No Secret (Chapter 1)

Title : No Secret

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : Gender bender

Author : Jung Ri Ha

.

.

.

Jam berhasil menunjuk angka sepuluh. Masih cukup bisa dikatakan pagi. Sayup-sayup terdengar suara gaduh di sekitar pintu masuk kantin Universitas Yeolsan. Di jam seperti ini kantin memanglah ramai. Tapi ramai kali ini berbeda. Hampir semua penghuni kantin disana mendapatkan fokus terhadap seseorang yang baru saja tiba disana.

“Bisakah kau menghentikan mereka?” tanya gadis yang mendapat tatapan penghuni kantin pada temannya.

“Hentikan saja sendiri. Sudahlah aku lapar.” Gadis yang ditanya melenggang masuk kedalam tanpa menghiraukan bisikan-bisikan dan tatapan mahasiswa disana.

Gadis itu melihat seseorang yang dikenalnya dan menarik tangan temannya.

“Syong-ah!”

Pria yang merasa namanya dipanggil membalikkan tubuhnya dan melihat gadis yang ia kenal tersenyum menyapanya.

“Ah, Sica! Kemarilah. Aku baru saja akan bergabung dengan teman-temanku.”

Gadis yang dipanggil Sica mengangguk dan mengikuti Sooyoung dibelakangnya. Tak lupa tangannya masih menarik tangan sahabatnya. Mereka bertiga sampai di meja yang sudah berisi beberapa orang dan menyapanya.

“Hei, bolehkah kami bergabung?” tanya Sooyoung.

“Seperti tidak biasanya saja, Soo.” jawab pria berkulit tan pada sahabatnya.

Sooyoung nyengir kuda. Dia mulai duduk disana dan menatap sahabat-sahabatnya dengan tatapan yang membuat mereka geli.

“Biar kutebak, kalian pasti tidak mengenal mereka. Apa aku benar?” tanya Sooyoung dengan menunjuk kedua teman wanitanya.

“Tentu saja tahu. Aku ini kan ketua kelas.” jawab gadis mungil berwajah imut pada Sooyoung.

Sooyoung mengangkat bahunya. Dia melirik ke arah pria yang sedikit lebih pendek darinya yang terkenal dingin dan angkuh itu.

“Tapi aku tak yakin midget satu itu tahu.”

Pria pendek itu meletakkan ponsel yang digenggamnya ke meja cukup keras, cukup membuat orang yang ada disana terdiam.

“Tujuanku kesini untuk makan.” ungkapnya dingin.

“Ayolah, Tae. Kau tidak asik, tahu!” rengek Sooyoung yang dibalas tatapan tajam oleh Taeyeon.

“Hentikan. Cepat pesan makanan sekarang!” Jessica berbicara pelan, namun intonasinya terkesan dingin dan tajam yang mampu membuat mereka terdiam kikuk, terkecuali Taeyeon pastinya.

“Aku tahu mereka. Tiffany Hwang dan Jessica Jung. Apa itu cukup?” Taeyeon akhirnya membuka suaranya yang dibalas tatapan tak percaya oleh mereka bertiga.

“Daebak! Kukira kau tak tahu mengingat seberapa dingin, angkuh dan ketidakpedulianmu.” ucap pria tan kagum.

“Kuanggap itu pujian. Terimakasih.” balas Taeyeon dengan intonasi datar.

“YAH!”

“Sudahlah cepat pesan makanan, tiang!” teriak si mungil Sunny.

Tiffany menatap Taeyeon dalam diamnya. Dia penasaran seberapa dinginnya Taeyeon itu. Apa dia bisa mencairkan es dalam diri Taeyeon? Entahlah.

***

Taeyeon, atau lebih tepatnya Kim Taeyeon. Dia merupakan putera semata wayang dari salah satu chaebol di Korea Selatan. Tidak ada yang tahu seberapa kayanya orangtua Taeyeon. Namun yang jelas, Taeyeon tak terlalu peduli dengan itu semua.

Dikenal dengan orang yang sangat dingin dan tertutup, Taeyeon menjadi tak memiliki teman banyak. Hanya ada empat orang yang mampu menembus benteng pertahanan Taeyeon dan bersyukur mereka masih bersahabat hingga saat ini. Mereka adalah Choi Sooyoung, putera rektor Universitas Yeolsan sekaligus pemiliknya. Sooyoung adalah orang yang super ramah, berbeda dengan Taeyeon. Sifat mereka pun sangat bertolak belakang. Entah apa yang membuat mereka betah bersahabat.

Yang kedua adalah Lee Sunny, puteri dari pengusaha elektronik dan pangan yang cukup terkenal. Gadis mungil itu sangatlah ramah, sama seperti Sooyoung. Dia juga sangat peduli pada Taeyeon. Orang-orang mungkin akan berpikiran jika Taeyeon dan Sunny merupakan sepasang kekasih. Namun tidak. Mereka hanya saling menyayangi satu sama lain karena sudah cukup lama bersahabat. Sama seperti ketiga temannya yang lain.

Yang ketiga adalah Kwon Yuri, putera seorang jenderal polisi di Seoul dan memiliki beberapa perusahaan desain yang dikelola oleh Ibu dan kakaknya. Yuri adalah pria tampan dan sexy dengan kulit kecoklatan dan tubuh atletisnya. Membuat banyak mahasiswi menggilai seorang Kwon Yuri dan rela memberikan apapun untuknya agar bisa berkencan dengannya.

Dan yang terakhir adalah seorang gadis yang sangat mengerti Taeyeon. Mereka berdua layaknya perangko. Dimana ada Taeyeon pasti ada gadis itu. Dia juga merupakan puteri seorang pemilik perusahaan konstruksi yang sudah memiliki cabang di dalam maupun luar negeri. Sama seperti Taeyeon, gadis itu juga puteri semata wayang. Cukup Taeyeon sesali bahwa keadaan mereka saat ini telah berbeda karena suatu sebab.

“Ri Ha…” gumam Taeyeon.

Saat ini dia tengah berbaring di ranjang king size nya dengan memegang ponselnya yang menampilkan ID Caller disana. Dia mendiamkannya hingga panggilan tersebut mati. Namun tak berselang lama, kembali terdengar sebuah panggilan di ponselnya. Sama seperti sebelumnya, Taeyeon mengabaikannya dan hanya menatap nanar. Begitu seterusnya sampai Taeyeon melihat sebuah notifikasi pesan dan membukanya.

ANGKAT TELFONKU BODOH!

Taeyeon menghela nafasnya pelan. Dia melihat ponselnya kembali berdering. Taeyeon sedikit berdehem sebelum mengangkat panggilan tersebut.

“Kenapa lama sekali mengangkat telfonku, hah?” Taeyeon sedikit menjauhkan telinganya karena teriakan gadis itu.

“Kau sedang apa?” jawab Taeyeon dengan balas bertanya.

“Jawab pertanyaanku, Kim.”

“Mianhae, aku habis bangun tidur tadi.”

Hening.

“Kau marah?” tanya Taeyeon.

“Ani. Ku kira kau mengacuhkanku.”

“Kau sedang apa?” Taeyeon mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Memikirkanmu hehe.”

Taeyeon tertawa pelan. “So cheesy.”

“Ya ya ya whatever.”

Dan malam mereka berlanjut hingga salah satu dari mereka terpaksa menutuskan sambungan telepon karena mengantuk.

***

Taeyeon meraih ponselnya dan mulai fokus terhadap benda kotak canggih itu. Di depannya terdapat dua wanita cantik yang menjadi pusat perhatian mahasiswa Yeolsan.

“Yang semalam, jadi kau bisa ikut latihan kan, Taeyeon?” tanya gadis bermata bulan sabit.

“Ne, akan kuusahakan.” jawab Taeyeon singkat.

“Ya! Apa ponselmu itu lebih menarik daripada kami?” tegur Sunny.

“Aku sedang main game.” balas Taeyeon datar.

“Ah, sepertinya aku akan ikut latihan, Tiffany-ssi.” ucap Taeyeon tiba-tiba dan menatap Tiffany dengan sedikit senyum. Ingat, ‘sedikit’.

Sunny mengerutkan keningnya. “Kalian pacaran?”

Taeyeon menaikkan satu alisnya sedangkan Tiffany menatap Sunny dengan deathglare-nya yang sayangnya tak mempan untuk seorang Sunny Lee.

“Apa yang kau maksud?” tanya Taeyeon. Ekspresinya tetap tenang.

“Ah tidak tidak. Jarang saja kau mau menunjukan senyummu itu. Kukira kalian ada sesuatu.”

Taeyeon menghela nafasnya. “Shim ssaem sudah masuk. Jadi balikkan tubuhmu sekarang.”

Sunny membalikkan tubuhnya. Ternyata benar, dosen mereka sudah masuk. Mereka pun mengikuti kelas dengan hening. Beberapa jam kemudian kelas bubar. Semua mahasiswa disana berhamburan keluar kelas untuk makan siang, tak terkecuali Taeyeon, Tiffany, dan Sunny.

“Kalian duluan. Aku masih ada urusan.” ucap Taeyeon pada kedua gadis tersebut.

“Arrasseo. Jangan lupa makan.” pesan Sunny.

Taeyeon tak menghiraukannya dan langsung berjalan berlawanan arah. Tak lupa memasangkan earphone di telinganya. Menambahkan kesan cool tanpa menghiraukan decak kagum dan tatapan memuja para gadis yang melihatnya. Taeyeon memang pria tampan sekaligus cute di kampusnya. Tak heran banyak yang menggilai Taeyeon.

BUKK

Taeyeon memandang seseorang yang baru saja menabraknya hingga makanan yang dibawanya tumpah. Pria di depan Taeyeon berdecak dan berlutut untuk mengambil makanannya.

“Jangan dipungut. Itu kotor!” ucap Taeyeon datar.

“Lalu aku harus bagaimana? Makananku tumpah dan itu gara-gara kau!” omel pria itu.

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Kau tidak lihat pakaianku juga kotor?”

Taeyeon mendesah sebelum meraih dompet di sakunya dan mengambil beberapa lembar won. Dia lalu menarik tangan pria itu dan menyerahkan uang tersebut padanya.

“Ambil itu dan belilah yang baru.” kata Taeyeon, masih dengan intonasi datarnya.

Setelah mengatakan itu, Taeyeon berlalu dari hadapan pria tersebut yang masih diam di tempat. Pria itu melihat banyak mata yang menatapnya dan berbisik. Dia meremas uang tersebut dan berbalik. Menarik baju belakang Taeyeon hingga berbalik tepat dihadapannya kemudian melempar uang tersebut, tepat di wajahnya.

Taeyeon mengepalkan buku-buku jarinya dan memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya yang siap meledak kapan saja.

“Kau pikir kau siapa? Jangan kau pikir aku tak mampu membeli makanan itu lagi!”

Taeyeon menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dari dulu tidak ada yang membentaknya. Hari ini pengecualian. Sayup terdengar bisikan dari mahasiswa disana yang tertangkap jelas oleh Taeyeon.

“Waah siapa dia? Apa dia tidak tahu yang berhadapan dengannya itu Kim Taeyeon?”

“Pria itu cari mati!”

“Kudengar dia mahasiswa pindahan, wajar kalau dia tidak tahu siapa Kim Taeyeon.”

“Ya Tuhan bagaimana nasib pria itu selanjutnya?”

“Ckckck dia menggali lubang kuburnya sendiri.”

Dan bisikan-bisikan lain yang Taeyeon tak pedulikan sama sekali.

Taeyeon melihat sahabat-sahabatnya tengah menatapnya. Dia lalu melepas genggaman pria itu di bajunya dengan kasar. Dia menatap tajam pria itu.

“Ambil kembali jika kau tak mau menerimanya.” ucap Taeyeon pada akhirnya.

“Ambil saja sendiri.” balas pria itu. Sepertinya dia benar-benar ingin membuat Taeyeon marah.

“Kubilang ambil kembali!” teriak Taeyeon membuat pria didepannya menyeringai.

“Never.” balas pria itu dengan senyum mengejek.

Taeyeon geram.

“Jika kau tidak mau mengambilnya, setidaknya kembalikan dengan cara yang sopan!”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” tantangnya.

Taeyeon tertawa pelan. Dia menatap pria itu dengan rendah. Dia melihat name tag di jas yang dikenakan pria itu.

“Kuharap kau tidak menyesal, Oh Jung Ho-ssi.”

“Memangnya kau mau apa, hah?”

Taeyeon memiringkan kepalanya dan mengerutkan keningnya berpura-pura berpikir. Dia kemudian menganggukan kepalanya pelan. “Aku mungkin bisa saja mengeluarkanmu dari sini. Jadi sebelum itu, kembalikan uang itu dengan cara yang sopan.”

Pria bernama Oh Jung Ho tertawa pelan. “Silakan saja. Aku tidak takut.”

Taeyeon menatap nanar Jung Ho dan meraih ponselnya lalu mengetikkan beberapa kata disana.

Sooyoung yang melihatnya dari jauh sudah menebak ini akan terjadi. Selang tak lama ponselnya bergetar. Dia tahu siapa yang mengiriminya.

“Appa pasti akan marah karena Taeyeon mengeluarkan mahasiswa lagi.” ujar Sooyoung lalu menghela nafasnya. Namun dia juga tetap melaporkan ini pada Ayahnya agar pria bernama Oh Jung Ho dikeluarkan darisini.

Tak lama kemudian terdengar bunyi pengumuman dari speaker. Taeyeon menyeringai pelan.

“Mahasiswa atas nama Oh Jung Ho diharapkan untuk menghadap rektor sekarang juga.”

Taeyeon tersenyum puas. “See?”

Oh Jung Ho mengepalkan tangannya. “Akan kubalas kau!”

“Silakan saja.”

Jung Ho berbalik dan melangkahkan kakinya untuk menghadap rektor. Tapi sebelum itu Taeyeon mencegatnya.

“Jamkkanman!” teriak Taeyeon membuat Jung Ho membalikan badannya.

Dia melihat Taeyeon meraih makanan yang tumpah tadi dengan wadahnya. Kemudia menyeringai pelan pada Jung Ho lalu menumpahkan makanan tersebut ke atas kepala Jung Ho. Membuat pria itu kesal bukan main.

“Kau…” ucapnya pada Taeyeon yang mengangkat bahunya seolah merasa tak bersalah.

“Aku hanya memberi balasan kepada seseorang yang tak sopan.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon berbalik dan melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Oh Jung Ho dan keramaian disana dengan santai.

Sunny yang melihatnya menghela nafasnya pelan. “Sudahlah. Ayo kita ke kantin. Kau bilang kau lapar, Soo.”

“Rasa laparku hilang karena midget satu itu.” ucapnya dramatis.

“Halah berlebihan. Kajja!” Yuri merangkul Sooyoung dan membawanya ke kantin. Tak lupa dibelakangnya Sunny mengekor.

Saat berada di kantin, mereka bertiga melihat Tiffany dan Jessica.

“Hey.” sapa mereka. Tiffany dan Jessica berbalik dan menemukan Sunny, Sooyoung, dan Yuri. Tiffany mengerutkan keningnya karena tidak ada Taeyeon.

“Oh hai. Dimana Taeyeon?” tanya Jessica.

“Dia pergi tadi. Sepertinya ada urusan.” jawab Yuri yang entah mengapa membuat Tiffany kecewa.

“Kalian sudah pesan?” tanya Sunny.

“Ne. Bora dan Hyomin yang memesannya.” jawab Tiffany.

Mereka berlima pun mencari tempat untuk mereka duduk sembari mengobrol selagi menunggu pesanan mereka sampai.

 

In other place

“Jadi, apa aku boleh ikut klub basket?” tanya Taeyeon pada pria disampingnya yang dibalas tawa pelan.

“Kau lucu, Taeng. Tanpa meminta pun kami dengan senang hati menerimamu.” jawab pria yang diketahui sebagai kapten tim basket.

“Kalau begitu, aku boleh menggunakan lapangan kapan saja?” tanya Taeyeon lagi.

Sang kapten tersenyum pelan dan mengangguk. “Tentu saja.”

“Baiklah. Aku harus pergi, sebentar lagi kelas dimulai.” ucap Taeyeon datar.

“Hmm, senang bisa jadi teman tim mu.” ujar sang kapten.

Taeyeon tersenyum simpul, kemudian meninggalkan sang kapten dan pemain lain yang sedang latihan sebelum Taeyeon datang.

.

.

Kelas telah berakhir. Para mahasiswa keluar kelas untuk pulang dan mengistirahatkan tubuh dan otaknya setelah menerima materi yang cukup membuat pening. Terkecuali Taeyeon.

“Sunkyu-ya, aku ada latihan drama. Kau pulanglah dengan Syong, ne?” pinta Taeyeon seraya melihat jam tangannya.

“Ne.” ucap Sunny tanpa melihat Taeyeon. Pria itu melirik Sunny sebentar.

“Aku pergi.” Setelah itu Taeyeon melangkahkan kakinya ke aula tempatnya latihan.

Universitas yang Taeyeon tempati merupakan Universitas khusus seni. Semua jurusan yang berhubungan dengan seni ada di dalamnya. Taeyeon dan Sunny satu kelas. Mereka mengambil jurusan musik, sedangkan Sooyoung dan Yuri mengambil jurusan lukis. Meskipun Taeyeon mengambil jurusan musik bukan berarti dia tidak mempelajari drama dan sebagainya.

Langkah Taeyeon terhenti di depan pintu aula. Dia memutar knop dan membuka pintu besar tersebut dengan pelan. Kemudian mulai masuk kedalam.

“Apa aku terlambat?” tanya Taeyeon santai seraya meletakan tasnya dibawah lantai.

“Ani. Kami baru saja akan mulai.” jawab Hyomin yang memang ada disamping Taeyeon.

“Okay guys, kita mulai sesuai dengan peran dan tugas masing-masing. Come on!” seru Tiffany kepada teman-temannya.

“Kita mulai sekarang?” tanya Taeyeon. Tiffany mengangguk.

Mereka pun mulai menempati posisi masing-masing.

“Berani-beraninya kau, Montague! Aku akan menghukummu! Lihat saja. Dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu!” ucap salah seorang wanita yang menjadi ibu Juliete.

“Kenapa jadi seperti sailor moon?” celetuk salah seorang yang melihat mereka. Sontak membuat gelak tawa orang-orang yang ada disana. Termasuk Taeyeon. Semua orang berhenti tertawa dan melirik ke arah Taeyeon. Sungguh hal langka melihat tawa Taeyeon.

“Wae?” tanya Taeyeon datar dan dibalas gelengan oleh semua orang.

Kini giliran Tiffany yang berperan sebagai Juliete. Taeyeon melihat gadis bermata sabit itu dengan penuh perhatian, membuatnya gugup.

“Aku tak sabar melihat Taeyeon Sunbae menjadi Romeo.” celetuk salah satu wanita disana.

Taeyeon yang mendengarnya tersenyum tipis. Sangat tipis hingga tak terlihat seperti senyuman.

“Apa y-yang terjadi p-pada tuan Romeo dari keluarga Montague?” tanya Tiffany saat memerankan perannya dengan gugup.

“CUT!” potong Hyomin yang bertugas sebagai sutradara.

“Tiff, bersikaplah seperti Juliete!” kritik Hyomin dengan menunjukkan kertas naskah.

Tiffany menghela nafasnya dan mengangguk pelan. “Ne.”

“Sekarang giliran Romeo. Taeng, bersiap!” teriak Hyomin.

Taeyeon menganggukan kepalanya. Dia lalu berjalan dengan cool kedepan. Dia berdehem sebentar sebelum memulai dialognya.

“Action!” seru Hyomin.

“K-ku tak mengerti b-bagaimana ini…”

“CUT!” lagi-lagi Hyomin memotong.

“Taeng, hilangkan kegugupanmu. Tiff lanjutkan!”

Tiffany menghela nafas sebelum bersiap.

“Action!” seru Hyomin.

“Aku mengerti baga-…” “CUT!” potong Hyomin lagi.

“YA! Jangan bilang kau hanya ingin meneriakan kata ‘CUT’ saja ya?!” kesal Tiffany.

“Hehehe mian, Tiff. Aku hanya terbawa suasana menjadi sutradara sungguhan saja.” Hyomin nyengir kuda membuat Tiffany menghembuskan nafasnya kasar hingga membuat poni rambutnya tersibak ke atas.

“Eh tapi, Taeng. Kau harus lebih tegas lagi. Cobalah menjiwai sebagai Romeo sungguhan.” saran Hyomin.

Taeyeon mengangguk. “Ne. Akan kucoba.” Seperti biasa dengan nada datarnya.

Mereka pun memulai latihannya lagi hingga jam menunjukan hari mulai beranjak sore. Mereka akhirnya mengakhiri latihan mereka agar bisa beristirahat. Taeyeon mendekati Tiffany yang sedang membereskan tasnya.

“Fany-ah.” panggil Taeyeon. Tiffany berbalik dan melihat Taeyeon dibelakangnya. Sedikit terkejut memang.

“Ne, Tae.”

“Aku tahu kau gugup tadi. Begitu juga denganku. Bagaimana kalau kita latihan lagi.. berdua?” tawar Taeyeon.

Tiffany awalnya tak menyangka Taeyeon menawarinya berlatih bersama, mengingat seberapa dinginnya dia pada orang-orang selain dengan ketiga sahabatnya.

“Tiff?” panggil Taeyeon saat melihat Tiffany melamun.

“A-Ah n-ne tentu.” jawab Tiffany sedikit malu karena kepergok melamun. Apalagi seseorang yang dilamunkannya berada tepat didepannya.

“Geurae. Bagaimana kalau dirumahmu?”

“Jigeum?” tanya Tiffany.

“Kalau kau mau.”

“Arrasseo, jigeum. At my house.”

Setelah selesai membereskan barang-barang mereka, Taeyeon dan Tiffany segera keluar dari aula. Tak lupa pamit kepada teman-temannya yang masih tinggal disana.

Beruntung rumah Tiffany tak terlalu jauh dari kampus mereka. Cukup memerlukan waktu sepuluh menit menggunakan mobil. Mereka lalu turun dari mobil. Taeyeon melihat rumah yang cukup besar sebelum masuk kedalam, bersama Tiffany tentunya.

“Aku pulang.” seru Tiffany.

“Ah kau sudah pulang, sayang.” ucap Mommy Tiffany. Beliau menaikkan satu alisnya saat melihat pria muda dibelakang Tiffany. Begitupula Daddynya.

“Aaah, ini Taeyeon teman sa-…”

“Kekasihmu?” tebak Daddy Tiffany.

“Anio. Dia teman kelasku. Kami akan latihan drama.” terang Tiffany.

“Oh drama.” ucap Daddy dan Mommy nya bersamaan.

“Sebaiknya kau ajak Taeyeon makan malam dulu, sayang.” perintah Mommy Tiffany.

“Okay, mom. Aku keatas dulu untuk berganti baju.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany melenggang masuk ke kamarnya di lantai atas. Meninggalkan Taeyeon bersama kedua orangtuanya. Dengan terpaksa Taeyeon ikut bergabung dengan kedua orangtua Tiffany yang mulai menyanyakan ini itu padanya.

“Ah, jadi kau putera Kim Tae Woon?” tanya Daddy Hwang.

“Ne, majayo. Ahjussi kenal ayahku?”

“Tentu saja! Kami rekan bisnis.” ujar Daddt Hwang dengan kekehan.

“Kalian membicarakan apa?” tanya Tiffany yang tiba-tiba datang.

“Ah sesuatu hal random. Cepatlah ajak Taeyeon makan malam, Tiff.”

“Ne, mom. Ayo, Tae!”

Taeyeon sedikit menunduk pada orangtua Tiffany sebelum meninggalkan mereka berdua menuju meja makan. Dia dan Tiffany pun mulai makan dengan tenang.

Seusai makan, Tiffany membawa Taeyeon ke kamarnya untuk berlatih seperti yang mereka rencanakan sebelumnya.

“Akh mataku sakit!” teriak Taeyeon setibanya mereka di kamar Tiffany.

“Wae?” tanya Tiffany bingung. Dia melihat Taeyeon menutupi kedua matanya.

“Kenapa di ruangan ini berwarna pink semua? Ah tidak, mataku yang berharga.” ucap Taeyeon dramatis. Tiffany tertawa pelan dibuatnya.

“Kau lebih cocok jadi peran Austin Powers, Tae.”

“Mwo? Mana mungkin pria setampan diriku disandingkan dengan agen konyol seperti Austin!”

Tiffany tertawa lagi melihat Taeyeon yang kesal. Dia menepukkan tangannya tanda dia benar-benar merasa lucu dengan tingkah Taeyeon.

“Ya ya ya. Harusnya aku mendapat peran sekeren dan sekelas Jo In Sung.” Taeyeon mengerucutkan bibirnya.

“Jo In Sung? Pppffft-.. hahahahaha. Kau? Jo In Sung? Bwahahahaha.” Tiffany tak kuat menahan tawanya. Dia memegangi perutnya yang sakit karena terlalu keras tertawa. Taeyeon mendecakan lidahnya dan berjalan ke arah ranjang Tiffany dan mulai membaringkan tubuhnya berlawanan dengan Tiffany. Gadis itu menghentikan tawanya dan mengusap sudut matanya yang berair. Dia melihat Taeyeon dan mendekat.

“Tae? Kau marah?”

Tak ada jawaban dari Taeyeon.

“Taeyeon-ah.. Tae.. TaeTae..”

Taeyeon berbalik. “TaeTae?” ulang Taeyeon dengan mengerutkan keningnya.

“Wae?”

“Ani.” balasnya datar dan kembali memunggungi Tiffany.

“Aigoo uri TaeTae tengah merajuk, eoh?” goda Tiffany.

“Diamlah!”

Tiffany tertawa lagi. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa seorang Kim Taeyeon menunjukkan sisi lainnya saat bersamanya. Entah merasa senang atau tidak, tapi Tiffany merasa beruntung karena Taeyeon sudah mulai membuka dirinya pada Tiffany.

***

Saat ini Taeyeon bersama sahabatnya tengah berkumpul bersama di kantin setelah kelas pertama mereka berakhir.

“Semalam kau kemana, Taeng? Kata Abeonim kau tidak dirumah sejak pulang.” tanya Sooyoung.

“Latian drama.” jawab Taeyeon singkat. Pria imut itu dengan tenang terus menyuapkan nasi ke mulutnya.

“Drama? Bwahahahahaha.” Sooyoung tertawa keras setelah mendengar jawaban Taeyeon.

“Yaish! Berhentilah tertawa!” desis Taeyeon.

“Memangnya kau dapat peran apa, Taeng?” tanya Yuri.

“Romeo.” Singkat, padat, jelas, dan sukses membuat Sooyoung tertawa lebih keras. Taeyeon memutar bola matanya malas.

“Hahaha sejak kapan kau mau tampil di depan banyak orang setelah Ri Ha pergi?” tanya Sooyoung yang langsung mendapat glare dari Sunny dan Yuri.

BRAKK

Taeyeon menggebrak meja yang membuat seisi kantin terdiam. Termasuk Sooyoung yang langsung menyadari ucapannya. Dia menepuk bibirnya karena tak sengaja mengatakannya. Taeyeon berdiri dan langsung pergi darisana tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Aish, sudah kubilang topik Jung Ri Ha itu sangat sensitif untuk Taengoo!” Sunny memukul bahu Sooyoung.

“Mianhae. Aku tak sengaja.” Sooyoung menundukan kepalanya merasa bersalah.

Sunny bangkit dan menyusul Taeyeon untuk menenangkan pria yang sudah ia anggap sebagai Oppa nya itu.

 

“Hei disini kau rupanya.” sapa Sunny.

Taeyeon menengok dan melihat Sunny disampingnya. Mereka sedang ada di rooftop gedung seni lukis. Taeyeon biasa datang kesini jika tengah kesal. Maka darj itu Sunny tak sulit mencarinya.

“Perkataan Sooyoung tadi janganlah terlalu dipikirkan. Fokus saja dengan dramamu, hm?”

Taeyeon menghembuskan nafasnya pelan dan tersenyum kecut.

“Kau masih trauma dengan kejadian dulu?” tanya Sunny hati-hati.

Taeyeon menggeleng namun detik kemudian mengangguk lalu menggeleng lagi. Dia mendesah. “Khaah, aku berusaha melupakannya.”

Pegangan tangan Taeyeon di besi pembatas semakin menguat. Dia teringat kejadian itu lagi dan itu membuatnya merasa sesak.

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu.” Sunny memeluk Taeyeon dari samping.

“Kenapa dia meninggalkanku, Sunkyu-ya? Kau tahu aku menunggunya di atas panggung sendirian. Wae.. wae?” tanya Taeyeon pelan. Dia masih tidak bisa menerima mengapa Jung Ri Ha meninggalkannya waktu itu. Sunny hanya bisa menepuk punggung Taeyeon pelan dan menenangkannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Epep balu eciee hahaha. Moga suka ye. Ini salah satu ff req reader tuh.

@ten moga suka dan mengecewakan ye.

Btw sekali2 gw numpang tenar.jd cast di ff ndiri wakakaka

Bye~ see u next chap~

Advertisements

25 thoughts on “No Secret (Chapter 1)

  1. tae jadi namja ya πŸ˜…πŸ˜…
    kenapa ga ngambil genre yuri, biasanya lebih dapet feelnya kalau yuri. agak aneh kalau bayangin taeyeon jadi cowok tapi gapapa sih terserah author 😁😁
    hwaiting thor πŸ‘πŸ‘

    Liked by 1 person

  2. Keren thor gue suka 😊
    Tae karakternya cool tapy tetep klo bersama tiffany karakternya ilang langsung jadi manja πŸ˜†πŸ˜…πŸ˜‚

    Like

  3. Suka ama peran sosok Taetae angkuh dan dingin kyk gt, buat Fany jadi penasaran.
    Ceritanya bagus banget thor….
    Inget yg Tae! dari dingin berubah dork lanjut ke byun. Jurus jitu untuk buat Fany mabok kepayang

    Like

  4. Yeeyee.. Epep baru, keren thor lanjutkan, suka sih tae yg cool tp gxg tp genben boleh jg.. Apa aja yg penting soshi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Ga sekalian saya di masukin?? 😝😝😝😝
    Canda yaa canda..
    Semangat author

    Like

  5. Hadir untuk komen..
    Menarik sm jln crtnya.. ntar itu yg murid yg dikeluarin bakal jd musuh taeng ni kliatannya..
    Ah iya si ppany di wp ini dibuat kaleman ya. πŸ˜†
    Dr sweet love sm bbrp oneshoot tiffany lebih lembut.. dan kalem. Tp sukaa..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s