Enterprischool (Chapter 9)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

“Apa kabar, Kim?”

Taeyeon menegang mendengar suara tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dengan sangat pelan. Menelan ludahnya saat penglihatannya menangkap seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hyejin..”

Hyejin tersenyum miring. “Jadi apa kau masih mengingat ucapanku waktu itu? Siapa yang kau curigai?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia membulatkan matanya saat gadis yang dia kejar berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti disamping Hyejin.

“H- Hyoyeon-ssi.” gumam Taeyeon.

Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon kemudian ke arah Taeyeon. “Benar. Dia Kim Hyoyeon. Seseorang yang kau curigai akhir-akhir ini. Apa aku benar?”

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk menjawab ‘ya’.

“TaeTae!” teriak Tiffany. Namun Taeyeon masih berdiri kaku ditempatnya.

Tiffany berlari mendekat ke arah Taeyeon dan memegang lengannya. “Ya! Mengapa kau berlari dan meninggalkan belanjaanku?!”

Taeyeon masih diam. Tiffany mengerutkan keningnya. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon dan terkejut saat melihat mantan kekasih Taeyeon dan seorang gadis blonde yang tidak diketahuinya. Mungkin kekasih Hyejin Unnie yang baru?

“Ah, biar kutebak. Dia pasti kekasih bocahmu, hm?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Dia ingin sekali berteriak kesal di depan wajah mantan kekasih Taeyeon itu. Enak saja mengatakan dia bocah. Kalau dia bocah, bagaimana dengan Hyejin? Nenek tua? Tiffany memutar bola matanya malas.

Tiffany tersenyum saat menemukan ide. Mengapa dia tidak meminta Jessica menyusul mereka kemari? Melihat Taeyeon yang hanya diam membisu seperti orang idiot tidak akan membantu. Setelah mengetik beberapa kalimat untuk dikirimkan ke Jessica, Tiffany menoleh ke arah Hyejin dan gadis unknown disampingnya.

“Hyejin Unnie. Apa kau keberatan untuk mentraktir kami ice cream? Aku ingin tahu bagaimana rasanya makan ice cream bersama mantan kekasih kekasihku.” Tiffany tersenyum mengejek.

Dia bisa melihat Hyejin mengeraskan rahangnya. Namun tak berselang lama. Hyejin tersenyum manis dan mengangguk. “Call!”

Mereka berempat pada akhirnya naik ke lantai atas, ke kedai ice cream favorit Taeyeon. Mereka memesan ice cream yang berbeda satu sama lain. Taeyeon masih tetap diam seperti orang dungu. Tiffany beberapa kali menyuapi kekasihnya itu karena hanya diam.

“Hyejin! Hyoyeon-ssi!”

Mereka berempat serentak menoleh ke arah suara dolphin yang memekakkan telinga.

“Sica!” Hyejin berdiri dan berlari menghampiri Jessica. Gadis itu memeluknya dengan erat.

“Oh my Gosh! Kenapa sulit sekali menghubungimu, huh?” Jessica berkata setelah melepas pelukan mereka.

“Mianhae. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sibuk merintis usaha baruku.” balas Hyejin dengan wajah menyesal.

“Wow! Kau jadi membuat brand mu sendiri?” tanya Jessica berbinar. Mereka seakan melupakan keberadaan tiga orang dibelakangnya.

“Yeah. Bersyukur Hyonie mau membantuku.”

Jessica menolehkan pandangannya ke arah Hyoyeon yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.

“God! Hyoyeon-ssi!” Jessica berlari kecil lalu memeluk Hyoyeon.

“Kau apa kabar? Sudah sangat lama terakhir kita bertemu.”

Jessica melepas pelukannya dan mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.

Hyoyeon tertawa. “Kau tahu orang seperti apa diriku ini.” Hyoyeon membanggakan dirinya sendiri.

“Chill! Kau harus mentraktirku dinner mewah kali ini. Awas saja kau.” Jessica terkekeh begitu juga Hyoyeon.

Taeyeon menatap interaksi mereka bertiga dengan wajah dungu. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Tiffany hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. Dia pikir kalau seperti ini Jessica tidak akan membelanya nanti.

“Unnie..” panggil Tiffany lirih. Sedari tadi Jessica melupakan keberadaannya.

“Oh hey, Tiff. Kau disini juga?”

Tiffany meringis. Bukankah dia sendiri yang meminta Jessica kemari?

Tiffany tersenyum palsu dan mengangguk kaku. Benar. Jessica pasti tak akan membelanya dan melindunginya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka bersama kedua sahabat konyol Taeyeon.

“Taenggu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Jessica yang menyadari wajah tak biasa sahabatnya.

Taeyeon menggeleng. “Gwaenchanha.”

Sore itu mereka isi dengan perbincangan yang menyenangkan. Sebenarnya bukan keseluruhan mereka, namun hanya Jessica, Hyejin, dan Hyoyeon saja. Sedangkan Taeyeon dan Tiffany hanya diam menyaksikan ketiganya berbincang. Jessica seakan melupakan masalah dan keresahan Taeyeon. Padahal saat ini kedua orang yang diduga menjadi informan berada tepat di depannya.

Taeyeon merasakan sakunya bergetar. Dia merogoh sakunya dan meraih ponsel berlogokan apel tergigit dan membukanya.

Sebuah pesan. Dari sahabatnya, Yuri.

Taeng, masalah besar! Tiffany dikeluarkan dari sekolah. Cepat ke kantor!

 

Mata Taeyeon melebar, bahkan terlihat hampir copot. Dia berdiri dengan cepat dan menarik tangan kekasihnya untuk keluar darisana. Tiffany yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunjukkan wajah bingungnya. Jessica berteriak memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Taeyeon.

“TaeTae sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany setelah mereka berada di mobil Taeyeon.

Gadis yang lebih tua tak menjawab apapun. Wajahnya berubah datar dan dingin. Tiffany sampai ketakutan melihat Taeyeon yang seperti ini. Bahkan gadis itu mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiffany hanya bisa menggenggam erat sabuk pengamannya.

Taeyeon menghentikan mobilnya di depan rumah Tiffany. Gadis yang lebih muda bersyukur mereka sampai dengan selamat.

“Masuklah kedalam.” ucap Taeyeon dingin tanpa menatap Tiffany.

Tiffany menundukkan kepalanya dan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Tiffany membuka pintu mobil dan keluar. Tak lama setelah itu mobil Taeyeon segera berbalik dan melaju dengan cepat. Tiffany menghela nafasnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi pada kekasihnya.

 

“What the f*ck! Apa maksudmu, Kwon Yuri?!” semprot Taeyeon setibanya ia di ruangannya.

Dia melihat Yuri dan Sooyoung yang menunjukkan wajah frustasi dan prihatin. Masalah mereka terus saja bertambah pelik.

Taeyeon menarik kerah kemeja Yuri. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kali ini!”

Yuri melepas tangan Taeyeon di kerah kemejanya dengan kasar.

“Bisakah tak memasukkan emosi saat ini, hah?” teriak Yuri. Dia kesal dengan Taeyeon yang tak bisa menahan emosinya. Dia pikir Taeyeon sudah berubah. Mereka tahu tabiat Taeyeon yang kasar dan pemarah semenjak sekolah dasar.

“Hey hey hey, kita berkumpul disini bukan untuk bertengkar. Chill!” Sooyoung menengahi.

Yuri mengembuskan nafasnya kasar. Dia melonggarkan dasi miliknya dan duduk di sofa tanpa melihat Taeyeon. Dia masih kesal.

“Kau saja yang menjelaskan, Soo.” ucap Yuri. Sooyoung mengangguk.

“Kumohon kau tenanglah terlebih dahulu, Taeng. Dan jangan memasukkan emosi setelah aku selesai menjelaskan.” pinta Sooyoung.

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

“Tiffany dikeluarkan karena masalah Daddy nya.. kau tahu.. tuduhan penggelapan dana itu dan.. k- karena dia g- gay. Sekolah tak mau Tiffany merusak nama baik mereka.” jelas Sooyoung.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengerang dan memukul meja didepannya hingga buku-buku jarinya memerah. Dia tidak peduli tangannya sakit dan lebam.

“F*ck!” umpatnya.

***

Hal tersebut tak butuh waktu lama sampai di telinga Tiffany. Gadis itu terduduk lemas dengan tatapan kosong. Daddy nya menatap puterinya dengan pandangan menyesal. Dia meminta maaf telah menyebabkan puterinya dikeluarkan dari sekolah. Pria paruh baya tersebut memeluk puterinya yang disusul isakkan dari gadis brunette. Tiffany menangis sesenggukan.

Keesokan harinya, Tiffany mengurung dirinya di kamar. Daddy nya terus membujuk puterinya untuk keluar dan sarapan bersama. Namun Tiffany tak menghiraukan dan memojokkan dirinya di pinggiran ranjang. Air matanya telah kering. Bahkan hingga sore hari Tiffany tak kunjung keluar. Hal itu membuat Daddy nya cemas. Dia teringat kunci cadangan yang ada di rak. Daddy Hwang membawa nampan berisi makanan dan membuka pintu kamar puterinya. Dia melihat Tiffany masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Jujur hal itu membuat hati Daddy Hwang sakit.

“Stephy, makanlah dulu, nak. Kau belum makan seharian.” pinta Daddy Hwang.

“Taruh saja di meja. Daddy boleh keluar.” ucap Tiffany dengan suara seraknya.

“Tapi, Steph-…”

“Daddy.. please..”

Daddy nya menghela nafasnya dan mengangguk. Beliau berdiri dan menaruh nampan berisi makanan di meja samping ranjang. Lalu mulai keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Setelah Daddy nya pergi, Tiffany menangis. Lagi.

Hal itu berlangsung selama tiga hari. Tiffany sama sekali tak keluar dari kamarnya. Daddy Hwang bertambah khawatir. Sebenarnya dia juga memiliki kegiatan untuk mencari pekerjaan lagi, tapi mengingat puterinya yang seperti itu mengurungkan niatnya.

Daddy Hwang mendengar bunyi bel. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria muda tersenyum kearahnya seusai dia membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Choi Jun imnida, teman Tiffany.” Jun membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa Tiffany dirumah, paman?” tanya Jun.

Daddy Hwang memandang Jun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian menghela nafasnya.

Daddy Hwang mengangguk. “Namun sudah tiga hari ini Stephy tidak keluar dari kamarnya. Dia pasti sangat shock dan sedih.” Daddy Hwang berkata dengan nada sedih.

Jun membulatkan matanya. Dia tidak mengira sahabatnya akan seperti ini. “P- Paman, bolehkah aku bertemu dengannya? Aku akan mencoba berbicara dengan Tiffany.” pinta Jun.

“Baiklah. Kuharap kau bisa membujuknya keluar.” Daddy Hwang menepuk bahu Jun dan mempersilakan Jun masuk kedalam.

Daddy Hwang membuka pintu kamar puterinya dan mempersilakan Jun masuk. Beliau kemudian pergi, membiarkan Jun membujuk puterinya.

“Tiff..” panggil Jun.

Tiffany mendongakkan wajahnya dan melihat Jun. Dia diam sebelum suara isakkan keluar dari mulutnya. Jun terkejut dan segeta berlari memeluk sahabatnya.

“Sssst. Gwaenchanha. Everything’s gonna be alright.” Jun mengelus punggung Tiffany. Sedangkan gadis brunette menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jun dan terus menangis terisak.

Sementara diluar kediaman Tiffany, seorang gadis mungil tengah menatap kosong kedepan di dalam mobil mercedes nya. Dia menghela nafas saat ucapan sahabatnya terngiang di kepalanya. Dan saat gadis itu menangkap sebuah motor sport berwarna hitam yang familiar, dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berbalik. Dengan perkataan sahabatnya yang melingkari kepalanya menemani perjalanan gadis mungil.

Taeyeon berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia amat tahu Tiffany pasti sangat sangat membutuhkannya saat ini. Namun dia tak ingin menunjukkan wajah sedihnya jika harus berhadapan dengan kekasihnya. Dia harusnya bisa menyemangati gadis brunette, tapi sepertinya hal itu tak bisa ia lakukan. Terlalu sakit membayangkan keadaan Tiffany untuk saat ini. 

Jessica masuk kedalam ruangannya dengan membawa berkas. Taeyeon menerimanya dan mulai membukanya. Taeyeon pikir Jessica akan keluar setelah menyerahkan berkas. Dia mendongak dan melihat Jessica menatapnya dengan serius. 

“Wae?” tanya Taeyeon. 

“Tinggalkan Tiffany.” ucap Jessica langsung tanpa basa-basi. Jelas saja hal itu membuat Taeyeon marah. 

“Why the hell, Jess!” Taeyeon menatap Jessica dengan berapi-api. 

Jessica menghela nafasnya. “Kau..” Jessica menunjuk Taeyeon dengan telunjuknya. “Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu membuat kehidupan Tiffany berangsur memburuk?” 

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya. 

“Apa maksudmu?” 

“Sebelum kau bersamanya, kehidupan Tiffany begitu mulus tanpa masalah apapun. Dan pada saat dia menjalin hubungan denganmu, satu persatu masalah muncul. Apa kau tidak pernah berpikir kearah sana?” Jessica menatap Taeyeon dengan dingin. 

Taeyeon diam. Jessica benar. 

“Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Taeyeon lemah. 

“Tinggalkan Tiffany. Aku tahu itu pasti sakit untukmu dan juga Tiffany. Tapi aku lebih sakit melihat Tiffany yang sudah kuanggap adikku sendiri menderita. Taeyeon.. bisakah?” Jessica menatap Taeyeon dengan tatapan memelas. 

Jujur dia sakit melihat sahabatnya semenjak bayi merasa sedih, tapi dia juga tak ingin mengorbankan adik kesayangannya juga jika mereka terus memaksa bersama.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. “Akan kucoba.”

Jessica memutari meja kerja Taeyeon dan memeluk sahabatnya. “Ini yang terbaik, Taenggu.”

***

Sebulan telah berlalu. Keadaan Tiffany semakin membaik dari hari ke hari. Dia sudah mulai membuka dirinya lagi dan bersikap ceria, seperti biasanya. Dan selama itulah Tiffany tak bertemu Taeyeon. Jujur hal itu membuatnya kecewa. Harusnya kekasihnya yang datang dan menyemangatinya. Namun dia tak merasa marah berlebih pada gadis mungil itu. Dia mencoba berpikir bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi terakhir kali dia melihatnya, Taeyeon terlihat sangat stress.

“Jun-ah, antarkan aku ke kantor ahjumma. Pleaasee.” pinta Tiffany pada Jun yang tengah bermain ke rumahnya dan menemaninya karena Daddy Hwang pada akhirnya mendapat pekerjaan lagi semenjak dua minggu yang lalu.

“Arra arra. Tapi..” Jun menunjuk pipi kanannya dengan senyum jahil.

Tiffany tertawa pelan. Dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Jun bermaksud mengecupnya. Namun detik kemudian Jun menolehkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Tiffany melebarkan matanya.

Jun melepas kecupannya dan tersenyum.

“Kajja!” ajaknya dan mulai berjalan menjauhi Tiffany.

Sementara gadis brunette masih diam ditempatnya dan merasakan pipinya yang terasa panas.

Tiffany tak berbicara selama perjalanan. Dia masih merasa malu dengan kejadian tadi. Dia tahu dia harusnya kesal pada Jun yang mencuri kecupannya. Namun dia tak bisa melakukan itu karena dia sendiri merasa jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkan kejadian tadi.

Sesampainya mereka di kantornya, Tiffany bertanya kepada resepsionis yang sama saat pertama kali dia datang di kantor Taeyeon.

“Unnie. Apa Taeyeon Unnie di ruangannya?” tanya Tiffany dengan semangat.

Wanita di depannya menunjukkan wajah sedihnya. “Maafkan aku, nona. Tapi sajangnim sudah hampir sebulan ini berada di China. Sepertinya sajangnim akan bekerja di anak perusahaan disana.”

Jawaban sang resepsionis tentu saja membuat jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi. Dia mengucapkan terimakasih kemudian mulai berbalik. Dia membuka ponselnya dan mulai menghubungi Taeyeon. Namun yang didengarnya hanya suara operator. Dia mencoba lagi dan suara operator yang menyapa pendengarannya.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Sudah lebih dari tiga puluh kali Tiffany mencoba menghubungi Taeyeon dan hasilnya tetap sama. Dia hampir menangis karena kekasihnya tak kunjung menjawab panggilannya. Dia mencoba sekali lagi dan suara operator kali ini meruntuhkan segalanya. Nomor kekasihnya sudah tidak terdaftar lagi. Itu berarti Taeyeon telah mengganti nomornya, tak lama tadi.

Perlahan airmata kembali menetes di pipi Tiffany. Jun yang melihatnya panik dan segera memeluk Tiffany.

“Dia meninggalkanku hiks~”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah ter-updatekan!

Eotte? Badai lagi kan muahahahaha *evillaugh

Okayy gw tunggu komen kece2 kalian *cyailah wkwkwk

Bubye~ see u next chap~

Advertisements

Enterprischool (Chapter 8)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Taeyeon mengerang seusai membuka matanya. Dia menekan belakang kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya ia jatuhkan ke sekitar tempatnya berada, masih di ruang rahasia. Dia melihat sahabat-sahabatnya tengah tertidur dibawahnya. Taeyeon bangun dari tidurnya.

“Eoh, kau sudah bangun, Taeng?” Taeyeon mendengar sebuah suara dan menoleh ke belakang. Ternyata Jessica.

Taeyeon mengangguk.

Jessica berbalik dan mengambil segelas air untuk Taeyeon. Selanjutnya bergabung bersama Taeyeon dan menyerahkan air tersebut. Taeyeon menerimanya dan langsung meminum dengan sekali teguk.

“Gomawo.” ucap Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi.. bisakah kau tak usah mabuk? Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Tiffany. Kau lupa pernah berjanji padanya, Taeng?”

Taeyeon menghela nafas. Jessica benar. Dia sudah berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mabuk lagi.

“Mianhae.” lirih Taeyeon.

Jessica menghela nafas. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Menepuk punggungnya bermaksud menenangkan. Jessica adalah sahabat terbaiknya. Taeyeon beruntung memiliki Jessica.

“Tak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Kau istirahatlah lagi, hm”

Taeyeon menggeleng. “Dimana Tiffany?”

“Dia pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barangnya.”

“Tiffany akan menginap disini?”

“Untuk beberapa hari kedepan.. ya. Dia ingin terus berada disisimu katanya.”

Taeyeon melepas pelukkan mereka. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jessica. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Taeyeon menarik tangan Jessica untuk mengelus kepalanya. Dia sangat suka jika Jessica mengelus kepalanya seperti saat ini.

“Sica-ah..”

“Hm?”

“Kau ingin tahu siapa seseorang yang ku curigai?”

Jessica menatap Taeyeon yang ada dibawahnya. “Tentu saja. Mereka pasti juga ingin mengetahuinya.” Jessica menunjuk kedua sahabatnya dengan dagu.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. Dia menerawang jauh kedepan.

“Dia Kim Hyoyeon. Semua berawal saat kami masih sekolah menengah pertama.”

Taeyeon mulai menceritakan semuanya kepada Jessica. Bahkan hingga sangat detail. Jessica mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali gadis blasteran itu mengerutkan kening lalu mengangguk di sela cerita Taeyeon.

“Jadi seperti itu. Sampai sekarang aku tak juga berhasil menemukannya.”

Taeyeon melihat Jessica yang sibuk dengan ponselnya. Dia berteriak karena mengira Jessica tidak mendengarkannya.

“Maksudmu Kim Hyoyeon ini?” tanya Jessica seraya menunjukkan ponselnya dimana terdapat sebuah foto.

Mata Taeyeon membesar. Walaupun sudah dua belas tahun lamanya, wajah Hyoyeon masih terlihat sama. Mungkin beberapa terlihat berbeda. Namun Taeyeon yakin foto tersebut adalah Hyoyeon.

“B- Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taeyeon tak percaya.

“Aku baru ingat Hyejin memiliki seorang teman baik sewaktu sekolah dasar. Dan mendengar nama Kim Hyoyeon mengingatkanku pada temannya Hyejin ini.”

Jessica dan Hyejin memang dekat, sama seperti kedua sahabatnya. Hal itu karena Taeyeon pernah menjalin hubungan dengan Hyejin untuk waktu yang cukup lama.

“T- Tapi Hyejin tak pernah memberitahuku tentang Hyoyeon.”

“Kami tak sengaja bertemu waktu itu. Hyoyeon-ssi sedang ada acara di Seoul. Dan wow, kau tahu Taeng.. dia adalah pemilik Univere Company!”

Taeyeon menelan ludahnya. Univere Company adalah perusahaan asal Canada yang sangat terkenal. Dia tak mengira pemilik perusahaan tersebut adalah Hyoyeon sendiri.

“Itu semakin menguatkan pendapatku kalau dia ingin membalas dendam padaku.” ujar Taeyeon.

“Kau jangan berpikiran negatif dulu, Kim. Yang kulihat Hyoyeon-ssi adalah gadis yang sangat baik dan menyenangkan. Dia lucu. Aku saja langsung menyukainya di tempat pertama saat melihatnya.”

“Kau benar. Aku hanya merasa.. tak tahu siapa yang harus disalahkan.”

“Jamkkanman! Hyejin teman baik Hyoyeon! Itu berarti.. kemungkinan mereka ada di tempat yang sama. Taeng, mari kita mencari mereka berdua!”

Taeyeon menatap Jessica dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Tak lama kemudian dia tersenyum. Entah karena kebetulan atau memang takdir. Taeyeon senang karena Hyejin dan Hyoyeon ternyata bersahabat. Dia butuh mereka berdua untuk menuntut penjelasan.

***

Taeyeon kini sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiffany benar-benar menepati ucapannya untuk tinggal bersama Taeyeon beberapa hari ini. Bersyukur Daddy nya mengijinkan. Dia percaya Taeyeon mampu menjaga anak gadisnya.

Taeyeon bersama Jessica dan juga kedua sahabatnya kini juga berusaha mengumpulkan informasi tentang Kim Hyoyeon. Sangat sulit mencari alamat gadis blonde tersebut karena orang yang bekerja di perusahaannya pun tidak tahu dimana bos mereka tinggal. Namun mereka tidak menyerah. Dia harus menemukan Hyoyeon, dan kalau bisa Hyejin juga.

“Ahjumma!” teriak seseorang.

Taeyeon yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya melihat kedepan. Tepat beberapa meter darinya berdiri seorang Tiffany Hwang dengan eyesmile nya. Dia juga melihat seorang pria jangkung di belakang Tiffany yang tak lain adalah Jun. Taeyeon sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Jun lagi. Dia percaya Jun bukanlah orang yang akan merebut kekasihnya. Pria itu terlihat baik di mata Taeyeon saat ini.

“Kau kemari?” tanya Taeyeon yang dibalas anggukan semangat dari kekasihnya.

“Unnie, mian kami terlambat. Yoong tadi membeli makana- eoh joesonghamnida!” Taeyeon memiringkan kepalanya untuk melihat seorang gadis dengan seragam sama seperti Tiffany menunduk sopan. Dia terkekeh melihat wajah gadis tersebut karena malu.

“Oh. Ahjumma, aku belun memperkenalkan teman baikku yang satu ini. Dia Seohyun dan yang disampingnya Yoona.”

“Aah.. kau gadis sepeda itu kan?” tanya Taeyeon. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kekasihnya.

“Ne, majayo. Terimakasih telah menyelamatkan saya malam itu.” Seohyun menunduk lagi.

“Aih tak apa, jangan terlalu formal Seohyun-ssi. Huumm kalian ada apa kemari?” tanya Taeyeon.

“Tiffany Unnie bilang Ahjumma akan mentraktir kami semua makan.” jawab gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona.

“Yoong, jaga sikapmu!” bisik Seohyun seraya menepuk bahu Yoona.

Taeyeon yang melihatnya tertawa pelan.

“Bolehkan, ahjumma?” pinta Tiffany dengan puppy-eyesnya.

Taeyeon tersenyum. “Arrasseo. Kalian ingin makan dimana?”

“Yeheyy!” teriak Yoona girang.

“Yoong!” Seohyun menepuk bahu Yoona lagi. Kali ini lebih keras. Semua yang ada disana tertawa melihat kedua sahabat tersebut.

Mereka pun keluar dari ruangan Taeyeon. Sebelum itu, Taeyeon menarik Tiffany dan dengan cepat mengecup bibir kekasihnya. Beruntung mereka berdua di belakang, dan bisa dipastikan ketiga teman Tiffany tidak akan melihat.

“Yaish ahjumma!” Tiffany menepuk dada Taeyeon dan menutupi wajahnya. Dia berjalan cepat menyusul temannya karena malu. Taeyeon terkekeh pelan melihatnya.

Seusai mentraktir teman-teman Tiffany makan siang, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Taeyeon menjadi teringat masa-masa saat menjadi pelajar SMA dulu. Yoong sangat lucu dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon. Mereka juga membuat squad saat di restauran tadi. Yoong menyebutnya, squad gwiyomi. Gadis jangkung itu berkata, Taeyeon dan dirinya adalah makhluk paling cute seantero Korea Selatan.

Taeyeon tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Tiffany yang duduk disampingnya mengerutkan keningnya.

“TaeTae, kau masih waras kan?”

Taeyeon makin tertawa renyah. “Aku hanya teringat saat makan siang tadi. Temanmu yang bernama Yoong sangat lucu.”

“Aah, Yoong memang seperti itu. Dia gadis yang unik.” Tiffany terkekeh membayangkan kebodohan dan kelucuan Yoona.

“Ah jamkkanman. Kau tak keberatan mampir sebentar di mall? Aku ingat persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.”

“Gwaenchanha, TaeTae. Aku juga ingin shopping.”

Taeyeon membulatkan matanya. Dia juga menelan ludahnya. Tiffany dan shopping adalah satu kesatuan yang dapat menimbulkan bencana. Selain dompetnya akan terkuras, tenaga, serta waktunya juga akan terforsir. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan nafasnya pelan.

“Neeeh gadisku yang cantik.” ucap Taeyeon terpaksa.

Tiffany tersenyum senang. Dia mendekat dan mengecup pipi Taeyeon. “Gomawoyongg, TaeTae~” aegyeo Tiffany.

Taeyeon memarkirkan mobilnya di basement. Dia mematikan mesin mobil dan berdehem.

“Sebelum keluar, berikan aku vitamin harianku dahulu.” ujar Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya. “Vitamin harian?”

Taeyeon menatap Tiffany kemudian menarik belakang kepala gadis tersebut. “Ini..”

Kemudian Taeyeon meraih bibir pink kissable kekasihnya dan melumatnya. Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Dia mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan gadis yang lebih tua menarik pinggang Tiffany untuk mendekat.

Mereka berbagi ciuman cukup lama. Tiffany yang mulai kehabisan oksigen melepas ciuman tersebut. Namun tak berselang lama, Taeyeon menempelkan bibirnya lagi. Melumat bibir yang menjadi candunya dengan sangat intim. Tiffany tahu Taeyeon merindukan dirinya. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri. Menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Taeyeon melepas ciuman tersebut. Saliva mereka terhubung satu sama lain. Nafas mereka juga terengah.

“One more..” bisik Taeyeon kemudian mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany sampai kewalahan menghadapi ciuman Taeyeon yang terkesan ganas.

Tiffany mendesah saat Taeyeon menghisap lehernya. Menjilat lalu menghisap dan menggigitnya.

“T- Taeyeonhh~”

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dia mencium gadisnya dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Aah~” Keduanya melepas ciuman mereka.

Mereka menatap satu sama lain dengan senyum lebar.

“Kajja kita keluar.” Taeyeon keluar terlebih dahulu. Dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

“Gomawo.” senyum Tiffany.

Taeyeon dan Tiffany mulai berjalan bersama menuju mall. Pertama membeli bahan dapur terlebih dahulu. Banyak yang harus Taeyeon beli. Setelah selesai, mereka pergi ke tempat pembayaran. Taeyeon meminta barang mereka dipaketkan, karena tidak mungkin Taeyeon membawa semuanya.

Setelah membayar dan menyerahkan alamat apartemennya, Taeyeon segera mengikuti kekasihnya yang akan menguras habis dompet dan tenaganya.

Mereka terus mengitari seluruh penjuru mall. Tentu saja dengan berpuluh-puluh belanjaan. Kaki Taeyeon sampai terasa pegal. Dia tidak mengeluh, demi kesenangan gadisnya.

“Woaah~ kyeopta. TaeTae belikan aku sepatu ini!” Mata Tiffany berbinar saat melihat sepatu bermerk dengan warna pink. Dia melihat sekilas harga sepatu tersebut. Dan hal itu membuatnya menelan ludah. Harga tersebut sama dengan harga ponsel keluaran terbaru.

“N-ne. Ambil saja.” ucap Taeyeon.

Tiffany makin tersenyum. Dia mengecup pipi Taeyeon dan membawa sepatu tersebut ke tempat pembayaran. Taeyeon menghela nafasnya pelan. “Hwaiting!”

Setelah empat jam berkeliling mall dan segudang belanjaan yang Tiffany peroleh, mereka berdua akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Taeyeon merasakan tangannya sudah mati rasa karena membawa barang belanjaan Tiffany yang banyaknya diluar nalar. Dia terus menyemangati dirinya sendiri dan terus mengikuti Tiffany dibelakang.

Saat menuruni eskalator, mata Taeyeon tak sengaja menangkap seorang gadis blonde yang tengah menaiki eskalator di sampingnya. Dia tidak terlalu mempedulikan hingga saat dia selesai menuruni eskalator, Taeyeon terhenyak. Gadis itu menjatuhkan semua belanjaan kekasihnya dan langsung berbalik. Menaiki eskalator dengan berlari. Dia tidak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya.

“Ahjumma! TaeTae!” teriak Tiffany dibawah namun Taeyeon tak menghiraukan kekasihnya.

Ada hal yang jauh lebih penting saat ini. Taeyeon berlari mencari gadis blonde sesaat setelah selesai menaiki eskalator. Taeyeon mengerang.

“Sial! Dimana kau, Kim Hyoyeon!” umpat Taeyeon dengan terus berlari mencari Hyoyeon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Satu chapter terselesaikan. Pffiuuh~

Chap ini gaada badai yes. Dan sorry kalo pendek kaya taeng #plak

Gw mau sedikit ngebacot gpp kali ya. Gw tau kalian pasti masih pada butthurt gegara berita sooseotiff leave SM. Gw jg sedih sih, bahkan nangis #bhakbukaaib. Tp mau gmna lagi, itu udh keputusan mrk. Sbg fans kita cuma bisa dukung, ye ngga?

Dan gw gak bakalan tutup wp ato berhenti nulis. Biarin taeny terus hidup di dunia fanfic walaupun di dunia nyata masih kabur atau ga jelas kabarnya.

Gw juga mohon bantuannya. Kalo semisal gw post fic bukan taeny jan pd nganggep gw gak cinta taeny lagi. Of course gw LS dan gak ada yg bisa nggantiin mrk di salah satu tempat yg khusus buat mrk di hati gw. Tapiii, nge-ship idol lain jg bukan dosa atau kesalahan kan? Gw suka eunxiao juga. Itu jauuh sebelum ada berita itu, jd gak ada kaitannya klo pda ngira gw selingkuh krna taeny gak produktif (?) lagi.

So guys how ’bout the story above? Komen juseyoo~ satu komen dr kalian sangat berharga bagi gue.

Last but not least, entsch bakal end ga nyampe dua puluh chapter. Dan kayak biasa, diupdate tiap minggu. Masih bnyak cerita taeny yg nangkring di kepala gw, makanya gw rampungin ini fic dulu baru bkin fic lain.

Okayy pupye~ see u next chap or fic~

Sweet Love (Chapter 12)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Hari dimana Tiffany pergi ke kampung halamannya tiba. Tiffany dan Taeyeon bekerjasama membereskan pakaian-pakaian dan kebutuhan lainnya ke koper. Taeyeon pergi keluar kamar setelah memasukkan piyama tidur pink favorit isterinya. Dia kemudian kembali lagi selang beberapa menit. Taeyeon melihat isterinya masih memilah baju mana yang harus dibawanya. Dia mendekat dan memasangkan sebuah kalung di leher isterinya. Tiffany terkejut dan membalikkan wajahnya ke belakang.

“Apa ini, TaeTae?” tanya Tiffany setelah Taeyeon berhasil memasangkan kalung.

“Kau tidak lihat itu kalung?” jawab Taeyeon yang membuat Tiffany memutar bola matanya.

“Maksudku kenapa kau memberiku ini? Ulang tahunku masih lama.”

Taeyeon tersenyum. Dia mencuri kecupan di bibir Tiffany dan kembali memasukkan pakaian yang masih dipilah isterinya ke koper.

“Anggap saja itu aku. Kau bisa melihat kalung itu jika kau merindukanku disana.” jawab Taeyeon santai. Dia terus melipat pakaian Tiffany dan memasukkannya ke koper.

Tiffany masih diam di tempat. Taeyeon berbalik dan menatap Tiffany. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.

“Aku juga punya satu. Kau gembok dan aku kunci. Artinya hanya aku yang bisa membuka hatimu.” Taeyeon kembali tersenyum. Dia meletakan satu pakaian lagi di koper dan menutupnya.

“Jja selesai. Ini sudah jam delapan. Pesawatmu sebentar lagi take off.”

Taeyeon hendak membawa koper untuk mengantarnya ke bandara. Namun sebelum itu Tiffany mencegatnya.

“T-Taeyeon…” panggil Tiffany. Taeyeon berhenti berjalan dan berbalik.

“Ne?”

“Kau tak perlu mengantarku ke bandara. Biar Cha Ahjussi saja yang mengantar. Lagipula kau harus berangkat kerja.”

“No no no. Aku ini kan boss. Tidak masalah kalau terlambat beberapa menit.”

“Meskipun kau boss kau juga harus menjadi contoh yang baik untuk karyawanmu. Gwaenchanha, akan kupastikan Cha Ahjussi mengantarku dengan selamat.” Tiffany menunjukam wajah memelasnya. Hal itu membuat Taeyeon menghembuskan nafasnya kasar.

“Geurae. Tapi biarkan aku mengantarmu sampai depan rumah.”

Tiffany mengangguk dan tersenyum, menyembunyikan kedua bola matanya dalam senyum manisnya. Dia menarik tangan Taeyeon dan mulai melangkah keluar rumah. Setelah sampai tepat di pelataran rumah, mereka melihat Cha Ahjussi yang sudah stand by disana. Tiffany membalikkan tubuhnya menghadap Taeyeon. Dia terus menggenggam tangan suaminya, masih belum rela ia lepas.

“TaeTae apa Jessie akan baik-baik saja?” tanya Tiffany khawatir. Taeyeon tersenyum.

“Khawatirkan dirimu sendiri, Fany-ah. Sejujurnya aku masih belum yakin siapa yang dia incar. Aku akan berusaha untuk melindungi kalian berdua. Jadi tenanglah.” Taeyeon memegang kedua lengan Tiffany untuk meyakinkan.

“Nan mideoyo.” ucap Tiffany. Taeyeon melingkarkan kedua tangannya di tubuh Tiffany. Dia menghirup aroma memabukkan isterinya selama beberapa saat. Menyimpannya kedalam memori nya. Dia akan merindukan ini. Pasti.

Taeyeon melepaskan pelukannya dan menatap Tiffany cukup lama. Dia lalu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah isterinya. Tiffany mengerti. Dia menutup matanya sebelum bibir lembut suaminya menyentuh miliknya. Mereka mendiamkannya selama beberapa detik sebelum bibir atas Tiffany Taeyeon lumat. Mereka mencurahkan semua emosi mereka dalam ciuman lembut nan hangat itu. Ini mungkin menjadi ciuman terakhir untuk beberapa waktu kedepan. Mereka tak akan menyia-nyiakannya. Taeyeon melepas ciumannya karena dirasa sudah terlalu lama. Dia melirik Cha Ahjussi yang memalingkan wajah memerahnya karena malu. Taeyeon terkekeh melihatnya.

“Jja, aku tak ingin menahanmu lebih lama lagi, nanti kau terlambat.” Taeyeon mendorong Tiffany menuju mobil. Isterinya menekukan bibirnya kebawah karena Taeyeon memaksanya masuk.

“Hati-hati dijalan, baby. Kabari aku jika sudah sampai LA, ne?”

Tiffany mengangguk patuh dengan senyum tipis. Dia menunjuk bibirnya sebelum dia benar-benar pergi. Taeyeon terkekeh dan mengacak rambut isterinya. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke jendela mobil dan mengecup singkat bibir Tiffany. Wanita itu tersenyum senang setelahnya.

“Gomawo. Na kanda.” kata Tiffany. Taeyeon tersenyum dan mengangguk.

Mobil Tiffany mulai melaju meninggalkan pelataran rumah. Taeyeon melambaikan tangannya selagi mobil masih dapat dijangkau penglihatannya. Setelah benar-benar tak terlihat lagi, Taeyeon masuk kedalam dan bersiap-siap bekerja.

***

Taeyeon meraih ponselnya di atas meja karena berdering. Matanya masih tertuju pada layar komputer di hadapannya. Dia melihat sekilas ke arah ponselnya dan menggeser ikon hijau sebelum beralih ke layar komputernya lagi.

“Yeoboseyo, Sica.”

“……”

“Sica?” Taeyeon mengulangi ucapannya karena tak ada respon disana.

“Taeng…” 

“Ne, Sica. Waegeurae?”

“Kurasa aku menemukan sesuatu yang aneh.” 

“Apa itu?” Terdengar suara helaan nafas di seberang.

“Sajangnim!” teriak seseorang yang baru saja masuk. Nafasnya terengah. Dia menyadari kesalahannya dan segera membungkuk.

“J-Joesonghamnida. Ng k-keunde, apa anda sudah menerima pesan dari saya?”

“Pesan? Pesan apa?”

Taeyeon memalingkan wajahnya sebentar dengan ponsel ditelinganya, bermaksud mengabari Jessica.

“Mian, Sica. Aku hold dulu panggilannya, ne?”

Sepertinya Jessica mengerti karena dia sedikit mendengar percakapan Taeyeon dengan sekertarisnya. Taeyeon menahan panggilan setelah Jessica bergumam.

Taeyeon beralih menatap sekertarisnya lagi. “Pesan apa Eunha-ssi?”

Eunha mendekatkan wajahnya ke telinga Taeyeon, bermaksud membisikkan sesuatu disana. Jangan salah paham karena yang dikatakan sekertarisnya menyangkut rahasia perusahaan. Taeyeon mengangguk paham setelah Eunha memberitahunya.

“Baiklah aku akan mengembalikan pesan lagi karena tadi pagi aku telah mengosongkan kotak masuk. Kau bisa keluar, Eunha-ssi.”

“Ne Sajangnim.”

Setelah sekertarisnya keluar, Taeyeon kembali menghubungi Jessica. Kali ini ia loudspeaker kan karena harus mengembalikan ulang pesan yang dihapus.

“Eoh Sica kau ingin bicara apa?” tanya Taeyeon seraya membuka aplikasi pengembali pesan dan mulai menjalankannya.

“Taeng, tadi aku melihat seseorang yang mencurigakan. Kurasa itu dia.” 

Taeyeon menghentikan kegiatannya. “Lalu?”

“Beruntung bodyguardmu cekatan. Kami bisa melarikan diri darinya. Tapi aku bisa melihat pakaian dan wajahnya sedikit. Dan…” 

“Dan?” tanya Taeyeon. Dia mengeklik pesan yang sudah terhapus dari Eunha dan menyimpannya. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia mulai mengeklik salah satu pesan yang ia kira mencurigakan.

“Aku kembali melihatnya di sebuah cafe. Dan yang paling membingungkan setelah aku pergi darisana aku melihat Tiffany keluar dari sebuah hotel, maka dari itu aku mengikutinya, T-Tiff juga pergi ke cafe dimana orang itu berada.” 

Mata Taeyeon terbelalak. Selain karena perkataan Jessica, juga pesan yang ia baca dari ponselnya. Tangannya ia kepalkan dengan kuat. Taeyeon mematikan panggilan dan menggebrak meja. Dia meraih jasnya dan pergi keluar dari kantor. Jantungnya berdegup kencang karena takut, cemas, dan khawatir.

Taeyeon melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia tidak peduli dengan nyawanya yang sewaktu-waktu bisa menghilang. Dia hanya ingin cepat bertemu Tiffany dan melindunginya sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Dia benar-benar akan sekarat jika Tiffany tergores walau seinci pun. Taeyeon tak ingin Tiffany nya terluka.

Taeyeon memukul stir mobil dan mengacak rambutnya frustasi. “Fany-ah, berhenti membuatku khawatir.”

***

Tiffany meyakinkan dirinya sendiri kalau yang dilakukannya benar. Setidaknya dia harus mencobanya terlebih dahulu. Dia tak ingin membuat Taeyeon khawatir, jadi dia tak memberitahukan hal ini padanya. Meski berisiko, Tiffany tetaplah Tiffany. Dia akan melanjutkannya untuk Taeyeon. Dia ingin suaminya tidak gelisah atau khawatir lagi. Dan lagipula Taeyeon bukan seseorang yang harus disalahkan disini. Semua terjadi karena kehendak Tuhan, dan atas permintaan Heechul Oppa. Tiffany akan berusaha meyakinkan orang itu.

Tiffany menghembuskan nafasnya pelan. Dia mengelus gelang daruratnya, gelang yang memiliki tombol jika terjadi hal-hal darurat dan polisi setempat akan bergegas menuju tempat tersebut dengan melacak keberadaan gelang. Setelah itu, Tiffany mulai masuk kedalam cafe. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru cafe. Disana terlihat lumayan sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berkumpul, beberapa pasang kekasih atau teman, dan satu keluarga. Tiffany melihat hanya ada satu orang yang duduk sendiri. Dia berpikir, mungkin itu adalah orang yang dia cari. Tiffany lalu mulai berjalan kesana.

“Chogi, apa benar anda Kim Hee Jin?” tanya Tiffany. Wanita itu mengangkat wajahnya dan melihat Tiffany. Dia mengernyitkan dahinya sebelum menyeringai tipis.

“Eoh.” jawabnya.

***

Taeyeon meraih ponselnya dan menekan angka tiga. Dia lalu memasang earphone di telinganya. Terdengar bunyi tuut tiga kali sebelum sebuah suara menyapanya.

“Sica! Neo eodi? Apa kau masih disana?” tanya Taeyeon seraya fokus mengendarai.

“…..”

“JESSICA JUNG SOOYEON!”

Taeyeon mendengar helaan nafas dari seberang sana.

“Mian, Taeng. Aku masih berada di dalam mobil untuk memperhatikan mereka, tapi saat aku pergi sebentar ke toilet a-aku sudah tidak menemukan mereka berdua. Mianhae.” 

“Sial!” umpat Taeyeon. Dia memukul stir dengan keras lagi. Tak peduli jika tangannya akan sakit.

“Baiklah. Kau kembalilah pulang, ne? Biar aku yang mengurus semua.”

“H-Hati-hati, Taeyeon-ah.” 

Taeyeon tersenyum. “Ne.” Setelah itu dia mematikan panggilannya.

Selang beberapa menit, terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Taeyeon membukanya dan mulai membacanya.

Isterimu keren juga berani datang padaku. Kalau kau ingin menyelamatkannya datang ke tempat terakhir kali kita bertemu. 

 

– Kim Hee Jin –

 

Taeyeon menggertakan rahangnya. Dia lagi-lagi memukul stir mobil. Dia lalu memutar arah dan langsung mengemudikan mobilnya ke tempat Tiffany berada.

“Psyco!” teriak Taeyeon.

Di tengah perjalanan, Taeyeon merasa ada yang aneh. Dia melihat sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Dia mencoba menyetir dengan zig zag dan mobil di belakangnya melakukan hal yang sama. Taeyeon lalu menambah kecepatan untuk meloloskan diri dari mobil yang mengikutinya. Namun Taeyeon terkejut saat kecepatan mobilnya tiba-tiba naik tanpa ia kendalikan. Dia mencoba menekan rem namun mobilnya masih terus melaju. Bahkan bertambah cepat. Taeyeon melihat mobil itu lagi di belakangnya.

Taeyeon menggeram. Mobilnya pasti sudah dikendalikan oleh mobil di belakang nya. Taeyeon terus menyetir semampunya. Dia berusaha menghindari mobil lainnya ditengah kecepatan yang tak biasa. Namun saat di perempatan, Taeyeon tak bisa mengelak saat ada sebuah truk melaju dari arah kanan. Taeyeon memejamkan matanya dan berteriak.

*Ckiiiiiit

*Bruuuuuk

*Baaam!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Taeng kenapaah? Pany kenapaahh? Akhir mrk berdua gimanahh? Wkwk

Sorry gaes ngomong gini, but chapter selanjutnya adalah ending. Say bye bye buat nih ff ehehehe. Selanjutnya gw masih ada projek buat ff baru sih buat gantiin SL

Okedah pai pai~ see u next chap

 

P.s : siap-siap pw ya *ups

Sweet Love (Chapter 11)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Akhir pekan yang dinanti. Beberapa orang dari Scarlet Enterprise terlihat memenuhi salah satu bar. Mereka yang datang rata-rata  karyawan single yang ingin bersenang-senang dengan beberapa wanita disana. Tak jarang pula yang hanya ingin menghilangkan stress kerja dengan mabuk.

Di salah satu sudut meja bar, terlihat dua orang pria dewasa tengah bercakap-cakap. Mereka tak memedulikan suasana sekitar yang cukup bising dan lebih memilih meminum minuman mereka diselingi obrolan.

“Aish, kau tahu apa yang terjadi padaku kemarin, huh?” tanya pria yang lebih tinggi dari pria disebelahnya.

“Wae?”

“Aku dimarahi habis-habisan karena terlambat beberapa hari lalu. Heish, kau tahu isteriku baru melahirkan, eoh. Aku harus mengurus anakku terlebih dahulu. Ck jinjja, kalau saja bos kita tidak cantik sudah aku sumpal mulutnya.” Pria itu menenggak minumannya sekali teguk.

Pria disampingnya tertawa keras. “Kalau aku jadi kau, aku akan sangat bersyukur karena diperhatikan oleh Kim Taeyeon walaupun dengan omelan.”

Pria yang lebih tinggi menggeleng dan berdecak. “Ingat dia sudah memiliki isteri.”

“Arra. Tapi tetap saja mereka itu di jodohkan. Sesuatu yang dimulai karena paksaan pasti tak berjalan baik asal kau tahu.”

Pria disampingnya memukul bahunya. “Haish, kau terlalu banyak menonton drama.”

Mereka berdua terus mengobrol tanpa mengetahui seseorang tengah mendengarkan percakapan mereka di bangku samping tempatnya duduk. Dia mengenakan topi hitam, jadi wajahnya tak bisa dilihat dengan jelas.

“Hei, kudengar tunangan Taeyeon sajangnim yang dikabarkan meninggal beberapa tahun yang lalu masih hidup.” kata pria yang lebih pendek. Seseorang disamping mereka membulatkan matanya dan mengepalkan buku-buku jarinya.

“Ya! Mana ada orang yang sudah mati bisa hidup lagi!”

“Aku awalnya juga tidak percaya, Sewoon-ah. Tetapi beberapa waktu yang lalu aku melihat Taeyeon sajangnim bersama seorang wanita. Aku yakin seribu persen wanita itu mirip mantan tunangannya. Dan gosip itu memanglah benar.”

“Jeongmal? Khaaah. Lalu bagaimana dengan hubungan mereka? Kau tahu kan Taeyeon sajangnim dulunya sangat mencintai dia.”

“Entahlah. Mereka mungkin saja masih bisa bersama.”

Kedua pria itu menolehkan kepalanya bersamaan saat mendengar gebrakan cukup keras dari samping tempat mereka duduk. Mereka melihat orang disamping mereka berlari setelah menggebrak meja. Kedua pria itu mengerutkan keningnya lalu menggeleng.

“Anak muda jaman sekarang memang penuh emosi.” kata pria yang dipanggil Sewoon tadi.

***

Taeyeon menggigit bibirnya dan berjalan mondar-mandir. Dia lalu duduk sejenak di sofa dan bangkit lagi. Dia menggigit jari telunjuknya. Matanya terpejam sebelum menghembuskan nafasnya kasar.

Tiffany datang ke arahnya sembari membawa sebuah piring berisi buah-buahan yang sudah dipotong kecil. Dia mengerutkan keningnya melihat suaminya terlihat cemas.

“TaeTae gwaenchanha?”

“Ah kkamjakiya.” Taeyeon memegang dadanya karena terkejut mendapati isterinya di depannya.

“Gwaenchanha?” tanya Tiffany sekali lagi.

Taeyeon mengangguk. “A-ah n-ne t-tentu saja.”

Mata Tiffany memicing. Dia mendekatkan wajahnya pada Taeyeon dengan tatapan mengintimidasi. Taeyeon menelan ludahnya karena gugup.

“Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”

“T-Tentu saja tidak!” Taeyeon makin memundurkan wajahnya saat wajah Tiffany terus mendekat ke arahnya. Tiffany memundurkan kembali wajahnya yang membuat Taeyeon mendesah lega.

“Geurae. Makanlah ini.” Tiffany meletakan piring berisi buah-buahan di meja dan menyuruh Taeyeon duduk disampingnya.

Taeyeon menurut dan mulai duduk disamping isterinya. Dia hanya diam dan menatap kosong ke depan.

“Aaa~” Tiffany menyodorkan sepotong buah ke depan mulut suaminya. Taeyeon sedikit memundurkan wajahnya sebelum memakan buah tersebut.

“Enak?” tanya Tiffany lalu menyendokan sepotong buah ke mulutnya.

“Rasanya seperti buah.”

Tiffany tertawa dengan jawaban suaminya. Taeyeon tersenyum melihat tawa isterinya. Dia mengusap puncak kepala Tiffany sebelum mengambil sepotong buah lagi dan memasukannya kedalam mulutnya.

“Eoh TaeTae, kudengar Yuri dan Jessica akan menikah bulan depan.”

Taeyeon mengangguk. “Ne.”

Tiffany memiringkan kepalanya dan menyatukan keningnya. Terlihat seperti berpikir sesuatu.

“Bagaimana denga orangtua Jessica? Kau bilang mereka masih mendukungmu dengan Jessie.”

Taeyeon meraih tissue di meja dan membersihkan telapak tangannya dan sudut bibirnya sebelum menjawab pertanyaan Tiffany.

“Aku sudah membicarakan itu baik-baik dengan mereka. Awalnya memang sedikit sulit meyakinkan Dad dan Mom. Tapi Yuri berhasil meyakinkan mereka. Kuakui Yul keren saat itu.”

“Aah begitu. Jessie beruntung sekali mendapat Yul. Dia wanita dewasa, tidak seperti mantannya.” Tiffany sedikit menaikkan bibirnya dengan jari telunjuk di dagunya.

Taeyeon menatap isterinya dengan sedikit tak percaya. “Permisi, miss. Siapa yang anda bicarakan?”

“Ah bukan siapa-siapa. Dia hanya wanita pendek yang kekanakan dan byuntae.” jawab Tiffany tanpa berdosa.

“Heol.” Taeyeon membuka mulutnya dan menatap isterinya.

“Tapi walaupun begitu. Isterinya saaaangat mencintai wanita pendek itu hingga aku tak bisa berbuat apa-apa.” lanjut Tiffany.

“Kau benar-benar pandai menggombal huh nyonya Kim.”

Tiffany tertawa pelan. Tangannya bertepuk saat tertawa. Kebiasaannya saat tertawa yang Taeyeon tahu. Tiffany menggeser duduknya hingga berhadapan dengan Taeyeon. Dia sedikit menaikkan tubuhnya agar bisa duduk dipangkuan Taeyeon. Tiffany mengalungkan kedua tangannya di leher Taeyeon. Hidung mereka bersentuhan.

“Aku… saaangat sangat sangat menyukai wanita di depanku ini. Dan itu terkadang membuatku gila.” Tiffany berbicara tepat di depan bibir Taeyeon. Wanita pendek itu sendiri sedang berusaha kuat menahan dirinya agar tak cepat-cepat melumat bibir di depannya itu.

“Taeyeon-ah, gomawo.” Tiffany tersenyum, menunjukan matanya yang melengkung seperti bulan sabit. Taeyeon menaikan satu alisnya sebagai balasan.

“Gomawo karena kau telah lahir di dunia ini dan menerimaku sebagai satu-satunya wanita di dalam hidupmu.”

Taeyeon memejamkan matanya saat Tiffany kembali menunjukan senyum mautnya. Dia berusaha keras menahan sesuatu yang bergejolak di dalam sana. Tiffany membuatnya gila! Taeyeon akhirnya meraih dagu Tiffany dan menarik bibir wanitanya ke dalam mulutnya. Dia mencium Tiffany dengan panas namun masih terkesan lembut. Dia tak ingin menyakiti wanitanya.

Di sela ciuman panas yang tengah mereka lakukan, ponsel Taeyeon tiba-tiba berbunyi. Taeyeon sedikit menarik bibir bawah Tiffany di sela-sela bibirnya sebelum menghentikan ciuman mereka.

Taeyeon meraih ponsel di sakunya dan membukanya. Dia melihat ada satu pesan masuk disana. Taeyeon membukanya dan mulai membaca.

Lama tak berjumpa Taeyeon-ssi. Kuharap kau baik-baik saja. Kurasa kita butuh bertemu untuk membahas sesuatu yang belum tuntas kita selesaikan. Bagaimana? 

 

– KHJ –

 

Taeyeon menatap kosong pesan tersebut. Tangannya yang lain ia kepalkan dengan kuat.

***

Taeyeon menekan beberapa angka untuk membuka pintu apartemen Jessica. Dia tahu passwordnya karena melihat Jessica saat mereka tinggal bersama selama seminggu dulu. Tanpa membuang banyak waktu, Taeyeon segera masuk kedalam.

Di dalam terlihat sepi. Mungkin Jessica tengah pergi. Atau mungkin wanita itu sedang tinggal di rumah orangtuanya. Taeyeon memilih menunggunya di kamar Jessica sekalian berbaring sebentar.

Cklek

Taeyeon membuka pintu kamar Jessica dan masuk kedalam.

“Kyaaaaaa~” Taeyeon menutup telinganya saat mendengar teriakan lumba-lumba Jessica. Wanita itu tengah naked karena berganti pakaian.

“Aish. Jangan terlalu terkejut Sooyeon-ssi. Bahkan kita pernah melakukan lebih.” Taeyeon memutar bola matanya dan berjalan ke ranjang.

“Ya! Keluar dari kamarku!” teriak Jessica. Dia berusaha menutupi tubuhnya dengan handuk.

“Cepat pakai bajumu. Ada hal yang ingin kubicarakan.” ucap Taeyeon seraya membaringkan tubuhnya di ranjang dan memeluk bantal guling milik Jessica.

“Kubilang keluar dari kamarku!”

“Diam atau aku akan menjamah tubuhmu.” Taeyeon menatap tajam Jessica, membuat wanita blasteran itu menghela nafas. Jessica mulai meraih pakaiannya dan memakainya. Selama berpakaian bibirnya selalu ia tekuk kebawah. Apalagi kalau bukan karena si annoying Kim itu.

“Kau ingin bicara apa?” tanya Jessica dengan sedikit tak bersahabat. Taeyeon bangkit dari tidurnya dan beralih duduk. Dia menepukkan tempat di sebelahnya untuk Jessica duduk. Mau tak mau wanita itu menurutinya.

“Waegeurae?” tanya Jessica lagi.

Taeyeon tak menjawab. Dia malah menempatkan kepalanya di pangkuan Jessica dan menatapnya dengan tatapan sendu. Jessica awalnya ingin berteriak kesal, namun ia urungkan saat melihat wajah Taeyeon. Dia tahu pasti ada yang tidak beres dengan mantan tunangannya itu.

Taeyeon meraih tangan Jessica dan memainkannya. Taeyeon menghela nafasnya. “Tak lama lagi kau akan jadi milik Yuri.”

Jessica mengerutkan keningnya. “Lalu?”

“Lalu? Lalu aku akan melihat orang yang kusayangi bahagia tapi bukan karenaku.” jawab Taeyeon dengan mengerucutkan bibirnya. Jessica terkekeh seraya mengelus kepala Taeyeon.

Meskipun mereka sudah memiliki pasangan masing-masing, tapi kedekatan mereka masih sama seperti saat mereka masih memiliki hubungan khusus. Pasangan mereka tak keberatan akan itu. Tiffany dan Yuri tahu kekasih mereka tak akan berbuat curang terhadap mereka. Lagipula Taeyeon dan Jessica sangatlah dekat semenjak belum memiliki hubungan khusus.

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, Taeyeon-ah?” tanya Jessica lembut.

Taeyeon memejamkan matanya dan mendesah. Dia lalu bangkit dari tidurnya di pangkuan Jessica. Dia menatap Jessica lekat-lekat sebelum memeluknya. Detik kemudian tangisnya pecah. Itu tangisan kedua yang Jessica dengar semenjak pertemuan pertama mereka di restoran. Dia menepuk punggung Taeyeon.

“Sicaya, kau tahu betapa aku menyayangimu. A-Aku tak mau kehilanganmu untuk yang kedua kali.” ucap Taeyeon disela tangisannya.

“Aku tak akan meninggalkanmu meski aku bersama Yuri, Taenggu.” balas Jessica.

Taeyeon menggeleng, masih terisak. Dia melepas pelukan mereka dan menatap Jessica.

“Ani. Bukan itu.”

Jessica mengerutkan keningnya. “Lalu?”

“Kau masih ingat kecelakaanmu dulu, kan?” Jessica mengangguk bingung.

Taeyeon menghela nafasnya. “Itu direncanakan, Sicaya.”

Mata Jessica melebar. “MWO?”

“S-Siapa yang m-melakukan itu?” tanya Jessica. Bibirnya bergetar. Air mata mulai turun di pipinya.

Taeyeon mengusap air mata Jessica dan mengecup matanya yang berair. Dia meraih tangan Jessica dan menggenggamnya.

“Mianhae. Tapi kurasa orang itu kembali. Dan aku takut kehilanganmu lagi, Sica.” Taeyeon menggigit bibir bawahnya, menahan tangisan.

Jessica menggeleng. “Katakan siapa orang itu, Taeyeon.”

Taeyeon mendesah. Dia mengelus wajah Jessica dan tersenyum lemah. “Aku akan mengirimkan bodyguard untukmu. Dan aku ingin kau selalu mengabariku kalau kau ingin pergi ke suatu tempat.”

“Kim Taeyeon siapa orang itu?!” teriak Jessica tak sabar.

Taeyeon memejamkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Jessica.

“Dia…”

***

Malam itu Taeyeon tak bisa tidur. Meski sudah terlewat beberapa hari semenjak dia menerima pesan dari orang itu. Dia masih saja merasa takut. Tiffany yang tertidur membelakanginya tahu bahwa Taeyeon dalam keadaan tak baik. Dia hanya diam menunggu suaminya bercerita padanya.

Taeyeon meraih ponselnya dan membukanya. Tak ada pesan lagi dari Jessica. Terakhir kali mereka chat sore tadi saat Jessica bilang ingin pergi menemui sahabatnya di Myeong-dong. Tentu saja ditemani bodyguard yang Taeyeon kirim. Meski Jessica berkata dia akan baik-baik saja tanpa bodyguard tapi Taeyeon terus memaksa demi kebaikannya. Jessica melihat betapa cemasnya Taeyeon jadi dia tak tega menolak niat baik Taeyeon. Dan pada akhirnya dia menerima bodyguard dari Taeyeon untuk mengawalnya.

Walaupun Taeyeon yakin bodyguard itu mampu melindungi Jessica, namun hatinya masih saja khawatir. Taeyeon tak bisa menganggap remeh orang itu. Orang yang menyelakai Jessica.

“TaeTae?” panggil Tiffany. Taeyeon menoleh ke samping. Tiffany masih berbaring membelakanginya.

“Kau belum tidur?” tanya Taeyeon. Tiffany membalikkan tubuhnya menghadap Taeyeon.

“Sepertinya kau lupa siapa aku belakangan ini, Tae.” ujar Tiffany sedih. Taeyeon mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan Tiffany.

“Aku bukan hanya isterimu yang melayanimu sebagai seorang suami, tapi aku juga teman hidupmu yang siap menampung semua keluh kesahmu. Jika kau ada masalah, ceritalah padaku, TaeTae.” Tiffany mengusap wajah suaminya dengan lembut.

Taeyeon meraih tangan Tiffany yang tengah mengusap wajahnya. Dia mengecup kening Tiffany sebelum berbicara.

“Aku tak mau membahayakanmu dalam hal ini, Fany-ah. Dan aku berencana memulangkanmu ke kampung halamanmu.”

“Apa maksudmu, Taeyeon-ah?”

“Dia tak mengincarmu. Namun ada kemungkinan dia juga mengincarmu. Sebelum itu terjadi, aku akan memulangkanmu ke LA terlebih dahulu.”

“Taeyeon sebenarnya apa yang sedang kau katakan?”

“Kemasi barang-barangmu besok, hm? Saranghae.” Taeyeon mengecup kening Tiffany sekali lagi.

“Jaljayo.”

“KIM TAEYEON KATAKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!” teriak Tiffany. Taeyeon tercengang karena ini pertama kalinya Tiffany berteriak padanya. Dia kemudian menghela nafasnya.

“Karena aku tak mau kehilangan siapapun.” Taeyeon menatap Tiffany lekat. Mereka terdiam selama beberapa saat.

“Maka dari itu, kumohon dengarkan aku kali ini, Fany-ah.”

“Aku mencintaimu dan aku menyayanginya.”

“Kalian wanita paling berharga setelah Umma.”

“Aku tak ingin kehilangan kalian.”

“Sudah cukup aku merasa kehilangan. Aku tak mau lagi. Itu menyakitkan.”

Air mata mulai membanjiri pipi Taeyeon. Tiffany juga sepertinya mulai paham kemana arah bicara Taeyeon. Dia mengerti. Maka dari itu dia memilih diam lalu memeluk suaminya dan menepuk punggungnya.

“Fany-ah apa neomu apa hiks~”

Tiffany mengangguk. Dia juga meneteskan airmata melihat suaminya seperti ini. Dia terus menepuk punggung Taeyeon hingga suaminya itu tertidur.

Saat Taeyeon sudah tertidur, Tiffany mendengar ponsel Taeyeon berbunyi. Dia meraih dan membuka pesan tersebut.

Bodyguard, huh? Yang benar saja. Temui aku di cafe biasa besok jam 3. 

 

– KHJ –

 

“KHJ?” gumam Tiffany. Dia mengerutkan alisnya dan berpikir.

“Mungkinkah…” Dia tak melanjutkan ucapannya lagi selain membuka mulutnya dan membulatkan matanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sorry for loooong update. Chapter 12 menyusul sebentar lagi. Wait for yeu

Pai pai~ see u next chap

Sweet Love (Chapter 10)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Taeyeon membuka matanya dengan menyipit. Dia menekan kepalanya yang terasa pusing. Tangannya ia edarkan ke samping, berharap isterinya masih disampingnya. Namun yang di dapatkannya hanya ranjang kosong. Tiffany pasti sudah bangun terlebih dahulu. Taeyeon mengerang. Dia menyandarkan tubuh polosnya di sandaran ranjang sebelum menutup matanya pelan. Dia bingung akan memberikan alasan apa pada Tiffany mengenai kejadian semalam. Taeyeon tidak mau membuat isterinya merasa sedih karena hal ini. Dia sedikit tahu bahwa ternyata orangtua Jessica, bahkan Yoona masih mengharapkan dirinya dan Jessica kembali bersama.

Saat masih memikirkan alasan untuk Tiffany, pintu kamarnya terbuka pelan. Dia melihat Tiffany dengan pakaian santainya. Wanita itu pasti sudah membersihkan dirinya. Taeyeon tersenyum kecil saat melihat beberapa tanda merah yang mulai membiru di sekitar leher isterinya. Hasil karyanya semalam. Tiffany mendekat ke arah Taeyeon dan mendudukan pantatnya di samping suaminya.

“Gwaenchanha? Kau terlihat pucat, TaeTae.” Tiffany meletakkan punggung tangannya di dahi Taeyeon. Wanita imut itu menggeleng. Dia meraih tangan Tiffany di dahinya dan mengecupnya. Disusul kecupan singkat di bibir isterinya.

“Nan gwaenchanha, sayang.”

Tiffany mendesah pelan. “Kalau begitu. Pergilah mandi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Mana sarapan wajibku?”

Tiffany memutar bola matanya. “Tak ada sarapan wajib. Kau sudah mendapatkannya semalam suntuk.”

Tiffany segera melarikan diri dari Taeyeon sebelum wanita itu menerkamnya kembali. Taeyeon berteriak, namun Tiffany mengacuhkannya dan tetap melangkah keluar. Taeyeon mengerucutkan bibirnya dan membuang selimutnya ke sembarang arah. Dia bangkit dan menghentakkan kakinya di lantai, persis seperti anak kecil yang tidak dituruti kemauannya. Dia akhirnya melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

 

Taeyeon menyeret kakinya malas kebawah, dimana isterinya berada. Dia masih kesal karena Tiffany tidak memberikannya morning kiss. Benar-benar tipikal suami kekanakkan. Tiffany yang melihatnya menghela nafasnya pelan. Dia mendekat ke arah Taeyeon dan langsung menarik wanita itu. Tiffany meraih wajah Taeyeon dan langsung melumat bibir suaminya dengan lumayan panas. Taeyeon yang melihatnya sedikit terkejut, namun detik kemudian, dia sudah melingkarkan tangannya di pinggang isterinya dan mulai membalas lumatan isterinya. Setelah keduanya hampir kehabisan oksigen, Tiffany yang berinisiatif melepas ciuman panas mereka. Keduanya terengah. Tiffany menjatuhkan kecupan singkat sebelum berbicara.

“Sudah, kan?”

Taeyeon menunjukkan cengiran lebarnya. Dia menggumamkan kata terimakasih sebelum memeluk isterinya kemudian menggandengnya ke ruang makan.

“Whoahh, ini makanan favoritku semua. Gomawo, Pany-ah.” Taeyeon menatap isterinya dengan berkaca-kaca sebelum menyantap sarapan mereka dengan semangat. Tak ada makanan yang lebih enak dari makanan buatan isterimu. Itu prinsip Taeyeon. Semua masakan Tiffany ia buat dengan cinta. Taeyeon menyukai itu.

Saat Taeyeon tengah asik menyantap sarapannya, Tiffany berdehem lalu mulai bertanya sesuatu pada suaminya.

“Me- Mengenai semalam…”

Taeyeon meletakan sumpit di meja cukup keras, membuat Tiffany menghentikan ucapannya. Tiffany melihat Taeyeon membawa kursinya dan menempatkannya di sampingnya lalu meraih kedua tangan Tiffany.

“Fany-ah, percaya padaku apapun yang terjadi. Meskipun langit runtuh, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun semua orang tidak berpihak pada cinta kita, aku berjanji tidak akan pernah melepasmu. Meskipun banyak yang lebih baik darimu, aku berjanji tidak akan pernah mencoba bermain di belakangmu. Itu janjiku, Fany-ah.”

Tiffany melihat raut kesungguhan di wajah Taeyeon. Itu yang membuat matanya memanas karena terharu. Dia mengangguk dan tersenyum manis. Setetes cairan bening mengalir di pipinya. Taeyeon menghapusnya sebelum memeluk isterinya erat. Tiffany terisak. Dia percaya pada ketulusan Taeyeon. Dia hanya merasa bahagia. Bahagia karena Taeyeon. Mengenai kejadian semalam biarlah tak diketahuinya. Tiffany percaya Taeyeon tak akan menyakitinya. Taeyeon sudah berjanji padanya. Tiffany merasakan kecupan di kepalanya disusul gumaman yang masih bisa di dengarnya.

“Mianhae, neol saranghae.”

***

Yuri membuka matanya perlahan karena sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamarnya dan menyilaukan indera penglihatannya. Dia melihat kekasihnya masih terlelap di sampingnya. Yuri tersenyum pelan. Dia mengelus wajah kekasihnya dengan sayang sebelum menjatuhkan kecupan di bibir mungilnya. Setelah itu, Yuri bangkit dari tidurnya dan bergegas membersihkan tubuhnya yang lengket karena berkeringat akibat kegiatan panas mereka semalam.

Butuh waktu tiga puluh menit untuknya membersihkan diri. Setelah selesai berpakaian, Yuri mendekat ke ranjang untuk membangunkan kekasihnya. Dia menghela nafas pelan. Membangunkan kekasihnya sama saja dengan membangunkan mayat hidup. Jessica adalah ratunya tidur. Dia tidak akan bangun meskipun ada gempa sekalipun. Dan cara ampuh untuk membangunkannya adalah menceritakan hal lucu untuk membuatnya tertawa dan akhirnya terbangun. Yuri berpikir lelucon apa yang akan diceritakannya pada Jessica.

Yuri mendesah. Dia tak punya bahan lelucon untuk Jessica. Dia akhirnya melakukan hal yang akan membahayakan dirinya sendiri. Sebelumnya Yuri juga pernah melakukan ini dan berakhir pipinya yang lebam beberapa hari. Yuri menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya, bersiap membangunkan Jessica.

“Jung Hee- maksudku- Sicaya~ bangun, sayang.” Yuri mengelus pipi Jessica sebelum mendekatkan wajahnya ke arah bibir mungilnya.

Yuri hanya menempelkannya sebelum bergerak melumatnya perlahan. Jessica masih tak sadar. Namun Yuri terus melumat, menggigit, dan menghisap bibir Jessica. Kali ini lebih menuntut. Jessica mulai merasa ada yang tidak beres diatas tubuhnya. Dia mengerjapkan matanya perlahan dan terkejut melihat seseorang sedang menciumnya. Jessica membulatkan matanya dan segera menendang seseorang diatasnya. Tak lupa disusul teriakan lumba-lumbanya. Yuri menahan napasnya saat pantat nya menyentuh lantai yang keras. Belum tendangan maut Jessica di perutnya tadi. Dia merasakan tubuhnya sakit hampir keseluruhan.

“Y-Yul..” lirih Jessica saat melihat Yuri terjatuh dibawahnya. Dia hendak menolong Yuri namun dia cepat-cepat berhenti saat melihat tubuh polosnya. Dia langsung lari terbirit dengan selimut yang melilit tubuhnya ke kamar mandi. Dia malu mengingat kejadian semalam. Jujur itu pertama kali mereka melakukan ‘itu’.

Yuri menghela nafasnya dan bangkit meskipun pantatnya terasa sakit. Sudah Yuri bilang, membangunkan Jessica dengan cara ini sangat berisiko. Dia akhirnya menunggu Jessica membersihkan dirinya sembari bermain game di ponselnya.

Jessica menghela nafasnya pelan sebelum melangkah keluar dari kamar mandi. Dia mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan Yuri yang pasti akan menanyainya tentang kejadian semalam. Jessica melihat Yuri menoleh padanya sekilas dan kembali memainkan ponselnya lagi. Dia mendekati Yuri dan duduk disampingnya.

“Yul..”

“Hmm.”

“Ya! Kenapa jawabanmu hanya hmm! Kau berani marah padaku?!”

Yuri menelan ludahnya melihat hell-sica. Dia segera menggelengkan kepalanya cepat dan melempar ponselnya di samping ranjangnya. Jessica menghela nafasnya. Tidak seharusnya wanita dingin itu yang marah, tapi bagaimanapun juga, Jessica benci jika Yuri mengabaikannya dan marah padanya.

“T- Tentang kejadian semalam..”

“Gwaenchanha. Aku menikmatinya.”

Jessica menatap Yuri dengan death glare nya. Yuri meringis dan mengangkat jarinya membentuk huruf V.

Jessica menghela nafas lagi. “Semalam Daddy mengajak dinner.. bersama Taeyeon. Entah apa yang ada dipikiran pria tua itu, dia mencampurkan obat perangsang di wine yang kami minum. Dan kau tahu bagaimana kelanjutannya hingga aku sampai di apartemenmu.”

Yuri menganggukkan kepalanya paham. Dia seperti berpikir sesuatu.

“Kau marah?” tanya Jessica.

“Untuk apa aku marah saat kekasihku ini sangat hebat menahan hormonnya untuk datang kesini? Kau tidak melakukan itu dengan Taeyeon kan meski dulu kau sering melakukannya dengan wanita pendek itu?”

Jessica tersenyum. Dia lalu memeluk Yuri dengan erat. Jessica tidak salah pilih orang untuk menjadi kekasihnya, bahkan calon tunangannya. Dia bersyukur mendapat seseorang yang sangat mengerti dirinya, selain Taeyeon pastinya. Lupakan, mereka hanya masalalu. Jessica semakin mengeratkan pelukannya pada Yuri.

“Gomawo, seobang. And I love you~” Jessica sedikit mendongak untuk mengecup bibir Yuri. Dia tertawa melihat ekspresi terkejut Yuri. Namun itu tak berlangsung lama. Yuri menyusul Jessica untuk tertawa bersama.

***

Sudah tiga hari semenjak tragedi dinner bersama Daddy Jung. Hubungan pasangan TaeNy dan YulSic makin menghangat. Mereka sudah melupakan kejadian hari itu dengan berpikir bijak. Kesetiaan pasangan mereka perlu diacungi jempol. Bahkan kini mereka berempat mengadakan double date di salah satu restoran favorit Tiffany. Restoran milik salah satu sahabatnya, Sooyoung. Beruntung bagi mereka, semua makanan yang mereka pesan tak berbayar alias gratis. Mereka awalnya menolak. Namun Sooyoung terus memaksa sehingga mereka mengalah. Sooyoung berkata bahwa itu adalah bentuk traktirannya karena tidak ikut hadir dalam acara pernikahan sahabatnya, Tiffany.

“Yul, kapan kau akan menikahi mantan kekasihku itu?” tanya Taeyeon yang dibalas deheman keras dari Jessica. Wanita itu juga berpura-pura batuk. Sedangkan Tiffany membalas pertanyaan Taeyeon dengan memutar bola matanya malas.

“W-Wae? Dia memang mantan kekasihku. Mantan terindah.” Taeyeon mengerucutkan bibirnya. Dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Itu adalah bentuk pencairan suasana darinya. Sesekali melempar lelucon tidak akan membunuhmu, iya kan? Jessica memperlihatkan ekspresi muntahnya setelah Taeyeon berkata itu.

“Hentikan ucapan idiotmu, Taeng. Kau membuatku ingin menumpahkan air ini ke wajah sok polos mu.”

“Aish lihat dia, Fany-ah. Dia sangat kasar. Beruntung sekarang aku memilikimu. Isteri tercantik dan terbaik sepanjang masa.” Taeyeon memeluk Tiffany dengan erat. Jessica memutar bola matanya malas.

“Aigoo aigoo. Lihatlah dia Sicababy. Kau harus bersyukur tidak jadi bersama wanita bocah seperti dia. Sangat menggelikan.” ucap Yuri membela kekasihnya. Jessica tertawa dan mengangguk.

“Ne, Seobang. Aku beruntung memiliki calon suami keren, dewasa dan TINGGI sepertimu.” balas Jessica menekankan kata ‘tinggi’ di hadapan Taeyeon.

“Yaish, kenapa ini menjadi acara review mantan isteri dengan isteri, sih? Kita kemari untuk makan bukan saling mengejek.” semprot Tiffany. Mereka bertiga langsung diam di tempat. Tak berani bicara melihat hell-fany.

“Lagipula Taeyeon sangat hebat di ranjang.” gumam Tiffany yang sayangnya masih bisa di dengar ketiga orang disana.

“YA!!!” koor semua. Tiffany menunjukkan cengiran lebarnya seraya mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.

“Dia juga romantis, kau tahu.”

“HWANG MIYOUNG!” teriak YulSic. Taeyeon menanggapinya dengan tertawa. Sepertinya double date kali ini lebih menyenangkan dari yang mereka pikir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Waww did u guys miss meh? Wkk 😀

Ane bawa yg manis2 dulu sebelum badai (?) dateng. Tapi doain aja gaada eh tp klo gaada badai ga seru dong. Ah bodo wkwk. Yeps tunggu ajeu angin topannya hahaha.

Bye~ see u next chap

Sweet Love (Chapter 9)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Tiffany berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sesekali menggigit bibir bawahnya atau menggigit kukunya. Dia merasa cemas dengan perasaannya sebagai seorang isteri. Bukan dia tidak percaya dengan Taeyeon, dia hanya takut jika Taeyeon menyembunyikan sesuatu padanya. Dia tidak mau hal itu terjadi. Terdengar posesif memang, tapi mau bagaimana lagi. Tiffany juga tidak ingin terlihat sebegitu posesif terhadap suaminya. Itu malah akan terlihat seperti… so pathetic. 

Entahlah, menjadi seorang isteri dari seorang goddes Kim terlalu banyak berisiko. Tiffany tahu belakangan ini kalau banyak perempuan dan pria diluaran sana yang menggilai Taeyeon. Aura wanita itu memang terlalu kuat hingga bahkan wanita atau pria yang melihatnya akan jatuh berlutut dihadapannya. Dia bergidik ngeri melihatnya. Taeyeon-nya terlalu sempurna. Bukan hanya fisik, tetapi kerendahan hatinya juga.

Saat sedang cemas memikirkan suaminya, Tiffany tersadar akan sesuatu dan segera mendapat ide untuk membunuh rasa khawatirnya. Dia berlari mengelilingi ranjang dan meraih ponselnya di nakas. Dia membuka laci nakas dan bergegas mencari sesuatu.

Gotcha

Ketemu. Dia meraih secarik kertas bertuliskan nama seseorang beserta nomor teleponnya dan lain sebagainya disana. Tiffany segera menekan beberapa nomor yang ada disana di ponselnya. Setelah selesai, dia menekan tombol call dan mendekatkannya ke telinga. Terdengar suara tuut lima kali sebelum sebuah suara menyapanya di seberang sana.

“Yeoboseyo, dengan siapa ini?” 

“Benarkah ini Eunha-ssi? Saya Tiffany, isteri Kim Taeyeon.”

“Ah, Mrs. Kim. Ada yang bisa saya bantu, Mrs?”

“I-Itu.. A-Apa Taeyeon sedang lembur bekerja? A-Apa dia masih di kantor?”

“Ne, Mrs. Taeyeon Sajangnim beserta divisi kami tengah mengadakan rapat dan kami akan lembur.” 

“Arrasseo. Kalau begitu saya tutup teleponnya, Eunha-ssi.”

“Ba-…” “Fany-ah!” 

“T-Tae?”

“Ya, ini aku. Apa kau mengkhawatirkanku? Kau tenang saja, sayang. Aku memang sedang lembur. Kau istirahatlah, ini sudah hampir tengah malam.” 

Tiffany menghela nafasnya lega. “Ne, TaeTae. Jangan terlalu larut pulangnya. Apa kau sudah makan?”

“Tentu saja sudah. Aku tidak ingin terkena omelanmu karena terlambat makan lagi.” 

Tiffany terkekeh. “Aku tutup teleponnya, TaeTae. Selamat bekerja kembali. Fightaeng!”

Terdengar suara tawa kecil di seberang. “Fightaeng!” 

“Ne, annyeong.”

“Anio, yang benar see you later.” 

Tiffany tertawa renyah. “Arrasseo, see you later, TaeTae. Sudahlah, aku benar-benar akan menutup teleponnya. Kau bekerja yang giat, ne?”

Setelah mengatakan itu, Tiffany buru-buru menutup teleponnya. Dia tidak ingin mengganggu Taeyeon. Dia sudah cukup lega mengetahui suaminya benar-benar tengah bekerja. Dia jadi bisa tidur tenang setelah ini.

***

Taeyeon buru-buru membereskan mejanya selepas rapat dengan beberapa orang dari divisinya. Dia merasa lelah setelah memimpin rapat selama berjam-jam tadi. Dia ingin segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan memeluk isteri tercintanya. Menghirup aroma tubuhnya dan mengecup lehernya sebentar. Membayangkannya saja membuat perutnya merasa penuh dan geli.

Baru saja dia selesai membereskan meja kerjanya dan akan melangkahkan kakinya keluar, ponsel miliknya bergetar di sakunya. Dia meraihnya dan melihat nama Daddy terpampang disana. Taeyeon mengerutkan keningnya. Ada apa Daddy Jessica meneleponnya selarut ini? Dia tidak ingin memikirkannya lebih lanjut dan memilih mengangkat telepon tersebut.

“Hallo, Dad.”

“…….”

“Tapi, Dad. Ini sudah…”

“…….”

“Arrasseo, tunggu aku disana.”

Taeyeon menghela nafasnya. Daddy Jessica mengajaknya- late- dinner bersama. Dia sebenarnya ingin menolak karena dia sungguh-sungguh sangat lelah. Namun bukan Daddy Jung namanya kalau tak memiliki berbagai macam rayuan agar Taeyeon tak menolaknya. Dan pada akhirnya, dia akan pulang jauh lebih terlambat dari yang dipikirkannya. Kini dia berdoa agar isterinya sudah tertidur dan tak perlu menunggunya pulang.

***

Dan disinilah Taeyeon berada sekarang. Di sebuah restoran bintang lima dengan ruangan ekslusif yang hanya bisa dinikmati oleh mereka berempat, dia, Jessica, dan Daddy beserta Mommy Jung.

Taeyeon tersenyum canggung ke arah orangtua Jessica. Dia merasa aneh dengan dinner ini. Meskipun dulu mereka sering mengadakan dinner bersama, tapi sekarang situasinya benar-benar berbeda. Dia bukan lagi bagian dari keluarga mereka. Dia sudah memiliki isteri, begitu juga Jessica yang sudah memiliki calonnya.

“Kau terlihat tegang, Taeyeon.” ujar Daddy Jung.

“Benarkah? Apa itu terlihat jelas?” Taeyeon bertanya dengan meringis.

Daddy Jung terkekeh. “Santai saja, Taeyeon. Anggap saja ini sebagai dinner biasa.”

“Ah, ne. Akan aku lakukan, Dad.”

Taeyeon menyendokan makanan ke mulutnya untuk mengurangi rasa canggungnya terhadap kedua orangtua di depannya. Jessica sedikit tak membantu. Wanita itu hanya berdiam dan memakan makanannya dengan tenang. Seolah tak memedulikan keberadaan mereka. Taeyeon tahu Jessica juga merasa tak nyaman dengan ini. Namun dia bisa menutupinya dengan sangat baik. Tipikal keluarga Jung.

“So, bagaimana dengan isterimu Taeyeon?” tanya Mommy Jung.

“Isteriku? Bagaimana apanya, Mom?” Taeyeon tertawa kecil karena bingung dengan pertanyaan Mommy Jung.

“Yaa, apa dia baik? Lebih baik dari puteriku, mungkin?”

Taeyeon mengerutkan alisnya. Apa Mommy Jung baru saja membandingkan Tiffany dengan Jessica? Jujur dia tidak suka jika ada orang yang membandingkan keduanya. Jessica baik, sangat baik padanya. Sebab itulah dia sangat mencintai wanita itu. Tetapi dulu saat mereka masih bersama. Dan Tiffany? Ah wanita itu. Bagaimana Taeyeon mendeskripsikannya? Dia terlalu sempurna sebagai seorang isteri. Taeyeon tak bisa menyembunyikan senyumnya hanya dengan memikirkan isterinya itu. Daddy Jung menyeringai melihat senyuman Taeyeon. Dia ikut tersenyum sebelum berbicara.

“Tentu saja isteri Taeyeon sangatlah baik. Dia begitu cantik, bukan begitu, Taeyeon-ah?”

Taeyeon terkejut. Dia menunduk malu dan mengangguk. “N-Ne.”

Jessica meletakan sumpit di piring. Cukup keras untuk membuat ketiga orang disana menoleh.

“Daddy Mommy, aku sudah kenyang. Bolehkah aku pulang? Aku sangat mengantuk.” rengek Jessica.

“Sooyeonie, kita belum sampai pada inti dinner. Tunggu sebentar lagi, ne? Huh, kemana para pelayan itu?” bujuk Daddy Jung dengan sedikit menyalahkan pelayan disana.

Jessica mengerucutkan bibirnya lucu. Jika saja Jessica masih menjadi kekasihnya, mungkin bibir itu sudah dilumat Taeyeon karena saking gemasnya.

Lima menit menunggu dengan menyantap makanan mereka masing-masing secara hening membuat Jessica jengah. Dia baru akan membuka mulutnya untuk protes, seorang pelayan datang kesana dan menggagalkan aksinya.

“Permisi, ini pesanan anda, Tuan.” Pelayan itu menyerahkan satu botol wine beserta gelasnya disana.

Daddy Jung tersenyum senang. Setelah pelayan tersebut mengundurkan diri, dia meraih botol wine tersebut.

“Ini wine ter-enak yang pernah kuminum. Kau harus mencobanya, Taeyeon.” kata Daddy Jung.

“Daddy, kau tahu Taeyeon tidak bisa minum.” sergah Jessica. Taeyeon menoleh ke arah Jessica sebelum menatap Daddy Jung dan mengangguk mengiyakan.

“Wow, rupanya ada yang masih ingat kebiasaan seseorang disini.” sindir Mommy Jung.

Jessica menaikkan satu alisnya.

“Tenanglah, Jessie. Hanya satu gelas. Taeyeon akan rugi kalau tidak meminum ini. Kau juga harus meminumnya. Ini sangat enak.” Daddy Jung menuangkan wine ke gelas keduanya dengan perlahan. Jessica menghela nafasnya sebelum meraih gelas tersebut dan meminumnya.

“Kau juga harus meminumnya, Tae.”

Taeyeon meringis pelan dan mengangguk. Dia meraih gelas tersebut dan meminumnya dengan pelan. Dia menunjukan ekspresi aneh setelah meminumnya. Wanita itu benar-benar payah dalam urusan meminum.

Mereka mendengar suara ponsel berbunyi. Ternyata ponsel milik Daddy Jung. Dia pamit ke belakang untuk mengangkat telepon tersebut.

Taeyeon masih terus meminum wine di gelasnya. Meskipun rasanya aneh saat cairan itu masuk ke tenggorokannya. Dia hanya tak ingin terlihat payah di hadapan kedua orangtua Jessica.

“Taeyeon, Jessie. Maafkan Daddy. Ada masalah kecil dirumah. Soojung bilang kran wastafel rusak dan harus segera diperbaiki karena air terus mengalir. Jessie, kau bilang kau akan pulang ke apartemen mu, kan? Kau bisa meminta Taeyeon mengantarmu kalau begitu.” Daddy Jung yang tiba-tiba datang mengatakan itu kepada mereka.

“Tapi, Dad-…”

“Sooyeonie…”

“Arrasseo, kalian pulanglah dan bantu Soojung.”

Daddy tersenyum. “Aku titip puteriku, Taeyeon-ah. Kami pergi dulu.”

“Ne, Dad. Hati-hati di jalan.”

Setelah mengatakan itu, Daddy dan Mommy Jung keluar meninggalkan mereka berdua. Taeyeon menghela nafas, disaat itu juga dia melihat wanita disampingnya juga melakukan hal yang sama. Mereka tertawa pelan menyadarinya.

Tapi hal itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba Taeyeon merasakan panas di sekujur tubuhnya. Dia melihat gelagat aneh Jessica disampingnya yang sama sepertinya.

“S-Sica, apa kau merasa… panas?” tanya Taeyeon berusaha menahan perasaan aneh pada dirinya.

Jessica tak menjawabnya. Dia hanya menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan buku-buku jarinya.

Damn, mereka mencampurkan obat perangsang di dalam wine.” gumam Jessica yang masih bisa di dengar Taeyeon. Jessica menoleh ke arah Taeyeon dan memandangnya dengan tatapan berbeda. She’s full of lust now. 

Tiba-tiba Taeyeon merasakan dirinya terdorong ke belakang. Dia berpikir dirinya akan terjatuh, namun ternyata ridak. Jessica menahannya sembari menyesap bibirnya. Taeyeon tersadar dengan apa yang Jessica lakukan. Disisi lain dia ingin menghentikan Jessica, namun tubuhnya menolak. Dia juga butuh sesuatu untuk melampiaskan hasratnya karena pengaruh obat itu.

Mereka berciuman dengan sangat panas. Bagaikan hidup dan matinya bergantung pada ciuman tersebut. Saat Jessica ingin membuka kancing kemeja Taeyeon, wanita itu tersadar dan mendorongnya. Nafas mereka terengah-engah. Taeyeon juga merasakan pusing menghantam kepalanya.

“Ini tidak benar, Sica.” Taeyeon mati-matian menahan hasratnya itu.

Jessica mengerang frustasi. Dia mendekat ke arah Taeyeon, namun wanita itu menjauh.

“Berdiri disana. Kita tidak boleh melakukan itu, Sica.”

“Taeyeon argh. Ini sangat ugh… please.” mohon Jessica. Taeyeon mengerti perasaan Jessica. Mereka butuh melampiaskan hasratnya jika tidak itu akan menyiksa mereka. Namun beruntung Taeyeon masih bisa berpikir jernih di situasi seperti ini.

“B-Begini saja. Kau datang pada kekasihmu dan aku akan melakukan hal sama. Tahan nafsumu sebentar, Sica. Aku tak mau menyakiti perasaan Tiffany dan Yuri jika kita melakukan itu.”

Meski Jessica merasa tersiksa dengan ini, namun dia menyetujui usulan Taeyeon. Dia juga tidak ingin melukai perasaan kekasihnya.

Mereka berdua pun keluar darisana dengan menahan hormon mereka yang sangat tinggi akibat pengaruh obat tersebut. Mereka memutuskan menaiki taxi daripada menyetir sendiri. Itu hanya akan membahayakan mereka berdua.

Taeyeon tersenyum lemah pada Jessica yang sudah menaiki taxi terlebih dahulu. Dia menunggu taxi selanjutnya yang lewat disana. Beruntung hal itu tak berlangsung lama. Dia benar-benar kewalahan menahannya. Selama perjalanan, wanita itu hanya bisa memejamkan matanya dengan menggigit bibir bawahnya. Dia ingin sekali membuka seluruh pakaiannya, namun itu tidak mungkin dilakukannya di dalam taxi.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang baginya. Taeyeon akhirnya sampai di tempat tujuannya. Dia menyerahkan uang kepada sopir taxi dan dengan cepat berlari memasuki rumahnya. Taeyeon seperti orang kesetanan. Dia mendobrak pintu kamar mereka dan menemukan isterinya tengah tertidur. Taeyeon tidak peduli, dia segera menerjang isterinya dan mencium bibirnya dengan ganas. Tiffany mengerang. Dia membuka matanya perlahan dan melihat Taeyeon diatasnya sedang menciumnya panas.

“T-Tae.. ugh..” erang Tiffany saat Taeyeon menjilat lehernya.

Taeyeon membuka kancing piyama Tiffany dengan terburu-buru. Saking terburunya, dia bahkan merobek piyama isterinya dan membuangnya ke sembarang arah. Dia juga langsung merobek bra isterinya hingga terlihat kedua bukit kembar miliknya.

“Taeyeon apa yang kau laku- aahhh…” Tiffany tak bisa melanjutkan ucapannya lagi karena Taeyeon menghisap putingnya dengan sangat keras sementara tangannya yang lain meremas payudara satunya.

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dan dari situlah Tiffany tahu bahwa Taeyeon habis meminum alkohol. Sepertinya suaminya habis mabuk.

“T-Taeyeon…” Tiffany menahan kepala Taeyeon agar tak menciumnya.

“Kumohon, Fany-ah. Aku membutuhkan ini.” Tiffany melihat mata suaminya yang penuh dengan nafsu.

“K-Kau mabuk?” tanya Tiffany.

Taeyeon menggeleng. “Ceritanya panjang. Yang terpenting aku tidak mabuk dan ugh, aku benar-benar harus menuntaskan nafsuku, sayang.”

Taeyeon kembali mencium bibir isterinya. Melumat, menghisap, dan menggigitnya. Dia memasukkan lidahnya kedalam mulut Tiffany. Mereka berperang lidah satu sama lain.

Dan dari situlah, malam mereka dimulai. Saat Tiffany melayangkan erangan nikmat dibawah sentuhan Taeyeon. Dan ingatkan Tiffany untuk menanyakan hal ini pada Taeyeon keesokan paginya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uuuh suka sama taeng disini. Alhamdulillah doa pany terkabul wkwk.

Oya yg mau gabung grup chat masih terbuka lebar. Kirim aja nomor kalian di email gw beserta nomor hape kalian . Inget guys grup nya di wa ya.

Ni email gw : noviaidafa05@gmail.com

Enjoy read~

Pai pai~ see u next chap~ ^^

 

Tanya Iseng

Assalamu’alaikum

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jawab salam dulu sebelum lanjut baca..

Udah?

Ok bagus wkwk

Cuma nanya iseng doang sih. Gw mau ngasi usul gimana kalo bikin grup chat. Sekalian gw mau kenalan sama readers readers disini juga biar lebih deket (?)

Siapapun bisa join kok. Gak ada rules2 an basi lah. Cuma buat fun aja sama sharing2 info SNSD atau Taeny dan lain sebagainya. Bisa juga buat CPN kok (Curhat, Promo, Nanya) wkwk

Gimana?

Yang setuju kolom komentar terbuka buat absen siapa aja yg mau join. Yang gamau yaudah orang hak2 kalian ini.

Oh ya, buat yang pingin gabung nanti bakal ada kemudahan (?) kalo semisal ada ff yang gw protek nantinya. Moga2 aja sih gw baik terus biar gaada pw2 an wkwk.

Okeh sekian nanya iseng dr gw. Gw tunggu respon kalian.

Pai pai~ see ya

Sweet Love (Chapter 8)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Yoona masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan didengarnya. Meskipun Taeyeon sudah menjelaskannya hingga men-detail, dia tetap saja masih sulit menerimanya. Dia seperti dimainkan oleh takdir. Bagaimana bisa seseorang yang dinyatakan meninggal masih hidup sampai sekarang? Yoona bahkan tidak sampai berfikir ke arah sana. Dia masih menatap nanar Jessica di depannya.

“Aku tahu ini sulit untukmu, Yoong. Tapi dia benar Jessica, Unnie kesayanganmu.” ucap Taeyeon.

Jessica tak jauh lebih baik. Matanya memerah menahan tangis. Adik kesayangannya, yang bahkan tidak ia duga akan bertemu dalam kondisi seperti ini berada tepat di depannya. Sungguh dia sangat merindukan dongsaeng choding nya.

“Bagaimana kabar Soojungie, Yoong-ah?” tanya Jessica. Pertahanan Yoona runtuh. Dia berlari ke arah Jessica dan memeluknya erat. Air mata yang ditahannya keluar dengan deras. Begitu juga dengan Jessica. Dia menepuk-nepuk punggung Yoona, meski dirinya juga tak kuasa.

“Unnie bogoshipda, neomu.” lirih Yoona. Jessica mengangguk mengerti. Dia juga mengatakan hal yang sama pada Yoona.

Taeyeon melihatnya dengan haru. Dia mendekat ke arah Jessica dan Yoona untuk bergabung memeluk mereka.

“Aku juga merindukanmu.” ujar Taeyeon dengan tangisan yang dibuat-buat. Yoona melepas pelukan mereka dan menatap tajam Taeyeon. Jessica terkekeh melihat Taeyeon dan Yoona. Sudah lama dia tidak melihat interaksi seperti ini.

“Ck, kau mengganggu suasana, Unnie!” kesal Yoona.

Taeyeon tertawa ahjumma melihat reaksi adik nya. Dia senang menggoda Yoona. Beruntung apa yang dilakukannya bisa mencairkan suasana. Kalau boleh jujur, dia sedikit tak suka melihat orang yang disayanginya menangis.

Yoona mengusap air mata nya dengan punggung tangannya. “Maaf aku menanyakan hal ini pada kalian. Bagaimana dengan… h-hubungan kalian?” Jujur Yoona penasaran dengan Taeyeon dan Jessica. Mereka adalah couple favoritnya dari dulu. Bahkan dia menjadi orang pertama yang mendukung hubungan mereka. Yoong sangat menyayangi keduanya.

Taeyeon memandang ke arah Jessica dan tersenyum. “Kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami, sebagai seorang kakak dan adik.”

Terlihat raut kecewa dari wajah Yoona. “Padahal aku mengharapkan kalian bersama.” gumam Yoona yang sayangnya masih bisa di dengar Taeyeon.

“Ya! Kau tidak lihat isteriku disana? Dia tak kalah cantiknya dengan Sooyeon. Bahkan dia hebat di ranjang, kau tahu?” bela Taeyeon.

Tiffany mendelik mendengar ucapan suaminya. Namun Taeyeon mengabaikannya dan menatap Yoona kesal.

“Ye ye algesseumnida. Maaf karena tidak datang di acara pernikahan kalian.”

“Ya gadis nakal! Kenapa kau tidak datang, ha? Aku tahu kau sama sekali tidak sibuk di Paris.” Taeyeon menyedekapkan tangannya dan menatap Yoona dengan tatapan mengintimidasi.

“Ya jangan memarahiku! Aku hanya tak suka kau secepat itu menikah dan melupakan Sica Unnie!” balas Yoona tak mau kalah.

“YA!”

“YA!”

“IM CHODING!”

“KIM MIDGET!”

“HENTIKAN!” teriak Jessica. Dia menarik telinga Taeyeon dan Yoona dengan keras. Mereka menjerit kesakitan namun tidak dipedulikan Jessica.

“Kalian masih saja sama. Ingat umur kalian, apalagi kau Taenggu, kau sudah menikah!”

“Ne ne ne. Kami tidak akan melakukannya lagi. Jadi, lepaskan Sica-ya. Ini sakit. Yoong, lakukan sesuatu!”  Taeyeon menatap Yoona mencari bantuan.

“Taeng Unnie benar. Maafkan kami, kami tidak akan melakukannya lagi.”

Jessica mendengus dan melepas mereka berdua. Taeyeon segera berlari ke arah isterinya dengan merengek.

“Appo, Fany-ah.”

“Rasakan sendiri!” ucap Tiffany dingin. Taeyeon membuka mulutnya.

“Heol, daebak.” Dia menatap Yoona, Jessica, dan Yuri disana.

“Aku ada urusan dengan isteriku sebentar. Kalian ngobrol saja dulu, anggap saja rumah sendiri.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon menarik Tiffany ke kamar mereka.

“W-Wae?” tanya Tiffany sesampainya mereka di kamar. Taeyeon mengunci pintu kamar dan mendekat ke arah isterinya.

“Kau harus dihukum karena tidak perhatian dengan suamimu yang cantik dan tampan ini.”

“Kau tidak bi-” Ucapan Tiffany terhenti saat bibirnya di bungkam dengan bibir milik Taeyeon. Taeyeon melepas kecupannya dan menatap manik isterinya.

“Kau tahu? Aku menahan hormonku sedari tadi.” Taeyeon menarik tangan Tiffany dan menjatuhkannya ke ranjang. Dia menindih tubuh isterinya dengan kedua tangannya berada di samping kepala Tiffany untuk menyangga.

“Kau tidak akan melakukan itu lagi, kan?”

Alis Taeyeon menyatu. “Itu ide bagus. Aku akan melakukannya lagi kalau begitu.”

“T-Taeyeon, kita sudah melakukannya berpuluh-puluh ronde. Kau tidak puas dengan itu?”

“Aku tidak akan pernah puas jika itu denganmu, sayang.” Taeyeon mengusap pipi isterinya, membuat Tiffany menelan ludahnya.

Taeyeon memajukan wajahnya dan mengecup leher isterinya. Tiffany sebenarnya ingin menolak, tidak sopan melakukan hal itu saat sedang ada tamu diluar. Namun apalah daya, dia selalu tak kuasa jika sudah dibawah kendali suaminya. Yang dilakukannya hanya menutup mata dengan menggigit bibir bawahnya dan menggenggam seprei dengan kencang.

Tangan nakal Taeyeon perlahan membuka kancing kemeja Tiffany. Selama itu pula bibirnya tak pernah lepas mengeksplor tubuh isterinya. Tangan kanan Tiffany ia gunakan untuk menjambak rambut Taeyeon dan menekannya.

“UNNIE! UNNIE! BUKA PINTU NYA!” Yoona menggedor pintu kamar TaeNy dengan keras, seperti terburu-buru.

Taeyeon menarik wajahnya dari dada isterinya dan berdecak pelan.

“UNNIE BUKA PINTU!” teriakan Yoona semakin kencang. Taeyeon mengusap wajahnya frustasi dan bangkit dari tubuh isterinya. Dia mengancingkan kembali kemeja Tiffany.

“UNNIE!”

“BERISIK! TUNGGU SEBENTAR!”

Setelah selesai mengancingkan kemeja Tiffany dan merapikan penampilan mereka, Taeyeon berjalan menuju pintu dan membukanya dengan kesal.

“Wae?” tanya Taeyeon malas.

“Sica Unnie ingin pergi ke rumah Daddy dan Mommy. Dia ingin menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka. Maka dari itu, kau harus ikut untuk membantu menjelaskan.” jawab Yoona dengan jelas.

Taeyeon tersadar. Jessica belum memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi kepada orangtua nya dan juga adiknya. Taeyeon juga sudah lama tidak berkunjung ke rumah mantan calon mertua nya itu. Dia masuk kedalam kamar untuk mengambil jaket.

“Ayo, Yoong.” Taeyeon menarik tangan Yoona. Dia menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu dan berbalik. Tiffany masih berdiri di depan pintu.

“Apa yang kau lakukan disana, sayang? Ayo ikut.”

Tiffany masih diam di tempatnya dengan wajah bingung. Taeyeon menepukkan dahinya dan berjalan ke arahnya lalu menarik tangan isterinya.

“Bagaimana kabar Daddy dan Mommy, Yoong?” tanya Taeyeon saat mereka turun dari tangga.

“Mereka baik-baik saja. Hanya terkadang, Daddy terkena flu saat kelelahan.” jawab Yoona.

Taeyeon mengangguk. Mereka memang sudah terbiasa memanggil orangtua Jessica dengan sebutan Daddy dan Mommy seperti yang dilakukan Jessica dan Krystal. Mereka sudah sangat dekat seperti orangtua kandung sendiri. Apalagi dulu Taeyeon dan Jessica sudah bertunangan, dan Yoona dengan Krystal merupakan sepasang kekasih.

Saat turun dari tangga terakhir, Taeyeon, Tiffany, dan Yoona sudah disambut dengan pasangan YulSic. Sepertinya Jessica sudah sangat tidak sabar bertemu orangtuanya.

“Kau begitu merindukan mereka, eoh?” tanya Taeyeon. Jessica mengangguk dengan semangat.

“Aku merindukan Mom, Dad, apalagi Soojungie.”

“Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang.” Taeyeon merangkul bahu isterinya dan berjalan ke luar rumah, dimana mobil mereka terparkir.

***

Sudah hampir sebulan semenjak kedatangan mereka ke rumah orangtua Jessica. Rumah tangga Tiffany pun bisa dikatakan semakin membaik dari hari ke hari. Taeyeon selalu memperlakukan Tiffany layaknya seorang puteri. Dia tidak pernah membuat Tiffany menangis lagi. Hanya ada kejutan romantic, malam yang penuh dengan kasih, hingga perhatian kecil dari wanita imut itu yang mengisi hari Tiffany. Wanita itu seperti sama sekali tidak kekurangan cinta dari Taeyeon.

Namun disamping itu semua, Tiffany selalu merenung sendirian saat sedang tidak bersama Taeyeon karena wanita itu tengah bekerja. Dia teringat percakapannya dengan orangtua Jessica. Ditambah fakta jika adik kesayangan Taeyeon, Yoona, yang belum menerima dirinya sepenuhnya. Dia pikir itu hal wajar karena Taeyeon dan Jessica sudah bersama selama bertahun-tahun. Orang-orang terdekatnya sangat mendukung mereka.

Tapi tetap saja. Tiffany adalah isteri sah Taeyeon. Bisakah mereka melihat itu? Dan kegelisahannya bertambah sejak seminggu yang lalu. Orangtua Taeyeon juga sama seperti orangtua Jessica dan Yoona saat mengetahui mantan kekasih Taeyeon itu masih hidup sampai sekarang. Mereka bahkan lupa Tiffany adalah menantunya.

Tiffany tidak pernah mengatakan hal ini pada Taeyeon. Dia tidak ingin Taeyeon merasa bersalah nantinya. Tiffany tahu Taeyeon sudah benar-benar menyukai, bukan, mencintainya. Dia merasakan ketulusan hati suaminya. Jikalau Taeyeon diberi pilihan untuk memilih satu diantara dia dan Jessica, sudah pasti Taeyeon akan memilihnya. Bukan Tiffany terlalu percaya diri, namun Taeyeon pernah mengatakan hal tersebut padanya. Dia merasa tenang dengan itu.

Namun bukan itu masalahnya. Orang-orang terdekat Taeyeon dengan tidak di duga (masih) mendukung dia dengan mantan kekasihnya itu. Itu adalah masalah baginya. Kalau saja Taeyeon menerima perjodohan mereka atas dasar permintaan orangtuanya, mungkin saja dia akan menuruti orangtuanya kembali jika orangtuanya itu meminta dirinya kembali pada Jessica, bukan?

Tiffany menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia mengerang dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ini adalah hal yang Tiffany benci dari pikirannya. Dia sudah tidak bisa berpikir bijak lagi seperti sebelum Taeyeon menghilang dengan Jessica dulu. Dia seperti sudah tidak akan pernah bisa melepas dan mengikhlaskan Taeyeon lagi. Praktisnya, dia sudah ketergantungan dengan suaminya, dia sudah terbiasa dengan keberadaan Taeyeon disisinya, dia sudah sangat mencintai Taeyeon-nya.

“Aaaaaargh~” teriak Tiffany.

Dia menoleh ke samping saat ponselnya berdering. Dia mengambilnya dan melihat nama suaminya terpampang disana. Dengan cepat, dia menggeser ikon berwarna hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.

“Yeoboseyo, Tae.”

“Ah, Fany-ah. Kau sedang apa dirumah?” 

“Aku? Hanya berbaring di ranjang. Kenapa?”

“Hum, maaf mengatakan ini. Tapi aku akan terlambat pulang. Kau tidur dulu saja, jangan menungguku pulang, ne?” 

“Apa pekerjaanmu sangat banyak?”

“Ne, sangat banyak. Kalau begitu, aku tutup telfonnya dulu ya. Annyeong.” 

“Tapi, Tae-…”

Tuut… tuut… tuut

Tiffany belum sempat bertanya lagi pada Taeyeon, suaminya itu sudah menutup telfonnya. Dia menghela nafasnya dan melempar ponselnya ke samping. Tiffany menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana, tetapi tiba-tiba perasaannya tak enak. Dia menutup matanya dan berdo’a semoga perasaannya salah. Ya, Tiffany berharap itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maapkeun atas keterlambatan post yang jadwalnya tadi malem. Gw ketiduran gaes hahaha.

Oke enjoy read~

Pai pai~ see u next chap~

Sweet Love (Chapter 7)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

 

Sunday morning di kediaman keluarga Kim. Meskipun jam menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit waktu setempat, tanda-tanda kehidupan belum muncul disana. Taeyeon asik bergumul dalam selimutnya yang menutupi tubuh polosnya. Hal yang sama berlaku pada Tiffany, tetapi bedanya, wanita itu sudah terbangun dan sibuk mengamati wajah suaminya yang tertidur pulas dengan memeluk pinggangnya. Ada perasaan yang membuncah mengingat kejadian semalam yang sangat luar biasa. Pipi Tiffany memerah membayangkannya. Itu merupakan malam pertama mereka sebagai suami-isteri walaupun mereka menikah sebulan yang lalu.

Tiffany merasakan pergerakan dari samping ranjangnya. Dia melihat Taeyeon menggeliat sebelum perlahan membuka matanya. Mata mereka bertemu pandang. Taeyeon tersenyum dan memajukan wajahnya untuk mengecup bibir yang kini menjadi candunya.

Good morning, yeobo.”

Tiffany tersenyum dan melakukan hal yang sama pada Taeyeon. “Morning, boo.

Taeyeon terkekeh. Dia mengelus wajah isterinya. “Ingin mandi bersama?” tanya Taeyeon dengan senyuman menggoda.

Tiffany membuang mukanya dan menutupinya dengan selimut. Taeyeon malah tertawa melihatnya. Dia menarik selimut dari wajah Tiffany dan menarik isterinya menuju kamar mandi. Tiffany menghembuskan nafasnya pasrah dan mengikuti suaminya ke kamar mandi untuk mandi bersama.

 

Mandi yang biasanya Tiffany habiskan selama empat puluh menit kini menjadi lebih lambat dua jam. Itu karena suaminya terus memakannya tanpa ampun. Apa semalaman suntuk bagi Taeyeon belum puas? Tiffany menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan byun suaminya. Meskipun begitu, dia tetap saja menikmati permainan Taeyeon yang begitu lihai. Dia tak menyangkalnya. Taeyeon-nya sangat sexy dan manly disaat yang bersamaan saat melakukannya.

“Pany-ah, aku lapar.” rengek Taeyeon.

“Kau lapar? Arrasseo aku akan membuatkan makanan.” Tiffany beranjak dari sofa menuju pantry. Dia membuka lemari pendingin untuk melihat apa saja bahan makanan yang mereka miliki.

“Taeyeon kita memiliki bahan makanan yang cukup lengkap. Kau ingin aku memasakan apa? Korean, western, chinese?” teriak Tiffany.

Taeyeon menunjukkan ekspresi berpikirnya. Dia meletakkan telunjuknya di dagu dengan kedua alisnya yang menyatu.

“TaeTae!” teriak Tiffany makin kencang karena suaminya lama tidak membalas.

“Arrasseo, western saja!”

“Bagaimana kalau bacon?” tanya Tiffany.

Call!

Tiffany mulai memasakan sarapan untuk mereka, sementara Taeyeon sibuk bermain game The Sims di laptopnya. Entah karena Tiffany terlalu lama atau perut Taeyeon sudah tidak bisa berkompromi lagi, Taeyeon malah berguling-guling tidak jelas di lantai. Game The Sims favoritnya tak bisa jadi penghiburannya.

“Astaga, Taeyeon! Apa yang kau lakukan?” Tiffany menurunkan rahangnya saat melihat kelakuan suaminya. Taeyeon menghentikan aksi guling-gulingnya dan berdiri.

“Apa makanannya sudah jadi?” tanya Taeyeon dengan berbinar. Tiffany mengangguk pelan.

“Assa! Suapi aku!” teriak Taeyeon girang.

“Kau bukan anak kecil lagi, Tae.”

Ucapan Tiffany malah membuat tingkah Taeyeon menjadi. Di berbaring di lantai dan terus berguling-guling dengan merengek tidak jelas.

Fine!” ucap Tiffany pada akhirnya. Taeyeon berhenti. Dia berdiri dengan senyum bahagia dan berlari ke arah isterinya. Dia meraih wajah Tiffany dan melumat bibirnya sebentar. Setelah itu menarik tangannya menuju meja makan. Dia seperti anak kecil yang menyeret tangan ibunya untuk membeli sesuatu yang diinginkannya saja.

Tiffany mulai menyuapi bayi besarnya. Sesekali menyuapi dirinya sendiri karena dia juga lapar. Taeyeon memakan masakan isterinya dengan terus memuji kemampuan memasak Tiffany.

“Ini sangat enak, Pany-ah. Aaah, beruntungnya aku memiliki isteri sepertimu.”

“Telan dulu makananmu, TaeTae!” Tiffany mengingatkan, namun suaminya tak mengindahkannya.

“Kau tahu, Sica tak bisa memasak. Setiap hari aku yang memasak, tidak sepertimu. Hwaa aku makin mencintaimu kalau seperti ini~” Taeyeon memeluk Tiffany erat dan mengecup bahu dan lehernya berkali-kali.

Tiffany senang mendengarnya meski harus dibandingkan dengan mantan kekasih Taeyeon. Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi. Taeyeon melepas pelukannya.

“Biar aku yang membukanya.” ucap Taeyeon dengan mengedipkan sebelah matanya genit. Tiffany tertawa dan mengusir Taeyeon untuk cepat membuka pintu.

“Tebak tamu kita siapa, Fany-ah?” Taeyeon tiba-tiba muncul di depan Tiffany. Wanita yang lebih muda menggeleng tak tahu.

“Taraa~” Taeyeon membalikkan tubuhnya dengan kedua tangan terulur ke depan, seperti mempersilahkan. Tiffany terkejut melihat siapa tamu mereka. Jessica dan Yuri. Ini kedua kalinya mereka bertemu.

“Annyeonghaseyo.” Jessica dan Yuri menundukan kepala tanda salam.

“A-Annyeong.” balas Tiffany dengan kaku.

“Santai saja, honey. Ayo kita ke depan untuk berbincang.” ajak Taeyeon. Jessica dan Yuri mengangguk. Mereka mulai berjalan ke ruang depan. Tak lupa Taeyeon menarik pinggang isterinya karena masih terkejut.

“Bagaimana kabar kalian?” tanya Taeyeon saat mereka sudah duduk. Dia masih memeluk pinggang Tiffany disampingnya.

“Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?” tanya Yuri.

“Tak pernah sebaik ini…” Taeyeon tersenyum. “Ah ye, ada hal apa yang membuat kalian kemari?” tanyanya.

“Ah sebenarnya kami sengaja datang kemari agar lebih akrab saja. Kau tahu kan, ng- Jung H- maksudku Jessica- k-kami…” gagap Yuri. Taeyeon tertawa pelan.

“Ne ne, aku paham, Yuri-ah. Santai saja.”

“Tapi selain itu, ada hal tentang pekerjaan juga…”

“Kau ingin bekerjasama dengan perusahaan kami lagi, begitu?”

“Hmm seperti itulah.”

“Bagaimana kalau kalian membahas hal itu di tempat lain? Biar aku dan Tiffany mengobrol berdua dan kalian lebih leluasa membahas pekerjaan.” usul Jessica.

Taeyeon dan Yuri mengangguk setuju. Taeyeon menoleh ke arah isterinya dan mengecup keningnya. “Baik-baik dengan Sica, ne?” Setelah mengatakan itu, Taeyeon dan Yuri beranjak dan pergi ke ruang kerja Taeyeon di rumah.

Jessica tersenyum ke arah Tiffany setelah Taeyeon dan Yuri tidak terlihat. Tiffany membalasnya meski agak canggung.

“Jadi, Tiffany. Apa kau menerima pesan dariku seminggu yang lalu?” tanya Jessica.

Tiffany mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak. “Apa pesan dengan inisial JJ?”

“Ne, majayo. So, bagaimana Taeyeon padamu akhir-akhir ini?”

“Umm, dia menjadi sedikit lebih-… manja?”

Jessica membuka mulutnya dengan berbinar. “Jinjjaro? Whoah itu pertanda bagus!”

“Maksudmu?” Tiffany tak mengerti dengan ucapan Jessica barusan.

“Dulu saat kami belum resmi menjadi sepasang kekasih, Taeyeon sering bersikap manja kepadaku. Mungkin itulah cara Taeyeon untuk menunjukkan perasaannya dengan bersikap seperti itu agar mendapat perhatian lebih.”

“B-Benarkah?” tanya Tiffany. Dia senang mendengar kabar ini.

“Ne! Chukhahae, Tiff. Aku tahu bocah itu cepat atau lambat akan menyukaimu sebagai seorang wanita.” ucap Jessica dengan bersemangat. Dia senang mantan kekasihnya berhasil mencintai wanita lain selain dirinya. Dia ingin Taeyeon bahagia tanpa harus dengannya.

“Uhm, Jessie. Bolehkah aku bertanya?”

“Tentu, Tiff.”

“Selama Taeyeon tidak pulang ke rumah. Apa kau tahu dia ada dimana?”

Senyum yang mengembang di bibir Jessica lenyap setelah Tiffany bertanya hal tersebut. Dia melihat tatapan memohon dari Tiffany yang membuatnya tidak tega.

“Kumohon kau mendengarkan ini hingga selesai dan… kuharap kau tidak akan marah.” Jessica menggigit bibir bawahnya.

“Dia tinggal bersamaku. Itu adalah permintaan terakhirnya sebelum dia benar-benar melepasku, Tiff. Kumohon kau jangan salah paham.”

Tiffany tersenyum. Dia tahu itu pasti terjadi. Dia tahu Taeyeon pasti tinggal dengan Jessica. “Gwaenchanha, aku mengerti bagaimana perasaannya.”

Jessica tersentuh dengan ucapan Tiffany. Keputusannya benar untuk menyuruh Taeyeon tetap berada disisi Tiffany. Dia wanita yang begitu baik. Jessica menyesal pernah berpikir untuk kembali bersama Taeyeon saat tinggal bersamanya. Itu karena Taeyeon selalu membujuknya. Beruntung dia masih bisa berpikir waras dan tidak membiarkan perasaannya menang.

“Aku senang Taeyeon memiliki wanita secantik dan sebaik dirimu, Tiff.” Jessica menggenggam tangan Tiffany. Matanya terlihat berkaca-kaca. Tiffany melihat itu. Dia mengerti, dia sangat mengerti wanita di depannya masih mencintai suaminya itu dan merelakan perasaannya. Atau Tiffany sebut, perasaan mereka?

“Jika kalian masih mencintai, aku rela kalian bersama.” ucap Tiffany tiba-tiba. Jessica membulatkan matanya dan menggeleng cepat.

“Kau bicara apa, Tiff?! Jangan membuat ini semakin rumit. Taeyeon sudah mulai mencintaimu. Aku juga punya perasaan yang harus kujaga. Aku mencintai Yuri. Jangan bicara hal nonsense.” pekik Jessica.

“Meskipun aku masih memiliki perasaan pada suamimu, bukan berarti aku menginginkannya. Dia hanya masa laluku, Tiff. Begitu juga sebaliknya.” Ucapan Jessica berubah melembut.

“Berbahagialah dengannya, dan aku akan berbahagia dengan Yuri.” Jessica tersenyum tulus.

***

Seorang wanita berumur seperempat abad menepikan mobilnya di sebuah toko kue. Dia keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam. Dia melihat bermacam-macam kue terpajang di etalase. Namun dia tidak melihat kue yang ingin dicarinya. Dia memastikan kembali bahwa toko ini adalah toko langganannya dulu dengan kakaknya. Maklum saja, wanita itu baru pulang dari luar negeri selama bertahun-tahun.

“Permisi, apa disini ada kue-…”

Cheese cake matcha?” Belum sempat wanita itu menyebutkan nama kue yang dia inginkan, seorang pegawai disana sudah menyebutnya.

“Bagaimana kau ta- eoh, Shin Hye Unnie!” pekik wanita itu saat menyadari wanita di depannya adalah orang yang dikenalnya.

“Maaf, kami tidak memproduksi kue itu lagi karena pelanggan setia kami sudah tidak pernah membelinya.” sindir Shinhye pada wanita itu.

“Unnie…” rengek wanita itu.

“Hahaha. Baiklah, beruntung aku membuatnya tadi. Kau tunggu disini, ne?”

Wanita itu mengangguk dan menunggu Shin Hye mengambilnya.

“Ikeo kue nya. Tak usah bayar, anggap saja aku sedang mentraktirmu.”

“Whoaah, gomawo Unnie!”

“Cheonma. Cepat pergi hush hush. Kau pasti akan ke rumah Unnie mu itu kan?”

“Ne. Sekali lagi gomawo, Unnie. Aku pergi dulu, annyeong!”

Wanita itu keluar dari toko kue tersebut dengan kue favoritnya. Dia membayangkan reaksi Unnie nya saat dia membawakan kue tersebut untuknya.

Dia mulai melajukan mobilnya ke rumah yang akan dituju. Butuh waktu lima belas menit untuknya sampai kesana. Dia menepikan mobilnya disamping mobil lain di pelataran rumah tersebut. Dia berpikir itu adalah mobil Unnienya mengingat Unnie nya itu hobi gonta ganti mobil. Dia keluar dan berjalan ke pintu rumah tersebut.

“Apa passwordnya masih sama?” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Karena ingin memberi kejutan pada Unnie nya, wanita itu akhirnya mencoba membuka pintu dengan password yang dihafalnya dulu.

Klik

Pintu terbuka. Dia bersyukur Unnie nya belum mengganti password rumahnya. Dia segera berlari memasuki rumah.

“UNNIE AKU DATAAANG! TEBAK AKU MEMBAWA AP-…” Ucapan wanita itu terhenti saat melihat wanita yang dikenalnya. Mulutnya terbuka, matanya membulat sempurna. Dia menjatuhkan bungkusan kue ditangannya dan berjalan mundur.

“Tidak mungkin.” lirih wanita itu.

“Yoong?” panggil wanita di depan Yoong.

“Tidak mungkin.” Wanita itu masih menyerukan kalimat yang sama hingga dia terduduk lemas di lantai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Gw gamau banyak cuap-cuap ah. Gw cuma mau minta maap apdet nya lelet. Wkwk gw masih pengin pacaran sama bantal dsb gaes wahaha alias tidur. Setelah stress mikirin tugas ukk dll kan enak tuh buat leyeh2 wkk. Oke bye.

Enjoy read~

Pai pai~ see u next chap ^^