Sweet Love (Chapter 1)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Chapter 1

Taeyeon memijit pelipisnya pelan. Menjadi seorang direktur menuntutnya untuk bekerja lebih keras. Baru saja dia selesai membaca laporan keuangan bulan ini yang menurun lumayan drastis. Agaknya acara anniversary perusahaan minggu lalu terlalu berlebihan. Sampai-sampai menggunakan dana yang tidak wajar. Itu memang bukan urusannya, tapi tetap saja yang akan terkena damprat oleh owner perusahaan tempat dia bekerja pasti dirinya. Taeyeon menghela nafas dan menyingkirkan laporan itu kesamping.

Lebih baik dia melanjutkan pekerjaannya. Saat Taeyeon akan menyalakan laptopnya, intercom disampingnya berbunyi. Dia menekan tombol untuk menjawab panggilan tersebut.

“Ada apa, Eunha-ssi?”

“Maaf mengganggu waktu anda. Nona Tiffany ingin bertemu, sajangnim.”

Tiffany? Untuk apa wanita itu kemari?

“Biarkan dia masuk.”

“Baik sajangnim.”

Tak sampai lima menit, wanita yang ingin menemuinya sampai di hadapannya. Dia mengenakan rok pink selutut dan blouse putih panjang. Tak lupa rambutnya yang digerai membuatnya semakin cantik. Taeyeon tak menyangkal itu. Ditangannya, dia memegang kotak makanan berukuran sedang. Dan Taeyeon menebak, kedatangan wanita itu kemari untuk memberikan bekal makan siang untuknya.

“Kau tidak bekerja, Fany-ah?” tanya Taeyeon seraya bangkit dari duduknya untuk mendekat ke arah Tiffany.

“Ani, aku habis dari butik untuk memilih gaun pernikahan kita.” jawab Tiffany.

“Kenapa kau tidak bilang padaku? Aku bisa mengantarmu.”

“Tak apa, lagipula belum ada yang cocok tadi. Ah iya, Umma menitipkan ini padamu. Dia bilang kau suka melewatkan jam makan siangmu.”

“Ck, wanita tua itu.. Arra, aku akan memakan ini. Kau sudah makan siang?”

“Sebenarnya belum. Tapi-”

“Kau lihat ini?” potong Taeyeon cepat. Tiffany mengerutkan keningnya saat wanita didepannya menunjuk bekal yang dibawanya tadi. Dia tak paham dengan maksud Taeyeon.

“Umma tak biasanya memberiku makanan sebanyak ini. Itu berarti, dia bermaksud memasakan ini untuk kita. Jadi, tak usah banyak bicara dan buka mulutmu. Aaa~” Taeyeon menyodorkan sepotong kaktugi pada Tiffany. Mau tak mau wanita itu membuka mulutnya dan mulai memakan potongan kaktugi tersebut.

Good girl. Aku akan menyuapimu, dan jangan protes.”

“Aku bisa sendiri, Taeyeon.” ucap Tiffany. Wanita yang lebih tua darinya menatap Tiffany tajam. Wanita keturunan Amerika itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah dan mematuhi perintah calon suaminya.

Taeyeon bergantian menyuapi dirinya sendiri dan juga calon isterinya tersebut. Sebenarnya Tiffany agak risih disuapi. Dia tak terbiasa untuk itu. Tapi melihat bagaimana Taeyeon dengan telaten menyuapinya, dia tak tega menolak.

“Selesai. Aku masih ada pekerjaan, Fany-ah. Dan tak bisa menemanimu lebih lama. Tapi aku bisa mengantarmu pulang sebelum melanjutkan pekerjaanku.”

“Gwaenchanha, Taeyeon. Aku bawa mobil sendiri.”

“Benar tak apa?”

“Ne, Taeyeon. Aku pergi dulu. Thanks untuk suapannya.” Tiffany tertawa pelan dengan kalimat terakhirnya. Begitu juga Taeyeon.

Sebelum Tiffany pergi dari hadapannya, Taeyeon menahan pergelangan tangan Tiffany, membuatnya menoleh ke arah Taeyeon yang menatapnya dalam.

“Fany-ah, kau yakin dengan ini semua? Masih ada waktu, kau bisa menggunakan itu untuk membatalkannya.” Tiffany melepas tangan Taeyeon di pergelangan tangannya dan menggenggamnya. Dia menunjukan senyum mautnya pada Taeyeon.

Why should I? You don’t wanna try it with me?

“Fany-ah, ini pernikahan. Bukan lagi sepasang kekasih yang bisa putus kapan saja. Pertimbangkan lagi. Terlebih banyak pria dan wanita diluar sana yang lebih baik dan lebih pantas untukmu.”

“Taeyeon kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa aku harus mempertimbangkannya lagi?  Kau wanita yang baik, Taeyeon. So, why not?

No no no no, Fany-ah. Aku sama sekali bukan wanita yang baik. Kau belum mengenalku.”

“Kalau begitu, biarkan aku mengenalmu.”

“Fany-ah, kau tidak tahu.” Taeyeon menundukan kepalanya.

“Buat aku tahu, Taeyeon-ah.” Suara lembut Tiffany membuat Taeyeon mendongak dan menatapnya. Tiffany juga tak tahu kenapa dia melakukan ini. Di kamusnya bahkan kata perjodohan merupakan kata terlarang. Tak pernah terpikirkan olehnya akan menikah dengan orang yang baru dia kenal. Dan sekarang dia malah seperti senang dengan perjodohan ini. Tiffany sungguh tak tahu mengapa.

“Kau bersungguh-sungguh untuk itu? Kau benar-benar ingin bersamaku?”

“Tentu. Itu kemauan orangtua kita, bukan?”

“Terlepas dari orangtua, Tiffany.” Taeyeon menatapnya tajam.

“Uh-oh yeah t-tentu.”

“Apakah itu berarti…” Taeyeon mendekatkan wajahnya pada Tiffany. “…kau mulai menyukaiku?”

Tiffany menelan ludahnya. Dia tidak tahu, dia sama sekali tidak tahu. Dia hanya merasa, Taeyeon tak terlalu buruk untuknya. Lagipula, dia puteri sahabat Daddy nya. Mereka juga baik padanya. Menolak permintaan Daddy nya hanya akan menyakiti pria paruh baya itu. Dan Tiffany tak mau itu terjadi. Dia sangat menyayangi Daddy nya, karena beliau lah orangtua yang masih dia miliki.

Tiffany membuang wajahnya ke arah lain. Dia menghela nafasnya sebelum mengatakan, “Akan kucoba, Taeyeon-ah.”

***

Tiga minggu sebelum acara pernikahan dimulai, Taeyeon bersama Tiffany sibuk mengurusi persiapan pernikahan mereka. Meskipun sudah ada Wedding Organizer yang menanganinya, namun kedua manusia tersebut masih belum menemukan sesuatu yang cocok untuk pernikahan mereka. Alhasil, hampir seluruh persiapan mulai dari, dekor, kostum, tema wedding, dan lain-lain mereka berdua yang mengatur. Taeyeon bahkan sampai meminta cuti lebih awal hanya untuk itu. Dan Tiffany, gadis itu bisa bergerak bebas karena pekerjaan freelance nya yang tak mengikat. Dia seorang penulis buku nonfiksi.

“Ugh, aku lelah.” ucap Taeyeon seraya merebahkan tubuhnya ke sofa. Dia baru saja selesai mengatur konsep pernikahannya bersama WO.

“Ambil ini.” Tiffany menyerahkan air mineral pada Taeyeon yang dibalas ucapan terimakasih dari wanita imut itu sebelum menenggaknya hingga setengah. Mereka berdua memang serumah setelah pertemuan pertama mereka di restoran. Appa Kim yang mengusulkannya. Dia pikir itu akan menambah kedekatan mereka sebelum menikah.

“Kau bekerja keras seharian ini, TaeTae. Aku tak menyangka kau sesemangat ini dengan pernikahan kita.” Tiffany terkekeh pelan.

“Ini pernikahanku yang pertama, Tiffany. Dan juga yang terakhir. Aku berharap itu.” Kalimat terakhir Taeyeon ucapkan dengan pelan, namun masih bisa didengar Tiffany. Wanita blasteran itu hanya tersenyum mendengarnya. Dia menatap Taeyeon dengan berbinar.

“Ceritakan tentang dirimu, Taeyeon-ah!”

Taeyeon menaikkan satu alisnya. “Aku? Tak ada yang menarik dari hidupku, Tiffany. Aku hanya wanita dua puluh enam tahun yang bekerja sebagai direktur di Scarlet Enterprise. Hidupku monoton, bekerja, rumah, tidur, lalu bekerja lagi.”

“Kau bisa memulainya dengan kehidupan asmaramu, atau apapun itu.”

Taeyeon terdiam mendengar ucapan calon isterinya. Kehidupan asmara ya? Taeyeon bahkan lupa kapan terakhir kali wanita itu berhubungan dengan seseorang. Seingatnya, dia hanya pernah menyukai satu wanita di masalalu nya. Satu kali selama hidupnya dia memiliki hubungan dengan wanita itu. Sebelum kejadian yang dia kubur dalam-dalam itu terjadi. Taeyeon menggelengkan kepalanya cepat.

“Aku sangat lelah. Aku ingin tidur.” Taeyeon bangkit dari duduknya dan meninggalkan Tiffany begitu saja. Wanita berambut coklat itu hanya bisa menatap punggung Taeyeon dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Apa dia melakukan kesalahan? Tiffany hanya ingin mengenal Taeyeon sedikit lebih baik. Bukankah mereka sebentar lagi akan menjadi sepasang suami-isteri. Sudah seharusnya mereka terbuka dengan diri mereka masing-masing, bukan?

Tiffany terlonjak dari lamunannya saat ponselnya berbunyi. Dia melihat nama yang terpampang di ponselnya dan segera menjawabnya.

“Yeoboseyo, Umma. Ya, Taeyeon ada dikamarnya. Kami baik-baik saja. Baik, Umma, aku menunggu kedatangan kalian. Ne, hati-hati dijalan.” Tiffany menghela nafasnya panjang. Dia menaiki tangga dimana kamar Taeyeon ada diatasnya. Kamar yang sebentar lagi menjadi milik mereka berdua. Dia mulai mengetuknya pelan.

“Taeyeon-ah, Umma Appa dan Daddy akan kemari tak lama lagi. Kau bisa keluar?”

Butuh waktu lima menit untuk sang penghuni kamar membukanya. Tiffany melihat mata Taeyeon yang bengkak. Dia bermaksud untuk menanyakan itu pada Taeyeon sebelum benda lembut dan kenyal menempel di pipinya. Tiffany diam membeku di tempat. Apa Taeyeon baru saja mengecup pipinya? Meskipun hanya di pipi, Tiffany bisa merasakan desiran aneh di permukaan kulitnya. Kinerja otaknya pun seakan melemah.

“Ayo turun. Mereka sebentar lagi pasti akan datang.”

Tiffany tak menolak saat bahunya dirangkul Taeyeon dan menuntunnya untuk turun dari tangga. Dia masih merasa shock akan kejadian tadi. Baru saja mereka mendudukan pantat mereka di sofa, bel rumah berbunyi. Taeyeon dengan cekatan bangkit dan membukakan pintu untuk orangtuanya dan calon mertuanya.

“Mana Tiffany?” tanya Ummanya.

“Ow, menyakitkan sekali orang yang pertama kau tanyakan bukan anakmu sendiri, Umma.” Taeyeon berpura-pura sedih mendengar ucapan Ummanya.

“Tiffany juga anakku.” balas Ummanya tak mau kalah. Taeyeon mengerucutkan bibirnya, kesal akan jawaban Ummanya.

“Sudahlah, Taeyeon. Berhenti bersikap kekanakan. Ingat umurmu.” Kini Appa Kim yang menengahi ibu dan anak tersebut. Daddy Hwang terkekeh pelan melihat interaksi ketiga manusia di hadapannya.

“Arrasseo, kalian ingin bertemu calon isteriku, bukan? Mari ikuti aku.”

Taeyeon berjalan didepan, diikuti kedua orangtuanya dan Daddy Hwang dibelakang. Setelah tiba di ruang keluarga, mereka melihat Tiffany yang segera bangkit dari duduknya dan langsung menyalami kedua calon mertuanya, juga Daddy nya.

“Duduklah, kami kemari ingin menyampaikan sesuatu untuk kalian.” ucap Appa Kim.

“Memangnya ada hal apa, Umma?”

Ummanya menggeleng dan tersenyum. Dia membiarkan kedua pria di sampingnya yang akan mengatakannya.

“Pernikahan kalian dipercepat menjadi seminggu lagi.” terang Daddy Hwang.

“APA?” koor Taeyeon dan Tiffany.

Ketiga orangtua disana hanya mengangkat bahunya acuh.

“Apa itu tidak terlalu cepat, Dad?” tanya Taeyeon.

“Taeyeon benar, Daddy. Kami masih perlu mengenal diri kami masing-masing.” timpal Tiffany.

“Kalian bisa melakukan itu setelah kalian menikah. Dipercepat sedikit tak ada bedanya, kan? Kalian juga akan tetap menikah.” ujar Daddy Hwang.

“Daddy mu benar, Tiffany. Lagipula, kalian pasangan yang cocok. Appa yakin kalian mulai bisa mencintai satu sama lain.” tambah Appa Kim.

“Arrasseo, akan kami lakukan.”

Taeyeon tertunduk lemah. Bukannya dia membenci pernikahan ini. Tapi dia merasa belum siap menerima Tiffany. Meskipun wanita itu sangat cantik dan terlihat baik, namun Taeyeon masih takut untuk mencoba membuka hatinya lagi. Dia takut dia mengacaukan semuanya. Seperti kejadian beberapa tahun silam. Dia tak mau, jika dia benar-benar mulai mencintai Tiffany dia akan mengacaukan semuanya. Dia takut Tiffany pergi meninggalkannya. Dia benar-benar takut. Ditambah masa lalunya yang tak mengenakkan. Mungkin jika Tiffany mengetahuinya, dia akan berpikir dua kali untuk menerima pernikahan mereka. Haruskah Taeyeon jujur padanya sebelum hari mereka disahkan terjadi?

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Here chapter 1 for you~ ahaha

Gaje banget kan. Makanya jangan baca kalo kalian bilang ini gaje wkwk. Yang mau komen silahkan silahkan saya terima dengan senang hati. Yang gak komen makasih loh udah sempet baca cerita gaje gw.

Pai pai~ see ya next chap ^^

Advertisements

64 thoughts on “Sweet Love (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s