Sweet Love (Chapter 5)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Tiffany menghentikan kegiatan mengetiknya. Ada hal yang mengganggunya akhir-akhir ini. Bukan lagi tentang rasa penasarannya mengenai masa lalu Taeyeon. Suaminya itu sudah menjelaskan padanya tempo hari. Namun itulah yang menyebabkan dirinya merasa gelisah. Taeyeon bilang kepadanya kalau mantan kekasihnya yang bernama Jessica Jung masih hidup, meskipun Taeyeon sendiri belum memastikan hal itu memang benar atau tidak. Taeyeon bilang padanya kalau dia melihat Jessica saat resepsi pernikahan mereka, namun wanita itu menyebut dirinya dengan identitas yang berbeda. Dia juga tidak mengenal Taeyeon sebelumnya. Meskipun begitu, Tiffany tetap saja takut, jika memang Jessica ternyata masih hidup dengan identitas Kang Jung Hee seperti yang dibicarakan suaminya, apakah Taeyeon akan berpaling darinya? Apakah karena dia mulai mencintai suaminya itu? Tiffany rasa iya. Dia mengerang karena frustasi memikirkan hal tersebut.

Tapi Tiffany juga tak ingin menjadi orang jahat disini. Jika memang Jessica masih hidup dan keduanya masih memiliki perasaan yang sama, dia bisa melakukan apa? Mungkin dia harus melatih mentalnya mulai dari sekarang kalau sewaktu-waktu Taeyeon pergi dari sisinya.

Tiffany menundukan kepalanya di lipatan tangannya yang dia sandarkan di meja. Kepalanya sedikit pusing karena terus memikirkan hal tersebut. Kenapa dia begitu cepat mencintai suaminya sedangkan Taeyeon tidak? Rasanya dia ingin menangis karena ini.

“Fany-ah.” panggil Taeyeon. Tiffany mengangkat kepalanya dan melihat suaminya di depannya, masih mengenakan pakaian kerjanya.

“Kau kenapa? Apa kau sakit?” Taeyeon menyentuh dahi isterinya dengan telapak tangan.

“Anio, TaeTae. Aku hanya pusing memikirkan jalan cerita novelku mungkin.” bohong Tiffany.

“Aigoo, jangan terlalu memforsis dirimu, Fany. Aku tak mau kau sakit.” Taeyeon mengelus kepala Tiffany sayang. Perlakuan kecil itulah yang Tiffany suka dari Taeyeon. Kalau seperti ini terus, dia tak akan rela melepas Taeyeon-nya.

“Jam berapa sekarang? Kenapa kau sudah pulang?” tanya Tiffany menyadari kalau ini masih siang hari.

Taeyeon tertawa pelan. “Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama isteriku.”

Tiffany memejamkan matanya kuat. Dia bingung pada sikap Taeyeon yang menunjukan bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama. Tapi disisi lain, Tiffany sering melihat Taeyeon menatap sendu pada bingkai foto Jessica dan memeluknya. Tiffany tahu, wanita itu belum benar-benar melupakan wanita tercintanya di masa lalu. Atau Tiffany bisa mengatakan kalau Taeyeon masih sangat mencintai wanita itu?

“Tiffany, kau baik-baik saja?” tanya Taeyeon khawatir.

“Taeyeon-ah, mari bertemu Kang Jung Hee.” Tiffany menatap suaminya dengan serius.

“Ap- Apa yang k-kau bicarakan, Fany-ah?” Taeyeon tergagap.

“Kita tidak tahu Kang Jung Hee itu adalah Jessica atau bukan kalau kita tidak memastikannya.”

Taeyeon menggeleng. Dia mengalihkan pandangannya dan menunduk. “Aku takut.”

“Apa yang kau takutkan, hm?” Tiffany mengangkat dagu Taeyeon pelan.

“Aku takut jika Kang Jung Hee memang benar adalah Sica. Aku takut hatiku belum siap menerimanya yang tidak mengenalku. Apalagi dia milik Yuri.” Pelupuk mata Taeyeon sudah digenangi airmata. Satu kali kedipan, jatuh sudah cairan bening itu.

“Aku akan ada disana untuk menguatkanmu, Taeyeon-ah. Percaya padaku.” Tiffany meyakinkan Taeyeon, lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri, kalau dia melakukan hal yang benar. Dia tahu dia bukanlah sumber utama kebahagiaan suaminya. Dia ikhlas jika Taeyeon kembali pada mantan kekasihnya itu jika Jung Hee benar Jessica.

Tiffany mengecup bibir suaminya kilat. Dia lalu memeluknya erat, menahan isakkannya sendiri.

***

Taeyeon dan Tiffany sudah berada di restoran tempat mereka janji bertemu dengan Yuri dan Jung Hee. Wanita tan itu tak keberatan dengan undangan personal Taeyeon. Dia bahkan sangat senang mengingat Taeyeon adalah orang yang dia kagumi mengenai urusan pekerjaan. Wanita itu memotivasinya dalam bekerja.

Di tempat duduknya, Taeyeon merasa gugup. Tangannya yang dingin mengeluarkan keringat. Taeyeon benci situasi seperti ini. Dia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya dengan normal. Tiffany yang ada disampingnya membantu suaminya dengan dukungan moril. Dia terus meyakinkan Taeyeon bahwa semua akan baik-baik saja.

Lonceng di pintu masuk berbunyi. Taeyeon dan Tiffany serempak menolehkan pandangannya ke arah pintu. Mereka melihat wanita tan tengah menggandeng wanita anggun yang terlihat berkharisma. Taeyeon tak bisa mengendalikan hatinya. Dia bangkit berdiri dan menatap Jessica dengan haru. Tanpa sadar, sebait lagu dia nyanyikan dengan suara merdunya. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Saat pertama melihat Jessica, hanya lagu itu yang terlintas di benaknya.

 

neugginayo jeo byeoldeului somaneul

deuneolbeun naui gaseumeul

 

Yuri dan Jung Hee semakin mendekat ke arah mereka. Taeyeon tak bisa menahannya, dia melanjutkan lagu tersebut.

 

deulrinayo maeumsokui ulrimeul

noppureun naui yaegireul

 

Air matanya turun. Jessica- tidak- Jung Hee membalas tatapan mata Taeyeon yang tersirat luka didalamnya.

 

you bring me joy

you bring me love

eonjena hangyeol gateun geot

 

Taeyeon memejamkan matanya. Dia merasakan sesuatu menghimpit rongga dadanya setelah menyelesaikan bait terakhir yang dinyanyikannya. Dia merasakan sakit yang luar biasa mengingat itu adalah lagu ciptaan mereka yang dijanjikan akan mereka nyanyikan bersama di pernikahannya.

 

you make me smile

you give me hope

urineun aljyo

urineun aljanhayo

urineun algo issjyo

 

Taeyeon membuka mulutnya tak percaya. Seorang Jung Hee meneruskan lagu yang dia nyanyikan! Benarkah Taeyeon sedang tidak mengalami gangguan fungsi pendengaran? Dia menggeleng dan membekap mulutnya untuk menahan isakkannya.

 

jageumahan supsokui noraedeuleul

geudaen mideul su issnayo

 

Jung Hee meneruskan lagunya lagi. Taeyeon mengepalkan buku-buku jarinya. Taeyeon bersumpah tak ada yang tahu lagu itu selain mereka berdua, selain Kim Taeyeon dan Jessica Jung. Taeyeon menarik tubuh Jung Hee ke pelukannya. Dia memeluk wanita itu sangat erat, seperti tak ingin melepasnya. Taeyeon menangis terisak di bahunya, sampai dia mendengar isakkan lain. Wanita yang dipeluknya juga menangis. Taeyeon tersenyum disela tangisannya.

Tiffany melihat mereka berdua dengan tersenyum. Meski tak dipungkiri hatinya menolak itu. Berbeda dengan Yuri yang melihat mereka dengan wajah bingung.

“Sica-ya, neomu bogoshippo.” ungkap Taeyeon. Wanita itu merasakan anggukan kecil di bahunya.

“Sica?” tanya Yuri. Wanita itu benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini.

Mereka melepaskan pelukannya satu sama lain. Keduanya tersenyum dan terkekeh pelan. Meski wajah mereka masih merah akibat menangis. Jung Hee, atau kini Taeyeon menyebutnya Jessica menatap Yuri dengan tatapan menyesal.

“Ceritanya panjang, Yuri-ah.” ucap Jessica.

“Aku punya banyak waktu untuk mendengar.”

Jessica menggigit bibir bawahnya melihat Yuri. Dia bingung harus memulainya dari mana. Dia melihat Taeyeon yang masih menatapnya dengan pancaran kebahagiaan. Dia juga bingung harus mengatakan apa pada Taeyeon mengenai petualangannya semenjak kecelakaan itu. Jessica bingung memutuskan bercerita kepada Yuri atau Taeyeon terlebih dahulu. Mereka berdua adalah orang-orang yang sangat dia sayangi. Namun dia memutuskan berbicara pribadi dengan Taeyeon terlebih dahulu.

“Yuri-ah mian. Aku akan menjelaskannya padamu nanti. Aku berjanji akan melakukannya. Dan sebelum itu, aku ingin berbicara pribadi dengan Taeyeon. Bolehkah?” tanya Jessica. Dia menatap Yuri dengan harap-harap cemas.

Yuri kemudian tersenyum. Dia mengangguk dan mengusap kepala Jessica. “Arrasseo, aku akan menunggumu di mobil, Hee-ya.”

Setelah mengecup kening Jessica, Yuri keluar dari restoran tersebut menuju mobilnya. Jessica menatap punggung Yuri yang menjauh. Setelah tak terlihat, dia beralih menatap Taeyeon. Mereka tak berbicara, hanya menikmati diam yang begitu menyenangkan bagi Taeyeon. Sebelum suara Jessica yang pertama memutuskan kediaman

“Lama tak berjumpa, Taeyeon-ah.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Weyy gw apdet lagi. Sorry buat LS mungkin ini gak ada sweet2nya blas haha. Ga selamanya taeny itu sweet kan. Gw mikir realistis aja. Coba bayangin klo kalian punya seseorang yg kalian bener2 sayangin yg udah lama ga ketemu? Gimana rasanya? itu yg taey rasain wkwk

Next chap mungkin tengsic betebaran. Tapi santae aja. Ini judul fic kan sweet love. Pasti tak tambahin sweet moment nya… di taengsic *ups

Wkwkwk gak lah. Taeny juga. Mereka kan main cast.

Oya ada yg tau diatas lagu apaan? Yup, you bring me joy nya the one ft taey. Asli itu lagu gw sukaaak banget!

Wes ah cuap2nya.

Pai pai~ see u next chap~

Advertisements

Back To Love (Oneshoot)

Title : Back To Love

Main Cast : TaeNySic

Genre : GXG

Length : Oneshoot

Author : N

.

.

Warning! 

There will be some NC scene on this story. I warn you guys~ 

Enjoy read~

Satu tangan Taeyeon yang bebas menggenggam tangan Tiffany di pangkuannya. Gadis itu berusaha menyalurkan kekuatan pada gadis yang lebih muda. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju cafe biasa tempat mereka mengadakan pertemuan dengan member grup. Namun kali ini berbeda, mereka berdua bermaksud menemui ‘teman lama’ mereka.

“Gwaenchanha?” tanya Taeyeon gentle. Tiffany tersenyum dan menganggukan kepalanya. Diangkat tangan Tiffany dalam genggamannya dan diciumnya lembut. Perlakuan manis Taeyeon itulah yang membuat gadis disampingnya semakin mencintainya.

“Kita sampai.” ucapan Taeyeon berhasil menyadarkan Tiffany dari lamunannya tentang gadis imut kekasihnya itu. Taeyeon membuka pintu mobil dan keluar terlebih dahulu. Setelah itu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Tak lupa memakaian masker untuk Tiffany seperti yang dilakukan kepada dirinya sendiri.

Taeyeon menggandeng tangan Tiffany erat. Mereka berdua pun mulai memasuki cafe yang cukup lengang. Cafe yang bisa dipastikan tak akan ada wartawan atau stalker. Mereka berjalan ke arah ruang VVIP yang sudah dipesan oleh ‘teman lama’ mereka. Tak sulit mencari seseorang yang mengundang mereka. Dengan model rambut curly brownie nya dan dress biru selutut ber-merk brand miliknya. Siapa lagi jika bukan Jessica Jung? Atau bolehkah dipanggil Eoleum gongju seperti panggilan dia dulu?

Taeyeon menyunggingkan senyum tipisnya pada Tiffany dan mengangguk. Setelah itu, dia menarik tangan Tiffany pelan dan duduk didepan Jessica.

“Kalian membuatku menunggu hampir lima belas menit.” ucapnya dengan wajah dingin sembari mengaduk-aduk strawberry-float nya.

“Kau ada perlu apa dengan kami, Jessie?” tanya Tiffany berusaha bersikap ramah. Taeyeon tahu, hati Tiffany berbanding terbalik dengan senyuman yang ia tunjukan saat ini.

“Kenapa kalian terlambat?” tanya Jessica mengabaikan pertanyaan Tiffany barusan. Gadis yang biasa bersikap ceria itu kini mengepalkan tangannya erat, namun masih terpampang wajah ramahnya dihadapan ‘teman lama’ nya itu.

“Tiff-…”

“Tiffany baru pulang dari LA dan masih merasa lelah? Itu maksudmu?” Belum sempat Taeyeon membuka mulutnya, Jessica sudah memotongnya.

“Ya, dan bukan itu saja. Aku juga sibuk menyiapkan konserku.” Kali ini Taeyeon harus menyiapkan kesabaran ekstra nya menghadapi Jessica, atau bolehkah ia memanggilnya mantan kekasihnya?

“Okay. Aku mengerti.” Jessica menganggukan kepalanya, masih tetap tak berniat melihat kedua orang di depannya.

“Katakan apa perlumu dan kami bisa pergi. Tiffany butuh istirahat.” Taeyeon berkata dengan tegas. Bukan dia tak suka bertemu Jessica. Apa kata yang pantas untuk menggambarkannya? Risih? Tak nyaman? Entahlah, ini sudah hampir tiga tahun. Hubungan mereka sebelumnya pun bisa dikatakan tidak baik. Apalagi mereka sama sekali tak berkomunikasi setelah kejadian 30 september 2014 lalu.

“Santailah Taeyeon-ssi. Tiffany-ssi apa kau keberatan menemuiku? Kau masih lelah dan ingin pulang?” Mata Jessica menatap mata Tiffany dalam, seperti… mengancam?

Tiffany tersenyum, berbeda dengan kedua tangannya yang terkepal di pangkuannya. “A- Anio, Jessie. Aku baik-baik saja.”

“Nah, Tiffany-ssi saja tak keberatan. Bagaimana denganmu Taeyeon-ssi? Sepertinya kau tak sama dengan Tiffany-ssi.”

“Hentikan, Sica-ah! Katakan apa maumu sekarang?!” Kesabaran Taeyeon memuncak. Tiffany meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya erat, berusaha meredam emosi Taeyeon.

Jessica berdecak pelan. “Apa itu caramu memperlakukan teman lamamu, Taeyeon-ssi? Benar-benar tidak sopan.”

Taeyeon memejamkan matanya, dia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar. Gadis itu lebih memilih diam. Lama mereka dalam mode diam, hingga seorang waitress mendekati mereka bertiga dan menaruh pesanan.

“Makanlah, aku sudah memesannya tadi. Kalian masih menyukai ini, bukan?” Jessica menaikan satu alisnya. Taeyeon menghela nafasnya namun tetap meraih makanan yang dipesan Jessica. Sama halnya dengan Tiffany. Gadis pemilik senyuman maut itu berubah menjadi pendiam setelah menerima kabar bahwa Jessica mengundang mereka berdua. Padahal saat sebelum pulang, Tiffany menghubungi Taeyeon menggunakan video call, gadis itu begitu bersemangat menceritakan harinya di LA.

“Bagaimana dengan persiapan konser solo-mu, Taeyeon-ssi?” tanya Jessica.

“Cukup, Sica! Berhenti berbicara formal. Kita bukan orang asing, oke?”

“Menurutmu seperti itu? Tiga tahun tanpa komunikasi kau sebut tak asing? Kau melukai hatiku, Taeyeon-ah.” Mata Jessica mulai memanas.

“S- Sica-ya~” Taeyeon menggigit bibir bawahnya.

“Kau benar-benar jahat, Taenggu. Kukira setelah aku keluar dari grup semua akan baik-baik saja. Aku sudah meyakinkan diriku, tapi…” Jessica menyeka sudut matanya yang berair. “….tapi aku salah. Aku masih saja berlarut memikirkan kau, aku, kita. Taeyeon, ini benar-benar menyakitkan. Melihat hubungan kita yang tak baik hingga saat ini hiks~”

“Aku sudah terbiasa dengan komen negatif dari orang-orang yang membenciku, tapi melihat kau yang sama seperti orang-orang itu sangat melukaiku. Sakit Taeyeon-ah sakit…”

“…aku sudah mengorbankan harga diriku untuk me-notice grup saat diwawancarai dan dianggap pengemis popularitas hanya demi kau Kim Taeyeon! Aku berharap kau sadar bahwa… hiks~”

“Kau kira aku sekuat itu? Bertahan menyukaimu hingga detik ini? Hingga kukorbankan grup dan dianggap bitchy oleh orang-orang?”

Taeyeon membuka matanya lebar-lebar mendengar pengakuan Jessica barusan. Gadis itu (masih) menyukainya?

“Itu salahmu sendiri, Jessi! Kau terlalu banyak menyakiti Taeyeon dengan berkencan dengan banyak idol lain!” Itu suara Tiffany. Jessica dan Taeyeon serempak menoleh ke arah Tiffany yang wajahnya memerah. Gadis itu juga tengah menahan tangisnya.

Jessica tertawa pelan. “Kau pikir apa alasanku melakukan itu? Karena kau, Tiffany! Aku tahu kau menyukai Taeyeon dari lama. Aku mengorbankan perasaanku sendiri demi kau, asal kau tahu!”

“A- Apa?”

“Orang-orang terdekatku mencelaku karena aku menyukai sesama jenisku, bahkan keluargaku. Kau masih ingat mengapa adikku sangat membencimu, Taeyeon-ah? Itu karena dia mengira kau yang membuatku menjadi penyuka sesama jenis. Sejak saat itu, aku sering berkencan dengan banyak idol agar kau membenciku, lalu Tiffany bisa menggantikan posisiku, dan ya itu berhasil. Orang-orang juga sudah tak lagi mencelaku.”

“Dan aku sadar aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar. Aku merelakan grup, dan aku merelakanmu. Kurang bodoh apa aku?” Jessica menyeka sudut airmatanya dan menghela nafas.

“Kurasa aku terlalu banyak bercerita. Aku harus pergi. Nikmati waktu kalian. Permisi.” Jessica hendak berdiri, namun tangan Taeyeon mencegahnya.

“Duduk.” titahnya dingin tanpa menatap wajah Jessica. Tanpa banyak bicara dan protes, gadis itu duduk kembali.

“Bagaimana dengan Tyler, brand mu, dan apa hubungannya dengan keluarnya kau dari grup?” tanya Taeyeon tanpa ekspresi.

“Kukira kau sudah mendengarnya dari agensi?”

“Aku ingin penjelasan dari mulutmu langsung.”

“Bagaimana kalau aku tak ingin menjawabnya?” Jessica menaikan satu alisnya. Taeyeon menunjukan ekspresi kesal, Jessica malah membalasnya dengan terkekeh.

“Kurasa penjelasanku tadi cukup untuk mewakili semuanya. Dan soal Tyler oppa, dia orang baik yang menawariku berbisnis. Kau tahu sendiri aku menyukai bisnis. Kesempatan tidak datang dua kali bukan? Sebagian dari kalian tak menyukai oppa dan kurasa itu salah satu alasan terbaik agar aku bisa keluar dari grup? Dan bisa melupakanmu.” Kalimat terakhir Jessica ucapkan dengan pelan, namun masih bisa didengar Taeyeon.

“Kau masih menyukai- ani- mencintaiku?”

“Kau tahu sendiri jawabannya, Taenggu.”

Taeyeon mengangguk. Dia kemudian meraih ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

“Yeoboseyo. Hyo, aku butuh bantuanmu. Tolong kau antar Tiffany pulang. Aku ada urusan yang harus dilakukan. Kami sedang di cafe biasa”

“……..”

“Ne. Gomawo.”

Taeyeon mematikan sambungan telfonnya dan memasukan ponselnya ke saku. Dia menoleh ke arah Tiffany dan menggenggam tangannya.

“Percaya padaku, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, arra?” Tiffany mengangguk patuh, meski hatinya kini merasa takut jikalau Taeyeon berpaling darinya. Apalagi Jessica merupakan orang yang sangat Taeyeon sayangi sebelum dia. Ditambah fakta jika Jessica masih menyukai Taeyeon.

“Bagus.” Taeyeon mengecup bibir Tiffany dengan sedikit melumatnya. Jessica memalingkan wajahnya dari mereka berdua. Hatinya sakit, namun apa yang harus diperbuat? Taeyeon dan Tiffany adalah sepasang kekasih. Wajar saja jika mereka berciuman.

***

Tiffany membuka matanya yang masih terasa berat. Gadis itu merasakan sebuah tangan yang melingkari pinggangnya. Dia mengerutkan keningnya dan membalikan tubuhnya ke samping.

“T- Taeyeon?” panggil Tiffany. Dia ingat semalam Hyoyeon yang mengantarnya pulang dan setelah itu dia tertidur sendirian di apartemennya. Kenapa ada Taeyeon disini? Dia kira Taeyeon bersama Jessica hingga pagi, atau mungkin siang?

Dalam hati dia merasa lega Taeyeon menepati janjinya untuk tidak akan meninggalkannya. Tiffany mengelus pipi halus Taeyeon dengan senyuman. Kekasihnya walau sedang tertidur tetap cantik dan tampan.

“Aku tahu aku sangat tampan, yeobo.” Tiffany terkejut dengan ucapan Taeyeon yang tiba-tiba. Pipinya memanas karena ketahuan menatap Taeyeon yang tertidur.

Taeyeon terkekeh dan membuka matanya. “Poppo.” Gadis yang lebih tua memajukan bibirnya pada Tiffany dan dibalas bibirnya yang ditarik oleh Tiffany menggunakan tangannya.

“Aw sakit!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya dan mengelus bibirnya yang tadi ditarik.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Tiffany tanpa menatapnya.

“Wae? Ini apartemenku juga, kau tahu.”

“Whatever.” Tiffany membalikan tubuhnya membelakangi Taeyeon.

“Hey, mana moaning kiss-ku?” tagih Taeyeon. Tiffany tertawa pelan dan membalikan tubuhnya lagi.

“Moaning? Yang benar morning, Taeyeon-ah. Hahaha.”

“Lah memang moaning artinya apa?”

Tiffany menaikan alisnya, sekadar berjaga-jaga sebelum menjawab. “Mengerang.”

“Dan kiss artinya apa?” tanya Taeyeon lagi.

“Cium.” jawab Tiffany seperti tahu maksud Taeyeon.

“Nah, maksudku mencium mu sampai mengerang, arra? Jadi mana moaning kiss ku?”

Tiffany menutupi wajahnya yang memerah. “Byuntae!”

Taeyeon berdecak. Dia lalu menatap Tiffany dengan smirk.

“Hyaaa, kena kau.” Taeyeon merangkak naik ke atas tubuh Tiffany dan membuka tangan Tiffany yang menutupi wajahnya.

“Kyaaaa byuntae~” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon namun gagal. Tenaga Taeyeon terlalu kuat.

“Ck bilang saja kau juga mau moaning kiss.” Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Aigoo dasar gadis nakal, jangan mengerucutkan bibirmu.”

“Wae?”

“Karena aku akan ini…” Taeyeon mengecup bibir manis Tiffany. Mendiamkannya lama hingga beralih melumatnya, menggigit, dan menghisapnya.

“Eungh~” Tiffany membuka mulutnya, membiarkan lidah Taeyeon memasuki rongga mulutnya dan menjelajahinya. Sesekali mengajak lidahnya menari bersama. Taeyeon melumat bibir Tiffany kembali, kali ini lebih lama. Setelah mereka merasa kehabisan nafas, Taeyeon melepasnya. Namun beralih menjilat leher jenjang kekasihnya.

“Ahhh~ T- Tae~”

Taeyeon membuka kancing piyama Tiffany, masih dengan menjilat dan mengecup leher kekasihnya. Setelah kancing nya terbuka semua, Taeyeon melihat dua bukit kembar menyapanya, tanpa bra. Kebiasaan Tiffany jika tertidur tak memakai bra. Itu merupakan keuntungan Taeyeon, ia tak perlu repot-repot mencari pengait bra dan membukanya.

Tak butuh waktu lama untuknya menyerbu property nya. Bibirnya menghisap payudara kanan Tiffany sementara tangan kanannya meremas payudara kiri Tiffany.

“T- Taehh~ k- kau bilang hanya moaning kissh ahh~ cukuph~”

“No. I wanna sex with you, okay?”

“Argh~ tapi ini masih p- pagi. Aaaaah~” Taeyeon meremas payudaranya sangat keras.

Dia menurunkan celana Tiffany hingga menyisakan kain segitiga yang menutupi daerah privasinya. Taeyeon mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tangannya yang satu ia turunkan ke bawah untuk mengusap vagina Tiffany yang masih tertutup. Dia buka kain segitiga yang tersisa dengan perlahan lalu dia buang ke sembarang arah. Tiffany full naked sekarang.

“C- curang. K- kau aassh belum membuka pakaianmuhh~”

Taeyeon bangkit lalu mulai membuka pakaiannya dengan cepat dan menyusul Tiffany yang sudah naked. Tak mau membuang waktu, gadis itu menindih tubuh Tiffany kembali dan menghisap payudara kiri Tiffany dengan tangan kirinya meremas payudara kanan dan tangan kanannya mengelus vagina Tiffany.

“Argh~ shit~ cepat masukkanh~”

Taeyeon terkekeh. Dia memasukan kedua jarinya ke lubang vagina Tiffany dan jempolnya yang bermain di klitoris Tiffany.

“Ugh~ deeper Tae~”

Taeyeon memasukan jarinya lebih dalam hingga menyentuh titik G-Spot nya. Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi, dia mulai mengeluar-masukan jarinya di lubang Tiffany dengan tempo cepat.

“Aaah~ i’m cumh~ T- Tae~ Aaaaaaaaaah~”

Tiffany mengalami orgasmenya yang pertama. Taeyeon mengeluarkan jarinya dan mulai meminum jusnya. Menjilatnya hingga tak ada yang tersisa. Setelah itu dia kembali mencium Tiffany dan berbagi cairan cinta mereka. Tiffany berusaha menelan cairan cinta mereka yang cukup banyak dimulut Taeyeon sembari membalas ciuman panas Taeyeon.

“Kau begitu merindukanku huh, Kim Taeyeon?” ledek Tiffany melihat begitu bersemangatnya kekasihnya itu memakannya.

“Kau terlalu lama di LA, untung saja aku tak menyewa psk untuk melayaniku.”

Tiffany mendelik.

“Hehehe anio. Aku bercanda.”

“Semalam kau melakukan apa dengan Jessie?”

Taeyeon mengerutkan keningnya pura-pura berpikir. Tetapi tangannya masih bermain di payudara Tiffany.

“Menurutmu?”

“Aku bertanya padamu, bodoh!” Tiffany memukul tangan Taeyeon yang masih bermain di payudaranya.

“Tidak ada. Kita hanya meluruskan masalah kita. Hanya itu.”

“Kau yakin?” Tiffany memicingkan matanya membuat Taeyeon menelan ludahnya.

“Dan sedikit make out. Hehe.”

“Sudah kuduga.” Ekspresi Tiffany berubah masam.

“Kau marah?”

“Menurutmu?”

“Aku bertanya padamu, bodoh!”

“Ya! Kau berani memanggilku bodoh?”

“A- anio…” Taeyeon menelan ludahnya dengan susah payah melihat hellfany didepannya. Dia sudah bersiap menerima hukumannya, entah itu pukulan atau tendangan.

Namun dia tak merasakan apapun selain geli didaerah payudaranya. Taeyeon membuka matanya dan melihat Tiffany tengah menghisap dan meremas payudara kecilnya. Dia terkekeh pelan dan membiarkan kekasihnya yang sedang cemberut melakukan apa yang ingin dilakukannya.

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

Maapkeun bikin story abstrak kayak gini. Maapkeun juga NC an ditengah puasa. Gw saranin baca abis buka aja ye wkwk

Pai pai~ see u next chap~

Sweet Love (Chapter 4)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Warning : Flashback is on FAIYAH~ 😂😂

Chapter 4

Taeyeon berlari dengan tertatih. Dia juga merangkul seseorang. Dia harus segera mendapatkan pertolongan pertama. Bahunya terasa terbakar akibat peluru yang menembus disana. Orang yang dirangkulnya jauh lebih buruk. Darah terus keluar dari balik bajunya yang sudah tak terbentuk. Peluru yang mengenai daerah vital di perutnya membuatnya mengerang menahan sakit. Belum luka pukulan di sekitar wajahnya yang makin membuatnya nyeri. Mimpi apa mereka semalam hingga malam itu sekelompok mafia mengejarnya, memukul, bahkan menembak mereka. Mereka hanya sedang tak beruntung saat melewati kawasan sepi di dekat gedung tua karena terlambat pulang. Para mafia mengira mereka adalah mata-mata dari kelompok saingan mereka.

“Oppa, bertahanlah.” ucap Taeyeon sembari menangis.

“K-Kau masih m-merekam ugh.. di b-bolpoinmu?” tanya Heechul terbata. Taeyeon mengangguk, masih dengan airmata nya yang terus mengalir.

“B-Baguslah.” ucapnya. Dia mengerang sembari menekan luka di perutnya agar darah tak keluar semakin banyak.

“Oppa kumohon bertahan. Kita akan mencari pertolongan.”

Heechul berhenti berjalan. Dia terduduk masih dengan menekan lukanya. Sakit, sangat sakit. Itu yang Heechul rasakan sekarang ini.

“A-Ambil ini. T-Tolong h-hentikanh.. inih..” Heechul menyerahkan sebuah belati kecil pada Taeyeon. Wanita itu membulatkan matanya.

“Oppa kau bercanda, kan? Kita pasti selamat Oppa. Kita akan selamat! Mari berjalan sedikit lagi, kumohon.” Taeyeon menangis sesenggukan. Heechul menggeleng lemah.

“A-Akuh s-sudah akh… tidakh k-kuat, T-Taeyeon-ah.”

Taeyeon menggeleng. Dia tidak mungkin mengakhiri hidup Oppa tersayangnya seperti ini. Meski dia sendiri iba melihat Heechul sangat kesakitan. Hanya ada dua pilihan, membiarkannya mati dengan merasakan sakit yang luar biasa atau mengakhiri penderitaannya dengan cepat.

“Ak- aku akanh s-senang j-jika k-kau yang me- ngakhiri nyah..” Heechul menyerahkan belati tersebut pada Taeyeon dengan tetap menggenggamnya. Ujung belati tersebut dia arahkan tepat ke jantungnya. Heechul tersenyum lemah dan mengangguk. Taeyeon menangis lagi, kali ini makin keras. Wanita itu tak punya pilihan lagi. Ini permintaan oppanya yang terakhir.

“Maafkan aku, Oppa.” Taeyeon memalingkan wajahnya dan menekan belati tersebut ke jantung Heechul. Pria tersebut langsung ambruk seketika. Senyum kecil terlihat di wajahnya sebelum matanya tertutup untuk selama-lamanya.

***

Taeyeon berdiri di depan lemari tempat abu Heechul diletakkan. Dia memandang foto Oppa nya yang tersenyum disana. Dia juga ikut tersenyum, namun detik selanjutnya gadis itu menangis.

“Oppa, apa aku melakukan hal yang benar?” tanyanya pada foto tersebut. Sudah tentu tak akan ada yang menjawab pertanyaannya. Taeyeon mendesah pelan dan mengepalkan buku-buku jarinya. Selang tak lama, Taeyeon mendengar suara keributan diluar. Dia menoleh ke belakang dan melihat wanita yang lebih tua diatasnya berjalan cepat ke arahnya dan mencekiknya.

“DASAR PEMBUNUH KAU! KENAPA KAU BUNUH ADIKKU, HAH?!”

Taeyeon berusaha melepas cekikan wanita tersebut yang semakin kuat di lehernya. Taeyeon nyaris tak bisa bernafas.

“WAE? KENAPA BUKAN KAU SAJA YANG MATI! KENAPA ADIKKU!!”

“Akh…” erang Taeyeon.

“Heejin hentikan!” Seorang pria paruh baya menarik Heejin yang masih mencekiknya. Taeyeon terbatuk setelah Heejin melepaskan cekikannya.

“Appa, dia pembunuh Heechul Appa hiks~” Heejin memeluk pria paruh baya tersebut dengan menangis.

“Maafkan Heejin, Taeyeon-ah. Sebaiknya kau pulang dulu.” kata Appa Heechul. Taeyeon mengangguk dan keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Appa Heechul dan kakak perempuannya.

Taeyeon melihat Jessica diluar. Wanita blasteran tersebut berlari mendekati Taeyeon. Dia menyentuh wajah, bahu, dan bagian tubuhnya yang lain yang bisa dia sentuh.

“Kau tidak apa-apa, Taeyeon-ah? Aku melihat Heejin Unnie-”

Taeyeon meletakkan jari telunjuknya di bibir kekasihnya. Dia tersenyum dan menggeleng pelan. Wanita imut tersebut mengecup bibir Jessica sekilas dan menggenggam tangannya.

“Ayo kita pulang.”

Selama perjalanan pulang, Taeyeon tetap diam. Jessica tahu kekasihnya itu masih merasa sedih karena kehilangan sosok Oppa yang disayanginya. Meskipun Heechul bukanlah kakak kandungnya, namun itu tak membuat rasa sayang Taeyeon padanya berkurang.

***

Semenjak hari itu, Taeyeon menjadi gila bekerja. Dia melampiaskan semua kesedihannya pada pekerjaan. Dia juga menjadi wanita yang pendiam. Keluarga dan teman dekatnya tak tahu harus menghibur Taeyeon dengan cara apalagi. Hanya Jessica yang bisa membuat Taeyeon tersenyum. Walaupun begitu, Jessica merasa Taeyeon berubah. Wanita itu bukan lagi Taeyeon yang dorky. Jessica berusaha meyakinkan kekasihnya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia bahkan rela resign dari pekerjaannya hanya demi Taeyeon. Jessica ingin ada disaat Taeyeon membutuhkannya.

Melihat begitu besar pengorbanan Jessica padanya membuatnya sadar. Dia menyadari dirinya egois. Bukan hanya dirinya saja yang merasa kehilangan Heechul, namun yang lain juga. Tak seharusnya dia bersikap seperti itu.

Taeyeon bangkit dari kursi kerjanya. Dia ingin pulang cepat kali ini. Dia ingin bertemu kekasihnya untuk berterima kasih. Betapa dia sangat mencintai wanita keturunan Amerika itu.

Setelah menepikan mobilnya di depan rumah mereka, Taeyeon membuka pintu mobilnya sedikit kasar. Dia berlari menuju rumah dengan tergesa. Wanita itu melihat Jessica tengah menonton tv sendirian di sofa. Taeyeon segera berlari dan memeluk erat kekasihnya.

“Eoh, Taenggu. Kenapa kau pulang cepat?” Taeyeon tak menghiraukan pertanyaan Jessica. Dia meraih bibir kekasihnya dan melumatnya. Taeyeon beralih mengecup kening Jessica. “Saranghae.”

Lalu turun ke kedua matanya. “Saranghae.”

Hidung kecilnya yang bangir. “Saranghae.”

Kemudian bibir tipis Jessica. “Saranghae, baby.”

Jessica mengerutkan keningnya melihat kelakuan aneh kekasihnya. Pertama, wanita itu pulang dengan cepat. Kedua, Taeyeon kembali dork. Memang Jessica senang Taeyeon kembali seperti semula. Namun ini masih saja terasa aneh.

“Kau waras, Taeyeon?”

“Lebih dari sekedar waras.” jawab Taeyeon mantap. Dia memeluk Jessica lagi dengan erat. Beberapa kali dia mengecup puncak kepala kekasihnya.

“Sica-ya, aku sangat sangat sangat mencintaimu, kau tahu itu kan?”

Jessica tertawa pelan. “Aku lebih dari sangat sangat sangat mencintaimu, Taeyeon.”

Taeyeon mengerutkan keningnya dengan ucapan Jessica. Kekasihnya ternyata pintar menggombal sekarang. Diajari siapa dia?

“Dan aku melebihi, lebih dari sangat sangat sangat mencintaimu, Sica.”

Jessica tertawa lagi dengan susunan kata kekasihnya yang tak masuk akal.

“Sebenarnya kau kenapa, Taeyeon-ah?”

“Ah itu..” Taeyeon mengusap tengkuknya. Dia menatap manik Jessica intens sebelum merogoh saku celananya.

“Kita sudah bersama selama lima tahun, Sica-ya. Tak ada yang bisa membandingkan rasa cintaku padamu yang teramat besar setiap harinya…” Taeyeon menarik nafasnya dalam. Dia membuka kotak cincin di tangannya dengan pelan.

“Maka dari itu, aku Kim Taeyeon, memintamu untuk menjadi pendamping hidupku. Menjadi ibu dari anak-anak kita kelak. Aku ingin menghabiskan masa tua denganmu, Sica-ya. So, marry me?” Taeyeon menatap Jessica dengan penuh harap. Wanita yang ada di depannya hanya bisa meneteskan air matanya karena terharu. Dia tak menyangka Taeyeon akan mengajaknya menikah. Tentu saja dia mau. Dia sangat mencintai midget satu ini. Jessica mengangguk mengiyakan.

Taeyeon tersenyum lega. Dia memeluk Jessica erat. Setelah itu dia menyelipkan cincin ke jari manis Jessica. Taeyeon mengecup kening kekasihnya, menahannya lama disana. Dia terkekeh pelan sebelum mencium bibir Jessica lagi. Mereka berciuman selama mereka berdua yang tahu.

***

Taeyeon sedikit kelimpungan karena dia harus menangani proyek besar di perusahaannya. Dia menjadi suka pulang larut tiap harinya, meski dia berusaha menyempatkan waktunya untuk sang calon isteri. Jessica tak keberatan dengan itu. Dia mengerti posisi Taeyeon yang sangat penting di perusahaannya. Apalagi Taeyeon berjanji setelah proyek ini selesai, dia akan segera menikahi Jessica. Taeyeon meminta kekasihnya itu untuk sedikit lebih bersabar.

Taeyeon mengusap wajahnya frustasi. Rapat dengan klien besarnya sebentar lagi akan dimulai, namun dia lupa menyimpan dimana file presentasinya. Jika dia mengingat nama file tersebut, mungkin akan lebih mudah untuk mencarinya. Namun dia benar-benar lupa semuanya.

“Argh.” erang Taeyeon.

Dia mendengar ponselnya berbunyi. Dengan cepat dia mengambilnya dan membukanya. Ada satu pesan dari nomor tak dikenal.

Kekasihmu akan mati. 

Itu isi pesannya. Taeyeon mengerutkan alisnya. Dia meletakkan ponselnya kembali ke meja. Dia mengira itu adalah pesan broadcast yang dikirim untuk menakut-nakuti. Taeyeon kembali mencari file presentasinya dan mengabaikan pesan tersebut.

“Maaf mengganggu sajangnim, tetapi klien dari Jepang sudah tiba.” kata sekertaris pribadinya yang baru masuk. Dia juga sedikit kelimpungan sama sepertinya.

“Sial!’ Taeyeon mencari lagi dengan tergesa. Ditengah-tengah kemepetannya, wanita itu akhirnya berhasil mencari file yang dia cari.

“Assa! Aku sudah menemukan file nya. Mari ke ruang rapat.” Taeyeon membawa laptopnya dan mulai keluar dari ruangannya.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Dari kekasihnya, Jessica. Dia mereject panggilan tersebut karena dia masih ada rapat. Setelah rapat dia berjanji pada dirinya sendiri akan menelepon balik kekasihnya. Taeyeon meninggalkan ponselnya di meja dan mulai melangkah keluar bersama Eunha untuk menghadiri rapat.

 

Taeyeon keluar dari ruangan rapat dengan perasaan bahagia. Presentasinya berjalan lancar dan klien nya mau menjadi investor utama dari perusahaannya. Saat berjalan di lorong untuk kembali ke ruangannya, dia melihat Yoona, salah satu teman dekatnya.

“Wow, Yoong. Ada urusan apa kau kemari?” tanya Taeyeon dengan meninju bahu wanita cantik itu sebagai tanda salam. Yoona tersenyum.

“Aku hanya ingin meminum kopi denganmu, Unnie.”

Taeyeon mengerutkan keningnya mendengar permintaan aneh Yoona. Dia tertawa pelan sebelum membalas ucapan Yoona.

“Arrasseo, aku akan mentraktirmu kopi di cafe depan.”

Mereka berdua pun turun kebawah untuk meminum kopi ke cafe depan seperti permintaan Yoona barusan. Mereka hanya duduk diam menunggu pesanan mereka datang. Hingga pesanan datang, mereka masih tetap diam. Taeyeon menghela nafasnya.

“Kau kenapa terus diam, Yoong? Aku perhatikan kau sedikit berbeda dari biasanya.” tanya Taeyeon memecah keheningan.

Yoona memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam.

“Kuharap kau mau menerima kabar ini, Unnie.”

Taeyeon makin bingung dengan ucapan Yoona. Dia sama sekali tidak tahu apa yang ada dipikiran gadis bermata rusa itu.

“Sica Unnie… dia meninggal dalam kecelakaan tak lama tadi.” Yoona memejamkan matanya lagi, tak ingin melihat ekspresi Unnie nya yang pasti sangat hancur.

Taeyeon tertawa keras. “Bulan apa ini? Oh. April, pantas saja. That was April fools, right?

Yoona menggeleng lemah. Dia menyodorkan sebuah foto pada Taeyeon. Disana terdapat mobil yang hangus terbakar hingga wujudnya bukan seperti mobil lagi. Namun plat mobil tersebut masih sedikit jelas. Taeyeon melihat itu dengan menyipit. Matanya melebar. Plat mobil itu…. milik Jessica? Taeyeon menggeleng cepat. Dia tak menyadari airmata sudah menetes melewati pipinya sedari tadi. Taeyeon tetap menggeleng, menolak bahwa itu kekasihnya.

“Ani, Yoong ani. Jessica dirumah, dia dirumah! Itu bukan mobil kekasihku! Jessica pasti ada dirumah!” Taeyeon bersikukuh menolak. Dia mulai menangis sesenggukan. Yoona memeluk Taeyeon yang mulai berontak. Gadis itu juga sama, dia menangis melihat Unnienya. Dia menangis mengetahui Jessica, unnie kesayangannya meninggal.

***

Setelah ditelusuri tentang penyebab kecelakaan Jessica, ternyata ada orang yang sengaja merencanakannya. Orang itu mencabut rem mobil Jessica sehingga Jessica tak bisa mengendalikan mobilnya dan terjatuh ke jurang.

Dengan kejadian itu, hidup Taeyeon berubah. Dia seperti mayat hidup. Taeyeon tak pernah meninggalkan rumahnya. Dia sudah tidak peduli dengan pekerjaannya. Yang dia lakukan hanya menangis menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja waktu itu Taeyeon menerima telfon dari Jessica dan menyuruhnya tetap dirumah. Jika saja dia bisa melakukan itu. Jika saja…

Taeyeon membanting guci di meja ruang tengah dan berteriak. Dia kembali menangis. Jessica, kekasihnya, calon isterinya meninggalkannya. Dia menyalahkan Tuhan mengapa Dia tak adil kepadanya. Pertama Heechul oppa, kedua wanita yang sangat dia cintai, selanjutnya siapa, ha?! Taeyeon memebenamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Menangis adalah hal yang wajib dia lakukan tiap harinya.

Hal tersebut berlangsung selama setahun. Dia bahkan pernah mencoba bunuh diri, namun keluarganya dapat mencegahnya. Baru beberapa tahun belakangan ini Taeyeon bisa menata kembali hidupnya. Dia masih sedikit trauma jika ada yang menanyakan masa lalunya, meski dia sudah menerima bahwa Jessica juga Heechul telah tiada. Oleh karena itu kedua orangtua Taeyeon yang melihat puterinya sudah bersikap seperti Taeyeon yang dulu mencoba menjodohkannya dengan puteri sahabat lama mereka. Dengan gadis bernama Tiffany yang saat ini menjadi isterinya. Namun Taeyeon masih memiliki satu masalah lagi.

Kang Jung Hee.

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

Noh yang minta masa lalu taey 👆

Huhu, ntah kenapa jiwa time traveler gw lagi mendominasi di fic ini. Padalan kebanyakan disini LS kan 😂🔫

Yaudahsi. Tengsik kan udah end kan kan. Eh gatau juga deng di chap selanjutnya wkwk *kabursebelumdiamukmassa*

Besok gw uas doain ye. Tinggal empat hari yang memagerkan bhak. Met puasa~

Pai pai~ see u next chap

Sweet Love (Chapter 3)

Title : Sweet Love

Main cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Chapter 3

Taeyeon meregangkan ototnya yang kaku. Seharian ini wanita itu menemani isterinya berbelanja. Dia tidak tahu isterinya akan berubah menjadi monster saat berbelanja. Puluhan paper bag ia bawa di kedua tangannya yang kecil. Betapa lelahnya Taeyeon hari itu. Dia memijit lengannya dengan lotion. Sakit memang, tapi mau bagaimana lagi. Dia ingin membahagiakan isterinya sebisanya.

“Taeyeon-ah…” panggil Tiffany. Taeyeon segera menyembunyikan lotion nya dibalik bantal dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Dia tak ingin isterinya khawatir padanya. Selang tak lama, Tiffany muncul dengan nampan ditangannya.

“Aku membuatkanmu sup. Umma bilang kau sangat menyukai sup, maka dari itu aku memintanya mengajariku membuat ini kemarin. Cobalah.” Tiffany meletakan meja kecil diranjang mereka untuk meja makan suaminya yang dorky.

“Gomawo, Fany-ah.” Taeyeon menatapnya dengan berkaca-kaca. Dia tidak menyangka isterinya mengerti dirinya yang lapar seharian ini.

“Aish, hentikan wajah konyolmu itu. Cepat makanlah. Apa perlu aku suapi?”

“Assa! Suapi aku, mommy!” teriak Taeyeon seperti anak kecil. Tiffany tertawa pelan melihat betapa konyolnya suaminya itu. Dia mulai sedikit tahu tentang Taeyeon belakangan ini. Tidak seperti beberapa hari setelah pernikahan mereka. Namun wanita itu belum bisa mengetahui masa lalu Taeyeon yang dia tutup rapat. Jika dia menanyakan itu, pasti Taeyeon akan mengalihkan pembicaraan. Kalau tidak, suaminya itu pasti akan pergi. Maka dari itu, Tiffany tak lagi menanyakannya. Mungkin Taeyeon belum siap bercerita padanya.

“Aaa~” ucap Tiffany layaknya menyuapi bocah berumur tiga tahun. Taeyeon memakannya dengan lahap.

“Uwaaaah, mashita! Ini seperti masakan, Umma! Johahae…” Taeyeon memegang tangan Tiffany dengan raut berbinar. Tiffany senang mendengarnya.

“Benarkah? Kalau begitu habiskan ini sampai tak tersisa, arra?” Taeyeon mengangguk cepat. Tiffany mulai menyuapi Taeyeon lagi dengan telaten. Seperti ibu pada anaknya saja.

Setelah habis, Taeyeon bangkit dari duduknya dengan membawa nampan berisi mangkuk yang dibawa Tiffany tadi untuk dicuci. Tak lupa sebelum itu, dia mengecup bibir Tiffany sekilas tanda terimakasih. Isterinya hanya bisa melongo di tempat. Terakhir kali Taeyeon menciumnya di bibir adalah saat pernikahan mereka. Tiffany masih merasa aneh meskipun itu suaminya sendiri yang melakukannya. Perutnya terasa sesak dan geli.

“Biasakan untuk itu, Fany-ah. Akan ada berjuta-juta kecupan tiap harinya.” Taeyeon menunjukan wink nya sebelum keluar dari kamar mereka. Pipi Tiffany memanas. Dia menelungkupkan wajahnya di bantal karena malu.

“Kyaaa, i’m going crazy!

***

Hujan diluar sangat deras. Pasangan suami-isteri baru tersebut terpaksa membatalkan kencan mereka. Taeyeon dan Tiffany sepakat, mereka akan mencoba belajar mencintai satu sama lain. Mungkin dengan bersikap seperti pasangan pada umumnya, cinta mereka akan tumbuh dengan sendirinya. Who know? Mereka juga sudah mulai merasa nyaman dengan rumah tangga mereka.

Karena bosan hanya berdiam diri di rumah, Taeyeon mengajak isterinya untuk bermain permainan. Pertama mereka bermain Jenga. Sebuah permainan dari balok kayu yang ditumpuk sedemikian rupa untuk mereka ambil satu persatu dan jangan sampai balok kayu tersebut roboh.

Pada awalnya mereka cukup terhibur dengan permainan itu, apalagi Taeyeon berkali-kali merobohkan tumpukan Jenga saat sedang serius-seriusnya. Hampir sepanjang permainan Tiffany isi dengan gelak tawa karena suaminya itu. Taeyeon menyerah. Dia melempar tumpukan Jenga tersebut ke sembarang arah dengan wajahnya yang ditekuk. Tiffany tak bisa menahannya, dia tertawa lagi. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.

“Aish, permainan ini tidak asik! Kita ganti bermain ToD saja, Fany-ah. Bagaimana?” usul Taeyeon.

Tiffany berpikir sejenak. ToD, Truth or Dare. Jika itu bisa membuat Taeyeon jujur kepadanya, mengapa tidak? Tiffany mengangguk mantap.

“Aku akan mengambil botol dulu.” kata Taeyeon. Tiffany mengangguk dan menunggu suaminya yang sedang mengambil botol.

“Jja~ ini dia. Aku putar dulu, ne?” Taeyeon mulai memutar botol hingga ujung botol berhenti dan mengarah pada Tiffany. Wanita itu melebarkan matanya dan menunjuk dirinya sendiri. Taeyeon tertawa menang seraya meninju kepalan tangannya di udara.

“Yess, kau duluan. Truth or Dare?” tanya Taeyeon.

Tiffany menggigit ujung kukunya sembari berpikir. “Dare.” ucapnya pada akhirnya. Taeyeon sedikit terkejut mendengar isterinya menyebutkan Dare untuk yang pertama kali. Jika menyangkut Dare, Taeyeon tak main-main.

“Kau yakin?” tanya Taeyeon serius. Tiffany menggigit bibir bawahnya. Perasaannya benar-benar tak enak. Satu hal yang wanita itu ketahui dari Taeyeon. Suaminya itu manusia paling byun yang pernah dia temui. Dia mengira tantangannya akan tak jauh dari-

Make out denganku selama lima belas menit.”

Sudah Tiffany duga. Itulah suaminya.

Big no.” Tiffany menggeleng.

“Wae? Aku suamimu.” Taeyeon tak terima dengan penolakan isterinya. Dia memilih Dare, dan itu adalah tantangan darinya. Harusnya dia mematuhinya.

“Ck, byuntae!” Tiffany memutar bola matanya malas.

“Kau harus mau kalau tak mau kutambah hukumannya menjadi make love.”

“YA!” Tiffany memukul bahu Taeyeon dengan keras. Wanita berambut brownie itu memalingkan wajahnya yang memanas.

“Ani, aku bercanda. Ayolah, Fany-ah. Kau tak berniat lari dari tantangan, bukan?” ucap Taeyeon terus meyakinkan isterinya. Tiffany menghela nafasnya.

Fine. Lakukan terserahmu.”

Wajah Taeyeon berubah sumringah. Dia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Tiffany. Jauh di lubuk hati, Tiffany merasa sangat nervous. Ini bukan lagi ciuman di depan tamu undangan yang masih bisa dihentikan oleh mereka. Ini hanya mereka berdua saja yang tahu. Tiffany ragu Taeyeon tak hanya menghabiskan waktu lima belas menit.

Taeyeon mendekatkan wajahnya dan tersenyum manis. Dia mengecup bibir Tiffany dengan lembut dan penuh perasaan. Dia hanya mendiamkannya sejenak. Setelah dirasa cukup, Taeyeon bergerak melumat bibir bawah Tiffany. Awalnya Tiffany tetap diam tak membalas, namun lama kelamaan, dia mulai terbuai dengan ciuman suaminya. Apalagi usapan lembut jari Taeyeon di pipinya. Secara natural, tangan Tiffany ia kalungkan di leher Taeyeon, sedangkan wanita yang lebih tua tersebut menarik pinggang Tiffany untuk mendekat hingga tak ada jarak lagi diantara mereka.

Taeyeon menggigit bibir bawah Tiffany, membuatnya membuka mulutnya. Kesempatan itu tak dibuang oleh Taeyeon begitu saja. Lidahnya memasuki rongga mulut isterinya dan mulai menjelajahinya.

“Nghh…” desah Tiffany saat lidah Taeyeon mengajaknya menari. Dia menjambak rambut Taeyeon sementara bibir mereka masih berpagutan. Taeyeon menuntun Tiffany untuk berpindah ke sofa tanpa melepas kontak. Dia membaringkan isterinya disana dan beralih mengecup rahangnya lalu turun ke lehernya.

“Aaahs~ T-Taeyeonh…” racau Tiffany saat Taeyeon menjilat dan menghisap lehernya. Gila! Ini gila! Tiffany belum pernah merasakan ini sebelumnya.

Mata Tiffany terbelalak saat tangan Taeyeon meremas payudaranya yang masih terbungkus kaos. Namun wanita itu tak menolak. Dia terus membiarkan suaminya menyentuh area yang tak terpikirkan olehnya akan disentuh.

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany berusaha mengimbangi ritme ciuman Taeyeon yang tergesa. Mereka berciuman cukup lama sebelum Taeyeon menyudahinya karena kehabisan oksigen. Taeyeon menatap wanita dibawahnya dengan tersenyum, meski masih terengah akibat ciuman panasnya tadi. Dia mengecup sekilas bibir isterinya sebelum berbicara.

“Gomawo, yeobo.” ucap Taeyeon tulus. Tiffany memalingkan wajahnya yang memerah akibat panggilan Taeyeon tadi.

“Kau sudah merencanakan ini, bukan?” tanya Tiffany pelan.

Taeyeon tertawa ahjumma. Dia mengecup bibir Tiffany sekali lagi. “Yup! Aku berhasil, kan?”

“Byuntae.” gumam Tiffany masih tak mau menatap Taeyeon diatasnya.

“Bilang saja kau menyukainya, Fany-ah. Tak ada yang bisa menolak pesona seorang Kim Taeyeon.”

You wish! Sudahlah, bangun dari tubuhku. Kita lanjutkan permainan tadi.”

Taeyeon terkekeh. Dia bangkit dari tubuh Tiffany dan duduk kembali di lantai. Menyambung permainan tadi. Begitu juga Tiffany. Wanita itu duduk di depan Taeyeon dan mulai memutar botol. Mereka melihat botol yang masih berputar sebelum melambat dan berhenti ke arah Taeyeon. Tiffany menyambutnya dengan suka cita. Dia bertepuk tangan seraya tertawa. Kebiasaannya yang Taeyeon ketahui setelah hidup bersama dengan isterinya.

“Kau kena! Truth or Dare?” tanya Tiffany semangat.

“Kalau kau tadi memilih Dare, sekarang aku memilih Truth.”

Tiffany berpikir sejenak. Dia menatap mata Taeyeon dengan intens.

“Jawab ini dengan jujur dan detail.” ujar Tiffany serius. Taeyeon menaikkan satu alisnya dan mengangguk.

“Siapa itu Jessica Jung?” tanyanya. Tiffany dapat melihat raut wajah Taeyeon yang terkejut begitu mendengar nama tersebut. Dia memalingkan wajahnya kesamping.

“Aku ingin buang air kecil dulu, Fany-ah.” Taeyeon hendak pergi, namun Tiffany menahan tangannya.

“Jawab aku, Taeyeon-ah. Kau sudah berjanji untuk jujur.”

Taeyeon duduk kembali dan menghela nafasnya kasar. Dia menatap Tiffany dengan tatapan sedih.

“Kurasa kau perlu tahu masa laluku.”

Taeyeon menggenggam tangan Tiffany dan mengelusnya lembut.

“Percaya atau tidak, dia kekasihku yang lama mati dan sekarang kembali lagi.”

Tiffany membulatkan matanya dengan sempurna. Apa yang Taeyeon bicarakan?

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Yeay fast update lagi wkwk. Sebenernya gw lagi kejar setoran (?) Mungkin kedepan gue ga update secepet ini karena UAS masih beberapa hari lagi.

Noh buat LS tehni momennya. Chap berikutnya bakal dikupas masa lalu taenggu. Dan Jessjung pastinya. Thanks udah baca cerita absurd gw. Dan yg komen gw bener-bener ucapin terimakasih ke kalian. Komen kalian penyemangat gw nulis juga.

Buat siders yg gw gak kira sebegini banyaknya, gw jga ucapin thanks karena udh mampir ke lapak ecek2 gw.

Oh iya lupa. Marhaban Ya Ramadhan gaes. Puasa adegan rated nya dikurangin wkwk

Pai pai~ see u next chap ^^

Sweet Love (Chapter 2)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Chapter 2

Sehari sebelum pernikahan, Taeyeon tiba-tiba menghilang. Awalnya mereka mengira Taeyeon pergi ke kantor untuk mengurusi sesuatu, namun sekertaris pribadinya, Eunha mengatakan tak ada sajangnim nya di kantor sejak pagi. Tiffany dan ketiga orangtuanya masih tidak terlalu mengkhawatirkannya. Mungkin Taeyeon ingin mencari udara segar sebelum melepas masa lajangnya.

Tetapi menjelang malam hari, mereka mulai gusar. Taeyeon belum kunjung pulang. Padahal pernikahan mereka diadakan besok pagi. Kedua orangtua Taeyeon sudah menelepon seluruh teman dekat Taeyeon, berharap wanita itu bersama mereka salah satunya. Nampaknya, perjuangan mereka membuahkan hasil yang nihil. Semua teman dekat Taeyeon tidak ada yang tahu dimana Taeyeon sekarang.

Mereka juga sudah menyuruh orang untuk mencari Taeyeon ke tempat yang mungkin dikunjungi wanita pendek itu. Namun sama seperti tadi, Taeyeon tak ada disana. Tiffany juga berkali-kali menghubungi calon suaminya itu, dan yang ia dapat hanya suara dari operator. Mereka benar-benar khawatir dengan Taeyeon. Terlebih kedua orangtuanya. Appa dan Umma Kim takut Taeyeon melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendiri mengingat kejadian beberapa tahun silam. Mereka hanya bisa berdo’a pada Tuhan agar tak terjadi apapun pada puteri kesayangannya itu.

Tiffany tak jauh lebih baik. Wanita ber-eyesmile itu menggigit bibir bawahnya sesekali. Kalau tidak ada Daddy dan kedua calon mertuanya, mungkin dia sudah meringkuk untuk menangis. Dia teringat percakapan dirinya dengan Taeyeon kemarin malam sebelum wanita itu menghilang.

“Fany-ah?” 

“Ya, Tae?” 

“Mengapa kau belum tidur?” Taeyeon mendekat dan duduk disamping calon isterinya. Dia melihat Tiffany mensave dokumen di laptopnya sebelum menjawab pertanyaan darinya. 

“Aku sedang menyelesaikan ceritaku. Kau sendiri, mengapa belum tertidur?” 

“Ah, gangguan tidur. Akhir-akhir ini penyakit itu kambuh lagi.” Taeyeon mengusap tengkuknya. Tiffany mengangguk. Dia mematikan laptopnya sebelum berbicara dengan Taeyeon lagi. 

“Kalau begitu, aku akan membuatkanmu susu hangat.” Tiffany hendak berdiri, namun Taeyeon menahannya. 

“Tidak usah. Aku akan menemanimu saja, sepertinya kau belum mengantuk.” ucap Taeyeon dengan memandang manik Tiffany. Wanita yang lebih muda darinya mengangguk dan duduk kembali disamping Taeyeon. 

Ada jarak keheningan selama beberapa saat yang menemani mereka. Tak ada yang berniat memulai percakapan. Mereka masih betah dengan kediaman yang dibuat mereka sendiri, sebelum suara Taeyeon memecah sunyi. 

“Kau tahu? Jika boleh memilih, aku tak ingin meneruskan perjodohan ini.” 

Tiffany mengerutkan keningnya. Selama ini Taeyeon sama sekali tak pernah menyinggung ini. Dia kira Taeyeon baik-baik saja dengan perjodohan mereka. Kenapa dia mengatakan itu disaat pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari? 

“W-Wae?” tanya Tiffany ragu. 

“Aku berpikir akhir-akhir ini…” Taeyeon menghela nafasnya panjang sebelum meneruskan kalimatnya. Dia menoleh ke arah Tiffany dan tersenyum pelan. “Aku tak pantas untukmu, Fany-ah.” 

Tiffany menggeleng pelan. “Bagian mana dari dirimu yang membuatmu tak pantas untukku, Taeyeon?” 

“Aku seorang pembunuh.” balas Taeyeon cepat. Tiffany menahan nafasnya saat wanita yang lebih tua darinya mengucapkan kalimat tersebut dengan cepat. 

“Lihat? Kau pasti takut denganku, Tiffany. Aku wanita yang tak pantas untuk wanita secantik dan sebaik dirimu.” 

Tiffany memejamkan matanya. Menetralisir perasaan yang bergejolak di rongga dadanya. “Kau melakukan itu pasti ada alasannya, Taeyeon-ah.” 

Taeyeon menundukan kepalanya. Dia menangis mengingat masa lalunya itu. Tiffany mendekat dan memeluk Taeyeon. Wanita itu yakin, Taeyeon sebenarnya wanita yang baik. Dia mengusap punggung Taeyeon untuk menenangkan. Pelukan Tiffany membuat tangisan Taeyeon mereda hingga tertidur dalam pelukannya. Tiffany menghela nafasnya pelan. Dia tak mengira masa lalu Taeyeon se-complicated ini. 

“Kalian belum mencari ke satu tempat ini, Umma, Appa.” Hayeon, adik bungsu Taeyeon berbicara serius pada mereka.

“Dimana Hayeon-ah?” tanya Umma Kim dengan cepat.

“Tempat terakhir kali Unnie tiada.”

Umma dan Appa Kim terdiam.

Benar.

Mereka belum mencari ke tempat tersebut. Tempat yang dengan bodohnya mereka lewatkan. Tiffany yang tak mengerti dengan ucapan Hayeon mengerutkan keningnya. Dia menoleh ke arah Umma Kim, berusaha mendapat penjelasan. Namun Umma Kim hanya menatap kosong ke depan. Dia menggenggam tangan suaminya dan mengangguk.

“Mari kita kesana, yeobo.”

Sebelum kedua paruh baya tersebut keluar, pintu rumah terbuka pelan. Mereka serempak melihat ke arah pintu dan menemukan Taeyeon disana. Wanita itu berjalan cepat untuk masuk ke dalam. Tepat satu meter di depan Tiffany, Taeyeon menghentikan langkahnya. Dia menatap mata calon isterinya intens.

“Fany-ah, katakan kau mencintaiku dan aku akan meneruskan ini semua.” ucap Taeyeon bersungguh-sungguh. Orangtua dan adik mereka tak mengucapkan sepatah katapun. Mereka membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya masing-masing.

Tiffany terdiam. Memang benar dia menyukai Taeyeon, tapi masih belum ke tahap mencintainya. Dia masih belajar untuk itu. Taeyeon masih setia menunggu jawaban Tiffany dengan intens.

“Ya, aku mencintaimu.” ucap Tiffany pada akhirnya. Taeyeon tersenyum tipis, sangat tipis sampai-sampai Tiffany ragu Taeyeon tersenyum atau tidak. Wanita yang lebih pendek darinya memajukan tubuhnya dan sedikit berjinjit untuk mengecup dahi Tiffany. Desiran aneh itu muncul lagi. Taeyeon menggenggam tangan Tiffany sebelum beralih menatap kedua orangtuanya, calon mertuanya, dan juga adiknya.

“Umma, Appa, Daddy, Hayeonie, aku baik-baik saja. Kalian boleh pulang, kami membutuhkan sedikit privacy.” Bukan Taeyeon tak sopan pada mereka yang pasti lelah menunggunya dengan khawatir. Namun dia memang membutuhkan privacy bersama Tiffany sebelum hari janji suci nya dilaksanakan esok pagi.

“Kami paham, nak. Ambil waktumu.” Daddy Hwang menepuk pelan bahu Taeyeon sebelum berbalik badan dan pergi dari rumahnya. Hayeon dan kedua orangtuanya hanya tersenyum padanya dan mengangguk, lalu mulai menyusul Daddy Hwang untuk pergi darisana.

Setelah mereka benar-benar pergi darisana, Taeyeon menatap Tiffany dan tersenyum tulus. Dia mendekatkan tubuhnya untuk memeluk wanita yang esok akan menjadi pendamping hidupnya itu.

“Terimakasih.” bisiknya di telinga Tiffany. Wanita itu mengangguk dan membalas pelukan Taeyeon.

***

Hari yang mereka tunggu datang. Setelah menyelesaikan beberapa rangkain acara, kini tiba saatnya mereka mengucapkan janji mereka di hadapan Tuhan. Tak bisa dipungkiri bahwa kedua mempelai sangatlah gugup. Apalagi Taeyeon. Dia tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya.

Setelah pendeta selesai mengajukan beberapa pertanyaan padanya, kini giliran ia yang harus mengucapkan janji nikahnya. Dia menarik nafasnya untuk mengontrol emosinya sebelum membuka mulutnya.

“Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku  yang tulus” Taeyeon mengucapkannya dengan satu tarikan nafas. Dia senang dapat melewati masa gugupnya dengan baik. Dan sekarang giliran Tiffany yang harus mengucapkannya.

“Saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku  yang tulus”

Taeyeon tersenyum saat Tiffany menyelesaikan kalimatnya. Begitu juga dengan Tiffany.

“Kedua mempelai silahkan berciuman.”

Ini yang Taeyeon paling gugupkan. Meskipun Tiffany kini sudah sah menjadi isterinya, tetap saja ini asing. Mereka belum pernah berbagi ciuman sebelumnya. Paling jauh hanya mengecup pipinya. Itu pun satu kali. Dengan ragu Taeyeon mendekatkan wajahnya dengan pelan. Dia menarik dagu Tiffany dan memandangnya dengan intens sebelum kedua benda lunak tersebut menyatu. Tiffany memejamkan matanya menikmati sensasi aneh yang kini ia rasakan. Taeyeon mendiamkannya beberapa saat sebelum bergerak melumat bibir Tiffany. Para tamu undangan melihatnya dengan haru. Banyak yang iri melihat betapa manisnya pasangan di depan altar sana.

Tiffany yang mulai kehilangan akal saat bibir Taeyeon menjamah bibirnya, mengalungkan tangannya di leher Taeyeon. Suasana menjadi panas saat mereka mulai melakukan lebih dari passionate kiss. Pendeta yang melihatnya menjadi gugup. Dengan hati-hati, dia melerai pasangan yang dilanda nafsu tersebut sebelum kejadian yang tak diinginkan terjadi. Taeyeon dan Tiffany tersadar dan menundukan kepalanya karena malu.

“Masih ada nanti malam. Bersabarlah.” goda Daddy Hwang. Wajah mereka memerah seperti kepiting rebus. Para tamu undangan hanya bisa tertawa melihat kelakuan pasangan muda tersebut.

.

.

Taeyeon membaringkan tubuhnya dengan kasar. Hari ini sangat melelahkan. Belum masih ada acara resepsi yang harus dihadiri. Rasanya dia sudah tak kuat untuk bangun. Kakinya sakit karena terlalu lama berdiri.

“Taeyeon-ah, acara resepsi sudah dimulai.” Tiffany mengingatkan Taeyeon. Dia duduk di sisi ranjang mereka, menunggu Taeyeon terbangun.

“Aku lelah, Fany-ah.” Taeyeon merengek seperti anak kecil. Tiffany mendecakan lidahnya.

“Bangun pemalas. Atau aku akan menghapus seluruh game di laptopmu.” ancam Tiffany.

“J-Jangan! O-Oke aku bangun oke.” Taeyeon langsung bangkit dan keluar dari kamarnya. Menghapus game? Huh, no way. Dia sudah sampai level expert untuk seluruh permainan disana. Apalagi game tersebut berbayar. Dia membeli cukup mahal game kesayangannya itu. Tiffany yang melihat sifat kekanakan Taeyeon hanya bisa tertawa. Dia berjalan menyusul Taeyeon di belakangnya.

“Apa keluarga kita sudah masuk?” tanya Taeyeon.

“Ya, tinggal kita yang belum masuk.”

“Arrasseo. Ayo cepat!” Taeyeon menggenggam tangan Tiffany untuk masuk ke tempat resepsi. Setelah diperkenankan oleh MC untuk maju kedepan, mereka berdua pun berjalan santai ke depan, disusul keluarga mereka yang maju kedepan bersama mereka berdua.

Disaat acara sambutan-sambutan oleh keluarga dan kerabat mereka masing-masing, Taeyeon menyipitkan matanya saat melihat seorang wanita berambut coklat dengan gaun putih selutut tanpa lengan tengah memegang gelas berisi wine di tangannya. Dia makin menyipitkan matanya hingga terlihat jelas. Jantungnya berhenti berdetak. Matanya melebar.

“Tidak mungkin.” gumamnya. Tiffany yang menyadari ekspresi Taeyeon yang tiba-tiba mengerutkan alisnya. Dia bermaksud menanyakannya pada Taeyeon. Namun wanita itu berdiri dan dengan cepat turun dari panggung. Dia bilang kepada MC ingin kebelakang sebentar, Tiffany masih mendengar itu meski jaraknya beberapa meter darinya sebelum punggung Taeyeon kian menjauh.

Taeyeon berlari ke taman belakang resepsi untuk mengejar wanita tadi yang menjauh. Dia menarik tangan wanita tersebut hingga beradu pandang dengannya. Mulut Taeyeon terbuka, jantungnya terpompa cepat. Matanya memanas. Dia mengelus pipi wanita tersebut. Wanita di depannya nyata! Dia nyata! Taeyeon menarik wanita tersebut dan memeluknya erat.

“Sica-ya, bogoshipda.” Taeyeon menangis di pelukan wanita tersebut.

“P-Permisi, nona? Apa aku mengenalmu?” tanya wanita itu pelan. Taeyeon menarik tubuhnya dari pelukannya. Dia menatap wanita didepannya tak percaya. Wajahnya, suaranya, itu hanya Jessica yang memilikinya! Itu hanya milik kekasihnya!

Tiba-tiba dari arah belakang, muncul seorang wanita berkulit tanned mendekat ke arah mereka. Dia melihat Taeyeon dan tersenyum.

“Whoah, Miss Kim. Anda masih ingat denganku? Kita pernah bekerja sama di China waktu itu.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. Dia melihat wanita itu sekali lagi. “K-Kwon Yu- ri?”

“Assa! Chukhahae, Miss Kim atas pernikahanmu.”

“Ne, gomawo.”

“Ah ya, perkenalkan. Ini tunanganku, Kang Jung Hee. Hee-ya perkenalkan dirimu.”

“Kang Jung Hee imnida.” Wanita bernama Jung Hee tersebut menundukan kepalanya tanda salam.

Taeyeon masih belum bisa mencerna ini semua. Kang Jung Hee? Yang benar saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Whoaaah mimpi apa gw update cepet? Wkwk. Nih yang penasaran sama next chap nya.

Enjoy read~

Pai pai~ see u next chap ^^

Sweet Love (Chapter 1)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Chapter 1

Taeyeon memijit pelipisnya pelan. Menjadi seorang direktur menuntutnya untuk bekerja lebih keras. Baru saja dia selesai membaca laporan keuangan bulan ini yang menurun lumayan drastis. Agaknya acara anniversary perusahaan minggu lalu terlalu berlebihan. Sampai-sampai menggunakan dana yang tidak wajar. Itu memang bukan urusannya, tapi tetap saja yang akan terkena damprat oleh owner perusahaan tempat dia bekerja pasti dirinya. Taeyeon menghela nafas dan menyingkirkan laporan itu kesamping.

Lebih baik dia melanjutkan pekerjaannya. Saat Taeyeon akan menyalakan laptopnya, intercom disampingnya berbunyi. Dia menekan tombol untuk menjawab panggilan tersebut.

“Ada apa, Eunha-ssi?”

“Maaf mengganggu waktu anda. Nona Tiffany ingin bertemu, sajangnim.”

Tiffany? Untuk apa wanita itu kemari?

“Biarkan dia masuk.”

“Baik sajangnim.”

Tak sampai lima menit, wanita yang ingin menemuinya sampai di hadapannya. Dia mengenakan rok pink selutut dan blouse putih panjang. Tak lupa rambutnya yang digerai membuatnya semakin cantik. Taeyeon tak menyangkal itu. Ditangannya, dia memegang kotak makanan berukuran sedang. Dan Taeyeon menebak, kedatangan wanita itu kemari untuk memberikan bekal makan siang untuknya.

“Kau tidak bekerja, Fany-ah?” tanya Taeyeon seraya bangkit dari duduknya untuk mendekat ke arah Tiffany.

“Ani, aku habis dari butik untuk memilih gaun pernikahan kita.” jawab Tiffany.

“Kenapa kau tidak bilang padaku? Aku bisa mengantarmu.”

“Tak apa, lagipula belum ada yang cocok tadi. Ah iya, Umma menitipkan ini padamu. Dia bilang kau suka melewatkan jam makan siangmu.”

“Ck, wanita tua itu.. Arra, aku akan memakan ini. Kau sudah makan siang?”

“Sebenarnya belum. Tapi-”

“Kau lihat ini?” potong Taeyeon cepat. Tiffany mengerutkan keningnya saat wanita didepannya menunjuk bekal yang dibawanya tadi. Dia tak paham dengan maksud Taeyeon.

“Umma tak biasanya memberiku makanan sebanyak ini. Itu berarti, dia bermaksud memasakan ini untuk kita. Jadi, tak usah banyak bicara dan buka mulutmu. Aaa~” Taeyeon menyodorkan sepotong kaktugi pada Tiffany. Mau tak mau wanita itu membuka mulutnya dan mulai memakan potongan kaktugi tersebut.

Good girl. Aku akan menyuapimu, dan jangan protes.”

“Aku bisa sendiri, Taeyeon.” ucap Tiffany. Wanita yang lebih tua darinya menatap Tiffany tajam. Wanita keturunan Amerika itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah dan mematuhi perintah calon suaminya.

Taeyeon bergantian menyuapi dirinya sendiri dan juga calon isterinya tersebut. Sebenarnya Tiffany agak risih disuapi. Dia tak terbiasa untuk itu. Tapi melihat bagaimana Taeyeon dengan telaten menyuapinya, dia tak tega menolak.

“Selesai. Aku masih ada pekerjaan, Fany-ah. Dan tak bisa menemanimu lebih lama. Tapi aku bisa mengantarmu pulang sebelum melanjutkan pekerjaanku.”

“Gwaenchanha, Taeyeon. Aku bawa mobil sendiri.”

“Benar tak apa?”

“Ne, Taeyeon. Aku pergi dulu. Thanks untuk suapannya.” Tiffany tertawa pelan dengan kalimat terakhirnya. Begitu juga Taeyeon.

Sebelum Tiffany pergi dari hadapannya, Taeyeon menahan pergelangan tangan Tiffany, membuatnya menoleh ke arah Taeyeon yang menatapnya dalam.

“Fany-ah, kau yakin dengan ini semua? Masih ada waktu, kau bisa menggunakan itu untuk membatalkannya.” Tiffany melepas tangan Taeyeon di pergelangan tangannya dan menggenggamnya. Dia menunjukan senyum mautnya pada Taeyeon.

Why should I? You don’t wanna try it with me?

“Fany-ah, ini pernikahan. Bukan lagi sepasang kekasih yang bisa putus kapan saja. Pertimbangkan lagi. Terlebih banyak pria dan wanita diluar sana yang lebih baik dan lebih pantas untukmu.”

“Taeyeon kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa aku harus mempertimbangkannya lagi?  Kau wanita yang baik, Taeyeon. So, why not?

No no no no, Fany-ah. Aku sama sekali bukan wanita yang baik. Kau belum mengenalku.”

“Kalau begitu, biarkan aku mengenalmu.”

“Fany-ah, kau tidak tahu.” Taeyeon menundukan kepalanya.

“Buat aku tahu, Taeyeon-ah.” Suara lembut Tiffany membuat Taeyeon mendongak dan menatapnya. Tiffany juga tak tahu kenapa dia melakukan ini. Di kamusnya bahkan kata perjodohan merupakan kata terlarang. Tak pernah terpikirkan olehnya akan menikah dengan orang yang baru dia kenal. Dan sekarang dia malah seperti senang dengan perjodohan ini. Tiffany sungguh tak tahu mengapa.

“Kau bersungguh-sungguh untuk itu? Kau benar-benar ingin bersamaku?”

“Tentu. Itu kemauan orangtua kita, bukan?”

“Terlepas dari orangtua, Tiffany.” Taeyeon menatapnya tajam.

“Uh-oh yeah t-tentu.”

“Apakah itu berarti…” Taeyeon mendekatkan wajahnya pada Tiffany. “…kau mulai menyukaiku?”

Tiffany menelan ludahnya. Dia tidak tahu, dia sama sekali tidak tahu. Dia hanya merasa, Taeyeon tak terlalu buruk untuknya. Lagipula, dia puteri sahabat Daddy nya. Mereka juga baik padanya. Menolak permintaan Daddy nya hanya akan menyakiti pria paruh baya itu. Dan Tiffany tak mau itu terjadi. Dia sangat menyayangi Daddy nya, karena beliau lah orangtua yang masih dia miliki.

Tiffany membuang wajahnya ke arah lain. Dia menghela nafasnya sebelum mengatakan, “Akan kucoba, Taeyeon-ah.”

***

Tiga minggu sebelum acara pernikahan dimulai, Taeyeon bersama Tiffany sibuk mengurusi persiapan pernikahan mereka. Meskipun sudah ada Wedding Organizer yang menanganinya, namun kedua manusia tersebut masih belum menemukan sesuatu yang cocok untuk pernikahan mereka. Alhasil, hampir seluruh persiapan mulai dari, dekor, kostum, tema wedding, dan lain-lain mereka berdua yang mengatur. Taeyeon bahkan sampai meminta cuti lebih awal hanya untuk itu. Dan Tiffany, gadis itu bisa bergerak bebas karena pekerjaan freelance nya yang tak mengikat. Dia seorang penulis buku nonfiksi.

“Ugh, aku lelah.” ucap Taeyeon seraya merebahkan tubuhnya ke sofa. Dia baru saja selesai mengatur konsep pernikahannya bersama WO.

“Ambil ini.” Tiffany menyerahkan air mineral pada Taeyeon yang dibalas ucapan terimakasih dari wanita imut itu sebelum menenggaknya hingga setengah. Mereka berdua memang serumah setelah pertemuan pertama mereka di restoran. Appa Kim yang mengusulkannya. Dia pikir itu akan menambah kedekatan mereka sebelum menikah.

“Kau bekerja keras seharian ini, TaeTae. Aku tak menyangka kau sesemangat ini dengan pernikahan kita.” Tiffany terkekeh pelan.

“Ini pernikahanku yang pertama, Tiffany. Dan juga yang terakhir. Aku berharap itu.” Kalimat terakhir Taeyeon ucapkan dengan pelan, namun masih bisa didengar Tiffany. Wanita blasteran itu hanya tersenyum mendengarnya. Dia menatap Taeyeon dengan berbinar.

“Ceritakan tentang dirimu, Taeyeon-ah!”

Taeyeon menaikkan satu alisnya. “Aku? Tak ada yang menarik dari hidupku, Tiffany. Aku hanya wanita dua puluh enam tahun yang bekerja sebagai direktur di Scarlet Enterprise. Hidupku monoton, bekerja, rumah, tidur, lalu bekerja lagi.”

“Kau bisa memulainya dengan kehidupan asmaramu, atau apapun itu.”

Taeyeon terdiam mendengar ucapan calon isterinya. Kehidupan asmara ya? Taeyeon bahkan lupa kapan terakhir kali wanita itu berhubungan dengan seseorang. Seingatnya, dia hanya pernah menyukai satu wanita di masalalu nya. Satu kali selama hidupnya dia memiliki hubungan dengan wanita itu. Sebelum kejadian yang dia kubur dalam-dalam itu terjadi. Taeyeon menggelengkan kepalanya cepat.

“Aku sangat lelah. Aku ingin tidur.” Taeyeon bangkit dari duduknya dan meninggalkan Tiffany begitu saja. Wanita berambut coklat itu hanya bisa menatap punggung Taeyeon dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Apa dia melakukan kesalahan? Tiffany hanya ingin mengenal Taeyeon sedikit lebih baik. Bukankah mereka sebentar lagi akan menjadi sepasang suami-isteri. Sudah seharusnya mereka terbuka dengan diri mereka masing-masing, bukan?

Tiffany terlonjak dari lamunannya saat ponselnya berbunyi. Dia melihat nama yang terpampang di ponselnya dan segera menjawabnya.

“Yeoboseyo, Umma. Ya, Taeyeon ada dikamarnya. Kami baik-baik saja. Baik, Umma, aku menunggu kedatangan kalian. Ne, hati-hati dijalan.” Tiffany menghela nafasnya panjang. Dia menaiki tangga dimana kamar Taeyeon ada diatasnya. Kamar yang sebentar lagi menjadi milik mereka berdua. Dia mulai mengetuknya pelan.

“Taeyeon-ah, Umma Appa dan Daddy akan kemari tak lama lagi. Kau bisa keluar?”

Butuh waktu lima menit untuk sang penghuni kamar membukanya. Tiffany melihat mata Taeyeon yang bengkak. Dia bermaksud untuk menanyakan itu pada Taeyeon sebelum benda lembut dan kenyal menempel di pipinya. Tiffany diam membeku di tempat. Apa Taeyeon baru saja mengecup pipinya? Meskipun hanya di pipi, Tiffany bisa merasakan desiran aneh di permukaan kulitnya. Kinerja otaknya pun seakan melemah.

“Ayo turun. Mereka sebentar lagi pasti akan datang.”

Tiffany tak menolak saat bahunya dirangkul Taeyeon dan menuntunnya untuk turun dari tangga. Dia masih merasa shock akan kejadian tadi. Baru saja mereka mendudukan pantat mereka di sofa, bel rumah berbunyi. Taeyeon dengan cekatan bangkit dan membukakan pintu untuk orangtuanya dan calon mertuanya.

“Mana Tiffany?” tanya Ummanya.

“Ow, menyakitkan sekali orang yang pertama kau tanyakan bukan anakmu sendiri, Umma.” Taeyeon berpura-pura sedih mendengar ucapan Ummanya.

“Tiffany juga anakku.” balas Ummanya tak mau kalah. Taeyeon mengerucutkan bibirnya, kesal akan jawaban Ummanya.

“Sudahlah, Taeyeon. Berhenti bersikap kekanakan. Ingat umurmu.” Kini Appa Kim yang menengahi ibu dan anak tersebut. Daddy Hwang terkekeh pelan melihat interaksi ketiga manusia di hadapannya.

“Arrasseo, kalian ingin bertemu calon isteriku, bukan? Mari ikuti aku.”

Taeyeon berjalan didepan, diikuti kedua orangtuanya dan Daddy Hwang dibelakang. Setelah tiba di ruang keluarga, mereka melihat Tiffany yang segera bangkit dari duduknya dan langsung menyalami kedua calon mertuanya, juga Daddy nya.

“Duduklah, kami kemari ingin menyampaikan sesuatu untuk kalian.” ucap Appa Kim.

“Memangnya ada hal apa, Umma?”

Ummanya menggeleng dan tersenyum. Dia membiarkan kedua pria di sampingnya yang akan mengatakannya.

“Pernikahan kalian dipercepat menjadi seminggu lagi.” terang Daddy Hwang.

“APA?” koor Taeyeon dan Tiffany.

Ketiga orangtua disana hanya mengangkat bahunya acuh.

“Apa itu tidak terlalu cepat, Dad?” tanya Taeyeon.

“Taeyeon benar, Daddy. Kami masih perlu mengenal diri kami masing-masing.” timpal Tiffany.

“Kalian bisa melakukan itu setelah kalian menikah. Dipercepat sedikit tak ada bedanya, kan? Kalian juga akan tetap menikah.” ujar Daddy Hwang.

“Daddy mu benar, Tiffany. Lagipula, kalian pasangan yang cocok. Appa yakin kalian mulai bisa mencintai satu sama lain.” tambah Appa Kim.

“Arrasseo, akan kami lakukan.”

Taeyeon tertunduk lemah. Bukannya dia membenci pernikahan ini. Tapi dia merasa belum siap menerima Tiffany. Meskipun wanita itu sangat cantik dan terlihat baik, namun Taeyeon masih takut untuk mencoba membuka hatinya lagi. Dia takut dia mengacaukan semuanya. Seperti kejadian beberapa tahun silam. Dia tak mau, jika dia benar-benar mulai mencintai Tiffany dia akan mengacaukan semuanya. Dia takut Tiffany pergi meninggalkannya. Dia benar-benar takut. Ditambah masa lalunya yang tak mengenakkan. Mungkin jika Tiffany mengetahuinya, dia akan berpikir dua kali untuk menerima pernikahan mereka. Haruskah Taeyeon jujur padanya sebelum hari mereka disahkan terjadi?

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Here chapter 1 for you~ ahaha

Gaje banget kan. Makanya jangan baca kalo kalian bilang ini gaje wkwk. Yang mau komen silahkan silahkan saya terima dengan senang hati. Yang gak komen makasih loh udah sempet baca cerita gaje gw.

Pai pai~ see ya next chap ^^

Sweet Love [Prolog]

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Mobil audi putih melesat cepat di jalanan. Beruntung jalanan cukup lengang. Sang pengemudi tak perlu bergerak menyalip kendaraan lain. Dia sudah sangat terlambat kali ini. Pertemuan dengan sahabat lama orangtuanya seharusnya dimulai dua puluh menit yang lalu. Ditengah ketergesaan sang pengemudi, seorang wanita berkacamata menghadang mobilnya di depan. Reflek dia menekan rem kuat-kuat sambil memejamkan matanya. Dia membuka matanya saat mobil berhenti penuh. Dari balik kaca mobilnya, sang pengemudi audi putih dapat melihat wanita gila yang dengan berani menghadang mobilnya itu. Dia membuka pintu mobilnya dengan sedikit kesal.

“Hei, nona apa ya-” Belum sempat sang pengemudi meneruskan kalimatnya, wanita tadi sudah berlari membuka mobilnya dan masuk kedalamnya. Taeyeon, atau sang pengemudi audi menurunkan rahangnya. Dia bergegas masuk ke dalam mobilnya dan bermaksud menanyakan apa maksud ini semua padanya.

Baru saja Taeyeon ingin membuka mulutnya, wanita tadi sudah menginterupsinya. “Mobilku yang disana mogok, aku sudah sangat terlambat. Bolehkan aku untuk menumpang. Kumohon.” Wanita itu memohon dengan memelas pada Taeyeon. Tanpa berucap, Taeyeon mendecakan lidahnya dan mulai menstarter mobilnya, meneruskan perjalanannya.

“Kau mau kemana, nona?” tanya Taeyeon tanpa melihat wanita disampingnya.

Vitreous Humor Restaurant. Bisakah kau mempercepat? Aku benar-benar sudah terlambat.” jawab wanita tadi. Dia berkali-kali mengecek ponselnya. Entah membalas pesan atau sekedar menunggu pesan.

“Santai saja, nona. Aku juga ingin kesana.” Taeyeon mempercepat laju mobilnya. Mengetahui tujuan wanita itu yang sama sepertinya membuatnya bernafas lega. Dia jadi tak perlu mengantar wanita itu terlebih dahulu meskipun ia sendiri juga sudah sangat terlambat.

“Ada urusan apa kau kesana?” tanya wanita disamping Taeyeon. Dia menaruh ponselnya di tas tangan miliknya dan beralih menatap Taeyeon.

“Pertemuan keluarga, maybe? Kau sendiri, nona?” Taeyeon menoleh kesamping sejenak untuk melihat lawan bicaranya.

“Ah jangan panggil aku nona, panggil saja Tiffany. Dan uhm, sama sepertimu mungkin, pertemuan keluarga.”

I see. Kalau begitu, kau juga boleh memanggilku Taeyeon.”

Okay, Taeyeon. I’ll remember that.

Taeyeon membelokkan mobilnya ke tempat restoran yang akan dikunjunginya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapih, dia keluar dari mobilnya. Diikuti Tiffany di belakangnya.

“Thanks, Taeyeon-ssi. Aku tak tahu apa jadinya diriku kalau tak ada kau.”

“Sama-sama, Tiffany. Ingin masuk bersama?” tawar Taeyeon.

Sure.”

Mereka berdua mulai memasuki restoran tersebut. Saat membuka pintu, mereka sudah disambut dengan pegawai disana.

“Ruangan atas nama Kim Tae Oh?” tanya Taeyeon pada pegawai yang pertama ditemuinya.

“Mari ikut saya, nona.” Pegawai tadi menunjukan jalan pada Taeyeon. Namun sebelum itu, dia melihat Tiffany yang masih mengikutinya disampingnya.

“Tiffany-ssi, kenapa kau mengikutiku? Bukankah kau ada pertemuan dengan keluargamu sendiri?” tanya Taeyeon. Tiffany mengangkat bahunya.

“Daddy bilang kami diundang oleh seseorang yang bernama Kim Tae Oh seperti yang kau bilang tadi.”

“Benarkah? Dia Appaku.”

“Ini ruangannya, nona.” pegawai tadi menunjuk ruangan di depannya dan mengundurkan diri dari hadapan mereka. Setelahnya Tiffany menggamit tangan Taeyeon dan masuk kedalam. Mereka melihat kedua orangtua mereka masing-masing di dalam.

“Maaf, kami terlambat.” ucap Tiffany sambil menundukan kepala. Taeyeon yang masih belum menguasai keadaan hanya bisa memandang kosong ke arah orangtuanya dan orangtua Tiffany.

“Taeyeon, tundukan kepalamu.” bisik Tiffany. Taeyeon yang tersadar segera meniru apa yang dilakukan wanita disampingnya.

“Maafkan kami.” ucap Taeyeon.

“Ah gwaenchanha, Steph, Taeyeon. Duduklah.” Itu suara Daddy Tiffany.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Umma Taeyeon penasaran.

“Kami bertemu saat mobilku mogok dijalan, Miss Kim.” jawab Tiffany sopan.

“Ah baguslah kalau begitu. Kita jadi mudah untuk menjodohkan kalian.” ujar Mr. Kim

Taeyeon mendelik. Dia tidak paham dengan situasi ini. Pertama, dia bertemu dengan Tiffany dijalan saat dirinya tengah bergegas. Kedua, fakta bahwa wanita itu sebenarnya diundang Appanya. Ketiga, mereka dijodohkan?

“Bagaimana menurutmu, Steph?” tanya Daddy Hwang.

Tiffany tersenyum, membuat matanya melengkung seperti bulan sabit. Sangat cantik. Daddy Hwang menganggap itu adalah jawaban ya. Meskipun dari Tiffany sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Sebaliknya, Taeyeon hanya terduduk pasrah di kursinya. Dan Taeyeon berpikir, kisahnya mungkin akan bermula dari sini. Kisah yang ia tak tahu bagaimana endingnya. Tentu bersama gadis disampingnya ini, Tiffany Hwang.

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

First story series. Komen kalo yang penasaran. Kalo yang ngga, yaudah hidupmu ini. Pai pai~

See ya next chap~

Sorry then…

Title : Sorry then…

Main cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : GXG

.

.

.

 

 

 

Bulan tak terlihat meskipun ini malam hari. Awan hitam diatas yang menghalanginya. Taeyeon berdiri memandang lagit dibalik kaca jendela kamarnya. Hari ini akan hujan. Ia tahu itu dari berita cuaca di televisi, juga awan hitam di langit sana yang nampak jelas. Udara makin dingin, namun ia tak mengindahkannya meskipun pakaian yang ia kenakan lumayan minim. Kaos tanpa lengan dan celana pendek. Taeyeon menghela nafas pelan. Ia kemudian mendengar ponselnya yang berbunyi. Diambilnya ponsel miliknya yang ada diranjang dan membukanya.

Dari Tiffany, kekasihnya.

Maaf baru bisa membalas pesanmu. Kami sedang sarapan. Dan ya, aku baik-baik saja. Ini sudah malam disana. Gnight, TaeTae.

Itu isi pesan yang dikirimkan kekasihnya. Taeyeon memejamkan matanya dan mendesah. Sudah lebih dari tiga hari ini kekasihnya berada di Los Angeles, Amerika Serikat untuk berlibur bersama teman-temannya di klub menari. Dan selama hari itu pula Tiffany hanya mengirimkan pesan satu kali dalam sehari. Bahkan Taeyeon pernah mengirimkan banyak pesan untuknya dan satupun tidak terbalas. Ia tak habis pikir akan itu. Tiffany dan teman-temannya hanya berlibur. Catat, berlibur! Apakah sesibuk itu sampai pesannya diabaikan? Taeyeon melempar ponselnya ke sembarang arah. Membuat baterai dan casing nya terlepas. Ia berteriak frustasi dan melempar tubuhnya ke ranjang.

“Damn you, Tiffany!” rutuk Taeyeon.

 

***

 

Yuri menatap gadis pendek didepannya dengan heran. Sama halnya dengan Yoona, yang ada disamping gadis tanned itu. Mereka beradu pandang sebelum kembali menatap Taeyeon. Yang dilihati dengan santai tak mempedulikan tatapan temannya itu.

“Sejak kapan kau jadi makan banyak seperti ini, Unnie?” tanya Yoona. Tiba-tiba nafsu makan gadis cantik itu yang diluar batas menghilang entah kemana. Ia tak menyentuh makanannya sama sekali.

“Yoong benar. Apa ada hal yang mengganggumu, selain-” timpal Yuri.

“Kalian diamlah. Makan makanan yang ada di depan kalian sebelum aku yang memakannya” balas Taeyeon.

Mereka tadi memesan dua box besar fried chicken. Dan sudah hampir satu box lebih Taeyeon yang memakannya. Yoona mengambil satu potong ayam dan menyerahkannya di wadah milik Taeyeon. Begitu juga dengan Yuri. Mereka berdua kini hanya mengambil potongan ayam mereka untuk diberikan kepada Taeyeon.

“Yah Taeyeon! Kenapa nomormu tak aktif?” Seseorang tiba-tiba masuk kedalam apartement milik Taeyeon. Ketiga manusia itu serempak menolehkan kepalanya ke sumber suara. Disana ada gadis jangkung berambut pendek. Ia juga salah satu sahabat mereka.

“Heol” gumam Sooyoung saat melihat Taeyeon.

“Oh, ponselku ada dikamar. Masih belum kupasang setelah melemparnya kemarin malam” ujar Taeyeon santai.

Sooyoung kemudian merebut paksa ayam yang ada di genggaman Taeyeon. Gadis pendek itu menatap Sooyoung tajam. “Kembalikan ayamku!”

Saat Taeyeon akan mengambil potongan ayam itu dari sahabatnya, Sooyoung menjauhkannya. Taeyeon mengerang. Ia membiarkannya dan meraih satu potong ayam lagi didepannya. Dan dengan cepat, Sooyoung mengambilnya lagi dari tangan Taeyeon.

“Apa yang kau lakukan, Choi Sooyoung?!” geram Taeyeon.

“Berhenti memakannya! Aku tak mau mendengar rengekanmu karena kekenyangan! Dan juga jangan lampiaskan kemarahanmu pada ayam-ayam tak berdosa ini” ujar Sooyoung membuat ketiga sahabatnya melongo.

Taeyeon lalu berdiri dari duduknya. “Terserah!” ucapnya dan pergi ke lantai atas, tepatnya kamarnya.

Sooyoung menghela nafas. Namun tak berselang lama wajahnya tersenyum bahagia. “Ayam” gumamnya sambil menjilat bibirnya sendiri. Yuri dan Yoona memutar bola matanya malas.

Selang beberapa menit, suara heels yang beradu dengan lantai terdengar nyaring. Yoona yang pertama menolehkan kepalanya pada seseorang yang baru saja datang.

“Uh Unnie, kau sudah pulang?” tanya Yoona.

Tiffany mengerutkan alisnya melihat ketiga manusia aneh yang merangkap menjadi sahabatnya disini. “Ne. Dimana Taeyeon?” tanya Tiffany. Ketiga sahabatnya serempak menunjuk lantai atas, dimana kamar Taeyeon berada. Tiffany mengucapkan terimakasih pada sahabatnya untuk kemudian menyusul Taeyeon di kamarnya.

Tiffany membuka pintu tanpa mengetuk. Ia melihat Taeyeon disana tengah memainkan IPadnya. Gadis yang lebih muda tersenyum girang lalu berlari ke arah Taeyeon dan memeluknya.

“TaeTae!”

Taeyeon menolehkan wajahnya dengan tatapan datar. Tiffany mengerutkan keningnya. Setelah itu, Taeyeon kembali lagi fokus terhadap IPadnya, mengabaikan kekasihnya sendiri.

“TaeTae, what’s wrong?”

Taeyeon diam.

“Tae?”

Tetap diam.

“KIM TAEYEON!”

“Pergilah” ucap Taeyeon pelan. Tiffany melebarkan matanya mendengar ucapan Taeyeon. “What? Kau menyuruhku pergi? Taeyeon, aku baru sampai!”

Taeyeon mengacuhkan Tiffany. Ia melepas genggaman Tiffany di lengannya dan menggeser duduknya menjauh dari kekasihnya. Tiffany membuka mulutnya lebar-lebar.

“Kim Taeyeon! Jangan membuatku marah! Aku baru sampai, Tae! Aku lelah. Jangan kekanakan seperti ini!” murka Tiffany.

Taeyeon melemparkan IPadnya. Ia menatap tajam Tiffany. Gadis pendek itu sudah tak tahan lagi. Ia marah, ia kesal, ia kecewa.

“Siapa yang berhak marah disini?” tanyanya tajam.

“Apa maksudmu?” Tiffany menjawabnya dengan balik bertanya.

“Oh shit Tiffany Hwang! Jangan berpura-pura bodoh! Kau selalu mengabaikan pesanku, sedang kau sendiri berjanji untuk megabariku kapanpun kau berada!”

“Hanya itu? Hanya itu kau marah seperti ini? Kau benar-benar kekanakan, Kim”

“Hanya itu kau bilang? Fany-ah dengar, kau hanya berlibur disana! Kau tak melakukan sesuatu hal yang penting! Bagaimana bisa kau mengabaikan semua pesanku?! Kau bilang aku kekanakan? Ya! Aku memang kekanakan! Aku kekanakan karena begitu membutuhkan kekasihnya yang sedang liburan di LA karena di DO dari kampus!” teriak Taeyeon mengeluarkan segala perasaannya pada gadis didepannya.

Tiffany membulatkan matanya. “K-Kau di DO? A-Apa maksudmu?”

Taeyeon memejamkan matanya. Matanya memerah menahan tangis. Ia menghela nafasnya kasar. “Keluar. Aku ingin sendiri”

“Taeyeon-ah, kita belum se-”

“KUBILANG KELUAR!”

Tiffany menghela nafasnya. Ia kemudian keluar dari kamarnya dan Taeyeon. Gadis itu harus menanyakan hal ini pada ketiga sahabatnya. Ya, dia harus. Saat menuruni tangga, Tiffany melihat ketiga temannya yang hendak pergi.

“Kalian mau kemana?” tanya Tiffany. Ia berjalan cepat ke arah sahabatnya berdiri.

“Uhm pulang? Kami pikir kalian membutuhkan privasi” jawab Yuri.

Tiffany menggeleng. “Duduklah kembali. Aku ingin bertanya sesuatu pada kalian”

Ketiga sahabatnya saling pandang. Mereka mengangguk dan kembali duduk di tempat semula.

“Apa benar Taeyeon di DO?” tanya Tiffany tanpa basa-basi.

Ketiga sahabatnya menghela nafas dan mengangguk pelan. Tiffany tak percaya ini.

“B-Bagaimana bisa? T-Taeyeon gadis yang pintar”

Mereka mengangguk mengiyakan. “Taeng Unnie di DO karena dituduh melakukan hal yang tidak senonoh pada Mrs. Lee”

“APA?!” Mata Tiffany memanas. Satu kali kedipan, jatuh sudah airmata milik gadis itu.

“Taeyeon sebenarnya tak melakukan hal itu. Kau tahu sendiri Mrs. Lee begitu tergila-gila dengan Taeyeon. Ia melakukan berbagai cara untuk mendapatkan bocah itu. Dan hasilnya sama, Taeyeon tetap menolaknya. Hingga kejadian itu-” Sooyoung tak melanjutkan lagi ceritanya. Ia memejamkan mata berharap menghalau airmata yang siap turun. Yuri merangkul pundak Sooyoung dan mengusapnya. Ia menyambung cerita Sooyoung yang terpotong.

“Taeyeon dipaksa oleh Mrs. Lee untuk melakukan hal itu. Dia berkali-kali menolak dan melepaskan diri dari Mrs. Lee. Mungkin Taeyeon sedang tak beruntung, salah satu dosen melihat mereka. Dan Mrs. Lee dengan cepat mengubah keadaan. Ia bilang bahwa Taeyeon melakukan hal cabul padanya. Tentu saja Taeyeon membela diri. Ia mengatakan hal sebaliknya, namun kau tahu sendiri Mrs. Lee adalah dosen kesayangan disana. Seberapapun Taeyeon membela diri, ia tetap saja kalah. Dan keputusan final. Taeyeon di DO”

Tiffany menutup mulutnya tak percaya. Air mata gadis itu sudah berkali-kali jatuh. Ia mulai terisak. Yoona yang ada di dekatnya memeluk Unnienya untuk menenangkan.

“Aku memang jahat hiks~ aku kekasih yang buruk untuknya hiks~” Tiffany terus menangis. Ia menyesal mengabaikan pesan Taeyeon disaat gadis itu benar-benar membutuhkan dirinya.

“Sudahlah Unnie. Semua sudah terjadi”

Tangis Tiffany berangsur mereda. Ia mengusap air matanya kasar. “Bagaimana aku menghadapi Taeyeon? Ia pasti marah besar denganku”

Yuri menghela nafas. “Ini akan sulit”

 

***

 

Seminggu telah berlalu. Seminggu yang begitu menyiksa bagi Tiffany. Bagaimana tidak? Taeyeon selalu mengabaikannya. Ia hanya berbicara ‘ya’ atau ‘tidak’ saja padanya. Kalau tidak hanya menganggukan kepala dan menggelengkan kepala. Tiffany begitu frustasi akan itu. Ia sungguh merindukan suara Taeyeon, ia merindukan tawa ahjumma nya, ia merindukan pelukannya, ia merindukan kecupan hangat nya, ia merindukan semua yang ada di diri Kim Taeyeon, ia sungguh-sungguh merindukan Kim Taeyeonnya.

Tiffany yang begitu tersiksa akan kerinduannya pada kekasihnya kini mulai menangis. Ia menangis di bawah meja pantry dengan berjongkok dan bersandar. Tak lupa ia benamkan wajahnya pada lututnya.

Taeyeon yang ingin mengambil minum menaikan alisnya mendengar suara tangisan. Ia berjalan ke sumber suara dan menemukan kekasihnya menangis disana. Gadis itu membelalakan matanya dan menghampiri Tiffany.

“Hei hei, kenapa kau menangis?”

Tiffany mendongak. Ia melihat Taeyeonnya, dan hal itu malah semakin membuatnya menangis dengan keras. Taeyeon panik. Ia sangat benci melihat orang yang dicintainya menangis. Ia lalu memeluk Tiffany. Tiffany tak menyia-nyiakannya. Ia memeluk Taeyeon sangat erat, menumpahkan semua air matanya di dada Taeyeon.

“N-Nan j-jeongmal hiks~ mianhae. Ak- Aku benar-benar tak tahu k-kau sangat hiks~ membutuhkanku waktu itu hiks~”

Taeyeon menghela nafasnya. “Sudahlah lupakan. Yang penting kau jangan mengulanginya lagi”

Tiffany dengan cepat mendongakan kepalanya dan mengangguk cepat. “Yaksok!”

Taeyeon terkekeh. Ia lalu mencium pipi Tiffany gemas. “Berhentilah menangis” ucapnya sembari menghapus airmata Tiffany. Ia lalu mengecup kedua mata Tiffany.

“K-Kau memaafkanku?” tanya Tiffany dengan suara bergetar. Itu lucu menurut Taeyeon. Gadis pendek itu terkekeh dan mengangguk.

“Sebenarnya aku ingin menambah masa hukumanmu menjadi seminggu lagi. Tapi karena aku butuh asupan, makanya aku memaafkanmu lebih cepat” kata Taeyeon dengan mengedipkan matanya. Tiffany mencubit perut Taeyeon. Ia memalingkan wajahnya yang memerah.

“Byuntae” gumam Tiffany.

“Bilang saja kau juga menginginkannya, baby” goda Taeyeon. Tiffany menutup mukanya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Taeyeon tertawa ahjumma. Dalam hati Tiffany merasa senang dapat mendengar tawa gadisnya lagi.

Detik kemudian Taeyeon berubah serius. Ia mengalihkan tangan Tiffany yang menutupi wajahnya dengan pelan. Gadis pendek itu meraih dagu Tiffany dan mendekatkan wajahnya. Tak butuh lama untuk keduanya menyatukan bibir mereka berdua. Taeyeon hanya menempelkannya saja. Setelah dirasa cukup, gadis itu bergerak melumat bibir Tiffany dengan lembut. Tiffany membalasnya. Tentu saja, ia sangat sangat merindukan bibir milik Taeyeon. Tangan Tiffany ia kalungkan ke leher milik Taeyeon. Ia menarik kepala Taeyeon agar lebih dekat dengannya. Taeyeon menggigit kecil bibir bawah Tiffany. Hal itu membuat Tiffany membuka mulutnya. Langsung saja lidah Taeyeon memasuki area hak miliknya. Mereka berperang lidah satu sama lain.

“Enghh, Tae” ucap Tiffany disela-sela ciumannya.

“Apa?” balas Taeyeon, kali ini ia mencium rahang Tiffany dan menurunkan ciumannya menuju lehernya.

“Uhh… k-kuliahmu- nghh~”

“Aku cerdas. Banyak univ yang siap menampungku” jawabnya santai masih bermain dengan leher Tiffany. Tangannya pun kini bergerak aktif. Ia meraba punggung halus Tiffany dari dalam kaosnya.

“T-Tapi-”

“Diamlah. Biarkan aku menikmati ini dulu”

Tiffany mengangguk pasrah. Ia membiarkan tubuhnya dinikmati kekasihnya. Ia akan melayani Taeyeon untuk menebus kesalahannya beberapa waktu yang lalu. Dan hari itu desahan-desahan panas menggema disekitar pantry rumah milik TaeNy.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

Holaa, kalo ada yg pernah baca fic ini, yep- dulu pernah di post di wp royalfic27 yang udah di remove sama authornya sendiri yg gak lain adalah gue sendiri. Haha, jangan tanya alesan gue nutup wp itu dan beralih bikin wp baru. To be honest, gue masih kena writers block, apalagi cerita disana yg bener-bener gak minat gue sentuh. Bukannya gue gak bertanggungjawab, tapi… kalian tau sendiri lah kalo ada di posisi gue. Dan lagipula itu wp sering error makanya gue mending bikin baru. Ga pada marah apa kecewa kan reader gue disana?

Oke sekian cuap-cuap gw disini. Gue usahain update secepet yg gue bisa. Masalah PWTT, gue ga janji diterusin. Kalo gw udah sembuh dari wb tentang cerita itu, gue bakal repost disini.

Sekian.. luv ya~ and hope you guys like my new wp wkwk