Back To Love (Oneshoot)

Title : Back To Love

Main Cast : TaeNySic

Genre : GXG

Length : Oneshoot

Author : N

.

.

Warning! 

There will be some NC scene on this story. I warn you guys~ 

Enjoy read~

Satu tangan Taeyeon yang bebas menggenggam tangan Tiffany di pangkuannya. Gadis itu berusaha menyalurkan kekuatan pada gadis yang lebih muda. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju cafe biasa tempat mereka mengadakan pertemuan dengan member grup. Namun kali ini berbeda, mereka berdua bermaksud menemui ‘teman lama’ mereka.

“Gwaenchanha?” tanya Taeyeon gentle. Tiffany tersenyum dan menganggukan kepalanya. Diangkat tangan Tiffany dalam genggamannya dan diciumnya lembut. Perlakuan manis Taeyeon itulah yang membuat gadis disampingnya semakin mencintainya.

“Kita sampai.” ucapan Taeyeon berhasil menyadarkan Tiffany dari lamunannya tentang gadis imut kekasihnya itu. Taeyeon membuka pintu mobil dan keluar terlebih dahulu. Setelah itu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Tak lupa memakaian masker untuk Tiffany seperti yang dilakukan kepada dirinya sendiri.

Taeyeon menggandeng tangan Tiffany erat. Mereka berdua pun mulai memasuki cafe yang cukup lengang. Cafe yang bisa dipastikan tak akan ada wartawan atau stalker. Mereka berjalan ke arah ruang VVIP yang sudah dipesan oleh ‘teman lama’ mereka. Tak sulit mencari seseorang yang mengundang mereka. Dengan model rambut curly brownie nya dan dress biru selutut ber-merk brand miliknya. Siapa lagi jika bukan Jessica Jung? Atau bolehkah dipanggil Eoleum gongju seperti panggilan dia dulu?

Taeyeon menyunggingkan senyum tipisnya pada Tiffany dan mengangguk. Setelah itu, dia menarik tangan Tiffany pelan dan duduk didepan Jessica.

“Kalian membuatku menunggu hampir lima belas menit.” ucapnya dengan wajah dingin sembari mengaduk-aduk strawberry-float nya.

“Kau ada perlu apa dengan kami, Jessie?” tanya Tiffany berusaha bersikap ramah. Taeyeon tahu, hati Tiffany berbanding terbalik dengan senyuman yang ia tunjukan saat ini.

“Kenapa kalian terlambat?” tanya Jessica mengabaikan pertanyaan Tiffany barusan. Gadis yang biasa bersikap ceria itu kini mengepalkan tangannya erat, namun masih terpampang wajah ramahnya dihadapan ‘teman lama’ nya itu.

“Tiff-…”

“Tiffany baru pulang dari LA dan masih merasa lelah? Itu maksudmu?” Belum sempat Taeyeon membuka mulutnya, Jessica sudah memotongnya.

“Ya, dan bukan itu saja. Aku juga sibuk menyiapkan konserku.” Kali ini Taeyeon harus menyiapkan kesabaran ekstra nya menghadapi Jessica, atau bolehkah ia memanggilnya mantan kekasihnya?

“Okay. Aku mengerti.” Jessica menganggukan kepalanya, masih tetap tak berniat melihat kedua orang di depannya.

“Katakan apa perlumu dan kami bisa pergi. Tiffany butuh istirahat.” Taeyeon berkata dengan tegas. Bukan dia tak suka bertemu Jessica. Apa kata yang pantas untuk menggambarkannya? Risih? Tak nyaman? Entahlah, ini sudah hampir tiga tahun. Hubungan mereka sebelumnya pun bisa dikatakan tidak baik. Apalagi mereka sama sekali tak berkomunikasi setelah kejadian 30 september 2014 lalu.

“Santailah Taeyeon-ssi. Tiffany-ssi apa kau keberatan menemuiku? Kau masih lelah dan ingin pulang?” Mata Jessica menatap mata Tiffany dalam, seperti… mengancam?

Tiffany tersenyum, berbeda dengan kedua tangannya yang terkepal di pangkuannya. “A- Anio, Jessie. Aku baik-baik saja.”

“Nah, Tiffany-ssi saja tak keberatan. Bagaimana denganmu Taeyeon-ssi? Sepertinya kau tak sama dengan Tiffany-ssi.”

“Hentikan, Sica-ah! Katakan apa maumu sekarang?!” Kesabaran Taeyeon memuncak. Tiffany meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya erat, berusaha meredam emosi Taeyeon.

Jessica berdecak pelan. “Apa itu caramu memperlakukan teman lamamu, Taeyeon-ssi? Benar-benar tidak sopan.”

Taeyeon memejamkan matanya, dia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar. Gadis itu lebih memilih diam. Lama mereka dalam mode diam, hingga seorang waitress mendekati mereka bertiga dan menaruh pesanan.

“Makanlah, aku sudah memesannya tadi. Kalian masih menyukai ini, bukan?” Jessica menaikan satu alisnya. Taeyeon menghela nafasnya namun tetap meraih makanan yang dipesan Jessica. Sama halnya dengan Tiffany. Gadis pemilik senyuman maut itu berubah menjadi pendiam setelah menerima kabar bahwa Jessica mengundang mereka berdua. Padahal saat sebelum pulang, Tiffany menghubungi Taeyeon menggunakan video call, gadis itu begitu bersemangat menceritakan harinya di LA.

“Bagaimana dengan persiapan konser solo-mu, Taeyeon-ssi?” tanya Jessica.

“Cukup, Sica! Berhenti berbicara formal. Kita bukan orang asing, oke?”

“Menurutmu seperti itu? Tiga tahun tanpa komunikasi kau sebut tak asing? Kau melukai hatiku, Taeyeon-ah.” Mata Jessica mulai memanas.

“S- Sica-ya~” Taeyeon menggigit bibir bawahnya.

“Kau benar-benar jahat, Taenggu. Kukira setelah aku keluar dari grup semua akan baik-baik saja. Aku sudah meyakinkan diriku, tapi…” Jessica menyeka sudut matanya yang berair. “….tapi aku salah. Aku masih saja berlarut memikirkan kau, aku, kita. Taeyeon, ini benar-benar menyakitkan. Melihat hubungan kita yang tak baik hingga saat ini hiks~”

“Aku sudah terbiasa dengan komen negatif dari orang-orang yang membenciku, tapi melihat kau yang sama seperti orang-orang itu sangat melukaiku. Sakit Taeyeon-ah sakit…”

“…aku sudah mengorbankan harga diriku untuk me-notice grup saat diwawancarai dan dianggap pengemis popularitas hanya demi kau Kim Taeyeon! Aku berharap kau sadar bahwa… hiks~”

“Kau kira aku sekuat itu? Bertahan menyukaimu hingga detik ini? Hingga kukorbankan grup dan dianggap bitchy oleh orang-orang?”

Taeyeon membuka matanya lebar-lebar mendengar pengakuan Jessica barusan. Gadis itu (masih) menyukainya?

“Itu salahmu sendiri, Jessi! Kau terlalu banyak menyakiti Taeyeon dengan berkencan dengan banyak idol lain!” Itu suara Tiffany. Jessica dan Taeyeon serempak menoleh ke arah Tiffany yang wajahnya memerah. Gadis itu juga tengah menahan tangisnya.

Jessica tertawa pelan. “Kau pikir apa alasanku melakukan itu? Karena kau, Tiffany! Aku tahu kau menyukai Taeyeon dari lama. Aku mengorbankan perasaanku sendiri demi kau, asal kau tahu!”

“A- Apa?”

“Orang-orang terdekatku mencelaku karena aku menyukai sesama jenisku, bahkan keluargaku. Kau masih ingat mengapa adikku sangat membencimu, Taeyeon-ah? Itu karena dia mengira kau yang membuatku menjadi penyuka sesama jenis. Sejak saat itu, aku sering berkencan dengan banyak idol agar kau membenciku, lalu Tiffany bisa menggantikan posisiku, dan ya itu berhasil. Orang-orang juga sudah tak lagi mencelaku.”

“Dan aku sadar aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar. Aku merelakan grup, dan aku merelakanmu. Kurang bodoh apa aku?” Jessica menyeka sudut airmatanya dan menghela nafas.

“Kurasa aku terlalu banyak bercerita. Aku harus pergi. Nikmati waktu kalian. Permisi.” Jessica hendak berdiri, namun tangan Taeyeon mencegahnya.

“Duduk.” titahnya dingin tanpa menatap wajah Jessica. Tanpa banyak bicara dan protes, gadis itu duduk kembali.

“Bagaimana dengan Tyler, brand mu, dan apa hubungannya dengan keluarnya kau dari grup?” tanya Taeyeon tanpa ekspresi.

“Kukira kau sudah mendengarnya dari agensi?”

“Aku ingin penjelasan dari mulutmu langsung.”

“Bagaimana kalau aku tak ingin menjawabnya?” Jessica menaikan satu alisnya. Taeyeon menunjukan ekspresi kesal, Jessica malah membalasnya dengan terkekeh.

“Kurasa penjelasanku tadi cukup untuk mewakili semuanya. Dan soal Tyler oppa, dia orang baik yang menawariku berbisnis. Kau tahu sendiri aku menyukai bisnis. Kesempatan tidak datang dua kali bukan? Sebagian dari kalian tak menyukai oppa dan kurasa itu salah satu alasan terbaik agar aku bisa keluar dari grup? Dan bisa melupakanmu.” Kalimat terakhir Jessica ucapkan dengan pelan, namun masih bisa didengar Taeyeon.

“Kau masih menyukai- ani- mencintaiku?”

“Kau tahu sendiri jawabannya, Taenggu.”

Taeyeon mengangguk. Dia kemudian meraih ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

“Yeoboseyo. Hyo, aku butuh bantuanmu. Tolong kau antar Tiffany pulang. Aku ada urusan yang harus dilakukan. Kami sedang di cafe biasa”

“……..”

“Ne. Gomawo.”

Taeyeon mematikan sambungan telfonnya dan memasukan ponselnya ke saku. Dia menoleh ke arah Tiffany dan menggenggam tangannya.

“Percaya padaku, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, arra?” Tiffany mengangguk patuh, meski hatinya kini merasa takut jikalau Taeyeon berpaling darinya. Apalagi Jessica merupakan orang yang sangat Taeyeon sayangi sebelum dia. Ditambah fakta jika Jessica masih menyukai Taeyeon.

“Bagus.” Taeyeon mengecup bibir Tiffany dengan sedikit melumatnya. Jessica memalingkan wajahnya dari mereka berdua. Hatinya sakit, namun apa yang harus diperbuat? Taeyeon dan Tiffany adalah sepasang kekasih. Wajar saja jika mereka berciuman.

***

Tiffany membuka matanya yang masih terasa berat. Gadis itu merasakan sebuah tangan yang melingkari pinggangnya. Dia mengerutkan keningnya dan membalikan tubuhnya ke samping.

“T- Taeyeon?” panggil Tiffany. Dia ingat semalam Hyoyeon yang mengantarnya pulang dan setelah itu dia tertidur sendirian di apartemennya. Kenapa ada Taeyeon disini? Dia kira Taeyeon bersama Jessica hingga pagi, atau mungkin siang?

Dalam hati dia merasa lega Taeyeon menepati janjinya untuk tidak akan meninggalkannya. Tiffany mengelus pipi halus Taeyeon dengan senyuman. Kekasihnya walau sedang tertidur tetap cantik dan tampan.

“Aku tahu aku sangat tampan, yeobo.” Tiffany terkejut dengan ucapan Taeyeon yang tiba-tiba. Pipinya memanas karena ketahuan menatap Taeyeon yang tertidur.

Taeyeon terkekeh dan membuka matanya. “Poppo.” Gadis yang lebih tua memajukan bibirnya pada Tiffany dan dibalas bibirnya yang ditarik oleh Tiffany menggunakan tangannya.

“Aw sakit!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya dan mengelus bibirnya yang tadi ditarik.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Tiffany tanpa menatapnya.

“Wae? Ini apartemenku juga, kau tahu.”

“Whatever.” Tiffany membalikan tubuhnya membelakangi Taeyeon.

“Hey, mana moaning kiss-ku?” tagih Taeyeon. Tiffany tertawa pelan dan membalikan tubuhnya lagi.

“Moaning? Yang benar morning, Taeyeon-ah. Hahaha.”

“Lah memang moaning artinya apa?”

Tiffany menaikan alisnya, sekadar berjaga-jaga sebelum menjawab. “Mengerang.”

“Dan kiss artinya apa?” tanya Taeyeon lagi.

“Cium.” jawab Tiffany seperti tahu maksud Taeyeon.

“Nah, maksudku mencium mu sampai mengerang, arra? Jadi mana moaning kiss ku?”

Tiffany menutupi wajahnya yang memerah. “Byuntae!”

Taeyeon berdecak. Dia lalu menatap Tiffany dengan smirk.

“Hyaaa, kena kau.” Taeyeon merangkak naik ke atas tubuh Tiffany dan membuka tangan Tiffany yang menutupi wajahnya.

“Kyaaaa byuntae~” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon namun gagal. Tenaga Taeyeon terlalu kuat.

“Ck bilang saja kau juga mau moaning kiss.” Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Aigoo dasar gadis nakal, jangan mengerucutkan bibirmu.”

“Wae?”

“Karena aku akan ini…” Taeyeon mengecup bibir manis Tiffany. Mendiamkannya lama hingga beralih melumatnya, menggigit, dan menghisapnya.

“Eungh~” Tiffany membuka mulutnya, membiarkan lidah Taeyeon memasuki rongga mulutnya dan menjelajahinya. Sesekali mengajak lidahnya menari bersama. Taeyeon melumat bibir Tiffany kembali, kali ini lebih lama. Setelah mereka merasa kehabisan nafas, Taeyeon melepasnya. Namun beralih menjilat leher jenjang kekasihnya.

“Ahhh~ T- Tae~”

Taeyeon membuka kancing piyama Tiffany, masih dengan menjilat dan mengecup leher kekasihnya. Setelah kancing nya terbuka semua, Taeyeon melihat dua bukit kembar menyapanya, tanpa bra. Kebiasaan Tiffany jika tertidur tak memakai bra. Itu merupakan keuntungan Taeyeon, ia tak perlu repot-repot mencari pengait bra dan membukanya.

Tak butuh waktu lama untuknya menyerbu property nya. Bibirnya menghisap payudara kanan Tiffany sementara tangan kanannya meremas payudara kiri Tiffany.

“T- Taehh~ k- kau bilang hanya moaning kissh ahh~ cukuph~”

“No. I wanna sex with you, okay?”

“Argh~ tapi ini masih p- pagi. Aaaaah~” Taeyeon meremas payudaranya sangat keras.

Dia menurunkan celana Tiffany hingga menyisakan kain segitiga yang menutupi daerah privasinya. Taeyeon mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tangannya yang satu ia turunkan ke bawah untuk mengusap vagina Tiffany yang masih tertutup. Dia buka kain segitiga yang tersisa dengan perlahan lalu dia buang ke sembarang arah. Tiffany full naked sekarang.

“C- curang. K- kau aassh belum membuka pakaianmuhh~”

Taeyeon bangkit lalu mulai membuka pakaiannya dengan cepat dan menyusul Tiffany yang sudah naked. Tak mau membuang waktu, gadis itu menindih tubuh Tiffany kembali dan menghisap payudara kiri Tiffany dengan tangan kirinya meremas payudara kanan dan tangan kanannya mengelus vagina Tiffany.

“Argh~ shit~ cepat masukkanh~”

Taeyeon terkekeh. Dia memasukan kedua jarinya ke lubang vagina Tiffany dan jempolnya yang bermain di klitoris Tiffany.

“Ugh~ deeper Tae~”

Taeyeon memasukan jarinya lebih dalam hingga menyentuh titik G-Spot nya. Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi, dia mulai mengeluar-masukan jarinya di lubang Tiffany dengan tempo cepat.

“Aaah~ i’m cumh~ T- Tae~ Aaaaaaaaaah~”

Tiffany mengalami orgasmenya yang pertama. Taeyeon mengeluarkan jarinya dan mulai meminum jusnya. Menjilatnya hingga tak ada yang tersisa. Setelah itu dia kembali mencium Tiffany dan berbagi cairan cinta mereka. Tiffany berusaha menelan cairan cinta mereka yang cukup banyak dimulut Taeyeon sembari membalas ciuman panas Taeyeon.

“Kau begitu merindukanku huh, Kim Taeyeon?” ledek Tiffany melihat begitu bersemangatnya kekasihnya itu memakannya.

“Kau terlalu lama di LA, untung saja aku tak menyewa psk untuk melayaniku.”

Tiffany mendelik.

“Hehehe anio. Aku bercanda.”

“Semalam kau melakukan apa dengan Jessie?”

Taeyeon mengerutkan keningnya pura-pura berpikir. Tetapi tangannya masih bermain di payudara Tiffany.

“Menurutmu?”

“Aku bertanya padamu, bodoh!” Tiffany memukul tangan Taeyeon yang masih bermain di payudaranya.

“Tidak ada. Kita hanya meluruskan masalah kita. Hanya itu.”

“Kau yakin?” Tiffany memicingkan matanya membuat Taeyeon menelan ludahnya.

“Dan sedikit make out. Hehe.”

“Sudah kuduga.” Ekspresi Tiffany berubah masam.

“Kau marah?”

“Menurutmu?”

“Aku bertanya padamu, bodoh!”

“Ya! Kau berani memanggilku bodoh?”

“A- anio…” Taeyeon menelan ludahnya dengan susah payah melihat hellfany didepannya. Dia sudah bersiap menerima hukumannya, entah itu pukulan atau tendangan.

Namun dia tak merasakan apapun selain geli didaerah payudaranya. Taeyeon membuka matanya dan melihat Tiffany tengah menghisap dan meremas payudara kecilnya. Dia terkekeh pelan dan membiarkan kekasihnya yang sedang cemberut melakukan apa yang ingin dilakukannya.

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

Maapkeun bikin story abstrak kayak gini. Maapkeun juga NC an ditengah puasa. Gw saranin baca abis buka aja ye wkwk

Pai pai~ see u next chap~

Advertisements

22 thoughts on “Back To Love (Oneshoot)

  1. Yaallah maapkan hambamu yg berdosa ini . Bukan ngaji dan solat malah baca NC .astagfirulloh untung aj udh buka baru sy baca klo ngg batal deh.wkwkwkwk

    Tengkyun NCnya thor . Gerah bacanya .hahaha

    Like

  2. Akhirnyaaa biasa baca juga😂 legaa nya….😂Akhirnya vitamin harianku 15% terpenuhi😂😂…
    Btw thor. Endingnya gantung. Kaya hubungan kita(?) *dih

    Like

  3. Auhornya lg kumat nih ya,, bisanya godain kita baca2 siang2,, 😀 untung liat ada tulisan Nc. Tapi nih thor kurang greget,, coz km kayak keburu2 nulisnya mo pergi ke sica, hehe,,
    Tulisan kmrn gmn lanjutnya kah? Semangat,, 🙂

    Like

  4. Si atang ya ga sica ga phany di embat semua…

    Wkwkwkwkw gpp thor biar pada reader seger semua bacanya wkwkw XP

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s