Like That

Seohyun menapakkan kakinya menuju pintu bercat coklat yang mulai usang. Ditariknya knop pintu menghasilkan derit yang cukup mengganggu, namun tak diindahkannya. Dia berjalan pelan menuju ruangannya. Sudah sebulan lamanya semenjak gadis itu meninggalkan ruangan tersebut karena tuntutan pekerjaannya yang mengharuskan dia pergi ke luar negeri.

Seohyun mengitari satu-satunya meja di ruangan tersebut dengan jemarinya bergerak pelan mengusap pinggiran meja. Dia lalu duduk di kursi yang tersedia disana dan menghela nafas. Dipijitnya pelan pelipisnya karena teringat kejadian yang dialaminya pagi tadi seusai tiba di Korea. Agensi tempatnya bekerja sebagai song-writer tiba-tiba saja menghentikan kontrak. Mereka berkata bahwa mereka kelebihan staf untuk song-writer dan dengan amat disayangkan membuat Seohyun diberhentikan. Seohyun tahu agensi tempatnya bekerja sebenarnya mendatangkan komposer dan arranger ahli dari luar negeri yang secara tidak langsung mencuri pekerjaannya. Namun Seohyun bisa berbuat apa? Dia hanya song-writer yang tak cukup dikenal meski lirik ciptaannya telah dipakai artis yang cukup terkenal.

Seohyun terlonjak saat mendengar dering ponselnya yang ia letakkan di saku celananya. Gadis itu sedikit kesusahan mengambil ponselnya karena saku jeansnya yang cukup ketat. Diliriknya sebuah nama yang terpampang di ponselnya yang membuat ia membulatkan matanya. Seohyun berdehem sebentar sebelum mengangkat telepon tersebut.

“Ne Unnie.”

“…..”

“Aku? Di rumah. Memangnya kenapa, Unnie?”

“…..”

“Arrasseo. Tunggu aku sepuluh menit.”

***

Seohyun menyapu pandangannya ke sekitar penjuru cafe. Dia melihat gadis dengan snapback hitam dan masker senada yang menutupi wajahnya. Dia tersenyum pelan sebelum mendekati gadis tersebut.

“Kau sudah lama, Unnie?” tanya Seohyun dan langsung menempatkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan gadis itu.

Gadis itu menggeleng dan menurunkan maskernya sedikit sebelum berbicara. “Kau dipecat?” tanya gadis didepan Seohyun.

Seohyun mengangguk. “Tak usah dipikirkan. Mungkin ini waktunya aku berlibur” ujar Seohyun dengan kekehan pelan di akhir kalimatnya.

Gadis di depan Seohyun mengerutkan keningnya sebelum menghembuskan nafasnya kasar. “Aku tahu dengan baik apa yang ada di hatimu, dan itu sama sekali berbeda dengan ucapanmu barusan. Ini.” Gadis itu menyerahkan sebuah kartu nama pada Seohyun.

Dengan ragu Seohyun mengambilnya dan mulai membacanya.

“Dia CEO di agensiku. Aku sudah berbicara pada Daepyeo-nim untuk mempekerjakanmu disana. Lagipula agensi juga membutuhkan song-writer untuk girlband besutannya yang akan comeback” jelas gadis itu.

“Tapi.. tapi bagaimana bisa?” Seohyun masih tak percaya.

Gadis itu terkekeh pelan. “Kau lupa? Aku ini Im Yoon Ah, aktris kesayangan disana.”

Seohyun menaikkan kedua bibirnya. “Gomawo, Unnie.”

“Tak perlu berterimakasih. Cukup temani aku jalan-jalan seharian ini.”

“Memangnya kau tak ada jadwal?”

“Tidak. Ayo pergi.” Yoona menarik tangan Seohyun setelah meletakkan beberapa lembar won di meja.

***

Seohyun berkali-kali mencoret dan melipat kertas yang ditulisnya dan melemparnya ke tempat sampah yang sayangnya tak masuk. Mungkin ini sudah ke delapan belas kalinya gadis itu membuang hasil tulisannya. Seohyun mengacak rambutnya frustasi. Selama bekerja menjadi penulis lagu, Seohyun belum pernah se-stress ini dalam membuat lirik. Itu karena klien nya adalah artis besar, bahkan mendunia.

Karena sudah tidak tahan lagi, Seohyun keluar dari ruangannya. Dia melihat piano tua nya sekilas dan memutuskan untuk sedikit bermain disana. Seohyun memejamkan matanya dan menghela nafas sebelum membuka piano nya.

Seohyun memulai lagunya. Jari-jari lentiknya menari dengan sangat cantik melantunkan melodi-melodi indah yang membuat orang yang mendengarnya memejamkan mata dan menikmatinya. Seohyun terus memainkan lagu tersebut sampai pada menit ke-tiga lebih dua puluh empat detik, gadis itu mulai melambatkan lagunya hingga benar-benar berhenti.

Clap clap clap

Seohyun mendengar suara tepuk tangan yang cukup keras hingga membuatnya membalikkan tubuhnya. Tepat beberapa meter darinya, seorang gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona tersenyum ke arahnya, masih dengan tangannya yang memberi applause. Yoona berjalan mendekati Seohyun.

“Itu keren. Tapi aku belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Apa kau membuatnya sendiri?”

Seohyun mengangguk pelan. “Ne, aku membuatnya sudah lama.”

“Sudah ada liriknya?” tanya Yoona lagi.

“Aku tak berniat membuat lirik untuk itu. Lagipula aku membuatnya karena iseng.”

Yoona menyentil dahi Seohyun, tak keras memang namun cukup membuat Seohyun meringis dan mengerucutkan bibirnya. “Unnieee…” rengek Seohyun.

Yoona berdecak. “Kau itu berbakat, Hyunie. Kau pandai bermain piano, membuat lagu, memiliki suara yang bagus, kau juga sangat cantik, bahkan aku yang terbiasa melihatmu saja masih terus terpesona denganmu.”

Seohyun memutar bola matanya. “Kau dan mulut manismu itu, Unnie.”

Meski berkata begitu, tak dipungkiri hati Seohyun meleleh mendengar setiap penuturan Yoona padanya barusan. Dia memang sejak awal tertarik dengan Yoona. Ayolah, siapa yang tidak tertarik dengan aktris Nasional Im Yoon Ah? Memiliki wajah goddes, kemampuan akting yang tak diragukan lagi, dan kerendahan hatinya membuat dia dicintai seluruh warga Korea Selatan.

“Aku berkata jujur. Sudahlah, lebih baik ajari aku bermain piano.” Yoona menggeser tubuh Seohyun agar bisa duduk. Itu membuat gadis yang lebih muda mengerucutkan bibirnya karena hampir terjatuh.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Yoona. Matanya terus menatap ke arah piano tua milik Seohyun dengan berbinar.

“Kau belum pernah bermain piano sebelumnya, Unnie?”

“Terakhir kali aku bermain piano saat berusia tujuh tahun. Aku sedikit lupa bagaimana cara menggunakannya.” Yoona mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Kalau begitu lagu twinkle little star saja yang mudah.”

“Yah! Itu terlalu basic. Aku ingin bermain lagumu yang tadi saja.”

Seohyun berdecak dan menaikan sedikit bibir kanan atasnya tanda mengejek. “Bisa bermain saja tidak” gumam Seohyun.

“Aku mendengarmu, Hyunie. Cepat ajari aku. Aku ini sangat cerdas dalam menangkap hal-hal baru” ujar Yoona tanpa melihat ke arah Seohyun dan masih fokus dengan piano di depannya.

Dan pada akhirnya Seohyun mengajari Yoona bermain piano dengan lagu buatannya. Dia seperti guru les piano profesional yang dengan telaten mengajari muridnya agar bisa bermain piano dengan baik.

“Aku menyerah” ucap Yoona pada akhirnya.

Seohyun memutar bola matanya dan menghembuskan nafas kasar. “Sangat cerdas dalam menangkap hal-hal baru, eoh? Yang benar saja” ejek Seohyun.

“Ahh jariku kram” manja Yoona seraya menggerakan jari-jarinya yang terasa kaku.

“Letakkan jarimu disana dan aku akan menutupnya dengan keras. Jarimu akan sembuh” ucap Seohyun sarkastis sembari menunjuk tuts pianonya pada Yoona.

Yoona berdecak. “Jahat. Untung cinta” gumam Yoona.

“Kau bilang apa?” tanya Seohyun.

“Ani. Aku harus pergi, Hyunie. Sebentar lagi ada jadwal pemotretan. Jangan lupa dinner nanti malam. Dandan yang cantik, oke? Aku menyayangimu, uri dongsaeng.”

Setelah mengacak rambut Seohyun, Yoona berlari keluar rumah. Seohyun masih di tempat dengan tatapan lurus ke arah terakhir kali melihat Yoona sebelum gadis itu pergi. Rambutnya ia rapihkan dengan pelan sebelum menghela nafas.

“Dongsaeng, huh?” Seohyun tertawa kecut.

***

Jam menunjukan pukul delapan malam dan Seohyun masih terus berkutat dengan tumpukan kertas dihadapannya. Berkali-kali dia mencoret tulisannya dan menulis ulang. Menulis, mencoret, buang, menulis, mencoret, buang, hingga dia kesal dan menggebrak meja. Seohyun sungguh tak memiliki inspirasi untuk membuat lirik saat ini. Terutama karena ucapan Yoona tadi siang yang benar-benar mengganggunya. Dia masih saja merasa kesal dengan Yoona yang masih saja menganggapnya adalah adik. Padahal Seohyun jelas-jelas seringkali memberi kode pada Yoona bahwa gadis itu menyukainya. Apa dia tidak sepeka itu?

Seohyun berteriak kesal dan menendang mejanya yang dibalas ringisan kesakitan. Seohyun mengusap kakinya yang sakit dengan sedikit menangis yang dibuat-buat. Tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di meja bergetar. Seohyun meraihnya dan melihat nama Yoona disana. Sebelum mengangkat panggilan, terlebih dahulu Seohyun mengatur nafasnya dan suaranya agar tak terdengar jelas tengah kesal.

“Juhyun, kau dimana? Kau lupa dengan janji kita untuk dinner malam ini?”

Seohyun membuka mulutnya. Dia lupa dengan janjinya malam ini yang akan dinner dengan Yoona. Dia memukul kepalanya karena telah lupa. Mereka memang sering dinner bersama saat jadwal Yoona kosong. Sangat jarang gadis itu memiliki jadwal kosong dan itu membuat intensitas bertemu mereka berkurang, dan itu juga yang membuat mereka rutin membuat jadwal dinner tersendiri saat Yoona kosong schedule.

“A-ah m-maafkan aku, Unnie. Sepertinya aku sedang tak enak badan” bohong Seohyun.

“Jinjja? Aku akan menyusulmu kesana. Tunggu aku.”

“T- Ta.. Tapi Un… nie.” Ucapan Seohyun melemah saat dia tahu Yoona telah mematikan sambungan.

“Mati aku!” ucap Seohyun lalu memukul kepalanya lagi. Dia kemudian melangkahkan kakinya dengan gontai keluar ruangannya dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai atas.

***

Yoona melipat tangannya dan mengetuk-ngetukan kelima jari kanannya bergantian di lengan kirinya. Matanya menatap tajam Seohyun yang masih duduk di ranjang dengan menundukkan kepalanya. Yoona marah karena Seohyun telah membohonginya dengan beralasan sakit padahal nyatanya gadis itu baik-baik saja. Yoona terus saja diam di tempatnya dengan posisi sama seperti pertama kali menangkap basah kebohongan Seohyun. Dia mencoba menghukum Seohyun dengan ini yang selalu sukses membuat Seohyun tak tahan dan pada akhirnya membujuk Yoona untuk berhenti marah dan memaafkannya.

“Unnie…”

See? Tebakan Yoona benar-benar tepat. Sebentar lagi Seohyun pasti akan merengek meminta maaf padanya. Dalam hati Yoona tersenyum menang.

Seohyun menghela nafasnya. “Pulanglah.”

Yoona membulatkan matanya. Dia makin menatap tajam Seohyun. Bukan ini yang dia harapkan. Rasa kesal kembali menyerang hatinya. Dia baru akan menghampiri Seohyun saat gadis itu melepas blazer pink nya dan melemparnya ke ranjang. Yoona kini melihat Seohyun yang kini hanya memakai tanktop ketatnya dan jeans hotpant nya. Saat awal masuk ke rumah Seohyun, Yoona tak begitu memperhatikan apa yang dikenakan Seohyun. Waktu itu dia panik dan khawatir sebelum tergantikan rasa kesal dan kecewa. Namun kali ini, Yoona menelan ludahnya sendiri melihat tubuh Seohyun yang dibalut pakaian terbuka tersebut.

“Aku lelah, ingin beristirahat. Kita selesaikan masalah ini besok saja” ucap Seohyun yang hendak berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut sebelum tangan Yoona mencegatnya.

Seohyun menatap mata Yoona yang juga menatapnya. Tubuh Seohyun seketika kaku mendapati tatapan panas Yoona. Itu membuatnya menelan ludah dan berusaha mengontrol jantungnya yang mulai berdetak tak karuan. Dia tak percaya dengan penglihatannya sekarang ini. Seohyun tak mau berharap lebih lagi hanya karena Yoona menatapnya panas. Seohyun terus saja berdebat dalam lamunannya saat tiba-tiba nafas panas terasa jelas di wajahnya. Seohyun membulatkan matanya saat wajah Yoona terpaut beberapa senti dari wajahnya. Dia merasakan kecupan lembut mendarat sempurna di keningnya. Hal tersebut membuatnya mau tak mau menutup matanya, merasakan lembutnya bibir Yoona menyentuh keningnya.

“Istirahatlah. Lupakan saja masalah tadi. Jaljayo~” Yoona mengakhiri ucapannya dengan mengusap rambut Seohyun dengan sayang. Setelah itu, Yoona berbalik dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar Seohyun.

“Kau membuatku berharap lagi, Unnie” ucap Seohyun sedih.

***

Sudah seminggu ini belum ada kepastian lirik lagu ciptaannya rampung. Pagi tadi Seohyun bertemu Daepyeo-nim untuk membahas lirik yang ditulisnya. Dengan jujur Seohyun mengatakan belum selesai mengerjakan pekerjaannya. Memang Daepyeo-nim tidak mempermasalahkannya, namun yang jadi masalah adalah dirinya. Seohyun tidak tahu sampai kapan dia mengalami lumpuh menulis dan lumpuh inspirasi sedangkan comeback girlband agensi tempatnya bekerja sebentar lagi melakukan proses rekaman. Belum lagi lagu harus diaransemen dan sebagainya. Seohyun bisa-bisa stress muda.

Hal yang mengganggunya satu lagi adalah si shikshin Im Yoong. Setelah kejadian malam itu, Yoona bagai ditelan bumi. Memang Seohyun tahu akhir-akhir ini Yoona sibuk dengan jadwalnya. Namun yang menjadi aneh adalah, sejak kapan Yoona mau mengikuti acara survival? Bahkan sejak dari dulu ditawari acara tersebut, Yoona dengan tegas menolak. Dia pernah mengatakan, lebih baik hadir di acara ulang tahun anak kecil daripada harus bertahan hidup di acara tersebut.

Tentu saja hal itu membuat Seohyun curiga. Jika yang dipikirkannya benar bahwa Yoona sengaja mengikuti acara tersebut karena ingin menghindarinya dan menyibukkan diri, Seohyun tentu merasa kecewa.

Karena tak tahu harus menumpahkan segala keluh kesahnya pada siapa, Seohyun pada akhirnya memberanikan diri pergi ke bar. Dia sering mendengar teman-temannya jika tengah stress, bar adalah pilihan terbaik. Selama ini Seohyun memang selalu menjaga dirinya. Dia tak mau terjerumus hal-hal negatif nantinya. Namun kali ini pengecualian.

***

Seohyun membuka matanya perlahan. Dia mengerang merasakan sakit di kepala bagian belakang. Seohyun merubah posisi berbaring menjadi duduk dengan kepala ranjang sebagai sandaran. Kepalanya ia remas dengan tangan kanannya karena pusing, mungkin akibat hangover semalam.

“Kau sudah bangun?” Suara tersebut sontak membuat Seohyun terkejut. Dia mendongak dan melihat Yoona dengan mata sayu khas orang mengantuk berdiri di depannya. Rambut gadis itu berantakkan, juga terlihat kantung mata yang kian menebal.

“Unnie? Mengapa kau bisa ada disini?” tanya Seohyun bingung.

“Kau lupa kejadian semalam?” tanya Yoona dengan menguap di ujung kalimatnya. Matanya sedikit tertutup namun masih berusaha untuk terbuka. Seohyun meringis, dia merasa kasihan dengan penampilan Yoona saat ini kalau boleh jujur.

Seohyun kemudian mengingat lagi kejadian kemarin. Dia pergi ke bar, minum dan menari dengan gila, minum lagi hingga mabuk, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

“Yeah, setelah itu seorang bartender meneleponku dengan menekan first dial dan aku bersusah payah datang kesana menjemputmu setelah selesai acara survival itu. Kau tahu badanku hampir remuk kemarin malam dan energiku terkuras habis” ucap Yoona yang seperti melanjutkan kejadian kemarin pada Seohyun. Matanya masih berusaha terbuka dari rasa mengantuknya.

“Mianhae” ucap Seohyun dengan menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah pada Yoona. Pasti gadis itu sangat lelah kemarin. Dia tahu bagaimana acara survival itu berlangsung. Untuk bertahan hidup di hutan setidaknya seluruh kemampuan yang ada pada dirimu dibutuhkan disana. Sebab itu Yoona seringkali menolak acara tersebut, kecuali kemarin.

Yoona menghela nafas. Dia mendekat ke arah Seohyun dan memeluknya.

“Gwaenchanha. Setidaknya aku merasa lega bartender itu meneleponku saat itu. Aku jadi merasa beruntung bisa diandalkan olehmu meski kau sedang tak sadar. Dan juga aku beruntung menjadi orang pertama yang mengetahui keadaanmu dan bisa merawatmu dengan tanganku sendiri.”

Mata Seohyun berkaca-kaca mendengar pengakuan manis dari mulut Im Yoon Ah. Dia semakin mengeratkan pelukan Yoona dan menggumamkan kata terimakasih berkali-kali padanya.

***

Seohyun memantapkan dirinya. Dia lalu memegang bolpoin yang ada di didepannya tanpa ragu. Dia sudah menemukan lirik yang sesuai untuk kliennya. Setelah rapat membahas konsep musik bersama beberapa staf dan girlband itu sendiri, Seohyun sudah memiliki gambaran dan itu cukup sesuai dengan konsep mereka.

Dan jadilah saat ini dia berkutat dengan lembar kertas di depannya. Mulai menulis beberapa kata yang akan menjadi lagu tak lama lagi.

Seohyun tak melepas senyum yang menggantung di bibirnya selama dia mengerjakan pekerjaannya. Sebisa mungkin dia menulis lirik tersebut dari hati. Dan memang lirik yang dia tulis sebagian besar adalah pengalamannya sendiri. Dia jadi mudah untuk melakukannya.

Setelah sentuhan terakhir pada karyanya selesai, Seohyun tersenyum puas. Dia menghela nafas lega sebelum beranjak dari kursinya dan berlari kecil keluar ruangannya untuk menemui seseorang yang menjadi inspirasi nya.

“Unnie bangun!” Seohyun membangunkan Yoona yang sejak pagi tidur di kamarnya. Dia mengatakan bahwa dia bosan tinggal di apartemen mewahnya yang sepi. Lebih baik tinggal di rumahnya yang nyaman dan jauh dari jangkauan wartawan.

“Waeee” gumam Yoona. Dia malah mengeratkan pelukannya pada guling.

“Aku lapar. Buatkan aku makanan.. juseyoo~” rengek Seohyun.

“Kau tahu aku tak bisa memasak” ucap Yoona yang seperti menggumam.

“Tapi omurice buatanmu enak. Aku ingin omurice! Unnie buatkan aku omurice!”

Yoona menghela nafas. Jika Seohyun sudah bertingkah manja seperti ini, dia tak bisa menolak. Pada akhirnya Yoona bangun dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka setelah itu memasakkan omurice untuk Seohyun.

“Mashita?” tanya Yoona setelah Seohyun menyuapkan suapan pertama di mulutnya. Gadis yang lebih muda mengangkat kedua tangannya dan terus mengunyah dengan lahap. Yoona tersenyum sebagai balasan. Dia senang orang yang disayanginya suka dengan hasil masakannya.

“Oh ya, Hyunie. Kau lihat ponselku? Aku harus menghubungi manager oppa.”

“Ah itu, ada di ruang kerjaku. Aku tadi pinjam untuk menelepon Daepyeo-nim.”

“Ponselmu belum diperbaiki?” tanya Yoona.

Seohyun menggeleng. “Aku akan beli yang baru saja. Ponselku yang itu sepertinya susah untuk diperbaiki” ucap Seohyun. Gadis itu memang ceroboh. Dia lupa mengambil ponselnya di saku celananya dan berakhir ikut tercuci di mesin cuci.

“Arrasseo. Aku mengambil ponselku dulu.” Yoona bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerja Seohyun yang berada tepat dibawah tangga bermodelkan vintage. Bahkan seluruh rumah Seohyun bermodelkan sama hingga ke perabotan-perabotannya. Makanya Yoona sangat betah tinggal di rumah Seohyun.

Yoona melihat ponselnya yang tergeletak di meja kerja Seohyun. Dia mengambilnya dan hendak berbalik keluar sebelum sebuah kertas disana membuat dia mengurungkan niatnya. Yoona mengambil kertas tersebut dan membacanya.

Wajahnya sangat serius membaca tiap kata yang tertulis disana. Alisnya ia naikkan kemudian kembali serius. Keningnya ia kerutkan dan kembali membacanya dengan serius. Begitu seterusnya hingga selesai. Yoona meletakkan kembali kertas tersebut dan melangkah keluar. Dia melihat Seohyun masih menyantap omurice buatannya.

“Aaa~” Yoona membuka mulutnya minta disuapkan. Seohyun dengan senang hati menyuapkan omuricenya.

“Hyunie?” panggil Yoona pelan.

“Huh?” Seohyun kembali fokus pada makanannya.

“Apa kau sedang menyukai seseorang?” tanya Yoona ragu.

Seohyun menghentikkan kunyahannya. Dia menatap Yoona intens sebelum menjawab.

“Eung. Wae?”

“Ahh anioo. Siapa pria beruntung itu?” Yoona mengibaskan tangannya dan bertanya lagi.

“Apa kau pernah melihatku dekat dengan seorang pria, Unnie?”

Yoona menggeleng pelan.

“Ya sudah.”

Yoona mengerutkan keningnya. “Tapi kau bilang kau menyukai seseorang.”

“Memang” ujar Seohyun singkat. Dia melanjutkan memakan makanannya lagi.

“Baiklah. Siapa orang yang kau sukai itu? Kau harusnya berbagi ini denganku. Kita sudah lama dekat, kau tahu. Jahat sekali menyembunyikan sesuatu yang penting ini.” Yoona mengerucutkan bibirnya.

“Kau sudah tahu itu penting. Maka dari itu aku tak mau menceritakan hal penting itu pada orang yang tak bisa dipercaya sepertimu.”

“YAH!” kesal Yoona membuat Seohyun tertawa terbahak-bahak. Dia senang menggoda Unnie nya.

“Kau pasti melihat lirik yang kubuat tadi, ya kan Unnie?” tebak Seohyun setelah tawanya usai.

“Bagaimana kau tahu?”

Seohyun mengangkat bahunya.

“Baiklah. Begini saja, Unnie. Kau tahu aku sangat dekat denganmu, harusnya kau juga tahu aku menyukai siapa.”

Yoona tambah mengerutkan keningnya. Setau Yoona, Seohyun tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali dirinya. Bagaimana bisa dia tahu siapa yang gadis itu sukai?

Seohyun berdecak pelan. Dia berhenti memakan omurice nya dan menatap Yoona untuk kemudian mengecup bibir Yoona sekilas. Jelas saja itu membuat tubuh Yoona kaku. Semua fungsi tubuhnya berhenti seketika.

“Kau ini bodoh sekali, Unnie. Tentu saja itu kau.”

Seohyun mengangkat pantatnya dan membawa piring kotornya untuk dimasukan kedalam wastafel. Dia kemudian mulai mencucinya dan meletakkan piringnya ke tempat biasa. Seohyun masih melihat Yoona yang masih terdiam di tempat. Bahkan posisinya masih sama seperti saat dia baru saja menciumnya. Seohyun terkikik pelan dan menggelengkan kepalanya sebelum naik ke atas, ke kamarnya.

***

Setelah kejadian Seohyun mencium Yoona, hubungan mereka mulai ada peningkatan. Yoona juga sudah mengakui perasaannya terhadap Seohyun. Walaupun tidak ada ikatan status diantara mereka berdua, Seohyun tetap merasa bahagia. Yoona membalas perasaannya saja sudah cukup.

Hari-hari mereka pun mulai ada sedikit perubahan. Mereka juga sudah terbiasa dengan kecupan-kecupan ringan di bibir layaknya pasangan umum lainnya. Jikapun berciuman, mereka hanya melakukan ciuman yang wajar.

Yoona juga mulai protektif terhadap Seohyun. Dia bahkan tidak segan menatap penuh kebencian kepada pria yang menatap Seohyunnya dengan tatapan lebih. Bahkan dia pernah mematahkan pergelangan tangan seorang pria saat pria tersebut dengan sengaja memegang butt Seohyun. Dia tak rela jika miliknya disentuh orang lain. Beruntung kejadian tersebut tak masuk berita. Yoona masihlah publik figur yang dikenal di seluruh Korea.

Berbeda dengan Seohyun, gadis itu tak mempermasalahkan siapa-siapa saja yang dekat dengan Yoona. Namun ke-manja-annya pada Yoona bertambah berkali-kali lipat. Bahkan Yoona harus selalu menginap di rumahnya, atau kalau tidak harus menemaninya hingga tertidur baru gadis itu diperbolehkan pulang.

Saat ini mereka tengah menghabiskan akhir pekan dengan menonton televisi bersama di rumah Seohyun.

“Whoaah itu lagumu kan?” tunjuk Yoona pada salah satu acara yang backsound nya adalah lagu dari girlband besutan agensinya.

Seohyun mengangguk. Dia masih fokus mengupas buah untuk camilan mereka.

“Sweet talk. Memangnya aku sweet talker, Hyunie?” Yoona mengusap dagunya sedangkan keningnya ia kerutkan.

“Terkadang” jawab Seohyun singkat. Dia menyodorkan potongan apel pada Yoona yang segera dimakan oleh gadis pemakan segala itu.

“Harusnya kau memberi judul, ‘Sweet Shikshin’ karena itu ciri khasku.”

Seohyun menghembuskan nafasnya ke atas dengan kasar, membuat poninya tersibak.

“Bego. Untung cinta.” gumam Seohyun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oneshoot dulu. Yg series menyusul. Masih sibuk soalnya. Miaaaan~

Pupye see u next fic~

Sweet Love [Epilog]

Tittle : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Taeyeon mengusap kepala bagian depannya perlahan. Dia meringis pelan saat menyentuhnya. Dia lalu mengambil kain yang sudah berisi es dan mendekatkannya di kepalanya.

“Argh. Jenong sialan!” rintih Taeyeon sambil mengumpat.

 

1 jam sebelumnya…

Semua bagian tubuh Yuri bergetar. Terutama kaki dan tangannya. Saat ini dia sedang berada di sebuah salon yang sudah meriasnya. Hari ini adalah hari pernikahannya bersama Jessica. Wanita itu gugup bukan main. Awalnya dia sangat siap dan bersemangat. Namun begitu tiba di salon, wanita itu berubah menjadi gugup mengingat beberapa jam lagi dia akan mengucap janji suci bersama wanita yang dicintainya itu. Mungkin itu juga yang membuatnya memilih menggunakan salon sendiri dibandingkan merias dirinya di lokasi pernikahannya dengan Jessica.

“Yul, ayolah. Kita sudah terlambat. Jessica akan membunuhku kalau seperti ini.” rengek Taeyeon.

“T..T.. T.. Ta.. Taeyeon-ah, a.. a.. aku gugup.” ucap Yuri terbata. Dia menggigit bibir bawahnya.

Taeyeon menghela nafasnya. Dia lalu mengambil sesuatu di dalam tas ransel yang biasa dia bawa di mobilnya.

“Tenangkan dirimu dengan ini. Aku keluar dulu. Kalau kau sudah siap, panggil aku.” Taeyeon menyerahkan sebuah alkitab pada Yuri yang dibalas tatapan bingung dari Yuri. Namun begitu, wanita tan itu tetap mengambil alkitab dari tangan Taeyeon.

Setelah sedikit membacanya, Yuri mulai rileks. Dia lalu menghembuskan nafasnya panjang dan mengangguk mantap. Dia memanggil Taeyeon dan mereka segera berangkat menuju lokasi pernikahannya.

 

“YA! KENAPA KAU MEMBAWA YURI-KU LAMA SEKALI, HAH?!” teriak Jessica sembari tangannya memukul kepala Taeyeon bertubi-tubi.

“Aw aw aw Sica hentikan! Sakit!” Jessica tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus memukulnya.

“Nona Jessica, mohon bersiap.” kata seseorang yang Jessica tahu sebagai wedding organizer nya.

Jessica menghentikan pukulannya pada Taeyeon dan menatapnya tajam sebelum berlalu meninggalkannya. Jessica sedikit merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena memukul Taeyeon tadi. Dia menghela nafasnya pelan dan melanjutkan langkahnya keluar. Tiffany yang sudah melihat Jessica keluar segera menghampiri Taeyeon.

“Sakit?” tanya Tiffany yang dibalas anggukan oleh Taeyeon.

Tiffany menghela nafas dan mengecup kening suaminya. Dia juga mengusap pelan kepala Taeyeon yang dipukuli Jessica. Taeyeon meringis.

“Dia sedang PMS, Tae. Maklumilah.” ucap Tiffany lembut.

“Arrasseo. Berikan aku es untuk ini.” pintanya sembari menunjuk kepalanya. Tiffany paham dan segera keluar mencari kain dan es untuk Taeyeon.

 

Taeyeon keluar dari toilet, masih dengan menekan es di kepalanya. Dia melihat Tiffany di lorong dekat pintu yang menuju tempat pernikahan Yuri dan Jessica. Wanita itu berlari kecil mendekati Taeyeon.

“Mereka sudah resmi, Tae. Kau baik-baik saja? Apa masih sakit?” lapor Tiffany disertai bertanya kondisinya.

“Baguslah. Ani, ini masih sakit. Ppany-ah ayo kita pulang saja. Rasanya kepalaku remuk.”

Tiffany menggeleng pelan. “Setidaknya ucapkan selamat dulu kepada mereka. Sejak tadi kau sama sekali tidak melihat mereka, kan?”

Taeyeon menghela nafasnya dan menurunkan es di kepalanya. “Ne. Tapi dimana Yoong?”

“Yoong masih di dalam bersama Seohyun.” jawab Tiffany.

Mendengar nama Seohyun membuat Taeyeon tersenyum liar. Ingatannya kembali terngiang saat kembalinya dia dari rumah sakit. Saat itu Yoong menunggu mereka di depan rumahnya dan pingsan. Taeyeon merasa lucu mendengar alasan Yoong pingsan setelah wanita cantik itu siuman.

Seo Joo Hyun, wanita itu penyebabnya. Yoong mengaku sudah lama menyukai wanita itu. Dan saat itu sebelum pergi ke rumahnya untuk menyambut kepulangan Taeyeon, Yoong menemani Seohyun ke toko buku. Betapa terkejutnya dia saat Seohyun mengecup bibirnya dan mengucapkan terimakasih sebelum berlari kecil menuju rumahnya. Meninggalkan Yoong yang masih terdiam di tempat dengan jantung yang berdebar kencang. Dan beruntungnya Yoong mereka sudab official minggu lalu.

“Baiklah. Tapi aku ingin menemui Yul dan Sica saat acara selesai. Aku tidak mau masuk kedalam. Disana terlalu ramai.” kata Taeyeon.

“Lantas kau mau melakukan apa selama acara masih berlangsung?” tanya Tiffany bingung.

Taeyeon menyeringai. Dia menarik tangan Tiffany dan membawanya ke salah satu bilik toilet.

“Bagaimana kalau sedikit bermain, hm?”

Tiffany melebarkan matanya dan segera dibungkam oleh bibir Taeyeon di bibirnya sebelum wanita itu bereaksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kkeut! Selesai! Bye!

Ahaha~

See u next fic~ pupye~