan untuk masalah ini.”
***
Bunyi bola yang beradu dengan lantai menjadi suara satu-satunya di gedung olahraga. Hanya ada satu orang disana yang tengah memainkan bola basket. Peluh tak menghalangi orang tersebut untuk tetap melakulan dribble dan shooting.
“Yass gotcha!” teriak orang itu saat shooting nya berhasil masuk kedalam ring.
Dia mengambil bola tersebut dan memainkannya lagi.
“Hentikan, Hyo.” Itu suara Hyejin.
Hyoyeon tak menghiraukan ucapan Hyejin dan terus berlari kemudian melompat untuk memasukkan bola kedalam ring.
Masuk!
Hyoyeon membaringkan tubuhnya di lantai.
“Aaaaaaaaaargh!”
Hyejin mendekati Hyoyeon dan duduk disampingnya. Gadis itu menyerahkan botol mineral pada sahabatnya. Hyoyeon bangkit dan mengambil botol tersebut dan membukanya kemudian meminumnya dengan cepat.
“Dia bodoh.” ucapnya setelah meminum air mineral. Pandangannya lurus kedepan.
Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya kedepan. “Yeah, dan dia tidak menyadari kebodohannya.”
“Kau masih menyukainya?” tanya Hyoyeon seraya menatap Hyejin.
Hyejin menghela napasnya. “Jogeum.”
Kali ini giliran Hyoyeon yang menghela napas. “Dia brengsek. Kau tidak pantas mencintainya.”
“Biarpun begitu.. tetap saja.. dia saudarimu.” balas Hyejin lirih di akhir kalimat.
“Kau tidak boleh mengatainya.” Hyejin menoleh dan menatap manik Hyoyeon.
Hyoyeon menggeleng. “Aku belum bisa melupakan kejadian yang lalu, Jin-ah.”
“Kim Hyoyeon! Sudah berapa kali kubilang, cobalah memaafkannya. Dia tidak tahu siapa kau sebelumnya. Kumohon mengertilah.”
“Dia yang seharusnya mengertiku, Jin-ah. Aku yang pertama kali ditinggal olehnya! Dan disaat pertama kami bertemu dia memandangku seolah-olah aku hewan yang bisa dipermainkannya! Dia melukaiku terlalu banyak. Bukannya meminta maaf padaku waktu itu, dia malah diam seperti orang idiot! Aku membencinya! Kalau boleh memilih aku lebih baik tidak memiliki saudari selamanya daripada memiliki saudari sepertinya!” Hyoyeon menumpahkan semuanya saat itu. Dia sudah tidak bisa menahannya. Hyoyeon menangis, dia menangis terisak.
Hyejin tahu sahabatnya adalah orang yang kuat. Dia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya di depan orang, pengecualian untuk saat ini.
Hyejin menepuk pelan punggung Hyoyeon dan menenangkannya. Hyejin tersenyum, dia akhirnya paham mengenai satu hal.

Hyoyeon menangis dan menumpahkan semuanya karena dia tidak bisa lagi menahan kemarahannya..

Pada diri sendiri.

Hyoyeon marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa membenci saudarinya meski dirinya ingin sekali membencinya.

Dia tidak benar-benar membenci Kim Taeyeon.

***

“Syoo, hentikan!”
Yuri menatap sahabatnya dengan jijik.
“Hentikan apa?” tanya Sooyoung malas dan terus memainkan permen karet dimulutnya dengan jarinya. Menarik-nariknya seperti karet.
Yuri menghela napasnya. Dia kemudian meraih jaket kulitnya dan bersiap-siap keluar.
“Ya ya ya ya okay! Aku berhenti.” ucap Sooyoung. Dia kemudian membuang permen karetnya di tempat sampah dan membersihkan tangannya di wastafel.
“Duduklah kembali.” pinta Sooyoung.
Yuri memutar bola matanya malas. Tanpa banyak bicara gadis tan duduk kembali di sofa.
“Ada masalah apa kau memanggilku kemari?” tanya Yuri to the point.
Sooyoung berdecak. “Jangan bersikap sok sibuk, Kwon. Lagipula apa salahnya mengundang sahabatku sendiri kemari. Kau sudah jarang bermain di apartemenku.”
“Apa maksudmu dengan kata bermain di apartemenmu, ha?” tanya Yuri dengan memicingkan matanya.
Sooyoung memutar bola matanya malas. “Aku masih normal, dude. Tolong singkirkan otak pervert mu itu.”
Yuri tertawa. “Hahaha aku bercanda, syoung. Dan mian aku jarang kemari lagi. Kau sendiri tahu kau dan aku sama-sama sibuk mengurusi perusahaan kita. Ditambah dengan perginya cebol satu itu.”
“I know I know. Maka dari itu aku mengajakmu kemari. Kita lupakan sejenak masalah perusahaan dan bersenang-senang.”
Sooyoung berdiri dan berjalan menuju pantry. Dia membuka lemari es dan mengambil beberapa botol soju dan gelasnya. Dia juga membawa beberapa makanan ringan.
“Jjaaa~ pesta soju…”
Sooyoung menaruh soju dan makanan ringan tersebut di meja.
“Aku tahu bukan hanya ini kau mengundangku kemari. Katakan padaku..” Yuri menatap Sooyoung dengan serius.
Sooyoung tersenyum pelan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah soju di depannya. Gadis itu mengambil satu botol soju dan membukanya. Kemudian menuangkan isi soju tersebut ke gelas milik Yuri dan miliknya.
“Kita bicarakan itu sambil minum.” jawab Sooyoung.
Yuri meraih gelas didepannya dan langsung meminumnya dengan sekali shot. Sooyoung terkesan dan menaikkan bibirnya kemudian menggeleng. Gadis itu tak mau kalah, dia juga meminum sojunya dengan sekali shot.
“Aaaaahhh. Mashitta.” ungkap Sooyoung setelah selesai meminum sojunya.
“Apa ini berhubungan dengan Taeyeon?” Yuri bertanya, membuat Sooyoung menghentikan gerakan tangannya yang ingin menuangkan soju ke gelasnya.
Sooyoung tersenyum kecut. Dia menuangkan soju ke gelasnya, lalu ke gelas Yuri lagi.
“Bisa jadi.” jawabnya kemudian mulai meminum soju nya lagi.
Yuri ikut meminum sojunya. Dengan sekali shot tentunya.
“Aaah bedebah gila itu…” umpat Sooyoung. Gadis itu menuangkan soju ke gelasnya lagi. Tak lupa menuangkannya ke gelas Yuri.
“Wae? Ini sudah terhitung satu tahun. Apa ka-…”
“Aku tahu dia berada dimana.” potong Sooyoung cepat.
Yuri tersedak sojunya. Dia tahu itu sangat perih di tenggorokannya. Namun rasa terkejut dan penasarannya lebih besar.
“Neo jangnan ani?” tanya Yuri.
Sooyoung menatap Yuri sejenak. Kemudian mengalihkan pandangannya. Gadis tinggi itu menenggak sojunya lagi.
“Dia ada di Zhejiang, China. Bahkan aku tahu apartemennya.” Sooyoung tertawa kecil. “Geu saekkya..”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Yuri. Masih tak percaya.
Sooyoung menatap Yuri dan tersenyum, senyum yang sulit diartikan.
***
Jessica bolak-balik berjalan di apartemennya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Dia berjalan ke sofa dan hendak mengambil ponselnya, namun dia urungkan. Gadis brownie menggigit jarinya dan berpikir keras. Dia akan mengambil ponselnya lagi namun kembali diurungkan.
“Aaaaaargh aku bisa gila!”
Pada akhirnya gadis dingin itu merebahkan dirinya di sofa dan memijit pelipisnya. Sudah satu tahun berlalu semenjak Taeyeon pergi. Perasaan bersalah itu kembali menghantuinya lagi. Dia menyesal menjadi penyebab semua ini. Kalau bukan karena-…
Lupakan!
Jessica beranjak dan berjalan menuju wastafel. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin. Berharap pikirannya juga kembali dingin.
Nafas Jessica terengah. Dia berhenti membasuh wajahnya dan menatap lurus kedepan.
“Taeyeon-ah, aku harus bagaimana?”
Jessica menutup kran dan meluruhkan tubuhnya kebawah. Dia memejamkan matanya. Dibawah sana, tangannya terkepal kuat.
Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan kepada Taeyeon apa yang sebenarnya terjadi. Dia pikir ini adalah waktu yang tepat. Sudah setahun, dan semua berjalan baik-baik saja. Namun dia takut jika dia mengatakan semuanya pada Taeyeon, hal itu justru malah membuat semuanya semakin rumit. Dia tidak mau itu terjadi.
Setiap malam Jessica terus-terusan disergap rasa bersalah. Dia tahu siapa culprit yang menyebabkan hancurnya hubungan Taeyeon dan Tiffany. Dia tahu semua itu, namun dia tidak bisa mengatakannya. Orang itu bisa saja melakukan segalanya. Dia tidak bisa melihat orang-orang yang disayanginya terluka.
“Aku harus bagaimana?” tanyanya pada dirinya sendiri.

TBC

Sorry for long update T.T
Gua sibuk guys tau lah murid kelas duabelas gmna. Maapin. Ini aja lagi libur tak sempetin nulis. Gw mohon pengertiannya ya. Part selanjutnya gw gatau mau diupdate kapan, kalo luang gw bakal nulis dan post klo ga ya brati kaga :v
Okay komen juseyo~

P.s : gua gak sempet ngedit ‘-‘

Advertisements

At Least.. We Still Exist

Taeyeon sampai di dorm ketika sudah larut, tapi dia mendengar suara tawa dari dalam sesaat setelah ia membuka pintu. Taeyeon melepas sepatunya dan menggantinya dengan slipper. Kemudian berjalan memasuki dorm. Dia lalu melihat Yuri dan Yoona tengah tertawa terbahak-bahak di ruang tengah. Taeyeon menaikkan alisnya sebelum mendekati keduanya.

“Apa ada hal lucu?” tanya Taeyeon seraya melepas hoodie nya.

Yoona mengusap sudut matanya yang berair dengan masih sedikit tertawa. Sedangkan Yuri terus memegangi perutnya selagi tawanya masih terdengar nyaring.

“Ya Unnie geumanhae.. bwahahaha~” Yoona tak kuasa menahan tawanya lagi melihat Yuri yang terus tertawa.

Taeyeon memutar bola matanya.

“Yedeura geumanhae.” seru Taeyeon.

Yuri menarik nafasnya dan menahan tawanya yang akan keluar lagi. “Puuufh~ kau akan tertawa saat melihat ini, Taeng.”

Yuri membuka ponselnya yang sedari tadi ia pegang dan menyerahkannya pada Taeyeon. Sang leader menerimanya dan mulai melihat apa yang Yuri tunjukkan. Detik kemudian tawanya pecah. Yoona dan Yuri yang mulai berhenti kembali tertawa melihat leader mereka tertawa.

“Kubilang juga apa, Taeyeon-ah.” ucap Yuri disela tawanya.

Didalam ponsel Yuri, terdapat video Hyoyeon yang tengah berbicara bahasa alien disaat tertidur. Disaat Yoona atau Yuri bertanya pada Hyoyeon, gadis itu dengan tak diduga menjawab pertanyaan mereka. Jelas saja hal itu mengundang tawa. Apalagi jawaban Hyoyeon menggunakan bahasa slang dengan logat yang lucu. Taeyeon tebak hal itu terjadi tak lama tadi sebelum dia kembali ke dorm.

Mereka bertiga masih tertawa berjamaah. Tak peduli hari telah larut dan tawa mereka sampai terdengar diluar.

“Aigoo, geumanhae geumanhae.. ahahaha..”

“Nyumnyungnyuumnyuuung aaiiuuung ahuhaauh~” Yoona menirukan suara Hyoyeon di video dan membangkitkan tawa mereka lagi.

“Dia sangat lucu hahaha~”

“Aaah perutku sakit, Unnie.” Yoona memegangi perutnya.

Setelah beberapa saat, ketiganya mulai berhenti.

“Kau darimana, leader?” tanya Yuri yang sudah kembali ke mode normal.

“Hanya berkeliling mencari udara segar. Eoh, apa Sunkyu belum pulang?”

Yuri menggeleng. “Tapi sebentar lagi dia pasti pulang. Ini sudah jam sebelas lebih.”

Taeyeon mengangguk.

“Eo, apa yang ada didalam situ, Unnie?” tanya Yoona yang menyadari sesuatu ditangan Taeyeon.

Taeyeon menurunkan pandangannya pada plastik yang tengah dibawanya. “Ah, ini patbingsoo dan kimbap. Kupikir kalian belum tertidur dan ingin memakan sesuatu. Beruntung tebakanku benar.”

Mata Yoona berbinar. Dia segera mengambil plastik ditangan Taeyeon dan membukanya. Gadis rusa menjilat bibirnya.

“Gomawoyoongg Unnieee~” aegyeo Yoona yang segera dibalas wajah merinding oleh Taeyeon. Dia merasa terganggu dengan aegyeo Yoona.

“Ga makanlah.”

Mereka berdua mulai memakan patbingsoo dan kimbap dengan lahap. Terutama Yoona. Mulut gadis rusa tak pernah absen untuk terus terisi.

“Kau tak makan, leader?” tanya Yuri. “Apa perlu ku suapi?” lanjutnya.

Taeyeon menggeleng. “Aeeesh tak usah. Aku sudah memakannya disana tadi.”

“Aku pulaaang~”

Mereka bertiga mendengar suara seperti anak kecil yang berasal dari pintu dorm. Tak lama kemudian, Sunny muncul dengan membawa kantung plastik ditangannya.

“Aah beruntung kalian belum tertidur. Aku membawa buah untuk kalian.” Sunny bergabung bersama mereka dan meletakkan kantung plastik di meja dan membukanya.

“Waaa rezeki gadis cantik~” ujar Yoona dramatis.

“Dimana Hyoyeon?” tanya Sunny seraya mengambil sepotong kimbap dan memakannya.

“Dia sudah tertidur. Apa perlu aku membangunkannya?” tanya Taeyeon.

“Tak usah. Biar dia kenyang makan di dunia mimpi saja.” balas Yuri.

“Ya kedelai hitam! Dia juga member kita, kau tahu!” Sunny melempar biji semangka ke arah Yuri yang langsung menempel di bawah matanya.

Yoona tertawa melihat Yuri. “Kau mengingatkanku pada Chaeso, Unnie.”

“Aah ne matta matta. Tiffany tak bisa memasukkan satu biji pun waktu itu.” timpal Yuri dan mereka pun tertawa.

Taeyeon hanya tersenyum pelan dan memakan jeruk nya dengan diam.

Setelah si kembar berhenti tertawa, mereka menghela nafasnya bebarengan. “Kalau saja babi pink itu masih disini.” ujar Yuri dengan nada sedih.

“Aeey kedelai hitam, berhenti menunjukkan wajah memelas seperti itu. Menjijikan.” Sunny yang merasa atmosfer diantara mereka berubah segera menggantinya.

“Kupikir Sunny Unnie benar, Yul Unnie. Wajahmu begitu menjijikan saat ini.” tambah Yoona yang langsung dihadiahi silau tajam dari Yuri.

“Aku setuju.” timpal Taeyeon.

Yuri mempoutkan bibirnya dan merengek seperti anak kecil.

“Ingat umurmu, kedelai hitam!” Sunny menjitak kepala Yuri.

Taeyeon dan Yoona tertawa melihat kedua member mereka yang seperti anjing dan kucing.

“Bagus sekali berkumpul tanpaku, hm?”

Mereka berempat menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Hyoyeon yang tengah berkacak pinggang.

“Kemarilah, Hyo.” ucap Taeyeon dengan menepuk tempat disampingnya.

Hyoyeon mendekati mereka dan mulai duduj disamping Taeyeon. Gadis itu mengambil patbingsoo di meja dan memakannya dengan malas. Dia masih kesal karena member tak membangunkannya dan mengajaknya.

“Aah aku merindukan saat-saat seperti ini~” Taeyeon meregangkan tangannya dan menatap membernya satu-persatu.

Mereka semua mengangguk mengiyakan ucapan Taeyeon. Sudah sangat lama semenjak mereka berkumpul bersama ditengah jadwal individu mereka. Apalagi ditambah ketiga member mereka yang memilih meninggalkan agensi. Rasanya mendapat waktu berkumpul berdelapan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Namun Taeyeon bersyukur masih bisa berkumpul dengan member yang tersisa seperti saat ini.

“Aku merindukan Pany Unnie, Syoung, dan Juhyunie.” Yoona memajukan bibirnya dan bermain dengan kulit jeruk menggunakan sumpit.

“Aah lupakan saja. Siapa yang ingin minum? Kalian free besok, bukan?” tanya Sunny.

Yuri dan Hyoyeon dengan semangat mengacungkan tangannya. Yuri menampar paha Yoona yang dibalas decakkan oleh gadis rusa. Kemudian Yoona ikut mengacungkan tangannya malas.

“Taeng?” panggil Sunny karena gadis mungil itu tak ikut mengacungkan tangannya.

“Arrasseo.” Dengan itu, Taeyeon mengacungkan tangannya.

“Tapi sedikit saja. Kau tahu toleransiku rendah terhadap alkohol.”

Sunny mengangguk. Gadis imut itu berdiri dan berjalan menuju pantry untuk mengambil beberapa botol soju dan gelas.

“Soju siaaaap~” Sunny menaruh soju dan gelas di meja.

“Let’s party! Yoong-ah nyanyikan bagianmu.” seru Yuri.

Yoona terkekeh dan mengangguk. “I like to party~”

Semua yang ada disana tertawa. Hampir seluruh member menyukai lagu dari album terbaru mereka yang berjudul All Night. Terlebih suara Yoona saat menyanyikan part tersebut.

Sunny mulai membuka soju dan menuangkannya di gelas masing-masing member. Setelah semua selesai terisi, dia mengangkat gelasnya yang diikuti oleh member lain.

“Geonbae!” seru mereka.

Taeyeon hanya meminum satu gelas saja. Selain karena tak ingin mabuk, dia juga harus mengurus membernya yang sepertinya akan berakhir mabuk. Selebihnya dia menonton aksi konyol YoonYulHyo. Hal itu sedikit menghiburnya.

Gelas demi gelas. Botol demi botol telah lenyap masuk kedalam perut mereka berempat. Yoona menyipitkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu sudah mabuk. Yuri dan Hyoyeon terus menari dengan gila dan tak beraturan. Sama seperti Yoona, kedua gadis itu juga sudah mabuk. Taeyeon menghela nafasnya. Dia berganti menatap Sunny yang duduk disamping Yoona. Taeyeon sedikit terkejut melihat Sunny yang masih sadar padahal gadis imut itu telah menghabiskan bergelas-gelas soju.

“Kau lupa aku ini sama seperti kekasihmu yang tak gampang mabuk, huh?” ujar Sunny yang seperti membaca pikiran Taeyeon.

Taeyeon mengangguk. “Bagaimana dengan Yuri?” Taeyeon menatap Yuri yang tengah berangkulan dengan Hyoyeon dan bernyanyi absurd. Dia juga tahu Yuri tak gampang mabuk.

“Kau ini bodoh atau apa. Lihat sebanyak apa Yuri minum.” Sunny menunjuk botol soju didepannya.

“Ommaya!” terkejut Taeyeon. Sunny tertawa.

“Dia kedelai hitam yang gila.”

Taeyeon mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya.

Sunny tersenyum. Namun senyumnya segera pudar dan terganti dengan kesedihan di raut wajahnya. Taeyeon menyadari hal itu.

“Aku tahu mereka berpura-pura tegar belakangan ini. Kau lihat itu. Pada akhirnya mereka kalah oleh perasaan mereka juga.” Sunny menunjuk ketiga temannya menggunakan dagunya.

Yuri dan Hyoyeon sudah tidak bernyanyi aneh lagi. Mereka menunduk dan menangis. Menumpahkan segala isi hati mereka dengan mengumpat dan berteriak. Hati Taeyeon sakit mendengar apa yang mereka katakan. Berbeda dengan Yoona, gadis rusa hanya diam dan menatap poster mereka berdelapan yang terpajang di dinding dengan senyum kecut.

“Ini sulit… bagi mereka.. juga kita..” Sunny menatap Taeyeon.

“Menangislah kalau kau ingin menangis leader. Aku tahu sulitnya berada di posisimu.”

Taeyeon menggeleng meski dirinya ingin sekali menangis. Meskipun mereka tak mengatakan meninggalkan grup dan hanya meninggalkan agensi, namun secara tidak langsung, mereka pergi dari grup. Tidak satu agensi berarti mereka tidak lagi berkewajiban mengurus grup. Tidak terikat lagi dengan grup.

“Semua sudah terjadi, Sunkyu-ya. Mari hanya melihat kedepan, dengan atau tanpa mereka bertiga. Ini sudah pernah terjadi tiga tahun silam. Aku bisa meng-handle nya.” ucap Taeyeon dengan tersenyum lemah.

“Dia kekasihmu, Taeng.”

“Aku tahu. Maka dari itu aku melepasnya. Aku tak mau dia terus tersakiti jika harus bertahan.”

“Bagaimana dengan Syoung dan Juhyun?” tanya Sunny.

“Itu pilihan mereka, Sunkyu. Aku tak bisa melarangnya.”

“Kau tahu seperti apa agensi kita. Bagaimana jika.. kemungkinan terburuk itu benar terjadi.. dan kita hanya comeback berlima?”

Taeyeon mengangkat bahunya. “Setidaknya SNSD masih ada.”

“Taeyeon-ah..” Sunny mengerutkan keningnya.

Taeyeon terkekeh. “Sudahlah. Lebih baik ayo urusi bocah-bocah itu.”

Taeyeon bangkit dan mendekati ketiga membernya yang sudah tak sadar. Dia membantu memindahkan mereka untuk tertidur bersisihan karena tak mungkin membawanya ke kamar.

“Kau akan terus berdiam disitu, Sunny-ah?”

Sunny terenyak. Dia menggeleng.

“Tolong ambilkan bantal dan selimut untuk mereka.” pinta Taeyeon dan langsung dibalas ya oleh Sunny.

Taeyeon menatap figur sahabatnya yang sudah bersamanya selama hampir separuh usianya selagi menunggu Sunny membawakan selimut dan bantal untuk mereka.

Taeyeon tersenyum pelan melihat wajah polos mereka. Dia terkejut dan segera menghapus airmatanya yang menetes sebelum ketahuan oleh Sunny.

Taeyeon melihat kebelakang dan menghela nafasnya lega saat Sunny belum terlihat. Dia menolehkan pandangannya ke arah tiga sahabatnya lagi.

“Mianhae.. neomu gomawosseo..” ucapnya lirih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

Gw tau ini gaje. So maafkan ke gaje an gw yes. Gw jg mau menginformasikan kalo bulan ini dan bulan besok kalo gw jarang update tolong dimaklumin. Kalian tau sendiri lah kegiatan siswa tingkat ujung gimana. Yass gw sibuk sm intensifikasi dan sebagainya. Belum lagi try out dan teman2nya. Pwuuhh capek fisik capek otak pasti.

Gw update kalo bener2 sempet doang. Dan gw mohon jangan pada nganggep gw tutup wp ato mager nulis ato yg laine. Karena bener2 sulit bagi waktu belajar sm nulis walooun nulis hobby gw. So mohon kerjasamanya guys~ *bow

Okay see u next fic guys~

Enterprischool (Chapter 9)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

“Apa kabar, Kim?”

Taeyeon menegang mendengar suara tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dengan sangat pelan. Menelan ludahnya saat penglihatannya menangkap seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hyejin..”

Hyejin tersenyum miring. “Jadi apa kau masih mengingat ucapanku waktu itu? Siapa yang kau curigai?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia membulatkan matanya saat gadis yang dia kejar berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti disamping Hyejin.

“H- Hyoyeon-ssi.” gumam Taeyeon.

Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon kemudian ke arah Taeyeon. “Benar. Dia Kim Hyoyeon. Seseorang yang kau curigai akhir-akhir ini. Apa aku benar?”

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk menjawab ‘ya’.

“TaeTae!” teriak Tiffany. Namun Taeyeon masih berdiri kaku ditempatnya.

Tiffany berlari mendekat ke arah Taeyeon dan memegang lengannya. “Ya! Mengapa kau berlari dan meninggalkan belanjaanku?!”

Taeyeon masih diam. Tiffany mengerutkan keningnya. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon dan terkejut saat melihat mantan kekasih Taeyeon dan seorang gadis blonde yang tidak diketahuinya. Mungkin kekasih Hyejin Unnie yang baru?

“Ah, biar kutebak. Dia pasti kekasih bocahmu, hm?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Dia ingin sekali berteriak kesal di depan wajah mantan kekasih Taeyeon itu. Enak saja mengatakan dia bocah. Kalau dia bocah, bagaimana dengan Hyejin? Nenek tua? Tiffany memutar bola matanya malas.

Tiffany tersenyum saat menemukan ide. Mengapa dia tidak meminta Jessica menyusul mereka kemari? Melihat Taeyeon yang hanya diam membisu seperti orang idiot tidak akan membantu. Setelah mengetik beberapa kalimat untuk dikirimkan ke Jessica, Tiffany menoleh ke arah Hyejin dan gadis unknown disampingnya.

“Hyejin Unnie. Apa kau keberatan untuk mentraktir kami ice cream? Aku ingin tahu bagaimana rasanya makan ice cream bersama mantan kekasih kekasihku.” Tiffany tersenyum mengejek.

Dia bisa melihat Hyejin mengeraskan rahangnya. Namun tak berselang lama. Hyejin tersenyum manis dan mengangguk. “Call!”

Mereka berempat pada akhirnya naik ke lantai atas, ke kedai ice cream favorit Taeyeon. Mereka memesan ice cream yang berbeda satu sama lain. Taeyeon masih tetap diam seperti orang dungu. Tiffany beberapa kali menyuapi kekasihnya itu karena hanya diam.

“Hyejin! Hyoyeon-ssi!”

Mereka berempat serentak menoleh ke arah suara dolphin yang memekakkan telinga.

“Sica!” Hyejin berdiri dan berlari menghampiri Jessica. Gadis itu memeluknya dengan erat.

“Oh my Gosh! Kenapa sulit sekali menghubungimu, huh?” Jessica berkata setelah melepas pelukan mereka.

“Mianhae. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sibuk merintis usaha baruku.” balas Hyejin dengan wajah menyesal.

“Wow! Kau jadi membuat brand mu sendiri?” tanya Jessica berbinar. Mereka seakan melupakan keberadaan tiga orang dibelakangnya.

“Yeah. Bersyukur Hyonie mau membantuku.”

Jessica menolehkan pandangannya ke arah Hyoyeon yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.

“God! Hyoyeon-ssi!” Jessica berlari kecil lalu memeluk Hyoyeon.

“Kau apa kabar? Sudah sangat lama terakhir kita bertemu.”

Jessica melepas pelukannya dan mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.

Hyoyeon tertawa. “Kau tahu orang seperti apa diriku ini.” Hyoyeon membanggakan dirinya sendiri.

“Chill! Kau harus mentraktirku dinner mewah kali ini. Awas saja kau.” Jessica terkekeh begitu juga Hyoyeon.

Taeyeon menatap interaksi mereka bertiga dengan wajah dungu. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Tiffany hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. Dia pikir kalau seperti ini Jessica tidak akan membelanya nanti.

“Unnie..” panggil Tiffany lirih. Sedari tadi Jessica melupakan keberadaannya.

“Oh hey, Tiff. Kau disini juga?”

Tiffany meringis. Bukankah dia sendiri yang meminta Jessica kemari?

Tiffany tersenyum palsu dan mengangguk kaku. Benar. Jessica pasti tak akan membelanya dan melindunginya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka bersama kedua sahabat konyol Taeyeon.

“Taenggu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Jessica yang menyadari wajah tak biasa sahabatnya.

Taeyeon menggeleng. “Gwaenchanha.”

Sore itu mereka isi dengan perbincangan yang menyenangkan. Sebenarnya bukan keseluruhan mereka, namun hanya Jessica, Hyejin, dan Hyoyeon saja. Sedangkan Taeyeon dan Tiffany hanya diam menyaksikan ketiganya berbincang. Jessica seakan melupakan masalah dan keresahan Taeyeon. Padahal saat ini kedua orang yang diduga menjadi informan berada tepat di depannya.

Taeyeon merasakan sakunya bergetar. Dia merogoh sakunya dan meraih ponsel berlogokan apel tergigit dan membukanya.

Sebuah pesan. Dari sahabatnya, Yuri.

Taeng, masalah besar! Tiffany dikeluarkan dari sekolah. Cepat ke kantor!

 

Mata Taeyeon melebar, bahkan terlihat hampir copot. Dia berdiri dengan cepat dan menarik tangan kekasihnya untuk keluar darisana. Tiffany yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunjukkan wajah bingungnya. Jessica berteriak memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Taeyeon.

“TaeTae sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany setelah mereka berada di mobil Taeyeon.

Gadis yang lebih tua tak menjawab apapun. Wajahnya berubah datar dan dingin. Tiffany sampai ketakutan melihat Taeyeon yang seperti ini. Bahkan gadis itu mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiffany hanya bisa menggenggam erat sabuk pengamannya.

Taeyeon menghentikan mobilnya di depan rumah Tiffany. Gadis yang lebih muda bersyukur mereka sampai dengan selamat.

“Masuklah kedalam.” ucap Taeyeon dingin tanpa menatap Tiffany.

Tiffany menundukkan kepalanya dan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Tiffany membuka pintu mobil dan keluar. Tak lama setelah itu mobil Taeyeon segera berbalik dan melaju dengan cepat. Tiffany menghela nafasnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi pada kekasihnya.

 

“What the f*ck! Apa maksudmu, Kwon Yuri?!” semprot Taeyeon setibanya ia di ruangannya.

Dia melihat Yuri dan Sooyoung yang menunjukkan wajah frustasi dan prihatin. Masalah mereka terus saja bertambah pelik.

Taeyeon menarik kerah kemeja Yuri. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kali ini!”

Yuri melepas tangan Taeyeon di kerah kemejanya dengan kasar.

“Bisakah tak memasukkan emosi saat ini, hah?” teriak Yuri. Dia kesal dengan Taeyeon yang tak bisa menahan emosinya. Dia pikir Taeyeon sudah berubah. Mereka tahu tabiat Taeyeon yang kasar dan pemarah semenjak sekolah dasar.

“Hey hey hey, kita berkumpul disini bukan untuk bertengkar. Chill!” Sooyoung menengahi.

Yuri mengembuskan nafasnya kasar. Dia melonggarkan dasi miliknya dan duduk di sofa tanpa melihat Taeyeon. Dia masih kesal.

“Kau saja yang menjelaskan, Soo.” ucap Yuri. Sooyoung mengangguk.

“Kumohon kau tenanglah terlebih dahulu, Taeng. Dan jangan memasukkan emosi setelah aku selesai menjelaskan.” pinta Sooyoung.

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

“Tiffany dikeluarkan karena masalah Daddy nya.. kau tahu.. tuduhan penggelapan dana itu dan.. k- karena dia g- gay. Sekolah tak mau Tiffany merusak nama baik mereka.” jelas Sooyoung.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengerang dan memukul meja didepannya hingga buku-buku jarinya memerah. Dia tidak peduli tangannya sakit dan lebam.

“F*ck!” umpatnya.

***

Hal tersebut tak butuh waktu lama sampai di telinga Tiffany. Gadis itu terduduk lemas dengan tatapan kosong. Daddy nya menatap puterinya dengan pandangan menyesal. Dia meminta maaf telah menyebabkan puterinya dikeluarkan dari sekolah. Pria paruh baya tersebut memeluk puterinya yang disusul isakkan dari gadis brunette. Tiffany menangis sesenggukan.

Keesokan harinya, Tiffany mengurung dirinya di kamar. Daddy nya terus membujuk puterinya untuk keluar dan sarapan bersama. Namun Tiffany tak menghiraukan dan memojokkan dirinya di pinggiran ranjang. Air matanya telah kering. Bahkan hingga sore hari Tiffany tak kunjung keluar. Hal itu membuat Daddy nya cemas. Dia teringat kunci cadangan yang ada di rak. Daddy Hwang membawa nampan berisi makanan dan membuka pintu kamar puterinya. Dia melihat Tiffany masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Jujur hal itu membuat hati Daddy Hwang sakit.

“Stephy, makanlah dulu, nak. Kau belum makan seharian.” pinta Daddy Hwang.

“Taruh saja di meja. Daddy boleh keluar.” ucap Tiffany dengan suara seraknya.

“Tapi, Steph-…”

“Daddy.. please..”

Daddy nya menghela nafasnya dan mengangguk. Beliau berdiri dan menaruh nampan berisi makanan di meja samping ranjang. Lalu mulai keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Setelah Daddy nya pergi, Tiffany menangis. Lagi.

Hal itu berlangsung selama tiga hari. Tiffany sama sekali tak keluar dari kamarnya. Daddy Hwang bertambah khawatir. Sebenarnya dia juga memiliki kegiatan untuk mencari pekerjaan lagi, tapi mengingat puterinya yang seperti itu mengurungkan niatnya.

Daddy Hwang mendengar bunyi bel. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria muda tersenyum kearahnya seusai dia membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Choi Jun imnida, teman Tiffany.” Jun membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa Tiffany dirumah, paman?” tanya Jun.

Daddy Hwang memandang Jun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian menghela nafasnya.

Daddy Hwang mengangguk. “Namun sudah tiga hari ini Stephy tidak keluar dari kamarnya. Dia pasti sangat shock dan sedih.” Daddy Hwang berkata dengan nada sedih.

Jun membulatkan matanya. Dia tidak mengira sahabatnya akan seperti ini. “P- Paman, bolehkah aku bertemu dengannya? Aku akan mencoba berbicara dengan Tiffany.” pinta Jun.

“Baiklah. Kuharap kau bisa membujuknya keluar.” Daddy Hwang menepuk bahu Jun dan mempersilakan Jun masuk kedalam.

Daddy Hwang membuka pintu kamar puterinya dan mempersilakan Jun masuk. Beliau kemudian pergi, membiarkan Jun membujuk puterinya.

“Tiff..” panggil Jun.

Tiffany mendongakkan wajahnya dan melihat Jun. Dia diam sebelum suara isakkan keluar dari mulutnya. Jun terkejut dan segeta berlari memeluk sahabatnya.

“Sssst. Gwaenchanha. Everything’s gonna be alright.” Jun mengelus punggung Tiffany. Sedangkan gadis brunette menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jun dan terus menangis terisak.

Sementara diluar kediaman Tiffany, seorang gadis mungil tengah menatap kosong kedepan di dalam mobil mercedes nya. Dia menghela nafas saat ucapan sahabatnya terngiang di kepalanya. Dan saat gadis itu menangkap sebuah motor sport berwarna hitam yang familiar, dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berbalik. Dengan perkataan sahabatnya yang melingkari kepalanya menemani perjalanan gadis mungil.

Taeyeon berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia amat tahu Tiffany pasti sangat sangat membutuhkannya saat ini. Namun dia tak ingin menunjukkan wajah sedihnya jika harus berhadapan dengan kekasihnya. Dia harusnya bisa menyemangati gadis brunette, tapi sepertinya hal itu tak bisa ia lakukan. Terlalu sakit membayangkan keadaan Tiffany untuk saat ini. 

Jessica masuk kedalam ruangannya dengan membawa berkas. Taeyeon menerimanya dan mulai membukanya. Taeyeon pikir Jessica akan keluar setelah menyerahkan berkas. Dia mendongak dan melihat Jessica menatapnya dengan serius. 

“Wae?” tanya Taeyeon. 

“Tinggalkan Tiffany.” ucap Jessica langsung tanpa basa-basi. Jelas saja hal itu membuat Taeyeon marah. 

“Why the hell, Jess!” Taeyeon menatap Jessica dengan berapi-api. 

Jessica menghela nafasnya. “Kau..” Jessica menunjuk Taeyeon dengan telunjuknya. “Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu membuat kehidupan Tiffany berangsur memburuk?” 

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya. 

“Apa maksudmu?” 

“Sebelum kau bersamanya, kehidupan Tiffany begitu mulus tanpa masalah apapun. Dan pada saat dia menjalin hubungan denganmu, satu persatu masalah muncul. Apa kau tidak pernah berpikir kearah sana?” Jessica menatap Taeyeon dengan dingin. 

Taeyeon diam. Jessica benar. 

“Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Taeyeon lemah. 

“Tinggalkan Tiffany. Aku tahu itu pasti sakit untukmu dan juga Tiffany. Tapi aku lebih sakit melihat Tiffany yang sudah kuanggap adikku sendiri menderita. Taeyeon.. bisakah?” Jessica menatap Taeyeon dengan tatapan memelas. 

Jujur dia sakit melihat sahabatnya semenjak bayi merasa sedih, tapi dia juga tak ingin mengorbankan adik kesayangannya juga jika mereka terus memaksa bersama.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. “Akan kucoba.”

Jessica memutari meja kerja Taeyeon dan memeluk sahabatnya. “Ini yang terbaik, Taenggu.”

***

Sebulan telah berlalu. Keadaan Tiffany semakin membaik dari hari ke hari. Dia sudah mulai membuka dirinya lagi dan bersikap ceria, seperti biasanya. Dan selama itulah Tiffany tak bertemu Taeyeon. Jujur hal itu membuatnya kecewa. Harusnya kekasihnya yang datang dan menyemangatinya. Namun dia tak merasa marah berlebih pada gadis mungil itu. Dia mencoba berpikir bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi terakhir kali dia melihatnya, Taeyeon terlihat sangat stress.

“Jun-ah, antarkan aku ke kantor ahjumma. Pleaasee.” pinta Tiffany pada Jun yang tengah bermain ke rumahnya dan menemaninya karena Daddy Hwang pada akhirnya mendapat pekerjaan lagi semenjak dua minggu yang lalu.

“Arra arra. Tapi..” Jun menunjuk pipi kanannya dengan senyum jahil.

Tiffany tertawa pelan. Dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Jun bermaksud mengecupnya. Namun detik kemudian Jun menolehkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Tiffany melebarkan matanya.

Jun melepas kecupannya dan tersenyum.

“Kajja!” ajaknya dan mulai berjalan menjauhi Tiffany.

Sementara gadis brunette masih diam ditempatnya dan merasakan pipinya yang terasa panas.

Tiffany tak berbicara selama perjalanan. Dia masih merasa malu dengan kejadian tadi. Dia tahu dia harusnya kesal pada Jun yang mencuri kecupannya. Namun dia tak bisa melakukan itu karena dia sendiri merasa jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkan kejadian tadi.

Sesampainya mereka di kantornya, Tiffany bertanya kepada resepsionis yang sama saat pertama kali dia datang di kantor Taeyeon.

“Unnie. Apa Taeyeon Unnie di ruangannya?” tanya Tiffany dengan semangat.

Wanita di depannya menunjukkan wajah sedihnya. “Maafkan aku, nona. Tapi sajangnim sudah hampir sebulan ini berada di China. Sepertinya sajangnim akan bekerja di anak perusahaan disana.”

Jawaban sang resepsionis tentu saja membuat jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi. Dia mengucapkan terimakasih kemudian mulai berbalik. Dia membuka ponselnya dan mulai menghubungi Taeyeon. Namun yang didengarnya hanya suara operator. Dia mencoba lagi dan suara operator yang menyapa pendengarannya.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Sudah lebih dari tiga puluh kali Tiffany mencoba menghubungi Taeyeon dan hasilnya tetap sama. Dia hampir menangis karena kekasihnya tak kunjung menjawab panggilannya. Dia mencoba sekali lagi dan suara operator kali ini meruntuhkan segalanya. Nomor kekasihnya sudah tidak terdaftar lagi. Itu berarti Taeyeon telah mengganti nomornya, tak lama tadi.

Perlahan airmata kembali menetes di pipi Tiffany. Jun yang melihatnya panik dan segera memeluk Tiffany.

“Dia meninggalkanku hiks~”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah ter-updatekan!

Eotte? Badai lagi kan muahahahaha *evillaugh

Okayy gw tunggu komen kece2 kalian *cyailah wkwkwk

Bubye~ see u next chap~

Hot & Cold

Biru berganti jingga. Pada saat itulah seorang gadis keluar dari tempat persembunyiannya. Dia pikir ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri dari rivalnya. Sudah seharian suntuk, pasti musuhnya akan lelah mencarinya dan memutuskan untuk berhenti. Namun belum sampai sepuluh detik, gadis berambut brownie menegang mendengar suara dibelakangnya.

“Berhenti disana, bodoh!”

Gadis berambut brownie mengepalkan buku-buku jarinya dan memejamkan matanya erat. Dia mengeraskan rahangnya.

“Kau kira aku akan menyerah mencarimu, huh? You loser.” ejek musuh gadis tersebut.

Gadis brownie membalikkan direksi tubuhnya dan menatap tajam musuhnya.

“Apa maumu?”

Sang musuh menaikkan alisnya kemudian tertawa pelan.

“Apa yang kuharapkan dari gadis sepertimu? Cih, bahkan tidak ada.” balas sang musuh angkuh.

“Bahkan dengan bergabung dengan clubmu?” tantang gadis brownie dengan senyum miring.

Sang musuh menelan ludahnya. Dia memasang wajah dinginnya lagi dan mengangguk. “Eo- eoh.”

“Kau yakin? Aku bisa saja bergabung dengan clubmu itu, Son Juyeon-ssi.” Cheng Xiao, gadis brownie memainkan kukunya dengan santai. Sepertinya keadaan telah berbalik. Juyeon, atau kerap dipanggil Eunseo tertaklukan olehnya.

“Bukankah tujuanmu mengejarku sejauh ini hanya untuk memintaku bergabung, hm?”

Eunseo mengepalkan buku-buku jarinya. Dia mengeraskan rahangnya. Benar. Keadaan telah berbalik. Gadis jangkung tersebut mengangkat kepalanya. Dia harus menjunjung tinggi harga dirinya. Gadis di depannya jangan sampai mempermalukannya. Eunseo baru akan membuka mulutnya ketika sebuah suara kekanakkan menginterupsinya.

“Unnie waktu kita hampir habis!”

Eunseo menoleh dan melihat Yeoreum dibelakangnya. Dia melihat jam tangannya dan mengerutkan keningnya. Kemudian mendesah pelan.

“Urusan kita belum selesai, Seongso-ssi.”

Setelah mengatakan hal tersebut, Eunseo membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Cheng Xiao, menyusul Yeoreum hingga punggung mereka tak terlihat lagi.

Cheng Xiao mengelus dadanya dan menghembuskan nafasnya lega. Jujur saja gadis itu gugup bukan main. Siapa yang tidak gugup berhadapan dengan Raja sekolahnya? Eunseo adalah siswa yang paling ditakuti dan disegani oleh seluruh siswa, bahkan guru-gurunya sekalipun.

Cheng Xiao menghembuskan nafasnya lagi. “Tuhan, selamatkan aku besok.”

***

Pada awalnya Cheng Xiao berencana untuk membolos sekolah. Namun Mei Qi, teman sekelas sekaligus sahabatnya mengatakan bahwa hari ini akan ada pelatihan menyanyi dan semua siswa wajib mengikutinya kalau tak ingin terkena sanksi. Cheng Xiao memang bersekolah di sekolah seni yang akan melahirkan idol-idol papan atas.

Cheng Xiao mengerang sebelum bangkit dari duduknya dan turun dari bus, mengikuti anak-anak yang berseragam sama sepertinya. Dia menatap gerbang sekolahnya dengan ragu.

“Cheng Xiao!” Cheng Xiao menolehkan wajahnya dan melihat sahabatnya, Mei Qi.

Mei Qi mendekat ke arah Cheng Xiao lalu mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan wajahmu itu?” tanyanya menggunakan bahasa kelahiran mereka.

Cheng Xiao menggeleng. “Tidak ada. Ayo kita masuk!” jawab Cheng Xiao dengan bahasa yang sama. Kemudian menarik tangan Mei Qi.

Saat berjalan di lorong, Cheng Xiao melihat Eunseo bersama teman-temannya tengah bercerita dan bercanda satu sama lain. Mata mereka tiba-tiba beradu pandang. Eunseo menampakkan wajah dingin dan angkuhnya lagi. Cheng Xiao melemparkan pandangannya ke arah lain dan menarik Mei Qi untuk berjalan lebih cepat menjauhi Eunseo.

 

Jam pelajaran pertama telah usai. Kini tiba saatnya untuk pelatihan bernyanyi untuk kelompok A dengan kelompok B. Dan itu artinya, kelasnya dengan kelas Eunseo akan berlatih bersama, di tempat yang sama, dan dalam waktu yang sama pula. Cheng Xiao menelan ludahnya gugup.

Dia masih duduk diam di tempatnya sementara teman kelasnya yang lain sudah berangsur meninggalkan kelas.

“Xiao Xiao. Ayo! Mengapa kau masih diam?” Mei Qi menegur sahabatnya, tentu masih menggunakan bahasa kelahirannya. Gadis itu lebih suka berbicara kepada Cheng Xiao dengan bahasa China dibanding Korea.

Cheng Xiao masih diam di tempat.

“Hey, kau baik-baik saja?” tanya Mei Qi. Kali ini memasukkan nada khawatir di ucapannya.

Cheng Xiao reflek menoleh dan melihat Mei Qi lalu mengangguk.

“Ya. K-kau tahu.. aku benci menyanyi.” Itu memang kenyataan. Cheng Xiao tidak suka menyanyi. Dia tahu suaranya tak bisa diandalkan untuk kasus ini. Keahliannya hanya menari.

“Aku tahu. Tapi, mari mencobanya terlebih dahulu, hm?”

“Kau benar. Kajja!”

Cheng Xiao tersenyum dan bangkit dari duduknya. Dia menarik tangan Mei Qi. Mereka berdua lalu mulai berjalan meninggalkan kelas untuk menuju ruang vocal.

Saat tiba di ruang vocal, mereka melihat ruang tersebut sudah dipenuhi oleh siswa, termasuk Eunseo beserta gengnya. Walaupun Cheng Xiao tidak melihat Eunseo, namun gadis China merasakan bahwa musuhnya tengah memperhatikannya. Dia sangat yakin karena dia merasakan dingin menusuk punggungnya. Dan hanya tatapan Eunseo yang membuatnya seperti itu.

Tak lama berselang seorang wanita mungil mulai memasuki ruang vocal. Cheng Xiao kira itu Yeom Songsaengnim, guru yang biasa mengajar vocal. Namun perkiraan Cheng Xiao harus ditelan pahit karena yang ada di penglihatannya sekarang adalah seorang Queen of Ballad, Queen of Soloist, dan Goddess Kim Taeyeon!

Sontak seluruh siswa yang ada disana berseru dan takjub melihat Diva Korea Selatan ada dihadapan mereka.

Yeppeuda

Taeyeon Unnie

Taeyeon Sunbaenim

Dia bukan manusia. Dia bidadari!

Benarkah itu Kim Taeyeon?

Taeyeon Noona

Kurasa aku ingin pingsan

Omo! Kim Taeyeon!

Dan masih banyak lagi bisikan-bisikan kagum yang Cheng Xiao dengar. Dia juga masih berdiri takjub di tempatnya.

“Annyeonghaseyo.” sapa Taeyeon dengan membungkukkan badannya. “Kim Taeyeon imnida.” lanjutnya.

“Ne! Kami sudah tahu!” jawab seluruh siswa dengan kompak. Mereka sangat senang bertemu langsung dengan salah satu member grup nomor satu di Korea.

Cheng Xiao tak sengaja melihat Eunseo yang memasang wajah datar seakan tak senang atau bersemangat bertemu seorang diva populer. Bahkan dia saja akan berjingkrak girang dan meminta Taeyeon berfoto bersamanya kalau tak memiliki urat malu.

“Ne. Kalian pasti penasaran mengapa aku berada disini, benar?” tanya Taeyeon yanh segera dibalas ‘ya’ oleh siswa.

“Geurae. Tujuanku kemari untuk mengajari kalian vocal. Ini pertama kalinya bagiku untuk mengajar vocal, jadi mohon bantuannya.”

Seluruh siswa berteriak girang dan bertepuk tangan. Mereka sangat excited.

Pelatihan bernyanyi dimulai dari pembekalan materi dan cerita singkat perjalanan karir Taeyeon, juga motivasi kepada para siswa. Setelah itu, Taeyeon meminta siswa untuk mempraktekkan materi yang sebelumnya diberikan. Taeyeon meminta mereka untuk bernyanyi.

Cheng Xiao mendesah pelan. Dia tidak bisa bernyanyi. Dia amat paham dengan itu. Lalu bagaimana dia mempresentasikan suaranya nanti? Satu persatu siswa mulai dipanggil Taeyeon untuk bernyanyi. Sedangkan Cheng Xiao berkali-kali menggigit bibir bawahnya.

“Son Eunseo dan Seongso. Kalian maju kedepan.” Taeyeon memanggil mereka berdua.

Tentu saja Cheng Xiao terkejut. Terlebih dia dipanggil bersama dengan Eunseo.

“T- Tap.. T- Tapi…”

“Ga~ majulah kemari.” Taeyeon tersenyum.

Cheng Xiao menghela nafasnya dan menuruti Taeyeon. Dia maju kedepan dengan ragu.

“Son Juyeon-ssi.” panggil Taeyeon pada Eunseo yang masih diam di tempatnya. Gadis itu mendecakkan lidahnya namun tetap maju kedepan.

Cheng Xiao sedikit menaikkan alisnya. Dia yakin Eunseo memakai nama ‘Son Eunseo’ di name tag nya. Dan keyakinannya terbukti saat dia melihat name tag gadis itu yang menampilkan nama ‘Son Eunseo’ dan bukannya ‘Son Juyeon’. Tapi bagaimana bisa Taeyeon tahu namanya? Cheng Xiao menggeleng pelan akan pemikirannya.

“Jja~ mari kita lihat duet kalian. Silakan tentukan lagu yang kalian inginkan.”

“M- mwo? D- duet?” tanya Cheng Xiao tak percaya.

Taeyeon mengangguk dengan tersenyum.

“Aku ingin mendengar kalian bernyanyi sehingga aku bisa menuliskan catatan-catatan dan juga memperbaiki kesalahan vocal kalian.. jikaa, kalian membuat kesalahan. Anggap saja ini penilaian seperti yang Yeom Ssaem lakukan.” jelas Taeyeon panjang lebar.

“Unn- maksudku- Ms. Kim. Apa tak ada yang lain selain gadis ini untuk ku ajak berduet? Aku mau bernyanyi asal Dayoung yang menjadi partnerku.” ucap Eunseo dengan dingin. Gadis ini benar-benar sesuatu. Jika yang dihadapinya adalah guru di sekolahnya, pasti mereka akan dengan mudah menuruti permintaannya.

“Aniya. Aku ingin kau dan Seongso.” keukeuh Taeyeon.

Eunseo menatap Taeyeon tajam. Namun sepertinya hal itu tak berpengaruh pada Taeyeon. Eunseo memejamkan matanya dan mengembuskan nafas kasar.

“Fine! Cheoumbuteo neowa na in geot cheoreom, kau tahu lagu itu kan?” Eunseo menatap Cheng Xiao. Gadis itu mengangguk gugup.

Cheng Xiao bisa melihat senyum puas mengembang di kedua sudut bibir Taeyeon.

“Baiklah. Shijak~” Taeyeon memberi aba-aba.

Keduanya mulai bernyanyi. Taeyeon mengangguk dan mulai menuliskan beberapa catatan selagi Eunseo dan Cheng Xiao menyelesaikan nyanyiannya. Setelah lagu selesai, Taeyeon bertepuk tangan.

“Masih ada beberapa catatan dari pengamatanku. Seongso-ssi, aku tahu menyanyi bukan passionmu- tapi, kerja bagus! Kau sudah berusaha semaksimal mungkin dalam lagu ini. Aah~ satu catatan penting dariku, jika mengambil nada tinggi, usahakan telah mengambil cukup oksigen dan menggunakan suara dari perut, yang kudengar tadi dari bawah tenggorokanmu. Itu pasti sakit kutebak..” Cheng Xiao mengangguk mendengar masukan dari Taeyeon.

“Dan kau Eunseo. Vocal mu stabil dari waktu ke waktu. Aku tak tahu kau secepat ini belajar dari kesalahan. Tapi satu masukan dariku, cobalah menghayati lagu apapun yang kau bawakan. Itu akan menjadi poin plus tersendiri, dan bukannya memasang wajah datar seperti itu.”

Eunseo memutar bola matanya. Kemudian berbalik dan berjalan ke tempatnya semula. Walaupun terkesan tak sopan, namun Taeyeon tak marah atau kesal justru tersenyum. Dia menatap Cheng Xiao.

“Kau bisa kembali ke tempatmu, Seongso-ssi.”

Cheng Xiao mengangguk dan membungkukkan badannya. Kemudian berbalik dan berjalan ke tempatnya semula.

“Okay yedeura. Kalian bisa beristirahat sebelum kembali berlatih tiga puluh menit dari sekarang.”

“Neee.”

Dengan itu, mereka mulai berhamburan keluar dari ruang vocal. Menyisakan Cheng Xiao dan Mei Qi.

“Kau benar baik-baik saja? Apa efek bernyanyi tadi membuatmu pusing?” tanya Mei Qi khawatir. Hal itu membuat Cheng Xiao tertawa.

“Aku tak apa, Mei Qi. Hanya sedikit tak mood saja.”

“Arras-..” Ucapan Mei Qi terpotong saat mendengar suara langkah kaki.

Cheng Xiao dan Mei Qi menoleh dan mendapati geng Eunseo berjalan mendekati mereka. Tentu saja mereka gugup. Lagipula ada keperluan apa mereka kemari?

Eunseo menatap Cheng Xiao. “Ini peringatan terakhirku agar kau mau bergabung dengan kelompok kami.”

Eunseo melempar sesuatu kepada Cheng Xiao yang segera ditangkap oleh gadis brownie.

“Kutunggu kau nanti malam di tempat yang tertulis disana.”

Setelah mengatakan hal itu, Eunseo berbalik. Namun sebelum melangkah pergi, dia menolehkan kepalanya ke samping.

“Pastikan kau datang malam ini, Cheng Xiao Xiao.”

Cheng Xiao sedikit terkejut karena Eunseo memanggilnya Cheng Xiao dan bukannya Seongso. Dan keterkejutannya bertambah saat dia mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Eunseo. Meski sangat lirih, namun Cheng Xiao masih bisa mendengar gadis jangkung mengatakan,

“Kumohon…”

***

Setelah berpikir lamat-lamat, Cheng Xiao akhirnya memutuskan untuk datang ke tempat yang Eunseo tulis di surat tersebut. Dia mengenakan pakaian sepantasnya dan berdandan ala kadarnya. Hanya bertemu Eunseo, dia tak perlu berdandan ‘wah’. Lagipula dia sebenarnya malas pergi.

Cheng Xiao menghentikan taxi yang lewat dan masuk kedalamnya. Menyerahkan alamat pada sang sopir kemudian taxi mulai melaju memecah jalanan.

Cukup membutuhkan waktu lima belas menit untuknya sampai di alamat tersebut. Dia membayar taxi kemudian keluar darisana. Cheng Xiao membuka mulutnya saat melihat rumah yang begitu besar dihadapannya. Benarkah alamat yang diberikan Eunseo padanya benar adanya? Dia melihat lagi alamat tersebut dan melihat tanda disamping tembok besar. Itu memang benar alamatnya.

Ragu-ragu, Cheng Xiao mulai memasuki pekarangan rumah tersebut. Dia melihat pintu besar menjulang tinggi dihadapannya. Tangannya dengan gugup menekan bel. Tak lama kemudian dia mendengar suara pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya terlihat oleh pandangannya.

“Eo annyeonghaseyo. Benarkan ini rumah Son Eunseo?”

“Aah ne~ kau pasti teman nona muda. Silakan masuk gadis manis.”

Cheng Xiao mengangguk dan tersenyum kaku kemudian mulai masuk kedalam mengikuti wanita paruh baya tersebut.

“Nona muda teman anda sudah datang.” ucap wanita paruh baya yang diketahui sebagai salah satu butler di rumah tersebut.

Eunseo muncul tak lama kemudian. Cheng Xiao sedikit terpana dengan penampilan kasual Eunseo. Biasanya dia hanya melihat Eunseo dengan pakaian formal seragam mereka.

Cheng Xiao lalu lebih terkejut saat mendapati Taeyeon berada dibelakangnya bersama Tiffany.

“M- Miss Kim?” panggil Cheng Xiao gugup.

“Ah, annyeong Seongso-ssi.” Taeyeon tersenyum.

“Ikut aku.” ucap Eunseo yang segera berlalu darisana. Cheng Xiao mengikuti Eunseo dari belakang.

Mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup luas. Cheng Xiao melihat berbagai macam games dan permainan lain di ruangan tersebut. Ada juga sofa besar dan karpet didepannya. Pantry kecil dan beberapa set alat elektronik lainnya. Eunseo menyuruhnya duduk di sofa selagi dia mengambil minuman di lemari pendingin.

“Ini tempat biasa aku dan teman-temanku berkumpul.” ucap Eunseo seraya menyerahkan sebotol softdrink pada Cheng Xiao. Gadis China mengucapkan terimakasih sebelum membukanya.

“Kau pasti penasaran bagaimana bisa Ms. Kim berada di rumahku?”

Sebelum Cheng Xiao membalas, Eunseo sudah lebih dahulu menjawabnya.

“Dia calon kakak iparku. Oppa Taeyeon Unnie akan menikah dengan Unnieku.”

Cheng Xiao mengangguk. Dia tidak menyangka Eunseo memiliki kakak ipar Taeyeon Sunbaenim. Jujur dia sangat iri.

“Lalu bagaimana dengan Tiffany Unnie?” tanya Cheng Xiao polos.

Eunseo terkekeh pelan. “Kau tidak tahu? Tiffany Unnie kekasih Taeyeon Unnie.”

Mata Cheng Xiao membulat. “B- Benarkah?”

Eunseo tersenyum lalu mengangguk.

“Awalnya aku terkejut. Namun mengingat berapa lama mereka bersama itu hal yang sangat mungkin untuk menumbuhkan perasaan spesial satu sama lain.”

Cheng Xiao mengangguk mengiyakan. Mereka terlibat perbincangan ringan. Beberapa kali Eunseo juga melemparkan joke lucu yang membuat Cheng Xiao tertawa karenanya. Gadis China tak pernah sekalipun berpikir akan mengalami kejadian luar biasa ini. Seorang evil Eunseo yang suka mengganggunya berubah menjadi orang yang menyenangkan. Dia tidak tahu apakah Eunseo membenturkan kepalanya atau tidak. Atau mungkin gadis itu memiliki rencana dibaliknya. Dia tidak tahu.

“Aeeey, aku iri kau sebentar lagi akan menjadi adik ipar Taeyeon Unnie.” Cheng Xiao memajukan bibirnya.

“Kau juga bisa menjadi adik ipar Taeyeon Unnie kalau kau mau menjadi milikku.” balas Eunseo santai.

Cheng Xiao yang tengah minum langsung saja tersedak. Dia terbatuk beberapa kali lalu menatap Eunseo dengan tatapan, ‘kau bercanda kan?’

“Aah aku belum memberitahumu mengapa aku mengundangmu kemari, benar?”

Eunseo bangkit dari duduknya. Dia membuka kunci di salah satu rak dibawah televisi. Kemudian mengambil sesuatu disana. Eunseo membawanya dan mulai berjalan mendekati Cheng Xiao. Dia membuka kotak tersebut dan menyodorkannya pada Cheng Xiao. Gadis brownie membelalakan matanya dan menutup mulutnya. Dia bergantian menatap sesuatu di dalam kotak tersebut dan Eunseo.

“K- Kau..” lirih Eunseo tak percaya.

Tak lebih dari sepersekian detik, Eunseo merasakan tubuhnya terdorong ke belakang. Cheng Xiao memeluk tubuhnya begitu erat. Dia tersenyum dan balas memeluk Cheng Xiao.

“Aku mencarimu sekembalinya ke Korea. Bodoh! Mengapa kau tidak mengaku dari awal hiks~” Cheng Xiao menangis sembari memukul bahu Eunseo.

“Kau bodoh! Mengapa terus membuatku kesal sementara kau adalah seseorang yang paling kucari hiks~ bodoh! Mengapa aku tak langsung mengenalimu hiks~”

Eunseo tersenyum mendengar penuturan Cheng Xiao. Dia makin mengeratkan pelukan mereka.

“Mianhae. Kupikir kau tak mengenalku. Apalagi saat itu kita masih kecil dan bahkan kau tidak tahu namaku.”

“Bukankah aku pernah mengatakan padamu dulu kalau ingatanku ini sangat tajam, eoh? Aku akan menemuimu saat besar nanti dan… ekhem menjadi milikmu.” Cheng Xiao sedikit berbisik di kalimat terakhirnya dan menundukan kepalanya.

Eunseo yang melihatnya tersenyum miring. Dia bermaksud menggoda Cheng Xiao lebih lanjut.

“Kau akan apa?” tanya Eunseo.

“A- aku tak mengatakan apa-apa.”

“Benarkah. Tapi kudengar kau akan menemuiku dan- hmmmph…”

Cheng Xiao menyumpal mulut Eunseo dengan tangannya. Dia sangat malu saat ini. Eunseo berusaha melepas tangan Cheng Xiao di mulutnya dan mencoba meneruskan kalimatnya.

“Yaaaa!” teriak Cheng Xiao.

Eunseo melepas tangan Cheng Xiao sedikit kasar. Kemudian dengan cepat mengecup bibir gadis brownie. Hal itu membuat Cheng Xiao membulatkan matanya.

Jujur saja itu adalah first kiss nya.

“Terimakasih karena masih tetap menyukaiku.” ujar Eunseo tulus.

Dia menatap Cheng Xiao penuh cinta. Dia lalu mengulangi kejadian beberapa saat lalu. Kali ini Cheng Xiao memejamkan matanya dan ikut menikmati ciuman pertama mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

I’m sorry kalian pasti kecewa karna bukan taeny. But- kayak yg prnah gw omongin. Gw bakal post ff eunxiao kedepannya. Dan kalau kalian pengin taeny fic insyaallah besok ato besoknya lagi ato besoknya lagi. Hehehe. Santae aja gw pasti apdet ff taeny mingguannya kok. Tapi klo lg gak sibuk.

Okey gw harap kalian mengapresiasi fic eunxiao ini. Gw bakal hargai apapun komennya itu

Paipai~ see u next fic~

Enterprischool (Chapter 8)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Taeyeon mengerang seusai membuka matanya. Dia menekan belakang kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya ia jatuhkan ke sekitar tempatnya berada, masih di ruang rahasia. Dia melihat sahabat-sahabatnya tengah tertidur dibawahnya. Taeyeon bangun dari tidurnya.

“Eoh, kau sudah bangun, Taeng?” Taeyeon mendengar sebuah suara dan menoleh ke belakang. Ternyata Jessica.

Taeyeon mengangguk.

Jessica berbalik dan mengambil segelas air untuk Taeyeon. Selanjutnya bergabung bersama Taeyeon dan menyerahkan air tersebut. Taeyeon menerimanya dan langsung meminum dengan sekali teguk.

“Gomawo.” ucap Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi.. bisakah kau tak usah mabuk? Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Tiffany. Kau lupa pernah berjanji padanya, Taeng?”

Taeyeon menghela nafas. Jessica benar. Dia sudah berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mabuk lagi.

“Mianhae.” lirih Taeyeon.

Jessica menghela nafas. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Menepuk punggungnya bermaksud menenangkan. Jessica adalah sahabat terbaiknya. Taeyeon beruntung memiliki Jessica.

“Tak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Kau istirahatlah lagi, hm”

Taeyeon menggeleng. “Dimana Tiffany?”

“Dia pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barangnya.”

“Tiffany akan menginap disini?”

“Untuk beberapa hari kedepan.. ya. Dia ingin terus berada disisimu katanya.”

Taeyeon melepas pelukkan mereka. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jessica. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Taeyeon menarik tangan Jessica untuk mengelus kepalanya. Dia sangat suka jika Jessica mengelus kepalanya seperti saat ini.

“Sica-ah..”

“Hm?”

“Kau ingin tahu siapa seseorang yang ku curigai?”

Jessica menatap Taeyeon yang ada dibawahnya. “Tentu saja. Mereka pasti juga ingin mengetahuinya.” Jessica menunjuk kedua sahabatnya dengan dagu.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. Dia menerawang jauh kedepan.

“Dia Kim Hyoyeon. Semua berawal saat kami masih sekolah menengah pertama.”

Taeyeon mulai menceritakan semuanya kepada Jessica. Bahkan hingga sangat detail. Jessica mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali gadis blasteran itu mengerutkan kening lalu mengangguk di sela cerita Taeyeon.

“Jadi seperti itu. Sampai sekarang aku tak juga berhasil menemukannya.”

Taeyeon melihat Jessica yang sibuk dengan ponselnya. Dia berteriak karena mengira Jessica tidak mendengarkannya.

“Maksudmu Kim Hyoyeon ini?” tanya Jessica seraya menunjukkan ponselnya dimana terdapat sebuah foto.

Mata Taeyeon membesar. Walaupun sudah dua belas tahun lamanya, wajah Hyoyeon masih terlihat sama. Mungkin beberapa terlihat berbeda. Namun Taeyeon yakin foto tersebut adalah Hyoyeon.

“B- Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taeyeon tak percaya.

“Aku baru ingat Hyejin memiliki seorang teman baik sewaktu sekolah dasar. Dan mendengar nama Kim Hyoyeon mengingatkanku pada temannya Hyejin ini.”

Jessica dan Hyejin memang dekat, sama seperti kedua sahabatnya. Hal itu karena Taeyeon pernah menjalin hubungan dengan Hyejin untuk waktu yang cukup lama.

“T- Tapi Hyejin tak pernah memberitahuku tentang Hyoyeon.”

“Kami tak sengaja bertemu waktu itu. Hyoyeon-ssi sedang ada acara di Seoul. Dan wow, kau tahu Taeng.. dia adalah pemilik Univere Company!”

Taeyeon menelan ludahnya. Univere Company adalah perusahaan asal Canada yang sangat terkenal. Dia tak mengira pemilik perusahaan tersebut adalah Hyoyeon sendiri.

“Itu semakin menguatkan pendapatku kalau dia ingin membalas dendam padaku.” ujar Taeyeon.

“Kau jangan berpikiran negatif dulu, Kim. Yang kulihat Hyoyeon-ssi adalah gadis yang sangat baik dan menyenangkan. Dia lucu. Aku saja langsung menyukainya di tempat pertama saat melihatnya.”

“Kau benar. Aku hanya merasa.. tak tahu siapa yang harus disalahkan.”

“Jamkkanman! Hyejin teman baik Hyoyeon! Itu berarti.. kemungkinan mereka ada di tempat yang sama. Taeng, mari kita mencari mereka berdua!”

Taeyeon menatap Jessica dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Tak lama kemudian dia tersenyum. Entah karena kebetulan atau memang takdir. Taeyeon senang karena Hyejin dan Hyoyeon ternyata bersahabat. Dia butuh mereka berdua untuk menuntut penjelasan.

***

Taeyeon kini sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiffany benar-benar menepati ucapannya untuk tinggal bersama Taeyeon beberapa hari ini. Bersyukur Daddy nya mengijinkan. Dia percaya Taeyeon mampu menjaga anak gadisnya.

Taeyeon bersama Jessica dan juga kedua sahabatnya kini juga berusaha mengumpulkan informasi tentang Kim Hyoyeon. Sangat sulit mencari alamat gadis blonde tersebut karena orang yang bekerja di perusahaannya pun tidak tahu dimana bos mereka tinggal. Namun mereka tidak menyerah. Dia harus menemukan Hyoyeon, dan kalau bisa Hyejin juga.

“Ahjumma!” teriak seseorang.

Taeyeon yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya melihat kedepan. Tepat beberapa meter darinya berdiri seorang Tiffany Hwang dengan eyesmile nya. Dia juga melihat seorang pria jangkung di belakang Tiffany yang tak lain adalah Jun. Taeyeon sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Jun lagi. Dia percaya Jun bukanlah orang yang akan merebut kekasihnya. Pria itu terlihat baik di mata Taeyeon saat ini.

“Kau kemari?” tanya Taeyeon yang dibalas anggukan semangat dari kekasihnya.

“Unnie, mian kami terlambat. Yoong tadi membeli makana- eoh joesonghamnida!” Taeyeon memiringkan kepalanya untuk melihat seorang gadis dengan seragam sama seperti Tiffany menunduk sopan. Dia terkekeh melihat wajah gadis tersebut karena malu.

“Oh. Ahjumma, aku belun memperkenalkan teman baikku yang satu ini. Dia Seohyun dan yang disampingnya Yoona.”

“Aah.. kau gadis sepeda itu kan?” tanya Taeyeon. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kekasihnya.

“Ne, majayo. Terimakasih telah menyelamatkan saya malam itu.” Seohyun menunduk lagi.

“Aih tak apa, jangan terlalu formal Seohyun-ssi. Huumm kalian ada apa kemari?” tanya Taeyeon.

“Tiffany Unnie bilang Ahjumma akan mentraktir kami semua makan.” jawab gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona.

“Yoong, jaga sikapmu!” bisik Seohyun seraya menepuk bahu Yoona.

Taeyeon yang melihatnya tertawa pelan.

“Bolehkan, ahjumma?” pinta Tiffany dengan puppy-eyesnya.

Taeyeon tersenyum. “Arrasseo. Kalian ingin makan dimana?”

“Yeheyy!” teriak Yoona girang.

“Yoong!” Seohyun menepuk bahu Yoona lagi. Kali ini lebih keras. Semua yang ada disana tertawa melihat kedua sahabat tersebut.

Mereka pun keluar dari ruangan Taeyeon. Sebelum itu, Taeyeon menarik Tiffany dan dengan cepat mengecup bibir kekasihnya. Beruntung mereka berdua di belakang, dan bisa dipastikan ketiga teman Tiffany tidak akan melihat.

“Yaish ahjumma!” Tiffany menepuk dada Taeyeon dan menutupi wajahnya. Dia berjalan cepat menyusul temannya karena malu. Taeyeon terkekeh pelan melihatnya.

Seusai mentraktir teman-teman Tiffany makan siang, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Taeyeon menjadi teringat masa-masa saat menjadi pelajar SMA dulu. Yoong sangat lucu dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon. Mereka juga membuat squad saat di restauran tadi. Yoong menyebutnya, squad gwiyomi. Gadis jangkung itu berkata, Taeyeon dan dirinya adalah makhluk paling cute seantero Korea Selatan.

Taeyeon tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Tiffany yang duduk disampingnya mengerutkan keningnya.

“TaeTae, kau masih waras kan?”

Taeyeon makin tertawa renyah. “Aku hanya teringat saat makan siang tadi. Temanmu yang bernama Yoong sangat lucu.”

“Aah, Yoong memang seperti itu. Dia gadis yang unik.” Tiffany terkekeh membayangkan kebodohan dan kelucuan Yoona.

“Ah jamkkanman. Kau tak keberatan mampir sebentar di mall? Aku ingat persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.”

“Gwaenchanha, TaeTae. Aku juga ingin shopping.”

Taeyeon membulatkan matanya. Dia juga menelan ludahnya. Tiffany dan shopping adalah satu kesatuan yang dapat menimbulkan bencana. Selain dompetnya akan terkuras, tenaga, serta waktunya juga akan terforsir. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan nafasnya pelan.

“Neeeh gadisku yang cantik.” ucap Taeyeon terpaksa.

Tiffany tersenyum senang. Dia mendekat dan mengecup pipi Taeyeon. “Gomawoyongg, TaeTae~” aegyeo Tiffany.

Taeyeon memarkirkan mobilnya di basement. Dia mematikan mesin mobil dan berdehem.

“Sebelum keluar, berikan aku vitamin harianku dahulu.” ujar Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya. “Vitamin harian?”

Taeyeon menatap Tiffany kemudian menarik belakang kepala gadis tersebut. “Ini..”

Kemudian Taeyeon meraih bibir pink kissable kekasihnya dan melumatnya. Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Dia mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan gadis yang lebih tua menarik pinggang Tiffany untuk mendekat.

Mereka berbagi ciuman cukup lama. Tiffany yang mulai kehabisan oksigen melepas ciuman tersebut. Namun tak berselang lama, Taeyeon menempelkan bibirnya lagi. Melumat bibir yang menjadi candunya dengan sangat intim. Tiffany tahu Taeyeon merindukan dirinya. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri. Menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Taeyeon melepas ciuman tersebut. Saliva mereka terhubung satu sama lain. Nafas mereka juga terengah.

“One more..” bisik Taeyeon kemudian mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany sampai kewalahan menghadapi ciuman Taeyeon yang terkesan ganas.

Tiffany mendesah saat Taeyeon menghisap lehernya. Menjilat lalu menghisap dan menggigitnya.

“T- Taeyeonhh~”

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dia mencium gadisnya dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Aah~” Keduanya melepas ciuman mereka.

Mereka menatap satu sama lain dengan senyum lebar.

“Kajja kita keluar.” Taeyeon keluar terlebih dahulu. Dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

“Gomawo.” senyum Tiffany.

Taeyeon dan Tiffany mulai berjalan bersama menuju mall. Pertama membeli bahan dapur terlebih dahulu. Banyak yang harus Taeyeon beli. Setelah selesai, mereka pergi ke tempat pembayaran. Taeyeon meminta barang mereka dipaketkan, karena tidak mungkin Taeyeon membawa semuanya.

Setelah membayar dan menyerahkan alamat apartemennya, Taeyeon segera mengikuti kekasihnya yang akan menguras habis dompet dan tenaganya.

Mereka terus mengitari seluruh penjuru mall. Tentu saja dengan berpuluh-puluh belanjaan. Kaki Taeyeon sampai terasa pegal. Dia tidak mengeluh, demi kesenangan gadisnya.

“Woaah~ kyeopta. TaeTae belikan aku sepatu ini!” Mata Tiffany berbinar saat melihat sepatu bermerk dengan warna pink. Dia melihat sekilas harga sepatu tersebut. Dan hal itu membuatnya menelan ludah. Harga tersebut sama dengan harga ponsel keluaran terbaru.

“N-ne. Ambil saja.” ucap Taeyeon.

Tiffany makin tersenyum. Dia mengecup pipi Taeyeon dan membawa sepatu tersebut ke tempat pembayaran. Taeyeon menghela nafasnya pelan. “Hwaiting!”

Setelah empat jam berkeliling mall dan segudang belanjaan yang Tiffany peroleh, mereka berdua akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Taeyeon merasakan tangannya sudah mati rasa karena membawa barang belanjaan Tiffany yang banyaknya diluar nalar. Dia terus menyemangati dirinya sendiri dan terus mengikuti Tiffany dibelakang.

Saat menuruni eskalator, mata Taeyeon tak sengaja menangkap seorang gadis blonde yang tengah menaiki eskalator di sampingnya. Dia tidak terlalu mempedulikan hingga saat dia selesai menuruni eskalator, Taeyeon terhenyak. Gadis itu menjatuhkan semua belanjaan kekasihnya dan langsung berbalik. Menaiki eskalator dengan berlari. Dia tidak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya.

“Ahjumma! TaeTae!” teriak Tiffany dibawah namun Taeyeon tak menghiraukan kekasihnya.

Ada hal yang jauh lebih penting saat ini. Taeyeon berlari mencari gadis blonde sesaat setelah selesai menaiki eskalator. Taeyeon mengerang.

“Sial! Dimana kau, Kim Hyoyeon!” umpat Taeyeon dengan terus berlari mencari Hyoyeon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Satu chapter terselesaikan. Pffiuuh~

Chap ini gaada badai yes. Dan sorry kalo pendek kaya taeng #plak

Gw mau sedikit ngebacot gpp kali ya. Gw tau kalian pasti masih pada butthurt gegara berita sooseotiff leave SM. Gw jg sedih sih, bahkan nangis #bhakbukaaib. Tp mau gmna lagi, itu udh keputusan mrk. Sbg fans kita cuma bisa dukung, ye ngga?

Dan gw gak bakalan tutup wp ato berhenti nulis. Biarin taeny terus hidup di dunia fanfic walaupun di dunia nyata masih kabur atau ga jelas kabarnya.

Gw juga mohon bantuannya. Kalo semisal gw post fic bukan taeny jan pd nganggep gw gak cinta taeny lagi. Of course gw LS dan gak ada yg bisa nggantiin mrk di salah satu tempat yg khusus buat mrk di hati gw. Tapiii, nge-ship idol lain jg bukan dosa atau kesalahan kan? Gw suka eunxiao juga. Itu jauuh sebelum ada berita itu, jd gak ada kaitannya klo pda ngira gw selingkuh krna taeny gak produktif (?) lagi.

So guys how ’bout the story above? Komen juseyoo~ satu komen dr kalian sangat berharga bagi gue.

Last but not least, entsch bakal end ga nyampe dua puluh chapter. Dan kayak biasa, diupdate tiap minggu. Masih bnyak cerita taeny yg nangkring di kepala gw, makanya gw rampungin ini fic dulu baru bkin fic lain.

Okayy pupye~ see u next chap or fic~

Make It Up

Title : Make It Up

Main Cast : Son Eunseo, Cheng Xiao (WJSN/Cosmic Girls)

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Cheng Xiao terbangun saat mendengar suara berisik diluar. Dia mengusap matanya dan mulai bangun. Mengumpulkan semua nyawa nya dan melihat ke samping, tepat ke arah pintu. Dia kemudian turun dari ranjang dan melihat tempat tidur Unnie-unnie nya sudah kosong dan tertata rapi. Cheng Xiao menguap dan berjalan keluar kamar. Dia melihat beberapa member seperti Dayoung, Yeoreum, Bona, dan Exy tengah berkumpul di ruang tengah.

“Kau sudah bangun? Kalau begitu bangunkan Eunseo, Xiao-ya.” pinta sang leader, Exy.

“Dia belum bangun, Unnie? Biasanya dia bangun awal.” Cheng Xiao menggaruk belakang kepalanya dan berjalan kearah pantry untuk menggosok gigi sebelum membangunkan Eunseo.

Setelah selesai, Cheng Xiao kembali berjalan ke kamar milik 6 membernya, dimana Eunseo terdapat didalamnya. Cheng Xiao melihat Dawon duduk di pinggiran ranjang seraya mengoleskan lotion.

“Annyeong, Unnie.” sapa Cheng Xiao dengan aksen Korea yang lucu.

“Xiao ingin membangunkan Eunseo?” tanya Dawon tanpa melihat Cheng Xiao.

“Ne, Unnie.” jawab Cheng Xiao polos.

“Geurae. Bangunkan dia. Tapi kusarankan beri dia waktu sebentar lagi. Juyeon tertidur sangat larut semalam.” ucap Dawon kemudian berdiri dan berlalu dari kamar mereka.

Cheng Xiao mengerutkan keningnya. Setahunya Eunseo jarang tidur larut akhir-akhir ini. Apa penyakit insomnia gadis jangkung itu kambuh lagi?

Cheng Xiao menggelengkan kepalanya. Dia melihat Eunseo yang tertidur dengan damai. Cheng Xiao terkekeh saat melihat Eunseo yang mengerutkan keningnya saat tertidur. Dia menemukan hal tersebut sangat lucu dan imut. Setelah cukup lama memperhatikan Eunseo tidur, Cheng Xiao mulai membangunkannya.

“Eunseo-ya, ireona~” bisik Cheng Xiao tepat di telinga Eunseo.

Cheng Xiao mengerutkan keningnya karena Eunseo hanya bergumam dan tak membuka mata sama sekali.

“Hey, Juyeon-ah banguun~” Kali ini Cheng Xiao membangunkan Eunseo dengan sedikit menaikkan suaranya.

“Son Juyeon bangun!” teriak Cheng Xiao menggunakan bahasa China.

“Ne ne ne. Aku bangun.” Eunseo mengerang dan bangkit dari tidurnya. Dia duduk tetapi matanya masih menutup.

“Xiao Xiao lapar, Eunseo.” ucap Cheng Xiao dengan mengerucutkan bibirnya.

Eunseo menolehkan kepalanya ke arah Cheng Xiao. “Suruh Dayoung memasak.” kata Eunseo kemudian mulai turun dari ranjangnya. Tentu saja Cheng Xiao ikut turun karena tergusur.

“Xiao Xiao ingin Eunseo yang memasak!” protes Cheng Xiao. Dia melipat tangannya di depan dada dan mempoutkan bibirnya.

“Arra arra. Tunggu di ruang tengah atau ruang makan.” kata Eunseo lalu meninggalkan Cheng Xiao menuju kamar mandi.

“Bahkan dia tidak mengucapkan selamat pagi padaku.” gumam Cheng Xiao dan mengerucutkan bibirnya lagi.

Eunseo berjalan menuju pantry seusai menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dia melihat sudah ada SeolA disana.

“Unnie, kau sedang apa?” tanya Eunseo.

SeolA menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menatap Eunseo dengan sedikit meringis.

“Sebenarnya aku juga tidak tahu mengapa aku kemari.”

Eunseo tertawa pelan mendengar jawaban lugu Unnie nya.

“Biar kutebak, pasti Unnie tengah bingung ingin melakukan apa, benar?” Eunseo berjalan mendekat dan bergabung bersama Unnie nya. Hari ini mereka tidak ada schedule hingga tiga hari ke depan. Wajar saja jika mereka bingung ingin melakukan apa karena biasanya mereka selalu sibuk.

“Kau pengamat yang bagus, Juyeon-ah.”

“Hmm, bagaimana kalau Unnie membantuku memasak saja? Unnie tak keberatan?” tawar Eunseo.

“Ide bagus! Setidaknya aku memiliki sesuatu yang harus dikerjakan.”

“Ookaayy! Mari kita mulai memasak~” ucap Eunseo dengan suara dorky nya. SeolA terkekeh pelan mendengarnya.

Mereka mulai menyiapkan bahan-bahan. Eunseo berencana membuat omelet dan tofu saja yang sederhana. Mengingat member lain sudah sarapan dan hanya dia dan Cheng Xiao yang belum. Eunseo dan SeolA berbagi lelucon saat tengah memasak. Berkali-kali SeolA tertawa karena sikap dork Eunseo.

Disisi lain Cheng Xiao yang melihat interaksi mereka berdua merasa cemburu. Harusnya dia yang mendapatkan sikap dork Eunseo. Saat membangunkannya tadi saja yang Cheng Xiao dapatkan adalah sikap tak ramah Eunseo. Rasanya dia tak pantas mendapatkan perlakuan tersebut dari Eunseo. Semenjak debut, dia sangat dekat dengan Eunseo bahkan hingga saat ini. Cheng Xiao menahan dirinya agar tidak menangis. Gadis China tersebut sangat emosional dibalik sikap polosnya. Dia berbalik dan meninggalkan pantry, lalu bergabung bersama Dayoung dan Bona yang tengah melihat film di laptop.

“Unnie, apa tofu nya sudah matang?” tanya Eunseo. Dia melihat panci di sebelahnya selagi tangannya memasukkan omelet ke piring.

“Biar kucoba dulu.” SeolA mengambil sendok dan mengambil sedikit tofu, sedikit meniupnya kemudian memakannya.

“Aah mashita mashita.” ucap SeolA dengan menunjukan jempolnya pada Eunseo.

Eunseo mengambil sendok dan mengambil sepotong tofu untuk ia coba. “Waaah, kurasa kau sudah siap menikah, Unnie.” ujar Eunseo dengan ekspresi bangga di wajahnya.

SeolA terkekeh. “Sudahlah. Cepat bawakan ini untuk Xiao Xiao tercintamu.”

“Eeeiisshh, Unnie. Kau juga tercintaku.” Eunseo mengedipkan matanya pada SeolA. Dork.

“Dasar bocah!” SeolA menggeleng dan tersenyum. Dia mengambil mangkuk dan mulai memasukkan tofu kedalam.

“Ppalli sarapan. Xiao Xiao mu pasti sudah kelaparan.” SeolA menyerahkan mangkuk beserta omelet dan nasi yang sudah diletakkan di nampan pada Eunseo.

“Gomawoyoongg, Unnie~” aegyeo Eunseo lalu mengecup pipi kanan SeolA.

“Sarapan dataang~” ucap Eunseo dengan suara beratnya yang dibuat-buat. Kelakuan dorky nya seakan tidak padam.

Cheng Xiao menoleh dan menatap Eunseo dengan wajah datarnya. Dia mengambil sumpit dan mulai memakan masakan Eunseo dengan diam. Bukan Eunseo tak sadar dengan perubahan tiba-tiba Cheng Xiao. Namun dia lebih memilih diam dan mencari waktu yang tepat untuk berbicara. Lagipula dia sibuk menyuapi Xuan Yi yang sepertinya belum kenyang.

Selepas sarapan, Eunseo membawa piring dan mangkuk kotor untuk ia cuci. Sedangkan Cheng Xiao masuk ke kamarnya sendiri dan menyibukkan diri dengan ponselnya.

Eunseo melihat Yeoreum yang tengah mengambil minum.

“Eo, Yeoreum-ah dimana Mei Qi, Luda, dan Soobin Unnie? Aku tak melihat mereka daritadi.”

Yeoreum meneguk air untuk yang terakhir sebelum menjawab pertanyaan Unnie nya. “Mereka pergi ke gym.”

“Kau tak ikut?”

“Ani. Aku malas berkeringat.”

Eunseo terkekeh. Dia melepas sarung tangannya ketika cuciannya selesai.

“Ingin bermain game bersama, Unnie?” tanya Yeoreum seraya mengangkat ponselnya. Mereka bersama member lain terkadang bermain game online atau game lain di waktu senggang.

“Lain kali saja, Reumie.” Eunseo tersenyum. Dia menolak ajakan Yeoreum karena sesuatu hal.

“Aeyy, bilang saja kau takut kalah, Unnie.”

Eunseo tertawa dan mengacak rambut Yeoreum. Mereka berjalan ke arah ruang tengah dimana Dayoung dan Bona masih tetap pada posisi sebelumnya. Masih serius menonton film.

“Aigoo, apa yang kalian tonton hingga sebegitu seriusnya, eoh?” Eunseo menggelengkan kepalanya.

“Diam, dork. Kalau ingin melihat tinggal melihat.” jawab Bona tanpa melihat Eunseo.

“Kalian sajalah. Aku masih ada urusan.”

Dengan itu, Eunseo berjalan meninggalkan mereka dan pergi ke kamar 4 membernya dimana ada Cheng Xiao disana. Dia membuka pintu dan melihat Cheng Xiao berbaring dengan ponsel ditangannya.

“Hey C..” sapa Eunseo dengan gaya SWAG english nya.

Cheng Xiao hanya diam.

Eunseo menghela nafasnya dan berjalan mendekati Cheng Xiao. Dia duduk disamping ranjangnya.

“Sesuatu terjadi?” tanya Eunseo langsung ke intinya. Cheng Xiao mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

“Apa itu?” tanyanya lagi.

Cheng Xiao menunjuk Eunseo dengan telunjuknya. Gadis jangkung mengerutkan keningnya seraya menunjuk dirinya sendiri. Kemudian Cheng Xiao mengangguk.

“Juyeonnie wae?” tanya Eunseo dengan wajah puppy nya.

Cheng Xiao yang tak kuasa saat melihat wajah Eunseo yang seperti itu akhirnya menyerah. Dia tertawa dan menaruh ponselnya di sampingnya. Tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Eunseo tersenyum puas melihat sahabatnya tertawa, apalagi karenanya.

“Jadi apa yang membuat Xiao Xiao sebegitu kesalnya pagi ini?” tanya Eunseo setelah tawa Cheng Xiao berhenti.

“Juyeon tidak tersenyum dan mengucapkan selamat pagi kepada Xiao dan langsung keluar kamar. Juyeon juga tidak bersikap ramah tadi, padahal saat bersama SeolA Unnie di dapur Juyeon terlihat senang sekali.” Cheng Xiao menjelaskan selagi bibirnya ia tekukkan ke bawah.

Eunseo tersenyum. Dia bisa mengatakan bahwa Cheng Xiao nya kini cemburu. Hatinya seakan siap meledak saat ini.

“Maafkan Juyeon. Semalam insom Juyeon kambuh dan saat Xiao membangunkan Juyeon, Juyeon masih sangat mengantuk.”

“Insom Juyeonnie kambuh lagi? Waeee?”

Eunseo mengangguk dan mengerucutkan bibirnya. “Jangan salahkan Juyeon tak bisa tidur karena memikirkan Xiao Xiao terus setiap malam.”

Pipi Cheng Xiao bersemu merah. Dia memukul bahu Eunseo dan menutupi wajahnya dengan bantal. “Dork!”

“Juyeon serius Xiao Xiao.”

Cheng Xiao menggeleng dan makin menenggelamkan wajahnya ke bantal. Eunseo tertawa pelan kemudian memeluk Cheng Xiao dengan erat.

“I love you, Xiao Xiao.” Eunseo mengecup puncak kepala Cheng Xiao dan tersenyum.

Meski mereka tak menyatakan cinta secara langsung, namun perlakuan mereka sudah cukup untuk membuktikan betapa mereka saling mencintai satu sama lain. Cukup biarkan semua mengalir meski sebelumnya Eunseo pernah berpikiran untuk mengikat mereka kedalam sebuah status. Dan hal itu juga yang membuatnya sulit tidur beberapa malam terakhir.

“Xiao Xiao juga mencintai Eunseo.” ucap Cheng Xiao dengan bahasa China.

Dan ucapan Cheng Xiao berhasil membuat kupu-kupu beterbangan bebas didalam perutnya. Tentu saja ditambah senyum lebarnya yang terus mengembang.

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

Gw nyoba bikin something new di wp gw. Nyoba bikin otp fav selain taeny dan memb soshi lain. Dann dengan senang hati gw perkenalin kalian sama mereka, Eunseo & Cheng Xiao (EunXiao) WJSN a.k.a Cosmic Girls. Kek nya belom ada yg bkin ini fic otp versi indo deh, makanya gw iseng bikin.

Kalo kalian penasaran sm mereka bisa langsung cek kok di google 😂

Okayy, what do u think guys ’bout this story? Komen juseyo~

Entsch klo ga sabtu ya minggu gw apdet.

 

Enterprischool (Chapter 7)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany menaikkan selimut untuk Taeyeon hingga sebahu. Dia menatap wajah polos kekasihnya yang tertidur sehabis mabuk. Mengecup keningnya lalu beranjak dari tempat Taeyeon dan menyalakan ponselnya. Dia harus memastikan ucapan Taeyeon saat mabuk tadi benar atau tidak. Gadis brunette mencari kontak Daddy nya dan mulai menghubunginya.

“Daddy!”

“Hey, Steph. Ada apa?”

Tiffany menelan ludahnya. “B- Benarkah Dad.. dy dipecat?”

Hening.

“Daddy?”

“Ahaha tak apa, Daddy bisa mencari pekerjaan lain, sayang.”

Tiffany meremas ponselnya. Wajahnya memerah. “Apa yang menyebabkan Daddy dipecat?”

“Aah itu hmm.. kontrak! Ya, kontrak Daddy dengan perusahaan habis.”

Bohong.

Tiffany tahu Daddy nya bohong. Itu tidak sama seperti apa yang Taeyeon bilang saat mabuk. Orang yang mabuk biasanya berkata jujur, benar?

“Mengapa tidak memperpanjang?” tanya Tiffany mengikuti alur kebohongan Daddy nya.

“Hmm itu p- perusahaan memberi Daddy waktu untuk memperpanjang t- tapi Daddy lupa dan D- Daddy tidak bisa memperpanjang lagi..”

“Arrasseo, Daddy. Lebih baik Daddy gunakan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.”

“Ne, Stephy. A- Annyeong.”

Tiffany tak membalas dan langsung menutup panggilannya.

Tiffany hendak naik keatas untuk berganti pakaian saat dia mendengar suara di ruang keamanan. Dia mulai masuk dan melihat komputer yang menampilkan sahabat kekasihnya baru saja memasuki apartemen. Dia menekan tombol mic dan berbicara.

“Unnie, Ahjumma. Ruang rahasia!”

Tiffany melihat Yuri, Sooyoung, dan Jessica berhenti berjalan dan mendengar pengumuman dari dirinya. Setelah itu mereka mulai menaiki tangga.

Tak lama untuk ketiganya memasuki ruang rahasia Taeyeon.

“Kau disini?” tanya Jessica seraya menurunkan tas tangannya di meja di dekatnya. “Dimana Taeyeon?” lanjut Jessica.

Tiffany menunjuk sofa di depannya dengan dagu, tepat dimana Taeyeon tengah tertidur.

“Tae Ahjumma habis mabuk…” ucap Tiffany. “…dan dia mengatakan semuanya.” lanjut Tiffany.

Ketiga sahabat Taeyeon menghela nafasnya.

“Maafkan kami. Itu pasti berat untukmu.” ucap Jessica. Yuri dan Sooyoung mengangguk mengiyakan.

Tiffany menggeleng. “Itu bukan salah kalian, bukan juga salah Ahjumma.” Tiffany menatap kekasihnya yang tertidur dengan damai.

“Kalian keberatan jika mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tiffany. Dia melihat ketiga orang di depannya diam.

“Please..” Tiffany memohon kali ini.

Yuri menatap kedua sahabatnya dan mengangguk. “Biarkan dia tahu masalah ini.”

Jessica menghela nafasnya lagi. “Lakukanlah.”

Setelah mengatakan semuanya, Tiffany merasa bersalah pada kekasihnya. Dia pasti merasa tertekan dengan ini semua. Tak terbanding dengan rasa tertekannya saat siswa di sekolahnya mengoloknya. Dia merasa menjadi kekasih yang tak berguna.

“TaeTae..” gumamnya seraya melihat Taeyeon yang masih tertidur.

“Aku tahu dia gadis yang tangguh. Kau tidak perlu khawatir. Pikirkanlah dirimu sendiri, Tiff. Sekali lagi kami meminta maaf karena menjadi penyebab Daddy mu dipecat.” ucap Jessica seraya mengusap bahu Tiffany.

Tiffany menggeleng. Dia menatap Jessica serius. “Kalian bilang Hyejin Unnie pernah mengatakan bahwa orang terdekat Taeyeon yang melakukan ini?”

Jessica mengerutkan keningnya lalu mengangguk.

“Kuncinya ada di Hyejin Unnie! Mengapa kalian tidak bertanya padanya?!”

“Kami juga ingin, Tiff. Tapi Hyejin entah dimana sekarang. Kami bahkan kesulitan mencarinya.”

Tiffany mengembuskan nafasnya kasar. Dia memijit pelan pelipisnya.

“Kita tunggu Taeyeon bangun. Dia bilang dia mencurigai seseorang dan kita berniat menyelidikinya.” kata Sooyoung.

***

Gadis kecil dengan rambut diikat kuda menatap danau luas di depannya dengan tatapan kosong. Tangannya memegang sebuah foto. Dia mengalihkan pandangannya ke arah foto. Percakapannya dengan Lee Eomonim terulang di kepalanya.

“Hyonie, kau ingin mendengar sesuatu?” tanya Lee Eomonim.

Hyoyeon yang terkenal sangat aktif dan selalu melemparkan lelucon untuk menyenangkan anak-anak lain langsung tersenyum dan mengangguk semangat.

“Sebenarnya kau memiliki saudara, Hyonie-ya..”

Senyum Hyoyeon langsung pudar seketika. “Saudara?”

Lee Eomonim menatap Hyoyeon lalu mengangguk.

“Suatu hari di musim panas, kau dan saudaramu ditemukan di depan panti bersama sepucuk surat dan perlengkapan bayi lain..” Lee Eomonim memberi jeda sejenak.

“Di surat tertulis namamu dan nama saudaramu. Ibu kalian meminta maaf karena menyerahkan kalian kemari dan juga.. mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Ibu kalian tak bisa mengurus kalian dan memilih bunuh diri seperti yang dijelaskan di surat..”

“Eomma..” gumam Hyoyeon. Matanya memerah.

Lee Eomonim menghapus airmata di pipi Hyoyeon dan tersenyum lemah.

“Tiga hari setelahnya, seorang pria kaya mengadopsi saudaramu.. tanpamu..”

Hyoyeon menghapus sisa airmatanya dan menatap Lee Eomonim. “Wae?”

Lee Eomonim menggeleng. “Pria itu mengatakan hanya ingin mengadopsi satu anak. Kami pada awalnya tidak mau, karena kalian pasti akan terpisah. Tapi pria itu terus memaksa hingga kami menyerah.”

Lee Eomonim mengambil sesuatu di tas nya. Sebuah foto. Dia menyerahkannya pada Hyoyeon.

“Itu saudaramu, Hyonie-ah. Eomonim ingin setelah kau pindah bersama orangtua barumu, kau mau mencari Unnie mu, karena dia adalah satu-satunya anggota keluargamu.”

Hyoyeon menggeleng. “Hyo tidak mau! Unnie meninggalkan Hyo. Untuk apa Hyo mencari Unnie?!”

“Saat itu kalian masih bayi, Hyonie. Unnie mu tak tahu apa-apa.”

Hyoyeon menangis. Dia tidak tahu harus senang atau marah mengetahui hal tersebut. Dia lalu berlari dari panti menuju danau yang terletak tidak jauh dari panti. Dia menatap kosong danau tersebut. Matanya beralih menatap foto yang diberikan Lee Eomonim tadi. Dia membalikkan foto tersebut dan melihat tulisan.

Kim Taeyeon & Kim Hyoyeon

 

Sebulan kemudian, Hyoyeon diadopsi sepasang suami isteri yang masih terlihat muda. Dari dandanan dan mobil yang mereka pakai, mereka bukanlah orang sembarangan.

Hyoyeon menunduk 90° dan tersenyum sopan. Pasangan tersebut tersenyum akan kesopanan Hyoyeon.

“Kau sangat sopan, nak. Siapa namamu?” tanya wanita di depannya.

“Kim Hyoyeon imnida.” Hyoyeon menunduk lagi.

“Ahh Hyoyeon-ah.. kami akan menjadi orangtuamu sebentar lagi.” ucap wanita tersebut dengan tersenyum.

“Ne, Lee Eomonim sudah mengatakannya kepada saya. Terimakasih karena mengadopsi saya.”

Kedua pasangan tersebut tersenyum dan mengangguk. Mereka pikir mereka telah menemukan anak yang tepat untuk mereka.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah Hyoyeon lewati bersama keluarga kecilnya. Dia bahagia bisa merasakan bagaimana dicintai seorang Ibu dan Ayah seperti yang pernah diceritakan teman-temannya sewaktu kecil. Hyoyeon sekarang mulai memasuki sekolah menengah pertama.

Dia sedikit sedih mengetahui temannya sedari sekolah dasar tidak satu sekolah dengannya dikarenakan pindah kota. Dia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan tersenyum. Hari pertamanya sekolah harus berakhir menyenangkan.

“Hoi hoi hoi semangat Hyo!” Hyoyeon menyemangati dirinya sendiri.

Dia lalu turun dan melihat Appanya sudah mengenakan pakaian formal dan tengah sarapan.

“Eomma.. Appa..” Hyoyeon mengecup pipi Eomma dan Appa nya bergantian lalu mulai bergabung untuk sarapan.

“Kau siap untuk sekolah, kawan?” tanya Appa nya.

“Tentu saja, Appa!” senyum Hyoyeon.

“Baiklah. Habiskan sarapanmu lalu kita akan berangkat.”

Hyoyeon mengangguk dan menyelesaikan sarapannya.

Setelah selesai, Hyoyeon dan Appanya mulai memasuki mobil. Appa nya mengantarkan puterinya ke sekolah barunya terlebih dahulu.

“Belajar yang rajin, Hyonie.” kata Appa Park.

“Ne, Appa. Hyo berangkat. Annyeong.”

Setelah mengecup pipi Appanya, Hyoyeon mulai turun dari mobil. Di perjalanan menuju kelasnya, Hyoyeon melihat seorang laki-laki tengah dibully oleh beberapa anak, dia melihat satu perempuan diantara anak yang membully. Hyoyeon melihat perempuan tersebut seperti pemimpin geng.

Hyoyeon hendak mengacuhkannya namun dia terhenyak saat menyadari sesuatu. Dia segera membuka tasnya dan mengambil foto dari Lee Eomonim. Hyoyeon bergantian melihat foto dengan perempuan tadi. Meskipun di foto mereka masih bayi, tapi Hyoyeon melihat kemiripan diantaranya.

Hal tersebut makin mengejutkan Hyoyeon saat teman laki-laki perempuan tersebut memanggilnya.

“Taeyeon-ah, dia tak mempunyai apa-apa. Kita cari yang lain saja.”

Perempuan tersebut memutar bola matanya malas.

Hyoyeon sedikit yakin perempuan didepannya adalah Unnie nya. Maka dia harus memastikan hal itu.

“Kim Taeyeon!” teriak Hyoyeon. Geng tersebut menoleh ke arah Hyoyeon, terutama perempuan yang dipanggil Taeyeon tadi.

“Kau memanggilku?” tanyanya dengan menaikkan alisnya.

Hyoyeon mengangguk. Anak laki-laki yang tadi dibully menatap Hyoyeon dan menggeleng. Hyoyeon yakin Taeyeon adalah seorang brandal.

Taeyeon tertawa pelan. “Kau salah menyebutku. Aku..” Taeyeon menunjuk dirinya sendiri. “Han Taeyeon.. dan bukan Kim.” Dia lalu menatap Hyoyeon tajam.

Hyoyeon menyeringai. Dia lalu menggeleng. Dia tak takut dengan berandal-berandal semacam Taeyeon. “Kurasa kau adalah Kim.. Kim Taeyeon.. anak adopsi.”

Taeyeon melebarkan matanya karena terkejut. Dia mengeraskan rahangnya dan menatap Hyoyeon tajam. Teman laki-lakinya berbisik dibelakang Taeyeon. Hal itu membuat Taeyeon marah. Dia mendekati Hyoyeon dan meraih kerah seragam Hyoyeon.

“Siapa kau?!” desis Taeyeon.

Hyoyeon masih tetap tenang. “Ternyata benar kau Kim Taeyeon. Huh, aku tak menyangka kau seburuk ini.”

Hyoyeon melepas genggaman Taeyeon di kerahnya dengan kasar dan berjalan menjauh. Taeyeon hendak membalas Hyoyeon namun bel masuk berbunyi menghentikan langkahnya.

“Awas saja kau! Aku akan membalasmu!” teriak Taeyeon dan tak dihiraukan oleh Hyoyeon.

Seperti yang dikatakan Taeyeon, gadis itu benar-benar melakukan balas dendam. Dia selalu mengerjai Hyoyeon setiap hari. Namun gadis itu sama sekali tak peduli dan bersikap acuh. Satu yang diketahui Hyoyeon, rasa benci ke Taeyeon kian tumbuh. Meskipun dia yakin dan sadar Taeyeon adalah saudaranya, Unnienya, keluarganya, satu-satunya keluarga.

Hyoyeon memutar bola matanya malas saat melihat geng Taeyeon. Dia membalikkan tubuhnya tak ingin berurusan dengan Unnienya.

“Ya! Berhenti kau disana!”

Hyoyeon tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus berjalan. Gadis berambut pendek mengerang. Dia menyuruh anak buahnya untuk mengejar Hyoyeon dan menariknya ke belakang sekolah. Hyoyeon tentu saja melawan. Namun tenaganya kalah kuat karena tiga orang laki-laki menyeretnya. Mereka mendudukan Hyoyeon dibawah pohon. Taeyeon berdiri berkacak pinggang disana.

“Kau tak mengindahkan ultimatumku untuk pindah dari sini, huh?!” Taeyeon menarik rambut Hyoyeon. Gadis yang lebih muda meringis.

“Siapa kau menyuruhku, huh? Sekolah ini bukan milikmu!”

Taeyeon makin kesal. Dia menarik rambut Hyoyeon dengan keras. Tentu saja Hyoyeon berteriak.

“Kau berani melawanku?”

Hyoyeon meringis. “Aku tak tahu setelah keluar dari panti akan seperti ini kelakuanmu, Kim Taeyeon.”

“Berhenti memanggilku Kim Taeyeon!” teriak Taeyeon.

Hyoyeon mendorong tubuh Taeyeon.

“Nyatanya kau memang Kim Taeyeon! Apa harta ayah angkatmu membuatmu seperti ini, hah?!”

Taeyeon membuka mulutnya. Dia melihat teman-temannya yang mulai menatap Taeyeon dengan tatapan berbeda. Dia menelan ludahnya. Dia tidak siap dan tidak mau rahasianya terbongkar disini. Di depan teman-temannya. Dia juga bingung bagaimana gadis yang baru ditemuinya mengetahui hal tersebut.

Hyoyeon mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia lalu melemparkan fotonya bersama Taeyeon tepat diwajahnya. Taeyeon mengambil foto tersebut dan terbelalak. Dia yakin bayi di foto tersebut adalah dirinya. Benar-benar mirip dengan beberapa foto bayinya yang ada di rumahnya. Dia melihat tulisan dibalik foto tersebut.

“Kim Taeyeon dan Kim Hyoyeon..” lirih Taeyeon.

Dia melihat kedepan, namun sudah tak menemukan Hyoyeon lagi. Dia berlari sekuat yang dia bisa untuk mencari Hyoyeon. Taeyeon melihat Hyoyeon yang masuk kedalam mobil. Dia juga sedikit melihat pria yang menjemputnya. Dia sedikit paham pria tersebut adalah Tuan Park, rekan bisnis Appanya.

Saat dia berlari ke arah mereka, mobil Tuan Park sudah melaju. Taeyeon terus berlari dan berteriak. Namun usahanya sia-sia. Kecepatan mobil tak sebanding dengan kecepatan larinya.

Hari selanjutnya, Taeyeon sudah tidak menemukan Hyoyeon di sekolah. Gurunya bilang Hyoyeon sudah pindah. Hal itu membuat Taeyeon menyesal. Dia berhutang penjelasan. Siapa Hyoyeon dan apa hubungannya dengannya?

Hingga Taeyeon tumbuh besar, dia sama sekali tak melihat Hyoyeon lagi. Dia sudah berusaha semampunya mencari Hyoyeon dan Tuan Park. Namun hasilnya sia-sia. Appa nya bilang Tuan Park pindah ke luar negeri dan tidak tahu tepatnya dimana. Appanya juga mengatakan mereka sudah lama lost contact.

Taeyeon merasa tak ada harapan lagi. Dia hanya ingin meminta maaf atas perbuatannya dan menanyakan hubungan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Another flashback everyone~

Kuharap kalian masih nungguin ini cerita.

So how bout the chapter above? Tell me tell mee~

Pupye~ see ya next chap or fic~

Right Answer

Title : Right Answers

Main Cast : Kim Taeyeon

Genre : GXG

Author : taengfanglove

Alih bahasa : N

.

.

.

.

 

 

Taeyeon mengeluarkan seprai bersih dan membentangkannya di kasurnya. Deterjen beraroma vanilla. Mengapa dia lebih memilih membelinya daripada deterjen berwarna hijau yang beraroma seperti pir?

Keduanya berbau harum. Tapi kali ini, dia pikir vanilla lebih baik.

Dia menyelipkan seprai dan bertanya-tanya tentang hidupnya. Dia ingat ketika dia mengajukan pertanyaan, “Apa itu hidup?”

Dia masih bertanya-tanya. Pertanyaan yang sama setiap hari. Kesepian sudah menjadi hal baik baginya dan dia tidak menjalani kehidupannya seperti dulu. Terlalu banyak rintangan yang menghadang, terlalu banyak kemunduran, dan terlalu banyak hal tak penting yang terjadi selama bertahun-tahun. Sesuatu yang dia pikirkan hanya terjadi di film.

Dia ingat pernah bertanya kepada ibunya suatu hari, “Apa itu hidup?”

Ibunya menyetrika kemeja putih ayahnya dan mengambil nafas.

“Hidup adalah apa yang kau perbuat.”

Itu bukanlah jawaban yang dia cari. Jadi dia berhenti mengajukan pertanyaan dengan lantang, dan lebih memilih menggunakan pemikirannya sendiri untuk mencoba mengumpulkan potongan-potongan untuk dijadikan jawaban tetapi itu tak pernah terjadi.

Dia memutuskan untuk berhenti.

Tapi kemudian rasa keingintahuannya mendapat posisi terbaik dari dirinya dan banyak pertanyaan muncul di kepalanya.

“Apa itu cinta?”

“Apa itu waktu? Bisakah kau mengembalikan waktu?”

Tangannya selalu dia acungkan untuk bertanya pada gurunya sewaktu sekolah, tetapi mereka tak pernah memberikannya jawaban yang tepat.

Buku-buku juga sama tak pernah memberinya jawaban yang dia cari dengan semangat. Orang-orang selalu memberikan jawaban yang sederhana dan membosankan.

Taeyeon merapikan seprai dan mulai memasukkan sarung bantal ke bantal yang berisi bulu. Bau vanilla. Itu terlihat sangat baik.

Tak ada seorang pun yang memiliki jawaban tepat dan dia menjadi tak memiliki harapan. Jika hidup adalah apa yang kau perbuat, mengapa pilihannya membawanya ke sesuatu yang menyedihkan?

Mengapa hal itu selalu terjadi padanya dan bukan orang yang tidak ada ruginya. Taeyeon berpikir dia sudah kehilangan semuanya tapi dia masih memiliki hatinya dan dia berpikir, “seseorang akan datang dan memperhatikannya”

Tapi bagaimana jika mereka tak akan pernah datang?

Taeyeon benci memilih. Tapi dia tak membuat pilihan saat dia memilih deterjen vanilla di toko.

Ketika dia harus memilih antara mengikuti mimpinya sendiri dan memenuhi harapan orangtuanya, dia telah mempertimbangkan pilihannya dengan hati-hati.

Mimpinya adalah melukis dan orangtuanya menginginkan dirinya untuk menjadi dokter. Ahli bedah mungkin. Sesuatu seperti itu. Taeyeon berpikir dia akan meraih karir yang bagus dengan menjadi dokter. Dia akan menyelamatkan hidup seseorang disisi lain dia juga akan menjumpai kematian.

Dia akan menjadi orang sukses tetapi saat dia melihat tangannya, harusnya mereka tetap stabil sebagai ahli bedah. Tangannya hanya akan tetap stabil ketika dia memegang kuas dan kanvas kosong di depannya.

Dia tidak harus memilih, saat ini jawabannya sudah jelas.

Pertanyaan itu selalu muncul kapanpun dan tak terhitung di siang hari.

Mengapa kita membuat pilihan?

Dia meletakkan bantal pada tempatnya dan mencium aromanya. Dia sungguh menyukainya.

Hal itu terlihat sangat familiar. Seperti deja vu.

Taeyeon mendengar suara nyaring yang menggema di lorong dan untuk pertama kali, dia kehilangan akalnya ketika dia melihat gadis berambut merah tengah berbicara dengan profesor mereka di luar auditorium.

Murid pertukaran dari Amerika. Yang pernah duduk di sampingnya selama dosen mereka menjelaskan arsitektur pra sejarah dan seni. Renaissance. Da Vinci. Michelangelo.

Vanilla.

Taeyeon kehilangan akalnya lagi dan dia menghirup bau vanilla lain yang lebih menyengat.

Lagi dan lagi dia menghirup bau tersebut dengan diam dan dia melihat ke arah gadis berambut merah. Deja vu lainnya.

Mengapa dia memilih vanilla?

Pertanyaannya tak lagi terputar di kepalanya selagi gadis berambut merah bernama Hwang Tiffany memecah gelembung yang dimilikinya dan membuat gelembung lain dimana mereka berdua ada di dalamnya. Hanya mereka. Dia melangkah ke kehidupannya, meninggalkan pertanyaan tak terjawabnya tetapi kali ini sama sekali tak mengganggu Taeyeon.

Dia membasuh wajahnya dengan air dingin dan melihat bagaimana air tersebut jatuh menuruni wajah dan lehernya.

Dia mencondongkan tubuhnya kedepan, memeriksa matanya dibawah lampu fluorescent diatas cermin dan memikirkan Tiffany. Dia melihat bagaimana pupilnya melebar dalam hitungan milidetik saat dia membayangkan senyum menawan gadis itu. Dan dia lalu teringat pernah membaca disuatu tempat bahwa ketika kau memikirkan orang yang kau cintai, pupilmu akan melebar.

Jadi apakah dia mencintai Tiffany?

Dia mengikuti setiap kontur wajahnya dan melihat kegembiraan disaat dia terus memikirkan Tiffany dari segala perspektif yang dia saksikan dari gadis itu. Senyumnya, tawanya, ekspresi sedihnya, ekspresi marahnya. Dan dia menyaksikan pupilnya melebar di setiap pemikirannya terhadap gadis itu.

Suatu hari dia teringat pertanyaannya lagi disaat mereka tengah makan siang dan dia memutuskan bertanya pada Tiffany, “Apa itu hidup? Apa itu cinta?”

Tiffany mengeluarkan kentang goreng di mulutnya dan menatap balik dirinya dengan satu alis terangkat. Kemudian dia mulai menjelaskan, hal itu terus berlanjut dan Taeyeon merasa sangat senang tatkala gadis itu berbicara kata per-kata.

Tiffany sangat dekat dengan Taeyeon dan saat dimana mata mereka bertemu, Taeyeon melihat pupil Tiffany melebar. Sama seperti miliknya.

Dia akhirnya mendapat jawaban yang tepat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

I’m sorry for loooong update. I’ve been busy w/ my mid-test >_<

Entsch diupdate besok insyaallah.

Btw diatas fic translate. Gw suka ceritanya, simple tp berkesan makanya gw translate.

Okeyy pupye see u next fic~

Enterprischool (Chapter 6)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Wajah Tiffany terus ia tundukkan mulai dari gadis itu duduk di depan Daddy-nya. Tangannya ia remas dibawah meja sesekali menggigit bibir bawahnya. Sedangkan disampingnya duduk, Taeyeon masih diam dengan menatap lurus kedepan, ke arah Daddy Tiffany. Tak dipungkiri dia kini juga gugup setengah mati. Pasalnya ini kali pertamanya bertemu langsung dengan Daddy Hwang.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi tadi, Steph?” Setelah cukup keheningan, Daddy Hwang bersuara.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. “S- Sebenarnya.. Taeyeon.. aku..”

“Tiffany adalah kekasih saya, Tuan Hwang.”

Tiffany menoleh ke arah sampingnya dengan terkejut. Sementara Daddy Hwang menatap tajam Taeyeon.

“Sejak kapan?” tanya Daddy Hwang dingin. Taeyeon berusaha sekuat mungkin agar tidak gugup dan memunculkan sisi percaya diri nya.

“Setahun yang lalu.” jawab Taeyeon.

Daddy Hwang memejamkan matanya dan memijat pelipisnya. Dia mengerang pelan karena puteri bungsu nya membuatnya pusing bukan main. Dia tidak melarang puterinya memiliki hubungan khusus dengan orang lain, tapi kenapa harus sesamanya? Dan lagipula wanita di depannya ini yang ia ketahui adalah direktur di sekolah puterinya. Usia mereka juga terpaut cukup jauh.

“Akhiri hubungan kalian.” ucap Daddy Hwang yang sukses membuat kedua wanita di depannya terkejut.

“Andwae! Stephy mencintai Taeyeon, Dad! Stephy tidak mau berpisah dengan Taeyeon!”

“Kau masih remaja, Steph. Daddy tahu kau masih bimbang menentukan dia benar-benar cintamu atau bukan.”

Tiffany menggeleng dengan cepat. “Bukan Stephy yang memilih hal ini terjadi, tapi hati Stephy, Dad. Stephy yakin Stephy benar-benar menyukai- ani- mencintai Taeyeon.”

“Maaf, Tuan Hwang. Tapi kami berdua saling mencintai. Ini tulus dari hati kami yang terdalam. Saya mohon berikan izin kepada kami.” tambah Taeyeon. Tiffany mengangguk mengiyakan.

Daddy Hwang menghela nafasnya kasar. “Ku berikan kau satu kesempatan. Tapi kalau aku melihat puteriku tersakiti karenamu. Aku tak segan-segan memisahkan kalian.” ucap Daddy Hwang pada akhirnya.

Kedua pasangan tersebut melengkungkan senyumnya.

“Thanks, Dad!”

“Terimakasih telah memberikan kesempatan, Tuan Hwang.”

 

Tiffany memainkan kancing piyama Taeyeon saat mereka kembali berbaring di ranjang Tiffany. Setelah sedikit tegang menghadapi Daddy nya, gadis itu merasa bebannya terangkat. Dia pikir Daddy nya tak akan memberikan mereka izin. Tapi ternyata tidak, dia bernafas lega karena itu.

“TaeTae, berjanjilah setelah ini kau akan terus bersamaku. Bahkan sampai tua sekalipun.” ucap Tiffany dengan mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon tertawa pelan. Dia mencubit hidung bangir kekasihnya. “Aku berjanji, sayang. Setelah kau lulus nanti aku akan menikahimu.”

“Aniya! Tunggu aku lulus kuliah.” Tiffany menepuk dada Taeyeon.

“Wae? Lebih cepat lebih baik, kan?”

“Lebih baik untukmu karena kau bisa bebas melakukan hal dengan tubuhku!” Tiffany mempoutkan bibirnya.

“Percaya padaku, itu sangat menyenangkan, sayang.” Taeyeon terkekeh pelan dengan ucapannya sendiri.

“Hentikan! Jangan membuatku cemburu pada mantan kekasih atau partner one night stand mu yang super banyak!” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi kekasihnya.

“Kau marah?” tanya Taeyeon pelan.

“Ne!”

Senyum liar mengembang di kedua bibir Taeyeon. Dia mencolek bahu Tiffany bermaksud menggodanya.

“Kalau marah mengapa menjawab pertanyaanku, hm?”

“Aaaa~ menyebalkan~ aku benci ahjumma!”

Taeyeon tertawa melihat tingkah kekasihnya. Dia kemudian memeluk Tiffany dari belakang dan mengecup lehernya, dilanjutkan ke pipinya.

“Saranghae, baby. Jalja~”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon memajukan wajahnya pada Tiffany dan mengecup ujung bibirnya. Kemudian mulai memejamkan matanya dengan tangannya yang masih memeluk pinggang kekasihnya. Tiffany tak bisa berbuat apa-apa tapi tersenyum. Dia membalikkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir Taeyeon dan menyamankan tubuhnya di pelukan gadisnya.

***

“Aku pulaaang~”

Taeyeon meletakan tas ranselnya ke sofa dengan pandangannya yang mengitari mansion megah tersebut.

“Nona muda. Anda pulang?” sapa salah satu butler di mansion itu.

Taeyeon mengangguk. “Dimana Appa?”

“Tuan sedang di taman belakang, nona muda.” jawab butler itu sopan.

“Arrasseo, aku akan kesana.”

Taeyeon berjalan santai ke belakang mansion megah milik Appa angkatnya. Dia jarang tinggal di mansion tersebut semenjak menjabat sebagai Presdir di perusahaan Appanya. Hal itu membuat Appa nya sedih, namun Taeyeon berjanji akan menginap beberapa malam setiap sebulan sekali. Seperti yang dilakukannya saat ini.

“Appa!” teriak Taeyeon dengan tersenyum. Meskipun bukan ayah kandungnya, namun Taeyeon sangat mencintai Appa nya itu.

“Taenggu~ Ya Tuhan, kau masih saja pendek, nak!”

“Ya Appa!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya membuat sang Appa tertawa karenanya.

“Kemarilah. Peluk Appa mu ini.”

Taeyeon tersenyum dan berlari memeluk Appa nya.

“Bogoshippo, Appa.” kata Taeyeon di pelukan pria paruh baya tersebut.

“Nado, bocah tengil Appa.”

Taeyeon melepas pelukannya dan menatap tajam Appanya yang dengan santai menaikkan alisnya.

“Aku hampir 25 tahun asal Appa tahu.” Gadis imut melipat tangannya di depan dada dan mendengus.

“Bagi Appa kau masih Taeyeon kecil Appa. Sudahlah ayo kita masuk. Kau mau sup buatan Appa?”

“Call!” girang Taeyeon dan melompat menaiki punggung Appanya untuk digendong. Appa Han hanya bisa tertawa dan menggendong puterinya dengan berlari.

 

“Bagaimana pekerjaan?” tanya Appa Han saat mereka tengah makan malam bersama.

“So far so good. Hanya saja kemarin ada sedikit masalah di bagian bahan baku, tapi tenang saja, puteri Appa ini sangat handal menanganinya.” jawab Taeyeon dengan bangga.

“Baguslah. Itu baru puteri Appa. Lalu bagaimana dengan kekasihmu?”

Taeyeon tersenyum lebar saat Appanya menanyakan kekasihnya. Hanya memikirkan Tiffany saja mampu membuat perutnya berbunga-bunga.

“Kami baik-baik saja. Aku berencana menikahinya saat dia lulus nanti. Apa Appa tak keberatan?”

Appa Han sedikit berdehem karena tersedak. Dia meminum air putihnya sebelum berbicara. “Kau ini suka sekali mengejutkan Appa, ya? Ckckck kalau itu keputusanmu, Appa bisa apa, hm?”

Taeyeon menunjukkan senyum lebarnya lagi. Dia bangkit dan memutari meja kemudian duduk di samping Appanya dan memeluknya.

“Gomawo, Appa. Kau yang terbaik!”

Appa Han ikut tersenyum dan balas memeluk puteri kesayangannya.

***

Taeyeon menguap seraya meregangkan tubuhnya. Dia mengusap matanya kemudian meraih ponselnya yang mengganggu tidurnya dengan sedikit kesal. Hari ini dia berangkat sore hanya untuk memimpin rapat. Paginya bisa ia gunakan untuk tidur. Namun bunyi ponselnya kali ini membuatnya mengurungkan niatnya karena terlanjur kesal.

“Yeoboseyo!” teriak Taeyeon tanpa melihat ID Caller nya.

“Hey slow down, buddy!” ucap sebuah suara di seberang sana.

“Ada apa kau meneleponku pagi buta seperti ini, Soo?”

Terdengar helaan nafas di seberang sana.

“Daddy Tiffany dipecat.” 

“WHAT?!” Mata Taeyeon terbelalak. Rasa kantuknya hilang seketika.

“Aku baru dapat informasi tak lama tadi. Anakan JXK Corp, Doelim Inc memecat Tuan Hwang karena dituduh melakukan penggelapan dana dari klien dan jaksa agung. Kau bisa ke kantor kita sekarang? Sudah ada Sica dan Yul disini.” 

“Tunggu aku 30 menit, Soo.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon menutup telepon dan segera berlari ke kamar mandi kemudian bersiap.

Taeyeon turun dari tangga dengan tergesa. Dia melihat Appa nya tengah membaca koran di sofa. Dia tidak sempat mendekati ayahnya dan berjalan cepat ke arah pintu sebelum Appa nya menyadarinya.

“Hey, Taeng. Kau mau kemana?” tanya Appa Han.

“Kantorku. Ada sedikit masalah!” teriak Taeyeon sebelum pintu utama tertutup sempurna.

 

“Bagaimana bisa Tuan Hwang dipecat?!” tanya Taeyeon frustasi setibanya ia di kantornya.

Jessica menggeleng. “Mata-mata kita tidak tahu pasti. Tapi mereka sering melihat orang-orang JXK bolak-balik ke Doelim sebelum Tuan Hwang dipecat.”

“Jadi maksudmu mereka melakukan konspirasi untuk menjebak Tuan Hwang?”

“Kita tak tahu pasti, Taeng.” ujar Yuri lemah.

“Selidiki kasus ini. Aku yakin Tuan Hwang tidak pernah melakukan penggelapan dana. Setahuku beliau adalah orang yang sangat bertanggungjawab.” perintah Taeyeon.

“Tapi ini akan sedikit sulit, Taeng. Meskipun kita tidak tahu dalang dibalik semua ini, tapi yang jelas orang itu memiliki kekuasaan penuh dan dia bukan orang sembarangan.” kata Sooyoung.

“Sooyoung benar. Dan maaf mengatakan ini, tapi Tuan Hwang telah dicabut lisensi nya sebagai pengacara.” tambah Jessica.

“Ya Tuhan! Masalah apalagi ini?!” Taeyeon meremas rambutnya dan memejamkan matanya erat.

“Tapi, Taeng. Aku merasa bukan Young Woo dibalik ini semua. Kau tahu sendiri kan Young Woo tak memiliki saham sepeserpun di sekolah Fany? Tapi mengapa dia bisa mengambil alih posisimu? Yang kedua, perusahaan kecil milik Young Woo bisa merger dengan JXK Corp, itu adalah hal yang luarbiasa sekali. Perusahaan kita saja sangat sulit untuk merger dengan mereka.” Sooyoung mengutarakan pendapatnya.

“Jadi maksudmu ada seseorang yang mengendalikan Young Woo? Dengan kata lain menjadikan Young Woo sebagai boneka?” tanya Taeyeon.

Sooyoung mengangkat bahunya. “Who knows?”

Taeyeon tiba-tiba teringat perkataan Hyejin yang menyuruhnya berhati-hati dengan orang-orang terdekatnya. Dia menatap ketiga sahabatnya bergantian dengan intens kemudian menggeleng.

“Tidak! Tidak mungkin mereka! Lalu siapa lagi?” batin Taeyeon. Matanya terpejam berusaha berpikir.

Taeyeon terhenyak dan melebarkan matanya saat teringat sesuatu.

“Apakah Kim Hyoyeon?” tanyanya dalam diam.

***

Tiffany memainkan kakinya yang menggantung dibawah booth dan memakan eskrim nya dengan lahap. Setelah sekolah usai, Jun menawarinya berjalan-jalan sebentar di taman dan memakan eskrim disana. Tentu saja Tiffany langsung menerimanya. Dia menjadi ketularan Taeyeon yang sangat menggilai eskrim.

“Jun-ah, gomawooo~” ucap Tiffany dengan tersenyum.

“Terimakasih untuk?”

“Berkat kau, aku jadi tidak mendengar olokan atau ejekan lagi di sekolah.”

Jun tersenyum seraya mengacak rambut Tiffany.

“Sama-sama, babi kecil.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya karena Jun memanggilnya babi kecil. Namun tak berlangsung lama. Dia mengangkat bahunya dan kembali memakan eskrimnya dengan lahap.

“Yah kau benar-benar seperti anak kecil. Lihat! Ada eskrim di sudut bibirmu.” ucap Jun dan sedikit berdecak.

“Dimana?” Tiffany mencoba membersihkan eskrim di sudut bibirnya namun selalu tak kena karena memang ia menjilatnya salah.

“Aish dasar babi kecil. Ikeo disini.” Jun mengusap sudut bibir Tiffany dengan ibu jarinya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan canggung. Jun menatap lurus ke arah bola mata Tiffany, begitu juga sebaliknya. Seperti magnet, Jun mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany yang masih terdiam, tersesat di kedua bola mata Jun.

Saat berjarak satu senti lagi, tiba-tiba ponsel milik Tiffany berbunyi. Mereka segera menjauhkan wajah masing-masing karena tersadar. Tiffany sedikit berdehem sebelum mengangkat telepon.

“Ne ahjumma.”

“….”

“Arrasseo. Tunggu aku 15 menit.”

“….”

“Annyeong.”

Tiffany menutup panggilan dan meletakan ponselnya kedalam sakunya. Dia menatap Jun dengan sedikit meringis.

“Jun-ah bisa kau antar aku ke apartemen ahjumma?” pinta Tiffany.

Jun mengangguk. “Sure. Let’s go!”

Mereka berdua mulai menaiki motor sport hitan milik Jun dan segera meluncur menjauhi taman dekat sekolah mereka. Seperti yang dijanjikan Tiffany tadi, mereka sampai di apartemen Taeyeon lima belas menit kemudian. Tiffany turun dari motor Jun dan menyerahkan helm.

“Gomawo, Jun-ah.” ucap Tiffany dengan tersenyum. Jun juga ikut tersenyum.

“Aniyo. Humm, kalau begitu aku pamit dulu, Tiff. Annyeong.” Jun mengangkat tangan kanannya dan sedikit melambai ke arah Tiffany yang dibalas tawa oleh gadis brunette. Tiffany mengangguk dan ikut melambaikan tangannya.

“Hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan menyalakan motor sportnya. Kemudian berbalik menjauhi kawasan apartemen tersebut. Saat punggung Jun sudah tidak terlihat lagi, Tiffany berbalik dan berjalan menuju apartemen Taeyeon di lantai 3.

Setelah sampai, Tiffany membuka passkey apartemen Taeyeon yang dihapalnya diluar kepalanya kemudian masuk.

“Ahjumaa~ aku pulang~”

Tiffany meletakkan tas punggungnya di sofa dan bergerak mencari Taeyeon di sekitar apartemen.

“Fany-ah ruang rahasia.” Tiffany mendengar suara Taeyeon dari pengeras suara. Kekasihnya memang suka sekali mendesain sesuatu atau membuat sesuatu yang sama sekali tak terpikirkan olehnya.

Tiffany tak bisa berbuat apa selain menuruti perintah kekasihnya. Dia naik keatas tangga dan berjalan ke arah ruang aksesoris dan pakaian milik Taeyeon. Dia kemudian membuka lemari besar disana dan masuk kedalamnya lalu memencet tombol tersembunyi disana hingga munculah scanner. Dia menekan ibu jarinya dan lemari tersebut mulai bergerak ke bawah.

Setelah sampai dibawah atau di ruang rahasia milik Taeyeon, Tiffany mulai mencari Taeyeon.

“Kau sudah datang?” ucap sebuah suara di ruang bar.

Tiffany membalikkan tubuhnya dan mendekati Taeyeon disana. Dia melihat Taeyeon yang tengah meminum alkohol. Mata gadis yang lebih tua menyipit. Tiffany menghela nafasnya. Toleransi kekasihnya terhadap alkohol sangatlah minim. Hanya dengan tiga gelas saja mampu membuatnya mabuk. Tiffany merebut paksa gelas di tangan kekasihnya.

“Ahjumma hentikan! Kau sudah mabuk.”

“Kembalikan, Fany-ah. Aku menyuruhmu kesini untuk menemaniku mabuk.”

“Han Taeyeon!” teriak Tiffany. Jika gadis brunette sudah memanggil Taeyeon dengan marga Appa nya. Sudah dipastikan gadis itu benar-benar marah. Taeyeon sudah berjanji padanya untuk tidak mabuk lagi.

Kemudian Tiffany mendengar sebuah isakkan. Dia terkejut dan langsung memegang lengan kekasihnya.

“TaeTae m- mian..”

Taeyeon menggeleng. “Seharusnya aku yang minta maaf, Fany-ah. Karena aku Daddy mu harus kehilangan pekerjaannya.” ucap Taeyeon dengan menangis.

Tiffany membulatkan matanya. “MWO?!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Gue balikk hehew.

Gimana chapter tadi? Masalah baru lagi kan haha. Dann siapa yg penasaran sama Kim Hyoyeon? *tunjukjari

Hyo bakal jd cast baru. Yg penasaran sm doi sabarr, tunggu chap selanjutnya.

Okay. See u next chap~

Date

Enjoy read~

 

Satu sentuhan lagi pada wajah cantiknya, gadis bermata indah selesai dengan riasannya. Dia memandang pantulan dirinya di cermin dengan senyum puas. Alat make-up nya ia letakkan di tas bermerk nya, kemudian disusul ponsel, dan juga dompetnya. Oh dan tak lupa beberapa camilan yang khusus dibawanya saat gadis itu merasa ingin memakan sesuatu.

Dia merapihkan sedikit penampilannya sebelum pergi dari ruangannya. Kencan yang dipersiapkan sejak tadi tinggal menghitung menit lagi. Kencan yang tidak ia duga. Kencan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Kencan dengan sahabatnya sendiri. Meskipun gadis itu memiliki kekasih- bukan- teman tapi mesra? *ewh– bukan- cem-ceman?- bukan!- friend with benefits? Ya, anggap saja seperti itu.

“Kau yakin dengan ini, Yul?” Tiffany bertanya saat mereka sudah menaiki mobil milik Yuri.

Gadis tan sedikit membantu Tiffany dalam memakai sabuk pengamannya sebelum melakukan hal yang sama pada dirinya.

“Mollasseo. Tapi apa salahnya mencoba?”

Tiffany mengerang lucu. “That lil’ jerk.”

Yuri tertawa pelan mendengar umpatan sahabatnya. Dia menggeleng pelan sebelum melajukan mobilnya melintasi jalan yang masih terasa asing namun dikenalinya.

“Want some ice cream?” Yuri bertanya tanpa melihat ke arah Tiffany. Gadis itu masih sibuk melihat cafes atau tempat untuk mereka datangi. Seperti yang dikatakan diatas. Mari anggap itu adalah kencan mereka.

“Kau tidak lupa kan sedang hangout denganku dan bukannya bocah imut itu?” Tiffany memberikan silaunya pada Yuri.

Yuri menaikkan bahunya dan mengetuk-ngetukan jarinya di stir mobil.

“Ini masih siang, Tiff. Tak ada club yang buka.” ujar Yuri seraya mendongakkan kepalanya kedepan.

“Hei, aku tidak bilang ingin pergi ke club!” protes Tiffany.

Yuri mengabaikan protesan Tiffany dan membelokkan mobilnya di salah satu kedai eskrim.

“Kalau kau ingin membuat si midget itu cemburu, lakukanlah dua point penting. Aku..” Yuri menunjuk dirinya sendiri. “..dan ice cream.”

Setelah mengatakan hal itu, Yuri melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya, disusul Tiffany.

Keduanya berjalan menuju kedai eskrim dan mulai memesan dua buah eskrim cone. Tiffany membasahi bibirnya dengan lidahnya saat gadis pirang tersebut memberikan eskrimnya.

“Come to mama come to mama~” girang Tiffany.

Yuri memutar bola matanya malas. “Siapa yang tadi tidak mau eskrim, huh?”

“I’m not!” sahut Tiffany dan berjalan mendahului Yuri.

“Yul cepat! Ayo kita selca!” teriak Tiffany.

Yuri mendekati sahabatnya dan duduk disamping gadis itu.

“Bagaimana dengan posenya? Haruskah aku mengecup pipimu?” Yuri memposisikan tubuh dan wajahnya disebelah Tiffany dengan matanya yang fokus melihat ke arah kamera.

“Ya! Kau ingin isteriku menceraikanku?!” protes Tiffany sekali lagi.

“Slow, Tiff. Baiklah, cepat ambil gambarnya.” Yuri menunjuk ke arah kamera Tiffany dengan dagunya.

Keduanya terlibat selca cukup banyak dan juga video. Untuk apa? Tentu saja mengunggahnya ke akun sosial media mereka. Tujuan mereka kencan hanyalah untuk membuat Taeyeon, atau kau bisa sebut isteri dari Tiffany Hwang cemburu.

Selain karena Yuri datang ke Amerika untuk melakukan operasi pada kakinya, dia juga menyempatkan membantu sahabatnya yang kebetulan berada disana seusai menyelesaikan pekerjaannya. Dia melihat hubungan kedua sahabatnya yang terlihat lesu dan berniat membangkitkannya lagi. Berdoa saja agar Taeyeon benar-benar cemburu dan menunjukan sifat posesifnya lagi terhadap Tiffany.

“Kudengar Sica berada disini juga?” Tiffany mengajukan pertanyaan random seraya memilah foto dan video yang akan ia unggah ke snapgram nya.

Yuri mengangguk tanpa berniat membalas pertanyaan Jessica. Dia sibuk memakan eskrim yang menggodanya untuk dimakan.

“Kalau hal ini berhasil, apa yang akan kau berikan untukku sebagai balasan, Fany-ah?” tanya Yuri antusias.

“Tiket liburan bersama Juran Unnie?” Tiffany menaikkan satu alisnya dan menahan tawanya melihat perubahan air muka sahabatnya.

“Kau tak asik, Fany-ah.” Yuri mengerucutkan bibirnya.

Pecah sudah tawa Tiffany. Dia meletakkan ponselnya di meja dan menutup mulutnya meredam tawanya yang keras.

“Juran atau Jessi, hm?” goda Tiffany lagi.

“Berhenti menggodaku atau Taeyeon kuberitahu tentang plan B mu.”

Tiffany mendelik. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Yuri menunjukkan smirk nya. “Lain kali hati-hati meletakkan buku diary mu, Miss.”

Tiffany membuka mulutnya dan menunjuk Yuri dengan penuh kekesalan. Dia mendecakkan lidahnya dan memakan eskrimnya cepat.

“Kau sudah selesai? Cepat pergi dari sini.”

“Kenapa terburu-buru?” tanya Tiffany.

Yuri menghela nafasnya. “Kau tidak lihat langit diluar sudah berubah warna? Kalau bukan karena photoholic mu, kita bisa pergi ke beberapa tempat lagi.”

Tiffany nyengir kuda seraya menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.

“Sudahlah. Kajja! Masih ada waktu untuk pergi ke lain tempat.”

***

“Apa ada kabar?” Yuri bertanya dengan membawa satu mangkuk sereal. Dia berniat memakannya sebelum teringat Tiffany yang mengurung diri di kamarnya.

Tiffany menggeleng lemah, tubuhnya ia biarkan tengkurap dan menatap datar layar ponselnya.

“GOSH!”

Yuri hampir menumpahkan serealnya saat mendengar teriakan Tiffany yang sangat keras. Bahkan gendang telinga nya hampir pecah.

“Ya!” kesal Yuri.

Tiffany terlonjak dari tengkurapnya dan berdiri tegak. Satu bantal berada di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang ponsel.

“Kyaaaaa~ Akhirnya Taeyeon mengirimiku pesan!”

Tiffany berteriak histeris. Bantal yang tadi berada di tangan kirinya kini sudah melayang dan mengenai Yuri. Otomatis mangkuk berisi sereal milik Yuri terjatuh ke lantai.

“Ddilfany sinting! Lihat! Serealku jatuh, bodoh! Argh!” semprot Yuri.

Tiffany menunjukkan wajah tak berdosanya.

“Mianhaee~”

Yuri memutar bola matanya malas. “Bereskan itu. Aku ingin tidur.”

Yuri berbalik meninggalkan kamar Tiffany. Tak lupa umpatan dan makian dia ucapkan di tiap langkahnya pergi.

Tiffany sendiri masih tak merasa bersalah dan membekap mulutnya sendiri. Menahan rasa histerisnya karena isterinya mengiriminya pesan terlebih dahulu setelah sekian lama mereka hilang kontak. Apalagi Taeyeon sangat sibuk dengan acara keliling dunianya.

Dan isi pesannya mampu membuat jantung Tiffany berdentum keras meskipun gadis imut itu tidak secara terang-terangan mengatakan bahwa ia cemburu.

Aku bisa membeli eskrim yang lebih enak dan mahal dari yang si monyet hitam berikan padamu. 

– Taeyeon

Senyum Tiffany mengembang liar. Dengan cekatan gadis itu membalas pesan sahabat tercintanya.

Oh yeah? Bisa kau berikan padaku sekarang?

– Tiffany

Tak menunggu waktu lama untuk mendapat balasan, notifikasi kedua terdengar dari ponsel gadis bereysmile.

Tidak sekarang, sayang.

– Taeyeon

Tiffany menggigit bibir bawahnya dengan memejamkan matanya. Dia menepuk-nepuk ranjang dan menahan teriakan histerisnya. Taeyeon memanggilnya ‘sayang’ for God sake! 

Lalu kapan, huh?

– Tiffany

Setelah membalas, Tiffany meletakkan ponselnya di ranjang. Kemudian mengatur nafasnya yang tak beraturan. Dia mendengar bunyi notifikasi lagi dari ponselnya.

Sekembalinya aku ke Korea. I give you an Ice cream and you give me strawberry shortcake ;’) 

– Taeyeon

Pesan terakhir Taeyeon membuat Tiffany membuka mulutnya tak percaya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali memastikan isi pesan tersebut asli dari sahabat tercintanya. Benarkah Kim Taeyeon memintanya untuk-…

Oh my God! Strawberry shortcakes?! 

Tiffany pasti gila membayangkan hal itu terjadi. Dan juga sejak kapan Taeyeon tahu kata-kata Urban tersebut?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

Jangan tanya apa. Gw cuma kepikiran ni ff pas liat yulti date wkwkwk

See ya next chap~