Lipbalm (Drabble)

Title : Lipbalm

Main Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung

Sub Cast : TaeNy

.

.

.

Happy reading~

 

Liburan musim panas Yuri habiskan hanya didalam apartemen miliknya dan Jessica. Sebenarnya gadis tanned itu bosan, namun apa yang bisa dilakukannya sementara kekasihnya yang pemarah dan manja melarangnya? Dia tidak akan berani keluar kalau tak mau kepala atau pipinya memar akibat pukulan sang Ice Princess. Jessica memang ringan tangan, tapi itu semua tidak merubah semua kecintaan Yuri padanya. Yuri tau Jessica juga sangat mencintainya. Hanya saja perlakuan kasarnya terhadap Yuri merupakan bentuk kasih sayangnya mungkin.

Hari ini Yuri berbaring malas-malasan di karpet ruang tengah apartemennya. TV dibiarkan menyala tanpa sedikitpun gadis itu menontonnya. Dia meraih ponsel berlogokan apel tergigit miliknya dan mengetikan sesuatu, namun ia urungkan kembali pesannya. Mulai mengetik kembali, lalu ia hapus. Mengetik, hapus. Begitu seterusnya sampai dia merasa lelah. Namun setelah berfikir lagi, dia menemukan kata yang sesuai dan mengetikannya di layar ponselnya.

To : Kim Midget

Taeng, aku tau semalam kau dicampakan Tiffany. Ke apartemenku sekarang. Jessica melarangku keluar. 

 

Cukup lama Yuri tak mendapat balasan. Namun di detik terakhir dari menit ke sepuluh, sebuah notifikasi terdengar di ponselnya. Yuri membuka dan membacanya.

From : Kim Midget

Sialan kau, Yul. Ini semua gara-gara kau tahu. Baiklah, aku akan kesana lima belas menit lagi. Lagipula Tiffany masih marah padaku.

 

Yuri tertawa sendiri membaca balasan dari sahabatnya, Taeyeon. Semalam mereka sedang double date dengan pasangan masing-masing. Saat para wifey sedang kebelakang untuk mengurusi urusan mereka, Yuri menantang Taeyeon untuk mendekati wanita yang duduk sendirian di meja seberang dan meminta nomor teleponnya. Jika berhasil, Yuri akan membelikannya PS Vita keluaran terbaru. Tentu saja Taeyeon tak mau menyiakannya. Apalagi seluruh set game miliknya telah ludes dijual kekasihnya karena Tiffany sangat membenci Taeyeon dengan segala game yang dimilikinya. Tawaran Yuri begitu menggiurkan. Dan jadilah malam itu Taeyeon mendekati wanita itu untuk mendapat nomor teleponnya. Alangkah sialnya, Tiffany melihat itu semua dan- BOOM! Perang dunia ke-3 terjadi!

Yuri masih merasa geli dengan kejadian semalam saat Tiffany menarik telinga Taeyeon dengan keras.

Saat sedang bahagia dalam pikirannya akan Taeyeon, Yuri melihat Jessica yang duduk diatas sofa dengan membawa lipbalm. Yuri bangkit dari tidurnya dan ikut duduk disebelah kekasihnya. Jessica dengan wajah datarnya mengoleskan lipbalm di bibir mungilnya.

“Baby, kau sedang apa?” tanya Yuri.

“Mengoleskan lipbalm.” Jawab Jessica sekenanya.

“Mengoleskan lipbalm untuk?”

Jessica menghela nafasnya. “The weather is dry, seobang. Do you want to put some on?”

Yuri berpikir sejenak. Tiba-tiba ide jahil muncul di otaknya. Dia meraih pipi Jessica dan mendekatkan wajahnya. Diciumnya bibir mungil kekasihnya yang terkejut dengan perlakuan Yuri yang tiba-tiba ini. Wajah Jessica memerah.

“I put some on.” Ujar Yuri dengan wajah tak berdosanya.

Jessica benar-benar malu dan terkejut dengan kejadian tadi. Dia memukul kepala Yuri lumayan keras hingga timbul benjolan diatasnya. Jessica lalu berlari ke arah kamarnya, meninggalkan Yuri yang masih bertahan dengan senyum bodohnya tadi.

Dia tak sadar Taeyeon melihatnya dan tengah menahan tawanya di depan pintu apartement.

“Satu sama, Yul.” Ucap Taeyeon dan berjalan mendekati Yuri dengan wajah konyolnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selingan hwahaha. Update nya mgkn seminggu kedepan coz mulai menyibukkan diri sm pelajaran :v

Ini diadaptasi dr manhua tp ak modifikasi sedikit. Ini jg prnah ak post di wp lama so yg prnah baca yaa begitulah.

Oke bye see u next fic~

Advertisements

Sweet Love [Epilog]

Tittle : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Taeyeon mengusap kepala bagian depannya perlahan. Dia meringis pelan saat menyentuhnya. Dia lalu mengambil kain yang sudah berisi es dan mendekatkannya di kepalanya.

“Argh. Jenong sialan!” rintih Taeyeon sambil mengumpat.

 

1 jam sebelumnya…

Semua bagian tubuh Yuri bergetar. Terutama kaki dan tangannya. Saat ini dia sedang berada di sebuah salon yang sudah meriasnya. Hari ini adalah hari pernikahannya bersama Jessica. Wanita itu gugup bukan main. Awalnya dia sangat siap dan bersemangat. Namun begitu tiba di salon, wanita itu berubah menjadi gugup mengingat beberapa jam lagi dia akan mengucap janji suci bersama wanita yang dicintainya itu. Mungkin itu juga yang membuatnya memilih menggunakan salon sendiri dibandingkan merias dirinya di lokasi pernikahannya dengan Jessica.

“Yul, ayolah. Kita sudah terlambat. Jessica akan membunuhku kalau seperti ini.” rengek Taeyeon.

“T..T.. T.. Ta.. Taeyeon-ah, a.. a.. aku gugup.” ucap Yuri terbata. Dia menggigit bibir bawahnya.

Taeyeon menghela nafasnya. Dia lalu mengambil sesuatu di dalam tas ransel yang biasa dia bawa di mobilnya.

“Tenangkan dirimu dengan ini. Aku keluar dulu. Kalau kau sudah siap, panggil aku.” Taeyeon menyerahkan sebuah alkitab pada Yuri yang dibalas tatapan bingung dari Yuri. Namun begitu, wanita tan itu tetap mengambil alkitab dari tangan Taeyeon.

Setelah sedikit membacanya, Yuri mulai rileks. Dia lalu menghembuskan nafasnya panjang dan mengangguk mantap. Dia memanggil Taeyeon dan mereka segera berangkat menuju lokasi pernikahannya.

 

“YA! KENAPA KAU MEMBAWA YURI-KU LAMA SEKALI, HAH?!” teriak Jessica sembari tangannya memukul kepala Taeyeon bertubi-tubi.

“Aw aw aw Sica hentikan! Sakit!” Jessica tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus memukulnya.

“Nona Jessica, mohon bersiap.” kata seseorang yang Jessica tahu sebagai wedding organizer nya.

Jessica menghentikan pukulannya pada Taeyeon dan menatapnya tajam sebelum berlalu meninggalkannya. Jessica sedikit merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena memukul Taeyeon tadi. Dia menghela nafasnya pelan dan melanjutkan langkahnya keluar. Tiffany yang sudah melihat Jessica keluar segera menghampiri Taeyeon.

“Sakit?” tanya Tiffany yang dibalas anggukan oleh Taeyeon.

Tiffany menghela nafas dan mengecup kening suaminya. Dia juga mengusap pelan kepala Taeyeon yang dipukuli Jessica. Taeyeon meringis.

“Dia sedang PMS, Tae. Maklumilah.” ucap Tiffany lembut.

“Arrasseo. Berikan aku es untuk ini.” pintanya sembari menunjuk kepalanya. Tiffany paham dan segera keluar mencari kain dan es untuk Taeyeon.

 

Taeyeon keluar dari toilet, masih dengan menekan es di kepalanya. Dia melihat Tiffany di lorong dekat pintu yang menuju tempat pernikahan Yuri dan Jessica. Wanita itu berlari kecil mendekati Taeyeon.

“Mereka sudah resmi, Tae. Kau baik-baik saja? Apa masih sakit?” lapor Tiffany disertai bertanya kondisinya.

“Baguslah. Ani, ini masih sakit. Ppany-ah ayo kita pulang saja. Rasanya kepalaku remuk.”

Tiffany menggeleng pelan. “Setidaknya ucapkan selamat dulu kepada mereka. Sejak tadi kau sama sekali tidak melihat mereka, kan?”

Taeyeon menghela nafasnya dan menurunkan es di kepalanya. “Ne. Tapi dimana Yoong?”

“Yoong masih di dalam bersama Seohyun.” jawab Tiffany.

Mendengar nama Seohyun membuat Taeyeon tersenyum liar. Ingatannya kembali terngiang saat kembalinya dia dari rumah sakit. Saat itu Yoong menunggu mereka di depan rumahnya dan pingsan. Taeyeon merasa lucu mendengar alasan Yoong pingsan setelah wanita cantik itu siuman.

Seo Joo Hyun, wanita itu penyebabnya. Yoong mengaku sudah lama menyukai wanita itu. Dan saat itu sebelum pergi ke rumahnya untuk menyambut kepulangan Taeyeon, Yoong menemani Seohyun ke toko buku. Betapa terkejutnya dia saat Seohyun mengecup bibirnya dan mengucapkan terimakasih sebelum berlari kecil menuju rumahnya. Meninggalkan Yoong yang masih terdiam di tempat dengan jantung yang berdebar kencang. Dan beruntungnya Yoong mereka sudab official minggu lalu.

“Baiklah. Tapi aku ingin menemui Yul dan Sica saat acara selesai. Aku tidak mau masuk kedalam. Disana terlalu ramai.” kata Taeyeon.

“Lantas kau mau melakukan apa selama acara masih berlangsung?” tanya Tiffany bingung.

Taeyeon menyeringai. Dia menarik tangan Tiffany dan membawanya ke salah satu bilik toilet.

“Bagaimana kalau sedikit bermain, hm?”

Tiffany melebarkan matanya dan segera dibungkam oleh bibir Taeyeon di bibirnya sebelum wanita itu bereaksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kkeut! Selesai! Bye!

Ahaha~

See u next fic~ pupye~

Sweet Love (Chapter 12)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Hari dimana Tiffany pergi ke kampung halamannya tiba. Tiffany dan Taeyeon bekerjasama membereskan pakaian-pakaian dan kebutuhan lainnya ke koper. Taeyeon pergi keluar kamar setelah memasukkan piyama tidur pink favorit isterinya. Dia kemudian kembali lagi selang beberapa menit. Taeyeon melihat isterinya masih memilah baju mana yang harus dibawanya. Dia mendekat dan memasangkan sebuah kalung di leher isterinya. Tiffany terkejut dan membalikkan wajahnya ke belakang.

“Apa ini, TaeTae?” tanya Tiffany setelah Taeyeon berhasil memasangkan kalung.

“Kau tidak lihat itu kalung?” jawab Taeyeon yang membuat Tiffany memutar bola matanya.

“Maksudku kenapa kau memberiku ini? Ulang tahunku masih lama.”

Taeyeon tersenyum. Dia mencuri kecupan di bibir Tiffany dan kembali memasukkan pakaian yang masih dipilah isterinya ke koper.

“Anggap saja itu aku. Kau bisa melihat kalung itu jika kau merindukanku disana.” jawab Taeyeon santai. Dia terus melipat pakaian Tiffany dan memasukkannya ke koper.

Tiffany masih diam di tempat. Taeyeon berbalik dan menatap Tiffany. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.

“Aku juga punya satu. Kau gembok dan aku kunci. Artinya hanya aku yang bisa membuka hatimu.” Taeyeon kembali tersenyum. Dia meletakan satu pakaian lagi di koper dan menutupnya.

“Jja selesai. Ini sudah jam delapan. Pesawatmu sebentar lagi take off.”

Taeyeon hendak membawa koper untuk mengantarnya ke bandara. Namun sebelum itu Tiffany mencegatnya.

“T-Taeyeon…” panggil Tiffany. Taeyeon berhenti berjalan dan berbalik.

“Ne?”

“Kau tak perlu mengantarku ke bandara. Biar Cha Ahjussi saja yang mengantar. Lagipula kau harus berangkat kerja.”

“No no no. Aku ini kan boss. Tidak masalah kalau terlambat beberapa menit.”

“Meskipun kau boss kau juga harus menjadi contoh yang baik untuk karyawanmu. Gwaenchanha, akan kupastikan Cha Ahjussi mengantarku dengan selamat.” Tiffany menunjukam wajah memelasnya. Hal itu membuat Taeyeon menghembuskan nafasnya kasar.

“Geurae. Tapi biarkan aku mengantarmu sampai depan rumah.”

Tiffany mengangguk dan tersenyum, menyembunyikan kedua bola matanya dalam senyum manisnya. Dia menarik tangan Taeyeon dan mulai melangkah keluar rumah. Setelah sampai tepat di pelataran rumah, mereka melihat Cha Ahjussi yang sudah stand by disana. Tiffany membalikkan tubuhnya menghadap Taeyeon. Dia terus menggenggam tangan suaminya, masih belum rela ia lepas.

“TaeTae apa Jessie akan baik-baik saja?” tanya Tiffany khawatir. Taeyeon tersenyum.

“Khawatirkan dirimu sendiri, Fany-ah. Sejujurnya aku masih belum yakin siapa yang dia incar. Aku akan berusaha untuk melindungi kalian berdua. Jadi tenanglah.” Taeyeon memegang kedua lengan Tiffany untuk meyakinkan.

“Nan mideoyo.” ucap Tiffany. Taeyeon melingkarkan kedua tangannya di tubuh Tiffany. Dia menghirup aroma memabukkan isterinya selama beberapa saat. Menyimpannya kedalam memori nya. Dia akan merindukan ini. Pasti.

Taeyeon melepaskan pelukannya dan menatap Tiffany cukup lama. Dia lalu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah isterinya. Tiffany mengerti. Dia menutup matanya sebelum bibir lembut suaminya menyentuh miliknya. Mereka mendiamkannya selama beberapa detik sebelum bibir atas Tiffany Taeyeon lumat. Mereka mencurahkan semua emosi mereka dalam ciuman lembut nan hangat itu. Ini mungkin menjadi ciuman terakhir untuk beberapa waktu kedepan. Mereka tak akan menyia-nyiakannya. Taeyeon melepas ciumannya karena dirasa sudah terlalu lama. Dia melirik Cha Ahjussi yang memalingkan wajah memerahnya karena malu. Taeyeon terkekeh melihatnya.

“Jja, aku tak ingin menahanmu lebih lama lagi, nanti kau terlambat.” Taeyeon mendorong Tiffany menuju mobil. Isterinya menekukan bibirnya kebawah karena Taeyeon memaksanya masuk.

“Hati-hati dijalan, baby. Kabari aku jika sudah sampai LA, ne?”

Tiffany mengangguk patuh dengan senyum tipis. Dia menunjuk bibirnya sebelum dia benar-benar pergi. Taeyeon terkekeh dan mengacak rambut isterinya. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke jendela mobil dan mengecup singkat bibir Tiffany. Wanita itu tersenyum senang setelahnya.

“Gomawo. Na kanda.” kata Tiffany. Taeyeon tersenyum dan mengangguk.

Mobil Tiffany mulai melaju meninggalkan pelataran rumah. Taeyeon melambaikan tangannya selagi mobil masih dapat dijangkau penglihatannya. Setelah benar-benar tak terlihat lagi, Taeyeon masuk kedalam dan bersiap-siap bekerja.

***

Taeyeon meraih ponselnya di atas meja karena berdering. Matanya masih tertuju pada layar komputer di hadapannya. Dia melihat sekilas ke arah ponselnya dan menggeser ikon hijau sebelum beralih ke layar komputernya lagi.

“Yeoboseyo, Sica.”

“……”

“Sica?” Taeyeon mengulangi ucapannya karena tak ada respon disana.

“Taeng…” 

“Ne, Sica. Waegeurae?”

“Kurasa aku menemukan sesuatu yang aneh.” 

“Apa itu?” Terdengar suara helaan nafas di seberang.

“Sajangnim!” teriak seseorang yang baru saja masuk. Nafasnya terengah. Dia menyadari kesalahannya dan segera membungkuk.

“J-Joesonghamnida. Ng k-keunde, apa anda sudah menerima pesan dari saya?”

“Pesan? Pesan apa?”

Taeyeon memalingkan wajahnya sebentar dengan ponsel ditelinganya, bermaksud mengabari Jessica.

“Mian, Sica. Aku hold dulu panggilannya, ne?”

Sepertinya Jessica mengerti karena dia sedikit mendengar percakapan Taeyeon dengan sekertarisnya. Taeyeon menahan panggilan setelah Jessica bergumam.

Taeyeon beralih menatap sekertarisnya lagi. “Pesan apa Eunha-ssi?”

Eunha mendekatkan wajahnya ke telinga Taeyeon, bermaksud membisikkan sesuatu disana. Jangan salah paham karena yang dikatakan sekertarisnya menyangkut rahasia perusahaan. Taeyeon mengangguk paham setelah Eunha memberitahunya.

“Baiklah aku akan mengembalikan pesan lagi karena tadi pagi aku telah mengosongkan kotak masuk. Kau bisa keluar, Eunha-ssi.”

“Ne Sajangnim.”

Setelah sekertarisnya keluar, Taeyeon kembali menghubungi Jessica. Kali ini ia loudspeaker kan karena harus mengembalikan ulang pesan yang dihapus.

“Eoh Sica kau ingin bicara apa?” tanya Taeyeon seraya membuka aplikasi pengembali pesan dan mulai menjalankannya.

“Taeng, tadi aku melihat seseorang yang mencurigakan. Kurasa itu dia.” 

Taeyeon menghentikan kegiatannya. “Lalu?”

“Beruntung bodyguardmu cekatan. Kami bisa melarikan diri darinya. Tapi aku bisa melihat pakaian dan wajahnya sedikit. Dan…” 

“Dan?” tanya Taeyeon. Dia mengeklik pesan yang sudah terhapus dari Eunha dan menyimpannya. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia mulai mengeklik salah satu pesan yang ia kira mencurigakan.

“Aku kembali melihatnya di sebuah cafe. Dan yang paling membingungkan setelah aku pergi darisana aku melihat Tiffany keluar dari sebuah hotel, maka dari itu aku mengikutinya, T-Tiff juga pergi ke cafe dimana orang itu berada.” 

Mata Taeyeon terbelalak. Selain karena perkataan Jessica, juga pesan yang ia baca dari ponselnya. Tangannya ia kepalkan dengan kuat. Taeyeon mematikan panggilan dan menggebrak meja. Dia meraih jasnya dan pergi keluar dari kantor. Jantungnya berdegup kencang karena takut, cemas, dan khawatir.

Taeyeon melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia tidak peduli dengan nyawanya yang sewaktu-waktu bisa menghilang. Dia hanya ingin cepat bertemu Tiffany dan melindunginya sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Dia benar-benar akan sekarat jika Tiffany tergores walau seinci pun. Taeyeon tak ingin Tiffany nya terluka.

Taeyeon memukul stir mobil dan mengacak rambutnya frustasi. “Fany-ah, berhenti membuatku khawatir.”

***

Tiffany meyakinkan dirinya sendiri kalau yang dilakukannya benar. Setidaknya dia harus mencobanya terlebih dahulu. Dia tak ingin membuat Taeyeon khawatir, jadi dia tak memberitahukan hal ini padanya. Meski berisiko, Tiffany tetaplah Tiffany. Dia akan melanjutkannya untuk Taeyeon. Dia ingin suaminya tidak gelisah atau khawatir lagi. Dan lagipula Taeyeon bukan seseorang yang harus disalahkan disini. Semua terjadi karena kehendak Tuhan, dan atas permintaan Heechul Oppa. Tiffany akan berusaha meyakinkan orang itu.

Tiffany menghembuskan nafasnya pelan. Dia mengelus gelang daruratnya, gelang yang memiliki tombol jika terjadi hal-hal darurat dan polisi setempat akan bergegas menuju tempat tersebut dengan melacak keberadaan gelang. Setelah itu, Tiffany mulai masuk kedalam cafe. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru cafe. Disana terlihat lumayan sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berkumpul, beberapa pasang kekasih atau teman, dan satu keluarga. Tiffany melihat hanya ada satu orang yang duduk sendiri. Dia berpikir, mungkin itu adalah orang yang dia cari. Tiffany lalu mulai berjalan kesana.

“Chogi, apa benar anda Kim Hee Jin?” tanya Tiffany. Wanita itu mengangkat wajahnya dan melihat Tiffany. Dia mengernyitkan dahinya sebelum menyeringai tipis.

“Eoh.” jawabnya.

***

Taeyeon meraih ponselnya dan menekan angka tiga. Dia lalu memasang earphone di telinganya. Terdengar bunyi tuut tiga kali sebelum sebuah suara menyapanya.

“Sica! Neo eodi? Apa kau masih disana?” tanya Taeyeon seraya fokus mengendarai.

“…..”

“JESSICA JUNG SOOYEON!”

Taeyeon mendengar helaan nafas dari seberang sana.

“Mian, Taeng. Aku masih berada di dalam mobil untuk memperhatikan mereka, tapi saat aku pergi sebentar ke toilet a-aku sudah tidak menemukan mereka berdua. Mianhae.” 

“Sial!” umpat Taeyeon. Dia memukul stir dengan keras lagi. Tak peduli jika tangannya akan sakit.

“Baiklah. Kau kembalilah pulang, ne? Biar aku yang mengurus semua.”

“H-Hati-hati, Taeyeon-ah.” 

Taeyeon tersenyum. “Ne.” Setelah itu dia mematikan panggilannya.

Selang beberapa menit, terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Taeyeon membukanya dan mulai membacanya.

Isterimu keren juga berani datang padaku. Kalau kau ingin menyelamatkannya datang ke tempat terakhir kali kita bertemu. 

 

– Kim Hee Jin –

 

Taeyeon menggertakan rahangnya. Dia lagi-lagi memukul stir mobil. Dia lalu memutar arah dan langsung mengemudikan mobilnya ke tempat Tiffany berada.

“Psyco!” teriak Taeyeon.

Di tengah perjalanan, Taeyeon merasa ada yang aneh. Dia melihat sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Dia mencoba menyetir dengan zig zag dan mobil di belakangnya melakukan hal yang sama. Taeyeon lalu menambah kecepatan untuk meloloskan diri dari mobil yang mengikutinya. Namun Taeyeon terkejut saat kecepatan mobilnya tiba-tiba naik tanpa ia kendalikan. Dia mencoba menekan rem namun mobilnya masih terus melaju. Bahkan bertambah cepat. Taeyeon melihat mobil itu lagi di belakangnya.

Taeyeon menggeram. Mobilnya pasti sudah dikendalikan oleh mobil di belakang nya. Taeyeon terus menyetir semampunya. Dia berusaha menghindari mobil lainnya ditengah kecepatan yang tak biasa. Namun saat di perempatan, Taeyeon tak bisa mengelak saat ada sebuah truk melaju dari arah kanan. Taeyeon memejamkan matanya dan berteriak.

*Ckiiiiiit

*Bruuuuuk

*Baaam!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Taeng kenapaah? Pany kenapaahh? Akhir mrk berdua gimanahh? Wkwk

Sorry gaes ngomong gini, but chapter selanjutnya adalah ending. Say bye bye buat nih ff ehehehe. Selanjutnya gw masih ada projek buat ff baru sih buat gantiin SL

Okedah pai pai~ see u next chap

 

P.s : siap-siap pw ya *ups

Sweet Love (Chapter 10)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Taeyeon membuka matanya dengan menyipit. Dia menekan kepalanya yang terasa pusing. Tangannya ia edarkan ke samping, berharap isterinya masih disampingnya. Namun yang di dapatkannya hanya ranjang kosong. Tiffany pasti sudah bangun terlebih dahulu. Taeyeon mengerang. Dia menyandarkan tubuh polosnya di sandaran ranjang sebelum menutup matanya pelan. Dia bingung akan memberikan alasan apa pada Tiffany mengenai kejadian semalam. Taeyeon tidak mau membuat isterinya merasa sedih karena hal ini. Dia sedikit tahu bahwa ternyata orangtua Jessica, bahkan Yoona masih mengharapkan dirinya dan Jessica kembali bersama.

Saat masih memikirkan alasan untuk Tiffany, pintu kamarnya terbuka pelan. Dia melihat Tiffany dengan pakaian santainya. Wanita itu pasti sudah membersihkan dirinya. Taeyeon tersenyum kecil saat melihat beberapa tanda merah yang mulai membiru di sekitar leher isterinya. Hasil karyanya semalam. Tiffany mendekat ke arah Taeyeon dan mendudukan pantatnya di samping suaminya.

“Gwaenchanha? Kau terlihat pucat, TaeTae.” Tiffany meletakkan punggung tangannya di dahi Taeyeon. Wanita imut itu menggeleng. Dia meraih tangan Tiffany di dahinya dan mengecupnya. Disusul kecupan singkat di bibir isterinya.

“Nan gwaenchanha, sayang.”

Tiffany mendesah pelan. “Kalau begitu. Pergilah mandi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Mana sarapan wajibku?”

Tiffany memutar bola matanya. “Tak ada sarapan wajib. Kau sudah mendapatkannya semalam suntuk.”

Tiffany segera melarikan diri dari Taeyeon sebelum wanita itu menerkamnya kembali. Taeyeon berteriak, namun Tiffany mengacuhkannya dan tetap melangkah keluar. Taeyeon mengerucutkan bibirnya dan membuang selimutnya ke sembarang arah. Dia bangkit dan menghentakkan kakinya di lantai, persis seperti anak kecil yang tidak dituruti kemauannya. Dia akhirnya melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

 

Taeyeon menyeret kakinya malas kebawah, dimana isterinya berada. Dia masih kesal karena Tiffany tidak memberikannya morning kiss. Benar-benar tipikal suami kekanakkan. Tiffany yang melihatnya menghela nafasnya pelan. Dia mendekat ke arah Taeyeon dan langsung menarik wanita itu. Tiffany meraih wajah Taeyeon dan langsung melumat bibir suaminya dengan lumayan panas. Taeyeon yang melihatnya sedikit terkejut, namun detik kemudian, dia sudah melingkarkan tangannya di pinggang isterinya dan mulai membalas lumatan isterinya. Setelah keduanya hampir kehabisan oksigen, Tiffany yang berinisiatif melepas ciuman panas mereka. Keduanya terengah. Tiffany menjatuhkan kecupan singkat sebelum berbicara.

“Sudah, kan?”

Taeyeon menunjukkan cengiran lebarnya. Dia menggumamkan kata terimakasih sebelum memeluk isterinya kemudian menggandengnya ke ruang makan.

“Whoahh, ini makanan favoritku semua. Gomawo, Pany-ah.” Taeyeon menatap isterinya dengan berkaca-kaca sebelum menyantap sarapan mereka dengan semangat. Tak ada makanan yang lebih enak dari makanan buatan isterimu. Itu prinsip Taeyeon. Semua masakan Tiffany ia buat dengan cinta. Taeyeon menyukai itu.

Saat Taeyeon tengah asik menyantap sarapannya, Tiffany berdehem lalu mulai bertanya sesuatu pada suaminya.

“Me- Mengenai semalam…”

Taeyeon meletakan sumpit di meja cukup keras, membuat Tiffany menghentikan ucapannya. Tiffany melihat Taeyeon membawa kursinya dan menempatkannya di sampingnya lalu meraih kedua tangan Tiffany.

“Fany-ah, percaya padaku apapun yang terjadi. Meskipun langit runtuh, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun semua orang tidak berpihak pada cinta kita, aku berjanji tidak akan pernah melepasmu. Meskipun banyak yang lebih baik darimu, aku berjanji tidak akan pernah mencoba bermain di belakangmu. Itu janjiku, Fany-ah.”

Tiffany melihat raut kesungguhan di wajah Taeyeon. Itu yang membuat matanya memanas karena terharu. Dia mengangguk dan tersenyum manis. Setetes cairan bening mengalir di pipinya. Taeyeon menghapusnya sebelum memeluk isterinya erat. Tiffany terisak. Dia percaya pada ketulusan Taeyeon. Dia hanya merasa bahagia. Bahagia karena Taeyeon. Mengenai kejadian semalam biarlah tak diketahuinya. Tiffany percaya Taeyeon tak akan menyakitinya. Taeyeon sudah berjanji padanya. Tiffany merasakan kecupan di kepalanya disusul gumaman yang masih bisa di dengarnya.

“Mianhae, neol saranghae.”

***

Yuri membuka matanya perlahan karena sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamarnya dan menyilaukan indera penglihatannya. Dia melihat kekasihnya masih terlelap di sampingnya. Yuri tersenyum pelan. Dia mengelus wajah kekasihnya dengan sayang sebelum menjatuhkan kecupan di bibir mungilnya. Setelah itu, Yuri bangkit dari tidurnya dan bergegas membersihkan tubuhnya yang lengket karena berkeringat akibat kegiatan panas mereka semalam.

Butuh waktu tiga puluh menit untuknya membersihkan diri. Setelah selesai berpakaian, Yuri mendekat ke ranjang untuk membangunkan kekasihnya. Dia menghela nafas pelan. Membangunkan kekasihnya sama saja dengan membangunkan mayat hidup. Jessica adalah ratunya tidur. Dia tidak akan bangun meskipun ada gempa sekalipun. Dan cara ampuh untuk membangunkannya adalah menceritakan hal lucu untuk membuatnya tertawa dan akhirnya terbangun. Yuri berpikir lelucon apa yang akan diceritakannya pada Jessica.

Yuri mendesah. Dia tak punya bahan lelucon untuk Jessica. Dia akhirnya melakukan hal yang akan membahayakan dirinya sendiri. Sebelumnya Yuri juga pernah melakukan ini dan berakhir pipinya yang lebam beberapa hari. Yuri menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya, bersiap membangunkan Jessica.

“Jung Hee- maksudku- Sicaya~ bangun, sayang.” Yuri mengelus pipi Jessica sebelum mendekatkan wajahnya ke arah bibir mungilnya.

Yuri hanya menempelkannya sebelum bergerak melumatnya perlahan. Jessica masih tak sadar. Namun Yuri terus melumat, menggigit, dan menghisap bibir Jessica. Kali ini lebih menuntut. Jessica mulai merasa ada yang tidak beres diatas tubuhnya. Dia mengerjapkan matanya perlahan dan terkejut melihat seseorang sedang menciumnya. Jessica membulatkan matanya dan segera menendang seseorang diatasnya. Tak lupa disusul teriakan lumba-lumbanya. Yuri menahan napasnya saat pantat nya menyentuh lantai yang keras. Belum tendangan maut Jessica di perutnya tadi. Dia merasakan tubuhnya sakit hampir keseluruhan.

“Y-Yul..” lirih Jessica saat melihat Yuri terjatuh dibawahnya. Dia hendak menolong Yuri namun dia cepat-cepat berhenti saat melihat tubuh polosnya. Dia langsung lari terbirit dengan selimut yang melilit tubuhnya ke kamar mandi. Dia malu mengingat kejadian semalam. Jujur itu pertama kali mereka melakukan ‘itu’.

Yuri menghela nafasnya dan bangkit meskipun pantatnya terasa sakit. Sudah Yuri bilang, membangunkan Jessica dengan cara ini sangat berisiko. Dia akhirnya menunggu Jessica membersihkan dirinya sembari bermain game di ponselnya.

Jessica menghela nafasnya pelan sebelum melangkah keluar dari kamar mandi. Dia mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan Yuri yang pasti akan menanyainya tentang kejadian semalam. Jessica melihat Yuri menoleh padanya sekilas dan kembali memainkan ponselnya lagi. Dia mendekati Yuri dan duduk disampingnya.

“Yul..”

“Hmm.”

“Ya! Kenapa jawabanmu hanya hmm! Kau berani marah padaku?!”

Yuri menelan ludahnya melihat hell-sica. Dia segera menggelengkan kepalanya cepat dan melempar ponselnya di samping ranjangnya. Jessica menghela nafasnya. Tidak seharusnya wanita dingin itu yang marah, tapi bagaimanapun juga, Jessica benci jika Yuri mengabaikannya dan marah padanya.

“T- Tentang kejadian semalam..”

“Gwaenchanha. Aku menikmatinya.”

Jessica menatap Yuri dengan death glare nya. Yuri meringis dan mengangkat jarinya membentuk huruf V.

Jessica menghela nafas lagi. “Semalam Daddy mengajak dinner.. bersama Taeyeon. Entah apa yang ada dipikiran pria tua itu, dia mencampurkan obat perangsang di wine yang kami minum. Dan kau tahu bagaimana kelanjutannya hingga aku sampai di apartemenmu.”

Yuri menganggukkan kepalanya paham. Dia seperti berpikir sesuatu.

“Kau marah?” tanya Jessica.

“Untuk apa aku marah saat kekasihku ini sangat hebat menahan hormonnya untuk datang kesini? Kau tidak melakukan itu dengan Taeyeon kan meski dulu kau sering melakukannya dengan wanita pendek itu?”

Jessica tersenyum. Dia lalu memeluk Yuri dengan erat. Jessica tidak salah pilih orang untuk menjadi kekasihnya, bahkan calon tunangannya. Dia bersyukur mendapat seseorang yang sangat mengerti dirinya, selain Taeyeon pastinya. Lupakan, mereka hanya masalalu. Jessica semakin mengeratkan pelukannya pada Yuri.

“Gomawo, seobang. And I love you~” Jessica sedikit mendongak untuk mengecup bibir Yuri. Dia tertawa melihat ekspresi terkejut Yuri. Namun itu tak berlangsung lama. Yuri menyusul Jessica untuk tertawa bersama.

***

Sudah tiga hari semenjak tragedi dinner bersama Daddy Jung. Hubungan pasangan TaeNy dan YulSic makin menghangat. Mereka sudah melupakan kejadian hari itu dengan berpikir bijak. Kesetiaan pasangan mereka perlu diacungi jempol. Bahkan kini mereka berempat mengadakan double date di salah satu restoran favorit Tiffany. Restoran milik salah satu sahabatnya, Sooyoung. Beruntung bagi mereka, semua makanan yang mereka pesan tak berbayar alias gratis. Mereka awalnya menolak. Namun Sooyoung terus memaksa sehingga mereka mengalah. Sooyoung berkata bahwa itu adalah bentuk traktirannya karena tidak ikut hadir dalam acara pernikahan sahabatnya, Tiffany.

“Yul, kapan kau akan menikahi mantan kekasihku itu?” tanya Taeyeon yang dibalas deheman keras dari Jessica. Wanita itu juga berpura-pura batuk. Sedangkan Tiffany membalas pertanyaan Taeyeon dengan memutar bola matanya malas.

“W-Wae? Dia memang mantan kekasihku. Mantan terindah.” Taeyeon mengerucutkan bibirnya. Dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Itu adalah bentuk pencairan suasana darinya. Sesekali melempar lelucon tidak akan membunuhmu, iya kan? Jessica memperlihatkan ekspresi muntahnya setelah Taeyeon berkata itu.

“Hentikan ucapan idiotmu, Taeng. Kau membuatku ingin menumpahkan air ini ke wajah sok polos mu.”

“Aish lihat dia, Fany-ah. Dia sangat kasar. Beruntung sekarang aku memilikimu. Isteri tercantik dan terbaik sepanjang masa.” Taeyeon memeluk Tiffany dengan erat. Jessica memutar bola matanya malas.

“Aigoo aigoo. Lihatlah dia Sicababy. Kau harus bersyukur tidak jadi bersama wanita bocah seperti dia. Sangat menggelikan.” ucap Yuri membela kekasihnya. Jessica tertawa dan mengangguk.

“Ne, Seobang. Aku beruntung memiliki calon suami keren, dewasa dan TINGGI sepertimu.” balas Jessica menekankan kata ‘tinggi’ di hadapan Taeyeon.

“Yaish, kenapa ini menjadi acara review mantan isteri dengan isteri, sih? Kita kemari untuk makan bukan saling mengejek.” semprot Tiffany. Mereka bertiga langsung diam di tempat. Tak berani bicara melihat hell-fany.

“Lagipula Taeyeon sangat hebat di ranjang.” gumam Tiffany yang sayangnya masih bisa di dengar ketiga orang disana.

“YA!!!” koor semua. Tiffany menunjukkan cengiran lebarnya seraya mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.

“Dia juga romantis, kau tahu.”

“HWANG MIYOUNG!” teriak YulSic. Taeyeon menanggapinya dengan tertawa. Sepertinya double date kali ini lebih menyenangkan dari yang mereka pikir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Waww did u guys miss meh? Wkk 😀

Ane bawa yg manis2 dulu sebelum badai (?) dateng. Tapi doain aja gaada eh tp klo gaada badai ga seru dong. Ah bodo wkwk. Yeps tunggu ajeu angin topannya hahaha.

Bye~ see u next chap

Sweet Love (Chapter 8)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Yoona masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan didengarnya. Meskipun Taeyeon sudah menjelaskannya hingga men-detail, dia tetap saja masih sulit menerimanya. Dia seperti dimainkan oleh takdir. Bagaimana bisa seseorang yang dinyatakan meninggal masih hidup sampai sekarang? Yoona bahkan tidak sampai berfikir ke arah sana. Dia masih menatap nanar Jessica di depannya.

“Aku tahu ini sulit untukmu, Yoong. Tapi dia benar Jessica, Unnie kesayanganmu.” ucap Taeyeon.

Jessica tak jauh lebih baik. Matanya memerah menahan tangis. Adik kesayangannya, yang bahkan tidak ia duga akan bertemu dalam kondisi seperti ini berada tepat di depannya. Sungguh dia sangat merindukan dongsaeng choding nya.

“Bagaimana kabar Soojungie, Yoong-ah?” tanya Jessica. Pertahanan Yoona runtuh. Dia berlari ke arah Jessica dan memeluknya erat. Air mata yang ditahannya keluar dengan deras. Begitu juga dengan Jessica. Dia menepuk-nepuk punggung Yoona, meski dirinya juga tak kuasa.

“Unnie bogoshipda, neomu.” lirih Yoona. Jessica mengangguk mengerti. Dia juga mengatakan hal yang sama pada Yoona.

Taeyeon melihatnya dengan haru. Dia mendekat ke arah Jessica dan Yoona untuk bergabung memeluk mereka.

“Aku juga merindukanmu.” ujar Taeyeon dengan tangisan yang dibuat-buat. Yoona melepas pelukan mereka dan menatap tajam Taeyeon. Jessica terkekeh melihat Taeyeon dan Yoona. Sudah lama dia tidak melihat interaksi seperti ini.

“Ck, kau mengganggu suasana, Unnie!” kesal Yoona.

Taeyeon tertawa ahjumma melihat reaksi adik nya. Dia senang menggoda Yoona. Beruntung apa yang dilakukannya bisa mencairkan suasana. Kalau boleh jujur, dia sedikit tak suka melihat orang yang disayanginya menangis.

Yoona mengusap air mata nya dengan punggung tangannya. “Maaf aku menanyakan hal ini pada kalian. Bagaimana dengan… h-hubungan kalian?” Jujur Yoona penasaran dengan Taeyeon dan Jessica. Mereka adalah couple favoritnya dari dulu. Bahkan dia menjadi orang pertama yang mendukung hubungan mereka. Yoong sangat menyayangi keduanya.

Taeyeon memandang ke arah Jessica dan tersenyum. “Kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami, sebagai seorang kakak dan adik.”

Terlihat raut kecewa dari wajah Yoona. “Padahal aku mengharapkan kalian bersama.” gumam Yoona yang sayangnya masih bisa di dengar Taeyeon.

“Ya! Kau tidak lihat isteriku disana? Dia tak kalah cantiknya dengan Sooyeon. Bahkan dia hebat di ranjang, kau tahu?” bela Taeyeon.

Tiffany mendelik mendengar ucapan suaminya. Namun Taeyeon mengabaikannya dan menatap Yoona kesal.

“Ye ye algesseumnida. Maaf karena tidak datang di acara pernikahan kalian.”

“Ya gadis nakal! Kenapa kau tidak datang, ha? Aku tahu kau sama sekali tidak sibuk di Paris.” Taeyeon menyedekapkan tangannya dan menatap Yoona dengan tatapan mengintimidasi.

“Ya jangan memarahiku! Aku hanya tak suka kau secepat itu menikah dan melupakan Sica Unnie!” balas Yoona tak mau kalah.

“YA!”

“YA!”

“IM CHODING!”

“KIM MIDGET!”

“HENTIKAN!” teriak Jessica. Dia menarik telinga Taeyeon dan Yoona dengan keras. Mereka menjerit kesakitan namun tidak dipedulikan Jessica.

“Kalian masih saja sama. Ingat umur kalian, apalagi kau Taenggu, kau sudah menikah!”

“Ne ne ne. Kami tidak akan melakukannya lagi. Jadi, lepaskan Sica-ya. Ini sakit. Yoong, lakukan sesuatu!”  Taeyeon menatap Yoona mencari bantuan.

“Taeng Unnie benar. Maafkan kami, kami tidak akan melakukannya lagi.”

Jessica mendengus dan melepas mereka berdua. Taeyeon segera berlari ke arah isterinya dengan merengek.

“Appo, Fany-ah.”

“Rasakan sendiri!” ucap Tiffany dingin. Taeyeon membuka mulutnya.

“Heol, daebak.” Dia menatap Yoona, Jessica, dan Yuri disana.

“Aku ada urusan dengan isteriku sebentar. Kalian ngobrol saja dulu, anggap saja rumah sendiri.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon menarik Tiffany ke kamar mereka.

“W-Wae?” tanya Tiffany sesampainya mereka di kamar. Taeyeon mengunci pintu kamar dan mendekat ke arah isterinya.

“Kau harus dihukum karena tidak perhatian dengan suamimu yang cantik dan tampan ini.”

“Kau tidak bi-” Ucapan Tiffany terhenti saat bibirnya di bungkam dengan bibir milik Taeyeon. Taeyeon melepas kecupannya dan menatap manik isterinya.

“Kau tahu? Aku menahan hormonku sedari tadi.” Taeyeon menarik tangan Tiffany dan menjatuhkannya ke ranjang. Dia menindih tubuh isterinya dengan kedua tangannya berada di samping kepala Tiffany untuk menyangga.

“Kau tidak akan melakukan itu lagi, kan?”

Alis Taeyeon menyatu. “Itu ide bagus. Aku akan melakukannya lagi kalau begitu.”

“T-Taeyeon, kita sudah melakukannya berpuluh-puluh ronde. Kau tidak puas dengan itu?”

“Aku tidak akan pernah puas jika itu denganmu, sayang.” Taeyeon mengusap pipi isterinya, membuat Tiffany menelan ludahnya.

Taeyeon memajukan wajahnya dan mengecup leher isterinya. Tiffany sebenarnya ingin menolak, tidak sopan melakukan hal itu saat sedang ada tamu diluar. Namun apalah daya, dia selalu tak kuasa jika sudah dibawah kendali suaminya. Yang dilakukannya hanya menutup mata dengan menggigit bibir bawahnya dan menggenggam seprei dengan kencang.

Tangan nakal Taeyeon perlahan membuka kancing kemeja Tiffany. Selama itu pula bibirnya tak pernah lepas mengeksplor tubuh isterinya. Tangan kanan Tiffany ia gunakan untuk menjambak rambut Taeyeon dan menekannya.

“UNNIE! UNNIE! BUKA PINTU NYA!” Yoona menggedor pintu kamar TaeNy dengan keras, seperti terburu-buru.

Taeyeon menarik wajahnya dari dada isterinya dan berdecak pelan.

“UNNIE BUKA PINTU!” teriakan Yoona semakin kencang. Taeyeon mengusap wajahnya frustasi dan bangkit dari tubuh isterinya. Dia mengancingkan kembali kemeja Tiffany.

“UNNIE!”

“BERISIK! TUNGGU SEBENTAR!”

Setelah selesai mengancingkan kemeja Tiffany dan merapikan penampilan mereka, Taeyeon berjalan menuju pintu dan membukanya dengan kesal.

“Wae?” tanya Taeyeon malas.

“Sica Unnie ingin pergi ke rumah Daddy dan Mommy. Dia ingin menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka. Maka dari itu, kau harus ikut untuk membantu menjelaskan.” jawab Yoona dengan jelas.

Taeyeon tersadar. Jessica belum memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi kepada orangtua nya dan juga adiknya. Taeyeon juga sudah lama tidak berkunjung ke rumah mantan calon mertua nya itu. Dia masuk kedalam kamar untuk mengambil jaket.

“Ayo, Yoong.” Taeyeon menarik tangan Yoona. Dia menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu dan berbalik. Tiffany masih berdiri di depan pintu.

“Apa yang kau lakukan disana, sayang? Ayo ikut.”

Tiffany masih diam di tempatnya dengan wajah bingung. Taeyeon menepukkan dahinya dan berjalan ke arahnya lalu menarik tangan isterinya.

“Bagaimana kabar Daddy dan Mommy, Yoong?” tanya Taeyeon saat mereka turun dari tangga.

“Mereka baik-baik saja. Hanya terkadang, Daddy terkena flu saat kelelahan.” jawab Yoona.

Taeyeon mengangguk. Mereka memang sudah terbiasa memanggil orangtua Jessica dengan sebutan Daddy dan Mommy seperti yang dilakukan Jessica dan Krystal. Mereka sudah sangat dekat seperti orangtua kandung sendiri. Apalagi dulu Taeyeon dan Jessica sudah bertunangan, dan Yoona dengan Krystal merupakan sepasang kekasih.

Saat turun dari tangga terakhir, Taeyeon, Tiffany, dan Yoona sudah disambut dengan pasangan YulSic. Sepertinya Jessica sudah sangat tidak sabar bertemu orangtuanya.

“Kau begitu merindukan mereka, eoh?” tanya Taeyeon. Jessica mengangguk dengan semangat.

“Aku merindukan Mom, Dad, apalagi Soojungie.”

“Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang.” Taeyeon merangkul bahu isterinya dan berjalan ke luar rumah, dimana mobil mereka terparkir.

***

Sudah hampir sebulan semenjak kedatangan mereka ke rumah orangtua Jessica. Rumah tangga Tiffany pun bisa dikatakan semakin membaik dari hari ke hari. Taeyeon selalu memperlakukan Tiffany layaknya seorang puteri. Dia tidak pernah membuat Tiffany menangis lagi. Hanya ada kejutan romantic, malam yang penuh dengan kasih, hingga perhatian kecil dari wanita imut itu yang mengisi hari Tiffany. Wanita itu seperti sama sekali tidak kekurangan cinta dari Taeyeon.

Namun disamping itu semua, Tiffany selalu merenung sendirian saat sedang tidak bersama Taeyeon karena wanita itu tengah bekerja. Dia teringat percakapannya dengan orangtua Jessica. Ditambah fakta jika adik kesayangan Taeyeon, Yoona, yang belum menerima dirinya sepenuhnya. Dia pikir itu hal wajar karena Taeyeon dan Jessica sudah bersama selama bertahun-tahun. Orang-orang terdekatnya sangat mendukung mereka.

Tapi tetap saja. Tiffany adalah isteri sah Taeyeon. Bisakah mereka melihat itu? Dan kegelisahannya bertambah sejak seminggu yang lalu. Orangtua Taeyeon juga sama seperti orangtua Jessica dan Yoona saat mengetahui mantan kekasih Taeyeon itu masih hidup sampai sekarang. Mereka bahkan lupa Tiffany adalah menantunya.

Tiffany tidak pernah mengatakan hal ini pada Taeyeon. Dia tidak ingin Taeyeon merasa bersalah nantinya. Tiffany tahu Taeyeon sudah benar-benar menyukai, bukan, mencintainya. Dia merasakan ketulusan hati suaminya. Jikalau Taeyeon diberi pilihan untuk memilih satu diantara dia dan Jessica, sudah pasti Taeyeon akan memilihnya. Bukan Tiffany terlalu percaya diri, namun Taeyeon pernah mengatakan hal tersebut padanya. Dia merasa tenang dengan itu.

Namun bukan itu masalahnya. Orang-orang terdekat Taeyeon dengan tidak di duga (masih) mendukung dia dengan mantan kekasihnya itu. Itu adalah masalah baginya. Kalau saja Taeyeon menerima perjodohan mereka atas dasar permintaan orangtuanya, mungkin saja dia akan menuruti orangtuanya kembali jika orangtuanya itu meminta dirinya kembali pada Jessica, bukan?

Tiffany menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia mengerang dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ini adalah hal yang Tiffany benci dari pikirannya. Dia sudah tidak bisa berpikir bijak lagi seperti sebelum Taeyeon menghilang dengan Jessica dulu. Dia seperti sudah tidak akan pernah bisa melepas dan mengikhlaskan Taeyeon lagi. Praktisnya, dia sudah ketergantungan dengan suaminya, dia sudah terbiasa dengan keberadaan Taeyeon disisinya, dia sudah sangat mencintai Taeyeon-nya.

“Aaaaaargh~” teriak Tiffany.

Dia menoleh ke samping saat ponselnya berdering. Dia mengambilnya dan melihat nama suaminya terpampang disana. Dengan cepat, dia menggeser ikon berwarna hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.

“Yeoboseyo, Tae.”

“Ah, Fany-ah. Kau sedang apa dirumah?” 

“Aku? Hanya berbaring di ranjang. Kenapa?”

“Hum, maaf mengatakan ini. Tapi aku akan terlambat pulang. Kau tidur dulu saja, jangan menungguku pulang, ne?” 

“Apa pekerjaanmu sangat banyak?”

“Ne, sangat banyak. Kalau begitu, aku tutup telfonnya dulu ya. Annyeong.” 

“Tapi, Tae-…”

Tuut… tuut… tuut

Tiffany belum sempat bertanya lagi pada Taeyeon, suaminya itu sudah menutup telfonnya. Dia menghela nafasnya dan melempar ponselnya ke samping. Tiffany menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana, tetapi tiba-tiba perasaannya tak enak. Dia menutup matanya dan berdo’a semoga perasaannya salah. Ya, Tiffany berharap itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maapkeun atas keterlambatan post yang jadwalnya tadi malem. Gw ketiduran gaes hahaha.

Oke enjoy read~

Pai pai~ see u next chap~

Playing With The Time (Chapter 2)

Tittle : Playing With the Time

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon

Other Cast : Find by yourself

Genre : Yuri (G x G)

Length : Series

.

.

.

.

.

.

.

 

 

 

Last Chapter

 

Aku tak menghiraukan ucapannya dan langsung mengambil tissue di mejaku. Membersihkan darah yang tersisa ditanganku dan mulai berkutat dengan laptopku. Kuketik nama Kim Taeyeon di mesin pencari. 

Mataku melebar, mulutku terbuka. 

 

Kim Taeyeon, CEO muda Kim Enterprise. 

 

Kim Taeyeon, pengusaha tersukses kedua di Negara Korea Selatan. 

 

Kisah asmara CEO muda Kim Taeyeon tahun ini. 

 

Karir Kim Taeyeon dari tragedi 9 tahun silam sampai sekarang. 

 

Dan beberapa artikel lain yang sudah kubaca. Aku tertawa pelan. Ini pasti lelucon. Taeyeon sudah mati bukan? Artikel ini pasti salah. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Semua artikel itu bohong! Kim Taeyeon tidak mungkin hidup lagi dan aku tidak mungkin menolongnya saat itu! Pandanganku semakin lama semakin kabur dan akhirnya. Aku tak bisa melihat apapun kecuali gelap. 

 

 

***

 

 

“Tiff, kau benar-benar tidak apa ku tinggal?”

 

“Ne, gwaenchanha. Pergilah. Kau masih ada pekerjaan bukan?”

 

Gadis bermarga Jung menghela nafasnya dan mengangguk. Ia berdiri dan mengambil tas tangannya di meja. Jessica menatap mataku sebentar.

 

“Aku pergi. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menelfonku”

 

Aku mengangguk mengiyakan. Setelah itu gadis dingin itu keluar dari apartementku. Saat Jessica benar-benar pergi, kubaringkan tubuhku di ranjang berwarna pink favoritku. Sesekali memijat pelipisku. Kepalaku benar-benar sakit. Aku masih belum sepenuhnya percaya akan apa yang telah terjadi kemarin. Bagaimana bisa aku kembali ke waktu lampau? Bahkan saat itu aku belum pindah ke Korea.

Ku pejamkan mataku sejenak. Lebih baik aku tidur daripada memikirkan hal aneh itu. Bisa-bisa aku gila hanya karna memikirkannya.

 

“YA! KENAPA KAU BERISIK SEKALI HAH?!”

 

“BERISIK APA MAKSUDMU?! AKU HANYA BERTANYA SIAPA GADIS YANG KEMARIN ITU?!”

 

“ITU BUKAN URUSANMU!”

 

Aku menutup telingaku. Diluar berisik sekali. Kurasa tetangga di apartement ini tidak ada sepasang suami-istri atau kekasih yang tinggal bersama. Lantas suara tadi dimana asalnya?

 

“YA! AKU INI KEKASIHMU! BAGAIMANA BISA KAU BERKATA SEPERTI ITU?!”

 

“DIAM KAU?!”

 

Aaarghh~ menyebalkan! Itu benar-benar sangat mengganggu tidurku. Kubuka mataku dan keluar dari kamar. Saat akan membuka pintu kamar, aku merasa ada yang aneh. Ku balikkan badanku dan menatap tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku saat ini. Ini bukan kamarku. Kulihat sekali lagi dengan seksama. Tidak ada yang berubah. Ini memang bukan kamarku. Lalu dimana aku saat ini? Mataku memicing melihat sesuatu di meja samping ranjang.

 

2007

 

Di kalender tertera tahun 2007. Aku membuka mulutku tak percaya. A-Aku kembali lagi ke tahun ini? Ya Tuhan.

Kudengar suara derap langkah kaki menuju ke tempatku. Mataku membulat. Aish bagaimana ini? Kulihat jendela di kamar ini. Segera aku berlari ke arah jendela tersebut sebelum si pemilik apartement ini datang.

Omona! Ini tinggi sekali. Bagaimana aku bisa turun? Suara derap langkah kaki semakin mendekat. Aku tak punya pilihan lain.

Dengan memanjatkan seribu pujian aku turun dari kamar ini ke bawah.

 

BRAAAAK

 

Aish! Ini sakit. Walaupun dibawah terdapat tumpukan kardus, tapi ini tetap saja sakit. Tapi tak apa. Daripada ketahuan oleh si pemilik apartement itu.

Sekarang apa?

Aku menggelengkan kepalaku dan berjalan menuruti langkah kakiku. Sial! Kenapa aku kembali lagi kesini?

Aku melihat halte diseberang jalan. Lebih baik aku duduk disana saja.

 

“Daddy, aku harus bagaimana?” Kutatap langit diatas. Rasanya aku ingin menangis saja. Mengapa aku diombang-ambingkan dengan waktu? Apa hanya aku saja yang merasakannya?

 

“Aigoo, gadis malang. Baru saja keluarganya meninggal, ia sudah harus mengurus perusahaan sebesar itu”

 

Aku mendengar ucapan ahjumma di samping tempatku duduk.

 

“Siapa yang ahjumma bicarakan?” tanyaku penasaran. Ahjumma itu menengok ke arahku. Ia menurunkan kacamatanya saat melihatku.

 

“Kau bukan orang Korea asli?” tanya Ahjumma itu memicing.

 

“N-Ne” jawabku gugup. Ahjumma itu menaikkan kacamatanya lagi.

 

“Pantas. Wajahmu berbeda. Aku sedang membicarakan Kim Taeyeon tadi” ucap Ahjumma itu.

 

“K-Kim Taeyeon?”

 

“Ne. Kau tahu Kim Taeyeon, bukan? Gadis itu. Padahal ia masih sangat muda untuk merasakan hal-hal yang belum harus ia rasakan. Ditambah lagi dengan menghilangnya saksi mata saat kejadian aksi pembunuhannya”

 

Kulebarkan mataku mendengar ucapan Ahjumma tadi. S-Saksi mata? Kim Taeyeon? Aku mengingat lagi kejadian kemarin. Hari itu hanya aku yang melihatnya pertama kali saat ia terbaring di rooftop. A-Apakah aku saksi matanya? Ya ampun, kalau seperti itu aku pasti akan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Mereka pasti akan menanyaiku macam-macam. Termasuk dimana tempatku tinggal dan keluarga. Padahal aku tidak tahu apapun disini. Dan juga sekarang bulan Juli ditahun ini. Aku belum pindah ke Korea, dan masih di Amerika. Aku harus bagaimana sekarang?

Apa aku harus menemui Jessica? Tapi, dia tidak akan mungkin mengenalku. Aku belum pindah kesini dan itu berarti aku belum berteman dengan Jessica. Aaargh~ ini membuatku pusing!

 

“Oh agassi. Kenapa kau memakai baju seperti itu? Omo! Apa kau pasien yang melarikan diri?”

 

Aku menaikkan sebelah alisku. Kulihat pakaian yang kukenakan. Ini adalah baju tidurku. Ya meskipun terlihat seperti baju pasien rumah sakit.

 

“Agassi. Kau harus kembali ke rumah sakit!”

 

“Anio, aku bukan pasien rumah sakit, ahjumma”

 

“Tidak. Kau pasti pasiennya. Ayo kau ikut denganku kerumah sakit!”

 

Ahjumma itu menarik tanganku. Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya, namun tenaga ahjumma itu terlalu kuat. Dengan pasrah, aku mengikuti kemauan ahjumma itu. Ia membawaku kerumah sakit yang ia kira tempat ku dirawat. Saat tiba di depan pintu rumah sakit, aku menghentikan langkah kami.

 

“Sudah ahjumma mengantarku disini saja”

 

“Anioo. Nanti pasti kau akan kabur lagi”

 

“Aku tidak akan kabur lagi ahjumma. Aku berjanji”

 

“Jinjja?”

 

“Ne, ahjumma. Aku masuk dulu. Annyeong”

 

Aku segera berlari masuk kedalam rumah sakit. Entah apa yang akan kulakukan disini nantinya. Aku berjalan secara impulsif mengikuti kemana kakiku membawaku.

Saat tiba dikamar nomor 309 langkahku tiba-tiba terhenti. Aku memicingkan mataku melihat seseorang didalam karena pintu terbuka sedikit. Mataku melebar. B-Bukankah itu Kim Taeyeon?

Mata kami bertemu selama beberapa saat sebelum ia berteriak dan para bodyguardnya berlari keluar. Reflek, aku berlari menghindari kedua pria berjas itu. Namun langkah mereka terlalu cepat dan mereka akhirnya bisa menangkapku. Aku mencoba berontak, namun yang kurasakan hanyalah sakit karena mereka menahanku terlalu erat.

Dua pria berjas tadi membawaku ke kamar milik Kim Taeyeon.

 

“Kalian berdua keluarlah” perintah Kim Taeyeon pada bodyguardnya.

 

“T-Tapi Sajangnim…”

 

“Keluarlah. Nan gwaenchanha”

 

Kedua bodyguard tadi mengangguk dan menundukkan kepalanya tanda hormat lalu pergi dan menutup pintu kamar ini.

 

“Duduklah” perintah Kim Taeyeon. Aku hanya bisa menurut.

 

“Kenapa kau menghilang?” tanya gadis itu.

 

“Ne?”

 

“Kenapa kau menghilang setelah kejadian itu? Kau tahu kau kunci penting kasus pembunuhanku. Bagaimana kau ada di tempat kejadian waktu itu?” tanya Taeyeon bertubi-tubi. Aku menelan ludahku, tak tahu harus menjawab apa.

 

“A-Aku tidak tahu” ucapku lirih. Kutundukan wajahku tak mau melihat matanya.

 

“Tiffany-ssi”

 

Aku mendongak. Bagaimana ia tahu namaku? Aku sangat yakin tidak memberitahukan namaku padanya.

 

“Aku tahu dari pelayan waktu itu”

 

Seperti tahu apa yang dipikiranku ia menjawab. Aku hanya menganggukan kepalaku.

 

“Jadi? Kenapa kau melarikan diri? Kau tahu resiko jika melarikan diri? Kau bisa dituduh sebagai tersangka”

 

Aku tahu resiko saksi mata yang melarikan diri. Aku tahu itu. Tapi bagaimana bisa aku memberi pengakuan sedangkan aku sendiri tidak tahu dan kenal siapapun disini. Lagipula aku juga tidak tahu apa yang terjadi sebelum aku berada di tempat kejadian. Aku benar-benar tidak tahu apapun.

 

“K-Kim Taeyeon-ssi, bisakah kau menolongku? Kumohon sembunyikan aku. Jangan sampai polisi itu menangkapku. Aku punya alasan kenapa aku melakukan itu”

 

Taeyeon menaikkan sebelah alisnya. Ia menatapku dengan tatapan yang tak ku mengerti sama sekali.

 

“Alasan apa?”

 

“Kumohon. Aku tak bisa memberitahumu sekarang. Tapi aku janji akan mengatakannya”

 

“Katakan sekarang atau aku akan memanggil bodyguardku untuk membawamu ke kantor polisi”

 

“J-JANGAN! K-Kumohon jangan”

 

“Malhaebwa”

 

Kuhembuskan nafasku kasar. Lebih baik mengatakan itu daripada aku harus ke kantor polisi.

 

“Tapi berjanjilah padaku. Setelah aku mengatakannya kau tidak akan membawaku ke kantor polisi dan kau harus percaya dengan apa yang kukatakan. Ingat, aku sudah menyelamatkanmu Taeyeon-ssi”

 

Gadis pendek itu tertawa pelan mendengarnya. Ia mengangguk dan menatapku dengan senyuman khasnya. Aku menahan nafasku melihat senyumannya itu.

“Baiklah. Jadi apa alasanmu?”

 

Kutarik nafasku dalam dan menghembuskannya. Kuharap ia benar-benar percaya dengan apa yang kukatakan.

 

“Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang terjadj. Aku sedang bersembunyi di gudang dari kejaran ex ku. Kemudian tiba-tiba aku ada di tempatmu dan melihatmu terbaring dengan banyak darah di sekujur tubuhku. Dan yang paling penting, aku datang dari masa depan, tepatnya tahun 2016”

 

Taeyeon menatapku dengan wajah serius. Aku menelan ludahku melihat betapa seriusnya wajah cantik itu.

 

“Kau berbohong. Katakan dengan alasan yang logis, Tiffany-ssi”

 

“Aku tidak bohong!”

 

Aku mengingat sesuatu. Segera kurogoh saku bajuku dan mengambil benda kotak canggih milikku dan menyodorkannya pada Taeyeon.

 

“Ikeo. Ini I-Phone 6s keluaran terbaru. Di Korea belum ada dan hanya di Amerika. Dan ditahun 2007 ini I-Phone masih belum secanggih milikku ini. Kau bisa mengeceknya! Ini keluaran tahun 2016. Kau tidak percaya?”

 

Taeyeon mengamati ponsel milikku dengan seksama. Aku membiarkannya. Kuharap ia akan percaya.

 

“Kau pasti sudah memesan itu sebelumnya”

 

Aku menundukan kepalaku. Ia masih tidak percaya.

 

“Apa yang harus kulakukan agar kau percaya, Taeyeon-ssi?”

 

“Aku mencoba untuk mempercayaimu. Tapi aku merasa itu tidak masuk akal”

 

“Aku juga, Taeyeon-ssi! Aku masih tidak percaya dengan ini semua. Tapi memang itulah kenyataannya!”

 

Taeyeon menghela nafasnya. Gadis itu memejamkan matanya.

 

“Tiffany-ssi, kau bilang kau dari masa depan?”

 

Aku tidak tahu ke arah mana pembicaraan ini berlangsung. Ucapannya terdengar sangat serius. Entah kenapa aku jadi gugup.

 

“N-Ne”

 

“Bagaimana aku?”

 

“Ne?”

 

“Bagaimana aku di masa depan?” tanyanya. Matanya menatap tepat di bola mataku. Aku merasa tersesat oleh mata kecoklatan miliknya.

 

“K-Kau…”

 

Sebelum aku menjawab pertanyaan Taeyeon, kurasakan di sekelilingku berangsur memudar. Lama kelamaan pudaran itu berubah menjadi jelas dan- nampaklah ruangan berwarna pink, kamarku.

Ku kerjapkan mataku untuk memastikan ruangan di sekitarku. Ini memang benar kamarku. Kulihat jam di meja samping ranjangku, 08.49 KST. Padahal aku yakin terakhir kali melihat jam adalah 08.47 KST. Kenapa cepat sekali? Jika dihitung, aku berada di waktu lampau sekitar 3 jam dari apartement, halte, dan rumah sakit. Jika di total kira-kira sudah tiga jam berlalu. Kenapa disini baru 2 menit? Aigoo ini benar-benar tidak masuk akal. Kepalaku berdenyut sakit sekali. Kuharap saat tidur nanti aku tidak berada di waktu lampau lagi.

 

 

***

 

 

Setelah kejadian dimana aku bertemu Kim Taeyeon tiga hari yang lalu. Aku tidak lagi terseret ke waktu lampau. Itu membuatku bernafas lega. Tapi aku juga sedikit penasaran dengannya. Apalagi aku menghilang saat ia bertanya padaku dan belum sempat kujawab. Ia pasti sangat bingung kenapa aku menghilang begitu saja. Ah untuk apa memikirkannya. Toh, itu tidak penting buatku.

 

“Tiff, kau dipanggil si monyet sialan” kata Jessica

 

“Arrasseo”

 

Aku men-save hasil kerjaku dan mematikan laptopku. Kubereskan sedikit meja kerjaku, kemudian pergi menuju ruangan Mr. Jang.

Ada apa si monyet sialan itu memanggilku? Kuharap aku tidak menerima kultumnya karena memang aku tak merasa memiliki kesalahan.

 

“Annyeong Mr. Jang. Anda memanggilku?” tanyaku sopan.

 

“Duduk” jawabnya dingin.

 

Aku menurut dan duduk di kursi didepannya.

 

“Aku memanggilmu kesini karena kau akan di mutasi”

 

“M-Mutasi?”

 

“Ne, kau dimutasi. Kau akan bekerja menjadi sekertaris Ms. Kim mulai besok”

 

“Kenapa harus aku?” tanyaku sedih. Sudah banyak yang kulalui untuk mendapat posisi manager disini kenapa aku harus jadi sekertaris? Bukan apa-apa. Aku hanya tak terlalu suka ada yang menyuruh-nyuruhku. Meski di perusahaan ini Mr. Jang sering menyuruhku, tapi aku bisa melemparkan tugas pada karyawan dibawahku. Tapi kalau sekertaris? Aku tak yakin bisa menyuruh seseorang untuk membantuku disana.

 

“Jangan mengeluh. Menjadi sekertaris Ms. Kim di perusahaan raksasa milik dia adalah hal yang bagus. Tidak sembarang karyawan yang bisa bekerja disana, apalagi sekertaris Ms. Kim. Aku tak mau mengakui ini, tapi kinerjamu semakin membaik dari bulan ke bulan, makanya kau dimutasi kesana”

 

Aku masih menunduk. Walaupun mungkin aku layak untuk mendapatkan posisi itu, tapi berarti aku harus berpisah dengan Jessica. Padahal hanya dia temanku disini.

 

“Ne, Mr. Jang” ucapku lemah.

 

“Baiklah. Kau boleh keluar. Ingat, ini hari terakhirmu disini. Jangan lupa bereskan barang-barangmu setelah selesai bekerja. Ikeo alamatnya”

 

Aku mengambil kertas yang diberikan Mr. Jang lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu. Wajahku masih murung. Aku duduk di kursi tempatku bekerja dengan lesu. Jessica menyadarinya dan bertanya padaku.

 

“Kau kenapa, Tiff?”

 

“Aku dimutasi, Jess”

 

“WHAT? ARE YOU KIDDING ME?”

 

“No. I’m so damn serious. Mr. Jang told me”

 

“Aish! Di perusahaan mana kau akan bekerja?”

 

“Kim Inc. Aku jadi sekertaris CEO disana”

 

“WHAT? KAU JADI SEKERTARIS SEORANG KIM TAEYEON?!”

 

Aku mengangguk lemah. Alisku terangkat satu. Tadi Jessica bilang apa? Sekertaris Kim Taeyeon? Aku tertawa pelan mendengarnya.

 

“WHAT?!” teriakku keras. Mataku melebar tanda tak percaya.

 

Sekertaris Kim Taeyeon? Aish! Aku harus bagaimana? Belum kelar masalahku dengannya di masa lampau dan aku harus bertemu dengannya di masa kini? Oh betapa bahagianya hidupku ini. Aku tertawa keras menyadari betapa gilanya hidupku. Jessica menatapku aneh. Aku tak peduli dan tetap tertawa. Ini akan menjadi hari terpanjang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

Nih gw cicil repost buat yg masih pgn lanjut wkwk.

Sweet Love nanti malem publish nya.

Enjoy~

Pai pai~ see u next chap

Playing With The Time (Chapter 1)

Tittle : Playing With the Time

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon

Other Cast : Find by yourself

Genre : Yuri (G x G)

Length : Series

.

.

.

.

.

.

.

 

 

 

 

“YAK! HWANG MI YOUNG! BANGUN KAU”

 

Dengan sangat malas aku membuka mataku dan mengerjapkannya. Siapa sih yang berani mengganggu tidur siangku?! Menyebalkan sekali. Ku dongakkan kepalaku melihat orang yang dengan kurang ajar membangunkanku itu.

Mataku hendak keluar saat menyadari orang yang ada di depanku saat ini. Kutelan saliva ku dengan berat.

 

“A-Annyeong M-Mr. Jang” ucapku gugup.

 

Pria tua itu mendelik. Tatapannya sangat tajam, aku merasa terintimidasi dengan tatapannya itu. Dia menggebrak meja, membuatku terlonjak kaget.

 

“Kenapa kau sangat malas, ha? Ini kantor, bukan penginapan umum! Sudah berapa kali kubilang untuk tidak tidur saat bekerja. Kau ini punya telinga tidak, ha? Aish! Aku bisa gila menghadapi orang sepertimu!” semprot pria tua menyebalkan itu.

 

Yang kulakukan hanya menunduk. Aku tak berani menatap wajahnya. Bisa-bisa kultum nya ini berlanjut sampai tiga jam kedepan. Aku hanya bisa meminta maaf padanya berkali-kali.

 

“Aish! Aku tidak percaya Choi Sajangnim mengangkatmu menjadi Manager. Cepat kembali bekerja!”

 

“Ne Mr. Jang”

 

Aku kembali memfokuskan mataku pada layar LCD di depanku. Setelah kuyakin pria tua itu menjauh segera kulontarkan segala macam bentuk sumpah serapah pada monyet sialan itu. Aku mendengar tawa dari ruang sebelah. Ternyata itu Jessica, sahabatku. Aku mempoutkan bibirku mendapat tawa mengejek dari sahabat kurang ajar itu. Kulemparkan pulpen yang ada di mejaku ke arahnya, berharap ia berhenti tertawa.

Ini menyebalkan. Selalu saja aku yang menjadi objek semprot an Mr. Jang. Meski Jessica juga sama, tapi aku yang mendapat lebih banyak semprotan.

 

“Ahaha, Tiff. Sudah tahu monyet sialan itu akan berkeliling di jam seperti ini, mengapa kau tertidur?”

 

“Aish! Aku lelah, Jessie. Si monyet sialan itu menyuruhku mengerjakan pekerjaannya semalaman penuh!”

 

Jessica kembali tertawa. Kuhembuskan nafasku kasar dan beranjak ke pantry untuk membuat kopi. Kurasa aku butuh minuman berkafein itu.

Saat aku akan kembali ke ruang kerjaku dengan membawa secangkir kopi ditangan, aku melihat sekilas gadis jangkung tengah berbicara pada Choi Sajangnim. Kudengar Choi Sajangnim memiliki puteri yang tinggal di Amerika beberapa tahun terakhir. Apa gadis itu puterinya? Mereka berdua sangat mirip. Aku mengangkat bahuku mencoba untuk tidak peduli.

 

“Hei, Tiff. Kau sudah dengar kabar baru-baru ini belum?” tanya Jessica sedikit berbisik saat aku baru saja mendudukan pantatku di kursi.

 

“Kabar apa?”

 

“Puteri Choi Sajangnim akan mulai bekerja disini. Ia langsung ditempatkan sebagai CEO”

 

“Oh” jawabku sekenanya.

 

“Yaish! Kudengar ia pindah ke Amerika karena ia sangat terpukul dengan kematian sahabatnya, Kim Taeyeon! Aku tidak tahu kenapa ia bisa kembali lagi kesini”

 

“Kim Taeyeon?” ulangku.

 

“Iya, Kim Taeyeon. Kau cari dia di mesin pencari dan kau akan terkejut melihatnya!”

 

Entah mengapa aku mengikuti saran dari Jessica. Aku juga sedikit penasaran seperti apa Kim Taeyeon yang bisa-bisa nya membuat puteri Choi Sajangnim sangat terpukul dan memutuskan pindah ke Amerika.

Ku ketikkan nama ‘김 태 연’ di mesin pencari.

Aku membuka mulutku tak percaya membacanya.

 

KIM TAEYEON, Putri kedua dari pasangan Kim Jin Woo dan Shin Eun Hye. Ia tewas terbunuh oleh orang yang tidak diketahui identitasnya bersama kedua orang tuanya, kakaknya, dan adiknya di tempat yang berbeda di waktu yang bersamaan.

 

Misteri terbunuhnya keluarga Kim, pemilik Kim Enterprise yang sedang dalam masa kejayaannya.

 

Siapa pembunuh Kim Jin Woo, Shin Eun Hye, Kim Jiwoong, Kim Taeyeon, dan Kim Hayeon?

 

Dan masih banyak lagi yang lain yang sudah kubaca. Apa-apaan itu? Membunuh satu keluarga secara bersamaan? Bahkan si pembunuh belum ditemukan sampai sekarang. Aku bergidik ngeri membayangkannya. Kulihat foto seorang Kim Taeyeon yang ada di layar persegi panjang di depanku ini. Ia sangat cantik untuk ukuran orang Korea asli. Bahkan aku bisa menyebutnya seperti idol dengan garis wajahnya yang tegas, dan tubuhnya yang sangat ideal. Walaupun ia terlihat pendek dengan tinggi 162 cm.

Huft, sayang sekali. Andaikan ia masih hidup, akan seperti apa sekarang ya? Yang pasti ia akan tambah cantik dan mungkin menjadi orang yang sangat terkenal? Ah aku terlalu berkhayal. Lebih baik aku fokus bekerja lagi.

 

“Tiff?!”

 

“Ne?”

 

“Belikan aku makan siang!”

 

“Beli saja sendiri”

 

“Hei, kau lupa? Ini giliranmu untuk membelikan makan siang”

 

Aku mengingat kembali. Kulihat kalender yang ada di mejaku. Ah iya, ini hari Kamis. Giliranku untuk membelikan makan siang. Aku dan Jessica memang sudah terbiasa dengan ini. Setiap Senin dan Rabu, Jessica yang akan membeli makan siang. Sedangkan aku kebagian hari Selasa dan Kamis. Dan di hari Jum’at, kami bersama-sama membeli makan siang.

Aku segera pergi meninggalkan ruang kerjaku dan menuju ke kantin kantor.

 

Saat menuju lift aku melihat pria yang sangat familiar bagiku. Reflek, aku langsung berlari menjauhi tempat itu. Nickhun melihatku dan langsung mengejarku. Aku tak mau lagi berurusan dengan pria Thailand itu. Sudah cukup ia menyakitiku dengan berselingkuh di belakangku.

 

“Fany-ah. Tunggu!”

 

Aku tak menghiraukan panggilannya dan tetap berlari. Kulihat ada ruangan kosong yang tak terkunci. Kurasa itu gudang. Tak perlu banyak berfikir langsung saja aku masuk kedalam ruangan itu. Kututup pintunya dan menahannya dengan meja.

Aku melangkah mundur mendengar suara dobrakkan di luar pintu. Aku benar-benar takut. Aku semakin melangkah mundur saat meja bergeser menyebabkan pintu terbuka sedikit.

 

“Fany-ah!”

 

Aku mendengar dobrakan keras dari luar dan reflek memejamkan mataku. Aku tak berani menatap kedepan. Setelah beberapa menit berlalu aku tak mendengar apapun di sekitarku. Kuberanikan diri membuka mataku. Betapa terkejutnya aku saat melihat apa yang ada di sekitarku. Ini sudah malam, padahal aku yakin masih siang. Aku saja ingat akan membeli makan siang sebelum berlari menghindari pria Thailand itu. Dan yang lebih membuatku terkejut adalah. Ini bukan gudang tempatku bersembunyi, melainkan seperti- rooftop?

 

Kuedarkan pandanganku ke sekitar penjuru tempat ini. Mataku menyipit melihat seorang gadis tengah berbaring dengan darah memenuhi sekujur tubuhnya. Aku cepat-cepat menghampiri gadis itu dan mengecek nadinya. Syukurlah ia masih hidup.

Kubaca situasi di tempat ini. Jika ini rooftop, pasti ada manusia di gedung ini. Segera aku mencari bantuan untuk menyelamatkan gadis itu.

 

“Agassi, tolong! Ada orang sekarat di rooftop! Tolong cepat!” teriakku pada kumpulan orang-orang berseragam koki sama. Mereka menatapku aneh. Aish! Ini bukan lelucon! Aku melihat gunting dan serbet di atas meja pantry. Segera kuraih dua benda itu dan menyeret salah satu orang yang tidak memakai seragam koki yang sama dan memakai setelan kemeja dan rompi.

Aku tak tahu keputusanku ini tepat atau tidak. Dulu aku memang kuliah jurusan kedokteran selama beberapa tahun, tapi Daddy melarang dan memasukkanku ke jurusan bisnis.

 

“Omo! Kau benar, nona! Ada orang sekarat!” ucap pelayan itu.

 

Aku mengecek nadinya dan ia masih hidup. Bagaimana ini? Aku belum pernah praktek langsung dengan manusia seperti ini. Kurobek bajunya dengan gunting dan melihat luka tusuk di perutnya. Aku menahan pendarahan dengan serbet yang kubawa tadi.

 

“N-Nona, apa kau seorang dokter?” tanya pelayan itu.

 

“A-Ani. Tapi aku pernah sekolah kedokteran”

 

“Cepat telfon ambulans!”

 

“B-Baik nona”

 

Pelayan tadi segera menelfon ambulans dan memberitahu dimana lokasinya. Aku melihat gadis yang sekarat ini lagi. Keningku berkerut menyadari aku seperti pernah bertemu dengan gadis ini. Kuingat sekali lagi. MWO?! Bukankah itu Kim Taeyeon?! Aku membuang keterkejutanku saat mendengar nafas tersengal dari gadis itu.

Seingatku melihat kondisi pasien yang seperti ini, ia mengalami pneumotoraks. Dan aku harus menusuknya. Tapi dengan apa? Aku mencoba berpikir dengan jernih di situasi genting seperti ini. Jujur aku sangat takut jika tindakanku gagal. Bisa-bisa aku yang harus bertanggungjawab.

Nafas gadis itu tersengal lagi. Aku makin panik. Kalau dia tidak ditolong secepatnya, ia akan mati. Aish eotteokhae?! Kulihat ada bolpoin di saku rompi pelayan itu. Dengan gerakan cepat aku mengambilnya dan menusukkannya di bahu gadis itu. Gadis itu terbangun dengan mata yang melebar.

Mwoya? Apa aku gagal?

Selang beberapa detik bantuan paramedis datang. Aku segera menjauh agar mereka bisa menolong gadis itu dengan baik.

 

“Apa kau baru saja menusuk bahunya?” tanya seorang dokter pada pelayan tadi.

 

“Ani. Gadis itu yang menusuknya” jawab pelayan itu dengan menunjukku. Dokter tadi menoleh ke arahku.

 

“Terimakasih, nona. Kau melakukan pertolongan pertama untuk menyelamatkan gadis ini” ucap dokter tadi.

 

Aku hanya mengangguk dan gerombolan paramedis tadi segera membawa gadis itu keluar. Sebelum mereka benar-benar keluar, aku melihat gadis itu yang menatapku dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan.

 

“OMO! Aku baru sadar gadis tadi adalah puteri pemilik Kim Enterprise!” teriak pelayan itu.

 

“Pemilik Kim Enterprise? Kim Taeyeon maksudmu?” tanyaku penasaran.

 

“Ne, kau benar nona!”

 

Benarkah ini? Yang tadi adalah Kim Taeyeon? B-Bukankah ia sudah meninggal? Apa ini mimpi? Kucoba mencubit pipiku dan- aww, itu sakit! Jadi, ini bukan mimpi?

 

“Sekarang tanggal berapa?” tanyaku.

 

“16 Juli 2007. Memangnya kenapa nona?”

 

Aku membuka mulutku tak percaya. Sekelebat memory terlintas di otakku. Tanggal itu sama persis dengan kematian seorang Kim Taeyeon. Apa aku baru saja menyelamatkan nyawanya? Oh tidak! Aku merubah masa depan. Eotteokhae? Apa aku akan terkena masalah setelah ini? Ya Tuhan, lindungilah aku!

 

“Nona?”

 

“Nona? Hei Nona?

 

“NONAAA?!”

 

“Ah ye. Waeyo?”

 

“Siapa nama nona?”

 

“A-Aku Tiffany Hwang”

 

“Baik nona Tippany. Aku akan memanggil managerku sebentar. Kau sudah menyelamatkan bos kami, kami akan membalas kebaikanmu. Kau tunggu disini”

 

Aku tidak mempedulikan ucapan pelayan tadi. Yang aku pikirkan adalah, bagaimana bisa aku ada disini? Di waktu lampau?

Aku menenggelamkan kepalaku di kedua lututku. Tak kuhiraukan darah yang ada di tanganku ini. Aku ingin menangis. Tapi untuk apa? Ingin marah, tapi pada siapa? Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Tiffany? Hei!”

 

“Tiff?”

 

“Tiffy?”

 

“Yak! Hwang Miyoung!”

 

Aku mengerutkan alis mendengar panggilan itu. Aku sangat yakin aku memberitahu pelayan tadi dengan nama Tiffany Hwang, bukan Hwang Miyoung. Lagian suaranya mirip sekali dengan Jessica. Tunggu- Jessica?

Aku mendongakkan kepalaku dan melihat hellsica di depanku. Ku edarkan pandanganku di sekitaran tempatku berada. Ini ruanganku! Bagaimana bisa aku ada disini lagi?

 

“Aish! Malah bengong. Bukankah aku sudah memintamu untuk membeli makan siang? Kukira kau sudah keluar tadi, ternyata masih disini. Dan omo omo omo! Apa-apaan ini? Darah? Euuwh! Itu darah apa, Tiff? Jangan bilang kau adalah vampire dan kau sudah makan darah anjing milik Choi Sajangnim disini? Aigoo aku tidak menyangka berteman dengan vampire” ucap Jessica panjang lebar.

 

Aku tak menghiraukan ucapannya dan langsung mengambil tissue di mejaku. Membersihkan darah yang tersisa ditanganku dan mulai berkutat dengan laptopku. Kuketik nama Kim Taeyeon di mesin pencari.

Mataku melebar, mulutku terbuka.

 

Kim Taeyeon, CEO muda Kim Enterprise. 

 

Kim Taeyeon, pengusaha tersukses kedua di Negara Korea Selatan. 

 

Kisah asmara CEO muda Kim Taeyeon tahun ini. 

 

Karir Kim Taeyeon dari tragedi 9 tahun silam sampai sekarang. 

 

Dan beberapa artikel lain yang sudah kubaca. Aku tertawa pelan. Ini pasti lelucon. Taeyeon sudah mati bukan? Artikel ini pasti salah. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Semua artikel itu bohong! Kim Taeyeon tidak mungkin hidup lagi dan aku tidak mungkin menolongnya saat itu! Pandanganku semakin lama semakin kabur dan akhirnya. Aku tak bisa melihat apapun kecuali gelap.

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yuhu… gw balik lagi bawa nih ff di wepe lama. Gw apdetin klo gw inget per chap nya, dan kemungkinan klo udah di post keseluruhan yg 13 apa 12 chapter itu, ni ff di dropped dulu.

Buat yg nunggu sweet love. Besok bakal diluncurkan. So prepare guys.

Sweet Love (Chapter 7)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

 

Sunday morning di kediaman keluarga Kim. Meskipun jam menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit waktu setempat, tanda-tanda kehidupan belum muncul disana. Taeyeon asik bergumul dalam selimutnya yang menutupi tubuh polosnya. Hal yang sama berlaku pada Tiffany, tetapi bedanya, wanita itu sudah terbangun dan sibuk mengamati wajah suaminya yang tertidur pulas dengan memeluk pinggangnya. Ada perasaan yang membuncah mengingat kejadian semalam yang sangat luar biasa. Pipi Tiffany memerah membayangkannya. Itu merupakan malam pertama mereka sebagai suami-isteri walaupun mereka menikah sebulan yang lalu.

Tiffany merasakan pergerakan dari samping ranjangnya. Dia melihat Taeyeon menggeliat sebelum perlahan membuka matanya. Mata mereka bertemu pandang. Taeyeon tersenyum dan memajukan wajahnya untuk mengecup bibir yang kini menjadi candunya.

Good morning, yeobo.”

Tiffany tersenyum dan melakukan hal yang sama pada Taeyeon. “Morning, boo.

Taeyeon terkekeh. Dia mengelus wajah isterinya. “Ingin mandi bersama?” tanya Taeyeon dengan senyuman menggoda.

Tiffany membuang mukanya dan menutupinya dengan selimut. Taeyeon malah tertawa melihatnya. Dia menarik selimut dari wajah Tiffany dan menarik isterinya menuju kamar mandi. Tiffany menghembuskan nafasnya pasrah dan mengikuti suaminya ke kamar mandi untuk mandi bersama.

 

Mandi yang biasanya Tiffany habiskan selama empat puluh menit kini menjadi lebih lambat dua jam. Itu karena suaminya terus memakannya tanpa ampun. Apa semalaman suntuk bagi Taeyeon belum puas? Tiffany menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan byun suaminya. Meskipun begitu, dia tetap saja menikmati permainan Taeyeon yang begitu lihai. Dia tak menyangkalnya. Taeyeon-nya sangat sexy dan manly disaat yang bersamaan saat melakukannya.

“Pany-ah, aku lapar.” rengek Taeyeon.

“Kau lapar? Arrasseo aku akan membuatkan makanan.” Tiffany beranjak dari sofa menuju pantry. Dia membuka lemari pendingin untuk melihat apa saja bahan makanan yang mereka miliki.

“Taeyeon kita memiliki bahan makanan yang cukup lengkap. Kau ingin aku memasakan apa? Korean, western, chinese?” teriak Tiffany.

Taeyeon menunjukkan ekspresi berpikirnya. Dia meletakkan telunjuknya di dagu dengan kedua alisnya yang menyatu.

“TaeTae!” teriak Tiffany makin kencang karena suaminya lama tidak membalas.

“Arrasseo, western saja!”

“Bagaimana kalau bacon?” tanya Tiffany.

Call!

Tiffany mulai memasakan sarapan untuk mereka, sementara Taeyeon sibuk bermain game The Sims di laptopnya. Entah karena Tiffany terlalu lama atau perut Taeyeon sudah tidak bisa berkompromi lagi, Taeyeon malah berguling-guling tidak jelas di lantai. Game The Sims favoritnya tak bisa jadi penghiburannya.

“Astaga, Taeyeon! Apa yang kau lakukan?” Tiffany menurunkan rahangnya saat melihat kelakuan suaminya. Taeyeon menghentikan aksi guling-gulingnya dan berdiri.

“Apa makanannya sudah jadi?” tanya Taeyeon dengan berbinar. Tiffany mengangguk pelan.

“Assa! Suapi aku!” teriak Taeyeon girang.

“Kau bukan anak kecil lagi, Tae.”

Ucapan Tiffany malah membuat tingkah Taeyeon menjadi. Di berbaring di lantai dan terus berguling-guling dengan merengek tidak jelas.

Fine!” ucap Tiffany pada akhirnya. Taeyeon berhenti. Dia berdiri dengan senyum bahagia dan berlari ke arah isterinya. Dia meraih wajah Tiffany dan melumat bibirnya sebentar. Setelah itu menarik tangannya menuju meja makan. Dia seperti anak kecil yang menyeret tangan ibunya untuk membeli sesuatu yang diinginkannya saja.

Tiffany mulai menyuapi bayi besarnya. Sesekali menyuapi dirinya sendiri karena dia juga lapar. Taeyeon memakan masakan isterinya dengan terus memuji kemampuan memasak Tiffany.

“Ini sangat enak, Pany-ah. Aaah, beruntungnya aku memiliki isteri sepertimu.”

“Telan dulu makananmu, TaeTae!” Tiffany mengingatkan, namun suaminya tak mengindahkannya.

“Kau tahu, Sica tak bisa memasak. Setiap hari aku yang memasak, tidak sepertimu. Hwaa aku makin mencintaimu kalau seperti ini~” Taeyeon memeluk Tiffany erat dan mengecup bahu dan lehernya berkali-kali.

Tiffany senang mendengarnya meski harus dibandingkan dengan mantan kekasih Taeyeon. Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi. Taeyeon melepas pelukannya.

“Biar aku yang membukanya.” ucap Taeyeon dengan mengedipkan sebelah matanya genit. Tiffany tertawa dan mengusir Taeyeon untuk cepat membuka pintu.

“Tebak tamu kita siapa, Fany-ah?” Taeyeon tiba-tiba muncul di depan Tiffany. Wanita yang lebih muda menggeleng tak tahu.

“Taraa~” Taeyeon membalikkan tubuhnya dengan kedua tangan terulur ke depan, seperti mempersilahkan. Tiffany terkejut melihat siapa tamu mereka. Jessica dan Yuri. Ini kedua kalinya mereka bertemu.

“Annyeonghaseyo.” Jessica dan Yuri menundukan kepala tanda salam.

“A-Annyeong.” balas Tiffany dengan kaku.

“Santai saja, honey. Ayo kita ke depan untuk berbincang.” ajak Taeyeon. Jessica dan Yuri mengangguk. Mereka mulai berjalan ke ruang depan. Tak lupa Taeyeon menarik pinggang isterinya karena masih terkejut.

“Bagaimana kabar kalian?” tanya Taeyeon saat mereka sudah duduk. Dia masih memeluk pinggang Tiffany disampingnya.

“Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?” tanya Yuri.

“Tak pernah sebaik ini…” Taeyeon tersenyum. “Ah ye, ada hal apa yang membuat kalian kemari?” tanyanya.

“Ah sebenarnya kami sengaja datang kemari agar lebih akrab saja. Kau tahu kan, ng- Jung H- maksudku Jessica- k-kami…” gagap Yuri. Taeyeon tertawa pelan.

“Ne ne, aku paham, Yuri-ah. Santai saja.”

“Tapi selain itu, ada hal tentang pekerjaan juga…”

“Kau ingin bekerjasama dengan perusahaan kami lagi, begitu?”

“Hmm seperti itulah.”

“Bagaimana kalau kalian membahas hal itu di tempat lain? Biar aku dan Tiffany mengobrol berdua dan kalian lebih leluasa membahas pekerjaan.” usul Jessica.

Taeyeon dan Yuri mengangguk setuju. Taeyeon menoleh ke arah isterinya dan mengecup keningnya. “Baik-baik dengan Sica, ne?” Setelah mengatakan itu, Taeyeon dan Yuri beranjak dan pergi ke ruang kerja Taeyeon di rumah.

Jessica tersenyum ke arah Tiffany setelah Taeyeon dan Yuri tidak terlihat. Tiffany membalasnya meski agak canggung.

“Jadi, Tiffany. Apa kau menerima pesan dariku seminggu yang lalu?” tanya Jessica.

Tiffany mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak. “Apa pesan dengan inisial JJ?”

“Ne, majayo. So, bagaimana Taeyeon padamu akhir-akhir ini?”

“Umm, dia menjadi sedikit lebih-… manja?”

Jessica membuka mulutnya dengan berbinar. “Jinjjaro? Whoah itu pertanda bagus!”

“Maksudmu?” Tiffany tak mengerti dengan ucapan Jessica barusan.

“Dulu saat kami belum resmi menjadi sepasang kekasih, Taeyeon sering bersikap manja kepadaku. Mungkin itulah cara Taeyeon untuk menunjukkan perasaannya dengan bersikap seperti itu agar mendapat perhatian lebih.”

“B-Benarkah?” tanya Tiffany. Dia senang mendengar kabar ini.

“Ne! Chukhahae, Tiff. Aku tahu bocah itu cepat atau lambat akan menyukaimu sebagai seorang wanita.” ucap Jessica dengan bersemangat. Dia senang mantan kekasihnya berhasil mencintai wanita lain selain dirinya. Dia ingin Taeyeon bahagia tanpa harus dengannya.

“Uhm, Jessie. Bolehkah aku bertanya?”

“Tentu, Tiff.”

“Selama Taeyeon tidak pulang ke rumah. Apa kau tahu dia ada dimana?”

Senyum yang mengembang di bibir Jessica lenyap setelah Tiffany bertanya hal tersebut. Dia melihat tatapan memohon dari Tiffany yang membuatnya tidak tega.

“Kumohon kau mendengarkan ini hingga selesai dan… kuharap kau tidak akan marah.” Jessica menggigit bibir bawahnya.

“Dia tinggal bersamaku. Itu adalah permintaan terakhirnya sebelum dia benar-benar melepasku, Tiff. Kumohon kau jangan salah paham.”

Tiffany tersenyum. Dia tahu itu pasti terjadi. Dia tahu Taeyeon pasti tinggal dengan Jessica. “Gwaenchanha, aku mengerti bagaimana perasaannya.”

Jessica tersentuh dengan ucapan Tiffany. Keputusannya benar untuk menyuruh Taeyeon tetap berada disisi Tiffany. Dia wanita yang begitu baik. Jessica menyesal pernah berpikir untuk kembali bersama Taeyeon saat tinggal bersamanya. Itu karena Taeyeon selalu membujuknya. Beruntung dia masih bisa berpikir waras dan tidak membiarkan perasaannya menang.

“Aku senang Taeyeon memiliki wanita secantik dan sebaik dirimu, Tiff.” Jessica menggenggam tangan Tiffany. Matanya terlihat berkaca-kaca. Tiffany melihat itu. Dia mengerti, dia sangat mengerti wanita di depannya masih mencintai suaminya itu dan merelakan perasaannya. Atau Tiffany sebut, perasaan mereka?

“Jika kalian masih mencintai, aku rela kalian bersama.” ucap Tiffany tiba-tiba. Jessica membulatkan matanya dan menggeleng cepat.

“Kau bicara apa, Tiff?! Jangan membuat ini semakin rumit. Taeyeon sudah mulai mencintaimu. Aku juga punya perasaan yang harus kujaga. Aku mencintai Yuri. Jangan bicara hal nonsense.” pekik Jessica.

“Meskipun aku masih memiliki perasaan pada suamimu, bukan berarti aku menginginkannya. Dia hanya masa laluku, Tiff. Begitu juga sebaliknya.” Ucapan Jessica berubah melembut.

“Berbahagialah dengannya, dan aku akan berbahagia dengan Yuri.” Jessica tersenyum tulus.

***

Seorang wanita berumur seperempat abad menepikan mobilnya di sebuah toko kue. Dia keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam. Dia melihat bermacam-macam kue terpajang di etalase. Namun dia tidak melihat kue yang ingin dicarinya. Dia memastikan kembali bahwa toko ini adalah toko langganannya dulu dengan kakaknya. Maklum saja, wanita itu baru pulang dari luar negeri selama bertahun-tahun.

“Permisi, apa disini ada kue-…”

Cheese cake matcha?” Belum sempat wanita itu menyebutkan nama kue yang dia inginkan, seorang pegawai disana sudah menyebutnya.

“Bagaimana kau ta- eoh, Shin Hye Unnie!” pekik wanita itu saat menyadari wanita di depannya adalah orang yang dikenalnya.

“Maaf, kami tidak memproduksi kue itu lagi karena pelanggan setia kami sudah tidak pernah membelinya.” sindir Shinhye pada wanita itu.

“Unnie…” rengek wanita itu.

“Hahaha. Baiklah, beruntung aku membuatnya tadi. Kau tunggu disini, ne?”

Wanita itu mengangguk dan menunggu Shin Hye mengambilnya.

“Ikeo kue nya. Tak usah bayar, anggap saja aku sedang mentraktirmu.”

“Whoaah, gomawo Unnie!”

“Cheonma. Cepat pergi hush hush. Kau pasti akan ke rumah Unnie mu itu kan?”

“Ne. Sekali lagi gomawo, Unnie. Aku pergi dulu, annyeong!”

Wanita itu keluar dari toko kue tersebut dengan kue favoritnya. Dia membayangkan reaksi Unnie nya saat dia membawakan kue tersebut untuknya.

Dia mulai melajukan mobilnya ke rumah yang akan dituju. Butuh waktu lima belas menit untuknya sampai kesana. Dia menepikan mobilnya disamping mobil lain di pelataran rumah tersebut. Dia berpikir itu adalah mobil Unnienya mengingat Unnie nya itu hobi gonta ganti mobil. Dia keluar dan berjalan ke pintu rumah tersebut.

“Apa passwordnya masih sama?” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Karena ingin memberi kejutan pada Unnie nya, wanita itu akhirnya mencoba membuka pintu dengan password yang dihafalnya dulu.

Klik

Pintu terbuka. Dia bersyukur Unnie nya belum mengganti password rumahnya. Dia segera berlari memasuki rumah.

“UNNIE AKU DATAAANG! TEBAK AKU MEMBAWA AP-…” Ucapan wanita itu terhenti saat melihat wanita yang dikenalnya. Mulutnya terbuka, matanya membulat sempurna. Dia menjatuhkan bungkusan kue ditangannya dan berjalan mundur.

“Tidak mungkin.” lirih wanita itu.

“Yoong?” panggil wanita di depan Yoong.

“Tidak mungkin.” Wanita itu masih menyerukan kalimat yang sama hingga dia terduduk lemas di lantai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Gw gamau banyak cuap-cuap ah. Gw cuma mau minta maap apdet nya lelet. Wkwk gw masih pengin pacaran sama bantal dsb gaes wahaha alias tidur. Setelah stress mikirin tugas ukk dll kan enak tuh buat leyeh2 wkk. Oke bye.

Enjoy read~

Pai pai~ see u next chap ^^