ANNOUNCEMENT [PENTING]

Pengumunan buat wordpress ini.

Penting bagi yg merasa penting!

.
.
.
.

.

.

.

.

.

.

.

.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Dikarenakan suatu sebab, gw gak bisa rajin update di wp ini, bahkan mungkin gak update lagi. Maka dari itu buat para readers yang kreatif dan suka bikin fanfic taeny atau otp lain kalian bisa nyalurin karya kalian disini. Nanti gw bakal post disini dan kasih credit di karya kalian. Kalian mungkin bisa jadi co-author tetap disini.

Awalnya gw mau delete wp ini tapi gw pengin kalian terusin kapal taeny dan otp lain sebisa mungkin. Gw ga janji, tapi kalo sempet gw bisa post satu atau dua ff, atau lanjutin ff yg belom kelar. Maafin keputusan gw. Gw harap kalian bisa mengerti.

Thank you buat readers yg setia baca karya gw. Gw apresiasi komen dan dukungan kalian 🙂 Luvya n bye~ seeya later~

 

 

 

Kalo mau share fanfic bisa hubungin gw di email : noviaidafa05@gmail.com

Advertisements

Enterprischool (Chapter 14)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

8 tahun yang lalu….

 

Belum juga makan malam usai, Taeyeon sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan VIP yang dipesan ayahnya itu. Jessica, yang juga berada disana bangkit dan menundukan kepalanya kepada Appa Han dan Daddy nya kemudian menyusul Taeyeon. Jessica benci berlari, namun dia tak punya pilihan lain kalau tak ingin kehilangan jejak Taeyeon. Setelah berlama-lama mencari ke seluruh tempat dan tidak juga berhasil menemukan Taeyeon, Jessica terduduk lemas. Tiba-tiba dia teringat tempat favorit Taeyeon yang dikatakannya kemarin. Gadis blasteran itu bangkit dan segera berlari kesana. Dan benar saja, Taeyeon ada disana tengah duduk seorang diri.

“Aku tahu kau terkejut. Begitu juga denganku.”

Taeyeon menoleh ke sumber suara dan mendapati sahabatnya berdiri di sampingnya. Jessica tersenyum dan ikut duduk.

“Kau bisa menolaknya, Taeng. Aku juga tidak mengharapkan itu semua.”

“Bagaimana dengan Daddy mu? Appa pasti…”

“Shhhh. Gwaenchanha. Sebentar lagi kau akan di promosikan di perusahaan Ayahmu. Aku bisa menjadi sekertarismu.”

“Tapi Sooyeon-ah…”

“Tidak ada tapi-tapian Taeyeon. Kesehatan Daddy juga mulai memburuk. Hal bagus jika dia berhenti bekerja dan beristirahat. Sudah saatnya aku yang bekerja dan merawat Daddy.”

“Kau tahu, aku tidak keberatan untuk menikah denganmu, Sooyeon. Setidaknya aku mengenalmu karena kau sahabat baikku.”

Jessica menggeleng. Dia tahu Taeyeon dengan sangat baik. Tentu saja dia akan melakukannya jika itu dibutuhkan. Taeyeon sangat menyayanginya sebagai sahabat. Dan hal itu pula yang membuat Jessica menolak. Pernikahan bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Pernikahan juga butuh cinta. Jessica tahu Taeyeon tidak bisa memberikannya itu. Dia lebih memilih menolak meski pekerjaan Daddy nya terancam.

Taeyeon menunduk. “Mianhae, Sooyeon.”

Jessica tersenyum lemah dan memeluk sahabatnya.

 

***

 

Jessica yang tadinya sibuk mengetik di laptopnya tersadar saat mendengar Daddy nya terbatuk cukup keras. Gadis itu bangkit dari posisinya dan mendekati Daddy nya di pantry.

“Dad, you okay?” tanya Jessica cemas.

“I’m fine, Jessie. You don’t need to worry uhuk uhuk…”

Jessica menggeleng dan menuntun Daddy nya ke sofa dan membaringkannya. Dia lalu pergi membawa segelas air putih untuk Daddy nya.

“Minum ini, Dad.”

Daddy nya meminum air tersebut dengan pelan. “Uhuk uhuk.. Jess, tolong bawakan Daddy kotak kecil di meja uhuk uhuk Daddy..”

Jessica menggigit bibir bawahnya melihat kondisi Daddy nya namun tetap menuruti permintaannya. Dia sedikit berjalan cepat ke kamar Daddy nya dan membawakan apa yang Daddy nya minta.

Jessica lalu menyerahkan kotak itu pada Daddy nya. “Dad, sebaiknya kita ke rumah sakit.”

Daddy Jung menggeleng. Dia lalu menyerahkan kotak tersebut ke tangan puterinya meski terus terbatuk.

“K- kau t- tahu dimana uhuk kuncinya.”

Jessica menggeleng dengan wajah khawatir. “No, Dad. Ayo kita ke rumah sakit.”

Jessica hendak menarik tangan Daddy nya namun segera ditepis.

“Waktu Daddy uhuk tidak banyak. Buka uhuk kotak itu. Uhuk uhuk kau pasti tahu dimana uhuk kuncinya.”

Nafas Daddy Jung kian melemah. Mata Jessica mulai berkaca-kaca. Dia terus mencoba menarik Daddy nya agar mau pergi ke rumah sakit.

Tiba-tiba mata Daddy Jung tertutup. Jessica panik. Dia mencoba membangunkan Daddy nya namun tidak ada respon.

“Dad? Daddy? No Daddy come on. This is not funny.” Air mata Jessica mulai tumpah. Dia terus saja mencoba membangunkan Daddy nya.

“Nooo Daddy! NOOOOO!”

Jessica terduduk lemas dengan air mata membanjiri wajahnya.

.

.

.

“Sooyeon-ah!”

Taeyeon segera memeluk sahabatnya begitu tiba di rumah duka. Jessica menangis lebih keras di pelukkan Taeyeon. Dia masih tidak mengira akan ditinggalkan Daddy nya secepat ino.

“Shhh gwaenchanha gwaenchanha. Aku akan terus berada di sisimu.”

Jessica makin mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu. Hati Taeyeon hancur melihatnya, namun jika dia mengekspresikannya akan jauh lebih hancur lagi hati sahabatnya.

Yuri dan Sooyoung yang melihatnya di belakang juga ikut menitikkan matanya.

Taeyeon berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berada di sisi Jessica apapun yang terjadi. Dia kini sudah tidak memiliki siapapun lagi selain dirinya.

 

 

 

6 tahun yang lalu…

 

“Sooyeon-ah! Sooyeon-ah!”

Taeyeon berteriak girang begitu memasuki ruangannya. Dia melihat kedua sahabatnya juga berada disana.

“Yuuul! Syoung!”

Taeyeon memeluk sahabatnya itu dengan erat. Dia terus tertawa bahagia dan menepuk punggung kedua sahabatnya yang bingung. Taeyeon melepas pelukannya dan beralih ke Jessica yang berada tak jauh darisana.

“Sooyeooooon!” Taeyeon memeluk Jessica begitu erat. Dia juga berkali-kali mengecup pipi sahabatnya itu.

Yuri dan Sooyoung yang melihatnya hanya bisa menekukan bibirnya. Mengapa hanya Jessica yang diberi kecupan? Tidak adil!

“Taeyeon-ah waegeurae?” tanya Jessica.

“Dia menerimaku Sica! Kami mulai berpacaran!”

“MWO?!” teriak Yuri dan Sooyoung.

“Seolma….” ucap mereka berdua lirih.

“PARK HYEJIN MENERIMAMU?!”

Mata Yuri dan Sooyoung serasa meloncat dari sarangnya. Mereka tidak habis pikir seorang dewi semacam Park Hyejin menerima cinta Taeyeon. Mereka juga membuat taruhan kalau Taeyeon akan ditolak dan menangis suntuk semalaman.

“Heol.. daebak.”

Jessica tersenyum senang. “Chukhahae, Taeyeon-ah. Aku ikut senang.”

Berbeda dengan Yuri dan Sooyoung, Jessica menyambutnya dengan bahagia. Dia senang akhirnya sahabatnya berkencan dengan orang yang dicintainya. Dia pikir Hyejin juga gadis yang baik. Jadi tidak ada alasan untuknya tidak senang.

 

***

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah terlewati. Hubungan Taeyeon dan Hyejin pun masih terus berlanjut. Meski terkadang mereka bertengkar, namun pertengkaran itu merupakan hal wajar dalam suatu hubungan. Ketiga sahabatnya pun dengan penuh mendukung mereka berdua. Hingga tiba hari spesial ini, Taeyeon akan melamar Hyejin. Tentu saja sahabat mereka membantu. Setelah bertemu dengan ayahnya minggu lalu dan melihat reaksi positif dari beliau, Taeyeon memutuskan untuk mengikat mereka ke dalam hubungan yang lebih serius. Dia mengajak Hyejin ke sebuah restoran mewah yang telah di-booking olehnya. Hyejin sendiri begitu takjub. Dia tidak mengira Taeyeon melakukan semua ini untuknya. Dia pikir makan malam biasa pun tak masalah asalkan bersama Taeyeon kekasihnya.

“Taeyeon-ah, kau tidak perlu melakukan ini.”

Taeyeon menggeleng. “Ini hari spesial, Hyejin-ah.”

“Spesial?” tanya Hyejin.

“Kau akan tahu nanti.” Taeyeon tersenyum misterius.

Setelah menikmati makan malam super mewah, Taeyeon bangkit dari duduknya dan berjalan ke panggung yang ada disana. Tiba-tiba dari arah belakang, muncul tiga orang yang Hyejin kenal dengan baik.

“Sica, Yul, Soo?”

Ketiga temannya tersenyum dan mengedipkan matanya. Mereka lalu bergabung bersama Taeyeon di panggung dan memegang alat musik masing-masing.

“Hyejin-ah, kau tahu aku begitu mencintaimu, kan? Oleh sebab itu izinkan aku untuk melakukan ini.”

Taeyeon berbalik menatap ketiga sahabatnya dan mengangguk. Mereka mulai memainkan alat musik masing-masing, disusul Taeyeon yang menyanyikan lagu romantis.

Hyejin yang melihatnya merasa tersentuh. Dia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.

Setelah lagu selesai, Taeyeon turun dari panggung dan mendekati Hyejin. Dia meraih kedua tangan Hyejin dan tersenyum.

“Hyejin-ah, will you marry me?”

Hyejin tak bisa menutupi rasa bahagianya dan memeluk Taeyeon dengan sangat erat dan mengangguk. Jessica, Yuri, Sooyoung memukul tinjunya di udara dan mengucapkan ‘yes’, sedangkan Taeyeon. Gadis itu senang bukan main. Rasanya tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya dia saat ini.

.

.

.

Setelah hari itu, Taeyeon dan Hyejin sibuk mengurusi rencana pernikahan mereka. Karena ingin mendapat semua dengan sempurna Hyejin jadi kelelahan dan sakit. Taeyeon hendak pergi ke apartemen calon isterinya untuk menjenguknya sekaligus merawatnya. Dia juga ditemani Jessica yang juga ingin menjenguknya.

Taeyeon membuka password apartemen calon isterinya tersebut dengan cepat karena khawatir. Namun begitu dia membuka pintu, gadis itu terdiam kaku. Taeyeon mengepalkan buku-buku jarinya dan berlari ke dalam. Jessica yang melihatnya juga terkejut.

Taeyeon lalu meraih kerah seorang pria yang tadi bercumbu dengan kekasihnya dan memukul wajahnya.

“SIAPA KAU HAH?!”

“Aku kekasihnya. WAE?”

Taeyeon membuka mulutnya tak percaya. Dia lalu menatap Hyejin yang terdiam dengan wajah dingin.

“H- Hyejin-ah, apa itu benar?”

Hyejin menatap balik Taeyeon dengan dingin. “Ya. Lalu kau mau apa?”

Tubuh Taeyeon lemas seketika. Beruntung Jessica dengan cepat membantunya.

“H- Hyejin-ah k- katakan s- semua ini bohong.”

Hyejin menggeleng. “Kurasa hubungan kita sampai disini. Kalau tak ada yang ingin kau katakan kau bisa keluar.”

Taeyeon mengeraskan rahangnya dan berlari keluar dari apartemen. Hyejin membalikkan direksi tubuhnya. “Kau juga bisa keluar, Jessie.”

“Hyejin-ah…”

Hyejin mengangkat tangannya. “Keluar.”

Jessica menghela napasnya kemudian menyusul Taeyeon keluar. Tapi sebelum itu, gadis blasteran itu sedikit mendengar isakkan di belakang.

 

***

 

Setahun yang lalu…

 

Jessica masuk ke apartemen Taeyeon dan melihat gadis itu tengah memasukkan pakaiannya kedalam koper. Jessica mengerutkan keningnya.

“Kau mau kemana?” tanya Jessica.

Taeyeon terkejut melihat sahabatnya di apartemennya. “Uh uh. Appa mengajakku berlibur.”

“Sekarang ini? Harus?”

“Eo- Eoh. Appa sudah membeli tiket.”

Jessica duduk di ranjang Taeyeon. “Sudah berhari-hari Tiffany mengurung dirinya di kamar. Kau tidak ingin menjenguknya?”

Taeyeon menghentikkan kegiatannya. “Kau sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkan Tiffany” ujar Taeyeon dingin.

Jessica menghela napasnya. “Aku tidak bermaksud seperti itu. Kemarin aku tidak bisa mengontrol emosiku melihat keadaan Tiffany. Mianhae.”

Taeyeon tersenyum lemah. “Aku akan menjenguknya nanti seusai berlibur. Sebaiknya kau pulang Sica. Aku akan berangkat sebentar lagi.”

“Gwaenchanha aku akan menginap disini. Kau berangkatlah. Have fun bersama ayahmu.”

Jessica mulai menempatkan dirinya di ranjang Taeyeon untuk tidur. Taeyeon sendiri sudah selesai mengemasi barangnya dan bersiap keluar.

“Eo, Taeng. Ini milikmu?” tanya Jessica saat melihat sebuah kalung kunci di meja samping tempat tidur.

Taeyeon menoleh sekilas. “Eoh. Itu pemberian Daddy Jung dulu.. haah aku merindukan beliau.”

Jessica mengerutkan keningnya. “Daddy?” gumamnya.

“Aku berangkat dulu, Sicaa. Jaga dirimu!” teriak Taeyeon karena sudah berada diluar kamar.

Jessica sendiri masih terdiam di kamar Taeyeon, kepalanya mulai berpikir sesuatu. Hingga dia teringat hari dimana Daddy nya meninggal. Daddy Jung pernah menyerahkan kotak kepadanya sebelum meninggal. Saat itu dia tidak sempat memikirkan kotak tersebut karena masih terselimuti duka. Dan setelah berlalunya hari Jessica mengambil kotak tersebut dan mencoba membukanya. Dia tidak berhasil karena kotak tersebut terkunci. Karena tidak kunjung berhasil mendapatkan kunci akhirnya gadis itu menyerah dan hanya meletakkan kotak tersebut di mejanya sebagai hiasan.

 

“Waktu Daddy uhuk tidak banyak. Buka uhuk kotak itu. Uhuk uhuk kau pasti tahu dimana uhuk kuncinya.”

 

Jessica membuka mulutnya. “Seolma..”

Dia melihat kalung kunci tersebut. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Jessica lalu bangkit dari tidurnya kemudian berlari menuju basement tempat mobilnya diparkirkan. Gadis blasteran itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju apartemennya.

Setelah sampai pun gadis itu melanjutkan jalannya dengan berlari. Dia tidak peduli dengan rasa kebenciannya terhadap lari. Dia tidak peduli.

Akhirnya sampailah ia di kamarnya. Jessica segera menyambar kotak yang bertahun-tahun lalu diberikan Daddy nya itu. Dia membuka kotak tersebut dengan kalung kunci milik Taeyeon dan..

Terbuka.

Jessica menutup mulutnya karena begitu terkejut. Dia lalu membuka kotak tersebut untuk melihat isinya.

Sebuah surat dan juga buku rekening. Jessica mengambil buku rekening tersebut dan membulatkan matanya melihat nominal di dalamnya.

“Daddy…” gumamnya.

Jessica kemudian membuka surat yang mulai usang tersebut. Matanya bergerak mengikuti tulisan Daddy nya tanpa meninggalkan satu huruf pun.

Begitu dia selesai membaca keseluruhan surat, gadis itu terduduk lemas.

“Ya Tuhan. Hyejin.. Tiffany..”

“… Taeyeon.”

 

***

 

Present…

 

Jessica, Tiffany, Yuri, dan Sooyoung setelah mendapat pesan dari pengirim misterius segera pulang ke tempat masing-masing dan mengemasi barang-barang mereka. Pengirim misterius tersebut memberitahukan kepada mereka bahwa Taeyeon telah kembali ke Korea. Hal tersebut bukan bualan semata karena pengirim misterius itu juga menyertakan foto. Yuri merupakan ahli dalam bidang teknologi dan dia bisa memastikan kalau foto tersebut bukan editan.

“Shit! Kenapa mendadak sekali?!” gerutu Sooyoung di mobil dalam perjalanan mereka ke Korea.

“Kau sudah memastikan apa dia benar kembali ke Korea pada orang-orangmu, Yul?” tanya Jessica.

Yuri mengangguk dan masih fokus menyetir.

“Yul…” panggil Jessica.

“Hm?”

“Entah mengapa perasaanku tidak enak.”

Yuri menatap Jessica sekilas. “Gwaenchanha. Semua akan baik-baik saja.”

“Kau yakin?”

Yuri sebenarnya kurang yakin, tapi dia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Dia tidak mau membuat Jessica makin khawatir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kalian kira akan mudah menemui Taeyeon, huh? Kalian bodoh. Hahaha.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya kembali yehey. ini fic bentar lagi tamat woohoo.

Gimana guys? Taeny bentar lagi ketemu tapi belom romantisan dulu wkwk

Kaay see u next chap, dun forget to comment~

 

Btw, ada yang pengin oneshoot?

Enterprischool (Chapter 13)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

 

Tiffany POV

 

Liburan kali ini memang menyenangkan. Semua sahabatku berkumpul dan berlibur bersama. Sudah cukup lama aku tidak merasakan perasaan bahagia semacam ini. Tapi entah mengapa tetap saja terdapat sesuatu yang kosong. Sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Namun setelah berusaha keras mencari, ternyata telah kutemukan apa itu.

Cinta.

Ya, aku membutuhkan cinta. Bukan cinta dari seorang sahabat seperti yang teman-temanku berikan. Tetapi cinta seperti milik Adam dan Hawa, Romeo dan Juliet, cinta semacam itu. Terakhir kali aku merasakannya adalah satu tahun yang lalu. Ketika seorang gadis mungil berhasil menggetarkan jiwaku. Mencuri hati dengan mudahnya, hingga dengan cepat masuk kedalam pesonanya.

Kim Taeyeon.

Tiap kali kuingat namanya aku tersenyum, dan dalam waktu bersamaan aku menangis. Tersenyum karena banyak kenangan manis yang kami buat, menangis karena dia juga yang memberi luka.

Bagaimana kabarnya saat ini? Apa dia baik-baik saja? Apakah dia masih ingat denganku?

Bagaimanapun aku mencoba untuk melupakannya, bahkan membencinya, selalu saja berbuah kegagalan. Aku takkan pernah bisa membencinya, meski dia beri luka sebanyak lautan sekalipun. Apakah aku bodoh? Mungkin. Aku bodoh karena terlalu mencintainya.

Pernah terpikir olehku untuk mencari seseorang untuk menggantikan keberadaannya. Bahkan banyak juga yang mulai mendekatiku. Jun salah satunya. Dia menyatakan cintanya padaku beberapa waktu yang lalu. Namun aku belum cukup siap untuk itu. Dan lagi, Jun adalah sahabatku. Aku tak ingin menjalin hubungan dengan sahabatku sendiri. Ku katakan padanya dan dia memakluminya. Kami juga sepakat untuk melupakan hari itu dan tidak lagi menyinggungnya.

Aku tersentak saat tiba-tiba ponselku berbunyi. Kami masih di penthouse milik Jun di China dan tengah beristirahat karena sudah malam. Kuambil ponselku di meja dan membukanya.

Dari nomor tak dikenal.

Temui aku besok pukul 08.00 di cafe Woostin. Kalau kau tidak datang kau akan menyesal, Tiffany-ssi.

Mataku mengernyit. Segera kubalas dengan menanyakan siapa pengirim tersebut. Namun setelah bermenit-menit, bahkan sampai satu jam aku menunggu, nomor tersebut tak kunjung membalas. Kubaringkan tubuhku ke ranjang dan menghela napas panjang. Kau tidak akan tahu jika kau tidak datang. Aku mengangguk dan memutuskan untuk datang besok. Walaupun aku tidak tahu itu membahayakanku atau tidak tapi perasaanku mengatakan untuk datang.

 

***

 

Dua hari berlalu. Jessica, Yuri, dan Sooyoung masih tetap berada di apartemen milik Sooyoung di China. Mereka belum juga bertindak untuk membereskan masalah sahabat mereka. Taeyeon terlalu sibuk dan hal itu menjadi penghalang utama mereka. Jika Taeyeon sibuk, maka misi tidak bisa dilakukan, karena pekerjaan Taeyeon pasti akan terganggu. Gadis mungil itu tidak bisa mengontrol emosinya dan bertingkah gegabah jika dalam keadaan seperti itu.

“Bagaimana jika kita keluar saja? Hanya memantaunya. Kau tahu, aku juga sedikit rindu pada bocah itu.” usul Sooyoung.

Yuri menoleh ke arah Jessica, meminta persetujuannya.

“Arrasseo. Sigh, masalah midget satu itu sebenarnya sederhana. Mengapa terlihat rumit?” ucap Jessica.

“Kau tahu apa yang membuatnya rumit, Sica.” Yuri mengingatkan.

“Yeah, ‘orang itu’ lah yang membuat rumit segalanya.”

Yuri dan Sooyoung tertawa melihat wajah sahabatnya yang terlihat kesal. Jessica melihat keduanya dan memutar bola matanya.

Saat hendak bangkit untuk pergi meninggalkan mereka berdua, ponsel milik Jessica berbunyi. Dia kembali duduk dan membuka ponselnya.

Jessica menaikkan satu alisnya, sedangkan Yuri dan Sooyoung bertanya siapa yang mengirim pesan. Jessica menghiraukan mereka dan mulai membaca isi pesan tersebut.

“Sica?” panggil Yuri.

Jessica menolehkan wajahnya kearah sahabatnya dengan pelan dan menunjukan isi pesan tersebut kepada mereka. Wajah Yuri dan Sooyoung berubah seketika.

 

***

 

“Appa!” teriak Taeyeon begitu Appa nya sampai di rumahnya.

Taeyeon berlari kecil dan memeluk Appanya dengan senang. Sudah sekitar tiga bulan gadis itu tidak bertemu dengan Appa nya dikarenakan pekerjaan. Tentu nya Taeyeon merindukan Appa yang sudah membesarkannya itu.

“Appa lelah? Sebaiknya Appa istirahat dahulu.”

Pria paruh baya tersebut tertawa pelan. “Heish kau ini. Korea-China tidak sejauh itu hahaha.”

Taeyeon meringis mendengar ucapan ayahnya.

“Geunde Appa. Apakah aku harus menetap di China seterusnya?”

Pertanyaan Taeyeon membuat Appa nya terdiam sesaat. Taeyeon sedikit menaikkan alisnya saat melihat raut wajah ayahnya. Namun detik kemudian senyum Appa nya mengembang.

“Kau boleh kembali  ke Korea kalau kau mau, Taeyeon-ah. Sebelum itu, kau harus menyelesaikan proyek disini. Jangan lupakan itu, sayang.”

Taeyeon tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Appa nya.

“Tapi Taeyeon-ah, mengapa kau ingin sekali kembali ke Korea? Bukankah China menyenangkan?”

“Disini memang menyenangkan, tapi aku juga memiliki tanggungjawab di Korea. Perusahaan milikku dan Yuri  Sooyoung ada disana. Lagipula aku harus meminta maaf kepada mereka karena menghilang secara tiba-tiba.”

Appa nya mengangguk. “Geureohguna.”

“Okay. Kembalilah kapanpun kau mau. Appa lelah. Appa istirahat dulu.”

Setelah punggung Appanya tak terlihat, Taeyeon mengerutkan keningnya, namun tak berselang lama. Dia hanya mengangkat kedua bahunya dan pergi ke ruang kerjanya.

 

***

 

Keesokan harinya Tiffany benar-benar datang ke cafe yang pengirim misterius tersebut beritahukan. Awalnya Jun ingin menemani gadis itu, namun Tiffany terus menolaknya dengan halus. Dia tidak ingin Jun khawatir jika dia memberitahukannya yang sebenarnya.

Saat sampai di cafe terseut, Tiffany tak melihat seorangpun yang dia kira pengirim misterius itu. Dia pun memutuskan untuk duduk di meja dekat pintu masuk. Mungkin pengirim pesan tersebut belum datang. Setelah menunggu lima menit lamanya, bel pintu masuk berbunyi. Tiffany mendongakan kepalanya dan terkejut mendapati seseorang yang dikenalnya masuk kedalam.

“Unnie!”

Orang yang dia panggil Unnie juga sama terkejutnya. Dia berlari menuju arah Tiffany diikuti kedua orang di belakangnya.

“Tiff, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” Jessica mengecek seluruh tubuh Tiffany takut ada yang luka.

“Aku baik-baik saja Unnie. Apakah Unnie yang mengirimiku pesan semalam?” tanya Tiffany.

“Pesan? Pesan apa maksudmu?” bukan Jessica yang bertanya, namun Yuri.

Tiffany membuka ponselnya dan memperlihatkannya pada mereka.

“Tunggu dulu. Bukankah itu nomor yang mengirimimu pesan juga semalam?” tanya Sooyoung.

Jessica mengambil ponselnya dan membukanya untuk memastikan apakah nomor tersebut sama atau tidak. Dan disaat yang bersamaan ponselnya berbunyi, menandakan pesan baru masuk.

Tiffany sudah ada di depanmu. Kau yakin tidak mau memberitahunya mengenai Taeyeon?

Yuri merebut ponsel Jessica setelah melihat perubahan wajah Jessica.

“Ige mwoya?!” teriak Yuri.

Sooyoung merebut ponsel tersebut dari tangan Yuri dan membacanya. Gadis tinggi itu sedikit mengernyitkan keningnya. Tak berapa lama kemudian matanya melebar seperti mendapatkan sesuatu.

“Yul, Sica. Aku tidak tahu siapa yang mengirim ini. Tapi kurasa dia berniat baik. Dan kurasa kau harus memberitahukan yang sebenarnya pada Tiffany. Dia butuh untuk tahu.” Ujar Sooyoung.

“Yul?” Jessica bertanya pada Yuri.

Yuri mengangguk pelan. “Lebih baik dia tahu sekarang sebelum semuanya bertambah rumit.”

Jessica menghela napasnya pelan. Dia lalu melihat ke arah Tiffany dengan wajah penuh penyesalan. Jessica terdiam sebentar sebelum mengatakannya pada Tiffany.

“Aku dan Taeyeon pernah dijodohkan.”

“MWO?!” teriak Tiffany.

“Kau harus mendengarkan semua ceritaku tanpa menyelanya, okay?”

Hari itu pun Jessica menceritakan semuanya pada Tiffany dan alasan mengapa Taeyeon meninggalkan mereka semua.

.

.

.

“Unnie kita harus mencari Taetae! Unnie ppali kita harus menemuinya!”

Tiffany berdiri setelah mendengar semua cerita Jessica. Yuri menahan gadis itu yang mulai terbawa emosi.

“Tiff tenanglah. Kami tahu dimana Taeyeon berada.”

“Maka dari itu ayo cepat menemui nya!” teriak Tiffany putus asa.

“Kalau kau ingin bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini, dia mungkin dalam keadaan bahaya. Tidak bisakah kau tenang? Kami juga tengah mencari cara.”  Ucap Sooyoung.

“Duduklah.” Pinta Yuri.

Tiffany duduk dengan lemas. “Taeyeon-ah…”

 

Di kejauhan seperti biasa ada mata yang mengawasi Tiffany. Kedua orang itu terlihat serius saat menangkap seseorang yang berjalan mendekati cafe dimana Tiffany berada.

“Zhou, bukankah itu ‘orang itu’?”

“Ya Tuhan! Kau benar. Dimana ponselku?” tanya Jieqiong.

Jieqiong merogoh saku celananya namun wajahnya terlihat panik. Dia merogoh sekali lagi dan tidak menemukan ponselnya.

“Oh tidak aku meninggalkannya di toilet tadi!”

“Aish! Bagaimana ini?”

Saat dilanda kebingungan, Cheng Xiao melebarkan matanya saat melihat empat sosok yang baru saja masuk ke cafe tempat Tiffany berada. Gadis itu mendapat ide.

Cheng Xiao mengambil ponsel baru yang dibelinya tak lama tadi dan dengan kecepatan super mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya ke nomor yang dihafalnya diluar kepala.

Seperti yang diperkirakannya, Tiffany dan ketiga temannya di cafe tersebut secara spontan menghilang sebelum ‘orang itu’ masuk kedalam cafe.

Jieqiong yang baru tiba setelah berlari menggunakan segenap kekuatannya untuk mengambil ponselnya di toilet terkejut mendapati orang yang diawasi mereka sudah tidak berada di tempatnya lagi.

“Dimana mereka?” tanya Jieqiong

Cheng Xiao tersenyum. “Mereka sudah aman.”

.

.

.

“Ya ya ya ya lepas! Siapa kalian hah?!” teriak Jessica begitu mereka sampai diluar.

Yuri dan Sooyoung meraih kerah kedua orang yang menyeretnya dan hendak memukulnya.

“Hentikan, Unnie!” teriak Tiffany.

“Eunseo, Rena sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany.

“Mianhae, Fany-ah. Mungkin kau tidak tahu, tapi kami melakukan ini demi kebaikanmu.”

Tiffany menaikkan alisnya.

“Mereka siapa, Tiff?” tanya Yuri.

“Kedua orang ini temanku. Dia Son Eunseo dan Rena Kang. Tapi kedua orang di sebelahnya aku tidak tahu.” Jawab Tiffany.

“Maafkan kami telah menyeret paksa kalian tadi. Kami benar-benar minta maaf. Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu.” Seorang yang tertua diantara mereka berbicara dengan ekspresi wajah yang sama, datar dan menundukkan kepalanya pamit.

“Aku akan memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi nanti.” Ucap Eunseo sebelum bergabung dengan ketiga teman mereka yang sudah pergi terlebih dahulu.

“Mereka aneh sekali.” Pikir Sooyoung. Yuri dan Jessica mengangguk mengiyakan.

“Sudahlah lupakan. Tiff, kau ada waktu besok? Mari kita bertemu lagi untuk membahas masalah ini.” Saran Yuri.

Tiffany mengangguk pasti. Dia sudah memutuskan untuk kembali lagi pada pemilik hatinya meski dia tahu tidak akan mudah untuk melewati masalahnya.

“Tapi Unnie. Bukankah kita juga butuh seseorang dengan kuasa yang sama besarnya dengan ‘orang itu’?” tanya Tiffany.

“Ah matta kau benar.”

Tak lama setelah Tiffany mengatakan hal tersebut ponsel Jessica berbunyi. Mata nya melebar melihat pesan yang tertera disana.

“Yul…” panggil Jessica lirih dan menyerahkan ponselnya pada Yuri.

 

 

 

 

 

 

 

“Ya benarkah tadi untuk kebaikan mereka?” tanya gadis berambut coklat setelah jarak mereka dengan Tiffany dan teman-temannya cukup jauh.

“Entahlah. Pacarku menyuruhku untuk membawa keluar mereka apapun yang terjadi. Aku tidak bisa menolak kalau tak ingin diputuskan.” Jawab Eunseo enteng.

Ketiganya terkekeh pelan mendengar jawaban Eunseo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Maapkaaan. Sebenernya gw udah nulis ini dari kemaren tapi lupa terus buat post nya. Next chap gak lama-lama lagi deh gw usahain.

Soooo what do u think of diz chap guyz? Gimme ur thoughts please…

Enterprischool (Chapter 12)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

.

Deru ombak bersahutan dengan semilir angin yang menerpa wajah Tiffany dan temannya. Setelah cukup lama berdebat mengenai tempat yang akan mereka kunjungi pertama, akhirnya pilihan Yoona menang. Gadis beagle itu senang bukan main. Sedangkan Seohyun hanya bisa menekukan bibirnya kebawah sepanjang hari. Namun setelah sampai di pantai, gadis paling muda itu justru begitu girang. Yoona saja dibuat heran.

“Yoong, buatkan aku istana pasir!” seru Seohyun.

“Shirheo.” balas Yoona singkat.

Seohyun menaikkan alisnya dan menekuk tangannya di depan dada.

“Im Yoona~” rengek Seohyun tiba-tiba seraya menarik lengan gadis beagle di depannya.

Yoona mendesah. “Minta dengan manis.”

Seohyun melepas tarikannya di lengan Yoona. “Geurae.”

Setelah itu, sang maknae mempersiapkan diri dan sedikit mengecek suaranya.

“Yoongie unnie~ buatkan hyunie istana pasir juseyooong~” ucap Seohyun dengan aegyo versinya disertai winkeu.

Namun reaksi Yoona adalah datar. Bukan maksud gadis itu untuk jahat, tapi aegyo Seohyun benar-benar gagal. Sedangkan Tiffany dan Jun yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa menahan tawanya.

Seohyun menghentakkan kakinya kesal dan pergi setelah melihat reaksi Yoona. Tanpa banyak berpikir, Yoona menarik tangan Seohyun hingga gadis itu berbalik.

“Arrasseo akan kubuatkan. Kau tunggu disini, ne?”

Senyum Seohyun kembali mengembang sempurna. Gadis itu mengangguk cepat. Entah mengapa Seohyun begitu manja hari ini. Yoona tak begitu memikirkannya asalkan sahabatnya itu senang.

“Kau mau bergabung dengan Yoong?” tanya Jun pada gadis di sampingnya.

“Kau duluan saja. Aku ingin mengambil sun block ku dulu.”

Jun mengangguk kemudian mulai bergabung dengan Yoona bermain pasir.

Tiffany hendak meraih sun block nya didalam tas ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi menandakan ada pesan yang baru masuk. Dia meraih ponselnya dan segera membukanya.

Dari nomor tidak dikenal.

 

Fany-ah, bogoshippo..

 

Hanya satu kalimat biasa, dari nomor tidak dikenal pula, namun dahsyatnya mampu membuat jantung Tiffany berdetak cukup kencang.

“TIPPANY-AH!” panggil Jun dari kejauhan.

Tiffany tersentak. “N-Ne!”

Gadis itu buru-buru meletakan ponselnya dan berbalik menuju arah teman-temannya.

Jun mengerutkan keningnya. “Mana sunblock mu?”

Mata Tiffany membulat. “Astaga aku melupakannya. Tunggu.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany berlari menuju tempat dimana tas dan perlengkapan mereka diletakan dan mengambil sun block miliknya. Dia tersenyum kaku pada Jun dan mulai memakainya. Dia juga mengoleskan sunblock nya pada Yoona dan Seohyun dengan dalih menghindari kontak mata Jun.

“Kau baik-baik saja, Tiff?”

Tiffany menoleh. “N-ne dangyeonhaji (tentu saja)”

***

Sooyoung terbangun saat mencium bau sesuatu dari luar kamarnya. Dia turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Sooyoung melihat sesosok manusia di pantry tengah melakukan sesuatu.

“Kau sudah bangun?” tanya orang itu pada Sooyoung.

“Hm. Bau makanan membangunkanku.”

Gadis itu terkekeh. “Yeoksi Choi Shikshin.”

“Bagaimana dengan manusia satu itu?” tanya Yuri kemudian.

“Kau tahu seperti apa dia saat tidur..”

 

“…tidak ada harapan.” ucap keduanya bersamaan kemudian tertawa bersama.

“Bukankah illegal membicarakan orang dibelakang?” tanya sebuah suara.

“OMO KKAMJAKKIYA!” terkejut Sooyoung.

Yuri menolehkan kepalanya kebelakang melihat apa yang terjadi kemudian tertawa.

“Ya Jung Sooyeon! Bisakah kau tidak mengejutkanku?” protes Sooyoung.

Jessica hanya menaikkan bahunya dengan wajah datar dan mendekati Yuri.

“Yul, na baegopa.” rengek Jessica seraya memeluk Yuri dari belakang.

Sooyoung berdecak. “Eish, siapa yang kemarin saling menjauhi dan bersikap dingin satu sama lain, uh?” sindir Sooyoung.

“Diam kau jerapah.” balas Jessica dengan suara kecil. Gadis itu masih sedikit mengantuk.

Yuri tersenyum dan membalikkan tubuhnya. “Tidurlah sebentar di sofa. Masakanku sebentar lagi matang.”

Tanpa banyak bicara, Jessica mengangguk dan berjalan menuju sofa. Saat berpapasan dengan Sooyoung gadis itu menjulurkan lidahnya mengejek. Sooyoung hanya bisa berdecak dan menggerutu.

“Kapan kita mulai melakukan operasi?” tanya Sooyoung sembari memakan snack yang tersedia di meja pantry.

“Hmmm, entahlah. Taenggu cukup sibuk minggu ini.” jawab Yuri.

“Kau tahu darimana?” tanya Sooyoung.

Yuri berbalik. “Kau ingat Kang Seulgi?”

Sooyoung mengangguk.

“Dia sekarang bekerja di perusahaan Taeyeon. Aku mendapat berbagai informasi dari dia.”

“Wah daebak! Kita tidak perlu menyamar untuk mendekati sarang musuh. Cukup andalkan dia saja.”

Yuri tersenyum. “Benar, kan.”

***

Kembali lagi dengan Tiffany, Jun, Yoona, dan Seohyun di pantai, dua orang misterius juga berada disana. Tidak lain dan tidak bukan tentu saja Ms. Zhou Jieqiong dan Ms. Cheng Xiao Xiao suruhan Taeyeon. Seperti biasa dua gadis itu mengawasi kegiatan Tiffany selama di China maupun di Korea dari kejauhan.

“Bukankah kau merasa pekerjaan ini begitu mudah?” tanya Jieqiong menggunakan bahasa kelahiran mereka, China.

Cheng Xiao mengangguk. “Kurasa masalah ini begitu sepele. Mereka saling mencintai, namun karena suatu sebab mereka harus berpisah.”

“Kau tahu apa penyebabnya?” tanya Jieqiong lagi.

Cheng Xiao tertawa. “Tentu saja.”

Mata Jieqiong membulat. “Bagaimana bisa…”

Cheng Xiao menoleh dan menatap Jieqiong dengan smirk. “Aku Cheng Xiao Xiao, mata-mata paling handal di China tentu saja menyelidiki latar belakang Kim Taeyeon terlebih dahulu.”

Jieqiong terkekeh. “Kau jenius.”

Cheng Xiao berdehem sebelum berbicara. “Jadi, kau mau mengganti rencana?”

“Sepertinya akan lebih menyenangkan.” jawab Jieqiong dengan senyum misterius.

***

Hari yang begitu sibuk, sama seperti hari sebelumnya. Terdapat proyek besar yang tengah dikerjakan Taeyeon dan company nya. Oleh sebab itu gadis mungil selalu sibuk belakangan ini.

Ponsel Taeyeon berbunyi. Gadis itu segera menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Yeoboseyo.”

“Taeyeon-ah!”

“Eo, Appa! Wae appa?”

“Nadamu terdengar tidak suka Appa menelepon.”

“Bukan begitu, Appa. Aku tengah sibuk dengan pekerjaan. Appa sendiri tahu Appa melimpahkan proyek besar kepadaku.”

Terdengar suara tawa di seberang.

“Arrasseo. Appa hanya ingin memberitahumu besok apa ke China. Appa merindukanmu uri ttal.”

Taeyeon tersenyum. “Aku juga merindukanmu, Appa. Kalau begitu sampai jumpa, Appa.”

“Ne. Kututup teleponnya. Himnae Taeyeon-ah!”

Taeyeon tertawa kecil. “Himnae!”

Setelah menutup telepon, Taeyeon kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dia hendak meraih kertas di depannya ketika pandangannya menangkap sebuah foto yang terpampang disana. Dia meraih foto dibalik figura tersebut dan memandangnya sendu.

“Ppany-ah, apa kau merindukanku juga? Kau terlihat bahagia tanpa ku.”

Taeyeon merasakan sesuatu mengalir di pipinya. Gadis itu tersadar dan segera mengusap airmatanya.

“Aah, mungkin karena stress aku jadi sering sekali menangis.”

“Fokus Taeyeon-ah! Semangat!”

Taeyeon menyemangati dirinya sendiri dan mulai melanjutkan pekerjaannya lagi.

Sedikit dia tahu, apa yang selama ini dia lakukan hanyalah membunuh dirinya sendiri secara perlahan. Mungkin dia bisa bisa hidup tanpa Tiffany, tapi hatinya tidak. Dan Taeyeon tidak menyadari itu semua. Itulah yang membuatnya menjadi seorang gadis yang begitu menyedihkan.

***

Setelah puas bermain di pantai, keempat sahabat itu beralih menuju pusat perbelanjaan. Kini giliran Tiffany yang begitu riang. Sedangkan Seohyun hanya bisa mengembuskan napasnya kasar. Dia sedikit kecewa karena keinginannya ke amusement park harus ditunda terlebih dahulu. Mereka baru akan pergi kesana besok. Yoona? Gadis itu tidak masalah selagi mendapatkan makanan enak.

Mereka berempat mengunjungi toko ke toko. Tentu saja itu kemauan Tiffany. Gadis itu tidak akan menyerah sebelum berhasil mendapatkan sesuatu yang menurutnya adalah style nya di setiap toko. Hasil belanjaannya pun luar biasa. Seohyun, Yoona, dan Jun hanya membawa masing-masing satu paper bag sebagai barang hasil belanjaannya.

Tiffany?

Gadis menakjubkan itu telah membawa paper bag dengan total 16 bag yang masing-masing dibawakan oleh ketiga temannya secara sukarela.

“Unnie geumanhae juseyo.” rengek Yoona.

“No, masih ada lima toko lagi yang belum ku datangi.”

“MWO?!” teriak mereka bertiga.

“Wae? Kalian sudah kuberi makan tadi. Harusnya kalian siap untuk shopping.” jawab Tiffany.

“Unnie, apa kau tidak melihat ini?” tanya Seohyun dengan menunjukan paper bag di tangannya.

“Tidak. Kajja kita pergi!” Tiffany mulai berjalan memimpin di depan.

“Ya Tuhan, tanganku mulai mati rasa.” keluh Jun karena pria itu membawa paper bag yang lebih banyak.

“Permisi. Apa kalian membutuhkan bantuan?” tanya seseorang pada mereka.

“Ya bodoh! Mereka belum tentu orang Korea! Gunakan bahasa China atau Inggris!” bisik teman disebelahnya namun masih bisa di dengar Seohyun, Yoona, dan Jun.

“Aah kami orang Korea. Gwaenchanha, kami bisa membawa sendiri.”

“Jinjjayo? Geurae tidak apa-apa. Kami bukan orang buruk. Kulihat kalian kesusahan membawa barang tersebut.”

“Oppa berikan saja. Kami lelah.” rengek Yoona.

Jun mendesah. “Baiklah jika tidak merepotkan kalian.”

Kedua orang asing tersebut tersenyum. “Sama sekali tidak.”

Mereka berlima mulai berjalan menyusul Tiffany di depan.

“Ireumi mwoeyo?” tanya Jun.

“Ah, Son Eunseo imnida. Dan ini teman saya Rena Kang.”

“Ah begitu. Namaku Choi Jun. Dan dua orang itu Im Yoona dan Seo Joo Hyun.”

“Ne, tapi aku lebih suka dipanggil Seohyun.” timpal Seohyun.

Mereka berlima mulai mengobrol berbagai hal layaknya teman lama. Suatu kebetulan bertemu orang Korea di China. Mungkin karena itulah mereka menjadi cepat akrab. Tiffany yang tadinya sibuk berbelanja juga dikenalkan pada mereka, dan menjadi akrab juga.

 

Seperti biasa di kejauhan. Jieqiong dan Cheng Xiao mengawasi mereka. Namun kali ini sedikit berbeda. Terdapat rasa kesal di wajah mereka melihat targetnya dengan dua orang asing. Lebih tepatnya kesal dengan dua orang asing tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya saya nulis juga 😔

Udah 2 bulan semenjak tulisan terakhir gw omaygawd. Miaanee, gw lupa masi punya tanggungjawab disini. Mian juga ga panjang. Kalian pasti pengen taeny cepet ketemu. Tapi berhubung ini tulisan pertama gw setelah beberapa abad mungkin ga etis cepet2 nemuin mrk wkwkwk.

Sooo how ’bout dis chap? Gimme ur thoughts everyone~

Enterprischool (Chapter 11)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

Tiffany, Jun, Seohyun, dan Yoona tengah bersiap melakukan perjalanan liburan pertama mereka ke China. Setelah berjam-jam berada di pesawat tidak membuat mereka kelelahan, justru sebaliknya. Jun memimpin perjalanan menuju penthouse keluarganya yang ada di China. Mereka sangat menikmati perjalanan, bahkan Yoona beberapa kali mengambil selca ataupun memotret pemandangan dari balik kaca mobil.

“Apa kalian senang?” tanya Jun.

“Neeee.” balas ketiga sahabatnya bersamaan.

“Oppa, saat kita sampai di penthouse mu nanti akan ada banyak makanan, geujeo?”

Jun tertawa pelan. “Kau tenang saja, Yoong. Aku sudah menyuruh salah satu maid disana untuk membeli baaanyak makanan.”

Yoona meninju tangan kanannya di udara dan berteriak ‘yes’. Seohyun hanya bisa memutar bola matanya malas dan kembali memainkan ponselnya.

Selama menit kedepan, mereka berempat hanya diam, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tiffany yang berada di samping Jun yang mengemudi mobil mengerutkan keningnya melihat gelagat aneh dari Jun.

“Jun, waeyo?” tanya Tiffany khawatir.

“Eo? Hmm.. aniya. Nan gwaenchanseumnida.”

“Geojitmal.” balas Tiffany.

“Benar aku tidak apa-apa, Fany-ah.” Jun menoleh sejenak ke arah Tiffany dan tersenyum. Berusaha meyakinkan sahabatnya.

Tiffany menghela napas. “Arrasseo.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya saat melihat mobil hitam di belakangnya. Namun Tiffany hanya mengangkat bahu dan memejamkan matanya, berniat beristirahat sejenak.

 

***

 

Jessica menelan ludahnya. Dia tidak biasanya bersikap takut seperti ini. Terlebih hanya karena kedua teman idiotnya.

Yuri dan Sooyoung masih menatap Jessica dengan pandangan penuh selidik.

“Sica, bekerjasamalah dengan kami. Itu akan membuat semua lebih mudah.” ujar Sooyoung setelah bermenit-menit Jessica melakukan excuses.

“Be- bekerjasama apa maksudmu.” Jessica masih keukeuh pura-pura tidak tahu.

“Tiffany dan teman-temannya sekarang berada di China.” ucap Yuri.

“MWO?!” teriak Jessica.

“Assa! Kau pasti tahu sesuatu!” Sooyoung berdiri dan menjentikkan jarinya.

“Katakan pada kami mengapa kau seterkejut itu mendengar Tiffany berada di China? Apa kau takut dia bertemu Taeyeon disana?”

Jessica menggigit bibir bawahnya. “A- Apa yang kau bicarakan.”

“Sepertinya kau tidak benar-benar menganggap kami sebagai sahabatmu selama 10 tahun ini, Jessica-ssi.” Yuri tertawa kecut. “Tidak ada bedanya dengan that asshole midget.”

Yuri bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ya Kwon Yuri! Mau kemana kau?!” teriak Sooyoung namun Yuri tak mengindahkannya.

Sooyoung mengembuskan napasnya kasar. Dia menatap Jessica tajam untuk yang terakhir kali. “If you ever consider us as a bestfriend, you never think twice to run over us when you face a problem. Itulah gunanya sahabat.”

Setelah itu, Sooyoung bangkit dan mengejar Yuri. Meninggalkan Jessica yang kini meneteskan airmata. Gadis dingin itu mengepalkan tangannya dan menangis terisak. “I’m screwed up everything.”

 

***

 

“Nona Kim, kami mempunyai kabar untuk anda.”

Taeyeon yang sedang duduk dan mengerjakan beberapa berkas mengangkat wajahnya dan mengerutkan keningnya. Gadis pendek itu berdiri dari kursinya dan mendekati kedua gadis di depannya.

“Duduk.” perintah Taeyeon.

Kedua gadis itu mengangguk dan melakukan apa yang Taeyeon suruh. Disusul Taeyeon.

“Kabar apa?” tanya Taeyeon to the point.

Gadis berambut hitam yang diketahui bernama Ms. Zhou Jieqiong menatap temannya, Ms. Cheng Xiao Xiao dan mengangguk.

Setelah dimintai Taeyeon untuk memata-matai kekasihnya, Tiffany kedua gadis itu segera melaksanakan tugasnya. Jieqiong dan Cheng Xiao memang biasa menangani masalah memata-matai seseorang, kelompok, bahkan company sekalipun. Dan mereka terkenal sangat baik dalam melakukan tugas. Maka dari itu Taeyeon menghubungi mereka.

“Ms. Tiffany tengah berada di China bersama teman-temannya untuk liburan.” ucap Cheng Xiao.

Taeyeon membulatkan matanya. Hanya mendengarnya saja sudah membuatnya sakit. Tiffany, gadis itu sudah banyak tersakiti olehnya. Taeyeon tersenyum kecut.

“Pastikan mata kalian untuk tetap mengawasinya selama berada disini.” ucap Taeyeon.

Kedua gadis di depannya mengangguk.

“Kalian boleh keluar.”

Lagi-lagi mereka mengangguk. Namun sebelum itu, Jieqiong meletakkan map yang sedari tadi dipegangnya di meja.

“Mungkin anda membutuhkan ini. Kami pamit.”

Setelah mengatakan itu, Jieqiong dan Cheng Xiao berlalu meninggalkan Taeyeon.

Taeyeon meraih map tersebut dan membukanya. Jantungnya berhenti sejenak saat pertama melihat apa yang ada didalamnya.

Foto-foto Tiffany yang tengah tertawa bahagia bersama teman-temannya. Dibaliknya juga terdapat nomor ponsel baru Tiffany. Tanpa sadar Taeyeon menitikkan airmatanya. Jujur gadis itu begitu merindukan kekasihnya. Amat sangat merindukan Tiffany.

“Fany-ah..” lirih Taeyeon dengan suaranya yang serak.

 

***

 

Hyoyeon duduk disamping Hyejin yang tengah serius menatap layar laptop didepannya. Gadis blonde itu meletakkan mug berisi coklat panas di meja dekat laptop milik Hyejin.

“Kau bekerja terlalu keras, Hyejin-ah.”

“Eo.. gomawo Hyo.” ucap Hyejin.

Hyoyeon mengangguk. “Negara mana lagi yang akan kau kunjungi?” tanya Hyoyeon sembari menyesap coklat miliknya.

“Entahlah, kontrak dengan salah satu company di Jepang yang gagal membuatku mengurungkan niat untuk menyebarkan brand ku di overseas.”

Hyoyeon tertawa pelan. “Jelas saja gagal. Company yang akan kau ajak kerjasama itu merupakan company besar. Tentu saja mereka tidak akan mau bekerjasama denganmu.”

“Ya! Kau mengejekku ya?!”

“Kalau iya memang kenapa?” balas Hyoyeon dengan senyuman menantang.

Hyejin mendecakkan lidahnta sebelum menerjang Hyoyeon dan memukuli gadis blonde dengan membabi buta.

“Aw aw aw ya ya stop it! Aww yaa Hyejin-ssi aww..”

“Rasakan itu!”

“Okay okay mianhae okay. So please stop it.”

Hyejin menghentikkan pukulannya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Hyoyeon terkekeh. “Kau jangan putus asa. Satu company menolakmu mungkin saja beratus company akan menerimamu.”

Hyejin tersenyum. Dia memeluk Hyoyeon dengan erat.

“That’s my Hyonie.”

Hyoyeon tersenyum. Dia mengusap pelan punggung Hyejin.

“Jin-ah..” panggil Hyoyeon.

“Hm?”

“Kurasa aku ingin berbaikkan dengan saudariku.”

Hyejin melepaskan pelukannya dan menatap tak percaya me arah Hyoyeon. “Jeongmalyo?”

Hyoyeon mengangguk. “Tetap saja dia saudariku. Unnie satu-satunya yang kumiliki. Tidak seharusnya kakak-beradik bermusuhan benar?”

Hyejin tersenyum senang. Dia memeluk Hyoyeon sekali lagi.”Aku akan membantumu. Terimakasih sudah membuka hatimu pada Taeyeon.”

 

***

 

“Oppa, ayo kita ke amusement park!” seru Seohyun.

Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang tengah untuk membahas tempat mana yang akan mereka kunjungi.

“Aniya. Aku ingin ke pantai.” seru Yoona tak ingin kalah.

“Noo. Aku ingin ke pusat perbelanjaan.”

Ketiganya menoleh ke arah Tiffany.

“Wae? Apa yang salah?” tanya Tiffany yang merasa diserang.

Ketiganya menggelengkan kepalanya bersamaan dan melakukan aktivitasnya semula.

“Pokoknya aku ingin ke pantai.” keukeuh Yoona.

“Aniya, lebih menyenangkan amusement park!”

“Lebih baik ke pusat perbelanjaan!”

Jun menghela napasnya melihat tingkah ketiga sahabatnya yang terus berdebat. Dia menundukkan kepalanya di meja, tak ingin ikut perdebatan mereka.

“Jun! Kau setuju ke pusat perbelanjaan kan?” tanya Tiffany.

Merasa namanya dipanggil, Jun mengangkat kepalanya dan menatap Tiffany. “Aku..”

“Oppa! Kau lebih setuju ke pantai, kan?” sela Yoona.

“Oppa! Amusement park saja!”

Jun menutup matanya sejenak dan mengembuskan napasnya kasar.

“Yedeura kita bisa pergi ke pantai, amusement park, dan juga pusat perbelanjaan. Jadi jangan meributkan hal ini lagi, oke?”

“Arrasseo. Tapi pertama-tama kita ke amusement park terlebih dahulu.”

“NOOO PANTAI TERLEBIH DAHULU.”

“Kau bicara apa? Tentu saja pusat perbelanjaan terlebih dahulu.”

Jun memegang kepalanya yang pusing melihat mereka berdebat lagi. Dia bangkit dari duduknya dan pergi darisana. Jun memilih pergi ke taman belakang penthousenya. Dia duduk di kursi panjang disana seraya memijit pelipisnya.

Craaack

Jun terkejut mendengar suara tersebut. Dia berdiri dan berlari ke sumber suara.

“Siapa disana?!” teriak Jun.

Pria itu berlari untuk melihat namun yang dia dapat hanya kosong. Tidak ada siapapun disana.

“Isanghae..” gumamnya.

 

 

 

 

 

“Bodoh! Sudah kubilang jangan terlalu dekat!” Gadis berambut warna ungu menyalahkan temannya.

“Aku tidak tahu ada ranting didepanku!” bela gadis berambut hitam.

“Yedeura geumanhae. Yang terpenting kita tidak ketahuan.” ucap gadis yang paling tua diantara mereka.

“Tetap saja yang tadi itu hampir saja. Ini semua salah dia.” Gadis berambut ungu masih tak terima.

“Aku kan sudah meminta maaf!”

“Stop okay? Lebih baik kita pulang kerumah.” ujar gadis tertua. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Woooow long time no see wkwkwk. Udah sebulan lebih hampir dua bulan malah baru post. Sorry se sorry sorry nyaa. Gw bener2 baru sempet bikin hari ini. Mungkin sehabis ujian2 selese gw bakal fokus rampungin ini fic. Masih pada mau nunggu kan? T.T

And guess what? Yup gw nambahin cast disini. Cuman buat selingan doang sih krna ini fic kan hampir kelar. Ga mengganggu cast utama kok tenang aja.

Okayy pai pai yorobun~ see u next chippie and don’t forget to leave comment~

 

 

 

Enterprischool (Chapter 9)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

“Apa kabar, Kim?”

Taeyeon menegang mendengar suara tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dengan sangat pelan. Menelan ludahnya saat penglihatannya menangkap seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hyejin..”

Hyejin tersenyum miring. “Jadi apa kau masih mengingat ucapanku waktu itu? Siapa yang kau curigai?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia membulatkan matanya saat gadis yang dia kejar berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti disamping Hyejin.

“H- Hyoyeon-ssi.” gumam Taeyeon.

Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon kemudian ke arah Taeyeon. “Benar. Dia Kim Hyoyeon. Seseorang yang kau curigai akhir-akhir ini. Apa aku benar?”

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk menjawab ‘ya’.

“TaeTae!” teriak Tiffany. Namun Taeyeon masih berdiri kaku ditempatnya.

Tiffany berlari mendekat ke arah Taeyeon dan memegang lengannya. “Ya! Mengapa kau berlari dan meninggalkan belanjaanku?!”

Taeyeon masih diam. Tiffany mengerutkan keningnya. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon dan terkejut saat melihat mantan kekasih Taeyeon dan seorang gadis blonde yang tidak diketahuinya. Mungkin kekasih Hyejin Unnie yang baru?

“Ah, biar kutebak. Dia pasti kekasih bocahmu, hm?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Dia ingin sekali berteriak kesal di depan wajah mantan kekasih Taeyeon itu. Enak saja mengatakan dia bocah. Kalau dia bocah, bagaimana dengan Hyejin? Nenek tua? Tiffany memutar bola matanya malas.

Tiffany tersenyum saat menemukan ide. Mengapa dia tidak meminta Jessica menyusul mereka kemari? Melihat Taeyeon yang hanya diam membisu seperti orang idiot tidak akan membantu. Setelah mengetik beberapa kalimat untuk dikirimkan ke Jessica, Tiffany menoleh ke arah Hyejin dan gadis unknown disampingnya.

“Hyejin Unnie. Apa kau keberatan untuk mentraktir kami ice cream? Aku ingin tahu bagaimana rasanya makan ice cream bersama mantan kekasih kekasihku.” Tiffany tersenyum mengejek.

Dia bisa melihat Hyejin mengeraskan rahangnya. Namun tak berselang lama. Hyejin tersenyum manis dan mengangguk. “Call!”

Mereka berempat pada akhirnya naik ke lantai atas, ke kedai ice cream favorit Taeyeon. Mereka memesan ice cream yang berbeda satu sama lain. Taeyeon masih tetap diam seperti orang dungu. Tiffany beberapa kali menyuapi kekasihnya itu karena hanya diam.

“Hyejin! Hyoyeon-ssi!”

Mereka berempat serentak menoleh ke arah suara dolphin yang memekakkan telinga.

“Sica!” Hyejin berdiri dan berlari menghampiri Jessica. Gadis itu memeluknya dengan erat.

“Oh my Gosh! Kenapa sulit sekali menghubungimu, huh?” Jessica berkata setelah melepas pelukan mereka.

“Mianhae. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sibuk merintis usaha baruku.” balas Hyejin dengan wajah menyesal.

“Wow! Kau jadi membuat brand mu sendiri?” tanya Jessica berbinar. Mereka seakan melupakan keberadaan tiga orang dibelakangnya.

“Yeah. Bersyukur Hyonie mau membantuku.”

Jessica menolehkan pandangannya ke arah Hyoyeon yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.

“God! Hyoyeon-ssi!” Jessica berlari kecil lalu memeluk Hyoyeon.

“Kau apa kabar? Sudah sangat lama terakhir kita bertemu.”

Jessica melepas pelukannya dan mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.

Hyoyeon tertawa. “Kau tahu orang seperti apa diriku ini.” Hyoyeon membanggakan dirinya sendiri.

“Chill! Kau harus mentraktirku dinner mewah kali ini. Awas saja kau.” Jessica terkekeh begitu juga Hyoyeon.

Taeyeon menatap interaksi mereka bertiga dengan wajah dungu. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Tiffany hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. Dia pikir kalau seperti ini Jessica tidak akan membelanya nanti.

“Unnie..” panggil Tiffany lirih. Sedari tadi Jessica melupakan keberadaannya.

“Oh hey, Tiff. Kau disini juga?”

Tiffany meringis. Bukankah dia sendiri yang meminta Jessica kemari?

Tiffany tersenyum palsu dan mengangguk kaku. Benar. Jessica pasti tak akan membelanya dan melindunginya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka bersama kedua sahabat konyol Taeyeon.

“Taenggu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Jessica yang menyadari wajah tak biasa sahabatnya.

Taeyeon menggeleng. “Gwaenchanha.”

Sore itu mereka isi dengan perbincangan yang menyenangkan. Sebenarnya bukan keseluruhan mereka, namun hanya Jessica, Hyejin, dan Hyoyeon saja. Sedangkan Taeyeon dan Tiffany hanya diam menyaksikan ketiganya berbincang. Jessica seakan melupakan masalah dan keresahan Taeyeon. Padahal saat ini kedua orang yang diduga menjadi informan berada tepat di depannya.

Taeyeon merasakan sakunya bergetar. Dia merogoh sakunya dan meraih ponsel berlogokan apel tergigit dan membukanya.

Sebuah pesan. Dari sahabatnya, Yuri.

Taeng, masalah besar! Tiffany dikeluarkan dari sekolah. Cepat ke kantor!

 

Mata Taeyeon melebar, bahkan terlihat hampir copot. Dia berdiri dengan cepat dan menarik tangan kekasihnya untuk keluar darisana. Tiffany yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunjukkan wajah bingungnya. Jessica berteriak memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Taeyeon.

“TaeTae sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany setelah mereka berada di mobil Taeyeon.

Gadis yang lebih tua tak menjawab apapun. Wajahnya berubah datar dan dingin. Tiffany sampai ketakutan melihat Taeyeon yang seperti ini. Bahkan gadis itu mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiffany hanya bisa menggenggam erat sabuk pengamannya.

Taeyeon menghentikan mobilnya di depan rumah Tiffany. Gadis yang lebih muda bersyukur mereka sampai dengan selamat.

“Masuklah kedalam.” ucap Taeyeon dingin tanpa menatap Tiffany.

Tiffany menundukkan kepalanya dan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Tiffany membuka pintu mobil dan keluar. Tak lama setelah itu mobil Taeyeon segera berbalik dan melaju dengan cepat. Tiffany menghela nafasnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi pada kekasihnya.

 

“What the f*ck! Apa maksudmu, Kwon Yuri?!” semprot Taeyeon setibanya ia di ruangannya.

Dia melihat Yuri dan Sooyoung yang menunjukkan wajah frustasi dan prihatin. Masalah mereka terus saja bertambah pelik.

Taeyeon menarik kerah kemeja Yuri. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kali ini!”

Yuri melepas tangan Taeyeon di kerah kemejanya dengan kasar.

“Bisakah tak memasukkan emosi saat ini, hah?” teriak Yuri. Dia kesal dengan Taeyeon yang tak bisa menahan emosinya. Dia pikir Taeyeon sudah berubah. Mereka tahu tabiat Taeyeon yang kasar dan pemarah semenjak sekolah dasar.

“Hey hey hey, kita berkumpul disini bukan untuk bertengkar. Chill!” Sooyoung menengahi.

Yuri mengembuskan nafasnya kasar. Dia melonggarkan dasi miliknya dan duduk di sofa tanpa melihat Taeyeon. Dia masih kesal.

“Kau saja yang menjelaskan, Soo.” ucap Yuri. Sooyoung mengangguk.

“Kumohon kau tenanglah terlebih dahulu, Taeng. Dan jangan memasukkan emosi setelah aku selesai menjelaskan.” pinta Sooyoung.

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

“Tiffany dikeluarkan karena masalah Daddy nya.. kau tahu.. tuduhan penggelapan dana itu dan.. k- karena dia g- gay. Sekolah tak mau Tiffany merusak nama baik mereka.” jelas Sooyoung.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengerang dan memukul meja didepannya hingga buku-buku jarinya memerah. Dia tidak peduli tangannya sakit dan lebam.

“F*ck!” umpatnya.

***

Hal tersebut tak butuh waktu lama sampai di telinga Tiffany. Gadis itu terduduk lemas dengan tatapan kosong. Daddy nya menatap puterinya dengan pandangan menyesal. Dia meminta maaf telah menyebabkan puterinya dikeluarkan dari sekolah. Pria paruh baya tersebut memeluk puterinya yang disusul isakkan dari gadis brunette. Tiffany menangis sesenggukan.

Keesokan harinya, Tiffany mengurung dirinya di kamar. Daddy nya terus membujuk puterinya untuk keluar dan sarapan bersama. Namun Tiffany tak menghiraukan dan memojokkan dirinya di pinggiran ranjang. Air matanya telah kering. Bahkan hingga sore hari Tiffany tak kunjung keluar. Hal itu membuat Daddy nya cemas. Dia teringat kunci cadangan yang ada di rak. Daddy Hwang membawa nampan berisi makanan dan membuka pintu kamar puterinya. Dia melihat Tiffany masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Jujur hal itu membuat hati Daddy Hwang sakit.

“Stephy, makanlah dulu, nak. Kau belum makan seharian.” pinta Daddy Hwang.

“Taruh saja di meja. Daddy boleh keluar.” ucap Tiffany dengan suara seraknya.

“Tapi, Steph-…”

“Daddy.. please..”

Daddy nya menghela nafasnya dan mengangguk. Beliau berdiri dan menaruh nampan berisi makanan di meja samping ranjang. Lalu mulai keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Setelah Daddy nya pergi, Tiffany menangis. Lagi.

Hal itu berlangsung selama tiga hari. Tiffany sama sekali tak keluar dari kamarnya. Daddy Hwang bertambah khawatir. Sebenarnya dia juga memiliki kegiatan untuk mencari pekerjaan lagi, tapi mengingat puterinya yang seperti itu mengurungkan niatnya.

Daddy Hwang mendengar bunyi bel. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria muda tersenyum kearahnya seusai dia membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Choi Jun imnida, teman Tiffany.” Jun membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa Tiffany dirumah, paman?” tanya Jun.

Daddy Hwang memandang Jun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian menghela nafasnya.

Daddy Hwang mengangguk. “Namun sudah tiga hari ini Stephy tidak keluar dari kamarnya. Dia pasti sangat shock dan sedih.” Daddy Hwang berkata dengan nada sedih.

Jun membulatkan matanya. Dia tidak mengira sahabatnya akan seperti ini. “P- Paman, bolehkah aku bertemu dengannya? Aku akan mencoba berbicara dengan Tiffany.” pinta Jun.

“Baiklah. Kuharap kau bisa membujuknya keluar.” Daddy Hwang menepuk bahu Jun dan mempersilakan Jun masuk kedalam.

Daddy Hwang membuka pintu kamar puterinya dan mempersilakan Jun masuk. Beliau kemudian pergi, membiarkan Jun membujuk puterinya.

“Tiff..” panggil Jun.

Tiffany mendongakkan wajahnya dan melihat Jun. Dia diam sebelum suara isakkan keluar dari mulutnya. Jun terkejut dan segeta berlari memeluk sahabatnya.

“Sssst. Gwaenchanha. Everything’s gonna be alright.” Jun mengelus punggung Tiffany. Sedangkan gadis brunette menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jun dan terus menangis terisak.

Sementara diluar kediaman Tiffany, seorang gadis mungil tengah menatap kosong kedepan di dalam mobil mercedes nya. Dia menghela nafas saat ucapan sahabatnya terngiang di kepalanya. Dan saat gadis itu menangkap sebuah motor sport berwarna hitam yang familiar, dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berbalik. Dengan perkataan sahabatnya yang melingkari kepalanya menemani perjalanan gadis mungil.

Taeyeon berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia amat tahu Tiffany pasti sangat sangat membutuhkannya saat ini. Namun dia tak ingin menunjukkan wajah sedihnya jika harus berhadapan dengan kekasihnya. Dia harusnya bisa menyemangati gadis brunette, tapi sepertinya hal itu tak bisa ia lakukan. Terlalu sakit membayangkan keadaan Tiffany untuk saat ini. 

Jessica masuk kedalam ruangannya dengan membawa berkas. Taeyeon menerimanya dan mulai membukanya. Taeyeon pikir Jessica akan keluar setelah menyerahkan berkas. Dia mendongak dan melihat Jessica menatapnya dengan serius. 

“Wae?” tanya Taeyeon. 

“Tinggalkan Tiffany.” ucap Jessica langsung tanpa basa-basi. Jelas saja hal itu membuat Taeyeon marah. 

“Why the hell, Jess!” Taeyeon menatap Jessica dengan berapi-api. 

Jessica menghela nafasnya. “Kau..” Jessica menunjuk Taeyeon dengan telunjuknya. “Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu membuat kehidupan Tiffany berangsur memburuk?” 

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya. 

“Apa maksudmu?” 

“Sebelum kau bersamanya, kehidupan Tiffany begitu mulus tanpa masalah apapun. Dan pada saat dia menjalin hubungan denganmu, satu persatu masalah muncul. Apa kau tidak pernah berpikir kearah sana?” Jessica menatap Taeyeon dengan dingin. 

Taeyeon diam. Jessica benar. 

“Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Taeyeon lemah. 

“Tinggalkan Tiffany. Aku tahu itu pasti sakit untukmu dan juga Tiffany. Tapi aku lebih sakit melihat Tiffany yang sudah kuanggap adikku sendiri menderita. Taeyeon.. bisakah?” Jessica menatap Taeyeon dengan tatapan memelas. 

Jujur dia sakit melihat sahabatnya semenjak bayi merasa sedih, tapi dia juga tak ingin mengorbankan adik kesayangannya juga jika mereka terus memaksa bersama.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. “Akan kucoba.”

Jessica memutari meja kerja Taeyeon dan memeluk sahabatnya. “Ini yang terbaik, Taenggu.”

***

Sebulan telah berlalu. Keadaan Tiffany semakin membaik dari hari ke hari. Dia sudah mulai membuka dirinya lagi dan bersikap ceria, seperti biasanya. Dan selama itulah Tiffany tak bertemu Taeyeon. Jujur hal itu membuatnya kecewa. Harusnya kekasihnya yang datang dan menyemangatinya. Namun dia tak merasa marah berlebih pada gadis mungil itu. Dia mencoba berpikir bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi terakhir kali dia melihatnya, Taeyeon terlihat sangat stress.

“Jun-ah, antarkan aku ke kantor ahjumma. Pleaasee.” pinta Tiffany pada Jun yang tengah bermain ke rumahnya dan menemaninya karena Daddy Hwang pada akhirnya mendapat pekerjaan lagi semenjak dua minggu yang lalu.

“Arra arra. Tapi..” Jun menunjuk pipi kanannya dengan senyum jahil.

Tiffany tertawa pelan. Dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Jun bermaksud mengecupnya. Namun detik kemudian Jun menolehkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Tiffany melebarkan matanya.

Jun melepas kecupannya dan tersenyum.

“Kajja!” ajaknya dan mulai berjalan menjauhi Tiffany.

Sementara gadis brunette masih diam ditempatnya dan merasakan pipinya yang terasa panas.

Tiffany tak berbicara selama perjalanan. Dia masih merasa malu dengan kejadian tadi. Dia tahu dia harusnya kesal pada Jun yang mencuri kecupannya. Namun dia tak bisa melakukan itu karena dia sendiri merasa jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkan kejadian tadi.

Sesampainya mereka di kantornya, Tiffany bertanya kepada resepsionis yang sama saat pertama kali dia datang di kantor Taeyeon.

“Unnie. Apa Taeyeon Unnie di ruangannya?” tanya Tiffany dengan semangat.

Wanita di depannya menunjukkan wajah sedihnya. “Maafkan aku, nona. Tapi sajangnim sudah hampir sebulan ini berada di China. Sepertinya sajangnim akan bekerja di anak perusahaan disana.”

Jawaban sang resepsionis tentu saja membuat jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi. Dia mengucapkan terimakasih kemudian mulai berbalik. Dia membuka ponselnya dan mulai menghubungi Taeyeon. Namun yang didengarnya hanya suara operator. Dia mencoba lagi dan suara operator yang menyapa pendengarannya.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Sudah lebih dari tiga puluh kali Tiffany mencoba menghubungi Taeyeon dan hasilnya tetap sama. Dia hampir menangis karena kekasihnya tak kunjung menjawab panggilannya. Dia mencoba sekali lagi dan suara operator kali ini meruntuhkan segalanya. Nomor kekasihnya sudah tidak terdaftar lagi. Itu berarti Taeyeon telah mengganti nomornya, tak lama tadi.

Perlahan airmata kembali menetes di pipi Tiffany. Jun yang melihatnya panik dan segera memeluk Tiffany.

“Dia meninggalkanku hiks~”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah ter-updatekan!

Eotte? Badai lagi kan muahahahaha *evillaugh

Okayy gw tunggu komen kece2 kalian *cyailah wkwkwk

Bubye~ see u next chap~

Enterprischool (Chapter 8)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Taeyeon mengerang seusai membuka matanya. Dia menekan belakang kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya ia jatuhkan ke sekitar tempatnya berada, masih di ruang rahasia. Dia melihat sahabat-sahabatnya tengah tertidur dibawahnya. Taeyeon bangun dari tidurnya.

“Eoh, kau sudah bangun, Taeng?” Taeyeon mendengar sebuah suara dan menoleh ke belakang. Ternyata Jessica.

Taeyeon mengangguk.

Jessica berbalik dan mengambil segelas air untuk Taeyeon. Selanjutnya bergabung bersama Taeyeon dan menyerahkan air tersebut. Taeyeon menerimanya dan langsung meminum dengan sekali teguk.

“Gomawo.” ucap Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi.. bisakah kau tak usah mabuk? Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Tiffany. Kau lupa pernah berjanji padanya, Taeng?”

Taeyeon menghela nafas. Jessica benar. Dia sudah berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mabuk lagi.

“Mianhae.” lirih Taeyeon.

Jessica menghela nafas. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Menepuk punggungnya bermaksud menenangkan. Jessica adalah sahabat terbaiknya. Taeyeon beruntung memiliki Jessica.

“Tak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Kau istirahatlah lagi, hm”

Taeyeon menggeleng. “Dimana Tiffany?”

“Dia pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barangnya.”

“Tiffany akan menginap disini?”

“Untuk beberapa hari kedepan.. ya. Dia ingin terus berada disisimu katanya.”

Taeyeon melepas pelukkan mereka. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jessica. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Taeyeon menarik tangan Jessica untuk mengelus kepalanya. Dia sangat suka jika Jessica mengelus kepalanya seperti saat ini.

“Sica-ah..”

“Hm?”

“Kau ingin tahu siapa seseorang yang ku curigai?”

Jessica menatap Taeyeon yang ada dibawahnya. “Tentu saja. Mereka pasti juga ingin mengetahuinya.” Jessica menunjuk kedua sahabatnya dengan dagu.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. Dia menerawang jauh kedepan.

“Dia Kim Hyoyeon. Semua berawal saat kami masih sekolah menengah pertama.”

Taeyeon mulai menceritakan semuanya kepada Jessica. Bahkan hingga sangat detail. Jessica mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali gadis blasteran itu mengerutkan kening lalu mengangguk di sela cerita Taeyeon.

“Jadi seperti itu. Sampai sekarang aku tak juga berhasil menemukannya.”

Taeyeon melihat Jessica yang sibuk dengan ponselnya. Dia berteriak karena mengira Jessica tidak mendengarkannya.

“Maksudmu Kim Hyoyeon ini?” tanya Jessica seraya menunjukkan ponselnya dimana terdapat sebuah foto.

Mata Taeyeon membesar. Walaupun sudah dua belas tahun lamanya, wajah Hyoyeon masih terlihat sama. Mungkin beberapa terlihat berbeda. Namun Taeyeon yakin foto tersebut adalah Hyoyeon.

“B- Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taeyeon tak percaya.

“Aku baru ingat Hyejin memiliki seorang teman baik sewaktu sekolah dasar. Dan mendengar nama Kim Hyoyeon mengingatkanku pada temannya Hyejin ini.”

Jessica dan Hyejin memang dekat, sama seperti kedua sahabatnya. Hal itu karena Taeyeon pernah menjalin hubungan dengan Hyejin untuk waktu yang cukup lama.

“T- Tapi Hyejin tak pernah memberitahuku tentang Hyoyeon.”

“Kami tak sengaja bertemu waktu itu. Hyoyeon-ssi sedang ada acara di Seoul. Dan wow, kau tahu Taeng.. dia adalah pemilik Univere Company!”

Taeyeon menelan ludahnya. Univere Company adalah perusahaan asal Canada yang sangat terkenal. Dia tak mengira pemilik perusahaan tersebut adalah Hyoyeon sendiri.

“Itu semakin menguatkan pendapatku kalau dia ingin membalas dendam padaku.” ujar Taeyeon.

“Kau jangan berpikiran negatif dulu, Kim. Yang kulihat Hyoyeon-ssi adalah gadis yang sangat baik dan menyenangkan. Dia lucu. Aku saja langsung menyukainya di tempat pertama saat melihatnya.”

“Kau benar. Aku hanya merasa.. tak tahu siapa yang harus disalahkan.”

“Jamkkanman! Hyejin teman baik Hyoyeon! Itu berarti.. kemungkinan mereka ada di tempat yang sama. Taeng, mari kita mencari mereka berdua!”

Taeyeon menatap Jessica dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Tak lama kemudian dia tersenyum. Entah karena kebetulan atau memang takdir. Taeyeon senang karena Hyejin dan Hyoyeon ternyata bersahabat. Dia butuh mereka berdua untuk menuntut penjelasan.

***

Taeyeon kini sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiffany benar-benar menepati ucapannya untuk tinggal bersama Taeyeon beberapa hari ini. Bersyukur Daddy nya mengijinkan. Dia percaya Taeyeon mampu menjaga anak gadisnya.

Taeyeon bersama Jessica dan juga kedua sahabatnya kini juga berusaha mengumpulkan informasi tentang Kim Hyoyeon. Sangat sulit mencari alamat gadis blonde tersebut karena orang yang bekerja di perusahaannya pun tidak tahu dimana bos mereka tinggal. Namun mereka tidak menyerah. Dia harus menemukan Hyoyeon, dan kalau bisa Hyejin juga.

“Ahjumma!” teriak seseorang.

Taeyeon yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya melihat kedepan. Tepat beberapa meter darinya berdiri seorang Tiffany Hwang dengan eyesmile nya. Dia juga melihat seorang pria jangkung di belakang Tiffany yang tak lain adalah Jun. Taeyeon sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Jun lagi. Dia percaya Jun bukanlah orang yang akan merebut kekasihnya. Pria itu terlihat baik di mata Taeyeon saat ini.

“Kau kemari?” tanya Taeyeon yang dibalas anggukan semangat dari kekasihnya.

“Unnie, mian kami terlambat. Yoong tadi membeli makana- eoh joesonghamnida!” Taeyeon memiringkan kepalanya untuk melihat seorang gadis dengan seragam sama seperti Tiffany menunduk sopan. Dia terkekeh melihat wajah gadis tersebut karena malu.

“Oh. Ahjumma, aku belun memperkenalkan teman baikku yang satu ini. Dia Seohyun dan yang disampingnya Yoona.”

“Aah.. kau gadis sepeda itu kan?” tanya Taeyeon. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kekasihnya.

“Ne, majayo. Terimakasih telah menyelamatkan saya malam itu.” Seohyun menunduk lagi.

“Aih tak apa, jangan terlalu formal Seohyun-ssi. Huumm kalian ada apa kemari?” tanya Taeyeon.

“Tiffany Unnie bilang Ahjumma akan mentraktir kami semua makan.” jawab gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona.

“Yoong, jaga sikapmu!” bisik Seohyun seraya menepuk bahu Yoona.

Taeyeon yang melihatnya tertawa pelan.

“Bolehkan, ahjumma?” pinta Tiffany dengan puppy-eyesnya.

Taeyeon tersenyum. “Arrasseo. Kalian ingin makan dimana?”

“Yeheyy!” teriak Yoona girang.

“Yoong!” Seohyun menepuk bahu Yoona lagi. Kali ini lebih keras. Semua yang ada disana tertawa melihat kedua sahabat tersebut.

Mereka pun keluar dari ruangan Taeyeon. Sebelum itu, Taeyeon menarik Tiffany dan dengan cepat mengecup bibir kekasihnya. Beruntung mereka berdua di belakang, dan bisa dipastikan ketiga teman Tiffany tidak akan melihat.

“Yaish ahjumma!” Tiffany menepuk dada Taeyeon dan menutupi wajahnya. Dia berjalan cepat menyusul temannya karena malu. Taeyeon terkekeh pelan melihatnya.

Seusai mentraktir teman-teman Tiffany makan siang, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Taeyeon menjadi teringat masa-masa saat menjadi pelajar SMA dulu. Yoong sangat lucu dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon. Mereka juga membuat squad saat di restauran tadi. Yoong menyebutnya, squad gwiyomi. Gadis jangkung itu berkata, Taeyeon dan dirinya adalah makhluk paling cute seantero Korea Selatan.

Taeyeon tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Tiffany yang duduk disampingnya mengerutkan keningnya.

“TaeTae, kau masih waras kan?”

Taeyeon makin tertawa renyah. “Aku hanya teringat saat makan siang tadi. Temanmu yang bernama Yoong sangat lucu.”

“Aah, Yoong memang seperti itu. Dia gadis yang unik.” Tiffany terkekeh membayangkan kebodohan dan kelucuan Yoona.

“Ah jamkkanman. Kau tak keberatan mampir sebentar di mall? Aku ingat persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.”

“Gwaenchanha, TaeTae. Aku juga ingin shopping.”

Taeyeon membulatkan matanya. Dia juga menelan ludahnya. Tiffany dan shopping adalah satu kesatuan yang dapat menimbulkan bencana. Selain dompetnya akan terkuras, tenaga, serta waktunya juga akan terforsir. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan nafasnya pelan.

“Neeeh gadisku yang cantik.” ucap Taeyeon terpaksa.

Tiffany tersenyum senang. Dia mendekat dan mengecup pipi Taeyeon. “Gomawoyongg, TaeTae~” aegyeo Tiffany.

Taeyeon memarkirkan mobilnya di basement. Dia mematikan mesin mobil dan berdehem.

“Sebelum keluar, berikan aku vitamin harianku dahulu.” ujar Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya. “Vitamin harian?”

Taeyeon menatap Tiffany kemudian menarik belakang kepala gadis tersebut. “Ini..”

Kemudian Taeyeon meraih bibir pink kissable kekasihnya dan melumatnya. Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Dia mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan gadis yang lebih tua menarik pinggang Tiffany untuk mendekat.

Mereka berbagi ciuman cukup lama. Tiffany yang mulai kehabisan oksigen melepas ciuman tersebut. Namun tak berselang lama, Taeyeon menempelkan bibirnya lagi. Melumat bibir yang menjadi candunya dengan sangat intim. Tiffany tahu Taeyeon merindukan dirinya. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri. Menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Taeyeon melepas ciuman tersebut. Saliva mereka terhubung satu sama lain. Nafas mereka juga terengah.

“One more..” bisik Taeyeon kemudian mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany sampai kewalahan menghadapi ciuman Taeyeon yang terkesan ganas.

Tiffany mendesah saat Taeyeon menghisap lehernya. Menjilat lalu menghisap dan menggigitnya.

“T- Taeyeonhh~”

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dia mencium gadisnya dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Aah~” Keduanya melepas ciuman mereka.

Mereka menatap satu sama lain dengan senyum lebar.

“Kajja kita keluar.” Taeyeon keluar terlebih dahulu. Dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

“Gomawo.” senyum Tiffany.

Taeyeon dan Tiffany mulai berjalan bersama menuju mall. Pertama membeli bahan dapur terlebih dahulu. Banyak yang harus Taeyeon beli. Setelah selesai, mereka pergi ke tempat pembayaran. Taeyeon meminta barang mereka dipaketkan, karena tidak mungkin Taeyeon membawa semuanya.

Setelah membayar dan menyerahkan alamat apartemennya, Taeyeon segera mengikuti kekasihnya yang akan menguras habis dompet dan tenaganya.

Mereka terus mengitari seluruh penjuru mall. Tentu saja dengan berpuluh-puluh belanjaan. Kaki Taeyeon sampai terasa pegal. Dia tidak mengeluh, demi kesenangan gadisnya.

“Woaah~ kyeopta. TaeTae belikan aku sepatu ini!” Mata Tiffany berbinar saat melihat sepatu bermerk dengan warna pink. Dia melihat sekilas harga sepatu tersebut. Dan hal itu membuatnya menelan ludah. Harga tersebut sama dengan harga ponsel keluaran terbaru.

“N-ne. Ambil saja.” ucap Taeyeon.

Tiffany makin tersenyum. Dia mengecup pipi Taeyeon dan membawa sepatu tersebut ke tempat pembayaran. Taeyeon menghela nafasnya pelan. “Hwaiting!”

Setelah empat jam berkeliling mall dan segudang belanjaan yang Tiffany peroleh, mereka berdua akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Taeyeon merasakan tangannya sudah mati rasa karena membawa barang belanjaan Tiffany yang banyaknya diluar nalar. Dia terus menyemangati dirinya sendiri dan terus mengikuti Tiffany dibelakang.

Saat menuruni eskalator, mata Taeyeon tak sengaja menangkap seorang gadis blonde yang tengah menaiki eskalator di sampingnya. Dia tidak terlalu mempedulikan hingga saat dia selesai menuruni eskalator, Taeyeon terhenyak. Gadis itu menjatuhkan semua belanjaan kekasihnya dan langsung berbalik. Menaiki eskalator dengan berlari. Dia tidak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya.

“Ahjumma! TaeTae!” teriak Tiffany dibawah namun Taeyeon tak menghiraukan kekasihnya.

Ada hal yang jauh lebih penting saat ini. Taeyeon berlari mencari gadis blonde sesaat setelah selesai menaiki eskalator. Taeyeon mengerang.

“Sial! Dimana kau, Kim Hyoyeon!” umpat Taeyeon dengan terus berlari mencari Hyoyeon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Satu chapter terselesaikan. Pffiuuh~

Chap ini gaada badai yes. Dan sorry kalo pendek kaya taeng #plak

Gw mau sedikit ngebacot gpp kali ya. Gw tau kalian pasti masih pada butthurt gegara berita sooseotiff leave SM. Gw jg sedih sih, bahkan nangis #bhakbukaaib. Tp mau gmna lagi, itu udh keputusan mrk. Sbg fans kita cuma bisa dukung, ye ngga?

Dan gw gak bakalan tutup wp ato berhenti nulis. Biarin taeny terus hidup di dunia fanfic walaupun di dunia nyata masih kabur atau ga jelas kabarnya.

Gw juga mohon bantuannya. Kalo semisal gw post fic bukan taeny jan pd nganggep gw gak cinta taeny lagi. Of course gw LS dan gak ada yg bisa nggantiin mrk di salah satu tempat yg khusus buat mrk di hati gw. Tapiii, nge-ship idol lain jg bukan dosa atau kesalahan kan? Gw suka eunxiao juga. Itu jauuh sebelum ada berita itu, jd gak ada kaitannya klo pda ngira gw selingkuh krna taeny gak produktif (?) lagi.

So guys how ’bout the story above? Komen juseyoo~ satu komen dr kalian sangat berharga bagi gue.

Last but not least, entsch bakal end ga nyampe dua puluh chapter. Dan kayak biasa, diupdate tiap minggu. Masih bnyak cerita taeny yg nangkring di kepala gw, makanya gw rampungin ini fic dulu baru bkin fic lain.

Okayy pupye~ see u next chap or fic~

Enterprischool (Chapter 7)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany menaikkan selimut untuk Taeyeon hingga sebahu. Dia menatap wajah polos kekasihnya yang tertidur sehabis mabuk. Mengecup keningnya lalu beranjak dari tempat Taeyeon dan menyalakan ponselnya. Dia harus memastikan ucapan Taeyeon saat mabuk tadi benar atau tidak. Gadis brunette mencari kontak Daddy nya dan mulai menghubunginya.

“Daddy!”

“Hey, Steph. Ada apa?”

Tiffany menelan ludahnya. “B- Benarkah Dad.. dy dipecat?”

Hening.

“Daddy?”

“Ahaha tak apa, Daddy bisa mencari pekerjaan lain, sayang.”

Tiffany meremas ponselnya. Wajahnya memerah. “Apa yang menyebabkan Daddy dipecat?”

“Aah itu hmm.. kontrak! Ya, kontrak Daddy dengan perusahaan habis.”

Bohong.

Tiffany tahu Daddy nya bohong. Itu tidak sama seperti apa yang Taeyeon bilang saat mabuk. Orang yang mabuk biasanya berkata jujur, benar?

“Mengapa tidak memperpanjang?” tanya Tiffany mengikuti alur kebohongan Daddy nya.

“Hmm itu p- perusahaan memberi Daddy waktu untuk memperpanjang t- tapi Daddy lupa dan D- Daddy tidak bisa memperpanjang lagi..”

“Arrasseo, Daddy. Lebih baik Daddy gunakan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.”

“Ne, Stephy. A- Annyeong.”

Tiffany tak membalas dan langsung menutup panggilannya.

Tiffany hendak naik keatas untuk berganti pakaian saat dia mendengar suara di ruang keamanan. Dia mulai masuk dan melihat komputer yang menampilkan sahabat kekasihnya baru saja memasuki apartemen. Dia menekan tombol mic dan berbicara.

“Unnie, Ahjumma. Ruang rahasia!”

Tiffany melihat Yuri, Sooyoung, dan Jessica berhenti berjalan dan mendengar pengumuman dari dirinya. Setelah itu mereka mulai menaiki tangga.

Tak lama untuk ketiganya memasuki ruang rahasia Taeyeon.

“Kau disini?” tanya Jessica seraya menurunkan tas tangannya di meja di dekatnya. “Dimana Taeyeon?” lanjut Jessica.

Tiffany menunjuk sofa di depannya dengan dagu, tepat dimana Taeyeon tengah tertidur.

“Tae Ahjumma habis mabuk…” ucap Tiffany. “…dan dia mengatakan semuanya.” lanjut Tiffany.

Ketiga sahabat Taeyeon menghela nafasnya.

“Maafkan kami. Itu pasti berat untukmu.” ucap Jessica. Yuri dan Sooyoung mengangguk mengiyakan.

Tiffany menggeleng. “Itu bukan salah kalian, bukan juga salah Ahjumma.” Tiffany menatap kekasihnya yang tertidur dengan damai.

“Kalian keberatan jika mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tiffany. Dia melihat ketiga orang di depannya diam.

“Please..” Tiffany memohon kali ini.

Yuri menatap kedua sahabatnya dan mengangguk. “Biarkan dia tahu masalah ini.”

Jessica menghela nafasnya lagi. “Lakukanlah.”

Setelah mengatakan semuanya, Tiffany merasa bersalah pada kekasihnya. Dia pasti merasa tertekan dengan ini semua. Tak terbanding dengan rasa tertekannya saat siswa di sekolahnya mengoloknya. Dia merasa menjadi kekasih yang tak berguna.

“TaeTae..” gumamnya seraya melihat Taeyeon yang masih tertidur.

“Aku tahu dia gadis yang tangguh. Kau tidak perlu khawatir. Pikirkanlah dirimu sendiri, Tiff. Sekali lagi kami meminta maaf karena menjadi penyebab Daddy mu dipecat.” ucap Jessica seraya mengusap bahu Tiffany.

Tiffany menggeleng. Dia menatap Jessica serius. “Kalian bilang Hyejin Unnie pernah mengatakan bahwa orang terdekat Taeyeon yang melakukan ini?”

Jessica mengerutkan keningnya lalu mengangguk.

“Kuncinya ada di Hyejin Unnie! Mengapa kalian tidak bertanya padanya?!”

“Kami juga ingin, Tiff. Tapi Hyejin entah dimana sekarang. Kami bahkan kesulitan mencarinya.”

Tiffany mengembuskan nafasnya kasar. Dia memijit pelan pelipisnya.

“Kita tunggu Taeyeon bangun. Dia bilang dia mencurigai seseorang dan kita berniat menyelidikinya.” kata Sooyoung.

***

Gadis kecil dengan rambut diikat kuda menatap danau luas di depannya dengan tatapan kosong. Tangannya memegang sebuah foto. Dia mengalihkan pandangannya ke arah foto. Percakapannya dengan Lee Eomonim terulang di kepalanya.

“Hyonie, kau ingin mendengar sesuatu?” tanya Lee Eomonim.

Hyoyeon yang terkenal sangat aktif dan selalu melemparkan lelucon untuk menyenangkan anak-anak lain langsung tersenyum dan mengangguk semangat.

“Sebenarnya kau memiliki saudara, Hyonie-ya..”

Senyum Hyoyeon langsung pudar seketika. “Saudara?”

Lee Eomonim menatap Hyoyeon lalu mengangguk.

“Suatu hari di musim panas, kau dan saudaramu ditemukan di depan panti bersama sepucuk surat dan perlengkapan bayi lain..” Lee Eomonim memberi jeda sejenak.

“Di surat tertulis namamu dan nama saudaramu. Ibu kalian meminta maaf karena menyerahkan kalian kemari dan juga.. mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Ibu kalian tak bisa mengurus kalian dan memilih bunuh diri seperti yang dijelaskan di surat..”

“Eomma..” gumam Hyoyeon. Matanya memerah.

Lee Eomonim menghapus airmata di pipi Hyoyeon dan tersenyum lemah.

“Tiga hari setelahnya, seorang pria kaya mengadopsi saudaramu.. tanpamu..”

Hyoyeon menghapus sisa airmatanya dan menatap Lee Eomonim. “Wae?”

Lee Eomonim menggeleng. “Pria itu mengatakan hanya ingin mengadopsi satu anak. Kami pada awalnya tidak mau, karena kalian pasti akan terpisah. Tapi pria itu terus memaksa hingga kami menyerah.”

Lee Eomonim mengambil sesuatu di tas nya. Sebuah foto. Dia menyerahkannya pada Hyoyeon.

“Itu saudaramu, Hyonie-ah. Eomonim ingin setelah kau pindah bersama orangtua barumu, kau mau mencari Unnie mu, karena dia adalah satu-satunya anggota keluargamu.”

Hyoyeon menggeleng. “Hyo tidak mau! Unnie meninggalkan Hyo. Untuk apa Hyo mencari Unnie?!”

“Saat itu kalian masih bayi, Hyonie. Unnie mu tak tahu apa-apa.”

Hyoyeon menangis. Dia tidak tahu harus senang atau marah mengetahui hal tersebut. Dia lalu berlari dari panti menuju danau yang terletak tidak jauh dari panti. Dia menatap kosong danau tersebut. Matanya beralih menatap foto yang diberikan Lee Eomonim tadi. Dia membalikkan foto tersebut dan melihat tulisan.

Kim Taeyeon & Kim Hyoyeon

 

Sebulan kemudian, Hyoyeon diadopsi sepasang suami isteri yang masih terlihat muda. Dari dandanan dan mobil yang mereka pakai, mereka bukanlah orang sembarangan.

Hyoyeon menunduk 90° dan tersenyum sopan. Pasangan tersebut tersenyum akan kesopanan Hyoyeon.

“Kau sangat sopan, nak. Siapa namamu?” tanya wanita di depannya.

“Kim Hyoyeon imnida.” Hyoyeon menunduk lagi.

“Ahh Hyoyeon-ah.. kami akan menjadi orangtuamu sebentar lagi.” ucap wanita tersebut dengan tersenyum.

“Ne, Lee Eomonim sudah mengatakannya kepada saya. Terimakasih karena mengadopsi saya.”

Kedua pasangan tersebut tersenyum dan mengangguk. Mereka pikir mereka telah menemukan anak yang tepat untuk mereka.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah Hyoyeon lewati bersama keluarga kecilnya. Dia bahagia bisa merasakan bagaimana dicintai seorang Ibu dan Ayah seperti yang pernah diceritakan teman-temannya sewaktu kecil. Hyoyeon sekarang mulai memasuki sekolah menengah pertama.

Dia sedikit sedih mengetahui temannya sedari sekolah dasar tidak satu sekolah dengannya dikarenakan pindah kota. Dia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan tersenyum. Hari pertamanya sekolah harus berakhir menyenangkan.

“Hoi hoi hoi semangat Hyo!” Hyoyeon menyemangati dirinya sendiri.

Dia lalu turun dan melihat Appanya sudah mengenakan pakaian formal dan tengah sarapan.

“Eomma.. Appa..” Hyoyeon mengecup pipi Eomma dan Appa nya bergantian lalu mulai bergabung untuk sarapan.

“Kau siap untuk sekolah, kawan?” tanya Appa nya.

“Tentu saja, Appa!” senyum Hyoyeon.

“Baiklah. Habiskan sarapanmu lalu kita akan berangkat.”

Hyoyeon mengangguk dan menyelesaikan sarapannya.

Setelah selesai, Hyoyeon dan Appanya mulai memasuki mobil. Appa nya mengantarkan puterinya ke sekolah barunya terlebih dahulu.

“Belajar yang rajin, Hyonie.” kata Appa Park.

“Ne, Appa. Hyo berangkat. Annyeong.”

Setelah mengecup pipi Appanya, Hyoyeon mulai turun dari mobil. Di perjalanan menuju kelasnya, Hyoyeon melihat seorang laki-laki tengah dibully oleh beberapa anak, dia melihat satu perempuan diantara anak yang membully. Hyoyeon melihat perempuan tersebut seperti pemimpin geng.

Hyoyeon hendak mengacuhkannya namun dia terhenyak saat menyadari sesuatu. Dia segera membuka tasnya dan mengambil foto dari Lee Eomonim. Hyoyeon bergantian melihat foto dengan perempuan tadi. Meskipun di foto mereka masih bayi, tapi Hyoyeon melihat kemiripan diantaranya.

Hal tersebut makin mengejutkan Hyoyeon saat teman laki-laki perempuan tersebut memanggilnya.

“Taeyeon-ah, dia tak mempunyai apa-apa. Kita cari yang lain saja.”

Perempuan tersebut memutar bola matanya malas.

Hyoyeon sedikit yakin perempuan didepannya adalah Unnie nya. Maka dia harus memastikan hal itu.

“Kim Taeyeon!” teriak Hyoyeon. Geng tersebut menoleh ke arah Hyoyeon, terutama perempuan yang dipanggil Taeyeon tadi.

“Kau memanggilku?” tanyanya dengan menaikkan alisnya.

Hyoyeon mengangguk. Anak laki-laki yang tadi dibully menatap Hyoyeon dan menggeleng. Hyoyeon yakin Taeyeon adalah seorang brandal.

Taeyeon tertawa pelan. “Kau salah menyebutku. Aku..” Taeyeon menunjuk dirinya sendiri. “Han Taeyeon.. dan bukan Kim.” Dia lalu menatap Hyoyeon tajam.

Hyoyeon menyeringai. Dia lalu menggeleng. Dia tak takut dengan berandal-berandal semacam Taeyeon. “Kurasa kau adalah Kim.. Kim Taeyeon.. anak adopsi.”

Taeyeon melebarkan matanya karena terkejut. Dia mengeraskan rahangnya dan menatap Hyoyeon tajam. Teman laki-lakinya berbisik dibelakang Taeyeon. Hal itu membuat Taeyeon marah. Dia mendekati Hyoyeon dan meraih kerah seragam Hyoyeon.

“Siapa kau?!” desis Taeyeon.

Hyoyeon masih tetap tenang. “Ternyata benar kau Kim Taeyeon. Huh, aku tak menyangka kau seburuk ini.”

Hyoyeon melepas genggaman Taeyeon di kerahnya dengan kasar dan berjalan menjauh. Taeyeon hendak membalas Hyoyeon namun bel masuk berbunyi menghentikan langkahnya.

“Awas saja kau! Aku akan membalasmu!” teriak Taeyeon dan tak dihiraukan oleh Hyoyeon.

Seperti yang dikatakan Taeyeon, gadis itu benar-benar melakukan balas dendam. Dia selalu mengerjai Hyoyeon setiap hari. Namun gadis itu sama sekali tak peduli dan bersikap acuh. Satu yang diketahui Hyoyeon, rasa benci ke Taeyeon kian tumbuh. Meskipun dia yakin dan sadar Taeyeon adalah saudaranya, Unnienya, keluarganya, satu-satunya keluarga.

Hyoyeon memutar bola matanya malas saat melihat geng Taeyeon. Dia membalikkan tubuhnya tak ingin berurusan dengan Unnienya.

“Ya! Berhenti kau disana!”

Hyoyeon tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus berjalan. Gadis berambut pendek mengerang. Dia menyuruh anak buahnya untuk mengejar Hyoyeon dan menariknya ke belakang sekolah. Hyoyeon tentu saja melawan. Namun tenaganya kalah kuat karena tiga orang laki-laki menyeretnya. Mereka mendudukan Hyoyeon dibawah pohon. Taeyeon berdiri berkacak pinggang disana.

“Kau tak mengindahkan ultimatumku untuk pindah dari sini, huh?!” Taeyeon menarik rambut Hyoyeon. Gadis yang lebih muda meringis.

“Siapa kau menyuruhku, huh? Sekolah ini bukan milikmu!”

Taeyeon makin kesal. Dia menarik rambut Hyoyeon dengan keras. Tentu saja Hyoyeon berteriak.

“Kau berani melawanku?”

Hyoyeon meringis. “Aku tak tahu setelah keluar dari panti akan seperti ini kelakuanmu, Kim Taeyeon.”

“Berhenti memanggilku Kim Taeyeon!” teriak Taeyeon.

Hyoyeon mendorong tubuh Taeyeon.

“Nyatanya kau memang Kim Taeyeon! Apa harta ayah angkatmu membuatmu seperti ini, hah?!”

Taeyeon membuka mulutnya. Dia melihat teman-temannya yang mulai menatap Taeyeon dengan tatapan berbeda. Dia menelan ludahnya. Dia tidak siap dan tidak mau rahasianya terbongkar disini. Di depan teman-temannya. Dia juga bingung bagaimana gadis yang baru ditemuinya mengetahui hal tersebut.

Hyoyeon mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia lalu melemparkan fotonya bersama Taeyeon tepat diwajahnya. Taeyeon mengambil foto tersebut dan terbelalak. Dia yakin bayi di foto tersebut adalah dirinya. Benar-benar mirip dengan beberapa foto bayinya yang ada di rumahnya. Dia melihat tulisan dibalik foto tersebut.

“Kim Taeyeon dan Kim Hyoyeon..” lirih Taeyeon.

Dia melihat kedepan, namun sudah tak menemukan Hyoyeon lagi. Dia berlari sekuat yang dia bisa untuk mencari Hyoyeon. Taeyeon melihat Hyoyeon yang masuk kedalam mobil. Dia juga sedikit melihat pria yang menjemputnya. Dia sedikit paham pria tersebut adalah Tuan Park, rekan bisnis Appanya.

Saat dia berlari ke arah mereka, mobil Tuan Park sudah melaju. Taeyeon terus berlari dan berteriak. Namun usahanya sia-sia. Kecepatan mobil tak sebanding dengan kecepatan larinya.

Hari selanjutnya, Taeyeon sudah tidak menemukan Hyoyeon di sekolah. Gurunya bilang Hyoyeon sudah pindah. Hal itu membuat Taeyeon menyesal. Dia berhutang penjelasan. Siapa Hyoyeon dan apa hubungannya dengannya?

Hingga Taeyeon tumbuh besar, dia sama sekali tak melihat Hyoyeon lagi. Dia sudah berusaha semampunya mencari Hyoyeon dan Tuan Park. Namun hasilnya sia-sia. Appa nya bilang Tuan Park pindah ke luar negeri dan tidak tahu tepatnya dimana. Appanya juga mengatakan mereka sudah lama lost contact.

Taeyeon merasa tak ada harapan lagi. Dia hanya ingin meminta maaf atas perbuatannya dan menanyakan hubungan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Another flashback everyone~

Kuharap kalian masih nungguin ini cerita.

So how bout the chapter above? Tell me tell mee~

Pupye~ see ya next chap or fic~

Enterprischool (Chapter 6)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Wajah Tiffany terus ia tundukkan mulai dari gadis itu duduk di depan Daddy-nya. Tangannya ia remas dibawah meja sesekali menggigit bibir bawahnya. Sedangkan disampingnya duduk, Taeyeon masih diam dengan menatap lurus kedepan, ke arah Daddy Tiffany. Tak dipungkiri dia kini juga gugup setengah mati. Pasalnya ini kali pertamanya bertemu langsung dengan Daddy Hwang.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi tadi, Steph?” Setelah cukup keheningan, Daddy Hwang bersuara.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. “S- Sebenarnya.. Taeyeon.. aku..”

“Tiffany adalah kekasih saya, Tuan Hwang.”

Tiffany menoleh ke arah sampingnya dengan terkejut. Sementara Daddy Hwang menatap tajam Taeyeon.

“Sejak kapan?” tanya Daddy Hwang dingin. Taeyeon berusaha sekuat mungkin agar tidak gugup dan memunculkan sisi percaya diri nya.

“Setahun yang lalu.” jawab Taeyeon.

Daddy Hwang memejamkan matanya dan memijat pelipisnya. Dia mengerang pelan karena puteri bungsu nya membuatnya pusing bukan main. Dia tidak melarang puterinya memiliki hubungan khusus dengan orang lain, tapi kenapa harus sesamanya? Dan lagipula wanita di depannya ini yang ia ketahui adalah direktur di sekolah puterinya. Usia mereka juga terpaut cukup jauh.

“Akhiri hubungan kalian.” ucap Daddy Hwang yang sukses membuat kedua wanita di depannya terkejut.

“Andwae! Stephy mencintai Taeyeon, Dad! Stephy tidak mau berpisah dengan Taeyeon!”

“Kau masih remaja, Steph. Daddy tahu kau masih bimbang menentukan dia benar-benar cintamu atau bukan.”

Tiffany menggeleng dengan cepat. “Bukan Stephy yang memilih hal ini terjadi, tapi hati Stephy, Dad. Stephy yakin Stephy benar-benar menyukai- ani- mencintai Taeyeon.”

“Maaf, Tuan Hwang. Tapi kami berdua saling mencintai. Ini tulus dari hati kami yang terdalam. Saya mohon berikan izin kepada kami.” tambah Taeyeon. Tiffany mengangguk mengiyakan.

Daddy Hwang menghela nafasnya kasar. “Ku berikan kau satu kesempatan. Tapi kalau aku melihat puteriku tersakiti karenamu. Aku tak segan-segan memisahkan kalian.” ucap Daddy Hwang pada akhirnya.

Kedua pasangan tersebut melengkungkan senyumnya.

“Thanks, Dad!”

“Terimakasih telah memberikan kesempatan, Tuan Hwang.”

 

Tiffany memainkan kancing piyama Taeyeon saat mereka kembali berbaring di ranjang Tiffany. Setelah sedikit tegang menghadapi Daddy nya, gadis itu merasa bebannya terangkat. Dia pikir Daddy nya tak akan memberikan mereka izin. Tapi ternyata tidak, dia bernafas lega karena itu.

“TaeTae, berjanjilah setelah ini kau akan terus bersamaku. Bahkan sampai tua sekalipun.” ucap Tiffany dengan mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon tertawa pelan. Dia mencubit hidung bangir kekasihnya. “Aku berjanji, sayang. Setelah kau lulus nanti aku akan menikahimu.”

“Aniya! Tunggu aku lulus kuliah.” Tiffany menepuk dada Taeyeon.

“Wae? Lebih cepat lebih baik, kan?”

“Lebih baik untukmu karena kau bisa bebas melakukan hal dengan tubuhku!” Tiffany mempoutkan bibirnya.

“Percaya padaku, itu sangat menyenangkan, sayang.” Taeyeon terkekeh pelan dengan ucapannya sendiri.

“Hentikan! Jangan membuatku cemburu pada mantan kekasih atau partner one night stand mu yang super banyak!” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi kekasihnya.

“Kau marah?” tanya Taeyeon pelan.

“Ne!”

Senyum liar mengembang di kedua bibir Taeyeon. Dia mencolek bahu Tiffany bermaksud menggodanya.

“Kalau marah mengapa menjawab pertanyaanku, hm?”

“Aaaa~ menyebalkan~ aku benci ahjumma!”

Taeyeon tertawa melihat tingkah kekasihnya. Dia kemudian memeluk Tiffany dari belakang dan mengecup lehernya, dilanjutkan ke pipinya.

“Saranghae, baby. Jalja~”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon memajukan wajahnya pada Tiffany dan mengecup ujung bibirnya. Kemudian mulai memejamkan matanya dengan tangannya yang masih memeluk pinggang kekasihnya. Tiffany tak bisa berbuat apa-apa tapi tersenyum. Dia membalikkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir Taeyeon dan menyamankan tubuhnya di pelukan gadisnya.

***

“Aku pulaaang~”

Taeyeon meletakan tas ranselnya ke sofa dengan pandangannya yang mengitari mansion megah tersebut.

“Nona muda. Anda pulang?” sapa salah satu butler di mansion itu.

Taeyeon mengangguk. “Dimana Appa?”

“Tuan sedang di taman belakang, nona muda.” jawab butler itu sopan.

“Arrasseo, aku akan kesana.”

Taeyeon berjalan santai ke belakang mansion megah milik Appa angkatnya. Dia jarang tinggal di mansion tersebut semenjak menjabat sebagai Presdir di perusahaan Appanya. Hal itu membuat Appa nya sedih, namun Taeyeon berjanji akan menginap beberapa malam setiap sebulan sekali. Seperti yang dilakukannya saat ini.

“Appa!” teriak Taeyeon dengan tersenyum. Meskipun bukan ayah kandungnya, namun Taeyeon sangat mencintai Appa nya itu.

“Taenggu~ Ya Tuhan, kau masih saja pendek, nak!”

“Ya Appa!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya membuat sang Appa tertawa karenanya.

“Kemarilah. Peluk Appa mu ini.”

Taeyeon tersenyum dan berlari memeluk Appa nya.

“Bogoshippo, Appa.” kata Taeyeon di pelukan pria paruh baya tersebut.

“Nado, bocah tengil Appa.”

Taeyeon melepas pelukannya dan menatap tajam Appanya yang dengan santai menaikkan alisnya.

“Aku hampir 25 tahun asal Appa tahu.” Gadis imut melipat tangannya di depan dada dan mendengus.

“Bagi Appa kau masih Taeyeon kecil Appa. Sudahlah ayo kita masuk. Kau mau sup buatan Appa?”

“Call!” girang Taeyeon dan melompat menaiki punggung Appanya untuk digendong. Appa Han hanya bisa tertawa dan menggendong puterinya dengan berlari.

 

“Bagaimana pekerjaan?” tanya Appa Han saat mereka tengah makan malam bersama.

“So far so good. Hanya saja kemarin ada sedikit masalah di bagian bahan baku, tapi tenang saja, puteri Appa ini sangat handal menanganinya.” jawab Taeyeon dengan bangga.

“Baguslah. Itu baru puteri Appa. Lalu bagaimana dengan kekasihmu?”

Taeyeon tersenyum lebar saat Appanya menanyakan kekasihnya. Hanya memikirkan Tiffany saja mampu membuat perutnya berbunga-bunga.

“Kami baik-baik saja. Aku berencana menikahinya saat dia lulus nanti. Apa Appa tak keberatan?”

Appa Han sedikit berdehem karena tersedak. Dia meminum air putihnya sebelum berbicara. “Kau ini suka sekali mengejutkan Appa, ya? Ckckck kalau itu keputusanmu, Appa bisa apa, hm?”

Taeyeon menunjukkan senyum lebarnya lagi. Dia bangkit dan memutari meja kemudian duduk di samping Appanya dan memeluknya.

“Gomawo, Appa. Kau yang terbaik!”

Appa Han ikut tersenyum dan balas memeluk puteri kesayangannya.

***

Taeyeon menguap seraya meregangkan tubuhnya. Dia mengusap matanya kemudian meraih ponselnya yang mengganggu tidurnya dengan sedikit kesal. Hari ini dia berangkat sore hanya untuk memimpin rapat. Paginya bisa ia gunakan untuk tidur. Namun bunyi ponselnya kali ini membuatnya mengurungkan niatnya karena terlanjur kesal.

“Yeoboseyo!” teriak Taeyeon tanpa melihat ID Caller nya.

“Hey slow down, buddy!” ucap sebuah suara di seberang sana.

“Ada apa kau meneleponku pagi buta seperti ini, Soo?”

Terdengar helaan nafas di seberang sana.

“Daddy Tiffany dipecat.” 

“WHAT?!” Mata Taeyeon terbelalak. Rasa kantuknya hilang seketika.

“Aku baru dapat informasi tak lama tadi. Anakan JXK Corp, Doelim Inc memecat Tuan Hwang karena dituduh melakukan penggelapan dana dari klien dan jaksa agung. Kau bisa ke kantor kita sekarang? Sudah ada Sica dan Yul disini.” 

“Tunggu aku 30 menit, Soo.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon menutup telepon dan segera berlari ke kamar mandi kemudian bersiap.

Taeyeon turun dari tangga dengan tergesa. Dia melihat Appa nya tengah membaca koran di sofa. Dia tidak sempat mendekati ayahnya dan berjalan cepat ke arah pintu sebelum Appa nya menyadarinya.

“Hey, Taeng. Kau mau kemana?” tanya Appa Han.

“Kantorku. Ada sedikit masalah!” teriak Taeyeon sebelum pintu utama tertutup sempurna.

 

“Bagaimana bisa Tuan Hwang dipecat?!” tanya Taeyeon frustasi setibanya ia di kantornya.

Jessica menggeleng. “Mata-mata kita tidak tahu pasti. Tapi mereka sering melihat orang-orang JXK bolak-balik ke Doelim sebelum Tuan Hwang dipecat.”

“Jadi maksudmu mereka melakukan konspirasi untuk menjebak Tuan Hwang?”

“Kita tak tahu pasti, Taeng.” ujar Yuri lemah.

“Selidiki kasus ini. Aku yakin Tuan Hwang tidak pernah melakukan penggelapan dana. Setahuku beliau adalah orang yang sangat bertanggungjawab.” perintah Taeyeon.

“Tapi ini akan sedikit sulit, Taeng. Meskipun kita tidak tahu dalang dibalik semua ini, tapi yang jelas orang itu memiliki kekuasaan penuh dan dia bukan orang sembarangan.” kata Sooyoung.

“Sooyoung benar. Dan maaf mengatakan ini, tapi Tuan Hwang telah dicabut lisensi nya sebagai pengacara.” tambah Jessica.

“Ya Tuhan! Masalah apalagi ini?!” Taeyeon meremas rambutnya dan memejamkan matanya erat.

“Tapi, Taeng. Aku merasa bukan Young Woo dibalik ini semua. Kau tahu sendiri kan Young Woo tak memiliki saham sepeserpun di sekolah Fany? Tapi mengapa dia bisa mengambil alih posisimu? Yang kedua, perusahaan kecil milik Young Woo bisa merger dengan JXK Corp, itu adalah hal yang luarbiasa sekali. Perusahaan kita saja sangat sulit untuk merger dengan mereka.” Sooyoung mengutarakan pendapatnya.

“Jadi maksudmu ada seseorang yang mengendalikan Young Woo? Dengan kata lain menjadikan Young Woo sebagai boneka?” tanya Taeyeon.

Sooyoung mengangkat bahunya. “Who knows?”

Taeyeon tiba-tiba teringat perkataan Hyejin yang menyuruhnya berhati-hati dengan orang-orang terdekatnya. Dia menatap ketiga sahabatnya bergantian dengan intens kemudian menggeleng.

“Tidak! Tidak mungkin mereka! Lalu siapa lagi?” batin Taeyeon. Matanya terpejam berusaha berpikir.

Taeyeon terhenyak dan melebarkan matanya saat teringat sesuatu.

“Apakah Kim Hyoyeon?” tanyanya dalam diam.

***

Tiffany memainkan kakinya yang menggantung dibawah booth dan memakan eskrim nya dengan lahap. Setelah sekolah usai, Jun menawarinya berjalan-jalan sebentar di taman dan memakan eskrim disana. Tentu saja Tiffany langsung menerimanya. Dia menjadi ketularan Taeyeon yang sangat menggilai eskrim.

“Jun-ah, gomawooo~” ucap Tiffany dengan tersenyum.

“Terimakasih untuk?”

“Berkat kau, aku jadi tidak mendengar olokan atau ejekan lagi di sekolah.”

Jun tersenyum seraya mengacak rambut Tiffany.

“Sama-sama, babi kecil.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya karena Jun memanggilnya babi kecil. Namun tak berlangsung lama. Dia mengangkat bahunya dan kembali memakan eskrimnya dengan lahap.

“Yah kau benar-benar seperti anak kecil. Lihat! Ada eskrim di sudut bibirmu.” ucap Jun dan sedikit berdecak.

“Dimana?” Tiffany mencoba membersihkan eskrim di sudut bibirnya namun selalu tak kena karena memang ia menjilatnya salah.

“Aish dasar babi kecil. Ikeo disini.” Jun mengusap sudut bibir Tiffany dengan ibu jarinya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan canggung. Jun menatap lurus ke arah bola mata Tiffany, begitu juga sebaliknya. Seperti magnet, Jun mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany yang masih terdiam, tersesat di kedua bola mata Jun.

Saat berjarak satu senti lagi, tiba-tiba ponsel milik Tiffany berbunyi. Mereka segera menjauhkan wajah masing-masing karena tersadar. Tiffany sedikit berdehem sebelum mengangkat telepon.

“Ne ahjumma.”

“….”

“Arrasseo. Tunggu aku 15 menit.”

“….”

“Annyeong.”

Tiffany menutup panggilan dan meletakan ponselnya kedalam sakunya. Dia menatap Jun dengan sedikit meringis.

“Jun-ah bisa kau antar aku ke apartemen ahjumma?” pinta Tiffany.

Jun mengangguk. “Sure. Let’s go!”

Mereka berdua mulai menaiki motor sport hitan milik Jun dan segera meluncur menjauhi taman dekat sekolah mereka. Seperti yang dijanjikan Tiffany tadi, mereka sampai di apartemen Taeyeon lima belas menit kemudian. Tiffany turun dari motor Jun dan menyerahkan helm.

“Gomawo, Jun-ah.” ucap Tiffany dengan tersenyum. Jun juga ikut tersenyum.

“Aniyo. Humm, kalau begitu aku pamit dulu, Tiff. Annyeong.” Jun mengangkat tangan kanannya dan sedikit melambai ke arah Tiffany yang dibalas tawa oleh gadis brunette. Tiffany mengangguk dan ikut melambaikan tangannya.

“Hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan menyalakan motor sportnya. Kemudian berbalik menjauhi kawasan apartemen tersebut. Saat punggung Jun sudah tidak terlihat lagi, Tiffany berbalik dan berjalan menuju apartemen Taeyeon di lantai 3.

Setelah sampai, Tiffany membuka passkey apartemen Taeyeon yang dihapalnya diluar kepalanya kemudian masuk.

“Ahjumaa~ aku pulang~”

Tiffany meletakkan tas punggungnya di sofa dan bergerak mencari Taeyeon di sekitar apartemen.

“Fany-ah ruang rahasia.” Tiffany mendengar suara Taeyeon dari pengeras suara. Kekasihnya memang suka sekali mendesain sesuatu atau membuat sesuatu yang sama sekali tak terpikirkan olehnya.

Tiffany tak bisa berbuat apa selain menuruti perintah kekasihnya. Dia naik keatas tangga dan berjalan ke arah ruang aksesoris dan pakaian milik Taeyeon. Dia kemudian membuka lemari besar disana dan masuk kedalamnya lalu memencet tombol tersembunyi disana hingga munculah scanner. Dia menekan ibu jarinya dan lemari tersebut mulai bergerak ke bawah.

Setelah sampai dibawah atau di ruang rahasia milik Taeyeon, Tiffany mulai mencari Taeyeon.

“Kau sudah datang?” ucap sebuah suara di ruang bar.

Tiffany membalikkan tubuhnya dan mendekati Taeyeon disana. Dia melihat Taeyeon yang tengah meminum alkohol. Mata gadis yang lebih tua menyipit. Tiffany menghela nafasnya. Toleransi kekasihnya terhadap alkohol sangatlah minim. Hanya dengan tiga gelas saja mampu membuatnya mabuk. Tiffany merebut paksa gelas di tangan kekasihnya.

“Ahjumma hentikan! Kau sudah mabuk.”

“Kembalikan, Fany-ah. Aku menyuruhmu kesini untuk menemaniku mabuk.”

“Han Taeyeon!” teriak Tiffany. Jika gadis brunette sudah memanggil Taeyeon dengan marga Appa nya. Sudah dipastikan gadis itu benar-benar marah. Taeyeon sudah berjanji padanya untuk tidak mabuk lagi.

Kemudian Tiffany mendengar sebuah isakkan. Dia terkejut dan langsung memegang lengan kekasihnya.

“TaeTae m- mian..”

Taeyeon menggeleng. “Seharusnya aku yang minta maaf, Fany-ah. Karena aku Daddy mu harus kehilangan pekerjaannya.” ucap Taeyeon dengan menangis.

Tiffany membulatkan matanya. “MWO?!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Gue balikk hehew.

Gimana chapter tadi? Masalah baru lagi kan haha. Dann siapa yg penasaran sama Kim Hyoyeon? *tunjukjari

Hyo bakal jd cast baru. Yg penasaran sm doi sabarr, tunggu chap selanjutnya.

Okay. See u next chap~

Enterprischool (Chapter 5)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany berhasil menaklukan seorang Kim Taeyeon yang tengah merajuk, dengan syarat weekend nanti gadis itu harus berkencan dengannya non-stop, full 24 jam. Tiffany sedikit terlibat tawar menawar. Awalnya dia menawar 12 jam saja tanpa menginap. Namun Taeyeon keukeuh menginginkan Tiffany bersamanya 24 jam. Karena pertimbangan waktu yang bisa membuat Tiffany terlambat sekolah dan juga Jun yang menunggunya, gadis brunette terpaksa mengiyakan permintaan kekasihnya. Bagaikan mendapat ikan besar, Kim Taeyeon merubah bibir yang mengerucut kebawah menjadi melengkung ke atas, menunjukkan senyum dimple nya yang sangat disukai kekasihnya itu.

“Pilihan yang tepat, sayang. Aku ingin melanjutkan tidurku. Kau sekolahlah yang rajin, okay? Bye!”

Dengan itu, Taeyeon mengecup pipi Tiffany lalu menarik selimut dan kembali tertidur. Tiffany mendecakkan lidahnya, namun tersenyum setelah itu. Dia merapihkan selimut yang dipakai Taeyeon untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi, melakukan ritual biasa dan bersiap berangkat ke sekolah. Tentunya bersama Jun.

Sesampainya mereka di sekolah, seperti biasa Tiffany mendapat tatapan dan cibiran dari para siswa. Namun hal itu tak berlangsung lama setelah Jun memposisikan dirinya di samping gadis brunette. Orang-orang yang tadi mencibir Tiffany langsung kalap dan salah tingkah.

“Sudah kubilang tunggulah aku sebentar, Tiff.” kesal Jun.

Tiffany tak merespon ucapan Jun. Dia mengernyitkan keningnya karena merasa heran. Orang yang mencibirnya tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepalanya.

Tiffany menarik tangan Jun ke belakang dinding disamping sebuah ruangan yang tidak ada orang disana. Dia menatap Jun dengan wajah serius.

“Sebenarnya kau siapa?” tanya Tiffany.

“Aku? Choi Jun. Kau sudah tahu namaku, Tiff.” Jun menjawab dengan mengernyitkan dahinya.

Tiffany menggeleng. “Bukan itu. Apa kau orang penting disini? Mengapa semua orang menunduk saat melihatmu?”

Jun menaikkan satu alisnya kemudian tertawa pelan. “Aku bukan orang penting, Tiff.”

“Geojitmal! Tapi kenapa me-…”

Ucapan Tiffany terhenti saat ponselnya berbunyi. Dia merogoh ponselnya di saku dan membukanya.

Bagaimana bisa kau dekat dengan Choi Jun, Presiden Siswa?!

– Bora

Tiffany membelalak seusai membaca pesan dari sahabatnya. Dia menatap Jun yang mengerutkan keningnya.

“K- Kau P- Presiden Siswa?” tanya Tiffany terbata.

“Kenapa? Apa jika aku Presiden Siswa kau tidak mau berteman denganku?” tanya Jun sedih.

Tiffany mengusap wajahnya kasar dan menggeleng. “Aniya. Aku hanya merasa.. idiot. Bagaimana bisa aku tidak tahu siapa Presiden siswa di sekolahku sendiri?”

Jun terkekeh pelan dan mengacak rambut Tiffany. “Kau tak idiot, Tiffany. Lagipula baru sebulan aku menjadi Presiden siswa untuk mengganti Kevin Hyung yang pindah ke Canada.”

“Tetap saja aku merasa bodoh tak tahu kau sebelumnya.”

“Sudahlah. Yang terpenting sekarang kita sudah berteman. Kajja, sebentar lagi masuk.”

Tiffanya mengangguk dan mengikuti Jun di belakang.

***

Taeyeon melempar bola baseball ke arah dinding dan menangkapnya. Melempar kemudian menangkapnya. Dia terlalu bosan melihat setumpukan berkas dan layar komputernya yang menampilkan beberapa pekerjaannya. Dia ingin pergi keluar untuk menjernihkan pikirannya. Namun tubuhnya merasa sangat malas hanya untuk bangun dari kursi kebesarannya. Yang dia lakukan sekarang hanya bermain bola baseball yang tersimpan di laci mejanya. Tanpa berniat melakukan apapun.

Pintu ruangannya terbuka, namun Taeyeon tak peduli dan terus bermain dengan bolanya. Dia sudah tahu siapa yang masuk.

“Ada apa Sica-ah?” tanya Taeyeon tanpa berbalik melihat Jessica.

Taeyeon tak mendengar ada sahutan. Dia menaikkan satu alisnya dan berbalik. Betapa terkejutnya dia saat melihat bukan Jessica yang masuk ke ruangannya tetapi…

“Hyejin…” gumam Taeyeon.

Gadis itu masih diam dan menatap Taeyeon. Dia mendekat ke arahnya dan merebut bola baseball milik Taeyeon dengan cepat.

“Bukankah aku pernah mengatakan untuk bersikap profesional meskipun kantor ini milik Ayahmu?” Hyejin menatap tajam Taeyeon.

Taeyeon tak menjawab. Dia hanya menelan ludahnya kaku.

“Kau mendengarku, Kim?”

Taeyeon memejamkan matanya dan menggeleng. “Apa yang membuatmu kembali?”

“Kau.”

Singkat. Jelas. Dan cepat membuat Taeyeon menahan nafasnya.

“Aku sudah memiliki kekas-…”

“Aku tahu.”

Lagi-lagi Hyejin membalas ucapan Taeyeon cepat.

Hyejin tersenyum lemah. “Meskipun aku masih menyukaimu, bukan itu tujuanku kembali.”

Hyejin memutar kursi milik Taeyeon hingga berhadapan dengannya. Jantung Taeyeon berdegup kencang. Meskipun gadis mungil itu sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap mantan kekasihnya itu, tetapi Hyejin pernah menjadi orang yang paling membuatnya bahagia dan sedih disaat yang bersamaan. Mereka bahkan hampir menikah, namun Hyejin melakukan affair di belakang Taeyeon sebelum hal itu terjadi.

“Apa kau pedofil? Berpacaran dengan seorang bocah SMA. Cih yang benar saja.” Hyejin mendecih.

“Kalau kau kesini hanya untuk mengataiku. Pintu keluar terbuka untukmu.”

Hyejin tertawa pelan. “Aku hanya mengingatkanmu saja, Kim. Hati-hati dengan orang terdekatmu.”

Sebelum Taeyeon dapat berkomentar, Hyejin melenggang pergi dari ruangannya. Dia mengerutkan keningnya mencoba berpikir apa yang barusan Hyejin katakan. Taeyeon menyerah, dia sama sekali tidak memiliki ide mengenai apa yang mantan kekasihnya itu ucapkan sebelumnya.

***

Taeyeon bersama Jessica, Yuri, dan Sooyoung tengah makan siang bersama. Biasanya Jessica akan membawa makan siang ke ruang Taeyeon karena gadis imut itu tidak suka suasana kantin. Namun dibanding ruang kerja nya saat ini, kantin menjadi pilihan terbaik dibanding terus teringat ucapan Hyejin di ruangannya. Terlebih Yuri dan Sooyoung juga berkunjung ke kantornya.

“Kudengar Young Woo mengambil alih jabatanmu di sekolah Fany. Kau tak mengajukan keberatan akan itu, Taeng?” tanya Yuri.

“Mereka memiliki 70% lebih suara. Aku bisa berbuat apa?” jawab Taeyeon malas. Dia mengaduk-adukan float nya tanpa meminumnya.

“Bukankah Young Woo tak memiliki saham sepeser pun disana? Hanya kau dan Appa mu yang memiliki saham.” ucap Sooyoung heran.

“Aku tak mau mengambil pusing, Syoo.”

“Jamkkanmanyo!” ujar Jessica tiba-tiba.

Ketiga sahabatnya menoleh ke arah Jessica yang sibuk merogoh sakunya. Mulai dari saku didalam jas, hingga di kedua rok nya.

“Dimana aku meninggalkannya?” gumam Jessica dengan menggigit bibir bawahnya.

“Apa yang kau cari, Sica?” tanya Taeyeon.

Jessica terus merogoh sakunya dan tak mendapat apapun selain dompet dan kunci mobil. Gadis berambut brown mengerang dan memejamkan matanya kesal.

“Aku selesai. Ada yang harus ku kerjakan. Bye, all!” Jessica mengecup pipi Taeyeon sebelum berlari meninggalkan ketiga sahabatnya.

“Hey, kenapa hanya Taeyeon yang diberi kecupan?” teriak Sooyoung tak terima.

“Heish, ingat, Syoo. Mereka kenal dari bayi.”

“Tapi tetap saja. Kita juga dekat dengannya.”

Taeyeon menghela nafasnya melihat sahabatnya yang mulai bertingkah idiot. Hanya karena Jessica mengecupnya seorang, Sooyoung merasa tak terima.

“Kau mau ku kecup, Syoo?” tanya Taeyeon datar.

“No thanks, aku hanya mau dicium wanita dewasa.”

“Ya! Maksudmu aku bukan wanita dewasa, ha?”

Sooyoung mengangguk. “Kau bocah sekolah dasar.”

“Sialan kau, Soo.”

***

Malam harinya, Taeyeon pergi ke rumah kekasihnya dan berencana menginap. Daddy Tiffany masih memiliki pekerjaan dan akan kembali seminggu lagi. Maka dari itu dia berani menginap. Meskipun cukup lama menjalin hubungan, Daddy Tiffany sama sekali tak tahu menahu mengenai hubungan mereka. Itu adalah permintaan Tiffany. Dia baru siap mengatakan hal yang sebenarnya saat lulus sekolah.

Taeyeon menepikan mobilnya di depan gerbang rumah Tiffany. Dia melihat motor sport berwarna hitam yang familiar. Taeyeon ingat motor itu adalah motor milik pria yang diketahuinya bernama Jun, teman Tiffany. Secara perlahan rasa cemburu Taeyeon mulai berkembang. Dengan gerakan cepat gadis itu mulai memasuki rumah Tiffany.

“Fany-ah.. sayaaang~” teriak Taeyeon seraya berjalan memasuki rumah kekasihnya.

Taeyeon melihat Jun yang tengah menggendong Tiffany. Hal tersebut mengundang rasa cemburunya yang bertambah berkali lipat. Dia segera berlari ke arah dua manusia tersebut yang ingin menuju sofa.

“Fany-ah.. sayaang..” Taeyeon melepas genggaman Jun pada kekasihnya dengan kasar setelah berhasil mendudukannya di sofa.

“Tiffany tadi terpeleset di pantry dan kakinya sedikit memar, sajangnim.” ucap Jun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa menghiraukan ucapan Jun, Taeyeon berlari ke pantry untuk mengambil es batu beserta kain untuk kekasihnya. Dia membungkus es batu tersebut dengan kain dan menekannya ke lutut Tiffany yang memar.

“Aww. Sakit, TaeTae!”

“Gadis ceroboh! Sudah kubilang langsung lap air di lantai saat kau tak sengaja menumpahkan air!” ucap Taeyeon dengan wajah khawatir.

“Mianhae.” Tiffany menundukkan wajahnya.

“Dasar ceroboh! Kemarilah!” titah Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya tak paham. Taeyeon berdecak dan memeluk Tiffany dengan satu tangannya terus menekan luka memar kekasihnya.

“Lihat? Kau terluka sedikitpun sudah mengeluarkan keringat dingin. Biar kutebak kau pasti merasa pusing?”

Tiffany tak mau mengakui itu, namun ucapan Taeyeon benar. Ucapan kekasihnya selalu benar. Dia mengangguk kecil dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher kekasihnya. Tiffany merupakan gadis istimewa. Hanya luka kecil seperti itu selalu bisa membuat gadis itu berkeringat dingin dan pusing. Hal itu menjadi perhatian khusus bagi Taeyeon agar selalu melindunginya.

“Kau ingin aku mengambilkan obat?” tanya Taeyeon.

Tiffany menggeleng. “Cukup seperti ini saja, ahjumma.”

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk. Mereka melupakan kehadiran Jun disana yang menatap keduanya dengan tatapan takjub. Baru kali ini Jun melihat pasangan gay secara nyata di depannya tengah menunjukkan kasih sayang. Jun mengira pasangan tersebut hanya menginginkan seks seks dan seks seperti yang dilakukan oleh sepupunya yang gay, maka dari itu dia sedikit risih dengan pasangan sesama. Namun pemikirannya berubah mulai saat ini. Apa yang ditunjukkan Taeyeon dan Tiffany sangat menyentuh hatinya. Dia tidak mengira pasangan tersebut mampu menunjukan cinta bukan hanya dari pasangan normal lainnya. Bahkan Jun bisa menilai dengan matanya sendiri bahwa kedua wanita di depannya sangat mencintai satu sama lain. Cinta mereka benar-benar tulus.

“Uhm, Tiff. Kurasa aku harus pulang?” kata Jun sedikit canggung.

Tiffany tersadar kalau Jun masih berada di rumahnya.

“Ah mian. Gomawo sudah mengantarku, Jun.”

“Cheonma. Kalau begitu aku pamit dulu, Tiff, sajangnim. Annyeong.”

Setelah Jun benar-benar pergi, Taeyeon menggendong kekasihnya ala bridal style menuju kamarnya. Taeyeon membaringkan gadisnya dan menyelimutinya.

“Kau akan menginap disini kan, ahjumma?” Tiffany mencegat tangan Taeyeon yang akan pergi.

Taeyeon mengangguk. “Aku ingin mencuci muka ku dan berganti pakaian dulu.”

 

“Ahjumma.” panggil Tiffany. Mereka kini sudah berbaring di ranjang.

“Hm?”

“Kau mencintaiku, kan?” tanya Tiffany.

Taeyeon mengernyit dan menoleh ke arah gadisnya. “Tentu saja. Mengapa kau menanyakan hal itu?”

“Kalau begitu katakan kau mencintaiku.”

“Kau baik-baik saja kan, Miyoung?”

“Ahjumma~ lakukan saja apa yang kukatakan.”

Taeyeon menghela nafasnya. Dia memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah kekasihnya. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi gadisnya dengan lembut.

“Aku mencintaimu, Stephanie Hwang Miyoung. Sangat sangat mencintaimu hingga bahkan merasa sesak jika kau tak ada disisiku.” ucap Taeyeon seraya mengelus pipi kekasihnya dengan jempolnya.

“So cheesy! Aku saja tak pernah mendengar keluhanmu tentang sesak nafas saat kau dan aku berjauhan.” Tiffany menarik hidung Taeyeon gemas.

“Itu perumpamaan, sayang. Yang jelas hatiku milikmu. Kau juga mencintaiku, kan?” Taeyeon melepas jari Tiffany yang masih menarik hidungnya.

Tiffany mengangguk. “Tapi aku masih saja merasa heran. Mengapa aku bisa jatuh cinta pada gadis midget sepertimu?”

“Hey, aku memiliki sejuta pesona, kau tahu? Wanita straight saja langsung berubah menjadi gay saat melihatku.”

“Termasuk aku. Ahh, yang terpenting ahjumma milikku sekarang. Jaga matamu ini, okay? Aku tahu mereka suka sekali melihat butt sexy dimana-mana.” Tiffany mengusap kedua mata Taeyeon dengan pelan.

“Yes ma’am.” ujar Taeyeon patuh seperti anak kecil.

“Sekarang cium aku.” pinta Tiffany.

Taeyeon menaikkan alisnya. “Ini sudah malam Tiff. Aku tak mau lepas kendali.”

Tiffany menggeleng. “Hanya make out. Aku percaya kau mampu melakukannya tanpa melebihi batas. Aku percaya ahjumma mampu menjagaku.”

“Kau yakin, Fany-ah?”

“Aku percaya pada ahjumma.” Tiffany menunjukkan eyesmile nya.

Taeyeon menghela nafas dan memejamkan matanya sebelum menangkup kedua pipi Tiffanya.

“Berdo’a lah agar evil Taeyeon tidak keluar malam ini.”

Lalu Taeyeon mulai menempelkan bibirnya ke bibir milik kekasihnya. Mendiamkannya sebelum bergerak melumat dan menghisap. Taeyeon terus melakukan aktifitasnya sembari bergerak pelan memposisikan tubuhnya diatas tubuh Tiffany, menindihnya.

Tiffany mengerang dan memeluk leher Taeyeon, mengusap tengkuknya dan menekannya agar ciuman mereka semakin dalam. Taeyeon menjilat bibir Tiffany hingga membuatnya terbuka. Dengan cepat lidah Taeyeon memasuki mulut Tiffany dan menjelajah. Lidah mereka bertemu dan saling bergulat satu sama lain. Ini adalah ciuman basah kedua yang pernah mereka lakukan.

Ciuman Taeyeon turun ke rahang lalu ke leher jenjang kekasihnya. Tangan Taeyeon bergerak membuka kancing piyama Tiffany.

“Enghh.. Tae~” desah Tiffany saat lidah Taeyeon menjilat panjang lehernya kemudian menghisapnya.

Kancing piyama atas Tiffany sudah terbuka sepenuhnya, menampilkan bra berwarna pink nya. Taeyeon menurunkan ciumannya hingga ke belahan dada Tiffany yang masih tertutup bra.

“Ugh.. Taee~”

Tangan Taeyeon bergerak ke punggung polos Tiffany dan mencoba membuka bra nya. Setelah terbuka, Taeyeon segera menurunkan bra Tiffany dan langsung menyerbu kedua buah gundukan tersebut. Mulutnya menghisap payudara sebelah kiri Tiffany sedangkan tangan kirinya meremas payudara kanan Tiffany.

“Taeyeon aakhh~”

Tiffany menekan kepala Taeyeon agar semakin menghisap payudaranya dengan kuat. Remasan tangan Taeyeon juga semakin kuat. Dia memelintir puting Tiffany yang masih kecil.

Taeyeon kembali mencium bibir Tiffany dengan panas. Kedua tangannya terus meremas payudara Tiffany dengan bernafsu. Mungkin setelah ini ukuran bra nya akan bertambah.

Saat tengah menikmati sesi panas mereka, tiba-tiba pintu kamar Tiffany terbuka.

“Stephanie apa yang kau lakukan?!”

Mereka berdua tersentak dan menghentikan aktifitasnya. Taeyeon segera menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atas Tiffany.

“Daddy..” lirih Tiffany.

“Temui Daddy di depan.” ujar Daddy Hwang dingin. Kemudian berbalik dan pergi darisana.

Taeyeon menyadari perubahan air muka Tiffany yang merasa sedih, takut, dan khawatir. Taeyeon mengecup bibir Tiffany sekilas.

“Kita hadapi bersama-sama, hm?” ucap Taeyeon meyakinkan. Tiffany mengangguk lemah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

Entsch bakal diupdate seminggu sekali kalo ngga ada halangan kay.

How bout this chap? Komen juseyo~

See u next chap~