Cough

Title : Cough

Main Cast : find by yourself

Length : Drabble

Author : N

.

.

.

 

Kotor. Berantakan. Berserakan. Asap mengepul ditambah aroma gosong. Taeyeon mengangkat tangannya melihat pemandangan tersebut.

Bukan niatnya untuk menghancurkan pantry nya, lagipula gadis itu pandai memasak. Tapi entahlah. Taeyeon rasa jiwanya telah beterbangan kesana kemari meninggalkan raganya. Dia tidak bisa fokus meski untuk meletakkan pan diatas kompor sekalipun.

Melihat kegagalannya yang tidak bisa dia ubah, Taeyeon mengambil ponselnya dan berniat menelepon oppa nya.

“Oppa!” seru Taeyeon saat panggilan terhubung.

“Waegeurae?”

“Aku butuh bantuanmu untuk memasak. Cepat kemari!”

“Jangan gila, Taeng. Kau pikir darisini ke Seoul bisa ditempuh dengan berjalan kaki?”

Taeyeon terdiam. Benar juga. Jarak rumahnya dengan apartemennya cukup jauh dan memerlukan waktu beberapa jam. Taeyeon mengutuk kebodohannya.

“H- Hayeoni…”

Tuut tuut tuut

Panggilan dimatikan.

Taeyeon menurunkan ponselnya di telinganya dan memandangnya kosong.

“Bodoh..” gumamnya.

Dia menggelengkan kepalanya dan tak kehabisan ide. Taeyeon mulai mencari nama seseorang di kontaknya dan mulai menghubunginya.

“Yeobose-…”

“Yeri-ya!” teriak Taeyeon tanpa mempersilakan Yeri meneruskan kalimatnya.

“Ne. Waegeurae unnie?”

“Bisa kau datang ke apartemenku dan memasakkan sesuatu? Kukira aku telah mengacaukan pantry disini.”

“Unnie.. kau lupa aku tidak bisa memasak? Revel unnie yang membuatkanku makanan.”

Taeyeon terdiam lagi.

“Kau benar. Ah kalau begitu datang sajalah, aku membutuhkan teman.”

“Arrasseo. Tunggu aku sepuluh menit.” 

Setelah panggilan selesai, Taeyeon menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia mengembuskan napasnya kasar. Wajahnya ia tolehkan ke samping dan pada saat itu dia melihat foto dirinya bersama seseorang di figura yang berdiri kokoh di meja samping. Taeyeon mengulurkan tangannya dan membalikkan foto tersebut kebawah sehingga dia tak bisa lagi melihat foto tersebut. Namun detik kemudian dia kembali menegakkan foto tersebut. Taeyeon memandangnya nanar. Dia menggeleng lalu mulai membalikkan foto tersebut untuk yang kedua kali.

“Huh dwaesseo.” ucapnya.

“Geu nappeun saram..” lanjutnya.

“Argh. Kenapa Yeri lama sekali?!”

Taeyeon memposisikan tubuhnya di sofa dengan berbagai macam posisi hingga membuatnya jengah. Gadis itu tidak tahu harus melakukan apa. Hingga tiga puluh menit kemudian bel apartemennya berbunyi. Taeyeon langsung melompat dari sofa dan berlari menuju pintu. Dia melihat Yeri di intercom lalu membuka pintu apartemennya.

“Sepuluh menit, huh?” sindir Taeyeon.

Yeri menunjukkan cengiran khasnya dan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.

“Seulgi unnie meminta bantuanku tadi. Mianhae.”

Taeyeon menggeleng. “Masuklah.”

Yeri dengan senang hati masuk kedalam apartemen sunbae favoritnya.

Taeyeon yang sadar Yeri membawa sesuatu ditangannya segera menanyakannya.

“Apa yang kau bawa itu?”

“Ah ini nasi goreng kimchi. Seulgi unnie yang membuatnya.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Jadi maksudmu, Seulgi meminta bantuanmu untuk memasakkan ini?”

Yeri menjentikkan jarinya dan mengangguk. “Aku menceritakan keadaan unnie kepadanya.” ujar Yeri dengan senyum bangga.

Taeyeon menatap Yeri dengan tatapan sendu. “Aih cham~ harga diriku.” lirihnya.

Yeri segera masuk ke pantry apartemen Taeyeon dan menyiapkan makanan yang dibawanya untuk unnie nya. Dia merasa seperti di rumah sendiri. Dan seperti itulah tipikal seorang Kim Yerim.

Doing whatever she wants to.

“Jja~ nasi goreng kimchi untuk Kim Taeyeon sunbaenim tercinta~”

Meskipun sedikit ragu menerima makanan yang dibawa Yeri, namun Taeyeon tetap tak bisa menolaknya. Dia kasihan dengan perutnya yang meronta-ronta ingin diisi.

Selagi Taeyeon memakan nasi goreng tersebut, Yeri menyalakan televisi dan mencari channel yang ingin dia tonton. Dan pilihannya jatuh kepada KBS Music Bank.

“Akhir-akhir ini banyak sekali grup baru.” kata Taeyeon.

Yeri menoleh kearah unnienya. “Grup rookie mana yang kau sukai, unnie?”

Taeyeon mengerutkan keningnya, membuat ekspresi berpikir. “Bagiku masih tetap Red Velvet.”

Yeri memutar bola matanya malas. “Kami sudah debut tiga tahun yang lalu unnie.”

“Jinjja? Kenapa waktu berlalu cepat sekali?”

Yeri mengembuskan napasnya pelan. Dia kembali fokus melihat tayangan di depannya yang menampilkan grup CLC – Black Dress.

“Eoh bukankah itu grup yang menyanyikan lagu geum nawarawara?” tanya Taeyeon seraya menyanyikan salah satu lirik yang dia ingat.

Yeri mengangguk.

“Kau kenal mereka?” tanya Taeyeon.

“Aniya. Aku hanya tahu maknae nya saja. Dia seumuran denganku dan satu sekolah denganku.”

“Siapa namanya?”

Yeri menatap Taeyeon dengan mengerutkan kening. “Kalau kau penasaran cari saja di Naver.” ujar Yeri sarkas.

Taeyeon mendecakkan lidahnya. Dia memilih melanjutkan makannya. Yeri yang mulai bosan menatap sekeliling apartemen Taeyeon. Dia menangkap sebuah figura yang tertelungkup di meja samping. Yeri meraihnya dan melihat foto Taeyeon dan Tiffany disana. Gadis itu kemudian membulatkan matanya menemukan ide.

“Unnie video call dengan Fany unnie. Please~”

Taeyeon yang mendengar nama Tiffany disebut reflek tersedak. Gadis yang lebih tua terbatuk beberapa kali. Yeri menyerahkan air minum disampingnya.

“Makan pelan-pelan unnie.”

Taeyeon menggeleng. “Kau bilang apa?”

“Aku bilang apa? Makan pelan-pelan unnie. Kau tidak mendengarnya?”

“Ani. Sebelum itu.”

Yeri menaikkan alisnya. “Aah, video call dengan Fany unnie?”

Untuk yang kedua kalinya Taeyeon tersedak. Yeri mengerutkan keningnya bingung dan menyerahkan air minumnya lagi.

“Unnie gwaenchanha?”

Taeyeon menggeleng. “Berhenti menyebut namanya saat aku tengah makan?”

“Nugu? Fany unnie?” tanya Yeri.

Dan ketiga kali, Taeyeon tersedak. Kali ini batuknya cukup lama. Setelah batuknya reda, Taeyeon meminum air minumnya lagi perlahan.

“Apa kata Fany unnie begitu ajaib?”

Untuk yang kesekian kalinya Taeyeon tersedak. Air minum yang tengah diminumnya muncrat keluar. Ada yang keluar dari hidung juga. Yeri meringis. Itu pasti perih.

“Stop menyebut namanya, okay?”

Yeri mengangguk patuh.

“Apa kau bertengkar dengan Fany unnie?” tanya Yeri polos.

Entah ke berapa kali Taeyeon lagi-lagi tersedak. Dia memegang dadanya yang sakit karena berkali-kali terbatuk. Yeri menutup mulutnya. Dia lupa. Atau mungkin sengaja karena senang mempermainkan unnie nya. Entahlah hanya Yeri yang tahu.

“Mianhae un-…”

Taeyeon menghentikan ucapan Yeri dengan telunjuknya.

“Kalau kau menyebut namanya lagi, Red Velvet akan ku blacklist dari daftar hoobae favorit.”

Yeri menggeleng dengan cepat. Dia mengangkat kelingkingnya, menandakan berjanji untuk tidak menyebut, ‘Fany unnie’ lagi.

Taeyeon mendesah. Dia bangkit dari duduknya dengan membawa piring berisi nasi goreng kimchi yang bersisa setengah. Yeri menekukkan bibirnya merasa Taeyeon marah dan kesal kepadanya. Namun detik kemudian dia mendengar ucapan Taeyeon yang membuatnya terkejut..

 

 

 

 

 

 

“Kajja kita video call dengan Fany unnie.”

 

 

 

 

‘Lah?’

 

 

Yeri hanya bisa terdiam di tempatnya dengan wajah dumbfounded.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hadeuh apalah ini gaje nian.. gua gabut oy wkwk

Entsch masih belom apdet yosh. Masih ada 2 ujian yg tersisa. US sama UN. Dan senin gw US gaes. Mohon doa restunya biar dimudahin ngerjainnya hehe..

Okay.. pai pai see u next fic~

Komen juseyongg~

Advertisements

Enterprischool (Chapter 11)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

Tiffany, Jun, Seohyun, dan Yoona tengah bersiap melakukan perjalanan liburan pertama mereka ke China. Setelah berjam-jam berada di pesawat tidak membuat mereka kelelahan, justru sebaliknya. Jun memimpin perjalanan menuju penthouse keluarganya yang ada di China. Mereka sangat menikmati perjalanan, bahkan Yoona beberapa kali mengambil selca ataupun memotret pemandangan dari balik kaca mobil.

“Apa kalian senang?” tanya Jun.

“Neeee.” balas ketiga sahabatnya bersamaan.

“Oppa, saat kita sampai di penthouse mu nanti akan ada banyak makanan, geujeo?”

Jun tertawa pelan. “Kau tenang saja, Yoong. Aku sudah menyuruh salah satu maid disana untuk membeli baaanyak makanan.”

Yoona meninju tangan kanannya di udara dan berteriak ‘yes’. Seohyun hanya bisa memutar bola matanya malas dan kembali memainkan ponselnya.

Selama menit kedepan, mereka berempat hanya diam, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tiffany yang berada di samping Jun yang mengemudi mobil mengerutkan keningnya melihat gelagat aneh dari Jun.

“Jun, waeyo?” tanya Tiffany khawatir.

“Eo? Hmm.. aniya. Nan gwaenchanseumnida.”

“Geojitmal.” balas Tiffany.

“Benar aku tidak apa-apa, Fany-ah.” Jun menoleh sejenak ke arah Tiffany dan tersenyum. Berusaha meyakinkan sahabatnya.

Tiffany menghela napas. “Arrasseo.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya saat melihat mobil hitam di belakangnya. Namun Tiffany hanya mengangkat bahu dan memejamkan matanya, berniat beristirahat sejenak.

 

***

 

Jessica menelan ludahnya. Dia tidak biasanya bersikap takut seperti ini. Terlebih hanya karena kedua teman idiotnya.

Yuri dan Sooyoung masih menatap Jessica dengan pandangan penuh selidik.

“Sica, bekerjasamalah dengan kami. Itu akan membuat semua lebih mudah.” ujar Sooyoung setelah bermenit-menit Jessica melakukan excuses.

“Be- bekerjasama apa maksudmu.” Jessica masih keukeuh pura-pura tidak tahu.

“Tiffany dan teman-temannya sekarang berada di China.” ucap Yuri.

“MWO?!” teriak Jessica.

“Assa! Kau pasti tahu sesuatu!” Sooyoung berdiri dan menjentikkan jarinya.

“Katakan pada kami mengapa kau seterkejut itu mendengar Tiffany berada di China? Apa kau takut dia bertemu Taeyeon disana?”

Jessica menggigit bibir bawahnya. “A- Apa yang kau bicarakan.”

“Sepertinya kau tidak benar-benar menganggap kami sebagai sahabatmu selama 10 tahun ini, Jessica-ssi.” Yuri tertawa kecut. “Tidak ada bedanya dengan that asshole midget.”

Yuri bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ya Kwon Yuri! Mau kemana kau?!” teriak Sooyoung namun Yuri tak mengindahkannya.

Sooyoung mengembuskan napasnya kasar. Dia menatap Jessica tajam untuk yang terakhir kali. “If you ever consider us as a bestfriend, you never think twice to run over us when you face a problem. Itulah gunanya sahabat.”

Setelah itu, Sooyoung bangkit dan mengejar Yuri. Meninggalkan Jessica yang kini meneteskan airmata. Gadis dingin itu mengepalkan tangannya dan menangis terisak. “I’m screwed up everything.”

 

***

 

“Nona Kim, kami mempunyai kabar untuk anda.”

Taeyeon yang sedang duduk dan mengerjakan beberapa berkas mengangkat wajahnya dan mengerutkan keningnya. Gadis pendek itu berdiri dari kursinya dan mendekati kedua gadis di depannya.

“Duduk.” perintah Taeyeon.

Kedua gadis itu mengangguk dan melakukan apa yang Taeyeon suruh. Disusul Taeyeon.

“Kabar apa?” tanya Taeyeon to the point.

Gadis berambut hitam yang diketahui bernama Ms. Zhou Jieqiong menatap temannya, Ms. Cheng Xiao Xiao dan mengangguk.

Setelah dimintai Taeyeon untuk memata-matai kekasihnya, Tiffany kedua gadis itu segera melaksanakan tugasnya. Jieqiong dan Cheng Xiao memang biasa menangani masalah memata-matai seseorang, kelompok, bahkan company sekalipun. Dan mereka terkenal sangat baik dalam melakukan tugas. Maka dari itu Taeyeon menghubungi mereka.

“Ms. Tiffany tengah berada di China bersama teman-temannya untuk liburan.” ucap Cheng Xiao.

Taeyeon membulatkan matanya. Hanya mendengarnya saja sudah membuatnya sakit. Tiffany, gadis itu sudah banyak tersakiti olehnya. Taeyeon tersenyum kecut.

“Pastikan mata kalian untuk tetap mengawasinya selama berada disini.” ucap Taeyeon.

Kedua gadis di depannya mengangguk.

“Kalian boleh keluar.”

Lagi-lagi mereka mengangguk. Namun sebelum itu, Jieqiong meletakkan map yang sedari tadi dipegangnya di meja.

“Mungkin anda membutuhkan ini. Kami pamit.”

Setelah mengatakan itu, Jieqiong dan Cheng Xiao berlalu meninggalkan Taeyeon.

Taeyeon meraih map tersebut dan membukanya. Jantungnya berhenti sejenak saat pertama melihat apa yang ada didalamnya.

Foto-foto Tiffany yang tengah tertawa bahagia bersama teman-temannya. Dibaliknya juga terdapat nomor ponsel baru Tiffany. Tanpa sadar Taeyeon menitikkan airmatanya. Jujur gadis itu begitu merindukan kekasihnya. Amat sangat merindukan Tiffany.

“Fany-ah..” lirih Taeyeon dengan suaranya yang serak.

 

***

 

Hyoyeon duduk disamping Hyejin yang tengah serius menatap layar laptop didepannya. Gadis blonde itu meletakkan mug berisi coklat panas di meja dekat laptop milik Hyejin.

“Kau bekerja terlalu keras, Hyejin-ah.”

“Eo.. gomawo Hyo.” ucap Hyejin.

Hyoyeon mengangguk. “Negara mana lagi yang akan kau kunjungi?” tanya Hyoyeon sembari menyesap coklat miliknya.

“Entahlah, kontrak dengan salah satu company di Jepang yang gagal membuatku mengurungkan niat untuk menyebarkan brand ku di overseas.”

Hyoyeon tertawa pelan. “Jelas saja gagal. Company yang akan kau ajak kerjasama itu merupakan company besar. Tentu saja mereka tidak akan mau bekerjasama denganmu.”

“Ya! Kau mengejekku ya?!”

“Kalau iya memang kenapa?” balas Hyoyeon dengan senyuman menantang.

Hyejin mendecakkan lidahnta sebelum menerjang Hyoyeon dan memukuli gadis blonde dengan membabi buta.

“Aw aw aw ya ya stop it! Aww yaa Hyejin-ssi aww..”

“Rasakan itu!”

“Okay okay mianhae okay. So please stop it.”

Hyejin menghentikkan pukulannya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Hyoyeon terkekeh. “Kau jangan putus asa. Satu company menolakmu mungkin saja beratus company akan menerimamu.”

Hyejin tersenyum. Dia memeluk Hyoyeon dengan erat.

“That’s my Hyonie.”

Hyoyeon tersenyum. Dia mengusap pelan punggung Hyejin.

“Jin-ah..” panggil Hyoyeon.

“Hm?”

“Kurasa aku ingin berbaikkan dengan saudariku.”

Hyejin melepaskan pelukannya dan menatap tak percaya me arah Hyoyeon. “Jeongmalyo?”

Hyoyeon mengangguk. “Tetap saja dia saudariku. Unnie satu-satunya yang kumiliki. Tidak seharusnya kakak-beradik bermusuhan benar?”

Hyejin tersenyum senang. Dia memeluk Hyoyeon sekali lagi.”Aku akan membantumu. Terimakasih sudah membuka hatimu pada Taeyeon.”

 

***

 

“Oppa, ayo kita ke amusement park!” seru Seohyun.

Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang tengah untuk membahas tempat mana yang akan mereka kunjungi.

“Aniya. Aku ingin ke pantai.” seru Yoona tak ingin kalah.

“Noo. Aku ingin ke pusat perbelanjaan.”

Ketiganya menoleh ke arah Tiffany.

“Wae? Apa yang salah?” tanya Tiffany yang merasa diserang.

Ketiganya menggelengkan kepalanya bersamaan dan melakukan aktivitasnya semula.

“Pokoknya aku ingin ke pantai.” keukeuh Yoona.

“Aniya, lebih menyenangkan amusement park!”

“Lebih baik ke pusat perbelanjaan!”

Jun menghela napasnya melihat tingkah ketiga sahabatnya yang terus berdebat. Dia menundukkan kepalanya di meja, tak ingin ikut perdebatan mereka.

“Jun! Kau setuju ke pusat perbelanjaan kan?” tanya Tiffany.

Merasa namanya dipanggil, Jun mengangkat kepalanya dan menatap Tiffany. “Aku..”

“Oppa! Kau lebih setuju ke pantai, kan?” sela Yoona.

“Oppa! Amusement park saja!”

Jun menutup matanya sejenak dan mengembuskan napasnya kasar.

“Yedeura kita bisa pergi ke pantai, amusement park, dan juga pusat perbelanjaan. Jadi jangan meributkan hal ini lagi, oke?”

“Arrasseo. Tapi pertama-tama kita ke amusement park terlebih dahulu.”

“NOOO PANTAI TERLEBIH DAHULU.”

“Kau bicara apa? Tentu saja pusat perbelanjaan terlebih dahulu.”

Jun memegang kepalanya yang pusing melihat mereka berdebat lagi. Dia bangkit dari duduknya dan pergi darisana. Jun memilih pergi ke taman belakang penthousenya. Dia duduk di kursi panjang disana seraya memijit pelipisnya.

Craaack

Jun terkejut mendengar suara tersebut. Dia berdiri dan berlari ke sumber suara.

“Siapa disana?!” teriak Jun.

Pria itu berlari untuk melihat namun yang dia dapat hanya kosong. Tidak ada siapapun disana.

“Isanghae..” gumamnya.

 

 

 

 

 

“Bodoh! Sudah kubilang jangan terlalu dekat!” Gadis berambut warna ungu menyalahkan temannya.

“Aku tidak tahu ada ranting didepanku!” bela gadis berambut hitam.

“Yedeura geumanhae. Yang terpenting kita tidak ketahuan.” ucap gadis yang paling tua diantara mereka.

“Tetap saja yang tadi itu hampir saja. Ini semua salah dia.” Gadis berambut ungu masih tak terima.

“Aku kan sudah meminta maaf!”

“Stop okay? Lebih baik kita pulang kerumah.” ujar gadis tertua. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Woooow long time no see wkwkwk. Udah sebulan lebih hampir dua bulan malah baru post. Sorry se sorry sorry nyaa. Gw bener2 baru sempet bikin hari ini. Mungkin sehabis ujian2 selese gw bakal fokus rampungin ini fic. Masih pada mau nunggu kan? T.T

And guess what? Yup gw nambahin cast disini. Cuman buat selingan doang sih krna ini fic kan hampir kelar. Ga mengganggu cast utama kok tenang aja.

Okayy pai pai yorobun~ see u next chippie and don’t forget to leave comment~

 

 

 

Enterprischool (Chapter 10)

Title : Enterpischool
Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang
Sub cast : find by yourself
Genre : GXG
Author : N
.
.
.
.
.

Musim telah berganti empat kali. Selama itu pula Taeyeon dan Tiffany tidak berjumpa. Taeyeon bagaikan hilang ditelan bumi. Bahkan sahabatnya pun tidak tahu dimana Taeyeon persisnya. Yang mereka tahu, Taeyeon berada di China. Selama itu pula Tiffany mencoba melupakan kejadian yang lalu dan tetap melanjutkan hidup seperti biasanya. Seperti sebelum dia bertemu dengan Taeyeon. Lagipula dia memiliki orang-orang terdekat yang selalu men-supportnya. Berterimakasihlah kepada Daddy nya, Jun, Seohyun, dan Yoona. Kini Tiffany telah melanjutkan sekolahnya. Berkat Jessica, gadis itu bisa bersekolah lagi dan sekarang memasuki tahun ketiga. Yang mengherankan, ketiga sahabatnya juga ikut pindah sekolah yang sama dengan Tiffany. Mereka bilang tidak akan seru dan lengkap jika salah satu berpencar. Maka dari itu, demi kekompakkan persahabatan mereka, jadilah mereka berempat bersama di satu sekolahan yang sama.
“Unnie, sudah kubilang berhenti memakan junkfood!” protes Seohyun.
Mereka berempat kini tengah berkumpul bersama di rumah Yoona. Gadis rusa bilang dia memiliki film baru dan mengajak sahabat-sahabatnya untuk menonton bersama.
Tiffany pura-pura mengabaikan ucapan Seohyun dan terus memakan potongan pizza nya.
“Hyunie, ini enak. Tidak ada yang bisa menolak makanan lezat seperti ini.” ujar Jun.
“Ada! Dan itu aku. Junkfood tidak sehat. Mereka bisa membunuhmu.” seru Seohyun tak terima.
“Diamlah, hyunie. Kau mau kumasukkan potongan pizza itu, huh? Kau mau kau mau?” Yoona mengambil pizza dan menyodorkannya di depan mulut Seohyun.
“Ya Im Yoona! Singkirkan itu. Ya ya ya ya!” teriak Seohyun.
Tiffany dan Jun tertawa melihat pemandangan di depan mereka. Dari dulu sampai sekarang kelakuan sahabatnya tidak pernah berubah.
“Yedeura, sebentar lagi libur musim panas. Kalian tidak ada rencana?” Jun memotong perkelahian kecil Yoonhyun.
“Ah matta! Libur musim panas! Yeay holidaaayyy! Ho- ho- holiday ho- ho- holiday hiiiiiii~” Yoona menari-nari dork seraya bernyanyi lagu favoritnya.
“Yaish berhenti dork! So, bagaimana dengan liburan bersama?” usul Jun.
“Tidak terlalu buruk. Aku juga ingin mencoba sesuatu yang baru. Bagaimana denganmu, Unnie?” tanya Seohyun pada Tiffany.
“Luar negeri?” tanya Tiffany. Mata mereka memandang satu sama lain bergantian. Mereka tersenyum.
“Call!”
***
Dua gadis berparas cantik dan bersinar bak model ataupun idol tengah duduk bersama di sofa yang tersedia di lobby sebuah perusahaan ternama. Mereka menengokkan kepalanya kesana kemari, berharap melihat seseorang yang mereka cari. Gadis berambut hitam berdiri saat melihat orang yang mereka cari.
“Itu.” ucapnya menggunakan bahasa China. Temannya yang duduk disampingnya ikut berdiri dan mereka langsung berjalan cepat ke arah orang tersebut.
“Permisi, Nona Kim.” ucap mereka berdua bersamaan.
Yang dipanggil Nona Kim menoleh. Dia mengerutkan keningnya melihat dua gadis di depannya.
“Saya Ms. Zhou dan teman saya Ms. Cheng. Anda menghubungi kami kemarin.”
Nona Kim berpikir sejenak, kemudian tersadar. “Ah benar. Ms. Zhou dan Ms. Cheng. Hampir saya lupa. Mengapa tidak menghubungiku kalau kalian datang kemari?”
“Maaf tetapi nomor ponsel anda tidak bisa dihubungi, dan resepsionis disana bilang anda sedang pergi keluar.” jawab gadis yang lebih pendek.
“Ah begitu. Maafkan saya, ponsel saya lowbat tadi. Mari, silakan ikut saya keruangan saya.” Nona Kim mempersilakan keduanya untuk mengikutinya, berjalan menuju ke ruangannya di lantai 15.
“Jadi Ms. Zhou dan Ms. Cheng.. tunggu-.. kalian berdua bisa berbahasa Korea, bukan?” tanya Nona Kim.
Kedua gadis di depannya terkekeh pelan. “Dayeonghaji, sajangnim.”
“Ah baguslah. Aku sedikit kurang nyaman jika berbicara menggunakan bahasa China.”
“Bahasa China anda bagus, Nona Kim. Pengucapannya juga.” puji gadis berambut hitam.
“Ah jinjjayo? Gamsahabnida Ms. Zhou.”
“Cheonmaneyo, sajangnim. Hmm, soal kemarin.. ada maksud apa anda menghubungi kami?”
Nona Kim menghela napas dan tersenyum. “Aku butuh bantuan kalian. Aku tahu kalian orang yang bisa diandalkan untuk masalah ini.”
***
Bunyi bola yang beradu dengan lantai menjadi suara satu-satunya di gedung olahraga. Hanya ada satu orang disana yang tengah memainkan bola basket. Peluh tak menghalangi orang tersebut untuk tetap melakulan dribble dan shooting.
“Yass gotcha!” teriak orang itu saat shooting nya berhasil masuk kedalam ring.
Dia mengambil bola tersebut dan memainkannya lagi.
“Hentikan, Hyo.” Itu suara Hyejin.
Hyoyeon tak menghiraukan ucapan Hyejin dan terus berlari kemudian melompat untuk memasukkan bola kedalam ring.
Masuk!
Hyoyeon membaringkan tubuhnya di lantai.
“Aaaaaaaaaargh!”
Hyejin mendekati Hyoyeon dan duduk disampingnya. Gadis itu menyerahkan botol mineral pada sahabatnya. Hyoyeon bangkit dan mengambil botol tersebut dan membukanya kemudian meminumnya dengan cepat.
“Dia bodoh.” ucapnya setelah meminum air mineral. Pandangannya lurus kedepan.
Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya kedepan. “Yeah, dan dia tidak menyadari kebodohannya.”
“Kau masih menyukainya?” tanya Hyoyeon seraya menatap Hyejin.
Hyejin menghela napasnya. “Jogeum.”
Kali ini giliran Hyoyeon yang menghela napas. “Dia brengsek. Kau tidak pantas mencintainya.”
“Biarpun begitu.. tetap saja.. dia saudarimu.” balas Hyejin lirih di akhir kalimat.
“Kau tidak boleh mengatainya.” Hyejin menoleh dan menatap manik Hyoyeon.
Hyoyeon menggeleng. “Aku belum bisa melupakan kejadian yang lalu, Jin-ah.”
“Kim Hyoyeon! Sudah berapa kali kubilang, cobalah memaafkannya. Dia tidak tahu siapa kau sebelumnya. Kumohon mengertilah.”
“Dia yang seharusnya mengertiku, Jin-ah. Aku yang pertama kali ditinggal olehnya! Dan disaat pertama kami bertemu dia memandangku seolah-olah aku hewan yang bisa dipermainkannya! Dia melukaiku terlalu banyak. Bukannya meminta maaf padaku waktu itu, dia malah diam seperti orang idiot! Aku membencinya! Kalau boleh memilih aku lebih baik tidak memiliki saudari selamanya daripada memiliki saudari sepertinya!” Hyoyeon menumpahkan semuanya saat itu. Dia sudah tidak bisa menahannya. Hyoyeon menangis, dia menangis terisak.
Hyejin tahu sahabatnya adalah orang yang kuat. Dia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya di depan orang, pengecualian untuk saat ini.
Hyejin menepuk pelan punggung Hyoyeon dan menenangkannya. Hyejin tersenyum, dia akhirnya paham mengenai satu hal.

Hyoyeon menangis dan menumpahkan semuanya karena dia tidak bisa lagi menahan kemarahannya..

Pada diri sendiri.

Hyoyeon marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa membenci saudarinya meski dirinya ingin sekali membencinya.

Dia tidak benar-benar membenci Kim Taeyeon.

***

“Syoo, hentikan!”
Yuri menatap sahabatnya dengan jijik.
“Hentikan apa?” tanya Sooyoung malas dan terus memainkan permen karet dimulutnya dengan jarinya. Menarik-nariknya seperti karet.
Yuri menghela napasnya. Dia kemudian meraih jaket kulitnya dan bersiap-siap keluar.
“Ya ya ya ya okay! Aku berhenti.” ucap Sooyoung. Dia kemudian membuang permen karetnya di tempat sampah dan membersihkan tangannya di wastafel.
“Duduklah kembali.” pinta Sooyoung.
Yuri memutar bola matanya malas. Tanpa banyak bicara gadis tan duduk kembali di sofa.
“Ada masalah apa kau memanggilku kemari?” tanya Yuri to the point.
Sooyoung berdecak. “Jangan bersikap sok sibuk, Kwon. Lagipula apa salahnya mengundang sahabatku sendiri kemari. Kau sudah jarang bermain di apartemenku.”
“Apa maksudmu dengan kata bermain di apartemenmu, ha?” tanya Yuri dengan memicingkan matanya.
Sooyoung memutar bola matanya malas. “Aku masih normal, dude. Tolong singkirkan otak pervert mu itu.”
Yuri tertawa. “Hahaha aku bercanda, syoung. Dan mian aku jarang kemari lagi. Kau sendiri tahu kau dan aku sama-sama sibuk mengurusi perusahaan kita. Ditambah dengan perginya cebol satu itu.”
“I know I know. Maka dari itu aku mengajakmu kemari. Kita lupakan sejenak masalah perusahaan dan bersenang-senang.”
Sooyoung berdiri dan berjalan menuju pantry. Dia membuka lemari es dan mengambil beberapa botol soju dan gelasnya. Dia juga membawa beberapa makanan ringan.
“Jjaaa~ pesta soju…”
Sooyoung menaruh soju dan makanan ringan tersebut di meja.
“Aku tahu bukan hanya ini kau mengundangku kemari. Katakan padaku..” Yuri menatap Sooyoung dengan serius.
Sooyoung tersenyum pelan. Dia mengalihkan pandangannya ke arah soju di depannya. Gadis itu mengambil satu botol soju dan membukanya. Kemudian menuangkan isi soju tersebut ke gelas milik Yuri dan miliknya.
“Kita bicarakan itu sambil minum.” jawab Sooyoung.
Yuri meraih gelas didepannya dan langsung meminumnya dengan sekali shot. Sooyoung terkesan dan menaikkan bibirnya kemudian menggeleng. Gadis itu tak mau kalah, dia juga meminum sojunya dengan sekali shot.
“Aaaaahhh. Mashitta.” ungkap Sooyoung setelah selesai meminum sojunya.
“Apa ini berhubungan dengan Taeyeon?” Yuri bertanya, membuat Sooyoung menghentikan gerakan tangannya yang ingin menuangkan soju ke gelasnya.
Sooyoung tersenyum kecut. Dia menuangkan soju ke gelasnya, lalu ke gelas Yuri lagi.
“Bisa jadi.” jawabnya kemudian mulai meminum soju nya lagi.
Yuri ikut meminum sojunya. Dengan sekali shot tentunya.
“Aaah bedebah gila itu…” umpat Sooyoung. Gadis itu menuangkan soju ke gelasnya lagi. Tak lupa menuangkannya ke gelas Yuri.
“Wae? Ini sudah terhitung satu tahun. Apa ka-…”
“Aku tahu dia berada dimana.” potong Sooyoung cepat.
Yuri tersedak sojunya. Dia tahu itu sangat perih di tenggorokannya. Namun rasa terkejut dan penasarannya lebih besar.
“Neo jangnan ani?” tanya Yuri.
Sooyoung menatap Yuri sejenak. Kemudian mengalihkan pandangannya. Gadis tinggi itu menenggak sojunya lagi.
“Dia ada di Zhejiang, China. Bahkan aku tahu apartemennya.” Sooyoung tertawa kecil. “Geu saekkya..”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Yuri. Masih tak percaya.
Sooyoung menatap Yuri dan tersenyum, senyum yang sulit diartikan.
***
Jessica bolak-balik berjalan di apartemennya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Dia berjalan ke sofa dan hendak mengambil ponselnya, namun dia urungkan. Gadis brownie menggigit jarinya dan berpikir keras. Dia akan mengambil ponselnya lagi namun kembali diurungkan.
“Aaaaaargh aku bisa gila!”
Pada akhirnya gadis dingin itu merebahkan dirinya di sofa dan memijit pelipisnya. Sudah satu tahun berlalu semenjak Taeyeon pergi. Perasaan bersalah itu kembali menghantuinya lagi. Dia menyesal menjadi penyebab semua ini. Kalau bukan karena-…
Lupakan!
Jessica beranjak dan berjalan menuju wastafel. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin. Berharap pikirannya juga kembali dingin.
Nafas Jessica terengah. Dia berhenti membasuh wajahnya dan menatap lurus kedepan.
“Taeyeon-ah, aku harus bagaimana?”
Jessica menutup kran dan meluruhkan tubuhnya kebawah. Dia memejamkan matanya. Dibawah sana, tangannya terkepal kuat.
Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan kepada Taeyeon apa yang sebenarnya terjadi. Dia pikir ini adalah waktu yang tepat. Sudah setahun, dan semua berjalan baik-baik saja. Namun dia takut jika dia mengatakan semuanya pada Taeyeon, hal itu justru malah membuat semuanya semakin rumit. Dia tidak mau itu terjadi.
Setiap malam Jessica terus-terusan disergap rasa bersalah. Dia tahu siapa culprit yang menyebabkan hancurnya hubungan Taeyeon dan Tiffany. Dia tahu semua itu, namun dia tidak bisa mengatakannya. Orang itu bisa saja melakukan segalanya. Dia tidak bisa melihat orang-orang yang disayanginya terluka.
“Aku harus bagaimana?” tanyanya pada dirinya sendiri.

TBC

Sorry for long update T.T
Gua sibuk guys tau lah murid kelas duabelas gmna. Maapin. Ini aja lagi libur tak sempetin nulis. Gw mohon pengertiannya ya. Part selanjutnya gw gatau mau diupdate kapan, kalo luang gw bakal nulis dan post klo ga ya brati kaga :v
Okay komen juseyo~

P.s : gua gak sempet ngedit ‘-‘

At Least.. We Still Exist

Taeyeon sampai di dorm ketika sudah larut, tapi dia mendengar suara tawa dari dalam sesaat setelah ia membuka pintu. Taeyeon melepas sepatunya dan menggantinya dengan slipper. Kemudian berjalan memasuki dorm. Dia lalu melihat Yuri dan Yoona tengah tertawa terbahak-bahak di ruang tengah. Taeyeon menaikkan alisnya sebelum mendekati keduanya.

“Apa ada hal lucu?” tanya Taeyeon seraya melepas hoodie nya.

Yoona mengusap sudut matanya yang berair dengan masih sedikit tertawa. Sedangkan Yuri terus memegangi perutnya selagi tawanya masih terdengar nyaring.

“Ya Unnie geumanhae.. bwahahaha~” Yoona tak kuasa menahan tawanya lagi melihat Yuri yang terus tertawa.

Taeyeon memutar bola matanya.

“Yedeura geumanhae.” seru Taeyeon.

Yuri menarik nafasnya dan menahan tawanya yang akan keluar lagi. “Puuufh~ kau akan tertawa saat melihat ini, Taeng.”

Yuri membuka ponselnya yang sedari tadi ia pegang dan menyerahkannya pada Taeyeon. Sang leader menerimanya dan mulai melihat apa yang Yuri tunjukkan. Detik kemudian tawanya pecah. Yoona dan Yuri yang mulai berhenti kembali tertawa melihat leader mereka tertawa.

“Kubilang juga apa, Taeyeon-ah.” ucap Yuri disela tawanya.

Didalam ponsel Yuri, terdapat video Hyoyeon yang tengah berbicara bahasa alien disaat tertidur. Disaat Yoona atau Yuri bertanya pada Hyoyeon, gadis itu dengan tak diduga menjawab pertanyaan mereka. Jelas saja hal itu mengundang tawa. Apalagi jawaban Hyoyeon menggunakan bahasa slang dengan logat yang lucu. Taeyeon tebak hal itu terjadi tak lama tadi sebelum dia kembali ke dorm.

Mereka bertiga masih tertawa berjamaah. Tak peduli hari telah larut dan tawa mereka sampai terdengar diluar.

“Aigoo, geumanhae geumanhae.. ahahaha..”

“Nyumnyungnyuumnyuuung aaiiuuung ahuhaauh~” Yoona menirukan suara Hyoyeon di video dan membangkitkan tawa mereka lagi.

“Dia sangat lucu hahaha~”

“Aaah perutku sakit, Unnie.” Yoona memegangi perutnya.

Setelah beberapa saat, ketiganya mulai berhenti.

“Kau darimana, leader?” tanya Yuri yang sudah kembali ke mode normal.

“Hanya berkeliling mencari udara segar. Eoh, apa Sunkyu belum pulang?”

Yuri menggeleng. “Tapi sebentar lagi dia pasti pulang. Ini sudah jam sebelas lebih.”

Taeyeon mengangguk.

“Eo, apa yang ada didalam situ, Unnie?” tanya Yoona yang menyadari sesuatu ditangan Taeyeon.

Taeyeon menurunkan pandangannya pada plastik yang tengah dibawanya. “Ah, ini patbingsoo dan kimbap. Kupikir kalian belum tertidur dan ingin memakan sesuatu. Beruntung tebakanku benar.”

Mata Yoona berbinar. Dia segera mengambil plastik ditangan Taeyeon dan membukanya. Gadis rusa menjilat bibirnya.

“Gomawoyoongg Unnieee~” aegyeo Yoona yang segera dibalas wajah merinding oleh Taeyeon. Dia merasa terganggu dengan aegyeo Yoona.

“Ga makanlah.”

Mereka berdua mulai memakan patbingsoo dan kimbap dengan lahap. Terutama Yoona. Mulut gadis rusa tak pernah absen untuk terus terisi.

“Kau tak makan, leader?” tanya Yuri. “Apa perlu ku suapi?” lanjutnya.

Taeyeon menggeleng. “Aeeesh tak usah. Aku sudah memakannya disana tadi.”

“Aku pulaaang~”

Mereka bertiga mendengar suara seperti anak kecil yang berasal dari pintu dorm. Tak lama kemudian, Sunny muncul dengan membawa kantung plastik ditangannya.

“Aah beruntung kalian belum tertidur. Aku membawa buah untuk kalian.” Sunny bergabung bersama mereka dan meletakkan kantung plastik di meja dan membukanya.

“Waaa rezeki gadis cantik~” ujar Yoona dramatis.

“Dimana Hyoyeon?” tanya Sunny seraya mengambil sepotong kimbap dan memakannya.

“Dia sudah tertidur. Apa perlu aku membangunkannya?” tanya Taeyeon.

“Tak usah. Biar dia kenyang makan di dunia mimpi saja.” balas Yuri.

“Ya kedelai hitam! Dia juga member kita, kau tahu!” Sunny melempar biji semangka ke arah Yuri yang langsung menempel di bawah matanya.

Yoona tertawa melihat Yuri. “Kau mengingatkanku pada Chaeso, Unnie.”

“Aah ne matta matta. Tiffany tak bisa memasukkan satu biji pun waktu itu.” timpal Yuri dan mereka pun tertawa.

Taeyeon hanya tersenyum pelan dan memakan jeruk nya dengan diam.

Setelah si kembar berhenti tertawa, mereka menghela nafasnya bebarengan. “Kalau saja babi pink itu masih disini.” ujar Yuri dengan nada sedih.

“Aeey kedelai hitam, berhenti menunjukkan wajah memelas seperti itu. Menjijikan.” Sunny yang merasa atmosfer diantara mereka berubah segera menggantinya.

“Kupikir Sunny Unnie benar, Yul Unnie. Wajahmu begitu menjijikan saat ini.” tambah Yoona yang langsung dihadiahi silau tajam dari Yuri.

“Aku setuju.” timpal Taeyeon.

Yuri mempoutkan bibirnya dan merengek seperti anak kecil.

“Ingat umurmu, kedelai hitam!” Sunny menjitak kepala Yuri.

Taeyeon dan Yoona tertawa melihat kedua member mereka yang seperti anjing dan kucing.

“Bagus sekali berkumpul tanpaku, hm?”

Mereka berempat menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Hyoyeon yang tengah berkacak pinggang.

“Kemarilah, Hyo.” ucap Taeyeon dengan menepuk tempat disampingnya.

Hyoyeon mendekati mereka dan mulai duduj disamping Taeyeon. Gadis itu mengambil patbingsoo di meja dan memakannya dengan malas. Dia masih kesal karena member tak membangunkannya dan mengajaknya.

“Aah aku merindukan saat-saat seperti ini~” Taeyeon meregangkan tangannya dan menatap membernya satu-persatu.

Mereka semua mengangguk mengiyakan ucapan Taeyeon. Sudah sangat lama semenjak mereka berkumpul bersama ditengah jadwal individu mereka. Apalagi ditambah ketiga member mereka yang memilih meninggalkan agensi. Rasanya mendapat waktu berkumpul berdelapan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Namun Taeyeon bersyukur masih bisa berkumpul dengan member yang tersisa seperti saat ini.

“Aku merindukan Pany Unnie, Syoung, dan Juhyunie.” Yoona memajukan bibirnya dan bermain dengan kulit jeruk menggunakan sumpit.

“Aah lupakan saja. Siapa yang ingin minum? Kalian free besok, bukan?” tanya Sunny.

Yuri dan Hyoyeon dengan semangat mengacungkan tangannya. Yuri menampar paha Yoona yang dibalas decakkan oleh gadis rusa. Kemudian Yoona ikut mengacungkan tangannya malas.

“Taeng?” panggil Sunny karena gadis mungil itu tak ikut mengacungkan tangannya.

“Arrasseo.” Dengan itu, Taeyeon mengacungkan tangannya.

“Tapi sedikit saja. Kau tahu toleransiku rendah terhadap alkohol.”

Sunny mengangguk. Gadis imut itu berdiri dan berjalan menuju pantry untuk mengambil beberapa botol soju dan gelas.

“Soju siaaaap~” Sunny menaruh soju dan gelas di meja.

“Let’s party! Yoong-ah nyanyikan bagianmu.” seru Yuri.

Yoona terkekeh dan mengangguk. “I like to party~”

Semua yang ada disana tertawa. Hampir seluruh member menyukai lagu dari album terbaru mereka yang berjudul All Night. Terlebih suara Yoona saat menyanyikan part tersebut.

Sunny mulai membuka soju dan menuangkannya di gelas masing-masing member. Setelah semua selesai terisi, dia mengangkat gelasnya yang diikuti oleh member lain.

“Geonbae!” seru mereka.

Taeyeon hanya meminum satu gelas saja. Selain karena tak ingin mabuk, dia juga harus mengurus membernya yang sepertinya akan berakhir mabuk. Selebihnya dia menonton aksi konyol YoonYulHyo. Hal itu sedikit menghiburnya.

Gelas demi gelas. Botol demi botol telah lenyap masuk kedalam perut mereka berempat. Yoona menyipitkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu sudah mabuk. Yuri dan Hyoyeon terus menari dengan gila dan tak beraturan. Sama seperti Yoona, kedua gadis itu juga sudah mabuk. Taeyeon menghela nafasnya. Dia berganti menatap Sunny yang duduk disamping Yoona. Taeyeon sedikit terkejut melihat Sunny yang masih sadar padahal gadis imut itu telah menghabiskan bergelas-gelas soju.

“Kau lupa aku ini sama seperti kekasihmu yang tak gampang mabuk, huh?” ujar Sunny yang seperti membaca pikiran Taeyeon.

Taeyeon mengangguk. “Bagaimana dengan Yuri?” Taeyeon menatap Yuri yang tengah berangkulan dengan Hyoyeon dan bernyanyi absurd. Dia juga tahu Yuri tak gampang mabuk.

“Kau ini bodoh atau apa. Lihat sebanyak apa Yuri minum.” Sunny menunjuk botol soju didepannya.

“Ommaya!” terkejut Taeyeon. Sunny tertawa.

“Dia kedelai hitam yang gila.”

Taeyeon mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya.

Sunny tersenyum. Namun senyumnya segera pudar dan terganti dengan kesedihan di raut wajahnya. Taeyeon menyadari hal itu.

“Aku tahu mereka berpura-pura tegar belakangan ini. Kau lihat itu. Pada akhirnya mereka kalah oleh perasaan mereka juga.” Sunny menunjuk ketiga temannya menggunakan dagunya.

Yuri dan Hyoyeon sudah tidak bernyanyi aneh lagi. Mereka menunduk dan menangis. Menumpahkan segala isi hati mereka dengan mengumpat dan berteriak. Hati Taeyeon sakit mendengar apa yang mereka katakan. Berbeda dengan Yoona, gadis rusa hanya diam dan menatap poster mereka berdelapan yang terpajang di dinding dengan senyum kecut.

“Ini sulit… bagi mereka.. juga kita..” Sunny menatap Taeyeon.

“Menangislah kalau kau ingin menangis leader. Aku tahu sulitnya berada di posisimu.”

Taeyeon menggeleng meski dirinya ingin sekali menangis. Meskipun mereka tak mengatakan meninggalkan grup dan hanya meninggalkan agensi, namun secara tidak langsung, mereka pergi dari grup. Tidak satu agensi berarti mereka tidak lagi berkewajiban mengurus grup. Tidak terikat lagi dengan grup.

“Semua sudah terjadi, Sunkyu-ya. Mari hanya melihat kedepan, dengan atau tanpa mereka bertiga. Ini sudah pernah terjadi tiga tahun silam. Aku bisa meng-handle nya.” ucap Taeyeon dengan tersenyum lemah.

“Dia kekasihmu, Taeng.”

“Aku tahu. Maka dari itu aku melepasnya. Aku tak mau dia terus tersakiti jika harus bertahan.”

“Bagaimana dengan Syoung dan Juhyun?” tanya Sunny.

“Itu pilihan mereka, Sunkyu. Aku tak bisa melarangnya.”

“Kau tahu seperti apa agensi kita. Bagaimana jika.. kemungkinan terburuk itu benar terjadi.. dan kita hanya comeback berlima?”

Taeyeon mengangkat bahunya. “Setidaknya SNSD masih ada.”

“Taeyeon-ah..” Sunny mengerutkan keningnya.

Taeyeon terkekeh. “Sudahlah. Lebih baik ayo urusi bocah-bocah itu.”

Taeyeon bangkit dan mendekati ketiga membernya yang sudah tak sadar. Dia membantu memindahkan mereka untuk tertidur bersisihan karena tak mungkin membawanya ke kamar.

“Kau akan terus berdiam disitu, Sunny-ah?”

Sunny terenyak. Dia menggeleng.

“Tolong ambilkan bantal dan selimut untuk mereka.” pinta Taeyeon dan langsung dibalas ya oleh Sunny.

Taeyeon menatap figur sahabatnya yang sudah bersamanya selama hampir separuh usianya selagi menunggu Sunny membawakan selimut dan bantal untuk mereka.

Taeyeon tersenyum pelan melihat wajah polos mereka. Dia terkejut dan segera menghapus airmatanya yang menetes sebelum ketahuan oleh Sunny.

Taeyeon melihat kebelakang dan menghela nafasnya lega saat Sunny belum terlihat. Dia menolehkan pandangannya ke arah tiga sahabatnya lagi.

“Mianhae.. neomu gomawosseo..” ucapnya lirih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

Gw tau ini gaje. So maafkan ke gaje an gw yes. Gw jg mau menginformasikan kalo bulan ini dan bulan besok kalo gw jarang update tolong dimaklumin. Kalian tau sendiri lah kegiatan siswa tingkat ujung gimana. Yass gw sibuk sm intensifikasi dan sebagainya. Belum lagi try out dan teman2nya. Pwuuhh capek fisik capek otak pasti.

Gw update kalo bener2 sempet doang. Dan gw mohon jangan pada nganggep gw tutup wp ato mager nulis ato yg laine. Karena bener2 sulit bagi waktu belajar sm nulis walooun nulis hobby gw. So mohon kerjasamanya guys~ *bow

Okay see u next fic guys~

Enterprischool (Chapter 9)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

“Apa kabar, Kim?”

Taeyeon menegang mendengar suara tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dengan sangat pelan. Menelan ludahnya saat penglihatannya menangkap seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hyejin..”

Hyejin tersenyum miring. “Jadi apa kau masih mengingat ucapanku waktu itu? Siapa yang kau curigai?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia membulatkan matanya saat gadis yang dia kejar berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti disamping Hyejin.

“H- Hyoyeon-ssi.” gumam Taeyeon.

Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon kemudian ke arah Taeyeon. “Benar. Dia Kim Hyoyeon. Seseorang yang kau curigai akhir-akhir ini. Apa aku benar?”

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk menjawab ‘ya’.

“TaeTae!” teriak Tiffany. Namun Taeyeon masih berdiri kaku ditempatnya.

Tiffany berlari mendekat ke arah Taeyeon dan memegang lengannya. “Ya! Mengapa kau berlari dan meninggalkan belanjaanku?!”

Taeyeon masih diam. Tiffany mengerutkan keningnya. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon dan terkejut saat melihat mantan kekasih Taeyeon dan seorang gadis blonde yang tidak diketahuinya. Mungkin kekasih Hyejin Unnie yang baru?

“Ah, biar kutebak. Dia pasti kekasih bocahmu, hm?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Dia ingin sekali berteriak kesal di depan wajah mantan kekasih Taeyeon itu. Enak saja mengatakan dia bocah. Kalau dia bocah, bagaimana dengan Hyejin? Nenek tua? Tiffany memutar bola matanya malas.

Tiffany tersenyum saat menemukan ide. Mengapa dia tidak meminta Jessica menyusul mereka kemari? Melihat Taeyeon yang hanya diam membisu seperti orang idiot tidak akan membantu. Setelah mengetik beberapa kalimat untuk dikirimkan ke Jessica, Tiffany menoleh ke arah Hyejin dan gadis unknown disampingnya.

“Hyejin Unnie. Apa kau keberatan untuk mentraktir kami ice cream? Aku ingin tahu bagaimana rasanya makan ice cream bersama mantan kekasih kekasihku.” Tiffany tersenyum mengejek.

Dia bisa melihat Hyejin mengeraskan rahangnya. Namun tak berselang lama. Hyejin tersenyum manis dan mengangguk. “Call!”

Mereka berempat pada akhirnya naik ke lantai atas, ke kedai ice cream favorit Taeyeon. Mereka memesan ice cream yang berbeda satu sama lain. Taeyeon masih tetap diam seperti orang dungu. Tiffany beberapa kali menyuapi kekasihnya itu karena hanya diam.

“Hyejin! Hyoyeon-ssi!”

Mereka berempat serentak menoleh ke arah suara dolphin yang memekakkan telinga.

“Sica!” Hyejin berdiri dan berlari menghampiri Jessica. Gadis itu memeluknya dengan erat.

“Oh my Gosh! Kenapa sulit sekali menghubungimu, huh?” Jessica berkata setelah melepas pelukan mereka.

“Mianhae. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sibuk merintis usaha baruku.” balas Hyejin dengan wajah menyesal.

“Wow! Kau jadi membuat brand mu sendiri?” tanya Jessica berbinar. Mereka seakan melupakan keberadaan tiga orang dibelakangnya.

“Yeah. Bersyukur Hyonie mau membantuku.”

Jessica menolehkan pandangannya ke arah Hyoyeon yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.

“God! Hyoyeon-ssi!” Jessica berlari kecil lalu memeluk Hyoyeon.

“Kau apa kabar? Sudah sangat lama terakhir kita bertemu.”

Jessica melepas pelukannya dan mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.

Hyoyeon tertawa. “Kau tahu orang seperti apa diriku ini.” Hyoyeon membanggakan dirinya sendiri.

“Chill! Kau harus mentraktirku dinner mewah kali ini. Awas saja kau.” Jessica terkekeh begitu juga Hyoyeon.

Taeyeon menatap interaksi mereka bertiga dengan wajah dungu. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Tiffany hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. Dia pikir kalau seperti ini Jessica tidak akan membelanya nanti.

“Unnie..” panggil Tiffany lirih. Sedari tadi Jessica melupakan keberadaannya.

“Oh hey, Tiff. Kau disini juga?”

Tiffany meringis. Bukankah dia sendiri yang meminta Jessica kemari?

Tiffany tersenyum palsu dan mengangguk kaku. Benar. Jessica pasti tak akan membelanya dan melindunginya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka bersama kedua sahabat konyol Taeyeon.

“Taenggu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Jessica yang menyadari wajah tak biasa sahabatnya.

Taeyeon menggeleng. “Gwaenchanha.”

Sore itu mereka isi dengan perbincangan yang menyenangkan. Sebenarnya bukan keseluruhan mereka, namun hanya Jessica, Hyejin, dan Hyoyeon saja. Sedangkan Taeyeon dan Tiffany hanya diam menyaksikan ketiganya berbincang. Jessica seakan melupakan masalah dan keresahan Taeyeon. Padahal saat ini kedua orang yang diduga menjadi informan berada tepat di depannya.

Taeyeon merasakan sakunya bergetar. Dia merogoh sakunya dan meraih ponsel berlogokan apel tergigit dan membukanya.

Sebuah pesan. Dari sahabatnya, Yuri.

Taeng, masalah besar! Tiffany dikeluarkan dari sekolah. Cepat ke kantor!

 

Mata Taeyeon melebar, bahkan terlihat hampir copot. Dia berdiri dengan cepat dan menarik tangan kekasihnya untuk keluar darisana. Tiffany yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunjukkan wajah bingungnya. Jessica berteriak memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Taeyeon.

“TaeTae sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany setelah mereka berada di mobil Taeyeon.

Gadis yang lebih tua tak menjawab apapun. Wajahnya berubah datar dan dingin. Tiffany sampai ketakutan melihat Taeyeon yang seperti ini. Bahkan gadis itu mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiffany hanya bisa menggenggam erat sabuk pengamannya.

Taeyeon menghentikan mobilnya di depan rumah Tiffany. Gadis yang lebih muda bersyukur mereka sampai dengan selamat.

“Masuklah kedalam.” ucap Taeyeon dingin tanpa menatap Tiffany.

Tiffany menundukkan kepalanya dan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Tiffany membuka pintu mobil dan keluar. Tak lama setelah itu mobil Taeyeon segera berbalik dan melaju dengan cepat. Tiffany menghela nafasnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi pada kekasihnya.

 

“What the f*ck! Apa maksudmu, Kwon Yuri?!” semprot Taeyeon setibanya ia di ruangannya.

Dia melihat Yuri dan Sooyoung yang menunjukkan wajah frustasi dan prihatin. Masalah mereka terus saja bertambah pelik.

Taeyeon menarik kerah kemeja Yuri. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kali ini!”

Yuri melepas tangan Taeyeon di kerah kemejanya dengan kasar.

“Bisakah tak memasukkan emosi saat ini, hah?” teriak Yuri. Dia kesal dengan Taeyeon yang tak bisa menahan emosinya. Dia pikir Taeyeon sudah berubah. Mereka tahu tabiat Taeyeon yang kasar dan pemarah semenjak sekolah dasar.

“Hey hey hey, kita berkumpul disini bukan untuk bertengkar. Chill!” Sooyoung menengahi.

Yuri mengembuskan nafasnya kasar. Dia melonggarkan dasi miliknya dan duduk di sofa tanpa melihat Taeyeon. Dia masih kesal.

“Kau saja yang menjelaskan, Soo.” ucap Yuri. Sooyoung mengangguk.

“Kumohon kau tenanglah terlebih dahulu, Taeng. Dan jangan memasukkan emosi setelah aku selesai menjelaskan.” pinta Sooyoung.

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

“Tiffany dikeluarkan karena masalah Daddy nya.. kau tahu.. tuduhan penggelapan dana itu dan.. k- karena dia g- gay. Sekolah tak mau Tiffany merusak nama baik mereka.” jelas Sooyoung.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengerang dan memukul meja didepannya hingga buku-buku jarinya memerah. Dia tidak peduli tangannya sakit dan lebam.

“F*ck!” umpatnya.

***

Hal tersebut tak butuh waktu lama sampai di telinga Tiffany. Gadis itu terduduk lemas dengan tatapan kosong. Daddy nya menatap puterinya dengan pandangan menyesal. Dia meminta maaf telah menyebabkan puterinya dikeluarkan dari sekolah. Pria paruh baya tersebut memeluk puterinya yang disusul isakkan dari gadis brunette. Tiffany menangis sesenggukan.

Keesokan harinya, Tiffany mengurung dirinya di kamar. Daddy nya terus membujuk puterinya untuk keluar dan sarapan bersama. Namun Tiffany tak menghiraukan dan memojokkan dirinya di pinggiran ranjang. Air matanya telah kering. Bahkan hingga sore hari Tiffany tak kunjung keluar. Hal itu membuat Daddy nya cemas. Dia teringat kunci cadangan yang ada di rak. Daddy Hwang membawa nampan berisi makanan dan membuka pintu kamar puterinya. Dia melihat Tiffany masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Jujur hal itu membuat hati Daddy Hwang sakit.

“Stephy, makanlah dulu, nak. Kau belum makan seharian.” pinta Daddy Hwang.

“Taruh saja di meja. Daddy boleh keluar.” ucap Tiffany dengan suara seraknya.

“Tapi, Steph-…”

“Daddy.. please..”

Daddy nya menghela nafasnya dan mengangguk. Beliau berdiri dan menaruh nampan berisi makanan di meja samping ranjang. Lalu mulai keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Setelah Daddy nya pergi, Tiffany menangis. Lagi.

Hal itu berlangsung selama tiga hari. Tiffany sama sekali tak keluar dari kamarnya. Daddy Hwang bertambah khawatir. Sebenarnya dia juga memiliki kegiatan untuk mencari pekerjaan lagi, tapi mengingat puterinya yang seperti itu mengurungkan niatnya.

Daddy Hwang mendengar bunyi bel. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria muda tersenyum kearahnya seusai dia membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Choi Jun imnida, teman Tiffany.” Jun membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa Tiffany dirumah, paman?” tanya Jun.

Daddy Hwang memandang Jun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian menghela nafasnya.

Daddy Hwang mengangguk. “Namun sudah tiga hari ini Stephy tidak keluar dari kamarnya. Dia pasti sangat shock dan sedih.” Daddy Hwang berkata dengan nada sedih.

Jun membulatkan matanya. Dia tidak mengira sahabatnya akan seperti ini. “P- Paman, bolehkah aku bertemu dengannya? Aku akan mencoba berbicara dengan Tiffany.” pinta Jun.

“Baiklah. Kuharap kau bisa membujuknya keluar.” Daddy Hwang menepuk bahu Jun dan mempersilakan Jun masuk kedalam.

Daddy Hwang membuka pintu kamar puterinya dan mempersilakan Jun masuk. Beliau kemudian pergi, membiarkan Jun membujuk puterinya.

“Tiff..” panggil Jun.

Tiffany mendongakkan wajahnya dan melihat Jun. Dia diam sebelum suara isakkan keluar dari mulutnya. Jun terkejut dan segeta berlari memeluk sahabatnya.

“Sssst. Gwaenchanha. Everything’s gonna be alright.” Jun mengelus punggung Tiffany. Sedangkan gadis brunette menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jun dan terus menangis terisak.

Sementara diluar kediaman Tiffany, seorang gadis mungil tengah menatap kosong kedepan di dalam mobil mercedes nya. Dia menghela nafas saat ucapan sahabatnya terngiang di kepalanya. Dan saat gadis itu menangkap sebuah motor sport berwarna hitam yang familiar, dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berbalik. Dengan perkataan sahabatnya yang melingkari kepalanya menemani perjalanan gadis mungil.

Taeyeon berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia amat tahu Tiffany pasti sangat sangat membutuhkannya saat ini. Namun dia tak ingin menunjukkan wajah sedihnya jika harus berhadapan dengan kekasihnya. Dia harusnya bisa menyemangati gadis brunette, tapi sepertinya hal itu tak bisa ia lakukan. Terlalu sakit membayangkan keadaan Tiffany untuk saat ini. 

Jessica masuk kedalam ruangannya dengan membawa berkas. Taeyeon menerimanya dan mulai membukanya. Taeyeon pikir Jessica akan keluar setelah menyerahkan berkas. Dia mendongak dan melihat Jessica menatapnya dengan serius. 

“Wae?” tanya Taeyeon. 

“Tinggalkan Tiffany.” ucap Jessica langsung tanpa basa-basi. Jelas saja hal itu membuat Taeyeon marah. 

“Why the hell, Jess!” Taeyeon menatap Jessica dengan berapi-api. 

Jessica menghela nafasnya. “Kau..” Jessica menunjuk Taeyeon dengan telunjuknya. “Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu membuat kehidupan Tiffany berangsur memburuk?” 

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya. 

“Apa maksudmu?” 

“Sebelum kau bersamanya, kehidupan Tiffany begitu mulus tanpa masalah apapun. Dan pada saat dia menjalin hubungan denganmu, satu persatu masalah muncul. Apa kau tidak pernah berpikir kearah sana?” Jessica menatap Taeyeon dengan dingin. 

Taeyeon diam. Jessica benar. 

“Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Taeyeon lemah. 

“Tinggalkan Tiffany. Aku tahu itu pasti sakit untukmu dan juga Tiffany. Tapi aku lebih sakit melihat Tiffany yang sudah kuanggap adikku sendiri menderita. Taeyeon.. bisakah?” Jessica menatap Taeyeon dengan tatapan memelas. 

Jujur dia sakit melihat sahabatnya semenjak bayi merasa sedih, tapi dia juga tak ingin mengorbankan adik kesayangannya juga jika mereka terus memaksa bersama.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. “Akan kucoba.”

Jessica memutari meja kerja Taeyeon dan memeluk sahabatnya. “Ini yang terbaik, Taenggu.”

***

Sebulan telah berlalu. Keadaan Tiffany semakin membaik dari hari ke hari. Dia sudah mulai membuka dirinya lagi dan bersikap ceria, seperti biasanya. Dan selama itulah Tiffany tak bertemu Taeyeon. Jujur hal itu membuatnya kecewa. Harusnya kekasihnya yang datang dan menyemangatinya. Namun dia tak merasa marah berlebih pada gadis mungil itu. Dia mencoba berpikir bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi terakhir kali dia melihatnya, Taeyeon terlihat sangat stress.

“Jun-ah, antarkan aku ke kantor ahjumma. Pleaasee.” pinta Tiffany pada Jun yang tengah bermain ke rumahnya dan menemaninya karena Daddy Hwang pada akhirnya mendapat pekerjaan lagi semenjak dua minggu yang lalu.

“Arra arra. Tapi..” Jun menunjuk pipi kanannya dengan senyum jahil.

Tiffany tertawa pelan. Dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Jun bermaksud mengecupnya. Namun detik kemudian Jun menolehkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Tiffany melebarkan matanya.

Jun melepas kecupannya dan tersenyum.

“Kajja!” ajaknya dan mulai berjalan menjauhi Tiffany.

Sementara gadis brunette masih diam ditempatnya dan merasakan pipinya yang terasa panas.

Tiffany tak berbicara selama perjalanan. Dia masih merasa malu dengan kejadian tadi. Dia tahu dia harusnya kesal pada Jun yang mencuri kecupannya. Namun dia tak bisa melakukan itu karena dia sendiri merasa jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkan kejadian tadi.

Sesampainya mereka di kantornya, Tiffany bertanya kepada resepsionis yang sama saat pertama kali dia datang di kantor Taeyeon.

“Unnie. Apa Taeyeon Unnie di ruangannya?” tanya Tiffany dengan semangat.

Wanita di depannya menunjukkan wajah sedihnya. “Maafkan aku, nona. Tapi sajangnim sudah hampir sebulan ini berada di China. Sepertinya sajangnim akan bekerja di anak perusahaan disana.”

Jawaban sang resepsionis tentu saja membuat jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi. Dia mengucapkan terimakasih kemudian mulai berbalik. Dia membuka ponselnya dan mulai menghubungi Taeyeon. Namun yang didengarnya hanya suara operator. Dia mencoba lagi dan suara operator yang menyapa pendengarannya.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Sudah lebih dari tiga puluh kali Tiffany mencoba menghubungi Taeyeon dan hasilnya tetap sama. Dia hampir menangis karena kekasihnya tak kunjung menjawab panggilannya. Dia mencoba sekali lagi dan suara operator kali ini meruntuhkan segalanya. Nomor kekasihnya sudah tidak terdaftar lagi. Itu berarti Taeyeon telah mengganti nomornya, tak lama tadi.

Perlahan airmata kembali menetes di pipi Tiffany. Jun yang melihatnya panik dan segera memeluk Tiffany.

“Dia meninggalkanku hiks~”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah ter-updatekan!

Eotte? Badai lagi kan muahahahaha *evillaugh

Okayy gw tunggu komen kece2 kalian *cyailah wkwkwk

Bubye~ see u next chap~

Enterprischool (Chapter 8)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Taeyeon mengerang seusai membuka matanya. Dia menekan belakang kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya ia jatuhkan ke sekitar tempatnya berada, masih di ruang rahasia. Dia melihat sahabat-sahabatnya tengah tertidur dibawahnya. Taeyeon bangun dari tidurnya.

“Eoh, kau sudah bangun, Taeng?” Taeyeon mendengar sebuah suara dan menoleh ke belakang. Ternyata Jessica.

Taeyeon mengangguk.

Jessica berbalik dan mengambil segelas air untuk Taeyeon. Selanjutnya bergabung bersama Taeyeon dan menyerahkan air tersebut. Taeyeon menerimanya dan langsung meminum dengan sekali teguk.

“Gomawo.” ucap Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi.. bisakah kau tak usah mabuk? Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Tiffany. Kau lupa pernah berjanji padanya, Taeng?”

Taeyeon menghela nafas. Jessica benar. Dia sudah berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mabuk lagi.

“Mianhae.” lirih Taeyeon.

Jessica menghela nafas. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Menepuk punggungnya bermaksud menenangkan. Jessica adalah sahabat terbaiknya. Taeyeon beruntung memiliki Jessica.

“Tak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Kau istirahatlah lagi, hm”

Taeyeon menggeleng. “Dimana Tiffany?”

“Dia pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barangnya.”

“Tiffany akan menginap disini?”

“Untuk beberapa hari kedepan.. ya. Dia ingin terus berada disisimu katanya.”

Taeyeon melepas pelukkan mereka. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jessica. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Taeyeon menarik tangan Jessica untuk mengelus kepalanya. Dia sangat suka jika Jessica mengelus kepalanya seperti saat ini.

“Sica-ah..”

“Hm?”

“Kau ingin tahu siapa seseorang yang ku curigai?”

Jessica menatap Taeyeon yang ada dibawahnya. “Tentu saja. Mereka pasti juga ingin mengetahuinya.” Jessica menunjuk kedua sahabatnya dengan dagu.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. Dia menerawang jauh kedepan.

“Dia Kim Hyoyeon. Semua berawal saat kami masih sekolah menengah pertama.”

Taeyeon mulai menceritakan semuanya kepada Jessica. Bahkan hingga sangat detail. Jessica mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali gadis blasteran itu mengerutkan kening lalu mengangguk di sela cerita Taeyeon.

“Jadi seperti itu. Sampai sekarang aku tak juga berhasil menemukannya.”

Taeyeon melihat Jessica yang sibuk dengan ponselnya. Dia berteriak karena mengira Jessica tidak mendengarkannya.

“Maksudmu Kim Hyoyeon ini?” tanya Jessica seraya menunjukkan ponselnya dimana terdapat sebuah foto.

Mata Taeyeon membesar. Walaupun sudah dua belas tahun lamanya, wajah Hyoyeon masih terlihat sama. Mungkin beberapa terlihat berbeda. Namun Taeyeon yakin foto tersebut adalah Hyoyeon.

“B- Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taeyeon tak percaya.

“Aku baru ingat Hyejin memiliki seorang teman baik sewaktu sekolah dasar. Dan mendengar nama Kim Hyoyeon mengingatkanku pada temannya Hyejin ini.”

Jessica dan Hyejin memang dekat, sama seperti kedua sahabatnya. Hal itu karena Taeyeon pernah menjalin hubungan dengan Hyejin untuk waktu yang cukup lama.

“T- Tapi Hyejin tak pernah memberitahuku tentang Hyoyeon.”

“Kami tak sengaja bertemu waktu itu. Hyoyeon-ssi sedang ada acara di Seoul. Dan wow, kau tahu Taeng.. dia adalah pemilik Univere Company!”

Taeyeon menelan ludahnya. Univere Company adalah perusahaan asal Canada yang sangat terkenal. Dia tak mengira pemilik perusahaan tersebut adalah Hyoyeon sendiri.

“Itu semakin menguatkan pendapatku kalau dia ingin membalas dendam padaku.” ujar Taeyeon.

“Kau jangan berpikiran negatif dulu, Kim. Yang kulihat Hyoyeon-ssi adalah gadis yang sangat baik dan menyenangkan. Dia lucu. Aku saja langsung menyukainya di tempat pertama saat melihatnya.”

“Kau benar. Aku hanya merasa.. tak tahu siapa yang harus disalahkan.”

“Jamkkanman! Hyejin teman baik Hyoyeon! Itu berarti.. kemungkinan mereka ada di tempat yang sama. Taeng, mari kita mencari mereka berdua!”

Taeyeon menatap Jessica dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Tak lama kemudian dia tersenyum. Entah karena kebetulan atau memang takdir. Taeyeon senang karena Hyejin dan Hyoyeon ternyata bersahabat. Dia butuh mereka berdua untuk menuntut penjelasan.

***

Taeyeon kini sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiffany benar-benar menepati ucapannya untuk tinggal bersama Taeyeon beberapa hari ini. Bersyukur Daddy nya mengijinkan. Dia percaya Taeyeon mampu menjaga anak gadisnya.

Taeyeon bersama Jessica dan juga kedua sahabatnya kini juga berusaha mengumpulkan informasi tentang Kim Hyoyeon. Sangat sulit mencari alamat gadis blonde tersebut karena orang yang bekerja di perusahaannya pun tidak tahu dimana bos mereka tinggal. Namun mereka tidak menyerah. Dia harus menemukan Hyoyeon, dan kalau bisa Hyejin juga.

“Ahjumma!” teriak seseorang.

Taeyeon yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya melihat kedepan. Tepat beberapa meter darinya berdiri seorang Tiffany Hwang dengan eyesmile nya. Dia juga melihat seorang pria jangkung di belakang Tiffany yang tak lain adalah Jun. Taeyeon sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Jun lagi. Dia percaya Jun bukanlah orang yang akan merebut kekasihnya. Pria itu terlihat baik di mata Taeyeon saat ini.

“Kau kemari?” tanya Taeyeon yang dibalas anggukan semangat dari kekasihnya.

“Unnie, mian kami terlambat. Yoong tadi membeli makana- eoh joesonghamnida!” Taeyeon memiringkan kepalanya untuk melihat seorang gadis dengan seragam sama seperti Tiffany menunduk sopan. Dia terkekeh melihat wajah gadis tersebut karena malu.

“Oh. Ahjumma, aku belun memperkenalkan teman baikku yang satu ini. Dia Seohyun dan yang disampingnya Yoona.”

“Aah.. kau gadis sepeda itu kan?” tanya Taeyeon. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kekasihnya.

“Ne, majayo. Terimakasih telah menyelamatkan saya malam itu.” Seohyun menunduk lagi.

“Aih tak apa, jangan terlalu formal Seohyun-ssi. Huumm kalian ada apa kemari?” tanya Taeyeon.

“Tiffany Unnie bilang Ahjumma akan mentraktir kami semua makan.” jawab gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona.

“Yoong, jaga sikapmu!” bisik Seohyun seraya menepuk bahu Yoona.

Taeyeon yang melihatnya tertawa pelan.

“Bolehkan, ahjumma?” pinta Tiffany dengan puppy-eyesnya.

Taeyeon tersenyum. “Arrasseo. Kalian ingin makan dimana?”

“Yeheyy!” teriak Yoona girang.

“Yoong!” Seohyun menepuk bahu Yoona lagi. Kali ini lebih keras. Semua yang ada disana tertawa melihat kedua sahabat tersebut.

Mereka pun keluar dari ruangan Taeyeon. Sebelum itu, Taeyeon menarik Tiffany dan dengan cepat mengecup bibir kekasihnya. Beruntung mereka berdua di belakang, dan bisa dipastikan ketiga teman Tiffany tidak akan melihat.

“Yaish ahjumma!” Tiffany menepuk dada Taeyeon dan menutupi wajahnya. Dia berjalan cepat menyusul temannya karena malu. Taeyeon terkekeh pelan melihatnya.

Seusai mentraktir teman-teman Tiffany makan siang, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Taeyeon menjadi teringat masa-masa saat menjadi pelajar SMA dulu. Yoong sangat lucu dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon. Mereka juga membuat squad saat di restauran tadi. Yoong menyebutnya, squad gwiyomi. Gadis jangkung itu berkata, Taeyeon dan dirinya adalah makhluk paling cute seantero Korea Selatan.

Taeyeon tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Tiffany yang duduk disampingnya mengerutkan keningnya.

“TaeTae, kau masih waras kan?”

Taeyeon makin tertawa renyah. “Aku hanya teringat saat makan siang tadi. Temanmu yang bernama Yoong sangat lucu.”

“Aah, Yoong memang seperti itu. Dia gadis yang unik.” Tiffany terkekeh membayangkan kebodohan dan kelucuan Yoona.

“Ah jamkkanman. Kau tak keberatan mampir sebentar di mall? Aku ingat persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.”

“Gwaenchanha, TaeTae. Aku juga ingin shopping.”

Taeyeon membulatkan matanya. Dia juga menelan ludahnya. Tiffany dan shopping adalah satu kesatuan yang dapat menimbulkan bencana. Selain dompetnya akan terkuras, tenaga, serta waktunya juga akan terforsir. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan nafasnya pelan.

“Neeeh gadisku yang cantik.” ucap Taeyeon terpaksa.

Tiffany tersenyum senang. Dia mendekat dan mengecup pipi Taeyeon. “Gomawoyongg, TaeTae~” aegyeo Tiffany.

Taeyeon memarkirkan mobilnya di basement. Dia mematikan mesin mobil dan berdehem.

“Sebelum keluar, berikan aku vitamin harianku dahulu.” ujar Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya. “Vitamin harian?”

Taeyeon menatap Tiffany kemudian menarik belakang kepala gadis tersebut. “Ini..”

Kemudian Taeyeon meraih bibir pink kissable kekasihnya dan melumatnya. Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Dia mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan gadis yang lebih tua menarik pinggang Tiffany untuk mendekat.

Mereka berbagi ciuman cukup lama. Tiffany yang mulai kehabisan oksigen melepas ciuman tersebut. Namun tak berselang lama, Taeyeon menempelkan bibirnya lagi. Melumat bibir yang menjadi candunya dengan sangat intim. Tiffany tahu Taeyeon merindukan dirinya. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri. Menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Taeyeon melepas ciuman tersebut. Saliva mereka terhubung satu sama lain. Nafas mereka juga terengah.

“One more..” bisik Taeyeon kemudian mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany sampai kewalahan menghadapi ciuman Taeyeon yang terkesan ganas.

Tiffany mendesah saat Taeyeon menghisap lehernya. Menjilat lalu menghisap dan menggigitnya.

“T- Taeyeonhh~”

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dia mencium gadisnya dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Aah~” Keduanya melepas ciuman mereka.

Mereka menatap satu sama lain dengan senyum lebar.

“Kajja kita keluar.” Taeyeon keluar terlebih dahulu. Dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

“Gomawo.” senyum Tiffany.

Taeyeon dan Tiffany mulai berjalan bersama menuju mall. Pertama membeli bahan dapur terlebih dahulu. Banyak yang harus Taeyeon beli. Setelah selesai, mereka pergi ke tempat pembayaran. Taeyeon meminta barang mereka dipaketkan, karena tidak mungkin Taeyeon membawa semuanya.

Setelah membayar dan menyerahkan alamat apartemennya, Taeyeon segera mengikuti kekasihnya yang akan menguras habis dompet dan tenaganya.

Mereka terus mengitari seluruh penjuru mall. Tentu saja dengan berpuluh-puluh belanjaan. Kaki Taeyeon sampai terasa pegal. Dia tidak mengeluh, demi kesenangan gadisnya.

“Woaah~ kyeopta. TaeTae belikan aku sepatu ini!” Mata Tiffany berbinar saat melihat sepatu bermerk dengan warna pink. Dia melihat sekilas harga sepatu tersebut. Dan hal itu membuatnya menelan ludah. Harga tersebut sama dengan harga ponsel keluaran terbaru.

“N-ne. Ambil saja.” ucap Taeyeon.

Tiffany makin tersenyum. Dia mengecup pipi Taeyeon dan membawa sepatu tersebut ke tempat pembayaran. Taeyeon menghela nafasnya pelan. “Hwaiting!”

Setelah empat jam berkeliling mall dan segudang belanjaan yang Tiffany peroleh, mereka berdua akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Taeyeon merasakan tangannya sudah mati rasa karena membawa barang belanjaan Tiffany yang banyaknya diluar nalar. Dia terus menyemangati dirinya sendiri dan terus mengikuti Tiffany dibelakang.

Saat menuruni eskalator, mata Taeyeon tak sengaja menangkap seorang gadis blonde yang tengah menaiki eskalator di sampingnya. Dia tidak terlalu mempedulikan hingga saat dia selesai menuruni eskalator, Taeyeon terhenyak. Gadis itu menjatuhkan semua belanjaan kekasihnya dan langsung berbalik. Menaiki eskalator dengan berlari. Dia tidak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya.

“Ahjumma! TaeTae!” teriak Tiffany dibawah namun Taeyeon tak menghiraukan kekasihnya.

Ada hal yang jauh lebih penting saat ini. Taeyeon berlari mencari gadis blonde sesaat setelah selesai menaiki eskalator. Taeyeon mengerang.

“Sial! Dimana kau, Kim Hyoyeon!” umpat Taeyeon dengan terus berlari mencari Hyoyeon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Satu chapter terselesaikan. Pffiuuh~

Chap ini gaada badai yes. Dan sorry kalo pendek kaya taeng #plak

Gw mau sedikit ngebacot gpp kali ya. Gw tau kalian pasti masih pada butthurt gegara berita sooseotiff leave SM. Gw jg sedih sih, bahkan nangis #bhakbukaaib. Tp mau gmna lagi, itu udh keputusan mrk. Sbg fans kita cuma bisa dukung, ye ngga?

Dan gw gak bakalan tutup wp ato berhenti nulis. Biarin taeny terus hidup di dunia fanfic walaupun di dunia nyata masih kabur atau ga jelas kabarnya.

Gw juga mohon bantuannya. Kalo semisal gw post fic bukan taeny jan pd nganggep gw gak cinta taeny lagi. Of course gw LS dan gak ada yg bisa nggantiin mrk di salah satu tempat yg khusus buat mrk di hati gw. Tapiii, nge-ship idol lain jg bukan dosa atau kesalahan kan? Gw suka eunxiao juga. Itu jauuh sebelum ada berita itu, jd gak ada kaitannya klo pda ngira gw selingkuh krna taeny gak produktif (?) lagi.

So guys how ’bout the story above? Komen juseyoo~ satu komen dr kalian sangat berharga bagi gue.

Last but not least, entsch bakal end ga nyampe dua puluh chapter. Dan kayak biasa, diupdate tiap minggu. Masih bnyak cerita taeny yg nangkring di kepala gw, makanya gw rampungin ini fic dulu baru bkin fic lain.

Okayy pupye~ see u next chap or fic~

Enterprischool (Chapter 7)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany menaikkan selimut untuk Taeyeon hingga sebahu. Dia menatap wajah polos kekasihnya yang tertidur sehabis mabuk. Mengecup keningnya lalu beranjak dari tempat Taeyeon dan menyalakan ponselnya. Dia harus memastikan ucapan Taeyeon saat mabuk tadi benar atau tidak. Gadis brunette mencari kontak Daddy nya dan mulai menghubunginya.

“Daddy!”

“Hey, Steph. Ada apa?”

Tiffany menelan ludahnya. “B- Benarkah Dad.. dy dipecat?”

Hening.

“Daddy?”

“Ahaha tak apa, Daddy bisa mencari pekerjaan lain, sayang.”

Tiffany meremas ponselnya. Wajahnya memerah. “Apa yang menyebabkan Daddy dipecat?”

“Aah itu hmm.. kontrak! Ya, kontrak Daddy dengan perusahaan habis.”

Bohong.

Tiffany tahu Daddy nya bohong. Itu tidak sama seperti apa yang Taeyeon bilang saat mabuk. Orang yang mabuk biasanya berkata jujur, benar?

“Mengapa tidak memperpanjang?” tanya Tiffany mengikuti alur kebohongan Daddy nya.

“Hmm itu p- perusahaan memberi Daddy waktu untuk memperpanjang t- tapi Daddy lupa dan D- Daddy tidak bisa memperpanjang lagi..”

“Arrasseo, Daddy. Lebih baik Daddy gunakan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.”

“Ne, Stephy. A- Annyeong.”

Tiffany tak membalas dan langsung menutup panggilannya.

Tiffany hendak naik keatas untuk berganti pakaian saat dia mendengar suara di ruang keamanan. Dia mulai masuk dan melihat komputer yang menampilkan sahabat kekasihnya baru saja memasuki apartemen. Dia menekan tombol mic dan berbicara.

“Unnie, Ahjumma. Ruang rahasia!”

Tiffany melihat Yuri, Sooyoung, dan Jessica berhenti berjalan dan mendengar pengumuman dari dirinya. Setelah itu mereka mulai menaiki tangga.

Tak lama untuk ketiganya memasuki ruang rahasia Taeyeon.

“Kau disini?” tanya Jessica seraya menurunkan tas tangannya di meja di dekatnya. “Dimana Taeyeon?” lanjut Jessica.

Tiffany menunjuk sofa di depannya dengan dagu, tepat dimana Taeyeon tengah tertidur.

“Tae Ahjumma habis mabuk…” ucap Tiffany. “…dan dia mengatakan semuanya.” lanjut Tiffany.

Ketiga sahabat Taeyeon menghela nafasnya.

“Maafkan kami. Itu pasti berat untukmu.” ucap Jessica. Yuri dan Sooyoung mengangguk mengiyakan.

Tiffany menggeleng. “Itu bukan salah kalian, bukan juga salah Ahjumma.” Tiffany menatap kekasihnya yang tertidur dengan damai.

“Kalian keberatan jika mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tiffany. Dia melihat ketiga orang di depannya diam.

“Please..” Tiffany memohon kali ini.

Yuri menatap kedua sahabatnya dan mengangguk. “Biarkan dia tahu masalah ini.”

Jessica menghela nafasnya lagi. “Lakukanlah.”

Setelah mengatakan semuanya, Tiffany merasa bersalah pada kekasihnya. Dia pasti merasa tertekan dengan ini semua. Tak terbanding dengan rasa tertekannya saat siswa di sekolahnya mengoloknya. Dia merasa menjadi kekasih yang tak berguna.

“TaeTae..” gumamnya seraya melihat Taeyeon yang masih tertidur.

“Aku tahu dia gadis yang tangguh. Kau tidak perlu khawatir. Pikirkanlah dirimu sendiri, Tiff. Sekali lagi kami meminta maaf karena menjadi penyebab Daddy mu dipecat.” ucap Jessica seraya mengusap bahu Tiffany.

Tiffany menggeleng. Dia menatap Jessica serius. “Kalian bilang Hyejin Unnie pernah mengatakan bahwa orang terdekat Taeyeon yang melakukan ini?”

Jessica mengerutkan keningnya lalu mengangguk.

“Kuncinya ada di Hyejin Unnie! Mengapa kalian tidak bertanya padanya?!”

“Kami juga ingin, Tiff. Tapi Hyejin entah dimana sekarang. Kami bahkan kesulitan mencarinya.”

Tiffany mengembuskan nafasnya kasar. Dia memijit pelan pelipisnya.

“Kita tunggu Taeyeon bangun. Dia bilang dia mencurigai seseorang dan kita berniat menyelidikinya.” kata Sooyoung.

***

Gadis kecil dengan rambut diikat kuda menatap danau luas di depannya dengan tatapan kosong. Tangannya memegang sebuah foto. Dia mengalihkan pandangannya ke arah foto. Percakapannya dengan Lee Eomonim terulang di kepalanya.

“Hyonie, kau ingin mendengar sesuatu?” tanya Lee Eomonim.

Hyoyeon yang terkenal sangat aktif dan selalu melemparkan lelucon untuk menyenangkan anak-anak lain langsung tersenyum dan mengangguk semangat.

“Sebenarnya kau memiliki saudara, Hyonie-ya..”

Senyum Hyoyeon langsung pudar seketika. “Saudara?”

Lee Eomonim menatap Hyoyeon lalu mengangguk.

“Suatu hari di musim panas, kau dan saudaramu ditemukan di depan panti bersama sepucuk surat dan perlengkapan bayi lain..” Lee Eomonim memberi jeda sejenak.

“Di surat tertulis namamu dan nama saudaramu. Ibu kalian meminta maaf karena menyerahkan kalian kemari dan juga.. mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Ibu kalian tak bisa mengurus kalian dan memilih bunuh diri seperti yang dijelaskan di surat..”

“Eomma..” gumam Hyoyeon. Matanya memerah.

Lee Eomonim menghapus airmata di pipi Hyoyeon dan tersenyum lemah.

“Tiga hari setelahnya, seorang pria kaya mengadopsi saudaramu.. tanpamu..”

Hyoyeon menghapus sisa airmatanya dan menatap Lee Eomonim. “Wae?”

Lee Eomonim menggeleng. “Pria itu mengatakan hanya ingin mengadopsi satu anak. Kami pada awalnya tidak mau, karena kalian pasti akan terpisah. Tapi pria itu terus memaksa hingga kami menyerah.”

Lee Eomonim mengambil sesuatu di tas nya. Sebuah foto. Dia menyerahkannya pada Hyoyeon.

“Itu saudaramu, Hyonie-ah. Eomonim ingin setelah kau pindah bersama orangtua barumu, kau mau mencari Unnie mu, karena dia adalah satu-satunya anggota keluargamu.”

Hyoyeon menggeleng. “Hyo tidak mau! Unnie meninggalkan Hyo. Untuk apa Hyo mencari Unnie?!”

“Saat itu kalian masih bayi, Hyonie. Unnie mu tak tahu apa-apa.”

Hyoyeon menangis. Dia tidak tahu harus senang atau marah mengetahui hal tersebut. Dia lalu berlari dari panti menuju danau yang terletak tidak jauh dari panti. Dia menatap kosong danau tersebut. Matanya beralih menatap foto yang diberikan Lee Eomonim tadi. Dia membalikkan foto tersebut dan melihat tulisan.

Kim Taeyeon & Kim Hyoyeon

 

Sebulan kemudian, Hyoyeon diadopsi sepasang suami isteri yang masih terlihat muda. Dari dandanan dan mobil yang mereka pakai, mereka bukanlah orang sembarangan.

Hyoyeon menunduk 90° dan tersenyum sopan. Pasangan tersebut tersenyum akan kesopanan Hyoyeon.

“Kau sangat sopan, nak. Siapa namamu?” tanya wanita di depannya.

“Kim Hyoyeon imnida.” Hyoyeon menunduk lagi.

“Ahh Hyoyeon-ah.. kami akan menjadi orangtuamu sebentar lagi.” ucap wanita tersebut dengan tersenyum.

“Ne, Lee Eomonim sudah mengatakannya kepada saya. Terimakasih karena mengadopsi saya.”

Kedua pasangan tersebut tersenyum dan mengangguk. Mereka pikir mereka telah menemukan anak yang tepat untuk mereka.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah Hyoyeon lewati bersama keluarga kecilnya. Dia bahagia bisa merasakan bagaimana dicintai seorang Ibu dan Ayah seperti yang pernah diceritakan teman-temannya sewaktu kecil. Hyoyeon sekarang mulai memasuki sekolah menengah pertama.

Dia sedikit sedih mengetahui temannya sedari sekolah dasar tidak satu sekolah dengannya dikarenakan pindah kota. Dia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan tersenyum. Hari pertamanya sekolah harus berakhir menyenangkan.

“Hoi hoi hoi semangat Hyo!” Hyoyeon menyemangati dirinya sendiri.

Dia lalu turun dan melihat Appanya sudah mengenakan pakaian formal dan tengah sarapan.

“Eomma.. Appa..” Hyoyeon mengecup pipi Eomma dan Appa nya bergantian lalu mulai bergabung untuk sarapan.

“Kau siap untuk sekolah, kawan?” tanya Appa nya.

“Tentu saja, Appa!” senyum Hyoyeon.

“Baiklah. Habiskan sarapanmu lalu kita akan berangkat.”

Hyoyeon mengangguk dan menyelesaikan sarapannya.

Setelah selesai, Hyoyeon dan Appanya mulai memasuki mobil. Appa nya mengantarkan puterinya ke sekolah barunya terlebih dahulu.

“Belajar yang rajin, Hyonie.” kata Appa Park.

“Ne, Appa. Hyo berangkat. Annyeong.”

Setelah mengecup pipi Appanya, Hyoyeon mulai turun dari mobil. Di perjalanan menuju kelasnya, Hyoyeon melihat seorang laki-laki tengah dibully oleh beberapa anak, dia melihat satu perempuan diantara anak yang membully. Hyoyeon melihat perempuan tersebut seperti pemimpin geng.

Hyoyeon hendak mengacuhkannya namun dia terhenyak saat menyadari sesuatu. Dia segera membuka tasnya dan mengambil foto dari Lee Eomonim. Hyoyeon bergantian melihat foto dengan perempuan tadi. Meskipun di foto mereka masih bayi, tapi Hyoyeon melihat kemiripan diantaranya.

Hal tersebut makin mengejutkan Hyoyeon saat teman laki-laki perempuan tersebut memanggilnya.

“Taeyeon-ah, dia tak mempunyai apa-apa. Kita cari yang lain saja.”

Perempuan tersebut memutar bola matanya malas.

Hyoyeon sedikit yakin perempuan didepannya adalah Unnie nya. Maka dia harus memastikan hal itu.

“Kim Taeyeon!” teriak Hyoyeon. Geng tersebut menoleh ke arah Hyoyeon, terutama perempuan yang dipanggil Taeyeon tadi.

“Kau memanggilku?” tanyanya dengan menaikkan alisnya.

Hyoyeon mengangguk. Anak laki-laki yang tadi dibully menatap Hyoyeon dan menggeleng. Hyoyeon yakin Taeyeon adalah seorang brandal.

Taeyeon tertawa pelan. “Kau salah menyebutku. Aku..” Taeyeon menunjuk dirinya sendiri. “Han Taeyeon.. dan bukan Kim.” Dia lalu menatap Hyoyeon tajam.

Hyoyeon menyeringai. Dia lalu menggeleng. Dia tak takut dengan berandal-berandal semacam Taeyeon. “Kurasa kau adalah Kim.. Kim Taeyeon.. anak adopsi.”

Taeyeon melebarkan matanya karena terkejut. Dia mengeraskan rahangnya dan menatap Hyoyeon tajam. Teman laki-lakinya berbisik dibelakang Taeyeon. Hal itu membuat Taeyeon marah. Dia mendekati Hyoyeon dan meraih kerah seragam Hyoyeon.

“Siapa kau?!” desis Taeyeon.

Hyoyeon masih tetap tenang. “Ternyata benar kau Kim Taeyeon. Huh, aku tak menyangka kau seburuk ini.”

Hyoyeon melepas genggaman Taeyeon di kerahnya dengan kasar dan berjalan menjauh. Taeyeon hendak membalas Hyoyeon namun bel masuk berbunyi menghentikan langkahnya.

“Awas saja kau! Aku akan membalasmu!” teriak Taeyeon dan tak dihiraukan oleh Hyoyeon.

Seperti yang dikatakan Taeyeon, gadis itu benar-benar melakukan balas dendam. Dia selalu mengerjai Hyoyeon setiap hari. Namun gadis itu sama sekali tak peduli dan bersikap acuh. Satu yang diketahui Hyoyeon, rasa benci ke Taeyeon kian tumbuh. Meskipun dia yakin dan sadar Taeyeon adalah saudaranya, Unnienya, keluarganya, satu-satunya keluarga.

Hyoyeon memutar bola matanya malas saat melihat geng Taeyeon. Dia membalikkan tubuhnya tak ingin berurusan dengan Unnienya.

“Ya! Berhenti kau disana!”

Hyoyeon tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus berjalan. Gadis berambut pendek mengerang. Dia menyuruh anak buahnya untuk mengejar Hyoyeon dan menariknya ke belakang sekolah. Hyoyeon tentu saja melawan. Namun tenaganya kalah kuat karena tiga orang laki-laki menyeretnya. Mereka mendudukan Hyoyeon dibawah pohon. Taeyeon berdiri berkacak pinggang disana.

“Kau tak mengindahkan ultimatumku untuk pindah dari sini, huh?!” Taeyeon menarik rambut Hyoyeon. Gadis yang lebih muda meringis.

“Siapa kau menyuruhku, huh? Sekolah ini bukan milikmu!”

Taeyeon makin kesal. Dia menarik rambut Hyoyeon dengan keras. Tentu saja Hyoyeon berteriak.

“Kau berani melawanku?”

Hyoyeon meringis. “Aku tak tahu setelah keluar dari panti akan seperti ini kelakuanmu, Kim Taeyeon.”

“Berhenti memanggilku Kim Taeyeon!” teriak Taeyeon.

Hyoyeon mendorong tubuh Taeyeon.

“Nyatanya kau memang Kim Taeyeon! Apa harta ayah angkatmu membuatmu seperti ini, hah?!”

Taeyeon membuka mulutnya. Dia melihat teman-temannya yang mulai menatap Taeyeon dengan tatapan berbeda. Dia menelan ludahnya. Dia tidak siap dan tidak mau rahasianya terbongkar disini. Di depan teman-temannya. Dia juga bingung bagaimana gadis yang baru ditemuinya mengetahui hal tersebut.

Hyoyeon mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia lalu melemparkan fotonya bersama Taeyeon tepat diwajahnya. Taeyeon mengambil foto tersebut dan terbelalak. Dia yakin bayi di foto tersebut adalah dirinya. Benar-benar mirip dengan beberapa foto bayinya yang ada di rumahnya. Dia melihat tulisan dibalik foto tersebut.

“Kim Taeyeon dan Kim Hyoyeon..” lirih Taeyeon.

Dia melihat kedepan, namun sudah tak menemukan Hyoyeon lagi. Dia berlari sekuat yang dia bisa untuk mencari Hyoyeon. Taeyeon melihat Hyoyeon yang masuk kedalam mobil. Dia juga sedikit melihat pria yang menjemputnya. Dia sedikit paham pria tersebut adalah Tuan Park, rekan bisnis Appanya.

Saat dia berlari ke arah mereka, mobil Tuan Park sudah melaju. Taeyeon terus berlari dan berteriak. Namun usahanya sia-sia. Kecepatan mobil tak sebanding dengan kecepatan larinya.

Hari selanjutnya, Taeyeon sudah tidak menemukan Hyoyeon di sekolah. Gurunya bilang Hyoyeon sudah pindah. Hal itu membuat Taeyeon menyesal. Dia berhutang penjelasan. Siapa Hyoyeon dan apa hubungannya dengannya?

Hingga Taeyeon tumbuh besar, dia sama sekali tak melihat Hyoyeon lagi. Dia sudah berusaha semampunya mencari Hyoyeon dan Tuan Park. Namun hasilnya sia-sia. Appa nya bilang Tuan Park pindah ke luar negeri dan tidak tahu tepatnya dimana. Appanya juga mengatakan mereka sudah lama lost contact.

Taeyeon merasa tak ada harapan lagi. Dia hanya ingin meminta maaf atas perbuatannya dan menanyakan hubungan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Another flashback everyone~

Kuharap kalian masih nungguin ini cerita.

So how bout the chapter above? Tell me tell mee~

Pupye~ see ya next chap or fic~

Enterprischool (Chapter 6)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Wajah Tiffany terus ia tundukkan mulai dari gadis itu duduk di depan Daddy-nya. Tangannya ia remas dibawah meja sesekali menggigit bibir bawahnya. Sedangkan disampingnya duduk, Taeyeon masih diam dengan menatap lurus kedepan, ke arah Daddy Tiffany. Tak dipungkiri dia kini juga gugup setengah mati. Pasalnya ini kali pertamanya bertemu langsung dengan Daddy Hwang.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi tadi, Steph?” Setelah cukup keheningan, Daddy Hwang bersuara.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. “S- Sebenarnya.. Taeyeon.. aku..”

“Tiffany adalah kekasih saya, Tuan Hwang.”

Tiffany menoleh ke arah sampingnya dengan terkejut. Sementara Daddy Hwang menatap tajam Taeyeon.

“Sejak kapan?” tanya Daddy Hwang dingin. Taeyeon berusaha sekuat mungkin agar tidak gugup dan memunculkan sisi percaya diri nya.

“Setahun yang lalu.” jawab Taeyeon.

Daddy Hwang memejamkan matanya dan memijat pelipisnya. Dia mengerang pelan karena puteri bungsu nya membuatnya pusing bukan main. Dia tidak melarang puterinya memiliki hubungan khusus dengan orang lain, tapi kenapa harus sesamanya? Dan lagipula wanita di depannya ini yang ia ketahui adalah direktur di sekolah puterinya. Usia mereka juga terpaut cukup jauh.

“Akhiri hubungan kalian.” ucap Daddy Hwang yang sukses membuat kedua wanita di depannya terkejut.

“Andwae! Stephy mencintai Taeyeon, Dad! Stephy tidak mau berpisah dengan Taeyeon!”

“Kau masih remaja, Steph. Daddy tahu kau masih bimbang menentukan dia benar-benar cintamu atau bukan.”

Tiffany menggeleng dengan cepat. “Bukan Stephy yang memilih hal ini terjadi, tapi hati Stephy, Dad. Stephy yakin Stephy benar-benar menyukai- ani- mencintai Taeyeon.”

“Maaf, Tuan Hwang. Tapi kami berdua saling mencintai. Ini tulus dari hati kami yang terdalam. Saya mohon berikan izin kepada kami.” tambah Taeyeon. Tiffany mengangguk mengiyakan.

Daddy Hwang menghela nafasnya kasar. “Ku berikan kau satu kesempatan. Tapi kalau aku melihat puteriku tersakiti karenamu. Aku tak segan-segan memisahkan kalian.” ucap Daddy Hwang pada akhirnya.

Kedua pasangan tersebut melengkungkan senyumnya.

“Thanks, Dad!”

“Terimakasih telah memberikan kesempatan, Tuan Hwang.”

 

Tiffany memainkan kancing piyama Taeyeon saat mereka kembali berbaring di ranjang Tiffany. Setelah sedikit tegang menghadapi Daddy nya, gadis itu merasa bebannya terangkat. Dia pikir Daddy nya tak akan memberikan mereka izin. Tapi ternyata tidak, dia bernafas lega karena itu.

“TaeTae, berjanjilah setelah ini kau akan terus bersamaku. Bahkan sampai tua sekalipun.” ucap Tiffany dengan mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon tertawa pelan. Dia mencubit hidung bangir kekasihnya. “Aku berjanji, sayang. Setelah kau lulus nanti aku akan menikahimu.”

“Aniya! Tunggu aku lulus kuliah.” Tiffany menepuk dada Taeyeon.

“Wae? Lebih cepat lebih baik, kan?”

“Lebih baik untukmu karena kau bisa bebas melakukan hal dengan tubuhku!” Tiffany mempoutkan bibirnya.

“Percaya padaku, itu sangat menyenangkan, sayang.” Taeyeon terkekeh pelan dengan ucapannya sendiri.

“Hentikan! Jangan membuatku cemburu pada mantan kekasih atau partner one night stand mu yang super banyak!” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi kekasihnya.

“Kau marah?” tanya Taeyeon pelan.

“Ne!”

Senyum liar mengembang di kedua bibir Taeyeon. Dia mencolek bahu Tiffany bermaksud menggodanya.

“Kalau marah mengapa menjawab pertanyaanku, hm?”

“Aaaa~ menyebalkan~ aku benci ahjumma!”

Taeyeon tertawa melihat tingkah kekasihnya. Dia kemudian memeluk Tiffany dari belakang dan mengecup lehernya, dilanjutkan ke pipinya.

“Saranghae, baby. Jalja~”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon memajukan wajahnya pada Tiffany dan mengecup ujung bibirnya. Kemudian mulai memejamkan matanya dengan tangannya yang masih memeluk pinggang kekasihnya. Tiffany tak bisa berbuat apa-apa tapi tersenyum. Dia membalikkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir Taeyeon dan menyamankan tubuhnya di pelukan gadisnya.

***

“Aku pulaaang~”

Taeyeon meletakan tas ranselnya ke sofa dengan pandangannya yang mengitari mansion megah tersebut.

“Nona muda. Anda pulang?” sapa salah satu butler di mansion itu.

Taeyeon mengangguk. “Dimana Appa?”

“Tuan sedang di taman belakang, nona muda.” jawab butler itu sopan.

“Arrasseo, aku akan kesana.”

Taeyeon berjalan santai ke belakang mansion megah milik Appa angkatnya. Dia jarang tinggal di mansion tersebut semenjak menjabat sebagai Presdir di perusahaan Appanya. Hal itu membuat Appa nya sedih, namun Taeyeon berjanji akan menginap beberapa malam setiap sebulan sekali. Seperti yang dilakukannya saat ini.

“Appa!” teriak Taeyeon dengan tersenyum. Meskipun bukan ayah kandungnya, namun Taeyeon sangat mencintai Appa nya itu.

“Taenggu~ Ya Tuhan, kau masih saja pendek, nak!”

“Ya Appa!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya membuat sang Appa tertawa karenanya.

“Kemarilah. Peluk Appa mu ini.”

Taeyeon tersenyum dan berlari memeluk Appa nya.

“Bogoshippo, Appa.” kata Taeyeon di pelukan pria paruh baya tersebut.

“Nado, bocah tengil Appa.”

Taeyeon melepas pelukannya dan menatap tajam Appanya yang dengan santai menaikkan alisnya.

“Aku hampir 25 tahun asal Appa tahu.” Gadis imut melipat tangannya di depan dada dan mendengus.

“Bagi Appa kau masih Taeyeon kecil Appa. Sudahlah ayo kita masuk. Kau mau sup buatan Appa?”

“Call!” girang Taeyeon dan melompat menaiki punggung Appanya untuk digendong. Appa Han hanya bisa tertawa dan menggendong puterinya dengan berlari.

 

“Bagaimana pekerjaan?” tanya Appa Han saat mereka tengah makan malam bersama.

“So far so good. Hanya saja kemarin ada sedikit masalah di bagian bahan baku, tapi tenang saja, puteri Appa ini sangat handal menanganinya.” jawab Taeyeon dengan bangga.

“Baguslah. Itu baru puteri Appa. Lalu bagaimana dengan kekasihmu?”

Taeyeon tersenyum lebar saat Appanya menanyakan kekasihnya. Hanya memikirkan Tiffany saja mampu membuat perutnya berbunga-bunga.

“Kami baik-baik saja. Aku berencana menikahinya saat dia lulus nanti. Apa Appa tak keberatan?”

Appa Han sedikit berdehem karena tersedak. Dia meminum air putihnya sebelum berbicara. “Kau ini suka sekali mengejutkan Appa, ya? Ckckck kalau itu keputusanmu, Appa bisa apa, hm?”

Taeyeon menunjukkan senyum lebarnya lagi. Dia bangkit dan memutari meja kemudian duduk di samping Appanya dan memeluknya.

“Gomawo, Appa. Kau yang terbaik!”

Appa Han ikut tersenyum dan balas memeluk puteri kesayangannya.

***

Taeyeon menguap seraya meregangkan tubuhnya. Dia mengusap matanya kemudian meraih ponselnya yang mengganggu tidurnya dengan sedikit kesal. Hari ini dia berangkat sore hanya untuk memimpin rapat. Paginya bisa ia gunakan untuk tidur. Namun bunyi ponselnya kali ini membuatnya mengurungkan niatnya karena terlanjur kesal.

“Yeoboseyo!” teriak Taeyeon tanpa melihat ID Caller nya.

“Hey slow down, buddy!” ucap sebuah suara di seberang sana.

“Ada apa kau meneleponku pagi buta seperti ini, Soo?”

Terdengar helaan nafas di seberang sana.

“Daddy Tiffany dipecat.” 

“WHAT?!” Mata Taeyeon terbelalak. Rasa kantuknya hilang seketika.

“Aku baru dapat informasi tak lama tadi. Anakan JXK Corp, Doelim Inc memecat Tuan Hwang karena dituduh melakukan penggelapan dana dari klien dan jaksa agung. Kau bisa ke kantor kita sekarang? Sudah ada Sica dan Yul disini.” 

“Tunggu aku 30 menit, Soo.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon menutup telepon dan segera berlari ke kamar mandi kemudian bersiap.

Taeyeon turun dari tangga dengan tergesa. Dia melihat Appa nya tengah membaca koran di sofa. Dia tidak sempat mendekati ayahnya dan berjalan cepat ke arah pintu sebelum Appa nya menyadarinya.

“Hey, Taeng. Kau mau kemana?” tanya Appa Han.

“Kantorku. Ada sedikit masalah!” teriak Taeyeon sebelum pintu utama tertutup sempurna.

 

“Bagaimana bisa Tuan Hwang dipecat?!” tanya Taeyeon frustasi setibanya ia di kantornya.

Jessica menggeleng. “Mata-mata kita tidak tahu pasti. Tapi mereka sering melihat orang-orang JXK bolak-balik ke Doelim sebelum Tuan Hwang dipecat.”

“Jadi maksudmu mereka melakukan konspirasi untuk menjebak Tuan Hwang?”

“Kita tak tahu pasti, Taeng.” ujar Yuri lemah.

“Selidiki kasus ini. Aku yakin Tuan Hwang tidak pernah melakukan penggelapan dana. Setahuku beliau adalah orang yang sangat bertanggungjawab.” perintah Taeyeon.

“Tapi ini akan sedikit sulit, Taeng. Meskipun kita tidak tahu dalang dibalik semua ini, tapi yang jelas orang itu memiliki kekuasaan penuh dan dia bukan orang sembarangan.” kata Sooyoung.

“Sooyoung benar. Dan maaf mengatakan ini, tapi Tuan Hwang telah dicabut lisensi nya sebagai pengacara.” tambah Jessica.

“Ya Tuhan! Masalah apalagi ini?!” Taeyeon meremas rambutnya dan memejamkan matanya erat.

“Tapi, Taeng. Aku merasa bukan Young Woo dibalik ini semua. Kau tahu sendiri kan Young Woo tak memiliki saham sepeserpun di sekolah Fany? Tapi mengapa dia bisa mengambil alih posisimu? Yang kedua, perusahaan kecil milik Young Woo bisa merger dengan JXK Corp, itu adalah hal yang luarbiasa sekali. Perusahaan kita saja sangat sulit untuk merger dengan mereka.” Sooyoung mengutarakan pendapatnya.

“Jadi maksudmu ada seseorang yang mengendalikan Young Woo? Dengan kata lain menjadikan Young Woo sebagai boneka?” tanya Taeyeon.

Sooyoung mengangkat bahunya. “Who knows?”

Taeyeon tiba-tiba teringat perkataan Hyejin yang menyuruhnya berhati-hati dengan orang-orang terdekatnya. Dia menatap ketiga sahabatnya bergantian dengan intens kemudian menggeleng.

“Tidak! Tidak mungkin mereka! Lalu siapa lagi?” batin Taeyeon. Matanya terpejam berusaha berpikir.

Taeyeon terhenyak dan melebarkan matanya saat teringat sesuatu.

“Apakah Kim Hyoyeon?” tanyanya dalam diam.

***

Tiffany memainkan kakinya yang menggantung dibawah booth dan memakan eskrim nya dengan lahap. Setelah sekolah usai, Jun menawarinya berjalan-jalan sebentar di taman dan memakan eskrim disana. Tentu saja Tiffany langsung menerimanya. Dia menjadi ketularan Taeyeon yang sangat menggilai eskrim.

“Jun-ah, gomawooo~” ucap Tiffany dengan tersenyum.

“Terimakasih untuk?”

“Berkat kau, aku jadi tidak mendengar olokan atau ejekan lagi di sekolah.”

Jun tersenyum seraya mengacak rambut Tiffany.

“Sama-sama, babi kecil.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya karena Jun memanggilnya babi kecil. Namun tak berlangsung lama. Dia mengangkat bahunya dan kembali memakan eskrimnya dengan lahap.

“Yah kau benar-benar seperti anak kecil. Lihat! Ada eskrim di sudut bibirmu.” ucap Jun dan sedikit berdecak.

“Dimana?” Tiffany mencoba membersihkan eskrim di sudut bibirnya namun selalu tak kena karena memang ia menjilatnya salah.

“Aish dasar babi kecil. Ikeo disini.” Jun mengusap sudut bibir Tiffany dengan ibu jarinya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan canggung. Jun menatap lurus ke arah bola mata Tiffany, begitu juga sebaliknya. Seperti magnet, Jun mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany yang masih terdiam, tersesat di kedua bola mata Jun.

Saat berjarak satu senti lagi, tiba-tiba ponsel milik Tiffany berbunyi. Mereka segera menjauhkan wajah masing-masing karena tersadar. Tiffany sedikit berdehem sebelum mengangkat telepon.

“Ne ahjumma.”

“….”

“Arrasseo. Tunggu aku 15 menit.”

“….”

“Annyeong.”

Tiffany menutup panggilan dan meletakan ponselnya kedalam sakunya. Dia menatap Jun dengan sedikit meringis.

“Jun-ah bisa kau antar aku ke apartemen ahjumma?” pinta Tiffany.

Jun mengangguk. “Sure. Let’s go!”

Mereka berdua mulai menaiki motor sport hitan milik Jun dan segera meluncur menjauhi taman dekat sekolah mereka. Seperti yang dijanjikan Tiffany tadi, mereka sampai di apartemen Taeyeon lima belas menit kemudian. Tiffany turun dari motor Jun dan menyerahkan helm.

“Gomawo, Jun-ah.” ucap Tiffany dengan tersenyum. Jun juga ikut tersenyum.

“Aniyo. Humm, kalau begitu aku pamit dulu, Tiff. Annyeong.” Jun mengangkat tangan kanannya dan sedikit melambai ke arah Tiffany yang dibalas tawa oleh gadis brunette. Tiffany mengangguk dan ikut melambaikan tangannya.

“Hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan menyalakan motor sportnya. Kemudian berbalik menjauhi kawasan apartemen tersebut. Saat punggung Jun sudah tidak terlihat lagi, Tiffany berbalik dan berjalan menuju apartemen Taeyeon di lantai 3.

Setelah sampai, Tiffany membuka passkey apartemen Taeyeon yang dihapalnya diluar kepalanya kemudian masuk.

“Ahjumaa~ aku pulang~”

Tiffany meletakkan tas punggungnya di sofa dan bergerak mencari Taeyeon di sekitar apartemen.

“Fany-ah ruang rahasia.” Tiffany mendengar suara Taeyeon dari pengeras suara. Kekasihnya memang suka sekali mendesain sesuatu atau membuat sesuatu yang sama sekali tak terpikirkan olehnya.

Tiffany tak bisa berbuat apa selain menuruti perintah kekasihnya. Dia naik keatas tangga dan berjalan ke arah ruang aksesoris dan pakaian milik Taeyeon. Dia kemudian membuka lemari besar disana dan masuk kedalamnya lalu memencet tombol tersembunyi disana hingga munculah scanner. Dia menekan ibu jarinya dan lemari tersebut mulai bergerak ke bawah.

Setelah sampai dibawah atau di ruang rahasia milik Taeyeon, Tiffany mulai mencari Taeyeon.

“Kau sudah datang?” ucap sebuah suara di ruang bar.

Tiffany membalikkan tubuhnya dan mendekati Taeyeon disana. Dia melihat Taeyeon yang tengah meminum alkohol. Mata gadis yang lebih tua menyipit. Tiffany menghela nafasnya. Toleransi kekasihnya terhadap alkohol sangatlah minim. Hanya dengan tiga gelas saja mampu membuatnya mabuk. Tiffany merebut paksa gelas di tangan kekasihnya.

“Ahjumma hentikan! Kau sudah mabuk.”

“Kembalikan, Fany-ah. Aku menyuruhmu kesini untuk menemaniku mabuk.”

“Han Taeyeon!” teriak Tiffany. Jika gadis brunette sudah memanggil Taeyeon dengan marga Appa nya. Sudah dipastikan gadis itu benar-benar marah. Taeyeon sudah berjanji padanya untuk tidak mabuk lagi.

Kemudian Tiffany mendengar sebuah isakkan. Dia terkejut dan langsung memegang lengan kekasihnya.

“TaeTae m- mian..”

Taeyeon menggeleng. “Seharusnya aku yang minta maaf, Fany-ah. Karena aku Daddy mu harus kehilangan pekerjaannya.” ucap Taeyeon dengan menangis.

Tiffany membulatkan matanya. “MWO?!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Gue balikk hehew.

Gimana chapter tadi? Masalah baru lagi kan haha. Dann siapa yg penasaran sama Kim Hyoyeon? *tunjukjari

Hyo bakal jd cast baru. Yg penasaran sm doi sabarr, tunggu chap selanjutnya.

Okay. See u next chap~

Enterprischool (Chapter 5)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany berhasil menaklukan seorang Kim Taeyeon yang tengah merajuk, dengan syarat weekend nanti gadis itu harus berkencan dengannya non-stop, full 24 jam. Tiffany sedikit terlibat tawar menawar. Awalnya dia menawar 12 jam saja tanpa menginap. Namun Taeyeon keukeuh menginginkan Tiffany bersamanya 24 jam. Karena pertimbangan waktu yang bisa membuat Tiffany terlambat sekolah dan juga Jun yang menunggunya, gadis brunette terpaksa mengiyakan permintaan kekasihnya. Bagaikan mendapat ikan besar, Kim Taeyeon merubah bibir yang mengerucut kebawah menjadi melengkung ke atas, menunjukkan senyum dimple nya yang sangat disukai kekasihnya itu.

“Pilihan yang tepat, sayang. Aku ingin melanjutkan tidurku. Kau sekolahlah yang rajin, okay? Bye!”

Dengan itu, Taeyeon mengecup pipi Tiffany lalu menarik selimut dan kembali tertidur. Tiffany mendecakkan lidahnya, namun tersenyum setelah itu. Dia merapihkan selimut yang dipakai Taeyeon untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi, melakukan ritual biasa dan bersiap berangkat ke sekolah. Tentunya bersama Jun.

Sesampainya mereka di sekolah, seperti biasa Tiffany mendapat tatapan dan cibiran dari para siswa. Namun hal itu tak berlangsung lama setelah Jun memposisikan dirinya di samping gadis brunette. Orang-orang yang tadi mencibir Tiffany langsung kalap dan salah tingkah.

“Sudah kubilang tunggulah aku sebentar, Tiff.” kesal Jun.

Tiffany tak merespon ucapan Jun. Dia mengernyitkan keningnya karena merasa heran. Orang yang mencibirnya tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepalanya.

Tiffany menarik tangan Jun ke belakang dinding disamping sebuah ruangan yang tidak ada orang disana. Dia menatap Jun dengan wajah serius.

“Sebenarnya kau siapa?” tanya Tiffany.

“Aku? Choi Jun. Kau sudah tahu namaku, Tiff.” Jun menjawab dengan mengernyitkan dahinya.

Tiffany menggeleng. “Bukan itu. Apa kau orang penting disini? Mengapa semua orang menunduk saat melihatmu?”

Jun menaikkan satu alisnya kemudian tertawa pelan. “Aku bukan orang penting, Tiff.”

“Geojitmal! Tapi kenapa me-…”

Ucapan Tiffany terhenti saat ponselnya berbunyi. Dia merogoh ponselnya di saku dan membukanya.

Bagaimana bisa kau dekat dengan Choi Jun, Presiden Siswa?!

– Bora

Tiffany membelalak seusai membaca pesan dari sahabatnya. Dia menatap Jun yang mengerutkan keningnya.

“K- Kau P- Presiden Siswa?” tanya Tiffany terbata.

“Kenapa? Apa jika aku Presiden Siswa kau tidak mau berteman denganku?” tanya Jun sedih.

Tiffany mengusap wajahnya kasar dan menggeleng. “Aniya. Aku hanya merasa.. idiot. Bagaimana bisa aku tidak tahu siapa Presiden siswa di sekolahku sendiri?”

Jun terkekeh pelan dan mengacak rambut Tiffany. “Kau tak idiot, Tiffany. Lagipula baru sebulan aku menjadi Presiden siswa untuk mengganti Kevin Hyung yang pindah ke Canada.”

“Tetap saja aku merasa bodoh tak tahu kau sebelumnya.”

“Sudahlah. Yang terpenting sekarang kita sudah berteman. Kajja, sebentar lagi masuk.”

Tiffanya mengangguk dan mengikuti Jun di belakang.

***

Taeyeon melempar bola baseball ke arah dinding dan menangkapnya. Melempar kemudian menangkapnya. Dia terlalu bosan melihat setumpukan berkas dan layar komputernya yang menampilkan beberapa pekerjaannya. Dia ingin pergi keluar untuk menjernihkan pikirannya. Namun tubuhnya merasa sangat malas hanya untuk bangun dari kursi kebesarannya. Yang dia lakukan sekarang hanya bermain bola baseball yang tersimpan di laci mejanya. Tanpa berniat melakukan apapun.

Pintu ruangannya terbuka, namun Taeyeon tak peduli dan terus bermain dengan bolanya. Dia sudah tahu siapa yang masuk.

“Ada apa Sica-ah?” tanya Taeyeon tanpa berbalik melihat Jessica.

Taeyeon tak mendengar ada sahutan. Dia menaikkan satu alisnya dan berbalik. Betapa terkejutnya dia saat melihat bukan Jessica yang masuk ke ruangannya tetapi…

“Hyejin…” gumam Taeyeon.

Gadis itu masih diam dan menatap Taeyeon. Dia mendekat ke arahnya dan merebut bola baseball milik Taeyeon dengan cepat.

“Bukankah aku pernah mengatakan untuk bersikap profesional meskipun kantor ini milik Ayahmu?” Hyejin menatap tajam Taeyeon.

Taeyeon tak menjawab. Dia hanya menelan ludahnya kaku.

“Kau mendengarku, Kim?”

Taeyeon memejamkan matanya dan menggeleng. “Apa yang membuatmu kembali?”

“Kau.”

Singkat. Jelas. Dan cepat membuat Taeyeon menahan nafasnya.

“Aku sudah memiliki kekas-…”

“Aku tahu.”

Lagi-lagi Hyejin membalas ucapan Taeyeon cepat.

Hyejin tersenyum lemah. “Meskipun aku masih menyukaimu, bukan itu tujuanku kembali.”

Hyejin memutar kursi milik Taeyeon hingga berhadapan dengannya. Jantung Taeyeon berdegup kencang. Meskipun gadis mungil itu sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap mantan kekasihnya itu, tetapi Hyejin pernah menjadi orang yang paling membuatnya bahagia dan sedih disaat yang bersamaan. Mereka bahkan hampir menikah, namun Hyejin melakukan affair di belakang Taeyeon sebelum hal itu terjadi.

“Apa kau pedofil? Berpacaran dengan seorang bocah SMA. Cih yang benar saja.” Hyejin mendecih.

“Kalau kau kesini hanya untuk mengataiku. Pintu keluar terbuka untukmu.”

Hyejin tertawa pelan. “Aku hanya mengingatkanmu saja, Kim. Hati-hati dengan orang terdekatmu.”

Sebelum Taeyeon dapat berkomentar, Hyejin melenggang pergi dari ruangannya. Dia mengerutkan keningnya mencoba berpikir apa yang barusan Hyejin katakan. Taeyeon menyerah, dia sama sekali tidak memiliki ide mengenai apa yang mantan kekasihnya itu ucapkan sebelumnya.

***

Taeyeon bersama Jessica, Yuri, dan Sooyoung tengah makan siang bersama. Biasanya Jessica akan membawa makan siang ke ruang Taeyeon karena gadis imut itu tidak suka suasana kantin. Namun dibanding ruang kerja nya saat ini, kantin menjadi pilihan terbaik dibanding terus teringat ucapan Hyejin di ruangannya. Terlebih Yuri dan Sooyoung juga berkunjung ke kantornya.

“Kudengar Young Woo mengambil alih jabatanmu di sekolah Fany. Kau tak mengajukan keberatan akan itu, Taeng?” tanya Yuri.

“Mereka memiliki 70% lebih suara. Aku bisa berbuat apa?” jawab Taeyeon malas. Dia mengaduk-adukan float nya tanpa meminumnya.

“Bukankah Young Woo tak memiliki saham sepeser pun disana? Hanya kau dan Appa mu yang memiliki saham.” ucap Sooyoung heran.

“Aku tak mau mengambil pusing, Syoo.”

“Jamkkanmanyo!” ujar Jessica tiba-tiba.

Ketiga sahabatnya menoleh ke arah Jessica yang sibuk merogoh sakunya. Mulai dari saku didalam jas, hingga di kedua rok nya.

“Dimana aku meninggalkannya?” gumam Jessica dengan menggigit bibir bawahnya.

“Apa yang kau cari, Sica?” tanya Taeyeon.

Jessica terus merogoh sakunya dan tak mendapat apapun selain dompet dan kunci mobil. Gadis berambut brown mengerang dan memejamkan matanya kesal.

“Aku selesai. Ada yang harus ku kerjakan. Bye, all!” Jessica mengecup pipi Taeyeon sebelum berlari meninggalkan ketiga sahabatnya.

“Hey, kenapa hanya Taeyeon yang diberi kecupan?” teriak Sooyoung tak terima.

“Heish, ingat, Syoo. Mereka kenal dari bayi.”

“Tapi tetap saja. Kita juga dekat dengannya.”

Taeyeon menghela nafasnya melihat sahabatnya yang mulai bertingkah idiot. Hanya karena Jessica mengecupnya seorang, Sooyoung merasa tak terima.

“Kau mau ku kecup, Syoo?” tanya Taeyeon datar.

“No thanks, aku hanya mau dicium wanita dewasa.”

“Ya! Maksudmu aku bukan wanita dewasa, ha?”

Sooyoung mengangguk. “Kau bocah sekolah dasar.”

“Sialan kau, Soo.”

***

Malam harinya, Taeyeon pergi ke rumah kekasihnya dan berencana menginap. Daddy Tiffany masih memiliki pekerjaan dan akan kembali seminggu lagi. Maka dari itu dia berani menginap. Meskipun cukup lama menjalin hubungan, Daddy Tiffany sama sekali tak tahu menahu mengenai hubungan mereka. Itu adalah permintaan Tiffany. Dia baru siap mengatakan hal yang sebenarnya saat lulus sekolah.

Taeyeon menepikan mobilnya di depan gerbang rumah Tiffany. Dia melihat motor sport berwarna hitam yang familiar. Taeyeon ingat motor itu adalah motor milik pria yang diketahuinya bernama Jun, teman Tiffany. Secara perlahan rasa cemburu Taeyeon mulai berkembang. Dengan gerakan cepat gadis itu mulai memasuki rumah Tiffany.

“Fany-ah.. sayaaang~” teriak Taeyeon seraya berjalan memasuki rumah kekasihnya.

Taeyeon melihat Jun yang tengah menggendong Tiffany. Hal tersebut mengundang rasa cemburunya yang bertambah berkali lipat. Dia segera berlari ke arah dua manusia tersebut yang ingin menuju sofa.

“Fany-ah.. sayaang..” Taeyeon melepas genggaman Jun pada kekasihnya dengan kasar setelah berhasil mendudukannya di sofa.

“Tiffany tadi terpeleset di pantry dan kakinya sedikit memar, sajangnim.” ucap Jun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa menghiraukan ucapan Jun, Taeyeon berlari ke pantry untuk mengambil es batu beserta kain untuk kekasihnya. Dia membungkus es batu tersebut dengan kain dan menekannya ke lutut Tiffany yang memar.

“Aww. Sakit, TaeTae!”

“Gadis ceroboh! Sudah kubilang langsung lap air di lantai saat kau tak sengaja menumpahkan air!” ucap Taeyeon dengan wajah khawatir.

“Mianhae.” Tiffany menundukkan wajahnya.

“Dasar ceroboh! Kemarilah!” titah Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya tak paham. Taeyeon berdecak dan memeluk Tiffany dengan satu tangannya terus menekan luka memar kekasihnya.

“Lihat? Kau terluka sedikitpun sudah mengeluarkan keringat dingin. Biar kutebak kau pasti merasa pusing?”

Tiffany tak mau mengakui itu, namun ucapan Taeyeon benar. Ucapan kekasihnya selalu benar. Dia mengangguk kecil dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher kekasihnya. Tiffany merupakan gadis istimewa. Hanya luka kecil seperti itu selalu bisa membuat gadis itu berkeringat dingin dan pusing. Hal itu menjadi perhatian khusus bagi Taeyeon agar selalu melindunginya.

“Kau ingin aku mengambilkan obat?” tanya Taeyeon.

Tiffany menggeleng. “Cukup seperti ini saja, ahjumma.”

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk. Mereka melupakan kehadiran Jun disana yang menatap keduanya dengan tatapan takjub. Baru kali ini Jun melihat pasangan gay secara nyata di depannya tengah menunjukkan kasih sayang. Jun mengira pasangan tersebut hanya menginginkan seks seks dan seks seperti yang dilakukan oleh sepupunya yang gay, maka dari itu dia sedikit risih dengan pasangan sesama. Namun pemikirannya berubah mulai saat ini. Apa yang ditunjukkan Taeyeon dan Tiffany sangat menyentuh hatinya. Dia tidak mengira pasangan tersebut mampu menunjukan cinta bukan hanya dari pasangan normal lainnya. Bahkan Jun bisa menilai dengan matanya sendiri bahwa kedua wanita di depannya sangat mencintai satu sama lain. Cinta mereka benar-benar tulus.

“Uhm, Tiff. Kurasa aku harus pulang?” kata Jun sedikit canggung.

Tiffany tersadar kalau Jun masih berada di rumahnya.

“Ah mian. Gomawo sudah mengantarku, Jun.”

“Cheonma. Kalau begitu aku pamit dulu, Tiff, sajangnim. Annyeong.”

Setelah Jun benar-benar pergi, Taeyeon menggendong kekasihnya ala bridal style menuju kamarnya. Taeyeon membaringkan gadisnya dan menyelimutinya.

“Kau akan menginap disini kan, ahjumma?” Tiffany mencegat tangan Taeyeon yang akan pergi.

Taeyeon mengangguk. “Aku ingin mencuci muka ku dan berganti pakaian dulu.”

 

“Ahjumma.” panggil Tiffany. Mereka kini sudah berbaring di ranjang.

“Hm?”

“Kau mencintaiku, kan?” tanya Tiffany.

Taeyeon mengernyit dan menoleh ke arah gadisnya. “Tentu saja. Mengapa kau menanyakan hal itu?”

“Kalau begitu katakan kau mencintaiku.”

“Kau baik-baik saja kan, Miyoung?”

“Ahjumma~ lakukan saja apa yang kukatakan.”

Taeyeon menghela nafasnya. Dia memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah kekasihnya. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi gadisnya dengan lembut.

“Aku mencintaimu, Stephanie Hwang Miyoung. Sangat sangat mencintaimu hingga bahkan merasa sesak jika kau tak ada disisiku.” ucap Taeyeon seraya mengelus pipi kekasihnya dengan jempolnya.

“So cheesy! Aku saja tak pernah mendengar keluhanmu tentang sesak nafas saat kau dan aku berjauhan.” Tiffany menarik hidung Taeyeon gemas.

“Itu perumpamaan, sayang. Yang jelas hatiku milikmu. Kau juga mencintaiku, kan?” Taeyeon melepas jari Tiffany yang masih menarik hidungnya.

Tiffany mengangguk. “Tapi aku masih saja merasa heran. Mengapa aku bisa jatuh cinta pada gadis midget sepertimu?”

“Hey, aku memiliki sejuta pesona, kau tahu? Wanita straight saja langsung berubah menjadi gay saat melihatku.”

“Termasuk aku. Ahh, yang terpenting ahjumma milikku sekarang. Jaga matamu ini, okay? Aku tahu mereka suka sekali melihat butt sexy dimana-mana.” Tiffany mengusap kedua mata Taeyeon dengan pelan.

“Yes ma’am.” ujar Taeyeon patuh seperti anak kecil.

“Sekarang cium aku.” pinta Tiffany.

Taeyeon menaikkan alisnya. “Ini sudah malam Tiff. Aku tak mau lepas kendali.”

Tiffany menggeleng. “Hanya make out. Aku percaya kau mampu melakukannya tanpa melebihi batas. Aku percaya ahjumma mampu menjagaku.”

“Kau yakin, Fany-ah?”

“Aku percaya pada ahjumma.” Tiffany menunjukkan eyesmile nya.

Taeyeon menghela nafas dan memejamkan matanya sebelum menangkup kedua pipi Tiffanya.

“Berdo’a lah agar evil Taeyeon tidak keluar malam ini.”

Lalu Taeyeon mulai menempelkan bibirnya ke bibir milik kekasihnya. Mendiamkannya sebelum bergerak melumat dan menghisap. Taeyeon terus melakukan aktifitasnya sembari bergerak pelan memposisikan tubuhnya diatas tubuh Tiffany, menindihnya.

Tiffany mengerang dan memeluk leher Taeyeon, mengusap tengkuknya dan menekannya agar ciuman mereka semakin dalam. Taeyeon menjilat bibir Tiffany hingga membuatnya terbuka. Dengan cepat lidah Taeyeon memasuki mulut Tiffany dan menjelajah. Lidah mereka bertemu dan saling bergulat satu sama lain. Ini adalah ciuman basah kedua yang pernah mereka lakukan.

Ciuman Taeyeon turun ke rahang lalu ke leher jenjang kekasihnya. Tangan Taeyeon bergerak membuka kancing piyama Tiffany.

“Enghh.. Tae~” desah Tiffany saat lidah Taeyeon menjilat panjang lehernya kemudian menghisapnya.

Kancing piyama atas Tiffany sudah terbuka sepenuhnya, menampilkan bra berwarna pink nya. Taeyeon menurunkan ciumannya hingga ke belahan dada Tiffany yang masih tertutup bra.

“Ugh.. Taee~”

Tangan Taeyeon bergerak ke punggung polos Tiffany dan mencoba membuka bra nya. Setelah terbuka, Taeyeon segera menurunkan bra Tiffany dan langsung menyerbu kedua buah gundukan tersebut. Mulutnya menghisap payudara sebelah kiri Tiffany sedangkan tangan kirinya meremas payudara kanan Tiffany.

“Taeyeon aakhh~”

Tiffany menekan kepala Taeyeon agar semakin menghisap payudaranya dengan kuat. Remasan tangan Taeyeon juga semakin kuat. Dia memelintir puting Tiffany yang masih kecil.

Taeyeon kembali mencium bibir Tiffany dengan panas. Kedua tangannya terus meremas payudara Tiffany dengan bernafsu. Mungkin setelah ini ukuran bra nya akan bertambah.

Saat tengah menikmati sesi panas mereka, tiba-tiba pintu kamar Tiffany terbuka.

“Stephanie apa yang kau lakukan?!”

Mereka berdua tersentak dan menghentikan aktifitasnya. Taeyeon segera menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atas Tiffany.

“Daddy..” lirih Tiffany.

“Temui Daddy di depan.” ujar Daddy Hwang dingin. Kemudian berbalik dan pergi darisana.

Taeyeon menyadari perubahan air muka Tiffany yang merasa sedih, takut, dan khawatir. Taeyeon mengecup bibir Tiffany sekilas.

“Kita hadapi bersama-sama, hm?” ucap Taeyeon meyakinkan. Tiffany mengangguk lemah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

Entsch bakal diupdate seminggu sekali kalo ngga ada halangan kay.

How bout this chap? Komen juseyo~

See u next chap~

Enterprischool (Chapter 4)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Taeyeon menatap kekasihnya dengan curiga. Semenjak gadis itu pulang dari sekolahnya, dia sama sekali tak berbicara dengannya dan langsung melenggang masuk ke kamarnya. Saat ditanya pun Tiffany hanya menjawab dia baik-baik saja. Tentu Taeyeon tak percaya. Dia tahu kekasihnya lebih dari apapun.

Taeyeon menarik bahu Tiffany yang ingin menghindarinya lagi.

“Miyoung-ah…” Taeyeon menatap mata gadisnya.

“Apa yang mereka lakukan padamu? Sebut siapa saja, aku akan memberi pelajaran kepada siapapun yang menyakitimu.”

Tiffany menggeleng dan melepas pegangan Taeyeon di bahunya.

“I’m fine. You don’t need to worry.”

“Why should I? You’re in trouble, I know it.”

“Taeyeon-ah, I’m okay. Really.”

Taeyeon mendesah. Dia tidak suka ini. Dia tidak suka saat Tiffany memanggilnya dengan nama Taeyeon dan bukannya pet name nya, atau Ahjumma, atau yang lain. Itu menandakan kalau kekasihnya memiliki masalah.

“Baiklah kalau kau tak mau bercerita. Aku akan menelepon Sica untuk memindahkanmu ke sekolah lain.” Taeyeon hendak menghubungi Jessica sebelum Tiffany mencegatnya.

“Don’t do that!”

Taeyeon tak menghiraukan ucapan Tiffany dan mulai menghubungi Jessica. Tiffany meraih ponsel Taeyeon dan membantingnya keras di lantai hingga casing dan baterai nya terlepas. Gadis imut itu membulatkan matanya tak percaya.

“Aku bilang jangan lakukan itu!” seru Tiffany.

“Kau berteriak padaku?” Taeyeon memicingkan matanya.

Tiffany menghela nafasnya. “Aku tak ingin berdebat, Taeyeon.”

“Tapi kau mencoba mengajakku berdebat, Tiffany.”

Taeyeon melihat ini semua mulai tak masuk akal. Seharusnya mereka bisa membicarakannya secara baik-baik.

“Aku ingin sendiri.” ucap Tiffany.

“Terserah. Aku akan mengurusi kepindahanmu besok.”

“Kim Taeyeon! Kau tak mendengarku?!” teriak Tiffany membuat Taeyeon mengeraskan rahangnya.

“Berteriaklah sepuasmu! Aku tidak akan merubah keputusanku apapun yang terjadi.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon mulai melangkah pergi. Namun sebelum itu, dia mendengar sebuah isakkan di belakangnya. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut. Taeyeon berbalik dan melihat Tiffany terduduk lemas di bawah dan menangis. Dia segera berlari dan meraih kekasihnya kedalam pelukannya.

“Fany-ah, m-mianhae. Jeongmal mianhae. Aku akan menarik perkata-…”

Tiffany menggeleng dengan masih terisak.

“Mereka mengataiku, memojokkanku, bahkan berdemo menuntut agar aku pindah…” Tiffany mendesah sebelum melanjutkan ucapannya. “Saat itu aku berpikir untuk pindah agar aku tak mendengar olokkan mereka lagi. Tapi…”

Tiffany mendongak, menatap wajah kekasihnya.

“Tapi aku tak bisa.”

“Wae?” tanya Taeyeon. Matanya masih terus menatap kekasihnya.

Tiffany berdiri dan melepas pelukkan Taeyeon.

“Kau mau kemana, Miyoung-ah?”

“Aku ingin tidur.”

Lagi-lagi Taeyeon menghela nafasnya.

***

Keesokan harinya, Taeyeon sudah tidak melihat Tiffany disampingnya tidur. Dia bangun dari tidurnya dan segera mencari gadisnya. Saat ingin membasahi kerongkongannya yang kering, dia melihat note kecil di pintu lemari pendingin. Dari Tiffany. Dia mengatakan pergi sekolah lebih awal dan sudah membuatkannya sarapan, Tiffany juga menuliskan dirinya akan pulang kerumah Daddy nya dan menyuruh Taeyeon agar tak mengkhawatirkannya, juga melarangnya untuk memindahkannya ke sekolah lain.

Hal itu membuat kepala Taeyeon terasa sakit. Dia mencoba menghiraukannya dan mulai berjalan ke arah kamar mandi setelah itu bersiap untuk pergi bekerja.

“Cari tahu siapa saja yang menyakiti Tiffany kemarin.” perintah Taeyeon pada Jessica sesampainya ia di kantornya.

Tanpa banyak berkata, Jessica mengangguk dan mulai keluar dari ruangan Taeyeon.

Tak butuh waktu lama untuk Jessica menyelesaikan tugasnya. Gadis itu kembali dengan map berwarna coklat ditangannya. Taeyeon segera meraih map tersebut dan membukanya. Ada beberapa foto dan juga daftar nama-nama orang yang berhasil Jessica kumpulkan yang mana kemarin telah menyakiti Tiffany.

“Kau yakin dengan itu, Taeng?” tanya Jessica membuang keformalannya.

“Kekasihku menderita karena mereka. Jadi ini balasan yang harus mereka dapatkan.” jawab Taeyeon dingin.

“Sebaiknya kau berhenti saja, Taenggu-ya.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Ini.” Jessica menunjuk apa yang tengah Taeyeon pegang dengan dagu nya. “Karena itu sia-sia.”

Taeyeon berdiri dari duduknya dengan kasar hingga kursi yang didudukinya terdorong lumayan jauh ke belakang.

“Menurutmu ini sia-sia, huh? Kau lupa aku direktur di sek-…”

“Not anymore!” sela Jessica dengan berteriak.

“Kau bukan direktur disana lagi, Taeyeon-ah. Young Woo sudah mengambil alih.”

Taeyeon membulatkan matanya, terkejut. “B-Bagaimana bisa?” tanyanya lirih.

“Aku juga tidak tahu. Para petinggi dan komite sepakat menggantimu dengan Young Woo.”

“Apa karena hubunganku dengan Tiffany?”

Jessica menggeleng lemah. Dia tidak memiliki ide untuk hal ini.

***

Tiffany duduk sendirian di atap gedung sekolahnya. Kakinya ia biarkan menggantung dibawah. Dia menghela nafas untuk yang kesekian kali. Meskipun orang-orang sudah tidak seganas kemarin dalam menghinanya, namun hal itu masih terus di dengarnya beberapa kali. Bora sudah mulai melunak, dia sudah merespon Tiffany walau hanya anggukan, gelengan, ataupun jawaban singkat. Meskipun begitu, Tiffany yakin itu akan terasa berbeda. Mereka tak mungkin lagi sedekat saat masih baru mengenal. Karena ada sekat yang terbangun diantara mereka.

Tiffany juga masih beruntung, disaat terburuknya ini, dia mendapat teman sebaik Juhyun. Meskipun gadis itu adalah juniornya, tapi Tiffany senang gadis itu bisa menenangkannya dengan sifat dan pemikiran dewasanya. Ditambah gadis bernama Im Yoon Ah, sahabat baik Seohyun. Gadis rusa itu mampu membuat Tiffany terhibur dengan tingkah konyolnya. Dia juga tak keberatan berteman dengan Tiffany yang memiliki hubungan tak wajar. Hal itu membuat Tiffany merasa lega.

“Kau tak takut jatuh?”

Tiffany tersentak mendengar suara asing di belakangnya. Dia berbalik dan melihat seorang pria tinggi dan good-looking berdiri disana.

“Nugu?” tanya Tiffany. Dia takut pria itu adalah salah satu dari hatersnya. Dia takut pria itu akan mendorongnya ke bawah.

Pria itu tertawa pelan. “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal yang ada di pikiranmu.”

Tiffany mengerutkan keningnya. Bagaimana dia tahu?

Pria itu duduk disamping Tiffany dan membiarkan kakinya menjuntai kebawah.

“Apa yang kau lakukan disini sendirian?” tanya pria itu.

“Kau tidak ikut menghinaku? Kau tidak merasa jijik denganku?” Tiffany balas bertanya.

Hal itu membuat pria disampingnya tertawa lagi. “Kenapa aku harus? Aku bukan mereka.”

Tiffany tersenyum lemah. “Aku berpikir akan sulit mencari teman di saat seperti ini.”

“Benarkah? Lalu bagaimana denganku? Kurasa aku sudah menjadi temanmu saat ini.” Pria itu berkata dengan percaya diri.

“Ahh ini mudah ternyata.” balas Tiffany dan itu membuat keduanya tertawa pelan.

“Jun… Choi Jun. Itu namaku.” ucap pria itu.

Tiffany mengangguk. “Aku tak perlu mengenalkan diriku karena kurasa kau sudah mengetahuinya?”

Jun memukul bahu Tiffany pelan. “Eyy, mana bisa begitu. Setidaknya anggap ini perkenalan normal antara dua orang asing.”

Tiffany terkekeh. “Arrasseo. Aku Tiffany Hwang. Senang bertemu denganmu, Jun.”

Jun tersenyum. “Tentu saja kau harus merasa senang bertemu denganku.”

“Kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi rupanya.” ejek Tiffany.

“That’s my middle name.” ucap Jun bangga dengan menepuk dadanya.

Tiffany tertawa dan menunjukkan eyesmile nya. “Kau lucu. Kurasa aku mulai menyukaimu sebagai teman.”

“Itu berita bagus.” sahut Jun dengan senyuman.

Saat keduanya asik mengobrol, tiba-tiba bel pulang berbunyi. Mereka sedikit terkejut akan itu.

“Benarkah kita melewati jam pelajaran terakhir disini?” tanya Jun.

“Kurasa iya.”

“Baguslah. Aku jadi tidak perlu repot bertemu Yoon ssaem.”

Tiffany tertawa untuk yang kesekian kalinya. Dia tahu Yoon ssaem terkenal menyebalkan dan killer. Hampir seluruh siswa membencinya.

“Ayo pulang! Biar ku antar.”

Tiffany menaikkan satu alisnya.

“Anggap saja sebagai salah satu kebaikan seorang teman baru?”

“Alasan diterima. Go!”

Jun tersenyum. “Okay. Go!”

Keduanya pulang dengan menaiki motor sport milik Jun. Tiffany mengarahkan Jun dimana rumahnya berada. Tinggal belokkan terakhir, mereka akhirnya sampai di depan gerbang rumah Tiffany.

Motor berhenti dan Tiffany mulai turun. Dia melepas helm yang dikenakannya dan menyerahkannya pada Jun.

“Thanks, Jun.” ucap Tiffany dengan tersenyum.

Namun Jun tidak membalas senyumannya. Hal itu membuat Tiffany bingung. Dia tersadar tatapan Jun bukan mengarah ke arahnya. Tiffany mengikuti arah pandang Jun dan melihat…

“Taeyeon.” gumam Tiffany.

Taeyeon berdiri menatap tajam keduanya di depan mobil mercedes nya.

“Aku pergi dulu, Tiff. Sampai jumpa besok.” ucap Jun pada akhirnya memecah keheningan dan kekakuan disana. Jun tahu gadis di depan sana adalah kekasih dari gadis yang baru saja dibonceng nya.

“Yeah, hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan mulai memutar arah. Motornya melaju dengan kecepatan sedang hingga sosoknya tak terlihat lagi di mata Tiffany.

***

Hening.

Keduanya tak berniat membuka mulut.

Taeyeon yang biasanya terlihat tenang kini terlihat kesal. Anggap saja dia kekanakkan, dan nyatanya memang seperti itu. Dia tak bisa menahan perasaannya melihat kekasihnya tadi. Dia cemburu melihat Tiffany dengan pria lain.

Tiffany mendesah. Dia bangun dari sofa sebelum Taeyeon menarik tangannya hingga tubuhnya terjatuh di pangkuan Taeyeon.

Tanpa banyak berkata, Taeyeon mulai melumat bibir Tiffany dengan ganas. Tiffany mencoba melepas ciuman Taeyeon yang terkesan menyakitinya. Dia terus memukul bahu Taeyeon menyuruhnya berhenti. Namun Taeyeon tak peduli dan terus menciumnya kasar hingga bibir Tiffany berdarah. Taeyeon menumpahkan segala emosi nya dalam ciuman itu. Tiffany miliknya.

Hingga isakkan Tiffany terdengar, mampu membuat Taeyeon berhenti. Gadis itu melebarkan matanya, tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Tiffany menangis. Dia menampar pipi Taeyeon dan pergi darisana menuju kamarnya.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengepalkan buku-buku jarinya. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu! Dia tahu dia cemburu, dan dia berhasil termakan oleh rasa cemburunya. Kini Taeyeon menyesal.

Dia berdiri dan berlari menyusul kekasihnya ke kamar.

“Fany-ah buka pintunya. Kumohon, maafkan aku.”

Tak ada sahutan. Yang terdengar hanya isakkan. Hati Taeyeon sakit mendengar alasan Tiffany menangis adalah dirinya. Dia merasa menjadi kekasih yang buruk.

“Miyoung-ah sayaang. Kumohon buka pintunya. Maafkan TaeTae.”

“Miyoung-aah…” panggil Taeyeon lemah.

“Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Maka dari itu buka pintunya, sayaang.”

Tak ada respon. Taeyeon menggigit bibir bawahnya.

“Aku tak bermaksud, sayang. Kumohon maafkan aku.”

Taeyeon menyerah. Dia terduduk dibawah dengan bersandar pada dinding disamping pintu kamar kekasihnya, menunggu Tiffany membukanya. Karena lelah menunggu, Taeyeon mulai tertidur disana dengan membawa rasa penyesalan.

Tak lama setelah itu, Tiffany membuka pintu kamarnya. Dia mengira Taeyeon sudah pergi dari rumahnya, namun ternyata dia salah. Gadis itu tertidur disamping pintu kamarnya. Tiffany menggigit bibir bawahnya.

Tiffany berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taeyeon yang masih tertidur.

“Mianhae.” lirih Tiffany.

Tiffany berdiri dan masuk ke kamarnya lagi untuk mengambil selimut. Dia kembali dan mulai menyelimuti Taeyeon. Gadis itu juga duduk disamping kekasihnya dan mengamati wajah bayinya saat tertidur. Hingga tak terasa Tiffany mulai merasa mengantuk dan menyusul Taeyeon ke alam mimpi.

***

Jun menyalakan motor sportnya dan mulai berjalan keluar dari pekarangan rumahnya. Dia berniat menjemput Tiffany. Anggap saja dia berbaik hati menawarkan tumpangan pada gadis itu karena dia tahu sesampainya dia di sekolah, Tiffany pasti akan menerima pembullyan. Setidaknya dia ada disamping Tiffany dan berdiri membelanya nanti.

Jun memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Tiffany seperti sebelumnya. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat mobil mercedes putih yang diketahui milik Taeyeon masih bertengger disana.

Jun mencoba tidak mengambil pusing dan menekan bel disamping pagar.

Tak ada sahutan. Dia coba berkali-kali dan tetap tak ada Tiffany atau siapapun yang membuka gerbang. Dia mencoba iseng membuka gerbang dan ternyata tidak dikunci. Jun semakin bingung. Bagaimana bisa gerbang rumahnya tidak dikunci? Bagaimana jika orang jahat tahu?

Jun terus berjalan di pekarangan rumah Tiffany hingga pria itu sampai di depan pintu rumahnya. Jun mencoba iseng lagi membuka pintu rumahnya, dan sama seperti sebelumnya, pintu tersebut tak dikunci.

Jun menghela nafasnya melihat kecerobohan Tiffany terhadap rumahnya sendiri. Dia mulai memasuki rumah Tiffany yang terlihat sepi. Jun tidak bermaksud tak sopan, dia hanya berniat mengecek saja apakah Tiffany disana dalam keadaan baik atau tidak.

Jun terus mencari di sekeliling rumah tersebut. Karena tak berhasil menemukan seorang pun di lantai satu. Jun mencoba mencari di lantai dua. Betapa terkejutnya Jun saat melihat dua orang yang dikenalinya tertidur di depan pintu sebuah kamar. Jun mendekat ke arah mereka.

Sebenarnya posisi mereka terbilang cute dengan kepala Tiffany bersandar di bahu Taeyeon sedangkan kepala Taeyeon juga bersandar di puncak kepala Tiffany. Gadis Amerika itu juga memegang lengan Taeyeon erat seperti memegang bantal guling. Tapi karena Jun tak terbiasa melihat couple GXG itu jadi sedikit aneh baginya.

“Fany-ah.” panggil Jun mencoba membangunkan Tiffany.

“Tiffany..” Jun menggoyangkan bahu Tiffany.

Taeyeon yang sedikit sensitif dengan pergerakan mengerjapkan matanya sebelum terbuka sempurna. Dia melihat sekitar hingga mata itu bertemu dengan milik Jun.

“YA! SIAPA KAU?!” teriak Taeyeon membuat Tiffany terbangun.

Gadis itu mengerutkan keningnya dan melihat Jun di depannya.

“Jun? Bagaimana bisa kau masuk kesini?”

“Pintu gerbang dan pintu rumahmu tak terkunci. Itu berbahaya, Tiff.”

“Aku tanya siapa kau?!” kesal Taeyeon karena merasa terabaikan.

Tiffany mengelus lengan Taeyeon. Kekasihnya itu seperti bayi jika baru bangun tidur. Moodnya sedikit terganggu.

“Dia temanku, Tae.”

“Annyeonghaseyo, sajangnim.” Jun menyapa Taeyeon dengan membungkukkan badannya.

“Aku bukan sajangnim mu lagi.” gerutu Taeyeon.

“WHAT?! Apa maksudmu, TaeTae?” Tiffany dan Jun sama-sama terkejut.

Taeyeon mendesah malas dan memutar bola matanya. Dia bangkit dan berjalan ke kamar Tiffany untuk melanjutkan tidurnya. Jujur saja lehernya sakit karena tidur dengan duduk.

“Kau tunggulah di sofa depan, Jun. Aku akan mengurusi bayi besar itu dulu.”

Jun terkekeh pelan dan mengangguk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Hay hay hay gw kambek. Ini chapter buat perkenalan sm cast baru euhehehe. Chap besok masih berbadai-badai ria. Udh liat sedikit badai di chap ini kan? Lah chap selanjutnya lebih lebih kenceng lagi.

Okay, komen juseyo~

Pupye~ see u next chap~