Enterprischool (Chapter 8)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Taeyeon mengerang seusai membuka matanya. Dia menekan belakang kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya ia jatuhkan ke sekitar tempatnya berada, masih di ruang rahasia. Dia melihat sahabat-sahabatnya tengah tertidur dibawahnya. Taeyeon bangun dari tidurnya.

“Eoh, kau sudah bangun, Taeng?” Taeyeon mendengar sebuah suara dan menoleh ke belakang. Ternyata Jessica.

Taeyeon mengangguk.

Jessica berbalik dan mengambil segelas air untuk Taeyeon. Selanjutnya bergabung bersama Taeyeon dan menyerahkan air tersebut. Taeyeon menerimanya dan langsung meminum dengan sekali teguk.

“Gomawo.” ucap Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi.. bisakah kau tak usah mabuk? Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Tiffany. Kau lupa pernah berjanji padanya, Taeng?”

Taeyeon menghela nafas. Jessica benar. Dia sudah berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mabuk lagi.

“Mianhae.” lirih Taeyeon.

Jessica menghela nafas. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Menepuk punggungnya bermaksud menenangkan. Jessica adalah sahabat terbaiknya. Taeyeon beruntung memiliki Jessica.

“Tak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Kau istirahatlah lagi, hm”

Taeyeon menggeleng. “Dimana Tiffany?”

“Dia pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barangnya.”

“Tiffany akan menginap disini?”

“Untuk beberapa hari kedepan.. ya. Dia ingin terus berada disisimu katanya.”

Taeyeon melepas pelukkan mereka. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jessica. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Taeyeon menarik tangan Jessica untuk mengelus kepalanya. Dia sangat suka jika Jessica mengelus kepalanya seperti saat ini.

“Sica-ah..”

“Hm?”

“Kau ingin tahu siapa seseorang yang ku curigai?”

Jessica menatap Taeyeon yang ada dibawahnya. “Tentu saja. Mereka pasti juga ingin mengetahuinya.” Jessica menunjuk kedua sahabatnya dengan dagu.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. Dia menerawang jauh kedepan.

“Dia Kim Hyoyeon. Semua berawal saat kami masih sekolah menengah pertama.”

Taeyeon mulai menceritakan semuanya kepada Jessica. Bahkan hingga sangat detail. Jessica mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali gadis blasteran itu mengerutkan kening lalu mengangguk di sela cerita Taeyeon.

“Jadi seperti itu. Sampai sekarang aku tak juga berhasil menemukannya.”

Taeyeon melihat Jessica yang sibuk dengan ponselnya. Dia berteriak karena mengira Jessica tidak mendengarkannya.

“Maksudmu Kim Hyoyeon ini?” tanya Jessica seraya menunjukkan ponselnya dimana terdapat sebuah foto.

Mata Taeyeon membesar. Walaupun sudah dua belas tahun lamanya, wajah Hyoyeon masih terlihat sama. Mungkin beberapa terlihat berbeda. Namun Taeyeon yakin foto tersebut adalah Hyoyeon.

“B- Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taeyeon tak percaya.

“Aku baru ingat Hyejin memiliki seorang teman baik sewaktu sekolah dasar. Dan mendengar nama Kim Hyoyeon mengingatkanku pada temannya Hyejin ini.”

Jessica dan Hyejin memang dekat, sama seperti kedua sahabatnya. Hal itu karena Taeyeon pernah menjalin hubungan dengan Hyejin untuk waktu yang cukup lama.

“T- Tapi Hyejin tak pernah memberitahuku tentang Hyoyeon.”

“Kami tak sengaja bertemu waktu itu. Hyoyeon-ssi sedang ada acara di Seoul. Dan wow, kau tahu Taeng.. dia adalah pemilik Univere Company!”

Taeyeon menelan ludahnya. Univere Company adalah perusahaan asal Canada yang sangat terkenal. Dia tak mengira pemilik perusahaan tersebut adalah Hyoyeon sendiri.

“Itu semakin menguatkan pendapatku kalau dia ingin membalas dendam padaku.” ujar Taeyeon.

“Kau jangan berpikiran negatif dulu, Kim. Yang kulihat Hyoyeon-ssi adalah gadis yang sangat baik dan menyenangkan. Dia lucu. Aku saja langsung menyukainya di tempat pertama saat melihatnya.”

“Kau benar. Aku hanya merasa.. tak tahu siapa yang harus disalahkan.”

“Jamkkanman! Hyejin teman baik Hyoyeon! Itu berarti.. kemungkinan mereka ada di tempat yang sama. Taeng, mari kita mencari mereka berdua!”

Taeyeon menatap Jessica dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Tak lama kemudian dia tersenyum. Entah karena kebetulan atau memang takdir. Taeyeon senang karena Hyejin dan Hyoyeon ternyata bersahabat. Dia butuh mereka berdua untuk menuntut penjelasan.

***

Taeyeon kini sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiffany benar-benar menepati ucapannya untuk tinggal bersama Taeyeon beberapa hari ini. Bersyukur Daddy nya mengijinkan. Dia percaya Taeyeon mampu menjaga anak gadisnya.

Taeyeon bersama Jessica dan juga kedua sahabatnya kini juga berusaha mengumpulkan informasi tentang Kim Hyoyeon. Sangat sulit mencari alamat gadis blonde tersebut karena orang yang bekerja di perusahaannya pun tidak tahu dimana bos mereka tinggal. Namun mereka tidak menyerah. Dia harus menemukan Hyoyeon, dan kalau bisa Hyejin juga.

“Ahjumma!” teriak seseorang.

Taeyeon yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya melihat kedepan. Tepat beberapa meter darinya berdiri seorang Tiffany Hwang dengan eyesmile nya. Dia juga melihat seorang pria jangkung di belakang Tiffany yang tak lain adalah Jun. Taeyeon sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Jun lagi. Dia percaya Jun bukanlah orang yang akan merebut kekasihnya. Pria itu terlihat baik di mata Taeyeon saat ini.

“Kau kemari?” tanya Taeyeon yang dibalas anggukan semangat dari kekasihnya.

“Unnie, mian kami terlambat. Yoong tadi membeli makana- eoh joesonghamnida!” Taeyeon memiringkan kepalanya untuk melihat seorang gadis dengan seragam sama seperti Tiffany menunduk sopan. Dia terkekeh melihat wajah gadis tersebut karena malu.

“Oh. Ahjumma, aku belun memperkenalkan teman baikku yang satu ini. Dia Seohyun dan yang disampingnya Yoona.”

“Aah.. kau gadis sepeda itu kan?” tanya Taeyeon. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kekasihnya.

“Ne, majayo. Terimakasih telah menyelamatkan saya malam itu.” Seohyun menunduk lagi.

“Aih tak apa, jangan terlalu formal Seohyun-ssi. Huumm kalian ada apa kemari?” tanya Taeyeon.

“Tiffany Unnie bilang Ahjumma akan mentraktir kami semua makan.” jawab gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona.

“Yoong, jaga sikapmu!” bisik Seohyun seraya menepuk bahu Yoona.

Taeyeon yang melihatnya tertawa pelan.

“Bolehkan, ahjumma?” pinta Tiffany dengan puppy-eyesnya.

Taeyeon tersenyum. “Arrasseo. Kalian ingin makan dimana?”

“Yeheyy!” teriak Yoona girang.

“Yoong!” Seohyun menepuk bahu Yoona lagi. Kali ini lebih keras. Semua yang ada disana tertawa melihat kedua sahabat tersebut.

Mereka pun keluar dari ruangan Taeyeon. Sebelum itu, Taeyeon menarik Tiffany dan dengan cepat mengecup bibir kekasihnya. Beruntung mereka berdua di belakang, dan bisa dipastikan ketiga teman Tiffany tidak akan melihat.

“Yaish ahjumma!” Tiffany menepuk dada Taeyeon dan menutupi wajahnya. Dia berjalan cepat menyusul temannya karena malu. Taeyeon terkekeh pelan melihatnya.

Seusai mentraktir teman-teman Tiffany makan siang, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Taeyeon menjadi teringat masa-masa saat menjadi pelajar SMA dulu. Yoong sangat lucu dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon. Mereka juga membuat squad saat di restauran tadi. Yoong menyebutnya, squad gwiyomi. Gadis jangkung itu berkata, Taeyeon dan dirinya adalah makhluk paling cute seantero Korea Selatan.

Taeyeon tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Tiffany yang duduk disampingnya mengerutkan keningnya.

“TaeTae, kau masih waras kan?”

Taeyeon makin tertawa renyah. “Aku hanya teringat saat makan siang tadi. Temanmu yang bernama Yoong sangat lucu.”

“Aah, Yoong memang seperti itu. Dia gadis yang unik.” Tiffany terkekeh membayangkan kebodohan dan kelucuan Yoona.

“Ah jamkkanman. Kau tak keberatan mampir sebentar di mall? Aku ingat persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.”

“Gwaenchanha, TaeTae. Aku juga ingin shopping.”

Taeyeon membulatkan matanya. Dia juga menelan ludahnya. Tiffany dan shopping adalah satu kesatuan yang dapat menimbulkan bencana. Selain dompetnya akan terkuras, tenaga, serta waktunya juga akan terforsir. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan nafasnya pelan.

“Neeeh gadisku yang cantik.” ucap Taeyeon terpaksa.

Tiffany tersenyum senang. Dia mendekat dan mengecup pipi Taeyeon. “Gomawoyongg, TaeTae~” aegyeo Tiffany.

Taeyeon memarkirkan mobilnya di basement. Dia mematikan mesin mobil dan berdehem.

“Sebelum keluar, berikan aku vitamin harianku dahulu.” ujar Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya. “Vitamin harian?”

Taeyeon menatap Tiffany kemudian menarik belakang kepala gadis tersebut. “Ini..”

Kemudian Taeyeon meraih bibir pink kissable kekasihnya dan melumatnya. Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Dia mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan gadis yang lebih tua menarik pinggang Tiffany untuk mendekat.

Mereka berbagi ciuman cukup lama. Tiffany yang mulai kehabisan oksigen melepas ciuman tersebut. Namun tak berselang lama, Taeyeon menempelkan bibirnya lagi. Melumat bibir yang menjadi candunya dengan sangat intim. Tiffany tahu Taeyeon merindukan dirinya. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri. Menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Taeyeon melepas ciuman tersebut. Saliva mereka terhubung satu sama lain. Nafas mereka juga terengah.

“One more..” bisik Taeyeon kemudian mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany sampai kewalahan menghadapi ciuman Taeyeon yang terkesan ganas.

Tiffany mendesah saat Taeyeon menghisap lehernya. Menjilat lalu menghisap dan menggigitnya.

“T- Taeyeonhh~”

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dia mencium gadisnya dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Aah~” Keduanya melepas ciuman mereka.

Mereka menatap satu sama lain dengan senyum lebar.

“Kajja kita keluar.” Taeyeon keluar terlebih dahulu. Dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

“Gomawo.” senyum Tiffany.

Taeyeon dan Tiffany mulai berjalan bersama menuju mall. Pertama membeli bahan dapur terlebih dahulu. Banyak yang harus Taeyeon beli. Setelah selesai, mereka pergi ke tempat pembayaran. Taeyeon meminta barang mereka dipaketkan, karena tidak mungkin Taeyeon membawa semuanya.

Setelah membayar dan menyerahkan alamat apartemennya, Taeyeon segera mengikuti kekasihnya yang akan menguras habis dompet dan tenaganya.

Mereka terus mengitari seluruh penjuru mall. Tentu saja dengan berpuluh-puluh belanjaan. Kaki Taeyeon sampai terasa pegal. Dia tidak mengeluh, demi kesenangan gadisnya.

“Woaah~ kyeopta. TaeTae belikan aku sepatu ini!” Mata Tiffany berbinar saat melihat sepatu bermerk dengan warna pink. Dia melihat sekilas harga sepatu tersebut. Dan hal itu membuatnya menelan ludah. Harga tersebut sama dengan harga ponsel keluaran terbaru.

“N-ne. Ambil saja.” ucap Taeyeon.

Tiffany makin tersenyum. Dia mengecup pipi Taeyeon dan membawa sepatu tersebut ke tempat pembayaran. Taeyeon menghela nafasnya pelan. “Hwaiting!”

Setelah empat jam berkeliling mall dan segudang belanjaan yang Tiffany peroleh, mereka berdua akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Taeyeon merasakan tangannya sudah mati rasa karena membawa barang belanjaan Tiffany yang banyaknya diluar nalar. Dia terus menyemangati dirinya sendiri dan terus mengikuti Tiffany dibelakang.

Saat menuruni eskalator, mata Taeyeon tak sengaja menangkap seorang gadis blonde yang tengah menaiki eskalator di sampingnya. Dia tidak terlalu mempedulikan hingga saat dia selesai menuruni eskalator, Taeyeon terhenyak. Gadis itu menjatuhkan semua belanjaan kekasihnya dan langsung berbalik. Menaiki eskalator dengan berlari. Dia tidak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya.

“Ahjumma! TaeTae!” teriak Tiffany dibawah namun Taeyeon tak menghiraukan kekasihnya.

Ada hal yang jauh lebih penting saat ini. Taeyeon berlari mencari gadis blonde sesaat setelah selesai menaiki eskalator. Taeyeon mengerang.

“Sial! Dimana kau, Kim Hyoyeon!” umpat Taeyeon dengan terus berlari mencari Hyoyeon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Satu chapter terselesaikan. Pffiuuh~

Chap ini gaada badai yes. Dan sorry kalo pendek kaya taeng #plak

Gw mau sedikit ngebacot gpp kali ya. Gw tau kalian pasti masih pada butthurt gegara berita sooseotiff leave SM. Gw jg sedih sih, bahkan nangis #bhakbukaaib. Tp mau gmna lagi, itu udh keputusan mrk. Sbg fans kita cuma bisa dukung, ye ngga?

Dan gw gak bakalan tutup wp ato berhenti nulis. Biarin taeny terus hidup di dunia fanfic walaupun di dunia nyata masih kabur atau ga jelas kabarnya.

Gw juga mohon bantuannya. Kalo semisal gw post fic bukan taeny jan pd nganggep gw gak cinta taeny lagi. Of course gw LS dan gak ada yg bisa nggantiin mrk di salah satu tempat yg khusus buat mrk di hati gw. Tapiii, nge-ship idol lain jg bukan dosa atau kesalahan kan? Gw suka eunxiao juga. Itu jauuh sebelum ada berita itu, jd gak ada kaitannya klo pda ngira gw selingkuh krna taeny gak produktif (?) lagi.

So guys how ’bout the story above? Komen juseyoo~ satu komen dr kalian sangat berharga bagi gue.

Last but not least, entsch bakal end ga nyampe dua puluh chapter. Dan kayak biasa, diupdate tiap minggu. Masih bnyak cerita taeny yg nangkring di kepala gw, makanya gw rampungin ini fic dulu baru bkin fic lain.

Okayy pupye~ see u next chap or fic~

Advertisements

Ghost

Happy reading guys~

.

.

.

.

.

.

Story ’bout taengsic

 

 

 

 

Terdengar sebuah suara memekikan dari arah jam dua. Taeyeon bergidik ngeri. Pasalnya ini sudah lewat tengah malam. Gadis pendek itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan tengah berjalan pulang. Dia berbalik, tak ingin meneruskan langkahnya. Dia lebih memilih memutar jalan menjadi lebih jauh daripada lewat jalan di depan sana. Bukannya dia takut, tapi dia tak mau menangkap seseorang yang mungkin sedang meregang nyawa. Bisa-bisa dia dituduh membunuh lagi. Kawasan yang dia lewati memang sering terjadi pembunuhan.

Lagi-lagi suara memekikan itu terdengar. Tapi kali ini Taeyeon menaikan satu alisnya. Ada yang aneh dari teriakannya kali ini. Itu seperti suara lumba-lumba yang merengek. Diakhir teriakan Taeyeon dapat menangkap jelas suara gerutuan. Dia menghela nafas karena penasaran. Setelah menimbang-nimbang, gadis itu berbalik ke jalan tadi. Dia semakin jelas menangkap suara lumba-lumba itu sampai dia melihat seorang gadis cantik yang mengenakan dress biru selutut dan berambut brownie.

“Hei bocah, bisakah kau membawaku keluar dari sini? Makhluk sialan ini terus saja menghadangku!” keluh gadis cantik itu seraya menunjuk kesamping. Taeyeon mengikuti arah telunjuknya, namun dia tak menemukan apa-apa. Hanya ada gadis itu dan dia.

“Maksudmu siapa, nona?” tanya Taeyeon bingung.

“Ah lupakan! Ayo kita pergi.” Gadis itu berjalan ke arah Taeyeon, namun dia berbalik dengan cepat sembari marah-marah. “Sudah kubilang jangan mengikutiku!”

Taeyeon semakin bingung dengan kelakuan gadis cantik didepannya. Hey, itu wajar. Tak ada seorangpun kecuali mereka disana. Bagaimana mungkin gadis itu berteriak marah dan menunjuk telunjuknya ke arah kosong. Masih dalam fase kebingungannya, tangan Taeyeon ditarik oleh gadis itu untuk menjauh dari tempat tadi.

“Kau pasti mengira aku aneh, benar?” tanya gadis yang menariknya tiba-tiba. Taeyeon hanya mampu menjawabnya dengan anggukan.

Gadis itu tertawa lucu. Taeyeon membuka mulutnya. ‘Yeppeuda’ ucap batinnya.

“Aku memiliki kemampuan yang orang lain jarang memilikinya. Aku bisa melihat hantu, dan tadi ada hantu laki-laki yang mengikutiku terus. Aku jadi kesal.” terang gadis itu.

“Ah pantas kau marah-marah pada udara kosong tadi. Kupikir kau sedang mabuk, nona.”

Gadis itu tertawa lagi. Taeyeon menahan nafasnya melihat tawanya. Jantungnya mendadak berhenti berfungsi.

“Ngomong-ngomong kau kelas berapa?” tanya gadis itu.

“M-Mwo?” kaget Taeyeon.

“W-Wae?” Gadis itu mengerjapkan matanya saat Taeyeon memandangnya intens serta sedikit kebingungan.

“Apa wajahku semuda itu? Aku sudah menginjak 27 tahun, nona.”

“What? Yang benar saja!” Gadis itu meraih wajah Taeyeon dan membolak-balikannya. Taeyeon masih diam mendapat perlakuan aneh dari gadis yang beberapa menit lalu ditemuinya.

“Aigoo, kau seperti remaja 18 tahun kau tahu. Aku saja masih tak percaya kau ternyata setua itu.” cicit gadis itu.

“Kusebut itu sebagai pujian. Terimakasih.” balas Taeyeon.

Gadis itu tertawa lagi. “Kau lucu… ng-..”

“Taeyeon. Kim Taeyeon.” ucap Taeyeon cepat.

“Ah, kau lucu, Taengoo.”

“Taengoo?” ulang Taeyeon.

“Ne, itu panggilan dariku untukmu. Kau suka?”

Taeyeon mengangkat bahunya. “Entahlah…” jeda sejenak sebelum Taeyeon meneruskan. “Namamu siapa, nona?”

“Aku Jessica. Jessica Jung.”

“Kau bukan korea asli?”

“Half korean half america.”

“Aah arasseo. Wajahmu terlihat berbeda dari orang korea asli. Kau memiliki nama korea, Jessica-ssi?”

Gadis bernama Jessica berpikir sejenak. Dia menatap Taeyeon dengan tatapan yang sulit dimengerti. Detik berikutnya Jessica tersenyum hangat. Taeyeon bersumpah itu senyum terbaik yang pernah ia lihat. Senyum paling indah dan menyejukan. Darahnya sampai berdesir.

“Tak banyak yang tahu nama korea-ku selain keluarga dan teman terdekatku. Aku tak berniat memberitahukannya pada orang-orang.”

Taeyeon merasa kecewa karena perkataan Jessica menyiratkan kalau dia tak mau memberitahu nama koreanya. Tapi toh siapa Taeyeon? Belum sepuluh menit mereka bertemu. Wajar saja Jessica tak mau memberitahukan nama koreanya. Mungkin itu terlalu pribadi baginya.

“Jung Soo Yeon. Itu nama koreaku.”

“N-Ne?” Taeyeon tampak terkejut. Apa dia salah dengar? Jessica memberitahukan nama koreanya padahal dia termasuk orang asing bagi Jessica. Untuk yang kesekian kalinya Jessica tertawa melihat wajah bingung Taeyeon. Jessica sendiri tidak tahu kenapa dia mudah tertawa. Apalagi karena melihat wajah polos Taeyeon. Jessica termasuk gadis dingin yang tak akan mau memberikan senyum, apalagi tawanya pada orang yang tidak dia kenal. Dia merasa sifat dinginnya perlu ditanyakan sekarang. Siapa yang membawanya pergi?

Jessica menghentikan tawanya. Wajahnya berubah serius. Taeyeon makin mengerutkan keningnya. Jessica meraih tangan Taeyeon sementara tangan yang lain ia tempatkan didepan bibirnya. Mengisyaratkan Taeyeon untuk diam. Perasaan Taeyeon tak enak. Dia merasa bulu kuduknya berdiri menegang. Jessica mendekatkan bibirnya ke telinga Taeyeon dan membisikan sesuatu. “Ratu hantu di daerah sini sedang berkeliling. Dia suka mengganggu wanita yang lewat, apalagi wanita cantik.”

Taeyeon menaikan satu alisnya. “Aku tidak takut. Kan ada kau, Jessica-ssi.”

“Pabo! Dia akan menyamar sebagai wanita cantik lalu membawa korbannya ke sebuah tempat sepi.”

“Lalu?”

“Dia berubah wujud menjadi hantu yang menyeramkan dan menakuti korban hingga pingsan.”

Taeyeon menelan ludahnya. Sebenarnya dia tak percaya hal-hal yang berbau ghaib. Dia tak pernah takut dengan itu semua. Tidak setelah hari ini. Cerita Jessica membuatnya sedikit takut dan mulai mempercayai ucapan Jessica.

“Kau benar tidak takut?” tanya Jessica.

“A-Anio. A-Aku tak takut hal s-seperti itu.” jawab Taeyeon tergagap.

“Kalau begitu, kau tidak takut kalau hantu itu…. aku?”

Taeyeon menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan gerakan pelan, dia menolehkan wajahnya ke arah gadis bernama Jessica.

“Kyaaaaaaaaaa~” teriak Taeyeon. Dia berlari menjauh darisana dengan sekuat tenaga. Dia tak peduli dikatai orang gila karena lari terbirit-birit dengan berteriak. Toh, tidak ada orang yang melihatnya.

Sementara masih di tempat tadi, Jessica tertawa terbahak-bahak. Dia melepas topeng hantu valak di wajahnya. Dia masih tertawa hingga terduduk memegangi perutnya. Gadis itu benar-benar kelewat jahil. Besok dia akan meminta maaf pada Taeyeon karena mengerjainya. Tak sulit untuk itu. Jessica melihat tulisan nama kantor Taeyeon bekerja di kartu pengenal yang gadis pendek itu kenakan. Jessica rasa, dia mulai menyukai kehadiran Taeyeon.

***

Jessica menepati janjinya. Dia datang ke kantor Taeyeon untuk meminta maaf. Dia bertanya pada salah satu karyawan disana tentang dimana Taeyeon berada. Gadis yang lebih tua dari Jessica memberitahukan bahwa Taeyeon bekerja di lantai tiga, tepatnya di Team B dengan bosnya yang bernama Lee Dong Wook. Dia mengucapkan terimakasih dan berlalu dengan anggunnya. Setelah sampai di lantai tiga, Jessica mengedarkan pandangannya. Dia melihat ruangan dengan sekat kaca bening. Dia mengira itu ruangan Taeyeon bekerja. Jessica melihat huruf B besar di sisi kiri tempatnya berdiri. Mungkin itu ruangan team B. Tanpa canggung, gadis cantik itu masuk kedalam dan mendapat tatapan melongo dari manusia yang ada disana. Terkecuali Taeyeon yang masih fokus dengan layar komputernya.

“Annyeonghaseyo, aku ingin bertemu dengan Kim Taeyeon.” Jessica sedikit membungkukan badannya. Merasa namanya dipanggil, Taeyeon mengangkat wajahnya dan menengok ke kanan dan kiri, hingga mata itu menangkap seorang Jessica Jung didepan pintu kaca.

“Kyaaaaa~ hantuuuuu~” Taeyeon berteriak dan menutupi matanya.

“Shinyoung Unnie tolong akuuu~” Taeyeon meraba sampingnya berharap menemukan Shinyoung didekatnya.

Jessica terkekeh pelan. Dia mendekati meja Taeyeon perlahan. Gadis pendek itu masih menutupi matanya dan berpura-pura menangis. Atau menangis sungguhan? Entahlah, Jessica tak tahu. Jessica meraih tangan Taeyeon yang menutupi matanya.

“Hei tenanglah. Ini aku Jessica Jung. Aku manusia. Maaf menakutimu semalam.” ucap Jessica pelan. Taeyeon membuka matanya perlahan. Walaupun masih terlihat sedikit takut.

“K-Kau b-benar manusia? K-Kau tidak bohong, kan?” tanya Taeyeon polos.

Jessica terkekeh pelan. Dia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Taeyeon singkat. Gadis pendek itu tak berbuat apa-apa, dia hanya diam. Sesekali mengerjapkan matanya lucu. Teman-teman kerjanya melihatnya dengan terharu. Sangat sweet.

“A-Apa itu tadi?”

“Ck, kalau aku hantu mana mungkin aku bisa menciummu. Sampai kau linglung seperti itu. Lagipula mana ada hantu yang keluar di siang hari.”

Dalam hati Taeyeon membenarkan ucapan Jessica. Tapi tadi itu- ah, bagaimana Taeyeon menjelaskannya? Saat dimana bibir lembut Jessica menyentuh miliknya. Begitu mendebarkan sampai-sampai dia tak bisa memikirkan apapun.

“Ada apa ini?” tanya pria jangkung yang notabenenya adalah Teamjangnim di team B, Lee Dong Wook, saat melihat karyawannya berkerumun.

“Sica?” panggil Dongwook.

“Ah, annyeong oppa.”

“Kenapa kau disini?”

Jessica tersenyum penuh arti. “Kurasa… aku menyukai karyawanmu, oppa.”

“Kim Taeyeon?” tebak Dongwook. Dia sedikit terkejut melihat mantan kekasihnya menyukai karyawannya itu.

Jessica mengangguk. Dia meraih tangan Taeyeon dan membawanya pergi, keluar darisana.

“Kupinjam Taeyeon sebentar, oppa. Jangan memecatnya, arra?” ucap Jessica sembari berjalan menjauh dan menggandeng Taeyeon yang masih linglung.

“Aish gadis nakal. Jangan apa-apakan Taeyeon. Dia karyawan terbaikku disini!”

Jessica hanya mengangkat jempolnya tanda oke lalu melanjutkan langkahnya keluar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

Ini repost dari wp lama. Hope u like it time traveler~

Sweet Love (Chapter 12)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Hari dimana Tiffany pergi ke kampung halamannya tiba. Tiffany dan Taeyeon bekerjasama membereskan pakaian-pakaian dan kebutuhan lainnya ke koper. Taeyeon pergi keluar kamar setelah memasukkan piyama tidur pink favorit isterinya. Dia kemudian kembali lagi selang beberapa menit. Taeyeon melihat isterinya masih memilah baju mana yang harus dibawanya. Dia mendekat dan memasangkan sebuah kalung di leher isterinya. Tiffany terkejut dan membalikkan wajahnya ke belakang.

“Apa ini, TaeTae?” tanya Tiffany setelah Taeyeon berhasil memasangkan kalung.

“Kau tidak lihat itu kalung?” jawab Taeyeon yang membuat Tiffany memutar bola matanya.

“Maksudku kenapa kau memberiku ini? Ulang tahunku masih lama.”

Taeyeon tersenyum. Dia mencuri kecupan di bibir Tiffany dan kembali memasukkan pakaian yang masih dipilah isterinya ke koper.

“Anggap saja itu aku. Kau bisa melihat kalung itu jika kau merindukanku disana.” jawab Taeyeon santai. Dia terus melipat pakaian Tiffany dan memasukkannya ke koper.

Tiffany masih diam di tempat. Taeyeon berbalik dan menatap Tiffany. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.

“Aku juga punya satu. Kau gembok dan aku kunci. Artinya hanya aku yang bisa membuka hatimu.” Taeyeon kembali tersenyum. Dia meletakan satu pakaian lagi di koper dan menutupnya.

“Jja selesai. Ini sudah jam delapan. Pesawatmu sebentar lagi take off.”

Taeyeon hendak membawa koper untuk mengantarnya ke bandara. Namun sebelum itu Tiffany mencegatnya.

“T-Taeyeon…” panggil Tiffany. Taeyeon berhenti berjalan dan berbalik.

“Ne?”

“Kau tak perlu mengantarku ke bandara. Biar Cha Ahjussi saja yang mengantar. Lagipula kau harus berangkat kerja.”

“No no no. Aku ini kan boss. Tidak masalah kalau terlambat beberapa menit.”

“Meskipun kau boss kau juga harus menjadi contoh yang baik untuk karyawanmu. Gwaenchanha, akan kupastikan Cha Ahjussi mengantarku dengan selamat.” Tiffany menunjukam wajah memelasnya. Hal itu membuat Taeyeon menghembuskan nafasnya kasar.

“Geurae. Tapi biarkan aku mengantarmu sampai depan rumah.”

Tiffany mengangguk dan tersenyum, menyembunyikan kedua bola matanya dalam senyum manisnya. Dia menarik tangan Taeyeon dan mulai melangkah keluar rumah. Setelah sampai tepat di pelataran rumah, mereka melihat Cha Ahjussi yang sudah stand by disana. Tiffany membalikkan tubuhnya menghadap Taeyeon. Dia terus menggenggam tangan suaminya, masih belum rela ia lepas.

“TaeTae apa Jessie akan baik-baik saja?” tanya Tiffany khawatir. Taeyeon tersenyum.

“Khawatirkan dirimu sendiri, Fany-ah. Sejujurnya aku masih belum yakin siapa yang dia incar. Aku akan berusaha untuk melindungi kalian berdua. Jadi tenanglah.” Taeyeon memegang kedua lengan Tiffany untuk meyakinkan.

“Nan mideoyo.” ucap Tiffany. Taeyeon melingkarkan kedua tangannya di tubuh Tiffany. Dia menghirup aroma memabukkan isterinya selama beberapa saat. Menyimpannya kedalam memori nya. Dia akan merindukan ini. Pasti.

Taeyeon melepaskan pelukannya dan menatap Tiffany cukup lama. Dia lalu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah isterinya. Tiffany mengerti. Dia menutup matanya sebelum bibir lembut suaminya menyentuh miliknya. Mereka mendiamkannya selama beberapa detik sebelum bibir atas Tiffany Taeyeon lumat. Mereka mencurahkan semua emosi mereka dalam ciuman lembut nan hangat itu. Ini mungkin menjadi ciuman terakhir untuk beberapa waktu kedepan. Mereka tak akan menyia-nyiakannya. Taeyeon melepas ciumannya karena dirasa sudah terlalu lama. Dia melirik Cha Ahjussi yang memalingkan wajah memerahnya karena malu. Taeyeon terkekeh melihatnya.

“Jja, aku tak ingin menahanmu lebih lama lagi, nanti kau terlambat.” Taeyeon mendorong Tiffany menuju mobil. Isterinya menekukan bibirnya kebawah karena Taeyeon memaksanya masuk.

“Hati-hati dijalan, baby. Kabari aku jika sudah sampai LA, ne?”

Tiffany mengangguk patuh dengan senyum tipis. Dia menunjuk bibirnya sebelum dia benar-benar pergi. Taeyeon terkekeh dan mengacak rambut isterinya. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke jendela mobil dan mengecup singkat bibir Tiffany. Wanita itu tersenyum senang setelahnya.

“Gomawo. Na kanda.” kata Tiffany. Taeyeon tersenyum dan mengangguk.

Mobil Tiffany mulai melaju meninggalkan pelataran rumah. Taeyeon melambaikan tangannya selagi mobil masih dapat dijangkau penglihatannya. Setelah benar-benar tak terlihat lagi, Taeyeon masuk kedalam dan bersiap-siap bekerja.

***

Taeyeon meraih ponselnya di atas meja karena berdering. Matanya masih tertuju pada layar komputer di hadapannya. Dia melihat sekilas ke arah ponselnya dan menggeser ikon hijau sebelum beralih ke layar komputernya lagi.

“Yeoboseyo, Sica.”

“……”

“Sica?” Taeyeon mengulangi ucapannya karena tak ada respon disana.

“Taeng…” 

“Ne, Sica. Waegeurae?”

“Kurasa aku menemukan sesuatu yang aneh.” 

“Apa itu?” Terdengar suara helaan nafas di seberang.

“Sajangnim!” teriak seseorang yang baru saja masuk. Nafasnya terengah. Dia menyadari kesalahannya dan segera membungkuk.

“J-Joesonghamnida. Ng k-keunde, apa anda sudah menerima pesan dari saya?”

“Pesan? Pesan apa?”

Taeyeon memalingkan wajahnya sebentar dengan ponsel ditelinganya, bermaksud mengabari Jessica.

“Mian, Sica. Aku hold dulu panggilannya, ne?”

Sepertinya Jessica mengerti karena dia sedikit mendengar percakapan Taeyeon dengan sekertarisnya. Taeyeon menahan panggilan setelah Jessica bergumam.

Taeyeon beralih menatap sekertarisnya lagi. “Pesan apa Eunha-ssi?”

Eunha mendekatkan wajahnya ke telinga Taeyeon, bermaksud membisikkan sesuatu disana. Jangan salah paham karena yang dikatakan sekertarisnya menyangkut rahasia perusahaan. Taeyeon mengangguk paham setelah Eunha memberitahunya.

“Baiklah aku akan mengembalikan pesan lagi karena tadi pagi aku telah mengosongkan kotak masuk. Kau bisa keluar, Eunha-ssi.”

“Ne Sajangnim.”

Setelah sekertarisnya keluar, Taeyeon kembali menghubungi Jessica. Kali ini ia loudspeaker kan karena harus mengembalikan ulang pesan yang dihapus.

“Eoh Sica kau ingin bicara apa?” tanya Taeyeon seraya membuka aplikasi pengembali pesan dan mulai menjalankannya.

“Taeng, tadi aku melihat seseorang yang mencurigakan. Kurasa itu dia.” 

Taeyeon menghentikan kegiatannya. “Lalu?”

“Beruntung bodyguardmu cekatan. Kami bisa melarikan diri darinya. Tapi aku bisa melihat pakaian dan wajahnya sedikit. Dan…” 

“Dan?” tanya Taeyeon. Dia mengeklik pesan yang sudah terhapus dari Eunha dan menyimpannya. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia mulai mengeklik salah satu pesan yang ia kira mencurigakan.

“Aku kembali melihatnya di sebuah cafe. Dan yang paling membingungkan setelah aku pergi darisana aku melihat Tiffany keluar dari sebuah hotel, maka dari itu aku mengikutinya, T-Tiff juga pergi ke cafe dimana orang itu berada.” 

Mata Taeyeon terbelalak. Selain karena perkataan Jessica, juga pesan yang ia baca dari ponselnya. Tangannya ia kepalkan dengan kuat. Taeyeon mematikan panggilan dan menggebrak meja. Dia meraih jasnya dan pergi keluar dari kantor. Jantungnya berdegup kencang karena takut, cemas, dan khawatir.

Taeyeon melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia tidak peduli dengan nyawanya yang sewaktu-waktu bisa menghilang. Dia hanya ingin cepat bertemu Tiffany dan melindunginya sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Dia benar-benar akan sekarat jika Tiffany tergores walau seinci pun. Taeyeon tak ingin Tiffany nya terluka.

Taeyeon memukul stir mobil dan mengacak rambutnya frustasi. “Fany-ah, berhenti membuatku khawatir.”

***

Tiffany meyakinkan dirinya sendiri kalau yang dilakukannya benar. Setidaknya dia harus mencobanya terlebih dahulu. Dia tak ingin membuat Taeyeon khawatir, jadi dia tak memberitahukan hal ini padanya. Meski berisiko, Tiffany tetaplah Tiffany. Dia akan melanjutkannya untuk Taeyeon. Dia ingin suaminya tidak gelisah atau khawatir lagi. Dan lagipula Taeyeon bukan seseorang yang harus disalahkan disini. Semua terjadi karena kehendak Tuhan, dan atas permintaan Heechul Oppa. Tiffany akan berusaha meyakinkan orang itu.

Tiffany menghembuskan nafasnya pelan. Dia mengelus gelang daruratnya, gelang yang memiliki tombol jika terjadi hal-hal darurat dan polisi setempat akan bergegas menuju tempat tersebut dengan melacak keberadaan gelang. Setelah itu, Tiffany mulai masuk kedalam cafe. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru cafe. Disana terlihat lumayan sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berkumpul, beberapa pasang kekasih atau teman, dan satu keluarga. Tiffany melihat hanya ada satu orang yang duduk sendiri. Dia berpikir, mungkin itu adalah orang yang dia cari. Tiffany lalu mulai berjalan kesana.

“Chogi, apa benar anda Kim Hee Jin?” tanya Tiffany. Wanita itu mengangkat wajahnya dan melihat Tiffany. Dia mengernyitkan dahinya sebelum menyeringai tipis.

“Eoh.” jawabnya.

***

Taeyeon meraih ponselnya dan menekan angka tiga. Dia lalu memasang earphone di telinganya. Terdengar bunyi tuut tiga kali sebelum sebuah suara menyapanya.

“Sica! Neo eodi? Apa kau masih disana?” tanya Taeyeon seraya fokus mengendarai.

“…..”

“JESSICA JUNG SOOYEON!”

Taeyeon mendengar helaan nafas dari seberang sana.

“Mian, Taeng. Aku masih berada di dalam mobil untuk memperhatikan mereka, tapi saat aku pergi sebentar ke toilet a-aku sudah tidak menemukan mereka berdua. Mianhae.” 

“Sial!” umpat Taeyeon. Dia memukul stir dengan keras lagi. Tak peduli jika tangannya akan sakit.

“Baiklah. Kau kembalilah pulang, ne? Biar aku yang mengurus semua.”

“H-Hati-hati, Taeyeon-ah.” 

Taeyeon tersenyum. “Ne.” Setelah itu dia mematikan panggilannya.

Selang beberapa menit, terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Taeyeon membukanya dan mulai membacanya.

Isterimu keren juga berani datang padaku. Kalau kau ingin menyelamatkannya datang ke tempat terakhir kali kita bertemu. 

 

– Kim Hee Jin –

 

Taeyeon menggertakan rahangnya. Dia lagi-lagi memukul stir mobil. Dia lalu memutar arah dan langsung mengemudikan mobilnya ke tempat Tiffany berada.

“Psyco!” teriak Taeyeon.

Di tengah perjalanan, Taeyeon merasa ada yang aneh. Dia melihat sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Dia mencoba menyetir dengan zig zag dan mobil di belakangnya melakukan hal yang sama. Taeyeon lalu menambah kecepatan untuk meloloskan diri dari mobil yang mengikutinya. Namun Taeyeon terkejut saat kecepatan mobilnya tiba-tiba naik tanpa ia kendalikan. Dia mencoba menekan rem namun mobilnya masih terus melaju. Bahkan bertambah cepat. Taeyeon melihat mobil itu lagi di belakangnya.

Taeyeon menggeram. Mobilnya pasti sudah dikendalikan oleh mobil di belakang nya. Taeyeon terus menyetir semampunya. Dia berusaha menghindari mobil lainnya ditengah kecepatan yang tak biasa. Namun saat di perempatan, Taeyeon tak bisa mengelak saat ada sebuah truk melaju dari arah kanan. Taeyeon memejamkan matanya dan berteriak.

*Ckiiiiiit

*Bruuuuuk

*Baaam!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Taeng kenapaah? Pany kenapaahh? Akhir mrk berdua gimanahh? Wkwk

Sorry gaes ngomong gini, but chapter selanjutnya adalah ending. Say bye bye buat nih ff ehehehe. Selanjutnya gw masih ada projek buat ff baru sih buat gantiin SL

Okedah pai pai~ see u next chap

 

P.s : siap-siap pw ya *ups

Sweet Love (Chapter 11)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Akhir pekan yang dinanti. Beberapa orang dari Scarlet Enterprise terlihat memenuhi salah satu bar. Mereka yang datang rata-rata  karyawan single yang ingin bersenang-senang dengan beberapa wanita disana. Tak jarang pula yang hanya ingin menghilangkan stress kerja dengan mabuk.

Di salah satu sudut meja bar, terlihat dua orang pria dewasa tengah bercakap-cakap. Mereka tak memedulikan suasana sekitar yang cukup bising dan lebih memilih meminum minuman mereka diselingi obrolan.

“Aish, kau tahu apa yang terjadi padaku kemarin, huh?” tanya pria yang lebih tinggi dari pria disebelahnya.

“Wae?”

“Aku dimarahi habis-habisan karena terlambat beberapa hari lalu. Heish, kau tahu isteriku baru melahirkan, eoh. Aku harus mengurus anakku terlebih dahulu. Ck jinjja, kalau saja bos kita tidak cantik sudah aku sumpal mulutnya.” Pria itu menenggak minumannya sekali teguk.

Pria disampingnya tertawa keras. “Kalau aku jadi kau, aku akan sangat bersyukur karena diperhatikan oleh Kim Taeyeon walaupun dengan omelan.”

Pria yang lebih tinggi menggeleng dan berdecak. “Ingat dia sudah memiliki isteri.”

“Arra. Tapi tetap saja mereka itu di jodohkan. Sesuatu yang dimulai karena paksaan pasti tak berjalan baik asal kau tahu.”

Pria disampingnya memukul bahunya. “Haish, kau terlalu banyak menonton drama.”

Mereka berdua terus mengobrol tanpa mengetahui seseorang tengah mendengarkan percakapan mereka di bangku samping tempatnya duduk. Dia mengenakan topi hitam, jadi wajahnya tak bisa dilihat dengan jelas.

“Hei, kudengar tunangan Taeyeon sajangnim yang dikabarkan meninggal beberapa tahun yang lalu masih hidup.” kata pria yang lebih pendek. Seseorang disamping mereka membulatkan matanya dan mengepalkan buku-buku jarinya.

“Ya! Mana ada orang yang sudah mati bisa hidup lagi!”

“Aku awalnya juga tidak percaya, Sewoon-ah. Tetapi beberapa waktu yang lalu aku melihat Taeyeon sajangnim bersama seorang wanita. Aku yakin seribu persen wanita itu mirip mantan tunangannya. Dan gosip itu memanglah benar.”

“Jeongmal? Khaaah. Lalu bagaimana dengan hubungan mereka? Kau tahu kan Taeyeon sajangnim dulunya sangat mencintai dia.”

“Entahlah. Mereka mungkin saja masih bisa bersama.”

Kedua pria itu menolehkan kepalanya bersamaan saat mendengar gebrakan cukup keras dari samping tempat mereka duduk. Mereka melihat orang disamping mereka berlari setelah menggebrak meja. Kedua pria itu mengerutkan keningnya lalu menggeleng.

“Anak muda jaman sekarang memang penuh emosi.” kata pria yang dipanggil Sewoon tadi.

***

Taeyeon menggigit bibirnya dan berjalan mondar-mandir. Dia lalu duduk sejenak di sofa dan bangkit lagi. Dia menggigit jari telunjuknya. Matanya terpejam sebelum menghembuskan nafasnya kasar.

Tiffany datang ke arahnya sembari membawa sebuah piring berisi buah-buahan yang sudah dipotong kecil. Dia mengerutkan keningnya melihat suaminya terlihat cemas.

“TaeTae gwaenchanha?”

“Ah kkamjakiya.” Taeyeon memegang dadanya karena terkejut mendapati isterinya di depannya.

“Gwaenchanha?” tanya Tiffany sekali lagi.

Taeyeon mengangguk. “A-ah n-ne t-tentu saja.”

Mata Tiffany memicing. Dia mendekatkan wajahnya pada Taeyeon dengan tatapan mengintimidasi. Taeyeon menelan ludahnya karena gugup.

“Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”

“T-Tentu saja tidak!” Taeyeon makin memundurkan wajahnya saat wajah Tiffany terus mendekat ke arahnya. Tiffany memundurkan kembali wajahnya yang membuat Taeyeon mendesah lega.

“Geurae. Makanlah ini.” Tiffany meletakan piring berisi buah-buahan di meja dan menyuruh Taeyeon duduk disampingnya.

Taeyeon menurut dan mulai duduk disamping isterinya. Dia hanya diam dan menatap kosong ke depan.

“Aaa~” Tiffany menyodorkan sepotong buah ke depan mulut suaminya. Taeyeon sedikit memundurkan wajahnya sebelum memakan buah tersebut.

“Enak?” tanya Tiffany lalu menyendokan sepotong buah ke mulutnya.

“Rasanya seperti buah.”

Tiffany tertawa dengan jawaban suaminya. Taeyeon tersenyum melihat tawa isterinya. Dia mengusap puncak kepala Tiffany sebelum mengambil sepotong buah lagi dan memasukannya kedalam mulutnya.

“Eoh TaeTae, kudengar Yuri dan Jessica akan menikah bulan depan.”

Taeyeon mengangguk. “Ne.”

Tiffany memiringkan kepalanya dan menyatukan keningnya. Terlihat seperti berpikir sesuatu.

“Bagaimana denga orangtua Jessica? Kau bilang mereka masih mendukungmu dengan Jessie.”

Taeyeon meraih tissue di meja dan membersihkan telapak tangannya dan sudut bibirnya sebelum menjawab pertanyaan Tiffany.

“Aku sudah membicarakan itu baik-baik dengan mereka. Awalnya memang sedikit sulit meyakinkan Dad dan Mom. Tapi Yuri berhasil meyakinkan mereka. Kuakui Yul keren saat itu.”

“Aah begitu. Jessie beruntung sekali mendapat Yul. Dia wanita dewasa, tidak seperti mantannya.” Tiffany sedikit menaikkan bibirnya dengan jari telunjuk di dagunya.

Taeyeon menatap isterinya dengan sedikit tak percaya. “Permisi, miss. Siapa yang anda bicarakan?”

“Ah bukan siapa-siapa. Dia hanya wanita pendek yang kekanakan dan byuntae.” jawab Tiffany tanpa berdosa.

“Heol.” Taeyeon membuka mulutnya dan menatap isterinya.

“Tapi walaupun begitu. Isterinya saaaangat mencintai wanita pendek itu hingga aku tak bisa berbuat apa-apa.” lanjut Tiffany.

“Kau benar-benar pandai menggombal huh nyonya Kim.”

Tiffany tertawa pelan. Tangannya bertepuk saat tertawa. Kebiasaannya saat tertawa yang Taeyeon tahu. Tiffany menggeser duduknya hingga berhadapan dengan Taeyeon. Dia sedikit menaikkan tubuhnya agar bisa duduk dipangkuan Taeyeon. Tiffany mengalungkan kedua tangannya di leher Taeyeon. Hidung mereka bersentuhan.

“Aku… saaangat sangat sangat menyukai wanita di depanku ini. Dan itu terkadang membuatku gila.” Tiffany berbicara tepat di depan bibir Taeyeon. Wanita pendek itu sendiri sedang berusaha kuat menahan dirinya agar tak cepat-cepat melumat bibir di depannya itu.

“Taeyeon-ah, gomawo.” Tiffany tersenyum, menunjukan matanya yang melengkung seperti bulan sabit. Taeyeon menaikan satu alisnya sebagai balasan.

“Gomawo karena kau telah lahir di dunia ini dan menerimaku sebagai satu-satunya wanita di dalam hidupmu.”

Taeyeon memejamkan matanya saat Tiffany kembali menunjukan senyum mautnya. Dia berusaha keras menahan sesuatu yang bergejolak di dalam sana. Tiffany membuatnya gila! Taeyeon akhirnya meraih dagu Tiffany dan menarik bibir wanitanya ke dalam mulutnya. Dia mencium Tiffany dengan panas namun masih terkesan lembut. Dia tak ingin menyakiti wanitanya.

Di sela ciuman panas yang tengah mereka lakukan, ponsel Taeyeon tiba-tiba berbunyi. Taeyeon sedikit menarik bibir bawah Tiffany di sela-sela bibirnya sebelum menghentikan ciuman mereka.

Taeyeon meraih ponsel di sakunya dan membukanya. Dia melihat ada satu pesan masuk disana. Taeyeon membukanya dan mulai membaca.

Lama tak berjumpa Taeyeon-ssi. Kuharap kau baik-baik saja. Kurasa kita butuh bertemu untuk membahas sesuatu yang belum tuntas kita selesaikan. Bagaimana? 

 

– KHJ –

 

Taeyeon menatap kosong pesan tersebut. Tangannya yang lain ia kepalkan dengan kuat.

***

Taeyeon menekan beberapa angka untuk membuka pintu apartemen Jessica. Dia tahu passwordnya karena melihat Jessica saat mereka tinggal bersama selama seminggu dulu. Tanpa membuang banyak waktu, Taeyeon segera masuk kedalam.

Di dalam terlihat sepi. Mungkin Jessica tengah pergi. Atau mungkin wanita itu sedang tinggal di rumah orangtuanya. Taeyeon memilih menunggunya di kamar Jessica sekalian berbaring sebentar.

Cklek

Taeyeon membuka pintu kamar Jessica dan masuk kedalam.

“Kyaaaaaa~” Taeyeon menutup telinganya saat mendengar teriakan lumba-lumba Jessica. Wanita itu tengah naked karena berganti pakaian.

“Aish. Jangan terlalu terkejut Sooyeon-ssi. Bahkan kita pernah melakukan lebih.” Taeyeon memutar bola matanya dan berjalan ke ranjang.

“Ya! Keluar dari kamarku!” teriak Jessica. Dia berusaha menutupi tubuhnya dengan handuk.

“Cepat pakai bajumu. Ada hal yang ingin kubicarakan.” ucap Taeyeon seraya membaringkan tubuhnya di ranjang dan memeluk bantal guling milik Jessica.

“Kubilang keluar dari kamarku!”

“Diam atau aku akan menjamah tubuhmu.” Taeyeon menatap tajam Jessica, membuat wanita blasteran itu menghela nafas. Jessica mulai meraih pakaiannya dan memakainya. Selama berpakaian bibirnya selalu ia tekuk kebawah. Apalagi kalau bukan karena si annoying Kim itu.

“Kau ingin bicara apa?” tanya Jessica dengan sedikit tak bersahabat. Taeyeon bangkit dari tidurnya dan beralih duduk. Dia menepukkan tempat di sebelahnya untuk Jessica duduk. Mau tak mau wanita itu menurutinya.

“Waegeurae?” tanya Jessica lagi.

Taeyeon tak menjawab. Dia malah menempatkan kepalanya di pangkuan Jessica dan menatapnya dengan tatapan sendu. Jessica awalnya ingin berteriak kesal, namun ia urungkan saat melihat wajah Taeyeon. Dia tahu pasti ada yang tidak beres dengan mantan tunangannya itu.

Taeyeon meraih tangan Jessica dan memainkannya. Taeyeon menghela nafasnya. “Tak lama lagi kau akan jadi milik Yuri.”

Jessica mengerutkan keningnya. “Lalu?”

“Lalu? Lalu aku akan melihat orang yang kusayangi bahagia tapi bukan karenaku.” jawab Taeyeon dengan mengerucutkan bibirnya. Jessica terkekeh seraya mengelus kepala Taeyeon.

Meskipun mereka sudah memiliki pasangan masing-masing, tapi kedekatan mereka masih sama seperti saat mereka masih memiliki hubungan khusus. Pasangan mereka tak keberatan akan itu. Tiffany dan Yuri tahu kekasih mereka tak akan berbuat curang terhadap mereka. Lagipula Taeyeon dan Jessica sangatlah dekat semenjak belum memiliki hubungan khusus.

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, Taeyeon-ah?” tanya Jessica lembut.

Taeyeon memejamkan matanya dan mendesah. Dia lalu bangkit dari tidurnya di pangkuan Jessica. Dia menatap Jessica lekat-lekat sebelum memeluknya. Detik kemudian tangisnya pecah. Itu tangisan kedua yang Jessica dengar semenjak pertemuan pertama mereka di restoran. Dia menepuk punggung Taeyeon.

“Sicaya, kau tahu betapa aku menyayangimu. A-Aku tak mau kehilanganmu untuk yang kedua kali.” ucap Taeyeon disela tangisannya.

“Aku tak akan meninggalkanmu meski aku bersama Yuri, Taenggu.” balas Jessica.

Taeyeon menggeleng, masih terisak. Dia melepas pelukan mereka dan menatap Jessica.

“Ani. Bukan itu.”

Jessica mengerutkan keningnya. “Lalu?”

“Kau masih ingat kecelakaanmu dulu, kan?” Jessica mengangguk bingung.

Taeyeon menghela nafasnya. “Itu direncanakan, Sicaya.”

Mata Jessica melebar. “MWO?”

“S-Siapa yang m-melakukan itu?” tanya Jessica. Bibirnya bergetar. Air mata mulai turun di pipinya.

Taeyeon mengusap air mata Jessica dan mengecup matanya yang berair. Dia meraih tangan Jessica dan menggenggamnya.

“Mianhae. Tapi kurasa orang itu kembali. Dan aku takut kehilanganmu lagi, Sica.” Taeyeon menggigit bibir bawahnya, menahan tangisan.

Jessica menggeleng. “Katakan siapa orang itu, Taeyeon.”

Taeyeon mendesah. Dia mengelus wajah Jessica dan tersenyum lemah. “Aku akan mengirimkan bodyguard untukmu. Dan aku ingin kau selalu mengabariku kalau kau ingin pergi ke suatu tempat.”

“Kim Taeyeon siapa orang itu?!” teriak Jessica tak sabar.

Taeyeon memejamkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Jessica.

“Dia…”

***

Malam itu Taeyeon tak bisa tidur. Meski sudah terlewat beberapa hari semenjak dia menerima pesan dari orang itu. Dia masih saja merasa takut. Tiffany yang tertidur membelakanginya tahu bahwa Taeyeon dalam keadaan tak baik. Dia hanya diam menunggu suaminya bercerita padanya.

Taeyeon meraih ponselnya dan membukanya. Tak ada pesan lagi dari Jessica. Terakhir kali mereka chat sore tadi saat Jessica bilang ingin pergi menemui sahabatnya di Myeong-dong. Tentu saja ditemani bodyguard yang Taeyeon kirim. Meski Jessica berkata dia akan baik-baik saja tanpa bodyguard tapi Taeyeon terus memaksa demi kebaikannya. Jessica melihat betapa cemasnya Taeyeon jadi dia tak tega menolak niat baik Taeyeon. Dan pada akhirnya dia menerima bodyguard dari Taeyeon untuk mengawalnya.

Walaupun Taeyeon yakin bodyguard itu mampu melindungi Jessica, namun hatinya masih saja khawatir. Taeyeon tak bisa menganggap remeh orang itu. Orang yang menyelakai Jessica.

“TaeTae?” panggil Tiffany. Taeyeon menoleh ke samping. Tiffany masih berbaring membelakanginya.

“Kau belum tidur?” tanya Taeyeon. Tiffany membalikkan tubuhnya menghadap Taeyeon.

“Sepertinya kau lupa siapa aku belakangan ini, Tae.” ujar Tiffany sedih. Taeyeon mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan Tiffany.

“Aku bukan hanya isterimu yang melayanimu sebagai seorang suami, tapi aku juga teman hidupmu yang siap menampung semua keluh kesahmu. Jika kau ada masalah, ceritalah padaku, TaeTae.” Tiffany mengusap wajah suaminya dengan lembut.

Taeyeon meraih tangan Tiffany yang tengah mengusap wajahnya. Dia mengecup kening Tiffany sebelum berbicara.

“Aku tak mau membahayakanmu dalam hal ini, Fany-ah. Dan aku berencana memulangkanmu ke kampung halamanmu.”

“Apa maksudmu, Taeyeon-ah?”

“Dia tak mengincarmu. Namun ada kemungkinan dia juga mengincarmu. Sebelum itu terjadi, aku akan memulangkanmu ke LA terlebih dahulu.”

“Taeyeon sebenarnya apa yang sedang kau katakan?”

“Kemasi barang-barangmu besok, hm? Saranghae.” Taeyeon mengecup kening Tiffany sekali lagi.

“Jaljayo.”

“KIM TAEYEON KATAKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!” teriak Tiffany. Taeyeon tercengang karena ini pertama kalinya Tiffany berteriak padanya. Dia kemudian menghela nafasnya.

“Karena aku tak mau kehilangan siapapun.” Taeyeon menatap Tiffany lekat. Mereka terdiam selama beberapa saat.

“Maka dari itu, kumohon dengarkan aku kali ini, Fany-ah.”

“Aku mencintaimu dan aku menyayanginya.”

“Kalian wanita paling berharga setelah Umma.”

“Aku tak ingin kehilangan kalian.”

“Sudah cukup aku merasa kehilangan. Aku tak mau lagi. Itu menyakitkan.”

Air mata mulai membanjiri pipi Taeyeon. Tiffany juga sepertinya mulai paham kemana arah bicara Taeyeon. Dia mengerti. Maka dari itu dia memilih diam lalu memeluk suaminya dan menepuk punggungnya.

“Fany-ah apa neomu apa hiks~”

Tiffany mengangguk. Dia juga meneteskan airmata melihat suaminya seperti ini. Dia terus menepuk punggung Taeyeon hingga suaminya itu tertidur.

Saat Taeyeon sudah tertidur, Tiffany mendengar ponsel Taeyeon berbunyi. Dia meraih dan membuka pesan tersebut.

Bodyguard, huh? Yang benar saja. Temui aku di cafe biasa besok jam 3. 

 

– KHJ –

 

“KHJ?” gumam Tiffany. Dia mengerutkan alisnya dan berpikir.

“Mungkinkah…” Dia tak melanjutkan ucapannya lagi selain membuka mulutnya dan membulatkan matanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sorry for loooong update. Chapter 12 menyusul sebentar lagi. Wait for yeu

Pai pai~ see u next chap

Sweet Love (Chapter 9)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Tiffany berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sesekali menggigit bibir bawahnya atau menggigit kukunya. Dia merasa cemas dengan perasaannya sebagai seorang isteri. Bukan dia tidak percaya dengan Taeyeon, dia hanya takut jika Taeyeon menyembunyikan sesuatu padanya. Dia tidak mau hal itu terjadi. Terdengar posesif memang, tapi mau bagaimana lagi. Tiffany juga tidak ingin terlihat sebegitu posesif terhadap suaminya. Itu malah akan terlihat seperti… so pathetic. 

Entahlah, menjadi seorang isteri dari seorang goddes Kim terlalu banyak berisiko. Tiffany tahu belakangan ini kalau banyak perempuan dan pria diluaran sana yang menggilai Taeyeon. Aura wanita itu memang terlalu kuat hingga bahkan wanita atau pria yang melihatnya akan jatuh berlutut dihadapannya. Dia bergidik ngeri melihatnya. Taeyeon-nya terlalu sempurna. Bukan hanya fisik, tetapi kerendahan hatinya juga.

Saat sedang cemas memikirkan suaminya, Tiffany tersadar akan sesuatu dan segera mendapat ide untuk membunuh rasa khawatirnya. Dia berlari mengelilingi ranjang dan meraih ponselnya di nakas. Dia membuka laci nakas dan bergegas mencari sesuatu.

Gotcha

Ketemu. Dia meraih secarik kertas bertuliskan nama seseorang beserta nomor teleponnya dan lain sebagainya disana. Tiffany segera menekan beberapa nomor yang ada disana di ponselnya. Setelah selesai, dia menekan tombol call dan mendekatkannya ke telinga. Terdengar suara tuut lima kali sebelum sebuah suara menyapanya di seberang sana.

“Yeoboseyo, dengan siapa ini?” 

“Benarkah ini Eunha-ssi? Saya Tiffany, isteri Kim Taeyeon.”

“Ah, Mrs. Kim. Ada yang bisa saya bantu, Mrs?”

“I-Itu.. A-Apa Taeyeon sedang lembur bekerja? A-Apa dia masih di kantor?”

“Ne, Mrs. Taeyeon Sajangnim beserta divisi kami tengah mengadakan rapat dan kami akan lembur.” 

“Arrasseo. Kalau begitu saya tutup teleponnya, Eunha-ssi.”

“Ba-…” “Fany-ah!” 

“T-Tae?”

“Ya, ini aku. Apa kau mengkhawatirkanku? Kau tenang saja, sayang. Aku memang sedang lembur. Kau istirahatlah, ini sudah hampir tengah malam.” 

Tiffany menghela nafasnya lega. “Ne, TaeTae. Jangan terlalu larut pulangnya. Apa kau sudah makan?”

“Tentu saja sudah. Aku tidak ingin terkena omelanmu karena terlambat makan lagi.” 

Tiffany terkekeh. “Aku tutup teleponnya, TaeTae. Selamat bekerja kembali. Fightaeng!”

Terdengar suara tawa kecil di seberang. “Fightaeng!” 

“Ne, annyeong.”

“Anio, yang benar see you later.” 

Tiffany tertawa renyah. “Arrasseo, see you later, TaeTae. Sudahlah, aku benar-benar akan menutup teleponnya. Kau bekerja yang giat, ne?”

Setelah mengatakan itu, Tiffany buru-buru menutup teleponnya. Dia tidak ingin mengganggu Taeyeon. Dia sudah cukup lega mengetahui suaminya benar-benar tengah bekerja. Dia jadi bisa tidur tenang setelah ini.

***

Taeyeon buru-buru membereskan mejanya selepas rapat dengan beberapa orang dari divisinya. Dia merasa lelah setelah memimpin rapat selama berjam-jam tadi. Dia ingin segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan memeluk isteri tercintanya. Menghirup aroma tubuhnya dan mengecup lehernya sebentar. Membayangkannya saja membuat perutnya merasa penuh dan geli.

Baru saja dia selesai membereskan meja kerjanya dan akan melangkahkan kakinya keluar, ponsel miliknya bergetar di sakunya. Dia meraihnya dan melihat nama Daddy terpampang disana. Taeyeon mengerutkan keningnya. Ada apa Daddy Jessica meneleponnya selarut ini? Dia tidak ingin memikirkannya lebih lanjut dan memilih mengangkat telepon tersebut.

“Hallo, Dad.”

“…….”

“Tapi, Dad. Ini sudah…”

“…….”

“Arrasseo, tunggu aku disana.”

Taeyeon menghela nafasnya. Daddy Jessica mengajaknya- late- dinner bersama. Dia sebenarnya ingin menolak karena dia sungguh-sungguh sangat lelah. Namun bukan Daddy Jung namanya kalau tak memiliki berbagai macam rayuan agar Taeyeon tak menolaknya. Dan pada akhirnya, dia akan pulang jauh lebih terlambat dari yang dipikirkannya. Kini dia berdoa agar isterinya sudah tertidur dan tak perlu menunggunya pulang.

***

Dan disinilah Taeyeon berada sekarang. Di sebuah restoran bintang lima dengan ruangan ekslusif yang hanya bisa dinikmati oleh mereka berempat, dia, Jessica, dan Daddy beserta Mommy Jung.

Taeyeon tersenyum canggung ke arah orangtua Jessica. Dia merasa aneh dengan dinner ini. Meskipun dulu mereka sering mengadakan dinner bersama, tapi sekarang situasinya benar-benar berbeda. Dia bukan lagi bagian dari keluarga mereka. Dia sudah memiliki isteri, begitu juga Jessica yang sudah memiliki calonnya.

“Kau terlihat tegang, Taeyeon.” ujar Daddy Jung.

“Benarkah? Apa itu terlihat jelas?” Taeyeon bertanya dengan meringis.

Daddy Jung terkekeh. “Santai saja, Taeyeon. Anggap saja ini sebagai dinner biasa.”

“Ah, ne. Akan aku lakukan, Dad.”

Taeyeon menyendokan makanan ke mulutnya untuk mengurangi rasa canggungnya terhadap kedua orangtua di depannya. Jessica sedikit tak membantu. Wanita itu hanya berdiam dan memakan makanannya dengan tenang. Seolah tak memedulikan keberadaan mereka. Taeyeon tahu Jessica juga merasa tak nyaman dengan ini. Namun dia bisa menutupinya dengan sangat baik. Tipikal keluarga Jung.

“So, bagaimana dengan isterimu Taeyeon?” tanya Mommy Jung.

“Isteriku? Bagaimana apanya, Mom?” Taeyeon tertawa kecil karena bingung dengan pertanyaan Mommy Jung.

“Yaa, apa dia baik? Lebih baik dari puteriku, mungkin?”

Taeyeon mengerutkan alisnya. Apa Mommy Jung baru saja membandingkan Tiffany dengan Jessica? Jujur dia tidak suka jika ada orang yang membandingkan keduanya. Jessica baik, sangat baik padanya. Sebab itulah dia sangat mencintai wanita itu. Tetapi dulu saat mereka masih bersama. Dan Tiffany? Ah wanita itu. Bagaimana Taeyeon mendeskripsikannya? Dia terlalu sempurna sebagai seorang isteri. Taeyeon tak bisa menyembunyikan senyumnya hanya dengan memikirkan isterinya itu. Daddy Jung menyeringai melihat senyuman Taeyeon. Dia ikut tersenyum sebelum berbicara.

“Tentu saja isteri Taeyeon sangatlah baik. Dia begitu cantik, bukan begitu, Taeyeon-ah?”

Taeyeon terkejut. Dia menunduk malu dan mengangguk. “N-Ne.”

Jessica meletakan sumpit di piring. Cukup keras untuk membuat ketiga orang disana menoleh.

“Daddy Mommy, aku sudah kenyang. Bolehkah aku pulang? Aku sangat mengantuk.” rengek Jessica.

“Sooyeonie, kita belum sampai pada inti dinner. Tunggu sebentar lagi, ne? Huh, kemana para pelayan itu?” bujuk Daddy Jung dengan sedikit menyalahkan pelayan disana.

Jessica mengerucutkan bibirnya lucu. Jika saja Jessica masih menjadi kekasihnya, mungkin bibir itu sudah dilumat Taeyeon karena saking gemasnya.

Lima menit menunggu dengan menyantap makanan mereka masing-masing secara hening membuat Jessica jengah. Dia baru akan membuka mulutnya untuk protes, seorang pelayan datang kesana dan menggagalkan aksinya.

“Permisi, ini pesanan anda, Tuan.” Pelayan itu menyerahkan satu botol wine beserta gelasnya disana.

Daddy Jung tersenyum senang. Setelah pelayan tersebut mengundurkan diri, dia meraih botol wine tersebut.

“Ini wine ter-enak yang pernah kuminum. Kau harus mencobanya, Taeyeon.” kata Daddy Jung.

“Daddy, kau tahu Taeyeon tidak bisa minum.” sergah Jessica. Taeyeon menoleh ke arah Jessica sebelum menatap Daddy Jung dan mengangguk mengiyakan.

“Wow, rupanya ada yang masih ingat kebiasaan seseorang disini.” sindir Mommy Jung.

Jessica menaikkan satu alisnya.

“Tenanglah, Jessie. Hanya satu gelas. Taeyeon akan rugi kalau tidak meminum ini. Kau juga harus meminumnya. Ini sangat enak.” Daddy Jung menuangkan wine ke gelas keduanya dengan perlahan. Jessica menghela nafasnya sebelum meraih gelas tersebut dan meminumnya.

“Kau juga harus meminumnya, Tae.”

Taeyeon meringis pelan dan mengangguk. Dia meraih gelas tersebut dan meminumnya dengan pelan. Dia menunjukan ekspresi aneh setelah meminumnya. Wanita itu benar-benar payah dalam urusan meminum.

Mereka mendengar suara ponsel berbunyi. Ternyata ponsel milik Daddy Jung. Dia pamit ke belakang untuk mengangkat telepon tersebut.

Taeyeon masih terus meminum wine di gelasnya. Meskipun rasanya aneh saat cairan itu masuk ke tenggorokannya. Dia hanya tak ingin terlihat payah di hadapan kedua orangtua Jessica.

“Taeyeon, Jessie. Maafkan Daddy. Ada masalah kecil dirumah. Soojung bilang kran wastafel rusak dan harus segera diperbaiki karena air terus mengalir. Jessie, kau bilang kau akan pulang ke apartemen mu, kan? Kau bisa meminta Taeyeon mengantarmu kalau begitu.” Daddy Jung yang tiba-tiba datang mengatakan itu kepada mereka.

“Tapi, Dad-…”

“Sooyeonie…”

“Arrasseo, kalian pulanglah dan bantu Soojung.”

Daddy tersenyum. “Aku titip puteriku, Taeyeon-ah. Kami pergi dulu.”

“Ne, Dad. Hati-hati di jalan.”

Setelah mengatakan itu, Daddy dan Mommy Jung keluar meninggalkan mereka berdua. Taeyeon menghela nafas, disaat itu juga dia melihat wanita disampingnya juga melakukan hal yang sama. Mereka tertawa pelan menyadarinya.

Tapi hal itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba Taeyeon merasakan panas di sekujur tubuhnya. Dia melihat gelagat aneh Jessica disampingnya yang sama sepertinya.

“S-Sica, apa kau merasa… panas?” tanya Taeyeon berusaha menahan perasaan aneh pada dirinya.

Jessica tak menjawabnya. Dia hanya menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan buku-buku jarinya.

Damn, mereka mencampurkan obat perangsang di dalam wine.” gumam Jessica yang masih bisa di dengar Taeyeon. Jessica menoleh ke arah Taeyeon dan memandangnya dengan tatapan berbeda. She’s full of lust now. 

Tiba-tiba Taeyeon merasakan dirinya terdorong ke belakang. Dia berpikir dirinya akan terjatuh, namun ternyata ridak. Jessica menahannya sembari menyesap bibirnya. Taeyeon tersadar dengan apa yang Jessica lakukan. Disisi lain dia ingin menghentikan Jessica, namun tubuhnya menolak. Dia juga butuh sesuatu untuk melampiaskan hasratnya karena pengaruh obat itu.

Mereka berciuman dengan sangat panas. Bagaikan hidup dan matinya bergantung pada ciuman tersebut. Saat Jessica ingin membuka kancing kemeja Taeyeon, wanita itu tersadar dan mendorongnya. Nafas mereka terengah-engah. Taeyeon juga merasakan pusing menghantam kepalanya.

“Ini tidak benar, Sica.” Taeyeon mati-matian menahan hasratnya itu.

Jessica mengerang frustasi. Dia mendekat ke arah Taeyeon, namun wanita itu menjauh.

“Berdiri disana. Kita tidak boleh melakukan itu, Sica.”

“Taeyeon argh. Ini sangat ugh… please.” mohon Jessica. Taeyeon mengerti perasaan Jessica. Mereka butuh melampiaskan hasratnya jika tidak itu akan menyiksa mereka. Namun beruntung Taeyeon masih bisa berpikir jernih di situasi seperti ini.

“B-Begini saja. Kau datang pada kekasihmu dan aku akan melakukan hal sama. Tahan nafsumu sebentar, Sica. Aku tak mau menyakiti perasaan Tiffany dan Yuri jika kita melakukan itu.”

Meski Jessica merasa tersiksa dengan ini, namun dia menyetujui usulan Taeyeon. Dia juga tidak ingin melukai perasaan kekasihnya.

Mereka berdua pun keluar darisana dengan menahan hormon mereka yang sangat tinggi akibat pengaruh obat tersebut. Mereka memutuskan menaiki taxi daripada menyetir sendiri. Itu hanya akan membahayakan mereka berdua.

Taeyeon tersenyum lemah pada Jessica yang sudah menaiki taxi terlebih dahulu. Dia menunggu taxi selanjutnya yang lewat disana. Beruntung hal itu tak berlangsung lama. Dia benar-benar kewalahan menahannya. Selama perjalanan, wanita itu hanya bisa memejamkan matanya dengan menggigit bibir bawahnya. Dia ingin sekali membuka seluruh pakaiannya, namun itu tidak mungkin dilakukannya di dalam taxi.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang baginya. Taeyeon akhirnya sampai di tempat tujuannya. Dia menyerahkan uang kepada sopir taxi dan dengan cepat berlari memasuki rumahnya. Taeyeon seperti orang kesetanan. Dia mendobrak pintu kamar mereka dan menemukan isterinya tengah tertidur. Taeyeon tidak peduli, dia segera menerjang isterinya dan mencium bibirnya dengan ganas. Tiffany mengerang. Dia membuka matanya perlahan dan melihat Taeyeon diatasnya sedang menciumnya panas.

“T-Tae.. ugh..” erang Tiffany saat Taeyeon menjilat lehernya.

Taeyeon membuka kancing piyama Tiffany dengan terburu-buru. Saking terburunya, dia bahkan merobek piyama isterinya dan membuangnya ke sembarang arah. Dia juga langsung merobek bra isterinya hingga terlihat kedua bukit kembar miliknya.

“Taeyeon apa yang kau laku- aahhh…” Tiffany tak bisa melanjutkan ucapannya lagi karena Taeyeon menghisap putingnya dengan sangat keras sementara tangannya yang lain meremas payudara satunya.

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dan dari situlah Tiffany tahu bahwa Taeyeon habis meminum alkohol. Sepertinya suaminya habis mabuk.

“T-Taeyeon…” Tiffany menahan kepala Taeyeon agar tak menciumnya.

“Kumohon, Fany-ah. Aku membutuhkan ini.” Tiffany melihat mata suaminya yang penuh dengan nafsu.

“K-Kau mabuk?” tanya Tiffany.

Taeyeon menggeleng. “Ceritanya panjang. Yang terpenting aku tidak mabuk dan ugh, aku benar-benar harus menuntaskan nafsuku, sayang.”

Taeyeon kembali mencium bibir isterinya. Melumat, menghisap, dan menggigitnya. Dia memasukkan lidahnya kedalam mulut Tiffany. Mereka berperang lidah satu sama lain.

Dan dari situlah, malam mereka dimulai. Saat Tiffany melayangkan erangan nikmat dibawah sentuhan Taeyeon. Dan ingatkan Tiffany untuk menanyakan hal ini pada Taeyeon keesokan paginya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uuuh suka sama taeng disini. Alhamdulillah doa pany terkabul wkwk.

Oya yg mau gabung grup chat masih terbuka lebar. Kirim aja nomor kalian di email gw beserta nomor hape kalian . Inget guys grup nya di wa ya.

Ni email gw : noviaidafa05@gmail.com

Enjoy read~

Pai pai~ see u next chap~ ^^

 

Sweet Love (Chapter 6)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Entah bagaimana perasaan Taeyeon sekarang. Kini di depan matanya persis, seseorang yang telah mengambil hatinya bertahun-tahun yang lalu, seseorang yang dinyatakan meninggalkan dunia ini, seseorang yang amat dia cintai kembali tersenyum padanya. Taeyeon bagaikan jam usang rusak yang diperbaiki dan dipercantik, menjadi hidup dan berdetak. Rasanya seperti mimpi. Dia bisa bertemu kembali dengan kekasihnya. Apa boleh dia menyebutnya seperti itu? Taeyeon menggeleng.

“Sica-ah, ap-…”

“Aku tahu.” Belum sempat Taeyeon meneruskan ucapannya, Jessica sudah memotongnya.

“Biar ku persingkat. Waktu itu hari Senin, lima April. Aku berangkat dari rumah menuju kantormu saat teleponku tidak kau angkat. Awalnya aku merasa biasa saja berkendara. Tetapi saat di turunan, rem tiba-tiba tidak bisa berfungsi. Saat itu aku panik, apalagi dengan kecepatan yang bisa dikatakan tinggi. Disaat yang bersamaan, sebuah mobil hitam melaju dari arah berlawanan. Aku membanting setir ke ke kanan dan…” Jessica menarik nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya.

“Mobil yang ku kendarai terjun ke jurang. Badanku terasa remuk. Pandanganku menjadi kabur. Saat itu aku sudah pasrah dengan hidupku, namun keajaiban datang. Aku tidak terlalu ingat, namun kurasa pria paruh baya yang kini menjadi orangtuaku sekarang lah yang menolongku saat itu sebelum aku melihat mobilku meledak dan terbakar. Pria berbaik hati itu mengatakan kalau aku mengalami koma selama satu bulan, dan setelah sadar, aku didiagnosis mengalami amnesia…” Jessica menghentikan ceritanya. Dia memandang Taeyeon yang matanya mulai memerah. Dia tersenyum dan menggenggam tangan Taeyeon.

“Aku menjalani kehidupan baru sebagai Kang Jung Hee mulai sejak itu. Orangtua angkat ku membawaku ke China untuk pengobatan lebih lanjut. Dan disitulah aku bertemu Yuri sampai…” Jessica menggigit bibir bawahnya.

“…sampai kami berpacaran dan resmi bertunangan.”

Taeyeon mengepalkan jari-jarinya dibawah meja. Hatinya merasa sakit karena wanita yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain. Jessica tahu Taeyeon pasti sakit mendengar ini. Tapi apa dia juga tidak dihitung sakit sementara wanita imut itu malah sudah berkeluarga?

Jessica menghela nafasnya. “Setahun belakangan ini kami memutuskan untuk kembali ke Korea. Orangtua angkatku bilang kepadaku bahwa sudah saatnya aku mencoba mengingat diriku yang dulu. Meskipun aku ragu karena tidak satupun yang bisa ku ingat tentang diriku. Baru setelah Yuri mengajakku ke acara resepsi kalian, sekelebat memori muncul di kepalaku. Saat kami pulang darisana kepalaku terasa pusing. Aku sampai pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter yang menanganiku terlihat senang. Dia menyuruhku melakukan terapi selama beberapa hari untuk mengembalikan ingatanku, dan yeah- aku kembali mengingat lagi.” Jessica mengakhiri ceritanya dengan senyum kecut.

Taeyeon memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain. Dia menghela nafasnya sebelum menatap dalam manik favoritnya.

“Apa kita masih bisa bersama?” tanya Taeyeon seperti memohon. Jessica menggantungkan pertanyaan Taeyeon di udara. Dia hanya bisa tersenyum pada Taeyeon.

“Kumohon, Sica-ya. Sampai detik ini hatiku masih berdebar untukmu, kau tahu itu.” Setetes cairan bening lolos dari pipi Taeyeon. Dia masih menatap Jessica dengan tatapan memelas.

“Aku tahu, Taeyeon-ah. Begitu juga denganku.” Taeyeon tersenyum mendengar ucapan Jessica.

“Namun kita tahu kita sudah memiliki pasangan masing-masing. Kau dengan Tiffany dan aku dengan Yuri.” Perkataan Jessica yang satu ini membuat ekspresi Taeyeon berubah datar. Jessica menyadari itu. Dia menggenggam tangan Taeyeon.

“Lupakan aku. Jalani kehidupan barumu dengan isterimu. Aku hanya masa lalu mu Taeyeon-ah.”

Taeyeon menarik tangannya dan menggeleng. “Bisakah kita egois kali ini Sica-ya? Kalau bukan karena kecelakaan sialan itu kau pasti masih menjadi milikku! Kau juga masih mencintaiku, bukan?”

Jessica mengangguk. “Tapi Tiffany lebih membutuhkanmu, Taeyeon. Dan Yuri membutuhkanku. Mengertilah.”

Taeyeon berusaha keras menghalau airmatanya untuk turun. Dia merasakan sakit untuk yang ke sekian kalinya. Dia menghembuskan nafas kasar sebelum berbicara.

“Aku tahu. Tapi untuk kali ini, tolong kabulkan satu permintaanku.”

“Apa itu?” Taeyeon tak menjawabnya. Dia hanya memandang Jessica dengan tatapan yang sulit dimengerti. Jessica berharap permintaan Taeyeon tidak akan menyakiti hati siapapun.

***

Tiffany mengeluarkan airmatanya untuk ke berapa ratus kali. Hampir setiap hari wanita itu menghabiskan waktu untuk menangis. Sudah lebih dari seminggu suaminya tidak pulang. Dia tidak bodoh, tentu saja suaminya itu bersama kekasihnya, Jessica Jung. Dia bahkan sudah mengajukan surat perceraian untuk Taeyeon. Hanya tinggal wanita itu menandatanganinya dan setuju untuk bercerai, lalu dia bisa kembali pada wanita tercintanya.

Seharusnya dari awal, Tiffany menolak perjodohan itu. Dia tidak perlu merasakan sakit semacam ini kalau saja dia sedikit membangkang pada Daddy nya. Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Menyalahkan hal yang lalu pun tak ada guna. Menangisi takdir juga percuma. Mungkin Tuhan tengah mencoba kehidupan asmara nya agar kedepan bisa lebih baik lagi.

Saat akan keluar untuk merawat tanaman favorit Taeyeon, Tiffany mendengar deru mobil di depan rumahnya. Dia menengok sekilas di jendela dan melihat mobil audi putih milik Taeyeon terparkir disana. Tiffany merasa terkejut mendapati kepulangan Taeyeon. Dia pikir Taeyeon tak akan pernah kesini lagi. Tapi dia berpikir lagi, ini rumah Taeyeon jadi dia berhak kemari kapan saja. Harusnya dia yang pergi dari rumah ini.

Tiffany merasakan getaran kecil di sakunya. Dia meraih ponselnya dan melihat ada satu pesan dari nomor tak dikenal.

Jaga Taeyeon baik-baik, Tiffany. Aku yakin cepat atau lambat dia akan mencintaimu. Hwaiting! ^^      – JJ

“JJ?” gumam Tiffany.

Tiffany tak langsung menanggapinya karena Taeyeon sudah masuk kedalam rumah dan berdiri beberapa meter darinya. Mereka hanya diam. Cukup canggung karena sudah berhari-hari mereka tidak berbicara, ataupun sekedar bertukar kabar via suara atau pesan.

“Kau.. pulang?” tanya Tiffany pada akhirnya. Taeyeon menatap datar Tiffany. Wanita bereysmile cukup sakit mendapat reaksi seperti itu. Tapi dia biarkan dan tetap tersenyum.

“Kemari.” titah Taeyeon dengan wajah dinginnya. Tiffany bingung dan masih diam.

“Kubilang kemari!” desis Taeyeon. Tiffany menelan ludahnya dan dengan langkah perlahan mendekat ke arah Taeyeon. Hal yang tak diduga terjadi. Taeyeon mendekap Tiffany sangat erat. Dia berkali-kali mengecup bahu dan leher Tiffany. Wanita yang dipeluknya tak bisa berpikir jernih. Dia merasa shock dengan perlakuan suaminya. Dia kira dia akan diusir dari rumah ini dan Taeyeon ingin mengajukan perceraian padanya.

“Mianhae, Fany-ah. Mianhae…” lirih Taeyeon. Dia merasa bersalah telah menyakiti hati wanita sebaik Tiffany. Jika bukan karena Jessica, mungkin Taeyeon tak akan pernah sadar akan cinta tulus isterinya.

“Jangan tinggalkan aku, kumohon…”

Tiffany tersadar. Dia merasa tersentuh dengan permohonan Taeyeon barusan. Dengan cepat dia mengangguk mengiyakan. Wanita itu membalas pelukan Taeyeon dan menepuk-nepuk punggung Taeyeon dengan pelan. Setelah dirasa cukup, Taeyeon melepas pelukannya dan menatap isterinya. Dia mengusap pipi Tiffany dengan sayang, lalu menjatuhkan kecupan ringan di keningnya. Tiffany memejamkan matanya, menikmati sentuhan Taeyeon di keningnya.

“Saranghae.” ungkap Taeyeon. Tiffany membuka matanya dan menatap Taeyeon, seperti mengatakan, ‘benarkah?’

Taeyeon tersenyum. “Aku bersumpah akan menjatuhkan lebih banyak cinta dariku untukmu, Fany-ah. Aku akan berusaha. I promise.”

Tiffany melihat raut kesungguhan dari wajah Taeyeon. Dia tersenyum. Airmatanya tak terbendung lagi. Dia bahagia, Taeyeon tidak jadi meninggalkannya. Dia bahagia tidak harus berpisah dengannya. Dia bahagia Taeyeon-nya bersumpah untuk berusaha mencintainya. Dia bahagia karena Taeyeon!

Taeyeon mengusap airmata isterinya. Dia mengecup matanya yang berair. Kemudian menatap wajah cantik Tiffany cukup lama. Seperti tersihir, dia mulai mendekatkan wajahnya dengan pelan. Taeyeon menutup matanya saat dia berhasil mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Tiffany. Taeyeon bergerak melumat bibir isterinya dengan pelan. Berharap kesungguh-sungguhannya tersalurkan dalam ciumannya. Tiffany ikut memejamkan matanya dan membalas lumatan demi lumatan yang Taeyeon lakukan. Jika boleh jujur, dia ingin merasakan ini sepanjang hidupnya. Sentuhan Taeyeon membuatnya merasa, nyaman dan damai. Dia merasa bahagia dan utuh. Taeyeon miliknya dan akan terus menjadi miliknya!

Setelah cukup dan merasa membutuhkan oksigen, Taeyeon melepas ciumannya. Saliva mereka terhubung saat Taeyeon melepasnya. Dia mengecup bibir Tiffany singkat sebelum menatap wajahnya lagi.

“I’ll never make a promise that I can’t keep. So trust me, Fany-ah.” 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ngga deng bertjanda…

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Yuhuu~ uas akhirnya kelar. Bebas bebas wkakaka. Noh yg penasaran kelanjutan fic absurd gw.

Enjoy read~

Pai pai~ see u next chap~

 

 

 

 

 

 

Sweet Love (Chapter 5)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Tiffany menghentikan kegiatan mengetiknya. Ada hal yang mengganggunya akhir-akhir ini. Bukan lagi tentang rasa penasarannya mengenai masa lalu Taeyeon. Suaminya itu sudah menjelaskan padanya tempo hari. Namun itulah yang menyebabkan dirinya merasa gelisah. Taeyeon bilang kepadanya kalau mantan kekasihnya yang bernama Jessica Jung masih hidup, meskipun Taeyeon sendiri belum memastikan hal itu memang benar atau tidak. Taeyeon bilang padanya kalau dia melihat Jessica saat resepsi pernikahan mereka, namun wanita itu menyebut dirinya dengan identitas yang berbeda. Dia juga tidak mengenal Taeyeon sebelumnya. Meskipun begitu, Tiffany tetap saja takut, jika memang Jessica ternyata masih hidup dengan identitas Kang Jung Hee seperti yang dibicarakan suaminya, apakah Taeyeon akan berpaling darinya? Apakah karena dia mulai mencintai suaminya itu? Tiffany rasa iya. Dia mengerang karena frustasi memikirkan hal tersebut.

Tapi Tiffany juga tak ingin menjadi orang jahat disini. Jika memang Jessica masih hidup dan keduanya masih memiliki perasaan yang sama, dia bisa melakukan apa? Mungkin dia harus melatih mentalnya mulai dari sekarang kalau sewaktu-waktu Taeyeon pergi dari sisinya.

Tiffany menundukan kepalanya di lipatan tangannya yang dia sandarkan di meja. Kepalanya sedikit pusing karena terus memikirkan hal tersebut. Kenapa dia begitu cepat mencintai suaminya sedangkan Taeyeon tidak? Rasanya dia ingin menangis karena ini.

“Fany-ah.” panggil Taeyeon. Tiffany mengangkat kepalanya dan melihat suaminya di depannya, masih mengenakan pakaian kerjanya.

“Kau kenapa? Apa kau sakit?” Taeyeon menyentuh dahi isterinya dengan telapak tangan.

“Anio, TaeTae. Aku hanya pusing memikirkan jalan cerita novelku mungkin.” bohong Tiffany.

“Aigoo, jangan terlalu memforsis dirimu, Fany. Aku tak mau kau sakit.” Taeyeon mengelus kepala Tiffany sayang. Perlakuan kecil itulah yang Tiffany suka dari Taeyeon. Kalau seperti ini terus, dia tak akan rela melepas Taeyeon-nya.

“Jam berapa sekarang? Kenapa kau sudah pulang?” tanya Tiffany menyadari kalau ini masih siang hari.

Taeyeon tertawa pelan. “Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama isteriku.”

Tiffany memejamkan matanya kuat. Dia bingung pada sikap Taeyeon yang menunjukan bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama. Tapi disisi lain, Tiffany sering melihat Taeyeon menatap sendu pada bingkai foto Jessica dan memeluknya. Tiffany tahu, wanita itu belum benar-benar melupakan wanita tercintanya di masa lalu. Atau Tiffany bisa mengatakan kalau Taeyeon masih sangat mencintai wanita itu?

“Tiffany, kau baik-baik saja?” tanya Taeyeon khawatir.

“Taeyeon-ah, mari bertemu Kang Jung Hee.” Tiffany menatap suaminya dengan serius.

“Ap- Apa yang k-kau bicarakan, Fany-ah?” Taeyeon tergagap.

“Kita tidak tahu Kang Jung Hee itu adalah Jessica atau bukan kalau kita tidak memastikannya.”

Taeyeon menggeleng. Dia mengalihkan pandangannya dan menunduk. “Aku takut.”

“Apa yang kau takutkan, hm?” Tiffany mengangkat dagu Taeyeon pelan.

“Aku takut jika Kang Jung Hee memang benar adalah Sica. Aku takut hatiku belum siap menerimanya yang tidak mengenalku. Apalagi dia milik Yuri.” Pelupuk mata Taeyeon sudah digenangi airmata. Satu kali kedipan, jatuh sudah cairan bening itu.

“Aku akan ada disana untuk menguatkanmu, Taeyeon-ah. Percaya padaku.” Tiffany meyakinkan Taeyeon, lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri, kalau dia melakukan hal yang benar. Dia tahu dia bukanlah sumber utama kebahagiaan suaminya. Dia ikhlas jika Taeyeon kembali pada mantan kekasihnya itu jika Jung Hee benar Jessica.

Tiffany mengecup bibir suaminya kilat. Dia lalu memeluknya erat, menahan isakkannya sendiri.

***

Taeyeon dan Tiffany sudah berada di restoran tempat mereka janji bertemu dengan Yuri dan Jung Hee. Wanita tan itu tak keberatan dengan undangan personal Taeyeon. Dia bahkan sangat senang mengingat Taeyeon adalah orang yang dia kagumi mengenai urusan pekerjaan. Wanita itu memotivasinya dalam bekerja.

Di tempat duduknya, Taeyeon merasa gugup. Tangannya yang dingin mengeluarkan keringat. Taeyeon benci situasi seperti ini. Dia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya dengan normal. Tiffany yang ada disampingnya membantu suaminya dengan dukungan moril. Dia terus meyakinkan Taeyeon bahwa semua akan baik-baik saja.

Lonceng di pintu masuk berbunyi. Taeyeon dan Tiffany serempak menolehkan pandangannya ke arah pintu. Mereka melihat wanita tan tengah menggandeng wanita anggun yang terlihat berkharisma. Taeyeon tak bisa mengendalikan hatinya. Dia bangkit berdiri dan menatap Jessica dengan haru. Tanpa sadar, sebait lagu dia nyanyikan dengan suara merdunya. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Saat pertama melihat Jessica, hanya lagu itu yang terlintas di benaknya.

 

neugginayo jeo byeoldeului somaneul

deuneolbeun naui gaseumeul

 

Yuri dan Jung Hee semakin mendekat ke arah mereka. Taeyeon tak bisa menahannya, dia melanjutkan lagu tersebut.

 

deulrinayo maeumsokui ulrimeul

noppureun naui yaegireul

 

Air matanya turun. Jessica- tidak- Jung Hee membalas tatapan mata Taeyeon yang tersirat luka didalamnya.

 

you bring me joy

you bring me love

eonjena hangyeol gateun geot

 

Taeyeon memejamkan matanya. Dia merasakan sesuatu menghimpit rongga dadanya setelah menyelesaikan bait terakhir yang dinyanyikannya. Dia merasakan sakit yang luar biasa mengingat itu adalah lagu ciptaan mereka yang dijanjikan akan mereka nyanyikan bersama di pernikahannya.

 

you make me smile

you give me hope

urineun aljyo

urineun aljanhayo

urineun algo issjyo

 

Taeyeon membuka mulutnya tak percaya. Seorang Jung Hee meneruskan lagu yang dia nyanyikan! Benarkah Taeyeon sedang tidak mengalami gangguan fungsi pendengaran? Dia menggeleng dan membekap mulutnya untuk menahan isakkannya.

 

jageumahan supsokui noraedeuleul

geudaen mideul su issnayo

 

Jung Hee meneruskan lagunya lagi. Taeyeon mengepalkan buku-buku jarinya. Taeyeon bersumpah tak ada yang tahu lagu itu selain mereka berdua, selain Kim Taeyeon dan Jessica Jung. Taeyeon menarik tubuh Jung Hee ke pelukannya. Dia memeluk wanita itu sangat erat, seperti tak ingin melepasnya. Taeyeon menangis terisak di bahunya, sampai dia mendengar isakkan lain. Wanita yang dipeluknya juga menangis. Taeyeon tersenyum disela tangisannya.

Tiffany melihat mereka berdua dengan tersenyum. Meski tak dipungkiri hatinya menolak itu. Berbeda dengan Yuri yang melihat mereka dengan wajah bingung.

“Sica-ya, neomu bogoshippo.” ungkap Taeyeon. Wanita itu merasakan anggukan kecil di bahunya.

“Sica?” tanya Yuri. Wanita itu benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini.

Mereka melepaskan pelukannya satu sama lain. Keduanya tersenyum dan terkekeh pelan. Meski wajah mereka masih merah akibat menangis. Jung Hee, atau kini Taeyeon menyebutnya Jessica menatap Yuri dengan tatapan menyesal.

“Ceritanya panjang, Yuri-ah.” ucap Jessica.

“Aku punya banyak waktu untuk mendengar.”

Jessica menggigit bibir bawahnya melihat Yuri. Dia bingung harus memulainya dari mana. Dia melihat Taeyeon yang masih menatapnya dengan pancaran kebahagiaan. Dia juga bingung harus mengatakan apa pada Taeyeon mengenai petualangannya semenjak kecelakaan itu. Jessica bingung memutuskan bercerita kepada Yuri atau Taeyeon terlebih dahulu. Mereka berdua adalah orang-orang yang sangat dia sayangi. Namun dia memutuskan berbicara pribadi dengan Taeyeon terlebih dahulu.

“Yuri-ah mian. Aku akan menjelaskannya padamu nanti. Aku berjanji akan melakukannya. Dan sebelum itu, aku ingin berbicara pribadi dengan Taeyeon. Bolehkah?” tanya Jessica. Dia menatap Yuri dengan harap-harap cemas.

Yuri kemudian tersenyum. Dia mengangguk dan mengusap kepala Jessica. “Arrasseo, aku akan menunggumu di mobil, Hee-ya.”

Setelah mengecup kening Jessica, Yuri keluar dari restoran tersebut menuju mobilnya. Jessica menatap punggung Yuri yang menjauh. Setelah tak terlihat, dia beralih menatap Taeyeon. Mereka tak berbicara, hanya menikmati diam yang begitu menyenangkan bagi Taeyeon. Sebelum suara Jessica yang pertama memutuskan kediaman

“Lama tak berjumpa, Taeyeon-ah.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Weyy gw apdet lagi. Sorry buat LS mungkin ini gak ada sweet2nya blas haha. Ga selamanya taeny itu sweet kan. Gw mikir realistis aja. Coba bayangin klo kalian punya seseorang yg kalian bener2 sayangin yg udah lama ga ketemu? Gimana rasanya? itu yg taey rasain wkwk

Next chap mungkin tengsic betebaran. Tapi santae aja. Ini judul fic kan sweet love. Pasti tak tambahin sweet moment nya… di taengsic *ups

Wkwkwk gak lah. Taeny juga. Mereka kan main cast.

Oya ada yg tau diatas lagu apaan? Yup, you bring me joy nya the one ft taey. Asli itu lagu gw sukaaak banget!

Wes ah cuap2nya.

Pai pai~ see u next chap~

Back To Love (Oneshoot)

Title : Back To Love

Main Cast : TaeNySic

Genre : GXG

Length : Oneshoot

Author : N

.

.

Warning! 

There will be some NC scene on this story. I warn you guys~ 

Enjoy read~

Satu tangan Taeyeon yang bebas menggenggam tangan Tiffany di pangkuannya. Gadis itu berusaha menyalurkan kekuatan pada gadis yang lebih muda. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju cafe biasa tempat mereka mengadakan pertemuan dengan member grup. Namun kali ini berbeda, mereka berdua bermaksud menemui ‘teman lama’ mereka.

“Gwaenchanha?” tanya Taeyeon gentle. Tiffany tersenyum dan menganggukan kepalanya. Diangkat tangan Tiffany dalam genggamannya dan diciumnya lembut. Perlakuan manis Taeyeon itulah yang membuat gadis disampingnya semakin mencintainya.

“Kita sampai.” ucapan Taeyeon berhasil menyadarkan Tiffany dari lamunannya tentang gadis imut kekasihnya itu. Taeyeon membuka pintu mobil dan keluar terlebih dahulu. Setelah itu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Tak lupa memakaian masker untuk Tiffany seperti yang dilakukan kepada dirinya sendiri.

Taeyeon menggandeng tangan Tiffany erat. Mereka berdua pun mulai memasuki cafe yang cukup lengang. Cafe yang bisa dipastikan tak akan ada wartawan atau stalker. Mereka berjalan ke arah ruang VVIP yang sudah dipesan oleh ‘teman lama’ mereka. Tak sulit mencari seseorang yang mengundang mereka. Dengan model rambut curly brownie nya dan dress biru selutut ber-merk brand miliknya. Siapa lagi jika bukan Jessica Jung? Atau bolehkah dipanggil Eoleum gongju seperti panggilan dia dulu?

Taeyeon menyunggingkan senyum tipisnya pada Tiffany dan mengangguk. Setelah itu, dia menarik tangan Tiffany pelan dan duduk didepan Jessica.

“Kalian membuatku menunggu hampir lima belas menit.” ucapnya dengan wajah dingin sembari mengaduk-aduk strawberry-float nya.

“Kau ada perlu apa dengan kami, Jessie?” tanya Tiffany berusaha bersikap ramah. Taeyeon tahu, hati Tiffany berbanding terbalik dengan senyuman yang ia tunjukan saat ini.

“Kenapa kalian terlambat?” tanya Jessica mengabaikan pertanyaan Tiffany barusan. Gadis yang biasa bersikap ceria itu kini mengepalkan tangannya erat, namun masih terpampang wajah ramahnya dihadapan ‘teman lama’ nya itu.

“Tiff-…”

“Tiffany baru pulang dari LA dan masih merasa lelah? Itu maksudmu?” Belum sempat Taeyeon membuka mulutnya, Jessica sudah memotongnya.

“Ya, dan bukan itu saja. Aku juga sibuk menyiapkan konserku.” Kali ini Taeyeon harus menyiapkan kesabaran ekstra nya menghadapi Jessica, atau bolehkah ia memanggilnya mantan kekasihnya?

“Okay. Aku mengerti.” Jessica menganggukan kepalanya, masih tetap tak berniat melihat kedua orang di depannya.

“Katakan apa perlumu dan kami bisa pergi. Tiffany butuh istirahat.” Taeyeon berkata dengan tegas. Bukan dia tak suka bertemu Jessica. Apa kata yang pantas untuk menggambarkannya? Risih? Tak nyaman? Entahlah, ini sudah hampir tiga tahun. Hubungan mereka sebelumnya pun bisa dikatakan tidak baik. Apalagi mereka sama sekali tak berkomunikasi setelah kejadian 30 september 2014 lalu.

“Santailah Taeyeon-ssi. Tiffany-ssi apa kau keberatan menemuiku? Kau masih lelah dan ingin pulang?” Mata Jessica menatap mata Tiffany dalam, seperti… mengancam?

Tiffany tersenyum, berbeda dengan kedua tangannya yang terkepal di pangkuannya. “A- Anio, Jessie. Aku baik-baik saja.”

“Nah, Tiffany-ssi saja tak keberatan. Bagaimana denganmu Taeyeon-ssi? Sepertinya kau tak sama dengan Tiffany-ssi.”

“Hentikan, Sica-ah! Katakan apa maumu sekarang?!” Kesabaran Taeyeon memuncak. Tiffany meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya erat, berusaha meredam emosi Taeyeon.

Jessica berdecak pelan. “Apa itu caramu memperlakukan teman lamamu, Taeyeon-ssi? Benar-benar tidak sopan.”

Taeyeon memejamkan matanya, dia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar. Gadis itu lebih memilih diam. Lama mereka dalam mode diam, hingga seorang waitress mendekati mereka bertiga dan menaruh pesanan.

“Makanlah, aku sudah memesannya tadi. Kalian masih menyukai ini, bukan?” Jessica menaikan satu alisnya. Taeyeon menghela nafasnya namun tetap meraih makanan yang dipesan Jessica. Sama halnya dengan Tiffany. Gadis pemilik senyuman maut itu berubah menjadi pendiam setelah menerima kabar bahwa Jessica mengundang mereka berdua. Padahal saat sebelum pulang, Tiffany menghubungi Taeyeon menggunakan video call, gadis itu begitu bersemangat menceritakan harinya di LA.

“Bagaimana dengan persiapan konser solo-mu, Taeyeon-ssi?” tanya Jessica.

“Cukup, Sica! Berhenti berbicara formal. Kita bukan orang asing, oke?”

“Menurutmu seperti itu? Tiga tahun tanpa komunikasi kau sebut tak asing? Kau melukai hatiku, Taeyeon-ah.” Mata Jessica mulai memanas.

“S- Sica-ya~” Taeyeon menggigit bibir bawahnya.

“Kau benar-benar jahat, Taenggu. Kukira setelah aku keluar dari grup semua akan baik-baik saja. Aku sudah meyakinkan diriku, tapi…” Jessica menyeka sudut matanya yang berair. “….tapi aku salah. Aku masih saja berlarut memikirkan kau, aku, kita. Taeyeon, ini benar-benar menyakitkan. Melihat hubungan kita yang tak baik hingga saat ini hiks~”

“Aku sudah terbiasa dengan komen negatif dari orang-orang yang membenciku, tapi melihat kau yang sama seperti orang-orang itu sangat melukaiku. Sakit Taeyeon-ah sakit…”

“…aku sudah mengorbankan harga diriku untuk me-notice grup saat diwawancarai dan dianggap pengemis popularitas hanya demi kau Kim Taeyeon! Aku berharap kau sadar bahwa… hiks~”

“Kau kira aku sekuat itu? Bertahan menyukaimu hingga detik ini? Hingga kukorbankan grup dan dianggap bitchy oleh orang-orang?”

Taeyeon membuka matanya lebar-lebar mendengar pengakuan Jessica barusan. Gadis itu (masih) menyukainya?

“Itu salahmu sendiri, Jessi! Kau terlalu banyak menyakiti Taeyeon dengan berkencan dengan banyak idol lain!” Itu suara Tiffany. Jessica dan Taeyeon serempak menoleh ke arah Tiffany yang wajahnya memerah. Gadis itu juga tengah menahan tangisnya.

Jessica tertawa pelan. “Kau pikir apa alasanku melakukan itu? Karena kau, Tiffany! Aku tahu kau menyukai Taeyeon dari lama. Aku mengorbankan perasaanku sendiri demi kau, asal kau tahu!”

“A- Apa?”

“Orang-orang terdekatku mencelaku karena aku menyukai sesama jenisku, bahkan keluargaku. Kau masih ingat mengapa adikku sangat membencimu, Taeyeon-ah? Itu karena dia mengira kau yang membuatku menjadi penyuka sesama jenis. Sejak saat itu, aku sering berkencan dengan banyak idol agar kau membenciku, lalu Tiffany bisa menggantikan posisiku, dan ya itu berhasil. Orang-orang juga sudah tak lagi mencelaku.”

“Dan aku sadar aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar. Aku merelakan grup, dan aku merelakanmu. Kurang bodoh apa aku?” Jessica menyeka sudut airmatanya dan menghela nafas.

“Kurasa aku terlalu banyak bercerita. Aku harus pergi. Nikmati waktu kalian. Permisi.” Jessica hendak berdiri, namun tangan Taeyeon mencegahnya.

“Duduk.” titahnya dingin tanpa menatap wajah Jessica. Tanpa banyak bicara dan protes, gadis itu duduk kembali.

“Bagaimana dengan Tyler, brand mu, dan apa hubungannya dengan keluarnya kau dari grup?” tanya Taeyeon tanpa ekspresi.

“Kukira kau sudah mendengarnya dari agensi?”

“Aku ingin penjelasan dari mulutmu langsung.”

“Bagaimana kalau aku tak ingin menjawabnya?” Jessica menaikan satu alisnya. Taeyeon menunjukan ekspresi kesal, Jessica malah membalasnya dengan terkekeh.

“Kurasa penjelasanku tadi cukup untuk mewakili semuanya. Dan soal Tyler oppa, dia orang baik yang menawariku berbisnis. Kau tahu sendiri aku menyukai bisnis. Kesempatan tidak datang dua kali bukan? Sebagian dari kalian tak menyukai oppa dan kurasa itu salah satu alasan terbaik agar aku bisa keluar dari grup? Dan bisa melupakanmu.” Kalimat terakhir Jessica ucapkan dengan pelan, namun masih bisa didengar Taeyeon.

“Kau masih menyukai- ani- mencintaiku?”

“Kau tahu sendiri jawabannya, Taenggu.”

Taeyeon mengangguk. Dia kemudian meraih ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

“Yeoboseyo. Hyo, aku butuh bantuanmu. Tolong kau antar Tiffany pulang. Aku ada urusan yang harus dilakukan. Kami sedang di cafe biasa”

“……..”

“Ne. Gomawo.”

Taeyeon mematikan sambungan telfonnya dan memasukan ponselnya ke saku. Dia menoleh ke arah Tiffany dan menggenggam tangannya.

“Percaya padaku, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, arra?” Tiffany mengangguk patuh, meski hatinya kini merasa takut jikalau Taeyeon berpaling darinya. Apalagi Jessica merupakan orang yang sangat Taeyeon sayangi sebelum dia. Ditambah fakta jika Jessica masih menyukai Taeyeon.

“Bagus.” Taeyeon mengecup bibir Tiffany dengan sedikit melumatnya. Jessica memalingkan wajahnya dari mereka berdua. Hatinya sakit, namun apa yang harus diperbuat? Taeyeon dan Tiffany adalah sepasang kekasih. Wajar saja jika mereka berciuman.

***

Tiffany membuka matanya yang masih terasa berat. Gadis itu merasakan sebuah tangan yang melingkari pinggangnya. Dia mengerutkan keningnya dan membalikan tubuhnya ke samping.

“T- Taeyeon?” panggil Tiffany. Dia ingat semalam Hyoyeon yang mengantarnya pulang dan setelah itu dia tertidur sendirian di apartemennya. Kenapa ada Taeyeon disini? Dia kira Taeyeon bersama Jessica hingga pagi, atau mungkin siang?

Dalam hati dia merasa lega Taeyeon menepati janjinya untuk tidak akan meninggalkannya. Tiffany mengelus pipi halus Taeyeon dengan senyuman. Kekasihnya walau sedang tertidur tetap cantik dan tampan.

“Aku tahu aku sangat tampan, yeobo.” Tiffany terkejut dengan ucapan Taeyeon yang tiba-tiba. Pipinya memanas karena ketahuan menatap Taeyeon yang tertidur.

Taeyeon terkekeh dan membuka matanya. “Poppo.” Gadis yang lebih tua memajukan bibirnya pada Tiffany dan dibalas bibirnya yang ditarik oleh Tiffany menggunakan tangannya.

“Aw sakit!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya dan mengelus bibirnya yang tadi ditarik.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Tiffany tanpa menatapnya.

“Wae? Ini apartemenku juga, kau tahu.”

“Whatever.” Tiffany membalikan tubuhnya membelakangi Taeyeon.

“Hey, mana moaning kiss-ku?” tagih Taeyeon. Tiffany tertawa pelan dan membalikan tubuhnya lagi.

“Moaning? Yang benar morning, Taeyeon-ah. Hahaha.”

“Lah memang moaning artinya apa?”

Tiffany menaikan alisnya, sekadar berjaga-jaga sebelum menjawab. “Mengerang.”

“Dan kiss artinya apa?” tanya Taeyeon lagi.

“Cium.” jawab Tiffany seperti tahu maksud Taeyeon.

“Nah, maksudku mencium mu sampai mengerang, arra? Jadi mana moaning kiss ku?”

Tiffany menutupi wajahnya yang memerah. “Byuntae!”

Taeyeon berdecak. Dia lalu menatap Tiffany dengan smirk.

“Hyaaa, kena kau.” Taeyeon merangkak naik ke atas tubuh Tiffany dan membuka tangan Tiffany yang menutupi wajahnya.

“Kyaaaa byuntae~” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon namun gagal. Tenaga Taeyeon terlalu kuat.

“Ck bilang saja kau juga mau moaning kiss.” Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Aigoo dasar gadis nakal, jangan mengerucutkan bibirmu.”

“Wae?”

“Karena aku akan ini…” Taeyeon mengecup bibir manis Tiffany. Mendiamkannya lama hingga beralih melumatnya, menggigit, dan menghisapnya.

“Eungh~” Tiffany membuka mulutnya, membiarkan lidah Taeyeon memasuki rongga mulutnya dan menjelajahinya. Sesekali mengajak lidahnya menari bersama. Taeyeon melumat bibir Tiffany kembali, kali ini lebih lama. Setelah mereka merasa kehabisan nafas, Taeyeon melepasnya. Namun beralih menjilat leher jenjang kekasihnya.

“Ahhh~ T- Tae~”

Taeyeon membuka kancing piyama Tiffany, masih dengan menjilat dan mengecup leher kekasihnya. Setelah kancing nya terbuka semua, Taeyeon melihat dua bukit kembar menyapanya, tanpa bra. Kebiasaan Tiffany jika tertidur tak memakai bra. Itu merupakan keuntungan Taeyeon, ia tak perlu repot-repot mencari pengait bra dan membukanya.

Tak butuh waktu lama untuknya menyerbu property nya. Bibirnya menghisap payudara kanan Tiffany sementara tangan kanannya meremas payudara kiri Tiffany.

“T- Taehh~ k- kau bilang hanya moaning kissh ahh~ cukuph~”

“No. I wanna sex with you, okay?”

“Argh~ tapi ini masih p- pagi. Aaaaah~” Taeyeon meremas payudaranya sangat keras.

Dia menurunkan celana Tiffany hingga menyisakan kain segitiga yang menutupi daerah privasinya. Taeyeon mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tangannya yang satu ia turunkan ke bawah untuk mengusap vagina Tiffany yang masih tertutup. Dia buka kain segitiga yang tersisa dengan perlahan lalu dia buang ke sembarang arah. Tiffany full naked sekarang.

“C- curang. K- kau aassh belum membuka pakaianmuhh~”

Taeyeon bangkit lalu mulai membuka pakaiannya dengan cepat dan menyusul Tiffany yang sudah naked. Tak mau membuang waktu, gadis itu menindih tubuh Tiffany kembali dan menghisap payudara kiri Tiffany dengan tangan kirinya meremas payudara kanan dan tangan kanannya mengelus vagina Tiffany.

“Argh~ shit~ cepat masukkanh~”

Taeyeon terkekeh. Dia memasukan kedua jarinya ke lubang vagina Tiffany dan jempolnya yang bermain di klitoris Tiffany.

“Ugh~ deeper Tae~”

Taeyeon memasukan jarinya lebih dalam hingga menyentuh titik G-Spot nya. Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi, dia mulai mengeluar-masukan jarinya di lubang Tiffany dengan tempo cepat.

“Aaah~ i’m cumh~ T- Tae~ Aaaaaaaaaah~”

Tiffany mengalami orgasmenya yang pertama. Taeyeon mengeluarkan jarinya dan mulai meminum jusnya. Menjilatnya hingga tak ada yang tersisa. Setelah itu dia kembali mencium Tiffany dan berbagi cairan cinta mereka. Tiffany berusaha menelan cairan cinta mereka yang cukup banyak dimulut Taeyeon sembari membalas ciuman panas Taeyeon.

“Kau begitu merindukanku huh, Kim Taeyeon?” ledek Tiffany melihat begitu bersemangatnya kekasihnya itu memakannya.

“Kau terlalu lama di LA, untung saja aku tak menyewa psk untuk melayaniku.”

Tiffany mendelik.

“Hehehe anio. Aku bercanda.”

“Semalam kau melakukan apa dengan Jessie?”

Taeyeon mengerutkan keningnya pura-pura berpikir. Tetapi tangannya masih bermain di payudara Tiffany.

“Menurutmu?”

“Aku bertanya padamu, bodoh!” Tiffany memukul tangan Taeyeon yang masih bermain di payudaranya.

“Tidak ada. Kita hanya meluruskan masalah kita. Hanya itu.”

“Kau yakin?” Tiffany memicingkan matanya membuat Taeyeon menelan ludahnya.

“Dan sedikit make out. Hehe.”

“Sudah kuduga.” Ekspresi Tiffany berubah masam.

“Kau marah?”

“Menurutmu?”

“Aku bertanya padamu, bodoh!”

“Ya! Kau berani memanggilku bodoh?”

“A- anio…” Taeyeon menelan ludahnya dengan susah payah melihat hellfany didepannya. Dia sudah bersiap menerima hukumannya, entah itu pukulan atau tendangan.

Namun dia tak merasakan apapun selain geli didaerah payudaranya. Taeyeon membuka matanya dan melihat Tiffany tengah menghisap dan meremas payudara kecilnya. Dia terkekeh pelan dan membiarkan kekasihnya yang sedang cemberut melakukan apa yang ingin dilakukannya.

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

Maapkeun bikin story abstrak kayak gini. Maapkeun juga NC an ditengah puasa. Gw saranin baca abis buka aja ye wkwk

Pai pai~ see u next chap~

Sweet Love (Chapter 4)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Warning : Flashback is on FAIYAH~ 😂😂

Chapter 4

Taeyeon berlari dengan tertatih. Dia juga merangkul seseorang. Dia harus segera mendapatkan pertolongan pertama. Bahunya terasa terbakar akibat peluru yang menembus disana. Orang yang dirangkulnya jauh lebih buruk. Darah terus keluar dari balik bajunya yang sudah tak terbentuk. Peluru yang mengenai daerah vital di perutnya membuatnya mengerang menahan sakit. Belum luka pukulan di sekitar wajahnya yang makin membuatnya nyeri. Mimpi apa mereka semalam hingga malam itu sekelompok mafia mengejarnya, memukul, bahkan menembak mereka. Mereka hanya sedang tak beruntung saat melewati kawasan sepi di dekat gedung tua karena terlambat pulang. Para mafia mengira mereka adalah mata-mata dari kelompok saingan mereka.

“Oppa, bertahanlah.” ucap Taeyeon sembari menangis.

“K-Kau masih m-merekam ugh.. di b-bolpoinmu?” tanya Heechul terbata. Taeyeon mengangguk, masih dengan airmata nya yang terus mengalir.

“B-Baguslah.” ucapnya. Dia mengerang sembari menekan luka di perutnya agar darah tak keluar semakin banyak.

“Oppa kumohon bertahan. Kita akan mencari pertolongan.”

Heechul berhenti berjalan. Dia terduduk masih dengan menekan lukanya. Sakit, sangat sakit. Itu yang Heechul rasakan sekarang ini.

“A-Ambil ini. T-Tolong h-hentikanh.. inih..” Heechul menyerahkan sebuah belati kecil pada Taeyeon. Wanita itu membulatkan matanya.

“Oppa kau bercanda, kan? Kita pasti selamat Oppa. Kita akan selamat! Mari berjalan sedikit lagi, kumohon.” Taeyeon menangis sesenggukan. Heechul menggeleng lemah.

“A-Akuh s-sudah akh… tidakh k-kuat, T-Taeyeon-ah.”

Taeyeon menggeleng. Dia tidak mungkin mengakhiri hidup Oppa tersayangnya seperti ini. Meski dia sendiri iba melihat Heechul sangat kesakitan. Hanya ada dua pilihan, membiarkannya mati dengan merasakan sakit yang luar biasa atau mengakhiri penderitaannya dengan cepat.

“Ak- aku akanh s-senang j-jika k-kau yang me- ngakhiri nyah..” Heechul menyerahkan belati tersebut pada Taeyeon dengan tetap menggenggamnya. Ujung belati tersebut dia arahkan tepat ke jantungnya. Heechul tersenyum lemah dan mengangguk. Taeyeon menangis lagi, kali ini makin keras. Wanita itu tak punya pilihan lagi. Ini permintaan oppanya yang terakhir.

“Maafkan aku, Oppa.” Taeyeon memalingkan wajahnya dan menekan belati tersebut ke jantung Heechul. Pria tersebut langsung ambruk seketika. Senyum kecil terlihat di wajahnya sebelum matanya tertutup untuk selama-lamanya.

***

Taeyeon berdiri di depan lemari tempat abu Heechul diletakkan. Dia memandang foto Oppa nya yang tersenyum disana. Dia juga ikut tersenyum, namun detik selanjutnya gadis itu menangis.

“Oppa, apa aku melakukan hal yang benar?” tanyanya pada foto tersebut. Sudah tentu tak akan ada yang menjawab pertanyaannya. Taeyeon mendesah pelan dan mengepalkan buku-buku jarinya. Selang tak lama, Taeyeon mendengar suara keributan diluar. Dia menoleh ke belakang dan melihat wanita yang lebih tua diatasnya berjalan cepat ke arahnya dan mencekiknya.

“DASAR PEMBUNUH KAU! KENAPA KAU BUNUH ADIKKU, HAH?!”

Taeyeon berusaha melepas cekikan wanita tersebut yang semakin kuat di lehernya. Taeyeon nyaris tak bisa bernafas.

“WAE? KENAPA BUKAN KAU SAJA YANG MATI! KENAPA ADIKKU!!”

“Akh…” erang Taeyeon.

“Heejin hentikan!” Seorang pria paruh baya menarik Heejin yang masih mencekiknya. Taeyeon terbatuk setelah Heejin melepaskan cekikannya.

“Appa, dia pembunuh Heechul Appa hiks~” Heejin memeluk pria paruh baya tersebut dengan menangis.

“Maafkan Heejin, Taeyeon-ah. Sebaiknya kau pulang dulu.” kata Appa Heechul. Taeyeon mengangguk dan keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Appa Heechul dan kakak perempuannya.

Taeyeon melihat Jessica diluar. Wanita blasteran tersebut berlari mendekati Taeyeon. Dia menyentuh wajah, bahu, dan bagian tubuhnya yang lain yang bisa dia sentuh.

“Kau tidak apa-apa, Taeyeon-ah? Aku melihat Heejin Unnie-”

Taeyeon meletakkan jari telunjuknya di bibir kekasihnya. Dia tersenyum dan menggeleng pelan. Wanita imut tersebut mengecup bibir Jessica sekilas dan menggenggam tangannya.

“Ayo kita pulang.”

Selama perjalanan pulang, Taeyeon tetap diam. Jessica tahu kekasihnya itu masih merasa sedih karena kehilangan sosok Oppa yang disayanginya. Meskipun Heechul bukanlah kakak kandungnya, namun itu tak membuat rasa sayang Taeyeon padanya berkurang.

***

Semenjak hari itu, Taeyeon menjadi gila bekerja. Dia melampiaskan semua kesedihannya pada pekerjaan. Dia juga menjadi wanita yang pendiam. Keluarga dan teman dekatnya tak tahu harus menghibur Taeyeon dengan cara apalagi. Hanya Jessica yang bisa membuat Taeyeon tersenyum. Walaupun begitu, Jessica merasa Taeyeon berubah. Wanita itu bukan lagi Taeyeon yang dorky. Jessica berusaha meyakinkan kekasihnya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia bahkan rela resign dari pekerjaannya hanya demi Taeyeon. Jessica ingin ada disaat Taeyeon membutuhkannya.

Melihat begitu besar pengorbanan Jessica padanya membuatnya sadar. Dia menyadari dirinya egois. Bukan hanya dirinya saja yang merasa kehilangan Heechul, namun yang lain juga. Tak seharusnya dia bersikap seperti itu.

Taeyeon bangkit dari kursi kerjanya. Dia ingin pulang cepat kali ini. Dia ingin bertemu kekasihnya untuk berterima kasih. Betapa dia sangat mencintai wanita keturunan Amerika itu.

Setelah menepikan mobilnya di depan rumah mereka, Taeyeon membuka pintu mobilnya sedikit kasar. Dia berlari menuju rumah dengan tergesa. Wanita itu melihat Jessica tengah menonton tv sendirian di sofa. Taeyeon segera berlari dan memeluk erat kekasihnya.

“Eoh, Taenggu. Kenapa kau pulang cepat?” Taeyeon tak menghiraukan pertanyaan Jessica. Dia meraih bibir kekasihnya dan melumatnya. Taeyeon beralih mengecup kening Jessica. “Saranghae.”

Lalu turun ke kedua matanya. “Saranghae.”

Hidung kecilnya yang bangir. “Saranghae.”

Kemudian bibir tipis Jessica. “Saranghae, baby.”

Jessica mengerutkan keningnya melihat kelakuan aneh kekasihnya. Pertama, wanita itu pulang dengan cepat. Kedua, Taeyeon kembali dork. Memang Jessica senang Taeyeon kembali seperti semula. Namun ini masih saja terasa aneh.

“Kau waras, Taeyeon?”

“Lebih dari sekedar waras.” jawab Taeyeon mantap. Dia memeluk Jessica lagi dengan erat. Beberapa kali dia mengecup puncak kepala kekasihnya.

“Sica-ya, aku sangat sangat sangat mencintaimu, kau tahu itu kan?”

Jessica tertawa pelan. “Aku lebih dari sangat sangat sangat mencintaimu, Taeyeon.”

Taeyeon mengerutkan keningnya dengan ucapan Jessica. Kekasihnya ternyata pintar menggombal sekarang. Diajari siapa dia?

“Dan aku melebihi, lebih dari sangat sangat sangat mencintaimu, Sica.”

Jessica tertawa lagi dengan susunan kata kekasihnya yang tak masuk akal.

“Sebenarnya kau kenapa, Taeyeon-ah?”

“Ah itu..” Taeyeon mengusap tengkuknya. Dia menatap manik Jessica intens sebelum merogoh saku celananya.

“Kita sudah bersama selama lima tahun, Sica-ya. Tak ada yang bisa membandingkan rasa cintaku padamu yang teramat besar setiap harinya…” Taeyeon menarik nafasnya dalam. Dia membuka kotak cincin di tangannya dengan pelan.

“Maka dari itu, aku Kim Taeyeon, memintamu untuk menjadi pendamping hidupku. Menjadi ibu dari anak-anak kita kelak. Aku ingin menghabiskan masa tua denganmu, Sica-ya. So, marry me?” Taeyeon menatap Jessica dengan penuh harap. Wanita yang ada di depannya hanya bisa meneteskan air matanya karena terharu. Dia tak menyangka Taeyeon akan mengajaknya menikah. Tentu saja dia mau. Dia sangat mencintai midget satu ini. Jessica mengangguk mengiyakan.

Taeyeon tersenyum lega. Dia memeluk Jessica erat. Setelah itu dia menyelipkan cincin ke jari manis Jessica. Taeyeon mengecup kening kekasihnya, menahannya lama disana. Dia terkekeh pelan sebelum mencium bibir Jessica lagi. Mereka berciuman selama mereka berdua yang tahu.

***

Taeyeon sedikit kelimpungan karena dia harus menangani proyek besar di perusahaannya. Dia menjadi suka pulang larut tiap harinya, meski dia berusaha menyempatkan waktunya untuk sang calon isteri. Jessica tak keberatan dengan itu. Dia mengerti posisi Taeyeon yang sangat penting di perusahaannya. Apalagi Taeyeon berjanji setelah proyek ini selesai, dia akan segera menikahi Jessica. Taeyeon meminta kekasihnya itu untuk sedikit lebih bersabar.

Taeyeon mengusap wajahnya frustasi. Rapat dengan klien besarnya sebentar lagi akan dimulai, namun dia lupa menyimpan dimana file presentasinya. Jika dia mengingat nama file tersebut, mungkin akan lebih mudah untuk mencarinya. Namun dia benar-benar lupa semuanya.

“Argh.” erang Taeyeon.

Dia mendengar ponselnya berbunyi. Dengan cepat dia mengambilnya dan membukanya. Ada satu pesan dari nomor tak dikenal.

Kekasihmu akan mati. 

Itu isi pesannya. Taeyeon mengerutkan alisnya. Dia meletakkan ponselnya kembali ke meja. Dia mengira itu adalah pesan broadcast yang dikirim untuk menakut-nakuti. Taeyeon kembali mencari file presentasinya dan mengabaikan pesan tersebut.

“Maaf mengganggu sajangnim, tetapi klien dari Jepang sudah tiba.” kata sekertaris pribadinya yang baru masuk. Dia juga sedikit kelimpungan sama sepertinya.

“Sial!’ Taeyeon mencari lagi dengan tergesa. Ditengah-tengah kemepetannya, wanita itu akhirnya berhasil mencari file yang dia cari.

“Assa! Aku sudah menemukan file nya. Mari ke ruang rapat.” Taeyeon membawa laptopnya dan mulai keluar dari ruangannya.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Dari kekasihnya, Jessica. Dia mereject panggilan tersebut karena dia masih ada rapat. Setelah rapat dia berjanji pada dirinya sendiri akan menelepon balik kekasihnya. Taeyeon meninggalkan ponselnya di meja dan mulai melangkah keluar bersama Eunha untuk menghadiri rapat.

 

Taeyeon keluar dari ruangan rapat dengan perasaan bahagia. Presentasinya berjalan lancar dan klien nya mau menjadi investor utama dari perusahaannya. Saat berjalan di lorong untuk kembali ke ruangannya, dia melihat Yoona, salah satu teman dekatnya.

“Wow, Yoong. Ada urusan apa kau kemari?” tanya Taeyeon dengan meninju bahu wanita cantik itu sebagai tanda salam. Yoona tersenyum.

“Aku hanya ingin meminum kopi denganmu, Unnie.”

Taeyeon mengerutkan keningnya mendengar permintaan aneh Yoona. Dia tertawa pelan sebelum membalas ucapan Yoona.

“Arrasseo, aku akan mentraktirmu kopi di cafe depan.”

Mereka berdua pun turun kebawah untuk meminum kopi ke cafe depan seperti permintaan Yoona barusan. Mereka hanya duduk diam menunggu pesanan mereka datang. Hingga pesanan datang, mereka masih tetap diam. Taeyeon menghela nafasnya.

“Kau kenapa terus diam, Yoong? Aku perhatikan kau sedikit berbeda dari biasanya.” tanya Taeyeon memecah keheningan.

Yoona memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam.

“Kuharap kau mau menerima kabar ini, Unnie.”

Taeyeon makin bingung dengan ucapan Yoona. Dia sama sekali tidak tahu apa yang ada dipikiran gadis bermata rusa itu.

“Sica Unnie… dia meninggal dalam kecelakaan tak lama tadi.” Yoona memejamkan matanya lagi, tak ingin melihat ekspresi Unnie nya yang pasti sangat hancur.

Taeyeon tertawa keras. “Bulan apa ini? Oh. April, pantas saja. That was April fools, right?

Yoona menggeleng lemah. Dia menyodorkan sebuah foto pada Taeyeon. Disana terdapat mobil yang hangus terbakar hingga wujudnya bukan seperti mobil lagi. Namun plat mobil tersebut masih sedikit jelas. Taeyeon melihat itu dengan menyipit. Matanya melebar. Plat mobil itu…. milik Jessica? Taeyeon menggeleng cepat. Dia tak menyadari airmata sudah menetes melewati pipinya sedari tadi. Taeyeon tetap menggeleng, menolak bahwa itu kekasihnya.

“Ani, Yoong ani. Jessica dirumah, dia dirumah! Itu bukan mobil kekasihku! Jessica pasti ada dirumah!” Taeyeon bersikukuh menolak. Dia mulai menangis sesenggukan. Yoona memeluk Taeyeon yang mulai berontak. Gadis itu juga sama, dia menangis melihat Unnienya. Dia menangis mengetahui Jessica, unnie kesayangannya meninggal.

***

Setelah ditelusuri tentang penyebab kecelakaan Jessica, ternyata ada orang yang sengaja merencanakannya. Orang itu mencabut rem mobil Jessica sehingga Jessica tak bisa mengendalikan mobilnya dan terjatuh ke jurang.

Dengan kejadian itu, hidup Taeyeon berubah. Dia seperti mayat hidup. Taeyeon tak pernah meninggalkan rumahnya. Dia sudah tidak peduli dengan pekerjaannya. Yang dia lakukan hanya menangis menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja waktu itu Taeyeon menerima telfon dari Jessica dan menyuruhnya tetap dirumah. Jika saja dia bisa melakukan itu. Jika saja…

Taeyeon membanting guci di meja ruang tengah dan berteriak. Dia kembali menangis. Jessica, kekasihnya, calon isterinya meninggalkannya. Dia menyalahkan Tuhan mengapa Dia tak adil kepadanya. Pertama Heechul oppa, kedua wanita yang sangat dia cintai, selanjutnya siapa, ha?! Taeyeon memebenamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Menangis adalah hal yang wajib dia lakukan tiap harinya.

Hal tersebut berlangsung selama setahun. Dia bahkan pernah mencoba bunuh diri, namun keluarganya dapat mencegahnya. Baru beberapa tahun belakangan ini Taeyeon bisa menata kembali hidupnya. Dia masih sedikit trauma jika ada yang menanyakan masa lalunya, meski dia sudah menerima bahwa Jessica juga Heechul telah tiada. Oleh karena itu kedua orangtua Taeyeon yang melihat puterinya sudah bersikap seperti Taeyeon yang dulu mencoba menjodohkannya dengan puteri sahabat lama mereka. Dengan gadis bernama Tiffany yang saat ini menjadi isterinya. Namun Taeyeon masih memiliki satu masalah lagi.

Kang Jung Hee.

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

Noh yang minta masa lalu taey 👆

Huhu, ntah kenapa jiwa time traveler gw lagi mendominasi di fic ini. Padalan kebanyakan disini LS kan 😂🔫

Yaudahsi. Tengsik kan udah end kan kan. Eh gatau juga deng di chap selanjutnya wkwk *kabursebelumdiamukmassa*

Besok gw uas doain ye. Tinggal empat hari yang memagerkan bhak. Met puasa~

Pai pai~ see u next chap