Enterprischool (Chapter 2)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : JRH/N

.

.

.

.

.

.

Taeyeon menolehkan wajahnya kembali ke sumber suara, Young Woo lagi. Dia menghela nafas dan memejamkan matanya. Young Woo tak akan pernah diam sebelum Taeyeon kalah.

Taeyeon makin mengepalkan buku-buku jarinya. Dia membuka matanya dan menggebrak meja. Sontak membuat orang yang ada disana terkejut. Kilat amarah jelas nampak di matanya. Taeyeon mengerang dengan wajahnya yang memerah.

Suasana masih tegang di ruangan meeting tersebut. Taeyeon mendesis, matanya mulai berubah merah. Dia menunjuk ke arah anggota meeting disana.

“Tidak ada seorangpun disini yang boleh keluar sebelum aku kembali. Ingat itu!”

Setelah itu, Taeyeon menyeret kakinya dan berlari keluar ruangan meeting dengan tergesa. Dia melepas earphone seharga berjuta-juta di telinganya ke lantai. Dia tidak peduli. Yang dia pedulikan sekarang adalah orang yang disayanginya.

Taeyeon mendobrak pintu ruangannya. Disana sudah ada Yuri dan Sooyoung. Mereka memberi jalan untuk Taeyeon mendekat ke arah gadis yang terbaring lemah di sofa.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Taeyeon pada sahabatnya.

“Aku tak tahu pasti. Yang jelas saat aku ke toilet aku sudah melihat…” Yuri memejamkan matanya sebelum melanjutkan ucapannya. “…dia dilecehkan.” Yuri mengepalkan buku-buku jarinya.

“Siapa dia? Siapa yang melakukan ini?” tanya Taeyeon lagi. Wajahnya masih menunjukkan kemarahan.

“Kudengar dia karyawan baru, Taeng.” jawab Sooyoung.

“Sial! Siapa Teamjang-nim nya?”

“Park Hong Jun.” jawab Sooyoung cepat.

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Hong Jun? Maksudmu pria tua botak itu?”

Sooyoung mengangguk.

“Brengsek! Sudah kuduga kerja tim mereka sampah!” Taeyeon memukul meja dengan keras. Dia tidak peduli jika tangannya akan memar. Taeyeon tahu pria yang tak menyimak presentasinya tadi adalah Hong Jun. Rasanya dia ingin membunuhnya, juga pria yang dengan beraninya menyentuh gadis yang disayanginya.

“Taeng, tenanglah. Beruntung Yuri datang tepat waktu. Sica masih bisa dibilang beruntung. Pria brengsek itu belum melakukan hal gila padanya.” Sooyoung mencoba menenangkan Taeyeon dan menjelaskan kejadian tadi.

Taeyeon menghela nafasnya. Dia melihat Jessica yang masih menutup matanya. Gadis itu pasti ketakutan dan trauma. Taeyeon membelai pipi sahabatnya dengan sayang. Hampir sepanjang hidupnya Taeyeon habiskan dengan Jessica. Mereka bersahabat bahkan saat masih balita. Wajar jika Taeyeon sangat menyayangi sahabatnya itu.

“Dimana pria sialan itu sekarang?” tanya Taeyeon dingin.

“Dia sudah diamankan di kantor polisi.” jawab Yuri.

“Buat hidupnya sengsara setelah dipecat dari sini.”

Yuri dan Sooyoung menelan ludahnya. Mereka tahu ucapan Taeyeon tak main-main.

***

Tiffany dan Bora tengah duduk di booth dekat lapangan basket. Karena rasa kantuknya tadi sudah menguap entah kemana, Bora mengajak sahabatnya melihat pria-pria tampan bermain basket. Tiffany awalnya menolak, dia tak berminat. Toh seberapa tampan pria di sekolahnya tak akan pernah bisa dibandingkan dengan kekasihnya. Tiffany terkekeh pelan dengan pemikirannya. Bora yang ada di sampingnya menatap sahabatnya dengan tatapan aneh. Dia tak terlalu mengambil pusing dengan sahabatnya yang tak waras dan beralih melihat pria most wanted di sekolahnya lagi.

“Aiihh membosankan!” Tiffany melempar kotak susu yang sudah kosong ke tempat sampah. Dia berteriak girang karena tembakannya tepat masuk ke tong sampah. Bora berdecak pelan.

“Apa kau tak memiliki kegiatan lain selain melihat pria sok keren itu? Ayolah, boo. Aku bosaan~” Tiffany merengek dan menarik-narik tangan sahabatnya.

Bora melepas tangan Tiffany di lengannya dengan kasar, membuat gadis bereyesmile tersebut mengerucutkan bibirnya.

Bora menaruh telunjuknya di dagu. Alisnya ia naikkan tanda berpikir. Dia tersenyum lebar dan menjentikkan jarinya.

“Bagaimana kalau kita bolos?” usul Bora.

Tiffany mendelikkan matanya. “Kau gila?! Bagaimana kalau ketahuan? Kartu pelanggaranku masih bersih. Andwae!”

“Aish, Miyoung-ah. Sekolah tanpa bolos itu hampa. Aku berani jamin tak akan ketahuan.”

“Kau yakin?”

Bora mengangguk. “Kajja!”

Mereka berdua akhirnya melaksanakan misinya. Dengan mengendap-endap di belakang gedung sekolah, Tiffany dan Bora berhasil sampai di dinding belakang sekolah. Tiffany melihat kebawah. Tak terlalu tinggi memang. Mungkin sekitar dua meter. Bora mengisyaratkan Tiffany untuk turun terlebih dahulu. Dengan memanjat segala pujian, Tiffany mulai melompat.

Berhasil!

Gadis itu tersenyum dan menunggu sahabatnya menyusulnya. Tiffany mengerutkan keningnya melihat mimik sahabatnya saat ini.

“Cepat pergi!” Meski Bora tak bersuara, Tiffany tahu Bora mengatakan apa. Dia makin mengerutkan keningnya. Bora mendesah dan menyuruhnya pergi dengan mengibaskan tangannya.

“Kang ssaem!” Tiffany membuka mulutnya saat Bora berkata lagi. Dengan cepat dia langsung berlari darisana sekuat yang dia bisa. Dia tak memikirkan Bora karena terlalu panik. Yang Tiffany tahu, Bora pasti memiliki beribu macam alasan untuk menghadapi Kang ssaem.

Tiffany akhirnya sampai di halte bus. Dia bingung akan kemana. Tak mungkin kembali ke apartemen. Akan sangat membosankan berada sendirian disana. Tiffany berbinar, dia memiliki ide. Kenapa dia tidak mengunjungi kekasihnya di kantornya?

Tiffany makin tersenyum lebar saat bus berhenti di depannya. Dia masuk kedalam dan tak sabar bertemu kekasihnya.

Sekitar sepuluh menit berlalu. Bus berhenti di halte selanjutnya, begitu juga Tiffany. Dia turun darisana dan berlari kecil dengan riang menuju gedung Jacco Enterprise.

Tiffany sampai di lobby. Dia bertanya pada salah satu resepsionis disana.

“Permisi. Apa Tae-… maksudku Presdir ada di ruangannya?” tanya Tiffany.

Wanita di depan Tiffany melihat Tiffany dengan tatapan menyelidik. Tentu saja, gadis SMA sepertinya kenapa menanyakan atasan mereka? Apalagi ini masih jam pelajaran. Hey, apa gadis di depannya ini bolos? – pikir wanita tersebut.

“Aku adiknya” lanjut Tiffany saat wanita di depannya masih menatapnya. Itu membuatnya risih. Wanita itu langsung menundukkan kepalanya dan memohon maaf.

“Maafkan saya, nona. Presdir ada di ruangannya. Nona ingin saya antarkan kesana?”

Tiffany menggeleng. “Tak perlu. Aku kesana sendiri saja. Terimakasih, Unnie.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany melenggang pergi menuju lift. Tentu saja bertemu Kim Taeyeon, atau Han Taeyeon?

Saat Tiffany sudah tak terlihat lagi, wanita di bagian resepsionis menyadari sesuatu. Dia berpikir keras sebelum benar-benar ingat.

“Astaga! Presdir puteri tunggal! Beliau tidak memiliki adik!” Wanita tersebut langsung memanggil security untuk membawa gadis tadi. Dia takut gadis itu akan mengganggu atasannya, atau lebih buruknya lagi berniat jahat.

 

“TaeTae Ahjumma!” Tiffany berteriak saat melihat kekasihnya tengah berkutat dengan layar laptop di depannya. Taeyeon terlihat terkejut dan melepas kacamatanya.

“Fany-ah, apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon. Dia berdiri dan akan mendekat ke arah gadisnya sebelum pintu ruangannya terbuka cukup keras.

Taeyeon dapat melihat salah satu security nya masuk dan menangkap Tiffany. Jelas saja gadis itu berteriak dan mencoba melepaskan genggaman security tersebut di tangannya.

“Joesonghamnida, Presdir. Saya akan mengurus gadis yang mengganggu anda ini.” ucap security.

“TaeTae! Apa-apaan ini?!” Tiffany berteriak. Taeyeon segera berlari ke arah gadisnya dan melepas genggaman security.

“Siapa yang bilang dia menggangguku? Keluar! Dia adikku!” Taeyeon menyuruh security tersebut dengan sedikit kesal.

Sang security melebarkan matanya dan menunduk meminta maaf.

“Keluarlah. Katakan ke semua orang jika gadis ini kemari, biarkan dia masuk” ucap Taeyeon setelah berhasil mengendalikan rasa kesalnya.

“B-Baik Presdir” Security menunduk 90Β° sebelum melangkah pergi darisana. Dia mengetuk kepalanya yang bodoh. Beruntung atasannya tak memecatnya.

***

Tiffany masih dalam mode diamnya. Dia masih merajuk akibat pelayanan dari karyawan kekasihnya. Gadis itu tak mempedulikan Taeyeon dan terus saja bermain ponselnya. Padahal hanya membolak-balikkan menu, tak lebih.

Taeyeon menghela nafasnya. Dia mendekat ke arah Tiffany dan mengambil ponsel milik gadis itu. Tentu saja Tiffany kesal.

“Kembalikan!” teriak Tiffany.

Taeyeon diam. Dia menarik tangan Tiffany hingga berdiri, dilanjutkan menjatuhkan tubuhnya ke sofa hingga Tiffany duduk di pangkuannya. Gadis bereyesmile menelan ludahnya karena wajah mereka hanya terpaut beberapa inchi. Bahkan hidung mereka bersentuhan dan dia dapat merasakan nafas hangat Taeyeon di bibirnya.

“Katakan aku harus melakukan apa agar kau berhenti merajuk?” tanya Taeyeon. Bibir mereka bersentuhan saat Taeyeon bicara. Hal itu membuat jantung Tiffany berdetak kencang dan ribuan kupu-kupu melesak keluar di perutnya.

Tiffany hendak memundurkan wajahnya namun Taeyeon menahan tengkuknya dan segera menyambar bibir pink yang menggoda itu. Dia melumat bibir bawah Tiffany yang masih diam. Tiffany dapat melihat mata kekasihnya yang terpejam dan menikmati bibirnya yang sedang dijajah. Gadis itu mulai menutup matanya dan membalas ciuman Taeyeon.

Taeyeon tersenyum di sela ciumannya. Gadis mungil mengeluarkan lidahnya dan menjilat bibir kekasihnya. Tiffany mengerang hingga membuka mulutnya. Itu kesempatan bagus bagi Taeyeon. Dia segera menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Tiffany. Lidahnya mengajak lidah Tiffany untuk bergulat.

Itu adalah ciuman paling basah yang pernah mereka lakukan. Sebelumnya mereka hanya melakukan kecupan ringan dan hanya lumatan. Tak lebih dari sekarang ini. Boleh dikatakan ini adalah yang pertama bagi Tiffany melakukan ciuman sepanas ini. Sedangkan Taeyeon… gadis itu tentu sudah berkali-kali dengan wanita yang berbeda sebelum bertemu Tiffany.

Taeyeon mengusap rahang Tiffany sementara bibirnya menghisap lidah Tiffany dan kembali menelusuri rongga mulut kekasihnya. Tiffany meremas rambut Taeyeon. Ini luar biasa! – pikir Tiffany.

Taeyeon kehilangan akal sehatnya saat mendengar erangan Tiffany yang kesekian. Dia melepas ciuman panas mereka dan beralih mencium rahang kekasihnya, turun hingga ke lehernya. Nafas Tiffany terengah dan dia mendongak agar Taeyeon mudah mengeksplor lehernya.

“Taenghh~” Tiffany menjambak rambut Taeyeon.

Gadis yang lebih tua terus menjilat dan menghisap leher kekasihnya hingga menimbulkan bercak kemerahan. Dia mulai membuka satu persatu kancing seragam Tiffany hingga terlepas seluruhnya. Taeyeon mengusap punggung Tiffany dan merayap ke perutnya lalu boobsnya yang masih terhalang bra berwarna pink.

“Taeeehh hngg aahh~” Tiffany berteriak saat kekasihnya meremas boobsnya dengan keras.

Seperti tersadar, Taeyeon segera menghentikan perbuatannya. Nafasnya memburu. Dia melihat Tiffany juga sama, matanya redup. Taeyeon menelan ludahnya gugup. Bagaimana bisa dia melakukan hal semacam ini pada kekasihnya? Tiffany masih SMA for God sake! Taeyeon seperti melakukan pelecehan pada kekasihnya sendiri.

“F- Fany-ah m- mianhae” ucap Taeyeon.

Dada Tiffany masih naik turun akibat ciuman panas tadi. Dia menggeleng. “Maaf untuk apa?” Tiffany masih terengah.

“A- aku tidak bermaksud melakukan ini. Aku hilang kendali. B- bagaimana bisa aku melecehkanmu.” Taeyeon menggigit bibir bawahnya dan menunduk.

Tiffany menggeleng. “Do it, Tae.”

Taeyeon mendongak dan membulatkan matanya. Apa yang kekasihnya ini bicarakan?!

“Tidak, Fany-ah. Kau masih sekolah. Aku tak mau merusakmu.”

“Sekarang atau beberapa tahun lagi tak ada bedanya. Apa kau tak mau melakukannya denganku?” tanya Tiffany. Taeyeon melihat mata Tiffany yang dikuasai nafsu. Taeyeon yakin Tiffany belum sadar sepenuhnya dengan apa yang dia katakan dan lakukan. Taeyeon menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya Taeyeon tak melanggar batasnya tadi. Tiffany masih remaja, tentu hal yang sekiranya menyenangkan untuknya akan dia lakukan. Tidak peduli itu baik atau tidak.

Taeyeon menggeleng dan mengancingkan kembali seragam Tiffany. Dia menyesal karena berhasil membangkitkan nafsu Tiffany di usia yang belum sepatutnya.

“Kau belum mengerti, Fany-ah.”

“Kalau begitu buat aku mengerti!”

“Aku minta maaf karena melakukan hal tadi, oke? Ini yang terakhir. Aku berjanji.”

“Kim Taeyeon!” teriak Tiffany.

“Apa kau benar-benar tak mau melakukannya denganku?” Tatapan Tiffany memelas.

“Tentu saja aku ingin, Fany-ah. Sangat! Tapi ini belum waktunya. Kau masih remaja. Aku tak mau merusakmu, sayang. Mengertilah.” Taeyeon mengusap wajah kekasihnya dengan sayang.

Tiffany memejamkan matanya. Sepertinya dia mulai tersadar dengan apa yang dilakukannya. Dia beruntung memiliki kekasih seperti Taeyeon. Gadis itu sangat baik dibalik sifat pendiam dan dinginnya. Dia bahkan bisa mengendalikan nafsunya agar tidak merusak gadisnya. Betapa beruntungnya Tiffany.

“Gomawo, Tae Ahjumma. Maafkan aku karena bertingkah gegabah. Ini kali pertama aku merasakan hal ini, dan-…”

“Aku tahu, sayang. Aku tahu.” sela Taeyeon dan memeluk kekasihnya.

Tiffany tersenyum dan balas memeluk Taeyeon erat. “Saranghae, ahjumma.”

Taeyeon mengangguk. “Aku lebih mencintaimu, sayang.”

Saat sedang asik berpelukan, ponsel Taeyeon berdering. Dia melepas pelukan mereka dan meraih ponselnya di saku. Menggeser ikon hijau dan mendekatkannya ke telinga sebelah kanan.

“Yeoboseyeo”

“…….”

“Jinjja? Arrasseo aku akan kesana”

“……”

“Jaga dia dengan baik. Kututup teleponnya. Annyeong.”

“Siapa, Tae?” tanya Tiffany penasaran.

“Yuri. Dia bilang Jessica sudah siuman.”

Tiffany mendelik. “Jessi Unnie meninggal- maksudku- pingsan?”

Taeyeon tertawa pelan mendengar pertanyaan kekasihnya. Dia mengangguk.

“Kau mau ikut ke apartemennya?”

Tanpa menjawab, Tiffany bangun dari pangkuan Taeyeon dan menariknya keluar. Tentu saja dia harus ikut. Meskipun Jessica sudah dia anggap Unnie nya sendiri, dia terkadang masih merasa cemburu dengannya. Kekasihnya jika disandingkan dengan Jessica akan sangat cocok. Berbeda dengan dirinya yang masih kekanakan, labil, ceroboh, mudah marah, bodoh dan keras kepala. Lihat? Apa yang ada di dirinya benar-benar buruk. Dia iri dengan Jessica yang menurutnya sangat perfect! Jujur dia sedikit takut Taeyeon akan berpaling darinya dan memilih Jessica, meskipun kekasihnya sudah berulang kali mengatakan bahwa Tiffany adalah hidupnya. Dia sangat mencintai gadis itu dan tak mungkin berpaling.

***

Tiffany berlari dengan cepat seusai Taeyeon menepikan mobilnya di basement. Hampir saja gadis itu terpeleset. Taeyeon mendekati kekasihnya dan memegang lengannya.

“Hati-hati, sayang.”

Tiffany meringis dan mengangguk. Dia menarik tangan Taeyeon dan berjalan cepat menuju lift. Taeyeon memutar bola matanya, gadisnya ini suka sekali tergesa-gesa dan ceroboh.

Setelah lift yang mereka naiki sampai di lantai lima, mereka keluar dengan Tiffany yang memimpin. Taeyeon tertinggal jauh di belakang. Gadis itu menghentikan langkahnya saat berada tepat di pintu apartemen Jessica. Dia menunggu Taeyeon karena gadis itu mengetahui passkey apartemennya.

“Kau ini.” Taeyeon mengacak rambut kekasihnya dan menggeleng. Selanjutnya mulai menekan beberapa angka hingga terdengar bunyi ‘klik’ dan mereka memasuki apartemen Jessica.

“Unnie!” Tiffany melompat dan segera memeluk Jessica. Gadis berambut coklat itu terkejut mendapati kedatangan bocah tengilnya.

“Hey, bukankah sekolah masih belum selesai? Kau bolos, Tiff?” tanya Jessica.

Tiffany menunjukkan cengiran khasnya dan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. “Gwaenchanha, kalau aku dihukum aku bisa minta bantuan sajangnim.” ujar Tiffany seraya menunjuk Taeyeon.

Sooyoung menoyor kepala Tiffany dari belakang. “Siapa yang mengajarimu untuk menyalahgunakan kekuasaan, huh?”

“Ya! Ahjumma tiang!” teriak Tiffany dan memandangnya tajam. “TaeTae ahjumma~ lihat ahjumma tiang.” rengek Tiffany dengan menunjuk Sooyoung.

“Haish, Syoo diamlah!”

Tiffany memeletkan lidahnya pada Sooyoung yang dibalas cibiran.

“Bagaimana keadaanmu, Sica? Apa kau baik-baik saja?” tanya Taeyeon mendekat ke arah sahabatnya dan duduk di ranjang samping Tiffany.

“Gwaenchanha. Aku sudah melupakan kejadian tadi.” Jessica tersenyum lemah.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia tahu dengan pasti sahabatnya masih ketakutan dan trauma.

“Aigoo berhenti menatapku dengan tatapan itu, midget. Sudah ada Tiffany disini. Aku jadi semakin baik” ucap Jessica seraya mengelus kepala Tiffany dengan sayang.

“Kau dengar ahjumma? Aku ini penyembuh Jessie Unnie jadi jangan khawatir.” kata Tiffany dengan lucu dan mengedipkan matanya.

“Ya, bocah. Kenapa kau memanggil aku, Taeng, dan Soo dengan panggilan ahjumma sedangkan Sica unnie, huh?” kesal Yuri.

“Mulut mulut siapa? Aku, kan? Jadi semua terserah Tiffany Hwang, okay?”

“Yaish bocah sialan.” desis Sooyoung dengan ekspresi ingin memukul kekasih sahabatnya itu.

Taeyeon menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya dan sahabatnya. Jika ada Jessica diantara mereka, Tiffany akan lebih berani menjahili dan mengejek Yuri dan Sooyoung, karena Jessica pasti akan membelanya. Lain halnya jika Jessica tidak ada. Tiffany akan berubah menjadi cs mereka berdua untuk sekedar menjahili seseorang atau membicarakan hal gila. Sungguh plot twist si Tiffany Hwang.

Yuri berdehem. “Taeng, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Apa masalah pekerjaan?”

“Bisa jadi.”

“Arrasseo. Kita bicarakan di luar.”

Taeyeon dan Yuri berjalan keluar kamar Jessica. Yuri berjalan terlebih dahulu. Setelah mereka berada cukup jauh dari kamar Jessica, Yuri menghentikan langkahnya. Dia menghela nafas sebelum berbalik dan menatap Taeyeon dengan tatapan sedih.

“Maafkan aku mengatakan ini…” Yuri menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan. “Aku mendapat informasi bahwa hubunganmu dengan Tiffany sudah diketahui di sekolah Fany dan itu sudah tersebar luas.”

Taeyeon membulatkan matanya. “Bagaimana bisa?”

“Ini masih dugaan, tapi kurasa Han Young Woo yang menyebarkan.”

Taeyeon memejamkan matanya erat. Dia menghembuskan nafasnya kasar. “Tiffany dalam masalah.” gumamnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hai hai gw balik lagi. Cepet kan apdetnya? Hehehe. Mumpung lagi ada free time gw sempetin nulis dan yahh jadinya gini

Taeny nya udah manis belom? Hihihi.

Okay see u next chap or fic~

Komen juseyo~

No Secret (Chapter 2)

Title : No Secret

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : Genderbender

Author : JRH/N

.

.

.

.

.

.

 

 

Flashback

Perayaan anniversary sekolah memanglah acara yang paling ditunggu-tunggu seluruh murid. Selain karena kegiatan belajar mengajar dikosongkan, banyak acara atau hiburan dari siswa itu sendiri. Mulai dari menyanyi, menari, drama, dan pertunjukan lain.

Hal yang sama kini dilakukan oleh seorang pria tampan yang sangat terkenal seantero sekolah. Kim Taeyeon, pria itu menunjukkan senyum manisnya kepada semua siswa yang ada disana. Dengan ditemani gitar miliknya dia siap menampilkan suara emasnya kepada mereka setelah menyelesaikan penampilan drama nya tak lama tadi.

“Kim Taeyeon! Kim Taeyeon! Kim Taeyeon!” teriak semua gadis-gadis dibawah sana. Rupanya Taeyeon memiliki fangirls tersendiri.

“Waah, kau begitu terkenal Taeyeon-ssi. Lihatlah fans mu dibawah” ucap pembawa acara yang membuat Taeyeon terkekeh pelan.

“Baiklah. Kali ini lagu apa yang akan kau bawakan?” tanya si pembawa acara.

“Hmm aku akan bernyanyi lagu berjudul I Just Wanna. Tapi aku tak sendirian, aku akan berduet hehe” jawab Taeyeon disertai kekehan.

Riuh siswa semakin gaduh saat Taeyeon mengatakan akan berduet. Mereka sangat penasaran dan juga iri kepada orang yang akan bernyanyi bersama Taeyeon, apalagi kalau orang itu adalah seorang gadis. Sang pembawa acara sampai harus menenangkan audience.

“Siapa orang beruntung itu yang akan berduet denganmu, Taeyeon-ssi?” tanya pembawa acara lagi.

“Aahh itu. Dia seseorang yang sangat berharga di hidupku. Jung Ri Ha, kumohon naiklah ke panggung.” Taeyeon memberi isyarat kepada Ri Ha untuk naik ke panggung. Senyumnya tak pernah ia lepaskan. Taeyeon tak mempedulikan teriakan fans nya.

“Yah, Jung Ri Ha-ssi silakan naik ke panggung” ulang pembawa acara karena gadis yang disebut belum juga menampakkan diri.

Setelah menunggu hingga bermenit-menit, Ri Ha sama sekali tak muncul. Itu membuat Taeyeon sedikit gelisah. Hingga pria itu melihat sahabatnya, Sunny tengah berlari melewati kerumunan dan dengan susah payah naik ke atas panggung. Keringat meluncur deras di pelipisnya. Nafasnya juga tidak teratur.

“Taenggu-ya.. Ri Ha.. dia.. dia sudah pergi” ucap Sunny lemah.

Mata Taeyeon terbuka lebar. Dia menggelengkan kepalanya.

“Kau pasti bercanda? Dia dimana, Sunkyu-ya? Jawab aku!” Taeyeon mendekat dan meraih bahu Sunny.

“Nan molla na moreugesseo! Dia pergi begitu saja!” teriak Sunny menahan tangisnya.

Taeyeon memandang lemah Sunny. Dia terdiam dan menahan emosinya. Pembawa acara yang sepertinya sedikit tahu apa yang terjadi mencoba mengalihkan audience dan segera mengganti acara.

Flashback end

 

“Kenapa dia meninggalkanku, Sunkyu-ya? Kau tahu aku menunggunya di atas panggung sendirian. Wae.. wae?” tanya Taeyeon pelan. Dia masih tidak bisa menerima mengapa Jung Ri Ha meninggalkannya waktu itu. Sunny hanya bisa menepuk punggung Taeyeon pelan dan menenangkannya.

Taeyeon mengeraskan rahangnya saat kenangan buruk itu muncul lagi. Dia membalikkan tubuhnya dan segera menerjang semua kursi dan meja yang tergeletak di rooftop. Sunny yang melihatnya segera memghentikan aksi Taeyeon.

“Aaargh!” teriak Taeyeon dan terus menendang kursi dan meja disana.

“Taeyeon hentikan!” Sunny menarik tangan Taeyeon dan memeluknya.

“Ssst jal doel geoya, Taeng. Gwaenchanha.” Sunny terus menepuk punggung Taeyeon dan menenangkannya.

“Mianhae” gumam Taeyeon. Sunny pasti sedikit takut melihat kebrutalannya tadi.

Sunny mengangguk. “Tak apa.”

“Aku tak akan mengulanginya lagi” ucap Taeyeon.

“Arra. Dan maafkan perkataan Sooyoung tadi. Dia tidak bermaksud.”

Taeyeon mengangguk sebagai balasan.

***

Tiffany menguap setelah selesai men-save hasil laporannya. Dia hendak mematikan laptopnya saat dering ponselnya menginterupsinya. Tiffany mengambilnya dan mulai menggeser ikon berwarna hijau.

πŸ“ž”Heyho, slut!”

Tiffany memutar bola matanya saat suara sahabatnya mulai terdengar menyapanya.

“Ada apa, slut?” tanya Tiffany.

πŸ“ž”Soojung marah padaku.”

“Kali ini karena apa lagi?”

πŸ“ž”Hey ini bukan salahku. Sebagai kakak yang baik aku hanya memperingatkan pria yang mencoba mendekati Soojung sebelum menghapus nomor pria itu. Dia itu badboy aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku.”

“Kau tahu, Jess. Soojung masih remaja. Tentu saja dia marah karena kau mengganggu kehidupan cinta nya.”

πŸ“ž”Tapi, Tiff..”

“No but, Jessie. Biarkan Soojung melakukan apa yang dia mau. Kalau itu sudah berlebihan, baru kita mengambil tindakan.”

πŸ“ž”Pffft.. arra. Oh ya, kudengar Taeyeon tadi siang brutal saat di rooftop.”

“Huum. Aku melihatnya saat tak sengaja pergi kesana tadi.”

πŸ“ž”Kau menguntitnya?”

“YA! Enak saja, aku hanya ingin mencari udara segar, asal kau tahu!”

πŸ“ž”Slow babe. Heung bagaimana bisa kau menyukai pria dingin dan menyeramkan itu, huh?”

Tiffany menaikkan bibir kanan atasnya dan berdecak.

“Siapa yang menyebutnya tampan tadi siang, huh?”

πŸ“ž”Dia memang tampan. Tapi dia pria yang membosankan dan mengerikan.”

“Whatever.”

πŸ“ž”Hey, Tiff. Aku mengatakan ini sebagai sahabatmu, okay? Meskipun Taeyeon pria yang eww bukan tipeku, tapi kalau kau menyukainya katakan saja. Memendam perasaan itu tak enak, tahu? Aku sudah pernah merasakannya.”

Tiffany mengembuskan nafasnya kasar. “Aku tutup teleponnya. Bye.”

πŸ“ž”Ya! Tungg-…”

Tiffany menghela nafasnya lagi. “Bahkan aku tidak tahu bagaimana bisa aku menyukainya.”

***

Taeyeon melihat Sunny yang tengah sibuk menalikan sepatu bermerknya. Kelas sudah berakhir dan hanya mereka berdua yang masih tinggal.

“Kau akan berkumpul dengan team mu?” tanya Taeyeon sesaat setelah Sunny selesai menalikan sepatunya.

“Hu um. Kau juga akan latihan, kan?” balas Sunny seraya memasukkan bukunya ke tas.

Taeyeon mengangguk. Mereka bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas. Taeyeon melihat Tiffany yang tengah menunggunya. Dia dan Sunny pun berjalan mendekati Tiffany.

BUKK

“Ah, sorry” ucap Jessica yang terlalu terburu-buru saat melihat sahabatnya, Tiffany dan bermaksud mendekatinya.

Taeyeon tak menanggapinya dan terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Tiffany, begitu juga Jessica.

“Aku pergi dulu. Nanti malam aku ke rumahmu” ucap Sunny sedikit berjinjit untuk mengecup pipi Taeyeon. Setelah itu pergi meninggalkan mereka bertiga.

“Wae?” tanya Taeyeon saat Tiffany dan Jessica menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.

“Ah tidak tidak” gugup Tiffany.

Jessica melihat ponselnya sekilas. Dia menatap Tiffany. “Tiff, aku duluan. Daddy sudah menunggu di depan” pamit Jessica seraya mengecup pipi kanan Tiffany.

Tiffany menaikkan satu alisnya menuntut penjelasan, namun Jessica menaikkan bahunya acuh. Dia melirik ke arah Taeyeon dan memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sepertinya gadis itu mencoba meniru apa yang Sunny lakukan.

“Gadis aneh” gumam Taeyeon yang sayangnya masih di dengar Tiffany membuat gadis itu terkekeh pelan.

“Sudahlah. Ayo, Tae!” Tiffany menarik tangan Taeyeon dan membawanya ke aula untuk latihan drama.

***

Taeyeon menghela nafasnya sebelum menekan tombol hijau di salah satu kontak ponselnya. Dia sedikit berdehem sebelum sebuah suara menyapanya di seberang.

πŸ“ž”Hey, kemana saja? Kenapa baru menghubungiku?”

“Mian, banyak sekali tugas. Aku tidak sempat menghubungimu.”

πŸ“ž”Apa kau merindukanku?”

“Yeah begitulah.”

πŸ“ž”Kau sudah memaafkanku atas kesalahanku dulu?”

“Eung. Tak usah dibahas lagi. Kau tahu sangat susah melupakannya.”

πŸ“ž”Arrasseo. Aku tidak akan membahasnya lagi.”

Hening.

πŸ“ž”Taeng?”

“Hm?”

πŸ“ž”Maafkanlah Sooyoung. Dia ti-…”

“Arraa~ kau tenang saja.”

TOK TOK TOK

Taeyeon mendengar suara ketukan pintu diluar. Dia sudah mengira itu pasti Umma-nya.

“Masuk Umma!” teriak Taeyeon.

“Tak perlu. Sunkyu dan Sooyoung menunggu dibawah, Taeng!”

“Ye, nanti aku menyusul.”

πŸ“ž”Ada Sunny dan Sooyoung disana?” tanya Ri Ha.

“Hmm. Aku tutup teleponnya. Nanti akan kuhubungi lagi. Annyeong.”

πŸ“ž”Annyeong.”

Setelah menutup panggilannya, Taeyeon bangkit dari ranjang dan segera menyusul sahabatnya di bawah.

Taeyeon melihat sudah ada Appa dan Umma nya juga Sunny dan Sooyoung di ruang tamu saat pria itu berjalan menuruni tangga. Appa nya melihatnya dan mengisyaratkan Taeyeon agar duduk di sampingnya.

“Kalian bertengkar?” tanya Appa Kim tanpa basa-basi.

“A- Anio Abeonim” sanggah Sooyoung gugup.

Appa Kim tak menghiraukan Sooyoung dan masih menatap lurus ke arah Taeyeon yang masih diam. “Taeng?” panggil Appa Kim.

Taeyeon masih diam. Appa nya menghela nafas pelan. “Okay. Kalau begitu bagaimana mengenai kejadian kemarin? Kenapa kau mengeluarkan mahasiswa lagi?” Appa Kim menatap tajam Taeyeon.

“Dia yang mulai terlebih dulu, Appa” ucap Taeyeon pada akhirnya.

Appa Kim mengangguk. “Selesaikan masalah kalian. Appa tahu telah terjadi sesuatu diantara kalian. Ingat, kalian ini keluarga” kata Appa Kim sebelum mengangkat pantatnya dan pergi dari hadapan mereka bertiga. Disusul Umma Kim.

Sunny menghela nafas dan mengisyaratkan kedua sahabatnya untuk naik ke kamar Taeyeon. Tentu saja untuk menyelesaikan masalah mereka berdua.

“Maafkan dongsaeng mu ini, Hyung. Mulutku yang satu ini benar-benar perlu dijaga.” Sooyoung menepuk pelan bibirnya dan menunduk meminta maaf sesampainya mereka di kamar.

“Taeng..” panggil Sunny.

“Arrasseo. Aku memaafkanmu, Syoo. Lain kali jangan kau ulangi lagi.”

“Siap laksanakan, komandan!” Sooyoung memberi hormat pada Taeyeon membuat mereka berdua tertawa pelan.

***

Siang ini di tengah kantin, tempat biasa Taeyeon cs menghabiskan istirahatnya dengan memakan makanan disana tampak berbeda. Kali ini bukan hanya ada Sooyoung, Sunny, dan Yuri. Namun juga Tiffany, Jessica, dan Hyomin.

“Kau ingin pesan apa?” tanya Taeyeon pada Tiffany yang disambut keterkejutan oleh semua orang yang ada disana.

“Hanya Tiffany yang kau tanyakan, Taeng?” jawab Sooyoung tak percaya. Sunny hanya tersenyum melihat Taeyeon yang perlahan membuka dirinya.

“Aku baru akan menanyakan ke kalian sebelum kalian menginterupsi” ujar Taeyeon membela diri.

“Jadi kalian ingin pesan apa?” lanjut Taeyeon bertanya.

“Samakan saja denganmu, Taeyeonaa” jawab Sunny.

“Ne. Syoo cepat pesankan” ucap Taeyeon malas.

“Ya! Kenapa aku?” Sooyoung tak terima.

Sunny menghela nafasnya dan menggeleng. Taeyeon dan Sooyoung seringkali berdebat dan itu membuatnya pusing.

“Yul, bantu Sooyoung” pinta Sunny pada Yuri yang sedari tadi memainkan ponselnya.

“Okay. Kajja, Soo!” Yuri menarik tangan Sooyoung yang masih mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon memeletkan lidahnya pada Sooyoung. Mengejek karena Sunny lebih membelanya. Tentu hal itu membuat Sooyoung makin kesal. Setelah mereka berdua tak terlihat lagi, Taeyeon kembali fokus ke orang-orang di hadapannya.

“Kudengar kau akan ikut pentas seni, Fany-ah” ucap Taeyeon.

Tiffany mengangguk dengan senyum bulan sabitnya.

“Apa dia galak padamu?” tanya Taeyeon menunjuk Sunny disebelah Tiffany menggunakan dagunya.

“Ya! Kau ini bicara apa? Tentu saja aku baik kepada anggota-anggotaku” kesal Sunny.

Semua disana terkekeh pelan melihat interaksi Taeyeon dan Sunny.

“Anio, TaeTae. Sunny sangat baik pada kami. Dia mengajari kami hingga bisa.”

“TaeTae?” kompak semua orang.

Tiffany menunjukkan cengiran khasnya sedangkan Taeyeon hanya diam tak peduli. Jessica memutar bola matanya.

“Bagaimana dengan drama kalian. Besok hari presentasinya, kan?” tanyanya pada TaeNy.

“Aku menyerahkan semuanya pada dia.” Taeyeon menunjuk Tiffany dengan dagunya acuh.

“Ya! Kenapa aku?” rajuk Tiffany dengan menggembungkan pipinya.

Semua yang ada disana tertawa melihat wajah Tiffany yang kesal karena Taeyeon.

***

Sunny, Yuri, dan Sooyoung berjalan bersama di gedung tempat Taeyeon dan Tiffany melangsungkan presentasi dramanya. Mereka tak khawatir dengan absensi kuliahnya karena mereka sudah mendapat izin. Tentu saja, universitas Yeolsan milik ayah Sooyoung. Sangat gampang jika hanya izin semacam ini.

Terlihat gedung sudah mulai ramai. Mereka sampai bingung harus duduk dimana. Beruntung masih ada bangku kosong di ujung dekat panggung. Mereka mulai duduk tepat saat lampu padam, menandakan pertunjukan sebentar lagi dimulai.

“Aku tak percaya Taeyeon akan tampil lagi” ujar Yuri. Sunny dan Sooyoung mengangguk setuju.

“Dia pasti bisa melakukannya dengan baik” sambung Sunny.

“Jja~ mari kita melihat Taeng-romeo” ucap Sooyoung yang dibalas kekehan oleh sahabatnya.

Tirai mulai dibuka, satu persatu pemain berdatangan untuk memainkan perannya masing-masing. Semua yang ada disana melihat dengan seksama, terutama ketiga sahabat Taeyeon.

Kini giliran Taeyeon memasuki panggung. Ketiga temannya tersenyum karena ini pertama kalinya pria itu mau tampil di panggung lagi setelah sekian lama. Taeyeon melakukannya dengan sangat baik, begitu juga pemain lainnya.

“Eoh, apakah jaman romeo-juliet sudah ada jam rolex?” tanya Sooyoung saat melihat jam yang dikenakan Taeyeon.

“Diam!” desis Sunny. Sooyoung benar-benar merusak suasana.

“Eoh, apa ekspresi sedih sedatar itu?” giliran Yuri yang bertanya. Sunny memandangnya tajam sedangkan Sooyoung tertawa pelan.

Sunny sedikit memicingkan matanya saat melihat scene Taeyeon dan Tiffany saat ini.

“Oh romeo!” panggil Tiffany mendekat ke arah Taeyeon.

“My Juliet!” balas Taeyeon. Tiffany sedikit tertawa melihat bagian mereka yang ini, sedikit… awkward. Taeyeon yang melihat Tiffany tertawa juga ikut tertawa. Tentu saja tak terlalu jelas.

“Lakukan yang benar” titah Tiffany saat dia sudah bisa mengendalikan dirinya. Taeyeon mengangguk. Dia meraih tubuh Tiffany dan memeluknya seperti yang ada di naskah.

“Mencurigakan” gumam Sunny. Yuri dan Sooyoung yang mendengarnya menoleh ke arah Sunny yang berada ditengah mereka. Yuri melirik Sooyoung begitu juga sebaliknya, kemudian mengangkat bahunya acuh dan melihat ke arah panggung lagi.

Suasana di backstage juga terkendali. Mereka yang terlibat di dalam maupun diluar panggunh melakukan tugasnya dengan sangat baik.

“Sejauh ini terlihat baik” ujar Hyomin selaku sutradara. Mereka yang ada disana mengangguk setuju.

Saat semua orang di backstage tengah melihat Taeyeon, tiba-tiba seseorang masuk dan berteriak.

“Gawat! Batu nisan untuk adegan terakhir tidak ada!”

Hyomin menoleh dan melihat salah satu kru nya terengah.

“Kau sudah mengeceknya lagi?” tanyanya bersikap setenang mungkin.

Gadis itu mengangguk. “Aku sudah mencari ke seluruh tempat”

“Apa batu nisan itu terjatuh saat dalam perjalanan?” tanya seorang gadis berambut sebahu.

“Bagaimana ini?” Kali ini giliran gadis yang paling berisi diantara mereka yang bertanya.

“Ada masalah apa, Hyomin-ah?” tanya Tiffany yang baru saja datang seusai menyelesaikan perannya.

“Batu nisan untuk adegan terakhir hilang.” jawab Hyomin.

“Bagaimana kalau kita tidak menggunakan properti itu saat adegan terakhir?” usul Tiffany.

“Tidak bisa, Tiff. Akhir cerita romeo dan juliet ada di makam”

“Kalau kita membuatnya lagi waktu juga tak akan cukup” ucap seorang pria yang berperan sebagai pengawal keluarga Capulets.

“Kalau tidak salah di kelas sejarah ada batu yang mirip dengan batu nisan. Bagaimana kalau kita meminjamnya?” usul Hyomin.

“Baiklah aku akan meminjamnya dulu.” sahut Tiffany dan segera berlari keluar.

“Tiff, tapi peranmu!” teriak Hyomin.

“Berikan saja pada yang lain terlebih dahulu.”

Hyomin menghela nafas dan menunjuk salah satu kru nya yang menganggur untuk menggantikan peran Tiffany.

Kembali ke panggung. Sunny dan kedua sahabatnya menaikkan satu alisnya saat peran Juliet tak dimainkan oleh Tiffany lagi.

“Apa ada masalah?” tanya Yuri. Kedua sahabatnya mengangkat bahunya tak tahu.

Hingga drama hampir selesai Tiffany belum juga muncul. Didetik terakhir drama mereka saat Romeo meminum racun, Tiffany datang memainkan perannya lagi. Sunny menghela nafasnya lega. Drama pun selesai. Semua orang bertepuk tangan dengan sangat keras. Taeyeon mengatur nafasnya. Jujur dari awal pertunjukan dia gugup setengah mati. Sudah lama sekali semenjak dia tampil di panggung.

“Whoaaah kalian keren.” Sooyoung menerobos masuk ke backstage dengan girang.

“Ne. Kami bangga pada kalian, terutama kau, Taeng.” lanjut Sunny.

“Gomawo” ucap Taeyeon dan Tiffany bersama.

“Wow. Tadi itu mengesankan, Tiff” Jessica muncul di belakang Sunny cs.

“Kau darimana?” tanya Yuri yang tidak melihat Jessica tadi.

“Kau tak melihatku? Aku berada tepat dibelakang kalian” jawab Jessica dengan mengerucutkan bibirnya. Itu membuat Tiffany curiga. Jarang sekali gadis dingin itu bertingkah imut saat kesal.

“Sejak kapan?” tanya Tiffany memicing.

“Sejak kapan kalian berdua?” tanyanya lagi menunjuk Jessica dan Yuri.

Sontak hal itu membuat keduanya membulatkan matanya. Mereka menelan ludahnya kaku. Bagaimana bisa Tiffany tahu?

“Whoaa kalian? Mengapa tidak memberitahu kami?” tanya Sooyoung yang sepertinya tahu apa yang terjadi.

“Aish lupakan! Dia bahkan belum menyatakan perasaannya” ucap Jessica disertai gumaman di akhir kalimatnya.

***

Taeyeon mendribble bolanya dengan berlari. Dia meminta izin untuk bergabung dengan klub basket hanya untuk ini. Bermain solo untuk mengusir rasa penat dan kesalnya. Taeyeon melompat ke ring dan berhasi memasukkan bolanya. Sudah hampir tiga puluh menit dia bermain sendiri.

Taeyeon membaringkan tubuhnya di tengah lapangan. Matanya ia pejamkan. Nafasnya masih terengah. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Dia membuka matanya dan menemukan Tiffany berada dihadapannya dengan sebotol air minum ditangannya. Gadis itu menyerahkan air minum tersebut pada Taeyeon dan segera diterima pria itu.

“Gomawo” ucap Taeyeon setelah meneguk air tersebut. Tiffany mengangguk.

“Kenapa kau belum pulang, Tae?”

“Hanya menghilangkan kejenuhan”

“Bukannya kau akan pergi dengan Yuri?”

“Kukira kau tidak mendengar pembicaraanku dengan Yul”

Tiffany meringis.

“Kau sendiri.. mengapa belum pulang?”

“Ahh. Aku memiliki kegiatan seusai kuliah. Yeaah tidak setiap hari. Hanya hari rabu dan jum’at. Oh ya ditambah latihan menari bersama kelompok Sunny. Kau tahu, itu sedikit melelahkan. Tapi tak apa, aku menikmatinya. Teman-teman disana sangat menyenangkan. Aku sarankan kau sesekali melihat kami latihan, mereka sangat lucu” jawab Tiffany panjang lebar.

“Kau cerewet” ucap Taeyeon. Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Aku akan latihan basket setiap hari” kata Taeyeon.

Tiffany menaikkan satu alisnya. Apa Taeyeon baru saja memberitahunya untuk menjenguknya setiap hari juga? Assa! Ini kesempatan Tiffany. Gadis itu tersenyum manis dan mengangguk.

Mereka pun melanjutkan obrolan hingga Daddy Tiffany datang menjemputnya.

***

Taeyeon merebahkan tubuhnya ke ranjang seusai membersihkan dirinya. Ponselnya berdering, dia melihat nama yang terpampang disana. Taeyeon menghela nafas malas dan mengangkatnya.

“Yeoboseyo” sapa Taeyeon malas.

πŸ“ž “Taeng, kau marah padaku?”

Taeyeon diam.

πŸ“ž “Kumohon Taeng. Maafkan aku karena tidak menepati janji untuk kembali dalam waktu satu minggu ini”

“Teruslah berjanji hingga aku muak”

πŸ“ž “Taeyeon-ah mianhae. Kali ini aku benar-benar berjanji untuk kembali dalam waktu dekat. Bersabarlah”

“Aku terus bersabar sampai orang-orang menyebutku idiot”

πŸ“ž “Kau tidak idiot, Taeng. Aku minta maaf hiks~”

Taeyeon menghela nafasnya mendengar gadis di seberang sana menangis.

“Sudahlah Ri Ha. Ini sudah malam. Tidurlah. Kita lanjutkan masalah ini besok. Selamat malam”

Taeyeon memutuskan panggilan dan menghela nafasnya kasar- lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Enterprischool (Chapter 1)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : JRH/N

.

.

.

.

.

.

.

 

 

Cantik, memikat, cerdas, memiliki segalanya.

Siapa yang tidak iri melihatnya?

Sosok itu berjalan santai menyusuri koridor sekolah menengah dimana dia menjadi pemilik sekaligus direktur utamanya. Wajah tegasnya menunjukkan betapa berkharismanya dia. Satu belokkan terakhir sampailah dia di tempat dimana ruang kepala sekolah berada. Tanpa mengetuknya, gadis itu membuka pintu dan mulai melenggang masuk.

“Ah, joesonghamnida, sajangnim. Saya tidak mengira anda akan datang.” Kepala sekolah menurunkan kakinya yang dia letakkan di meja dan menaruh koran di sofa sampingnya. Wajahnya ia tundukkan karena malu.

“Aku tak akan lama dan hanya ingin menanyakan beberapa hal saja.” Gadis itu menyilangkan kakinya dan menatap tegas kepala sekolah.

“Kalau begitu saya akan menjawab sebisa saya, sajangnim.”

“Kudengar kau akan mengadakan ujian kepada siswa? Bukankah sebulan yang lalu sudah diadakan ujian?” tanya gadis itu dengan menyipitkan mata.

“Memang benar. Kami mengadakan ujian lagi karena rata-rata nilai siswa sangat buruk.”

Gadis itu menaikkan satu alisnya. “Bukankah dengan begitu siswa akan merasa stress dan terbebani? Pikirkanlah siswa dan cara pengajaran yang efisien dan efektif. Dengan begitu nilai mereka berangsur naik.”

“Tapi sajang-…”

“Hapuskan ujian ulang. Aku tidak menerima penolakan.”

Setelah selesai berkata, gadis itu mengangkat pantatnya dan mulai melangkah pergi dari ruangan. Kepala sekolah memejamkan matanya erat dan menghela nafasnya.

 

“TaeTae?” Gadis yang dipanggil TaeTae menghentikan langkahnya. Dia mendengar suara seseorang yang dikenalinya.

“Whoaah.. itu benar kau! Ada apa kau kemari?” Taeyeon menemukan gadis yang memanggilnya berada tepat di depannya dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, excited.

“Ingatkan dirimu untuk tidak memanggilku dengan panggilan itu saat di sekolah.” Taeyeon berucap tegas.

Gadis itu meringis dan mengangguk dengan cepat. Dia lupa mereka masih berada di kawasan sekolah.

“Jadi apa yang anda lakukan disini, sajangnim?”

“Kau sendiri? Bukankah ini masih jam pelajaran?” Taeyeon memicingkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, membuatnya memundurkan pelan wajahnya. “Apa kau bolos?”

Gadis itu membulatkan matanya dan mendorong bahu Taeyeon.

“Enak saja! Aku baru saja dari toilet tadi.” Wajah gadis itu memerah menahan malu dan kesal.

“Kembalilah ke kelas. Aku juga akan pergi.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Gadis di depan Taeyeon mengerucutkan bibirnya.

“Ke apartemenku nanti malam jika kau ingin mendapat jawaban.”

Taeyeon melanjutkan langkahnya untuk pergi dari sana, meninggalkan gadis itu yang menghembuskan nafasnya kasar hingga membuat poninya tersibak.

***

“Fany, hey.. you okay?” Bora menatap sahabatnya khawatir. Semenjak pelajaran sejarah selesai Tiffany terus saja melamun. Itu membuat Bora cemas.

“Tiff? Tiffany Hwang!” teriak Bora karena tak ada tanggapan.

“Uh huh y-yeah?”

Bora menghela nafasnya. “Kau kenapa, babe? Daritadi kau terus saja melamun. Is there something happened?”

“Uhm nothing. Kau mau ke kantin?” Tiffany berusaha mengalihkan topik.

“Sure. Aku sudah lapar. Kajja!”

Bora tahu sesuatu terjadi pada sahabatnya. Namun dia lebih memilih mengabaikannya dan menunggu Tiffany siap bercerita kepadanya. Dia menarik tangan sahabatnya dan menyusul teman lain ke kantin.

 

1 hour ago

Tiffany berusaha mencari alasan yang menyebabkan kepala sekolah memanggilnya. Dia menggeleng karena tak menemukan secuil kesalahan yang diperbuatnya. Tiffany adalah gadis baik, meski dia tak terlalu pintar dalam mata pelajaran. Kartu pelanggarannya juga bersih, menandakan gadis itu tak sekalipun melakukan pelanggaran di sekolah.

Dia mendesah kasar karena tak menemukan satu alasan pun mengapa kepala sekolah memanggilnya. Apa karena dia mengambil makanan ringan di loker milik Jae Min kemarin? Oh tidak! Tiffany menggelengkan kepalanya cepat. Itu terjadi begitu saja. Dia begitu lapar setelah melakukan kegiatan olahraga, sedangkan kantin berada cukup jauh dari jangkauannya. Satu-satunya cara menghentikan rasa lapar adalah camilan yang biasa Jae Min, teman sekelasnya simpan di lokernya. Dan dia lupa belum mengatakan hal itu pada Jae Min.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Kalau pemikirannya benar, bisa gawat. Dia tak mau dituduh mencuri hanya karena dia belum mengatakan hal itu pada Jae Min.

Dengan ragu, Tiffany membuka knop pintu ruangan kepala sekolah. Dia melihat kepala sekolah yang duduk di kursi kebesarannya dengan santai. Matanya menatap tajam Tiffany. Itu membuatnya menelan ludahnya kaku.

“Anda memanggil sa-…”

“Apa hubunganmu dengan sajangnim?”

“N-Ne?” Tiffany terkejut dengan pertanyaan kepala sekolah barusan.

“Aku melihatmu tadi bersama sajangnim. Kalian terlihat cukup dekat.”

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Dia bingung harus menjawab pertanyaan kepala sekolah dengan apa. Tak mungkin jika dia mengatakan Taeyeon adalah kekasihnya, bukan? Bisa-bisa satu sekolah gempar dan reputasi Taeyeon akan memburuk. Pasangan sesama jenis masih terlihat tabu di Korea. Tiffany tentu harus merahasiakan hal ini pada publik.

“Dia…” Tiffany menghentikkan ucapannya dan menatap ragu pada kepala sekolah.

***

“Aku pulaang..” Tiffany melepaskan alas kakinya ke rak di samping pintu dan menggantinya dengan slipper. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar apartemen. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.

Tiffany mulai melangkah lebih jauh memasuki apartemen. Dia berlari kecil menuju beberapa tempat. Mungkin saja ada seseorang disana. Karena tak kunjung mendapati seseorang, Tiffany berjalan lunglai menuju ruang tengah dan melemparkan tasnya di sofa disusul tubuhnya mendarat kasar disana.

“Huh, kau kesini?” tanya seseorang.

Tiffany membalikkan kepalanya ke belakang dan melihat kekasihnya tengah turun dari tangga dengan rambutnya yang masih basah.

“TaeTae!” Tiffany beranjak dari duduknya dan berlari ke arah Taeyeon. Memeluk gadis mungil tersebut dengan erat.

“Hey, bocah. Lepaskan! Kau bau.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya kemudian melepas pelukannya.

“Kau tak pulang ke rumahmu terlebih dahulu?” tanya Taeyeon dengan menaikkan satu alisnya.

Tiffany masih diam dengan bibir yang dikerucutkan. Dia marah. Taeyeon tahu itu. Sejenak rasa lelahnya berangsur mereda melihat gadisnya ini. Dia sangat senang menggoda kekasihnya hingga kesal seperti saat ini.

“Aigoo, kekasihku merajuk. Arra arra kau masih wangi, sayang. Wangi keringat.” Taeyeon terkekeh dengan ucapannya.

“YA!” Tiffany memukul bahu Taeyeon yang masih tertawa. Dia membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari hadapan Taeyeon.

Dengan cekatan, tangan Taeyeon berhasil memegang lengan Tiffany, membuatnya berhenti. Taeyeon kemudian memeluk gadisnya dari belakang. Mengecup lehernya pelan dan membalikkan tubuh Tiffany menghadapnya. Taeyeon mengecup bibir Tiffany singkat. Jelas hal itu membuat rona merah di sekitar pipinya nampak.

“Mandilah. Aku akan membuatkan makan malam.”

Tiffany mengangguk kecil dan segera berlari ke atas, ke kamar mereka untuk membersihkan diri. Dia menutupi wajahnya yang malu karena perlakuan Taeyeon barusan. Gadis mungil itu tertawa pelan melihat tingkah kekasihnya. Dia menggeleng lalu pergi ke pantry dan membuat sesuatu untuk mereka makan.

 

“Kenapa kau tak pulang dulu, sayang?” tanya Taeyeon seraya meletakkan nasi goreng kimchi ke piring milik kekasihnya.

“Daddy bilang dia akan pergi ke Berlin untuk menindaklanjuti masalah kliennya. Jadi aku berniat menginap beberapa hari disini. Tak apa, kan?” jawab Tiffany disusul menyuapkan nasi goreng kimchi ke mulutnya.

Taeyeon tersenyum. “Seperti tak biasanya saja.”

Mereka makan malam dengan hening. Taeyeon tersenyum pelan melihat kekasihnya memakan makanannya dengan sangat lahap.

“Ahh kenyang. Terimakasih makanannya!” Tiffany menundukkan kepalanya tanda terimakasih dengan lucu, membuat Taeyeon terkekeh.

“Setelah ini kau ingin langsung tidur?” tanya Taeyeon seraya mengambil piring mereka untuk ia cuci.

“Kenapa? Kau ingin aku melayanimu dulu?” tanya Tiffany seraya merapihkan poninya dengan kamera ponsel sebagai kacanya. Dia juga mengambil beberapa selca.

Taeyeon terbatuk karena ucapan Tiffany barusan. Dia membuka mulutnya dan menatap nanar kekasihnya. Bagaimana bisa gadisnya itu berkata demikian? Tiffany masih SMA, Taeyeon tak mungkin menyetubuhinya meskipun umurnya sudah terlampau legal untuk melakukan hal tersebut.

“Kau ini bicara apa? Sudah ku bilang jangan banyak bergaul dengan Yuri dan Sooyoung. Dia pasti mencemari otakmu dengan itu.” Taeyeon bergumam di akhir kalimat. Dia kesal dengan kedua sahabatnya yang byun. Sudah dipastikan mereka telah meracuni otak kekasihnya.

“Hehe aku bercanda, ahjumma.” Tiffany menunjukkan senyum dorky nya.

“Sudahlah. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku. Lakukan sesuatu sesukamu.” Taeyeon membawa piring mereka dan mulai mencucinya.

Tiffany masih diam di tempat dengan menekukkan bibirnya ke bawah. Sudah cukup lama gadis itu tak bertemu kekasihnya karena tuntutan pekerjaan. Dan dia bilang dia ingin melanjutkan pekerjaannya? Apa dia tidak merindukan kekasihnya itu?

Tiffany bangkit dengan kasar hingga kursi yang didudukinya berderit.

“Ahjummaa~ apa kau tak merindukanku? Sudah sebulan kita tidak bertemu. Haruskah kau bekerja disaat seperti ini?” rengek Tiffany.

Taeyeon tersenyum lebar tanpa gadisnya tahu. Dia berdehem pelan dan membuka sarung tangannya. Taeyeon ingin mengerjai kekasihnya lebih lanjut. Dia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya seusai mencuci piring.

“Ahjummaa~ please~~” Tiffany benar-benar memohon kali ini. Itu membuat Taeyeon terkikik tanpa sepengetahuan Tiffany.

“Jangan memanggilku ahjumma.” ucap Taeyeon dengan dingin. Dia tidak benar-benar melakukannya. Hanya ingin mengerjai kekasihnya saja.

“Wae? Itu kan kenyataan. Kau tua, tujuh tahun diatasku menandakan kau itu ahjumma.” ucap Tiffany dengan suaranya yang lucu.

Taeyeon tetap diam. Meski tak bisa dibohongi dirinya merasa bahagia. Tiffany saat ini pasti tengah menunjukkan wajah puppy nya yang lucu dan itu memang benar.

“Yaa~ ahjumma~ TaeTae~”

“Naiklah ke atas. Aku akan menyusul setelah menghubungi Jessica.”

Mata Tiffany berbinar. Dia berlari kecil ke arah Taeyeon dan meraih wajah kekasihnya untuk ia kecup bibirnya, melumatnya sedikit sebelum melepasnya.

“I’ll be waiting, baby.” Setelah mengatakan itu, Tiffany segera berlari menaiki tangga. Dia tak sabar untuk menceritakan hari-harinya selama sebulan ini pada Taeyeon. Kekasihnya adalah pendengar yang baik meski sifatnya yang terkadang pendiam dan dingin. Kalau beruntung, Tiffany akan menemukan Taeyeon yang bercerita padanya dengan panjang juga. Dia tak sabar menantikan hal itu terjadi.

Taeyeon menggelengkan kepalanya melihat kekasihnya yang sangat hiperaktif itu. Dia lalu meraih ponselnya dan mulai menghubungi Jessica, sekertaris sekaligus sahabatnya.

***

Tiffany menenggelamkan wajahnya dengan lengannya yang dilipat di meja. Semalaman suntuk bercerita dengan kekasihnya membuat dirinya mengantuk. Beruntung hari ini jam kosong. Guru yang biasanya mengajar sedang mengikuti workshop.

“UJIAN ULANG DIBATALKAN!” teriak seorang namja.

Tiffany tersentak karena teriakkan itu. Dia menatap tajam Shin Woo yang dengan kurang ajar mengganggu tidurnya.

“Benarkah? Kau tahu darimana?” tanya Ahreum.

“Aku baru saja dari papan pengumuman dan melihat pengumuman itu.” jawab Shin Woo.

Semua yang ada disana berteriak girang. Mereka senang ujian dibatalkan. Mereka tak kuat lagi jika diadakan ujian sebanyak tiga kali dalam satu semester. Yang benar saja. Bisa-bisa mereka stress muda.

Disaat semua orang merasa senang dengan berita tersebut, lain halnya dengan Tiffany. Rasa bahagianya sudah disalurkan semalam. Dia tahu berita tersebut terlebih dahulu.

“Tentu saja. Kekasihku yang melakukannya.” gumam Tiffany saat melihat teman-temannya.

Tiffany tak menyadari bahwa Bora mendengar ucapannya. Gadis itu membalikkan tubuhnya ke meja Tiffany dan menatapnya.

“Apa maksudmu?” tanya Bora.

Tiffany terkejut. Dia menelan ludahnya. “Apa yang kau bicarakan?” Tiffany balik bertanya.

“Kekasihmu yang melakukan ini? Siapa kekasihmu?” Bora menyipitkan matanya.

“Ahaha kau ini bicara apa. Aku? Kau tahu kalau aku tak punya kekasih.” Tiffany berucap dengan tawa yang dipaksakan.

“Aku mendengar dengan jelas tadi, Tiff.” Bora menatap tajam sahabtnya.

“Aish kau salah dengar rupanya. Aku hanya mengatakan, ‘Tentu saja. Yang melakukan itu pasti memiliki kekasih’.”

Bora menaikkan satu alisnya. Masih belum puas dengan ucapan sahabatnya.

“Aih sudahlah. Lebih baik kau belajar biologi dengan rajin agar Oppa kesayanganmu suka.”

Bora membulatkan matanya. “B-Bagaimana kau…”

Tiffany terkikik. “I have your As card.”

***

Taeyeon mengakhiri presentasinya. Dia menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan meeting. Sebagian terkesan dengan caranya menyampaikan presentasi, sebagian juga tak suka. Golongan inilah yang tak menyukai Taeyeon karena gadis tersebut adalah anak pemilik Jacco Enterprise. Yang mereka benci hanya karena Taeyeon sebenarnya anak angkat dari pemilik Jacco Enterprise. Terutama adik dari Han Young Joo, ayah angkat Taeyeon.

“Ya. Ada pertanyaan?” tanya Taeyeon.

Seorang pria paruh baya mengangkat tangannya. Taeyeon tahu pria tersebut adalah pemimpin divisi pemasaran.

“Anda mengatakan bahwa hotel yang anda bangun sekarang ini memiliki fasilitas tambahan yaitu baby spot. Apa itu tak memiliki resiko tentang bahaya penculikan anak?” tanya pria yang diketahui bernama Dong Joo.

“Kami sudah memastikan pegawai kami bersih dari tindakan kriminal dan memiliki kredibilitas tinggi. Kami juga sudah mengecek latar belakang pegawai kami dan juga keluarga-keluarganya. Ditambah cctv yang terpasang cukup banyak dari segala tempat baik yang terlihat maupun tersembunyi.”

“Ada lagi?”

Satu pria paruh baya tepat dipojok belakang mengangkat tangannya.

“Bagaimana dengan oknum dari luar?”

“Anda belum tahu cara kerja di hotel kami?” tanya Taeyeon. Dengan wajah bodohnya pria itu menggelengkan kepalanya.

Taeyeon tersenyum mengejek. Dia tahu selama presentasinya berlangsung pria tersebut sibuk bermain ponselnya dan sama sekali tak mendengarkan presentasinya. Padahal dengan jelas dia menyampaikan prosedur dan teknologi dari hotelnya yang akan sulit orang-orang jahat berkeliaran di dalamnya. Entah dari divisi mana pria itu Taeyeon tak tahu.

“Silakan anda bertanya pada orang-orang disini yang MENYIMAK PRESENTASI SAYA.” kata Taeyeon menekankan kalimat terakhir.

“Ada lagi yang bertanya?”

Hening cukup lama. Taeyeon hendak menutup pertemuan mereka hingga satu diantara mereka mengangkat tangan di detik terakhir. Han Young Woo, adik dari ayah angkat Taeyeon mengangkat tangannya.

“Ya Tuan Han.”

Pria itu tersenyum miring sebelum bertanya. Itu membuat Taeyeon menaikkan satu alisnya. Seperti yang dikatakan diatas, pria tersebut benci Taeyeon karena gadis itu akan menerima semua warisan kakaknya yang sangat menyayangi Taeyeon. Dia merasa semua harta kakaknya harusnya jatuh ke tangannya. Bukan gadis sialan yang tak sedarah dengan mereka.

“Bagaimana dengan fasilitas GXG? Kau tak berniat membuat itu? Kudengar Korea sudah banyak spesies seperti itu. Mereka akan cocok datang ke hotelmu dengan segala privacy nya.”

Taeyeon mengepalkan buku-buku jarinya. Jelas sekali pria di depannya menyinggung dirinya. Entah darimana pria tersebut tahu hubungannya dengan Tiffany. Taeyeon menenangkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Han Young Woo.

“Kurasa mereka tak membutuhkan itu. Mana ada fasilitas GXG yang diumumkan secara terang-terangan? Sudah jelas itu adalah hal paling bodoh dan membuat banyak kerugian disana-sini.”

Pria itu mengeraskan rahangnya mendapat tamparan keras dari jawaban Taeyeon. Gadis itu tersenyum mengejek karena berhasil membuat Young Woo skakmat.

“Kalau tidak ada pertanyaan lagi akan ku tu-…”

“Kau sepertinya mengenal baik kaum tersebut, Taeyeon-ssi.”

Taeyeon menolehkan wajahnya kembali ke sumber suara, Young Woo lagi. Dia menghela nafas dan memejamkan matanya. Young Woo tak akan pernah diam sebelum Taeyeon kalah.

Taeyeon makin mengepalkan buku-buku jarinya. Dia membuka matanya dan menggebrak meja. Sontak membuat orang yang ada disana terkejut. Kilat amarah jelas nampak di matanya. Taeyeon mengerang dengan wajahnya yang memerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

I’m sorry for make this fic even last fic was complete yet.

Maap bingits yak no secret belom kelar eh malah bikin fic baru. U know sedikit syusyah bkin ff requestan yg udh jadi Β bahan mentah. Klo bikin sendiri kan enak gituu nulisnya.

Hope u guys like it~

Pupye~ see you next chap or fic~

Like That

Seohyun menapakkan kakinya menuju pintu bercat coklat yang mulai usang. Ditariknya knop pintu menghasilkan derit yang cukup mengganggu, namun tak diindahkannya. Dia berjalan pelan menuju ruangannya. Sudah sebulan lamanya semenjak gadis itu meninggalkan ruangan tersebut karena tuntutan pekerjaannya yang mengharuskan dia pergi ke luar negeri.

Seohyun mengitari satu-satunya meja di ruangan tersebut dengan jemarinya bergerak pelan mengusap pinggiran meja. Dia lalu duduk di kursi yang tersedia disana dan menghela nafas. Dipijitnya pelan pelipisnya karena teringat kejadian yang dialaminya pagi tadi seusai tiba di Korea. Agensi tempatnya bekerja sebagai song-writer tiba-tiba saja menghentikan kontrak. Mereka berkata bahwa mereka kelebihan staf untuk song-writer dan dengan amat disayangkan membuat Seohyun diberhentikan. Seohyun tahu agensi tempatnya bekerja sebenarnya mendatangkan komposer dan arranger ahli dari luar negeri yang secara tidak langsung mencuri pekerjaannya. Namun Seohyun bisa berbuat apa? Dia hanya song-writer yang tak cukup dikenal meski lirik ciptaannya telah dipakai artis yang cukup terkenal.

Seohyun terlonjak saat mendengar dering ponselnya yang ia letakkan di saku celananya. Gadis itu sedikit kesusahan mengambil ponselnya karena saku jeansnya yang cukup ketat. Diliriknya sebuah nama yang terpampang di ponselnya yang membuat ia membulatkan matanya. Seohyun berdehem sebentar sebelum mengangkat telepon tersebut.

“Ne Unnie.”

“…..”

“Aku? Di rumah. Memangnya kenapa, Unnie?”

“…..”

“Arrasseo. Tunggu aku sepuluh menit.”

***

Seohyun menyapu pandangannya ke sekitar penjuru cafe. Dia melihat gadis dengan snapback hitam dan masker senada yang menutupi wajahnya. Dia tersenyum pelan sebelum mendekati gadis tersebut.

“Kau sudah lama, Unnie?” tanya Seohyun dan langsung menempatkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan gadis itu.

Gadis itu menggeleng dan menurunkan maskernya sedikit sebelum berbicara. “Kau dipecat?” tanya gadis didepan Seohyun.

Seohyun mengangguk. “Tak usah dipikirkan. Mungkin ini waktunya aku berlibur” ujar Seohyun dengan kekehan pelan di akhir kalimatnya.

Gadis di depan Seohyun mengerutkan keningnya sebelum menghembuskan nafasnya kasar. “Aku tahu dengan baik apa yang ada di hatimu, dan itu sama sekali berbeda dengan ucapanmu barusan. Ini.” Gadis itu menyerahkan sebuah kartu nama pada Seohyun.

Dengan ragu Seohyun mengambilnya dan mulai membacanya.

“Dia CEO di agensiku. Aku sudah berbicara pada Daepyeo-nim untuk mempekerjakanmu disana. Lagipula agensi juga membutuhkan song-writer untuk girlband besutannya yang akan comeback” jelas gadis itu.

“Tapi.. tapi bagaimana bisa?” Seohyun masih tak percaya.

Gadis itu terkekeh pelan. “Kau lupa? Aku ini Im Yoon Ah, aktris kesayangan disana.”

Seohyun menaikkan kedua bibirnya. “Gomawo, Unnie.”

“Tak perlu berterimakasih. Cukup temani aku jalan-jalan seharian ini.”

“Memangnya kau tak ada jadwal?”

“Tidak. Ayo pergi.” Yoona menarik tangan Seohyun setelah meletakkan beberapa lembar won di meja.

***

Seohyun berkali-kali mencoret dan melipat kertas yang ditulisnya dan melemparnya ke tempat sampah yang sayangnya tak masuk. Mungkin ini sudah ke delapan belas kalinya gadis itu membuang hasil tulisannya. Seohyun mengacak rambutnya frustasi. Selama bekerja menjadi penulis lagu, Seohyun belum pernah se-stress ini dalam membuat lirik. Itu karena klien nya adalah artis besar, bahkan mendunia.

Karena sudah tidak tahan lagi, Seohyun keluar dari ruangannya. Dia melihat piano tua nya sekilas dan memutuskan untuk sedikit bermain disana. Seohyun memejamkan matanya dan menghela nafas sebelum membuka piano nya.

Seohyun memulai lagunya. Jari-jari lentiknya menari dengan sangat cantik melantunkan melodi-melodi indah yang membuat orang yang mendengarnya memejamkan mata dan menikmatinya. Seohyun terus memainkan lagu tersebut sampai pada menit ke-tiga lebih dua puluh empat detik, gadis itu mulai melambatkan lagunya hingga benar-benar berhenti.

Clap clap clap

Seohyun mendengar suara tepuk tangan yang cukup keras hingga membuatnya membalikkan tubuhnya. Tepat beberapa meter darinya, seorang gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona tersenyum ke arahnya, masih dengan tangannya yang memberi applause. Yoona berjalan mendekati Seohyun.

“Itu keren. Tapi aku belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Apa kau membuatnya sendiri?”

Seohyun mengangguk pelan. “Ne, aku membuatnya sudah lama.”

“Sudah ada liriknya?” tanya Yoona lagi.

“Aku tak berniat membuat lirik untuk itu. Lagipula aku membuatnya karena iseng.”

Yoona menyentil dahi Seohyun, tak keras memang namun cukup membuat Seohyun meringis dan mengerucutkan bibirnya. “Unnieee…” rengek Seohyun.

Yoona berdecak. “Kau itu berbakat, Hyunie. Kau pandai bermain piano, membuat lagu, memiliki suara yang bagus, kau juga sangat cantik, bahkan aku yang terbiasa melihatmu saja masih terus terpesona denganmu.”

Seohyun memutar bola matanya. “Kau dan mulut manismu itu, Unnie.”

Meski berkata begitu, tak dipungkiri hati Seohyun meleleh mendengar setiap penuturan Yoona padanya barusan. Dia memang sejak awal tertarik dengan Yoona. Ayolah, siapa yang tidak tertarik dengan aktris Nasional Im Yoon Ah? Memiliki wajah goddes, kemampuan akting yang tak diragukan lagi, dan kerendahan hatinya membuat dia dicintai seluruh warga Korea Selatan.

“Aku berkata jujur. Sudahlah, lebih baik ajari aku bermain piano.” Yoona menggeser tubuh Seohyun agar bisa duduk. Itu membuat gadis yang lebih muda mengerucutkan bibirnya karena hampir terjatuh.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Yoona. Matanya terus menatap ke arah piano tua milik Seohyun dengan berbinar.

“Kau belum pernah bermain piano sebelumnya, Unnie?”

“Terakhir kali aku bermain piano saat berusia tujuh tahun. Aku sedikit lupa bagaimana cara menggunakannya.” Yoona mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Kalau begitu lagu twinkle little star saja yang mudah.”

“Yah! Itu terlalu basic. Aku ingin bermain lagumu yang tadi saja.”

Seohyun berdecak dan menaikan sedikit bibir kanan atasnya tanda mengejek. “Bisa bermain saja tidak” gumam Seohyun.

“Aku mendengarmu, Hyunie. Cepat ajari aku. Aku ini sangat cerdas dalam menangkap hal-hal baru” ujar Yoona tanpa melihat ke arah Seohyun dan masih fokus dengan piano di depannya.

Dan pada akhirnya Seohyun mengajari Yoona bermain piano dengan lagu buatannya. Dia seperti guru les piano profesional yang dengan telaten mengajari muridnya agar bisa bermain piano dengan baik.

“Aku menyerah” ucap Yoona pada akhirnya.

Seohyun memutar bola matanya dan menghembuskan nafas kasar. “Sangat cerdas dalam menangkap hal-hal baru, eoh? Yang benar saja” ejek Seohyun.

“Ahh jariku kram” manja Yoona seraya menggerakan jari-jarinya yang terasa kaku.

“Letakkan jarimu disana dan aku akan menutupnya dengan keras. Jarimu akan sembuh” ucap Seohyun sarkastis sembari menunjuk tuts pianonya pada Yoona.

Yoona berdecak. “Jahat. Untung cinta” gumam Yoona.

“Kau bilang apa?” tanya Seohyun.

“Ani. Aku harus pergi, Hyunie. Sebentar lagi ada jadwal pemotretan. Jangan lupa dinner nanti malam. Dandan yang cantik, oke? Aku menyayangimu, uri dongsaeng.”

Setelah mengacak rambut Seohyun, Yoona berlari keluar rumah. Seohyun masih di tempat dengan tatapan lurus ke arah terakhir kali melihat Yoona sebelum gadis itu pergi. Rambutnya ia rapihkan dengan pelan sebelum menghela nafas.

“Dongsaeng, huh?” Seohyun tertawa kecut.

***

Jam menunjukan pukul delapan malam dan Seohyun masih terus berkutat dengan tumpukan kertas dihadapannya. Berkali-kali dia mencoret tulisannya dan menulis ulang. Menulis, mencoret, buang, menulis, mencoret, buang, hingga dia kesal dan menggebrak meja. Seohyun sungguh tak memiliki inspirasi untuk membuat lirik saat ini. Terutama karena ucapan Yoona tadi siang yang benar-benar mengganggunya. Dia masih saja merasa kesal dengan Yoona yang masih saja menganggapnya adalah adik. Padahal Seohyun jelas-jelas seringkali memberi kode pada Yoona bahwa gadis itu menyukainya. Apa dia tidak sepeka itu?

Seohyun berteriak kesal dan menendang mejanya yang dibalas ringisan kesakitan. Seohyun mengusap kakinya yang sakit dengan sedikit menangis yang dibuat-buat. Tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di meja bergetar. Seohyun meraihnya dan melihat nama Yoona disana. Sebelum mengangkat panggilan, terlebih dahulu Seohyun mengatur nafasnya dan suaranya agar tak terdengar jelas tengah kesal.

“Juhyun, kau dimana? Kau lupa dengan janji kita untuk dinner malam ini?”

Seohyun membuka mulutnya. Dia lupa dengan janjinya malam ini yang akan dinner dengan Yoona. Dia memukul kepalanya karena telah lupa. Mereka memang sering dinner bersama saat jadwal Yoona kosong. Sangat jarang gadis itu memiliki jadwal kosong dan itu membuat intensitas bertemu mereka berkurang, dan itu juga yang membuat mereka rutin membuat jadwal dinner tersendiri saat Yoona kosong schedule.

“A-ah m-maafkan aku, Unnie. Sepertinya aku sedang tak enak badan” bohong Seohyun.

“Jinjja? Aku akan menyusulmu kesana. Tunggu aku.”

“T- Ta.. Tapi Un… nie.” Ucapan Seohyun melemah saat dia tahu Yoona telah mematikan sambungan.

“Mati aku!” ucap Seohyun lalu memukul kepalanya lagi. Dia kemudian melangkahkan kakinya dengan gontai keluar ruangannya dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai atas.

***

Yoona melipat tangannya dan mengetuk-ngetukan kelima jari kanannya bergantian di lengan kirinya. Matanya menatap tajam Seohyun yang masih duduk di ranjang dengan menundukkan kepalanya. Yoona marah karena Seohyun telah membohonginya dengan beralasan sakit padahal nyatanya gadis itu baik-baik saja. Yoona terus saja diam di tempatnya dengan posisi sama seperti pertama kali menangkap basah kebohongan Seohyun. Dia mencoba menghukum Seohyun dengan ini yang selalu sukses membuat Seohyun tak tahan dan pada akhirnya membujuk Yoona untuk berhenti marah dan memaafkannya.

“Unnie…”

See? Tebakan Yoona benar-benar tepat. Sebentar lagi Seohyun pasti akan merengek meminta maaf padanya. Dalam hati Yoona tersenyum menang.

Seohyun menghela nafasnya. “Pulanglah.”

Yoona membulatkan matanya. Dia makin menatap tajam Seohyun. Bukan ini yang dia harapkan. Rasa kesal kembali menyerang hatinya. Dia baru akan menghampiri Seohyun saat gadis itu melepas blazer pink nya dan melemparnya ke ranjang. Yoona kini melihat Seohyun yang kini hanya memakai tanktop ketatnya dan jeans hotpant nya. Saat awal masuk ke rumah Seohyun, Yoona tak begitu memperhatikan apa yang dikenakan Seohyun. Waktu itu dia panik dan khawatir sebelum tergantikan rasa kesal dan kecewa. Namun kali ini, Yoona menelan ludahnya sendiri melihat tubuh Seohyun yang dibalut pakaian terbuka tersebut.

“Aku lelah, ingin beristirahat. Kita selesaikan masalah ini besok saja” ucap Seohyun yang hendak berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut sebelum tangan Yoona mencegatnya.

Seohyun menatap mata Yoona yang juga menatapnya. Tubuh Seohyun seketika kaku mendapati tatapan panas Yoona. Itu membuatnya menelan ludah dan berusaha mengontrol jantungnya yang mulai berdetak tak karuan. Dia tak percaya dengan penglihatannya sekarang ini. Seohyun tak mau berharap lebih lagi hanya karena Yoona menatapnya panas. Seohyun terus saja berdebat dalam lamunannya saat tiba-tiba nafas panas terasa jelas di wajahnya. Seohyun membulatkan matanya saat wajah Yoona terpaut beberapa senti dari wajahnya. Dia merasakan kecupan lembut mendarat sempurna di keningnya. Hal tersebut membuatnya mau tak mau menutup matanya, merasakan lembutnya bibir Yoona menyentuh keningnya.

“Istirahatlah. Lupakan saja masalah tadi. Jaljayo~” Yoona mengakhiri ucapannya dengan mengusap rambut Seohyun dengan sayang. Setelah itu, Yoona berbalik dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar Seohyun.

“Kau membuatku berharap lagi, Unnie” ucap Seohyun sedih.

***

Sudah seminggu ini belum ada kepastian lirik lagu ciptaannya rampung. Pagi tadi Seohyun bertemu Daepyeo-nim untuk membahas lirik yang ditulisnya. Dengan jujur Seohyun mengatakan belum selesai mengerjakan pekerjaannya. Memang Daepyeo-nim tidak mempermasalahkannya, namun yang jadi masalah adalah dirinya. Seohyun tidak tahu sampai kapan dia mengalami lumpuh menulis dan lumpuh inspirasi sedangkan comeback girlband agensi tempatnya bekerja sebentar lagi melakukan proses rekaman. Belum lagi lagu harus diaransemen dan sebagainya. Seohyun bisa-bisa stress muda.

Hal yang mengganggunya satu lagi adalah si shikshin Im Yoong. Setelah kejadian malam itu, Yoona bagai ditelan bumi. Memang Seohyun tahu akhir-akhir ini Yoona sibuk dengan jadwalnya. Namun yang menjadi aneh adalah, sejak kapan Yoona mau mengikuti acara survival? Bahkan sejak dari dulu ditawari acara tersebut, Yoona dengan tegas menolak. Dia pernah mengatakan, lebih baik hadir di acara ulang tahun anak kecil daripada harus bertahan hidup di acara tersebut.

Tentu saja hal itu membuat Seohyun curiga. Jika yang dipikirkannya benar bahwa Yoona sengaja mengikuti acara tersebut karena ingin menghindarinya dan menyibukkan diri, Seohyun tentu merasa kecewa.

Karena tak tahu harus menumpahkan segala keluh kesahnya pada siapa, Seohyun pada akhirnya memberanikan diri pergi ke bar. Dia sering mendengar teman-temannya jika tengah stress, bar adalah pilihan terbaik. Selama ini Seohyun memang selalu menjaga dirinya. Dia tak mau terjerumus hal-hal negatif nantinya. Namun kali ini pengecualian.

***

Seohyun membuka matanya perlahan. Dia mengerang merasakan sakit di kepala bagian belakang. Seohyun merubah posisi berbaring menjadi duduk dengan kepala ranjang sebagai sandaran. Kepalanya ia remas dengan tangan kanannya karena pusing, mungkin akibat hangover semalam.

“Kau sudah bangun?” Suara tersebut sontak membuat Seohyun terkejut. Dia mendongak dan melihat Yoona dengan mata sayu khas orang mengantuk berdiri di depannya. Rambut gadis itu berantakkan, juga terlihat kantung mata yang kian menebal.

“Unnie? Mengapa kau bisa ada disini?” tanya Seohyun bingung.

“Kau lupa kejadian semalam?” tanya Yoona dengan menguap di ujung kalimatnya. Matanya sedikit tertutup namun masih berusaha untuk terbuka. Seohyun meringis, dia merasa kasihan dengan penampilan Yoona saat ini kalau boleh jujur.

Seohyun kemudian mengingat lagi kejadian kemarin. Dia pergi ke bar, minum dan menari dengan gila, minum lagi hingga mabuk, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

“Yeah, setelah itu seorang bartender meneleponku dengan menekan first dial dan aku bersusah payah datang kesana menjemputmu setelah selesai acara survival itu. Kau tahu badanku hampir remuk kemarin malam dan energiku terkuras habis” ucap Yoona yang seperti melanjutkan kejadian kemarin pada Seohyun. Matanya masih berusaha terbuka dari rasa mengantuknya.

“Mianhae” ucap Seohyun dengan menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah pada Yoona. Pasti gadis itu sangat lelah kemarin. Dia tahu bagaimana acara survival itu berlangsung. Untuk bertahan hidup di hutan setidaknya seluruh kemampuan yang ada pada dirimu dibutuhkan disana. Sebab itu Yoona seringkali menolak acara tersebut, kecuali kemarin.

Yoona menghela nafas. Dia mendekat ke arah Seohyun dan memeluknya.

“Gwaenchanha. Setidaknya aku merasa lega bartender itu meneleponku saat itu. Aku jadi merasa beruntung bisa diandalkan olehmu meski kau sedang tak sadar. Dan juga aku beruntung menjadi orang pertama yang mengetahui keadaanmu dan bisa merawatmu dengan tanganku sendiri.”

Mata Seohyun berkaca-kaca mendengar pengakuan manis dari mulut Im Yoon Ah. Dia semakin mengeratkan pelukan Yoona dan menggumamkan kata terimakasih berkali-kali padanya.

***

Seohyun memantapkan dirinya. Dia lalu memegang bolpoin yang ada di didepannya tanpa ragu. Dia sudah menemukan lirik yang sesuai untuk kliennya. Setelah rapat membahas konsep musik bersama beberapa staf dan girlband itu sendiri, Seohyun sudah memiliki gambaran dan itu cukup sesuai dengan konsep mereka.

Dan jadilah saat ini dia berkutat dengan lembar kertas di depannya. Mulai menulis beberapa kata yang akan menjadi lagu tak lama lagi.

Seohyun tak melepas senyum yang menggantung di bibirnya selama dia mengerjakan pekerjaannya. Sebisa mungkin dia menulis lirik tersebut dari hati. Dan memang lirik yang dia tulis sebagian besar adalah pengalamannya sendiri. Dia jadi mudah untuk melakukannya.

Setelah sentuhan terakhir pada karyanya selesai, Seohyun tersenyum puas. Dia menghela nafas lega sebelum beranjak dari kursinya dan berlari kecil keluar ruangannya untuk menemui seseorang yang menjadi inspirasi nya.

“Unnie bangun!” Seohyun membangunkan Yoona yang sejak pagi tidur di kamarnya. Dia mengatakan bahwa dia bosan tinggal di apartemen mewahnya yang sepi. Lebih baik tinggal di rumahnya yang nyaman dan jauh dari jangkauan wartawan.

“Waeee” gumam Yoona. Dia malah mengeratkan pelukannya pada guling.

“Aku lapar. Buatkan aku makanan.. juseyoo~” rengek Seohyun.

“Kau tahu aku tak bisa memasak” ucap Yoona yang seperti menggumam.

“Tapi omurice buatanmu enak. Aku ingin omurice! Unnie buatkan aku omurice!”

Yoona menghela nafas. Jika Seohyun sudah bertingkah manja seperti ini, dia tak bisa menolak. Pada akhirnya Yoona bangun dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka setelah itu memasakkan omurice untuk Seohyun.

“Mashita?” tanya Yoona setelah Seohyun menyuapkan suapan pertama di mulutnya. Gadis yang lebih muda mengangkat kedua tangannya dan terus mengunyah dengan lahap. Yoona tersenyum sebagai balasan. Dia senang orang yang disayanginya suka dengan hasil masakannya.

“Oh ya, Hyunie. Kau lihat ponselku? Aku harus menghubungi manager oppa.”

“Ah itu, ada di ruang kerjaku. Aku tadi pinjam untuk menelepon Daepyeo-nim.”

“Ponselmu belum diperbaiki?” tanya Yoona.

Seohyun menggeleng. “Aku akan beli yang baru saja. Ponselku yang itu sepertinya susah untuk diperbaiki” ucap Seohyun. Gadis itu memang ceroboh. Dia lupa mengambil ponselnya di saku celananya dan berakhir ikut tercuci di mesin cuci.

“Arrasseo. Aku mengambil ponselku dulu.” Yoona bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerja Seohyun yang berada tepat dibawah tangga bermodelkan vintage. Bahkan seluruh rumah Seohyun bermodelkan sama hingga ke perabotan-perabotannya. Makanya Yoona sangat betah tinggal di rumah Seohyun.

Yoona melihat ponselnya yang tergeletak di meja kerja Seohyun. Dia mengambilnya dan hendak berbalik keluar sebelum sebuah kertas disana membuat dia mengurungkan niatnya. Yoona mengambil kertas tersebut dan membacanya.

Wajahnya sangat serius membaca tiap kata yang tertulis disana. Alisnya ia naikkan kemudian kembali serius. Keningnya ia kerutkan dan kembali membacanya dengan serius. Begitu seterusnya hingga selesai. Yoona meletakkan kembali kertas tersebut dan melangkah keluar. Dia melihat Seohyun masih menyantap omurice buatannya.

“Aaa~” Yoona membuka mulutnya minta disuapkan. Seohyun dengan senang hati menyuapkan omuricenya.

“Hyunie?” panggil Yoona pelan.

“Huh?” Seohyun kembali fokus pada makanannya.

“Apa kau sedang menyukai seseorang?” tanya Yoona ragu.

Seohyun menghentikkan kunyahannya. Dia menatap Yoona intens sebelum menjawab.

“Eung. Wae?”

“Ahh anioo. Siapa pria beruntung itu?” Yoona mengibaskan tangannya dan bertanya lagi.

“Apa kau pernah melihatku dekat dengan seorang pria, Unnie?”

Yoona menggeleng pelan.

“Ya sudah.”

Yoona mengerutkan keningnya. “Tapi kau bilang kau menyukai seseorang.”

“Memang” ujar Seohyun singkat. Dia melanjutkan memakan makanannya lagi.

“Baiklah. Siapa orang yang kau sukai itu? Kau harusnya berbagi ini denganku. Kita sudah lama dekat, kau tahu. Jahat sekali menyembunyikan sesuatu yang penting ini.” Yoona mengerucutkan bibirnya.

“Kau sudah tahu itu penting. Maka dari itu aku tak mau menceritakan hal penting itu pada orang yang tak bisa dipercaya sepertimu.”

“YAH!” kesal Yoona membuat Seohyun tertawa terbahak-bahak. Dia senang menggoda Unnie nya.

“Kau pasti melihat lirik yang kubuat tadi, ya kan Unnie?” tebak Seohyun setelah tawanya usai.

“Bagaimana kau tahu?”

Seohyun mengangkat bahunya.

“Baiklah. Begini saja, Unnie. Kau tahu aku sangat dekat denganmu, harusnya kau juga tahu aku menyukai siapa.”

Yoona tambah mengerutkan keningnya. Setau Yoona, Seohyun tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali dirinya. Bagaimana bisa dia tahu siapa yang gadis itu sukai?

Seohyun berdecak pelan. Dia berhenti memakan omurice nya dan menatap Yoona untuk kemudian mengecup bibir Yoona sekilas. Jelas saja itu membuat tubuh Yoona kaku. Semua fungsi tubuhnya berhenti seketika.

“Kau ini bodoh sekali, Unnie. Tentu saja itu kau.”

Seohyun mengangkat pantatnya dan membawa piring kotornya untuk dimasukan kedalam wastafel. Dia kemudian mulai mencucinya dan meletakkan piringnya ke tempat biasa. Seohyun masih melihat Yoona yang masih terdiam di tempat. Bahkan posisinya masih sama seperti saat dia baru saja menciumnya. Seohyun terkikik pelan dan menggelengkan kepalanya sebelum naik ke atas, ke kamarnya.

***

Setelah kejadian Seohyun mencium Yoona, hubungan mereka mulai ada peningkatan. Yoona juga sudah mengakui perasaannya terhadap Seohyun. Walaupun tidak ada ikatan status diantara mereka berdua, Seohyun tetap merasa bahagia. Yoona membalas perasaannya saja sudah cukup.

Hari-hari mereka pun mulai ada sedikit perubahan. Mereka juga sudah terbiasa dengan kecupan-kecupan ringan di bibir layaknya pasangan umum lainnya. Jikapun berciuman, mereka hanya melakukan ciuman yang wajar.

Yoona juga mulai protektif terhadap Seohyun. Dia bahkan tidak segan menatap penuh kebencian kepada pria yang menatap Seohyunnya dengan tatapan lebih. Bahkan dia pernah mematahkan pergelangan tangan seorang pria saat pria tersebut dengan sengaja memegang butt Seohyun. Dia tak rela jika miliknya disentuh orang lain. Beruntung kejadian tersebut tak masuk berita. Yoona masihlah publik figur yang dikenal di seluruh Korea.

Berbeda dengan Seohyun, gadis itu tak mempermasalahkan siapa-siapa saja yang dekat dengan Yoona. Namun ke-manja-annya pada Yoona bertambah berkali-kali lipat. Bahkan Yoona harus selalu menginap di rumahnya, atau kalau tidak harus menemaninya hingga tertidur baru gadis itu diperbolehkan pulang.

Saat ini mereka tengah menghabiskan akhir pekan dengan menonton televisi bersama di rumah Seohyun.

“Whoaah itu lagumu kan?” tunjuk Yoona pada salah satu acara yang backsound nya adalah lagu dari girlband besutan agensinya.

Seohyun mengangguk. Dia masih fokus mengupas buah untuk camilan mereka.

“Sweet talk. Memangnya aku sweet talker, Hyunie?” Yoona mengusap dagunya sedangkan keningnya ia kerutkan.

“Terkadang” jawab Seohyun singkat. Dia menyodorkan potongan apel pada Yoona yang segera dimakan oleh gadis pemakan segala itu.

“Harusnya kau memberi judul, ‘Sweet Shikshin’ karena itu ciri khasku.”

Seohyun menghembuskan nafasnya ke atas dengan kasar, membuat poninya tersibak.

“Bego. Untung cinta.” gumam Seohyun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oneshoot dulu. Yg series menyusul. Masih sibuk soalnya. Miaaaan~

Pupye see u next fic~