Hot & Cold

Biru berganti jingga. Pada saat itulah seorang gadis keluar dari tempat persembunyiannya. Dia pikir ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri dari rivalnya. Sudah seharian suntuk, pasti musuhnya akan lelah mencarinya dan memutuskan untuk berhenti. Namun belum sampai sepuluh detik, gadis berambut brownie menegang mendengar suara dibelakangnya.

“Berhenti disana, bodoh!”

Gadis berambut brownie mengepalkan buku-buku jarinya dan memejamkan matanya erat. Dia mengeraskan rahangnya.

“Kau kira aku akan menyerah mencarimu, huh? You loser.” ejek musuh gadis tersebut.

Gadis brownie membalikkan direksi tubuhnya dan menatap tajam musuhnya.

“Apa maumu?”

Sang musuh menaikkan alisnya kemudian tertawa pelan.

“Apa yang kuharapkan dari gadis sepertimu? Cih, bahkan tidak ada.” balas sang musuh angkuh.

“Bahkan dengan bergabung dengan clubmu?” tantang gadis brownie dengan senyum miring.

Sang musuh menelan ludahnya. Dia memasang wajah dinginnya lagi dan mengangguk. “Eo- eoh.”

“Kau yakin? Aku bisa saja bergabung dengan clubmu itu, Son Juyeon-ssi.” Cheng Xiao, gadis brownie memainkan kukunya dengan santai. Sepertinya keadaan telah berbalik. Juyeon, atau kerap dipanggil Eunseo tertaklukan olehnya.

“Bukankah tujuanmu mengejarku sejauh ini hanya untuk memintaku bergabung, hm?”

Eunseo mengepalkan buku-buku jarinya. Dia mengeraskan rahangnya. Benar. Keadaan telah berbalik. Gadis jangkung tersebut mengangkat kepalanya. Dia harus menjunjung tinggi harga dirinya. Gadis di depannya jangan sampai mempermalukannya. Eunseo baru akan membuka mulutnya ketika sebuah suara kekanakkan menginterupsinya.

“Unnie waktu kita hampir habis!”

Eunseo menoleh dan melihat Yeoreum dibelakangnya. Dia melihat jam tangannya dan mengerutkan keningnya. Kemudian mendesah pelan.

“Urusan kita belum selesai, Seongso-ssi.”

Setelah mengatakan hal tersebut, Eunseo membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Cheng Xiao, menyusul Yeoreum hingga punggung mereka tak terlihat lagi.

Cheng Xiao mengelus dadanya dan menghembuskan nafasnya lega. Jujur saja gadis itu gugup bukan main. Siapa yang tidak gugup berhadapan dengan Raja sekolahnya? Eunseo adalah siswa yang paling ditakuti dan disegani oleh seluruh siswa, bahkan guru-gurunya sekalipun.

Cheng Xiao menghembuskan nafasnya lagi. “Tuhan, selamatkan aku besok.”

***

Pada awalnya Cheng Xiao berencana untuk membolos sekolah. Namun Mei Qi, teman sekelas sekaligus sahabatnya mengatakan bahwa hari ini akan ada pelatihan menyanyi dan semua siswa wajib mengikutinya kalau tak ingin terkena sanksi. Cheng Xiao memang bersekolah di sekolah seni yang akan melahirkan idol-idol papan atas.

Cheng Xiao mengerang sebelum bangkit dari duduknya dan turun dari bus, mengikuti anak-anak yang berseragam sama sepertinya. Dia menatap gerbang sekolahnya dengan ragu.

“Cheng Xiao!” Cheng Xiao menolehkan wajahnya dan melihat sahabatnya, Mei Qi.

Mei Qi mendekat ke arah Cheng Xiao lalu mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan wajahmu itu?” tanyanya menggunakan bahasa kelahiran mereka.

Cheng Xiao menggeleng. “Tidak ada. Ayo kita masuk!” jawab Cheng Xiao dengan bahasa yang sama. Kemudian menarik tangan Mei Qi.

Saat berjalan di lorong, Cheng Xiao melihat Eunseo bersama teman-temannya tengah bercerita dan bercanda satu sama lain. Mata mereka tiba-tiba beradu pandang. Eunseo menampakkan wajah dingin dan angkuhnya lagi. Cheng Xiao melemparkan pandangannya ke arah lain dan menarik Mei Qi untuk berjalan lebih cepat menjauhi Eunseo.

 

Jam pelajaran pertama telah usai. Kini tiba saatnya untuk pelatihan bernyanyi untuk kelompok A dengan kelompok B. Dan itu artinya, kelasnya dengan kelas Eunseo akan berlatih bersama, di tempat yang sama, dan dalam waktu yang sama pula. Cheng Xiao menelan ludahnya gugup.

Dia masih duduk diam di tempatnya sementara teman kelasnya yang lain sudah berangsur meninggalkan kelas.

“Xiao Xiao. Ayo! Mengapa kau masih diam?” Mei Qi menegur sahabatnya, tentu masih menggunakan bahasa kelahirannya. Gadis itu lebih suka berbicara kepada Cheng Xiao dengan bahasa China dibanding Korea.

Cheng Xiao masih diam di tempat.

“Hey, kau baik-baik saja?” tanya Mei Qi. Kali ini memasukkan nada khawatir di ucapannya.

Cheng Xiao reflek menoleh dan melihat Mei Qi lalu mengangguk.

“Ya. K-kau tahu.. aku benci menyanyi.” Itu memang kenyataan. Cheng Xiao tidak suka menyanyi. Dia tahu suaranya tak bisa diandalkan untuk kasus ini. Keahliannya hanya menari.

“Aku tahu. Tapi, mari mencobanya terlebih dahulu, hm?”

“Kau benar. Kajja!”

Cheng Xiao tersenyum dan bangkit dari duduknya. Dia menarik tangan Mei Qi. Mereka berdua lalu mulai berjalan meninggalkan kelas untuk menuju ruang vocal.

Saat tiba di ruang vocal, mereka melihat ruang tersebut sudah dipenuhi oleh siswa, termasuk Eunseo beserta gengnya. Walaupun Cheng Xiao tidak melihat Eunseo, namun gadis China merasakan bahwa musuhnya tengah memperhatikannya. Dia sangat yakin karena dia merasakan dingin menusuk punggungnya. Dan hanya tatapan Eunseo yang membuatnya seperti itu.

Tak lama berselang seorang wanita mungil mulai memasuki ruang vocal. Cheng Xiao kira itu Yeom Songsaengnim, guru yang biasa mengajar vocal. Namun perkiraan Cheng Xiao harus ditelan pahit karena yang ada di penglihatannya sekarang adalah seorang Queen of Ballad, Queen of Soloist, dan Goddess Kim Taeyeon!

Sontak seluruh siswa yang ada disana berseru dan takjub melihat Diva Korea Selatan ada dihadapan mereka.

Yeppeuda

Taeyeon Unnie

Taeyeon Sunbaenim

Dia bukan manusia. Dia bidadari!

Benarkah itu Kim Taeyeon?

Taeyeon Noona

Kurasa aku ingin pingsan

Omo! Kim Taeyeon!

Dan masih banyak lagi bisikan-bisikan kagum yang Cheng Xiao dengar. Dia juga masih berdiri takjub di tempatnya.

“Annyeonghaseyo.” sapa Taeyeon dengan membungkukkan badannya. “Kim Taeyeon imnida.” lanjutnya.

“Ne! Kami sudah tahu!” jawab seluruh siswa dengan kompak. Mereka sangat senang bertemu langsung dengan salah satu member grup nomor satu di Korea.

Cheng Xiao tak sengaja melihat Eunseo yang memasang wajah datar seakan tak senang atau bersemangat bertemu seorang diva populer. Bahkan dia saja akan berjingkrak girang dan meminta Taeyeon berfoto bersamanya kalau tak memiliki urat malu.

“Ne. Kalian pasti penasaran mengapa aku berada disini, benar?” tanya Taeyeon yanh segera dibalas ‘ya’ oleh siswa.

“Geurae. Tujuanku kemari untuk mengajari kalian vocal. Ini pertama kalinya bagiku untuk mengajar vocal, jadi mohon bantuannya.”

Seluruh siswa berteriak girang dan bertepuk tangan. Mereka sangat excited.

Pelatihan bernyanyi dimulai dari pembekalan materi dan cerita singkat perjalanan karir Taeyeon, juga motivasi kepada para siswa. Setelah itu, Taeyeon meminta siswa untuk mempraktekkan materi yang sebelumnya diberikan. Taeyeon meminta mereka untuk bernyanyi.

Cheng Xiao mendesah pelan. Dia tidak bisa bernyanyi. Dia amat paham dengan itu. Lalu bagaimana dia mempresentasikan suaranya nanti? Satu persatu siswa mulai dipanggil Taeyeon untuk bernyanyi. Sedangkan Cheng Xiao berkali-kali menggigit bibir bawahnya.

“Son Eunseo dan Seongso. Kalian maju kedepan.” Taeyeon memanggil mereka berdua.

Tentu saja Cheng Xiao terkejut. Terlebih dia dipanggil bersama dengan Eunseo.

“T- Tap.. T- Tapi…”

“Ga~ majulah kemari.” Taeyeon tersenyum.

Cheng Xiao menghela nafasnya dan menuruti Taeyeon. Dia maju kedepan dengan ragu.

“Son Juyeon-ssi.” panggil Taeyeon pada Eunseo yang masih diam di tempatnya. Gadis itu mendecakkan lidahnya namun tetap maju kedepan.

Cheng Xiao sedikit menaikkan alisnya. Dia yakin Eunseo memakai nama ‘Son Eunseo’ di name tag nya. Dan keyakinannya terbukti saat dia melihat name tag gadis itu yang menampilkan nama ‘Son Eunseo’ dan bukannya ‘Son Juyeon’. Tapi bagaimana bisa Taeyeon tahu namanya? Cheng Xiao menggeleng pelan akan pemikirannya.

“Jja~ mari kita lihat duet kalian. Silakan tentukan lagu yang kalian inginkan.”

“M- mwo? D- duet?” tanya Cheng Xiao tak percaya.

Taeyeon mengangguk dengan tersenyum.

“Aku ingin mendengar kalian bernyanyi sehingga aku bisa menuliskan catatan-catatan dan juga memperbaiki kesalahan vocal kalian.. jikaa, kalian membuat kesalahan. Anggap saja ini penilaian seperti yang Yeom Ssaem lakukan.” jelas Taeyeon panjang lebar.

“Unn- maksudku- Ms. Kim. Apa tak ada yang lain selain gadis ini untuk ku ajak berduet? Aku mau bernyanyi asal Dayoung yang menjadi partnerku.” ucap Eunseo dengan dingin. Gadis ini benar-benar sesuatu. Jika yang dihadapinya adalah guru di sekolahnya, pasti mereka akan dengan mudah menuruti permintaannya.

“Aniya. Aku ingin kau dan Seongso.” keukeuh Taeyeon.

Eunseo menatap Taeyeon tajam. Namun sepertinya hal itu tak berpengaruh pada Taeyeon. Eunseo memejamkan matanya dan mengembuskan nafas kasar.

“Fine! Cheoumbuteo neowa na in geot cheoreom, kau tahu lagu itu kan?” Eunseo menatap Cheng Xiao. Gadis itu mengangguk gugup.

Cheng Xiao bisa melihat senyum puas mengembang di kedua sudut bibir Taeyeon.

“Baiklah. Shijak~” Taeyeon memberi aba-aba.

Keduanya mulai bernyanyi. Taeyeon mengangguk dan mulai menuliskan beberapa catatan selagi Eunseo dan Cheng Xiao menyelesaikan nyanyiannya. Setelah lagu selesai, Taeyeon bertepuk tangan.

“Masih ada beberapa catatan dari pengamatanku. Seongso-ssi, aku tahu menyanyi bukan passionmu- tapi, kerja bagus! Kau sudah berusaha semaksimal mungkin dalam lagu ini. Aah~ satu catatan penting dariku, jika mengambil nada tinggi, usahakan telah mengambil cukup oksigen dan menggunakan suara dari perut, yang kudengar tadi dari bawah tenggorokanmu. Itu pasti sakit kutebak..” Cheng Xiao mengangguk mendengar masukan dari Taeyeon.

“Dan kau Eunseo. Vocal mu stabil dari waktu ke waktu. Aku tak tahu kau secepat ini belajar dari kesalahan. Tapi satu masukan dariku, cobalah menghayati lagu apapun yang kau bawakan. Itu akan menjadi poin plus tersendiri, dan bukannya memasang wajah datar seperti itu.”

Eunseo memutar bola matanya. Kemudian berbalik dan berjalan ke tempatnya semula. Walaupun terkesan tak sopan, namun Taeyeon tak marah atau kesal justru tersenyum. Dia menatap Cheng Xiao.

“Kau bisa kembali ke tempatmu, Seongso-ssi.”

Cheng Xiao mengangguk dan membungkukkan badannya. Kemudian berbalik dan berjalan ke tempatnya semula.

“Okay yedeura. Kalian bisa beristirahat sebelum kembali berlatih tiga puluh menit dari sekarang.”

“Neee.”

Dengan itu, mereka mulai berhamburan keluar dari ruang vocal. Menyisakan Cheng Xiao dan Mei Qi.

“Kau benar baik-baik saja? Apa efek bernyanyi tadi membuatmu pusing?” tanya Mei Qi khawatir. Hal itu membuat Cheng Xiao tertawa.

“Aku tak apa, Mei Qi. Hanya sedikit tak mood saja.”

“Arras-..” Ucapan Mei Qi terpotong saat mendengar suara langkah kaki.

Cheng Xiao dan Mei Qi menoleh dan mendapati geng Eunseo berjalan mendekati mereka. Tentu saja mereka gugup. Lagipula ada keperluan apa mereka kemari?

Eunseo menatap Cheng Xiao. “Ini peringatan terakhirku agar kau mau bergabung dengan kelompok kami.”

Eunseo melempar sesuatu kepada Cheng Xiao yang segera ditangkap oleh gadis brownie.

“Kutunggu kau nanti malam di tempat yang tertulis disana.”

Setelah mengatakan hal itu, Eunseo berbalik. Namun sebelum melangkah pergi, dia menolehkan kepalanya ke samping.

“Pastikan kau datang malam ini, Cheng Xiao Xiao.”

Cheng Xiao sedikit terkejut karena Eunseo memanggilnya Cheng Xiao dan bukannya Seongso. Dan keterkejutannya bertambah saat dia mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Eunseo. Meski sangat lirih, namun Cheng Xiao masih bisa mendengar gadis jangkung mengatakan,

“Kumohon…”

***

Setelah berpikir lamat-lamat, Cheng Xiao akhirnya memutuskan untuk datang ke tempat yang Eunseo tulis di surat tersebut. Dia mengenakan pakaian sepantasnya dan berdandan ala kadarnya. Hanya bertemu Eunseo, dia tak perlu berdandan ‘wah’. Lagipula dia sebenarnya malas pergi.

Cheng Xiao menghentikan taxi yang lewat dan masuk kedalamnya. Menyerahkan alamat pada sang sopir kemudian taxi mulai melaju memecah jalanan.

Cukup membutuhkan waktu lima belas menit untuknya sampai di alamat tersebut. Dia membayar taxi kemudian keluar darisana. Cheng Xiao membuka mulutnya saat melihat rumah yang begitu besar dihadapannya. Benarkah alamat yang diberikan Eunseo padanya benar adanya? Dia melihat lagi alamat tersebut dan melihat tanda disamping tembok besar. Itu memang benar alamatnya.

Ragu-ragu, Cheng Xiao mulai memasuki pekarangan rumah tersebut. Dia melihat pintu besar menjulang tinggi dihadapannya. Tangannya dengan gugup menekan bel. Tak lama kemudian dia mendengar suara pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya terlihat oleh pandangannya.

“Eo annyeonghaseyo. Benarkan ini rumah Son Eunseo?”

“Aah ne~ kau pasti teman nona muda. Silakan masuk gadis manis.”

Cheng Xiao mengangguk dan tersenyum kaku kemudian mulai masuk kedalam mengikuti wanita paruh baya tersebut.

“Nona muda teman anda sudah datang.” ucap wanita paruh baya yang diketahui sebagai salah satu butler di rumah tersebut.

Eunseo muncul tak lama kemudian. Cheng Xiao sedikit terpana dengan penampilan kasual Eunseo. Biasanya dia hanya melihat Eunseo dengan pakaian formal seragam mereka.

Cheng Xiao lalu lebih terkejut saat mendapati Taeyeon berada dibelakangnya bersama Tiffany.

“M- Miss Kim?” panggil Cheng Xiao gugup.

“Ah, annyeong Seongso-ssi.” Taeyeon tersenyum.

“Ikut aku.” ucap Eunseo yang segera berlalu darisana. Cheng Xiao mengikuti Eunseo dari belakang.

Mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup luas. Cheng Xiao melihat berbagai macam games dan permainan lain di ruangan tersebut. Ada juga sofa besar dan karpet didepannya. Pantry kecil dan beberapa set alat elektronik lainnya. Eunseo menyuruhnya duduk di sofa selagi dia mengambil minuman di lemari pendingin.

“Ini tempat biasa aku dan teman-temanku berkumpul.” ucap Eunseo seraya menyerahkan sebotol softdrink pada Cheng Xiao. Gadis China mengucapkan terimakasih sebelum membukanya.

“Kau pasti penasaran bagaimana bisa Ms. Kim berada di rumahku?”

Sebelum Cheng Xiao membalas, Eunseo sudah lebih dahulu menjawabnya.

“Dia calon kakak iparku. Oppa Taeyeon Unnie akan menikah dengan Unnieku.”

Cheng Xiao mengangguk. Dia tidak menyangka Eunseo memiliki kakak ipar Taeyeon Sunbaenim. Jujur dia sangat iri.

“Lalu bagaimana dengan Tiffany Unnie?” tanya Cheng Xiao polos.

Eunseo terkekeh pelan. “Kau tidak tahu? Tiffany Unnie kekasih Taeyeon Unnie.”

Mata Cheng Xiao membulat. “B- Benarkah?”

Eunseo tersenyum lalu mengangguk.

“Awalnya aku terkejut. Namun mengingat berapa lama mereka bersama itu hal yang sangat mungkin untuk menumbuhkan perasaan spesial satu sama lain.”

Cheng Xiao mengangguk mengiyakan. Mereka terlibat perbincangan ringan. Beberapa kali Eunseo juga melemparkan joke lucu yang membuat Cheng Xiao tertawa karenanya. Gadis China tak pernah sekalipun berpikir akan mengalami kejadian luar biasa ini. Seorang evil Eunseo yang suka mengganggunya berubah menjadi orang yang menyenangkan. Dia tidak tahu apakah Eunseo membenturkan kepalanya atau tidak. Atau mungkin gadis itu memiliki rencana dibaliknya. Dia tidak tahu.

“Aeeey, aku iri kau sebentar lagi akan menjadi adik ipar Taeyeon Unnie.” Cheng Xiao memajukan bibirnya.

“Kau juga bisa menjadi adik ipar Taeyeon Unnie kalau kau mau menjadi milikku.” balas Eunseo santai.

Cheng Xiao yang tengah minum langsung saja tersedak. Dia terbatuk beberapa kali lalu menatap Eunseo dengan tatapan, ‘kau bercanda kan?’

“Aah aku belum memberitahumu mengapa aku mengundangmu kemari, benar?”

Eunseo bangkit dari duduknya. Dia membuka kunci di salah satu rak dibawah televisi. Kemudian mengambil sesuatu disana. Eunseo membawanya dan mulai berjalan mendekati Cheng Xiao. Dia membuka kotak tersebut dan menyodorkannya pada Cheng Xiao. Gadis brownie membelalakan matanya dan menutup mulutnya. Dia bergantian menatap sesuatu di dalam kotak tersebut dan Eunseo.

“K- Kau..” lirih Eunseo tak percaya.

Tak lebih dari sepersekian detik, Eunseo merasakan tubuhnya terdorong ke belakang. Cheng Xiao memeluk tubuhnya begitu erat. Dia tersenyum dan balas memeluk Cheng Xiao.

“Aku mencarimu sekembalinya ke Korea. Bodoh! Mengapa kau tidak mengaku dari awal hiks~” Cheng Xiao menangis sembari memukul bahu Eunseo.

“Kau bodoh! Mengapa terus membuatku kesal sementara kau adalah seseorang yang paling kucari hiks~ bodoh! Mengapa aku tak langsung mengenalimu hiks~”

Eunseo tersenyum mendengar penuturan Cheng Xiao. Dia makin mengeratkan pelukan mereka.

“Mianhae. Kupikir kau tak mengenalku. Apalagi saat itu kita masih kecil dan bahkan kau tidak tahu namaku.”

“Bukankah aku pernah mengatakan padamu dulu kalau ingatanku ini sangat tajam, eoh? Aku akan menemuimu saat besar nanti dan… ekhem menjadi milikmu.” Cheng Xiao sedikit berbisik di kalimat terakhirnya dan menundukan kepalanya.

Eunseo yang melihatnya tersenyum miring. Dia bermaksud menggoda Cheng Xiao lebih lanjut.

“Kau akan apa?” tanya Eunseo.

“A- aku tak mengatakan apa-apa.”

“Benarkah. Tapi kudengar kau akan menemuiku dan- hmmmph…”

Cheng Xiao menyumpal mulut Eunseo dengan tangannya. Dia sangat malu saat ini. Eunseo berusaha melepas tangan Cheng Xiao di mulutnya dan mencoba meneruskan kalimatnya.

“Yaaaa!” teriak Cheng Xiao.

Eunseo melepas tangan Cheng Xiao sedikit kasar. Kemudian dengan cepat mengecup bibir gadis brownie. Hal itu membuat Cheng Xiao membulatkan matanya.

Jujur saja itu adalah first kiss nya.

“Terimakasih karena masih tetap menyukaiku.” ujar Eunseo tulus.

Dia menatap Cheng Xiao penuh cinta. Dia lalu mengulangi kejadian beberapa saat lalu. Kali ini Cheng Xiao memejamkan matanya dan ikut menikmati ciuman pertama mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

I’m sorry kalian pasti kecewa karna bukan taeny. But- kayak yg prnah gw omongin. Gw bakal post ff eunxiao kedepannya. Dan kalau kalian pengin taeny fic insyaallah besok ato besoknya lagi ato besoknya lagi. Hehehe. Santae aja gw pasti apdet ff taeny mingguannya kok. Tapi klo lg gak sibuk.

Okey gw harap kalian mengapresiasi fic eunxiao ini. Gw bakal hargai apapun komennya itu

Paipai~ see u next fic~

Advertisements

4 thoughts on “Hot & Cold

  1. Manis akhirnya,,tapi ya thor napa kok eunseo cri xiao2 dr kecil nya dah kenal tapi kok diem2an gimn critanya, trz itu dlm kotak isinya apaan hehe,,mlh jd penasaran critanya kok bisa kenal dimana, nah tuh club apa maksudnya,tp dah end ya. taeny cuma numpang lewat hehe,, πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s