Enterprischool (Chapter 9)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

“Apa kabar, Kim?”

Taeyeon menegang mendengar suara tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dengan sangat pelan. Menelan ludahnya saat penglihatannya menangkap seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hyejin..”

Hyejin tersenyum miring. “Jadi apa kau masih mengingat ucapanku waktu itu? Siapa yang kau curigai?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia membulatkan matanya saat gadis yang dia kejar berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti disamping Hyejin.

“H- Hyoyeon-ssi.” gumam Taeyeon.

Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon kemudian ke arah Taeyeon. “Benar. Dia Kim Hyoyeon. Seseorang yang kau curigai akhir-akhir ini. Apa aku benar?”

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk menjawab ‘ya’.

“TaeTae!” teriak Tiffany. Namun Taeyeon masih berdiri kaku ditempatnya.

Tiffany berlari mendekat ke arah Taeyeon dan memegang lengannya. “Ya! Mengapa kau berlari dan meninggalkan belanjaanku?!”

Taeyeon masih diam. Tiffany mengerutkan keningnya. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon dan terkejut saat melihat mantan kekasih Taeyeon dan seorang gadis blonde yang tidak diketahuinya. Mungkin kekasih Hyejin Unnie yang baru?

“Ah, biar kutebak. Dia pasti kekasih bocahmu, hm?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Dia ingin sekali berteriak kesal di depan wajah mantan kekasih Taeyeon itu. Enak saja mengatakan dia bocah. Kalau dia bocah, bagaimana dengan Hyejin? Nenek tua? Tiffany memutar bola matanya malas.

Tiffany tersenyum saat menemukan ide. Mengapa dia tidak meminta Jessica menyusul mereka kemari? Melihat Taeyeon yang hanya diam membisu seperti orang idiot tidak akan membantu. Setelah mengetik beberapa kalimat untuk dikirimkan ke Jessica, Tiffany menoleh ke arah Hyejin dan gadis unknown disampingnya.

“Hyejin Unnie. Apa kau keberatan untuk mentraktir kami ice cream? Aku ingin tahu bagaimana rasanya makan ice cream bersama mantan kekasih kekasihku.” Tiffany tersenyum mengejek.

Dia bisa melihat Hyejin mengeraskan rahangnya. Namun tak berselang lama. Hyejin tersenyum manis dan mengangguk. “Call!”

Mereka berempat pada akhirnya naik ke lantai atas, ke kedai ice cream favorit Taeyeon. Mereka memesan ice cream yang berbeda satu sama lain. Taeyeon masih tetap diam seperti orang dungu. Tiffany beberapa kali menyuapi kekasihnya itu karena hanya diam.

“Hyejin! Hyoyeon-ssi!”

Mereka berempat serentak menoleh ke arah suara dolphin yang memekakkan telinga.

“Sica!” Hyejin berdiri dan berlari menghampiri Jessica. Gadis itu memeluknya dengan erat.

“Oh my Gosh! Kenapa sulit sekali menghubungimu, huh?” Jessica berkata setelah melepas pelukan mereka.

“Mianhae. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sibuk merintis usaha baruku.” balas Hyejin dengan wajah menyesal.

“Wow! Kau jadi membuat brand mu sendiri?” tanya Jessica berbinar. Mereka seakan melupakan keberadaan tiga orang dibelakangnya.

“Yeah. Bersyukur Hyonie mau membantuku.”

Jessica menolehkan pandangannya ke arah Hyoyeon yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.

“God! Hyoyeon-ssi!” Jessica berlari kecil lalu memeluk Hyoyeon.

“Kau apa kabar? Sudah sangat lama terakhir kita bertemu.”

Jessica melepas pelukannya dan mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.

Hyoyeon tertawa. “Kau tahu orang seperti apa diriku ini.” Hyoyeon membanggakan dirinya sendiri.

“Chill! Kau harus mentraktirku dinner mewah kali ini. Awas saja kau.” Jessica terkekeh begitu juga Hyoyeon.

Taeyeon menatap interaksi mereka bertiga dengan wajah dungu. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Tiffany hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. Dia pikir kalau seperti ini Jessica tidak akan membelanya nanti.

“Unnie..” panggil Tiffany lirih. Sedari tadi Jessica melupakan keberadaannya.

“Oh hey, Tiff. Kau disini juga?”

Tiffany meringis. Bukankah dia sendiri yang meminta Jessica kemari?

Tiffany tersenyum palsu dan mengangguk kaku. Benar. Jessica pasti tak akan membelanya dan melindunginya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka bersama kedua sahabat konyol Taeyeon.

“Taenggu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Jessica yang menyadari wajah tak biasa sahabatnya.

Taeyeon menggeleng. “Gwaenchanha.”

Sore itu mereka isi dengan perbincangan yang menyenangkan. Sebenarnya bukan keseluruhan mereka, namun hanya Jessica, Hyejin, dan Hyoyeon saja. Sedangkan Taeyeon dan Tiffany hanya diam menyaksikan ketiganya berbincang. Jessica seakan melupakan masalah dan keresahan Taeyeon. Padahal saat ini kedua orang yang diduga menjadi informan berada tepat di depannya.

Taeyeon merasakan sakunya bergetar. Dia merogoh sakunya dan meraih ponsel berlogokan apel tergigit dan membukanya.

Sebuah pesan. Dari sahabatnya, Yuri.

Taeng, masalah besar! Tiffany dikeluarkan dari sekolah. Cepat ke kantor!

 

Mata Taeyeon melebar, bahkan terlihat hampir copot. Dia berdiri dengan cepat dan menarik tangan kekasihnya untuk keluar darisana. Tiffany yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunjukkan wajah bingungnya. Jessica berteriak memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Taeyeon.

“TaeTae sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany setelah mereka berada di mobil Taeyeon.

Gadis yang lebih tua tak menjawab apapun. Wajahnya berubah datar dan dingin. Tiffany sampai ketakutan melihat Taeyeon yang seperti ini. Bahkan gadis itu mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiffany hanya bisa menggenggam erat sabuk pengamannya.

Taeyeon menghentikan mobilnya di depan rumah Tiffany. Gadis yang lebih muda bersyukur mereka sampai dengan selamat.

“Masuklah kedalam.” ucap Taeyeon dingin tanpa menatap Tiffany.

Tiffany menundukkan kepalanya dan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Tiffany membuka pintu mobil dan keluar. Tak lama setelah itu mobil Taeyeon segera berbalik dan melaju dengan cepat. Tiffany menghela nafasnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi pada kekasihnya.

 

“What the f*ck! Apa maksudmu, Kwon Yuri?!” semprot Taeyeon setibanya ia di ruangannya.

Dia melihat Yuri dan Sooyoung yang menunjukkan wajah frustasi dan prihatin. Masalah mereka terus saja bertambah pelik.

Taeyeon menarik kerah kemeja Yuri. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kali ini!”

Yuri melepas tangan Taeyeon di kerah kemejanya dengan kasar.

“Bisakah tak memasukkan emosi saat ini, hah?” teriak Yuri. Dia kesal dengan Taeyeon yang tak bisa menahan emosinya. Dia pikir Taeyeon sudah berubah. Mereka tahu tabiat Taeyeon yang kasar dan pemarah semenjak sekolah dasar.

“Hey hey hey, kita berkumpul disini bukan untuk bertengkar. Chill!” Sooyoung menengahi.

Yuri mengembuskan nafasnya kasar. Dia melonggarkan dasi miliknya dan duduk di sofa tanpa melihat Taeyeon. Dia masih kesal.

“Kau saja yang menjelaskan, Soo.” ucap Yuri. Sooyoung mengangguk.

“Kumohon kau tenanglah terlebih dahulu, Taeng. Dan jangan memasukkan emosi setelah aku selesai menjelaskan.” pinta Sooyoung.

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

“Tiffany dikeluarkan karena masalah Daddy nya.. kau tahu.. tuduhan penggelapan dana itu dan.. k- karena dia g- gay. Sekolah tak mau Tiffany merusak nama baik mereka.” jelas Sooyoung.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengerang dan memukul meja didepannya hingga buku-buku jarinya memerah. Dia tidak peduli tangannya sakit dan lebam.

“F*ck!” umpatnya.

***

Hal tersebut tak butuh waktu lama sampai di telinga Tiffany. Gadis itu terduduk lemas dengan tatapan kosong. Daddy nya menatap puterinya dengan pandangan menyesal. Dia meminta maaf telah menyebabkan puterinya dikeluarkan dari sekolah. Pria paruh baya tersebut memeluk puterinya yang disusul isakkan dari gadis brunette. Tiffany menangis sesenggukan.

Keesokan harinya, Tiffany mengurung dirinya di kamar. Daddy nya terus membujuk puterinya untuk keluar dan sarapan bersama. Namun Tiffany tak menghiraukan dan memojokkan dirinya di pinggiran ranjang. Air matanya telah kering. Bahkan hingga sore hari Tiffany tak kunjung keluar. Hal itu membuat Daddy nya cemas. Dia teringat kunci cadangan yang ada di rak. Daddy Hwang membawa nampan berisi makanan dan membuka pintu kamar puterinya. Dia melihat Tiffany masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Jujur hal itu membuat hati Daddy Hwang sakit.

“Stephy, makanlah dulu, nak. Kau belum makan seharian.” pinta Daddy Hwang.

“Taruh saja di meja. Daddy boleh keluar.” ucap Tiffany dengan suara seraknya.

“Tapi, Steph-…”

“Daddy.. please..”

Daddy nya menghela nafasnya dan mengangguk. Beliau berdiri dan menaruh nampan berisi makanan di meja samping ranjang. Lalu mulai keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Setelah Daddy nya pergi, Tiffany menangis. Lagi.

Hal itu berlangsung selama tiga hari. Tiffany sama sekali tak keluar dari kamarnya. Daddy Hwang bertambah khawatir. Sebenarnya dia juga memiliki kegiatan untuk mencari pekerjaan lagi, tapi mengingat puterinya yang seperti itu mengurungkan niatnya.

Daddy Hwang mendengar bunyi bel. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria muda tersenyum kearahnya seusai dia membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Choi Jun imnida, teman Tiffany.” Jun membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa Tiffany dirumah, paman?” tanya Jun.

Daddy Hwang memandang Jun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian menghela nafasnya.

Daddy Hwang mengangguk. “Namun sudah tiga hari ini Stephy tidak keluar dari kamarnya. Dia pasti sangat shock dan sedih.” Daddy Hwang berkata dengan nada sedih.

Jun membulatkan matanya. Dia tidak mengira sahabatnya akan seperti ini. “P- Paman, bolehkah aku bertemu dengannya? Aku akan mencoba berbicara dengan Tiffany.” pinta Jun.

“Baiklah. Kuharap kau bisa membujuknya keluar.” Daddy Hwang menepuk bahu Jun dan mempersilakan Jun masuk kedalam.

Daddy Hwang membuka pintu kamar puterinya dan mempersilakan Jun masuk. Beliau kemudian pergi, membiarkan Jun membujuk puterinya.

“Tiff..” panggil Jun.

Tiffany mendongakkan wajahnya dan melihat Jun. Dia diam sebelum suara isakkan keluar dari mulutnya. Jun terkejut dan segeta berlari memeluk sahabatnya.

“Sssst. Gwaenchanha. Everything’s gonna be alright.” Jun mengelus punggung Tiffany. Sedangkan gadis brunette menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jun dan terus menangis terisak.

Sementara diluar kediaman Tiffany, seorang gadis mungil tengah menatap kosong kedepan di dalam mobil mercedes nya. Dia menghela nafas saat ucapan sahabatnya terngiang di kepalanya. Dan saat gadis itu menangkap sebuah motor sport berwarna hitam yang familiar, dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berbalik. Dengan perkataan sahabatnya yang melingkari kepalanya menemani perjalanan gadis mungil.

Taeyeon berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia amat tahu Tiffany pasti sangat sangat membutuhkannya saat ini. Namun dia tak ingin menunjukkan wajah sedihnya jika harus berhadapan dengan kekasihnya. Dia harusnya bisa menyemangati gadis brunette, tapi sepertinya hal itu tak bisa ia lakukan. Terlalu sakit membayangkan keadaan Tiffany untuk saat ini. 

Jessica masuk kedalam ruangannya dengan membawa berkas. Taeyeon menerimanya dan mulai membukanya. Taeyeon pikir Jessica akan keluar setelah menyerahkan berkas. Dia mendongak dan melihat Jessica menatapnya dengan serius. 

“Wae?” tanya Taeyeon. 

“Tinggalkan Tiffany.” ucap Jessica langsung tanpa basa-basi. Jelas saja hal itu membuat Taeyeon marah. 

“Why the hell, Jess!” Taeyeon menatap Jessica dengan berapi-api. 

Jessica menghela nafasnya. “Kau..” Jessica menunjuk Taeyeon dengan telunjuknya. “Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu membuat kehidupan Tiffany berangsur memburuk?” 

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya. 

“Apa maksudmu?” 

“Sebelum kau bersamanya, kehidupan Tiffany begitu mulus tanpa masalah apapun. Dan pada saat dia menjalin hubungan denganmu, satu persatu masalah muncul. Apa kau tidak pernah berpikir kearah sana?” Jessica menatap Taeyeon dengan dingin. 

Taeyeon diam. Jessica benar. 

“Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Taeyeon lemah. 

“Tinggalkan Tiffany. Aku tahu itu pasti sakit untukmu dan juga Tiffany. Tapi aku lebih sakit melihat Tiffany yang sudah kuanggap adikku sendiri menderita. Taeyeon.. bisakah?” Jessica menatap Taeyeon dengan tatapan memelas. 

Jujur dia sakit melihat sahabatnya semenjak bayi merasa sedih, tapi dia juga tak ingin mengorbankan adik kesayangannya juga jika mereka terus memaksa bersama.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. “Akan kucoba.”

Jessica memutari meja kerja Taeyeon dan memeluk sahabatnya. “Ini yang terbaik, Taenggu.”

***

Sebulan telah berlalu. Keadaan Tiffany semakin membaik dari hari ke hari. Dia sudah mulai membuka dirinya lagi dan bersikap ceria, seperti biasanya. Dan selama itulah Tiffany tak bertemu Taeyeon. Jujur hal itu membuatnya kecewa. Harusnya kekasihnya yang datang dan menyemangatinya. Namun dia tak merasa marah berlebih pada gadis mungil itu. Dia mencoba berpikir bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi terakhir kali dia melihatnya, Taeyeon terlihat sangat stress.

“Jun-ah, antarkan aku ke kantor ahjumma. Pleaasee.” pinta Tiffany pada Jun yang tengah bermain ke rumahnya dan menemaninya karena Daddy Hwang pada akhirnya mendapat pekerjaan lagi semenjak dua minggu yang lalu.

“Arra arra. Tapi..” Jun menunjuk pipi kanannya dengan senyum jahil.

Tiffany tertawa pelan. Dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Jun bermaksud mengecupnya. Namun detik kemudian Jun menolehkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Tiffany melebarkan matanya.

Jun melepas kecupannya dan tersenyum.

“Kajja!” ajaknya dan mulai berjalan menjauhi Tiffany.

Sementara gadis brunette masih diam ditempatnya dan merasakan pipinya yang terasa panas.

Tiffany tak berbicara selama perjalanan. Dia masih merasa malu dengan kejadian tadi. Dia tahu dia harusnya kesal pada Jun yang mencuri kecupannya. Namun dia tak bisa melakukan itu karena dia sendiri merasa jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkan kejadian tadi.

Sesampainya mereka di kantornya, Tiffany bertanya kepada resepsionis yang sama saat pertama kali dia datang di kantor Taeyeon.

“Unnie. Apa Taeyeon Unnie di ruangannya?” tanya Tiffany dengan semangat.

Wanita di depannya menunjukkan wajah sedihnya. “Maafkan aku, nona. Tapi sajangnim sudah hampir sebulan ini berada di China. Sepertinya sajangnim akan bekerja di anak perusahaan disana.”

Jawaban sang resepsionis tentu saja membuat jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi. Dia mengucapkan terimakasih kemudian mulai berbalik. Dia membuka ponselnya dan mulai menghubungi Taeyeon. Namun yang didengarnya hanya suara operator. Dia mencoba lagi dan suara operator yang menyapa pendengarannya.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Sudah lebih dari tiga puluh kali Tiffany mencoba menghubungi Taeyeon dan hasilnya tetap sama. Dia hampir menangis karena kekasihnya tak kunjung menjawab panggilannya. Dia mencoba sekali lagi dan suara operator kali ini meruntuhkan segalanya. Nomor kekasihnya sudah tidak terdaftar lagi. Itu berarti Taeyeon telah mengganti nomornya, tak lama tadi.

Perlahan airmata kembali menetes di pipi Tiffany. Jun yang melihatnya panik dan segera memeluk Tiffany.

“Dia meninggalkanku hiks~”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah ter-updatekan!

Eotte? Badai lagi kan muahahahaha *evillaugh

Okayy gw tunggu komen kece2 kalian *cyailah wkwkwk

Bubye~ see u next chap~

Advertisements

Hot & Cold

Biru berganti jingga. Pada saat itulah seorang gadis keluar dari tempat persembunyiannya. Dia pikir ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri dari rivalnya. Sudah seharian suntuk, pasti musuhnya akan lelah mencarinya dan memutuskan untuk berhenti. Namun belum sampai sepuluh detik, gadis berambut brownie menegang mendengar suara dibelakangnya.

“Berhenti disana, bodoh!”

Gadis berambut brownie mengepalkan buku-buku jarinya dan memejamkan matanya erat. Dia mengeraskan rahangnya.

“Kau kira aku akan menyerah mencarimu, huh? You loser.” ejek musuh gadis tersebut.

Gadis brownie membalikkan direksi tubuhnya dan menatap tajam musuhnya.

“Apa maumu?”

Sang musuh menaikkan alisnya kemudian tertawa pelan.

“Apa yang kuharapkan dari gadis sepertimu? Cih, bahkan tidak ada.” balas sang musuh angkuh.

“Bahkan dengan bergabung dengan clubmu?” tantang gadis brownie dengan senyum miring.

Sang musuh menelan ludahnya. Dia memasang wajah dinginnya lagi dan mengangguk. “Eo- eoh.”

“Kau yakin? Aku bisa saja bergabung dengan clubmu itu, Son Juyeon-ssi.” Cheng Xiao, gadis brownie memainkan kukunya dengan santai. Sepertinya keadaan telah berbalik. Juyeon, atau kerap dipanggil Eunseo tertaklukan olehnya.

“Bukankah tujuanmu mengejarku sejauh ini hanya untuk memintaku bergabung, hm?”

Eunseo mengepalkan buku-buku jarinya. Dia mengeraskan rahangnya. Benar. Keadaan telah berbalik. Gadis jangkung tersebut mengangkat kepalanya. Dia harus menjunjung tinggi harga dirinya. Gadis di depannya jangan sampai mempermalukannya. Eunseo baru akan membuka mulutnya ketika sebuah suara kekanakkan menginterupsinya.

“Unnie waktu kita hampir habis!”

Eunseo menoleh dan melihat Yeoreum dibelakangnya. Dia melihat jam tangannya dan mengerutkan keningnya. Kemudian mendesah pelan.

“Urusan kita belum selesai, Seongso-ssi.”

Setelah mengatakan hal tersebut, Eunseo membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Cheng Xiao, menyusul Yeoreum hingga punggung mereka tak terlihat lagi.

Cheng Xiao mengelus dadanya dan menghembuskan nafasnya lega. Jujur saja gadis itu gugup bukan main. Siapa yang tidak gugup berhadapan dengan Raja sekolahnya? Eunseo adalah siswa yang paling ditakuti dan disegani oleh seluruh siswa, bahkan guru-gurunya sekalipun.

Cheng Xiao menghembuskan nafasnya lagi. “Tuhan, selamatkan aku besok.”

***

Pada awalnya Cheng Xiao berencana untuk membolos sekolah. Namun Mei Qi, teman sekelas sekaligus sahabatnya mengatakan bahwa hari ini akan ada pelatihan menyanyi dan semua siswa wajib mengikutinya kalau tak ingin terkena sanksi. Cheng Xiao memang bersekolah di sekolah seni yang akan melahirkan idol-idol papan atas.

Cheng Xiao mengerang sebelum bangkit dari duduknya dan turun dari bus, mengikuti anak-anak yang berseragam sama sepertinya. Dia menatap gerbang sekolahnya dengan ragu.

“Cheng Xiao!” Cheng Xiao menolehkan wajahnya dan melihat sahabatnya, Mei Qi.

Mei Qi mendekat ke arah Cheng Xiao lalu mengerutkan keningnya. “Ada apa dengan wajahmu itu?” tanyanya menggunakan bahasa kelahiran mereka.

Cheng Xiao menggeleng. “Tidak ada. Ayo kita masuk!” jawab Cheng Xiao dengan bahasa yang sama. Kemudian menarik tangan Mei Qi.

Saat berjalan di lorong, Cheng Xiao melihat Eunseo bersama teman-temannya tengah bercerita dan bercanda satu sama lain. Mata mereka tiba-tiba beradu pandang. Eunseo menampakkan wajah dingin dan angkuhnya lagi. Cheng Xiao melemparkan pandangannya ke arah lain dan menarik Mei Qi untuk berjalan lebih cepat menjauhi Eunseo.

 

Jam pelajaran pertama telah usai. Kini tiba saatnya untuk pelatihan bernyanyi untuk kelompok A dengan kelompok B. Dan itu artinya, kelasnya dengan kelas Eunseo akan berlatih bersama, di tempat yang sama, dan dalam waktu yang sama pula. Cheng Xiao menelan ludahnya gugup.

Dia masih duduk diam di tempatnya sementara teman kelasnya yang lain sudah berangsur meninggalkan kelas.

“Xiao Xiao. Ayo! Mengapa kau masih diam?” Mei Qi menegur sahabatnya, tentu masih menggunakan bahasa kelahirannya. Gadis itu lebih suka berbicara kepada Cheng Xiao dengan bahasa China dibanding Korea.

Cheng Xiao masih diam di tempat.

“Hey, kau baik-baik saja?” tanya Mei Qi. Kali ini memasukkan nada khawatir di ucapannya.

Cheng Xiao reflek menoleh dan melihat Mei Qi lalu mengangguk.

“Ya. K-kau tahu.. aku benci menyanyi.” Itu memang kenyataan. Cheng Xiao tidak suka menyanyi. Dia tahu suaranya tak bisa diandalkan untuk kasus ini. Keahliannya hanya menari.

“Aku tahu. Tapi, mari mencobanya terlebih dahulu, hm?”

“Kau benar. Kajja!”

Cheng Xiao tersenyum dan bangkit dari duduknya. Dia menarik tangan Mei Qi. Mereka berdua lalu mulai berjalan meninggalkan kelas untuk menuju ruang vocal.

Saat tiba di ruang vocal, mereka melihat ruang tersebut sudah dipenuhi oleh siswa, termasuk Eunseo beserta gengnya. Walaupun Cheng Xiao tidak melihat Eunseo, namun gadis China merasakan bahwa musuhnya tengah memperhatikannya. Dia sangat yakin karena dia merasakan dingin menusuk punggungnya. Dan hanya tatapan Eunseo yang membuatnya seperti itu.

Tak lama berselang seorang wanita mungil mulai memasuki ruang vocal. Cheng Xiao kira itu Yeom Songsaengnim, guru yang biasa mengajar vocal. Namun perkiraan Cheng Xiao harus ditelan pahit karena yang ada di penglihatannya sekarang adalah seorang Queen of Ballad, Queen of Soloist, dan Goddess Kim Taeyeon!

Sontak seluruh siswa yang ada disana berseru dan takjub melihat Diva Korea Selatan ada dihadapan mereka.

Yeppeuda

Taeyeon Unnie

Taeyeon Sunbaenim

Dia bukan manusia. Dia bidadari!

Benarkah itu Kim Taeyeon?

Taeyeon Noona

Kurasa aku ingin pingsan

Omo! Kim Taeyeon!

Dan masih banyak lagi bisikan-bisikan kagum yang Cheng Xiao dengar. Dia juga masih berdiri takjub di tempatnya.

“Annyeonghaseyo.” sapa Taeyeon dengan membungkukkan badannya. “Kim Taeyeon imnida.” lanjutnya.

“Ne! Kami sudah tahu!” jawab seluruh siswa dengan kompak. Mereka sangat senang bertemu langsung dengan salah satu member grup nomor satu di Korea.

Cheng Xiao tak sengaja melihat Eunseo yang memasang wajah datar seakan tak senang atau bersemangat bertemu seorang diva populer. Bahkan dia saja akan berjingkrak girang dan meminta Taeyeon berfoto bersamanya kalau tak memiliki urat malu.

“Ne. Kalian pasti penasaran mengapa aku berada disini, benar?” tanya Taeyeon yanh segera dibalas ‘ya’ oleh siswa.

“Geurae. Tujuanku kemari untuk mengajari kalian vocal. Ini pertama kalinya bagiku untuk mengajar vocal, jadi mohon bantuannya.”

Seluruh siswa berteriak girang dan bertepuk tangan. Mereka sangat excited.

Pelatihan bernyanyi dimulai dari pembekalan materi dan cerita singkat perjalanan karir Taeyeon, juga motivasi kepada para siswa. Setelah itu, Taeyeon meminta siswa untuk mempraktekkan materi yang sebelumnya diberikan. Taeyeon meminta mereka untuk bernyanyi.

Cheng Xiao mendesah pelan. Dia tidak bisa bernyanyi. Dia amat paham dengan itu. Lalu bagaimana dia mempresentasikan suaranya nanti? Satu persatu siswa mulai dipanggil Taeyeon untuk bernyanyi. Sedangkan Cheng Xiao berkali-kali menggigit bibir bawahnya.

“Son Eunseo dan Seongso. Kalian maju kedepan.” Taeyeon memanggil mereka berdua.

Tentu saja Cheng Xiao terkejut. Terlebih dia dipanggil bersama dengan Eunseo.

“T- Tap.. T- Tapi…”

“Ga~ majulah kemari.” Taeyeon tersenyum.

Cheng Xiao menghela nafasnya dan menuruti Taeyeon. Dia maju kedepan dengan ragu.

“Son Juyeon-ssi.” panggil Taeyeon pada Eunseo yang masih diam di tempatnya. Gadis itu mendecakkan lidahnya namun tetap maju kedepan.

Cheng Xiao sedikit menaikkan alisnya. Dia yakin Eunseo memakai nama ‘Son Eunseo’ di name tag nya. Dan keyakinannya terbukti saat dia melihat name tag gadis itu yang menampilkan nama ‘Son Eunseo’ dan bukannya ‘Son Juyeon’. Tapi bagaimana bisa Taeyeon tahu namanya? Cheng Xiao menggeleng pelan akan pemikirannya.

“Jja~ mari kita lihat duet kalian. Silakan tentukan lagu yang kalian inginkan.”

“M- mwo? D- duet?” tanya Cheng Xiao tak percaya.

Taeyeon mengangguk dengan tersenyum.

“Aku ingin mendengar kalian bernyanyi sehingga aku bisa menuliskan catatan-catatan dan juga memperbaiki kesalahan vocal kalian.. jikaa, kalian membuat kesalahan. Anggap saja ini penilaian seperti yang Yeom Ssaem lakukan.” jelas Taeyeon panjang lebar.

“Unn- maksudku- Ms. Kim. Apa tak ada yang lain selain gadis ini untuk ku ajak berduet? Aku mau bernyanyi asal Dayoung yang menjadi partnerku.” ucap Eunseo dengan dingin. Gadis ini benar-benar sesuatu. Jika yang dihadapinya adalah guru di sekolahnya, pasti mereka akan dengan mudah menuruti permintaannya.

“Aniya. Aku ingin kau dan Seongso.” keukeuh Taeyeon.

Eunseo menatap Taeyeon tajam. Namun sepertinya hal itu tak berpengaruh pada Taeyeon. Eunseo memejamkan matanya dan mengembuskan nafas kasar.

“Fine! Cheoumbuteo neowa na in geot cheoreom, kau tahu lagu itu kan?” Eunseo menatap Cheng Xiao. Gadis itu mengangguk gugup.

Cheng Xiao bisa melihat senyum puas mengembang di kedua sudut bibir Taeyeon.

“Baiklah. Shijak~” Taeyeon memberi aba-aba.

Keduanya mulai bernyanyi. Taeyeon mengangguk dan mulai menuliskan beberapa catatan selagi Eunseo dan Cheng Xiao menyelesaikan nyanyiannya. Setelah lagu selesai, Taeyeon bertepuk tangan.

“Masih ada beberapa catatan dari pengamatanku. Seongso-ssi, aku tahu menyanyi bukan passionmu- tapi, kerja bagus! Kau sudah berusaha semaksimal mungkin dalam lagu ini. Aah~ satu catatan penting dariku, jika mengambil nada tinggi, usahakan telah mengambil cukup oksigen dan menggunakan suara dari perut, yang kudengar tadi dari bawah tenggorokanmu. Itu pasti sakit kutebak..” Cheng Xiao mengangguk mendengar masukan dari Taeyeon.

“Dan kau Eunseo. Vocal mu stabil dari waktu ke waktu. Aku tak tahu kau secepat ini belajar dari kesalahan. Tapi satu masukan dariku, cobalah menghayati lagu apapun yang kau bawakan. Itu akan menjadi poin plus tersendiri, dan bukannya memasang wajah datar seperti itu.”

Eunseo memutar bola matanya. Kemudian berbalik dan berjalan ke tempatnya semula. Walaupun terkesan tak sopan, namun Taeyeon tak marah atau kesal justru tersenyum. Dia menatap Cheng Xiao.

“Kau bisa kembali ke tempatmu, Seongso-ssi.”

Cheng Xiao mengangguk dan membungkukkan badannya. Kemudian berbalik dan berjalan ke tempatnya semula.

“Okay yedeura. Kalian bisa beristirahat sebelum kembali berlatih tiga puluh menit dari sekarang.”

“Neee.”

Dengan itu, mereka mulai berhamburan keluar dari ruang vocal. Menyisakan Cheng Xiao dan Mei Qi.

“Kau benar baik-baik saja? Apa efek bernyanyi tadi membuatmu pusing?” tanya Mei Qi khawatir. Hal itu membuat Cheng Xiao tertawa.

“Aku tak apa, Mei Qi. Hanya sedikit tak mood saja.”

“Arras-..” Ucapan Mei Qi terpotong saat mendengar suara langkah kaki.

Cheng Xiao dan Mei Qi menoleh dan mendapati geng Eunseo berjalan mendekati mereka. Tentu saja mereka gugup. Lagipula ada keperluan apa mereka kemari?

Eunseo menatap Cheng Xiao. “Ini peringatan terakhirku agar kau mau bergabung dengan kelompok kami.”

Eunseo melempar sesuatu kepada Cheng Xiao yang segera ditangkap oleh gadis brownie.

“Kutunggu kau nanti malam di tempat yang tertulis disana.”

Setelah mengatakan hal itu, Eunseo berbalik. Namun sebelum melangkah pergi, dia menolehkan kepalanya ke samping.

“Pastikan kau datang malam ini, Cheng Xiao Xiao.”

Cheng Xiao sedikit terkejut karena Eunseo memanggilnya Cheng Xiao dan bukannya Seongso. Dan keterkejutannya bertambah saat dia mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Eunseo. Meski sangat lirih, namun Cheng Xiao masih bisa mendengar gadis jangkung mengatakan,

“Kumohon…”

***

Setelah berpikir lamat-lamat, Cheng Xiao akhirnya memutuskan untuk datang ke tempat yang Eunseo tulis di surat tersebut. Dia mengenakan pakaian sepantasnya dan berdandan ala kadarnya. Hanya bertemu Eunseo, dia tak perlu berdandan ‘wah’. Lagipula dia sebenarnya malas pergi.

Cheng Xiao menghentikan taxi yang lewat dan masuk kedalamnya. Menyerahkan alamat pada sang sopir kemudian taxi mulai melaju memecah jalanan.

Cukup membutuhkan waktu lima belas menit untuknya sampai di alamat tersebut. Dia membayar taxi kemudian keluar darisana. Cheng Xiao membuka mulutnya saat melihat rumah yang begitu besar dihadapannya. Benarkah alamat yang diberikan Eunseo padanya benar adanya? Dia melihat lagi alamat tersebut dan melihat tanda disamping tembok besar. Itu memang benar alamatnya.

Ragu-ragu, Cheng Xiao mulai memasuki pekarangan rumah tersebut. Dia melihat pintu besar menjulang tinggi dihadapannya. Tangannya dengan gugup menekan bel. Tak lama kemudian dia mendengar suara pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya terlihat oleh pandangannya.

“Eo annyeonghaseyo. Benarkan ini rumah Son Eunseo?”

“Aah ne~ kau pasti teman nona muda. Silakan masuk gadis manis.”

Cheng Xiao mengangguk dan tersenyum kaku kemudian mulai masuk kedalam mengikuti wanita paruh baya tersebut.

“Nona muda teman anda sudah datang.” ucap wanita paruh baya yang diketahui sebagai salah satu butler di rumah tersebut.

Eunseo muncul tak lama kemudian. Cheng Xiao sedikit terpana dengan penampilan kasual Eunseo. Biasanya dia hanya melihat Eunseo dengan pakaian formal seragam mereka.

Cheng Xiao lalu lebih terkejut saat mendapati Taeyeon berada dibelakangnya bersama Tiffany.

“M- Miss Kim?” panggil Cheng Xiao gugup.

“Ah, annyeong Seongso-ssi.” Taeyeon tersenyum.

“Ikut aku.” ucap Eunseo yang segera berlalu darisana. Cheng Xiao mengikuti Eunseo dari belakang.

Mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup luas. Cheng Xiao melihat berbagai macam games dan permainan lain di ruangan tersebut. Ada juga sofa besar dan karpet didepannya. Pantry kecil dan beberapa set alat elektronik lainnya. Eunseo menyuruhnya duduk di sofa selagi dia mengambil minuman di lemari pendingin.

“Ini tempat biasa aku dan teman-temanku berkumpul.” ucap Eunseo seraya menyerahkan sebotol softdrink pada Cheng Xiao. Gadis China mengucapkan terimakasih sebelum membukanya.

“Kau pasti penasaran bagaimana bisa Ms. Kim berada di rumahku?”

Sebelum Cheng Xiao membalas, Eunseo sudah lebih dahulu menjawabnya.

“Dia calon kakak iparku. Oppa Taeyeon Unnie akan menikah dengan Unnieku.”

Cheng Xiao mengangguk. Dia tidak menyangka Eunseo memiliki kakak ipar Taeyeon Sunbaenim. Jujur dia sangat iri.

“Lalu bagaimana dengan Tiffany Unnie?” tanya Cheng Xiao polos.

Eunseo terkekeh pelan. “Kau tidak tahu? Tiffany Unnie kekasih Taeyeon Unnie.”

Mata Cheng Xiao membulat. “B- Benarkah?”

Eunseo tersenyum lalu mengangguk.

“Awalnya aku terkejut. Namun mengingat berapa lama mereka bersama itu hal yang sangat mungkin untuk menumbuhkan perasaan spesial satu sama lain.”

Cheng Xiao mengangguk mengiyakan. Mereka terlibat perbincangan ringan. Beberapa kali Eunseo juga melemparkan joke lucu yang membuat Cheng Xiao tertawa karenanya. Gadis China tak pernah sekalipun berpikir akan mengalami kejadian luar biasa ini. Seorang evil Eunseo yang suka mengganggunya berubah menjadi orang yang menyenangkan. Dia tidak tahu apakah Eunseo membenturkan kepalanya atau tidak. Atau mungkin gadis itu memiliki rencana dibaliknya. Dia tidak tahu.

“Aeeey, aku iri kau sebentar lagi akan menjadi adik ipar Taeyeon Unnie.” Cheng Xiao memajukan bibirnya.

“Kau juga bisa menjadi adik ipar Taeyeon Unnie kalau kau mau menjadi milikku.” balas Eunseo santai.

Cheng Xiao yang tengah minum langsung saja tersedak. Dia terbatuk beberapa kali lalu menatap Eunseo dengan tatapan, ‘kau bercanda kan?’

“Aah aku belum memberitahumu mengapa aku mengundangmu kemari, benar?”

Eunseo bangkit dari duduknya. Dia membuka kunci di salah satu rak dibawah televisi. Kemudian mengambil sesuatu disana. Eunseo membawanya dan mulai berjalan mendekati Cheng Xiao. Dia membuka kotak tersebut dan menyodorkannya pada Cheng Xiao. Gadis brownie membelalakan matanya dan menutup mulutnya. Dia bergantian menatap sesuatu di dalam kotak tersebut dan Eunseo.

“K- Kau..” lirih Eunseo tak percaya.

Tak lebih dari sepersekian detik, Eunseo merasakan tubuhnya terdorong ke belakang. Cheng Xiao memeluk tubuhnya begitu erat. Dia tersenyum dan balas memeluk Cheng Xiao.

“Aku mencarimu sekembalinya ke Korea. Bodoh! Mengapa kau tidak mengaku dari awal hiks~” Cheng Xiao menangis sembari memukul bahu Eunseo.

“Kau bodoh! Mengapa terus membuatku kesal sementara kau adalah seseorang yang paling kucari hiks~ bodoh! Mengapa aku tak langsung mengenalimu hiks~”

Eunseo tersenyum mendengar penuturan Cheng Xiao. Dia makin mengeratkan pelukan mereka.

“Mianhae. Kupikir kau tak mengenalku. Apalagi saat itu kita masih kecil dan bahkan kau tidak tahu namaku.”

“Bukankah aku pernah mengatakan padamu dulu kalau ingatanku ini sangat tajam, eoh? Aku akan menemuimu saat besar nanti dan… ekhem menjadi milikmu.” Cheng Xiao sedikit berbisik di kalimat terakhirnya dan menundukan kepalanya.

Eunseo yang melihatnya tersenyum miring. Dia bermaksud menggoda Cheng Xiao lebih lanjut.

“Kau akan apa?” tanya Eunseo.

“A- aku tak mengatakan apa-apa.”

“Benarkah. Tapi kudengar kau akan menemuiku dan- hmmmph…”

Cheng Xiao menyumpal mulut Eunseo dengan tangannya. Dia sangat malu saat ini. Eunseo berusaha melepas tangan Cheng Xiao di mulutnya dan mencoba meneruskan kalimatnya.

“Yaaaa!” teriak Cheng Xiao.

Eunseo melepas tangan Cheng Xiao sedikit kasar. Kemudian dengan cepat mengecup bibir gadis brownie. Hal itu membuat Cheng Xiao membulatkan matanya.

Jujur saja itu adalah first kiss nya.

“Terimakasih karena masih tetap menyukaiku.” ujar Eunseo tulus.

Dia menatap Cheng Xiao penuh cinta. Dia lalu mengulangi kejadian beberapa saat lalu. Kali ini Cheng Xiao memejamkan matanya dan ikut menikmati ciuman pertama mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

I’m sorry kalian pasti kecewa karna bukan taeny. But- kayak yg prnah gw omongin. Gw bakal post ff eunxiao kedepannya. Dan kalau kalian pengin taeny fic insyaallah besok ato besoknya lagi ato besoknya lagi. Hehehe. Santae aja gw pasti apdet ff taeny mingguannya kok. Tapi klo lg gak sibuk.

Okey gw harap kalian mengapresiasi fic eunxiao ini. Gw bakal hargai apapun komennya itu

Paipai~ see u next fic~

Enterprischool (Chapter 8)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Taeyeon mengerang seusai membuka matanya. Dia menekan belakang kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya ia jatuhkan ke sekitar tempatnya berada, masih di ruang rahasia. Dia melihat sahabat-sahabatnya tengah tertidur dibawahnya. Taeyeon bangun dari tidurnya.

“Eoh, kau sudah bangun, Taeng?” Taeyeon mendengar sebuah suara dan menoleh ke belakang. Ternyata Jessica.

Taeyeon mengangguk.

Jessica berbalik dan mengambil segelas air untuk Taeyeon. Selanjutnya bergabung bersama Taeyeon dan menyerahkan air tersebut. Taeyeon menerimanya dan langsung meminum dengan sekali teguk.

“Gomawo.” ucap Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi.. bisakah kau tak usah mabuk? Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Tiffany. Kau lupa pernah berjanji padanya, Taeng?”

Taeyeon menghela nafas. Jessica benar. Dia sudah berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mabuk lagi.

“Mianhae.” lirih Taeyeon.

Jessica menghela nafas. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Menepuk punggungnya bermaksud menenangkan. Jessica adalah sahabat terbaiknya. Taeyeon beruntung memiliki Jessica.

“Tak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Kau istirahatlah lagi, hm”

Taeyeon menggeleng. “Dimana Tiffany?”

“Dia pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barangnya.”

“Tiffany akan menginap disini?”

“Untuk beberapa hari kedepan.. ya. Dia ingin terus berada disisimu katanya.”

Taeyeon melepas pelukkan mereka. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jessica. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Taeyeon menarik tangan Jessica untuk mengelus kepalanya. Dia sangat suka jika Jessica mengelus kepalanya seperti saat ini.

“Sica-ah..”

“Hm?”

“Kau ingin tahu siapa seseorang yang ku curigai?”

Jessica menatap Taeyeon yang ada dibawahnya. “Tentu saja. Mereka pasti juga ingin mengetahuinya.” Jessica menunjuk kedua sahabatnya dengan dagu.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. Dia menerawang jauh kedepan.

“Dia Kim Hyoyeon. Semua berawal saat kami masih sekolah menengah pertama.”

Taeyeon mulai menceritakan semuanya kepada Jessica. Bahkan hingga sangat detail. Jessica mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali gadis blasteran itu mengerutkan kening lalu mengangguk di sela cerita Taeyeon.

“Jadi seperti itu. Sampai sekarang aku tak juga berhasil menemukannya.”

Taeyeon melihat Jessica yang sibuk dengan ponselnya. Dia berteriak karena mengira Jessica tidak mendengarkannya.

“Maksudmu Kim Hyoyeon ini?” tanya Jessica seraya menunjukkan ponselnya dimana terdapat sebuah foto.

Mata Taeyeon membesar. Walaupun sudah dua belas tahun lamanya, wajah Hyoyeon masih terlihat sama. Mungkin beberapa terlihat berbeda. Namun Taeyeon yakin foto tersebut adalah Hyoyeon.

“B- Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taeyeon tak percaya.

“Aku baru ingat Hyejin memiliki seorang teman baik sewaktu sekolah dasar. Dan mendengar nama Kim Hyoyeon mengingatkanku pada temannya Hyejin ini.”

Jessica dan Hyejin memang dekat, sama seperti kedua sahabatnya. Hal itu karena Taeyeon pernah menjalin hubungan dengan Hyejin untuk waktu yang cukup lama.

“T- Tapi Hyejin tak pernah memberitahuku tentang Hyoyeon.”

“Kami tak sengaja bertemu waktu itu. Hyoyeon-ssi sedang ada acara di Seoul. Dan wow, kau tahu Taeng.. dia adalah pemilik Univere Company!”

Taeyeon menelan ludahnya. Univere Company adalah perusahaan asal Canada yang sangat terkenal. Dia tak mengira pemilik perusahaan tersebut adalah Hyoyeon sendiri.

“Itu semakin menguatkan pendapatku kalau dia ingin membalas dendam padaku.” ujar Taeyeon.

“Kau jangan berpikiran negatif dulu, Kim. Yang kulihat Hyoyeon-ssi adalah gadis yang sangat baik dan menyenangkan. Dia lucu. Aku saja langsung menyukainya di tempat pertama saat melihatnya.”

“Kau benar. Aku hanya merasa.. tak tahu siapa yang harus disalahkan.”

“Jamkkanman! Hyejin teman baik Hyoyeon! Itu berarti.. kemungkinan mereka ada di tempat yang sama. Taeng, mari kita mencari mereka berdua!”

Taeyeon menatap Jessica dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Tak lama kemudian dia tersenyum. Entah karena kebetulan atau memang takdir. Taeyeon senang karena Hyejin dan Hyoyeon ternyata bersahabat. Dia butuh mereka berdua untuk menuntut penjelasan.

***

Taeyeon kini sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiffany benar-benar menepati ucapannya untuk tinggal bersama Taeyeon beberapa hari ini. Bersyukur Daddy nya mengijinkan. Dia percaya Taeyeon mampu menjaga anak gadisnya.

Taeyeon bersama Jessica dan juga kedua sahabatnya kini juga berusaha mengumpulkan informasi tentang Kim Hyoyeon. Sangat sulit mencari alamat gadis blonde tersebut karena orang yang bekerja di perusahaannya pun tidak tahu dimana bos mereka tinggal. Namun mereka tidak menyerah. Dia harus menemukan Hyoyeon, dan kalau bisa Hyejin juga.

“Ahjumma!” teriak seseorang.

Taeyeon yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya melihat kedepan. Tepat beberapa meter darinya berdiri seorang Tiffany Hwang dengan eyesmile nya. Dia juga melihat seorang pria jangkung di belakang Tiffany yang tak lain adalah Jun. Taeyeon sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Jun lagi. Dia percaya Jun bukanlah orang yang akan merebut kekasihnya. Pria itu terlihat baik di mata Taeyeon saat ini.

“Kau kemari?” tanya Taeyeon yang dibalas anggukan semangat dari kekasihnya.

“Unnie, mian kami terlambat. Yoong tadi membeli makana- eoh joesonghamnida!” Taeyeon memiringkan kepalanya untuk melihat seorang gadis dengan seragam sama seperti Tiffany menunduk sopan. Dia terkekeh melihat wajah gadis tersebut karena malu.

“Oh. Ahjumma, aku belun memperkenalkan teman baikku yang satu ini. Dia Seohyun dan yang disampingnya Yoona.”

“Aah.. kau gadis sepeda itu kan?” tanya Taeyeon. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kekasihnya.

“Ne, majayo. Terimakasih telah menyelamatkan saya malam itu.” Seohyun menunduk lagi.

“Aih tak apa, jangan terlalu formal Seohyun-ssi. Huumm kalian ada apa kemari?” tanya Taeyeon.

“Tiffany Unnie bilang Ahjumma akan mentraktir kami semua makan.” jawab gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona.

“Yoong, jaga sikapmu!” bisik Seohyun seraya menepuk bahu Yoona.

Taeyeon yang melihatnya tertawa pelan.

“Bolehkan, ahjumma?” pinta Tiffany dengan puppy-eyesnya.

Taeyeon tersenyum. “Arrasseo. Kalian ingin makan dimana?”

“Yeheyy!” teriak Yoona girang.

“Yoong!” Seohyun menepuk bahu Yoona lagi. Kali ini lebih keras. Semua yang ada disana tertawa melihat kedua sahabat tersebut.

Mereka pun keluar dari ruangan Taeyeon. Sebelum itu, Taeyeon menarik Tiffany dan dengan cepat mengecup bibir kekasihnya. Beruntung mereka berdua di belakang, dan bisa dipastikan ketiga teman Tiffany tidak akan melihat.

“Yaish ahjumma!” Tiffany menepuk dada Taeyeon dan menutupi wajahnya. Dia berjalan cepat menyusul temannya karena malu. Taeyeon terkekeh pelan melihatnya.

Seusai mentraktir teman-teman Tiffany makan siang, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Taeyeon menjadi teringat masa-masa saat menjadi pelajar SMA dulu. Yoong sangat lucu dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon. Mereka juga membuat squad saat di restauran tadi. Yoong menyebutnya, squad gwiyomi. Gadis jangkung itu berkata, Taeyeon dan dirinya adalah makhluk paling cute seantero Korea Selatan.

Taeyeon tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Tiffany yang duduk disampingnya mengerutkan keningnya.

“TaeTae, kau masih waras kan?”

Taeyeon makin tertawa renyah. “Aku hanya teringat saat makan siang tadi. Temanmu yang bernama Yoong sangat lucu.”

“Aah, Yoong memang seperti itu. Dia gadis yang unik.” Tiffany terkekeh membayangkan kebodohan dan kelucuan Yoona.

“Ah jamkkanman. Kau tak keberatan mampir sebentar di mall? Aku ingat persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.”

“Gwaenchanha, TaeTae. Aku juga ingin shopping.”

Taeyeon membulatkan matanya. Dia juga menelan ludahnya. Tiffany dan shopping adalah satu kesatuan yang dapat menimbulkan bencana. Selain dompetnya akan terkuras, tenaga, serta waktunya juga akan terforsir. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan nafasnya pelan.

“Neeeh gadisku yang cantik.” ucap Taeyeon terpaksa.

Tiffany tersenyum senang. Dia mendekat dan mengecup pipi Taeyeon. “Gomawoyongg, TaeTae~” aegyeo Tiffany.

Taeyeon memarkirkan mobilnya di basement. Dia mematikan mesin mobil dan berdehem.

“Sebelum keluar, berikan aku vitamin harianku dahulu.” ujar Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya. “Vitamin harian?”

Taeyeon menatap Tiffany kemudian menarik belakang kepala gadis tersebut. “Ini..”

Kemudian Taeyeon meraih bibir pink kissable kekasihnya dan melumatnya. Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Dia mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan gadis yang lebih tua menarik pinggang Tiffany untuk mendekat.

Mereka berbagi ciuman cukup lama. Tiffany yang mulai kehabisan oksigen melepas ciuman tersebut. Namun tak berselang lama, Taeyeon menempelkan bibirnya lagi. Melumat bibir yang menjadi candunya dengan sangat intim. Tiffany tahu Taeyeon merindukan dirinya. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri. Menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Taeyeon melepas ciuman tersebut. Saliva mereka terhubung satu sama lain. Nafas mereka juga terengah.

“One more..” bisik Taeyeon kemudian mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany sampai kewalahan menghadapi ciuman Taeyeon yang terkesan ganas.

Tiffany mendesah saat Taeyeon menghisap lehernya. Menjilat lalu menghisap dan menggigitnya.

“T- Taeyeonhh~”

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dia mencium gadisnya dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Aah~” Keduanya melepas ciuman mereka.

Mereka menatap satu sama lain dengan senyum lebar.

“Kajja kita keluar.” Taeyeon keluar terlebih dahulu. Dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

“Gomawo.” senyum Tiffany.

Taeyeon dan Tiffany mulai berjalan bersama menuju mall. Pertama membeli bahan dapur terlebih dahulu. Banyak yang harus Taeyeon beli. Setelah selesai, mereka pergi ke tempat pembayaran. Taeyeon meminta barang mereka dipaketkan, karena tidak mungkin Taeyeon membawa semuanya.

Setelah membayar dan menyerahkan alamat apartemennya, Taeyeon segera mengikuti kekasihnya yang akan menguras habis dompet dan tenaganya.

Mereka terus mengitari seluruh penjuru mall. Tentu saja dengan berpuluh-puluh belanjaan. Kaki Taeyeon sampai terasa pegal. Dia tidak mengeluh, demi kesenangan gadisnya.

“Woaah~ kyeopta. TaeTae belikan aku sepatu ini!” Mata Tiffany berbinar saat melihat sepatu bermerk dengan warna pink. Dia melihat sekilas harga sepatu tersebut. Dan hal itu membuatnya menelan ludah. Harga tersebut sama dengan harga ponsel keluaran terbaru.

“N-ne. Ambil saja.” ucap Taeyeon.

Tiffany makin tersenyum. Dia mengecup pipi Taeyeon dan membawa sepatu tersebut ke tempat pembayaran. Taeyeon menghela nafasnya pelan. “Hwaiting!”

Setelah empat jam berkeliling mall dan segudang belanjaan yang Tiffany peroleh, mereka berdua akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Taeyeon merasakan tangannya sudah mati rasa karena membawa barang belanjaan Tiffany yang banyaknya diluar nalar. Dia terus menyemangati dirinya sendiri dan terus mengikuti Tiffany dibelakang.

Saat menuruni eskalator, mata Taeyeon tak sengaja menangkap seorang gadis blonde yang tengah menaiki eskalator di sampingnya. Dia tidak terlalu mempedulikan hingga saat dia selesai menuruni eskalator, Taeyeon terhenyak. Gadis itu menjatuhkan semua belanjaan kekasihnya dan langsung berbalik. Menaiki eskalator dengan berlari. Dia tidak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya.

“Ahjumma! TaeTae!” teriak Tiffany dibawah namun Taeyeon tak menghiraukan kekasihnya.

Ada hal yang jauh lebih penting saat ini. Taeyeon berlari mencari gadis blonde sesaat setelah selesai menaiki eskalator. Taeyeon mengerang.

“Sial! Dimana kau, Kim Hyoyeon!” umpat Taeyeon dengan terus berlari mencari Hyoyeon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Satu chapter terselesaikan. Pffiuuh~

Chap ini gaada badai yes. Dan sorry kalo pendek kaya taeng #plak

Gw mau sedikit ngebacot gpp kali ya. Gw tau kalian pasti masih pada butthurt gegara berita sooseotiff leave SM. Gw jg sedih sih, bahkan nangis #bhakbukaaib. Tp mau gmna lagi, itu udh keputusan mrk. Sbg fans kita cuma bisa dukung, ye ngga?

Dan gw gak bakalan tutup wp ato berhenti nulis. Biarin taeny terus hidup di dunia fanfic walaupun di dunia nyata masih kabur atau ga jelas kabarnya.

Gw juga mohon bantuannya. Kalo semisal gw post fic bukan taeny jan pd nganggep gw gak cinta taeny lagi. Of course gw LS dan gak ada yg bisa nggantiin mrk di salah satu tempat yg khusus buat mrk di hati gw. Tapiii, nge-ship idol lain jg bukan dosa atau kesalahan kan? Gw suka eunxiao juga. Itu jauuh sebelum ada berita itu, jd gak ada kaitannya klo pda ngira gw selingkuh krna taeny gak produktif (?) lagi.

So guys how ’bout the story above? Komen juseyoo~ satu komen dr kalian sangat berharga bagi gue.

Last but not least, entsch bakal end ga nyampe dua puluh chapter. Dan kayak biasa, diupdate tiap minggu. Masih bnyak cerita taeny yg nangkring di kepala gw, makanya gw rampungin ini fic dulu baru bkin fic lain.

Okayy pupye~ see u next chap or fic~

Make It Up

Title : Make It Up

Main Cast : Son Eunseo, Cheng Xiao (WJSN/Cosmic Girls)

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Cheng Xiao terbangun saat mendengar suara berisik diluar. Dia mengusap matanya dan mulai bangun. Mengumpulkan semua nyawa nya dan melihat ke samping, tepat ke arah pintu. Dia kemudian turun dari ranjang dan melihat tempat tidur Unnie-unnie nya sudah kosong dan tertata rapi. Cheng Xiao menguap dan berjalan keluar kamar. Dia melihat beberapa member seperti Dayoung, Yeoreum, Bona, dan Exy tengah berkumpul di ruang tengah.

“Kau sudah bangun? Kalau begitu bangunkan Eunseo, Xiao-ya.” pinta sang leader, Exy.

“Dia belum bangun, Unnie? Biasanya dia bangun awal.” Cheng Xiao menggaruk belakang kepalanya dan berjalan kearah pantry untuk menggosok gigi sebelum membangunkan Eunseo.

Setelah selesai, Cheng Xiao kembali berjalan ke kamar milik 6 membernya, dimana Eunseo terdapat didalamnya. Cheng Xiao melihat Dawon duduk di pinggiran ranjang seraya mengoleskan lotion.

“Annyeong, Unnie.” sapa Cheng Xiao dengan aksen Korea yang lucu.

“Xiao ingin membangunkan Eunseo?” tanya Dawon tanpa melihat Cheng Xiao.

“Ne, Unnie.” jawab Cheng Xiao polos.

“Geurae. Bangunkan dia. Tapi kusarankan beri dia waktu sebentar lagi. Juyeon tertidur sangat larut semalam.” ucap Dawon kemudian berdiri dan berlalu dari kamar mereka.

Cheng Xiao mengerutkan keningnya. Setahunya Eunseo jarang tidur larut akhir-akhir ini. Apa penyakit insomnia gadis jangkung itu kambuh lagi?

Cheng Xiao menggelengkan kepalanya. Dia melihat Eunseo yang tertidur dengan damai. Cheng Xiao terkekeh saat melihat Eunseo yang mengerutkan keningnya saat tertidur. Dia menemukan hal tersebut sangat lucu dan imut. Setelah cukup lama memperhatikan Eunseo tidur, Cheng Xiao mulai membangunkannya.

“Eunseo-ya, ireona~” bisik Cheng Xiao tepat di telinga Eunseo.

Cheng Xiao mengerutkan keningnya karena Eunseo hanya bergumam dan tak membuka mata sama sekali.

“Hey, Juyeon-ah banguun~” Kali ini Cheng Xiao membangunkan Eunseo dengan sedikit menaikkan suaranya.

“Son Juyeon bangun!” teriak Cheng Xiao menggunakan bahasa China.

“Ne ne ne. Aku bangun.” Eunseo mengerang dan bangkit dari tidurnya. Dia duduk tetapi matanya masih menutup.

“Xiao Xiao lapar, Eunseo.” ucap Cheng Xiao dengan mengerucutkan bibirnya.

Eunseo menolehkan kepalanya ke arah Cheng Xiao. “Suruh Dayoung memasak.” kata Eunseo kemudian mulai turun dari ranjangnya. Tentu saja Cheng Xiao ikut turun karena tergusur.

“Xiao Xiao ingin Eunseo yang memasak!” protes Cheng Xiao. Dia melipat tangannya di depan dada dan mempoutkan bibirnya.

“Arra arra. Tunggu di ruang tengah atau ruang makan.” kata Eunseo lalu meninggalkan Cheng Xiao menuju kamar mandi.

“Bahkan dia tidak mengucapkan selamat pagi padaku.” gumam Cheng Xiao dan mengerucutkan bibirnya lagi.

Eunseo berjalan menuju pantry seusai menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dia melihat sudah ada SeolA disana.

“Unnie, kau sedang apa?” tanya Eunseo.

SeolA menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menatap Eunseo dengan sedikit meringis.

“Sebenarnya aku juga tidak tahu mengapa aku kemari.”

Eunseo tertawa pelan mendengar jawaban lugu Unnie nya.

“Biar kutebak, pasti Unnie tengah bingung ingin melakukan apa, benar?” Eunseo berjalan mendekat dan bergabung bersama Unnie nya. Hari ini mereka tidak ada schedule hingga tiga hari ke depan. Wajar saja jika mereka bingung ingin melakukan apa karena biasanya mereka selalu sibuk.

“Kau pengamat yang bagus, Juyeon-ah.”

“Hmm, bagaimana kalau Unnie membantuku memasak saja? Unnie tak keberatan?” tawar Eunseo.

“Ide bagus! Setidaknya aku memiliki sesuatu yang harus dikerjakan.”

“Ookaayy! Mari kita mulai memasak~” ucap Eunseo dengan suara dorky nya. SeolA terkekeh pelan mendengarnya.

Mereka mulai menyiapkan bahan-bahan. Eunseo berencana membuat omelet dan tofu saja yang sederhana. Mengingat member lain sudah sarapan dan hanya dia dan Cheng Xiao yang belum. Eunseo dan SeolA berbagi lelucon saat tengah memasak. Berkali-kali SeolA tertawa karena sikap dork Eunseo.

Disisi lain Cheng Xiao yang melihat interaksi mereka berdua merasa cemburu. Harusnya dia yang mendapatkan sikap dork Eunseo. Saat membangunkannya tadi saja yang Cheng Xiao dapatkan adalah sikap tak ramah Eunseo. Rasanya dia tak pantas mendapatkan perlakuan tersebut dari Eunseo. Semenjak debut, dia sangat dekat dengan Eunseo bahkan hingga saat ini. Cheng Xiao menahan dirinya agar tidak menangis. Gadis China tersebut sangat emosional dibalik sikap polosnya. Dia berbalik dan meninggalkan pantry, lalu bergabung bersama Dayoung dan Bona yang tengah melihat film di laptop.

“Unnie, apa tofu nya sudah matang?” tanya Eunseo. Dia melihat panci di sebelahnya selagi tangannya memasukkan omelet ke piring.

“Biar kucoba dulu.” SeolA mengambil sendok dan mengambil sedikit tofu, sedikit meniupnya kemudian memakannya.

“Aah mashita mashita.” ucap SeolA dengan menunjukan jempolnya pada Eunseo.

Eunseo mengambil sendok dan mengambil sepotong tofu untuk ia coba. “Waaah, kurasa kau sudah siap menikah, Unnie.” ujar Eunseo dengan ekspresi bangga di wajahnya.

SeolA terkekeh. “Sudahlah. Cepat bawakan ini untuk Xiao Xiao tercintamu.”

“Eeeiisshh, Unnie. Kau juga tercintaku.” Eunseo mengedipkan matanya pada SeolA. Dork.

“Dasar bocah!” SeolA menggeleng dan tersenyum. Dia mengambil mangkuk dan mulai memasukkan tofu kedalam.

“Ppalli sarapan. Xiao Xiao mu pasti sudah kelaparan.” SeolA menyerahkan mangkuk beserta omelet dan nasi yang sudah diletakkan di nampan pada Eunseo.

“Gomawoyoongg, Unnie~” aegyeo Eunseo lalu mengecup pipi kanan SeolA.

“Sarapan dataang~” ucap Eunseo dengan suara beratnya yang dibuat-buat. Kelakuan dorky nya seakan tidak padam.

Cheng Xiao menoleh dan menatap Eunseo dengan wajah datarnya. Dia mengambil sumpit dan mulai memakan masakan Eunseo dengan diam. Bukan Eunseo tak sadar dengan perubahan tiba-tiba Cheng Xiao. Namun dia lebih memilih diam dan mencari waktu yang tepat untuk berbicara. Lagipula dia sibuk menyuapi Xuan Yi yang sepertinya belum kenyang.

Selepas sarapan, Eunseo membawa piring dan mangkuk kotor untuk ia cuci. Sedangkan Cheng Xiao masuk ke kamarnya sendiri dan menyibukkan diri dengan ponselnya.

Eunseo melihat Yeoreum yang tengah mengambil minum.

“Eo, Yeoreum-ah dimana Mei Qi, Luda, dan Soobin Unnie? Aku tak melihat mereka daritadi.”

Yeoreum meneguk air untuk yang terakhir sebelum menjawab pertanyaan Unnie nya. “Mereka pergi ke gym.”

“Kau tak ikut?”

“Ani. Aku malas berkeringat.”

Eunseo terkekeh. Dia melepas sarung tangannya ketika cuciannya selesai.

“Ingin bermain game bersama, Unnie?” tanya Yeoreum seraya mengangkat ponselnya. Mereka bersama member lain terkadang bermain game online atau game lain di waktu senggang.

“Lain kali saja, Reumie.” Eunseo tersenyum. Dia menolak ajakan Yeoreum karena sesuatu hal.

“Aeyy, bilang saja kau takut kalah, Unnie.”

Eunseo tertawa dan mengacak rambut Yeoreum. Mereka berjalan ke arah ruang tengah dimana Dayoung dan Bona masih tetap pada posisi sebelumnya. Masih serius menonton film.

“Aigoo, apa yang kalian tonton hingga sebegitu seriusnya, eoh?” Eunseo menggelengkan kepalanya.

“Diam, dork. Kalau ingin melihat tinggal melihat.” jawab Bona tanpa melihat Eunseo.

“Kalian sajalah. Aku masih ada urusan.”

Dengan itu, Eunseo berjalan meninggalkan mereka dan pergi ke kamar 4 membernya dimana ada Cheng Xiao disana. Dia membuka pintu dan melihat Cheng Xiao berbaring dengan ponsel ditangannya.

“Hey C..” sapa Eunseo dengan gaya SWAG english nya.

Cheng Xiao hanya diam.

Eunseo menghela nafasnya dan berjalan mendekati Cheng Xiao. Dia duduk disamping ranjangnya.

“Sesuatu terjadi?” tanya Eunseo langsung ke intinya. Cheng Xiao mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

“Apa itu?” tanyanya lagi.

Cheng Xiao menunjuk Eunseo dengan telunjuknya. Gadis jangkung mengerutkan keningnya seraya menunjuk dirinya sendiri. Kemudian Cheng Xiao mengangguk.

“Juyeonnie wae?” tanya Eunseo dengan wajah puppy nya.

Cheng Xiao yang tak kuasa saat melihat wajah Eunseo yang seperti itu akhirnya menyerah. Dia tertawa dan menaruh ponselnya di sampingnya. Tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Eunseo tersenyum puas melihat sahabatnya tertawa, apalagi karenanya.

“Jadi apa yang membuat Xiao Xiao sebegitu kesalnya pagi ini?” tanya Eunseo setelah tawa Cheng Xiao berhenti.

“Juyeon tidak tersenyum dan mengucapkan selamat pagi kepada Xiao dan langsung keluar kamar. Juyeon juga tidak bersikap ramah tadi, padahal saat bersama SeolA Unnie di dapur Juyeon terlihat senang sekali.” Cheng Xiao menjelaskan selagi bibirnya ia tekukkan ke bawah.

Eunseo tersenyum. Dia bisa mengatakan bahwa Cheng Xiao nya kini cemburu. Hatinya seakan siap meledak saat ini.

“Maafkan Juyeon. Semalam insom Juyeon kambuh dan saat Xiao membangunkan Juyeon, Juyeon masih sangat mengantuk.”

“Insom Juyeonnie kambuh lagi? Waeee?”

Eunseo mengangguk dan mengerucutkan bibirnya. “Jangan salahkan Juyeon tak bisa tidur karena memikirkan Xiao Xiao terus setiap malam.”

Pipi Cheng Xiao bersemu merah. Dia memukul bahu Eunseo dan menutupi wajahnya dengan bantal. “Dork!”

“Juyeon serius Xiao Xiao.”

Cheng Xiao menggeleng dan makin menenggelamkan wajahnya ke bantal. Eunseo tertawa pelan kemudian memeluk Cheng Xiao dengan erat.

“I love you, Xiao Xiao.” Eunseo mengecup puncak kepala Cheng Xiao dan tersenyum.

Meski mereka tak menyatakan cinta secara langsung, namun perlakuan mereka sudah cukup untuk membuktikan betapa mereka saling mencintai satu sama lain. Cukup biarkan semua mengalir meski sebelumnya Eunseo pernah berpikiran untuk mengikat mereka kedalam sebuah status. Dan hal itu juga yang membuatnya sulit tidur beberapa malam terakhir.

“Xiao Xiao juga mencintai Eunseo.” ucap Cheng Xiao dengan bahasa China.

Dan ucapan Cheng Xiao berhasil membuat kupu-kupu beterbangan bebas didalam perutnya. Tentu saja ditambah senyum lebarnya yang terus mengembang.

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

Gw nyoba bikin something new di wp gw. Nyoba bikin otp fav selain taeny dan memb soshi lain. Dann dengan senang hati gw perkenalin kalian sama mereka, Eunseo & Cheng Xiao (EunXiao) WJSN a.k.a Cosmic Girls. Kek nya belom ada yg bkin ini fic otp versi indo deh, makanya gw iseng bikin.

Kalo kalian penasaran sm mereka bisa langsung cek kok di google 😂

Okayy, what do u think guys ’bout this story? Komen juseyo~

Entsch klo ga sabtu ya minggu gw apdet.

 

Enterprischool (Chapter 7)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany menaikkan selimut untuk Taeyeon hingga sebahu. Dia menatap wajah polos kekasihnya yang tertidur sehabis mabuk. Mengecup keningnya lalu beranjak dari tempat Taeyeon dan menyalakan ponselnya. Dia harus memastikan ucapan Taeyeon saat mabuk tadi benar atau tidak. Gadis brunette mencari kontak Daddy nya dan mulai menghubunginya.

“Daddy!”

“Hey, Steph. Ada apa?”

Tiffany menelan ludahnya. “B- Benarkah Dad.. dy dipecat?”

Hening.

“Daddy?”

“Ahaha tak apa, Daddy bisa mencari pekerjaan lain, sayang.”

Tiffany meremas ponselnya. Wajahnya memerah. “Apa yang menyebabkan Daddy dipecat?”

“Aah itu hmm.. kontrak! Ya, kontrak Daddy dengan perusahaan habis.”

Bohong.

Tiffany tahu Daddy nya bohong. Itu tidak sama seperti apa yang Taeyeon bilang saat mabuk. Orang yang mabuk biasanya berkata jujur, benar?

“Mengapa tidak memperpanjang?” tanya Tiffany mengikuti alur kebohongan Daddy nya.

“Hmm itu p- perusahaan memberi Daddy waktu untuk memperpanjang t- tapi Daddy lupa dan D- Daddy tidak bisa memperpanjang lagi..”

“Arrasseo, Daddy. Lebih baik Daddy gunakan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.”

“Ne, Stephy. A- Annyeong.”

Tiffany tak membalas dan langsung menutup panggilannya.

Tiffany hendak naik keatas untuk berganti pakaian saat dia mendengar suara di ruang keamanan. Dia mulai masuk dan melihat komputer yang menampilkan sahabat kekasihnya baru saja memasuki apartemen. Dia menekan tombol mic dan berbicara.

“Unnie, Ahjumma. Ruang rahasia!”

Tiffany melihat Yuri, Sooyoung, dan Jessica berhenti berjalan dan mendengar pengumuman dari dirinya. Setelah itu mereka mulai menaiki tangga.

Tak lama untuk ketiganya memasuki ruang rahasia Taeyeon.

“Kau disini?” tanya Jessica seraya menurunkan tas tangannya di meja di dekatnya. “Dimana Taeyeon?” lanjut Jessica.

Tiffany menunjuk sofa di depannya dengan dagu, tepat dimana Taeyeon tengah tertidur.

“Tae Ahjumma habis mabuk…” ucap Tiffany. “…dan dia mengatakan semuanya.” lanjut Tiffany.

Ketiga sahabat Taeyeon menghela nafasnya.

“Maafkan kami. Itu pasti berat untukmu.” ucap Jessica. Yuri dan Sooyoung mengangguk mengiyakan.

Tiffany menggeleng. “Itu bukan salah kalian, bukan juga salah Ahjumma.” Tiffany menatap kekasihnya yang tertidur dengan damai.

“Kalian keberatan jika mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tiffany. Dia melihat ketiga orang di depannya diam.

“Please..” Tiffany memohon kali ini.

Yuri menatap kedua sahabatnya dan mengangguk. “Biarkan dia tahu masalah ini.”

Jessica menghela nafasnya lagi. “Lakukanlah.”

Setelah mengatakan semuanya, Tiffany merasa bersalah pada kekasihnya. Dia pasti merasa tertekan dengan ini semua. Tak terbanding dengan rasa tertekannya saat siswa di sekolahnya mengoloknya. Dia merasa menjadi kekasih yang tak berguna.

“TaeTae..” gumamnya seraya melihat Taeyeon yang masih tertidur.

“Aku tahu dia gadis yang tangguh. Kau tidak perlu khawatir. Pikirkanlah dirimu sendiri, Tiff. Sekali lagi kami meminta maaf karena menjadi penyebab Daddy mu dipecat.” ucap Jessica seraya mengusap bahu Tiffany.

Tiffany menggeleng. Dia menatap Jessica serius. “Kalian bilang Hyejin Unnie pernah mengatakan bahwa orang terdekat Taeyeon yang melakukan ini?”

Jessica mengerutkan keningnya lalu mengangguk.

“Kuncinya ada di Hyejin Unnie! Mengapa kalian tidak bertanya padanya?!”

“Kami juga ingin, Tiff. Tapi Hyejin entah dimana sekarang. Kami bahkan kesulitan mencarinya.”

Tiffany mengembuskan nafasnya kasar. Dia memijit pelan pelipisnya.

“Kita tunggu Taeyeon bangun. Dia bilang dia mencurigai seseorang dan kita berniat menyelidikinya.” kata Sooyoung.

***

Gadis kecil dengan rambut diikat kuda menatap danau luas di depannya dengan tatapan kosong. Tangannya memegang sebuah foto. Dia mengalihkan pandangannya ke arah foto. Percakapannya dengan Lee Eomonim terulang di kepalanya.

“Hyonie, kau ingin mendengar sesuatu?” tanya Lee Eomonim.

Hyoyeon yang terkenal sangat aktif dan selalu melemparkan lelucon untuk menyenangkan anak-anak lain langsung tersenyum dan mengangguk semangat.

“Sebenarnya kau memiliki saudara, Hyonie-ya..”

Senyum Hyoyeon langsung pudar seketika. “Saudara?”

Lee Eomonim menatap Hyoyeon lalu mengangguk.

“Suatu hari di musim panas, kau dan saudaramu ditemukan di depan panti bersama sepucuk surat dan perlengkapan bayi lain..” Lee Eomonim memberi jeda sejenak.

“Di surat tertulis namamu dan nama saudaramu. Ibu kalian meminta maaf karena menyerahkan kalian kemari dan juga.. mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Ibu kalian tak bisa mengurus kalian dan memilih bunuh diri seperti yang dijelaskan di surat..”

“Eomma..” gumam Hyoyeon. Matanya memerah.

Lee Eomonim menghapus airmata di pipi Hyoyeon dan tersenyum lemah.

“Tiga hari setelahnya, seorang pria kaya mengadopsi saudaramu.. tanpamu..”

Hyoyeon menghapus sisa airmatanya dan menatap Lee Eomonim. “Wae?”

Lee Eomonim menggeleng. “Pria itu mengatakan hanya ingin mengadopsi satu anak. Kami pada awalnya tidak mau, karena kalian pasti akan terpisah. Tapi pria itu terus memaksa hingga kami menyerah.”

Lee Eomonim mengambil sesuatu di tas nya. Sebuah foto. Dia menyerahkannya pada Hyoyeon.

“Itu saudaramu, Hyonie-ah. Eomonim ingin setelah kau pindah bersama orangtua barumu, kau mau mencari Unnie mu, karena dia adalah satu-satunya anggota keluargamu.”

Hyoyeon menggeleng. “Hyo tidak mau! Unnie meninggalkan Hyo. Untuk apa Hyo mencari Unnie?!”

“Saat itu kalian masih bayi, Hyonie. Unnie mu tak tahu apa-apa.”

Hyoyeon menangis. Dia tidak tahu harus senang atau marah mengetahui hal tersebut. Dia lalu berlari dari panti menuju danau yang terletak tidak jauh dari panti. Dia menatap kosong danau tersebut. Matanya beralih menatap foto yang diberikan Lee Eomonim tadi. Dia membalikkan foto tersebut dan melihat tulisan.

Kim Taeyeon & Kim Hyoyeon

 

Sebulan kemudian, Hyoyeon diadopsi sepasang suami isteri yang masih terlihat muda. Dari dandanan dan mobil yang mereka pakai, mereka bukanlah orang sembarangan.

Hyoyeon menunduk 90° dan tersenyum sopan. Pasangan tersebut tersenyum akan kesopanan Hyoyeon.

“Kau sangat sopan, nak. Siapa namamu?” tanya wanita di depannya.

“Kim Hyoyeon imnida.” Hyoyeon menunduk lagi.

“Ahh Hyoyeon-ah.. kami akan menjadi orangtuamu sebentar lagi.” ucap wanita tersebut dengan tersenyum.

“Ne, Lee Eomonim sudah mengatakannya kepada saya. Terimakasih karena mengadopsi saya.”

Kedua pasangan tersebut tersenyum dan mengangguk. Mereka pikir mereka telah menemukan anak yang tepat untuk mereka.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah Hyoyeon lewati bersama keluarga kecilnya. Dia bahagia bisa merasakan bagaimana dicintai seorang Ibu dan Ayah seperti yang pernah diceritakan teman-temannya sewaktu kecil. Hyoyeon sekarang mulai memasuki sekolah menengah pertama.

Dia sedikit sedih mengetahui temannya sedari sekolah dasar tidak satu sekolah dengannya dikarenakan pindah kota. Dia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan tersenyum. Hari pertamanya sekolah harus berakhir menyenangkan.

“Hoi hoi hoi semangat Hyo!” Hyoyeon menyemangati dirinya sendiri.

Dia lalu turun dan melihat Appanya sudah mengenakan pakaian formal dan tengah sarapan.

“Eomma.. Appa..” Hyoyeon mengecup pipi Eomma dan Appa nya bergantian lalu mulai bergabung untuk sarapan.

“Kau siap untuk sekolah, kawan?” tanya Appa nya.

“Tentu saja, Appa!” senyum Hyoyeon.

“Baiklah. Habiskan sarapanmu lalu kita akan berangkat.”

Hyoyeon mengangguk dan menyelesaikan sarapannya.

Setelah selesai, Hyoyeon dan Appanya mulai memasuki mobil. Appa nya mengantarkan puterinya ke sekolah barunya terlebih dahulu.

“Belajar yang rajin, Hyonie.” kata Appa Park.

“Ne, Appa. Hyo berangkat. Annyeong.”

Setelah mengecup pipi Appanya, Hyoyeon mulai turun dari mobil. Di perjalanan menuju kelasnya, Hyoyeon melihat seorang laki-laki tengah dibully oleh beberapa anak, dia melihat satu perempuan diantara anak yang membully. Hyoyeon melihat perempuan tersebut seperti pemimpin geng.

Hyoyeon hendak mengacuhkannya namun dia terhenyak saat menyadari sesuatu. Dia segera membuka tasnya dan mengambil foto dari Lee Eomonim. Hyoyeon bergantian melihat foto dengan perempuan tadi. Meskipun di foto mereka masih bayi, tapi Hyoyeon melihat kemiripan diantaranya.

Hal tersebut makin mengejutkan Hyoyeon saat teman laki-laki perempuan tersebut memanggilnya.

“Taeyeon-ah, dia tak mempunyai apa-apa. Kita cari yang lain saja.”

Perempuan tersebut memutar bola matanya malas.

Hyoyeon sedikit yakin perempuan didepannya adalah Unnie nya. Maka dia harus memastikan hal itu.

“Kim Taeyeon!” teriak Hyoyeon. Geng tersebut menoleh ke arah Hyoyeon, terutama perempuan yang dipanggil Taeyeon tadi.

“Kau memanggilku?” tanyanya dengan menaikkan alisnya.

Hyoyeon mengangguk. Anak laki-laki yang tadi dibully menatap Hyoyeon dan menggeleng. Hyoyeon yakin Taeyeon adalah seorang brandal.

Taeyeon tertawa pelan. “Kau salah menyebutku. Aku..” Taeyeon menunjuk dirinya sendiri. “Han Taeyeon.. dan bukan Kim.” Dia lalu menatap Hyoyeon tajam.

Hyoyeon menyeringai. Dia lalu menggeleng. Dia tak takut dengan berandal-berandal semacam Taeyeon. “Kurasa kau adalah Kim.. Kim Taeyeon.. anak adopsi.”

Taeyeon melebarkan matanya karena terkejut. Dia mengeraskan rahangnya dan menatap Hyoyeon tajam. Teman laki-lakinya berbisik dibelakang Taeyeon. Hal itu membuat Taeyeon marah. Dia mendekati Hyoyeon dan meraih kerah seragam Hyoyeon.

“Siapa kau?!” desis Taeyeon.

Hyoyeon masih tetap tenang. “Ternyata benar kau Kim Taeyeon. Huh, aku tak menyangka kau seburuk ini.”

Hyoyeon melepas genggaman Taeyeon di kerahnya dengan kasar dan berjalan menjauh. Taeyeon hendak membalas Hyoyeon namun bel masuk berbunyi menghentikan langkahnya.

“Awas saja kau! Aku akan membalasmu!” teriak Taeyeon dan tak dihiraukan oleh Hyoyeon.

Seperti yang dikatakan Taeyeon, gadis itu benar-benar melakukan balas dendam. Dia selalu mengerjai Hyoyeon setiap hari. Namun gadis itu sama sekali tak peduli dan bersikap acuh. Satu yang diketahui Hyoyeon, rasa benci ke Taeyeon kian tumbuh. Meskipun dia yakin dan sadar Taeyeon adalah saudaranya, Unnienya, keluarganya, satu-satunya keluarga.

Hyoyeon memutar bola matanya malas saat melihat geng Taeyeon. Dia membalikkan tubuhnya tak ingin berurusan dengan Unnienya.

“Ya! Berhenti kau disana!”

Hyoyeon tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus berjalan. Gadis berambut pendek mengerang. Dia menyuruh anak buahnya untuk mengejar Hyoyeon dan menariknya ke belakang sekolah. Hyoyeon tentu saja melawan. Namun tenaganya kalah kuat karena tiga orang laki-laki menyeretnya. Mereka mendudukan Hyoyeon dibawah pohon. Taeyeon berdiri berkacak pinggang disana.

“Kau tak mengindahkan ultimatumku untuk pindah dari sini, huh?!” Taeyeon menarik rambut Hyoyeon. Gadis yang lebih muda meringis.

“Siapa kau menyuruhku, huh? Sekolah ini bukan milikmu!”

Taeyeon makin kesal. Dia menarik rambut Hyoyeon dengan keras. Tentu saja Hyoyeon berteriak.

“Kau berani melawanku?”

Hyoyeon meringis. “Aku tak tahu setelah keluar dari panti akan seperti ini kelakuanmu, Kim Taeyeon.”

“Berhenti memanggilku Kim Taeyeon!” teriak Taeyeon.

Hyoyeon mendorong tubuh Taeyeon.

“Nyatanya kau memang Kim Taeyeon! Apa harta ayah angkatmu membuatmu seperti ini, hah?!”

Taeyeon membuka mulutnya. Dia melihat teman-temannya yang mulai menatap Taeyeon dengan tatapan berbeda. Dia menelan ludahnya. Dia tidak siap dan tidak mau rahasianya terbongkar disini. Di depan teman-temannya. Dia juga bingung bagaimana gadis yang baru ditemuinya mengetahui hal tersebut.

Hyoyeon mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia lalu melemparkan fotonya bersama Taeyeon tepat diwajahnya. Taeyeon mengambil foto tersebut dan terbelalak. Dia yakin bayi di foto tersebut adalah dirinya. Benar-benar mirip dengan beberapa foto bayinya yang ada di rumahnya. Dia melihat tulisan dibalik foto tersebut.

“Kim Taeyeon dan Kim Hyoyeon..” lirih Taeyeon.

Dia melihat kedepan, namun sudah tak menemukan Hyoyeon lagi. Dia berlari sekuat yang dia bisa untuk mencari Hyoyeon. Taeyeon melihat Hyoyeon yang masuk kedalam mobil. Dia juga sedikit melihat pria yang menjemputnya. Dia sedikit paham pria tersebut adalah Tuan Park, rekan bisnis Appanya.

Saat dia berlari ke arah mereka, mobil Tuan Park sudah melaju. Taeyeon terus berlari dan berteriak. Namun usahanya sia-sia. Kecepatan mobil tak sebanding dengan kecepatan larinya.

Hari selanjutnya, Taeyeon sudah tidak menemukan Hyoyeon di sekolah. Gurunya bilang Hyoyeon sudah pindah. Hal itu membuat Taeyeon menyesal. Dia berhutang penjelasan. Siapa Hyoyeon dan apa hubungannya dengannya?

Hingga Taeyeon tumbuh besar, dia sama sekali tak melihat Hyoyeon lagi. Dia sudah berusaha semampunya mencari Hyoyeon dan Tuan Park. Namun hasilnya sia-sia. Appa nya bilang Tuan Park pindah ke luar negeri dan tidak tahu tepatnya dimana. Appanya juga mengatakan mereka sudah lama lost contact.

Taeyeon merasa tak ada harapan lagi. Dia hanya ingin meminta maaf atas perbuatannya dan menanyakan hubungan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Another flashback everyone~

Kuharap kalian masih nungguin ini cerita.

So how bout the chapter above? Tell me tell mee~

Pupye~ see ya next chap or fic~

Right Answer

Title : Right Answers

Main Cast : Kim Taeyeon

Genre : GXG

Author : taengfanglove

Alih bahasa : N

.

.

.

.

 

 

Taeyeon mengeluarkan seprai bersih dan membentangkannya di kasurnya. Deterjen beraroma vanilla. Mengapa dia lebih memilih membelinya daripada deterjen berwarna hijau yang beraroma seperti pir?

Keduanya berbau harum. Tapi kali ini, dia pikir vanilla lebih baik.

Dia menyelipkan seprai dan bertanya-tanya tentang hidupnya. Dia ingat ketika dia mengajukan pertanyaan, “Apa itu hidup?”

Dia masih bertanya-tanya. Pertanyaan yang sama setiap hari. Kesepian sudah menjadi hal baik baginya dan dia tidak menjalani kehidupannya seperti dulu. Terlalu banyak rintangan yang menghadang, terlalu banyak kemunduran, dan terlalu banyak hal tak penting yang terjadi selama bertahun-tahun. Sesuatu yang dia pikirkan hanya terjadi di film.

Dia ingat pernah bertanya kepada ibunya suatu hari, “Apa itu hidup?”

Ibunya menyetrika kemeja putih ayahnya dan mengambil nafas.

“Hidup adalah apa yang kau perbuat.”

Itu bukanlah jawaban yang dia cari. Jadi dia berhenti mengajukan pertanyaan dengan lantang, dan lebih memilih menggunakan pemikirannya sendiri untuk mencoba mengumpulkan potongan-potongan untuk dijadikan jawaban tetapi itu tak pernah terjadi.

Dia memutuskan untuk berhenti.

Tapi kemudian rasa keingintahuannya mendapat posisi terbaik dari dirinya dan banyak pertanyaan muncul di kepalanya.

“Apa itu cinta?”

“Apa itu waktu? Bisakah kau mengembalikan waktu?”

Tangannya selalu dia acungkan untuk bertanya pada gurunya sewaktu sekolah, tetapi mereka tak pernah memberikannya jawaban yang tepat.

Buku-buku juga sama tak pernah memberinya jawaban yang dia cari dengan semangat. Orang-orang selalu memberikan jawaban yang sederhana dan membosankan.

Taeyeon merapikan seprai dan mulai memasukkan sarung bantal ke bantal yang berisi bulu. Bau vanilla. Itu terlihat sangat baik.

Tak ada seorang pun yang memiliki jawaban tepat dan dia menjadi tak memiliki harapan. Jika hidup adalah apa yang kau perbuat, mengapa pilihannya membawanya ke sesuatu yang menyedihkan?

Mengapa hal itu selalu terjadi padanya dan bukan orang yang tidak ada ruginya. Taeyeon berpikir dia sudah kehilangan semuanya tapi dia masih memiliki hatinya dan dia berpikir, “seseorang akan datang dan memperhatikannya”

Tapi bagaimana jika mereka tak akan pernah datang?

Taeyeon benci memilih. Tapi dia tak membuat pilihan saat dia memilih deterjen vanilla di toko.

Ketika dia harus memilih antara mengikuti mimpinya sendiri dan memenuhi harapan orangtuanya, dia telah mempertimbangkan pilihannya dengan hati-hati.

Mimpinya adalah melukis dan orangtuanya menginginkan dirinya untuk menjadi dokter. Ahli bedah mungkin. Sesuatu seperti itu. Taeyeon berpikir dia akan meraih karir yang bagus dengan menjadi dokter. Dia akan menyelamatkan hidup seseorang disisi lain dia juga akan menjumpai kematian.

Dia akan menjadi orang sukses tetapi saat dia melihat tangannya, harusnya mereka tetap stabil sebagai ahli bedah. Tangannya hanya akan tetap stabil ketika dia memegang kuas dan kanvas kosong di depannya.

Dia tidak harus memilih, saat ini jawabannya sudah jelas.

Pertanyaan itu selalu muncul kapanpun dan tak terhitung di siang hari.

Mengapa kita membuat pilihan?

Dia meletakkan bantal pada tempatnya dan mencium aromanya. Dia sungguh menyukainya.

Hal itu terlihat sangat familiar. Seperti deja vu.

Taeyeon mendengar suara nyaring yang menggema di lorong dan untuk pertama kali, dia kehilangan akalnya ketika dia melihat gadis berambut merah tengah berbicara dengan profesor mereka di luar auditorium.

Murid pertukaran dari Amerika. Yang pernah duduk di sampingnya selama dosen mereka menjelaskan arsitektur pra sejarah dan seni. Renaissance. Da Vinci. Michelangelo.

Vanilla.

Taeyeon kehilangan akalnya lagi dan dia menghirup bau vanilla lain yang lebih menyengat.

Lagi dan lagi dia menghirup bau tersebut dengan diam dan dia melihat ke arah gadis berambut merah. Deja vu lainnya.

Mengapa dia memilih vanilla?

Pertanyaannya tak lagi terputar di kepalanya selagi gadis berambut merah bernama Hwang Tiffany memecah gelembung yang dimilikinya dan membuat gelembung lain dimana mereka berdua ada di dalamnya. Hanya mereka. Dia melangkah ke kehidupannya, meninggalkan pertanyaan tak terjawabnya tetapi kali ini sama sekali tak mengganggu Taeyeon.

Dia membasuh wajahnya dengan air dingin dan melihat bagaimana air tersebut jatuh menuruni wajah dan lehernya.

Dia mencondongkan tubuhnya kedepan, memeriksa matanya dibawah lampu fluorescent diatas cermin dan memikirkan Tiffany. Dia melihat bagaimana pupilnya melebar dalam hitungan milidetik saat dia membayangkan senyum menawan gadis itu. Dan dia lalu teringat pernah membaca disuatu tempat bahwa ketika kau memikirkan orang yang kau cintai, pupilmu akan melebar.

Jadi apakah dia mencintai Tiffany?

Dia mengikuti setiap kontur wajahnya dan melihat kegembiraan disaat dia terus memikirkan Tiffany dari segala perspektif yang dia saksikan dari gadis itu. Senyumnya, tawanya, ekspresi sedihnya, ekspresi marahnya. Dan dia menyaksikan pupilnya melebar di setiap pemikirannya terhadap gadis itu.

Suatu hari dia teringat pertanyaannya lagi disaat mereka tengah makan siang dan dia memutuskan bertanya pada Tiffany, “Apa itu hidup? Apa itu cinta?”

Tiffany mengeluarkan kentang goreng di mulutnya dan menatap balik dirinya dengan satu alis terangkat. Kemudian dia mulai menjelaskan, hal itu terus berlanjut dan Taeyeon merasa sangat senang tatkala gadis itu berbicara kata per-kata.

Tiffany sangat dekat dengan Taeyeon dan saat dimana mata mereka bertemu, Taeyeon melihat pupil Tiffany melebar. Sama seperti miliknya.

Dia akhirnya mendapat jawaban yang tepat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

I’m sorry for loooong update. I’ve been busy w/ my mid-test >_<

Entsch diupdate besok insyaallah.

Btw diatas fic translate. Gw suka ceritanya, simple tp berkesan makanya gw translate.

Okeyy pupye see u next fic~

Enterprischool (Chapter 6)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Wajah Tiffany terus ia tundukkan mulai dari gadis itu duduk di depan Daddy-nya. Tangannya ia remas dibawah meja sesekali menggigit bibir bawahnya. Sedangkan disampingnya duduk, Taeyeon masih diam dengan menatap lurus kedepan, ke arah Daddy Tiffany. Tak dipungkiri dia kini juga gugup setengah mati. Pasalnya ini kali pertamanya bertemu langsung dengan Daddy Hwang.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi tadi, Steph?” Setelah cukup keheningan, Daddy Hwang bersuara.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. “S- Sebenarnya.. Taeyeon.. aku..”

“Tiffany adalah kekasih saya, Tuan Hwang.”

Tiffany menoleh ke arah sampingnya dengan terkejut. Sementara Daddy Hwang menatap tajam Taeyeon.

“Sejak kapan?” tanya Daddy Hwang dingin. Taeyeon berusaha sekuat mungkin agar tidak gugup dan memunculkan sisi percaya diri nya.

“Setahun yang lalu.” jawab Taeyeon.

Daddy Hwang memejamkan matanya dan memijat pelipisnya. Dia mengerang pelan karena puteri bungsu nya membuatnya pusing bukan main. Dia tidak melarang puterinya memiliki hubungan khusus dengan orang lain, tapi kenapa harus sesamanya? Dan lagipula wanita di depannya ini yang ia ketahui adalah direktur di sekolah puterinya. Usia mereka juga terpaut cukup jauh.

“Akhiri hubungan kalian.” ucap Daddy Hwang yang sukses membuat kedua wanita di depannya terkejut.

“Andwae! Stephy mencintai Taeyeon, Dad! Stephy tidak mau berpisah dengan Taeyeon!”

“Kau masih remaja, Steph. Daddy tahu kau masih bimbang menentukan dia benar-benar cintamu atau bukan.”

Tiffany menggeleng dengan cepat. “Bukan Stephy yang memilih hal ini terjadi, tapi hati Stephy, Dad. Stephy yakin Stephy benar-benar menyukai- ani- mencintai Taeyeon.”

“Maaf, Tuan Hwang. Tapi kami berdua saling mencintai. Ini tulus dari hati kami yang terdalam. Saya mohon berikan izin kepada kami.” tambah Taeyeon. Tiffany mengangguk mengiyakan.

Daddy Hwang menghela nafasnya kasar. “Ku berikan kau satu kesempatan. Tapi kalau aku melihat puteriku tersakiti karenamu. Aku tak segan-segan memisahkan kalian.” ucap Daddy Hwang pada akhirnya.

Kedua pasangan tersebut melengkungkan senyumnya.

“Thanks, Dad!”

“Terimakasih telah memberikan kesempatan, Tuan Hwang.”

 

Tiffany memainkan kancing piyama Taeyeon saat mereka kembali berbaring di ranjang Tiffany. Setelah sedikit tegang menghadapi Daddy nya, gadis itu merasa bebannya terangkat. Dia pikir Daddy nya tak akan memberikan mereka izin. Tapi ternyata tidak, dia bernafas lega karena itu.

“TaeTae, berjanjilah setelah ini kau akan terus bersamaku. Bahkan sampai tua sekalipun.” ucap Tiffany dengan mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon tertawa pelan. Dia mencubit hidung bangir kekasihnya. “Aku berjanji, sayang. Setelah kau lulus nanti aku akan menikahimu.”

“Aniya! Tunggu aku lulus kuliah.” Tiffany menepuk dada Taeyeon.

“Wae? Lebih cepat lebih baik, kan?”

“Lebih baik untukmu karena kau bisa bebas melakukan hal dengan tubuhku!” Tiffany mempoutkan bibirnya.

“Percaya padaku, itu sangat menyenangkan, sayang.” Taeyeon terkekeh pelan dengan ucapannya sendiri.

“Hentikan! Jangan membuatku cemburu pada mantan kekasih atau partner one night stand mu yang super banyak!” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi kekasihnya.

“Kau marah?” tanya Taeyeon pelan.

“Ne!”

Senyum liar mengembang di kedua bibir Taeyeon. Dia mencolek bahu Tiffany bermaksud menggodanya.

“Kalau marah mengapa menjawab pertanyaanku, hm?”

“Aaaa~ menyebalkan~ aku benci ahjumma!”

Taeyeon tertawa melihat tingkah kekasihnya. Dia kemudian memeluk Tiffany dari belakang dan mengecup lehernya, dilanjutkan ke pipinya.

“Saranghae, baby. Jalja~”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon memajukan wajahnya pada Tiffany dan mengecup ujung bibirnya. Kemudian mulai memejamkan matanya dengan tangannya yang masih memeluk pinggang kekasihnya. Tiffany tak bisa berbuat apa-apa tapi tersenyum. Dia membalikkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir Taeyeon dan menyamankan tubuhnya di pelukan gadisnya.

***

“Aku pulaaang~”

Taeyeon meletakan tas ranselnya ke sofa dengan pandangannya yang mengitari mansion megah tersebut.

“Nona muda. Anda pulang?” sapa salah satu butler di mansion itu.

Taeyeon mengangguk. “Dimana Appa?”

“Tuan sedang di taman belakang, nona muda.” jawab butler itu sopan.

“Arrasseo, aku akan kesana.”

Taeyeon berjalan santai ke belakang mansion megah milik Appa angkatnya. Dia jarang tinggal di mansion tersebut semenjak menjabat sebagai Presdir di perusahaan Appanya. Hal itu membuat Appa nya sedih, namun Taeyeon berjanji akan menginap beberapa malam setiap sebulan sekali. Seperti yang dilakukannya saat ini.

“Appa!” teriak Taeyeon dengan tersenyum. Meskipun bukan ayah kandungnya, namun Taeyeon sangat mencintai Appa nya itu.

“Taenggu~ Ya Tuhan, kau masih saja pendek, nak!”

“Ya Appa!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya membuat sang Appa tertawa karenanya.

“Kemarilah. Peluk Appa mu ini.”

Taeyeon tersenyum dan berlari memeluk Appa nya.

“Bogoshippo, Appa.” kata Taeyeon di pelukan pria paruh baya tersebut.

“Nado, bocah tengil Appa.”

Taeyeon melepas pelukannya dan menatap tajam Appanya yang dengan santai menaikkan alisnya.

“Aku hampir 25 tahun asal Appa tahu.” Gadis imut melipat tangannya di depan dada dan mendengus.

“Bagi Appa kau masih Taeyeon kecil Appa. Sudahlah ayo kita masuk. Kau mau sup buatan Appa?”

“Call!” girang Taeyeon dan melompat menaiki punggung Appanya untuk digendong. Appa Han hanya bisa tertawa dan menggendong puterinya dengan berlari.

 

“Bagaimana pekerjaan?” tanya Appa Han saat mereka tengah makan malam bersama.

“So far so good. Hanya saja kemarin ada sedikit masalah di bagian bahan baku, tapi tenang saja, puteri Appa ini sangat handal menanganinya.” jawab Taeyeon dengan bangga.

“Baguslah. Itu baru puteri Appa. Lalu bagaimana dengan kekasihmu?”

Taeyeon tersenyum lebar saat Appanya menanyakan kekasihnya. Hanya memikirkan Tiffany saja mampu membuat perutnya berbunga-bunga.

“Kami baik-baik saja. Aku berencana menikahinya saat dia lulus nanti. Apa Appa tak keberatan?”

Appa Han sedikit berdehem karena tersedak. Dia meminum air putihnya sebelum berbicara. “Kau ini suka sekali mengejutkan Appa, ya? Ckckck kalau itu keputusanmu, Appa bisa apa, hm?”

Taeyeon menunjukkan senyum lebarnya lagi. Dia bangkit dan memutari meja kemudian duduk di samping Appanya dan memeluknya.

“Gomawo, Appa. Kau yang terbaik!”

Appa Han ikut tersenyum dan balas memeluk puteri kesayangannya.

***

Taeyeon menguap seraya meregangkan tubuhnya. Dia mengusap matanya kemudian meraih ponselnya yang mengganggu tidurnya dengan sedikit kesal. Hari ini dia berangkat sore hanya untuk memimpin rapat. Paginya bisa ia gunakan untuk tidur. Namun bunyi ponselnya kali ini membuatnya mengurungkan niatnya karena terlanjur kesal.

“Yeoboseyo!” teriak Taeyeon tanpa melihat ID Caller nya.

“Hey slow down, buddy!” ucap sebuah suara di seberang sana.

“Ada apa kau meneleponku pagi buta seperti ini, Soo?”

Terdengar helaan nafas di seberang sana.

“Daddy Tiffany dipecat.” 

“WHAT?!” Mata Taeyeon terbelalak. Rasa kantuknya hilang seketika.

“Aku baru dapat informasi tak lama tadi. Anakan JXK Corp, Doelim Inc memecat Tuan Hwang karena dituduh melakukan penggelapan dana dari klien dan jaksa agung. Kau bisa ke kantor kita sekarang? Sudah ada Sica dan Yul disini.” 

“Tunggu aku 30 menit, Soo.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon menutup telepon dan segera berlari ke kamar mandi kemudian bersiap.

Taeyeon turun dari tangga dengan tergesa. Dia melihat Appa nya tengah membaca koran di sofa. Dia tidak sempat mendekati ayahnya dan berjalan cepat ke arah pintu sebelum Appa nya menyadarinya.

“Hey, Taeng. Kau mau kemana?” tanya Appa Han.

“Kantorku. Ada sedikit masalah!” teriak Taeyeon sebelum pintu utama tertutup sempurna.

 

“Bagaimana bisa Tuan Hwang dipecat?!” tanya Taeyeon frustasi setibanya ia di kantornya.

Jessica menggeleng. “Mata-mata kita tidak tahu pasti. Tapi mereka sering melihat orang-orang JXK bolak-balik ke Doelim sebelum Tuan Hwang dipecat.”

“Jadi maksudmu mereka melakukan konspirasi untuk menjebak Tuan Hwang?”

“Kita tak tahu pasti, Taeng.” ujar Yuri lemah.

“Selidiki kasus ini. Aku yakin Tuan Hwang tidak pernah melakukan penggelapan dana. Setahuku beliau adalah orang yang sangat bertanggungjawab.” perintah Taeyeon.

“Tapi ini akan sedikit sulit, Taeng. Meskipun kita tidak tahu dalang dibalik semua ini, tapi yang jelas orang itu memiliki kekuasaan penuh dan dia bukan orang sembarangan.” kata Sooyoung.

“Sooyoung benar. Dan maaf mengatakan ini, tapi Tuan Hwang telah dicabut lisensi nya sebagai pengacara.” tambah Jessica.

“Ya Tuhan! Masalah apalagi ini?!” Taeyeon meremas rambutnya dan memejamkan matanya erat.

“Tapi, Taeng. Aku merasa bukan Young Woo dibalik ini semua. Kau tahu sendiri kan Young Woo tak memiliki saham sepeserpun di sekolah Fany? Tapi mengapa dia bisa mengambil alih posisimu? Yang kedua, perusahaan kecil milik Young Woo bisa merger dengan JXK Corp, itu adalah hal yang luarbiasa sekali. Perusahaan kita saja sangat sulit untuk merger dengan mereka.” Sooyoung mengutarakan pendapatnya.

“Jadi maksudmu ada seseorang yang mengendalikan Young Woo? Dengan kata lain menjadikan Young Woo sebagai boneka?” tanya Taeyeon.

Sooyoung mengangkat bahunya. “Who knows?”

Taeyeon tiba-tiba teringat perkataan Hyejin yang menyuruhnya berhati-hati dengan orang-orang terdekatnya. Dia menatap ketiga sahabatnya bergantian dengan intens kemudian menggeleng.

“Tidak! Tidak mungkin mereka! Lalu siapa lagi?” batin Taeyeon. Matanya terpejam berusaha berpikir.

Taeyeon terhenyak dan melebarkan matanya saat teringat sesuatu.

“Apakah Kim Hyoyeon?” tanyanya dalam diam.

***

Tiffany memainkan kakinya yang menggantung dibawah booth dan memakan eskrim nya dengan lahap. Setelah sekolah usai, Jun menawarinya berjalan-jalan sebentar di taman dan memakan eskrim disana. Tentu saja Tiffany langsung menerimanya. Dia menjadi ketularan Taeyeon yang sangat menggilai eskrim.

“Jun-ah, gomawooo~” ucap Tiffany dengan tersenyum.

“Terimakasih untuk?”

“Berkat kau, aku jadi tidak mendengar olokan atau ejekan lagi di sekolah.”

Jun tersenyum seraya mengacak rambut Tiffany.

“Sama-sama, babi kecil.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya karena Jun memanggilnya babi kecil. Namun tak berlangsung lama. Dia mengangkat bahunya dan kembali memakan eskrimnya dengan lahap.

“Yah kau benar-benar seperti anak kecil. Lihat! Ada eskrim di sudut bibirmu.” ucap Jun dan sedikit berdecak.

“Dimana?” Tiffany mencoba membersihkan eskrim di sudut bibirnya namun selalu tak kena karena memang ia menjilatnya salah.

“Aish dasar babi kecil. Ikeo disini.” Jun mengusap sudut bibir Tiffany dengan ibu jarinya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan canggung. Jun menatap lurus ke arah bola mata Tiffany, begitu juga sebaliknya. Seperti magnet, Jun mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany yang masih terdiam, tersesat di kedua bola mata Jun.

Saat berjarak satu senti lagi, tiba-tiba ponsel milik Tiffany berbunyi. Mereka segera menjauhkan wajah masing-masing karena tersadar. Tiffany sedikit berdehem sebelum mengangkat telepon.

“Ne ahjumma.”

“….”

“Arrasseo. Tunggu aku 15 menit.”

“….”

“Annyeong.”

Tiffany menutup panggilan dan meletakan ponselnya kedalam sakunya. Dia menatap Jun dengan sedikit meringis.

“Jun-ah bisa kau antar aku ke apartemen ahjumma?” pinta Tiffany.

Jun mengangguk. “Sure. Let’s go!”

Mereka berdua mulai menaiki motor sport hitan milik Jun dan segera meluncur menjauhi taman dekat sekolah mereka. Seperti yang dijanjikan Tiffany tadi, mereka sampai di apartemen Taeyeon lima belas menit kemudian. Tiffany turun dari motor Jun dan menyerahkan helm.

“Gomawo, Jun-ah.” ucap Tiffany dengan tersenyum. Jun juga ikut tersenyum.

“Aniyo. Humm, kalau begitu aku pamit dulu, Tiff. Annyeong.” Jun mengangkat tangan kanannya dan sedikit melambai ke arah Tiffany yang dibalas tawa oleh gadis brunette. Tiffany mengangguk dan ikut melambaikan tangannya.

“Hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan menyalakan motor sportnya. Kemudian berbalik menjauhi kawasan apartemen tersebut. Saat punggung Jun sudah tidak terlihat lagi, Tiffany berbalik dan berjalan menuju apartemen Taeyeon di lantai 3.

Setelah sampai, Tiffany membuka passkey apartemen Taeyeon yang dihapalnya diluar kepalanya kemudian masuk.

“Ahjumaa~ aku pulang~”

Tiffany meletakkan tas punggungnya di sofa dan bergerak mencari Taeyeon di sekitar apartemen.

“Fany-ah ruang rahasia.” Tiffany mendengar suara Taeyeon dari pengeras suara. Kekasihnya memang suka sekali mendesain sesuatu atau membuat sesuatu yang sama sekali tak terpikirkan olehnya.

Tiffany tak bisa berbuat apa selain menuruti perintah kekasihnya. Dia naik keatas tangga dan berjalan ke arah ruang aksesoris dan pakaian milik Taeyeon. Dia kemudian membuka lemari besar disana dan masuk kedalamnya lalu memencet tombol tersembunyi disana hingga munculah scanner. Dia menekan ibu jarinya dan lemari tersebut mulai bergerak ke bawah.

Setelah sampai dibawah atau di ruang rahasia milik Taeyeon, Tiffany mulai mencari Taeyeon.

“Kau sudah datang?” ucap sebuah suara di ruang bar.

Tiffany membalikkan tubuhnya dan mendekati Taeyeon disana. Dia melihat Taeyeon yang tengah meminum alkohol. Mata gadis yang lebih tua menyipit. Tiffany menghela nafasnya. Toleransi kekasihnya terhadap alkohol sangatlah minim. Hanya dengan tiga gelas saja mampu membuatnya mabuk. Tiffany merebut paksa gelas di tangan kekasihnya.

“Ahjumma hentikan! Kau sudah mabuk.”

“Kembalikan, Fany-ah. Aku menyuruhmu kesini untuk menemaniku mabuk.”

“Han Taeyeon!” teriak Tiffany. Jika gadis brunette sudah memanggil Taeyeon dengan marga Appa nya. Sudah dipastikan gadis itu benar-benar marah. Taeyeon sudah berjanji padanya untuk tidak mabuk lagi.

Kemudian Tiffany mendengar sebuah isakkan. Dia terkejut dan langsung memegang lengan kekasihnya.

“TaeTae m- mian..”

Taeyeon menggeleng. “Seharusnya aku yang minta maaf, Fany-ah. Karena aku Daddy mu harus kehilangan pekerjaannya.” ucap Taeyeon dengan menangis.

Tiffany membulatkan matanya. “MWO?!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Gue balikk hehew.

Gimana chapter tadi? Masalah baru lagi kan haha. Dann siapa yg penasaran sama Kim Hyoyeon? *tunjukjari

Hyo bakal jd cast baru. Yg penasaran sm doi sabarr, tunggu chap selanjutnya.

Okay. See u next chap~

Date

Enjoy read~

 

Satu sentuhan lagi pada wajah cantiknya, gadis bermata indah selesai dengan riasannya. Dia memandang pantulan dirinya di cermin dengan senyum puas. Alat make-up nya ia letakkan di tas bermerk nya, kemudian disusul ponsel, dan juga dompetnya. Oh dan tak lupa beberapa camilan yang khusus dibawanya saat gadis itu merasa ingin memakan sesuatu.

Dia merapihkan sedikit penampilannya sebelum pergi dari ruangannya. Kencan yang dipersiapkan sejak tadi tinggal menghitung menit lagi. Kencan yang tidak ia duga. Kencan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Kencan dengan sahabatnya sendiri. Meskipun gadis itu memiliki kekasih- bukan- teman tapi mesra? *ewh– bukan- cem-ceman?- bukan!- friend with benefits? Ya, anggap saja seperti itu.

“Kau yakin dengan ini, Yul?” Tiffany bertanya saat mereka sudah menaiki mobil milik Yuri.

Gadis tan sedikit membantu Tiffany dalam memakai sabuk pengamannya sebelum melakukan hal yang sama pada dirinya.

“Mollasseo. Tapi apa salahnya mencoba?”

Tiffany mengerang lucu. “That lil’ jerk.”

Yuri tertawa pelan mendengar umpatan sahabatnya. Dia menggeleng pelan sebelum melajukan mobilnya melintasi jalan yang masih terasa asing namun dikenalinya.

“Want some ice cream?” Yuri bertanya tanpa melihat ke arah Tiffany. Gadis itu masih sibuk melihat cafes atau tempat untuk mereka datangi. Seperti yang dikatakan diatas. Mari anggap itu adalah kencan mereka.

“Kau tidak lupa kan sedang hangout denganku dan bukannya bocah imut itu?” Tiffany memberikan silaunya pada Yuri.

Yuri menaikkan bahunya dan mengetuk-ngetukan jarinya di stir mobil.

“Ini masih siang, Tiff. Tak ada club yang buka.” ujar Yuri seraya mendongakkan kepalanya kedepan.

“Hei, aku tidak bilang ingin pergi ke club!” protes Tiffany.

Yuri mengabaikan protesan Tiffany dan membelokkan mobilnya di salah satu kedai eskrim.

“Kalau kau ingin membuat si midget itu cemburu, lakukanlah dua point penting. Aku..” Yuri menunjuk dirinya sendiri. “..dan ice cream.”

Setelah mengatakan hal itu, Yuri melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya, disusul Tiffany.

Keduanya berjalan menuju kedai eskrim dan mulai memesan dua buah eskrim cone. Tiffany membasahi bibirnya dengan lidahnya saat gadis pirang tersebut memberikan eskrimnya.

“Come to mama come to mama~” girang Tiffany.

Yuri memutar bola matanya malas. “Siapa yang tadi tidak mau eskrim, huh?”

“I’m not!” sahut Tiffany dan berjalan mendahului Yuri.

“Yul cepat! Ayo kita selca!” teriak Tiffany.

Yuri mendekati sahabatnya dan duduk disamping gadis itu.

“Bagaimana dengan posenya? Haruskah aku mengecup pipimu?” Yuri memposisikan tubuh dan wajahnya disebelah Tiffany dengan matanya yang fokus melihat ke arah kamera.

“Ya! Kau ingin isteriku menceraikanku?!” protes Tiffany sekali lagi.

“Slow, Tiff. Baiklah, cepat ambil gambarnya.” Yuri menunjuk ke arah kamera Tiffany dengan dagunya.

Keduanya terlibat selca cukup banyak dan juga video. Untuk apa? Tentu saja mengunggahnya ke akun sosial media mereka. Tujuan mereka kencan hanyalah untuk membuat Taeyeon, atau kau bisa sebut isteri dari Tiffany Hwang cemburu.

Selain karena Yuri datang ke Amerika untuk melakukan operasi pada kakinya, dia juga menyempatkan membantu sahabatnya yang kebetulan berada disana seusai menyelesaikan pekerjaannya. Dia melihat hubungan kedua sahabatnya yang terlihat lesu dan berniat membangkitkannya lagi. Berdoa saja agar Taeyeon benar-benar cemburu dan menunjukan sifat posesifnya lagi terhadap Tiffany.

“Kudengar Sica berada disini juga?” Tiffany mengajukan pertanyaan random seraya memilah foto dan video yang akan ia unggah ke snapgram nya.

Yuri mengangguk tanpa berniat membalas pertanyaan Jessica. Dia sibuk memakan eskrim yang menggodanya untuk dimakan.

“Kalau hal ini berhasil, apa yang akan kau berikan untukku sebagai balasan, Fany-ah?” tanya Yuri antusias.

“Tiket liburan bersama Juran Unnie?” Tiffany menaikkan satu alisnya dan menahan tawanya melihat perubahan air muka sahabatnya.

“Kau tak asik, Fany-ah.” Yuri mengerucutkan bibirnya.

Pecah sudah tawa Tiffany. Dia meletakkan ponselnya di meja dan menutup mulutnya meredam tawanya yang keras.

“Juran atau Jessi, hm?” goda Tiffany lagi.

“Berhenti menggodaku atau Taeyeon kuberitahu tentang plan B mu.”

Tiffany mendelik. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Yuri menunjukkan smirk nya. “Lain kali hati-hati meletakkan buku diary mu, Miss.”

Tiffany membuka mulutnya dan menunjuk Yuri dengan penuh kekesalan. Dia mendecakkan lidahnya dan memakan eskrimnya cepat.

“Kau sudah selesai? Cepat pergi dari sini.”

“Kenapa terburu-buru?” tanya Tiffany.

Yuri menghela nafasnya. “Kau tidak lihat langit diluar sudah berubah warna? Kalau bukan karena photoholic mu, kita bisa pergi ke beberapa tempat lagi.”

Tiffany nyengir kuda seraya menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.

“Sudahlah. Kajja! Masih ada waktu untuk pergi ke lain tempat.”

***

“Apa ada kabar?” Yuri bertanya dengan membawa satu mangkuk sereal. Dia berniat memakannya sebelum teringat Tiffany yang mengurung diri di kamarnya.

Tiffany menggeleng lemah, tubuhnya ia biarkan tengkurap dan menatap datar layar ponselnya.

“GOSH!”

Yuri hampir menumpahkan serealnya saat mendengar teriakan Tiffany yang sangat keras. Bahkan gendang telinga nya hampir pecah.

“Ya!” kesal Yuri.

Tiffany terlonjak dari tengkurapnya dan berdiri tegak. Satu bantal berada di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang ponsel.

“Kyaaaaa~ Akhirnya Taeyeon mengirimiku pesan!”

Tiffany berteriak histeris. Bantal yang tadi berada di tangan kirinya kini sudah melayang dan mengenai Yuri. Otomatis mangkuk berisi sereal milik Yuri terjatuh ke lantai.

“Ddilfany sinting! Lihat! Serealku jatuh, bodoh! Argh!” semprot Yuri.

Tiffany menunjukkan wajah tak berdosanya.

“Mianhaee~”

Yuri memutar bola matanya malas. “Bereskan itu. Aku ingin tidur.”

Yuri berbalik meninggalkan kamar Tiffany. Tak lupa umpatan dan makian dia ucapkan di tiap langkahnya pergi.

Tiffany sendiri masih tak merasa bersalah dan membekap mulutnya sendiri. Menahan rasa histerisnya karena isterinya mengiriminya pesan terlebih dahulu setelah sekian lama mereka hilang kontak. Apalagi Taeyeon sangat sibuk dengan acara keliling dunianya.

Dan isi pesannya mampu membuat jantung Tiffany berdentum keras meskipun gadis imut itu tidak secara terang-terangan mengatakan bahwa ia cemburu.

Aku bisa membeli eskrim yang lebih enak dan mahal dari yang si monyet hitam berikan padamu. 

– Taeyeon

Senyum Tiffany mengembang liar. Dengan cekatan gadis itu membalas pesan sahabat tercintanya.

Oh yeah? Bisa kau berikan padaku sekarang?

– Tiffany

Tak menunggu waktu lama untuk mendapat balasan, notifikasi kedua terdengar dari ponsel gadis bereysmile.

Tidak sekarang, sayang.

– Taeyeon

Tiffany menggigit bibir bawahnya dengan memejamkan matanya. Dia menepuk-nepuk ranjang dan menahan teriakan histerisnya. Taeyeon memanggilnya ‘sayang’ for God sake! 

Lalu kapan, huh?

– Tiffany

Setelah membalas, Tiffany meletakkan ponselnya di ranjang. Kemudian mengatur nafasnya yang tak beraturan. Dia mendengar bunyi notifikasi lagi dari ponselnya.

Sekembalinya aku ke Korea. I give you an Ice cream and you give me strawberry shortcake ;’) 

– Taeyeon

Pesan terakhir Taeyeon membuat Tiffany membuka mulutnya tak percaya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali memastikan isi pesan tersebut asli dari sahabat tercintanya. Benarkah Kim Taeyeon memintanya untuk-…

Oh my God! Strawberry shortcakes?! 

Tiffany pasti gila membayangkan hal itu terjadi. Dan juga sejak kapan Taeyeon tahu kata-kata Urban tersebut?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

Jangan tanya apa. Gw cuma kepikiran ni ff pas liat yulti date wkwkwk

See ya next chap~

 

 

Enterprischool (Chapter 5)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany berhasil menaklukan seorang Kim Taeyeon yang tengah merajuk, dengan syarat weekend nanti gadis itu harus berkencan dengannya non-stop, full 24 jam. Tiffany sedikit terlibat tawar menawar. Awalnya dia menawar 12 jam saja tanpa menginap. Namun Taeyeon keukeuh menginginkan Tiffany bersamanya 24 jam. Karena pertimbangan waktu yang bisa membuat Tiffany terlambat sekolah dan juga Jun yang menunggunya, gadis brunette terpaksa mengiyakan permintaan kekasihnya. Bagaikan mendapat ikan besar, Kim Taeyeon merubah bibir yang mengerucut kebawah menjadi melengkung ke atas, menunjukkan senyum dimple nya yang sangat disukai kekasihnya itu.

“Pilihan yang tepat, sayang. Aku ingin melanjutkan tidurku. Kau sekolahlah yang rajin, okay? Bye!”

Dengan itu, Taeyeon mengecup pipi Tiffany lalu menarik selimut dan kembali tertidur. Tiffany mendecakkan lidahnya, namun tersenyum setelah itu. Dia merapihkan selimut yang dipakai Taeyeon untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi, melakukan ritual biasa dan bersiap berangkat ke sekolah. Tentunya bersama Jun.

Sesampainya mereka di sekolah, seperti biasa Tiffany mendapat tatapan dan cibiran dari para siswa. Namun hal itu tak berlangsung lama setelah Jun memposisikan dirinya di samping gadis brunette. Orang-orang yang tadi mencibir Tiffany langsung kalap dan salah tingkah.

“Sudah kubilang tunggulah aku sebentar, Tiff.” kesal Jun.

Tiffany tak merespon ucapan Jun. Dia mengernyitkan keningnya karena merasa heran. Orang yang mencibirnya tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepalanya.

Tiffany menarik tangan Jun ke belakang dinding disamping sebuah ruangan yang tidak ada orang disana. Dia menatap Jun dengan wajah serius.

“Sebenarnya kau siapa?” tanya Tiffany.

“Aku? Choi Jun. Kau sudah tahu namaku, Tiff.” Jun menjawab dengan mengernyitkan dahinya.

Tiffany menggeleng. “Bukan itu. Apa kau orang penting disini? Mengapa semua orang menunduk saat melihatmu?”

Jun menaikkan satu alisnya kemudian tertawa pelan. “Aku bukan orang penting, Tiff.”

“Geojitmal! Tapi kenapa me-…”

Ucapan Tiffany terhenti saat ponselnya berbunyi. Dia merogoh ponselnya di saku dan membukanya.

Bagaimana bisa kau dekat dengan Choi Jun, Presiden Siswa?!

– Bora

Tiffany membelalak seusai membaca pesan dari sahabatnya. Dia menatap Jun yang mengerutkan keningnya.

“K- Kau P- Presiden Siswa?” tanya Tiffany terbata.

“Kenapa? Apa jika aku Presiden Siswa kau tidak mau berteman denganku?” tanya Jun sedih.

Tiffany mengusap wajahnya kasar dan menggeleng. “Aniya. Aku hanya merasa.. idiot. Bagaimana bisa aku tidak tahu siapa Presiden siswa di sekolahku sendiri?”

Jun terkekeh pelan dan mengacak rambut Tiffany. “Kau tak idiot, Tiffany. Lagipula baru sebulan aku menjadi Presiden siswa untuk mengganti Kevin Hyung yang pindah ke Canada.”

“Tetap saja aku merasa bodoh tak tahu kau sebelumnya.”

“Sudahlah. Yang terpenting sekarang kita sudah berteman. Kajja, sebentar lagi masuk.”

Tiffanya mengangguk dan mengikuti Jun di belakang.

***

Taeyeon melempar bola baseball ke arah dinding dan menangkapnya. Melempar kemudian menangkapnya. Dia terlalu bosan melihat setumpukan berkas dan layar komputernya yang menampilkan beberapa pekerjaannya. Dia ingin pergi keluar untuk menjernihkan pikirannya. Namun tubuhnya merasa sangat malas hanya untuk bangun dari kursi kebesarannya. Yang dia lakukan sekarang hanya bermain bola baseball yang tersimpan di laci mejanya. Tanpa berniat melakukan apapun.

Pintu ruangannya terbuka, namun Taeyeon tak peduli dan terus bermain dengan bolanya. Dia sudah tahu siapa yang masuk.

“Ada apa Sica-ah?” tanya Taeyeon tanpa berbalik melihat Jessica.

Taeyeon tak mendengar ada sahutan. Dia menaikkan satu alisnya dan berbalik. Betapa terkejutnya dia saat melihat bukan Jessica yang masuk ke ruangannya tetapi…

“Hyejin…” gumam Taeyeon.

Gadis itu masih diam dan menatap Taeyeon. Dia mendekat ke arahnya dan merebut bola baseball milik Taeyeon dengan cepat.

“Bukankah aku pernah mengatakan untuk bersikap profesional meskipun kantor ini milik Ayahmu?” Hyejin menatap tajam Taeyeon.

Taeyeon tak menjawab. Dia hanya menelan ludahnya kaku.

“Kau mendengarku, Kim?”

Taeyeon memejamkan matanya dan menggeleng. “Apa yang membuatmu kembali?”

“Kau.”

Singkat. Jelas. Dan cepat membuat Taeyeon menahan nafasnya.

“Aku sudah memiliki kekas-…”

“Aku tahu.”

Lagi-lagi Hyejin membalas ucapan Taeyeon cepat.

Hyejin tersenyum lemah. “Meskipun aku masih menyukaimu, bukan itu tujuanku kembali.”

Hyejin memutar kursi milik Taeyeon hingga berhadapan dengannya. Jantung Taeyeon berdegup kencang. Meskipun gadis mungil itu sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap mantan kekasihnya itu, tetapi Hyejin pernah menjadi orang yang paling membuatnya bahagia dan sedih disaat yang bersamaan. Mereka bahkan hampir menikah, namun Hyejin melakukan affair di belakang Taeyeon sebelum hal itu terjadi.

“Apa kau pedofil? Berpacaran dengan seorang bocah SMA. Cih yang benar saja.” Hyejin mendecih.

“Kalau kau kesini hanya untuk mengataiku. Pintu keluar terbuka untukmu.”

Hyejin tertawa pelan. “Aku hanya mengingatkanmu saja, Kim. Hati-hati dengan orang terdekatmu.”

Sebelum Taeyeon dapat berkomentar, Hyejin melenggang pergi dari ruangannya. Dia mengerutkan keningnya mencoba berpikir apa yang barusan Hyejin katakan. Taeyeon menyerah, dia sama sekali tidak memiliki ide mengenai apa yang mantan kekasihnya itu ucapkan sebelumnya.

***

Taeyeon bersama Jessica, Yuri, dan Sooyoung tengah makan siang bersama. Biasanya Jessica akan membawa makan siang ke ruang Taeyeon karena gadis imut itu tidak suka suasana kantin. Namun dibanding ruang kerja nya saat ini, kantin menjadi pilihan terbaik dibanding terus teringat ucapan Hyejin di ruangannya. Terlebih Yuri dan Sooyoung juga berkunjung ke kantornya.

“Kudengar Young Woo mengambil alih jabatanmu di sekolah Fany. Kau tak mengajukan keberatan akan itu, Taeng?” tanya Yuri.

“Mereka memiliki 70% lebih suara. Aku bisa berbuat apa?” jawab Taeyeon malas. Dia mengaduk-adukan float nya tanpa meminumnya.

“Bukankah Young Woo tak memiliki saham sepeser pun disana? Hanya kau dan Appa mu yang memiliki saham.” ucap Sooyoung heran.

“Aku tak mau mengambil pusing, Syoo.”

“Jamkkanmanyo!” ujar Jessica tiba-tiba.

Ketiga sahabatnya menoleh ke arah Jessica yang sibuk merogoh sakunya. Mulai dari saku didalam jas, hingga di kedua rok nya.

“Dimana aku meninggalkannya?” gumam Jessica dengan menggigit bibir bawahnya.

“Apa yang kau cari, Sica?” tanya Taeyeon.

Jessica terus merogoh sakunya dan tak mendapat apapun selain dompet dan kunci mobil. Gadis berambut brown mengerang dan memejamkan matanya kesal.

“Aku selesai. Ada yang harus ku kerjakan. Bye, all!” Jessica mengecup pipi Taeyeon sebelum berlari meninggalkan ketiga sahabatnya.

“Hey, kenapa hanya Taeyeon yang diberi kecupan?” teriak Sooyoung tak terima.

“Heish, ingat, Syoo. Mereka kenal dari bayi.”

“Tapi tetap saja. Kita juga dekat dengannya.”

Taeyeon menghela nafasnya melihat sahabatnya yang mulai bertingkah idiot. Hanya karena Jessica mengecupnya seorang, Sooyoung merasa tak terima.

“Kau mau ku kecup, Syoo?” tanya Taeyeon datar.

“No thanks, aku hanya mau dicium wanita dewasa.”

“Ya! Maksudmu aku bukan wanita dewasa, ha?”

Sooyoung mengangguk. “Kau bocah sekolah dasar.”

“Sialan kau, Soo.”

***

Malam harinya, Taeyeon pergi ke rumah kekasihnya dan berencana menginap. Daddy Tiffany masih memiliki pekerjaan dan akan kembali seminggu lagi. Maka dari itu dia berani menginap. Meskipun cukup lama menjalin hubungan, Daddy Tiffany sama sekali tak tahu menahu mengenai hubungan mereka. Itu adalah permintaan Tiffany. Dia baru siap mengatakan hal yang sebenarnya saat lulus sekolah.

Taeyeon menepikan mobilnya di depan gerbang rumah Tiffany. Dia melihat motor sport berwarna hitam yang familiar. Taeyeon ingat motor itu adalah motor milik pria yang diketahuinya bernama Jun, teman Tiffany. Secara perlahan rasa cemburu Taeyeon mulai berkembang. Dengan gerakan cepat gadis itu mulai memasuki rumah Tiffany.

“Fany-ah.. sayaaang~” teriak Taeyeon seraya berjalan memasuki rumah kekasihnya.

Taeyeon melihat Jun yang tengah menggendong Tiffany. Hal tersebut mengundang rasa cemburunya yang bertambah berkali lipat. Dia segera berlari ke arah dua manusia tersebut yang ingin menuju sofa.

“Fany-ah.. sayaang..” Taeyeon melepas genggaman Jun pada kekasihnya dengan kasar setelah berhasil mendudukannya di sofa.

“Tiffany tadi terpeleset di pantry dan kakinya sedikit memar, sajangnim.” ucap Jun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa menghiraukan ucapan Jun, Taeyeon berlari ke pantry untuk mengambil es batu beserta kain untuk kekasihnya. Dia membungkus es batu tersebut dengan kain dan menekannya ke lutut Tiffany yang memar.

“Aww. Sakit, TaeTae!”

“Gadis ceroboh! Sudah kubilang langsung lap air di lantai saat kau tak sengaja menumpahkan air!” ucap Taeyeon dengan wajah khawatir.

“Mianhae.” Tiffany menundukkan wajahnya.

“Dasar ceroboh! Kemarilah!” titah Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya tak paham. Taeyeon berdecak dan memeluk Tiffany dengan satu tangannya terus menekan luka memar kekasihnya.

“Lihat? Kau terluka sedikitpun sudah mengeluarkan keringat dingin. Biar kutebak kau pasti merasa pusing?”

Tiffany tak mau mengakui itu, namun ucapan Taeyeon benar. Ucapan kekasihnya selalu benar. Dia mengangguk kecil dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher kekasihnya. Tiffany merupakan gadis istimewa. Hanya luka kecil seperti itu selalu bisa membuat gadis itu berkeringat dingin dan pusing. Hal itu menjadi perhatian khusus bagi Taeyeon agar selalu melindunginya.

“Kau ingin aku mengambilkan obat?” tanya Taeyeon.

Tiffany menggeleng. “Cukup seperti ini saja, ahjumma.”

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk. Mereka melupakan kehadiran Jun disana yang menatap keduanya dengan tatapan takjub. Baru kali ini Jun melihat pasangan gay secara nyata di depannya tengah menunjukkan kasih sayang. Jun mengira pasangan tersebut hanya menginginkan seks seks dan seks seperti yang dilakukan oleh sepupunya yang gay, maka dari itu dia sedikit risih dengan pasangan sesama. Namun pemikirannya berubah mulai saat ini. Apa yang ditunjukkan Taeyeon dan Tiffany sangat menyentuh hatinya. Dia tidak mengira pasangan tersebut mampu menunjukan cinta bukan hanya dari pasangan normal lainnya. Bahkan Jun bisa menilai dengan matanya sendiri bahwa kedua wanita di depannya sangat mencintai satu sama lain. Cinta mereka benar-benar tulus.

“Uhm, Tiff. Kurasa aku harus pulang?” kata Jun sedikit canggung.

Tiffany tersadar kalau Jun masih berada di rumahnya.

“Ah mian. Gomawo sudah mengantarku, Jun.”

“Cheonma. Kalau begitu aku pamit dulu, Tiff, sajangnim. Annyeong.”

Setelah Jun benar-benar pergi, Taeyeon menggendong kekasihnya ala bridal style menuju kamarnya. Taeyeon membaringkan gadisnya dan menyelimutinya.

“Kau akan menginap disini kan, ahjumma?” Tiffany mencegat tangan Taeyeon yang akan pergi.

Taeyeon mengangguk. “Aku ingin mencuci muka ku dan berganti pakaian dulu.”

 

“Ahjumma.” panggil Tiffany. Mereka kini sudah berbaring di ranjang.

“Hm?”

“Kau mencintaiku, kan?” tanya Tiffany.

Taeyeon mengernyit dan menoleh ke arah gadisnya. “Tentu saja. Mengapa kau menanyakan hal itu?”

“Kalau begitu katakan kau mencintaiku.”

“Kau baik-baik saja kan, Miyoung?”

“Ahjumma~ lakukan saja apa yang kukatakan.”

Taeyeon menghela nafasnya. Dia memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah kekasihnya. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi gadisnya dengan lembut.

“Aku mencintaimu, Stephanie Hwang Miyoung. Sangat sangat mencintaimu hingga bahkan merasa sesak jika kau tak ada disisiku.” ucap Taeyeon seraya mengelus pipi kekasihnya dengan jempolnya.

“So cheesy! Aku saja tak pernah mendengar keluhanmu tentang sesak nafas saat kau dan aku berjauhan.” Tiffany menarik hidung Taeyeon gemas.

“Itu perumpamaan, sayang. Yang jelas hatiku milikmu. Kau juga mencintaiku, kan?” Taeyeon melepas jari Tiffany yang masih menarik hidungnya.

Tiffany mengangguk. “Tapi aku masih saja merasa heran. Mengapa aku bisa jatuh cinta pada gadis midget sepertimu?”

“Hey, aku memiliki sejuta pesona, kau tahu? Wanita straight saja langsung berubah menjadi gay saat melihatku.”

“Termasuk aku. Ahh, yang terpenting ahjumma milikku sekarang. Jaga matamu ini, okay? Aku tahu mereka suka sekali melihat butt sexy dimana-mana.” Tiffany mengusap kedua mata Taeyeon dengan pelan.

“Yes ma’am.” ujar Taeyeon patuh seperti anak kecil.

“Sekarang cium aku.” pinta Tiffany.

Taeyeon menaikkan alisnya. “Ini sudah malam Tiff. Aku tak mau lepas kendali.”

Tiffany menggeleng. “Hanya make out. Aku percaya kau mampu melakukannya tanpa melebihi batas. Aku percaya ahjumma mampu menjagaku.”

“Kau yakin, Fany-ah?”

“Aku percaya pada ahjumma.” Tiffany menunjukkan eyesmile nya.

Taeyeon menghela nafas dan memejamkan matanya sebelum menangkup kedua pipi Tiffanya.

“Berdo’a lah agar evil Taeyeon tidak keluar malam ini.”

Lalu Taeyeon mulai menempelkan bibirnya ke bibir milik kekasihnya. Mendiamkannya sebelum bergerak melumat dan menghisap. Taeyeon terus melakukan aktifitasnya sembari bergerak pelan memposisikan tubuhnya diatas tubuh Tiffany, menindihnya.

Tiffany mengerang dan memeluk leher Taeyeon, mengusap tengkuknya dan menekannya agar ciuman mereka semakin dalam. Taeyeon menjilat bibir Tiffany hingga membuatnya terbuka. Dengan cepat lidah Taeyeon memasuki mulut Tiffany dan menjelajah. Lidah mereka bertemu dan saling bergulat satu sama lain. Ini adalah ciuman basah kedua yang pernah mereka lakukan.

Ciuman Taeyeon turun ke rahang lalu ke leher jenjang kekasihnya. Tangan Taeyeon bergerak membuka kancing piyama Tiffany.

“Enghh.. Tae~” desah Tiffany saat lidah Taeyeon menjilat panjang lehernya kemudian menghisapnya.

Kancing piyama atas Tiffany sudah terbuka sepenuhnya, menampilkan bra berwarna pink nya. Taeyeon menurunkan ciumannya hingga ke belahan dada Tiffany yang masih tertutup bra.

“Ugh.. Taee~”

Tangan Taeyeon bergerak ke punggung polos Tiffany dan mencoba membuka bra nya. Setelah terbuka, Taeyeon segera menurunkan bra Tiffany dan langsung menyerbu kedua buah gundukan tersebut. Mulutnya menghisap payudara sebelah kiri Tiffany sedangkan tangan kirinya meremas payudara kanan Tiffany.

“Taeyeon aakhh~”

Tiffany menekan kepala Taeyeon agar semakin menghisap payudaranya dengan kuat. Remasan tangan Taeyeon juga semakin kuat. Dia memelintir puting Tiffany yang masih kecil.

Taeyeon kembali mencium bibir Tiffany dengan panas. Kedua tangannya terus meremas payudara Tiffany dengan bernafsu. Mungkin setelah ini ukuran bra nya akan bertambah.

Saat tengah menikmati sesi panas mereka, tiba-tiba pintu kamar Tiffany terbuka.

“Stephanie apa yang kau lakukan?!”

Mereka berdua tersentak dan menghentikan aktifitasnya. Taeyeon segera menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atas Tiffany.

“Daddy..” lirih Tiffany.

“Temui Daddy di depan.” ujar Daddy Hwang dingin. Kemudian berbalik dan pergi darisana.

Taeyeon menyadari perubahan air muka Tiffany yang merasa sedih, takut, dan khawatir. Taeyeon mengecup bibir Tiffany sekilas.

“Kita hadapi bersama-sama, hm?” ucap Taeyeon meyakinkan. Tiffany mengangguk lemah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

Entsch bakal diupdate seminggu sekali kalo ngga ada halangan kay.

How bout this chap? Komen juseyo~

See u next chap~

Enterprischool (Chapter 4)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Taeyeon menatap kekasihnya dengan curiga. Semenjak gadis itu pulang dari sekolahnya, dia sama sekali tak berbicara dengannya dan langsung melenggang masuk ke kamarnya. Saat ditanya pun Tiffany hanya menjawab dia baik-baik saja. Tentu Taeyeon tak percaya. Dia tahu kekasihnya lebih dari apapun.

Taeyeon menarik bahu Tiffany yang ingin menghindarinya lagi.

“Miyoung-ah…” Taeyeon menatap mata gadisnya.

“Apa yang mereka lakukan padamu? Sebut siapa saja, aku akan memberi pelajaran kepada siapapun yang menyakitimu.”

Tiffany menggeleng dan melepas pegangan Taeyeon di bahunya.

“I’m fine. You don’t need to worry.”

“Why should I? You’re in trouble, I know it.”

“Taeyeon-ah, I’m okay. Really.”

Taeyeon mendesah. Dia tidak suka ini. Dia tidak suka saat Tiffany memanggilnya dengan nama Taeyeon dan bukannya pet name nya, atau Ahjumma, atau yang lain. Itu menandakan kalau kekasihnya memiliki masalah.

“Baiklah kalau kau tak mau bercerita. Aku akan menelepon Sica untuk memindahkanmu ke sekolah lain.” Taeyeon hendak menghubungi Jessica sebelum Tiffany mencegatnya.

“Don’t do that!”

Taeyeon tak menghiraukan ucapan Tiffany dan mulai menghubungi Jessica. Tiffany meraih ponsel Taeyeon dan membantingnya keras di lantai hingga casing dan baterai nya terlepas. Gadis imut itu membulatkan matanya tak percaya.

“Aku bilang jangan lakukan itu!” seru Tiffany.

“Kau berteriak padaku?” Taeyeon memicingkan matanya.

Tiffany menghela nafasnya. “Aku tak ingin berdebat, Taeyeon.”

“Tapi kau mencoba mengajakku berdebat, Tiffany.”

Taeyeon melihat ini semua mulai tak masuk akal. Seharusnya mereka bisa membicarakannya secara baik-baik.

“Aku ingin sendiri.” ucap Tiffany.

“Terserah. Aku akan mengurusi kepindahanmu besok.”

“Kim Taeyeon! Kau tak mendengarku?!” teriak Tiffany membuat Taeyeon mengeraskan rahangnya.

“Berteriaklah sepuasmu! Aku tidak akan merubah keputusanku apapun yang terjadi.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon mulai melangkah pergi. Namun sebelum itu, dia mendengar sebuah isakkan di belakangnya. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut. Taeyeon berbalik dan melihat Tiffany terduduk lemas di bawah dan menangis. Dia segera berlari dan meraih kekasihnya kedalam pelukannya.

“Fany-ah, m-mianhae. Jeongmal mianhae. Aku akan menarik perkata-…”

Tiffany menggeleng dengan masih terisak.

“Mereka mengataiku, memojokkanku, bahkan berdemo menuntut agar aku pindah…” Tiffany mendesah sebelum melanjutkan ucapannya. “Saat itu aku berpikir untuk pindah agar aku tak mendengar olokkan mereka lagi. Tapi…”

Tiffany mendongak, menatap wajah kekasihnya.

“Tapi aku tak bisa.”

“Wae?” tanya Taeyeon. Matanya masih terus menatap kekasihnya.

Tiffany berdiri dan melepas pelukkan Taeyeon.

“Kau mau kemana, Miyoung-ah?”

“Aku ingin tidur.”

Lagi-lagi Taeyeon menghela nafasnya.

***

Keesokan harinya, Taeyeon sudah tidak melihat Tiffany disampingnya tidur. Dia bangun dari tidurnya dan segera mencari gadisnya. Saat ingin membasahi kerongkongannya yang kering, dia melihat note kecil di pintu lemari pendingin. Dari Tiffany. Dia mengatakan pergi sekolah lebih awal dan sudah membuatkannya sarapan, Tiffany juga menuliskan dirinya akan pulang kerumah Daddy nya dan menyuruh Taeyeon agar tak mengkhawatirkannya, juga melarangnya untuk memindahkannya ke sekolah lain.

Hal itu membuat kepala Taeyeon terasa sakit. Dia mencoba menghiraukannya dan mulai berjalan ke arah kamar mandi setelah itu bersiap untuk pergi bekerja.

“Cari tahu siapa saja yang menyakiti Tiffany kemarin.” perintah Taeyeon pada Jessica sesampainya ia di kantornya.

Tanpa banyak berkata, Jessica mengangguk dan mulai keluar dari ruangan Taeyeon.

Tak butuh waktu lama untuk Jessica menyelesaikan tugasnya. Gadis itu kembali dengan map berwarna coklat ditangannya. Taeyeon segera meraih map tersebut dan membukanya. Ada beberapa foto dan juga daftar nama-nama orang yang berhasil Jessica kumpulkan yang mana kemarin telah menyakiti Tiffany.

“Kau yakin dengan itu, Taeng?” tanya Jessica membuang keformalannya.

“Kekasihku menderita karena mereka. Jadi ini balasan yang harus mereka dapatkan.” jawab Taeyeon dingin.

“Sebaiknya kau berhenti saja, Taenggu-ya.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Ini.” Jessica menunjuk apa yang tengah Taeyeon pegang dengan dagu nya. “Karena itu sia-sia.”

Taeyeon berdiri dari duduknya dengan kasar hingga kursi yang didudukinya terdorong lumayan jauh ke belakang.

“Menurutmu ini sia-sia, huh? Kau lupa aku direktur di sek-…”

“Not anymore!” sela Jessica dengan berteriak.

“Kau bukan direktur disana lagi, Taeyeon-ah. Young Woo sudah mengambil alih.”

Taeyeon membulatkan matanya, terkejut. “B-Bagaimana bisa?” tanyanya lirih.

“Aku juga tidak tahu. Para petinggi dan komite sepakat menggantimu dengan Young Woo.”

“Apa karena hubunganku dengan Tiffany?”

Jessica menggeleng lemah. Dia tidak memiliki ide untuk hal ini.

***

Tiffany duduk sendirian di atap gedung sekolahnya. Kakinya ia biarkan menggantung dibawah. Dia menghela nafas untuk yang kesekian kali. Meskipun orang-orang sudah tidak seganas kemarin dalam menghinanya, namun hal itu masih terus di dengarnya beberapa kali. Bora sudah mulai melunak, dia sudah merespon Tiffany walau hanya anggukan, gelengan, ataupun jawaban singkat. Meskipun begitu, Tiffany yakin itu akan terasa berbeda. Mereka tak mungkin lagi sedekat saat masih baru mengenal. Karena ada sekat yang terbangun diantara mereka.

Tiffany juga masih beruntung, disaat terburuknya ini, dia mendapat teman sebaik Juhyun. Meskipun gadis itu adalah juniornya, tapi Tiffany senang gadis itu bisa menenangkannya dengan sifat dan pemikiran dewasanya. Ditambah gadis bernama Im Yoon Ah, sahabat baik Seohyun. Gadis rusa itu mampu membuat Tiffany terhibur dengan tingkah konyolnya. Dia juga tak keberatan berteman dengan Tiffany yang memiliki hubungan tak wajar. Hal itu membuat Tiffany merasa lega.

“Kau tak takut jatuh?”

Tiffany tersentak mendengar suara asing di belakangnya. Dia berbalik dan melihat seorang pria tinggi dan good-looking berdiri disana.

“Nugu?” tanya Tiffany. Dia takut pria itu adalah salah satu dari hatersnya. Dia takut pria itu akan mendorongnya ke bawah.

Pria itu tertawa pelan. “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal yang ada di pikiranmu.”

Tiffany mengerutkan keningnya. Bagaimana dia tahu?

Pria itu duduk disamping Tiffany dan membiarkan kakinya menjuntai kebawah.

“Apa yang kau lakukan disini sendirian?” tanya pria itu.

“Kau tidak ikut menghinaku? Kau tidak merasa jijik denganku?” Tiffany balas bertanya.

Hal itu membuat pria disampingnya tertawa lagi. “Kenapa aku harus? Aku bukan mereka.”

Tiffany tersenyum lemah. “Aku berpikir akan sulit mencari teman di saat seperti ini.”

“Benarkah? Lalu bagaimana denganku? Kurasa aku sudah menjadi temanmu saat ini.” Pria itu berkata dengan percaya diri.

“Ahh ini mudah ternyata.” balas Tiffany dan itu membuat keduanya tertawa pelan.

“Jun… Choi Jun. Itu namaku.” ucap pria itu.

Tiffany mengangguk. “Aku tak perlu mengenalkan diriku karena kurasa kau sudah mengetahuinya?”

Jun memukul bahu Tiffany pelan. “Eyy, mana bisa begitu. Setidaknya anggap ini perkenalan normal antara dua orang asing.”

Tiffany terkekeh. “Arrasseo. Aku Tiffany Hwang. Senang bertemu denganmu, Jun.”

Jun tersenyum. “Tentu saja kau harus merasa senang bertemu denganku.”

“Kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi rupanya.” ejek Tiffany.

“That’s my middle name.” ucap Jun bangga dengan menepuk dadanya.

Tiffany tertawa dan menunjukkan eyesmile nya. “Kau lucu. Kurasa aku mulai menyukaimu sebagai teman.”

“Itu berita bagus.” sahut Jun dengan senyuman.

Saat keduanya asik mengobrol, tiba-tiba bel pulang berbunyi. Mereka sedikit terkejut akan itu.

“Benarkah kita melewati jam pelajaran terakhir disini?” tanya Jun.

“Kurasa iya.”

“Baguslah. Aku jadi tidak perlu repot bertemu Yoon ssaem.”

Tiffany tertawa untuk yang kesekian kalinya. Dia tahu Yoon ssaem terkenal menyebalkan dan killer. Hampir seluruh siswa membencinya.

“Ayo pulang! Biar ku antar.”

Tiffany menaikkan satu alisnya.

“Anggap saja sebagai salah satu kebaikan seorang teman baru?”

“Alasan diterima. Go!”

Jun tersenyum. “Okay. Go!”

Keduanya pulang dengan menaiki motor sport milik Jun. Tiffany mengarahkan Jun dimana rumahnya berada. Tinggal belokkan terakhir, mereka akhirnya sampai di depan gerbang rumah Tiffany.

Motor berhenti dan Tiffany mulai turun. Dia melepas helm yang dikenakannya dan menyerahkannya pada Jun.

“Thanks, Jun.” ucap Tiffany dengan tersenyum.

Namun Jun tidak membalas senyumannya. Hal itu membuat Tiffany bingung. Dia tersadar tatapan Jun bukan mengarah ke arahnya. Tiffany mengikuti arah pandang Jun dan melihat…

“Taeyeon.” gumam Tiffany.

Taeyeon berdiri menatap tajam keduanya di depan mobil mercedes nya.

“Aku pergi dulu, Tiff. Sampai jumpa besok.” ucap Jun pada akhirnya memecah keheningan dan kekakuan disana. Jun tahu gadis di depan sana adalah kekasih dari gadis yang baru saja dibonceng nya.

“Yeah, hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan mulai memutar arah. Motornya melaju dengan kecepatan sedang hingga sosoknya tak terlihat lagi di mata Tiffany.

***

Hening.

Keduanya tak berniat membuka mulut.

Taeyeon yang biasanya terlihat tenang kini terlihat kesal. Anggap saja dia kekanakkan, dan nyatanya memang seperti itu. Dia tak bisa menahan perasaannya melihat kekasihnya tadi. Dia cemburu melihat Tiffany dengan pria lain.

Tiffany mendesah. Dia bangun dari sofa sebelum Taeyeon menarik tangannya hingga tubuhnya terjatuh di pangkuan Taeyeon.

Tanpa banyak berkata, Taeyeon mulai melumat bibir Tiffany dengan ganas. Tiffany mencoba melepas ciuman Taeyeon yang terkesan menyakitinya. Dia terus memukul bahu Taeyeon menyuruhnya berhenti. Namun Taeyeon tak peduli dan terus menciumnya kasar hingga bibir Tiffany berdarah. Taeyeon menumpahkan segala emosi nya dalam ciuman itu. Tiffany miliknya.

Hingga isakkan Tiffany terdengar, mampu membuat Taeyeon berhenti. Gadis itu melebarkan matanya, tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Tiffany menangis. Dia menampar pipi Taeyeon dan pergi darisana menuju kamarnya.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengepalkan buku-buku jarinya. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu! Dia tahu dia cemburu, dan dia berhasil termakan oleh rasa cemburunya. Kini Taeyeon menyesal.

Dia berdiri dan berlari menyusul kekasihnya ke kamar.

“Fany-ah buka pintunya. Kumohon, maafkan aku.”

Tak ada sahutan. Yang terdengar hanya isakkan. Hati Taeyeon sakit mendengar alasan Tiffany menangis adalah dirinya. Dia merasa menjadi kekasih yang buruk.

“Miyoung-ah sayaang. Kumohon buka pintunya. Maafkan TaeTae.”

“Miyoung-aah…” panggil Taeyeon lemah.

“Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Maka dari itu buka pintunya, sayaang.”

Tak ada respon. Taeyeon menggigit bibir bawahnya.

“Aku tak bermaksud, sayang. Kumohon maafkan aku.”

Taeyeon menyerah. Dia terduduk dibawah dengan bersandar pada dinding disamping pintu kamar kekasihnya, menunggu Tiffany membukanya. Karena lelah menunggu, Taeyeon mulai tertidur disana dengan membawa rasa penyesalan.

Tak lama setelah itu, Tiffany membuka pintu kamarnya. Dia mengira Taeyeon sudah pergi dari rumahnya, namun ternyata dia salah. Gadis itu tertidur disamping pintu kamarnya. Tiffany menggigit bibir bawahnya.

Tiffany berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taeyeon yang masih tertidur.

“Mianhae.” lirih Tiffany.

Tiffany berdiri dan masuk ke kamarnya lagi untuk mengambil selimut. Dia kembali dan mulai menyelimuti Taeyeon. Gadis itu juga duduk disamping kekasihnya dan mengamati wajah bayinya saat tertidur. Hingga tak terasa Tiffany mulai merasa mengantuk dan menyusul Taeyeon ke alam mimpi.

***

Jun menyalakan motor sportnya dan mulai berjalan keluar dari pekarangan rumahnya. Dia berniat menjemput Tiffany. Anggap saja dia berbaik hati menawarkan tumpangan pada gadis itu karena dia tahu sesampainya dia di sekolah, Tiffany pasti akan menerima pembullyan. Setidaknya dia ada disamping Tiffany dan berdiri membelanya nanti.

Jun memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Tiffany seperti sebelumnya. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat mobil mercedes putih yang diketahui milik Taeyeon masih bertengger disana.

Jun mencoba tidak mengambil pusing dan menekan bel disamping pagar.

Tak ada sahutan. Dia coba berkali-kali dan tetap tak ada Tiffany atau siapapun yang membuka gerbang. Dia mencoba iseng membuka gerbang dan ternyata tidak dikunci. Jun semakin bingung. Bagaimana bisa gerbang rumahnya tidak dikunci? Bagaimana jika orang jahat tahu?

Jun terus berjalan di pekarangan rumah Tiffany hingga pria itu sampai di depan pintu rumahnya. Jun mencoba iseng lagi membuka pintu rumahnya, dan sama seperti sebelumnya, pintu tersebut tak dikunci.

Jun menghela nafasnya melihat kecerobohan Tiffany terhadap rumahnya sendiri. Dia mulai memasuki rumah Tiffany yang terlihat sepi. Jun tidak bermaksud tak sopan, dia hanya berniat mengecek saja apakah Tiffany disana dalam keadaan baik atau tidak.

Jun terus mencari di sekeliling rumah tersebut. Karena tak berhasil menemukan seorang pun di lantai satu. Jun mencoba mencari di lantai dua. Betapa terkejutnya Jun saat melihat dua orang yang dikenalinya tertidur di depan pintu sebuah kamar. Jun mendekat ke arah mereka.

Sebenarnya posisi mereka terbilang cute dengan kepala Tiffany bersandar di bahu Taeyeon sedangkan kepala Taeyeon juga bersandar di puncak kepala Tiffany. Gadis Amerika itu juga memegang lengan Taeyeon erat seperti memegang bantal guling. Tapi karena Jun tak terbiasa melihat couple GXG itu jadi sedikit aneh baginya.

“Fany-ah.” panggil Jun mencoba membangunkan Tiffany.

“Tiffany..” Jun menggoyangkan bahu Tiffany.

Taeyeon yang sedikit sensitif dengan pergerakan mengerjapkan matanya sebelum terbuka sempurna. Dia melihat sekitar hingga mata itu bertemu dengan milik Jun.

“YA! SIAPA KAU?!” teriak Taeyeon membuat Tiffany terbangun.

Gadis itu mengerutkan keningnya dan melihat Jun di depannya.

“Jun? Bagaimana bisa kau masuk kesini?”

“Pintu gerbang dan pintu rumahmu tak terkunci. Itu berbahaya, Tiff.”

“Aku tanya siapa kau?!” kesal Taeyeon karena merasa terabaikan.

Tiffany mengelus lengan Taeyeon. Kekasihnya itu seperti bayi jika baru bangun tidur. Moodnya sedikit terganggu.

“Dia temanku, Tae.”

“Annyeonghaseyo, sajangnim.” Jun menyapa Taeyeon dengan membungkukkan badannya.

“Aku bukan sajangnim mu lagi.” gerutu Taeyeon.

“WHAT?! Apa maksudmu, TaeTae?” Tiffany dan Jun sama-sama terkejut.

Taeyeon mendesah malas dan memutar bola matanya. Dia bangkit dan berjalan ke kamar Tiffany untuk melanjutkan tidurnya. Jujur saja lehernya sakit karena tidur dengan duduk.

“Kau tunggulah di sofa depan, Jun. Aku akan mengurusi bayi besar itu dulu.”

Jun terkekeh pelan dan mengangguk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Hay hay hay gw kambek. Ini chapter buat perkenalan sm cast baru euhehehe. Chap besok masih berbadai-badai ria. Udh liat sedikit badai di chap ini kan? Lah chap selanjutnya lebih lebih kenceng lagi.

Okay, komen juseyo~

Pupye~ see u next chap~