Enterprischool (Chapter 1)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : JRH/N

.

.

.

.

.

.

.

 

 

Cantik, memikat, cerdas, memiliki segalanya.

Siapa yang tidak iri melihatnya?

Sosok itu berjalan santai menyusuri koridor sekolah menengah dimana dia menjadi pemilik sekaligus direktur utamanya. Wajah tegasnya menunjukkan betapa berkharismanya dia. Satu belokkan terakhir sampailah dia di tempat dimana ruang kepala sekolah berada. Tanpa mengetuknya, gadis itu membuka pintu dan mulai melenggang masuk.

“Ah, joesonghamnida, sajangnim. Saya tidak mengira anda akan datang.” Kepala sekolah menurunkan kakinya yang dia letakkan di meja dan menaruh koran di sofa sampingnya. Wajahnya ia tundukkan karena malu.

“Aku tak akan lama dan hanya ingin menanyakan beberapa hal saja.” Gadis itu menyilangkan kakinya dan menatap tegas kepala sekolah.

“Kalau begitu saya akan menjawab sebisa saya, sajangnim.”

“Kudengar kau akan mengadakan ujian kepada siswa? Bukankah sebulan yang lalu sudah diadakan ujian?” tanya gadis itu dengan menyipitkan mata.

“Memang benar. Kami mengadakan ujian lagi karena rata-rata nilai siswa sangat buruk.”

Gadis itu menaikkan satu alisnya. “Bukankah dengan begitu siswa akan merasa stress dan terbebani? Pikirkanlah siswa dan cara pengajaran yang efisien dan efektif. Dengan begitu nilai mereka berangsur naik.”

“Tapi sajang-…”

“Hapuskan ujian ulang. Aku tidak menerima penolakan.”

Setelah selesai berkata, gadis itu mengangkat pantatnya dan mulai melangkah pergi dari ruangan. Kepala sekolah memejamkan matanya erat dan menghela nafasnya.

 

“TaeTae?” Gadis yang dipanggil TaeTae menghentikan langkahnya. Dia mendengar suara seseorang yang dikenalinya.

“Whoaah.. itu benar kau! Ada apa kau kemari?” Taeyeon menemukan gadis yang memanggilnya berada tepat di depannya dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, excited.

“Ingatkan dirimu untuk tidak memanggilku dengan panggilan itu saat di sekolah.” Taeyeon berucap tegas.

Gadis itu meringis dan mengangguk dengan cepat. Dia lupa mereka masih berada di kawasan sekolah.

“Jadi apa yang anda lakukan disini, sajangnim?”

“Kau sendiri? Bukankah ini masih jam pelajaran?” Taeyeon memicingkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, membuatnya memundurkan pelan wajahnya. “Apa kau bolos?”

Gadis itu membulatkan matanya dan mendorong bahu Taeyeon.

“Enak saja! Aku baru saja dari toilet tadi.” Wajah gadis itu memerah menahan malu dan kesal.

“Kembalilah ke kelas. Aku juga akan pergi.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Gadis di depan Taeyeon mengerucutkan bibirnya.

“Ke apartemenku nanti malam jika kau ingin mendapat jawaban.”

Taeyeon melanjutkan langkahnya untuk pergi dari sana, meninggalkan gadis itu yang menghembuskan nafasnya kasar hingga membuat poninya tersibak.

***

“Fany, hey.. you okay?” Bora menatap sahabatnya khawatir. Semenjak pelajaran sejarah selesai Tiffany terus saja melamun. Itu membuat Bora cemas.

“Tiff? Tiffany Hwang!” teriak Bora karena tak ada tanggapan.

“Uh huh y-yeah?”

Bora menghela nafasnya. “Kau kenapa, babe? Daritadi kau terus saja melamun. Is there something happened?”

“Uhm nothing. Kau mau ke kantin?” Tiffany berusaha mengalihkan topik.

“Sure. Aku sudah lapar. Kajja!”

Bora tahu sesuatu terjadi pada sahabatnya. Namun dia lebih memilih mengabaikannya dan menunggu Tiffany siap bercerita kepadanya. Dia menarik tangan sahabatnya dan menyusul teman lain ke kantin.

 

1 hour ago

Tiffany berusaha mencari alasan yang menyebabkan kepala sekolah memanggilnya. Dia menggeleng karena tak menemukan secuil kesalahan yang diperbuatnya. Tiffany adalah gadis baik, meski dia tak terlalu pintar dalam mata pelajaran. Kartu pelanggarannya juga bersih, menandakan gadis itu tak sekalipun melakukan pelanggaran di sekolah.

Dia mendesah kasar karena tak menemukan satu alasan pun mengapa kepala sekolah memanggilnya. Apa karena dia mengambil makanan ringan di loker milik Jae Min kemarin? Oh tidak! Tiffany menggelengkan kepalanya cepat. Itu terjadi begitu saja. Dia begitu lapar setelah melakukan kegiatan olahraga, sedangkan kantin berada cukup jauh dari jangkauannya. Satu-satunya cara menghentikan rasa lapar adalah camilan yang biasa Jae Min, teman sekelasnya simpan di lokernya. Dan dia lupa belum mengatakan hal itu pada Jae Min.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Kalau pemikirannya benar, bisa gawat. Dia tak mau dituduh mencuri hanya karena dia belum mengatakan hal itu pada Jae Min.

Dengan ragu, Tiffany membuka knop pintu ruangan kepala sekolah. Dia melihat kepala sekolah yang duduk di kursi kebesarannya dengan santai. Matanya menatap tajam Tiffany. Itu membuatnya menelan ludahnya kaku.

“Anda memanggil sa-…”

“Apa hubunganmu dengan sajangnim?”

“N-Ne?” Tiffany terkejut dengan pertanyaan kepala sekolah barusan.

“Aku melihatmu tadi bersama sajangnim. Kalian terlihat cukup dekat.”

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Dia bingung harus menjawab pertanyaan kepala sekolah dengan apa. Tak mungkin jika dia mengatakan Taeyeon adalah kekasihnya, bukan? Bisa-bisa satu sekolah gempar dan reputasi Taeyeon akan memburuk. Pasangan sesama jenis masih terlihat tabu di Korea. Tiffany tentu harus merahasiakan hal ini pada publik.

“Dia…” Tiffany menghentikkan ucapannya dan menatap ragu pada kepala sekolah.

***

“Aku pulaang..” Tiffany melepaskan alas kakinya ke rak di samping pintu dan menggantinya dengan slipper. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar apartemen. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.

Tiffany mulai melangkah lebih jauh memasuki apartemen. Dia berlari kecil menuju beberapa tempat. Mungkin saja ada seseorang disana. Karena tak kunjung mendapati seseorang, Tiffany berjalan lunglai menuju ruang tengah dan melemparkan tasnya di sofa disusul tubuhnya mendarat kasar disana.

“Huh, kau kesini?” tanya seseorang.

Tiffany membalikkan kepalanya ke belakang dan melihat kekasihnya tengah turun dari tangga dengan rambutnya yang masih basah.

“TaeTae!” Tiffany beranjak dari duduknya dan berlari ke arah Taeyeon. Memeluk gadis mungil tersebut dengan erat.

“Hey, bocah. Lepaskan! Kau bau.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya kemudian melepas pelukannya.

“Kau tak pulang ke rumahmu terlebih dahulu?” tanya Taeyeon dengan menaikkan satu alisnya.

Tiffany masih diam dengan bibir yang dikerucutkan. Dia marah. Taeyeon tahu itu. Sejenak rasa lelahnya berangsur mereda melihat gadisnya ini. Dia sangat senang menggoda kekasihnya hingga kesal seperti saat ini.

“Aigoo, kekasihku merajuk. Arra arra kau masih wangi, sayang. Wangi keringat.” Taeyeon terkekeh dengan ucapannya.

“YA!” Tiffany memukul bahu Taeyeon yang masih tertawa. Dia membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari hadapan Taeyeon.

Dengan cekatan, tangan Taeyeon berhasil memegang lengan Tiffany, membuatnya berhenti. Taeyeon kemudian memeluk gadisnya dari belakang. Mengecup lehernya pelan dan membalikkan tubuh Tiffany menghadapnya. Taeyeon mengecup bibir Tiffany singkat. Jelas hal itu membuat rona merah di sekitar pipinya nampak.

“Mandilah. Aku akan membuatkan makan malam.”

Tiffany mengangguk kecil dan segera berlari ke atas, ke kamar mereka untuk membersihkan diri. Dia menutupi wajahnya yang malu karena perlakuan Taeyeon barusan. Gadis mungil itu tertawa pelan melihat tingkah kekasihnya. Dia menggeleng lalu pergi ke pantry dan membuat sesuatu untuk mereka makan.

 

“Kenapa kau tak pulang dulu, sayang?” tanya Taeyeon seraya meletakkan nasi goreng kimchi ke piring milik kekasihnya.

“Daddy bilang dia akan pergi ke Berlin untuk menindaklanjuti masalah kliennya. Jadi aku berniat menginap beberapa hari disini. Tak apa, kan?” jawab Tiffany disusul menyuapkan nasi goreng kimchi ke mulutnya.

Taeyeon tersenyum. “Seperti tak biasanya saja.”

Mereka makan malam dengan hening. Taeyeon tersenyum pelan melihat kekasihnya memakan makanannya dengan sangat lahap.

“Ahh kenyang. Terimakasih makanannya!” Tiffany menundukkan kepalanya tanda terimakasih dengan lucu, membuat Taeyeon terkekeh.

“Setelah ini kau ingin langsung tidur?” tanya Taeyeon seraya mengambil piring mereka untuk ia cuci.

“Kenapa? Kau ingin aku melayanimu dulu?” tanya Tiffany seraya merapihkan poninya dengan kamera ponsel sebagai kacanya. Dia juga mengambil beberapa selca.

Taeyeon terbatuk karena ucapan Tiffany barusan. Dia membuka mulutnya dan menatap nanar kekasihnya. Bagaimana bisa gadisnya itu berkata demikian? Tiffany masih SMA, Taeyeon tak mungkin menyetubuhinya meskipun umurnya sudah terlampau legal untuk melakukan hal tersebut.

“Kau ini bicara apa? Sudah ku bilang jangan banyak bergaul dengan Yuri dan Sooyoung. Dia pasti mencemari otakmu dengan itu.” Taeyeon bergumam di akhir kalimat. Dia kesal dengan kedua sahabatnya yang byun. Sudah dipastikan mereka telah meracuni otak kekasihnya.

“Hehe aku bercanda, ahjumma.” Tiffany menunjukkan senyum dorky nya.

“Sudahlah. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku. Lakukan sesuatu sesukamu.” Taeyeon membawa piring mereka dan mulai mencucinya.

Tiffany masih diam di tempat dengan menekukkan bibirnya ke bawah. Sudah cukup lama gadis itu tak bertemu kekasihnya karena tuntutan pekerjaan. Dan dia bilang dia ingin melanjutkan pekerjaannya? Apa dia tidak merindukan kekasihnya itu?

Tiffany bangkit dengan kasar hingga kursi yang didudukinya berderit.

“Ahjummaa~ apa kau tak merindukanku? Sudah sebulan kita tidak bertemu. Haruskah kau bekerja disaat seperti ini?” rengek Tiffany.

Taeyeon tersenyum lebar tanpa gadisnya tahu. Dia berdehem pelan dan membuka sarung tangannya. Taeyeon ingin mengerjai kekasihnya lebih lanjut. Dia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya seusai mencuci piring.

“Ahjummaa~ please~~” Tiffany benar-benar memohon kali ini. Itu membuat Taeyeon terkikik tanpa sepengetahuan Tiffany.

“Jangan memanggilku ahjumma.” ucap Taeyeon dengan dingin. Dia tidak benar-benar melakukannya. Hanya ingin mengerjai kekasihnya saja.

“Wae? Itu kan kenyataan. Kau tua, tujuh tahun diatasku menandakan kau itu ahjumma.” ucap Tiffany dengan suaranya yang lucu.

Taeyeon tetap diam. Meski tak bisa dibohongi dirinya merasa bahagia. Tiffany saat ini pasti tengah menunjukkan wajah puppy nya yang lucu dan itu memang benar.

“Yaa~ ahjumma~ TaeTae~”

“Naiklah ke atas. Aku akan menyusul setelah menghubungi Jessica.”

Mata Tiffany berbinar. Dia berlari kecil ke arah Taeyeon dan meraih wajah kekasihnya untuk ia kecup bibirnya, melumatnya sedikit sebelum melepasnya.

“I’ll be waiting, baby.” Setelah mengatakan itu, Tiffany segera berlari menaiki tangga. Dia tak sabar untuk menceritakan hari-harinya selama sebulan ini pada Taeyeon. Kekasihnya adalah pendengar yang baik meski sifatnya yang terkadang pendiam dan dingin. Kalau beruntung, Tiffany akan menemukan Taeyeon yang bercerita padanya dengan panjang juga. Dia tak sabar menantikan hal itu terjadi.

Taeyeon menggelengkan kepalanya melihat kekasihnya yang sangat hiperaktif itu. Dia lalu meraih ponselnya dan mulai menghubungi Jessica, sekertaris sekaligus sahabatnya.

***

Tiffany menenggelamkan wajahnya dengan lengannya yang dilipat di meja. Semalaman suntuk bercerita dengan kekasihnya membuat dirinya mengantuk. Beruntung hari ini jam kosong. Guru yang biasanya mengajar sedang mengikuti workshop.

“UJIAN ULANG DIBATALKAN!” teriak seorang namja.

Tiffany tersentak karena teriakkan itu. Dia menatap tajam Shin Woo yang dengan kurang ajar mengganggu tidurnya.

“Benarkah? Kau tahu darimana?” tanya Ahreum.

“Aku baru saja dari papan pengumuman dan melihat pengumuman itu.” jawab Shin Woo.

Semua yang ada disana berteriak girang. Mereka senang ujian dibatalkan. Mereka tak kuat lagi jika diadakan ujian sebanyak tiga kali dalam satu semester. Yang benar saja. Bisa-bisa mereka stress muda.

Disaat semua orang merasa senang dengan berita tersebut, lain halnya dengan Tiffany. Rasa bahagianya sudah disalurkan semalam. Dia tahu berita tersebut terlebih dahulu.

“Tentu saja. Kekasihku yang melakukannya.” gumam Tiffany saat melihat teman-temannya.

Tiffany tak menyadari bahwa Bora mendengar ucapannya. Gadis itu membalikkan tubuhnya ke meja Tiffany dan menatapnya.

“Apa maksudmu?” tanya Bora.

Tiffany terkejut. Dia menelan ludahnya. “Apa yang kau bicarakan?” Tiffany balik bertanya.

“Kekasihmu yang melakukan ini? Siapa kekasihmu?” Bora menyipitkan matanya.

“Ahaha kau ini bicara apa. Aku? Kau tahu kalau aku tak punya kekasih.” Tiffany berucap dengan tawa yang dipaksakan.

“Aku mendengar dengan jelas tadi, Tiff.” Bora menatap tajam sahabtnya.

“Aish kau salah dengar rupanya. Aku hanya mengatakan, ‘Tentu saja. Yang melakukan itu pasti memiliki kekasih’.”

Bora menaikkan satu alisnya. Masih belum puas dengan ucapan sahabatnya.

“Aih sudahlah. Lebih baik kau belajar biologi dengan rajin agar Oppa kesayanganmu suka.”

Bora membulatkan matanya. “B-Bagaimana kau…”

Tiffany terkikik. “I have your As card.”

***

Taeyeon mengakhiri presentasinya. Dia menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan meeting. Sebagian terkesan dengan caranya menyampaikan presentasi, sebagian juga tak suka. Golongan inilah yang tak menyukai Taeyeon karena gadis tersebut adalah anak pemilik Jacco Enterprise. Yang mereka benci hanya karena Taeyeon sebenarnya anak angkat dari pemilik Jacco Enterprise. Terutama adik dari Han Young Joo, ayah angkat Taeyeon.

“Ya. Ada pertanyaan?” tanya Taeyeon.

Seorang pria paruh baya mengangkat tangannya. Taeyeon tahu pria tersebut adalah pemimpin divisi pemasaran.

“Anda mengatakan bahwa hotel yang anda bangun sekarang ini memiliki fasilitas tambahan yaitu baby spot. Apa itu tak memiliki resiko tentang bahaya penculikan anak?” tanya pria yang diketahui bernama Dong Joo.

“Kami sudah memastikan pegawai kami bersih dari tindakan kriminal dan memiliki kredibilitas tinggi. Kami juga sudah mengecek latar belakang pegawai kami dan juga keluarga-keluarganya. Ditambah cctv yang terpasang cukup banyak dari segala tempat baik yang terlihat maupun tersembunyi.”

“Ada lagi?”

Satu pria paruh baya tepat dipojok belakang mengangkat tangannya.

“Bagaimana dengan oknum dari luar?”

“Anda belum tahu cara kerja di hotel kami?” tanya Taeyeon. Dengan wajah bodohnya pria itu menggelengkan kepalanya.

Taeyeon tersenyum mengejek. Dia tahu selama presentasinya berlangsung pria tersebut sibuk bermain ponselnya dan sama sekali tak mendengarkan presentasinya. Padahal dengan jelas dia menyampaikan prosedur dan teknologi dari hotelnya yang akan sulit orang-orang jahat berkeliaran di dalamnya. Entah dari divisi mana pria itu Taeyeon tak tahu.

“Silakan anda bertanya pada orang-orang disini yang MENYIMAK PRESENTASI SAYA.” kata Taeyeon menekankan kalimat terakhir.

“Ada lagi yang bertanya?”

Hening cukup lama. Taeyeon hendak menutup pertemuan mereka hingga satu diantara mereka mengangkat tangan di detik terakhir. Han Young Woo, adik dari ayah angkat Taeyeon mengangkat tangannya.

“Ya Tuan Han.”

Pria itu tersenyum miring sebelum bertanya. Itu membuat Taeyeon menaikkan satu alisnya. Seperti yang dikatakan diatas, pria tersebut benci Taeyeon karena gadis itu akan menerima semua warisan kakaknya yang sangat menyayangi Taeyeon. Dia merasa semua harta kakaknya harusnya jatuh ke tangannya. Bukan gadis sialan yang tak sedarah dengan mereka.

“Bagaimana dengan fasilitas GXG? Kau tak berniat membuat itu? Kudengar Korea sudah banyak spesies seperti itu. Mereka akan cocok datang ke hotelmu dengan segala privacy nya.”

Taeyeon mengepalkan buku-buku jarinya. Jelas sekali pria di depannya menyinggung dirinya. Entah darimana pria tersebut tahu hubungannya dengan Tiffany. Taeyeon menenangkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Han Young Woo.

“Kurasa mereka tak membutuhkan itu. Mana ada fasilitas GXG yang diumumkan secara terang-terangan? Sudah jelas itu adalah hal paling bodoh dan membuat banyak kerugian disana-sini.”

Pria itu mengeraskan rahangnya mendapat tamparan keras dari jawaban Taeyeon. Gadis itu tersenyum mengejek karena berhasil membuat Young Woo skakmat.

“Kalau tidak ada pertanyaan lagi akan ku tu-…”

“Kau sepertinya mengenal baik kaum tersebut, Taeyeon-ssi.”

Taeyeon menolehkan wajahnya kembali ke sumber suara, Young Woo lagi. Dia menghela nafas dan memejamkan matanya. Young Woo tak akan pernah diam sebelum Taeyeon kalah.

Taeyeon makin mengepalkan buku-buku jarinya. Dia membuka matanya dan menggebrak meja. Sontak membuat orang yang ada disana terkejut. Kilat amarah jelas nampak di matanya. Taeyeon mengerang dengan wajahnya yang memerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

I’m sorry for make this fic even last fic was complete yet.

Maap bingits yak no secret belom kelar eh malah bikin fic baru. U know sedikit syusyah bkin ff requestan yg udh jadi Β bahan mentah. Klo bikin sendiri kan enak gituu nulisnya.

Hope u guys like it~

Pupye~ see you next chap or fic~

Advertisements

31 thoughts on “Enterprischool (Chapter 1)

  1. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„seru thor ff nya.karakter tae sllu sempurna ya thor klo di ff…πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒi like it.ditunggu kelanjutannya…

    Like

  2. Hai..
    Entah kenapa selalu suka cerita taeny yg seperti ini,maksudnya perbedaan profesi dan jarak usia ya meski pd kenyataannya memang taeng lebih tua tp kan cuma bbrpa bulan saja.
    suka sama kekanak-kanankannya tiffany,manjanya mungkin sedikit ke-egoanya..hehehee
    taeng yg sabar,pengertian,dewasa
    meski mungkin selalu meng’iya’kan apa kata fany tp tdk membuat kewibawaannya turun dan fany kyknya tau batasan itu..
    sepertinya terlalu panjang kementarnya…heheee
    sorry..mungkin krna suka sm jln ceritanya
    ditunggu kelanjutannya saja….semangat

    Like

  3. Seru banget cerita nya thor..
    Disini si tae sama pany malah umurnya beda jauh ya. Dipanggil ahjumma sama pany juga kaya gak cocok, mukanya tae kan emang masih kaya bocah paud wkwk

    Like

  4. Tae yg dewasa…fany yg lucu imut manja.. Cerita yg lucu.. Lebih suka yg seperti ini. Apa lg kalo dibumbui moment2 yg sweet. Meleleh bacanya hahahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s