Enterprischool (Chapter 3)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N/JRH

.

.

.

.

.

.

 

Tiffany menatap heran kekasihnya. Dia menemukan hal-hal aneh pada kekasihnya setelah pulang dari apartemen Jessica. Pertama, Taeyeon hampir menabrak salah satu pejalan kaki dalam perjalanan pulang. Kedua, Taeyeon bahkan mencoba membuka pintu apartemen yang tak bisa dibukanya, padahal dia harusnya menekan password terlebih dahulu. Ketiga, Taeyeon menawarinya makanan China yang dia tahu Tiffany sangat membencinya. Keempat, Taeyeon seringkali melamun dan tak mendengarkan ceritanya. Kelima, Taeyeon sama sekali tidak mencium kening dan bibirnya dan mengucapkan selamat malam sebelum tidur. Padahal sudah kebiasaannya untuk melakukan hal tersebut. Terakhir yang membuat Tiffany makin heran, Taeyeon menyuruhnya untuk absen sekolah.

What the hell.

Taeyeon sendiri yang selalu menyuruhnya belajar dan tidak boleh bolos kecuali sedang sakit.

“Ahjumma, aku harus berangkat. Aku sudah bolos kemarin, ingat?”

“Ani, Fany-ah. Sekolah itu milikku. Aku bebas melakukan apa saja termasuk kau. Temani aku hari ini.”

“Kau kan harus bekerja juga, ahjumma.”

“Tidak tidak. Aku ingin libur hari ini.”

“Ahjumma! Kau ini kenapa, sih?”

“Aku? Aku tak apa-apa. Wae?”

Tiffany menatap Taeyeon yang menunjukkan wajah polosnya. Dia menutup mata dan menghela nafasnya.

“Apa yang membuatmu menyuruhku untuk absen? Apakah kemarin Kang ssaem tahu aku bolos?” tanya Tiffany.

Taeyeon mengerjapkan matanya dan mengangguk. “Eo-eoh.. m-maka dari itu jangan berangkat ke sekolah.”

“Tapi aku kan harus bertanggungjawab.” Tiffany mengerucutkan bibirnya lucu.

Taeyeon selalu mengajarinya untuk selalu bertanggungjawab dengan apa yang dia lakukan dan kerjakan. Tapi sekarang? Apa gadis itu sedang mengajarinya untuk menjadi anak nakal?

“Itu tidak baik, TaeTae! Miyoung murid baik. Miyoung harus pergi ke sekolah untuk menebus perbuatan Miyoung!”

Taeyeon memejamkan matanya. Tiffany menunjukkan sikap ‘istimewa’ nya lagi. Dia mencoba menahan dirinya agar tak termakan sikap kekasihnya kali ini. Gadis itu harus menahan kekasihnya agar tak masuk ke sekolah. Dia tidak mau Tiffany mendengar kabar tak baik jika dia mengizinkan gadisnya sekolah.

“TaeTae~”

“Untuk kali ini..” Taeyeon menatap tajam Tiffany dan menggeleng. “No!”

Tiffany mengerucutkan bibirnya. “Arrasseo. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Disini membosankan, ahjumma!”

“Ya! Kau bosan denganku?” Taeyeon memicingkan matanya.

“Bukan begitu, ahjumma. Lihat! Apa yang bisa dilakukan di apartemen selain berbaring dan bermalas-malasan?”

“Kau ingin keluar?” tanya Taeyeon dan dibalas anggukan oleh kekasihnya.

“Arrass-…”

Ucapan Taeyeon terhenti saat ponsel milik Tiffany berbunyi. Gadis itu mengisyaratkan Taeyeon untuk menunda ucapannya selagi dia menjawab telepon.

“Yeoboseyo.”

“…..”

“Aku masih di apart- maksudku rumah. Wae?”

“…..”

Jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi setelah mendengar ucapan sahabatnya, Bora.

“A-Anioo. I-Itu hanya gosip Bo-…”

“…..”

Tiffany menelan ludahnya kaku. Taeyeon memandang kekasihnya. Dia penasaran dengan siapa Tiffany berbicara dan apa yang mereka bicarakan. Dari gelagat Tiffany saat ini, Taeyeon tahu gadis itu dalam keadaan tak baik.

“A-Aku b-bisa jelaskan-.. Boo? Yeoboseyo? Boo? Kau masih disana? Yeoboseyo?”

Tiffany memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Dia menurunkan ponsel dari telinganya kemudian membuka mata. Tatapannya ia jatuhkan pada kekasihnya yang dia yakin telah mengetahui hal ini sebelumnya.

“Mereka sudah mengetahui hubungan kita, geujo?”

Taeyeon menelan ludahnya. Dia tak mengira gadisnya akan mengetahui hal ini lebih cepat dari dugaannya. Jantung Taeyeon serasa teremas tangan yang tak terlihat. Begitu sakit membayangkan gadisnya pasti shock dan sedih. Tiffany masih SMA. Masa depannya masih begitu panjang. Hanya karena hubungan mereka, kini Tiffany harus menanggung beban. Sudah dipastikan gadisnya akan mendapat banyak masalah setelah ini.

“Mianhae.” Hanya itu yang dapat Taeyeon ucapkan. Dia menunduk, tak mau melihat wajah kekasihnya.

“Hei, aku tak apa. Sekarang atau nanti mereka juga akan mengetahuinya, kan?” Tiffany meraih dagu Taeyeon dan menatapnya dengan senyuman.

“T- Tapi kau akan mendapat masalah setelah ini, sayang.”

Tiffany menggeleng. “Asalkan TaeTae Ahjumma tidak meninggalkan Miyoung, Miyoung akan baik-baik saja.”

Taeyeon menarik kekasihnya kedalam pelukannya. Dia menepuk pelan punggung Tiffany dan mengucapkan kata maaf dan terimakasih berulang kali.

“Apa kau pindah sekolah saja, sayang?” usul Taeyeon setelah melepas pelukannya.

“Tak usah, ahjumma. Aku akan melewati ini.”

“Tapi, sayang-..”

“Ahjumma~ kalau aku pindah mereka akan semakin liar menghinaku nanti. Biarkan aku melewati ini. Dengan berlalunya waktu aku yakin mereka akan melupakannya.”

Taeyeon mendesah. “Baiklah. Tapi kalau ada yang mengganggumu, lapor saja padaku, arra?”

Tiffany tertawa pelan dan mengangguk dengan semangat. Taeyeon tersenyum dan mengacak rambut gadisnya untuk kemudian mengecup pipi Tiffany.

***

Tiffany mengusap kepalanya yang terasa sakit karena tertebas sesuatu. Dia mendongak dan melihat seseorang yang mungkin tak terpaut jauh dari usianya. Gadis diatas Tiffany membulatkan matanya dan menundukkan kepalanya seraya mengucapkan kata maaf.

Tiffany berdiri dari posisi jongkoknya seraya mengambil liontin yang tadi terjatuh.

“Aku tak apa-apa, agassi.” ucap Tiffany dengan senyum tulus.

“Sekali lagi aku minta maaf karena tidak melihat jalan.” kata gadis di depan Tiffany dan dibalas oleh Tiffany dengan anggukan dan senyuman.

“Kalau begitu aku pergi dulu, Ti ppa ny-ssi.” pamit gadis itu seraya melihat name tag milik Tiffany.

Saat gadis itu melangkah pergi dari hadapannya, Tiffany berteriak menahannya.

“Hei, apa kita bisa bertemu lagi?” teriak Tiffany.

Gadis itu menghentikan langkahnya dan mengerutkan keningnya. Dia heran, apa gadis yang bernama Tippany itu tidak mengenalnya? Yang dia tahu seluruh guru, staff, beserta siswa di sekolah ini tak ada yang tak mengenalnya, meskipun dia masih terbilang baru disana.

Gadis itu membalikkan direksi tubuhnya dan menatap Tiffany dengan heran.

“Kau tidak me-..”

Ucapan gadis itu terpotong oleh suara Tiffany. “Omo! Apa kau baru pindah kesini dan tidak tahu dimana ruang kepala sekolah?” histeris Tiffany. Dia ingat temannya pernah mengatakan padanya akan ada siswa baru yang pindah ke sekolahnya.

“Hei, harusnya kau bertanya padaku! Kalau begitu ayo aku antar kau kesana.”

Tiffany menarik tangan gadis itu. Reflek gadis itu melepas tangan Tiffany dengan kasar.

“Kim Taeyeon!”

Tiffany mengerutkan keningnya saat gadis di depannya sedikit berteriak.

“Kau tak tahu nama orang itu?” tanya gadis itu selanjutnya.

Tiffany mengerutkan alisnya. Dia mencoba mengingat nama yang tak asing di telinganya. Dia terus saja mengingat nama itu hingga membuat gadis di depannya jengah dan pergi meninggalkannya.

Saat Tiffany berhasil mengingatnya, dia berteriak girang dan hendak memberitahukan pada gadis mungil yang tadi bertanya padanya. Begitu dia sadar, Tiffany tak melihat gadis itu lagi disana. Tiffany makin mengerutkan keningnya.

“Untuk apa dia bertanya pemilik dan direktur sekolah kami?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Tiffany menggeleng dan mengabaikannya. Dia tersenyum liar mengingat pertemuannya dengan gadis mungil tak lama tadi. Dia terkekeh dan menutup wajahnya yang memerah.

“Kyaaa~ dia begitu imut! Omaygawd, mengapa jantungku berdetak cepat sekali?!”

Keesokan harinya, Tiffany melihat gadis imut yang ditemuinya kemarin. Kali ini gadis itu tengah duduk di booth dekat lapangan baseball dengan ditemani sebotol soda di tangannya. Tiffany merasakan dadanya yang meletup-letup. Dia menggigit bibir bawahnya karena bisa bertemu gadis imut itu lagi. Setelah menarik nafasnya dalam, Tiffany mulai mendekati gadis itu.

“Hei, kita bertemu lagi.” ujar Tiffany dengan senyum bulan sabitnya.

Gadis yang diberi label imut dari Tiffany mendongakkan kepalanya. Dia menaikkan satu alisnya. Tanpa permisi, Tiffany duduk di sebelah gadis itu dan menatap lurus kedepan. Senyumnya tak pernah ia lepaskan sedari tadi.

Gadis disamping Tiffany menghela nafasnya. “Aku tahu kau menyukaiku.” ujar gadis itu, sontak membuat Tiffany membulatkan matanya karena terkejut.

“Michinnya?! Aku masih straight! Catat, S.T.R.A.I.G.H.T!” Tiffany berdiri dari duduknya.

Gadis itu tertawa mengejek. Dia juga ikut berdiri dari duduknya dan mendekati Tiffany hingga wajah mereka berdekatan. Jelas hal itu membuat Tiffany memundurkan wajahnya dan menelan ludahnya, belum lagi jantungnya yang makin berdetak tak karuan.

“Aku melihat dari matamu itu, Hwang. Jangan memberi alasan kau straight sementara jantungmu berdetak cepat karenaku.”

Gadis itu menyeringai pelan.

“Aku bertaruh, setelah ini kau pasti akan terus memikirkanku dan tak bisa tidur karena ini.”

Gadis imut itu mendekatkan bibirnya ke telinga Tiffany dan berbisik.

“Kalau tebakanku benar, temui aku besok disini di waktu yang sama.” Gadis itu mengecup telinga Tiffany usai menyelesaikan ucapannya. Hal itu membuat Tiffany merinding dan berdiri kaku.

Malamnya, tebakan gadis imut itu benar. Tiffany sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Bayang-bayang gadis imut berambut hitam itu terus saja mengganggunya. Bahkan gadis Amerika itu sampai merasa frustasi. Tubuhnya juga menegang dan bulu kuduknya berdiri saat teringat kejadian siang tadi. Terutama saat gadis imut itu mengecup telinganya dengan sensual.

Tiffany mengerang. Dia bangkit dari tidurnya dan menatap keluar jendelanya.

“Siapapun kau gadis imut. Bertanggungjawablah karena membuatku seperti ini.” gumamnya dengan tatapan nanar.

Siangnya, Tiffany dengan mantap pergi ke tempat mereka bertemu kemarin. Dia mengerutkan keningnya saat tak melihat orang yang dicarinya.

“Mencariku, Hwang?”

Tiffany terkejut. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat gadis imut yang berhasil menjungkir-balikkan hatinya.

“Kau..” tunjuk Tiffany.

Gadis didepannya menyeringai. Dia sudah menduga Tiffany akan mengatakan kalau dia sudah jatuh kedalam pesonanya. Gadis imut itu memang dengan mudah membuat wanita straight sekalipun bertekuk lutut padanya. For your information, gadis itu merupakan playgirl. Dan Tiffany adalah korban kesekian.

Tiffany menarik napasnya dalam dan memejamkan matanya. Dia melangkah maju hingga tak ada sekat yang membatasi mereka. Gadis imut itu membulatkan matanya dan menahan napasnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Dia tak pernah merasakan hal ini dari korban-korbannya sebelumnya.

Tiffany memandang lurus ke iris kecoklatannya. “Teach me… how to love you.”

Dan pada saat itu juga, Kim Taeyeon merasakan jatuh cinta dalam waktu tiga detik. Sama seperti Tiffany Hwang.

***

Yuri mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Pekerjaannya sudah selesai dari satu jam yang lalu. Dia kini tengah mengunjungi kantor ayah Taeyeon dan menemui sahabatnya itu.

“Hentikan, Yul. Kau berisik!” tegur Taeyeon yang terganggu dengan ketukan jari Yuri.

“Ayolah, Taeng. Hentikan workholic mu. Meskipun aku juga Presdir aku tak sesibuk kau.” Yuri mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon mencibir. “Kau presdir di perusahaanku, bodoh! Tentu saja aku lebih daripada lebih sibuk.”

Sebagai informasi, Taeyeon bekerja sebagai Presdir di Jacco Enterprise milik ayah angkatnya. Dia juga memiliki perusahaan dari hasil usahanya sendiri bersama kedua sahabatnya, Yuri dan Sooyoung.

Yuri nyengir kuda. Taeyeon memutar bola matanya malas. Terkadang para sahabatnya berubah menjadi orang bodoh sedunia meskipun IQ mereka diatas rata-rata, sama sepertinya.

“Kalau begitu kita pindah posisi. Kau jadi presdir di TYS Corp dan aku jadi CEO nya. Simple, bukan?” usul Yuri yang dihadiahkan lemparan bolpoin oleh Taeyeon.

“Your wish, silly!”

Yuri mengusap kepalanya bekas lemparan bolpoin dari Taeyeon dan menekukkan bibirnya. Tak lama setelah itu, Jessica masuk kedalam ruangan Taeyeon.

“Presdir, saya baru saja menda-… Oh hei, Yul. Kau disini?” tanya Jessica sesaat setelah melihat keberadaan Yuri.

“Yeah, sebenarnya dia datang untuk menggangguku. Bisa kau usir dia, Sica?”

Jessica tertawa pelan. Dia sudah menghilangkan keformalannya karena dia kira tak diperlukan lagi. Terlebih ada Yuri juga disini.

“Yaish! Kau jahat sekali pada sahabatmu sendiri.” Yuri menunjukkan gaya ingin memukul Taeyeon untuk candaan dan wajah pura-pura kesal.

“Lihat? Annoying sekali, bukan?” goda Taeyeon lagi pada Yuri.

Jessica tertawa lagi. Dia menggeleng pelan seraya menghentikan tawanya.

“Sudahlah, Taeng, Yul. Aku kesini karena mendapat informasi penting.” ucap Jessica.

“Apa aku harus keluar?” tanya Yuri. Dia sadar bukan bagian dari perusahaan Jacco, jadi dia bermaksud tak ingin mencampuri urusan perusahaan milik ayah angkat Taeyeon tersebut.

“Tak usah. Ini menyangkut Han Young Woo. Kau juga harus tahu, Yul.” kata Jessica.

Yuri semakin merapatkan tubuhnya ke arah dua sahabatnya. Informasi mengenai Young Woo jelas penting. Taeyeon yang memberinya amanat untuk memata-matai Young Woo kepadanya dan juga Sooyoung.

“Dimana Sooyoung?” tanya Jessica.

“Dia di Jepang. Ada masalah di cabang perusahaan di Tokyo.” jawab Yuri.

“Baiklah. Aku mendapat informasi kalau Tuan Han melakukan merger bersama JXK Corp. Kau tahu sendiri pengacara Hwang bekerja di salah satu anakan JXK.” terang Jessica.

Taeyeon menaikkan alisnya. “Jadi menurutmu, dia akan mengancamku dengan Daddy Tiffany sebagai taruhannya?”

“Itu baru spekulasi, Taeng. Tapi semoga saja dia pure merger bersama JXK tanpa niat terselubung.” balas Jessica.

“Ya Tuhan, aku juga belum memastikan apakah Tiffany baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Ditambah informasi ini.” Taeyeon memijit pelipisnya pelan. Dia sungguh merasa stress dengan ini semua.

Jessica mengusap punggungnya untuk menenangkan, begitu juga Kwon Yuri.

***

Tiffany mendudukan pantatnya di dudukan toilet. Dia memejamkan matanya, berharap menghalau airmatanya yang ingin keluar. Dia pikir dia bisa menghadapi ini semua. Dia pikir ini bukanlah masalah besar. Tapi nyatanya tidak.

Dari awal dia masuk ke sekolah, gadis itu mendapat tatapan tajam yang menusuk dan sindiran beserta ejekkan yang menghunus jantungnya. Tepat dan dalam. Tiffany mencoba menghiraukannya dan melenggang masuk ke kelas tanpa mempedulikan bisikan-bisikan di belakangnya.

Hal yang tak terduga selanjutnya pun terjadi. Bora, yang mana merupakan sahabatnya dari kelas X mengabaikannya dan menjauhinya. Dia merasa sakit mendapat perlakuan tersebut dari sahabatnya sendiri. Bahkan dia ingin menangis.

Kemudian saat dia ingin mengambil bukunya di loker, bukunya sudah basah kuyup akibat air yang disiram kedalam lokernya. Dia meremas buku tersebut dengan menahan emosinya yang siap meledak kapan saja.

Selanjutnya, gadis itu dipanggil ke ruang kepala sekolah dan disidang. Dia mendapat banyak kritikan dan teguran dari sana-sini. Meskipun dia bisa saja melaporkan hal ini pada Taeyeon, namun dia tak mau membuat hal ini semakin rumit.

Dan jadilah dia disini sekarang. Di salah satu bilik toilet. Menumpahkan segala emosinya yang dia pendam sedari tadi. Meskipun berusaha sekuat tenaga untuk tak menjatuhkan airmata, Tiffany tak kuasa. Dia menangis sesenggukan. Bahkan tissue toilet hampir habis setengah untuk mengelap airmatanya. Gadis itu ingin menelfon kekasihnya. Mengatakan bahwa dia sedang dalam keadaan yang sama sekali tak baik. Memeluknya dengan erat layaknya hari esok tak ada lagi. Tapi dia sadar, Taeyeon akan semakin terbebani dengan itu. Selain dia memikirkan keadaan Tiffany, dia juga pasti akan memecat atau menghukum siapa saja yang berani menyakiti kekasihnya. Dia tidak mau orang-orang terluka hanya karena dirinya. Belum lagi masalah pekerjaan Taeyeon. Gadis itu pasti merasa tertekan memegang kendali dua perusahaan besar sekaligus.

TOK TOK TOK

Tiffany mendengar suara ketukan pintu. Dia menghapus sisa airmatanya dan merapikan penampilannya. Setelah itu mulai bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Tiffany menaikkan satu alisnya melihat seorang gadis berkacamata di depannya. Dia cantik dan juga tinggi.

“Coklat bisa membuat moodmu lebih baik, Unnie.” kata gadis tersebut seraya menyodorkan sebatang coklat padanya.

Tiffany mengernyitkan keningnya. “Nugu?”

“Ahh.. Seo Joo Hyun imnida. Aku juniormu, Unnie.” Seohyun mengenalkan dirinya dengan membungkuk.

“Kau kenal denganku?” tanya Tiffany lagi.

“Unnie tidak mengingatku? Jalan Chungmuro. Malam hari.”

Tiffany mengerutkan keningnya dan berpikir. Dia mencoba mengingat sesuatu dan-…

“Ah! Kau gadis sepeda itu! Aku ingat. Tapi aku tidak tahu kau sekolah disini juga.” seru Tiffany.

Tiffany ingat gadis di depannya yang bernama Seohyun ini pernah bersepeda sendirian seusai mengunjungi rumah neneknya di malam hari. Saat itu jarang pejalan kaki maupun pengendara lewat. Dan sialnya Seohyun, ada tiga pria yang menghadangnya. Seohyun begitu ketakutan. Beruntung hari itu Taeyeon dan Tiffany tengah berjalan kaki karena motor antik milik Sooyoung yang dipinjamnya mogok. Mereka kemudian melihat Seohyun dan berniat membantunya. Berterimakasih pada Taeyeon, gadis itu adalah pemilik sabuk hitam judo. Tiga pria kerempeng itu bisa ditumpasnya dengan sangat mudah.

“Aku berhutang budi pada kalian, Unnie. Aku tahu kalian orang baik.” Seohyun tersenyum. Hal itu membuat Tiffany sedikit terkurangi bebannya. Setidaknya ada satu yang tidak menghina dan mencemoohnya di sekolah ini.

“Gwaenchanha. Sudah sepatutnya kita saling tolong menolong, bukan?”

Seohyun mengangguk menyetujui ucapan Tiffany. Namun wajahnya berubah murung. Dia menatap Tiffany dengan wajah penuh penyesalan.

“Tapi maafkan aku mengatakan ini, Unnie…”

Seohyun menarik napasnya dalam. “Semua siswa kelas XI diluar berdemo untuk meminta kau keluar dari sekolah.” ucap Seohyun dengan menggigit bibir bawahnya.

Mata Tiffany melebar. Jantungnya tiba-tiba kehilangan fungsinya. Kedua kakinya terasa lemas dan tak sanggup menahan tubuhnya. Beruntung Seohyun memeiliki reflek yang cukup bagus. Dia menahan tubuh Tiffany dan mendudukannya di dudukan toilet lagi. Gadis blasteran itu menatap kosong kedepan. Dia berpikir, ‘Apa masa remajaku akan hancur saat ini?’.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Gue nepatin janji kan apdet skrg ato besok. Krna gw cinta reader jd gw apdetnya skrg wkwkwk.

Itu udah sekalian ada flashback2nya ye. Tuh yg penasaran gmna si tehni bisa jadian.

Uokayy next chap masih ada badai2 lagi. Sweet2annya nanti aja hehehe.

Pupye~ see u next chap or fic~

Advertisements

33 thoughts on “Enterprischool (Chapter 3)

  1. Thor bisa request gk ??? Badainya d banyakin biar gw makin baper…. sekalian nih ff gk cepat end’nya bhaksss…
    Anju kgk tau mereka berurusan sama nyonya apa??!!! Wahaha Masa remajaku hancur??? Kgk tipp paling hati readers yg hancur wkwk…
    Good thor…
    See ya n hwataenggg

    Like

  2. Okey finee buru2 masalh phany dikelarin lahh 😦 ngadu ke taetae juga gapapa kok phany ah~, gakuat liat phany dibully 😭

    Like

  3. Badai oh badai kenapa engkau dtg.
    Kelarin dah pya. Udh taeny moment kurang asupan malah banyak badai lagi.
    Itu tmn satu sekolahnya tenggelamkan aja lah.
    Enek ngeliatnya😑😑😬

    Like

  4. Kasian bgt pany…😒😒😒tae lebih terbebani…taeny yg kuad ya??pasti kalian bisa melewati ini semua.asal kalian ttp bersama…setidaknya masih ada seo baby yg nemeni fany…

    Like

  5. Oalah kok ribet bgt sih cuma karena taeny pacaran aja ampe di demo sekolahnya. Kurang kerjaan bgt tu murid2…. PR nya kurang banyak x πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Semoga tiffany bisa melalui semua ini. Kalo tiffany kuat, taeyeon pasti juga jd 10x lbh kuat. Cie….

    Like

  6. Gils parah banget, sampe demo. Mungkin kalo dikucilin iya wkwkwk sampe demo mah lebay bener temen temennya -.-
    Gue greget, duh tiff harus kuaaaattttt 😭 astaga bora juga ikut ngejauhin, jangan jangan malah dia suka fany wkwkwk

    Like

  7. Lah kok jahat banget sih, kasian pany nya.
    Apalagi bora malah ngejauhin pany, harusnya di nge support pany karna dia kan sahabatnya, tapi untung aja ada seo.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s