Enterprischool (Chapter 8)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Taeyeon mengerang seusai membuka matanya. Dia menekan belakang kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya ia jatuhkan ke sekitar tempatnya berada, masih di ruang rahasia. Dia melihat sahabat-sahabatnya tengah tertidur dibawahnya. Taeyeon bangun dari tidurnya.

“Eoh, kau sudah bangun, Taeng?” Taeyeon mendengar sebuah suara dan menoleh ke belakang. Ternyata Jessica.

Taeyeon mengangguk.

Jessica berbalik dan mengambil segelas air untuk Taeyeon. Selanjutnya bergabung bersama Taeyeon dan menyerahkan air tersebut. Taeyeon menerimanya dan langsung meminum dengan sekali teguk.

“Gomawo.” ucap Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi.. bisakah kau tak usah mabuk? Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Tiffany. Kau lupa pernah berjanji padanya, Taeng?”

Taeyeon menghela nafas. Jessica benar. Dia sudah berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mabuk lagi.

“Mianhae.” lirih Taeyeon.

Jessica menghela nafas. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Menepuk punggungnya bermaksud menenangkan. Jessica adalah sahabat terbaiknya. Taeyeon beruntung memiliki Jessica.

“Tak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Kau istirahatlah lagi, hm”

Taeyeon menggeleng. “Dimana Tiffany?”

“Dia pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barangnya.”

“Tiffany akan menginap disini?”

“Untuk beberapa hari kedepan.. ya. Dia ingin terus berada disisimu katanya.”

Taeyeon melepas pelukkan mereka. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jessica. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Taeyeon menarik tangan Jessica untuk mengelus kepalanya. Dia sangat suka jika Jessica mengelus kepalanya seperti saat ini.

“Sica-ah..”

“Hm?”

“Kau ingin tahu siapa seseorang yang ku curigai?”

Jessica menatap Taeyeon yang ada dibawahnya. “Tentu saja. Mereka pasti juga ingin mengetahuinya.” Jessica menunjuk kedua sahabatnya dengan dagu.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. Dia menerawang jauh kedepan.

“Dia Kim Hyoyeon. Semua berawal saat kami masih sekolah menengah pertama.”

Taeyeon mulai menceritakan semuanya kepada Jessica. Bahkan hingga sangat detail. Jessica mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali gadis blasteran itu mengerutkan kening lalu mengangguk di sela cerita Taeyeon.

“Jadi seperti itu. Sampai sekarang aku tak juga berhasil menemukannya.”

Taeyeon melihat Jessica yang sibuk dengan ponselnya. Dia berteriak karena mengira Jessica tidak mendengarkannya.

“Maksudmu Kim Hyoyeon ini?” tanya Jessica seraya menunjukkan ponselnya dimana terdapat sebuah foto.

Mata Taeyeon membesar. Walaupun sudah dua belas tahun lamanya, wajah Hyoyeon masih terlihat sama. Mungkin beberapa terlihat berbeda. Namun Taeyeon yakin foto tersebut adalah Hyoyeon.

“B- Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taeyeon tak percaya.

“Aku baru ingat Hyejin memiliki seorang teman baik sewaktu sekolah dasar. Dan mendengar nama Kim Hyoyeon mengingatkanku pada temannya Hyejin ini.”

Jessica dan Hyejin memang dekat, sama seperti kedua sahabatnya. Hal itu karena Taeyeon pernah menjalin hubungan dengan Hyejin untuk waktu yang cukup lama.

“T- Tapi Hyejin tak pernah memberitahuku tentang Hyoyeon.”

“Kami tak sengaja bertemu waktu itu. Hyoyeon-ssi sedang ada acara di Seoul. Dan wow, kau tahu Taeng.. dia adalah pemilik Univere Company!”

Taeyeon menelan ludahnya. Univere Company adalah perusahaan asal Canada yang sangat terkenal. Dia tak mengira pemilik perusahaan tersebut adalah Hyoyeon sendiri.

“Itu semakin menguatkan pendapatku kalau dia ingin membalas dendam padaku.” ujar Taeyeon.

“Kau jangan berpikiran negatif dulu, Kim. Yang kulihat Hyoyeon-ssi adalah gadis yang sangat baik dan menyenangkan. Dia lucu. Aku saja langsung menyukainya di tempat pertama saat melihatnya.”

“Kau benar. Aku hanya merasa.. tak tahu siapa yang harus disalahkan.”

“Jamkkanman! Hyejin teman baik Hyoyeon! Itu berarti.. kemungkinan mereka ada di tempat yang sama. Taeng, mari kita mencari mereka berdua!”

Taeyeon menatap Jessica dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Tak lama kemudian dia tersenyum. Entah karena kebetulan atau memang takdir. Taeyeon senang karena Hyejin dan Hyoyeon ternyata bersahabat. Dia butuh mereka berdua untuk menuntut penjelasan.

***

Taeyeon kini sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiffany benar-benar menepati ucapannya untuk tinggal bersama Taeyeon beberapa hari ini. Bersyukur Daddy nya mengijinkan. Dia percaya Taeyeon mampu menjaga anak gadisnya.

Taeyeon bersama Jessica dan juga kedua sahabatnya kini juga berusaha mengumpulkan informasi tentang Kim Hyoyeon. Sangat sulit mencari alamat gadis blonde tersebut karena orang yang bekerja di perusahaannya pun tidak tahu dimana bos mereka tinggal. Namun mereka tidak menyerah. Dia harus menemukan Hyoyeon, dan kalau bisa Hyejin juga.

“Ahjumma!” teriak seseorang.

Taeyeon yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya melihat kedepan. Tepat beberapa meter darinya berdiri seorang Tiffany Hwang dengan eyesmile nya. Dia juga melihat seorang pria jangkung di belakang Tiffany yang tak lain adalah Jun. Taeyeon sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Jun lagi. Dia percaya Jun bukanlah orang yang akan merebut kekasihnya. Pria itu terlihat baik di mata Taeyeon saat ini.

“Kau kemari?” tanya Taeyeon yang dibalas anggukan semangat dari kekasihnya.

“Unnie, mian kami terlambat. Yoong tadi membeli makana- eoh joesonghamnida!” Taeyeon memiringkan kepalanya untuk melihat seorang gadis dengan seragam sama seperti Tiffany menunduk sopan. Dia terkekeh melihat wajah gadis tersebut karena malu.

“Oh. Ahjumma, aku belun memperkenalkan teman baikku yang satu ini. Dia Seohyun dan yang disampingnya Yoona.”

“Aah.. kau gadis sepeda itu kan?” tanya Taeyeon. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kekasihnya.

“Ne, majayo. Terimakasih telah menyelamatkan saya malam itu.” Seohyun menunduk lagi.

“Aih tak apa, jangan terlalu formal Seohyun-ssi. Huumm kalian ada apa kemari?” tanya Taeyeon.

“Tiffany Unnie bilang Ahjumma akan mentraktir kami semua makan.” jawab gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona.

“Yoong, jaga sikapmu!” bisik Seohyun seraya menepuk bahu Yoona.

Taeyeon yang melihatnya tertawa pelan.

“Bolehkan, ahjumma?” pinta Tiffany dengan puppy-eyesnya.

Taeyeon tersenyum. “Arrasseo. Kalian ingin makan dimana?”

“Yeheyy!” teriak Yoona girang.

“Yoong!” Seohyun menepuk bahu Yoona lagi. Kali ini lebih keras. Semua yang ada disana tertawa melihat kedua sahabat tersebut.

Mereka pun keluar dari ruangan Taeyeon. Sebelum itu, Taeyeon menarik Tiffany dan dengan cepat mengecup bibir kekasihnya. Beruntung mereka berdua di belakang, dan bisa dipastikan ketiga teman Tiffany tidak akan melihat.

“Yaish ahjumma!” Tiffany menepuk dada Taeyeon dan menutupi wajahnya. Dia berjalan cepat menyusul temannya karena malu. Taeyeon terkekeh pelan melihatnya.

Seusai mentraktir teman-teman Tiffany makan siang, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Taeyeon menjadi teringat masa-masa saat menjadi pelajar SMA dulu. Yoong sangat lucu dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon. Mereka juga membuat squad saat di restauran tadi. Yoong menyebutnya, squad gwiyomi. Gadis jangkung itu berkata, Taeyeon dan dirinya adalah makhluk paling cute seantero Korea Selatan.

Taeyeon tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Tiffany yang duduk disampingnya mengerutkan keningnya.

“TaeTae, kau masih waras kan?”

Taeyeon makin tertawa renyah. “Aku hanya teringat saat makan siang tadi. Temanmu yang bernama Yoong sangat lucu.”

“Aah, Yoong memang seperti itu. Dia gadis yang unik.” Tiffany terkekeh membayangkan kebodohan dan kelucuan Yoona.

“Ah jamkkanman. Kau tak keberatan mampir sebentar di mall? Aku ingat persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.”

“Gwaenchanha, TaeTae. Aku juga ingin shopping.”

Taeyeon membulatkan matanya. Dia juga menelan ludahnya. Tiffany dan shopping adalah satu kesatuan yang dapat menimbulkan bencana. Selain dompetnya akan terkuras, tenaga, serta waktunya juga akan terforsir. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan nafasnya pelan.

“Neeeh gadisku yang cantik.” ucap Taeyeon terpaksa.

Tiffany tersenyum senang. Dia mendekat dan mengecup pipi Taeyeon. “Gomawoyongg, TaeTae~” aegyeo Tiffany.

Taeyeon memarkirkan mobilnya di basement. Dia mematikan mesin mobil dan berdehem.

“Sebelum keluar, berikan aku vitamin harianku dahulu.” ujar Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya. “Vitamin harian?”

Taeyeon menatap Tiffany kemudian menarik belakang kepala gadis tersebut. “Ini..”

Kemudian Taeyeon meraih bibir pink kissable kekasihnya dan melumatnya. Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Dia mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan gadis yang lebih tua menarik pinggang Tiffany untuk mendekat.

Mereka berbagi ciuman cukup lama. Tiffany yang mulai kehabisan oksigen melepas ciuman tersebut. Namun tak berselang lama, Taeyeon menempelkan bibirnya lagi. Melumat bibir yang menjadi candunya dengan sangat intim. Tiffany tahu Taeyeon merindukan dirinya. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri. Menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Taeyeon melepas ciuman tersebut. Saliva mereka terhubung satu sama lain. Nafas mereka juga terengah.

“One more..” bisik Taeyeon kemudian mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany sampai kewalahan menghadapi ciuman Taeyeon yang terkesan ganas.

Tiffany mendesah saat Taeyeon menghisap lehernya. Menjilat lalu menghisap dan menggigitnya.

“T- Taeyeonhh~”

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dia mencium gadisnya dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Aah~” Keduanya melepas ciuman mereka.

Mereka menatap satu sama lain dengan senyum lebar.

“Kajja kita keluar.” Taeyeon keluar terlebih dahulu. Dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

“Gomawo.” senyum Tiffany.

Taeyeon dan Tiffany mulai berjalan bersama menuju mall. Pertama membeli bahan dapur terlebih dahulu. Banyak yang harus Taeyeon beli. Setelah selesai, mereka pergi ke tempat pembayaran. Taeyeon meminta barang mereka dipaketkan, karena tidak mungkin Taeyeon membawa semuanya.

Setelah membayar dan menyerahkan alamat apartemennya, Taeyeon segera mengikuti kekasihnya yang akan menguras habis dompet dan tenaganya.

Mereka terus mengitari seluruh penjuru mall. Tentu saja dengan berpuluh-puluh belanjaan. Kaki Taeyeon sampai terasa pegal. Dia tidak mengeluh, demi kesenangan gadisnya.

“Woaah~ kyeopta. TaeTae belikan aku sepatu ini!” Mata Tiffany berbinar saat melihat sepatu bermerk dengan warna pink. Dia melihat sekilas harga sepatu tersebut. Dan hal itu membuatnya menelan ludah. Harga tersebut sama dengan harga ponsel keluaran terbaru.

“N-ne. Ambil saja.” ucap Taeyeon.

Tiffany makin tersenyum. Dia mengecup pipi Taeyeon dan membawa sepatu tersebut ke tempat pembayaran. Taeyeon menghela nafasnya pelan. “Hwaiting!”

Setelah empat jam berkeliling mall dan segudang belanjaan yang Tiffany peroleh, mereka berdua akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Taeyeon merasakan tangannya sudah mati rasa karena membawa barang belanjaan Tiffany yang banyaknya diluar nalar. Dia terus menyemangati dirinya sendiri dan terus mengikuti Tiffany dibelakang.

Saat menuruni eskalator, mata Taeyeon tak sengaja menangkap seorang gadis blonde yang tengah menaiki eskalator di sampingnya. Dia tidak terlalu mempedulikan hingga saat dia selesai menuruni eskalator, Taeyeon terhenyak. Gadis itu menjatuhkan semua belanjaan kekasihnya dan langsung berbalik. Menaiki eskalator dengan berlari. Dia tidak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya.

“Ahjumma! TaeTae!” teriak Tiffany dibawah namun Taeyeon tak menghiraukan kekasihnya.

Ada hal yang jauh lebih penting saat ini. Taeyeon berlari mencari gadis blonde sesaat setelah selesai menaiki eskalator. Taeyeon mengerang.

“Sial! Dimana kau, Kim Hyoyeon!” umpat Taeyeon dengan terus berlari mencari Hyoyeon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Satu chapter terselesaikan. Pffiuuh~

Chap ini gaada badai yes. Dan sorry kalo pendek kaya taeng #plak

Gw mau sedikit ngebacot gpp kali ya. Gw tau kalian pasti masih pada butthurt gegara berita sooseotiff leave SM. Gw jg sedih sih, bahkan nangis #bhakbukaaib. Tp mau gmna lagi, itu udh keputusan mrk. Sbg fans kita cuma bisa dukung, ye ngga?

Dan gw gak bakalan tutup wp ato berhenti nulis. Biarin taeny terus hidup di dunia fanfic walaupun di dunia nyata masih kabur atau ga jelas kabarnya.

Gw juga mohon bantuannya. Kalo semisal gw post fic bukan taeny jan pd nganggep gw gak cinta taeny lagi. Of course gw LS dan gak ada yg bisa nggantiin mrk di salah satu tempat yg khusus buat mrk di hati gw. Tapiii, nge-ship idol lain jg bukan dosa atau kesalahan kan? Gw suka eunxiao juga. Itu jauuh sebelum ada berita itu, jd gak ada kaitannya klo pda ngira gw selingkuh krna taeny gak produktif (?) lagi.

So guys how ’bout the story above? Komen juseyoo~ satu komen dr kalian sangat berharga bagi gue.

Last but not least, entsch bakal end ga nyampe dua puluh chapter. Dan kayak biasa, diupdate tiap minggu. Masih bnyak cerita taeny yg nangkring di kepala gw, makanya gw rampungin ini fic dulu baru bkin fic lain.

Okayy pupye~ see u next chap or fic~

Advertisements

Like That

Seohyun menapakkan kakinya menuju pintu bercat coklat yang mulai usang. Ditariknya knop pintu menghasilkan derit yang cukup mengganggu, namun tak diindahkannya. Dia berjalan pelan menuju ruangannya. Sudah sebulan lamanya semenjak gadis itu meninggalkan ruangan tersebut karena tuntutan pekerjaannya yang mengharuskan dia pergi ke luar negeri.

Seohyun mengitari satu-satunya meja di ruangan tersebut dengan jemarinya bergerak pelan mengusap pinggiran meja. Dia lalu duduk di kursi yang tersedia disana dan menghela nafas. Dipijitnya pelan pelipisnya karena teringat kejadian yang dialaminya pagi tadi seusai tiba di Korea. Agensi tempatnya bekerja sebagai song-writer tiba-tiba saja menghentikan kontrak. Mereka berkata bahwa mereka kelebihan staf untuk song-writer dan dengan amat disayangkan membuat Seohyun diberhentikan. Seohyun tahu agensi tempatnya bekerja sebenarnya mendatangkan komposer dan arranger ahli dari luar negeri yang secara tidak langsung mencuri pekerjaannya. Namun Seohyun bisa berbuat apa? Dia hanya song-writer yang tak cukup dikenal meski lirik ciptaannya telah dipakai artis yang cukup terkenal.

Seohyun terlonjak saat mendengar dering ponselnya yang ia letakkan di saku celananya. Gadis itu sedikit kesusahan mengambil ponselnya karena saku jeansnya yang cukup ketat. Diliriknya sebuah nama yang terpampang di ponselnya yang membuat ia membulatkan matanya. Seohyun berdehem sebentar sebelum mengangkat telepon tersebut.

“Ne Unnie.”

“…..”

“Aku? Di rumah. Memangnya kenapa, Unnie?”

“…..”

“Arrasseo. Tunggu aku sepuluh menit.”

***

Seohyun menyapu pandangannya ke sekitar penjuru cafe. Dia melihat gadis dengan snapback hitam dan masker senada yang menutupi wajahnya. Dia tersenyum pelan sebelum mendekati gadis tersebut.

“Kau sudah lama, Unnie?” tanya Seohyun dan langsung menempatkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan gadis itu.

Gadis itu menggeleng dan menurunkan maskernya sedikit sebelum berbicara. “Kau dipecat?” tanya gadis didepan Seohyun.

Seohyun mengangguk. “Tak usah dipikirkan. Mungkin ini waktunya aku berlibur” ujar Seohyun dengan kekehan pelan di akhir kalimatnya.

Gadis di depan Seohyun mengerutkan keningnya sebelum menghembuskan nafasnya kasar. “Aku tahu dengan baik apa yang ada di hatimu, dan itu sama sekali berbeda dengan ucapanmu barusan. Ini.” Gadis itu menyerahkan sebuah kartu nama pada Seohyun.

Dengan ragu Seohyun mengambilnya dan mulai membacanya.

“Dia CEO di agensiku. Aku sudah berbicara pada Daepyeo-nim untuk mempekerjakanmu disana. Lagipula agensi juga membutuhkan song-writer untuk girlband besutannya yang akan comeback” jelas gadis itu.

“Tapi.. tapi bagaimana bisa?” Seohyun masih tak percaya.

Gadis itu terkekeh pelan. “Kau lupa? Aku ini Im Yoon Ah, aktris kesayangan disana.”

Seohyun menaikkan kedua bibirnya. “Gomawo, Unnie.”

“Tak perlu berterimakasih. Cukup temani aku jalan-jalan seharian ini.”

“Memangnya kau tak ada jadwal?”

“Tidak. Ayo pergi.” Yoona menarik tangan Seohyun setelah meletakkan beberapa lembar won di meja.

***

Seohyun berkali-kali mencoret dan melipat kertas yang ditulisnya dan melemparnya ke tempat sampah yang sayangnya tak masuk. Mungkin ini sudah ke delapan belas kalinya gadis itu membuang hasil tulisannya. Seohyun mengacak rambutnya frustasi. Selama bekerja menjadi penulis lagu, Seohyun belum pernah se-stress ini dalam membuat lirik. Itu karena klien nya adalah artis besar, bahkan mendunia.

Karena sudah tidak tahan lagi, Seohyun keluar dari ruangannya. Dia melihat piano tua nya sekilas dan memutuskan untuk sedikit bermain disana. Seohyun memejamkan matanya dan menghela nafas sebelum membuka piano nya.

Seohyun memulai lagunya. Jari-jari lentiknya menari dengan sangat cantik melantunkan melodi-melodi indah yang membuat orang yang mendengarnya memejamkan mata dan menikmatinya. Seohyun terus memainkan lagu tersebut sampai pada menit ke-tiga lebih dua puluh empat detik, gadis itu mulai melambatkan lagunya hingga benar-benar berhenti.

Clap clap clap

Seohyun mendengar suara tepuk tangan yang cukup keras hingga membuatnya membalikkan tubuhnya. Tepat beberapa meter darinya, seorang gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona tersenyum ke arahnya, masih dengan tangannya yang memberi applause. Yoona berjalan mendekati Seohyun.

“Itu keren. Tapi aku belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Apa kau membuatnya sendiri?”

Seohyun mengangguk pelan. “Ne, aku membuatnya sudah lama.”

“Sudah ada liriknya?” tanya Yoona lagi.

“Aku tak berniat membuat lirik untuk itu. Lagipula aku membuatnya karena iseng.”

Yoona menyentil dahi Seohyun, tak keras memang namun cukup membuat Seohyun meringis dan mengerucutkan bibirnya. “Unnieee…” rengek Seohyun.

Yoona berdecak. “Kau itu berbakat, Hyunie. Kau pandai bermain piano, membuat lagu, memiliki suara yang bagus, kau juga sangat cantik, bahkan aku yang terbiasa melihatmu saja masih terus terpesona denganmu.”

Seohyun memutar bola matanya. “Kau dan mulut manismu itu, Unnie.”

Meski berkata begitu, tak dipungkiri hati Seohyun meleleh mendengar setiap penuturan Yoona padanya barusan. Dia memang sejak awal tertarik dengan Yoona. Ayolah, siapa yang tidak tertarik dengan aktris Nasional Im Yoon Ah? Memiliki wajah goddes, kemampuan akting yang tak diragukan lagi, dan kerendahan hatinya membuat dia dicintai seluruh warga Korea Selatan.

“Aku berkata jujur. Sudahlah, lebih baik ajari aku bermain piano.” Yoona menggeser tubuh Seohyun agar bisa duduk. Itu membuat gadis yang lebih muda mengerucutkan bibirnya karena hampir terjatuh.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Yoona. Matanya terus menatap ke arah piano tua milik Seohyun dengan berbinar.

“Kau belum pernah bermain piano sebelumnya, Unnie?”

“Terakhir kali aku bermain piano saat berusia tujuh tahun. Aku sedikit lupa bagaimana cara menggunakannya.” Yoona mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Kalau begitu lagu twinkle little star saja yang mudah.”

“Yah! Itu terlalu basic. Aku ingin bermain lagumu yang tadi saja.”

Seohyun berdecak dan menaikan sedikit bibir kanan atasnya tanda mengejek. “Bisa bermain saja tidak” gumam Seohyun.

“Aku mendengarmu, Hyunie. Cepat ajari aku. Aku ini sangat cerdas dalam menangkap hal-hal baru” ujar Yoona tanpa melihat ke arah Seohyun dan masih fokus dengan piano di depannya.

Dan pada akhirnya Seohyun mengajari Yoona bermain piano dengan lagu buatannya. Dia seperti guru les piano profesional yang dengan telaten mengajari muridnya agar bisa bermain piano dengan baik.

“Aku menyerah” ucap Yoona pada akhirnya.

Seohyun memutar bola matanya dan menghembuskan nafas kasar. “Sangat cerdas dalam menangkap hal-hal baru, eoh? Yang benar saja” ejek Seohyun.

“Ahh jariku kram” manja Yoona seraya menggerakan jari-jarinya yang terasa kaku.

“Letakkan jarimu disana dan aku akan menutupnya dengan keras. Jarimu akan sembuh” ucap Seohyun sarkastis sembari menunjuk tuts pianonya pada Yoona.

Yoona berdecak. “Jahat. Untung cinta” gumam Yoona.

“Kau bilang apa?” tanya Seohyun.

“Ani. Aku harus pergi, Hyunie. Sebentar lagi ada jadwal pemotretan. Jangan lupa dinner nanti malam. Dandan yang cantik, oke? Aku menyayangimu, uri dongsaeng.”

Setelah mengacak rambut Seohyun, Yoona berlari keluar rumah. Seohyun masih di tempat dengan tatapan lurus ke arah terakhir kali melihat Yoona sebelum gadis itu pergi. Rambutnya ia rapihkan dengan pelan sebelum menghela nafas.

“Dongsaeng, huh?” Seohyun tertawa kecut.

***

Jam menunjukan pukul delapan malam dan Seohyun masih terus berkutat dengan tumpukan kertas dihadapannya. Berkali-kali dia mencoret tulisannya dan menulis ulang. Menulis, mencoret, buang, menulis, mencoret, buang, hingga dia kesal dan menggebrak meja. Seohyun sungguh tak memiliki inspirasi untuk membuat lirik saat ini. Terutama karena ucapan Yoona tadi siang yang benar-benar mengganggunya. Dia masih saja merasa kesal dengan Yoona yang masih saja menganggapnya adalah adik. Padahal Seohyun jelas-jelas seringkali memberi kode pada Yoona bahwa gadis itu menyukainya. Apa dia tidak sepeka itu?

Seohyun berteriak kesal dan menendang mejanya yang dibalas ringisan kesakitan. Seohyun mengusap kakinya yang sakit dengan sedikit menangis yang dibuat-buat. Tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di meja bergetar. Seohyun meraihnya dan melihat nama Yoona disana. Sebelum mengangkat panggilan, terlebih dahulu Seohyun mengatur nafasnya dan suaranya agar tak terdengar jelas tengah kesal.

“Juhyun, kau dimana? Kau lupa dengan janji kita untuk dinner malam ini?”

Seohyun membuka mulutnya. Dia lupa dengan janjinya malam ini yang akan dinner dengan Yoona. Dia memukul kepalanya karena telah lupa. Mereka memang sering dinner bersama saat jadwal Yoona kosong. Sangat jarang gadis itu memiliki jadwal kosong dan itu membuat intensitas bertemu mereka berkurang, dan itu juga yang membuat mereka rutin membuat jadwal dinner tersendiri saat Yoona kosong schedule.

“A-ah m-maafkan aku, Unnie. Sepertinya aku sedang tak enak badan” bohong Seohyun.

“Jinjja? Aku akan menyusulmu kesana. Tunggu aku.”

“T- Ta.. Tapi Un… nie.” Ucapan Seohyun melemah saat dia tahu Yoona telah mematikan sambungan.

“Mati aku!” ucap Seohyun lalu memukul kepalanya lagi. Dia kemudian melangkahkan kakinya dengan gontai keluar ruangannya dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai atas.

***

Yoona melipat tangannya dan mengetuk-ngetukan kelima jari kanannya bergantian di lengan kirinya. Matanya menatap tajam Seohyun yang masih duduk di ranjang dengan menundukkan kepalanya. Yoona marah karena Seohyun telah membohonginya dengan beralasan sakit padahal nyatanya gadis itu baik-baik saja. Yoona terus saja diam di tempatnya dengan posisi sama seperti pertama kali menangkap basah kebohongan Seohyun. Dia mencoba menghukum Seohyun dengan ini yang selalu sukses membuat Seohyun tak tahan dan pada akhirnya membujuk Yoona untuk berhenti marah dan memaafkannya.

“Unnie…”

See? Tebakan Yoona benar-benar tepat. Sebentar lagi Seohyun pasti akan merengek meminta maaf padanya. Dalam hati Yoona tersenyum menang.

Seohyun menghela nafasnya. “Pulanglah.”

Yoona membulatkan matanya. Dia makin menatap tajam Seohyun. Bukan ini yang dia harapkan. Rasa kesal kembali menyerang hatinya. Dia baru akan menghampiri Seohyun saat gadis itu melepas blazer pink nya dan melemparnya ke ranjang. Yoona kini melihat Seohyun yang kini hanya memakai tanktop ketatnya dan jeans hotpant nya. Saat awal masuk ke rumah Seohyun, Yoona tak begitu memperhatikan apa yang dikenakan Seohyun. Waktu itu dia panik dan khawatir sebelum tergantikan rasa kesal dan kecewa. Namun kali ini, Yoona menelan ludahnya sendiri melihat tubuh Seohyun yang dibalut pakaian terbuka tersebut.

“Aku lelah, ingin beristirahat. Kita selesaikan masalah ini besok saja” ucap Seohyun yang hendak berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut sebelum tangan Yoona mencegatnya.

Seohyun menatap mata Yoona yang juga menatapnya. Tubuh Seohyun seketika kaku mendapati tatapan panas Yoona. Itu membuatnya menelan ludah dan berusaha mengontrol jantungnya yang mulai berdetak tak karuan. Dia tak percaya dengan penglihatannya sekarang ini. Seohyun tak mau berharap lebih lagi hanya karena Yoona menatapnya panas. Seohyun terus saja berdebat dalam lamunannya saat tiba-tiba nafas panas terasa jelas di wajahnya. Seohyun membulatkan matanya saat wajah Yoona terpaut beberapa senti dari wajahnya. Dia merasakan kecupan lembut mendarat sempurna di keningnya. Hal tersebut membuatnya mau tak mau menutup matanya, merasakan lembutnya bibir Yoona menyentuh keningnya.

“Istirahatlah. Lupakan saja masalah tadi. Jaljayo~” Yoona mengakhiri ucapannya dengan mengusap rambut Seohyun dengan sayang. Setelah itu, Yoona berbalik dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar Seohyun.

“Kau membuatku berharap lagi, Unnie” ucap Seohyun sedih.

***

Sudah seminggu ini belum ada kepastian lirik lagu ciptaannya rampung. Pagi tadi Seohyun bertemu Daepyeo-nim untuk membahas lirik yang ditulisnya. Dengan jujur Seohyun mengatakan belum selesai mengerjakan pekerjaannya. Memang Daepyeo-nim tidak mempermasalahkannya, namun yang jadi masalah adalah dirinya. Seohyun tidak tahu sampai kapan dia mengalami lumpuh menulis dan lumpuh inspirasi sedangkan comeback girlband agensi tempatnya bekerja sebentar lagi melakukan proses rekaman. Belum lagi lagu harus diaransemen dan sebagainya. Seohyun bisa-bisa stress muda.

Hal yang mengganggunya satu lagi adalah si shikshin Im Yoong. Setelah kejadian malam itu, Yoona bagai ditelan bumi. Memang Seohyun tahu akhir-akhir ini Yoona sibuk dengan jadwalnya. Namun yang menjadi aneh adalah, sejak kapan Yoona mau mengikuti acara survival? Bahkan sejak dari dulu ditawari acara tersebut, Yoona dengan tegas menolak. Dia pernah mengatakan, lebih baik hadir di acara ulang tahun anak kecil daripada harus bertahan hidup di acara tersebut.

Tentu saja hal itu membuat Seohyun curiga. Jika yang dipikirkannya benar bahwa Yoona sengaja mengikuti acara tersebut karena ingin menghindarinya dan menyibukkan diri, Seohyun tentu merasa kecewa.

Karena tak tahu harus menumpahkan segala keluh kesahnya pada siapa, Seohyun pada akhirnya memberanikan diri pergi ke bar. Dia sering mendengar teman-temannya jika tengah stress, bar adalah pilihan terbaik. Selama ini Seohyun memang selalu menjaga dirinya. Dia tak mau terjerumus hal-hal negatif nantinya. Namun kali ini pengecualian.

***

Seohyun membuka matanya perlahan. Dia mengerang merasakan sakit di kepala bagian belakang. Seohyun merubah posisi berbaring menjadi duduk dengan kepala ranjang sebagai sandaran. Kepalanya ia remas dengan tangan kanannya karena pusing, mungkin akibat hangover semalam.

“Kau sudah bangun?” Suara tersebut sontak membuat Seohyun terkejut. Dia mendongak dan melihat Yoona dengan mata sayu khas orang mengantuk berdiri di depannya. Rambut gadis itu berantakkan, juga terlihat kantung mata yang kian menebal.

“Unnie? Mengapa kau bisa ada disini?” tanya Seohyun bingung.

“Kau lupa kejadian semalam?” tanya Yoona dengan menguap di ujung kalimatnya. Matanya sedikit tertutup namun masih berusaha untuk terbuka. Seohyun meringis, dia merasa kasihan dengan penampilan Yoona saat ini kalau boleh jujur.

Seohyun kemudian mengingat lagi kejadian kemarin. Dia pergi ke bar, minum dan menari dengan gila, minum lagi hingga mabuk, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

“Yeah, setelah itu seorang bartender meneleponku dengan menekan first dial dan aku bersusah payah datang kesana menjemputmu setelah selesai acara survival itu. Kau tahu badanku hampir remuk kemarin malam dan energiku terkuras habis” ucap Yoona yang seperti melanjutkan kejadian kemarin pada Seohyun. Matanya masih berusaha terbuka dari rasa mengantuknya.

“Mianhae” ucap Seohyun dengan menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah pada Yoona. Pasti gadis itu sangat lelah kemarin. Dia tahu bagaimana acara survival itu berlangsung. Untuk bertahan hidup di hutan setidaknya seluruh kemampuan yang ada pada dirimu dibutuhkan disana. Sebab itu Yoona seringkali menolak acara tersebut, kecuali kemarin.

Yoona menghela nafas. Dia mendekat ke arah Seohyun dan memeluknya.

“Gwaenchanha. Setidaknya aku merasa lega bartender itu meneleponku saat itu. Aku jadi merasa beruntung bisa diandalkan olehmu meski kau sedang tak sadar. Dan juga aku beruntung menjadi orang pertama yang mengetahui keadaanmu dan bisa merawatmu dengan tanganku sendiri.”

Mata Seohyun berkaca-kaca mendengar pengakuan manis dari mulut Im Yoon Ah. Dia semakin mengeratkan pelukan Yoona dan menggumamkan kata terimakasih berkali-kali padanya.

***

Seohyun memantapkan dirinya. Dia lalu memegang bolpoin yang ada di didepannya tanpa ragu. Dia sudah menemukan lirik yang sesuai untuk kliennya. Setelah rapat membahas konsep musik bersama beberapa staf dan girlband itu sendiri, Seohyun sudah memiliki gambaran dan itu cukup sesuai dengan konsep mereka.

Dan jadilah saat ini dia berkutat dengan lembar kertas di depannya. Mulai menulis beberapa kata yang akan menjadi lagu tak lama lagi.

Seohyun tak melepas senyum yang menggantung di bibirnya selama dia mengerjakan pekerjaannya. Sebisa mungkin dia menulis lirik tersebut dari hati. Dan memang lirik yang dia tulis sebagian besar adalah pengalamannya sendiri. Dia jadi mudah untuk melakukannya.

Setelah sentuhan terakhir pada karyanya selesai, Seohyun tersenyum puas. Dia menghela nafas lega sebelum beranjak dari kursinya dan berlari kecil keluar ruangannya untuk menemui seseorang yang menjadi inspirasi nya.

“Unnie bangun!” Seohyun membangunkan Yoona yang sejak pagi tidur di kamarnya. Dia mengatakan bahwa dia bosan tinggal di apartemen mewahnya yang sepi. Lebih baik tinggal di rumahnya yang nyaman dan jauh dari jangkauan wartawan.

“Waeee” gumam Yoona. Dia malah mengeratkan pelukannya pada guling.

“Aku lapar. Buatkan aku makanan.. juseyoo~” rengek Seohyun.

“Kau tahu aku tak bisa memasak” ucap Yoona yang seperti menggumam.

“Tapi omurice buatanmu enak. Aku ingin omurice! Unnie buatkan aku omurice!”

Yoona menghela nafas. Jika Seohyun sudah bertingkah manja seperti ini, dia tak bisa menolak. Pada akhirnya Yoona bangun dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka setelah itu memasakkan omurice untuk Seohyun.

“Mashita?” tanya Yoona setelah Seohyun menyuapkan suapan pertama di mulutnya. Gadis yang lebih muda mengangkat kedua tangannya dan terus mengunyah dengan lahap. Yoona tersenyum sebagai balasan. Dia senang orang yang disayanginya suka dengan hasil masakannya.

“Oh ya, Hyunie. Kau lihat ponselku? Aku harus menghubungi manager oppa.”

“Ah itu, ada di ruang kerjaku. Aku tadi pinjam untuk menelepon Daepyeo-nim.”

“Ponselmu belum diperbaiki?” tanya Yoona.

Seohyun menggeleng. “Aku akan beli yang baru saja. Ponselku yang itu sepertinya susah untuk diperbaiki” ucap Seohyun. Gadis itu memang ceroboh. Dia lupa mengambil ponselnya di saku celananya dan berakhir ikut tercuci di mesin cuci.

“Arrasseo. Aku mengambil ponselku dulu.” Yoona bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerja Seohyun yang berada tepat dibawah tangga bermodelkan vintage. Bahkan seluruh rumah Seohyun bermodelkan sama hingga ke perabotan-perabotannya. Makanya Yoona sangat betah tinggal di rumah Seohyun.

Yoona melihat ponselnya yang tergeletak di meja kerja Seohyun. Dia mengambilnya dan hendak berbalik keluar sebelum sebuah kertas disana membuat dia mengurungkan niatnya. Yoona mengambil kertas tersebut dan membacanya.

Wajahnya sangat serius membaca tiap kata yang tertulis disana. Alisnya ia naikkan kemudian kembali serius. Keningnya ia kerutkan dan kembali membacanya dengan serius. Begitu seterusnya hingga selesai. Yoona meletakkan kembali kertas tersebut dan melangkah keluar. Dia melihat Seohyun masih menyantap omurice buatannya.

“Aaa~” Yoona membuka mulutnya minta disuapkan. Seohyun dengan senang hati menyuapkan omuricenya.

“Hyunie?” panggil Yoona pelan.

“Huh?” Seohyun kembali fokus pada makanannya.

“Apa kau sedang menyukai seseorang?” tanya Yoona ragu.

Seohyun menghentikkan kunyahannya. Dia menatap Yoona intens sebelum menjawab.

“Eung. Wae?”

“Ahh anioo. Siapa pria beruntung itu?” Yoona mengibaskan tangannya dan bertanya lagi.

“Apa kau pernah melihatku dekat dengan seorang pria, Unnie?”

Yoona menggeleng pelan.

“Ya sudah.”

Yoona mengerutkan keningnya. “Tapi kau bilang kau menyukai seseorang.”

“Memang” ujar Seohyun singkat. Dia melanjutkan memakan makanannya lagi.

“Baiklah. Siapa orang yang kau sukai itu? Kau harusnya berbagi ini denganku. Kita sudah lama dekat, kau tahu. Jahat sekali menyembunyikan sesuatu yang penting ini.” Yoona mengerucutkan bibirnya.

“Kau sudah tahu itu penting. Maka dari itu aku tak mau menceritakan hal penting itu pada orang yang tak bisa dipercaya sepertimu.”

“YAH!” kesal Yoona membuat Seohyun tertawa terbahak-bahak. Dia senang menggoda Unnie nya.

“Kau pasti melihat lirik yang kubuat tadi, ya kan Unnie?” tebak Seohyun setelah tawanya usai.

“Bagaimana kau tahu?”

Seohyun mengangkat bahunya.

“Baiklah. Begini saja, Unnie. Kau tahu aku sangat dekat denganmu, harusnya kau juga tahu aku menyukai siapa.”

Yoona tambah mengerutkan keningnya. Setau Yoona, Seohyun tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali dirinya. Bagaimana bisa dia tahu siapa yang gadis itu sukai?

Seohyun berdecak pelan. Dia berhenti memakan omurice nya dan menatap Yoona untuk kemudian mengecup bibir Yoona sekilas. Jelas saja itu membuat tubuh Yoona kaku. Semua fungsi tubuhnya berhenti seketika.

“Kau ini bodoh sekali, Unnie. Tentu saja itu kau.”

Seohyun mengangkat pantatnya dan membawa piring kotornya untuk dimasukan kedalam wastafel. Dia kemudian mulai mencucinya dan meletakkan piringnya ke tempat biasa. Seohyun masih melihat Yoona yang masih terdiam di tempat. Bahkan posisinya masih sama seperti saat dia baru saja menciumnya. Seohyun terkikik pelan dan menggelengkan kepalanya sebelum naik ke atas, ke kamarnya.

***

Setelah kejadian Seohyun mencium Yoona, hubungan mereka mulai ada peningkatan. Yoona juga sudah mengakui perasaannya terhadap Seohyun. Walaupun tidak ada ikatan status diantara mereka berdua, Seohyun tetap merasa bahagia. Yoona membalas perasaannya saja sudah cukup.

Hari-hari mereka pun mulai ada sedikit perubahan. Mereka juga sudah terbiasa dengan kecupan-kecupan ringan di bibir layaknya pasangan umum lainnya. Jikapun berciuman, mereka hanya melakukan ciuman yang wajar.

Yoona juga mulai protektif terhadap Seohyun. Dia bahkan tidak segan menatap penuh kebencian kepada pria yang menatap Seohyunnya dengan tatapan lebih. Bahkan dia pernah mematahkan pergelangan tangan seorang pria saat pria tersebut dengan sengaja memegang butt Seohyun. Dia tak rela jika miliknya disentuh orang lain. Beruntung kejadian tersebut tak masuk berita. Yoona masihlah publik figur yang dikenal di seluruh Korea.

Berbeda dengan Seohyun, gadis itu tak mempermasalahkan siapa-siapa saja yang dekat dengan Yoona. Namun ke-manja-annya pada Yoona bertambah berkali-kali lipat. Bahkan Yoona harus selalu menginap di rumahnya, atau kalau tidak harus menemaninya hingga tertidur baru gadis itu diperbolehkan pulang.

Saat ini mereka tengah menghabiskan akhir pekan dengan menonton televisi bersama di rumah Seohyun.

“Whoaah itu lagumu kan?” tunjuk Yoona pada salah satu acara yang backsound nya adalah lagu dari girlband besutan agensinya.

Seohyun mengangguk. Dia masih fokus mengupas buah untuk camilan mereka.

“Sweet talk. Memangnya aku sweet talker, Hyunie?” Yoona mengusap dagunya sedangkan keningnya ia kerutkan.

“Terkadang” jawab Seohyun singkat. Dia menyodorkan potongan apel pada Yoona yang segera dimakan oleh gadis pemakan segala itu.

“Harusnya kau memberi judul, ‘Sweet Shikshin’ karena itu ciri khasku.”

Seohyun menghembuskan nafasnya ke atas dengan kasar, membuat poninya tersibak.

“Bego. Untung cinta.” gumam Seohyun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oneshoot dulu. Yg series menyusul. Masih sibuk soalnya. Miaaaan~

Pupye see u next fic~

Sweet Love [Epilog]

Tittle : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Taeyeon mengusap kepala bagian depannya perlahan. Dia meringis pelan saat menyentuhnya. Dia lalu mengambil kain yang sudah berisi es dan mendekatkannya di kepalanya.

“Argh. Jenong sialan!” rintih Taeyeon sambil mengumpat.

 

1 jam sebelumnya…

Semua bagian tubuh Yuri bergetar. Terutama kaki dan tangannya. Saat ini dia sedang berada di sebuah salon yang sudah meriasnya. Hari ini adalah hari pernikahannya bersama Jessica. Wanita itu gugup bukan main. Awalnya dia sangat siap dan bersemangat. Namun begitu tiba di salon, wanita itu berubah menjadi gugup mengingat beberapa jam lagi dia akan mengucap janji suci bersama wanita yang dicintainya itu. Mungkin itu juga yang membuatnya memilih menggunakan salon sendiri dibandingkan merias dirinya di lokasi pernikahannya dengan Jessica.

“Yul, ayolah. Kita sudah terlambat. Jessica akan membunuhku kalau seperti ini.” rengek Taeyeon.

“T..T.. T.. Ta.. Taeyeon-ah, a.. a.. aku gugup.” ucap Yuri terbata. Dia menggigit bibir bawahnya.

Taeyeon menghela nafasnya. Dia lalu mengambil sesuatu di dalam tas ransel yang biasa dia bawa di mobilnya.

“Tenangkan dirimu dengan ini. Aku keluar dulu. Kalau kau sudah siap, panggil aku.” Taeyeon menyerahkan sebuah alkitab pada Yuri yang dibalas tatapan bingung dari Yuri. Namun begitu, wanita tan itu tetap mengambil alkitab dari tangan Taeyeon.

Setelah sedikit membacanya, Yuri mulai rileks. Dia lalu menghembuskan nafasnya panjang dan mengangguk mantap. Dia memanggil Taeyeon dan mereka segera berangkat menuju lokasi pernikahannya.

 

“YA! KENAPA KAU MEMBAWA YURI-KU LAMA SEKALI, HAH?!” teriak Jessica sembari tangannya memukul kepala Taeyeon bertubi-tubi.

“Aw aw aw Sica hentikan! Sakit!” Jessica tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus memukulnya.

“Nona Jessica, mohon bersiap.” kata seseorang yang Jessica tahu sebagai wedding organizer nya.

Jessica menghentikan pukulannya pada Taeyeon dan menatapnya tajam sebelum berlalu meninggalkannya. Jessica sedikit merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena memukul Taeyeon tadi. Dia menghela nafasnya pelan dan melanjutkan langkahnya keluar. Tiffany yang sudah melihat Jessica keluar segera menghampiri Taeyeon.

“Sakit?” tanya Tiffany yang dibalas anggukan oleh Taeyeon.

Tiffany menghela nafas dan mengecup kening suaminya. Dia juga mengusap pelan kepala Taeyeon yang dipukuli Jessica. Taeyeon meringis.

“Dia sedang PMS, Tae. Maklumilah.” ucap Tiffany lembut.

“Arrasseo. Berikan aku es untuk ini.” pintanya sembari menunjuk kepalanya. Tiffany paham dan segera keluar mencari kain dan es untuk Taeyeon.

 

Taeyeon keluar dari toilet, masih dengan menekan es di kepalanya. Dia melihat Tiffany di lorong dekat pintu yang menuju tempat pernikahan Yuri dan Jessica. Wanita itu berlari kecil mendekati Taeyeon.

“Mereka sudah resmi, Tae. Kau baik-baik saja? Apa masih sakit?” lapor Tiffany disertai bertanya kondisinya.

“Baguslah. Ani, ini masih sakit. Ppany-ah ayo kita pulang saja. Rasanya kepalaku remuk.”

Tiffany menggeleng pelan. “Setidaknya ucapkan selamat dulu kepada mereka. Sejak tadi kau sama sekali tidak melihat mereka, kan?”

Taeyeon menghela nafasnya dan menurunkan es di kepalanya. “Ne. Tapi dimana Yoong?”

“Yoong masih di dalam bersama Seohyun.” jawab Tiffany.

Mendengar nama Seohyun membuat Taeyeon tersenyum liar. Ingatannya kembali terngiang saat kembalinya dia dari rumah sakit. Saat itu Yoong menunggu mereka di depan rumahnya dan pingsan. Taeyeon merasa lucu mendengar alasan Yoong pingsan setelah wanita cantik itu siuman.

Seo Joo Hyun, wanita itu penyebabnya. Yoong mengaku sudah lama menyukai wanita itu. Dan saat itu sebelum pergi ke rumahnya untuk menyambut kepulangan Taeyeon, Yoong menemani Seohyun ke toko buku. Betapa terkejutnya dia saat Seohyun mengecup bibirnya dan mengucapkan terimakasih sebelum berlari kecil menuju rumahnya. Meninggalkan Yoong yang masih terdiam di tempat dengan jantung yang berdebar kencang. Dan beruntungnya Yoong mereka sudab official minggu lalu.

“Baiklah. Tapi aku ingin menemui Yul dan Sica saat acara selesai. Aku tidak mau masuk kedalam. Disana terlalu ramai.” kata Taeyeon.

“Lantas kau mau melakukan apa selama acara masih berlangsung?” tanya Tiffany bingung.

Taeyeon menyeringai. Dia menarik tangan Tiffany dan membawanya ke salah satu bilik toilet.

“Bagaimana kalau sedikit bermain, hm?”

Tiffany melebarkan matanya dan segera dibungkam oleh bibir Taeyeon di bibirnya sebelum wanita itu bereaksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kkeut! Selesai! Bye!

Ahaha~

See u next fic~ pupye~