Enterprischool (Chapter 15)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourselff

Genre GXG

Author : nxviaif

.

.

.

Jessica, Tiffany, Yuri, dan Sooyoung tiba di Korea dengan perasaan bercampur-aduk. Yuri menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri berusaha menemukan sopir nya untuk mengantar mereka ke tempat Yuri terlebih dahulu. Namun setelah dicari ke penjuru arah, Yuri sama sekali tidak melihatnya.

“Permisi, apa anda nona Kwon Yuri?” Tanya seorang pria asing pada Yuri.

“Ne, saya sendiri.”

“Begini, teman saya Im Youngjin meminta saya menggantikan dia menjemput anda. Pencernaan dia sedikit terganggu tadi. Youngjin juga sudah mengirim pesan kepada anda.”

“Benarkah? Ponselku belum dinyalakan.”Yuri meraih ponselnya dan mulai menghidupkannya. Dia melihat pesan masuk dari sopirnya.

“Ah benar. Kalau begitu kajja-…” Yuri menggantungkan kalimatnya.

“Jang Jungmin imnida.”

Yuri mengangguk. “Ah, kajja, Jungmin-ssi.”

Keempatnya mulai memasuki mobil. Tiffany masih diam sama seperti saat di pesawat. Ketiga unnie nya tahu. Di situasi seperti ini berbicara pun sulit. Apalagi ini akan menjadi kali pertama Tiffany bertemu dengan Taeyeon.

“Yuri-ah, apa yang akan kita lakukan?” Tanya Jessica pada Yuri yang berada di depan.

“Pertama-tama kita akan ke apartemenku terlebih dahulu. Kita akan membahas ini bersama Sunny. Selama ini dia banyak membantuku mengenai urusan Taeyeon.”

Jessica mengangguk. Dia melirik Tiffany seraya mengusap kepalanya. Dibalik sifat cerianya, Tiffany adalah gadis yang rapuh. Jessica tahu itu.

Sopir bernama Jungmin tersebut melihat teman-teman atasannya melalui kaca.

“J- Jeogi, saya memiliki minuman. Mungkin kalian membutuhkannya.” Sopir tersebut meraih minuman di sampingnya dan menyerahkannya pada ketiga orang di belakang yang wajahnya sedikit muram, tak lupa memberikan kepada Yuri disampingnya.

“Gamsahabnida, Jungmin-ssi.”

Jungmin tersenyum dan mengangguk.

Setelah meminum minuman tersebut, keempat orang tersebut berangsur mengantuk. Mereka berpikir mungkin kelelahan di perjalanan tadi. Ditambah masalah Taeyeon. Sebab itulah mereka merasa matanya berat dan mengantuk, lalu jatuh tertidur.

Pria bernama Jungmin tersebut tersenyum smirk. Dia meraih ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

“Mereka sudah tak sadarkan diri, boss.”

“Bagus. Bawa mereka kemari, cepat.”

“Baik, boss.”

***

Taeyeon duduk dengan diam di ruangan kerja nya yang sudah lama dia tinggalkan. Semua masih terasa sama, tidak ada yang berubah. Yang berubah hanyalah rasa sepi disana. Biasanya ruangannya selalu penuh dengan pembicaraan konyol sahabatnya dan rengekan manja Tiffany. Taeyeon tersenyum kecut mengingatnya. Dia merasa tak lagi berhak mengenang masa itu mengingat sudah banyak hal buruk yang dia lakukan pada mereka. Taeyeon ragu apakah sahabatnya, dan juga Tiffany mau memaafkannya.

Disaat tengah melamunkan masa lalu, Taeyeon menoleh mendengar suara pintu terbuka. Dia melihat Appa nya masuk dengan ekspresi berbeda. Taeyeon mengerutkan keningnya.

“Ada apa, Appa?”

Appa Han masih mempertahankan ekspresi dingin di wajahnya. Dia menatap Taeyeon sejenak sebelum menghela napas.

“Kau akan Appa jodohkan.”

“APPA!” teriak Taeyeon. Omong kosong macam apa itu?

“Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan bertemu keluarga Yoon.”

Setelah mengatakan itu, Appa Han berbalik meninggalkan puterinya.

“APPA!” teriak Taeyeon lagi.

Appa Han menghentikan langkahnya.

“Kali ini Appa tidak akan bersikap lunak padamu. Ikuti kemauan Appa atau teman-temanmu terluka.”

Mata Taeyeon membesar. Dia mengepalkan buku-buku jarinya dan mengeraskan rahangnya.

***

Sudah menjadi kebiasaan bagi Jieqiong dan Chengxiao untuk membuntuti kemana Tiffany pergi. Ditambah sekarang ini mereka juga mengemban misi penting yang bahkan orang yang menyuruhnya pun tidak tahu. Itu adalah kemauan mereka sendiri.

Ditengah perjalanannya membuntuti mobil yang ditumpangi Tiffany, kedua wanita cantik itu mengerutkan kening. Tentu saja mereka sudah mencari tahu tempat tujuan keempat orang di depan sana. Tapi anehnya mobil tersebut melaju ke arah yang berkebalikan. Mereka pikir ada yang tidak beres. Jieqiong mempercepat laju mobilnya agar jaraknya tak terpaut jauh dari mobil di depan.

“Zhou, aku merasa ada yang aneh.”

Jieqiong mengangguk. Dia melihat jalan di sekeliling yang mulai terasa sepi. Jarang kendaraan lain melintas disana. Hingga mobil di depan berhenti di sebuah gudang tua. Jieqiong menepikan mobilnya cukup jauh darisana, namun masih bisa untuk melihat mobil yang ditumpangi mereka.

Dari dalam gudang, muncul beberapa pria yang terlihat seperti gangster. Mereka membuka mobil dan mulai membawa empat orang yang sejak tadi dibuntuti Jieqiong dan Chengxiao. Mereka dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Zhou, putar balik mobil. Kita pergi darisini dan melapor pihak berwajib.”

Namun sebelum itu, seseorang tiba-tiba memecah kaca jendela mobil dan membuka pintu dengan paksa. Sekawanan orang mulai menarik Jieqiong dan Chengxiao keluar. Mereka juga memukul keduanya hingga tak sadarkan diri sebelum mereka membalas.

***

Selama makan siang, Taeyeon hanya berdiam diri. Dia masih tidak terima Appa nya melakukan hal seperti ini. Seperti déjà vu, kejadian bertahun-tahun lalu terulang kembali. Beda nya, Taeyeon tidak mengenal orang-orang yang ditemuinya kali ini. Apakah jika dia menolak, nasib keluarga di depannya ini akan berakhir sama seperti Daddy Jung dulu?

Taeyeon melihat Appa nya yang tertawa menanggapi lelucon pria paruh baya yang merupakan Ayah dari Yoon Doojoon, orang yang Appa nya inginkan menjadi pendamping Taeyeon. Dia muak mendengarnya. Taeyeon ingin sekali keluar darisana.

“Abeoji, bolehkah aku membawa Taeyeon-ssi berjalan-jalan sebentar?” Doojoon tiba-tiba membuka suaranya.

“Uh begitukah? Kau harus bertanya padanya terlebih dahulu.” Ucap Tuan Yoon.

“Tentu tentu. Taeyeon dengan senang hati menerimanya.” Appa Han tersenyum pada Taeyeon dan menyuruhnya pergi dengan ekspresinya. Taeyeon mengeraskan rahangnya dan menghela napasnya.

“Algesseumnida.” Ucapnya. Memang lebih baik keluar daripada terkurung di dalam tak melakukan apa-apa dan hanya mendengar pembicaraan yang membuatnya muak.

Mereka berdua mulai berjalan keluar dari dalam ruangan VIP restoran tersebut.

“Kau tidak berterimakasih padaku?” tanya Doojoon.

Taeyeon menaikkan satu alisnya.

“Kulihat kau merasa begitu tak nyaman berada di dalam.”

Taeyeon memalingkan wajahnya. Dia sudah salah mengira pada Doojoon. Dia pikir Doojoon hanya mencari kesempatan. Taeyeon merasa bersalah padanya.

“Gomawo.” ucap Taeyeon kemudian.

“Kalau kau tak mau perjodohan ini kau bisa menolaknya. Lagipula aku juga memiliki kekasih.” Kata Doojoon dengan sendu.

Taeyeon melihat pria di sampingnya. Bisa dikatakan Doojoon juga tidak menginginkan perjodohan ini. Taeyeon juga merasakan kalau pria tersebut sangat mencintai kekasihnya dari sorot matanya.

“Tapi kalau aku menolak, keluargamu bisa dalam bahaya.”

Doojoon mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

Taeyeon menatap Doojoon. “Appaku… Dia bukan orang baik.”

***

Chengxiao mengerjapkan matanya. Wajah dan tubuhnya terasa sakit semua. Dia hendak mengelap darah di sudut bibirnya namun tak bisa karena kedua tangannya diikat ke belakang. Chengxiao menoleh dan melihat nasib rekannya sama sepertinya. Jieqiong mulai membuka matanya perlahan.

“Kita dimana?” tanya Jieqiong.

Chengxiao menggeleng. “Mungkin di dalam gudang tua tadi.”

Jieqiong mengerang.

“Hey.. psst pssst..”

Dua wanita tersebut mengerutkan keningnya mendengar suara tersebut.

“Disamping sini.” Kata suara itu lagi.

“Kalian tidak apa-apa? Aku melihat kalian terluka tadi”

Chengxiao dan Jieqiong menoleh ke samping. Mungkin disamping terdapat ruangan juga. Apalagi tempat ini seperti penjara bawah tanah. Besar kemungkinan disampingnya merupakan ruangan yang sama seperti yang ditempati mereka.

“N- Ne. Apakah kalian nona Tiffany, Jessica, Yuri, dan Sooyoung?” tanya Jieqiong.

“Eoh, bagaimana kalian tahu?” Sooyoung terkejut.

Chengxiao menatap Jieqiong tajam. Jieqiong sama saja membuka identitas, padahal di rencana mereka tidak terdapat hal semacam itu.

“Lebih baik mereka tahu. Lagipula apa yang bisa dilakukan di situasi semacam ini?”

Chengxiao menghela napasnya. “Arrasseo.”

Jieqiong mengangguk. “Kami suruhan Kim Taeyeon-ssi untuk membuntuti Tiffany-ssi. Tapi kami pikir orang yang menculik kalian adalah tuan Han Youngjoo.”

Jessica memejamkan matanya. “Sudah kuduga.”

“Hey, kalian juga ikut diculik, bukan kami saja.” Ujar Yuri. Di situasi seperti ini gadis itu masih saja bisa bercanda.

“Tapi tunggu dulu, bagaimana kau bisa tahu itu Ayahnya Taeyeon?” Jessica bertanya. Yang dia tahu tidak ada yang tahu kebusukan Ayahnya Taeyeon dalang dibalik perpisahan Hyejin dan Tiffany selain Daddy Jung, dia, Yuri, Sooyoung, dan Tiffany. Taeyeon saja tidak tahu.

“Joesonghamnida. Sebelum melakukan perintah Taeyeon-ssi, kami memata-matai latar belakangnya terlebih dahulu. Termasuk mengirimkan pesan kepada Jessica-ssi dan Tiffany-ssi kemarin.” Jelas Chengxiao.

“Heol, daebak! Tapi dengan begitu Tiffany bisa tahu kebenarannya dan…”

“…berakhir di tempat seperti ini.” Sooyoung memutar bola matanya. Jessica, Yuri, dan Tiffany tertawa pelan.

“Joesonghamnida. Kami tidak mengira hal ini akan terjadi.” Keduanya meminta maaf.

“Gwaenchanha. Berkat kalian kita bisa tahu Taeyeon kembali ke Korea. Sekarang kita hanya perlu mencari cara untuk keluar darisini.” Kata Jessica.

“Ne, dan bertemu TaeTae secepatnya.” Tiffany berkata dengan tegas.

“J- Jamsimanyo!” Chengxiao menaikan sedikit suaranya.

“W- Wae wae? Kau mengejutkanku.” Sooyoung mengerjapkan matanya.

Jieqiong menatap rekannya. Chengxiao menatap balik.

“Kurasa kekasihku bisa menolong kita.”

Jieqiong mengerutkan keningnya. Chengxiao mulai menggerakan tangannya yang diikat. Ikatannya cukup kuat, Chengxiao jadi sedikit kesulitan menjangkau tangan satunya.

“Kalau ku tekan jam ini, Eunseo akan menerima sinyal dariku dan lokasi disini. Dia membuatkannya untukku kalau menghadapi situasi seperti ini.”

Mata Jieqiong membulat sempurna. “Benarkah?”

Chengxiao mengangguk.

“Ya ya ya, entah jam apa itu tapi kau yakin pacarmu itu bisa menolong kita semua?” tanya Yuri.

“Aku tidak bisa menjamin, tapi berharap saja.”

Jessica mengangguk. Dia melihat Tiffany disampingnya seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Waeyo, Tiff?”

Tiffany tersentak. “Ah, aniya, bukan apa-apa.”

***

Setelah menyelesaikan makan siang dengan keluarga Yoon, Taeyeon dan Appa nya pamit. Masih ada hal yang harus diurusi Taeyeon saat ini. Gadis itu baru tiba di Korea dan masih harus mengecek beberapa dokumen yang ditinggalnya selama di China sebelum kembali bekerja sebagai Presdir di Jacco Enterprise.

“Appa harap-.. ani.. kau harus menuruti Appa apapun yang terjadi. Kalau kau menolak kau tahu apa yang akan terjadi, Taeyeon.”

Appa Han berjalan mendahului Taeyeon dan masuk ke mobilnya. Taeyeon menatap mobil Appa nya yang mulai melaju dengan marah. Selama dua puluh tahun lebih, baru kali ini Taeyeon melihat sisi Appa nya yang dingin seperti itu. Apakah Appa nya memang seperti itu? Apakah selama ini Appa nya menyembunyikannya? Taeyeon merasa dibodohi. Dia pikir Appa nya adalah sosok Ayah paling baik yang pernah ada.

Taeyeon memejamkan matanya dan menenangkan dirinya.

“Sial!”

***

Eunseo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ketiga temannya merasa takut dan meraih pegangan dengan erat.

“YA! Mengapa terbru-buru dan tidak pergi bersama polisi?!” Eunwoo bertanya dengan suara bergetar. Mereka sudah melapor pada polisi dan diminta menunggu sebentar karena mobil yang akan digunakan tengah berpatroli dan dalam perjalanan kembali. Tapi Eunseo tak bisa menunggu dan menyambungkan lokasi kekasihnya berada pada salah satu polisi yang juga temannya agar mengikutinya nanti.

“Tidak ada waktu. Aku harus menyelamatkan Xiao secepatnya apapun yang terjadi. Dan YA! Jieqiong juga teman kalian!” Eunseo menatap tajam teman-temannya melalui kaca.

“Ralat, dia bukan temanku. Dia pacarku.” Ucap Nayoung, masih dengan wajah datarnya.

Eunwoo dan Rena menggelengkan kepalanya.

“Pokoknya bersiaplah. Kemungkinan kalian akan tertembak dan mati kalau tidak waspada.”

“YA SON EUNSEO!” teriak teman-temannya. Nayoung yang biasanya kalem dan hanya menampilkan wajah datar ikut berteriak juga.

Eunseo, Rena, dan Eunwoo tentu saja terkejut. Matanya mengerjap beberapa kali. Nayoung berdehem dan ekspresinya kembali seperti semula.

“Aku belum menikah dengan Jie.”

“Heol, daebak!” seru Eunwoo dan Rena di belakang.

Setelah menempuh perjalanan dengan suara berisik dari mulut-mulut turah teman-temannya, Eunseo akhirnya sampai di lokasi kekasihnya berada. Mereka menepikan mobilnya di dekat mobil yang kondisi kaca nya pecah berantakan.

“Melihatnya membuatku horror.” Gumam Eunwoo.

Mereka berempat keluar dari mobil.

“Ambil senjata kalian.” Eunseo melempar pistol kepada teman-temannya.

“Hey, aku tidak mau membunuh orang.” Rena melihat pistol di tangannya dengan nanar.

“Tenang saja, isinya bukan peluru biasa. Kalau terkena di tubuhmu kau hanya akan pingsan.”

Setelah menmgatakan itu, mereka mulai memasuki gudang tua tersebut dengan mengendap-endap tanpa menimbulkan suara, yang sialnya tidak bisa mereka lakukan. Nayoung tidak bisa berharap lebih kepada para dongsaengnya itu. Dia berjalan di depan tanpa menghiraukan ketiga adiknya. Detik kemudian Nayoung memundurkan langkahnya ke belakang dan berlindung di belakang Eunseo.

“Siapa itu?” teriak seorang pria.

“Kucing!” Eunwoo menutup mulutnya sedangkan tiga temannya menatapnya tajam.

“Oh kucing.” Balas pria itu, namun tak lama kemudian dia tersadar.

“Hey!” Pria itu mulai berlari menuju arah mereka.

“Aish!” Eunseo dengan cekatan langsung menembak pria itu.

DOR!

Sekali tembak langsung tumbang. Tiga temannya takjub.

“Uuu naiseu shot!”

Eunseo tersenyum bangga. “My waifu Xiao yang mengajariku.”

***

Karena menunggu cukup lama, Sooyoung dan Yuri jatuh tertidur. Jessica membiarkannya karena dia lihat keduanya kelelahan. Saat pertama kali sadar dan tahu tubuh mereka diikat, Yuri dan Sooyoung berusaha keras melepas ikatan mereka agar bisa lepas dan menolong Jessica dan Tiffany. Namun seberapa keras mereka mencoba, tetap saja ikatan tersebut begitu kuat dan sulit untuk dilepas. Jessica menghargai usaha keduanya.

“Tiff, kau baik-baik saja?” tanya Jessica yang melihat Tiffany berdiam diri.

“Apa kondisi kita sekarang terlihat baik, unnie?”

Jessica tertawa pelan. Benar juga. Dilihat dari manapun mereka semua dalam kondisi tidak baik. Jessica merasa bodoh dengan pertanyaan konyol yang dilontarkannya.

“Geunde, unnie. Mengapa Han ahjussi melakukan itu semua?” tanya Tiffany penasaran.

Jessica memandang kosong kedepan dengan tersenyum kecut.

“Demi perusahaan. Dia tidak benar-benar menyayangi Taeyeon. Mungkin dulu ya, sekarang tidak demikian.”

Tiffany mengangguk. “Lalu apa yang akan kita lakukan?”

Jessica berpikir sejenak. “Geulsse..”

Gadis keturunan Korea-Amerika itu menatap dua temannya yang tengah berkelana di alam mimpi dengan tersenyum. “Meski tampilannya diragukan, tapi aku memercayai mereka. Aku yakin Yul dan Syoung memiliki rencana.”

 

 

 

“ANGKAT TANGANMU, SHAGGY!”

 

 

 

Jessica dan Tiffany terkejut mendengar dobrakan dari pintu beserta kemunculan orang-orang aneh. Yuri dan Sooyoung yang tadinya terlelap langsung bangun dengan sedikit berteriak.

“Eunseo!” teriak Chengxiao. Senyum lebar segera merekah.

“Unnie!” Jieqiong lega melihat kekasihnya.

“Huh, bukannya mereka orang-orang aneh di China?” Jessica mengerutkan keningnya.

“Eunseo? Rena?” Tiffany juga terkejut.

“Eoh Tiffany? Kau juga ada disini?”

“Bukan saat nya untuk berbasa-basi. Cepat lepaskan kami.” Sela Chengxiao.

Eunseo mengangguk. Dia melihat sekeliling dan menemukan kunci yang menggantung. Dia meraih kunci tersebut dan segera membuka pintu, disusul melepas ikatan yang melilit tubuh mereka.

“Gomawo.” Ucap Jessica pada Eunwoo sehabis melepas ikatan.

Pipi gadis itu bersemu merah. “S- Sama-sama.”

“YA! Jessica milikku!” seru Yuri menarik Jessica kearahnya.

Setelah selesai, mereka berkumpul dan bersiap untuk keluar.

“T- Tapi tunggu dulu…” Rena menyela.

“Wae?” tanya mereka.

Keempat orang yang menolong Tiffany dkk tersebut menatap satu sama lain sebelum menjawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

“Diluar orang-orang sudah mengepung kita.”

 

 

“MWO?!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Long time no see~ hahaaay

Advertisements

ANNOUNCEMENT [PENTING]

Pengumunan buat wordpress ini.

Penting bagi yg merasa penting!

.
.
.
.

.

.

.

.

.

.

.

.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Dikarenakan suatu sebab, gw gak bisa rajin update di wp ini, bahkan mungkin gak update lagi. Maka dari itu buat para readers yang kreatif dan suka bikin fanfic taeny atau otp lain kalian bisa nyalurin karya kalian disini. Nanti gw bakal post disini dan kasih credit di karya kalian. Kalian mungkin bisa jadi co-author tetap disini.

Awalnya gw mau delete wp ini tapi gw pengin kalian terusin kapal taeny dan otp lain sebisa mungkin. Gw ga janji, tapi kalo sempet gw bisa post satu atau dua ff, atau lanjutin ff yg belom kelar. Maafin keputusan gw. Gw harap kalian bisa mengerti.

Thank you buat readers yg setia baca karya gw. Gw apresiasi komen dan dukungan kalian 🙂 Luvya n bye~ seeya later~

 

 

 

Kalo mau share fanfic bisa hubungin gw di email : noviaidafa05@gmail.com

Enterprischool (Chapter 14)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

8 tahun yang lalu….

 

Belum juga makan malam usai, Taeyeon sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan VIP yang dipesan ayahnya itu. Jessica, yang juga berada disana bangkit dan menundukan kepalanya kepada Appa Han dan Daddy nya kemudian menyusul Taeyeon. Jessica benci berlari, namun dia tak punya pilihan lain kalau tak ingin kehilangan jejak Taeyeon. Setelah berlama-lama mencari ke seluruh tempat dan tidak juga berhasil menemukan Taeyeon, Jessica terduduk lemas. Tiba-tiba dia teringat tempat favorit Taeyeon yang dikatakannya kemarin. Gadis blasteran itu bangkit dan segera berlari kesana. Dan benar saja, Taeyeon ada disana tengah duduk seorang diri.

“Aku tahu kau terkejut. Begitu juga denganku.”

Taeyeon menoleh ke sumber suara dan mendapati sahabatnya berdiri di sampingnya. Jessica tersenyum dan ikut duduk.

“Kau bisa menolaknya, Taeng. Aku juga tidak mengharapkan itu semua.”

“Bagaimana dengan Daddy mu? Appa pasti…”

“Shhhh. Gwaenchanha. Sebentar lagi kau akan di promosikan di perusahaan Ayahmu. Aku bisa menjadi sekertarismu.”

“Tapi Sooyeon-ah…”

“Tidak ada tapi-tapian Taeyeon. Kesehatan Daddy juga mulai memburuk. Hal bagus jika dia berhenti bekerja dan beristirahat. Sudah saatnya aku yang bekerja dan merawat Daddy.”

“Kau tahu, aku tidak keberatan untuk menikah denganmu, Sooyeon. Setidaknya aku mengenalmu karena kau sahabat baikku.”

Jessica menggeleng. Dia tahu Taeyeon dengan sangat baik. Tentu saja dia akan melakukannya jika itu dibutuhkan. Taeyeon sangat menyayanginya sebagai sahabat. Dan hal itu pula yang membuat Jessica menolak. Pernikahan bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Pernikahan juga butuh cinta. Jessica tahu Taeyeon tidak bisa memberikannya itu. Dia lebih memilih menolak meski pekerjaan Daddy nya terancam.

Taeyeon menunduk. “Mianhae, Sooyeon.”

Jessica tersenyum lemah dan memeluk sahabatnya.

 

***

 

Jessica yang tadinya sibuk mengetik di laptopnya tersadar saat mendengar Daddy nya terbatuk cukup keras. Gadis itu bangkit dari posisinya dan mendekati Daddy nya di pantry.

“Dad, you okay?” tanya Jessica cemas.

“I’m fine, Jessie. You don’t need to worry uhuk uhuk…”

Jessica menggeleng dan menuntun Daddy nya ke sofa dan membaringkannya. Dia lalu pergi membawa segelas air putih untuk Daddy nya.

“Minum ini, Dad.”

Daddy nya meminum air tersebut dengan pelan. “Uhuk uhuk.. Jess, tolong bawakan Daddy kotak kecil di meja uhuk uhuk Daddy..”

Jessica menggigit bibir bawahnya melihat kondisi Daddy nya namun tetap menuruti permintaannya. Dia sedikit berjalan cepat ke kamar Daddy nya dan membawakan apa yang Daddy nya minta.

Jessica lalu menyerahkan kotak itu pada Daddy nya. “Dad, sebaiknya kita ke rumah sakit.”

Daddy Jung menggeleng. Dia lalu menyerahkan kotak tersebut ke tangan puterinya meski terus terbatuk.

“K- kau t- tahu dimana uhuk kuncinya.”

Jessica menggeleng dengan wajah khawatir. “No, Dad. Ayo kita ke rumah sakit.”

Jessica hendak menarik tangan Daddy nya namun segera ditepis.

“Waktu Daddy uhuk tidak banyak. Buka uhuk kotak itu. Uhuk uhuk kau pasti tahu dimana uhuk kuncinya.”

Nafas Daddy Jung kian melemah. Mata Jessica mulai berkaca-kaca. Dia terus mencoba menarik Daddy nya agar mau pergi ke rumah sakit.

Tiba-tiba mata Daddy Jung tertutup. Jessica panik. Dia mencoba membangunkan Daddy nya namun tidak ada respon.

“Dad? Daddy? No Daddy come on. This is not funny.” Air mata Jessica mulai tumpah. Dia terus saja mencoba membangunkan Daddy nya.

“Nooo Daddy! NOOOOO!”

Jessica terduduk lemas dengan air mata membanjiri wajahnya.

.

.

.

“Sooyeon-ah!”

Taeyeon segera memeluk sahabatnya begitu tiba di rumah duka. Jessica menangis lebih keras di pelukkan Taeyeon. Dia masih tidak mengira akan ditinggalkan Daddy nya secepat ino.

“Shhh gwaenchanha gwaenchanha. Aku akan terus berada di sisimu.”

Jessica makin mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu. Hati Taeyeon hancur melihatnya, namun jika dia mengekspresikannya akan jauh lebih hancur lagi hati sahabatnya.

Yuri dan Sooyoung yang melihatnya di belakang juga ikut menitikkan matanya.

Taeyeon berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berada di sisi Jessica apapun yang terjadi. Dia kini sudah tidak memiliki siapapun lagi selain dirinya.

 

 

 

6 tahun yang lalu…

 

“Sooyeon-ah! Sooyeon-ah!”

Taeyeon berteriak girang begitu memasuki ruangannya. Dia melihat kedua sahabatnya juga berada disana.

“Yuuul! Syoung!”

Taeyeon memeluk sahabatnya itu dengan erat. Dia terus tertawa bahagia dan menepuk punggung kedua sahabatnya yang bingung. Taeyeon melepas pelukannya dan beralih ke Jessica yang berada tak jauh darisana.

“Sooyeooooon!” Taeyeon memeluk Jessica begitu erat. Dia juga berkali-kali mengecup pipi sahabatnya itu.

Yuri dan Sooyoung yang melihatnya hanya bisa menekukan bibirnya. Mengapa hanya Jessica yang diberi kecupan? Tidak adil!

“Taeyeon-ah waegeurae?” tanya Jessica.

“Dia menerimaku Sica! Kami mulai berpacaran!”

“MWO?!” teriak Yuri dan Sooyoung.

“Seolma….” ucap mereka berdua lirih.

“PARK HYEJIN MENERIMAMU?!”

Mata Yuri dan Sooyoung serasa meloncat dari sarangnya. Mereka tidak habis pikir seorang dewi semacam Park Hyejin menerima cinta Taeyeon. Mereka juga membuat taruhan kalau Taeyeon akan ditolak dan menangis suntuk semalaman.

“Heol.. daebak.”

Jessica tersenyum senang. “Chukhahae, Taeyeon-ah. Aku ikut senang.”

Berbeda dengan Yuri dan Sooyoung, Jessica menyambutnya dengan bahagia. Dia senang akhirnya sahabatnya berkencan dengan orang yang dicintainya. Dia pikir Hyejin juga gadis yang baik. Jadi tidak ada alasan untuknya tidak senang.

 

***

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah terlewati. Hubungan Taeyeon dan Hyejin pun masih terus berlanjut. Meski terkadang mereka bertengkar, namun pertengkaran itu merupakan hal wajar dalam suatu hubungan. Ketiga sahabatnya pun dengan penuh mendukung mereka berdua. Hingga tiba hari spesial ini, Taeyeon akan melamar Hyejin. Tentu saja sahabat mereka membantu. Setelah bertemu dengan ayahnya minggu lalu dan melihat reaksi positif dari beliau, Taeyeon memutuskan untuk mengikat mereka ke dalam hubungan yang lebih serius. Dia mengajak Hyejin ke sebuah restoran mewah yang telah di-booking olehnya. Hyejin sendiri begitu takjub. Dia tidak mengira Taeyeon melakukan semua ini untuknya. Dia pikir makan malam biasa pun tak masalah asalkan bersama Taeyeon kekasihnya.

“Taeyeon-ah, kau tidak perlu melakukan ini.”

Taeyeon menggeleng. “Ini hari spesial, Hyejin-ah.”

“Spesial?” tanya Hyejin.

“Kau akan tahu nanti.” Taeyeon tersenyum misterius.

Setelah menikmati makan malam super mewah, Taeyeon bangkit dari duduknya dan berjalan ke panggung yang ada disana. Tiba-tiba dari arah belakang, muncul tiga orang yang Hyejin kenal dengan baik.

“Sica, Yul, Soo?”

Ketiga temannya tersenyum dan mengedipkan matanya. Mereka lalu bergabung bersama Taeyeon di panggung dan memegang alat musik masing-masing.

“Hyejin-ah, kau tahu aku begitu mencintaimu, kan? Oleh sebab itu izinkan aku untuk melakukan ini.”

Taeyeon berbalik menatap ketiga sahabatnya dan mengangguk. Mereka mulai memainkan alat musik masing-masing, disusul Taeyeon yang menyanyikan lagu romantis.

Hyejin yang melihatnya merasa tersentuh. Dia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.

Setelah lagu selesai, Taeyeon turun dari panggung dan mendekati Hyejin. Dia meraih kedua tangan Hyejin dan tersenyum.

“Hyejin-ah, will you marry me?”

Hyejin tak bisa menutupi rasa bahagianya dan memeluk Taeyeon dengan sangat erat dan mengangguk. Jessica, Yuri, Sooyoung memukul tinjunya di udara dan mengucapkan ‘yes’, sedangkan Taeyeon. Gadis itu senang bukan main. Rasanya tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya dia saat ini.

.

.

.

Setelah hari itu, Taeyeon dan Hyejin sibuk mengurusi rencana pernikahan mereka. Karena ingin mendapat semua dengan sempurna Hyejin jadi kelelahan dan sakit. Taeyeon hendak pergi ke apartemen calon isterinya untuk menjenguknya sekaligus merawatnya. Dia juga ditemani Jessica yang juga ingin menjenguknya.

Taeyeon membuka password apartemen calon isterinya tersebut dengan cepat karena khawatir. Namun begitu dia membuka pintu, gadis itu terdiam kaku. Taeyeon mengepalkan buku-buku jarinya dan berlari ke dalam. Jessica yang melihatnya juga terkejut.

Taeyeon lalu meraih kerah seorang pria yang tadi bercumbu dengan kekasihnya dan memukul wajahnya.

“SIAPA KAU HAH?!”

“Aku kekasihnya. WAE?”

Taeyeon membuka mulutnya tak percaya. Dia lalu menatap Hyejin yang terdiam dengan wajah dingin.

“H- Hyejin-ah, apa itu benar?”

Hyejin menatap balik Taeyeon dengan dingin. “Ya. Lalu kau mau apa?”

Tubuh Taeyeon lemas seketika. Beruntung Jessica dengan cepat membantunya.

“H- Hyejin-ah k- katakan s- semua ini bohong.”

Hyejin menggeleng. “Kurasa hubungan kita sampai disini. Kalau tak ada yang ingin kau katakan kau bisa keluar.”

Taeyeon mengeraskan rahangnya dan berlari keluar dari apartemen. Hyejin membalikkan direksi tubuhnya. “Kau juga bisa keluar, Jessie.”

“Hyejin-ah…”

Hyejin mengangkat tangannya. “Keluar.”

Jessica menghela napasnya kemudian menyusul Taeyeon keluar. Tapi sebelum itu, gadis blasteran itu sedikit mendengar isakkan di belakang.

 

***

 

Setahun yang lalu…

 

Jessica masuk ke apartemen Taeyeon dan melihat gadis itu tengah memasukkan pakaiannya kedalam koper. Jessica mengerutkan keningnya.

“Kau mau kemana?” tanya Jessica.

Taeyeon terkejut melihat sahabatnya di apartemennya. “Uh uh. Appa mengajakku berlibur.”

“Sekarang ini? Harus?”

“Eo- Eoh. Appa sudah membeli tiket.”

Jessica duduk di ranjang Taeyeon. “Sudah berhari-hari Tiffany mengurung dirinya di kamar. Kau tidak ingin menjenguknya?”

Taeyeon menghentikkan kegiatannya. “Kau sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan Tiffany” ujar Taeyeon dingin.

Jessica menghela napasnya. “Aku tidak bermaksud seperti itu. Kemarin aku tidak bisa mengontrol emosiku melihat keadaan Tiffany. Mianhae.”

Taeyeon tersenyum lemah. “Aku akan menjenguknya nanti seusai berlibur. Sebaiknya kau pulang Sica. Aku akan berangkat sebentar lagi.”

“Gwaenchanha aku akan menginap disini. Kau berangkatlah. Have fun bersama ayahmu.”

Jessica mulai menempatkan dirinya di ranjang Taeyeon untuk tidur. Taeyeon sendiri sudah selesai mengemasi barangnya dan bersiap keluar.

“Eo, Taeng. Ini milikmu?” tanya Jessica saat melihat sebuah kalung kunci di meja samping tempat tidur.

Taeyeon menoleh sekilas. “Eoh. Itu pemberian Daddy Jung dulu.. haah aku merindukan beliau.”

Jessica mengerutkan keningnya. “Daddy?” gumamnya.

“Aku berangkat dulu, Sicaa. Jaga dirimu!” teriak Taeyeon karena sudah berada diluar kamar.

Jessica sendiri masih terdiam di kamar Taeyeon, kepalanya mulai berpikir sesuatu. Hingga dia teringat hari dimana Daddy nya meninggal. Daddy Jung pernah menyerahkan kotak kepadanya sebelum meninggal. Saat itu dia tidak sempat memikirkan kotak tersebut karena masih terselimuti duka. Dan setelah berlalunya hari Jessica mengambil kotak tersebut dan mencoba membukanya. Dia tidak berhasil karena kotak tersebut terkunci. Karena tidak kunjung berhasil mendapatkan kunci akhirnya gadis itu menyerah dan hanya meletakkan kotak tersebut di mejanya sebagai hiasan.

 

“Waktu Daddy uhuk tidak banyak. Buka uhuk kotak itu. Uhuk uhuk kau pasti tahu dimana uhuk kuncinya.”

 

Jessica membuka mulutnya. “Seolma..”

Dia melihat kalung kunci tersebut. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Jessica lalu bangkit dari tidurnya kemudian berlari menuju basement tempat mobilnya diparkirkan. Gadis blasteran itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju apartemennya.

Setelah sampai pun gadis itu melanjutkan jalannya dengan berlari. Dia tidak peduli dengan rasa kebenciannya terhadap lari. Dia tidak peduli.

Akhirnya sampailah ia di kamarnya. Jessica segera menyambar kotak yang bertahun-tahun lalu diberikan Daddy nya itu. Dia membuka kotak tersebut dengan kalung kunci milik Taeyeon dan..

Terbuka.

Jessica menutup mulutnya karena begitu terkejut. Dia lalu membuka kotak tersebut untuk melihat isinya.

Sebuah surat dan juga buku rekening. Jessica mengambil buku rekening tersebut dan membulatkan matanya melihat nominal di dalamnya.

“Daddy…” gumamnya.

Jessica kemudian membuka surat yang mulai usang tersebut. Matanya bergerak mengikuti tulisan Daddy nya tanpa meninggalkan satu huruf pun.

Begitu dia selesai membaca keseluruhan surat, gadis itu terduduk lemas.

“Ya Tuhan. Hyejin.. Tiffany..”

“… Taeyeon.”

 

***

 

Present…

 

Jessica, Tiffany, Yuri, dan Sooyoung setelah mendapat pesan dari pengirim misterius segera pulang ke tempat masing-masing dan mengemasi barang-barang mereka. Pengirim misterius tersebut memberitahukan kepada mereka bahwa Taeyeon telah kembali ke Korea. Hal tersebut bukan bualan semata karena pengirim misterius itu juga menyertakan foto. Yuri merupakan ahli dalam bidang teknologi dan dia bisa memastikan kalau foto tersebut bukan editan.

“Shit! Kenapa mendadak sekali?!” gerutu Sooyoung di mobil dalam perjalanan mereka ke Korea.

“Kau sudah memastikan apa dia benar kembali ke Korea pada orang-orangmu, Yul?” tanya Jessica.

Yuri mengangguk dan masih fokus menyetir.

“Yul…” panggil Jessica.

“Hm?”

“Entah mengapa perasaanku tidak enak.”

Yuri menatap Jessica sekilas. “Gwaenchanha. Semua akan baik-baik saja.”

“Kau yakin?”

Yuri sebenarnya kurang yakin, tapi dia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Dia tidak mau membuat Jessica makin khawatir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kalian kira akan mudah menemui Taeyeon, huh? Kalian bodoh. Hahaha.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya kembali yehey. ini fic bentar lagi tamat woohoo.

Gimana guys? Taeny bentar lagi ketemu tapi belom romantisan dulu wkwk

Kaay see u next chap, dun forget to comment~

 

Btw, ada yang pengin oneshoot?

Enterprischool (Chapter 13)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

 

Tiffany POV

 

Liburan kali ini memang menyenangkan. Semua sahabatku berkumpul dan berlibur bersama. Sudah cukup lama aku tidak merasakan perasaan bahagia semacam ini. Tapi entah mengapa tetap saja terdapat sesuatu yang kosong. Sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Namun setelah berusaha keras mencari, ternyata telah kutemukan apa itu.

Cinta.

Ya, aku membutuhkan cinta. Bukan cinta dari seorang sahabat seperti yang teman-temanku berikan. Tetapi cinta seperti milik Adam dan Hawa, Romeo dan Juliet, cinta semacam itu. Terakhir kali aku merasakannya adalah satu tahun yang lalu. Ketika seorang gadis mungil berhasil menggetarkan jiwaku. Mencuri hati dengan mudahnya, hingga dengan cepat masuk kedalam pesonanya.

Kim Taeyeon.

Tiap kali kuingat namanya aku tersenyum, dan dalam waktu bersamaan aku menangis. Tersenyum karena banyak kenangan manis yang kami buat, menangis karena dia juga yang memberi luka.

Bagaimana kabarnya saat ini? Apa dia baik-baik saja? Apakah dia masih ingat denganku?

Bagaimanapun aku mencoba untuk melupakannya, bahkan membencinya, selalu saja berbuah kegagalan. Aku takkan pernah bisa membencinya, meski dia beri luka sebanyak lautan sekalipun. Apakah aku bodoh? Mungkin. Aku bodoh karena terlalu mencintainya.

Pernah terpikir olehku untuk mencari seseorang untuk menggantikan keberadaannya. Bahkan banyak juga yang mulai mendekatiku. Jun salah satunya. Dia menyatakan cintanya padaku beberapa waktu yang lalu. Namun aku belum cukup siap untuk itu. Dan lagi, Jun adalah sahabatku. Aku tak ingin menjalin hubungan dengan sahabatku sendiri. Ku katakan padanya dan dia memakluminya. Kami juga sepakat untuk melupakan hari itu dan tidak lagi menyinggungnya.

Aku tersentak saat tiba-tiba ponselku berbunyi. Kami masih di penthouse milik Jun di China dan tengah beristirahat karena sudah malam. Kuambil ponselku di meja dan membukanya.

Dari nomor tak dikenal.

Temui aku besok pukul 08.00 di cafe Woostin. Kalau kau tidak datang kau akan menyesal, Tiffany-ssi.

Mataku mengernyit. Segera kubalas dengan menanyakan siapa pengirim tersebut. Namun setelah bermenit-menit, bahkan sampai satu jam aku menunggu, nomor tersebut tak kunjung membalas. Kubaringkan tubuhku ke ranjang dan menghela napas panjang. Kau tidak akan tahu jika kau tidak datang. Aku mengangguk dan memutuskan untuk datang besok. Walaupun aku tidak tahu itu membahayakanku atau tidak tapi perasaanku mengatakan untuk datang.

 

***

 

Dua hari berlalu. Jessica, Yuri, dan Sooyoung masih tetap berada di apartemen milik Sooyoung di China. Mereka belum juga bertindak untuk membereskan masalah sahabat mereka. Taeyeon terlalu sibuk dan hal itu menjadi penghalang utama mereka. Jika Taeyeon sibuk, maka misi tidak bisa dilakukan, karena pekerjaan Taeyeon pasti akan terganggu. Gadis mungil itu tidak bisa mengontrol emosinya dan bertingkah gegabah jika dalam keadaan seperti itu.

“Bagaimana jika kita keluar saja? Hanya memantaunya. Kau tahu, aku juga sedikit rindu pada bocah itu.” usul Sooyoung.

Yuri menoleh ke arah Jessica, meminta persetujuannya.

“Arrasseo. Sigh, masalah midget satu itu sebenarnya sederhana. Mengapa terlihat rumit?” ucap Jessica.

“Kau tahu apa yang membuatnya rumit, Sica.” Yuri mengingatkan.

“Yeah, ‘orang itu’ lah yang membuat rumit segalanya.”

Yuri dan Sooyoung tertawa melihat wajah sahabatnya yang terlihat kesal. Jessica melihat keduanya dan memutar bola matanya.

Saat hendak bangkit untuk pergi meninggalkan mereka berdua, ponsel milik Jessica berbunyi. Dia kembali duduk dan membuka ponselnya.

Jessica menaikkan satu alisnya, sedangkan Yuri dan Sooyoung bertanya siapa yang mengirim pesan. Jessica menghiraukan mereka dan mulai membaca isi pesan tersebut.

“Sica?” panggil Yuri.

Jessica menolehkan wajahnya kearah sahabatnya dengan pelan dan menunjukan isi pesan tersebut kepada mereka. Wajah Yuri dan Sooyoung berubah seketika.

 

***

 

“Appa!” teriak Taeyeon begitu Appa nya sampai di rumahnya.

Taeyeon berlari kecil dan memeluk Appanya dengan senang. Sudah sekitar tiga bulan gadis itu tidak bertemu dengan Appa nya dikarenakan pekerjaan. Tentu nya Taeyeon merindukan Appa yang sudah membesarkannya itu.

“Appa lelah? Sebaiknya Appa istirahat dahulu.”

Pria paruh baya tersebut tertawa pelan. “Heish kau ini. Korea-China tidak sejauh itu hahaha.”

Taeyeon meringis mendengar ucapan ayahnya.

“Geunde Appa. Apakah aku harus menetap di China seterusnya?”

Pertanyaan Taeyeon membuat Appa nya terdiam sesaat. Taeyeon sedikit menaikkan alisnya saat melihat raut wajah ayahnya. Namun detik kemudian senyum Appa nya mengembang.

“Kau boleh kembali  ke Korea kalau kau mau, Taeyeon-ah. Sebelum itu, kau harus menyelesaikan proyek disini. Jangan lupakan itu, sayang.”

Taeyeon tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Appa nya.

“Tapi Taeyeon-ah, mengapa kau ingin sekali kembali ke Korea? Bukankah China menyenangkan?”

“Disini memang menyenangkan, tapi aku juga memiliki tanggungjawab di Korea. Perusahaan milikku dan Yuri  Sooyoung ada disana. Lagipula aku harus meminta maaf kepada mereka karena menghilang secara tiba-tiba.”

Appa nya mengangguk. “Geureohguna.”

“Okay. Kembalilah kapanpun kau mau. Appa lelah. Appa istirahat dulu.”

Setelah punggung Appanya tak terlihat, Taeyeon mengerutkan keningnya, namun tak berselang lama. Dia hanya mengangkat kedua bahunya dan pergi ke ruang kerjanya.

 

***

 

Keesokan harinya Tiffany benar-benar datang ke cafe yang pengirim misterius tersebut beritahukan. Awalnya Jun ingin menemani gadis itu, namun Tiffany terus menolaknya dengan halus. Dia tidak ingin Jun khawatir jika dia memberitahukannya yang sebenarnya.

Saat sampai di cafe terseut, Tiffany tak melihat seorangpun yang dia kira pengirim misterius itu. Dia pun memutuskan untuk duduk di meja dekat pintu masuk. Mungkin pengirim pesan tersebut belum datang. Setelah menunggu lima menit lamanya, bel pintu masuk berbunyi. Tiffany mendongakan kepalanya dan terkejut mendapati seseorang yang dikenalnya masuk kedalam.

“Unnie!”

Orang yang dia panggil Unnie juga sama terkejutnya. Dia berlari menuju arah Tiffany diikuti kedua orang di belakangnya.

“Tiff, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” Jessica mengecek seluruh tubuh Tiffany takut ada yang luka.

“Aku baik-baik saja Unnie. Apakah Unnie yang mengirimiku pesan semalam?” tanya Tiffany.

“Pesan? Pesan apa maksudmu?” bukan Jessica yang bertanya, namun Yuri.

Tiffany membuka ponselnya dan memperlihatkannya pada mereka.

“Tunggu dulu. Bukankah itu nomor yang mengirimimu pesan juga semalam?” tanya Sooyoung.

Jessica mengambil ponselnya dan membukanya untuk memastikan apakah nomor tersebut sama atau tidak. Dan disaat yang bersamaan ponselnya berbunyi, menandakan pesan baru masuk.

Tiffany sudah ada di depanmu. Kau yakin tidak mau memberitahunya mengenai Taeyeon?

Yuri merebut ponsel Jessica setelah melihat perubahan wajah Jessica.

“Ige mwoya?!” teriak Yuri.

Sooyoung merebut ponsel tersebut dari tangan Yuri dan membacanya. Gadis tinggi itu sedikit mengernyitkan keningnya. Tak berapa lama kemudian matanya melebar seperti mendapatkan sesuatu.

“Yul, Sica. Aku tidak tahu siapa yang mengirim ini. Tapi kurasa dia berniat baik. Dan kurasa kau harus memberitahukan yang sebenarnya pada Tiffany. Dia butuh untuk tahu.” Ujar Sooyoung.

“Yul?” Jessica bertanya pada Yuri.

Yuri mengangguk pelan. “Lebih baik dia tahu sekarang sebelum semuanya bertambah rumit.”

Jessica menghela napasnya pelan. Dia lalu melihat ke arah Tiffany dengan wajah penuh penyesalan. Jessica terdiam sebentar sebelum mengatakannya pada Tiffany.

“Aku dan Taeyeon pernah dijodohkan.”

“MWO?!” teriak Tiffany.

“Kau harus mendengarkan semua ceritaku tanpa menyelanya, okay?”

Hari itu pun Jessica menceritakan semuanya pada Tiffany dan alasan mengapa Taeyeon meninggalkan mereka semua.

.

.

.

“Unnie kita harus mencari Taetae! Unnie ppali kita harus menemuinya!”

Tiffany berdiri setelah mendengar semua cerita Jessica. Yuri menahan gadis itu yang mulai terbawa emosi.

“Tiff tenanglah. Kami tahu dimana Taeyeon berada.”

“Maka dari itu ayo cepat menemui nya!” teriak Tiffany putus asa.

“Kalau kau ingin bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini, dia mungkin dalam keadaan bahaya. Tidak bisakah kau tenang? Kami juga tengah mencari cara.”  Ucap Sooyoung.

“Duduklah.” Pinta Yuri.

Tiffany duduk dengan lemas. “Taeyeon-ah…”

 

Di kejauhan seperti biasa ada mata yang mengawasi Tiffany. Kedua orang itu terlihat serius saat menangkap seseorang yang berjalan mendekati cafe dimana Tiffany berada.

“Zhou, bukankah itu ‘orang itu’?”

“Ya Tuhan! Kau benar. Dimana ponselku?” tanya Jieqiong.

Jieqiong merogoh saku celananya namun wajahnya terlihat panik. Dia merogoh sekali lagi dan tidak menemukan ponselnya.

“Oh tidak aku meninggalkannya di toilet tadi!”

“Aish! Bagaimana ini?”

Saat dilanda kebingungan, Cheng Xiao melebarkan matanya saat melihat empat sosok yang baru saja masuk ke cafe tempat Tiffany berada. Gadis itu mendapat ide.

Cheng Xiao mengambil ponsel baru yang dibelinya tak lama tadi dan dengan kecepatan super mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya ke nomor yang dihafalnya diluar kepala.

Seperti yang diperkirakannya, Tiffany dan ketiga temannya di cafe tersebut secara spontan menghilang sebelum ‘orang itu’ masuk kedalam cafe.

Jieqiong yang baru tiba setelah berlari menggunakan segenap kekuatannya untuk mengambil ponselnya di toilet terkejut mendapati orang yang diawasi mereka sudah tidak berada di tempatnya lagi.

“Dimana mereka?” tanya Jieqiong

Cheng Xiao tersenyum. “Mereka sudah aman.”

.

.

.

“Ya ya ya ya lepas! Siapa kalian hah?!” teriak Jessica begitu mereka sampai diluar.

Yuri dan Sooyoung meraih kerah kedua orang yang menyeretnya dan hendak memukulnya.

“Hentikan, Unnie!” teriak Tiffany.

“Eunseo, Rena sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany.

“Mianhae, Fany-ah. Mungkin kau tidak tahu, tapi kami melakukan ini demi kebaikanmu.”

Tiffany menaikkan alisnya.

“Mereka siapa, Tiff?” tanya Yuri.

“Kedua orang ini temanku. Dia Son Eunseo dan Rena Kang. Tapi kedua orang di sebelahnya aku tidak tahu.” Jawab Tiffany.

“Maafkan kami telah menyeret paksa kalian tadi. Kami benar-benar minta maaf. Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu.” Seorang yang tertua diantara mereka berbicara dengan ekspresi wajah yang sama, datar dan menundukkan kepalanya pamit.

“Aku akan memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi nanti.” Ucap Eunseo sebelum bergabung dengan ketiga teman mereka yang sudah pergi terlebih dahulu.

“Mereka aneh sekali.” Pikir Sooyoung. Yuri dan Jessica mengangguk mengiyakan.

“Sudahlah lupakan. Tiff, kau ada waktu besok? Mari kita bertemu lagi untuk membahas masalah ini.” Saran Yuri.

Tiffany mengangguk pasti. Dia sudah memutuskan untuk kembali lagi pada pemilik hatinya meski dia tahu tidak akan mudah untuk melewati masalahnya.

“Tapi Unnie. Bukankah kita juga butuh seseorang dengan kuasa yang sama besarnya dengan ‘orang itu’?” tanya Tiffany.

“Ah matta kau benar.”

Tak lama setelah Tiffany mengatakan hal tersebut ponsel Jessica berbunyi. Mata nya melebar melihat pesan yang tertera disana.

“Yul…” panggil Jessica lirih dan menyerahkan ponselnya pada Yuri.

 

 

 

 

 

 

 

“Ya benarkah tadi untuk kebaikan mereka?” tanya gadis berambut coklat setelah jarak mereka dengan Tiffany dan teman-temannya cukup jauh.

“Entahlah. Pacarku menyuruhku untuk membawa keluar mereka apapun yang terjadi. Aku tidak bisa menolak kalau tak ingin diputuskan.” Jawab Eunseo enteng.

Ketiganya terkekeh pelan mendengar jawaban Eunseo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Maapkaaan. Sebenernya gw udah nulis ini dari kemaren tapi lupa terus buat post nya. Next chap gak lama-lama lagi deh gw usahain.

Soooo what do u think of diz chap guyz? Gimme ur thoughts please…

Enterprischool (Chapter 12)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

.

Deru ombak bersahutan dengan semilir angin yang menerpa wajah Tiffany dan temannya. Setelah cukup lama berdebat mengenai tempat yang akan mereka kunjungi pertama, akhirnya pilihan Yoona menang. Gadis beagle itu senang bukan main. Sedangkan Seohyun hanya bisa menekukan bibirnya kebawah sepanjang hari. Namun setelah sampai di pantai, gadis paling muda itu justru begitu girang. Yoona saja dibuat heran.

“Yoong, buatkan aku istana pasir!” seru Seohyun.

“Shirheo.” balas Yoona singkat.

Seohyun menaikkan alisnya dan menekuk tangannya di depan dada.

“Im Yoona~” rengek Seohyun tiba-tiba seraya menarik lengan gadis beagle di depannya.

Yoona mendesah. “Minta dengan manis.”

Seohyun melepas tarikannya di lengan Yoona. “Geurae.”

Setelah itu, sang maknae mempersiapkan diri dan sedikit mengecek suaranya.

“Yoongie unnie~ buatkan hyunie istana pasir juseyooong~” ucap Seohyun dengan aegyo versinya disertai winkeu.

Namun reaksi Yoona adalah datar. Bukan maksud gadis itu untuk jahat, tapi aegyo Seohyun benar-benar gagal. Sedangkan Tiffany dan Jun yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa menahan tawanya.

Seohyun menghentakkan kakinya kesal dan pergi setelah melihat reaksi Yoona. Tanpa banyak berpikir, Yoona menarik tangan Seohyun hingga gadis itu berbalik.

“Arrasseo akan kubuatkan. Kau tunggu disini, ne?”

Senyum Seohyun kembali mengembang sempurna. Gadis itu mengangguk cepat. Entah mengapa Seohyun begitu manja hari ini. Yoona tak begitu memikirkannya asalkan sahabatnya itu senang.

“Kau mau bergabung dengan Yoong?” tanya Jun pada gadis di sampingnya.

“Kau duluan saja. Aku ingin mengambil sun block ku dulu.”

Jun mengangguk kemudian mulai bergabung dengan Yoona bermain pasir.

Tiffany hendak meraih sun block nya didalam tas ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi menandakan ada pesan yang baru masuk. Dia meraih ponselnya dan segera membukanya.

Dari nomor tidak dikenal.

 

Fany-ah, bogoshippo..

 

Hanya satu kalimat biasa, dari nomor tidak dikenal pula, namun dahsyatnya mampu membuat jantung Tiffany berdetak cukup kencang.

“TIPPANY-AH!” panggil Jun dari kejauhan.

Tiffany tersentak. “N-Ne!”

Gadis itu buru-buru meletakan ponselnya dan berbalik menuju arah teman-temannya.

Jun mengerutkan keningnya. “Mana sunblock mu?”

Mata Tiffany membulat. “Astaga aku melupakannya. Tunggu.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany berlari menuju tempat dimana tas dan perlengkapan mereka diletakan dan mengambil sun block miliknya. Dia tersenyum kaku pada Jun dan mulai memakainya. Dia juga mengoleskan sunblock nya pada Yoona dan Seohyun dengan dalih menghindari kontak mata Jun.

“Kau baik-baik saja, Tiff?”

Tiffany menoleh. “N-ne dangyeonhaji (tentu saja)”

***

Sooyoung terbangun saat mencium bau sesuatu dari luar kamarnya. Dia turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Sooyoung melihat sesosok manusia di pantry tengah melakukan sesuatu.

“Kau sudah bangun?” tanya orang itu pada Sooyoung.

“Hm. Bau makanan membangunkanku.”

Gadis itu terkekeh. “Yeoksi Choi Shikshin.”

“Bagaimana dengan manusia satu itu?” tanya Yuri kemudian.

“Kau tahu seperti apa dia saat tidur..”

 

“…tidak ada harapan.” ucap keduanya bersamaan kemudian tertawa bersama.

“Bukankah illegal membicarakan orang dibelakang?” tanya sebuah suara.

“OMO KKAMJAKKIYA!” terkejut Sooyoung.

Yuri menolehkan kepalanya kebelakang melihat apa yang terjadi kemudian tertawa.

“Ya Jung Sooyeon! Bisakah kau tidak mengejutkanku?” protes Sooyoung.

Jessica hanya menaikkan bahunya dengan wajah datar dan mendekati Yuri.

“Yul, na baegopa.” rengek Jessica seraya memeluk Yuri dari belakang.

Sooyoung berdecak. “Eish, siapa yang kemarin saling menjauhi dan bersikap dingin satu sama lain, uh?” sindir Sooyoung.

“Diam kau jerapah.” balas Jessica dengan suara kecil. Gadis itu masih sedikit mengantuk.

Yuri tersenyum dan membalikkan tubuhnya. “Tidurlah sebentar di sofa. Masakanku sebentar lagi matang.”

Tanpa banyak bicara, Jessica mengangguk dan berjalan menuju sofa. Saat berpapasan dengan Sooyoung gadis itu menjulurkan lidahnya mengejek. Sooyoung hanya bisa berdecak dan menggerutu.

“Kapan kita mulai melakukan operasi?” tanya Sooyoung sembari memakan snack yang tersedia di meja pantry.

“Hmmm, entahlah. Taenggu cukup sibuk minggu ini.” jawab Yuri.

“Kau tahu darimana?” tanya Sooyoung.

Yuri berbalik. “Kau ingat Kang Seulgi?”

Sooyoung mengangguk.

“Dia sekarang bekerja di perusahaan Taeyeon. Aku mendapat berbagai informasi dari dia.”

“Wah daebak! Kita tidak perlu menyamar untuk mendekati sarang musuh. Cukup andalkan dia saja.”

Yuri tersenyum. “Benar, kan.”

***

Kembali lagi dengan Tiffany, Jun, Yoona, dan Seohyun di pantai, dua orang misterius juga berada disana. Tidak lain dan tidak bukan tentu saja Ms. Zhou Jieqiong dan Ms. Cheng Xiao Xiao suruhan Taeyeon. Seperti biasa dua gadis itu mengawasi kegiatan Tiffany selama di China maupun di Korea dari kejauhan.

“Bukankah kau merasa pekerjaan ini begitu mudah?” tanya Jieqiong menggunakan bahasa kelahiran mereka, China.

Cheng Xiao mengangguk. “Kurasa masalah ini begitu sepele. Mereka saling mencintai, namun karena suatu sebab mereka harus berpisah.”

“Kau tahu apa penyebabnya?” tanya Jieqiong lagi.

Cheng Xiao tertawa. “Tentu saja.”

Mata Jieqiong membulat. “Bagaimana bisa…”

Cheng Xiao menoleh dan menatap Jieqiong dengan smirk. “Aku Cheng Xiao Xiao, mata-mata paling handal di China tentu saja menyelidiki latar belakang Kim Taeyeon terlebih dahulu.”

Jieqiong terkekeh. “Kau jenius.”

Cheng Xiao berdehem sebelum berbicara. “Jadi, kau mau mengganti rencana?”

“Sepertinya akan lebih menyenangkan.” jawab Jieqiong dengan senyum misterius.

***

Hari yang begitu sibuk, sama seperti hari sebelumnya. Terdapat proyek besar yang tengah dikerjakan Taeyeon dan company nya. Oleh sebab itu gadis mungil selalu sibuk belakangan ini.

Ponsel Taeyeon berbunyi. Gadis itu segera menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Yeoboseyo.”

“Taeyeon-ah!”

“Eo, Appa! Wae appa?”

“Nadamu terdengar tidak suka Appa menelepon.”

“Bukan begitu, Appa. Aku tengah sibuk dengan pekerjaan. Appa sendiri tahu Appa melimpahkan proyek besar kepadaku.”

Terdengar suara tawa di seberang.

“Arrasseo. Appa hanya ingin memberitahumu besok apa ke China. Appa merindukanmu uri ttal.”

Taeyeon tersenyum. “Aku juga merindukanmu, Appa. Kalau begitu sampai jumpa, Appa.”

“Ne. Kututup teleponnya. Himnae Taeyeon-ah!”

Taeyeon tertawa kecil. “Himnae!”

Setelah menutup telepon, Taeyeon kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dia hendak meraih kertas di depannya ketika pandangannya menangkap sebuah foto yang terpampang disana. Dia meraih foto dibalik figura tersebut dan memandangnya sendu.

“Ppany-ah, apa kau merindukanku juga? Kau terlihat bahagia tanpa ku.”

Taeyeon merasakan sesuatu mengalir di pipinya. Gadis itu tersadar dan segera mengusap airmatanya.

“Aah, mungkin karena stress aku jadi sering sekali menangis.”

“Fokus Taeyeon-ah! Semangat!”

Taeyeon menyemangati dirinya sendiri dan mulai melanjutkan pekerjaannya lagi.

Sedikit dia tahu, apa yang selama ini dia lakukan hanyalah membunuh dirinya sendiri secara perlahan. Mungkin dia bisa bisa hidup tanpa Tiffany, tapi hatinya tidak. Dan Taeyeon tidak menyadari itu semua. Itulah yang membuatnya menjadi seorang gadis yang begitu menyedihkan.

***

Setelah puas bermain di pantai, keempat sahabat itu beralih menuju pusat perbelanjaan. Kini giliran Tiffany yang begitu riang. Sedangkan Seohyun hanya bisa mengembuskan napasnya kasar. Dia sedikit kecewa karena keinginannya ke amusement park harus ditunda terlebih dahulu. Mereka baru akan pergi kesana besok. Yoona? Gadis itu tidak masalah selagi mendapatkan makanan enak.

Mereka berempat mengunjungi toko ke toko. Tentu saja itu kemauan Tiffany. Gadis itu tidak akan menyerah sebelum berhasil mendapatkan sesuatu yang menurutnya adalah style nya di setiap toko. Hasil belanjaannya pun luar biasa. Seohyun, Yoona, dan Jun hanya membawa masing-masing satu paper bag sebagai barang hasil belanjaannya.

Tiffany?

Gadis menakjubkan itu telah membawa paper bag dengan total 16 bag yang masing-masing dibawakan oleh ketiga temannya secara sukarela.

“Unnie geumanhae juseyo.” rengek Yoona.

“No, masih ada lima toko lagi yang belum ku datangi.”

“MWO?!” teriak mereka bertiga.

“Wae? Kalian sudah kuberi makan tadi. Harusnya kalian siap untuk shopping.” jawab Tiffany.

“Unnie, apa kau tidak melihat ini?” tanya Seohyun dengan menunjukan paper bag di tangannya.

“Tidak. Kajja kita pergi!” Tiffany mulai berjalan memimpin di depan.

“Ya Tuhan, tanganku mulai mati rasa.” keluh Jun karena pria itu membawa paper bag yang lebih banyak.

“Permisi. Apa kalian membutuhkan bantuan?” tanya seseorang pada mereka.

“Ya bodoh! Mereka belum tentu orang Korea! Gunakan bahasa China atau Inggris!” bisik teman disebelahnya namun masih bisa di dengar Seohyun, Yoona, dan Jun.

“Aah kami orang Korea. Gwaenchanha, kami bisa membawa sendiri.”

“Jinjjayo? Geurae tidak apa-apa. Kami bukan orang buruk. Kulihat kalian kesusahan membawa barang tersebut.”

“Oppa berikan saja. Kami lelah.” rengek Yoona.

Jun mendesah. “Baiklah jika tidak merepotkan kalian.”

Kedua orang asing tersebut tersenyum. “Sama sekali tidak.”

Mereka berlima mulai berjalan menyusul Tiffany di depan.

“Ireumi mwoeyo?” tanya Jun.

“Ah, Son Eunseo imnida. Dan ini teman saya Rena Kang.”

“Ah begitu. Namaku Choi Jun. Dan dua orang itu Im Yoona dan Seo Joo Hyun.”

“Ne, tapi aku lebih suka dipanggil Seohyun.” timpal Seohyun.

Mereka berlima mulai mengobrol berbagai hal layaknya teman lama. Suatu kebetulan bertemu orang Korea di China. Mungkin karena itulah mereka menjadi cepat akrab. Tiffany yang tadinya sibuk berbelanja juga dikenalkan pada mereka, dan menjadi akrab juga.

 

Seperti biasa di kejauhan. Jieqiong dan Cheng Xiao mengawasi mereka. Namun kali ini sedikit berbeda. Terdapat rasa kesal di wajah mereka melihat targetnya dengan dua orang asing. Lebih tepatnya kesal dengan dua orang asing tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya saya nulis juga 😔

Udah 2 bulan semenjak tulisan terakhir gw omaygawd. Miaanee, gw lupa masi punya tanggungjawab disini. Mian juga ga panjang. Kalian pasti pengen taeny cepet ketemu. Tapi berhubung ini tulisan pertama gw setelah beberapa abad mungkin ga etis cepet2 nemuin mrk wkwkwk.

Sooo how ’bout dis chap? Gimme ur thoughts everyone~

Cough

Title : Cough

Main Cast : find by yourself

Length : Drabble

Author : N

.

.

.

 

Kotor. Berantakan. Berserakan. Asap mengepul ditambah aroma gosong. Taeyeon mengangkat tangannya melihat pemandangan tersebut.

Bukan niatnya untuk menghancurkan pantry nya, lagipula gadis itu pandai memasak. Tapi entahlah. Taeyeon rasa jiwanya telah beterbangan kesana kemari meninggalkan raganya. Dia tidak bisa fokus meski untuk meletakkan pan diatas kompor sekalipun.

Melihat kegagalannya yang tidak bisa dia ubah, Taeyeon mengambil ponselnya dan berniat menelepon oppa nya.

“Oppa!” seru Taeyeon saat panggilan terhubung.

“Waegeurae?”

“Aku butuh bantuanmu untuk memasak. Cepat kemari!”

“Jangan gila, Taeng. Kau pikir darisini ke Seoul bisa ditempuh dengan berjalan kaki?”

Taeyeon terdiam. Benar juga. Jarak rumahnya dengan apartemennya cukup jauh dan memerlukan waktu beberapa jam. Taeyeon mengutuk kebodohannya.

“H- Hayeoni…”

Tuut tuut tuut

Panggilan dimatikan.

Taeyeon menurunkan ponselnya di telinganya dan memandangnya kosong.

“Bodoh..” gumamnya.

Dia menggelengkan kepalanya dan tak kehabisan ide. Taeyeon mulai mencari nama seseorang di kontaknya dan mulai menghubunginya.

“Yeobose-…”

“Yeri-ya!” teriak Taeyeon tanpa mempersilakan Yeri meneruskan kalimatnya.

“Ne. Waegeurae unnie?”

“Bisa kau datang ke apartemenku dan memasakkan sesuatu? Kukira aku telah mengacaukan pantry disini.”

“Unnie.. kau lupa aku tidak bisa memasak? Revel unnie yang membuatkanku makanan.”

Taeyeon terdiam lagi.

“Kau benar. Ah kalau begitu datang sajalah, aku membutuhkan teman.”

“Arrasseo. Tunggu aku sepuluh menit.” 

Setelah panggilan selesai, Taeyeon menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia mengembuskan napasnya kasar. Wajahnya ia tolehkan ke samping dan pada saat itu dia melihat foto dirinya bersama seseorang di figura yang berdiri kokoh di meja samping. Taeyeon mengulurkan tangannya dan membalikkan foto tersebut kebawah sehingga dia tak bisa lagi melihat foto tersebut. Namun detik kemudian dia kembali menegakkan foto tersebut. Taeyeon memandangnya nanar. Dia menggeleng lalu mulai membalikkan foto tersebut untuk yang kedua kali.

“Huh dwaesseo.” ucapnya.

“Geu nappeun saram..” lanjutnya.

“Argh. Kenapa Yeri lama sekali?!”

Taeyeon memposisikan tubuhnya di sofa dengan berbagai macam posisi hingga membuatnya jengah. Gadis itu tidak tahu harus melakukan apa. Hingga tiga puluh menit kemudian bel apartemennya berbunyi. Taeyeon langsung melompat dari sofa dan berlari menuju pintu. Dia melihat Yeri di intercom lalu membuka pintu apartemennya.

“Sepuluh menit, huh?” sindir Taeyeon.

Yeri menunjukkan cengiran khasnya dan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.

“Seulgi unnie meminta bantuanku tadi. Mianhae.”

Taeyeon menggeleng. “Masuklah.”

Yeri dengan senang hati masuk kedalam apartemen sunbae favoritnya.

Taeyeon yang sadar Yeri membawa sesuatu ditangannya segera menanyakannya.

“Apa yang kau bawa itu?”

“Ah ini nasi goreng kimchi. Seulgi unnie yang membuatnya.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Jadi maksudmu, Seulgi meminta bantuanmu untuk memasakkan ini?”

Yeri menjentikkan jarinya dan mengangguk. “Aku menceritakan keadaan unnie kepadanya.” ujar Yeri dengan senyum bangga.

Taeyeon menatap Yeri dengan tatapan sendu. “Aih cham~ harga diriku.” lirihnya.

Yeri segera masuk ke pantry apartemen Taeyeon dan menyiapkan makanan yang dibawanya untuk unnie nya. Dia merasa seperti di rumah sendiri. Dan seperti itulah tipikal seorang Kim Yerim.

Doing whatever she wants to.

“Jja~ nasi goreng kimchi untuk Kim Taeyeon sunbaenim tercinta~”

Meskipun sedikit ragu menerima makanan yang dibawa Yeri, namun Taeyeon tetap tak bisa menolaknya. Dia kasihan dengan perutnya yang meronta-ronta ingin diisi.

Selagi Taeyeon memakan nasi goreng tersebut, Yeri menyalakan televisi dan mencari channel yang ingin dia tonton. Dan pilihannya jatuh kepada KBS Music Bank.

“Akhir-akhir ini banyak sekali grup baru.” kata Taeyeon.

Yeri menoleh kearah unnienya. “Grup rookie mana yang kau sukai, unnie?”

Taeyeon mengerutkan keningnya, membuat ekspresi berpikir. “Bagiku masih tetap Red Velvet.”

Yeri memutar bola matanya malas. “Kami sudah debut tiga tahun yang lalu unnie.”

“Jinjja? Kenapa waktu berlalu cepat sekali?”

Yeri mengembuskan napasnya pelan. Dia kembali fokus melihat tayangan di depannya yang menampilkan grup CLC – Black Dress.

“Eoh bukankah itu grup yang menyanyikan lagu geum nawarawara?” tanya Taeyeon seraya menyanyikan salah satu lirik yang dia ingat.

Yeri mengangguk.

“Kau kenal mereka?” tanya Taeyeon.

“Aniya. Aku hanya tahu maknae nya saja. Dia seumuran denganku dan satu sekolah denganku.”

“Siapa namanya?”

Yeri menatap Taeyeon dengan mengerutkan kening. “Kalau kau penasaran cari saja di Naver.” ujar Yeri sarkas.

Taeyeon mendecakkan lidahnya. Dia memilih melanjutkan makannya. Yeri yang mulai bosan menatap sekeliling apartemen Taeyeon. Dia menangkap sebuah figura yang tertelungkup di meja samping. Yeri meraihnya dan melihat foto Taeyeon dan Tiffany disana. Gadis itu kemudian membulatkan matanya menemukan ide.

“Unnie video call dengan Fany unnie. Please~”

Taeyeon yang mendengar nama Tiffany disebut reflek tersedak. Gadis yang lebih tua terbatuk beberapa kali. Yeri menyerahkan air minum disampingnya.

“Makan pelan-pelan unnie.”

Taeyeon menggeleng. “Kau bilang apa?”

“Aku bilang apa? Makan pelan-pelan unnie. Kau tidak mendengarnya?”

“Ani. Sebelum itu.”

Yeri menaikkan alisnya. “Aah, video call dengan Fany unnie?”

Untuk yang kedua kalinya Taeyeon tersedak. Yeri mengerutkan keningnya bingung dan menyerahkan air minumnya lagi.

“Unnie gwaenchanha?”

Taeyeon menggeleng. “Berhenti menyebut namanya saat aku tengah makan?”

“Nugu? Fany unnie?” tanya Yeri.

Dan ketiga kali, Taeyeon tersedak. Kali ini batuknya cukup lama. Setelah batuknya reda, Taeyeon meminum air minumnya lagi perlahan.

“Apa kata Fany unnie begitu ajaib?”

Untuk yang kesekian kalinya Taeyeon tersedak. Air minum yang tengah diminumnya muncrat keluar. Ada yang keluar dari hidung juga. Yeri meringis. Itu pasti perih.

“Stop menyebut namanya, okay?”

Yeri mengangguk patuh.

“Apa kau bertengkar dengan Fany unnie?” tanya Yeri polos.

Entah ke berapa kali Taeyeon lagi-lagi tersedak. Dia memegang dadanya yang sakit karena berkali-kali terbatuk. Yeri menutup mulutnya. Dia lupa. Atau mungkin sengaja karena senang mempermainkan unnie nya. Entahlah hanya Yeri yang tahu.

“Mianhae un-…”

Taeyeon menghentikan ucapan Yeri dengan telunjuknya.

“Kalau kau menyebut namanya lagi, Red Velvet akan ku blacklist dari daftar hoobae favorit.”

Yeri menggeleng dengan cepat. Dia mengangkat kelingkingnya, menandakan berjanji untuk tidak menyebut, ‘Fany unnie’ lagi.

Taeyeon mendesah. Dia bangkit dari duduknya dengan membawa piring berisi nasi goreng kimchi yang bersisa setengah. Yeri menekukkan bibirnya merasa Taeyeon marah dan kesal kepadanya. Namun detik kemudian dia mendengar ucapan Taeyeon yang membuatnya terkejut..

 

 

 

 

 

 

“Kajja kita video call dengan Fany unnie.”

 

 

 

 

‘Lah?’

 

 

Yeri hanya bisa terdiam di tempatnya dengan wajah dumbfounded.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hadeuh apalah ini gaje nian.. gua gabut oy wkwk

Entsch masih belom apdet yosh. Masih ada 2 ujian yg tersisa. US sama UN. Dan senin gw US gaes. Mohon doa restunya biar dimudahin ngerjainnya hehe..

Okay.. pai pai see u next fic~

Komen juseyongg~

Enterprischool (Chapter 11)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

Tiffany, Jun, Seohyun, dan Yoona tengah bersiap melakukan perjalanan liburan pertama mereka ke China. Setelah berjam-jam berada di pesawat tidak membuat mereka kelelahan, justru sebaliknya. Jun memimpin perjalanan menuju penthouse keluarganya yang ada di China. Mereka sangat menikmati perjalanan, bahkan Yoona beberapa kali mengambil selca ataupun memotret pemandangan dari balik kaca mobil.

“Apa kalian senang?” tanya Jun.

“Neeee.” balas ketiga sahabatnya bersamaan.

“Oppa, saat kita sampai di penthouse mu nanti akan ada banyak makanan, geujeo?”

Jun tertawa pelan. “Kau tenang saja, Yoong. Aku sudah menyuruh salah satu maid disana untuk membeli baaanyak makanan.”

Yoona meninju tangan kanannya di udara dan berteriak ‘yes’. Seohyun hanya bisa memutar bola matanya malas dan kembali memainkan ponselnya.

Selama menit kedepan, mereka berempat hanya diam, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tiffany yang berada di samping Jun yang mengemudi mobil mengerutkan keningnya melihat gelagat aneh dari Jun.

“Jun, waeyo?” tanya Tiffany khawatir.

“Eo? Hmm.. aniya. Nan gwaenchanseumnida.”

“Geojitmal.” balas Tiffany.

“Benar aku tidak apa-apa, Fany-ah.” Jun menoleh sejenak ke arah Tiffany dan tersenyum. Berusaha meyakinkan sahabatnya.

Tiffany menghela napas. “Arrasseo.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya saat melihat mobil hitam di belakangnya. Namun Tiffany hanya mengangkat bahu dan memejamkan matanya, berniat beristirahat sejenak.

 

***

 

Jessica menelan ludahnya. Dia tidak biasanya bersikap takut seperti ini. Terlebih hanya karena kedua teman idiotnya.

Yuri dan Sooyoung masih menatap Jessica dengan pandangan penuh selidik.

“Sica, bekerjasamalah dengan kami. Itu akan membuat semua lebih mudah.” ujar Sooyoung setelah bermenit-menit Jessica melakukan excuses.

“Be- bekerjasama apa maksudmu.” Jessica masih keukeuh pura-pura tidak tahu.

“Tiffany dan teman-temannya sekarang berada di China.” ucap Yuri.

“MWO?!” teriak Jessica.

“Assa! Kau pasti tahu sesuatu!” Sooyoung berdiri dan menjentikkan jarinya.

“Katakan pada kami mengapa kau seterkejut itu mendengar Tiffany berada di China? Apa kau takut dia bertemu Taeyeon disana?”

Jessica menggigit bibir bawahnya. “A- Apa yang kau bicarakan.”

“Sepertinya kau tidak benar-benar menganggap kami sebagai sahabatmu selama 10 tahun ini, Jessica-ssi.” Yuri tertawa kecut. “Tidak ada bedanya dengan that asshole midget.”

Yuri bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ya Kwon Yuri! Mau kemana kau?!” teriak Sooyoung namun Yuri tak mengindahkannya.

Sooyoung mengembuskan napasnya kasar. Dia menatap Jessica tajam untuk yang terakhir kali. “If you ever consider us as a bestfriend, you never think twice to run over us when you face a problem. Itulah gunanya sahabat.”

Setelah itu, Sooyoung bangkit dan mengejar Yuri. Meninggalkan Jessica yang kini meneteskan airmata. Gadis dingin itu mengepalkan tangannya dan menangis terisak. “I’m screwed up everything.”

 

***

 

“Nona Kim, kami mempunyai kabar untuk anda.”

Taeyeon yang sedang duduk dan mengerjakan beberapa berkas mengangkat wajahnya dan mengerutkan keningnya. Gadis pendek itu berdiri dari kursinya dan mendekati kedua gadis di depannya.

“Duduk.” perintah Taeyeon.

Kedua gadis itu mengangguk dan melakukan apa yang Taeyeon suruh. Disusul Taeyeon.

“Kabar apa?” tanya Taeyeon to the point.

Gadis berambut hitam yang diketahui bernama Ms. Zhou Jieqiong menatap temannya, Ms. Cheng Xiao Xiao dan mengangguk.

Setelah dimintai Taeyeon untuk memata-matai kekasihnya, Tiffany kedua gadis itu segera melaksanakan tugasnya. Jieqiong dan Cheng Xiao memang biasa menangani masalah memata-matai seseorang, kelompok, bahkan company sekalipun. Dan mereka terkenal sangat baik dalam melakukan tugas. Maka dari itu Taeyeon menghubungi mereka.

“Ms. Tiffany tengah berada di China bersama teman-temannya untuk liburan.” ucap Cheng Xiao.

Taeyeon membulatkan matanya. Hanya mendengarnya saja sudah membuatnya sakit. Tiffany, gadis itu sudah banyak tersakiti olehnya. Taeyeon tersenyum kecut.

“Pastikan mata kalian untuk tetap mengawasinya selama berada disini.” ucap Taeyeon.

Kedua gadis di depannya mengangguk.

“Kalian boleh keluar.”

Lagi-lagi mereka mengangguk. Namun sebelum itu, Jieqiong meletakkan map yang sedari tadi dipegangnya di meja.

“Mungkin anda membutuhkan ini. Kami pamit.”

Setelah mengatakan itu, Jieqiong dan Cheng Xiao berlalu meninggalkan Taeyeon.

Taeyeon meraih map tersebut dan membukanya. Jantungnya berhenti sejenak saat pertama melihat apa yang ada didalamnya.

Foto-foto Tiffany yang tengah tertawa bahagia bersama teman-temannya. Dibaliknya juga terdapat nomor ponsel baru Tiffany. Tanpa sadar Taeyeon menitikkan airmatanya. Jujur gadis itu begitu merindukan kekasihnya. Amat sangat merindukan Tiffany.

“Fany-ah..” lirih Taeyeon dengan suaranya yang serak.

 

***

 

Hyoyeon duduk disamping Hyejin yang tengah serius menatap layar laptop didepannya. Gadis blonde itu meletakkan mug berisi coklat panas di meja dekat laptop milik Hyejin.

“Kau bekerja terlalu keras, Hyejin-ah.”

“Eo.. gomawo Hyo.” ucap Hyejin.

Hyoyeon mengangguk. “Negara mana lagi yang akan kau kunjungi?” tanya Hyoyeon sembari menyesap coklat miliknya.

“Entahlah, kontrak dengan salah satu company di Jepang yang gagal membuatku mengurungkan niat untuk menyebarkan brand ku di overseas.”

Hyoyeon tertawa pelan. “Jelas saja gagal. Company yang akan kau ajak kerjasama itu merupakan company besar. Tentu saja mereka tidak akan mau bekerjasama denganmu.”

“Ya! Kau mengejekku ya?!”

“Kalau iya memang kenapa?” balas Hyoyeon dengan senyuman menantang.

Hyejin mendecakkan lidahnta sebelum menerjang Hyoyeon dan memukuli gadis blonde dengan membabi buta.

“Aw aw aw ya ya stop it! Aww yaa Hyejin-ssi aww..”

“Rasakan itu!”

“Okay okay mianhae okay. So please stop it.”

Hyejin menghentikkan pukulannya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Hyoyeon terkekeh. “Kau jangan putus asa. Satu company menolakmu mungkin saja beratus company akan menerimamu.”

Hyejin tersenyum. Dia memeluk Hyoyeon dengan erat.

“That’s my Hyonie.”

Hyoyeon tersenyum. Dia mengusap pelan punggung Hyejin.

“Jin-ah..” panggil Hyoyeon.

“Hm?”

“Kurasa aku ingin berbaikkan dengan saudariku.”

Hyejin melepaskan pelukannya dan menatap tak percaya me arah Hyoyeon. “Jeongmalyo?”

Hyoyeon mengangguk. “Tetap saja dia saudariku. Unnie satu-satunya yang kumiliki. Tidak seharusnya kakak-beradik bermusuhan benar?”

Hyejin tersenyum senang. Dia memeluk Hyoyeon sekali lagi.”Aku akan membantumu. Terimakasih sudah membuka hatimu pada Taeyeon.”

 

***

 

“Oppa, ayo kita ke amusement park!” seru Seohyun.

Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang tengah untuk membahas tempat mana yang akan mereka kunjungi.

“Aniya. Aku ingin ke pantai.” seru Yoona tak ingin kalah.

“Noo. Aku ingin ke pusat perbelanjaan.”

Ketiganya menoleh ke arah Tiffany.

“Wae? Apa yang salah?” tanya Tiffany yang merasa diserang.

Ketiganya menggelengkan kepalanya bersamaan dan melakukan aktivitasnya semula.

“Pokoknya aku ingin ke pantai.” keukeuh Yoona.

“Aniya, lebih menyenangkan amusement park!”

“Lebih baik ke pusat perbelanjaan!”

Jun menghela napasnya melihat tingkah ketiga sahabatnya yang terus berdebat. Dia menundukkan kepalanya di meja, tak ingin ikut perdebatan mereka.

“Jun! Kau setuju ke pusat perbelanjaan kan?” tanya Tiffany.

Merasa namanya dipanggil, Jun mengangkat kepalanya dan menatap Tiffany. “Aku..”

“Oppa! Kau lebih setuju ke pantai, kan?” sela Yoona.

“Oppa! Amusement park saja!”

Jun menutup matanya sejenak dan mengembuskan napasnya kasar.

“Yedeura kita bisa pergi ke pantai, amusement park, dan juga pusat perbelanjaan. Jadi jangan meributkan hal ini lagi, oke?”

“Arrasseo. Tapi pertama-tama kita ke amusement park terlebih dahulu.”

“NOOO PANTAI TERLEBIH DAHULU.”

“Kau bicara apa? Tentu saja pusat perbelanjaan terlebih dahulu.”

Jun memegang kepalanya yang pusing melihat mereka berdebat lagi. Dia bangkit dari duduknya dan pergi darisana. Jun memilih pergi ke taman belakang penthousenya. Dia duduk di kursi panjang disana seraya memijit pelipisnya.

Craaack

Jun terkejut mendengar suara tersebut. Dia berdiri dan berlari ke sumber suara.

“Siapa disana?!” teriak Jun.

Pria itu berlari untuk melihat namun yang dia dapat hanya kosong. Tidak ada siapapun disana.

“Isanghae..” gumamnya.

 

 

 

 

 

“Bodoh! Sudah kubilang jangan terlalu dekat!” Gadis berambut warna ungu menyalahkan temannya.

“Aku tidak tahu ada ranting didepanku!” bela gadis berambut hitam.

“Yedeura geumanhae. Yang terpenting kita tidak ketahuan.” ucap gadis yang paling tua diantara mereka.

“Tetap saja yang tadi itu hampir saja. Ini semua salah dia.” Gadis berambut ungu masih tak terima.

“Aku kan sudah meminta maaf!”

“Stop okay? Lebih baik kita pulang kerumah.” ujar gadis tertua. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Woooow long time no see wkwkwk. Udah sebulan lebih hampir dua bulan malah baru post. Sorry se sorry sorry nyaa. Gw bener2 baru sempet bikin hari ini. Mungkin sehabis ujian2 selese gw bakal fokus rampungin ini fic. Masih pada mau nunggu kan? T.T

And guess what? Yup gw nambahin cast disini. Cuman buat selingan doang sih krna ini fic kan hampir kelar. Ga mengganggu cast utama kok tenang aja.

Okayy pai pai yorobun~ see u next chippie and don’t forget to leave comment~

 

 

 

Enterprischool (Chapter 10)

Title : Enterpischool
Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang
Sub cast : find by yourself
Genre : GXG
Author : N
.
.
.
.
.

Musim telah berganti empat kali. Selama itu pula Taeyeon dan Tiffany tidak berjumpa. Taeyeon bagaikan hilang ditelan bumi. Bahkan sahabatnya pun tidak tahu dimana Taeyeon persisnya. Yang mereka tahu, Taeyeon berada di China. Selama itu pula Tiffany mencoba melupakan kejadian yang lalu dan tetap melanjutkan hidup seperti biasanya. Seperti sebelum dia bertemu dengan Taeyeon. Lagipula dia memiliki orang-orang terdekat yang selalu men-supportnya. Berterimakasihlah kepada Daddy nya, Jun, Seohyun, dan Yoona. Kini Tiffany telah melanjutkan sekolahnya. Berkat Jessica, gadis itu bisa bersekolah lagi dan sekarang memasuki tahun ketiga. Yang mengherankan, ketiga sahabatnya juga ikut pindah sekolah yang sama dengan Tiffany. Mereka bilang tidak akan seru dan lengkap jika salah satu berpencar. Maka dari itu, demi kekompakkan persahabatan mereka, jadilah mereka berempat bersama di satu sekolahan yang sama.
“Unnie, sudah kubilang berhenti memakan junkfood!” protes Seohyun.
Mereka berempat kini tengah berkumpul bersama di rumah Yoona. Gadis rusa bilang dia memiliki film baru dan mengajak sahabat-sahabatnya untuk menonton bersama.
Tiffany pura-pura mengabaikan ucapan Seohyun dan terus memakan potongan pizza nya.
“Hyunie, ini enak. Tidak ada yang bisa menolak makanan lezat seperti ini.” ujar Jun.
“Ada! Dan itu aku. Junkfood tidak sehat. Mereka bisa membunuhmu.” seru Seohyun tak terima.
“Diamlah, hyunie. Kau mau kumasukkan potongan pizza itu, huh? Kau mau kau mau?” Yoona mengambil pizza dan menyodorkannya di depan mulut Seohyun.
“Ya Im Yoona! Singkirkan itu. Ya ya ya ya!” teriak Seohyun.
Tiffany dan Jun tertawa melihat pemandangan di depan mereka. Dari dulu sampai sekarang kelakuan sahabatnya tidak pernah berubah.
“Yedeura, sebentar lagi libur musim panas. Kalian tidak ada rencana?” Jun memotong perkelahian kecil Yoonhyun.
“Ah matta! Libur musim panas! Yeay holidaaayyy! Ho- ho- holiday ho- ho- holiday hiiiiiii~” Yoona menari-nari dork seraya bernyanyi lagu favoritnya.
“Yaish berhenti dork! So, bagaimana dengan liburan bersama?” usul Jun.
“Tidak terlalu buruk. Aku juga ingin mencoba sesuatu yang baru. Bagaimana denganmu, Unnie?” tanya Seohyun pada Tiffany.
“Luar negeri?” tanya Tiffany. Mata mereka memandang satu sama lain bergantian. Mereka tersenyum.
“Call!”
***
Dua gadis berparas cantik dan bersinar bak model ataupun idol tengah duduk bersama di sofa yang tersedia di lobby sebuah perusahaan ternama. Mereka menengokkan kepalanya kesana kemari, berharap melihat seseorang yang mereka cari. Gadis berambut hitam berdiri saat melihat orang yang mereka cari.
“Itu.” ucapnya menggunakan bahasa China. Temannya yang duduk disampingnya ikut berdiri dan mereka langsung berjalan cepat ke arah orang tersebut.
“Permisi, Nona Kim.” ucap mereka berdua bersamaan.
Yang dipanggil Nona Kim menoleh. Dia mengerutkan keningnya melihat dua gadis di depannya.
“Saya Ms. Zhou dan teman saya Ms. Cheng. Anda menghubungi kami kemarin.”
Nona Kim berpikir sejenak, kemudian tersadar. “Ah benar. Ms. Zhou dan Ms. Cheng. Hampir saya lupa. Mengapa tidak menghubungiku kalau kalian datang kemari?”
“Maaf tetapi nomor ponsel anda tidak bisa dihubungi, dan resepsionis disana bilang anda sedang pergi keluar.” jawab gadis yang lebih pendek.
“Ah begitu. Maafkan saya, ponsel saya lowbat tadi. Mari, silakan ikut saya keruangan saya.” Nona Kim mempersilakan keduanya untuk mengikutinya, berjalan menuju ke ruangannya di lantai 15.
“Jadi Ms. Zhou dan Ms. Cheng.. tunggu-.. kalian berdua bisa berbahasa Korea, bukan?” tanya Nona Kim.
Kedua gadis di depannya terkekeh pelan. “Dayeonghaji, sajangnim.”
“Ah baguslah. Aku sedikit kurang nyaman jika berbicara menggunakan bahasa China.”
“Bahasa China anda bagus, Nona Kim. Pengucapannya juga.” puji gadis berambut hitam.
“Ah jinjjayo? Gamsahabnida Ms. Zhou.”
“Cheonmaneyo, sajangnim. Hmm, soal kemarin.. ada maksud apa anda menghubungi kami?”
Nona Kim menghela napas dan tersenyum. “Aku butuh bantuan kalian. Aku tahu kalian orang yang bisa diandalkan untuk masalah ini.”
***
Bunyi bola yang beradu dengan lantai menjadi suara satu-satunya di gedung olahraga. Hanya ada satu orang disana yang tengah memainkan bola basket. Peluh tak menghalangi orang tersebut untuk tetap melakulan dribble dan shooting.
“Yass gotcha!” teriak orang itu saat shooting nya berhasil masuk kedalam ring.
Dia mengambil bola tersebut dan memainkannya lagi.
“Hentikan, Hyo.” Itu suara Hyejin.
Hyoyeon tak menghiraukan ucapan Hyejin dan terus berlari kemudian melompat untuk memasukkan bola kedalam ring.
Masuk!
Hyoyeon membaringkan tubuhnya di lantai.
“Aaaaaaaaaargh!”
Hyejin mendekati Hyoyeon dan duduk disampingnya. Gadis itu menyerahkan botol mineral pada sahabatnya. Hyoyeon bangkit dan mengambil botol tersebut dan membukanya kemudian meminumnya dengan cepat.
“Dia bodoh.” ucapnya setelah meminum air mineral. Pandangannya lurus kedepan.
Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya kedepan. “Yeah, dan dia tidak menyadari kebodohannya.”
“Kau masih menyukainya?” tanya Hyoyeon seraya menatap Hyejin.
Hyejin menghela napasnya. “Jogeum.”
Kali ini giliran Hyoyeon yang menghela napas. “Dia brengsek. Kau tidak pantas mencintainya.”
“Biarpun begitu.. tetap saja.. dia saudarimu.” balas Hyejin lirih di akhir kalimat.
“Kau tidak boleh mengatainya.” Hyejin menoleh dan menatap manik Hyoyeon.
Hyoyeon menggeleng. “Aku belum bisa melupakan kejadian yang lalu, Jin-ah.”
“Kim Hyoyeon! Sudah berapa kali kubilang, cobalah memaafkannya. Dia tidak tahu siapa kau sebelumnya. Kumohon mengertilah.”
“Dia yang seharusnya mengertiku, Jin-ah. Aku yang pertama kali ditinggal olehnya! Dan disaat pertama kami bertemu dia memandangku seolah-olah aku hewan yang bisa dipermainkannya! Dia melukaiku terlalu banyak. Bukannya meminta maaf padaku waktu itu, dia malah diam seperti orang idiot! Aku membencinya! Kalau boleh memilih aku lebih baik tidak memiliki saudari selamanya daripada memiliki saudari sepertinya!” Hyoyeon menumpahkan semuanya saat itu. Dia sudah tidak bisa menahannya. Hyoyeon menangis, dia menangis terisak.
Hyejin tahu sahabatnya adalah orang yang kuat. Dia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya di depan orang, pengecualian untuk saat ini.
Hyejin menepuk pelan punggung Hyoyeon dan menenangkannya. Hyejin tersenyum, dia akhirnya paham mengenai satu hal.

Hyoyeon menangis dan menumpahkan semuanya karena dia tidak bisa lagi menahan kemarahannya..

Pada diri sendiri.

Hyoyeon marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa membenci saudarinya meski dirinya ingin sekali membencinya.

Dia tidak benar-benar membenci Kim Taeyeon.

***

“Syoo, hentikan!”
Yuri menatap sahabatnya dengan jijik.
“Hentikan apa?” tanya Sooyoung malas dan terus memainkan permen karet dimulutnya dengan jarinya. Menarik-nariknya seperti karet.
Yuri menghela napasnya. Dia kemudian meraih jaket kulitnya dan bersiap-siap keluar.
“Ya ya ya ya okay! Aku berhenti.” ucap Sooyoung. Dia kemudian membuang permen karetnya di tempat sampah dan membersihkan tangannya di wastafel.
“Duduklah kembali.” pinta Sooyoung.
Yuri memutar bola matanya malas. Tanpa banyak bicara gadis tan duduk kembali di sofa.
“Ada masalah apa kau memanggilku kemari?” tanya Yuri to the point.
Sooyoung berdecak. “Jangan bersikap sok sibuk, Kwon. Lagipula apa salahnya mengundang sahabatku sendiri kemari. Kau sudah jarang bermain di apartemenku.”
“Apa maksudmu dengan kata bermain di apartemenmu, ha?” tanya Yuri dengan memicingkan matanya.
Sooyoung memutar bola matanya malas. “Aku masih normal, dude. Tolong singkirkan otak pervert mu itu.”
Yuri tertawa. “Hahaha aku bercanda, syoung. Dan mian aku jarang kemari lagi. Kau sendiri tahu kau dan aku sama-sama sibuk mengurusi perusahaan kita. Ditambah dengan perginya cebol satu itu.”
“I know I know. Maka dari itu aku mengajakmu kemari. Kita lupakan sejenak masalah perusahaan dan bersenang-senang.”
Sooyoung berdiri dan berjalan menuju pantry. Dia membuka lemari es dan mengambil beberapa botol soju dan gelasnya. Dia juga membawa beberapa makanan ringan.
“Jjaaa~ pesta soju…”
Sooyoung menaruh soju dan makanan ringan tersebut di meja.
“Aku tahu bukan hanya ini kau mengundangku kemari. Katakan padaku..” Yuri menatap Sooyoung dengan serius.
Sooyoung tersenyum pelan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah soju di depannya. Gadis itu mengambil satu botol soju dan membukanya. Kemudian menuangkan isi soju tersebut ke gelas milik Yuri dan miliknya.
“Kita bicarakan itu sambil minum.” jawab Sooyoung.
Yuri meraih gelas didepannya dan langsung meminumnya dengan sekali shot. Sooyoung terkesan dan menaikkan bibirnya kemudian menggeleng. Gadis itu tak mau kalah, dia juga meminum sojunya dengan sekali shot.
“Aaaaahhh. Mashitta.” ungkap Sooyoung setelah selesai meminum sojunya.
“Apa ini berhubungan dengan Taeyeon?” Yuri bertanya, membuat Sooyoung menghentikan gerakan tangannya yang ingin menuangkan soju ke gelasnya.
Sooyoung tersenyum kecut. Dia menuangkan soju ke gelasnya, lalu ke gelas Yuri lagi.
“Bisa jadi.” jawabnya kemudian mulai meminum soju nya lagi.
Yuri ikut meminum sojunya. Dengan sekali shot tentunya.
“Aaah bedebah gila itu…” umpat Sooyoung. Gadis itu menuangkan soju ke gelasnya lagi. Tak lupa menuangkannya ke gelas Yuri.
“Wae? Ini sudah terhitung satu tahun. Apa ka-…”
“Aku tahu dia berada dimana.” potong Sooyoung cepat.
Yuri tersedak sojunya. Dia tahu itu sangat perih di tenggorokannya. Namun rasa terkejut dan penasarannya lebih besar.
“Neo jangnan ani?” tanya Yuri.
Sooyoung menatap Yuri sejenak. Kemudian mengalihkan pandangannya. Gadis tinggi itu menenggak sojunya lagi.
“Dia ada di Zhejiang, China. Bahkan aku tahu apartemennya.” Sooyoung tertawa kecil. “Geu saekkya..”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Yuri. Masih tak percaya.
Sooyoung menatap Yuri dan tersenyum, senyum yang sulit diartikan.
***
Jessica bolak-balik berjalan di apartemennya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Dia berjalan ke sofa dan hendak mengambil ponselnya, namun dia urungkan. Gadis brownie menggigit jarinya dan berpikir keras. Dia akan mengambil ponselnya lagi namun kembali diurungkan.
“Aaaaaargh aku bisa gila!”
Pada akhirnya gadis dingin itu merebahkan dirinya di sofa dan memijit pelipisnya. Sudah satu tahun berlalu semenjak Taeyeon pergi. Perasaan bersalah itu kembali menghantuinya lagi. Dia menyesal menjadi penyebab semua ini. Kalau bukan karena-…
Lupakan!
Jessica beranjak dan berjalan menuju wastafel. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin. Berharap pikirannya juga kembali dingin.
Nafas Jessica terengah. Dia berhenti membasuh wajahnya dan menatap lurus kedepan.
“Taeyeon-ah, aku harus bagaimana?”
Jessica menutup kran dan meluruhkan tubuhnya kebawah. Dia memejamkan matanya. Dibawah sana, tangannya terkepal kuat.
Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan kepada Taeyeon apa yang sebenarnya terjadi. Dia pikir ini adalah waktu yang tepat. Sudah setahun, dan semua berjalan baik-baik saja. Namun dia takut jika dia mengatakan semuanya pada Taeyeon, hal itu justru malah membuat semuanya semakin rumit. Dia tidak mau itu terjadi.
Setiap malam Jessica terus-terusan disergap rasa bersalah. Dia tahu siapa culprit yang menyebabkan hancurnya hubungan Taeyeon dan Tiffany. Dia tahu semua itu, namun dia tidak bisa mengatakannya. Orang itu bisa saja melakukan segalanya. Dia tidak bisa melihat orang-orang yang disayanginya terluka.
“Aku harus bagaimana?” tanyanya pada dirinya sendiri.

TBC

Sorry for long update T.T
Gua sibuk guys tau lah murid kelas duabelas gmna. Maapin. Ini aja lagi libur tak sempetin nulis. Gw mohon pengertiannya ya. Part selanjutnya gw gatau mau diupdate kapan, kalo luang gw bakal nulis dan post klo ga ya brati kaga :v
Okay komen juseyo~

P.s : gua gak sempet ngedit ‘-‘

At Least.. We Still Exist

Taeyeon sampai di dorm ketika sudah larut, tapi dia mendengar suara tawa dari dalam sesaat setelah ia membuka pintu. Taeyeon melepas sepatunya dan menggantinya dengan slipper. Kemudian berjalan memasuki dorm. Dia lalu melihat Yuri dan Yoona tengah tertawa terbahak-bahak di ruang tengah. Taeyeon menaikkan alisnya sebelum mendekati keduanya.

“Apa ada hal lucu?” tanya Taeyeon seraya melepas hoodie nya.

Yoona mengusap sudut matanya yang berair dengan masih sedikit tertawa. Sedangkan Yuri terus memegangi perutnya selagi tawanya masih terdengar nyaring.

“Ya Unnie geumanhae.. bwahahaha~” Yoona tak kuasa menahan tawanya lagi melihat Yuri yang terus tertawa.

Taeyeon memutar bola matanya.

“Yedeura geumanhae.” seru Taeyeon.

Yuri menarik nafasnya dan menahan tawanya yang akan keluar lagi. “Puuufh~ kau akan tertawa saat melihat ini, Taeng.”

Yuri membuka ponselnya yang sedari tadi ia pegang dan menyerahkannya pada Taeyeon. Sang leader menerimanya dan mulai melihat apa yang Yuri tunjukkan. Detik kemudian tawanya pecah. Yoona dan Yuri yang mulai berhenti kembali tertawa melihat leader mereka tertawa.

“Kubilang juga apa, Taeyeon-ah.” ucap Yuri disela tawanya.

Didalam ponsel Yuri, terdapat video Hyoyeon yang tengah berbicara bahasa alien disaat tertidur. Disaat Yoona atau Yuri bertanya pada Hyoyeon, gadis itu dengan tak diduga menjawab pertanyaan mereka. Jelas saja hal itu mengundang tawa. Apalagi jawaban Hyoyeon menggunakan bahasa slang dengan logat yang lucu. Taeyeon tebak hal itu terjadi tak lama tadi sebelum dia kembali ke dorm.

Mereka bertiga masih tertawa berjamaah. Tak peduli hari telah larut dan tawa mereka sampai terdengar diluar.

“Aigoo, geumanhae geumanhae.. ahahaha..”

“Nyumnyungnyuumnyuuung aaiiuuung ahuhaauh~” Yoona menirukan suara Hyoyeon di video dan membangkitkan tawa mereka lagi.

“Dia sangat lucu hahaha~”

“Aaah perutku sakit, Unnie.” Yoona memegangi perutnya.

Setelah beberapa saat, ketiganya mulai berhenti.

“Kau darimana, leader?” tanya Yuri yang sudah kembali ke mode normal.

“Hanya berkeliling mencari udara segar. Eoh, apa Sunkyu belum pulang?”

Yuri menggeleng. “Tapi sebentar lagi dia pasti pulang. Ini sudah jam sebelas lebih.”

Taeyeon mengangguk.

“Eo, apa yang ada didalam situ, Unnie?” tanya Yoona yang menyadari sesuatu ditangan Taeyeon.

Taeyeon menurunkan pandangannya pada plastik yang tengah dibawanya. “Ah, ini patbingsoo dan kimbap. Kupikir kalian belum tertidur dan ingin memakan sesuatu. Beruntung tebakanku benar.”

Mata Yoona berbinar. Dia segera mengambil plastik ditangan Taeyeon dan membukanya. Gadis rusa menjilat bibirnya.

“Gomawoyoongg Unnieee~” aegyeo Yoona yang segera dibalas wajah merinding oleh Taeyeon. Dia merasa terganggu dengan aegyeo Yoona.

“Ga makanlah.”

Mereka berdua mulai memakan patbingsoo dan kimbap dengan lahap. Terutama Yoona. Mulut gadis rusa tak pernah absen untuk terus terisi.

“Kau tak makan, leader?” tanya Yuri. “Apa perlu ku suapi?” lanjutnya.

Taeyeon menggeleng. “Aeeesh tak usah. Aku sudah memakannya disana tadi.”

“Aku pulaaang~”

Mereka bertiga mendengar suara seperti anak kecil yang berasal dari pintu dorm. Tak lama kemudian, Sunny muncul dengan membawa kantung plastik ditangannya.

“Aah beruntung kalian belum tertidur. Aku membawa buah untuk kalian.” Sunny bergabung bersama mereka dan meletakkan kantung plastik di meja dan membukanya.

“Waaa rezeki gadis cantik~” ujar Yoona dramatis.

“Dimana Hyoyeon?” tanya Sunny seraya mengambil sepotong kimbap dan memakannya.

“Dia sudah tertidur. Apa perlu aku membangunkannya?” tanya Taeyeon.

“Tak usah. Biar dia kenyang makan di dunia mimpi saja.” balas Yuri.

“Ya kedelai hitam! Dia juga member kita, kau tahu!” Sunny melempar biji semangka ke arah Yuri yang langsung menempel di bawah matanya.

Yoona tertawa melihat Yuri. “Kau mengingatkanku pada Chaeso, Unnie.”

“Aah ne matta matta. Tiffany tak bisa memasukkan satu biji pun waktu itu.” timpal Yuri dan mereka pun tertawa.

Taeyeon hanya tersenyum pelan dan memakan jeruk nya dengan diam.

Setelah si kembar berhenti tertawa, mereka menghela nafasnya bebarengan. “Kalau saja babi pink itu masih disini.” ujar Yuri dengan nada sedih.

“Aeey kedelai hitam, berhenti menunjukkan wajah memelas seperti itu. Menjijikan.” Sunny yang merasa atmosfer diantara mereka berubah segera menggantinya.

“Kupikir Sunny Unnie benar, Yul Unnie. Wajahmu begitu menjijikan saat ini.” tambah Yoona yang langsung dihadiahi silau tajam dari Yuri.

“Aku setuju.” timpal Taeyeon.

Yuri mempoutkan bibirnya dan merengek seperti anak kecil.

“Ingat umurmu, kedelai hitam!” Sunny menjitak kepala Yuri.

Taeyeon dan Yoona tertawa melihat kedua member mereka yang seperti anjing dan kucing.

“Bagus sekali berkumpul tanpaku, hm?”

Mereka berempat menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Hyoyeon yang tengah berkacak pinggang.

“Kemarilah, Hyo.” ucap Taeyeon dengan menepuk tempat disampingnya.

Hyoyeon mendekati mereka dan mulai duduj disamping Taeyeon. Gadis itu mengambil patbingsoo di meja dan memakannya dengan malas. Dia masih kesal karena member tak membangunkannya dan mengajaknya.

“Aah aku merindukan saat-saat seperti ini~” Taeyeon meregangkan tangannya dan menatap membernya satu-persatu.

Mereka semua mengangguk mengiyakan ucapan Taeyeon. Sudah sangat lama semenjak mereka berkumpul bersama ditengah jadwal individu mereka. Apalagi ditambah ketiga member mereka yang memilih meninggalkan agensi. Rasanya mendapat waktu berkumpul berdelapan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Namun Taeyeon bersyukur masih bisa berkumpul dengan member yang tersisa seperti saat ini.

“Aku merindukan Pany Unnie, Syoung, dan Juhyunie.” Yoona memajukan bibirnya dan bermain dengan kulit jeruk menggunakan sumpit.

“Aah lupakan saja. Siapa yang ingin minum? Kalian free besok, bukan?” tanya Sunny.

Yuri dan Hyoyeon dengan semangat mengacungkan tangannya. Yuri menampar paha Yoona yang dibalas decakkan oleh gadis rusa. Kemudian Yoona ikut mengacungkan tangannya malas.

“Taeng?” panggil Sunny karena gadis mungil itu tak ikut mengacungkan tangannya.

“Arrasseo.” Dengan itu, Taeyeon mengacungkan tangannya.

“Tapi sedikit saja. Kau tahu toleransiku rendah terhadap alkohol.”

Sunny mengangguk. Gadis imut itu berdiri dan berjalan menuju pantry untuk mengambil beberapa botol soju dan gelas.

“Soju siaaaap~” Sunny menaruh soju dan gelas di meja.

“Let’s party! Yoong-ah nyanyikan bagianmu.” seru Yuri.

Yoona terkekeh dan mengangguk. “I like to party~”

Semua yang ada disana tertawa. Hampir seluruh member menyukai lagu dari album terbaru mereka yang berjudul All Night. Terlebih suara Yoona saat menyanyikan part tersebut.

Sunny mulai membuka soju dan menuangkannya di gelas masing-masing member. Setelah semua selesai terisi, dia mengangkat gelasnya yang diikuti oleh member lain.

“Geonbae!” seru mereka.

Taeyeon hanya meminum satu gelas saja. Selain karena tak ingin mabuk, dia juga harus mengurus membernya yang sepertinya akan berakhir mabuk. Selebihnya dia menonton aksi konyol YoonYulHyo. Hal itu sedikit menghiburnya.

Gelas demi gelas. Botol demi botol telah lenyap masuk kedalam perut mereka berempat. Yoona menyipitkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu sudah mabuk. Yuri dan Hyoyeon terus menari dengan gila dan tak beraturan. Sama seperti Yoona, kedua gadis itu juga sudah mabuk. Taeyeon menghela nafasnya. Dia berganti menatap Sunny yang duduk disamping Yoona. Taeyeon sedikit terkejut melihat Sunny yang masih sadar padahal gadis imut itu telah menghabiskan bergelas-gelas soju.

“Kau lupa aku ini sama seperti kekasihmu yang tak gampang mabuk, huh?” ujar Sunny yang seperti membaca pikiran Taeyeon.

Taeyeon mengangguk. “Bagaimana dengan Yuri?” Taeyeon menatap Yuri yang tengah berangkulan dengan Hyoyeon dan bernyanyi absurd. Dia juga tahu Yuri tak gampang mabuk.

“Kau ini bodoh atau apa. Lihat sebanyak apa Yuri minum.” Sunny menunjuk botol soju didepannya.

“Ommaya!” terkejut Taeyeon. Sunny tertawa.

“Dia kedelai hitam yang gila.”

Taeyeon mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya.

Sunny tersenyum. Namun senyumnya segera pudar dan terganti dengan kesedihan di raut wajahnya. Taeyeon menyadari hal itu.

“Aku tahu mereka berpura-pura tegar belakangan ini. Kau lihat itu. Pada akhirnya mereka kalah oleh perasaan mereka juga.” Sunny menunjuk ketiga temannya menggunakan dagunya.

Yuri dan Hyoyeon sudah tidak bernyanyi aneh lagi. Mereka menunduk dan menangis. Menumpahkan segala isi hati mereka dengan mengumpat dan berteriak. Hati Taeyeon sakit mendengar apa yang mereka katakan. Berbeda dengan Yoona, gadis rusa hanya diam dan menatap poster mereka berdelapan yang terpajang di dinding dengan senyum kecut.

“Ini sulit… bagi mereka.. juga kita..” Sunny menatap Taeyeon.

“Menangislah kalau kau ingin menangis leader. Aku tahu sulitnya berada di posisimu.”

Taeyeon menggeleng meski dirinya ingin sekali menangis. Meskipun mereka tak mengatakan meninggalkan grup dan hanya meninggalkan agensi, namun secara tidak langsung, mereka pergi dari grup. Tidak satu agensi berarti mereka tidak lagi berkewajiban mengurus grup. Tidak terikat lagi dengan grup.

“Semua sudah terjadi, Sunkyu-ya. Mari hanya melihat kedepan, dengan atau tanpa mereka bertiga. Ini sudah pernah terjadi tiga tahun silam. Aku bisa meng-handle nya.” ucap Taeyeon dengan tersenyum lemah.

“Dia kekasihmu, Taeng.”

“Aku tahu. Maka dari itu aku melepasnya. Aku tak mau dia terus tersakiti jika harus bertahan.”

“Bagaimana dengan Syoung dan Juhyun?” tanya Sunny.

“Itu pilihan mereka, Sunkyu. Aku tak bisa melarangnya.”

“Kau tahu seperti apa agensi kita. Bagaimana jika.. kemungkinan terburuk itu benar terjadi.. dan kita hanya comeback berlima?”

Taeyeon mengangkat bahunya. “Setidaknya SNSD masih ada.”

“Taeyeon-ah..” Sunny mengerutkan keningnya.

Taeyeon terkekeh. “Sudahlah. Lebih baik ayo urusi bocah-bocah itu.”

Taeyeon bangkit dan mendekati ketiga membernya yang sudah tak sadar. Dia membantu memindahkan mereka untuk tertidur bersisihan karena tak mungkin membawanya ke kamar.

“Kau akan terus berdiam disitu, Sunny-ah?”

Sunny terenyak. Dia menggeleng.

“Tolong ambilkan bantal dan selimut untuk mereka.” pinta Taeyeon dan langsung dibalas ya oleh Sunny.

Taeyeon menatap figur sahabatnya yang sudah bersamanya selama hampir separuh usianya selagi menunggu Sunny membawakan selimut dan bantal untuk mereka.

Taeyeon tersenyum pelan melihat wajah polos mereka. Dia terkejut dan segera menghapus airmatanya yang menetes sebelum ketahuan oleh Sunny.

Taeyeon melihat kebelakang dan menghela nafasnya lega saat Sunny belum terlihat. Dia menolehkan pandangannya ke arah tiga sahabatnya lagi.

“Mianhae.. neomu gomawosseo..” ucapnya lirih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

Gw tau ini gaje. So maafkan ke gaje an gw yes. Gw jg mau menginformasikan kalo bulan ini dan bulan besok kalo gw jarang update tolong dimaklumin. Kalian tau sendiri lah kegiatan siswa tingkat ujung gimana. Yass gw sibuk sm intensifikasi dan sebagainya. Belum lagi try out dan teman2nya. Pwuuhh capek fisik capek otak pasti.

Gw update kalo bener2 sempet doang. Dan gw mohon jangan pada nganggep gw tutup wp ato mager nulis ato yg laine. Karena bener2 sulit bagi waktu belajar sm nulis walooun nulis hobby gw. So mohon kerjasamanya guys~ *bow

Okay see u next fic guys~

Enterprischool (Chapter 9)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

“Apa kabar, Kim?”

Taeyeon menegang mendengar suara tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dengan sangat pelan. Menelan ludahnya saat penglihatannya menangkap seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hyejin..”

Hyejin tersenyum miring. “Jadi apa kau masih mengingat ucapanku waktu itu? Siapa yang kau curigai?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia membulatkan matanya saat gadis yang dia kejar berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti disamping Hyejin.

“H- Hyoyeon-ssi.” gumam Taeyeon.

Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon kemudian ke arah Taeyeon. “Benar. Dia Kim Hyoyeon. Seseorang yang kau curigai akhir-akhir ini. Apa aku benar?”

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk menjawab ‘ya’.

“TaeTae!” teriak Tiffany. Namun Taeyeon masih berdiri kaku ditempatnya.

Tiffany berlari mendekat ke arah Taeyeon dan memegang lengannya. “Ya! Mengapa kau berlari dan meninggalkan belanjaanku?!”

Taeyeon masih diam. Tiffany mengerutkan keningnya. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon dan terkejut saat melihat mantan kekasih Taeyeon dan seorang gadis blonde yang tidak diketahuinya. Mungkin kekasih Hyejin Unnie yang baru?

“Ah, biar kutebak. Dia pasti kekasih bocahmu, hm?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Dia ingin sekali berteriak kesal di depan wajah mantan kekasih Taeyeon itu. Enak saja mengatakan dia bocah. Kalau dia bocah, bagaimana dengan Hyejin? Nenek tua? Tiffany memutar bola matanya malas.

Tiffany tersenyum saat menemukan ide. Mengapa dia tidak meminta Jessica menyusul mereka kemari? Melihat Taeyeon yang hanya diam membisu seperti orang idiot tidak akan membantu. Setelah mengetik beberapa kalimat untuk dikirimkan ke Jessica, Tiffany menoleh ke arah Hyejin dan gadis unknown disampingnya.

“Hyejin Unnie. Apa kau keberatan untuk mentraktir kami ice cream? Aku ingin tahu bagaimana rasanya makan ice cream bersama mantan kekasih kekasihku.” Tiffany tersenyum mengejek.

Dia bisa melihat Hyejin mengeraskan rahangnya. Namun tak berselang lama. Hyejin tersenyum manis dan mengangguk. “Call!”

Mereka berempat pada akhirnya naik ke lantai atas, ke kedai ice cream favorit Taeyeon. Mereka memesan ice cream yang berbeda satu sama lain. Taeyeon masih tetap diam seperti orang dungu. Tiffany beberapa kali menyuapi kekasihnya itu karena hanya diam.

“Hyejin! Hyoyeon-ssi!”

Mereka berempat serentak menoleh ke arah suara dolphin yang memekakkan telinga.

“Sica!” Hyejin berdiri dan berlari menghampiri Jessica. Gadis itu memeluknya dengan erat.

“Oh my Gosh! Kenapa sulit sekali menghubungimu, huh?” Jessica berkata setelah melepas pelukan mereka.

“Mianhae. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sibuk merintis usaha baruku.” balas Hyejin dengan wajah menyesal.

“Wow! Kau jadi membuat brand mu sendiri?” tanya Jessica berbinar. Mereka seakan melupakan keberadaan tiga orang dibelakangnya.

“Yeah. Bersyukur Hyonie mau membantuku.”

Jessica menolehkan pandangannya ke arah Hyoyeon yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.

“God! Hyoyeon-ssi!” Jessica berlari kecil lalu memeluk Hyoyeon.

“Kau apa kabar? Sudah sangat lama terakhir kita bertemu.”

Jessica melepas pelukannya dan mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.

Hyoyeon tertawa. “Kau tahu orang seperti apa diriku ini.” Hyoyeon membanggakan dirinya sendiri.

“Chill! Kau harus mentraktirku dinner mewah kali ini. Awas saja kau.” Jessica terkekeh begitu juga Hyoyeon.

Taeyeon menatap interaksi mereka bertiga dengan wajah dungu. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Tiffany hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. Dia pikir kalau seperti ini Jessica tidak akan membelanya nanti.

“Unnie..” panggil Tiffany lirih. Sedari tadi Jessica melupakan keberadaannya.

“Oh hey, Tiff. Kau disini juga?”

Tiffany meringis. Bukankah dia sendiri yang meminta Jessica kemari?

Tiffany tersenyum palsu dan mengangguk kaku. Benar. Jessica pasti tak akan membelanya dan melindunginya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka bersama kedua sahabat konyol Taeyeon.

“Taenggu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Jessica yang menyadari wajah tak biasa sahabatnya.

Taeyeon menggeleng. “Gwaenchanha.”

Sore itu mereka isi dengan perbincangan yang menyenangkan. Sebenarnya bukan keseluruhan mereka, namun hanya Jessica, Hyejin, dan Hyoyeon saja. Sedangkan Taeyeon dan Tiffany hanya diam menyaksikan ketiganya berbincang. Jessica seakan melupakan masalah dan keresahan Taeyeon. Padahal saat ini kedua orang yang diduga menjadi informan berada tepat di depannya.

Taeyeon merasakan sakunya bergetar. Dia merogoh sakunya dan meraih ponsel berlogokan apel tergigit dan membukanya.

Sebuah pesan. Dari sahabatnya, Yuri.

Taeng, masalah besar! Tiffany dikeluarkan dari sekolah. Cepat ke kantor!

 

Mata Taeyeon melebar, bahkan terlihat hampir copot. Dia berdiri dengan cepat dan menarik tangan kekasihnya untuk keluar darisana. Tiffany yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunjukkan wajah bingungnya. Jessica berteriak memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Taeyeon.

“TaeTae sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany setelah mereka berada di mobil Taeyeon.

Gadis yang lebih tua tak menjawab apapun. Wajahnya berubah datar dan dingin. Tiffany sampai ketakutan melihat Taeyeon yang seperti ini. Bahkan gadis itu mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiffany hanya bisa menggenggam erat sabuk pengamannya.

Taeyeon menghentikan mobilnya di depan rumah Tiffany. Gadis yang lebih muda bersyukur mereka sampai dengan selamat.

“Masuklah kedalam.” ucap Taeyeon dingin tanpa menatap Tiffany.

Tiffany menundukkan kepalanya dan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Tiffany membuka pintu mobil dan keluar. Tak lama setelah itu mobil Taeyeon segera berbalik dan melaju dengan cepat. Tiffany menghela nafasnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi pada kekasihnya.

 

“What the f*ck! Apa maksudmu, Kwon Yuri?!” semprot Taeyeon setibanya ia di ruangannya.

Dia melihat Yuri dan Sooyoung yang menunjukkan wajah frustasi dan prihatin. Masalah mereka terus saja bertambah pelik.

Taeyeon menarik kerah kemeja Yuri. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kali ini!”

Yuri melepas tangan Taeyeon di kerah kemejanya dengan kasar.

“Bisakah tak memasukkan emosi saat ini, hah?” teriak Yuri. Dia kesal dengan Taeyeon yang tak bisa menahan emosinya. Dia pikir Taeyeon sudah berubah. Mereka tahu tabiat Taeyeon yang kasar dan pemarah semenjak sekolah dasar.

“Hey hey hey, kita berkumpul disini bukan untuk bertengkar. Chill!” Sooyoung menengahi.

Yuri mengembuskan nafasnya kasar. Dia melonggarkan dasi miliknya dan duduk di sofa tanpa melihat Taeyeon. Dia masih kesal.

“Kau saja yang menjelaskan, Soo.” ucap Yuri. Sooyoung mengangguk.

“Kumohon kau tenanglah terlebih dahulu, Taeng. Dan jangan memasukkan emosi setelah aku selesai menjelaskan.” pinta Sooyoung.

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

“Tiffany dikeluarkan karena masalah Daddy nya.. kau tahu.. tuduhan penggelapan dana itu dan.. k- karena dia g- gay. Sekolah tak mau Tiffany merusak nama baik mereka.” jelas Sooyoung.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengerang dan memukul meja didepannya hingga buku-buku jarinya memerah. Dia tidak peduli tangannya sakit dan lebam.

“F*ck!” umpatnya.

***

Hal tersebut tak butuh waktu lama sampai di telinga Tiffany. Gadis itu terduduk lemas dengan tatapan kosong. Daddy nya menatap puterinya dengan pandangan menyesal. Dia meminta maaf telah menyebabkan puterinya dikeluarkan dari sekolah. Pria paruh baya tersebut memeluk puterinya yang disusul isakkan dari gadis brunette. Tiffany menangis sesenggukan.

Keesokan harinya, Tiffany mengurung dirinya di kamar. Daddy nya terus membujuk puterinya untuk keluar dan sarapan bersama. Namun Tiffany tak menghiraukan dan memojokkan dirinya di pinggiran ranjang. Air matanya telah kering. Bahkan hingga sore hari Tiffany tak kunjung keluar. Hal itu membuat Daddy nya cemas. Dia teringat kunci cadangan yang ada di rak. Daddy Hwang membawa nampan berisi makanan dan membuka pintu kamar puterinya. Dia melihat Tiffany masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Jujur hal itu membuat hati Daddy Hwang sakit.

“Stephy, makanlah dulu, nak. Kau belum makan seharian.” pinta Daddy Hwang.

“Taruh saja di meja. Daddy boleh keluar.” ucap Tiffany dengan suara seraknya.

“Tapi, Steph-…”

“Daddy.. please..”

Daddy nya menghela nafasnya dan mengangguk. Beliau berdiri dan menaruh nampan berisi makanan di meja samping ranjang. Lalu mulai keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Setelah Daddy nya pergi, Tiffany menangis. Lagi.

Hal itu berlangsung selama tiga hari. Tiffany sama sekali tak keluar dari kamarnya. Daddy Hwang bertambah khawatir. Sebenarnya dia juga memiliki kegiatan untuk mencari pekerjaan lagi, tapi mengingat puterinya yang seperti itu mengurungkan niatnya.

Daddy Hwang mendengar bunyi bel. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria muda tersenyum kearahnya seusai dia membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Choi Jun imnida, teman Tiffany.” Jun membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa Tiffany dirumah, paman?” tanya Jun.

Daddy Hwang memandang Jun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian menghela nafasnya.

Daddy Hwang mengangguk. “Namun sudah tiga hari ini Stephy tidak keluar dari kamarnya. Dia pasti sangat shock dan sedih.” Daddy Hwang berkata dengan nada sedih.

Jun membulatkan matanya. Dia tidak mengira sahabatnya akan seperti ini. “P- Paman, bolehkah aku bertemu dengannya? Aku akan mencoba berbicara dengan Tiffany.” pinta Jun.

“Baiklah. Kuharap kau bisa membujuknya keluar.” Daddy Hwang menepuk bahu Jun dan mempersilakan Jun masuk kedalam.

Daddy Hwang membuka pintu kamar puterinya dan mempersilakan Jun masuk. Beliau kemudian pergi, membiarkan Jun membujuk puterinya.

“Tiff..” panggil Jun.

Tiffany mendongakkan wajahnya dan melihat Jun. Dia diam sebelum suara isakkan keluar dari mulutnya. Jun terkejut dan segeta berlari memeluk sahabatnya.

“Sssst. Gwaenchanha. Everything’s gonna be alright.” Jun mengelus punggung Tiffany. Sedangkan gadis brunette menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jun dan terus menangis terisak.

Sementara diluar kediaman Tiffany, seorang gadis mungil tengah menatap kosong kedepan di dalam mobil mercedes nya. Dia menghela nafas saat ucapan sahabatnya terngiang di kepalanya. Dan saat gadis itu menangkap sebuah motor sport berwarna hitam yang familiar, dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berbalik. Dengan perkataan sahabatnya yang melingkari kepalanya menemani perjalanan gadis mungil.

Taeyeon berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia amat tahu Tiffany pasti sangat sangat membutuhkannya saat ini. Namun dia tak ingin menunjukkan wajah sedihnya jika harus berhadapan dengan kekasihnya. Dia harusnya bisa menyemangati gadis brunette, tapi sepertinya hal itu tak bisa ia lakukan. Terlalu sakit membayangkan keadaan Tiffany untuk saat ini. 

Jessica masuk kedalam ruangannya dengan membawa berkas. Taeyeon menerimanya dan mulai membukanya. Taeyeon pikir Jessica akan keluar setelah menyerahkan berkas. Dia mendongak dan melihat Jessica menatapnya dengan serius. 

“Wae?” tanya Taeyeon. 

“Tinggalkan Tiffany.” ucap Jessica langsung tanpa basa-basi. Jelas saja hal itu membuat Taeyeon marah. 

“Why the hell, Jess!” Taeyeon menatap Jessica dengan berapi-api. 

Jessica menghela nafasnya. “Kau..” Jessica menunjuk Taeyeon dengan telunjuknya. “Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu membuat kehidupan Tiffany berangsur memburuk?” 

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya. 

“Apa maksudmu?” 

“Sebelum kau bersamanya, kehidupan Tiffany begitu mulus tanpa masalah apapun. Dan pada saat dia menjalin hubungan denganmu, satu persatu masalah muncul. Apa kau tidak pernah berpikir kearah sana?” Jessica menatap Taeyeon dengan dingin. 

Taeyeon diam. Jessica benar. 

“Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Taeyeon lemah. 

“Tinggalkan Tiffany. Aku tahu itu pasti sakit untukmu dan juga Tiffany. Tapi aku lebih sakit melihat Tiffany yang sudah kuanggap adikku sendiri menderita. Taeyeon.. bisakah?” Jessica menatap Taeyeon dengan tatapan memelas. 

Jujur dia sakit melihat sahabatnya semenjak bayi merasa sedih, tapi dia juga tak ingin mengorbankan adik kesayangannya juga jika mereka terus memaksa bersama.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. “Akan kucoba.”

Jessica memutari meja kerja Taeyeon dan memeluk sahabatnya. “Ini yang terbaik, Taenggu.”

***

Sebulan telah berlalu. Keadaan Tiffany semakin membaik dari hari ke hari. Dia sudah mulai membuka dirinya lagi dan bersikap ceria, seperti biasanya. Dan selama itulah Tiffany tak bertemu Taeyeon. Jujur hal itu membuatnya kecewa. Harusnya kekasihnya yang datang dan menyemangatinya. Namun dia tak merasa marah berlebih pada gadis mungil itu. Dia mencoba berpikir bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi terakhir kali dia melihatnya, Taeyeon terlihat sangat stress.

“Jun-ah, antarkan aku ke kantor ahjumma. Pleaasee.” pinta Tiffany pada Jun yang tengah bermain ke rumahnya dan menemaninya karena Daddy Hwang pada akhirnya mendapat pekerjaan lagi semenjak dua minggu yang lalu.

“Arra arra. Tapi..” Jun menunjuk pipi kanannya dengan senyum jahil.

Tiffany tertawa pelan. Dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Jun bermaksud mengecupnya. Namun detik kemudian Jun menolehkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Tiffany melebarkan matanya.

Jun melepas kecupannya dan tersenyum.

“Kajja!” ajaknya dan mulai berjalan menjauhi Tiffany.

Sementara gadis brunette masih diam ditempatnya dan merasakan pipinya yang terasa panas.

Tiffany tak berbicara selama perjalanan. Dia masih merasa malu dengan kejadian tadi. Dia tahu dia harusnya kesal pada Jun yang mencuri kecupannya. Namun dia tak bisa melakukan itu karena dia sendiri merasa jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkan kejadian tadi.

Sesampainya mereka di kantornya, Tiffany bertanya kepada resepsionis yang sama saat pertama kali dia datang di kantor Taeyeon.

“Unnie. Apa Taeyeon Unnie di ruangannya?” tanya Tiffany dengan semangat.

Wanita di depannya menunjukkan wajah sedihnya. “Maafkan aku, nona. Tapi sajangnim sudah hampir sebulan ini berada di China. Sepertinya sajangnim akan bekerja di anak perusahaan disana.”

Jawaban sang resepsionis tentu saja membuat jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi. Dia mengucapkan terimakasih kemudian mulai berbalik. Dia membuka ponselnya dan mulai menghubungi Taeyeon. Namun yang didengarnya hanya suara operator. Dia mencoba lagi dan suara operator yang menyapa pendengarannya.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Sudah lebih dari tiga puluh kali Tiffany mencoba menghubungi Taeyeon dan hasilnya tetap sama. Dia hampir menangis karena kekasihnya tak kunjung menjawab panggilannya. Dia mencoba sekali lagi dan suara operator kali ini meruntuhkan segalanya. Nomor kekasihnya sudah tidak terdaftar lagi. Itu berarti Taeyeon telah mengganti nomornya, tak lama tadi.

Perlahan airmata kembali menetes di pipi Tiffany. Jun yang melihatnya panik dan segera memeluk Tiffany.

“Dia meninggalkanku hiks~”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah ter-updatekan!

Eotte? Badai lagi kan muahahahaha *evillaugh

Okayy gw tunggu komen kece2 kalian *cyailah wkwkwk

Bubye~ see u next chap~