Enterprischool (Chapter 4)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Taeyeon menatap kekasihnya dengan curiga. Semenjak gadis itu pulang dari sekolahnya, dia sama sekali tak berbicara dengannya dan langsung melenggang masuk ke kamarnya. Saat ditanya pun Tiffany hanya menjawab dia baik-baik saja. Tentu Taeyeon tak percaya. Dia tahu kekasihnya lebih dari apapun.

Taeyeon menarik bahu Tiffany yang ingin menghindarinya lagi.

“Miyoung-ah…” Taeyeon menatap mata gadisnya.

“Apa yang mereka lakukan padamu? Sebut siapa saja, aku akan memberi pelajaran kepada siapapun yang menyakitimu.”

Tiffany menggeleng dan melepas pegangan Taeyeon di bahunya.

“I’m fine. You don’t need to worry.”

“Why should I? You’re in trouble, I know it.”

“Taeyeon-ah, I’m okay. Really.”

Taeyeon mendesah. Dia tidak suka ini. Dia tidak suka saat Tiffany memanggilnya dengan nama Taeyeon dan bukannya pet name nya, atau Ahjumma, atau yang lain. Itu menandakan kalau kekasihnya memiliki masalah.

“Baiklah kalau kau tak mau bercerita. Aku akan menelepon Sica untuk memindahkanmu ke sekolah lain.” Taeyeon hendak menghubungi Jessica sebelum Tiffany mencegatnya.

“Don’t do that!”

Taeyeon tak menghiraukan ucapan Tiffany dan mulai menghubungi Jessica. Tiffany meraih ponsel Taeyeon dan membantingnya keras di lantai hingga casing dan baterai nya terlepas. Gadis imut itu membulatkan matanya tak percaya.

“Aku bilang jangan lakukan itu!” seru Tiffany.

“Kau berteriak padaku?” Taeyeon memicingkan matanya.

Tiffany menghela nafasnya. “Aku tak ingin berdebat, Taeyeon.”

“Tapi kau mencoba mengajakku berdebat, Tiffany.”

Taeyeon melihat ini semua mulai tak masuk akal. Seharusnya mereka bisa membicarakannya secara baik-baik.

“Aku ingin sendiri.” ucap Tiffany.

“Terserah. Aku akan mengurusi kepindahanmu besok.”

“Kim Taeyeon! Kau tak mendengarku?!” teriak Tiffany membuat Taeyeon mengeraskan rahangnya.

“Berteriaklah sepuasmu! Aku tidak akan merubah keputusanku apapun yang terjadi.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon mulai melangkah pergi. Namun sebelum itu, dia mendengar sebuah isakkan di belakangnya. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut. Taeyeon berbalik dan melihat Tiffany terduduk lemas di bawah dan menangis. Dia segera berlari dan meraih kekasihnya kedalam pelukannya.

“Fany-ah, m-mianhae. Jeongmal mianhae. Aku akan menarik perkata-…”

Tiffany menggeleng dengan masih terisak.

“Mereka mengataiku, memojokkanku, bahkan berdemo menuntut agar aku pindah…” Tiffany mendesah sebelum melanjutkan ucapannya. “Saat itu aku berpikir untuk pindah agar aku tak mendengar olokkan mereka lagi. Tapi…”

Tiffany mendongak, menatap wajah kekasihnya.

“Tapi aku tak bisa.”

“Wae?” tanya Taeyeon. Matanya masih terus menatap kekasihnya.

Tiffany berdiri dan melepas pelukkan Taeyeon.

“Kau mau kemana, Miyoung-ah?”

“Aku ingin tidur.”

Lagi-lagi Taeyeon menghela nafasnya.

***

Keesokan harinya, Taeyeon sudah tidak melihat Tiffany disampingnya tidur. Dia bangun dari tidurnya dan segera mencari gadisnya. Saat ingin membasahi kerongkongannya yang kering, dia melihat note kecil di pintu lemari pendingin. Dari Tiffany. Dia mengatakan pergi sekolah lebih awal dan sudah membuatkannya sarapan, Tiffany juga menuliskan dirinya akan pulang kerumah Daddy nya dan menyuruh Taeyeon agar tak mengkhawatirkannya, juga melarangnya untuk memindahkannya ke sekolah lain.

Hal itu membuat kepala Taeyeon terasa sakit. Dia mencoba menghiraukannya dan mulai berjalan ke arah kamar mandi setelah itu bersiap untuk pergi bekerja.

“Cari tahu siapa saja yang menyakiti Tiffany kemarin.” perintah Taeyeon pada Jessica sesampainya ia di kantornya.

Tanpa banyak berkata, Jessica mengangguk dan mulai keluar dari ruangan Taeyeon.

Tak butuh waktu lama untuk Jessica menyelesaikan tugasnya. Gadis itu kembali dengan map berwarna coklat ditangannya. Taeyeon segera meraih map tersebut dan membukanya. Ada beberapa foto dan juga daftar nama-nama orang yang berhasil Jessica kumpulkan yang mana kemarin telah menyakiti Tiffany.

“Kau yakin dengan itu, Taeng?” tanya Jessica membuang keformalannya.

“Kekasihku menderita karena mereka. Jadi ini balasan yang harus mereka dapatkan.” jawab Taeyeon dingin.

“Sebaiknya kau berhenti saja, Taenggu-ya.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Ini.” Jessica menunjuk apa yang tengah Taeyeon pegang dengan dagu nya. “Karena itu sia-sia.”

Taeyeon berdiri dari duduknya dengan kasar hingga kursi yang didudukinya terdorong lumayan jauh ke belakang.

“Menurutmu ini sia-sia, huh? Kau lupa aku direktur di sek-…”

“Not anymore!” sela Jessica dengan berteriak.

“Kau bukan direktur disana lagi, Taeyeon-ah. Young Woo sudah mengambil alih.”

Taeyeon membulatkan matanya, terkejut. “B-Bagaimana bisa?” tanyanya lirih.

“Aku juga tidak tahu. Para petinggi dan komite sepakat menggantimu dengan Young Woo.”

“Apa karena hubunganku dengan Tiffany?”

Jessica menggeleng lemah. Dia tidak memiliki ide untuk hal ini.

***

Tiffany duduk sendirian di atap gedung sekolahnya. Kakinya ia biarkan menggantung dibawah. Dia menghela nafas untuk yang kesekian kali. Meskipun orang-orang sudah tidak seganas kemarin dalam menghinanya, namun hal itu masih terus di dengarnya beberapa kali. Bora sudah mulai melunak, dia sudah merespon Tiffany walau hanya anggukan, gelengan, ataupun jawaban singkat. Meskipun begitu, Tiffany yakin itu akan terasa berbeda. Mereka tak mungkin lagi sedekat saat masih baru mengenal. Karena ada sekat yang terbangun diantara mereka.

Tiffany juga masih beruntung, disaat terburuknya ini, dia mendapat teman sebaik Juhyun. Meskipun gadis itu adalah juniornya, tapi Tiffany senang gadis itu bisa menenangkannya dengan sifat dan pemikiran dewasanya. Ditambah gadis bernama Im Yoon Ah, sahabat baik Seohyun. Gadis rusa itu mampu membuat Tiffany terhibur dengan tingkah konyolnya. Dia juga tak keberatan berteman dengan Tiffany yang memiliki hubungan tak wajar. Hal itu membuat Tiffany merasa lega.

“Kau tak takut jatuh?”

Tiffany tersentak mendengar suara asing di belakangnya. Dia berbalik dan melihat seorang pria tinggi dan good-looking berdiri disana.

“Nugu?” tanya Tiffany. Dia takut pria itu adalah salah satu dari hatersnya. Dia takut pria itu akan mendorongnya ke bawah.

Pria itu tertawa pelan. “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal yang ada di pikiranmu.”

Tiffany mengerutkan keningnya. Bagaimana dia tahu?

Pria itu duduk disamping Tiffany dan membiarkan kakinya menjuntai kebawah.

“Apa yang kau lakukan disini sendirian?” tanya pria itu.

“Kau tidak ikut menghinaku? Kau tidak merasa jijik denganku?” Tiffany balas bertanya.

Hal itu membuat pria disampingnya tertawa lagi. “Kenapa aku harus? Aku bukan mereka.”

Tiffany tersenyum lemah. “Aku berpikir akan sulit mencari teman di saat seperti ini.”

“Benarkah? Lalu bagaimana denganku? Kurasa aku sudah menjadi temanmu saat ini.” Pria itu berkata dengan percaya diri.

“Ahh ini mudah ternyata.” balas Tiffany dan itu membuat keduanya tertawa pelan.

“Jun… Choi Jun. Itu namaku.” ucap pria itu.

Tiffany mengangguk. “Aku tak perlu mengenalkan diriku karena kurasa kau sudah mengetahuinya?”

Jun memukul bahu Tiffany pelan. “Eyy, mana bisa begitu. Setidaknya anggap ini perkenalan normal antara dua orang asing.”

Tiffany terkekeh. “Arrasseo. Aku Tiffany Hwang. Senang bertemu denganmu, Jun.”

Jun tersenyum. “Tentu saja kau harus merasa senang bertemu denganku.”

“Kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi rupanya.” ejek Tiffany.

“That’s my middle name.” ucap Jun bangga dengan menepuk dadanya.

Tiffany tertawa dan menunjukkan eyesmile nya. “Kau lucu. Kurasa aku mulai menyukaimu sebagai teman.”

“Itu berita bagus.” sahut Jun dengan senyuman.

Saat keduanya asik mengobrol, tiba-tiba bel pulang berbunyi. Mereka sedikit terkejut akan itu.

“Benarkah kita melewati jam pelajaran terakhir disini?” tanya Jun.

“Kurasa iya.”

“Baguslah. Aku jadi tidak perlu repot bertemu Yoon ssaem.”

Tiffany tertawa untuk yang kesekian kalinya. Dia tahu Yoon ssaem terkenal menyebalkan dan killer. Hampir seluruh siswa membencinya.

“Ayo pulang! Biar ku antar.”

Tiffany menaikkan satu alisnya.

“Anggap saja sebagai salah satu kebaikan seorang teman baru?”

“Alasan diterima. Go!”

Jun tersenyum. “Okay. Go!”

Keduanya pulang dengan menaiki motor sport milik Jun. Tiffany mengarahkan Jun dimana rumahnya berada. Tinggal belokkan terakhir, mereka akhirnya sampai di depan gerbang rumah Tiffany.

Motor berhenti dan Tiffany mulai turun. Dia melepas helm yang dikenakannya dan menyerahkannya pada Jun.

“Thanks, Jun.” ucap Tiffany dengan tersenyum.

Namun Jun tidak membalas senyumannya. Hal itu membuat Tiffany bingung. Dia tersadar tatapan Jun bukan mengarah ke arahnya. Tiffany mengikuti arah pandang Jun dan melihat…

“Taeyeon.” gumam Tiffany.

Taeyeon berdiri menatap tajam keduanya di depan mobil mercedes nya.

“Aku pergi dulu, Tiff. Sampai jumpa besok.” ucap Jun pada akhirnya memecah keheningan dan kekakuan disana. Jun tahu gadis di depan sana adalah kekasih dari gadis yang baru saja dibonceng nya.

“Yeah, hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan mulai memutar arah. Motornya melaju dengan kecepatan sedang hingga sosoknya tak terlihat lagi di mata Tiffany.

***

Hening.

Keduanya tak berniat membuka mulut.

Taeyeon yang biasanya terlihat tenang kini terlihat kesal. Anggap saja dia kekanakkan, dan nyatanya memang seperti itu. Dia tak bisa menahan perasaannya melihat kekasihnya tadi. Dia cemburu melihat Tiffany dengan pria lain.

Tiffany mendesah. Dia bangun dari sofa sebelum Taeyeon menarik tangannya hingga tubuhnya terjatuh di pangkuan Taeyeon.

Tanpa banyak berkata, Taeyeon mulai melumat bibir Tiffany dengan ganas. Tiffany mencoba melepas ciuman Taeyeon yang terkesan menyakitinya. Dia terus memukul bahu Taeyeon menyuruhnya berhenti. Namun Taeyeon tak peduli dan terus menciumnya kasar hingga bibir Tiffany berdarah. Taeyeon menumpahkan segala emosi nya dalam ciuman itu. Tiffany miliknya.

Hingga isakkan Tiffany terdengar, mampu membuat Taeyeon berhenti. Gadis itu melebarkan matanya, tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Tiffany menangis. Dia menampar pipi Taeyeon dan pergi darisana menuju kamarnya.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengepalkan buku-buku jarinya. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu! Dia tahu dia cemburu, dan dia berhasil termakan oleh rasa cemburunya. Kini Taeyeon menyesal.

Dia berdiri dan berlari menyusul kekasihnya ke kamar.

“Fany-ah buka pintunya. Kumohon, maafkan aku.”

Tak ada sahutan. Yang terdengar hanya isakkan. Hati Taeyeon sakit mendengar alasan Tiffany menangis adalah dirinya. Dia merasa menjadi kekasih yang buruk.

“Miyoung-ah sayaang. Kumohon buka pintunya. Maafkan TaeTae.”

“Miyoung-aah…” panggil Taeyeon lemah.

“Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Maka dari itu buka pintunya, sayaang.”

Tak ada respon. Taeyeon menggigit bibir bawahnya.

“Aku tak bermaksud, sayang. Kumohon maafkan aku.”

Taeyeon menyerah. Dia terduduk dibawah dengan bersandar pada dinding disamping pintu kamar kekasihnya, menunggu Tiffany membukanya. Karena lelah menunggu, Taeyeon mulai tertidur disana dengan membawa rasa penyesalan.

Tak lama setelah itu, Tiffany membuka pintu kamarnya. Dia mengira Taeyeon sudah pergi dari rumahnya, namun ternyata dia salah. Gadis itu tertidur disamping pintu kamarnya. Tiffany menggigit bibir bawahnya.

Tiffany berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taeyeon yang masih tertidur.

“Mianhae.” lirih Tiffany.

Tiffany berdiri dan masuk ke kamarnya lagi untuk mengambil selimut. Dia kembali dan mulai menyelimuti Taeyeon. Gadis itu juga duduk disamping kekasihnya dan mengamati wajah bayinya saat tertidur. Hingga tak terasa Tiffany mulai merasa mengantuk dan menyusul Taeyeon ke alam mimpi.

***

Jun menyalakan motor sportnya dan mulai berjalan keluar dari pekarangan rumahnya. Dia berniat menjemput Tiffany. Anggap saja dia berbaik hati menawarkan tumpangan pada gadis itu karena dia tahu sesampainya dia di sekolah, Tiffany pasti akan menerima pembullyan. Setidaknya dia ada disamping Tiffany dan berdiri membelanya nanti.

Jun memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Tiffany seperti sebelumnya. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat mobil mercedes putih yang diketahui milik Taeyeon masih bertengger disana.

Jun mencoba tidak mengambil pusing dan menekan bel disamping pagar.

Tak ada sahutan. Dia coba berkali-kali dan tetap tak ada Tiffany atau siapapun yang membuka gerbang. Dia mencoba iseng membuka gerbang dan ternyata tidak dikunci. Jun semakin bingung. Bagaimana bisa gerbang rumahnya tidak dikunci? Bagaimana jika orang jahat tahu?

Jun terus berjalan di pekarangan rumah Tiffany hingga pria itu sampai di depan pintu rumahnya. Jun mencoba iseng lagi membuka pintu rumahnya, dan sama seperti sebelumnya, pintu tersebut tak dikunci.

Jun menghela nafasnya melihat kecerobohan Tiffany terhadap rumahnya sendiri. Dia mulai memasuki rumah Tiffany yang terlihat sepi. Jun tidak bermaksud tak sopan, dia hanya berniat mengecek saja apakah Tiffany disana dalam keadaan baik atau tidak.

Jun terus mencari di sekeliling rumah tersebut. Karena tak berhasil menemukan seorang pun di lantai satu. Jun mencoba mencari di lantai dua. Betapa terkejutnya Jun saat melihat dua orang yang dikenalinya tertidur di depan pintu sebuah kamar. Jun mendekat ke arah mereka.

Sebenarnya posisi mereka terbilang cute dengan kepala Tiffany bersandar di bahu Taeyeon sedangkan kepala Taeyeon juga bersandar di puncak kepala Tiffany. Gadis Amerika itu juga memegang lengan Taeyeon erat seperti memegang bantal guling. Tapi karena Jun tak terbiasa melihat couple GXG itu jadi sedikit aneh baginya.

“Fany-ah.” panggil Jun mencoba membangunkan Tiffany.

“Tiffany..” Jun menggoyangkan bahu Tiffany.

Taeyeon yang sedikit sensitif dengan pergerakan mengerjapkan matanya sebelum terbuka sempurna. Dia melihat sekitar hingga mata itu bertemu dengan milik Jun.

“YA! SIAPA KAU?!” teriak Taeyeon membuat Tiffany terbangun.

Gadis itu mengerutkan keningnya dan melihat Jun di depannya.

“Jun? Bagaimana bisa kau masuk kesini?”

“Pintu gerbang dan pintu rumahmu tak terkunci. Itu berbahaya, Tiff.”

“Aku tanya siapa kau?!” kesal Taeyeon karena merasa terabaikan.

Tiffany mengelus lengan Taeyeon. Kekasihnya itu seperti bayi jika baru bangun tidur. Moodnya sedikit terganggu.

“Dia temanku, Tae.”

“Annyeonghaseyo, sajangnim.” Jun menyapa Taeyeon dengan membungkukkan badannya.

“Aku bukan sajangnim mu lagi.” gerutu Taeyeon.

“WHAT?! Apa maksudmu, TaeTae?” Tiffany dan Jun sama-sama terkejut.

Taeyeon mendesah malas dan memutar bola matanya. Dia bangkit dan berjalan ke kamar Tiffany untuk melanjutkan tidurnya. Jujur saja lehernya sakit karena tidur dengan duduk.

“Kau tunggulah di sofa depan, Jun. Aku akan mengurusi bayi besar itu dulu.”

Jun terkekeh pelan dan mengangguk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Hay hay hay gw kambek. Ini chapter buat perkenalan sm cast baru euhehehe. Chap besok masih berbadai-badai ria. Udh liat sedikit badai di chap ini kan? Lah chap selanjutnya lebih lebih kenceng lagi.

Okay, komen juseyo~

Pupye~ see u next chap~

Advertisements

38 thoughts on “Enterprischool (Chapter 4)

  1. jun ganggu taeny aja nihπŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ
    niat awalnya sih mau bantu tp lama-lama jd suka deh ke fany yakan jun…kkkkkk
    moga aja sih gk suka kan jun udh tau klo fany sm taeyeon pacaran…

    tp lucuk kali yah klo ntr salah satu mantan taeyeon muncul trus recokin hubungan taeny…eh kok lucuk sih ribet iyahπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚..
    lalu jun jd pahlawan kesiangan buat fany
    *junlagiygkenaπŸ˜‚πŸ˜‚

    Like

  2. Thor…gue koq gak suka ya klo ada orang baru yg deketin fany.apalgi dia cowok.gak enak perasaan gue thor.gue takut fany nyaman ama jun karna dia sllu jagain fany dri bullyan teman” fany trus berpaling deh dri tae…jgn sampe thor.aku gak bisa diginiin thor…secepatnya hapus si jun itu dri sekitar taeny…😦😦😦jeball…

    Like

  3. siapa tuh jun . dan kenapa dia bisa manggil tae sajangnim apakah mereka berdua saling kenal

    si jun udh mulai dekat ma pany .entar ujung2nya jatuh cinta 😦

    Like

  4. Hehe,,udh jatuh ketimpa tangga tae,, sabar nak,, Jun apanya ya kok tiba2 dkt, bener2 baik, apa emank naksir fany,atau disuruh org thor??
    Baca dr dpn bis ini, biar ga nyusun kebalik dikpla,

    Like

  5. Lah kasian dong si tatang, masa dia sama sekali gak tau kok dia bisa digeser posisinya jadi direktur di sekolah itu. Parah banget itu kakak angkatnya, seenak nya aja ngerebut posisinya orang. Padahal harusnya dia terima aja kalo harta keluarganya lebih banyak ke tae. Pokoknya semangat lah buat taeny, mudahan aja mereka kuat dikasih badai sama authornim hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s