U R My Hero

Title : U R My Hero

Main Cast : TaeNy

Genre : GXG

Length : Oneshoot

Author : N

.

.

.

“Taeyeon?”

Suara itu.

Taeyeon menolehkan wajahnya ke sumber suara. Dengan gerakan lambat disertai angin yang kebetulan menerpa dirinya lumayan kencang membuat dirinya seakan memancarkan kharisma tersendiri. Taeyeon mulai melihat seorang wanita sebayanya yang tingginya tak terpaut jauh darinya.

“Kau memanggilku?” tanya Taeyeon memastikan.

Wanita itu terlihat mengerutkan keningnya sejenak sebelum tawanya terdengar nyaring. Kini giliran Taeyeon yang mengerutkan keningnya. Taeyeon masih tetap diam menunggu wanita asing di depannya itu berhenti tertawa.

“Kau tidak mengenalku?” wanita itu mulai bertanya seusai menghentikan tawanya.

“Kurasa tidak.” Taeyeon membalas cepat. Karena tak ingin membuang waktu lebih banyak, Taeyeon berbalik meninggalkan wanita asing dihadapannya. Reflek, wanita tersebut menahan lengan Taeyeon.

“Tunggu!”

“Apalagi?” kesal Taeyeon. Dia sungguh tidak suka dengan orang asing yang sok kenal dengannya hanya karena orang tersebut tahu namanya. Terlebih dia dalam keadaan terburu-buru. Sepupunya baru tiba di Korea dan dia harus bergegas menjemputnya.

Wanita di depan Taeyeon menghela nafasnya. “Hwang Miyoung. Kau tak asing dengan nama itu?”

Taeyeon menaikkan satu alisnya. Dia menatap wanita itu dari bawah sampai atas, menilik penampilannya. Dia juga sedang berpikir, berusaha mengingat nama yang wanita dihadapannya katakan.

“Seingatku dia gadis yang sangat bodoh yang pernah kutemui. Sudahlah, aku sibuk.” Taeyeon melepas genggaman tangan wanita itu di lengannya untuk kemudian berjalan melanjutkan langkahnya.

“YAH AKU TAK BODOH!”

Wanita itu berteriak, namun Taeyeon tak peduli dan terus melanjutkan langkahnya. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama. Dia seperti tersadar akan sesuatu. Dengan gerakan cepat dia membalikkan direksi tubuhnya. Wanita yang menyapanya tadi masih diam ditempatnya berdiri.

“Kau bilang, ‘aku’ tadi? Kau…” Taeyeon mengernyitkan pandangannya seraya menunjuk wanita tersebut dengan telunjuknya.

“Wae? Kau sudah ingat denganku sekarang?” Wanita yang berdiri beberapa meter dari Taeyeon mengerucutkan bibirnya dengan berkacak pinggang.

“Unbelieveible.” gumam Taeyeon.

Dengan langkah ragu, Taeyeon mulai mendekati wanita tersebut yang masih menatapnya nanar. Dia menghentikan langkahnya saat jarak mereka terpaut satu meter.

“Kau kah si bodoh Miyoung? Aku tak percaya kau berubah sedrastis ini.” Taeyeon menggelengkan kepalanya dengan tatapan heran.

“Well, aku mulai memperbaiki diriku sendiri seusai tamat SMA. Jadi, seperti yang kau lihat sekarang ini. Apa aku sudah cukup sexy bagimu?” jelas Miyoung disertai sebuah pertanyaan di akhir kalimat.

“Bagiku kau tetap si bodoh Miyoung.” ujar Taeyeon yang segera dihadiahi tatapan tajam Miyoung. Sayang usahanya tak mempan untuk seorang Kim Taeyeon.

Tanpa berucap sepatah kata lagi, Taeyeon berjalan menjauhi Miyoung. Wanita yang lebih tinggi darinya hanya diam tanpa berniat menghentikan langkah Taeyeon. Dia menghela nafas pelan sebelum berbalik dan berjalan menjauh dari tempatnya.

***

Flashback

 

“Sudah ku katakan bukan aku pelakunya!” Miyoung berusaha meyakinkan Hwanhee yang terus saja menuduhnya.

“Kalau bukan kau siapa lagi? Disana hanya ada kau kemarin!”

Miyoung baru akan membuka mulutnya untuk membela dirinya saat sebuah bola kertas menghantam kepala Hwanhee.

“Ya! Siapa yang melakukan ini?!” teriak Hwanhee ke seluruh teman di kelasnya. Dia berdecak sebelum mengambil bola kertas tadi dan membukanya.

Raut wajah gadis itu seketika mengeras setelah membaca kertas tersebut. Hwanhee segera berlari keluar kelas dari pintu belakang, diikuti dua temannya yang tadi ikut melabrak Miyoung.

Tak lama setelah itu, Taeyeon masuk kedalam kelas dari pintu depan dengan wajah datar dan bosannya. Dia sedikit tersandung saat berjalan dan merutuk.

“Yaish siapa yang menaruh penghapus disini?!”

Taeyeon menendang penghapus tersebut dan berjalan lagi menuju bangkunya. Seperti biasa melakukan aktifitas wajibnya, yaitu tidur. Sedari tadi Miyoung terus saja menatap Taeyeon dari mulai gadis itu masuk ke kelas. Entah dorongan darimana, yang jelas Miyoung yakin, Taeyeon baru saja menolongnya tadi. Bola kertas tersebut pasti Taeyeon yang melemparnya dari luar.

Mulai saat itu, Miyoung terus saja mendekati Taeyeon. Dia menganggap Taeyeon adalah hero baginya. Selama itu pula Taeyeon terus menolak kehadiran Miyoung dan menganggapnya bodoh. Meskipun beribu-ribu kali Taeyeon menolaknya, Miyoung pantang menyerah. Dia percaya dengan segala kepercayaannya bahwa suatu saat nanti Taeyeon akan menerima kehadirannya. Setidaknya menganggap dirinya adalah temannya.

Perlu diketahui, walaupun dengan segala ke-masa bodoh-an Taeyeon terhadap sekelilingnya, gadis itu merupakan gadis cerdas. Tanpa belajar hingga suntuk pun gadis tersebut masih mampu mengerjakan soal serumit olimpiade. Berbanding terbalik dengan Miyoung, gadis itu merupakan gadis peringkat lima terakhir dari bawah. Wajar saja jika Taeyeon terus menyebutnya si bodoh Miyoung. Ditambah lagi Miyoung adalah gadis ceroboh. Meskipun kesal dengan kecerobohan Miyoung, rasa kemanusiaannya selalu saja muncul untuk menolong gadis tersebut.

Satu lagi yang menambah kesan keren di diri Taeyeon, gadis itu adalah gadis cantik, imut, dan tampan di waktu yang bersamaan. Sebab itu banyak namja dan yeoja di sekolahnya yang mengagumi Taeyeon. Hal ini justru berbanding terbalik lagi dengan Miyoung. Meskipun tak bisa dikatakan tak cantik, namun wajah cupu Miyoung membutakan kesan cantiknya. Ditambah perilaku Miyoung yang lugu lugu jalang. Tak heran banyak yang menyebutnya bodoh selain karena otaknya yang memang bodoh.

Sayangnya waktu Miyoung untuk terus berada di sisi Taeyeon harus terhenti. Daddy nya memilih pindah ke Amerika lagi karena beliau tak ingin terus terbayang mendiang isterinya di Korea. Banyak kenangan yang membuatnya kembali bersedih. Lagipula Daddy Miyoung ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik di Amerika dan gajinya cukup besar. Maka sejak itulah Miyoung memutuskan untuk pergi dan meninggalkan hero nya.

Miyoung sempat menangis dan nekat meminum alkohol di usianya yang belum legal karena ingin mabuk. Dan lagi-lagi Taeyeon harus membantunya pulang ke rumah dan menjelaskan semuanya kepada Daddy nya. Tapi saat Miyoung tersadar dari mabuknya semalam, dia merasa mengingat Taeyeon menciumnya mesra semalam. Saat menanyakan hal tersebut pada Taeyeon, gadis itu dengan wajah dinginnya, dengan tegas menyangkal. Tiffany menekukkan bibirnya kebawah. Dari ekspresi wajah Taeyeon sudah bisa ditebak dia tak berbohong. Dengan segala rasa kecewa dan patah hatinya, Tiffany meninggalkan Korea, juga meninggalkan hero nya, Kim Taeyeon.

***

Taeyeon termenung sendirian di kamarnya yang gelap. Hanya ada satu penerangan yaitu di lampu tidur disamping ranjangnya. Dan juga sedikit cahaya dari sinar bulan yang masuk di jendelanya yang sengaja ia buka. Di tangannya tergenggam sebuah foto lama yang mulai kusam dimakan usia.

Taeyeon mendengar pintu kamarnya berderit, menandakan seseorang baru saja membukanya. Tak lama kemudian, muncul sebuah kepala disusul dengan tubuhnya. Taeyeon sudah mengira sepupunya yang masuk. Dia segera meletakan foto lama tersebut di bawah bantal.

“Waeyo, Hyo?” tanya Taeyeon.

Hyoyeon mulai duduk disamping Taeyeon tanpa melihat sepupunya. Dia menerawang jauh kedepan sebelum menghela nafasnya. Hyoyeon merogoh saku celananya dan menyerahkan sesuatu di sakunya pada Taeyeon. Dengan tatapan bingung Taeyeon tetap menerima sesuatu dari Hyoyeon yang ternyata sebuah kertas berukuran kecil namun terlihat elegan.

“Datanglah, okay? Aku tahu sudah lima kalinya kau menolak datang kesana.” Hyoyeon angkat bicara.

Tanpa membuka kertas tersebut pun Taeyeon tahu apa isinya berdasarkan ucapan Hyoyeon. Wanita imut itu mendesah pelan dan melempar undangan tersebut di ranjangnya.

“Ayolah, Taeng. Teman-teman lain begitu merindukanmu asal kau tahu. Siapa yang tidak rindu dengan most wanted girl di sekolah kita dulu, huh?”

“Acara seperti itu sama sekali tidak penting. Hanya membuang-buang waktu.” ujar Taeyeon dengan wajah datar.

“Ugh, yang dikatakan Yejin benar. Bicara dengan Miss. Bossy Kim itu sulit!” gerutu Hyoyeon.

“Begini saja, kau datang di acara reuni sekolah kita dan mobil terbaruku akan kuberikan padamu dengan percuma, otte?”

Taeyeon sedikit menimang tawaran Hyoyeon padanya. Sebenarnya Taeyeon sudah lama mengincar mobil Hyoyeon sekarang ini. Namun karena kesibukkannya dalam bekerja membuatnya tak sempat membelinya, dan pada akhirnya mobil limited edition tersebut harus rela menjadi milik Hyoyeon yang membelinya lebih awal.

“Okay deal!” Taeyeon mengulurkan tangannya. Hyoyeon tersenyum puas sebelum meraih tangan Taeyeon dan menyalaminya.

“Deal!”

***

Tiffany berkali-kali menyeringai saat melihat tatapan memuja pria-pria yang dulunya selalu merendahkannya dan menganggapnya makhluk astral yang tak terlihat di sekolahnya dulu. Mereka akui Tiffany, atau yang mereka panggil Miyoung dulu telah bermetamorfosa menjadi wanita super cantik dan hot damn sexy. Tiffany tertawa keras dalam hati. Dia puas karena sudah lebih unggul dari mereka-mereka yang menganggapnya bukan siapa-siapa.

Ini adalah kali pertamanya datang ke acara reunian sekolah. Wajar jika semua orang disana takjub dengan penampilan berbeda dari Tiffany. Hal itu membuat Tiffany bangga. Namun kesenangannya harus terhenti saat melihat seorang wanita yang- kalau boleh jujur -telah mencuri hatinya semenjak SMA dulu.

Tiffany melihat Taeyeon yang berkali-kali mendesah bosan dan memutar bola matanya malas. Di tangannya, segelas tequilla menemaninya dari riuh pesta. Sesekali menyesapnya. Tiffany terus menatap pergerakan kecil Taeyeon tanpa bosan hingga mata itu bertemu pandang dengan miliknya.

Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, Tiffany mulai melangkahkan kakinya mendekati Taeyeon. Wanita imut itu tetap diam di tempat dengan kedua matanya yang terus menatap lekat mata Tiffany. Setelah berada pada jarak yang cukup dekat dengan Taeyeon, Tiffany tersenyum manis.

“Kita bertemu lagi, TaeTae.”

Sebisa mungkin Tiffany berusaha menutupi debaran jantungnya yang siap copot kapan saja. Dia ingin Taeyeon menghapus segala image bodohnya dulu dan digantikan dengan image dewasa dan sexy seperti yang teman-teman lain katakan padanya.

“Jika kau ingin aku merubah image bodohmu itu Β dengan apa yang aku lihat sekarang, jangan harap. Kau. Tetap. Si bodoh. Miyoung.” ucap Taeyeon dengan menegaskan kata-kata terakhirnya.

Tiffany terkejut dengan ucapan Taeyeon barusan yang seperti membaca pikirannya. Dia mengeraskan rahangnya dan menarik kerah kemeja Taeyeon hingga hidung mereka bersentuhan. Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Taeyeon juga sangat gugup. Kalau boleh jujur, dia sedikit terpana dengan penampilan Tiffany sekarang. Tapi Kim Taeyeon tetaplah Kim Taeyeon. Harga diri dia letakkan setinggi yang ia bisa.

Tanpa banyak berkata, Tiffany segera menyambar bibir Taeyeon yang sedari dulu ingin dia rasakan. Tentu saja Taeyeon terkejut. Dia berusaha melepas ciuman Tiffany. Dengan sedikit kasar Taeyeon berhasil melepaskan ciuman Tiffany.

“Apa yang kau lakukan, hah?!”

“Apa kau tak tertarik dengan tubuhku?” Tiffany balas bertanya.

“Jangan gila, Miyoung!”

“Yeah, aku gila! Aku gila karena menyukai manusia yang selalu menyebutku bodoh!” Tiffany berteriak frustasi.

Taeyeon melirik sekilas ke arah teman-temannya yang mulai memperhatikan mereka berdua. Dia memejamkan matanya dan mendesah pelan. Taeyeon menarik tangan Tiffany untuk keluar dari pesta. Mereka sampai di tempat parkir dan memasukkan Tiffany kedalam mobilnya.

Mereka berdua terus diam tanpa berniat melakukan sesuatu atau berbicara. Taeyeon berdecak dan mulai menghidupkan mobilnya. Dia lalu melajukan mobilnya keluar dari tempat acara reunian berlangsung.

“Yang tadi, lupakan saja.” Tiffany akhirnya berbicara setelah mereka sudah lumayan jauh meninggalkan gedung pesta.

Taeyeon tak berniat membalas ucapan Tiffany dan tetap fokus menyetir.

“Antarkan aku ke hotel.” kata Tiffany sekali lagi.

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Untuk apa? Kau tidak memiliki apartemen disini?”

“Taeyeon… tidurlah denganku.”

Taeyeon menginjak rem kuat-kuat, membuat tubuh mereka terpental kedepan. Terimakasih kepada sabuk pengaman yang bisa menahan mereka.

“Selain bodoh sekarang kau menjadi tak waras, Miyoung!”

“Kita sama-sama dewasa. Jadi apa salahnya melakukan itu? Kau juga harus perlu mengeluarkan hormonmu. Aku tahu kau juga tergoda dengan tubuhku tadi. Jangan kau kira aku tak melihatmu menelan ludah saat melihat tubuhku.”

Taeyeon memegang setir dengan erat. Wajahnya mengeras. Dia menghentikan mobilnya dan menepi ke tepi jalan.

“Fine! Seperti yang kau bilang tadi. Kita melakukan ini karena sama-sama dewasa.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh ke hotel terdekat dari tempatnya. Tiffany menyeringai dalam diamnya.

Mereka akhirnya sampai di hotel yang Taeyeon tahu adalah milik salah satu rekan bisnisnya. Setelah selesai check-in, wanita itu segera membawa Tiffany ke kamar hotel.

“Begitu tak sabarnya, huh?” ejek Tiffany saat mereka sampai di kamar mereka.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Miyoung yang dikenalnya dulu benar-benar berbeda dengan Miyoung sekarang.

“Kau yang menggodaku terlebih dahulu.” Taeyeon mendorong tubuh Tiffany ke ranjang dan segera menerjang bibir pink kissable nya. Tiffany tersenyum dalam ciumannya. Tangannya ia kalungkan di leher Taeyeon dan mendekapnya semakin erat.

Taeyeon memagut bibir bawah Tiffany. Sesekali menariknya masuk kedalam mulutnya. Dia mulai menggunakan lidahnya untuk menjilat bibir Tiffany, membuat wanita blasteran itu mendesah. Tiffany terus menekan kepala Taeyeon agar memperdalam ciumannya. Tanpa ragu Tiffany membuka mulutnya membiarkan lidah Taeyeon mengeksplorasi mulutnya.

“Aaaah~” erang Tiffany saat lidah Taeyeon menjilati langit-langit mulutnya lalu mengajak lidahnya menari bersama. Dengan mutlak, Tiffany mengatakan Taeyeon adalah pencium yang hebat.

Tak sampai disitu, Taeyeon beralih menciumi pipi, rahang, dan leher jenjangnya. Terus menjilat dibagian bawah rahangnya seperti menjilat eskrim. Tak lupa menggigit dan menghisapnya, membuat tanda kepemilikan.

“Taeyeonaaahh aaahss~” Tiffany menarik rambut Taeyeon saat wanita itu mulai meremas payudaranya yang masih terbungkus gaun.

Taeyeon kembali mencium bibir Tiffany dengan panas. Seakan hidup dan matinya bergantung darisana. Setelah nafas mereka tersengal karena kehabisan oksigen, Taeyeon melepasnya. Dia menatap wanita dibawahnya. Tiffany melihat mata Taeyeon yang sudah menghitam dikuasai nafsu. Dia tersenyum dalam hati. Setidaknya Taeyeon tak menolaknya saat dia meminta bercinta. Tiffany merasakan tubuhnya sedikit tertarik keatas. Taeyeon telah merobek gaunnya dengan sangat mudah, membiarkan kedua buah payudaranya terekspos jelas. Tak butuh waktu lama untuk Taeyeon menyerang payudaranya dengan mulutnya dan satu tangannya.

“Aaaahss Ttaaaeee~”

***

Flashback

 

Taeyeon baru saja akan memakan ramyun nya setelah selesai memasaknya, saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dia melihat nama ‘Si bodoh Miyoung’ disana. Dia menghela nafas kasar sebelum membuka ponselnya dan mengangkat telfon.

“Wae?”

“TaeTae hiks~ tolong aku hiks~”

Taeyeon menyatukan alisnya. “Ada apa?”

“Ke bukit biasa kumohon hiks~”Β 

Setelah selesai mengatakan itu, Miyoung mematikan sambungan teleponnya. Taeyeon memukul meja dan mengerang frustasi. Dia mengacak rambutnya kesal dengan tatapannya yang masih tertuju pada ramyun nya.

Dengan mengerucutkan bibirnya, Taeyeon meninggalkan ramyun kesayangannya dan mulai pergi dari rumah menyusul Miyoung. Padahal dia belum menyentuhnya sama sekali. Ramyun yang malang.

 

“Ya! Bodoh!” teriak Taeyeon saat sudah sampai di bukit yang biasa mereka- sebenarnya Miyoung yang memaksa Taeyeon -kunjungi.

“Kali ini apalagi?” lanjut Taeyeon.

Miyoung menarik ingusnya dan menghapus airmatanya sebelum berlari mendekati Taeyeon dan memeluknya erat. Gadis itu kembali menangis lagi di pelukan Taeyeon.

“Yah yah yah yah.” Tubuh Taeyeon kaku saat Miyoung memeluknya. Dia juga merasa canggung.

“Hwaaa TaeTae.. Miyeon hiks~ Miyeon meninggal hwaaa~”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Miyeon.. kucingmu?”

Tiffany mengangguk, masih sesenggukan di ceruk leher Taeyeon. Sebenarnya Taeyeon merasa geli dan panas saat merasa hembusan nafas Miyoung menerpa lehernya. Sebisa mungkin dia menahan dirinya agar tak lepas kendali. Jujur Taeyeon sedikit tertarik dengan Miyoung. Kebodohan dan keluguan Miyoung menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon.

“Hei berhenti menangis.” Namun Miyoung sama sekali tak memghiraukan ucapan Taeyeon dan terus menangis.

Taeyeon berdecak. Dia membalikan tubuh Miyoung. Tangan kirinya dia tempatkan di belakang lehernya, sedangkan tangan kanannya mengangkat belakang lutut Miyoung. Taeyeon menggendong Miyoung ala bridal style.

“Kyaaaaa~” Miyoung berteriak. Tangannya dengan reflek dia kalungkan di leher Taeyeon.

Setelah berhasil mengangkat tubuh Miyoung, Taeyeon membawanya naik sedikit tepat diatas bukit dan menidurkannya di rerumputan hijau.

“Lebih baik kau tidur saja. Wajahmu terlihat sangat jelek saat menangis” kata Taeyeon.

“Tapi…”

“Diamlah. Aku akan menunggu disini. Cepat tidur dan berhenti menangis.” Taeyeon duduk memunggungi Miyoung. Sesuai perintah Taeyeon, Miyoung segera pergi ke alam mimpi. Karena terlalu lama menangis Miyoung jadi sedikit mengantuk dan dengan cepat tertidur.

Taeyeon menolehkan wajahnya kebelakang. Dia melihat Miyoung yang sudah terlelap. Senyum kecil mengembang di kedua bibirnya. Dia terus menatap wajah Miyoung tanpa bosan. Disaat seperti inilah dia bisa memandang wajah polos Miyoung dengan puas. Taeyeon mengusap surai rambut Miyoung dengan lembut. Taeyeon akui Miyoung memiliki wajah cantik yang alami saat tertidur. Tapi entah mengapa saat gadis itu membuka matanya, kesan cantiknya lenyap seketika.

Taeyeon mendekatkan wajahnya ke wajah Miyoung. Matanya terus menatap bibir Miyoung tanpa berkedip. Dengan sangat perlahan Taeyeon mengecup bibir Miyoung. Mendiamkannya lama sebelum bergerak melumatnya. Miyoung masih tertidur pulas, itu membuat Taeyeon bernafas lega. Setelah puas mencium bibir Miyoung, Taeyeon melepasnya.

“Saranghae.”

***

Tiffany mengerjapkan matanya. Dia mengerutkan keningnya karena merasa dingin. Dia lalu tersadar bahwa dia tak mengenakan sehelai benang pun. Tiffany melihat Taeyeon yang masih terlelap dengan memeluk pinggangnya protektif. Dia tersenyum dan mengecup bibir Taeyeon sekilas, membuat wanita imut itu merasa terganggu dan mulai mengerjapkan matanya.

Mata mereka bertemu. Tiffany tersenyum manis menyambutnya. “Morning, TaeTae.”

Taeyeon tersadar. Dia melebarkan matanya dan melepas pelukannya di pinggang Tiffany, membuat selimutnya tersibak dan menampilkan tubuh polosnya bagian atas. Taeyeon berteriak seraya menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Karena terlalu kuat menarik selimut, membuat tubuh polos Tiffany terlihat. Taeyeon berteriak lagi dan dengan gugup menutupi tubuh Tiffany. Tiffany tertawa pelan melihat tingkah Taeyeon. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Payudara mereka bersentuhan membuat Taeyeon menelan ludahnya gugup.

“Santai saja, TaeTae. Kau tak ingat semalam? Kau begitu buas memakanku.”

“M- Miyoung, a- aku harus b- bekerja.”

“Baiklah kalau begitu. Mari mandi bersama.”

Belum sempat berkomentar, Tiffany sudah menariknya masuk kedalam kamar mandi. Taeyeon lagi-lagi menelan ludahnya dengan gugup.

 

Tiffany terkekeh pelan saat melihat wajah Taeyeon yang memerah bak kepiting rebus. Dia menggelengkan kepalanya heran karena Taeyeon mampu menahan hormonnya saat mereka mandi bersama. Padahal Tiffany sudah berkali-kali menggodanya.

Mereka saat ini tengah menunggu pesanan baju mereka karena baju yang dikenakannya semalam sudah tak terbentuk lagi.

“Taeyeon-ah, ingin mengulang kejadian semalam?” goda Tiffany dengan sedikit membuka belahan piyama handuknya di bagian dada. Taeyeon menggeleng gugup.

“Wae? Aku tahu sejak SMA kau menyukaiku.” Tiffany mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon menaikkan satu alisnya. Sepertinya icy personality nya telah kembali. Taeyeon tertawa sinis mendengar pernyataan Tiffany barusan.

“Kau sungguh memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi Ms. Hwang.”

Tiffany mengerutkan keningnya. “Oh yeah? Bagaimana kalau yang kukatakan tadi itu adalah fakta? Aku dengan jelas ingat saat di bukit dulu kau mencium bibirku saat aku tertidur dan mengatakan saranghae. Juga saat aku mabuk sebelum pindah. Jangan kau kira aku tak tahu kau selalu menolongku saat geng Hwanhee membullyku atau teman-teman lain. TaeTae bagiku kau seperti hero. Kau datang untuk menyelamatkanku tanpa menunjukkan wajah aslimu karena harga dirimu yang tinggi itu! Persetan dengan harga diri!”

Taeyeon menelan ludahnya mendengar penuturan Tiffany. Dia tiba-tiba merasa speechless, tak tahu harus berbicara apa lagi. Tiffany melangkah maju mendekati Taeyeon. Dia memegang erat kedua bahunya.

“Kau jahat! Kau kira dengan berpisah selama sepuluh tahun ini mampu mengikis perasaanmu padaku? Juga perasaanku padamu, huh?” Tiffany menatap sendu kedalam mata Taeyeon.

“K- kau.. apa?”

“Ya. Aku juga mencintaimu.” tegas Tiffany membuat Taeyeon terlonjak kaget. Tiffany tersenyum miring.

“Sebenarnya yang bodoh disini itu kau! Bagaimana bisa kau tidak peka dengan perasaanku? Jelas-jelas aku selalu mengikutimu kemanapun, melakukan apa yang kau suruh, dan terus saja mendekatimu meski berkali-kali kau tolak. Kim Taeyeon, pabo!”

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar dan menatap tajam. Dia tidak suka saat seseorang menyebutnya bodoh. Yang benar saja! Taeyeon adalah siswa tercerdas di SMA nya dulu dan mahasiswa terjenius yang pernah dimiliki Universitasnya.

“Geurae. Aku tak suka berbasa-basi kalau begitu.” ucap Taeyeon yang membuat Tiffany bingung. Taeyeon menyeringai pelan.

“Tiffany Hwang Miyoung, I’ll ask you this question. Please say yes or yes of course!”

Tiffany mengerutkan keningnya karena ucapan Taeyeon. Yang benar saja, yes dan yes of course tidak ada bedanya!

Perkataan Taeyeon selanjutnya dengan sangat sangat mengejutkan terlontar dari mulutnya. Tiffany sampai kehilangan kewarasannya sesaat saat Taeyeon mengatakan…

“Marry me?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OS buat selingan fic series..

Biasanya gw apdet series pas weekend tuh. Berhubung ni weekend gw rada sibuk dan ga sempet nulis, gw kasih oneshoot dulu yg udah lama kesimpen di draft. Entsch minggu depan di post insyaallah.

So how bout the story above?

Komen juseyo~

Pupye~ see u next fic~

Advertisements

23 thoughts on “U R My Hero

  1. “Marry me?” eeaaakkkkkkkk sah!!! πŸ˜‚. Mereka mah ga perlu pacaran lagi, keputusan taeng bener banget 😁. Thor bikin sequel nya dong, ini ff keren banget sumpah πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Like

  2. Gegara gengsi doangg tae ampe gitu, ya tak apalah yg penting tae langsung ngajak phany nikah πŸ˜‚
    Thanks u thor udh update 😊

    Like

  3. I say Yes of course…😱😱😱
    Langsung kejang2
    Wkwkwk

    Auww.. Soo sweeettttt
    Ud biasa kalo org cakep hargadirinya tinggi..

    Like

  4. Ya ampun tae, gara gara harga diri, nahan sampe bertahun tahun. Parah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ ,siapa yg fa tergoda dgn tubuh ppany coba kekekeke

    Like

  5. Ini kapel sukanya dadakan ya. Naena dadakan juga, padahal mereka baru aja ketemu setelah bertahun-tahun gak ketemu. Terus lagi tae dadakan juga mau nikahin pany. Langsung embat aja sukanya wkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s