Sweet Love (Chapter 10)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Taeyeon membuka matanya dengan menyipit. Dia menekan kepalanya yang terasa pusing. Tangannya ia edarkan ke samping, berharap isterinya masih disampingnya. Namun yang di dapatkannya hanya ranjang kosong. Tiffany pasti sudah bangun terlebih dahulu. Taeyeon mengerang. Dia menyandarkan tubuh polosnya di sandaran ranjang sebelum menutup matanya pelan. Dia bingung akan memberikan alasan apa pada Tiffany mengenai kejadian semalam. Taeyeon tidak mau membuat isterinya merasa sedih karena hal ini. Dia sedikit tahu bahwa ternyata orangtua Jessica, bahkan Yoona masih mengharapkan dirinya dan Jessica kembali bersama.

Saat masih memikirkan alasan untuk Tiffany, pintu kamarnya terbuka pelan. Dia melihat Tiffany dengan pakaian santainya. Wanita itu pasti sudah membersihkan dirinya. Taeyeon tersenyum kecil saat melihat beberapa tanda merah yang mulai membiru di sekitar leher isterinya. Hasil karyanya semalam. Tiffany mendekat ke arah Taeyeon dan mendudukan pantatnya di samping suaminya.

“Gwaenchanha? Kau terlihat pucat, TaeTae.” Tiffany meletakkan punggung tangannya di dahi Taeyeon. Wanita imut itu menggeleng. Dia meraih tangan Tiffany di dahinya dan mengecupnya. Disusul kecupan singkat di bibir isterinya.

“Nan gwaenchanha, sayang.”

Tiffany mendesah pelan. “Kalau begitu. Pergilah mandi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Mana sarapan wajibku?”

Tiffany memutar bola matanya. “Tak ada sarapan wajib. Kau sudah mendapatkannya semalam suntuk.”

Tiffany segera melarikan diri dari Taeyeon sebelum wanita itu menerkamnya kembali. Taeyeon berteriak, namun Tiffany mengacuhkannya dan tetap melangkah keluar. Taeyeon mengerucutkan bibirnya dan membuang selimutnya ke sembarang arah. Dia bangkit dan menghentakkan kakinya di lantai, persis seperti anak kecil yang tidak dituruti kemauannya. Dia akhirnya melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

 

Taeyeon menyeret kakinya malas kebawah, dimana isterinya berada. Dia masih kesal karena Tiffany tidak memberikannya morning kiss. Benar-benar tipikal suami kekanakkan. Tiffany yang melihatnya menghela nafasnya pelan. Dia mendekat ke arah Taeyeon dan langsung menarik wanita itu. Tiffany meraih wajah Taeyeon dan langsung melumat bibir suaminya dengan lumayan panas. Taeyeon yang melihatnya sedikit terkejut, namun detik kemudian, dia sudah melingkarkan tangannya di pinggang isterinya dan mulai membalas lumatan isterinya. Setelah keduanya hampir kehabisan oksigen, Tiffany yang berinisiatif melepas ciuman panas mereka. Keduanya terengah. Tiffany menjatuhkan kecupan singkat sebelum berbicara.

“Sudah, kan?”

Taeyeon menunjukkan cengiran lebarnya. Dia menggumamkan kata terimakasih sebelum memeluk isterinya kemudian menggandengnya ke ruang makan.

“Whoahh, ini makanan favoritku semua. Gomawo, Pany-ah.” Taeyeon menatap isterinya dengan berkaca-kaca sebelum menyantap sarapan mereka dengan semangat. Tak ada makanan yang lebih enak dari makanan buatan isterimu. Itu prinsip Taeyeon. Semua masakan Tiffany ia buat dengan cinta. Taeyeon menyukai itu.

Saat Taeyeon tengah asik menyantap sarapannya, Tiffany berdehem lalu mulai bertanya sesuatu pada suaminya.

“Me- Mengenai semalam…”

Taeyeon meletakan sumpit di meja cukup keras, membuat Tiffany menghentikan ucapannya. Tiffany melihat Taeyeon membawa kursinya dan menempatkannya di sampingnya lalu meraih kedua tangan Tiffany.

“Fany-ah, percaya padaku apapun yang terjadi. Meskipun langit runtuh, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun semua orang tidak berpihak pada cinta kita, aku berjanji tidak akan pernah melepasmu. Meskipun banyak yang lebih baik darimu, aku berjanji tidak akan pernah mencoba bermain di belakangmu. Itu janjiku, Fany-ah.”

Tiffany melihat raut kesungguhan di wajah Taeyeon. Itu yang membuat matanya memanas karena terharu. Dia mengangguk dan tersenyum manis. Setetes cairan bening mengalir di pipinya. Taeyeon menghapusnya sebelum memeluk isterinya erat. Tiffany terisak. Dia percaya pada ketulusan Taeyeon. Dia hanya merasa bahagia. Bahagia karena Taeyeon. Mengenai kejadian semalam biarlah tak diketahuinya. Tiffany percaya Taeyeon tak akan menyakitinya. Taeyeon sudah berjanji padanya. Tiffany merasakan kecupan di kepalanya disusul gumaman yang masih bisa di dengarnya.

“Mianhae, neol saranghae.”

***

Yuri membuka matanya perlahan karena sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamarnya dan menyilaukan indera penglihatannya. Dia melihat kekasihnya masih terlelap di sampingnya. Yuri tersenyum pelan. Dia mengelus wajah kekasihnya dengan sayang sebelum menjatuhkan kecupan di bibir mungilnya. Setelah itu, Yuri bangkit dari tidurnya dan bergegas membersihkan tubuhnya yang lengket karena berkeringat akibat kegiatan panas mereka semalam.

Butuh waktu tiga puluh menit untuknya membersihkan diri. Setelah selesai berpakaian, Yuri mendekat ke ranjang untuk membangunkan kekasihnya. Dia menghela nafas pelan. Membangunkan kekasihnya sama saja dengan membangunkan mayat hidup. Jessica adalah ratunya tidur. Dia tidak akan bangun meskipun ada gempa sekalipun. Dan cara ampuh untuk membangunkannya adalah menceritakan hal lucu untuk membuatnya tertawa dan akhirnya terbangun. Yuri berpikir lelucon apa yang akan diceritakannya pada Jessica.

Yuri mendesah. Dia tak punya bahan lelucon untuk Jessica. Dia akhirnya melakukan hal yang akan membahayakan dirinya sendiri. Sebelumnya Yuri juga pernah melakukan ini dan berakhir pipinya yang lebam beberapa hari. Yuri menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya, bersiap membangunkan Jessica.

“Jung Hee- maksudku- Sicaya~ bangun, sayang.” Yuri mengelus pipi Jessica sebelum mendekatkan wajahnya ke arah bibir mungilnya.

Yuri hanya menempelkannya sebelum bergerak melumatnya perlahan. Jessica masih tak sadar. Namun Yuri terus melumat, menggigit, dan menghisap bibir Jessica. Kali ini lebih menuntut. Jessica mulai merasa ada yang tidak beres diatas tubuhnya. Dia mengerjapkan matanya perlahan dan terkejut melihat seseorang sedang menciumnya. Jessica membulatkan matanya dan segera menendang seseorang diatasnya. Tak lupa disusul teriakan lumba-lumbanya. Yuri menahan napasnya saat pantat nya menyentuh lantai yang keras. Belum tendangan maut Jessica di perutnya tadi. Dia merasakan tubuhnya sakit hampir keseluruhan.

“Y-Yul..” lirih Jessica saat melihat Yuri terjatuh dibawahnya. Dia hendak menolong Yuri namun dia cepat-cepat berhenti saat melihat tubuh polosnya. Dia langsung lari terbirit dengan selimut yang melilit tubuhnya ke kamar mandi. Dia malu mengingat kejadian semalam. Jujur itu pertama kali mereka melakukan ‘itu’.

Yuri menghela nafasnya dan bangkit meskipun pantatnya terasa sakit. Sudah Yuri bilang, membangunkan Jessica dengan cara ini sangat berisiko. Dia akhirnya menunggu Jessica membersihkan dirinya sembari bermain game di ponselnya.

Jessica menghela nafasnya pelan sebelum melangkah keluar dari kamar mandi. Dia mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan Yuri yang pasti akan menanyainya tentang kejadian semalam. Jessica melihat Yuri menoleh padanya sekilas dan kembali memainkan ponselnya lagi. Dia mendekati Yuri dan duduk disampingnya.

“Yul..”

“Hmm.”

“Ya! Kenapa jawabanmu hanya hmm! Kau berani marah padaku?!”

Yuri menelan ludahnya melihat hell-sica. Dia segera menggelengkan kepalanya cepat dan melempar ponselnya di samping ranjangnya. Jessica menghela nafasnya. Tidak seharusnya wanita dingin itu yang marah, tapi bagaimanapun juga, Jessica benci jika Yuri mengabaikannya dan marah padanya.

“T- Tentang kejadian semalam..”

“Gwaenchanha. Aku menikmatinya.”

Jessica menatap Yuri dengan death glare nya. Yuri meringis dan mengangkat jarinya membentuk huruf V.

Jessica menghela nafas lagi. “Semalam Daddy mengajak dinner.. bersama Taeyeon. Entah apa yang ada dipikiran pria tua itu, dia mencampurkan obat perangsang di wine yang kami minum. Dan kau tahu bagaimana kelanjutannya hingga aku sampai di apartemenmu.”

Yuri menganggukkan kepalanya paham. Dia seperti berpikir sesuatu.

“Kau marah?” tanya Jessica.

“Untuk apa aku marah saat kekasihku ini sangat hebat menahan hormonnya untuk datang kesini? Kau tidak melakukan itu dengan Taeyeon kan meski dulu kau sering melakukannya dengan wanita pendek itu?”

Jessica tersenyum. Dia lalu memeluk Yuri dengan erat. Jessica tidak salah pilih orang untuk menjadi kekasihnya, bahkan calon tunangannya. Dia bersyukur mendapat seseorang yang sangat mengerti dirinya, selain Taeyeon pastinya. Lupakan, mereka hanya masalalu. Jessica semakin mengeratkan pelukannya pada Yuri.

“Gomawo, seobang. And I love you~” Jessica sedikit mendongak untuk mengecup bibir Yuri. Dia tertawa melihat ekspresi terkejut Yuri. Namun itu tak berlangsung lama. Yuri menyusul Jessica untuk tertawa bersama.

***

Sudah tiga hari semenjak tragedi dinner bersama Daddy Jung. Hubungan pasangan TaeNy dan YulSic makin menghangat. Mereka sudah melupakan kejadian hari itu dengan berpikir bijak. Kesetiaan pasangan mereka perlu diacungi jempol. Bahkan kini mereka berempat mengadakan double date di salah satu restoran favorit Tiffany. Restoran milik salah satu sahabatnya, Sooyoung. Beruntung bagi mereka, semua makanan yang mereka pesan tak berbayar alias gratis. Mereka awalnya menolak. Namun Sooyoung terus memaksa sehingga mereka mengalah. Sooyoung berkata bahwa itu adalah bentuk traktirannya karena tidak ikut hadir dalam acara pernikahan sahabatnya, Tiffany.

“Yul, kapan kau akan menikahi mantan kekasihku itu?” tanya Taeyeon yang dibalas deheman keras dari Jessica. Wanita itu juga berpura-pura batuk. Sedangkan Tiffany membalas pertanyaan Taeyeon dengan memutar bola matanya malas.

“W-Wae? Dia memang mantan kekasihku. Mantan terindah.” Taeyeon mengerucutkan bibirnya. Dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Itu adalah bentuk pencairan suasana darinya. Sesekali melempar lelucon tidak akan membunuhmu, iya kan? Jessica memperlihatkan ekspresi muntahnya setelah Taeyeon berkata itu.

“Hentikan ucapan idiotmu, Taeng. Kau membuatku ingin menumpahkan air ini ke wajah sok polos mu.”

“Aish lihat dia, Fany-ah. Dia sangat kasar. Beruntung sekarang aku memilikimu. Isteri tercantik dan terbaik sepanjang masa.” Taeyeon memeluk Tiffany dengan erat. Jessica memutar bola matanya malas.

“Aigoo aigoo. Lihatlah dia Sicababy. Kau harus bersyukur tidak jadi bersama wanita bocah seperti dia. Sangat menggelikan.” ucap Yuri membela kekasihnya. Jessica tertawa dan mengangguk.

“Ne, Seobang. Aku beruntung memiliki calon suami keren, dewasa dan TINGGI sepertimu.” balas Jessica menekankan kata ‘tinggi’ di hadapan Taeyeon.

“Yaish, kenapa ini menjadi acara review mantan isteri dengan isteri, sih? Kita kemari untuk makan bukan saling mengejek.” semprot Tiffany. Mereka bertiga langsung diam di tempat. Tak berani bicara melihat hell-fany.

“Lagipula Taeyeon sangat hebat di ranjang.” gumam Tiffany yang sayangnya masih bisa di dengar ketiga orang disana.

“YA!!!” koor semua. Tiffany menunjukkan cengiran lebarnya seraya mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.

“Dia juga romantis, kau tahu.”

“HWANG MIYOUNG!” teriak YulSic. Taeyeon menanggapinya dengan tertawa. Sepertinya double date kali ini lebih menyenangkan dari yang mereka pikir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Waww did u guys miss meh? Wkk 😀

Ane bawa yg manis2 dulu sebelum badai (?) dateng. Tapi doain aja gaada eh tp klo gaada badai ga seru dong. Ah bodo wkwk. Yeps tunggu ajeu angin topannya hahaha.

Bye~ see u next chap

Pinch Ear

Title : Pinch Ear

Main Cast : taeny, Umma Kim, Jiwoong Kim

Genre : GXG, Famili life

Length : Drabble

Author : N

.

.

.

 

Satu konser lagi terselesaikan. Taeyeon menutup konser dengan senyuman bangga. Tak lupa memberikan lambaian dan ucapan terakhir nya pada fans. Dia merasa… bagaimana dia menggambarkannya? Bahagia saja tidak cukup mewakilkan perasaannya saat ini. Yang jelas, dia sangat berterima kasih kepada para fansnya yang mengantar dirinya ke titik ini. Itu adalah kemajuan besar dalam sejarah musiknya. Debut grup, solo debut, hingga konsernya sendiri. Konser yang bertumpu di kakinya sendiri, tanpa member. Cukup menyedihkan dia tidak mengikutsertakan member dalam konsernya. Taeyeon selalu bersama member di setiap konser. Dan ini merupakan hal baru baginya. Meskipun begitu, dia tetap melakukannya dengan sempurna. Dukungan keluarga, member, dan fans sangatlah mempengaruhinya.

Setelah konser benar-benar selesai, Taeyeon bergegas menuju backstage. Dia butuh untuk mengganti pakaiannya dan menghapus make-up. Dia menginginkan sebuah ranjang untuk ditidurinya saat ini. Konser barusan memanglah menyenangkan, namun tubuh tetaplah tubuh. Mereka tentu merasa lelah. Taeyeon merasakan itu.

“Unnie, bisa kau percepat? Aku ingin istirahat.” ucapnya pada make-up artistnya. Wanita itu mengangguk dan mempercepat menghapus make-up Taeyeon.

Taeyeon meraih ponselnya dan menghidupkannya. Setelah layar ponselnya kembali hidup, dia menyalakan ikon wi-fi, menunggu sebentar sebelum terhubung dengan wi-fi disana. Tak lama kemudian, terdengar beberapa kali bunyi notifikasi di ponselnya. Dia melihat akun kakaotalk nya yang terdapat beberapa chat dari member-member dan teman seprofesinya. Taeyeon tidak membukanya satu persatu. Dia hanya membuka chat dari kekasihnya, Tiffany sebelum dia membalas chat dari wanita bereyesmile itu. Dia terkekeh pelan dengan balasannya. Setelah itu dia menaruh kembali ponselnya diatas meja.

Tak lama kemudian dia mendengar bunyi notifikasi lagi. Dengan cepat dia menyambar ponselnya dan melihat kekasihnya membalas chatnya.

Kenapa balasanmu lama sekali? Tidak, aku tidak merindukanmu. Aku cukup senang karena kau tidak disini dan melarangku pergi :p 

Taeyeon mengerutkan alisnya. Jarinya dengan cekatan menari diatas keyboard ponselnya. Membalas kekasihnya yang sangat social butterfly. 

Aku baru selesai konser. Dan ya, siapa peduli. Aku juga tidak merindukanmu. Pergilah sesukamu, nona Hwang.

Taeyeon melihat sekali lagi balasannya. Dia mendesah pelan. Dia pikir balasannya terlalu sarkastik. Tiffany pasti mengira Taeyeon marah padanya. Namun bukan seperti itu. Taeyeon memang kesal karena Tiffany-nya pergi- lagi. Tapi dia berusaha menekannya agar tidak terlalu menunjukannya. Lagipula wanita imut itu begitu merindukan kekasihnya jika boleh jujur. Kerinduannya mengalahkan rasa kesalnya.

Taeyeon berusaha tidak terlalu memikirkannya hingga bunyi notifikasi yang kedua menginterupsinya. Dia mendesah dan membukanya.

Kau marah padaku? 

Taeyeon hendak menekan tombol call untuk menelepon Tiffany sebelum suara yang dikenalnya berteriak marah kepadanya. Dia menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat Umma beserta Oppa nya berjalan ke arahnya. Wajah Ummanya terlihat tak bersahabat. Taeyeon bisa merasakan aura gelap disekitar Ummanya.

“Um.. ma?”

“YA! GADIS NAKAL! SIAPA YANG MENGAJARIMU MENUNJUKAN JARI TENGAH, HA?!” Umma Taeyeon menarik telinga puterinya dengan keras, membuat make-up artistnya berjalan mundur memberi ruang kepada Umma Taeyeon. Wanita itu memang menunjukkan jari tengahnya saat konser berlangsung. Tepatnya saat lagu I’m Ok dinyanyikannya. Dia dengan seenaknya mengganti lirik, no thanks baby menjadi f*ck you baby dan mengangkat jari tengahnya tanpa berdosa.

“Um- Umma sakit!” erang Taeyeon. Dia berusaha melepas tarikan Ummanya di telinganya.

“Umma tanya siapa yang mengajarimu?”

“Ti- Tiffany!” teriak Taeyeon karena tarikan Ummanya semakin kuat.

Umma Taeyeon mengerutkan alisnya dan menggeram. Dia menarik lebih kuat lagi telinga puterinya.

“Setelah berlaku tidak sopan dengan mengangkat jari tengah sekarang kau menyalahkan Tiffany? Dasar gadis nakal!”

Taeyeon berteriak kesakitan. Oppa nya bukannya membantu malah tertawa puas melihatnya. Dia merutuk Jiwoong Oppa dan mengerucutkan bibirnya. Dia bingung, sebenarnya siapa puteri kandung Ummanya? Dia atau Tiffany? Ummanya selalu memarahinya dan membela Tiffany. Itu tidak adil menurutnya.

“Ne ne ne. Dari internet!” ucap Taeyeon pada akhirnya. Sebenarnya wanita itu tak berbohong. Dia memang menirukan kekasihnya saat sedang mengumpat depan teman Amerikanya. Tapi apa boleh buat. Umma nya terlalu menyayangi Tiffany.

Jiwoong tertawa keras. “That’s my girl!

Umma Taeyeon melepaskan tarikannya di telinga Taeyeon dan mendengus.

“Akan kupastikan kau tidak akan mendapat jatah dari Tiffany selama sebulan.” kata Umma Kim mengancam.

“MWO?!” pekik Taeyeon tak percaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wkwk tiba-tiba kepikiran buat drabble ginian. Btw itu bener ya taeng katanya dijewer mak nya pas abis konser di BKK gegara nyanyi fak yow baby sm nunjukin jari tengah 😂

SL on going. Wait yeu

Pai pai~ see u next fic~

Sweet Love (Chapter 9)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Tiffany berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sesekali menggigit bibir bawahnya atau menggigit kukunya. Dia merasa cemas dengan perasaannya sebagai seorang isteri. Bukan dia tidak percaya dengan Taeyeon, dia hanya takut jika Taeyeon menyembunyikan sesuatu padanya. Dia tidak mau hal itu terjadi. Terdengar posesif memang, tapi mau bagaimana lagi. Tiffany juga tidak ingin terlihat sebegitu posesif terhadap suaminya. Itu malah akan terlihat seperti… so pathetic. 

Entahlah, menjadi seorang isteri dari seorang goddes Kim terlalu banyak berisiko. Tiffany tahu belakangan ini kalau banyak perempuan dan pria diluaran sana yang menggilai Taeyeon. Aura wanita itu memang terlalu kuat hingga bahkan wanita atau pria yang melihatnya akan jatuh berlutut dihadapannya. Dia bergidik ngeri melihatnya. Taeyeon-nya terlalu sempurna. Bukan hanya fisik, tetapi kerendahan hatinya juga.

Saat sedang cemas memikirkan suaminya, Tiffany tersadar akan sesuatu dan segera mendapat ide untuk membunuh rasa khawatirnya. Dia berlari mengelilingi ranjang dan meraih ponselnya di nakas. Dia membuka laci nakas dan bergegas mencari sesuatu.

Gotcha

Ketemu. Dia meraih secarik kertas bertuliskan nama seseorang beserta nomor teleponnya dan lain sebagainya disana. Tiffany segera menekan beberapa nomor yang ada disana di ponselnya. Setelah selesai, dia menekan tombol call dan mendekatkannya ke telinga. Terdengar suara tuut lima kali sebelum sebuah suara menyapanya di seberang sana.

“Yeoboseyo, dengan siapa ini?” 

“Benarkah ini Eunha-ssi? Saya Tiffany, isteri Kim Taeyeon.”

“Ah, Mrs. Kim. Ada yang bisa saya bantu, Mrs?”

“I-Itu.. A-Apa Taeyeon sedang lembur bekerja? A-Apa dia masih di kantor?”

“Ne, Mrs. Taeyeon Sajangnim beserta divisi kami tengah mengadakan rapat dan kami akan lembur.” 

“Arrasseo. Kalau begitu saya tutup teleponnya, Eunha-ssi.”

“Ba-…” “Fany-ah!” 

“T-Tae?”

“Ya, ini aku. Apa kau mengkhawatirkanku? Kau tenang saja, sayang. Aku memang sedang lembur. Kau istirahatlah, ini sudah hampir tengah malam.” 

Tiffany menghela nafasnya lega. “Ne, TaeTae. Jangan terlalu larut pulangnya. Apa kau sudah makan?”

“Tentu saja sudah. Aku tidak ingin terkena omelanmu karena terlambat makan lagi.” 

Tiffany terkekeh. “Aku tutup teleponnya, TaeTae. Selamat bekerja kembali. Fightaeng!”

Terdengar suara tawa kecil di seberang. “Fightaeng!” 

“Ne, annyeong.”

“Anio, yang benar see you later.” 

Tiffany tertawa renyah. “Arrasseo, see you later, TaeTae. Sudahlah, aku benar-benar akan menutup teleponnya. Kau bekerja yang giat, ne?”

Setelah mengatakan itu, Tiffany buru-buru menutup teleponnya. Dia tidak ingin mengganggu Taeyeon. Dia sudah cukup lega mengetahui suaminya benar-benar tengah bekerja. Dia jadi bisa tidur tenang setelah ini.

***

Taeyeon buru-buru membereskan mejanya selepas rapat dengan beberapa orang dari divisinya. Dia merasa lelah setelah memimpin rapat selama berjam-jam tadi. Dia ingin segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan memeluk isteri tercintanya. Menghirup aroma tubuhnya dan mengecup lehernya sebentar. Membayangkannya saja membuat perutnya merasa penuh dan geli.

Baru saja dia selesai membereskan meja kerjanya dan akan melangkahkan kakinya keluar, ponsel miliknya bergetar di sakunya. Dia meraihnya dan melihat nama Daddy terpampang disana. Taeyeon mengerutkan keningnya. Ada apa Daddy Jessica meneleponnya selarut ini? Dia tidak ingin memikirkannya lebih lanjut dan memilih mengangkat telepon tersebut.

“Hallo, Dad.”

“…….”

“Tapi, Dad. Ini sudah…”

“…….”

“Arrasseo, tunggu aku disana.”

Taeyeon menghela nafasnya. Daddy Jessica mengajaknya- late- dinner bersama. Dia sebenarnya ingin menolak karena dia sungguh-sungguh sangat lelah. Namun bukan Daddy Jung namanya kalau tak memiliki berbagai macam rayuan agar Taeyeon tak menolaknya. Dan pada akhirnya, dia akan pulang jauh lebih terlambat dari yang dipikirkannya. Kini dia berdoa agar isterinya sudah tertidur dan tak perlu menunggunya pulang.

***

Dan disinilah Taeyeon berada sekarang. Di sebuah restoran bintang lima dengan ruangan ekslusif yang hanya bisa dinikmati oleh mereka berempat, dia, Jessica, dan Daddy beserta Mommy Jung.

Taeyeon tersenyum canggung ke arah orangtua Jessica. Dia merasa aneh dengan dinner ini. Meskipun dulu mereka sering mengadakan dinner bersama, tapi sekarang situasinya benar-benar berbeda. Dia bukan lagi bagian dari keluarga mereka. Dia sudah memiliki isteri, begitu juga Jessica yang sudah memiliki calonnya.

“Kau terlihat tegang, Taeyeon.” ujar Daddy Jung.

“Benarkah? Apa itu terlihat jelas?” Taeyeon bertanya dengan meringis.

Daddy Jung terkekeh. “Santai saja, Taeyeon. Anggap saja ini sebagai dinner biasa.”

“Ah, ne. Akan aku lakukan, Dad.”

Taeyeon menyendokan makanan ke mulutnya untuk mengurangi rasa canggungnya terhadap kedua orangtua di depannya. Jessica sedikit tak membantu. Wanita itu hanya berdiam dan memakan makanannya dengan tenang. Seolah tak memedulikan keberadaan mereka. Taeyeon tahu Jessica juga merasa tak nyaman dengan ini. Namun dia bisa menutupinya dengan sangat baik. Tipikal keluarga Jung.

“So, bagaimana dengan isterimu Taeyeon?” tanya Mommy Jung.

“Isteriku? Bagaimana apanya, Mom?” Taeyeon tertawa kecil karena bingung dengan pertanyaan Mommy Jung.

“Yaa, apa dia baik? Lebih baik dari puteriku, mungkin?”

Taeyeon mengerutkan alisnya. Apa Mommy Jung baru saja membandingkan Tiffany dengan Jessica? Jujur dia tidak suka jika ada orang yang membandingkan keduanya. Jessica baik, sangat baik padanya. Sebab itulah dia sangat mencintai wanita itu. Tetapi dulu saat mereka masih bersama. Dan Tiffany? Ah wanita itu. Bagaimana Taeyeon mendeskripsikannya? Dia terlalu sempurna sebagai seorang isteri. Taeyeon tak bisa menyembunyikan senyumnya hanya dengan memikirkan isterinya itu. Daddy Jung menyeringai melihat senyuman Taeyeon. Dia ikut tersenyum sebelum berbicara.

“Tentu saja isteri Taeyeon sangatlah baik. Dia begitu cantik, bukan begitu, Taeyeon-ah?”

Taeyeon terkejut. Dia menunduk malu dan mengangguk. “N-Ne.”

Jessica meletakan sumpit di piring. Cukup keras untuk membuat ketiga orang disana menoleh.

“Daddy Mommy, aku sudah kenyang. Bolehkah aku pulang? Aku sangat mengantuk.” rengek Jessica.

“Sooyeonie, kita belum sampai pada inti dinner. Tunggu sebentar lagi, ne? Huh, kemana para pelayan itu?” bujuk Daddy Jung dengan sedikit menyalahkan pelayan disana.

Jessica mengerucutkan bibirnya lucu. Jika saja Jessica masih menjadi kekasihnya, mungkin bibir itu sudah dilumat Taeyeon karena saking gemasnya.

Lima menit menunggu dengan menyantap makanan mereka masing-masing secara hening membuat Jessica jengah. Dia baru akan membuka mulutnya untuk protes, seorang pelayan datang kesana dan menggagalkan aksinya.

“Permisi, ini pesanan anda, Tuan.” Pelayan itu menyerahkan satu botol wine beserta gelasnya disana.

Daddy Jung tersenyum senang. Setelah pelayan tersebut mengundurkan diri, dia meraih botol wine tersebut.

“Ini wine ter-enak yang pernah kuminum. Kau harus mencobanya, Taeyeon.” kata Daddy Jung.

“Daddy, kau tahu Taeyeon tidak bisa minum.” sergah Jessica. Taeyeon menoleh ke arah Jessica sebelum menatap Daddy Jung dan mengangguk mengiyakan.

“Wow, rupanya ada yang masih ingat kebiasaan seseorang disini.” sindir Mommy Jung.

Jessica menaikkan satu alisnya.

“Tenanglah, Jessie. Hanya satu gelas. Taeyeon akan rugi kalau tidak meminum ini. Kau juga harus meminumnya. Ini sangat enak.” Daddy Jung menuangkan wine ke gelas keduanya dengan perlahan. Jessica menghela nafasnya sebelum meraih gelas tersebut dan meminumnya.

“Kau juga harus meminumnya, Tae.”

Taeyeon meringis pelan dan mengangguk. Dia meraih gelas tersebut dan meminumnya dengan pelan. Dia menunjukan ekspresi aneh setelah meminumnya. Wanita itu benar-benar payah dalam urusan meminum.

Mereka mendengar suara ponsel berbunyi. Ternyata ponsel milik Daddy Jung. Dia pamit ke belakang untuk mengangkat telepon tersebut.

Taeyeon masih terus meminum wine di gelasnya. Meskipun rasanya aneh saat cairan itu masuk ke tenggorokannya. Dia hanya tak ingin terlihat payah di hadapan kedua orangtua Jessica.

“Taeyeon, Jessie. Maafkan Daddy. Ada masalah kecil dirumah. Soojung bilang kran wastafel rusak dan harus segera diperbaiki karena air terus mengalir. Jessie, kau bilang kau akan pulang ke apartemen mu, kan? Kau bisa meminta Taeyeon mengantarmu kalau begitu.” Daddy Jung yang tiba-tiba datang mengatakan itu kepada mereka.

“Tapi, Dad-…”

“Sooyeonie…”

“Arrasseo, kalian pulanglah dan bantu Soojung.”

Daddy tersenyum. “Aku titip puteriku, Taeyeon-ah. Kami pergi dulu.”

“Ne, Dad. Hati-hati di jalan.”

Setelah mengatakan itu, Daddy dan Mommy Jung keluar meninggalkan mereka berdua. Taeyeon menghela nafas, disaat itu juga dia melihat wanita disampingnya juga melakukan hal yang sama. Mereka tertawa pelan menyadarinya.

Tapi hal itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba Taeyeon merasakan panas di sekujur tubuhnya. Dia melihat gelagat aneh Jessica disampingnya yang sama sepertinya.

“S-Sica, apa kau merasa… panas?” tanya Taeyeon berusaha menahan perasaan aneh pada dirinya.

Jessica tak menjawabnya. Dia hanya menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan buku-buku jarinya.

Damn, mereka mencampurkan obat perangsang di dalam wine.” gumam Jessica yang masih bisa di dengar Taeyeon. Jessica menoleh ke arah Taeyeon dan memandangnya dengan tatapan berbeda. She’s full of lust now. 

Tiba-tiba Taeyeon merasakan dirinya terdorong ke belakang. Dia berpikir dirinya akan terjatuh, namun ternyata ridak. Jessica menahannya sembari menyesap bibirnya. Taeyeon tersadar dengan apa yang Jessica lakukan. Disisi lain dia ingin menghentikan Jessica, namun tubuhnya menolak. Dia juga butuh sesuatu untuk melampiaskan hasratnya karena pengaruh obat itu.

Mereka berciuman dengan sangat panas. Bagaikan hidup dan matinya bergantung pada ciuman tersebut. Saat Jessica ingin membuka kancing kemeja Taeyeon, wanita itu tersadar dan mendorongnya. Nafas mereka terengah-engah. Taeyeon juga merasakan pusing menghantam kepalanya.

“Ini tidak benar, Sica.” Taeyeon mati-matian menahan hasratnya itu.

Jessica mengerang frustasi. Dia mendekat ke arah Taeyeon, namun wanita itu menjauh.

“Berdiri disana. Kita tidak boleh melakukan itu, Sica.”

“Taeyeon argh. Ini sangat ugh… please.” mohon Jessica. Taeyeon mengerti perasaan Jessica. Mereka butuh melampiaskan hasratnya jika tidak itu akan menyiksa mereka. Namun beruntung Taeyeon masih bisa berpikir jernih di situasi seperti ini.

“B-Begini saja. Kau datang pada kekasihmu dan aku akan melakukan hal sama. Tahan nafsumu sebentar, Sica. Aku tak mau menyakiti perasaan Tiffany dan Yuri jika kita melakukan itu.”

Meski Jessica merasa tersiksa dengan ini, namun dia menyetujui usulan Taeyeon. Dia juga tidak ingin melukai perasaan kekasihnya.

Mereka berdua pun keluar darisana dengan menahan hormon mereka yang sangat tinggi akibat pengaruh obat tersebut. Mereka memutuskan menaiki taxi daripada menyetir sendiri. Itu hanya akan membahayakan mereka berdua.

Taeyeon tersenyum lemah pada Jessica yang sudah menaiki taxi terlebih dahulu. Dia menunggu taxi selanjutnya yang lewat disana. Beruntung hal itu tak berlangsung lama. Dia benar-benar kewalahan menahannya. Selama perjalanan, wanita itu hanya bisa memejamkan matanya dengan menggigit bibir bawahnya. Dia ingin sekali membuka seluruh pakaiannya, namun itu tidak mungkin dilakukannya di dalam taxi.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang baginya. Taeyeon akhirnya sampai di tempat tujuannya. Dia menyerahkan uang kepada sopir taxi dan dengan cepat berlari memasuki rumahnya. Taeyeon seperti orang kesetanan. Dia mendobrak pintu kamar mereka dan menemukan isterinya tengah tertidur. Taeyeon tidak peduli, dia segera menerjang isterinya dan mencium bibirnya dengan ganas. Tiffany mengerang. Dia membuka matanya perlahan dan melihat Taeyeon diatasnya sedang menciumnya panas.

“T-Tae.. ugh..” erang Tiffany saat Taeyeon menjilat lehernya.

Taeyeon membuka kancing piyama Tiffany dengan terburu-buru. Saking terburunya, dia bahkan merobek piyama isterinya dan membuangnya ke sembarang arah. Dia juga langsung merobek bra isterinya hingga terlihat kedua bukit kembar miliknya.

“Taeyeon apa yang kau laku- aahhh…” Tiffany tak bisa melanjutkan ucapannya lagi karena Taeyeon menghisap putingnya dengan sangat keras sementara tangannya yang lain meremas payudara satunya.

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dan dari situlah Tiffany tahu bahwa Taeyeon habis meminum alkohol. Sepertinya suaminya habis mabuk.

“T-Taeyeon…” Tiffany menahan kepala Taeyeon agar tak menciumnya.

“Kumohon, Fany-ah. Aku membutuhkan ini.” Tiffany melihat mata suaminya yang penuh dengan nafsu.

“K-Kau mabuk?” tanya Tiffany.

Taeyeon menggeleng. “Ceritanya panjang. Yang terpenting aku tidak mabuk dan ugh, aku benar-benar harus menuntaskan nafsuku, sayang.”

Taeyeon kembali mencium bibir isterinya. Melumat, menghisap, dan menggigitnya. Dia memasukkan lidahnya kedalam mulut Tiffany. Mereka berperang lidah satu sama lain.

Dan dari situlah, malam mereka dimulai. Saat Tiffany melayangkan erangan nikmat dibawah sentuhan Taeyeon. Dan ingatkan Tiffany untuk menanyakan hal ini pada Taeyeon keesokan paginya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uuuh suka sama taeng disini. Alhamdulillah doa pany terkabul wkwk.

Oya yg mau gabung grup chat masih terbuka lebar. Kirim aja nomor kalian di email gw beserta nomor hape kalian . Inget guys grup nya di wa ya.

Ni email gw : noviaidafa05@gmail.com

Enjoy read~

Pai pai~ see u next chap~ ^^

 

Tanya Iseng (Part 2)

Hola

.

.

.

.

.

Balik lagi sama gw hehe

Oke gw gamau banyak omong. Yang mau join grup yang dimaksud sama post tadi, disini langsung aja e-mail gw. Sertakan nomor handphone kalian yak. Berhubung gw males pake line dan prefer pake whatsapp jadi grup chat nya gw bikin di wa aja.

Gw yakin kalian pada punya wa kan? Yang ga punya mana coba suaranya? Haha

Oh iya, sertakan nama kalian juga di e-mail nanti ya. Biar gw bisa data (?) kalian.

Nih langsung e-mail gw disini : noviaidafa05@gmail.com

Bye bye~ see u on our (?) group wkwkwk

Tanya Iseng

Assalamu’alaikum

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jawab salam dulu sebelum lanjut baca..

Udah?

Ok bagus wkwk

Cuma nanya iseng doang sih. Gw mau ngasi usul gimana kalo bikin grup chat. Sekalian gw mau kenalan sama readers readers disini juga biar lebih deket (?)

Siapapun bisa join kok. Gak ada rules2 an basi lah. Cuma buat fun aja sama sharing2 info SNSD atau Taeny dan lain sebagainya. Bisa juga buat CPN kok (Curhat, Promo, Nanya) wkwk

Gimana?

Yang setuju kolom komentar terbuka buat absen siapa aja yg mau join. Yang gamau yaudah orang hak2 kalian ini.

Oh ya, buat yang pingin gabung nanti bakal ada kemudahan (?) kalo semisal ada ff yang gw protek nantinya. Moga2 aja sih gw baik terus biar gaada pw2 an wkwk.

Okeh sekian nanya iseng dr gw. Gw tunggu respon kalian.

Pai pai~ see ya

Sweet Love (Chapter 8)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Yoona masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan didengarnya. Meskipun Taeyeon sudah menjelaskannya hingga men-detail, dia tetap saja masih sulit menerimanya. Dia seperti dimainkan oleh takdir. Bagaimana bisa seseorang yang dinyatakan meninggal masih hidup sampai sekarang? Yoona bahkan tidak sampai berfikir ke arah sana. Dia masih menatap nanar Jessica di depannya.

“Aku tahu ini sulit untukmu, Yoong. Tapi dia benar Jessica, Unnie kesayanganmu.” ucap Taeyeon.

Jessica tak jauh lebih baik. Matanya memerah menahan tangis. Adik kesayangannya, yang bahkan tidak ia duga akan bertemu dalam kondisi seperti ini berada tepat di depannya. Sungguh dia sangat merindukan dongsaeng choding nya.

“Bagaimana kabar Soojungie, Yoong-ah?” tanya Jessica. Pertahanan Yoona runtuh. Dia berlari ke arah Jessica dan memeluknya erat. Air mata yang ditahannya keluar dengan deras. Begitu juga dengan Jessica. Dia menepuk-nepuk punggung Yoona, meski dirinya juga tak kuasa.

“Unnie bogoshipda, neomu.” lirih Yoona. Jessica mengangguk mengerti. Dia juga mengatakan hal yang sama pada Yoona.

Taeyeon melihatnya dengan haru. Dia mendekat ke arah Jessica dan Yoona untuk bergabung memeluk mereka.

“Aku juga merindukanmu.” ujar Taeyeon dengan tangisan yang dibuat-buat. Yoona melepas pelukan mereka dan menatap tajam Taeyeon. Jessica terkekeh melihat Taeyeon dan Yoona. Sudah lama dia tidak melihat interaksi seperti ini.

“Ck, kau mengganggu suasana, Unnie!” kesal Yoona.

Taeyeon tertawa ahjumma melihat reaksi adik nya. Dia senang menggoda Yoona. Beruntung apa yang dilakukannya bisa mencairkan suasana. Kalau boleh jujur, dia sedikit tak suka melihat orang yang disayanginya menangis.

Yoona mengusap air mata nya dengan punggung tangannya. “Maaf aku menanyakan hal ini pada kalian. Bagaimana dengan… h-hubungan kalian?” Jujur Yoona penasaran dengan Taeyeon dan Jessica. Mereka adalah couple favoritnya dari dulu. Bahkan dia menjadi orang pertama yang mendukung hubungan mereka. Yoong sangat menyayangi keduanya.

Taeyeon memandang ke arah Jessica dan tersenyum. “Kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami, sebagai seorang kakak dan adik.”

Terlihat raut kecewa dari wajah Yoona. “Padahal aku mengharapkan kalian bersama.” gumam Yoona yang sayangnya masih bisa di dengar Taeyeon.

“Ya! Kau tidak lihat isteriku disana? Dia tak kalah cantiknya dengan Sooyeon. Bahkan dia hebat di ranjang, kau tahu?” bela Taeyeon.

Tiffany mendelik mendengar ucapan suaminya. Namun Taeyeon mengabaikannya dan menatap Yoona kesal.

“Ye ye algesseumnida. Maaf karena tidak datang di acara pernikahan kalian.”

“Ya gadis nakal! Kenapa kau tidak datang, ha? Aku tahu kau sama sekali tidak sibuk di Paris.” Taeyeon menyedekapkan tangannya dan menatap Yoona dengan tatapan mengintimidasi.

“Ya jangan memarahiku! Aku hanya tak suka kau secepat itu menikah dan melupakan Sica Unnie!” balas Yoona tak mau kalah.

“YA!”

“YA!”

“IM CHODING!”

“KIM MIDGET!”

“HENTIKAN!” teriak Jessica. Dia menarik telinga Taeyeon dan Yoona dengan keras. Mereka menjerit kesakitan namun tidak dipedulikan Jessica.

“Kalian masih saja sama. Ingat umur kalian, apalagi kau Taenggu, kau sudah menikah!”

“Ne ne ne. Kami tidak akan melakukannya lagi. Jadi, lepaskan Sica-ya. Ini sakit. Yoong, lakukan sesuatu!”  Taeyeon menatap Yoona mencari bantuan.

“Taeng Unnie benar. Maafkan kami, kami tidak akan melakukannya lagi.”

Jessica mendengus dan melepas mereka berdua. Taeyeon segera berlari ke arah isterinya dengan merengek.

“Appo, Fany-ah.”

“Rasakan sendiri!” ucap Tiffany dingin. Taeyeon membuka mulutnya.

“Heol, daebak.” Dia menatap Yoona, Jessica, dan Yuri disana.

“Aku ada urusan dengan isteriku sebentar. Kalian ngobrol saja dulu, anggap saja rumah sendiri.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon menarik Tiffany ke kamar mereka.

“W-Wae?” tanya Tiffany sesampainya mereka di kamar. Taeyeon mengunci pintu kamar dan mendekat ke arah isterinya.

“Kau harus dihukum karena tidak perhatian dengan suamimu yang cantik dan tampan ini.”

“Kau tidak bi-” Ucapan Tiffany terhenti saat bibirnya di bungkam dengan bibir milik Taeyeon. Taeyeon melepas kecupannya dan menatap manik isterinya.

“Kau tahu? Aku menahan hormonku sedari tadi.” Taeyeon menarik tangan Tiffany dan menjatuhkannya ke ranjang. Dia menindih tubuh isterinya dengan kedua tangannya berada di samping kepala Tiffany untuk menyangga.

“Kau tidak akan melakukan itu lagi, kan?”

Alis Taeyeon menyatu. “Itu ide bagus. Aku akan melakukannya lagi kalau begitu.”

“T-Taeyeon, kita sudah melakukannya berpuluh-puluh ronde. Kau tidak puas dengan itu?”

“Aku tidak akan pernah puas jika itu denganmu, sayang.” Taeyeon mengusap pipi isterinya, membuat Tiffany menelan ludahnya.

Taeyeon memajukan wajahnya dan mengecup leher isterinya. Tiffany sebenarnya ingin menolak, tidak sopan melakukan hal itu saat sedang ada tamu diluar. Namun apalah daya, dia selalu tak kuasa jika sudah dibawah kendali suaminya. Yang dilakukannya hanya menutup mata dengan menggigit bibir bawahnya dan menggenggam seprei dengan kencang.

Tangan nakal Taeyeon perlahan membuka kancing kemeja Tiffany. Selama itu pula bibirnya tak pernah lepas mengeksplor tubuh isterinya. Tangan kanan Tiffany ia gunakan untuk menjambak rambut Taeyeon dan menekannya.

“UNNIE! UNNIE! BUKA PINTU NYA!” Yoona menggedor pintu kamar TaeNy dengan keras, seperti terburu-buru.

Taeyeon menarik wajahnya dari dada isterinya dan berdecak pelan.

“UNNIE BUKA PINTU!” teriakan Yoona semakin kencang. Taeyeon mengusap wajahnya frustasi dan bangkit dari tubuh isterinya. Dia mengancingkan kembali kemeja Tiffany.

“UNNIE!”

“BERISIK! TUNGGU SEBENTAR!”

Setelah selesai mengancingkan kemeja Tiffany dan merapikan penampilan mereka, Taeyeon berjalan menuju pintu dan membukanya dengan kesal.

“Wae?” tanya Taeyeon malas.

“Sica Unnie ingin pergi ke rumah Daddy dan Mommy. Dia ingin menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka. Maka dari itu, kau harus ikut untuk membantu menjelaskan.” jawab Yoona dengan jelas.

Taeyeon tersadar. Jessica belum memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi kepada orangtua nya dan juga adiknya. Taeyeon juga sudah lama tidak berkunjung ke rumah mantan calon mertua nya itu. Dia masuk kedalam kamar untuk mengambil jaket.

“Ayo, Yoong.” Taeyeon menarik tangan Yoona. Dia menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu dan berbalik. Tiffany masih berdiri di depan pintu.

“Apa yang kau lakukan disana, sayang? Ayo ikut.”

Tiffany masih diam di tempatnya dengan wajah bingung. Taeyeon menepukkan dahinya dan berjalan ke arahnya lalu menarik tangan isterinya.

“Bagaimana kabar Daddy dan Mommy, Yoong?” tanya Taeyeon saat mereka turun dari tangga.

“Mereka baik-baik saja. Hanya terkadang, Daddy terkena flu saat kelelahan.” jawab Yoona.

Taeyeon mengangguk. Mereka memang sudah terbiasa memanggil orangtua Jessica dengan sebutan Daddy dan Mommy seperti yang dilakukan Jessica dan Krystal. Mereka sudah sangat dekat seperti orangtua kandung sendiri. Apalagi dulu Taeyeon dan Jessica sudah bertunangan, dan Yoona dengan Krystal merupakan sepasang kekasih.

Saat turun dari tangga terakhir, Taeyeon, Tiffany, dan Yoona sudah disambut dengan pasangan YulSic. Sepertinya Jessica sudah sangat tidak sabar bertemu orangtuanya.

“Kau begitu merindukan mereka, eoh?” tanya Taeyeon. Jessica mengangguk dengan semangat.

“Aku merindukan Mom, Dad, apalagi Soojungie.”

“Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang.” Taeyeon merangkul bahu isterinya dan berjalan ke luar rumah, dimana mobil mereka terparkir.

***

Sudah hampir sebulan semenjak kedatangan mereka ke rumah orangtua Jessica. Rumah tangga Tiffany pun bisa dikatakan semakin membaik dari hari ke hari. Taeyeon selalu memperlakukan Tiffany layaknya seorang puteri. Dia tidak pernah membuat Tiffany menangis lagi. Hanya ada kejutan romantic, malam yang penuh dengan kasih, hingga perhatian kecil dari wanita imut itu yang mengisi hari Tiffany. Wanita itu seperti sama sekali tidak kekurangan cinta dari Taeyeon.

Namun disamping itu semua, Tiffany selalu merenung sendirian saat sedang tidak bersama Taeyeon karena wanita itu tengah bekerja. Dia teringat percakapannya dengan orangtua Jessica. Ditambah fakta jika adik kesayangan Taeyeon, Yoona, yang belum menerima dirinya sepenuhnya. Dia pikir itu hal wajar karena Taeyeon dan Jessica sudah bersama selama bertahun-tahun. Orang-orang terdekatnya sangat mendukung mereka.

Tapi tetap saja. Tiffany adalah isteri sah Taeyeon. Bisakah mereka melihat itu? Dan kegelisahannya bertambah sejak seminggu yang lalu. Orangtua Taeyeon juga sama seperti orangtua Jessica dan Yoona saat mengetahui mantan kekasih Taeyeon itu masih hidup sampai sekarang. Mereka bahkan lupa Tiffany adalah menantunya.

Tiffany tidak pernah mengatakan hal ini pada Taeyeon. Dia tidak ingin Taeyeon merasa bersalah nantinya. Tiffany tahu Taeyeon sudah benar-benar menyukai, bukan, mencintainya. Dia merasakan ketulusan hati suaminya. Jikalau Taeyeon diberi pilihan untuk memilih satu diantara dia dan Jessica, sudah pasti Taeyeon akan memilihnya. Bukan Tiffany terlalu percaya diri, namun Taeyeon pernah mengatakan hal tersebut padanya. Dia merasa tenang dengan itu.

Namun bukan itu masalahnya. Orang-orang terdekat Taeyeon dengan tidak di duga (masih) mendukung dia dengan mantan kekasihnya itu. Itu adalah masalah baginya. Kalau saja Taeyeon menerima perjodohan mereka atas dasar permintaan orangtuanya, mungkin saja dia akan menuruti orangtuanya kembali jika orangtuanya itu meminta dirinya kembali pada Jessica, bukan?

Tiffany menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia mengerang dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ini adalah hal yang Tiffany benci dari pikirannya. Dia sudah tidak bisa berpikir bijak lagi seperti sebelum Taeyeon menghilang dengan Jessica dulu. Dia seperti sudah tidak akan pernah bisa melepas dan mengikhlaskan Taeyeon lagi. Praktisnya, dia sudah ketergantungan dengan suaminya, dia sudah terbiasa dengan keberadaan Taeyeon disisinya, dia sudah sangat mencintai Taeyeon-nya.

“Aaaaaargh~” teriak Tiffany.

Dia menoleh ke samping saat ponselnya berdering. Dia mengambilnya dan melihat nama suaminya terpampang disana. Dengan cepat, dia menggeser ikon berwarna hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.

“Yeoboseyo, Tae.”

“Ah, Fany-ah. Kau sedang apa dirumah?” 

“Aku? Hanya berbaring di ranjang. Kenapa?”

“Hum, maaf mengatakan ini. Tapi aku akan terlambat pulang. Kau tidur dulu saja, jangan menungguku pulang, ne?” 

“Apa pekerjaanmu sangat banyak?”

“Ne, sangat banyak. Kalau begitu, aku tutup telfonnya dulu ya. Annyeong.” 

“Tapi, Tae-…”

Tuut… tuut… tuut

Tiffany belum sempat bertanya lagi pada Taeyeon, suaminya itu sudah menutup telfonnya. Dia menghela nafasnya dan melempar ponselnya ke samping. Tiffany menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana, tetapi tiba-tiba perasaannya tak enak. Dia menutup matanya dan berdo’a semoga perasaannya salah. Ya, Tiffany berharap itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maapkeun atas keterlambatan post yang jadwalnya tadi malem. Gw ketiduran gaes hahaha.

Oke enjoy read~

Pai pai~ see u next chap~

Playing With The Time (Chapter 2)

Tittle : Playing With the Time

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon

Other Cast : Find by yourself

Genre : Yuri (G x G)

Length : Series

.

.

.

.

.

.

.

 

 

 

Last Chapter

 

Aku tak menghiraukan ucapannya dan langsung mengambil tissue di mejaku. Membersihkan darah yang tersisa ditanganku dan mulai berkutat dengan laptopku. Kuketik nama Kim Taeyeon di mesin pencari. 

Mataku melebar, mulutku terbuka. 

 

Kim Taeyeon, CEO muda Kim Enterprise. 

 

Kim Taeyeon, pengusaha tersukses kedua di Negara Korea Selatan. 

 

Kisah asmara CEO muda Kim Taeyeon tahun ini. 

 

Karir Kim Taeyeon dari tragedi 9 tahun silam sampai sekarang. 

 

Dan beberapa artikel lain yang sudah kubaca. Aku tertawa pelan. Ini pasti lelucon. Taeyeon sudah mati bukan? Artikel ini pasti salah. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Semua artikel itu bohong! Kim Taeyeon tidak mungkin hidup lagi dan aku tidak mungkin menolongnya saat itu! Pandanganku semakin lama semakin kabur dan akhirnya. Aku tak bisa melihat apapun kecuali gelap. 

 

 

***

 

 

“Tiff, kau benar-benar tidak apa ku tinggal?”

 

“Ne, gwaenchanha. Pergilah. Kau masih ada pekerjaan bukan?”

 

Gadis bermarga Jung menghela nafasnya dan mengangguk. Ia berdiri dan mengambil tas tangannya di meja. Jessica menatap mataku sebentar.

 

“Aku pergi. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menelfonku”

 

Aku mengangguk mengiyakan. Setelah itu gadis dingin itu keluar dari apartementku. Saat Jessica benar-benar pergi, kubaringkan tubuhku di ranjang berwarna pink favoritku. Sesekali memijat pelipisku. Kepalaku benar-benar sakit. Aku masih belum sepenuhnya percaya akan apa yang telah terjadi kemarin. Bagaimana bisa aku kembali ke waktu lampau? Bahkan saat itu aku belum pindah ke Korea.

Ku pejamkan mataku sejenak. Lebih baik aku tidur daripada memikirkan hal aneh itu. Bisa-bisa aku gila hanya karna memikirkannya.

 

“YA! KENAPA KAU BERISIK SEKALI HAH?!”

 

“BERISIK APA MAKSUDMU?! AKU HANYA BERTANYA SIAPA GADIS YANG KEMARIN ITU?!”

 

“ITU BUKAN URUSANMU!”

 

Aku menutup telingaku. Diluar berisik sekali. Kurasa tetangga di apartement ini tidak ada sepasang suami-istri atau kekasih yang tinggal bersama. Lantas suara tadi dimana asalnya?

 

“YA! AKU INI KEKASIHMU! BAGAIMANA BISA KAU BERKATA SEPERTI ITU?!”

 

“DIAM KAU?!”

 

Aaarghh~ menyebalkan! Itu benar-benar sangat mengganggu tidurku. Kubuka mataku dan keluar dari kamar. Saat akan membuka pintu kamar, aku merasa ada yang aneh. Ku balikkan badanku dan menatap tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku saat ini. Ini bukan kamarku. Kulihat sekali lagi dengan seksama. Tidak ada yang berubah. Ini memang bukan kamarku. Lalu dimana aku saat ini? Mataku memicing melihat sesuatu di meja samping ranjang.

 

2007

 

Di kalender tertera tahun 2007. Aku membuka mulutku tak percaya. A-Aku kembali lagi ke tahun ini? Ya Tuhan.

Kudengar suara derap langkah kaki menuju ke tempatku. Mataku membulat. Aish bagaimana ini? Kulihat jendela di kamar ini. Segera aku berlari ke arah jendela tersebut sebelum si pemilik apartement ini datang.

Omona! Ini tinggi sekali. Bagaimana aku bisa turun? Suara derap langkah kaki semakin mendekat. Aku tak punya pilihan lain.

Dengan memanjatkan seribu pujian aku turun dari kamar ini ke bawah.

 

BRAAAAK

 

Aish! Ini sakit. Walaupun dibawah terdapat tumpukan kardus, tapi ini tetap saja sakit. Tapi tak apa. Daripada ketahuan oleh si pemilik apartement itu.

Sekarang apa?

Aku menggelengkan kepalaku dan berjalan menuruti langkah kakiku. Sial! Kenapa aku kembali lagi kesini?

Aku melihat halte diseberang jalan. Lebih baik aku duduk disana saja.

 

“Daddy, aku harus bagaimana?” Kutatap langit diatas. Rasanya aku ingin menangis saja. Mengapa aku diombang-ambingkan dengan waktu? Apa hanya aku saja yang merasakannya?

 

“Aigoo, gadis malang. Baru saja keluarganya meninggal, ia sudah harus mengurus perusahaan sebesar itu”

 

Aku mendengar ucapan ahjumma di samping tempatku duduk.

 

“Siapa yang ahjumma bicarakan?” tanyaku penasaran. Ahjumma itu menengok ke arahku. Ia menurunkan kacamatanya saat melihatku.

 

“Kau bukan orang Korea asli?” tanya Ahjumma itu memicing.

 

“N-Ne” jawabku gugup. Ahjumma itu menaikkan kacamatanya lagi.

 

“Pantas. Wajahmu berbeda. Aku sedang membicarakan Kim Taeyeon tadi” ucap Ahjumma itu.

 

“K-Kim Taeyeon?”

 

“Ne. Kau tahu Kim Taeyeon, bukan? Gadis itu. Padahal ia masih sangat muda untuk merasakan hal-hal yang belum harus ia rasakan. Ditambah lagi dengan menghilangnya saksi mata saat kejadian aksi pembunuhannya”

 

Kulebarkan mataku mendengar ucapan Ahjumma tadi. S-Saksi mata? Kim Taeyeon? Aku mengingat lagi kejadian kemarin. Hari itu hanya aku yang melihatnya pertama kali saat ia terbaring di rooftop. A-Apakah aku saksi matanya? Ya ampun, kalau seperti itu aku pasti akan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Mereka pasti akan menanyaiku macam-macam. Termasuk dimana tempatku tinggal dan keluarga. Padahal aku tidak tahu apapun disini. Dan juga sekarang bulan Juli ditahun ini. Aku belum pindah ke Korea, dan masih di Amerika. Aku harus bagaimana sekarang?

Apa aku harus menemui Jessica? Tapi, dia tidak akan mungkin mengenalku. Aku belum pindah kesini dan itu berarti aku belum berteman dengan Jessica. Aaargh~ ini membuatku pusing!

 

“Oh agassi. Kenapa kau memakai baju seperti itu? Omo! Apa kau pasien yang melarikan diri?”

 

Aku menaikkan sebelah alisku. Kulihat pakaian yang kukenakan. Ini adalah baju tidurku. Ya meskipun terlihat seperti baju pasien rumah sakit.

 

“Agassi. Kau harus kembali ke rumah sakit!”

 

“Anio, aku bukan pasien rumah sakit, ahjumma”

 

“Tidak. Kau pasti pasiennya. Ayo kau ikut denganku kerumah sakit!”

 

Ahjumma itu menarik tanganku. Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya, namun tenaga ahjumma itu terlalu kuat. Dengan pasrah, aku mengikuti kemauan ahjumma itu. Ia membawaku kerumah sakit yang ia kira tempat ku dirawat. Saat tiba di depan pintu rumah sakit, aku menghentikan langkah kami.

 

“Sudah ahjumma mengantarku disini saja”

 

“Anioo. Nanti pasti kau akan kabur lagi”

 

“Aku tidak akan kabur lagi ahjumma. Aku berjanji”

 

“Jinjja?”

 

“Ne, ahjumma. Aku masuk dulu. Annyeong”

 

Aku segera berlari masuk kedalam rumah sakit. Entah apa yang akan kulakukan disini nantinya. Aku berjalan secara impulsif mengikuti kemana kakiku membawaku.

Saat tiba dikamar nomor 309 langkahku tiba-tiba terhenti. Aku memicingkan mataku melihat seseorang didalam karena pintu terbuka sedikit. Mataku melebar. B-Bukankah itu Kim Taeyeon?

Mata kami bertemu selama beberapa saat sebelum ia berteriak dan para bodyguardnya berlari keluar. Reflek, aku berlari menghindari kedua pria berjas itu. Namun langkah mereka terlalu cepat dan mereka akhirnya bisa menangkapku. Aku mencoba berontak, namun yang kurasakan hanyalah sakit karena mereka menahanku terlalu erat.

Dua pria berjas tadi membawaku ke kamar milik Kim Taeyeon.

 

“Kalian berdua keluarlah” perintah Kim Taeyeon pada bodyguardnya.

 

“T-Tapi Sajangnim…”

 

“Keluarlah. Nan gwaenchanha”

 

Kedua bodyguard tadi mengangguk dan menundukkan kepalanya tanda hormat lalu pergi dan menutup pintu kamar ini.

 

“Duduklah” perintah Kim Taeyeon. Aku hanya bisa menurut.

 

“Kenapa kau menghilang?” tanya gadis itu.

 

“Ne?”

 

“Kenapa kau menghilang setelah kejadian itu? Kau tahu kau kunci penting kasus pembunuhanku. Bagaimana kau ada di tempat kejadian waktu itu?” tanya Taeyeon bertubi-tubi. Aku menelan ludahku, tak tahu harus menjawab apa.

 

“A-Aku tidak tahu” ucapku lirih. Kutundukan wajahku tak mau melihat matanya.

 

“Tiffany-ssi”

 

Aku mendongak. Bagaimana ia tahu namaku? Aku sangat yakin tidak memberitahukan namaku padanya.

 

“Aku tahu dari pelayan waktu itu”

 

Seperti tahu apa yang dipikiranku ia menjawab. Aku hanya menganggukan kepalaku.

 

“Jadi? Kenapa kau melarikan diri? Kau tahu resiko jika melarikan diri? Kau bisa dituduh sebagai tersangka”

 

Aku tahu resiko saksi mata yang melarikan diri. Aku tahu itu. Tapi bagaimana bisa aku memberi pengakuan sedangkan aku sendiri tidak tahu dan kenal siapapun disini. Lagipula aku juga tidak tahu apa yang terjadi sebelum aku berada di tempat kejadian. Aku benar-benar tidak tahu apapun.

 

“K-Kim Taeyeon-ssi, bisakah kau menolongku? Kumohon sembunyikan aku. Jangan sampai polisi itu menangkapku. Aku punya alasan kenapa aku melakukan itu”

 

Taeyeon menaikkan sebelah alisnya. Ia menatapku dengan tatapan yang tak ku mengerti sama sekali.

 

“Alasan apa?”

 

“Kumohon. Aku tak bisa memberitahumu sekarang. Tapi aku janji akan mengatakannya”

 

“Katakan sekarang atau aku akan memanggil bodyguardku untuk membawamu ke kantor polisi”

 

“J-JANGAN! K-Kumohon jangan”

 

“Malhaebwa”

 

Kuhembuskan nafasku kasar. Lebih baik mengatakan itu daripada aku harus ke kantor polisi.

 

“Tapi berjanjilah padaku. Setelah aku mengatakannya kau tidak akan membawaku ke kantor polisi dan kau harus percaya dengan apa yang kukatakan. Ingat, aku sudah menyelamatkanmu Taeyeon-ssi”

 

Gadis pendek itu tertawa pelan mendengarnya. Ia mengangguk dan menatapku dengan senyuman khasnya. Aku menahan nafasku melihat senyumannya itu.

“Baiklah. Jadi apa alasanmu?”

 

Kutarik nafasku dalam dan menghembuskannya. Kuharap ia benar-benar percaya dengan apa yang kukatakan.

 

“Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang terjadj. Aku sedang bersembunyi di gudang dari kejaran ex ku. Kemudian tiba-tiba aku ada di tempatmu dan melihatmu terbaring dengan banyak darah di sekujur tubuhku. Dan yang paling penting, aku datang dari masa depan, tepatnya tahun 2016”

 

Taeyeon menatapku dengan wajah serius. Aku menelan ludahku melihat betapa seriusnya wajah cantik itu.

 

“Kau berbohong. Katakan dengan alasan yang logis, Tiffany-ssi”

 

“Aku tidak bohong!”

 

Aku mengingat sesuatu. Segera kurogoh saku bajuku dan mengambil benda kotak canggih milikku dan menyodorkannya pada Taeyeon.

 

“Ikeo. Ini I-Phone 6s keluaran terbaru. Di Korea belum ada dan hanya di Amerika. Dan ditahun 2007 ini I-Phone masih belum secanggih milikku ini. Kau bisa mengeceknya! Ini keluaran tahun 2016. Kau tidak percaya?”

 

Taeyeon mengamati ponsel milikku dengan seksama. Aku membiarkannya. Kuharap ia akan percaya.

 

“Kau pasti sudah memesan itu sebelumnya”

 

Aku menundukan kepalaku. Ia masih tidak percaya.

 

“Apa yang harus kulakukan agar kau percaya, Taeyeon-ssi?”

 

“Aku mencoba untuk mempercayaimu. Tapi aku merasa itu tidak masuk akal”

 

“Aku juga, Taeyeon-ssi! Aku masih tidak percaya dengan ini semua. Tapi memang itulah kenyataannya!”

 

Taeyeon menghela nafasnya. Gadis itu memejamkan matanya.

 

“Tiffany-ssi, kau bilang kau dari masa depan?”

 

Aku tidak tahu ke arah mana pembicaraan ini berlangsung. Ucapannya terdengar sangat serius. Entah kenapa aku jadi gugup.

 

“N-Ne”

 

“Bagaimana aku?”

 

“Ne?”

 

“Bagaimana aku di masa depan?” tanyanya. Matanya menatap tepat di bola mataku. Aku merasa tersesat oleh mata kecoklatan miliknya.

 

“K-Kau…”

 

Sebelum aku menjawab pertanyaan Taeyeon, kurasakan di sekelilingku berangsur memudar. Lama kelamaan pudaran itu berubah menjadi jelas dan- nampaklah ruangan berwarna pink, kamarku.

Ku kerjapkan mataku untuk memastikan ruangan di sekitarku. Ini memang benar kamarku. Kulihat jam di meja samping ranjangku, 08.49 KST. Padahal aku yakin terakhir kali melihat jam adalah 08.47 KST. Kenapa cepat sekali? Jika dihitung, aku berada di waktu lampau sekitar 3 jam dari apartement, halte, dan rumah sakit. Jika di total kira-kira sudah tiga jam berlalu. Kenapa disini baru 2 menit? Aigoo ini benar-benar tidak masuk akal. Kepalaku berdenyut sakit sekali. Kuharap saat tidur nanti aku tidak berada di waktu lampau lagi.

 

 

***

 

 

Setelah kejadian dimana aku bertemu Kim Taeyeon tiga hari yang lalu. Aku tidak lagi terseret ke waktu lampau. Itu membuatku bernafas lega. Tapi aku juga sedikit penasaran dengannya. Apalagi aku menghilang saat ia bertanya padaku dan belum sempat kujawab. Ia pasti sangat bingung kenapa aku menghilang begitu saja. Ah untuk apa memikirkannya. Toh, itu tidak penting buatku.

 

“Tiff, kau dipanggil si monyet sialan” kata Jessica

 

“Arrasseo”

 

Aku men-save hasil kerjaku dan mematikan laptopku. Kubereskan sedikit meja kerjaku, kemudian pergi menuju ruangan Mr. Jang.

Ada apa si monyet sialan itu memanggilku? Kuharap aku tidak menerima kultumnya karena memang aku tak merasa memiliki kesalahan.

 

“Annyeong Mr. Jang. Anda memanggilku?” tanyaku sopan.

 

“Duduk” jawabnya dingin.

 

Aku menurut dan duduk di kursi didepannya.

 

“Aku memanggilmu kesini karena kau akan di mutasi”

 

“M-Mutasi?”

 

“Ne, kau dimutasi. Kau akan bekerja menjadi sekertaris Ms. Kim mulai besok”

 

“Kenapa harus aku?” tanyaku sedih. Sudah banyak yang kulalui untuk mendapat posisi manager disini kenapa aku harus jadi sekertaris? Bukan apa-apa. Aku hanya tak terlalu suka ada yang menyuruh-nyuruhku. Meski di perusahaan ini Mr. Jang sering menyuruhku, tapi aku bisa melemparkan tugas pada karyawan dibawahku. Tapi kalau sekertaris? Aku tak yakin bisa menyuruh seseorang untuk membantuku disana.

 

“Jangan mengeluh. Menjadi sekertaris Ms. Kim di perusahaan raksasa milik dia adalah hal yang bagus. Tidak sembarang karyawan yang bisa bekerja disana, apalagi sekertaris Ms. Kim. Aku tak mau mengakui ini, tapi kinerjamu semakin membaik dari bulan ke bulan, makanya kau dimutasi kesana”

 

Aku masih menunduk. Walaupun mungkin aku layak untuk mendapatkan posisi itu, tapi berarti aku harus berpisah dengan Jessica. Padahal hanya dia temanku disini.

 

“Ne, Mr. Jang” ucapku lemah.

 

“Baiklah. Kau boleh keluar. Ingat, ini hari terakhirmu disini. Jangan lupa bereskan barang-barangmu setelah selesai bekerja. Ikeo alamatnya”

 

Aku mengambil kertas yang diberikan Mr. Jang lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu. Wajahku masih murung. Aku duduk di kursi tempatku bekerja dengan lesu. Jessica menyadarinya dan bertanya padaku.

 

“Kau kenapa, Tiff?”

 

“Aku dimutasi, Jess”

 

“WHAT? ARE YOU KIDDING ME?”

 

“No. I’m so damn serious. Mr. Jang told me”

 

“Aish! Di perusahaan mana kau akan bekerja?”

 

“Kim Inc. Aku jadi sekertaris CEO disana”

 

“WHAT? KAU JADI SEKERTARIS SEORANG KIM TAEYEON?!”

 

Aku mengangguk lemah. Alisku terangkat satu. Tadi Jessica bilang apa? Sekertaris Kim Taeyeon? Aku tertawa pelan mendengarnya.

 

“WHAT?!” teriakku keras. Mataku melebar tanda tak percaya.

 

Sekertaris Kim Taeyeon? Aish! Aku harus bagaimana? Belum kelar masalahku dengannya di masa lampau dan aku harus bertemu dengannya di masa kini? Oh betapa bahagianya hidupku ini. Aku tertawa keras menyadari betapa gilanya hidupku. Jessica menatapku aneh. Aku tak peduli dan tetap tertawa. Ini akan menjadi hari terpanjang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

Nih gw cicil repost buat yg masih pgn lanjut wkwk.

Sweet Love nanti malem publish nya.

Enjoy~

Pai pai~ see u next chap