Lipbalm (Drabble)

Title : Lipbalm

Main Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung

Sub Cast : TaeNy

.

.

.

Happy reading~

 

Liburan musim panas Yuri habiskan hanya didalam apartemen miliknya dan Jessica. Sebenarnya gadis tanned itu bosan, namun apa yang bisa dilakukannya sementara kekasihnya yang pemarah dan manja melarangnya? Dia tidak akan berani keluar kalau tak mau kepala atau pipinya memar akibat pukulan sang Ice Princess. Jessica memang ringan tangan, tapi itu semua tidak merubah semua kecintaan Yuri padanya. Yuri tau Jessica juga sangat mencintainya. Hanya saja perlakuan kasarnya terhadap Yuri merupakan bentuk kasih sayangnya mungkin.

Hari ini Yuri berbaring malas-malasan di karpet ruang tengah apartemennya. TV dibiarkan menyala tanpa sedikitpun gadis itu menontonnya. Dia meraih ponsel berlogokan apel tergigit miliknya dan mengetikan sesuatu, namun ia urungkan kembali pesannya. Mulai mengetik kembali, lalu ia hapus. Mengetik, hapus. Begitu seterusnya sampai dia merasa lelah. Namun setelah berfikir lagi, dia menemukan kata yang sesuai dan mengetikannya di layar ponselnya.

To : Kim Midget

Taeng, aku tau semalam kau dicampakan Tiffany. Ke apartemenku sekarang. Jessica melarangku keluar. 

 

Cukup lama Yuri tak mendapat balasan. Namun di detik terakhir dari menit ke sepuluh, sebuah notifikasi terdengar di ponselnya. Yuri membuka dan membacanya.

From : Kim Midget

Sialan kau, Yul. Ini semua gara-gara kau tahu. Baiklah, aku akan kesana lima belas menit lagi. Lagipula Tiffany masih marah padaku.

 

Yuri tertawa sendiri membaca balasan dari sahabatnya, Taeyeon. Semalam mereka sedang double date dengan pasangan masing-masing. Saat para wifey sedang kebelakang untuk mengurusi urusan mereka, Yuri menantang Taeyeon untuk mendekati wanita yang duduk sendirian di meja seberang dan meminta nomor teleponnya. Jika berhasil, Yuri akan membelikannya PS Vita keluaran terbaru. Tentu saja Taeyeon tak mau menyiakannya. Apalagi seluruh set game miliknya telah ludes dijual kekasihnya karena Tiffany sangat membenci Taeyeon dengan segala game yang dimilikinya. Tawaran Yuri begitu menggiurkan. Dan jadilah malam itu Taeyeon mendekati wanita itu untuk mendapat nomor teleponnya. Alangkah sialnya, Tiffany melihat itu semua dan- BOOM! Perang dunia ke-3 terjadi!

Yuri masih merasa geli dengan kejadian semalam saat Tiffany menarik telinga Taeyeon dengan keras.

Saat sedang bahagia dalam pikirannya akan Taeyeon, Yuri melihat Jessica yang duduk diatas sofa dengan membawa lipbalm. Yuri bangkit dari tidurnya dan ikut duduk disebelah kekasihnya. Jessica dengan wajah datarnya mengoleskan lipbalm di bibir mungilnya.

“Baby, kau sedang apa?” tanya Yuri.

“Mengoleskan lipbalm.” Jawab Jessica sekenanya.

“Mengoleskan lipbalm untuk?”

Jessica menghela nafasnya. “The weather is dry, seobang. Do you want to put some on?”

Yuri berpikir sejenak. Tiba-tiba ide jahil muncul di otaknya. Dia meraih pipi Jessica dan mendekatkan wajahnya. Diciumnya bibir mungil kekasihnya yang terkejut dengan perlakuan Yuri yang tiba-tiba ini. Wajah Jessica memerah.

“I put some on.” Ujar Yuri dengan wajah tak berdosanya.

Jessica benar-benar malu dan terkejut dengan kejadian tadi. Dia memukul kepala Yuri lumayan keras hingga timbul benjolan diatasnya. Jessica lalu berlari ke arah kamarnya, meninggalkan Yuri yang masih bertahan dengan senyum bodohnya tadi.

Dia tak sadar Taeyeon melihatnya dan tengah menahan tawanya di depan pintu apartement.

“Satu sama, Yul.” Ucap Taeyeon dan berjalan mendekati Yuri dengan wajah konyolnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selingan hwahaha. Update nya mgkn seminggu kedepan coz mulai menyibukkan diri sm pelajaran :v

Ini diadaptasi dr manhua tp ak modifikasi sedikit. Ini jg prnah ak post di wp lama so yg prnah baca yaa begitulah.

Oke bye see u next fic~

No Secret (Chapter 1)

Title : No Secret

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : Gender bender

Author : Jung Ri Ha

.

.

.

Jam berhasil menunjuk angka sepuluh. Masih cukup bisa dikatakan pagi. Sayup-sayup terdengar suara gaduh di sekitar pintu masuk kantin Universitas Yeolsan. Di jam seperti ini kantin memanglah ramai. Tapi ramai kali ini berbeda. Hampir semua penghuni kantin disana mendapatkan fokus terhadap seseorang yang baru saja tiba disana.

“Bisakah kau menghentikan mereka?” tanya gadis yang mendapat tatapan penghuni kantin pada temannya.

“Hentikan saja sendiri. Sudahlah aku lapar.” Gadis yang ditanya melenggang masuk kedalam tanpa menghiraukan bisikan-bisikan dan tatapan mahasiswa disana.

Gadis itu melihat seseorang yang dikenalnya dan menarik tangan temannya.

“Syong-ah!”

Pria yang merasa namanya dipanggil membalikkan tubuhnya dan melihat gadis yang ia kenal tersenyum menyapanya.

“Ah, Sica! Kemarilah. Aku baru saja akan bergabung dengan teman-temanku.”

Gadis yang dipanggil Sica mengangguk dan mengikuti Sooyoung dibelakangnya. Tak lupa tangannya masih menarik tangan sahabatnya. Mereka bertiga sampai di meja yang sudah berisi beberapa orang dan menyapanya.

“Hei, bolehkah kami bergabung?” tanya Sooyoung.

“Seperti tidak biasanya saja, Soo.” jawab pria berkulit tan pada sahabatnya.

Sooyoung nyengir kuda. Dia mulai duduk disana dan menatap sahabat-sahabatnya dengan tatapan yang membuat mereka geli.

“Biar kutebak, kalian pasti tidak mengenal mereka. Apa aku benar?” tanya Sooyoung dengan menunjuk kedua teman wanitanya.

“Tentu saja tahu. Aku ini kan ketua kelas.” jawab gadis mungil berwajah imut pada Sooyoung.

Sooyoung mengangkat bahunya. Dia melirik ke arah pria yang sedikit lebih pendek darinya yang terkenal dingin dan angkuh itu.

“Tapi aku tak yakin midget satu itu tahu.”

Pria pendek itu meletakkan ponsel yang digenggamnya ke meja cukup keras, cukup membuat orang yang ada disana terdiam.

“Tujuanku kesini untuk makan.” ungkapnya dingin.

“Ayolah, Tae. Kau tidak asik, tahu!” rengek Sooyoung yang dibalas tatapan tajam oleh Taeyeon.

“Hentikan. Cepat pesan makanan sekarang!” Jessica berbicara pelan, namun intonasinya terkesan dingin dan tajam yang mampu membuat mereka terdiam kikuk, terkecuali Taeyeon pastinya.

“Aku tahu mereka. Tiffany Hwang dan Jessica Jung. Apa itu cukup?” Taeyeon akhirnya membuka suaranya yang dibalas tatapan tak percaya oleh mereka bertiga.

“Daebak! Kukira kau tak tahu mengingat seberapa dingin, angkuh dan ketidakpedulianmu.” ucap pria tan kagum.

“Kuanggap itu pujian. Terimakasih.” balas Taeyeon dengan intonasi datar.

“YAH!”

“Sudahlah cepat pesan makanan, tiang!” teriak si mungil Sunny.

Tiffany menatap Taeyeon dalam diamnya. Dia penasaran seberapa dinginnya Taeyeon itu. Apa dia bisa mencairkan es dalam diri Taeyeon? Entahlah.

***

Taeyeon, atau lebih tepatnya Kim Taeyeon. Dia merupakan putera semata wayang dari salah satu chaebol di Korea Selatan. Tidak ada yang tahu seberapa kayanya orangtua Taeyeon. Namun yang jelas, Taeyeon tak terlalu peduli dengan itu semua.

Dikenal dengan orang yang sangat dingin dan tertutup, Taeyeon menjadi tak memiliki teman banyak. Hanya ada empat orang yang mampu menembus benteng pertahanan Taeyeon dan bersyukur mereka masih bersahabat hingga saat ini. Mereka adalah Choi Sooyoung, putera rektor Universitas Yeolsan sekaligus pemiliknya. Sooyoung adalah orang yang super ramah, berbeda dengan Taeyeon. Sifat mereka pun sangat bertolak belakang. Entah apa yang membuat mereka betah bersahabat.

Yang kedua adalah Lee Sunny, puteri dari pengusaha elektronik dan pangan yang cukup terkenal. Gadis mungil itu sangatlah ramah, sama seperti Sooyoung. Dia juga sangat peduli pada Taeyeon. Orang-orang mungkin akan berpikiran jika Taeyeon dan Sunny merupakan sepasang kekasih. Namun tidak. Mereka hanya saling menyayangi satu sama lain karena sudah cukup lama bersahabat. Sama seperti ketiga temannya yang lain.

Yang ketiga adalah Kwon Yuri, putera seorang jenderal polisi di Seoul dan memiliki beberapa perusahaan desain yang dikelola oleh Ibu dan kakaknya. Yuri adalah pria tampan dan sexy dengan kulit kecoklatan dan tubuh atletisnya. Membuat banyak mahasiswi menggilai seorang Kwon Yuri dan rela memberikan apapun untuknya agar bisa berkencan dengannya.

Dan yang terakhir adalah seorang gadis yang sangat mengerti Taeyeon. Mereka berdua layaknya perangko. Dimana ada Taeyeon pasti ada gadis itu. Dia juga merupakan puteri seorang pemilik perusahaan konstruksi yang sudah memiliki cabang di dalam maupun luar negeri. Sama seperti Taeyeon, gadis itu juga puteri semata wayang. Cukup Taeyeon sesali bahwa keadaan mereka saat ini telah berbeda karena suatu sebab.

“Ri Ha…” gumam Taeyeon.

Saat ini dia tengah berbaring di ranjang king size nya dengan memegang ponselnya yang menampilkan ID Caller disana. Dia mendiamkannya hingga panggilan tersebut mati. Namun tak berselang lama, kembali terdengar sebuah panggilan di ponselnya. Sama seperti sebelumnya, Taeyeon mengabaikannya dan hanya menatap nanar. Begitu seterusnya sampai Taeyeon melihat sebuah notifikasi pesan dan membukanya.

ANGKAT TELFONKU BODOH!

Taeyeon menghela nafasnya pelan. Dia melihat ponselnya kembali berdering. Taeyeon sedikit berdehem sebelum mengangkat panggilan tersebut.

“Kenapa lama sekali mengangkat telfonku, hah?” Taeyeon sedikit menjauhkan telinganya karena teriakan gadis itu.

“Kau sedang apa?” jawab Taeyeon dengan balas bertanya.

“Jawab pertanyaanku, Kim.”

“Mianhae, aku habis bangun tidur tadi.”

Hening.

“Kau marah?” tanya Taeyeon.

“Ani. Ku kira kau mengacuhkanku.”

“Kau sedang apa?” Taeyeon mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Memikirkanmu hehe.”

Taeyeon tertawa pelan. “So cheesy.”

“Ya ya ya whatever.”

Dan malam mereka berlanjut hingga salah satu dari mereka terpaksa menutuskan sambungan telepon karena mengantuk.

***

Taeyeon meraih ponselnya dan mulai fokus terhadap benda kotak canggih itu. Di depannya terdapat dua wanita cantik yang menjadi pusat perhatian mahasiswa Yeolsan.

“Yang semalam, jadi kau bisa ikut latihan kan, Taeyeon?” tanya gadis bermata bulan sabit.

“Ne, akan kuusahakan.” jawab Taeyeon singkat.

“Ya! Apa ponselmu itu lebih menarik daripada kami?” tegur Sunny.

“Aku sedang main game.” balas Taeyeon datar.

“Ah, sepertinya aku akan ikut latihan, Tiffany-ssi.” ucap Taeyeon tiba-tiba dan menatap Tiffany dengan sedikit senyum. Ingat, ‘sedikit’.

Sunny mengerutkan keningnya. “Kalian pacaran?”

Taeyeon menaikkan satu alisnya sedangkan Tiffany menatap Sunny dengan deathglare-nya yang sayangnya tak mempan untuk seorang Sunny Lee.

“Apa yang kau maksud?” tanya Taeyeon. Ekspresinya tetap tenang.

“Ah tidak tidak. Jarang saja kau mau menunjukan senyummu itu. Kukira kalian ada sesuatu.”

Taeyeon menghela nafasnya. “Shim ssaem sudah masuk. Jadi balikkan tubuhmu sekarang.”

Sunny membalikkan tubuhnya. Ternyata benar, dosen mereka sudah masuk. Mereka pun mengikuti kelas dengan hening. Beberapa jam kemudian kelas bubar. Semua mahasiswa disana berhamburan keluar kelas untuk makan siang, tak terkecuali Taeyeon, Tiffany, dan Sunny.

“Kalian duluan. Aku masih ada urusan.” ucap Taeyeon pada kedua gadis tersebut.

“Arrasseo. Jangan lupa makan.” pesan Sunny.

Taeyeon tak menghiraukannya dan langsung berjalan berlawanan arah. Tak lupa memasangkan earphone di telinganya. Menambahkan kesan cool tanpa menghiraukan decak kagum dan tatapan memuja para gadis yang melihatnya. Taeyeon memang pria tampan sekaligus cute di kampusnya. Tak heran banyak yang menggilai Taeyeon.

BUKK

Taeyeon memandang seseorang yang baru saja menabraknya hingga makanan yang dibawanya tumpah. Pria di depan Taeyeon berdecak dan berlutut untuk mengambil makanannya.

“Jangan dipungut. Itu kotor!” ucap Taeyeon datar.

“Lalu aku harus bagaimana? Makananku tumpah dan itu gara-gara kau!” omel pria itu.

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Kau tidak lihat pakaianku juga kotor?”

Taeyeon mendesah sebelum meraih dompet di sakunya dan mengambil beberapa lembar won. Dia lalu menarik tangan pria itu dan menyerahkan uang tersebut padanya.

“Ambil itu dan belilah yang baru.” kata Taeyeon, masih dengan intonasi datarnya.

Setelah mengatakan itu, Taeyeon berlalu dari hadapan pria tersebut yang masih diam di tempat. Pria itu melihat banyak mata yang menatapnya dan berbisik. Dia meremas uang tersebut dan berbalik. Menarik baju belakang Taeyeon hingga berbalik tepat dihadapannya kemudian melempar uang tersebut, tepat di wajahnya.

Taeyeon mengepalkan buku-buku jarinya dan memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya yang siap meledak kapan saja.

“Kau pikir kau siapa? Jangan kau pikir aku tak mampu membeli makanan itu lagi!”

Taeyeon menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dari dulu tidak ada yang membentaknya. Hari ini pengecualian. Sayup terdengar bisikan dari mahasiswa disana yang tertangkap jelas oleh Taeyeon.

“Waah siapa dia? Apa dia tidak tahu yang berhadapan dengannya itu Kim Taeyeon?”

“Pria itu cari mati!”

“Kudengar dia mahasiswa pindahan, wajar kalau dia tidak tahu siapa Kim Taeyeon.”

“Ya Tuhan bagaimana nasib pria itu selanjutnya?”

“Ckckck dia menggali lubang kuburnya sendiri.”

Dan bisikan-bisikan lain yang Taeyeon tak pedulikan sama sekali.

Taeyeon melihat sahabat-sahabatnya tengah menatapnya. Dia lalu melepas genggaman pria itu di bajunya dengan kasar. Dia menatap tajam pria itu.

“Ambil kembali jika kau tak mau menerimanya.” ucap Taeyeon pada akhirnya.

“Ambil saja sendiri.” balas pria itu. Sepertinya dia benar-benar ingin membuat Taeyeon marah.

“Kubilang ambil kembali!” teriak Taeyeon membuat pria didepannya menyeringai.

“Never.” balas pria itu dengan senyum mengejek.

Taeyeon geram.

“Jika kau tidak mau mengambilnya, setidaknya kembalikan dengan cara yang sopan!”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” tantangnya.

Taeyeon tertawa pelan. Dia menatap pria itu dengan rendah. Dia melihat name tag di jas yang dikenakan pria itu.

“Kuharap kau tidak menyesal, Oh Jung Ho-ssi.”

“Memangnya kau mau apa, hah?”

Taeyeon memiringkan kepalanya dan mengerutkan keningnya berpura-pura berpikir. Dia kemudian menganggukan kepalanya pelan. “Aku mungkin bisa saja mengeluarkanmu dari sini. Jadi sebelum itu, kembalikan uang itu dengan cara yang sopan.”

Pria bernama Oh Jung Ho tertawa pelan. “Silakan saja. Aku tidak takut.”

Taeyeon menatap nanar Jung Ho dan meraih ponselnya lalu mengetikkan beberapa kata disana.

Sooyoung yang melihatnya dari jauh sudah menebak ini akan terjadi. Selang tak lama ponselnya bergetar. Dia tahu siapa yang mengiriminya.

“Appa pasti akan marah karena Taeyeon mengeluarkan mahasiswa lagi.” ujar Sooyoung lalu menghela nafasnya. Namun dia juga tetap melaporkan ini pada Ayahnya agar pria bernama Oh Jung Ho dikeluarkan darisini.

Tak lama kemudian terdengar bunyi pengumuman dari speaker. Taeyeon menyeringai pelan.

“Mahasiswa atas nama Oh Jung Ho diharapkan untuk menghadap rektor sekarang juga.”

Taeyeon tersenyum puas. “See?”

Oh Jung Ho mengepalkan tangannya. “Akan kubalas kau!”

“Silakan saja.”

Jung Ho berbalik dan melangkahkan kakinya untuk menghadap rektor. Tapi sebelum itu Taeyeon mencegatnya.

“Jamkkanman!” teriak Taeyeon membuat Jung Ho membalikan badannya.

Dia melihat Taeyeon meraih makanan yang tumpah tadi dengan wadahnya. Kemudia menyeringai pelan pada Jung Ho lalu menumpahkan makanan tersebut ke atas kepala Jung Ho. Membuat pria itu kesal bukan main.

“Kau…” ucapnya pada Taeyeon yang mengangkat bahunya seolah merasa tak bersalah.

“Aku hanya memberi balasan kepada seseorang yang tak sopan.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon berbalik dan melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Oh Jung Ho dan keramaian disana dengan santai.

Sunny yang melihatnya menghela nafasnya pelan. “Sudahlah. Ayo kita ke kantin. Kau bilang kau lapar, Soo.”

“Rasa laparku hilang karena midget satu itu.” ucapnya dramatis.

“Halah berlebihan. Kajja!” Yuri merangkul Sooyoung dan membawanya ke kantin. Tak lupa dibelakangnya Sunny mengekor.

Saat berada di kantin, mereka bertiga melihat Tiffany dan Jessica.

“Hey.” sapa mereka. Tiffany dan Jessica berbalik dan menemukan Sunny, Sooyoung, dan Yuri. Tiffany mengerutkan keningnya karena tidak ada Taeyeon.

“Oh hai. Dimana Taeyeon?” tanya Jessica.

“Dia pergi tadi. Sepertinya ada urusan.” jawab Yuri yang entah mengapa membuat Tiffany kecewa.

“Kalian sudah pesan?” tanya Sunny.

“Ne. Bora dan Hyomin yang memesannya.” jawab Tiffany.

Mereka berlima pun mencari tempat untuk mereka duduk sembari mengobrol selagi menunggu pesanan mereka sampai.

 

In other place

“Jadi, apa aku boleh ikut klub basket?” tanya Taeyeon pada pria disampingnya yang dibalas tawa pelan.

“Kau lucu, Taeng. Tanpa meminta pun kami dengan senang hati menerimamu.” jawab pria yang diketahui sebagai kapten tim basket.

“Kalau begitu, aku boleh menggunakan lapangan kapan saja?” tanya Taeyeon lagi.

Sang kapten tersenyum pelan dan mengangguk. “Tentu saja.”

“Baiklah. Aku harus pergi, sebentar lagi kelas dimulai.” ucap Taeyeon datar.

“Hmm, senang bisa jadi teman tim mu.” ujar sang kapten.

Taeyeon tersenyum simpul, kemudian meninggalkan sang kapten dan pemain lain yang sedang latihan sebelum Taeyeon datang.

.

.

Kelas telah berakhir. Para mahasiswa keluar kelas untuk pulang dan mengistirahatkan tubuh dan otaknya setelah menerima materi yang cukup membuat pening. Terkecuali Taeyeon.

“Sunkyu-ya, aku ada latihan drama. Kau pulanglah dengan Syong, ne?” pinta Taeyeon seraya melihat jam tangannya.

“Ne.” ucap Sunny tanpa melihat Taeyeon. Pria itu melirik Sunny sebentar.

“Aku pergi.” Setelah itu Taeyeon melangkahkan kakinya ke aula tempatnya latihan.

Universitas yang Taeyeon tempati merupakan Universitas khusus seni. Semua jurusan yang berhubungan dengan seni ada di dalamnya. Taeyeon dan Sunny satu kelas. Mereka mengambil jurusan musik, sedangkan Sooyoung dan Yuri mengambil jurusan lukis. Meskipun Taeyeon mengambil jurusan musik bukan berarti dia tidak mempelajari drama dan sebagainya.

Langkah Taeyeon terhenti di depan pintu aula. Dia memutar knop dan membuka pintu besar tersebut dengan pelan. Kemudian mulai masuk kedalam.

“Apa aku terlambat?” tanya Taeyeon santai seraya meletakan tasnya dibawah lantai.

“Ani. Kami baru saja akan mulai.” jawab Hyomin yang memang ada disamping Taeyeon.

“Okay guys, kita mulai sesuai dengan peran dan tugas masing-masing. Come on!” seru Tiffany kepada teman-temannya.

“Kita mulai sekarang?” tanya Taeyeon. Tiffany mengangguk.

Mereka pun mulai menempati posisi masing-masing.

“Berani-beraninya kau, Montague! Aku akan menghukummu! Lihat saja. Dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu!” ucap salah seorang wanita yang menjadi ibu Juliete.

“Kenapa jadi seperti sailor moon?” celetuk salah seorang yang melihat mereka. Sontak membuat gelak tawa orang-orang yang ada disana. Termasuk Taeyeon. Semua orang berhenti tertawa dan melirik ke arah Taeyeon. Sungguh hal langka melihat tawa Taeyeon.

“Wae?” tanya Taeyeon datar dan dibalas gelengan oleh semua orang.

Kini giliran Tiffany yang berperan sebagai Juliete. Taeyeon melihat gadis bermata sabit itu dengan penuh perhatian, membuatnya gugup.

“Aku tak sabar melihat Taeyeon Sunbae menjadi Romeo.” celetuk salah satu wanita disana.

Taeyeon yang mendengarnya tersenyum tipis. Sangat tipis hingga tak terlihat seperti senyuman.

“Apa y-yang terjadi p-pada tuan Romeo dari keluarga Montague?” tanya Tiffany saat memerankan perannya dengan gugup.

“CUT!” potong Hyomin yang bertugas sebagai sutradara.

“Tiff, bersikaplah seperti Juliete!” kritik Hyomin dengan menunjukkan kertas naskah.

Tiffany menghela nafasnya dan mengangguk pelan. “Ne.”

“Sekarang giliran Romeo. Taeng, bersiap!” teriak Hyomin.

Taeyeon menganggukan kepalanya. Dia lalu berjalan dengan cool kedepan. Dia berdehem sebentar sebelum memulai dialognya.

“Action!” seru Hyomin.

“K-ku tak mengerti b-bagaimana ini…”

“CUT!” lagi-lagi Hyomin memotong.

“Taeng, hilangkan kegugupanmu. Tiff lanjutkan!”

Tiffany menghela nafas sebelum bersiap.

“Action!” seru Hyomin.

“Aku mengerti baga-…” “CUT!” potong Hyomin lagi.

“YA! Jangan bilang kau hanya ingin meneriakan kata ‘CUT’ saja ya?!” kesal Tiffany.

“Hehehe mian, Tiff. Aku hanya terbawa suasana menjadi sutradara sungguhan saja.” Hyomin nyengir kuda membuat Tiffany menghembuskan nafasnya kasar hingga membuat poni rambutnya tersibak ke atas.

“Eh tapi, Taeng. Kau harus lebih tegas lagi. Cobalah menjiwai sebagai Romeo sungguhan.” saran Hyomin.

Taeyeon mengangguk. “Ne. Akan kucoba.” Seperti biasa dengan nada datarnya.

Mereka pun memulai latihannya lagi hingga jam menunjukan hari mulai beranjak sore. Mereka akhirnya mengakhiri latihan mereka agar bisa beristirahat. Taeyeon mendekati Tiffany yang sedang membereskan tasnya.

“Fany-ah.” panggil Taeyeon. Tiffany berbalik dan melihat Taeyeon dibelakangnya. Sedikit terkejut memang.

“Ne, Tae.”

“Aku tahu kau gugup tadi. Begitu juga denganku. Bagaimana kalau kita latihan lagi.. berdua?” tawar Taeyeon.

Tiffany awalnya tak menyangka Taeyeon menawarinya berlatih bersama, mengingat seberapa dinginnya dia pada orang-orang selain dengan ketiga sahabatnya.

“Tiff?” panggil Taeyeon saat melihat Tiffany melamun.

“A-Ah n-ne tentu.” jawab Tiffany sedikit malu karena kepergok melamun. Apalagi seseorang yang dilamunkannya berada tepat didepannya.

“Geurae. Bagaimana kalau dirumahmu?”

“Jigeum?” tanya Tiffany.

“Kalau kau mau.”

“Arrasseo, jigeum. At my house.”

Setelah selesai membereskan barang-barang mereka, Taeyeon dan Tiffany segera keluar dari aula. Tak lupa pamit kepada teman-temannya yang masih tinggal disana.

Beruntung rumah Tiffany tak terlalu jauh dari kampus mereka. Cukup memerlukan waktu sepuluh menit menggunakan mobil. Mereka lalu turun dari mobil. Taeyeon melihat rumah yang cukup besar sebelum masuk kedalam, bersama Tiffany tentunya.

“Aku pulang.” seru Tiffany.

“Ah kau sudah pulang, sayang.” ucap Mommy Tiffany. Beliau menaikkan satu alisnya saat melihat pria muda dibelakang Tiffany. Begitupula Daddynya.

“Aaah, ini Taeyeon teman sa-…”

“Kekasihmu?” tebak Daddy Tiffany.

“Anio. Dia teman kelasku. Kami akan latihan drama.” terang Tiffany.

“Oh drama.” ucap Daddy dan Mommy nya bersamaan.

“Sebaiknya kau ajak Taeyeon makan malam dulu, sayang.” perintah Mommy Tiffany.

“Okay, mom. Aku keatas dulu untuk berganti baju.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany melenggang masuk ke kamarnya di lantai atas. Meninggalkan Taeyeon bersama kedua orangtuanya. Dengan terpaksa Taeyeon ikut bergabung dengan kedua orangtua Tiffany yang mulai menyanyakan ini itu padanya.

“Ah, jadi kau putera Kim Tae Woon?” tanya Daddy Hwang.

“Ne, majayo. Ahjussi kenal ayahku?”

“Tentu saja! Kami rekan bisnis.” ujar Daddt Hwang dengan kekehan.

“Kalian membicarakan apa?” tanya Tiffany yang tiba-tiba datang.

“Ah sesuatu hal random. Cepatlah ajak Taeyeon makan malam, Tiff.”

“Ne, mom. Ayo, Tae!”

Taeyeon sedikit menunduk pada orangtua Tiffany sebelum meninggalkan mereka berdua menuju meja makan. Dia dan Tiffany pun mulai makan dengan tenang.

Seusai makan, Tiffany membawa Taeyeon ke kamarnya untuk berlatih seperti yang mereka rencanakan sebelumnya.

“Akh mataku sakit!” teriak Taeyeon setibanya mereka di kamar Tiffany.

“Wae?” tanya Tiffany bingung. Dia melihat Taeyeon menutupi kedua matanya.

“Kenapa di ruangan ini berwarna pink semua? Ah tidak, mataku yang berharga.” ucap Taeyeon dramatis. Tiffany tertawa pelan dibuatnya.

“Kau lebih cocok jadi peran Austin Powers, Tae.”

“Mwo? Mana mungkin pria setampan diriku disandingkan dengan agen konyol seperti Austin!”

Tiffany tertawa lagi melihat Taeyeon yang kesal. Dia menepukkan tangannya tanda dia benar-benar merasa lucu dengan tingkah Taeyeon.

“Ya ya ya. Harusnya aku mendapat peran sekeren dan sekelas Jo In Sung.” Taeyeon mengerucutkan bibirnya.

“Jo In Sung? Pppffft-.. hahahahaha. Kau? Jo In Sung? Bwahahahaha.” Tiffany tak kuat menahan tawanya. Dia memegangi perutnya yang sakit karena terlalu keras tertawa. Taeyeon mendecakan lidahnya dan berjalan ke arah ranjang Tiffany dan mulai membaringkan tubuhnya berlawanan dengan Tiffany. Gadis itu menghentikan tawanya dan mengusap sudut matanya yang berair. Dia melihat Taeyeon dan mendekat.

“Tae? Kau marah?”

Tak ada jawaban dari Taeyeon.

“Taeyeon-ah.. Tae.. TaeTae..”

Taeyeon berbalik. “TaeTae?” ulang Taeyeon dengan mengerutkan keningnya.

“Wae?”

“Ani.” balasnya datar dan kembali memunggungi Tiffany.

“Aigoo uri TaeTae tengah merajuk, eoh?” goda Tiffany.

“Diamlah!”

Tiffany tertawa lagi. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa seorang Kim Taeyeon menunjukkan sisi lainnya saat bersamanya. Entah merasa senang atau tidak, tapi Tiffany merasa beruntung karena Taeyeon sudah mulai membuka dirinya pada Tiffany.

***

Saat ini Taeyeon bersama sahabatnya tengah berkumpul bersama di kantin setelah kelas pertama mereka berakhir.

“Semalam kau kemana, Taeng? Kata Abeonim kau tidak dirumah sejak pulang.” tanya Sooyoung.

“Latian drama.” jawab Taeyeon singkat. Pria imut itu dengan tenang terus menyuapkan nasi ke mulutnya.

“Drama? Bwahahahahaha.” Sooyoung tertawa keras setelah mendengar jawaban Taeyeon.

“Yaish! Berhentilah tertawa!” desis Taeyeon.

“Memangnya kau dapat peran apa, Taeng?” tanya Yuri.

“Romeo.” Singkat, padat, jelas, dan sukses membuat Sooyoung tertawa lebih keras. Taeyeon memutar bola matanya malas.

“Hahaha sejak kapan kau mau tampil di depan banyak orang setelah Ri Ha pergi?” tanya Sooyoung yang langsung mendapat glare dari Sunny dan Yuri.

BRAKK

Taeyeon menggebrak meja yang membuat seisi kantin terdiam. Termasuk Sooyoung yang langsung menyadari ucapannya. Dia menepuk bibirnya karena tak sengaja mengatakannya. Taeyeon berdiri dan langsung pergi darisana tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Aish, sudah kubilang topik Jung Ri Ha itu sangat sensitif untuk Taengoo!” Sunny memukul bahu Sooyoung.

“Mianhae. Aku tak sengaja.” Sooyoung menundukan kepalanya merasa bersalah.

Sunny bangkit dan menyusul Taeyeon untuk menenangkan pria yang sudah ia anggap sebagai Oppa nya itu.

 

“Hei disini kau rupanya.” sapa Sunny.

Taeyeon menengok dan melihat Sunny disampingnya. Mereka sedang ada di rooftop gedung seni lukis. Taeyeon biasa datang kesini jika tengah kesal. Maka darj itu Sunny tak sulit mencarinya.

“Perkataan Sooyoung tadi janganlah terlalu dipikirkan. Fokus saja dengan dramamu, hm?”

Taeyeon menghembuskan nafasnya pelan dan tersenyum kecut.

“Kau masih trauma dengan kejadian dulu?” tanya Sunny hati-hati.

Taeyeon menggeleng namun detik kemudian mengangguk lalu menggeleng lagi. Dia mendesah. “Khaah, aku berusaha melupakannya.”

Pegangan tangan Taeyeon di besi pembatas semakin menguat. Dia teringat kejadian itu lagi dan itu membuatnya merasa sesak.

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu.” Sunny memeluk Taeyeon dari samping.

“Kenapa dia meninggalkanku, Sunkyu-ya? Kau tahu aku menunggunya di atas panggung sendirian. Wae.. wae?” tanya Taeyeon pelan. Dia masih tidak bisa menerima mengapa Jung Ri Ha meninggalkannya waktu itu. Sunny hanya bisa menepuk punggung Taeyeon pelan dan menenangkannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Epep balu eciee hahaha. Moga suka ye. Ini salah satu ff req reader tuh.

@ten moga suka dan mengecewakan ye.

Btw sekali2 gw numpang tenar.jd cast di ff ndiri wakakaka

Bye~ see u next chap~

Sweet Love [Epilog]

Tittle : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Taeyeon mengusap kepala bagian depannya perlahan. Dia meringis pelan saat menyentuhnya. Dia lalu mengambil kain yang sudah berisi es dan mendekatkannya di kepalanya.

“Argh. Jenong sialan!” rintih Taeyeon sambil mengumpat.

 

1 jam sebelumnya…

Semua bagian tubuh Yuri bergetar. Terutama kaki dan tangannya. Saat ini dia sedang berada di sebuah salon yang sudah meriasnya. Hari ini adalah hari pernikahannya bersama Jessica. Wanita itu gugup bukan main. Awalnya dia sangat siap dan bersemangat. Namun begitu tiba di salon, wanita itu berubah menjadi gugup mengingat beberapa jam lagi dia akan mengucap janji suci bersama wanita yang dicintainya itu. Mungkin itu juga yang membuatnya memilih menggunakan salon sendiri dibandingkan merias dirinya di lokasi pernikahannya dengan Jessica.

“Yul, ayolah. Kita sudah terlambat. Jessica akan membunuhku kalau seperti ini.” rengek Taeyeon.

“T..T.. T.. Ta.. Taeyeon-ah, a.. a.. aku gugup.” ucap Yuri terbata. Dia menggigit bibir bawahnya.

Taeyeon menghela nafasnya. Dia lalu mengambil sesuatu di dalam tas ransel yang biasa dia bawa di mobilnya.

“Tenangkan dirimu dengan ini. Aku keluar dulu. Kalau kau sudah siap, panggil aku.” Taeyeon menyerahkan sebuah alkitab pada Yuri yang dibalas tatapan bingung dari Yuri. Namun begitu, wanita tan itu tetap mengambil alkitab dari tangan Taeyeon.

Setelah sedikit membacanya, Yuri mulai rileks. Dia lalu menghembuskan nafasnya panjang dan mengangguk mantap. Dia memanggil Taeyeon dan mereka segera berangkat menuju lokasi pernikahannya.

 

“YA! KENAPA KAU MEMBAWA YURI-KU LAMA SEKALI, HAH?!” teriak Jessica sembari tangannya memukul kepala Taeyeon bertubi-tubi.

“Aw aw aw Sica hentikan! Sakit!” Jessica tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus memukulnya.

“Nona Jessica, mohon bersiap.” kata seseorang yang Jessica tahu sebagai wedding organizer nya.

Jessica menghentikan pukulannya pada Taeyeon dan menatapnya tajam sebelum berlalu meninggalkannya. Jessica sedikit merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena memukul Taeyeon tadi. Dia menghela nafasnya pelan dan melanjutkan langkahnya keluar. Tiffany yang sudah melihat Jessica keluar segera menghampiri Taeyeon.

“Sakit?” tanya Tiffany yang dibalas anggukan oleh Taeyeon.

Tiffany menghela nafas dan mengecup kening suaminya. Dia juga mengusap pelan kepala Taeyeon yang dipukuli Jessica. Taeyeon meringis.

“Dia sedang PMS, Tae. Maklumilah.” ucap Tiffany lembut.

“Arrasseo. Berikan aku es untuk ini.” pintanya sembari menunjuk kepalanya. Tiffany paham dan segera keluar mencari kain dan es untuk Taeyeon.

 

Taeyeon keluar dari toilet, masih dengan menekan es di kepalanya. Dia melihat Tiffany di lorong dekat pintu yang menuju tempat pernikahan Yuri dan Jessica. Wanita itu berlari kecil mendekati Taeyeon.

“Mereka sudah resmi, Tae. Kau baik-baik saja? Apa masih sakit?” lapor Tiffany disertai bertanya kondisinya.

“Baguslah. Ani, ini masih sakit. Ppany-ah ayo kita pulang saja. Rasanya kepalaku remuk.”

Tiffany menggeleng pelan. “Setidaknya ucapkan selamat dulu kepada mereka. Sejak tadi kau sama sekali tidak melihat mereka, kan?”

Taeyeon menghela nafasnya dan menurunkan es di kepalanya. “Ne. Tapi dimana Yoong?”

“Yoong masih di dalam bersama Seohyun.” jawab Tiffany.

Mendengar nama Seohyun membuat Taeyeon tersenyum liar. Ingatannya kembali terngiang saat kembalinya dia dari rumah sakit. Saat itu Yoong menunggu mereka di depan rumahnya dan pingsan. Taeyeon merasa lucu mendengar alasan Yoong pingsan setelah wanita cantik itu siuman.

Seo Joo Hyun, wanita itu penyebabnya. Yoong mengaku sudah lama menyukai wanita itu. Dan saat itu sebelum pergi ke rumahnya untuk menyambut kepulangan Taeyeon, Yoong menemani Seohyun ke toko buku. Betapa terkejutnya dia saat Seohyun mengecup bibirnya dan mengucapkan terimakasih sebelum berlari kecil menuju rumahnya. Meninggalkan Yoong yang masih terdiam di tempat dengan jantung yang berdebar kencang. Dan beruntungnya Yoong mereka sudab official minggu lalu.

“Baiklah. Tapi aku ingin menemui Yul dan Sica saat acara selesai. Aku tidak mau masuk kedalam. Disana terlalu ramai.” kata Taeyeon.

“Lantas kau mau melakukan apa selama acara masih berlangsung?” tanya Tiffany bingung.

Taeyeon menyeringai. Dia menarik tangan Tiffany dan membawanya ke salah satu bilik toilet.

“Bagaimana kalau sedikit bermain, hm?”

Tiffany melebarkan matanya dan segera dibungkam oleh bibir Taeyeon di bibirnya sebelum wanita itu bereaksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kkeut! Selesai! Bye!

Ahaha~

See u next fic~ pupye~

[Clue Password] Sweet Love (Chapter End)

Goodbye for this fic muehehehe~

 

 

Oke yg penasaran sama akhir ff Sweet Love gw kasi bocoran a.k.a clue pw.

Cekidoot~

Kalian cukup jawab pertanyaan dibawah ini dengan tepat dan akurat hehew :

  1. Kapan ini lapak lahir? (Sebutin tanggal sama bulannya doang)
  2. DU.SP.SU.EE.ED.DU.EE.DD.SG.ED.SG.ID.EE ? (pikirin baik-baik itu kotak hehe)sandi-kordinat3. Tanggal 30 mei ada apa? (Ini pertanyaan terguampang. Yang sone tau lah pasti wkwk)

 

 

Yass kalo udah nemuin jawabannya semua digabungin lah tuh. Huruf kecil semua.

Yang masih belom paham bisa nanya ke email gw : noviaidafa05@gmail.com atau ke anak2 grup wa.

 

See ya~

Just TaeNy

Taeyeon menerawang jauh kedepan kaca jendela apartemennya. Dia melihat langit diatas dipenuhi awan abu-abu. Dia mendesah. Hari ini akan hujan lagi seperti hari-hari sebelumnya. Taeyeon sedikit melihat prakiraan cuaca di ponsel pintarnya bahwa Seoul akan dilanda hujan singkat disertai petir badai. Tak lama berselang, hujan pun mulai turun.

Taeyeon masih belum beranjak dari tempatnya. Hal yang dilakukannya sebagai peri rumah disaat hujan seperti ini biasanya adalah menggambar. Namun Taeyeon terlalu malas hanya untuk mengangkat pantatnya saja dari kursi. Sebab itu dia memilih tinggal dan lebih memilih melihat air yang mengguyur kota Seoul dari atas sana.

Tak jauh dari tempatnya duduk, wanita cantik ber-eyesmile berdiri dengan melipat kedua tangannya didepan dada. Dia melihat Taeyeon tanpa berniat mendekatinya. Stephanie Hwang, atau yang biasa dipanggil Tiffany mengerutkan keningnya saat melihat Taeyeon terkekeh pelan. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon yang melihat ke bawah, tepatnya di bawah apartemen mereka dari kaca jendela. Dia tak bisa melihat kebawah karena tempatnya berdiri membatasinya.

Setelah menimbang, akhirnya dia mulai berjalan mendekati Taeyeon. Tiffany bergerak tanpa membuat suara kecil yang bisa membuat Taeyeon menyadari keberadaannya. Setelah berada tepat di belakang Taeyeon, Tiffany bisa melihat apa yang Taeyeon tertawakan tadi. Dia juga ikut tersenyum. Dibawah sana ada dua orang remaja berlawanan jenis yang silih menyerahkan sebuah payung. Mereka bahkan tak menyadari bahwa tubuh mereka sudah basah karena terus saja bergantian menyerahkan payung. Akhirnya sang gadis menyerah dan meraih payung tersebut dan mulai pergi dari tempat anak laki-laki itu berdiri. Senyuman mengembang liar dari bibir sang anak laki-laki sebelum dia juga ikut pergi darisana.

“Cinta anak remaja memang menyenangkan, bukan begitu?” Tiffany terkejut. Dia menundukan kepalanya untuk melihat Taeyeon yang masih terus menatap keluar kaca jendela. Lalu bagaimana bisa dia menyadari keberadaannya? Tiffany yakin dia tak membuat suara sekecil apapun tadi.

“Aku hafal betul aroma tubuhmu, Fany.” ucap Taeyeon seperti tahu apa yang ada di pikiran Tiffany. Wanita itu mengangguk dan bergerak maju selangkah hingga persis berada disamping Taeyeon. Bedanya dia berdiri sedangkat Taeyeon duduk.

Mereka hanya diam untuk beberapa waktu kedepan. Tiffany sudah tidak tahan dengan kediaman yang Taeyeon buat. Tidak biasanya wanita yang lebih tua darinya itu lebih banyak diam saat bersamanya. Tiffany tahu ada sesuatu yang Taeyeon sembunyikan darinya. Meski mereka sudah bersama selama hampir tiga belas tahun, Tiffany terkadang masih saja kesulitan memahami Taeyeon. Wanita itu selalu tak bisa ditebak.

“Taeyeon-ah, kau kenapa?” tanya Tiffany langsung ke intinya.

Taeyeon mengangkat kepalanya untuk melihat Tiffany, tak lupa kerutan di keningnya. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Aku? Memangnya aku kenapa?”

Tiffany menghela nafas. “Kau sedikit lebih banyak diam dari biasanya. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”

“Apa tidak boleh kalau aku diam seperti ini?” Taeyeon balas bertanya.

“Taeyeon-ah…” rengek Tiffany.

Taeyeon menatap ke arah Tiffany, namun dia segera mengalihkan pandangannya. Tiffany mengerucutkan bibirnya.

‘Bahkan dia menolak kontak mata kami.’ batin Tiffany.

“Aku hanya memikirkan bagaimana comeback kita nanti.” kata Taeyeon masih tak mau menatap Tiffany.

Tiffany sendiri masih belum puas dengan jawaban Taeyeon. Dia yakin apa yang ada di pikirannya saat ini jauh berbeda dari yang diucapkannya barusan. Tiffany kemudian meraih ponsel berlogo apel tergigit milik Taeyeon yang tergeletak di samping tempatnya duduk. Taeyeon menunjukkan ekspresi yang menyiratkan, ‘hei, apa yang kau lakukan dengan ponselku?’ pada Tiffany, namun wanita blasteran itu tak peduli.

“Aku ingin bermain instagram milikmu.” ucap Tiffany kemudian dan dilanjutkan membuka password ponsel Taeyeon yang dihapalnya diluar kepala. Tiffany terdiam saat melihat portal berita yang belum Taeyeon tutup. Di dalam berita itu berisi skandal datingnya dia dengan Gray. Tiffany tiba-tiba tersadar alasan dibalik sikap dingin Taeyeon padanya.

Sebelum Tiffany melihat ke arah Taeyeon, wanita itu sudah beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan gontai ke kamar. Tiffany menghela nafas sebelum menyusul Taeyeon dan menarik tangannya hingga membuat tubuh Taeyeon berbalik menghadapnya. Pandangan mereka bertemu.

“We need to talk.” ucap Tiffany.

Taeyeon mengangguk mengiyakan. “Tentu saja… tapi tidak untuk sekarang.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon melepas genggaman tangan Tiffany di lengannya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tiffany memejamkan kedua matanya dan mendesah pelan.

***

Taeyeon membuka matanya perlahan. Kepalanya sedikit pusing karena terpaksa terbangun saat mendengar suara berisik konstruksi yang berada tak jauh dari apartemennya. Dia mengusap matanya perlahan dan bangun dari tidurnya untuk duduk. Dia mengambil botol air mineral di meja samping tempatnya tidur lalu membukanya dan meminum isinya.

Taeyeon mengedarkan pandangannya kesamping tempatnya duduk dan tidak mendapati Tiffany disana. Wanita itu pasti tidur di kamarnya semalam. Mereka memang selalu tidur bersama, kadang di kamar Taeyeon dan kadang di kamar Tiffany. Namun kali ini mereka tertidur berpisah. Mungkin karena kejadian kemarin sore.

Setelah kesadarannya terkumpul sempurna, Taeyeon bangkit dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya, yaitu mandi.

Tak butuh waktu lama untuknya mandi, tidak seperti maknae grup mereka, Seohyun yang akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mandi. Taeyeon keluar dengan jubah mandinya. Di kepalanya terlilit handuk untuk membantu mengeringkan rambutnya yang basah. Taeyeon terkejut saat melihat Tiffany yang masih mengenakan piyama tidur berwarna pink duduk manis di depan televisi di kamarnya. Dia berusaha bersikap senormal mungkin dan berjalan melewati Tiffany untuk mengambil pakaiannya.

Tanpa rasa malu Taeyeon mulai melepas jubah mandinya dan berpakaian meski ada Tiffany disana. Toh mereka sudah terbiasa jika hanya berganti pakaian. Bahkan mereka pernah melakukan suatu hal panas yang hanya dilakukan seseorang yang dewasa di dalam kamar, kalau kau tahu maksudku. Kembali ke topik. Setelah Taeyeon selesai memakai pakaiannya, dia hendak membuka pintu kamar sebelum suara Tiffany menghentikannya.

“Taeyeon kumohon…” Terdengar desahan dari mulut Taeyeon saat Tiffany memohon padanya.

“Aku lapar.” Dan detik setelahnya, Tiffany mendengar bunyi pintu tertutup. Lagi-lagi dia menghela nafasnya sebagai balasan.

 

Taeyeon kembali lagi ke kamarnya setelah selesai memakan ramyun. Itu adalah makanan ter-instant yang sempat dia buat untuk sarapan. Sebenarnya Taeyeon tak terlalu lapar. Itu hanya sebuah alasan baginya untuk mengulur waktu sebelum berhadapan dengan Tiffany. Taeyeon membuka pintu kamar dengan sebagian tubuhnya yang masuk karena terkejut. Tiffany masih berada disana dengan posisi sama seperti sebelum dia pergi.

Taeyeon menghela nafasnya sebelum berjalan masuk. Dia naik ke atas ranjangnya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan bermain ipad nya. Tiffany masih setia duduk di depan televisi. Setelah beberapa menit keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing, Tiffany mulai bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Taeyeon. Dia lalu duduk tepat disamping Taeyeon yang masih berpura-pura fokus dengan ipadnya.

“Kita perlu bicara.” Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Tiffany.

“Bicaralah.” balas Taeyeon seadanya. Tangannya masih sibuk bermain dengan ipadnya.

“Kau marah padaku?” tanya Tiffany.

“Ani.” jawab Taeyeon singkat.

“Lalu?” tanya Tiffany lagi.

“Tidak ada.”

Tiffany menyatukan keningnya. Dia lalu memicingkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Taeyeon. Wanita yang lebih tua itu sedikit memundurkan wajahnya karena wajah Tiffany terus mendekat padanya.

“Kau… cemburu?” tanya Tiffany pada akhirnya.

“Heol! Mana mungkin!” teriak Taeyeon dengan melebarkan matanya.

“Kalau bukan cemburu apa namanya?” Tiffany melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Taeyeon intens.

“Kita tak memiliki hubungan apapun Tiffany-ssi, bagaimana mungkin aku cemburu.” ucap Taeyeon. Dia sedikit gugup karena Tiffany terus memandangnya.

“Kau mulai lagi.” Tiffany menghela nafasnya.

“Wae?” tanya Taeyeon yang menyadari perubahan ekspresi Tiffany.

“Kita berdua mengenal tak hanya satu dua hari tapi bertahun-tahun. Buang kata -ssi dan panggil aku Fany-ah seperti yang biasa kau lakukan!”

Dalam diamnya Taeyeon berusaha keras untuk tak mengulum senyumnya saat melihat Tiffany kesal. Dia berdehem untuk mencairkan suasana sebelum berbicara.

“Oke mian.”

“Aku tak butuh permintaan maafmu.”

Lagi-lagi Taeyeon mengerutkan kedua alis tipisnya yang tak terlihat. “Lalu?”

Tiffany menatap Taeyeon dengan tatapan mengejek. “Bagaimana bisa aku menyukai wanita semenyebalkan dia.” gumam Tiffany yang sayangnya tak bisa didengar Taeyeon.

“Kau bilang apa, Fany-ah?” tanya Taeyeon seperti mendengar Tiffany bergumam. Tiffany memejamkan matanya berusaha keras menahan senyumnya karena Taeyeon memanggilnya dengan Fany-ah lagi.

“Tidak ada.”

Taeyeon mengangguk. “Kalau begitu kau bisa keluar dari kamarku.”

Tiffany melebarkan matanya dan memukul bahu Taeyeon cukup keras, membuat Taeyeon mengerang kesakitan.

“Katakan dengan jujur apa yang mengganggu pikiranmu? Jika itu karena berita dating itu kau tak usah khawatir, itu semua tak benar. Dan jika kau merasa cemburu kenapa tidak dari kemarin kau memintaku menjadi kekasihmu lagi? Stupid!”

“Ya! Aku tak bodoh!”

“Kalau bukan bodoh apa namanya?”

“Hei, aku tak ingin membuat teman dekatmu itu patah hati kalau aku memintamu kembali. Mungkin saja kejadian tahun 2014 akan terulang!”

Tiffany menaikkan satu alisnya. “Siapa orang itu?”

Taeyeon terdiam.

“Siapa orang yang tengah dekat denganmu, Kim Taeyeon?!”

Taeyeon menghela nafasnya. “Jjong meminta berkencan denganku tak lama kemarin.”

“Ini gila! Apa kejadian tahun 2014 benar-benar akan terulang?” Tiffany memijit pelipisnya. Sedangkan Taeyeon menatap Tiffany dengan wajah bersalah.

“Taeyeon aku tahu kita berdua sudah sangat sering on off dengan hubungan kita. Tapi aku yakin kau selalu dan akan terus mencintaiku, begitu juga denganku. Bisakah kau tak usah memutuskan hubungan kita lagi meskipun akan ada masalah-masalah lain yang akan datang?”

Taeyeon memejamkan matanya. Dadanya sesak mendengar penuturan Tiffany barusan. Wanita di depannya benar. Tak ada seorangpun yang bisa membuat hati Taeyeon bergetar hebat kecuali Tiffany. Tapi Taeyeon juga memikirkan image mereka di usia yang bisa dikatakan matang ini.

“Kau tahu alasanku, Fany-ah.”

“Geurae, aku akan menuruti kemauanmu. Itupun kalau Gray menyatakan cintanya padaku, dan kalau tidak itu malah lebih bagus, tapi dengan syarat.”

Taeyeon menaikan satu alisnya. “Syarat apa?”

“Minta aku untuk menjadi kekasihmu lagi.” kata Tiffany dengan tersenyum lebar.

Taeyeon mengerutkan keningnya namun detik kemudian dia terkekeh. Dia menyentil pelan dahi Tiffany membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah, nona Tiffany Hwang. Maukah kau menjadi kekasihku untuk yang kesekian kalinya?” pinta Taeyeon dengan menggenggam kedua tangan Tiffany.

Dengan senyum lebarnya, Tiffany mengangguk dengan mantap. “Of course!” Setelah mengatakan itu, Tiffany segera menyambar bibir Taeyeon. Wanita yang lebih pendek melepas kecupan Tiffany tatkala bibir wanita itu melumatnya dengan mesra. Tiffany mengerucutkan bibirnya karena kesal.

“Wae?”

Taeyeon terkekeh dan menggeleng. “Aku juga punya syarat, sayang.”

“Apa itu?”

“Di konser SMTOWN nanti usahakan jangan membuat moment, ne?”

“Kenapa? Itu tak adil!”

Taeyeon tertawa pelan. “Hitung-hitung menambah moment-mu dengan member lain, moment kita sudah terlalu banyak, sayang.” Taeyeon mencolek hidung bangir kekasihnya.

“Aish kau menyebalkan! Aku membencimu!”

“Aku juga mencintaimu, baby.” kekeh Taeyeon.

Tiffany memukul bahu Taeyeon lagi karena kesal. Saat Taeyeon ingin mengajukan protes, Tiffany membungkam bibirnya dengan ciuman. Taeyeon tersenyum pelan dalam ciumannya sebelum membalas lumatan kekasihnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

Wkwkwk iseng buat ini fic gegara berita kemaren noh si mak alay haha.

Tuh gaes taeny baek2 aja meskipun sering putus-nyambung jd jgn pada baper yo. Kalopun ntar grayfany official itu karena rencana mereka *dukun bgt gw 😂

Bubye see u next fic~

Touch

Enjoy read~

.

.

.

Tiffany mengangkat alisnya ketika pintu dibelakangnya tertutup dengan sangat keras. “Ada apa dengannya?”

“I don’t know.” Sunny meregangkan tubuhnya, bangun dari duduknya di bangku. “Dia sedang sangat moody akhir-akhir ini. Lebih dari biasanya. Kau tidak memperhatikannya?”

“Aku memperhatikannya tapi kupikir… aku heran apa yang salah. Dia baik-baik saja ketika kita berpisah pagi ini.”

“Itu terlihat semakin bertambah buruk sejak saat itu” Sunny meninggikan suaranya. “Taenggoo, aku pergi!”

Satu-satunya jawaban yang ia dapat adalah deheman dari belakang pintunya yang tertutup.

“Semoga beruntung” Sunny berkata pada Tiffany, menunjuk ke arah pintu kamar seraya pergi dari apartement. “Aku akan keluar. Berbicaralah dengannya”

Tiffany menuruti saran sahabatnya dan pergi ke dalam kamar, membuka pintu tanpa mengetuk. Dia melihat Taeyeon berbaring di ranjang, membaca atau mungkin melihat sesuatu di ponselnya.

Dia tahu bahwa dia seharusnya lebih perhatian dan berlaku baik sebisanya saat Taeyeon kesal dan cemberut seperti ini. Tiffany duduk diranjang disampingnya dan bertanya, “Kau kenapa, TaeTae?” Tiffany menggunakan nickname yang ia tahu selalu berhasil dalam keadaan apapun.

“…”

“Aku minta maaf kalau aku melakukan sesuatu yang salah” kata Tiffany dalam keadaan suara penuh aegyo yang bisa ia lakukan. Tiffany mengerutkan alisnya sementara bibirnya ia kerucutkan sedikit.

Taeyeon mengangkat kepalanya, terlihat sedih namun imut di waktu yang bersamaan dan ekspresi bersalah terpampang di wajahnya. Ia mendesah, merasa kemarahannya sedikit menghilang. Tapi ia tak membiarkannya begitu saja. “Kau benar-benar tak tahu?”

Tiffany menggelengkan kepalanya, masih dengan raut wajahnya yang polos.

Taeyeon menghembuskan nafasnya. “Kau lupa?”

“Kau baik-baik saja ketika kita berpisah tadi pagi dan aku tak yakin aku melakukan hal yang salah. Bisakah kau langsung memberitahuku, dengan begitu kita bisa membicarakan dan menyelesaikan hal ini?” pinta Tiffany terus terang. “Itu lebih baik daripada merajuk sendirian dan berdiam diri seperti itu”

Taeyeon bangkit dan duduk. Ia menatap Tiffany dengan mengerutkan keningnya, tersinggung dengan apa yang Tiffany katakan. Dia merasa Tiffany seharusnya tahu mengapa ia tak senang, dan permintaan maafnya tadi tak setulus yang Taeyeon pikirkan. “Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku?”

Tiffany bisa melihat kemarahan muncul kembali dan argumen besar pasti akan datang. “Ini tidak seperti itu!” Ia berkata dengan cepat, lebih keras dari yang seharusnya. “Aku hanya ingin tahu apa salahku karena aku tak mau melihatmu seperti ini”

“Kalau begitu keluarlah. Dengan begitu kau tak perlu melihatku. Tinggalkan aku sendiri”

Tiffany membuka mulutnya sebagai balasan. Tapi sebelum ia bisa mengatakan apa-apa, Taeyeon sudah pindah, bergeser dari ranjang. Dia tahu bahwa wanita itu akan pergi sehingga dia meraih lengannya. “Aku minta maaf. Aku minta maaf”

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tapi ia tetap berhenti.

“Aku minta maaf dengan tulus jika aku melakukan sesuatu yang salah tapi aku benar-benar tak tahu apa salahku dan kumohon katakan padaku agar aku bisa menyelesaikannya” kata Tiffany. “Supaya aku tak melakukannya lagi”

“Kau benar-benar tak tahu?” .

Tiffany menganggukan kepalanya.

“Apa yang kau lakukan dengan Sunny?”

“Huh?” Tiffany mengerjapkan matanya, terkejut. “Aku bersamamu dan dia. Kau disana. Kau melihat kami makan, mengobrol-…”

“Tepat. Aku melihat kalian berdua. Dan ini bukan sesuatu yang terjadi hari ini saja. Ini sudah berlangsung terlalu lama”

Tiffany masih tidak mengerti dengan apa yang ia dan Sunny lakukan sehingga membuat Taeyeon sebegini jengkelnya.

Taeyeon menyadari hal ini dan meskipun frustasi terhadap ketidaktahuan Tiffany, ia memutuskan untuk menjatuhkan lebih banyak petunjuk. “Apa yang dia lakukan ketika kita sedang makan dan ketika kita berbicara? Ketika dia duduk di sebelahmu?”

“Err…” Tiffany serius tak tahu apa-apa tapi dia rasa ia harus mengatakan sesuatu atau Taeyeon akan lebih marah dari ini. “Dia… meminum semua makgeolli?” Tiffany melihat ekspresi Taeyeon yang menghitam dan dengan cepat mencoba lagi. “Dia menggoda kita?”

Taeyeon akhirnya kehilangan kesabarannya. “Bukan seperti itu! Dia terus saja menyentuhmu!”

“T-tapi … dia selalu seperti itu!” seru Tiffany. Dia terkejut dengan ini semua yang terdengar sangat konyol.  Sahabat mereka selalu melakukan hal itu dengan mereka selama bertahun-tahun- dalam cara yang biasa dan tak berdosa, tentu saja. “Dia melakukan hal yang sama untukmu juga!

“Aku tidak membiarkannya menyentuh dadaku atau memegang pantatku seperti itu!”

“Apa? Sejak kapan?”

Gasps. “Kau tidak menyadarinya?!”

“Aku … kami dekat! Maksudku… itu hanya bagaimana dia! Bagaimana dia selalu seperti itu!” Tiffany tahu dia hanya akan memperburuk keadaan, tapi dia menemukan ini begitu luar biasa konyol. “Itu Sunny! Teman terbaik kita, Sunny!”

Taeyeon menyentakan lengannya bebas dari genggaman Tiffany. “Lalu kenapa kau mengomel dan marah ketika dia memegang tanganku?! Aku mengatakan padanya untuk berhenti melakukannya karena kau! Lihat? Ini adalah hal yang paling membuatku frustasi! Kau akan berlaku super posesif jika itu mengenaiku, sedangkan kau sendiri dengan berani, dan terang-terangan melakukannya, tepat di depanku. Bisakah kau berpikir bagaimana perasaanku?”

“T-Tapi-…”

“Aku tak keberatan jika kita masih berteman tapi, ayolah!”

Tiffany membuka mulutnya untuk membantah atau membela diri, tapi tak ada kata yang keluar. Tiffany tahu dirinya bersalah tapi dia merasa tersanjung dan senang. Ia lalu menutup mulutnya lagi dan lebih memilih tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum? Kau senang melihatku marah dan frustasi?”

“Tentu saja tidak.” Tiffany meraih tangan Taeyeon. “Aku minta maaf karena berbuat egois dan mementingkan diriku sendiri”

“Kau memang seharusnya meminta maaf” jawab Taeyeon. Dia masih mengerucutkan bibirnya meskipun dia sudah tak lagi kesal seperti sebelumnya. “Kau milikku”

Senyum Tiffany semakin melebar setelah mendengar pernyataan Taeyeon.  “Aku akan berbicara dengannya dan mulai menentukan batas”

“Aku tahu dia sahabat kita tapi tetap saja…”

“Aku tahu” Tiffany dengan cepat mulai mendekati Taeyeon. “Bagian mana yang kau tak suka dari sentuhan Sunny?” Ia mengangkat tangan Taeyeon menempatkannya di dadanya, tepat di tengah. “Mengapa kau tak menunjukannya padaku?”

“A-Apa? Kenapa aku harus menunjukannya padamu?”

“Karena aku butuh untuk tahu, tepatnya dimana aku membuat batasan nantinya” Tiffany menggerakan sedikit tangan Taeyeon ke kanan. “Disini?”

Mata Taeyeon melebar sempurna dan dia benar-benar lupa dengan apa yang mereka perdebatkan. Kerongkongannya kering dan ketika Tiffany mendekat beberapa inci, dia tidak ingat untuk melepas tangannya.

“Atau… di sini?” Tiffany memindahkan tangan Taeyeon ke butt, menempatkannya di sisi pantat nya sementara ia mengangkangi dirinya. “Kau tidak suka saat Sunny menyentuhku di sini?”

“U-uh-huh,” Tayeon bergumam, menelan salivanya ketika Tiffany menyesuaikan posisinya, meluruskan supaya dadanya berada tepat di depan wajah Taeyeon. Gadis itu benar-benar menghapus setiap pikiran yang ada di otaknya.

“Dimana lagi?” tanya Tiffany dengan suara yang rendah dan serak yang ia tahu adalah triknya.

“Well…” Taeyeon menempatkan tangannya yang lain pada sisi pantat Tiffany yang satunya, menyebarkan jari-jarinya sebelum meremas perlahan. Taeyeon menunjukan smirknya ketika Tiffany menghirup udara dengan cepat dan meraih bahunya untuk menenangkan diri. “Aku tidak suka kalau dia menyentuhmu di sini.” Tangannya meluncur ke paha Tiffany. “Atau di sini.” Dia sengaja menjalankan tangannya di sepanjang kedua paha Tiffany beberapa kali, membelai kulit halusnya.

Taeyeon tidak melepaskan tatapannya pada Tiffany, ia mengawasi setiap reaksi dan ekspresi di wajahnya.  Sekarang dia sudah tahu apa yang diinginkan Tiffany dan dia lebih dari sekedar bersedia untuk memberikan itu padanya.

Dia bahkan tidak terkejut ketika tangan Tiffany naik ke belakang kepalanya, meraih rambutnya untuk menariknya lebih dekat.

Taeyeon memiringkan kepalanya dan hanya membiarkan bibirnya bertemu dengan bibir Tiffany cepat, ia menarik kembali untuk mengakhiri ciuman itu, membuat Tiffany mengerutkan kening.

“Aku belum selesai,” kata Taeyeon, tangannya perlahan naik ke tubuh Tiffany. “Aku tidak ingin dia menyentuhmu di sini,” Ia melingkarkan tangannya di pinggang Tiffany sebelum dia meneruskannya  ke atas, kembali ke tempat Tiffany menempatkan tangannya terakhir kali sebelum- tepat di dadanya. “Dan terutama di sini. Jangan pernah di sini.”

Tiffany tak bisa menahannya lagi. Ia menangkup wajah Taeyeon untuk ia cium dalam, lidah mereka menyapa satu sama lain dengan tak sabar.

Setelah beberapa saat, Taeyeon sekali lagi menyudahi ciumannya, membuat Tiffany mengerang frustasi.

“Aku belum selesai” bisik Taeyeon, ia mencium pipi Tiffany. “Tak ada yang boleh menyentuhmu disini,” bibirnya mengecup rahang Tiffany, perlahan turun kebawah ke lehernya, menjilat dan menghisapnya. “Atau disini”

Selama jarinya membuka kemeja Tiffany, bibirnya menjelajah, memberi tanda di leher dan tulang selangka Tiffany dengan ciuman. “Atau dimana jari dan bibir kusentuh.”

“Tapi itu…” Tiffany menutup matanya, tersesat dalam sentuhan Taeyeon yang lembut dan tegas. Dia tak bisa menahan dirinya untuk melenguh ketika telapak tangan Taeyeon mengusap perutnya setelah sepenuhnya selesai membuka kancing kemejanya. “Bagaimana dengan… tangan… atau lenganku…”

Taeyeon meraih kemeja atas di bagian bahu Tiffany. Dia mencium bahu sebelah kanan Tiffany segera setelah terbuka, mengikuti kemana tangannya turun menuju lengan Tiffany. Kemudian dia berpindah ke bahu kiri Tiffany dan mengulangi hal yang sama. Dia bahkan membalikan tangan Tiffany untuk ia kecup telapak tangannya.

“Kau benar-benar merencanakan ini, bukan?” tanya Tiffany dengan senyum di wajahnya, melihat perlakuan manis Taeyeon.

“Tentu saja. Kau milikku.”

 

“That’s me.” Tiffany tersenyum lebar seraya menangkup pipi Taeyeon dan menciumnya. “Aku dimaafkan?” tanya Tiffany.

“Ya.”

“Kau sadar bahwa aku tak akan membiarkan dia dan orang lain menyentuhmu, kan?”

Taeyeon hanya menjawab dengan bergumam karena mulutnya sibuk mencoba mengklaim setiap inchi dari tubuh Tiffany sementara tangannya meraba-raba kancing celana Tiffany.

 

“Itu maksudku.” Tiffany mencoba mengangkat kepala Taeyeon agar melihat matanya. “Kau milikku dan tak ada satupun yang bisa menyentuhmu ataupun sebaliknya.”

“Aku tahu dan aku baik-baik saja dengan itu,” jawab Taeyeon dengan menyeringai.

—-

 

“Ow!”

Taeyeon tersentak ketika dia merasa tergigit di bahunya dan mengangkat kepalanya untuk menatap tajam sahabatnya hanya untuk melihat tatapan tajam yang berbeda milik sahabatnya dari meja yang berlawanan dengannya.

“Jangan, Sunny-ah, ” dia berkata pada sahabatnya sementara dalam diam meminta maaf pada Tiffany yang melihatnya tak suka.

Sunny berpura-pura merajuk. “Kalian berdua sudah tidak asik lagi.” Dia meletakan satu potongan puzzle terakhir dan berdiri. “Aku akan mencari Yoong. Setidaknya pacarnya tidak posesif dan pencemburu seperti kalian.”

“Itu karena pacarnya tidak melihat apa yang kau lakukan,” telak Taeyeon.

Setelah sahabatnya meninggalkan apartemen, Taeyeon melompat ke tempat dimana Tiffany duduk dan mengecup pipinya. “Aku melakukannya dengan baik, kan?”

“Kau ingin aku memujimu atau sesuatu yang lain?”

“Ya.”

“Kenapa aku harus? Kau hanya melakukan apa yang seharusnya kau lakukan.”

“Wha-… Jinjja?” tanya Taeyeon, tercengang. “Aku tidak mendapatkan apa-apa meskipun ‘terima kasih’?”

Tiffany dengan santai meletakkan beberapa potongan puzzle, diam-diam menatap Taeyeon yang diam. “Kau ingin aku berterimakasih?”

“Ya. Aku ingin kau menunjukan rasa terimakasih mu. Aku telah menyakiti perasaan sahabat ku, kau tahu.”

“Dia sahabatku juga.”

“…”

Tiffany akhirnya tertawa kecil setelah melihat ekspresi Taeyeon. “Fine. Aku akan memberimu hadiah. Ngomong-ngomong aku sudah cukup dengan puzzle hari ini.”

Taeyeon menepuk bahunya. “Dia menggigitku disini.”

“Aku melihatnya.” Tiffany mendekat dan mencium bahu Taeyeon. “There. Reclaimed.”

“Kupikir dia mencoba menyentuhku dimana-mana juga.”

“Dimana?”

“Dimanapun.”

“Bohong.” Tiffany menampar lengan Taeyeon.

“Aku tidak berbohong!”

Tiffany menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. “Baiklah. Tunggu di kamar. Aku akan menyusul kesana setelah membereskan meja.”

“Yes!” Taeyeon melompat dan berjalan cepat kedalam kamar, meninggalkan Tiffany yang tersenyum kepadanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

Update selingan dulu sebelum SL tamat wkwk.

Ini ff trans, dari wattpad kalo ga salah. Credit to the owner.

Semoga suka ^^