Enterprischool (Chapter 9)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

“Apa kabar, Kim?”

Taeyeon menegang mendengar suara tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dengan sangat pelan. Menelan ludahnya saat penglihatannya menangkap seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hyejin..”

Hyejin tersenyum miring. “Jadi apa kau masih mengingat ucapanku waktu itu? Siapa yang kau curigai?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia membulatkan matanya saat gadis yang dia kejar berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti disamping Hyejin.

“H- Hyoyeon-ssi.” gumam Taeyeon.

Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon kemudian ke arah Taeyeon. “Benar. Dia Kim Hyoyeon. Seseorang yang kau curigai akhir-akhir ini. Apa aku benar?”

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk menjawab ‘ya’.

“TaeTae!” teriak Tiffany. Namun Taeyeon masih berdiri kaku ditempatnya.

Tiffany berlari mendekat ke arah Taeyeon dan memegang lengannya. “Ya! Mengapa kau berlari dan meninggalkan belanjaanku?!”

Taeyeon masih diam. Tiffany mengerutkan keningnya. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon dan terkejut saat melihat mantan kekasih Taeyeon dan seorang gadis blonde yang tidak diketahuinya. Mungkin kekasih Hyejin Unnie yang baru?

“Ah, biar kutebak. Dia pasti kekasih bocahmu, hm?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Dia ingin sekali berteriak kesal di depan wajah mantan kekasih Taeyeon itu. Enak saja mengatakan dia bocah. Kalau dia bocah, bagaimana dengan Hyejin? Nenek tua? Tiffany memutar bola matanya malas.

Tiffany tersenyum saat menemukan ide. Mengapa dia tidak meminta Jessica menyusul mereka kemari? Melihat Taeyeon yang hanya diam membisu seperti orang idiot tidak akan membantu. Setelah mengetik beberapa kalimat untuk dikirimkan ke Jessica, Tiffany menoleh ke arah Hyejin dan gadis unknown disampingnya.

“Hyejin Unnie. Apa kau keberatan untuk mentraktir kami ice cream? Aku ingin tahu bagaimana rasanya makan ice cream bersama mantan kekasih kekasihku.” Tiffany tersenyum mengejek.

Dia bisa melihat Hyejin mengeraskan rahangnya. Namun tak berselang lama. Hyejin tersenyum manis dan mengangguk. “Call!”

Mereka berempat pada akhirnya naik ke lantai atas, ke kedai ice cream favorit Taeyeon. Mereka memesan ice cream yang berbeda satu sama lain. Taeyeon masih tetap diam seperti orang dungu. Tiffany beberapa kali menyuapi kekasihnya itu karena hanya diam.

“Hyejin! Hyoyeon-ssi!”

Mereka berempat serentak menoleh ke arah suara dolphin yang memekakkan telinga.

“Sica!” Hyejin berdiri dan berlari menghampiri Jessica. Gadis itu memeluknya dengan erat.

“Oh my Gosh! Kenapa sulit sekali menghubungimu, huh?” Jessica berkata setelah melepas pelukan mereka.

“Mianhae. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sibuk merintis usaha baruku.” balas Hyejin dengan wajah menyesal.

“Wow! Kau jadi membuat brand mu sendiri?” tanya Jessica berbinar. Mereka seakan melupakan keberadaan tiga orang dibelakangnya.

“Yeah. Bersyukur Hyonie mau membantuku.”

Jessica menolehkan pandangannya ke arah Hyoyeon yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.

“God! Hyoyeon-ssi!” Jessica berlari kecil lalu memeluk Hyoyeon.

“Kau apa kabar? Sudah sangat lama terakhir kita bertemu.”

Jessica melepas pelukannya dan mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.

Hyoyeon tertawa. “Kau tahu orang seperti apa diriku ini.” Hyoyeon membanggakan dirinya sendiri.

“Chill! Kau harus mentraktirku dinner mewah kali ini. Awas saja kau.” Jessica terkekeh begitu juga Hyoyeon.

Taeyeon menatap interaksi mereka bertiga dengan wajah dungu. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Tiffany hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. Dia pikir kalau seperti ini Jessica tidak akan membelanya nanti.

“Unnie..” panggil Tiffany lirih. Sedari tadi Jessica melupakan keberadaannya.

“Oh hey, Tiff. Kau disini juga?”

Tiffany meringis. Bukankah dia sendiri yang meminta Jessica kemari?

Tiffany tersenyum palsu dan mengangguk kaku. Benar. Jessica pasti tak akan membelanya dan melindunginya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka bersama kedua sahabat konyol Taeyeon.

“Taenggu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Jessica yang menyadari wajah tak biasa sahabatnya.

Taeyeon menggeleng. “Gwaenchanha.”

Sore itu mereka isi dengan perbincangan yang menyenangkan. Sebenarnya bukan keseluruhan mereka, namun hanya Jessica, Hyejin, dan Hyoyeon saja. Sedangkan Taeyeon dan Tiffany hanya diam menyaksikan ketiganya berbincang. Jessica seakan melupakan masalah dan keresahan Taeyeon. Padahal saat ini kedua orang yang diduga menjadi informan berada tepat di depannya.

Taeyeon merasakan sakunya bergetar. Dia merogoh sakunya dan meraih ponsel berlogokan apel tergigit dan membukanya.

Sebuah pesan. Dari sahabatnya, Yuri.

Taeng, masalah besar! Tiffany dikeluarkan dari sekolah. Cepat ke kantor!

 

Mata Taeyeon melebar, bahkan terlihat hampir copot. Dia berdiri dengan cepat dan menarik tangan kekasihnya untuk keluar darisana. Tiffany yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunjukkan wajah bingungnya. Jessica berteriak memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Taeyeon.

“TaeTae sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany setelah mereka berada di mobil Taeyeon.

Gadis yang lebih tua tak menjawab apapun. Wajahnya berubah datar dan dingin. Tiffany sampai ketakutan melihat Taeyeon yang seperti ini. Bahkan gadis itu mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiffany hanya bisa menggenggam erat sabuk pengamannya.

Taeyeon menghentikan mobilnya di depan rumah Tiffany. Gadis yang lebih muda bersyukur mereka sampai dengan selamat.

“Masuklah kedalam.” ucap Taeyeon dingin tanpa menatap Tiffany.

Tiffany menundukkan kepalanya dan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Tiffany membuka pintu mobil dan keluar. Tak lama setelah itu mobil Taeyeon segera berbalik dan melaju dengan cepat. Tiffany menghela nafasnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi pada kekasihnya.

 

“What the f*ck! Apa maksudmu, Kwon Yuri?!” semprot Taeyeon setibanya ia di ruangannya.

Dia melihat Yuri dan Sooyoung yang menunjukkan wajah frustasi dan prihatin. Masalah mereka terus saja bertambah pelik.

Taeyeon menarik kerah kemeja Yuri. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kali ini!”

Yuri melepas tangan Taeyeon di kerah kemejanya dengan kasar.

“Bisakah tak memasukkan emosi saat ini, hah?” teriak Yuri. Dia kesal dengan Taeyeon yang tak bisa menahan emosinya. Dia pikir Taeyeon sudah berubah. Mereka tahu tabiat Taeyeon yang kasar dan pemarah semenjak sekolah dasar.

“Hey hey hey, kita berkumpul disini bukan untuk bertengkar. Chill!” Sooyoung menengahi.

Yuri mengembuskan nafasnya kasar. Dia melonggarkan dasi miliknya dan duduk di sofa tanpa melihat Taeyeon. Dia masih kesal.

“Kau saja yang menjelaskan, Soo.” ucap Yuri. Sooyoung mengangguk.

“Kumohon kau tenanglah terlebih dahulu, Taeng. Dan jangan memasukkan emosi setelah aku selesai menjelaskan.” pinta Sooyoung.

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

“Tiffany dikeluarkan karena masalah Daddy nya.. kau tahu.. tuduhan penggelapan dana itu dan.. k- karena dia g- gay. Sekolah tak mau Tiffany merusak nama baik mereka.” jelas Sooyoung.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengerang dan memukul meja didepannya hingga buku-buku jarinya memerah. Dia tidak peduli tangannya sakit dan lebam.

“F*ck!” umpatnya.

***

Hal tersebut tak butuh waktu lama sampai di telinga Tiffany. Gadis itu terduduk lemas dengan tatapan kosong. Daddy nya menatap puterinya dengan pandangan menyesal. Dia meminta maaf telah menyebabkan puterinya dikeluarkan dari sekolah. Pria paruh baya tersebut memeluk puterinya yang disusul isakkan dari gadis brunette. Tiffany menangis sesenggukan.

Keesokan harinya, Tiffany mengurung dirinya di kamar. Daddy nya terus membujuk puterinya untuk keluar dan sarapan bersama. Namun Tiffany tak menghiraukan dan memojokkan dirinya di pinggiran ranjang. Air matanya telah kering. Bahkan hingga sore hari Tiffany tak kunjung keluar. Hal itu membuat Daddy nya cemas. Dia teringat kunci cadangan yang ada di rak. Daddy Hwang membawa nampan berisi makanan dan membuka pintu kamar puterinya. Dia melihat Tiffany masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Jujur hal itu membuat hati Daddy Hwang sakit.

“Stephy, makanlah dulu, nak. Kau belum makan seharian.” pinta Daddy Hwang.

“Taruh saja di meja. Daddy boleh keluar.” ucap Tiffany dengan suara seraknya.

“Tapi, Steph-…”

“Daddy.. please..”

Daddy nya menghela nafasnya dan mengangguk. Beliau berdiri dan menaruh nampan berisi makanan di meja samping ranjang. Lalu mulai keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Setelah Daddy nya pergi, Tiffany menangis. Lagi.

Hal itu berlangsung selama tiga hari. Tiffany sama sekali tak keluar dari kamarnya. Daddy Hwang bertambah khawatir. Sebenarnya dia juga memiliki kegiatan untuk mencari pekerjaan lagi, tapi mengingat puterinya yang seperti itu mengurungkan niatnya.

Daddy Hwang mendengar bunyi bel. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria muda tersenyum kearahnya seusai dia membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Choi Jun imnida, teman Tiffany.” Jun membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa Tiffany dirumah, paman?” tanya Jun.

Daddy Hwang memandang Jun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian menghela nafasnya.

Daddy Hwang mengangguk. “Namun sudah tiga hari ini Stephy tidak keluar dari kamarnya. Dia pasti sangat shock dan sedih.” Daddy Hwang berkata dengan nada sedih.

Jun membulatkan matanya. Dia tidak mengira sahabatnya akan seperti ini. “P- Paman, bolehkah aku bertemu dengannya? Aku akan mencoba berbicara dengan Tiffany.” pinta Jun.

“Baiklah. Kuharap kau bisa membujuknya keluar.” Daddy Hwang menepuk bahu Jun dan mempersilakan Jun masuk kedalam.

Daddy Hwang membuka pintu kamar puterinya dan mempersilakan Jun masuk. Beliau kemudian pergi, membiarkan Jun membujuk puterinya.

“Tiff..” panggil Jun.

Tiffany mendongakkan wajahnya dan melihat Jun. Dia diam sebelum suara isakkan keluar dari mulutnya. Jun terkejut dan segeta berlari memeluk sahabatnya.

“Sssst. Gwaenchanha. Everything’s gonna be alright.” Jun mengelus punggung Tiffany. Sedangkan gadis brunette menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jun dan terus menangis terisak.

Sementara diluar kediaman Tiffany, seorang gadis mungil tengah menatap kosong kedepan di dalam mobil mercedes nya. Dia menghela nafas saat ucapan sahabatnya terngiang di kepalanya. Dan saat gadis itu menangkap sebuah motor sport berwarna hitam yang familiar, dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berbalik. Dengan perkataan sahabatnya yang melingkari kepalanya menemani perjalanan gadis mungil.

Taeyeon berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia amat tahu Tiffany pasti sangat sangat membutuhkannya saat ini. Namun dia tak ingin menunjukkan wajah sedihnya jika harus berhadapan dengan kekasihnya. Dia harusnya bisa menyemangati gadis brunette, tapi sepertinya hal itu tak bisa ia lakukan. Terlalu sakit membayangkan keadaan Tiffany untuk saat ini. 

Jessica masuk kedalam ruangannya dengan membawa berkas. Taeyeon menerimanya dan mulai membukanya. Taeyeon pikir Jessica akan keluar setelah menyerahkan berkas. Dia mendongak dan melihat Jessica menatapnya dengan serius. 

“Wae?” tanya Taeyeon. 

“Tinggalkan Tiffany.” ucap Jessica langsung tanpa basa-basi. Jelas saja hal itu membuat Taeyeon marah. 

“Why the hell, Jess!” Taeyeon menatap Jessica dengan berapi-api. 

Jessica menghela nafasnya. “Kau..” Jessica menunjuk Taeyeon dengan telunjuknya. “Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu membuat kehidupan Tiffany berangsur memburuk?” 

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya. 

“Apa maksudmu?” 

“Sebelum kau bersamanya, kehidupan Tiffany begitu mulus tanpa masalah apapun. Dan pada saat dia menjalin hubungan denganmu, satu persatu masalah muncul. Apa kau tidak pernah berpikir kearah sana?” Jessica menatap Taeyeon dengan dingin. 

Taeyeon diam. Jessica benar. 

“Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Taeyeon lemah. 

“Tinggalkan Tiffany. Aku tahu itu pasti sakit untukmu dan juga Tiffany. Tapi aku lebih sakit melihat Tiffany yang sudah kuanggap adikku sendiri menderita. Taeyeon.. bisakah?” Jessica menatap Taeyeon dengan tatapan memelas. 

Jujur dia sakit melihat sahabatnya semenjak bayi merasa sedih, tapi dia juga tak ingin mengorbankan adik kesayangannya juga jika mereka terus memaksa bersama.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. “Akan kucoba.”

Jessica memutari meja kerja Taeyeon dan memeluk sahabatnya. “Ini yang terbaik, Taenggu.”

***

Sebulan telah berlalu. Keadaan Tiffany semakin membaik dari hari ke hari. Dia sudah mulai membuka dirinya lagi dan bersikap ceria, seperti biasanya. Dan selama itulah Tiffany tak bertemu Taeyeon. Jujur hal itu membuatnya kecewa. Harusnya kekasihnya yang datang dan menyemangatinya. Namun dia tak merasa marah berlebih pada gadis mungil itu. Dia mencoba berpikir bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi terakhir kali dia melihatnya, Taeyeon terlihat sangat stress.

“Jun-ah, antarkan aku ke kantor ahjumma. Pleaasee.” pinta Tiffany pada Jun yang tengah bermain ke rumahnya dan menemaninya karena Daddy Hwang pada akhirnya mendapat pekerjaan lagi semenjak dua minggu yang lalu.

“Arra arra. Tapi..” Jun menunjuk pipi kanannya dengan senyum jahil.

Tiffany tertawa pelan. Dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Jun bermaksud mengecupnya. Namun detik kemudian Jun menolehkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Tiffany melebarkan matanya.

Jun melepas kecupannya dan tersenyum.

“Kajja!” ajaknya dan mulai berjalan menjauhi Tiffany.

Sementara gadis brunette masih diam ditempatnya dan merasakan pipinya yang terasa panas.

Tiffany tak berbicara selama perjalanan. Dia masih merasa malu dengan kejadian tadi. Dia tahu dia harusnya kesal pada Jun yang mencuri kecupannya. Namun dia tak bisa melakukan itu karena dia sendiri merasa jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkan kejadian tadi.

Sesampainya mereka di kantornya, Tiffany bertanya kepada resepsionis yang sama saat pertama kali dia datang di kantor Taeyeon.

“Unnie. Apa Taeyeon Unnie di ruangannya?” tanya Tiffany dengan semangat.

Wanita di depannya menunjukkan wajah sedihnya. “Maafkan aku, nona. Tapi sajangnim sudah hampir sebulan ini berada di China. Sepertinya sajangnim akan bekerja di anak perusahaan disana.”

Jawaban sang resepsionis tentu saja membuat jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi. Dia mengucapkan terimakasih kemudian mulai berbalik. Dia membuka ponselnya dan mulai menghubungi Taeyeon. Namun yang didengarnya hanya suara operator. Dia mencoba lagi dan suara operator yang menyapa pendengarannya.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Sudah lebih dari tiga puluh kali Tiffany mencoba menghubungi Taeyeon dan hasilnya tetap sama. Dia hampir menangis karena kekasihnya tak kunjung menjawab panggilannya. Dia mencoba sekali lagi dan suara operator kali ini meruntuhkan segalanya. Nomor kekasihnya sudah tidak terdaftar lagi. Itu berarti Taeyeon telah mengganti nomornya, tak lama tadi.

Perlahan airmata kembali menetes di pipi Tiffany. Jun yang melihatnya panik dan segera memeluk Tiffany.

“Dia meninggalkanku hiks~”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah ter-updatekan!

Eotte? Badai lagi kan muahahahaha *evillaugh

Okayy gw tunggu komen kece2 kalian *cyailah wkwkwk

Bubye~ see u next chap~

Advertisements

Enterprischool (Chapter 8)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

Taeyeon mengerang seusai membuka matanya. Dia menekan belakang kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya ia jatuhkan ke sekitar tempatnya berada, masih di ruang rahasia. Dia melihat sahabat-sahabatnya tengah tertidur dibawahnya. Taeyeon bangun dari tidurnya.

“Eoh, kau sudah bangun, Taeng?” Taeyeon mendengar sebuah suara dan menoleh ke belakang. Ternyata Jessica.

Taeyeon mengangguk.

Jessica berbalik dan mengambil segelas air untuk Taeyeon. Selanjutnya bergabung bersama Taeyeon dan menyerahkan air tersebut. Taeyeon menerimanya dan langsung meminum dengan sekali teguk.

“Gomawo.” ucap Taeyeon. Jessica mengangguk.

“Aku tahu ini berat untukmu, tapi.. bisakah kau tak usah mabuk? Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan Tiffany. Kau lupa pernah berjanji padanya, Taeng?”

Taeyeon menghela nafas. Jessica benar. Dia sudah berjanji kepada kekasihnya untuk tidak mabuk lagi.

“Mianhae.” lirih Taeyeon.

Jessica menghela nafas. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Menepuk punggungnya bermaksud menenangkan. Jessica adalah sahabat terbaiknya. Taeyeon beruntung memiliki Jessica.

“Tak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Kau istirahatlah lagi, hm”

Taeyeon menggeleng. “Dimana Tiffany?”

“Dia pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan barangnya.”

“Tiffany akan menginap disini?”

“Untuk beberapa hari kedepan.. ya. Dia ingin terus berada disisimu katanya.”

Taeyeon melepas pelukkan mereka. Dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jessica. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu bersama. Taeyeon menarik tangan Jessica untuk mengelus kepalanya. Dia sangat suka jika Jessica mengelus kepalanya seperti saat ini.

“Sica-ah..”

“Hm?”

“Kau ingin tahu siapa seseorang yang ku curigai?”

Jessica menatap Taeyeon yang ada dibawahnya. “Tentu saja. Mereka pasti juga ingin mengetahuinya.” Jessica menunjuk kedua sahabatnya dengan dagu.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. Dia menerawang jauh kedepan.

“Dia Kim Hyoyeon. Semua berawal saat kami masih sekolah menengah pertama.”

Taeyeon mulai menceritakan semuanya kepada Jessica. Bahkan hingga sangat detail. Jessica mendengarkan dengan seksama. Berkali-kali gadis blasteran itu mengerutkan kening lalu mengangguk di sela cerita Taeyeon.

“Jadi seperti itu. Sampai sekarang aku tak juga berhasil menemukannya.”

Taeyeon melihat Jessica yang sibuk dengan ponselnya. Dia berteriak karena mengira Jessica tidak mendengarkannya.

“Maksudmu Kim Hyoyeon ini?” tanya Jessica seraya menunjukkan ponselnya dimana terdapat sebuah foto.

Mata Taeyeon membesar. Walaupun sudah dua belas tahun lamanya, wajah Hyoyeon masih terlihat sama. Mungkin beberapa terlihat berbeda. Namun Taeyeon yakin foto tersebut adalah Hyoyeon.

“B- Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Taeyeon tak percaya.

“Aku baru ingat Hyejin memiliki seorang teman baik sewaktu sekolah dasar. Dan mendengar nama Kim Hyoyeon mengingatkanku pada temannya Hyejin ini.”

Jessica dan Hyejin memang dekat, sama seperti kedua sahabatnya. Hal itu karena Taeyeon pernah menjalin hubungan dengan Hyejin untuk waktu yang cukup lama.

“T- Tapi Hyejin tak pernah memberitahuku tentang Hyoyeon.”

“Kami tak sengaja bertemu waktu itu. Hyoyeon-ssi sedang ada acara di Seoul. Dan wow, kau tahu Taeng.. dia adalah pemilik Univere Company!”

Taeyeon menelan ludahnya. Univere Company adalah perusahaan asal Canada yang sangat terkenal. Dia tak mengira pemilik perusahaan tersebut adalah Hyoyeon sendiri.

“Itu semakin menguatkan pendapatku kalau dia ingin membalas dendam padaku.” ujar Taeyeon.

“Kau jangan berpikiran negatif dulu, Kim. Yang kulihat Hyoyeon-ssi adalah gadis yang sangat baik dan menyenangkan. Dia lucu. Aku saja langsung menyukainya di tempat pertama saat melihatnya.”

“Kau benar. Aku hanya merasa.. tak tahu siapa yang harus disalahkan.”

“Jamkkanman! Hyejin teman baik Hyoyeon! Itu berarti.. kemungkinan mereka ada di tempat yang sama. Taeng, mari kita mencari mereka berdua!”

Taeyeon menatap Jessica dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkan. Tak lama kemudian dia tersenyum. Entah karena kebetulan atau memang takdir. Taeyeon senang karena Hyejin dan Hyoyeon ternyata bersahabat. Dia butuh mereka berdua untuk menuntut penjelasan.

***

Taeyeon kini sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiffany benar-benar menepati ucapannya untuk tinggal bersama Taeyeon beberapa hari ini. Bersyukur Daddy nya mengijinkan. Dia percaya Taeyeon mampu menjaga anak gadisnya.

Taeyeon bersama Jessica dan juga kedua sahabatnya kini juga berusaha mengumpulkan informasi tentang Kim Hyoyeon. Sangat sulit mencari alamat gadis blonde tersebut karena orang yang bekerja di perusahaannya pun tidak tahu dimana bos mereka tinggal. Namun mereka tidak menyerah. Dia harus menemukan Hyoyeon, dan kalau bisa Hyejin juga.

“Ahjumma!” teriak seseorang.

Taeyeon yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya melihat kedepan. Tepat beberapa meter darinya berdiri seorang Tiffany Hwang dengan eyesmile nya. Dia juga melihat seorang pria jangkung di belakang Tiffany yang tak lain adalah Jun. Taeyeon sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Jun lagi. Dia percaya Jun bukanlah orang yang akan merebut kekasihnya. Pria itu terlihat baik di mata Taeyeon saat ini.

“Kau kemari?” tanya Taeyeon yang dibalas anggukan semangat dari kekasihnya.

“Unnie, mian kami terlambat. Yoong tadi membeli makana- eoh joesonghamnida!” Taeyeon memiringkan kepalanya untuk melihat seorang gadis dengan seragam sama seperti Tiffany menunduk sopan. Dia terkekeh melihat wajah gadis tersebut karena malu.

“Oh. Ahjumma, aku belun memperkenalkan teman baikku yang satu ini. Dia Seohyun dan yang disampingnya Yoona.”

“Aah.. kau gadis sepeda itu kan?” tanya Taeyeon. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kekasihnya.

“Ne, majayo. Terimakasih telah menyelamatkan saya malam itu.” Seohyun menunduk lagi.

“Aih tak apa, jangan terlalu formal Seohyun-ssi. Huumm kalian ada apa kemari?” tanya Taeyeon.

“Tiffany Unnie bilang Ahjumma akan mentraktir kami semua makan.” jawab gadis jangkung yang diketahui bernama Yoona.

“Yoong, jaga sikapmu!” bisik Seohyun seraya menepuk bahu Yoona.

Taeyeon yang melihatnya tertawa pelan.

“Bolehkan, ahjumma?” pinta Tiffany dengan puppy-eyesnya.

Taeyeon tersenyum. “Arrasseo. Kalian ingin makan dimana?”

“Yeheyy!” teriak Yoona girang.

“Yoong!” Seohyun menepuk bahu Yoona lagi. Kali ini lebih keras. Semua yang ada disana tertawa melihat kedua sahabat tersebut.

Mereka pun keluar dari ruangan Taeyeon. Sebelum itu, Taeyeon menarik Tiffany dan dengan cepat mengecup bibir kekasihnya. Beruntung mereka berdua di belakang, dan bisa dipastikan ketiga teman Tiffany tidak akan melihat.

“Yaish ahjumma!” Tiffany menepuk dada Taeyeon dan menutupi wajahnya. Dia berjalan cepat menyusul temannya karena malu. Taeyeon terkekeh pelan melihatnya.

Seusai mentraktir teman-teman Tiffany makan siang, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Taeyeon menjadi teringat masa-masa saat menjadi pelajar SMA dulu. Yoong sangat lucu dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon. Mereka juga membuat squad saat di restauran tadi. Yoong menyebutnya, squad gwiyomi. Gadis jangkung itu berkata, Taeyeon dan dirinya adalah makhluk paling cute seantero Korea Selatan.

Taeyeon tertawa pelan mengingat kejadian tadi. Tiffany yang duduk disampingnya mengerutkan keningnya.

“TaeTae, kau masih waras kan?”

Taeyeon makin tertawa renyah. “Aku hanya teringat saat makan siang tadi. Temanmu yang bernama Yoong sangat lucu.”

“Aah, Yoong memang seperti itu. Dia gadis yang unik.” Tiffany terkekeh membayangkan kebodohan dan kelucuan Yoona.

“Ah jamkkanman. Kau tak keberatan mampir sebentar di mall? Aku ingat persediaan bahan makanan di apartemen sudah habis.”

“Gwaenchanha, TaeTae. Aku juga ingin shopping.”

Taeyeon membulatkan matanya. Dia juga menelan ludahnya. Tiffany dan shopping adalah satu kesatuan yang dapat menimbulkan bencana. Selain dompetnya akan terkuras, tenaga, serta waktunya juga akan terforsir. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan nafasnya pelan.

“Neeeh gadisku yang cantik.” ucap Taeyeon terpaksa.

Tiffany tersenyum senang. Dia mendekat dan mengecup pipi Taeyeon. “Gomawoyongg, TaeTae~” aegyeo Tiffany.

Taeyeon memarkirkan mobilnya di basement. Dia mematikan mesin mobil dan berdehem.

“Sebelum keluar, berikan aku vitamin harianku dahulu.” ujar Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya. “Vitamin harian?”

Taeyeon menatap Tiffany kemudian menarik belakang kepala gadis tersebut. “Ini..”

Kemudian Taeyeon meraih bibir pink kissable kekasihnya dan melumatnya. Tiffany mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Dia mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan gadis yang lebih tua menarik pinggang Tiffany untuk mendekat.

Mereka berbagi ciuman cukup lama. Tiffany yang mulai kehabisan oksigen melepas ciuman tersebut. Namun tak berselang lama, Taeyeon menempelkan bibirnya lagi. Melumat bibir yang menjadi candunya dengan sangat intim. Tiffany tahu Taeyeon merindukan dirinya. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri. Menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Taeyeon melepas ciuman tersebut. Saliva mereka terhubung satu sama lain. Nafas mereka juga terengah.

“One more..” bisik Taeyeon kemudian mencium Tiffany lagi. Kali ini lebih menuntut. Tiffany sampai kewalahan menghadapi ciuman Taeyeon yang terkesan ganas.

Tiffany mendesah saat Taeyeon menghisap lehernya. Menjilat lalu menghisap dan menggigitnya.

“T- Taeyeonhh~”

Taeyeon mencium bibir Tiffany lagi. Dia mencium gadisnya dengan lembut, tidak seperti tadi.

“Aah~” Keduanya melepas ciuman mereka.

Mereka menatap satu sama lain dengan senyum lebar.

“Kajja kita keluar.” Taeyeon keluar terlebih dahulu. Dia memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

“Gomawo.” senyum Tiffany.

Taeyeon dan Tiffany mulai berjalan bersama menuju mall. Pertama membeli bahan dapur terlebih dahulu. Banyak yang harus Taeyeon beli. Setelah selesai, mereka pergi ke tempat pembayaran. Taeyeon meminta barang mereka dipaketkan, karena tidak mungkin Taeyeon membawa semuanya.

Setelah membayar dan menyerahkan alamat apartemennya, Taeyeon segera mengikuti kekasihnya yang akan menguras habis dompet dan tenaganya.

Mereka terus mengitari seluruh penjuru mall. Tentu saja dengan berpuluh-puluh belanjaan. Kaki Taeyeon sampai terasa pegal. Dia tidak mengeluh, demi kesenangan gadisnya.

“Woaah~ kyeopta. TaeTae belikan aku sepatu ini!” Mata Tiffany berbinar saat melihat sepatu bermerk dengan warna pink. Dia melihat sekilas harga sepatu tersebut. Dan hal itu membuatnya menelan ludah. Harga tersebut sama dengan harga ponsel keluaran terbaru.

“N-ne. Ambil saja.” ucap Taeyeon.

Tiffany makin tersenyum. Dia mengecup pipi Taeyeon dan membawa sepatu tersebut ke tempat pembayaran. Taeyeon menghela nafasnya pelan. “Hwaiting!”

Setelah empat jam berkeliling mall dan segudang belanjaan yang Tiffany peroleh, mereka berdua akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Taeyeon merasakan tangannya sudah mati rasa karena membawa barang belanjaan Tiffany yang banyaknya diluar nalar. Dia terus menyemangati dirinya sendiri dan terus mengikuti Tiffany dibelakang.

Saat menuruni eskalator, mata Taeyeon tak sengaja menangkap seorang gadis blonde yang tengah menaiki eskalator di sampingnya. Dia tidak terlalu mempedulikan hingga saat dia selesai menuruni eskalator, Taeyeon terhenyak. Gadis itu menjatuhkan semua belanjaan kekasihnya dan langsung berbalik. Menaiki eskalator dengan berlari. Dia tidak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya.

“Ahjumma! TaeTae!” teriak Tiffany dibawah namun Taeyeon tak menghiraukan kekasihnya.

Ada hal yang jauh lebih penting saat ini. Taeyeon berlari mencari gadis blonde sesaat setelah selesai menaiki eskalator. Taeyeon mengerang.

“Sial! Dimana kau, Kim Hyoyeon!” umpat Taeyeon dengan terus berlari mencari Hyoyeon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Satu chapter terselesaikan. Pffiuuh~

Chap ini gaada badai yes. Dan sorry kalo pendek kaya taeng #plak

Gw mau sedikit ngebacot gpp kali ya. Gw tau kalian pasti masih pada butthurt gegara berita sooseotiff leave SM. Gw jg sedih sih, bahkan nangis #bhakbukaaib. Tp mau gmna lagi, itu udh keputusan mrk. Sbg fans kita cuma bisa dukung, ye ngga?

Dan gw gak bakalan tutup wp ato berhenti nulis. Biarin taeny terus hidup di dunia fanfic walaupun di dunia nyata masih kabur atau ga jelas kabarnya.

Gw juga mohon bantuannya. Kalo semisal gw post fic bukan taeny jan pd nganggep gw gak cinta taeny lagi. Of course gw LS dan gak ada yg bisa nggantiin mrk di salah satu tempat yg khusus buat mrk di hati gw. Tapiii, nge-ship idol lain jg bukan dosa atau kesalahan kan? Gw suka eunxiao juga. Itu jauuh sebelum ada berita itu, jd gak ada kaitannya klo pda ngira gw selingkuh krna taeny gak produktif (?) lagi.

So guys how ’bout the story above? Komen juseyoo~ satu komen dr kalian sangat berharga bagi gue.

Last but not least, entsch bakal end ga nyampe dua puluh chapter. Dan kayak biasa, diupdate tiap minggu. Masih bnyak cerita taeny yg nangkring di kepala gw, makanya gw rampungin ini fic dulu baru bkin fic lain.

Okayy pupye~ see u next chap or fic~

Enterprischool (Chapter 7)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany menaikkan selimut untuk Taeyeon hingga sebahu. Dia menatap wajah polos kekasihnya yang tertidur sehabis mabuk. Mengecup keningnya lalu beranjak dari tempat Taeyeon dan menyalakan ponselnya. Dia harus memastikan ucapan Taeyeon saat mabuk tadi benar atau tidak. Gadis brunette mencari kontak Daddy nya dan mulai menghubunginya.

“Daddy!”

“Hey, Steph. Ada apa?”

Tiffany menelan ludahnya. “B- Benarkah Dad.. dy dipecat?”

Hening.

“Daddy?”

“Ahaha tak apa, Daddy bisa mencari pekerjaan lain, sayang.”

Tiffany meremas ponselnya. Wajahnya memerah. “Apa yang menyebabkan Daddy dipecat?”

“Aah itu hmm.. kontrak! Ya, kontrak Daddy dengan perusahaan habis.”

Bohong.

Tiffany tahu Daddy nya bohong. Itu tidak sama seperti apa yang Taeyeon bilang saat mabuk. Orang yang mabuk biasanya berkata jujur, benar?

“Mengapa tidak memperpanjang?” tanya Tiffany mengikuti alur kebohongan Daddy nya.

“Hmm itu p- perusahaan memberi Daddy waktu untuk memperpanjang t- tapi Daddy lupa dan D- Daddy tidak bisa memperpanjang lagi..”

“Arrasseo, Daddy. Lebih baik Daddy gunakan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.”

“Ne, Stephy. A- Annyeong.”

Tiffany tak membalas dan langsung menutup panggilannya.

Tiffany hendak naik keatas untuk berganti pakaian saat dia mendengar suara di ruang keamanan. Dia mulai masuk dan melihat komputer yang menampilkan sahabat kekasihnya baru saja memasuki apartemen. Dia menekan tombol mic dan berbicara.

“Unnie, Ahjumma. Ruang rahasia!”

Tiffany melihat Yuri, Sooyoung, dan Jessica berhenti berjalan dan mendengar pengumuman dari dirinya. Setelah itu mereka mulai menaiki tangga.

Tak lama untuk ketiganya memasuki ruang rahasia Taeyeon.

“Kau disini?” tanya Jessica seraya menurunkan tas tangannya di meja di dekatnya. “Dimana Taeyeon?” lanjut Jessica.

Tiffany menunjuk sofa di depannya dengan dagu, tepat dimana Taeyeon tengah tertidur.

“Tae Ahjumma habis mabuk…” ucap Tiffany. “…dan dia mengatakan semuanya.” lanjut Tiffany.

Ketiga sahabat Taeyeon menghela nafasnya.

“Maafkan kami. Itu pasti berat untukmu.” ucap Jessica. Yuri dan Sooyoung mengangguk mengiyakan.

Tiffany menggeleng. “Itu bukan salah kalian, bukan juga salah Ahjumma.” Tiffany menatap kekasihnya yang tertidur dengan damai.

“Kalian keberatan jika mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tiffany. Dia melihat ketiga orang di depannya diam.

“Please..” Tiffany memohon kali ini.

Yuri menatap kedua sahabatnya dan mengangguk. “Biarkan dia tahu masalah ini.”

Jessica menghela nafasnya lagi. “Lakukanlah.”

Setelah mengatakan semuanya, Tiffany merasa bersalah pada kekasihnya. Dia pasti merasa tertekan dengan ini semua. Tak terbanding dengan rasa tertekannya saat siswa di sekolahnya mengoloknya. Dia merasa menjadi kekasih yang tak berguna.

“TaeTae..” gumamnya seraya melihat Taeyeon yang masih tertidur.

“Aku tahu dia gadis yang tangguh. Kau tidak perlu khawatir. Pikirkanlah dirimu sendiri, Tiff. Sekali lagi kami meminta maaf karena menjadi penyebab Daddy mu dipecat.” ucap Jessica seraya mengusap bahu Tiffany.

Tiffany menggeleng. Dia menatap Jessica serius. “Kalian bilang Hyejin Unnie pernah mengatakan bahwa orang terdekat Taeyeon yang melakukan ini?”

Jessica mengerutkan keningnya lalu mengangguk.

“Kuncinya ada di Hyejin Unnie! Mengapa kalian tidak bertanya padanya?!”

“Kami juga ingin, Tiff. Tapi Hyejin entah dimana sekarang. Kami bahkan kesulitan mencarinya.”

Tiffany mengembuskan nafasnya kasar. Dia memijit pelan pelipisnya.

“Kita tunggu Taeyeon bangun. Dia bilang dia mencurigai seseorang dan kita berniat menyelidikinya.” kata Sooyoung.

***

Gadis kecil dengan rambut diikat kuda menatap danau luas di depannya dengan tatapan kosong. Tangannya memegang sebuah foto. Dia mengalihkan pandangannya ke arah foto. Percakapannya dengan Lee Eomonim terulang di kepalanya.

“Hyonie, kau ingin mendengar sesuatu?” tanya Lee Eomonim.

Hyoyeon yang terkenal sangat aktif dan selalu melemparkan lelucon untuk menyenangkan anak-anak lain langsung tersenyum dan mengangguk semangat.

“Sebenarnya kau memiliki saudara, Hyonie-ya..”

Senyum Hyoyeon langsung pudar seketika. “Saudara?”

Lee Eomonim menatap Hyoyeon lalu mengangguk.

“Suatu hari di musim panas, kau dan saudaramu ditemukan di depan panti bersama sepucuk surat dan perlengkapan bayi lain..” Lee Eomonim memberi jeda sejenak.

“Di surat tertulis namamu dan nama saudaramu. Ibu kalian meminta maaf karena menyerahkan kalian kemari dan juga.. mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Ibu kalian tak bisa mengurus kalian dan memilih bunuh diri seperti yang dijelaskan di surat..”

“Eomma..” gumam Hyoyeon. Matanya memerah.

Lee Eomonim menghapus airmata di pipi Hyoyeon dan tersenyum lemah.

“Tiga hari setelahnya, seorang pria kaya mengadopsi saudaramu.. tanpamu..”

Hyoyeon menghapus sisa airmatanya dan menatap Lee Eomonim. “Wae?”

Lee Eomonim menggeleng. “Pria itu mengatakan hanya ingin mengadopsi satu anak. Kami pada awalnya tidak mau, karena kalian pasti akan terpisah. Tapi pria itu terus memaksa hingga kami menyerah.”

Lee Eomonim mengambil sesuatu di tas nya. Sebuah foto. Dia menyerahkannya pada Hyoyeon.

“Itu saudaramu, Hyonie-ah. Eomonim ingin setelah kau pindah bersama orangtua barumu, kau mau mencari Unnie mu, karena dia adalah satu-satunya anggota keluargamu.”

Hyoyeon menggeleng. “Hyo tidak mau! Unnie meninggalkan Hyo. Untuk apa Hyo mencari Unnie?!”

“Saat itu kalian masih bayi, Hyonie. Unnie mu tak tahu apa-apa.”

Hyoyeon menangis. Dia tidak tahu harus senang atau marah mengetahui hal tersebut. Dia lalu berlari dari panti menuju danau yang terletak tidak jauh dari panti. Dia menatap kosong danau tersebut. Matanya beralih menatap foto yang diberikan Lee Eomonim tadi. Dia membalikkan foto tersebut dan melihat tulisan.

Kim Taeyeon & Kim Hyoyeon

 

Sebulan kemudian, Hyoyeon diadopsi sepasang suami isteri yang masih terlihat muda. Dari dandanan dan mobil yang mereka pakai, mereka bukanlah orang sembarangan.

Hyoyeon menunduk 90° dan tersenyum sopan. Pasangan tersebut tersenyum akan kesopanan Hyoyeon.

“Kau sangat sopan, nak. Siapa namamu?” tanya wanita di depannya.

“Kim Hyoyeon imnida.” Hyoyeon menunduk lagi.

“Ahh Hyoyeon-ah.. kami akan menjadi orangtuamu sebentar lagi.” ucap wanita tersebut dengan tersenyum.

“Ne, Lee Eomonim sudah mengatakannya kepada saya. Terimakasih karena mengadopsi saya.”

Kedua pasangan tersebut tersenyum dan mengangguk. Mereka pikir mereka telah menemukan anak yang tepat untuk mereka.

Hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah Hyoyeon lewati bersama keluarga kecilnya. Dia bahagia bisa merasakan bagaimana dicintai seorang Ibu dan Ayah seperti yang pernah diceritakan teman-temannya sewaktu kecil. Hyoyeon sekarang mulai memasuki sekolah menengah pertama.

Dia sedikit sedih mengetahui temannya sedari sekolah dasar tidak satu sekolah dengannya dikarenakan pindah kota. Dia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan tersenyum. Hari pertamanya sekolah harus berakhir menyenangkan.

“Hoi hoi hoi semangat Hyo!” Hyoyeon menyemangati dirinya sendiri.

Dia lalu turun dan melihat Appanya sudah mengenakan pakaian formal dan tengah sarapan.

“Eomma.. Appa..” Hyoyeon mengecup pipi Eomma dan Appa nya bergantian lalu mulai bergabung untuk sarapan.

“Kau siap untuk sekolah, kawan?” tanya Appa nya.

“Tentu saja, Appa!” senyum Hyoyeon.

“Baiklah. Habiskan sarapanmu lalu kita akan berangkat.”

Hyoyeon mengangguk dan menyelesaikan sarapannya.

Setelah selesai, Hyoyeon dan Appanya mulai memasuki mobil. Appa nya mengantarkan puterinya ke sekolah barunya terlebih dahulu.

“Belajar yang rajin, Hyonie.” kata Appa Park.

“Ne, Appa. Hyo berangkat. Annyeong.”

Setelah mengecup pipi Appanya, Hyoyeon mulai turun dari mobil. Di perjalanan menuju kelasnya, Hyoyeon melihat seorang laki-laki tengah dibully oleh beberapa anak, dia melihat satu perempuan diantara anak yang membully. Hyoyeon melihat perempuan tersebut seperti pemimpin geng.

Hyoyeon hendak mengacuhkannya namun dia terhenyak saat menyadari sesuatu. Dia segera membuka tasnya dan mengambil foto dari Lee Eomonim. Hyoyeon bergantian melihat foto dengan perempuan tadi. Meskipun di foto mereka masih bayi, tapi Hyoyeon melihat kemiripan diantaranya.

Hal tersebut makin mengejutkan Hyoyeon saat teman laki-laki perempuan tersebut memanggilnya.

“Taeyeon-ah, dia tak mempunyai apa-apa. Kita cari yang lain saja.”

Perempuan tersebut memutar bola matanya malas.

Hyoyeon sedikit yakin perempuan didepannya adalah Unnie nya. Maka dia harus memastikan hal itu.

“Kim Taeyeon!” teriak Hyoyeon. Geng tersebut menoleh ke arah Hyoyeon, terutama perempuan yang dipanggil Taeyeon tadi.

“Kau memanggilku?” tanyanya dengan menaikkan alisnya.

Hyoyeon mengangguk. Anak laki-laki yang tadi dibully menatap Hyoyeon dan menggeleng. Hyoyeon yakin Taeyeon adalah seorang brandal.

Taeyeon tertawa pelan. “Kau salah menyebutku. Aku..” Taeyeon menunjuk dirinya sendiri. “Han Taeyeon.. dan bukan Kim.” Dia lalu menatap Hyoyeon tajam.

Hyoyeon menyeringai. Dia lalu menggeleng. Dia tak takut dengan berandal-berandal semacam Taeyeon. “Kurasa kau adalah Kim.. Kim Taeyeon.. anak adopsi.”

Taeyeon melebarkan matanya karena terkejut. Dia mengeraskan rahangnya dan menatap Hyoyeon tajam. Teman laki-lakinya berbisik dibelakang Taeyeon. Hal itu membuat Taeyeon marah. Dia mendekati Hyoyeon dan meraih kerah seragam Hyoyeon.

“Siapa kau?!” desis Taeyeon.

Hyoyeon masih tetap tenang. “Ternyata benar kau Kim Taeyeon. Huh, aku tak menyangka kau seburuk ini.”

Hyoyeon melepas genggaman Taeyeon di kerahnya dengan kasar dan berjalan menjauh. Taeyeon hendak membalas Hyoyeon namun bel masuk berbunyi menghentikan langkahnya.

“Awas saja kau! Aku akan membalasmu!” teriak Taeyeon dan tak dihiraukan oleh Hyoyeon.

Seperti yang dikatakan Taeyeon, gadis itu benar-benar melakukan balas dendam. Dia selalu mengerjai Hyoyeon setiap hari. Namun gadis itu sama sekali tak peduli dan bersikap acuh. Satu yang diketahui Hyoyeon, rasa benci ke Taeyeon kian tumbuh. Meskipun dia yakin dan sadar Taeyeon adalah saudaranya, Unnienya, keluarganya, satu-satunya keluarga.

Hyoyeon memutar bola matanya malas saat melihat geng Taeyeon. Dia membalikkan tubuhnya tak ingin berurusan dengan Unnienya.

“Ya! Berhenti kau disana!”

Hyoyeon tak menghiraukan ucapan Taeyeon dan terus berjalan. Gadis berambut pendek mengerang. Dia menyuruh anak buahnya untuk mengejar Hyoyeon dan menariknya ke belakang sekolah. Hyoyeon tentu saja melawan. Namun tenaganya kalah kuat karena tiga orang laki-laki menyeretnya. Mereka mendudukan Hyoyeon dibawah pohon. Taeyeon berdiri berkacak pinggang disana.

“Kau tak mengindahkan ultimatumku untuk pindah dari sini, huh?!” Taeyeon menarik rambut Hyoyeon. Gadis yang lebih muda meringis.

“Siapa kau menyuruhku, huh? Sekolah ini bukan milikmu!”

Taeyeon makin kesal. Dia menarik rambut Hyoyeon dengan keras. Tentu saja Hyoyeon berteriak.

“Kau berani melawanku?”

Hyoyeon meringis. “Aku tak tahu setelah keluar dari panti akan seperti ini kelakuanmu, Kim Taeyeon.”

“Berhenti memanggilku Kim Taeyeon!” teriak Taeyeon.

Hyoyeon mendorong tubuh Taeyeon.

“Nyatanya kau memang Kim Taeyeon! Apa harta ayah angkatmu membuatmu seperti ini, hah?!”

Taeyeon membuka mulutnya. Dia melihat teman-temannya yang mulai menatap Taeyeon dengan tatapan berbeda. Dia menelan ludahnya. Dia tidak siap dan tidak mau rahasianya terbongkar disini. Di depan teman-temannya. Dia juga bingung bagaimana gadis yang baru ditemuinya mengetahui hal tersebut.

Hyoyeon mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia lalu melemparkan fotonya bersama Taeyeon tepat diwajahnya. Taeyeon mengambil foto tersebut dan terbelalak. Dia yakin bayi di foto tersebut adalah dirinya. Benar-benar mirip dengan beberapa foto bayinya yang ada di rumahnya. Dia melihat tulisan dibalik foto tersebut.

“Kim Taeyeon dan Kim Hyoyeon..” lirih Taeyeon.

Dia melihat kedepan, namun sudah tak menemukan Hyoyeon lagi. Dia berlari sekuat yang dia bisa untuk mencari Hyoyeon. Taeyeon melihat Hyoyeon yang masuk kedalam mobil. Dia juga sedikit melihat pria yang menjemputnya. Dia sedikit paham pria tersebut adalah Tuan Park, rekan bisnis Appanya.

Saat dia berlari ke arah mereka, mobil Tuan Park sudah melaju. Taeyeon terus berlari dan berteriak. Namun usahanya sia-sia. Kecepatan mobil tak sebanding dengan kecepatan larinya.

Hari selanjutnya, Taeyeon sudah tidak menemukan Hyoyeon di sekolah. Gurunya bilang Hyoyeon sudah pindah. Hal itu membuat Taeyeon menyesal. Dia berhutang penjelasan. Siapa Hyoyeon dan apa hubungannya dengannya?

Hingga Taeyeon tumbuh besar, dia sama sekali tak melihat Hyoyeon lagi. Dia sudah berusaha semampunya mencari Hyoyeon dan Tuan Park. Namun hasilnya sia-sia. Appa nya bilang Tuan Park pindah ke luar negeri dan tidak tahu tepatnya dimana. Appanya juga mengatakan mereka sudah lama lost contact.

Taeyeon merasa tak ada harapan lagi. Dia hanya ingin meminta maaf atas perbuatannya dan menanyakan hubungan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Another flashback everyone~

Kuharap kalian masih nungguin ini cerita.

So how bout the chapter above? Tell me tell mee~

Pupye~ see ya next chap or fic~

Enterprischool (Chapter 6)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Wajah Tiffany terus ia tundukkan mulai dari gadis itu duduk di depan Daddy-nya. Tangannya ia remas dibawah meja sesekali menggigit bibir bawahnya. Sedangkan disampingnya duduk, Taeyeon masih diam dengan menatap lurus kedepan, ke arah Daddy Tiffany. Tak dipungkiri dia kini juga gugup setengah mati. Pasalnya ini kali pertamanya bertemu langsung dengan Daddy Hwang.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi tadi, Steph?” Setelah cukup keheningan, Daddy Hwang bersuara.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. “S- Sebenarnya.. Taeyeon.. aku..”

“Tiffany adalah kekasih saya, Tuan Hwang.”

Tiffany menoleh ke arah sampingnya dengan terkejut. Sementara Daddy Hwang menatap tajam Taeyeon.

“Sejak kapan?” tanya Daddy Hwang dingin. Taeyeon berusaha sekuat mungkin agar tidak gugup dan memunculkan sisi percaya diri nya.

“Setahun yang lalu.” jawab Taeyeon.

Daddy Hwang memejamkan matanya dan memijat pelipisnya. Dia mengerang pelan karena puteri bungsu nya membuatnya pusing bukan main. Dia tidak melarang puterinya memiliki hubungan khusus dengan orang lain, tapi kenapa harus sesamanya? Dan lagipula wanita di depannya ini yang ia ketahui adalah direktur di sekolah puterinya. Usia mereka juga terpaut cukup jauh.

“Akhiri hubungan kalian.” ucap Daddy Hwang yang sukses membuat kedua wanita di depannya terkejut.

“Andwae! Stephy mencintai Taeyeon, Dad! Stephy tidak mau berpisah dengan Taeyeon!”

“Kau masih remaja, Steph. Daddy tahu kau masih bimbang menentukan dia benar-benar cintamu atau bukan.”

Tiffany menggeleng dengan cepat. “Bukan Stephy yang memilih hal ini terjadi, tapi hati Stephy, Dad. Stephy yakin Stephy benar-benar menyukai- ani- mencintai Taeyeon.”

“Maaf, Tuan Hwang. Tapi kami berdua saling mencintai. Ini tulus dari hati kami yang terdalam. Saya mohon berikan izin kepada kami.” tambah Taeyeon. Tiffany mengangguk mengiyakan.

Daddy Hwang menghela nafasnya kasar. “Ku berikan kau satu kesempatan. Tapi kalau aku melihat puteriku tersakiti karenamu. Aku tak segan-segan memisahkan kalian.” ucap Daddy Hwang pada akhirnya.

Kedua pasangan tersebut melengkungkan senyumnya.

“Thanks, Dad!”

“Terimakasih telah memberikan kesempatan, Tuan Hwang.”

 

Tiffany memainkan kancing piyama Taeyeon saat mereka kembali berbaring di ranjang Tiffany. Setelah sedikit tegang menghadapi Daddy nya, gadis itu merasa bebannya terangkat. Dia pikir Daddy nya tak akan memberikan mereka izin. Tapi ternyata tidak, dia bernafas lega karena itu.

“TaeTae, berjanjilah setelah ini kau akan terus bersamaku. Bahkan sampai tua sekalipun.” ucap Tiffany dengan mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon tertawa pelan. Dia mencubit hidung bangir kekasihnya. “Aku berjanji, sayang. Setelah kau lulus nanti aku akan menikahimu.”

“Aniya! Tunggu aku lulus kuliah.” Tiffany menepuk dada Taeyeon.

“Wae? Lebih cepat lebih baik, kan?”

“Lebih baik untukmu karena kau bisa bebas melakukan hal dengan tubuhku!” Tiffany mempoutkan bibirnya.

“Percaya padaku, itu sangat menyenangkan, sayang.” Taeyeon terkekeh pelan dengan ucapannya sendiri.

“Hentikan! Jangan membuatku cemburu pada mantan kekasih atau partner one night stand mu yang super banyak!” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi kekasihnya.

“Kau marah?” tanya Taeyeon pelan.

“Ne!”

Senyum liar mengembang di kedua bibir Taeyeon. Dia mencolek bahu Tiffany bermaksud menggodanya.

“Kalau marah mengapa menjawab pertanyaanku, hm?”

“Aaaa~ menyebalkan~ aku benci ahjumma!”

Taeyeon tertawa melihat tingkah kekasihnya. Dia kemudian memeluk Tiffany dari belakang dan mengecup lehernya, dilanjutkan ke pipinya.

“Saranghae, baby. Jalja~”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon memajukan wajahnya pada Tiffany dan mengecup ujung bibirnya. Kemudian mulai memejamkan matanya dengan tangannya yang masih memeluk pinggang kekasihnya. Tiffany tak bisa berbuat apa-apa tapi tersenyum. Dia membalikkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir Taeyeon dan menyamankan tubuhnya di pelukan gadisnya.

***

“Aku pulaaang~”

Taeyeon meletakan tas ranselnya ke sofa dengan pandangannya yang mengitari mansion megah tersebut.

“Nona muda. Anda pulang?” sapa salah satu butler di mansion itu.

Taeyeon mengangguk. “Dimana Appa?”

“Tuan sedang di taman belakang, nona muda.” jawab butler itu sopan.

“Arrasseo, aku akan kesana.”

Taeyeon berjalan santai ke belakang mansion megah milik Appa angkatnya. Dia jarang tinggal di mansion tersebut semenjak menjabat sebagai Presdir di perusahaan Appanya. Hal itu membuat Appa nya sedih, namun Taeyeon berjanji akan menginap beberapa malam setiap sebulan sekali. Seperti yang dilakukannya saat ini.

“Appa!” teriak Taeyeon dengan tersenyum. Meskipun bukan ayah kandungnya, namun Taeyeon sangat mencintai Appa nya itu.

“Taenggu~ Ya Tuhan, kau masih saja pendek, nak!”

“Ya Appa!” Taeyeon mengerucutkan bibirnya membuat sang Appa tertawa karenanya.

“Kemarilah. Peluk Appa mu ini.”

Taeyeon tersenyum dan berlari memeluk Appa nya.

“Bogoshippo, Appa.” kata Taeyeon di pelukan pria paruh baya tersebut.

“Nado, bocah tengil Appa.”

Taeyeon melepas pelukannya dan menatap tajam Appanya yang dengan santai menaikkan alisnya.

“Aku hampir 25 tahun asal Appa tahu.” Gadis imut melipat tangannya di depan dada dan mendengus.

“Bagi Appa kau masih Taeyeon kecil Appa. Sudahlah ayo kita masuk. Kau mau sup buatan Appa?”

“Call!” girang Taeyeon dan melompat menaiki punggung Appanya untuk digendong. Appa Han hanya bisa tertawa dan menggendong puterinya dengan berlari.

 

“Bagaimana pekerjaan?” tanya Appa Han saat mereka tengah makan malam bersama.

“So far so good. Hanya saja kemarin ada sedikit masalah di bagian bahan baku, tapi tenang saja, puteri Appa ini sangat handal menanganinya.” jawab Taeyeon dengan bangga.

“Baguslah. Itu baru puteri Appa. Lalu bagaimana dengan kekasihmu?”

Taeyeon tersenyum lebar saat Appanya menanyakan kekasihnya. Hanya memikirkan Tiffany saja mampu membuat perutnya berbunga-bunga.

“Kami baik-baik saja. Aku berencana menikahinya saat dia lulus nanti. Apa Appa tak keberatan?”

Appa Han sedikit berdehem karena tersedak. Dia meminum air putihnya sebelum berbicara. “Kau ini suka sekali mengejutkan Appa, ya? Ckckck kalau itu keputusanmu, Appa bisa apa, hm?”

Taeyeon menunjukkan senyum lebarnya lagi. Dia bangkit dan memutari meja kemudian duduk di samping Appanya dan memeluknya.

“Gomawo, Appa. Kau yang terbaik!”

Appa Han ikut tersenyum dan balas memeluk puteri kesayangannya.

***

Taeyeon menguap seraya meregangkan tubuhnya. Dia mengusap matanya kemudian meraih ponselnya yang mengganggu tidurnya dengan sedikit kesal. Hari ini dia berangkat sore hanya untuk memimpin rapat. Paginya bisa ia gunakan untuk tidur. Namun bunyi ponselnya kali ini membuatnya mengurungkan niatnya karena terlanjur kesal.

“Yeoboseyo!” teriak Taeyeon tanpa melihat ID Caller nya.

“Hey slow down, buddy!” ucap sebuah suara di seberang sana.

“Ada apa kau meneleponku pagi buta seperti ini, Soo?”

Terdengar helaan nafas di seberang sana.

“Daddy Tiffany dipecat.” 

“WHAT?!” Mata Taeyeon terbelalak. Rasa kantuknya hilang seketika.

“Aku baru dapat informasi tak lama tadi. Anakan JXK Corp, Doelim Inc memecat Tuan Hwang karena dituduh melakukan penggelapan dana dari klien dan jaksa agung. Kau bisa ke kantor kita sekarang? Sudah ada Sica dan Yul disini.” 

“Tunggu aku 30 menit, Soo.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon menutup telepon dan segera berlari ke kamar mandi kemudian bersiap.

Taeyeon turun dari tangga dengan tergesa. Dia melihat Appa nya tengah membaca koran di sofa. Dia tidak sempat mendekati ayahnya dan berjalan cepat ke arah pintu sebelum Appa nya menyadarinya.

“Hey, Taeng. Kau mau kemana?” tanya Appa Han.

“Kantorku. Ada sedikit masalah!” teriak Taeyeon sebelum pintu utama tertutup sempurna.

 

“Bagaimana bisa Tuan Hwang dipecat?!” tanya Taeyeon frustasi setibanya ia di kantornya.

Jessica menggeleng. “Mata-mata kita tidak tahu pasti. Tapi mereka sering melihat orang-orang JXK bolak-balik ke Doelim sebelum Tuan Hwang dipecat.”

“Jadi maksudmu mereka melakukan konspirasi untuk menjebak Tuan Hwang?”

“Kita tak tahu pasti, Taeng.” ujar Yuri lemah.

“Selidiki kasus ini. Aku yakin Tuan Hwang tidak pernah melakukan penggelapan dana. Setahuku beliau adalah orang yang sangat bertanggungjawab.” perintah Taeyeon.

“Tapi ini akan sedikit sulit, Taeng. Meskipun kita tidak tahu dalang dibalik semua ini, tapi yang jelas orang itu memiliki kekuasaan penuh dan dia bukan orang sembarangan.” kata Sooyoung.

“Sooyoung benar. Dan maaf mengatakan ini, tapi Tuan Hwang telah dicabut lisensi nya sebagai pengacara.” tambah Jessica.

“Ya Tuhan! Masalah apalagi ini?!” Taeyeon meremas rambutnya dan memejamkan matanya erat.

“Tapi, Taeng. Aku merasa bukan Young Woo dibalik ini semua. Kau tahu sendiri kan Young Woo tak memiliki saham sepeserpun di sekolah Fany? Tapi mengapa dia bisa mengambil alih posisimu? Yang kedua, perusahaan kecil milik Young Woo bisa merger dengan JXK Corp, itu adalah hal yang luarbiasa sekali. Perusahaan kita saja sangat sulit untuk merger dengan mereka.” Sooyoung mengutarakan pendapatnya.

“Jadi maksudmu ada seseorang yang mengendalikan Young Woo? Dengan kata lain menjadikan Young Woo sebagai boneka?” tanya Taeyeon.

Sooyoung mengangkat bahunya. “Who knows?”

Taeyeon tiba-tiba teringat perkataan Hyejin yang menyuruhnya berhati-hati dengan orang-orang terdekatnya. Dia menatap ketiga sahabatnya bergantian dengan intens kemudian menggeleng.

“Tidak! Tidak mungkin mereka! Lalu siapa lagi?” batin Taeyeon. Matanya terpejam berusaha berpikir.

Taeyeon terhenyak dan melebarkan matanya saat teringat sesuatu.

“Apakah Kim Hyoyeon?” tanyanya dalam diam.

***

Tiffany memainkan kakinya yang menggantung dibawah booth dan memakan eskrim nya dengan lahap. Setelah sekolah usai, Jun menawarinya berjalan-jalan sebentar di taman dan memakan eskrim disana. Tentu saja Tiffany langsung menerimanya. Dia menjadi ketularan Taeyeon yang sangat menggilai eskrim.

“Jun-ah, gomawooo~” ucap Tiffany dengan tersenyum.

“Terimakasih untuk?”

“Berkat kau, aku jadi tidak mendengar olokan atau ejekan lagi di sekolah.”

Jun tersenyum seraya mengacak rambut Tiffany.

“Sama-sama, babi kecil.”

Tiffany mengerucutkan bibirnya karena Jun memanggilnya babi kecil. Namun tak berlangsung lama. Dia mengangkat bahunya dan kembali memakan eskrimnya dengan lahap.

“Yah kau benar-benar seperti anak kecil. Lihat! Ada eskrim di sudut bibirmu.” ucap Jun dan sedikit berdecak.

“Dimana?” Tiffany mencoba membersihkan eskrim di sudut bibirnya namun selalu tak kena karena memang ia menjilatnya salah.

“Aish dasar babi kecil. Ikeo disini.” Jun mengusap sudut bibir Tiffany dengan ibu jarinya.

Tiba-tiba suasana menjadi hening dan canggung. Jun menatap lurus ke arah bola mata Tiffany, begitu juga sebaliknya. Seperti magnet, Jun mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany yang masih terdiam, tersesat di kedua bola mata Jun.

Saat berjarak satu senti lagi, tiba-tiba ponsel milik Tiffany berbunyi. Mereka segera menjauhkan wajah masing-masing karena tersadar. Tiffany sedikit berdehem sebelum mengangkat telepon.

“Ne ahjumma.”

“….”

“Arrasseo. Tunggu aku 15 menit.”

“….”

“Annyeong.”

Tiffany menutup panggilan dan meletakan ponselnya kedalam sakunya. Dia menatap Jun dengan sedikit meringis.

“Jun-ah bisa kau antar aku ke apartemen ahjumma?” pinta Tiffany.

Jun mengangguk. “Sure. Let’s go!”

Mereka berdua mulai menaiki motor sport hitan milik Jun dan segera meluncur menjauhi taman dekat sekolah mereka. Seperti yang dijanjikan Tiffany tadi, mereka sampai di apartemen Taeyeon lima belas menit kemudian. Tiffany turun dari motor Jun dan menyerahkan helm.

“Gomawo, Jun-ah.” ucap Tiffany dengan tersenyum. Jun juga ikut tersenyum.

“Aniyo. Humm, kalau begitu aku pamit dulu, Tiff. Annyeong.” Jun mengangkat tangan kanannya dan sedikit melambai ke arah Tiffany yang dibalas tawa oleh gadis brunette. Tiffany mengangguk dan ikut melambaikan tangannya.

“Hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan menyalakan motor sportnya. Kemudian berbalik menjauhi kawasan apartemen tersebut. Saat punggung Jun sudah tidak terlihat lagi, Tiffany berbalik dan berjalan menuju apartemen Taeyeon di lantai 3.

Setelah sampai, Tiffany membuka passkey apartemen Taeyeon yang dihapalnya diluar kepalanya kemudian masuk.

“Ahjumaa~ aku pulang~”

Tiffany meletakkan tas punggungnya di sofa dan bergerak mencari Taeyeon di sekitar apartemen.

“Fany-ah ruang rahasia.” Tiffany mendengar suara Taeyeon dari pengeras suara. Kekasihnya memang suka sekali mendesain sesuatu atau membuat sesuatu yang sama sekali tak terpikirkan olehnya.

Tiffany tak bisa berbuat apa selain menuruti perintah kekasihnya. Dia naik keatas tangga dan berjalan ke arah ruang aksesoris dan pakaian milik Taeyeon. Dia kemudian membuka lemari besar disana dan masuk kedalamnya lalu memencet tombol tersembunyi disana hingga munculah scanner. Dia menekan ibu jarinya dan lemari tersebut mulai bergerak ke bawah.

Setelah sampai dibawah atau di ruang rahasia milik Taeyeon, Tiffany mulai mencari Taeyeon.

“Kau sudah datang?” ucap sebuah suara di ruang bar.

Tiffany membalikkan tubuhnya dan mendekati Taeyeon disana. Dia melihat Taeyeon yang tengah meminum alkohol. Mata gadis yang lebih tua menyipit. Tiffany menghela nafasnya. Toleransi kekasihnya terhadap alkohol sangatlah minim. Hanya dengan tiga gelas saja mampu membuatnya mabuk. Tiffany merebut paksa gelas di tangan kekasihnya.

“Ahjumma hentikan! Kau sudah mabuk.”

“Kembalikan, Fany-ah. Aku menyuruhmu kesini untuk menemaniku mabuk.”

“Han Taeyeon!” teriak Tiffany. Jika gadis brunette sudah memanggil Taeyeon dengan marga Appa nya. Sudah dipastikan gadis itu benar-benar marah. Taeyeon sudah berjanji padanya untuk tidak mabuk lagi.

Kemudian Tiffany mendengar sebuah isakkan. Dia terkejut dan langsung memegang lengan kekasihnya.

“TaeTae m- mian..”

Taeyeon menggeleng. “Seharusnya aku yang minta maaf, Fany-ah. Karena aku Daddy mu harus kehilangan pekerjaannya.” ucap Taeyeon dengan menangis.

Tiffany membulatkan matanya. “MWO?!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Gue balikk hehew.

Gimana chapter tadi? Masalah baru lagi kan haha. Dann siapa yg penasaran sama Kim Hyoyeon? *tunjukjari

Hyo bakal jd cast baru. Yg penasaran sm doi sabarr, tunggu chap selanjutnya.

Okay. See u next chap~

Enterprischool (Chapter 5)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Tiffany berhasil menaklukan seorang Kim Taeyeon yang tengah merajuk, dengan syarat weekend nanti gadis itu harus berkencan dengannya non-stop, full 24 jam. Tiffany sedikit terlibat tawar menawar. Awalnya dia menawar 12 jam saja tanpa menginap. Namun Taeyeon keukeuh menginginkan Tiffany bersamanya 24 jam. Karena pertimbangan waktu yang bisa membuat Tiffany terlambat sekolah dan juga Jun yang menunggunya, gadis brunette terpaksa mengiyakan permintaan kekasihnya. Bagaikan mendapat ikan besar, Kim Taeyeon merubah bibir yang mengerucut kebawah menjadi melengkung ke atas, menunjukkan senyum dimple nya yang sangat disukai kekasihnya itu.

“Pilihan yang tepat, sayang. Aku ingin melanjutkan tidurku. Kau sekolahlah yang rajin, okay? Bye!”

Dengan itu, Taeyeon mengecup pipi Tiffany lalu menarik selimut dan kembali tertidur. Tiffany mendecakkan lidahnya, namun tersenyum setelah itu. Dia merapihkan selimut yang dipakai Taeyeon untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi, melakukan ritual biasa dan bersiap berangkat ke sekolah. Tentunya bersama Jun.

Sesampainya mereka di sekolah, seperti biasa Tiffany mendapat tatapan dan cibiran dari para siswa. Namun hal itu tak berlangsung lama setelah Jun memposisikan dirinya di samping gadis brunette. Orang-orang yang tadi mencibir Tiffany langsung kalap dan salah tingkah.

“Sudah kubilang tunggulah aku sebentar, Tiff.” kesal Jun.

Tiffany tak merespon ucapan Jun. Dia mengernyitkan keningnya karena merasa heran. Orang yang mencibirnya tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepalanya.

Tiffany menarik tangan Jun ke belakang dinding disamping sebuah ruangan yang tidak ada orang disana. Dia menatap Jun dengan wajah serius.

“Sebenarnya kau siapa?” tanya Tiffany.

“Aku? Choi Jun. Kau sudah tahu namaku, Tiff.” Jun menjawab dengan mengernyitkan dahinya.

Tiffany menggeleng. “Bukan itu. Apa kau orang penting disini? Mengapa semua orang menunduk saat melihatmu?”

Jun menaikkan satu alisnya kemudian tertawa pelan. “Aku bukan orang penting, Tiff.”

“Geojitmal! Tapi kenapa me-…”

Ucapan Tiffany terhenti saat ponselnya berbunyi. Dia merogoh ponselnya di saku dan membukanya.

Bagaimana bisa kau dekat dengan Choi Jun, Presiden Siswa?!

– Bora

Tiffany membelalak seusai membaca pesan dari sahabatnya. Dia menatap Jun yang mengerutkan keningnya.

“K- Kau P- Presiden Siswa?” tanya Tiffany terbata.

“Kenapa? Apa jika aku Presiden Siswa kau tidak mau berteman denganku?” tanya Jun sedih.

Tiffany mengusap wajahnya kasar dan menggeleng. “Aniya. Aku hanya merasa.. idiot. Bagaimana bisa aku tidak tahu siapa Presiden siswa di sekolahku sendiri?”

Jun terkekeh pelan dan mengacak rambut Tiffany. “Kau tak idiot, Tiffany. Lagipula baru sebulan aku menjadi Presiden siswa untuk mengganti Kevin Hyung yang pindah ke Canada.”

“Tetap saja aku merasa bodoh tak tahu kau sebelumnya.”

“Sudahlah. Yang terpenting sekarang kita sudah berteman. Kajja, sebentar lagi masuk.”

Tiffanya mengangguk dan mengikuti Jun di belakang.

***

Taeyeon melempar bola baseball ke arah dinding dan menangkapnya. Melempar kemudian menangkapnya. Dia terlalu bosan melihat setumpukan berkas dan layar komputernya yang menampilkan beberapa pekerjaannya. Dia ingin pergi keluar untuk menjernihkan pikirannya. Namun tubuhnya merasa sangat malas hanya untuk bangun dari kursi kebesarannya. Yang dia lakukan sekarang hanya bermain bola baseball yang tersimpan di laci mejanya. Tanpa berniat melakukan apapun.

Pintu ruangannya terbuka, namun Taeyeon tak peduli dan terus bermain dengan bolanya. Dia sudah tahu siapa yang masuk.

“Ada apa Sica-ah?” tanya Taeyeon tanpa berbalik melihat Jessica.

Taeyeon tak mendengar ada sahutan. Dia menaikkan satu alisnya dan berbalik. Betapa terkejutnya dia saat melihat bukan Jessica yang masuk ke ruangannya tetapi…

“Hyejin…” gumam Taeyeon.

Gadis itu masih diam dan menatap Taeyeon. Dia mendekat ke arahnya dan merebut bola baseball milik Taeyeon dengan cepat.

“Bukankah aku pernah mengatakan untuk bersikap profesional meskipun kantor ini milik Ayahmu?” Hyejin menatap tajam Taeyeon.

Taeyeon tak menjawab. Dia hanya menelan ludahnya kaku.

“Kau mendengarku, Kim?”

Taeyeon memejamkan matanya dan menggeleng. “Apa yang membuatmu kembali?”

“Kau.”

Singkat. Jelas. Dan cepat membuat Taeyeon menahan nafasnya.

“Aku sudah memiliki kekas-…”

“Aku tahu.”

Lagi-lagi Hyejin membalas ucapan Taeyeon cepat.

Hyejin tersenyum lemah. “Meskipun aku masih menyukaimu, bukan itu tujuanku kembali.”

Hyejin memutar kursi milik Taeyeon hingga berhadapan dengannya. Jantung Taeyeon berdegup kencang. Meskipun gadis mungil itu sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap mantan kekasihnya itu, tetapi Hyejin pernah menjadi orang yang paling membuatnya bahagia dan sedih disaat yang bersamaan. Mereka bahkan hampir menikah, namun Hyejin melakukan affair di belakang Taeyeon sebelum hal itu terjadi.

“Apa kau pedofil? Berpacaran dengan seorang bocah SMA. Cih yang benar saja.” Hyejin mendecih.

“Kalau kau kesini hanya untuk mengataiku. Pintu keluar terbuka untukmu.”

Hyejin tertawa pelan. “Aku hanya mengingatkanmu saja, Kim. Hati-hati dengan orang terdekatmu.”

Sebelum Taeyeon dapat berkomentar, Hyejin melenggang pergi dari ruangannya. Dia mengerutkan keningnya mencoba berpikir apa yang barusan Hyejin katakan. Taeyeon menyerah, dia sama sekali tidak memiliki ide mengenai apa yang mantan kekasihnya itu ucapkan sebelumnya.

***

Taeyeon bersama Jessica, Yuri, dan Sooyoung tengah makan siang bersama. Biasanya Jessica akan membawa makan siang ke ruang Taeyeon karena gadis imut itu tidak suka suasana kantin. Namun dibanding ruang kerja nya saat ini, kantin menjadi pilihan terbaik dibanding terus teringat ucapan Hyejin di ruangannya. Terlebih Yuri dan Sooyoung juga berkunjung ke kantornya.

“Kudengar Young Woo mengambil alih jabatanmu di sekolah Fany. Kau tak mengajukan keberatan akan itu, Taeng?” tanya Yuri.

“Mereka memiliki 70% lebih suara. Aku bisa berbuat apa?” jawab Taeyeon malas. Dia mengaduk-adukan float nya tanpa meminumnya.

“Bukankah Young Woo tak memiliki saham sepeser pun disana? Hanya kau dan Appa mu yang memiliki saham.” ucap Sooyoung heran.

“Aku tak mau mengambil pusing, Syoo.”

“Jamkkanmanyo!” ujar Jessica tiba-tiba.

Ketiga sahabatnya menoleh ke arah Jessica yang sibuk merogoh sakunya. Mulai dari saku didalam jas, hingga di kedua rok nya.

“Dimana aku meninggalkannya?” gumam Jessica dengan menggigit bibir bawahnya.

“Apa yang kau cari, Sica?” tanya Taeyeon.

Jessica terus merogoh sakunya dan tak mendapat apapun selain dompet dan kunci mobil. Gadis berambut brown mengerang dan memejamkan matanya kesal.

“Aku selesai. Ada yang harus ku kerjakan. Bye, all!” Jessica mengecup pipi Taeyeon sebelum berlari meninggalkan ketiga sahabatnya.

“Hey, kenapa hanya Taeyeon yang diberi kecupan?” teriak Sooyoung tak terima.

“Heish, ingat, Syoo. Mereka kenal dari bayi.”

“Tapi tetap saja. Kita juga dekat dengannya.”

Taeyeon menghela nafasnya melihat sahabatnya yang mulai bertingkah idiot. Hanya karena Jessica mengecupnya seorang, Sooyoung merasa tak terima.

“Kau mau ku kecup, Syoo?” tanya Taeyeon datar.

“No thanks, aku hanya mau dicium wanita dewasa.”

“Ya! Maksudmu aku bukan wanita dewasa, ha?”

Sooyoung mengangguk. “Kau bocah sekolah dasar.”

“Sialan kau, Soo.”

***

Malam harinya, Taeyeon pergi ke rumah kekasihnya dan berencana menginap. Daddy Tiffany masih memiliki pekerjaan dan akan kembali seminggu lagi. Maka dari itu dia berani menginap. Meskipun cukup lama menjalin hubungan, Daddy Tiffany sama sekali tak tahu menahu mengenai hubungan mereka. Itu adalah permintaan Tiffany. Dia baru siap mengatakan hal yang sebenarnya saat lulus sekolah.

Taeyeon menepikan mobilnya di depan gerbang rumah Tiffany. Dia melihat motor sport berwarna hitam yang familiar. Taeyeon ingat motor itu adalah motor milik pria yang diketahuinya bernama Jun, teman Tiffany. Secara perlahan rasa cemburu Taeyeon mulai berkembang. Dengan gerakan cepat gadis itu mulai memasuki rumah Tiffany.

“Fany-ah.. sayaaang~” teriak Taeyeon seraya berjalan memasuki rumah kekasihnya.

Taeyeon melihat Jun yang tengah menggendong Tiffany. Hal tersebut mengundang rasa cemburunya yang bertambah berkali lipat. Dia segera berlari ke arah dua manusia tersebut yang ingin menuju sofa.

“Fany-ah.. sayaang..” Taeyeon melepas genggaman Jun pada kekasihnya dengan kasar setelah berhasil mendudukannya di sofa.

“Tiffany tadi terpeleset di pantry dan kakinya sedikit memar, sajangnim.” ucap Jun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa menghiraukan ucapan Jun, Taeyeon berlari ke pantry untuk mengambil es batu beserta kain untuk kekasihnya. Dia membungkus es batu tersebut dengan kain dan menekannya ke lutut Tiffany yang memar.

“Aww. Sakit, TaeTae!”

“Gadis ceroboh! Sudah kubilang langsung lap air di lantai saat kau tak sengaja menumpahkan air!” ucap Taeyeon dengan wajah khawatir.

“Mianhae.” Tiffany menundukkan wajahnya.

“Dasar ceroboh! Kemarilah!” titah Taeyeon.

Tiffany mengerutkan keningnya tak paham. Taeyeon berdecak dan memeluk Tiffany dengan satu tangannya terus menekan luka memar kekasihnya.

“Lihat? Kau terluka sedikitpun sudah mengeluarkan keringat dingin. Biar kutebak kau pasti merasa pusing?”

Tiffany tak mau mengakui itu, namun ucapan Taeyeon benar. Ucapan kekasihnya selalu benar. Dia mengangguk kecil dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher kekasihnya. Tiffany merupakan gadis istimewa. Hanya luka kecil seperti itu selalu bisa membuat gadis itu berkeringat dingin dan pusing. Hal itu menjadi perhatian khusus bagi Taeyeon agar selalu melindunginya.

“Kau ingin aku mengambilkan obat?” tanya Taeyeon.

Tiffany menggeleng. “Cukup seperti ini saja, ahjumma.”

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk. Mereka melupakan kehadiran Jun disana yang menatap keduanya dengan tatapan takjub. Baru kali ini Jun melihat pasangan gay secara nyata di depannya tengah menunjukkan kasih sayang. Jun mengira pasangan tersebut hanya menginginkan seks seks dan seks seperti yang dilakukan oleh sepupunya yang gay, maka dari itu dia sedikit risih dengan pasangan sesama. Namun pemikirannya berubah mulai saat ini. Apa yang ditunjukkan Taeyeon dan Tiffany sangat menyentuh hatinya. Dia tidak mengira pasangan tersebut mampu menunjukan cinta bukan hanya dari pasangan normal lainnya. Bahkan Jun bisa menilai dengan matanya sendiri bahwa kedua wanita di depannya sangat mencintai satu sama lain. Cinta mereka benar-benar tulus.

“Uhm, Tiff. Kurasa aku harus pulang?” kata Jun sedikit canggung.

Tiffany tersadar kalau Jun masih berada di rumahnya.

“Ah mian. Gomawo sudah mengantarku, Jun.”

“Cheonma. Kalau begitu aku pamit dulu, Tiff, sajangnim. Annyeong.”

Setelah Jun benar-benar pergi, Taeyeon menggendong kekasihnya ala bridal style menuju kamarnya. Taeyeon membaringkan gadisnya dan menyelimutinya.

“Kau akan menginap disini kan, ahjumma?” Tiffany mencegat tangan Taeyeon yang akan pergi.

Taeyeon mengangguk. “Aku ingin mencuci muka ku dan berganti pakaian dulu.”

 

“Ahjumma.” panggil Tiffany. Mereka kini sudah berbaring di ranjang.

“Hm?”

“Kau mencintaiku, kan?” tanya Tiffany.

Taeyeon mengernyit dan menoleh ke arah gadisnya. “Tentu saja. Mengapa kau menanyakan hal itu?”

“Kalau begitu katakan kau mencintaiku.”

“Kau baik-baik saja kan, Miyoung?”

“Ahjumma~ lakukan saja apa yang kukatakan.”

Taeyeon menghela nafasnya. Dia memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah kekasihnya. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi gadisnya dengan lembut.

“Aku mencintaimu, Stephanie Hwang Miyoung. Sangat sangat mencintaimu hingga bahkan merasa sesak jika kau tak ada disisiku.” ucap Taeyeon seraya mengelus pipi kekasihnya dengan jempolnya.

“So cheesy! Aku saja tak pernah mendengar keluhanmu tentang sesak nafas saat kau dan aku berjauhan.” Tiffany menarik hidung Taeyeon gemas.

“Itu perumpamaan, sayang. Yang jelas hatiku milikmu. Kau juga mencintaiku, kan?” Taeyeon melepas jari Tiffany yang masih menarik hidungnya.

Tiffany mengangguk. “Tapi aku masih saja merasa heran. Mengapa aku bisa jatuh cinta pada gadis midget sepertimu?”

“Hey, aku memiliki sejuta pesona, kau tahu? Wanita straight saja langsung berubah menjadi gay saat melihatku.”

“Termasuk aku. Ahh, yang terpenting ahjumma milikku sekarang. Jaga matamu ini, okay? Aku tahu mereka suka sekali melihat butt sexy dimana-mana.” Tiffany mengusap kedua mata Taeyeon dengan pelan.

“Yes ma’am.” ujar Taeyeon patuh seperti anak kecil.

“Sekarang cium aku.” pinta Tiffany.

Taeyeon menaikkan alisnya. “Ini sudah malam Tiff. Aku tak mau lepas kendali.”

Tiffany menggeleng. “Hanya make out. Aku percaya kau mampu melakukannya tanpa melebihi batas. Aku percaya ahjumma mampu menjagaku.”

“Kau yakin, Fany-ah?”

“Aku percaya pada ahjumma.” Tiffany menunjukkan eyesmile nya.

Taeyeon menghela nafas dan memejamkan matanya sebelum menangkup kedua pipi Tiffanya.

“Berdo’a lah agar evil Taeyeon tidak keluar malam ini.”

Lalu Taeyeon mulai menempelkan bibirnya ke bibir milik kekasihnya. Mendiamkannya sebelum bergerak melumat dan menghisap. Taeyeon terus melakukan aktifitasnya sembari bergerak pelan memposisikan tubuhnya diatas tubuh Tiffany, menindihnya.

Tiffany mengerang dan memeluk leher Taeyeon, mengusap tengkuknya dan menekannya agar ciuman mereka semakin dalam. Taeyeon menjilat bibir Tiffany hingga membuatnya terbuka. Dengan cepat lidah Taeyeon memasuki mulut Tiffany dan menjelajah. Lidah mereka bertemu dan saling bergulat satu sama lain. Ini adalah ciuman basah kedua yang pernah mereka lakukan.

Ciuman Taeyeon turun ke rahang lalu ke leher jenjang kekasihnya. Tangan Taeyeon bergerak membuka kancing piyama Tiffany.

“Enghh.. Tae~” desah Tiffany saat lidah Taeyeon menjilat panjang lehernya kemudian menghisapnya.

Kancing piyama atas Tiffany sudah terbuka sepenuhnya, menampilkan bra berwarna pink nya. Taeyeon menurunkan ciumannya hingga ke belahan dada Tiffany yang masih tertutup bra.

“Ugh.. Taee~”

Tangan Taeyeon bergerak ke punggung polos Tiffany dan mencoba membuka bra nya. Setelah terbuka, Taeyeon segera menurunkan bra Tiffany dan langsung menyerbu kedua buah gundukan tersebut. Mulutnya menghisap payudara sebelah kiri Tiffany sedangkan tangan kirinya meremas payudara kanan Tiffany.

“Taeyeon aakhh~”

Tiffany menekan kepala Taeyeon agar semakin menghisap payudaranya dengan kuat. Remasan tangan Taeyeon juga semakin kuat. Dia memelintir puting Tiffany yang masih kecil.

Taeyeon kembali mencium bibir Tiffany dengan panas. Kedua tangannya terus meremas payudara Tiffany dengan bernafsu. Mungkin setelah ini ukuran bra nya akan bertambah.

Saat tengah menikmati sesi panas mereka, tiba-tiba pintu kamar Tiffany terbuka.

“Stephanie apa yang kau lakukan?!”

Mereka berdua tersentak dan menghentikan aktifitasnya. Taeyeon segera menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atas Tiffany.

“Daddy..” lirih Tiffany.

“Temui Daddy di depan.” ujar Daddy Hwang dingin. Kemudian berbalik dan pergi darisana.

Taeyeon menyadari perubahan air muka Tiffany yang merasa sedih, takut, dan khawatir. Taeyeon mengecup bibir Tiffany sekilas.

“Kita hadapi bersama-sama, hm?” ucap Taeyeon meyakinkan. Tiffany mengangguk lemah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

Entsch bakal diupdate seminggu sekali kalo ngga ada halangan kay.

How bout this chap? Komen juseyo~

See u next chap~

Enterprischool (Chapter 4)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

.

 

Taeyeon menatap kekasihnya dengan curiga. Semenjak gadis itu pulang dari sekolahnya, dia sama sekali tak berbicara dengannya dan langsung melenggang masuk ke kamarnya. Saat ditanya pun Tiffany hanya menjawab dia baik-baik saja. Tentu Taeyeon tak percaya. Dia tahu kekasihnya lebih dari apapun.

Taeyeon menarik bahu Tiffany yang ingin menghindarinya lagi.

“Miyoung-ah…” Taeyeon menatap mata gadisnya.

“Apa yang mereka lakukan padamu? Sebut siapa saja, aku akan memberi pelajaran kepada siapapun yang menyakitimu.”

Tiffany menggeleng dan melepas pegangan Taeyeon di bahunya.

“I’m fine. You don’t need to worry.”

“Why should I? You’re in trouble, I know it.”

“Taeyeon-ah, I’m okay. Really.”

Taeyeon mendesah. Dia tidak suka ini. Dia tidak suka saat Tiffany memanggilnya dengan nama Taeyeon dan bukannya pet name nya, atau Ahjumma, atau yang lain. Itu menandakan kalau kekasihnya memiliki masalah.

“Baiklah kalau kau tak mau bercerita. Aku akan menelepon Sica untuk memindahkanmu ke sekolah lain.” Taeyeon hendak menghubungi Jessica sebelum Tiffany mencegatnya.

“Don’t do that!”

Taeyeon tak menghiraukan ucapan Tiffany dan mulai menghubungi Jessica. Tiffany meraih ponsel Taeyeon dan membantingnya keras di lantai hingga casing dan baterai nya terlepas. Gadis imut itu membulatkan matanya tak percaya.

“Aku bilang jangan lakukan itu!” seru Tiffany.

“Kau berteriak padaku?” Taeyeon memicingkan matanya.

Tiffany menghela nafasnya. “Aku tak ingin berdebat, Taeyeon.”

“Tapi kau mencoba mengajakku berdebat, Tiffany.”

Taeyeon melihat ini semua mulai tak masuk akal. Seharusnya mereka bisa membicarakannya secara baik-baik.

“Aku ingin sendiri.” ucap Tiffany.

“Terserah. Aku akan mengurusi kepindahanmu besok.”

“Kim Taeyeon! Kau tak mendengarku?!” teriak Tiffany membuat Taeyeon mengeraskan rahangnya.

“Berteriaklah sepuasmu! Aku tidak akan merubah keputusanku apapun yang terjadi.”

Setelah mengatakan itu, Taeyeon mulai melangkah pergi. Namun sebelum itu, dia mendengar sebuah isakkan di belakangnya. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut. Taeyeon berbalik dan melihat Tiffany terduduk lemas di bawah dan menangis. Dia segera berlari dan meraih kekasihnya kedalam pelukannya.

“Fany-ah, m-mianhae. Jeongmal mianhae. Aku akan menarik perkata-…”

Tiffany menggeleng dengan masih terisak.

“Mereka mengataiku, memojokkanku, bahkan berdemo menuntut agar aku pindah…” Tiffany mendesah sebelum melanjutkan ucapannya. “Saat itu aku berpikir untuk pindah agar aku tak mendengar olokkan mereka lagi. Tapi…”

Tiffany mendongak, menatap wajah kekasihnya.

“Tapi aku tak bisa.”

“Wae?” tanya Taeyeon. Matanya masih terus menatap kekasihnya.

Tiffany berdiri dan melepas pelukkan Taeyeon.

“Kau mau kemana, Miyoung-ah?”

“Aku ingin tidur.”

Lagi-lagi Taeyeon menghela nafasnya.

***

Keesokan harinya, Taeyeon sudah tidak melihat Tiffany disampingnya tidur. Dia bangun dari tidurnya dan segera mencari gadisnya. Saat ingin membasahi kerongkongannya yang kering, dia melihat note kecil di pintu lemari pendingin. Dari Tiffany. Dia mengatakan pergi sekolah lebih awal dan sudah membuatkannya sarapan, Tiffany juga menuliskan dirinya akan pulang kerumah Daddy nya dan menyuruh Taeyeon agar tak mengkhawatirkannya, juga melarangnya untuk memindahkannya ke sekolah lain.

Hal itu membuat kepala Taeyeon terasa sakit. Dia mencoba menghiraukannya dan mulai berjalan ke arah kamar mandi setelah itu bersiap untuk pergi bekerja.

“Cari tahu siapa saja yang menyakiti Tiffany kemarin.” perintah Taeyeon pada Jessica sesampainya ia di kantornya.

Tanpa banyak berkata, Jessica mengangguk dan mulai keluar dari ruangan Taeyeon.

Tak butuh waktu lama untuk Jessica menyelesaikan tugasnya. Gadis itu kembali dengan map berwarna coklat ditangannya. Taeyeon segera meraih map tersebut dan membukanya. Ada beberapa foto dan juga daftar nama-nama orang yang berhasil Jessica kumpulkan yang mana kemarin telah menyakiti Tiffany.

“Kau yakin dengan itu, Taeng?” tanya Jessica membuang keformalannya.

“Kekasihku menderita karena mereka. Jadi ini balasan yang harus mereka dapatkan.” jawab Taeyeon dingin.

“Sebaiknya kau berhenti saja, Taenggu-ya.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Ini.” Jessica menunjuk apa yang tengah Taeyeon pegang dengan dagu nya. “Karena itu sia-sia.”

Taeyeon berdiri dari duduknya dengan kasar hingga kursi yang didudukinya terdorong lumayan jauh ke belakang.

“Menurutmu ini sia-sia, huh? Kau lupa aku direktur di sek-…”

“Not anymore!” sela Jessica dengan berteriak.

“Kau bukan direktur disana lagi, Taeyeon-ah. Young Woo sudah mengambil alih.”

Taeyeon membulatkan matanya, terkejut. “B-Bagaimana bisa?” tanyanya lirih.

“Aku juga tidak tahu. Para petinggi dan komite sepakat menggantimu dengan Young Woo.”

“Apa karena hubunganku dengan Tiffany?”

Jessica menggeleng lemah. Dia tidak memiliki ide untuk hal ini.

***

Tiffany duduk sendirian di atap gedung sekolahnya. Kakinya ia biarkan menggantung dibawah. Dia menghela nafas untuk yang kesekian kali. Meskipun orang-orang sudah tidak seganas kemarin dalam menghinanya, namun hal itu masih terus di dengarnya beberapa kali. Bora sudah mulai melunak, dia sudah merespon Tiffany walau hanya anggukan, gelengan, ataupun jawaban singkat. Meskipun begitu, Tiffany yakin itu akan terasa berbeda. Mereka tak mungkin lagi sedekat saat masih baru mengenal. Karena ada sekat yang terbangun diantara mereka.

Tiffany juga masih beruntung, disaat terburuknya ini, dia mendapat teman sebaik Juhyun. Meskipun gadis itu adalah juniornya, tapi Tiffany senang gadis itu bisa menenangkannya dengan sifat dan pemikiran dewasanya. Ditambah gadis bernama Im Yoon Ah, sahabat baik Seohyun. Gadis rusa itu mampu membuat Tiffany terhibur dengan tingkah konyolnya. Dia juga tak keberatan berteman dengan Tiffany yang memiliki hubungan tak wajar. Hal itu membuat Tiffany merasa lega.

“Kau tak takut jatuh?”

Tiffany tersentak mendengar suara asing di belakangnya. Dia berbalik dan melihat seorang pria tinggi dan good-looking berdiri disana.

“Nugu?” tanya Tiffany. Dia takut pria itu adalah salah satu dari hatersnya. Dia takut pria itu akan mendorongnya ke bawah.

Pria itu tertawa pelan. “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal yang ada di pikiranmu.”

Tiffany mengerutkan keningnya. Bagaimana dia tahu?

Pria itu duduk disamping Tiffany dan membiarkan kakinya menjuntai kebawah.

“Apa yang kau lakukan disini sendirian?” tanya pria itu.

“Kau tidak ikut menghinaku? Kau tidak merasa jijik denganku?” Tiffany balas bertanya.

Hal itu membuat pria disampingnya tertawa lagi. “Kenapa aku harus? Aku bukan mereka.”

Tiffany tersenyum lemah. “Aku berpikir akan sulit mencari teman di saat seperti ini.”

“Benarkah? Lalu bagaimana denganku? Kurasa aku sudah menjadi temanmu saat ini.” Pria itu berkata dengan percaya diri.

“Ahh ini mudah ternyata.” balas Tiffany dan itu membuat keduanya tertawa pelan.

“Jun… Choi Jun. Itu namaku.” ucap pria itu.

Tiffany mengangguk. “Aku tak perlu mengenalkan diriku karena kurasa kau sudah mengetahuinya?”

Jun memukul bahu Tiffany pelan. “Eyy, mana bisa begitu. Setidaknya anggap ini perkenalan normal antara dua orang asing.”

Tiffany terkekeh. “Arrasseo. Aku Tiffany Hwang. Senang bertemu denganmu, Jun.”

Jun tersenyum. “Tentu saja kau harus merasa senang bertemu denganku.”

“Kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi rupanya.” ejek Tiffany.

“That’s my middle name.” ucap Jun bangga dengan menepuk dadanya.

Tiffany tertawa dan menunjukkan eyesmile nya. “Kau lucu. Kurasa aku mulai menyukaimu sebagai teman.”

“Itu berita bagus.” sahut Jun dengan senyuman.

Saat keduanya asik mengobrol, tiba-tiba bel pulang berbunyi. Mereka sedikit terkejut akan itu.

“Benarkah kita melewati jam pelajaran terakhir disini?” tanya Jun.

“Kurasa iya.”

“Baguslah. Aku jadi tidak perlu repot bertemu Yoon ssaem.”

Tiffany tertawa untuk yang kesekian kalinya. Dia tahu Yoon ssaem terkenal menyebalkan dan killer. Hampir seluruh siswa membencinya.

“Ayo pulang! Biar ku antar.”

Tiffany menaikkan satu alisnya.

“Anggap saja sebagai salah satu kebaikan seorang teman baru?”

“Alasan diterima. Go!”

Jun tersenyum. “Okay. Go!”

Keduanya pulang dengan menaiki motor sport milik Jun. Tiffany mengarahkan Jun dimana rumahnya berada. Tinggal belokkan terakhir, mereka akhirnya sampai di depan gerbang rumah Tiffany.

Motor berhenti dan Tiffany mulai turun. Dia melepas helm yang dikenakannya dan menyerahkannya pada Jun.

“Thanks, Jun.” ucap Tiffany dengan tersenyum.

Namun Jun tidak membalas senyumannya. Hal itu membuat Tiffany bingung. Dia tersadar tatapan Jun bukan mengarah ke arahnya. Tiffany mengikuti arah pandang Jun dan melihat…

“Taeyeon.” gumam Tiffany.

Taeyeon berdiri menatap tajam keduanya di depan mobil mercedes nya.

“Aku pergi dulu, Tiff. Sampai jumpa besok.” ucap Jun pada akhirnya memecah keheningan dan kekakuan disana. Jun tahu gadis di depan sana adalah kekasih dari gadis yang baru saja dibonceng nya.

“Yeah, hati-hati di jalan.”

Jun mengangguk dan mulai memutar arah. Motornya melaju dengan kecepatan sedang hingga sosoknya tak terlihat lagi di mata Tiffany.

***

Hening.

Keduanya tak berniat membuka mulut.

Taeyeon yang biasanya terlihat tenang kini terlihat kesal. Anggap saja dia kekanakkan, dan nyatanya memang seperti itu. Dia tak bisa menahan perasaannya melihat kekasihnya tadi. Dia cemburu melihat Tiffany dengan pria lain.

Tiffany mendesah. Dia bangun dari sofa sebelum Taeyeon menarik tangannya hingga tubuhnya terjatuh di pangkuan Taeyeon.

Tanpa banyak berkata, Taeyeon mulai melumat bibir Tiffany dengan ganas. Tiffany mencoba melepas ciuman Taeyeon yang terkesan menyakitinya. Dia terus memukul bahu Taeyeon menyuruhnya berhenti. Namun Taeyeon tak peduli dan terus menciumnya kasar hingga bibir Tiffany berdarah. Taeyeon menumpahkan segala emosi nya dalam ciuman itu. Tiffany miliknya.

Hingga isakkan Tiffany terdengar, mampu membuat Taeyeon berhenti. Gadis itu melebarkan matanya, tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Tiffany menangis. Dia menampar pipi Taeyeon dan pergi darisana menuju kamarnya.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengepalkan buku-buku jarinya. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu! Dia tahu dia cemburu, dan dia berhasil termakan oleh rasa cemburunya. Kini Taeyeon menyesal.

Dia berdiri dan berlari menyusul kekasihnya ke kamar.

“Fany-ah buka pintunya. Kumohon, maafkan aku.”

Tak ada sahutan. Yang terdengar hanya isakkan. Hati Taeyeon sakit mendengar alasan Tiffany menangis adalah dirinya. Dia merasa menjadi kekasih yang buruk.

“Miyoung-ah sayaang. Kumohon buka pintunya. Maafkan TaeTae.”

“Miyoung-aah…” panggil Taeyeon lemah.

“Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Maka dari itu buka pintunya, sayaang.”

Tak ada respon. Taeyeon menggigit bibir bawahnya.

“Aku tak bermaksud, sayang. Kumohon maafkan aku.”

Taeyeon menyerah. Dia terduduk dibawah dengan bersandar pada dinding disamping pintu kamar kekasihnya, menunggu Tiffany membukanya. Karena lelah menunggu, Taeyeon mulai tertidur disana dengan membawa rasa penyesalan.

Tak lama setelah itu, Tiffany membuka pintu kamarnya. Dia mengira Taeyeon sudah pergi dari rumahnya, namun ternyata dia salah. Gadis itu tertidur disamping pintu kamarnya. Tiffany menggigit bibir bawahnya.

Tiffany berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taeyeon yang masih tertidur.

“Mianhae.” lirih Tiffany.

Tiffany berdiri dan masuk ke kamarnya lagi untuk mengambil selimut. Dia kembali dan mulai menyelimuti Taeyeon. Gadis itu juga duduk disamping kekasihnya dan mengamati wajah bayinya saat tertidur. Hingga tak terasa Tiffany mulai merasa mengantuk dan menyusul Taeyeon ke alam mimpi.

***

Jun menyalakan motor sportnya dan mulai berjalan keluar dari pekarangan rumahnya. Dia berniat menjemput Tiffany. Anggap saja dia berbaik hati menawarkan tumpangan pada gadis itu karena dia tahu sesampainya dia di sekolah, Tiffany pasti akan menerima pembullyan. Setidaknya dia ada disamping Tiffany dan berdiri membelanya nanti.

Jun memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Tiffany seperti sebelumnya. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat mobil mercedes putih yang diketahui milik Taeyeon masih bertengger disana.

Jun mencoba tidak mengambil pusing dan menekan bel disamping pagar.

Tak ada sahutan. Dia coba berkali-kali dan tetap tak ada Tiffany atau siapapun yang membuka gerbang. Dia mencoba iseng membuka gerbang dan ternyata tidak dikunci. Jun semakin bingung. Bagaimana bisa gerbang rumahnya tidak dikunci? Bagaimana jika orang jahat tahu?

Jun terus berjalan di pekarangan rumah Tiffany hingga pria itu sampai di depan pintu rumahnya. Jun mencoba iseng lagi membuka pintu rumahnya, dan sama seperti sebelumnya, pintu tersebut tak dikunci.

Jun menghela nafasnya melihat kecerobohan Tiffany terhadap rumahnya sendiri. Dia mulai memasuki rumah Tiffany yang terlihat sepi. Jun tidak bermaksud tak sopan, dia hanya berniat mengecek saja apakah Tiffany disana dalam keadaan baik atau tidak.

Jun terus mencari di sekeliling rumah tersebut. Karena tak berhasil menemukan seorang pun di lantai satu. Jun mencoba mencari di lantai dua. Betapa terkejutnya Jun saat melihat dua orang yang dikenalinya tertidur di depan pintu sebuah kamar. Jun mendekat ke arah mereka.

Sebenarnya posisi mereka terbilang cute dengan kepala Tiffany bersandar di bahu Taeyeon sedangkan kepala Taeyeon juga bersandar di puncak kepala Tiffany. Gadis Amerika itu juga memegang lengan Taeyeon erat seperti memegang bantal guling. Tapi karena Jun tak terbiasa melihat couple GXG itu jadi sedikit aneh baginya.

“Fany-ah.” panggil Jun mencoba membangunkan Tiffany.

“Tiffany..” Jun menggoyangkan bahu Tiffany.

Taeyeon yang sedikit sensitif dengan pergerakan mengerjapkan matanya sebelum terbuka sempurna. Dia melihat sekitar hingga mata itu bertemu dengan milik Jun.

“YA! SIAPA KAU?!” teriak Taeyeon membuat Tiffany terbangun.

Gadis itu mengerutkan keningnya dan melihat Jun di depannya.

“Jun? Bagaimana bisa kau masuk kesini?”

“Pintu gerbang dan pintu rumahmu tak terkunci. Itu berbahaya, Tiff.”

“Aku tanya siapa kau?!” kesal Taeyeon karena merasa terabaikan.

Tiffany mengelus lengan Taeyeon. Kekasihnya itu seperti bayi jika baru bangun tidur. Moodnya sedikit terganggu.

“Dia temanku, Tae.”

“Annyeonghaseyo, sajangnim.” Jun menyapa Taeyeon dengan membungkukkan badannya.

“Aku bukan sajangnim mu lagi.” gerutu Taeyeon.

“WHAT?! Apa maksudmu, TaeTae?” Tiffany dan Jun sama-sama terkejut.

Taeyeon mendesah malas dan memutar bola matanya. Dia bangkit dan berjalan ke kamar Tiffany untuk melanjutkan tidurnya. Jujur saja lehernya sakit karena tidur dengan duduk.

“Kau tunggulah di sofa depan, Jun. Aku akan mengurusi bayi besar itu dulu.”

Jun terkekeh pelan dan mengangguk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Hay hay hay gw kambek. Ini chapter buat perkenalan sm cast baru euhehehe. Chap besok masih berbadai-badai ria. Udh liat sedikit badai di chap ini kan? Lah chap selanjutnya lebih lebih kenceng lagi.

Okay, komen juseyo~

Pupye~ see u next chap~

U R My Hero

Title : U R My Hero

Main Cast : TaeNy

Genre : GXG

Length : Oneshoot

Author : N

.

.

.

“Taeyeon?”

Suara itu.

Taeyeon menolehkan wajahnya ke sumber suara. Dengan gerakan lambat disertai angin yang kebetulan menerpa dirinya lumayan kencang membuat dirinya seakan memancarkan kharisma tersendiri. Taeyeon mulai melihat seorang wanita sebayanya yang tingginya tak terpaut jauh darinya.

“Kau memanggilku?” tanya Taeyeon memastikan.

Wanita itu terlihat mengerutkan keningnya sejenak sebelum tawanya terdengar nyaring. Kini giliran Taeyeon yang mengerutkan keningnya. Taeyeon masih tetap diam menunggu wanita asing di depannya itu berhenti tertawa.

“Kau tidak mengenalku?” wanita itu mulai bertanya seusai menghentikan tawanya.

“Kurasa tidak.” Taeyeon membalas cepat. Karena tak ingin membuang waktu lebih banyak, Taeyeon berbalik meninggalkan wanita asing dihadapannya. Reflek, wanita tersebut menahan lengan Taeyeon.

“Tunggu!”

“Apalagi?” kesal Taeyeon. Dia sungguh tidak suka dengan orang asing yang sok kenal dengannya hanya karena orang tersebut tahu namanya. Terlebih dia dalam keadaan terburu-buru. Sepupunya baru tiba di Korea dan dia harus bergegas menjemputnya.

Wanita di depan Taeyeon menghela nafasnya. “Hwang Miyoung. Kau tak asing dengan nama itu?”

Taeyeon menaikkan satu alisnya. Dia menatap wanita itu dari bawah sampai atas, menilik penampilannya. Dia juga sedang berpikir, berusaha mengingat nama yang wanita dihadapannya katakan.

“Seingatku dia gadis yang sangat bodoh yang pernah kutemui. Sudahlah, aku sibuk.” Taeyeon melepas genggaman tangan wanita itu di lengannya untuk kemudian berjalan melanjutkan langkahnya.

“YAH AKU TAK BODOH!”

Wanita itu berteriak, namun Taeyeon tak peduli dan terus melanjutkan langkahnya. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama. Dia seperti tersadar akan sesuatu. Dengan gerakan cepat dia membalikkan direksi tubuhnya. Wanita yang menyapanya tadi masih diam ditempatnya berdiri.

“Kau bilang, ‘aku’ tadi? Kau…” Taeyeon mengernyitkan pandangannya seraya menunjuk wanita tersebut dengan telunjuknya.

“Wae? Kau sudah ingat denganku sekarang?” Wanita yang berdiri beberapa meter dari Taeyeon mengerucutkan bibirnya dengan berkacak pinggang.

“Unbelieveible.” gumam Taeyeon.

Dengan langkah ragu, Taeyeon mulai mendekati wanita tersebut yang masih menatapnya nanar. Dia menghentikan langkahnya saat jarak mereka terpaut satu meter.

“Kau kah si bodoh Miyoung? Aku tak percaya kau berubah sedrastis ini.” Taeyeon menggelengkan kepalanya dengan tatapan heran.

“Well, aku mulai memperbaiki diriku sendiri seusai tamat SMA. Jadi, seperti yang kau lihat sekarang ini. Apa aku sudah cukup sexy bagimu?” jelas Miyoung disertai sebuah pertanyaan di akhir kalimat.

“Bagiku kau tetap si bodoh Miyoung.” ujar Taeyeon yang segera dihadiahi tatapan tajam Miyoung. Sayang usahanya tak mempan untuk seorang Kim Taeyeon.

Tanpa berucap sepatah kata lagi, Taeyeon berjalan menjauhi Miyoung. Wanita yang lebih tinggi darinya hanya diam tanpa berniat menghentikan langkah Taeyeon. Dia menghela nafas pelan sebelum berbalik dan berjalan menjauh dari tempatnya.

***

Flashback

 

“Sudah ku katakan bukan aku pelakunya!” Miyoung berusaha meyakinkan Hwanhee yang terus saja menuduhnya.

“Kalau bukan kau siapa lagi? Disana hanya ada kau kemarin!”

Miyoung baru akan membuka mulutnya untuk membela dirinya saat sebuah bola kertas menghantam kepala Hwanhee.

“Ya! Siapa yang melakukan ini?!” teriak Hwanhee ke seluruh teman di kelasnya. Dia berdecak sebelum mengambil bola kertas tadi dan membukanya.

Raut wajah gadis itu seketika mengeras setelah membaca kertas tersebut. Hwanhee segera berlari keluar kelas dari pintu belakang, diikuti dua temannya yang tadi ikut melabrak Miyoung.

Tak lama setelah itu, Taeyeon masuk kedalam kelas dari pintu depan dengan wajah datar dan bosannya. Dia sedikit tersandung saat berjalan dan merutuk.

“Yaish siapa yang menaruh penghapus disini?!”

Taeyeon menendang penghapus tersebut dan berjalan lagi menuju bangkunya. Seperti biasa melakukan aktifitas wajibnya, yaitu tidur. Sedari tadi Miyoung terus saja menatap Taeyeon dari mulai gadis itu masuk ke kelas. Entah dorongan darimana, yang jelas Miyoung yakin, Taeyeon baru saja menolongnya tadi. Bola kertas tersebut pasti Taeyeon yang melemparnya dari luar.

Mulai saat itu, Miyoung terus saja mendekati Taeyeon. Dia menganggap Taeyeon adalah hero baginya. Selama itu pula Taeyeon terus menolak kehadiran Miyoung dan menganggapnya bodoh. Meskipun beribu-ribu kali Taeyeon menolaknya, Miyoung pantang menyerah. Dia percaya dengan segala kepercayaannya bahwa suatu saat nanti Taeyeon akan menerima kehadirannya. Setidaknya menganggap dirinya adalah temannya.

Perlu diketahui, walaupun dengan segala ke-masa bodoh-an Taeyeon terhadap sekelilingnya, gadis itu merupakan gadis cerdas. Tanpa belajar hingga suntuk pun gadis tersebut masih mampu mengerjakan soal serumit olimpiade. Berbanding terbalik dengan Miyoung, gadis itu merupakan gadis peringkat lima terakhir dari bawah. Wajar saja jika Taeyeon terus menyebutnya si bodoh Miyoung. Ditambah lagi Miyoung adalah gadis ceroboh. Meskipun kesal dengan kecerobohan Miyoung, rasa kemanusiaannya selalu saja muncul untuk menolong gadis tersebut.

Satu lagi yang menambah kesan keren di diri Taeyeon, gadis itu adalah gadis cantik, imut, dan tampan di waktu yang bersamaan. Sebab itu banyak namja dan yeoja di sekolahnya yang mengagumi Taeyeon. Hal ini justru berbanding terbalik lagi dengan Miyoung. Meskipun tak bisa dikatakan tak cantik, namun wajah cupu Miyoung membutakan kesan cantiknya. Ditambah perilaku Miyoung yang lugu lugu jalang. Tak heran banyak yang menyebutnya bodoh selain karena otaknya yang memang bodoh.

Sayangnya waktu Miyoung untuk terus berada di sisi Taeyeon harus terhenti. Daddy nya memilih pindah ke Amerika lagi karena beliau tak ingin terus terbayang mendiang isterinya di Korea. Banyak kenangan yang membuatnya kembali bersedih. Lagipula Daddy Miyoung ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik di Amerika dan gajinya cukup besar. Maka sejak itulah Miyoung memutuskan untuk pergi dan meninggalkan hero nya.

Miyoung sempat menangis dan nekat meminum alkohol di usianya yang belum legal karena ingin mabuk. Dan lagi-lagi Taeyeon harus membantunya pulang ke rumah dan menjelaskan semuanya kepada Daddy nya. Tapi saat Miyoung tersadar dari mabuknya semalam, dia merasa mengingat Taeyeon menciumnya mesra semalam. Saat menanyakan hal tersebut pada Taeyeon, gadis itu dengan wajah dinginnya, dengan tegas menyangkal. Tiffany menekukkan bibirnya kebawah. Dari ekspresi wajah Taeyeon sudah bisa ditebak dia tak berbohong. Dengan segala rasa kecewa dan patah hatinya, Tiffany meninggalkan Korea, juga meninggalkan hero nya, Kim Taeyeon.

***

Taeyeon termenung sendirian di kamarnya yang gelap. Hanya ada satu penerangan yaitu di lampu tidur disamping ranjangnya. Dan juga sedikit cahaya dari sinar bulan yang masuk di jendelanya yang sengaja ia buka. Di tangannya tergenggam sebuah foto lama yang mulai kusam dimakan usia.

Taeyeon mendengar pintu kamarnya berderit, menandakan seseorang baru saja membukanya. Tak lama kemudian, muncul sebuah kepala disusul dengan tubuhnya. Taeyeon sudah mengira sepupunya yang masuk. Dia segera meletakan foto lama tersebut di bawah bantal.

“Waeyo, Hyo?” tanya Taeyeon.

Hyoyeon mulai duduk disamping Taeyeon tanpa melihat sepupunya. Dia menerawang jauh kedepan sebelum menghela nafasnya. Hyoyeon merogoh saku celananya dan menyerahkan sesuatu di sakunya pada Taeyeon. Dengan tatapan bingung Taeyeon tetap menerima sesuatu dari Hyoyeon yang ternyata sebuah kertas berukuran kecil namun terlihat elegan.

“Datanglah, okay? Aku tahu sudah lima kalinya kau menolak datang kesana.” Hyoyeon angkat bicara.

Tanpa membuka kertas tersebut pun Taeyeon tahu apa isinya berdasarkan ucapan Hyoyeon. Wanita imut itu mendesah pelan dan melempar undangan tersebut di ranjangnya.

“Ayolah, Taeng. Teman-teman lain begitu merindukanmu asal kau tahu. Siapa yang tidak rindu dengan most wanted girl di sekolah kita dulu, huh?”

“Acara seperti itu sama sekali tidak penting. Hanya membuang-buang waktu.” ujar Taeyeon dengan wajah datar.

“Ugh, yang dikatakan Yejin benar. Bicara dengan Miss. Bossy Kim itu sulit!” gerutu Hyoyeon.

“Begini saja, kau datang di acara reuni sekolah kita dan mobil terbaruku akan kuberikan padamu dengan percuma, otte?”

Taeyeon sedikit menimang tawaran Hyoyeon padanya. Sebenarnya Taeyeon sudah lama mengincar mobil Hyoyeon sekarang ini. Namun karena kesibukkannya dalam bekerja membuatnya tak sempat membelinya, dan pada akhirnya mobil limited edition tersebut harus rela menjadi milik Hyoyeon yang membelinya lebih awal.

“Okay deal!” Taeyeon mengulurkan tangannya. Hyoyeon tersenyum puas sebelum meraih tangan Taeyeon dan menyalaminya.

“Deal!”

***

Tiffany berkali-kali menyeringai saat melihat tatapan memuja pria-pria yang dulunya selalu merendahkannya dan menganggapnya makhluk astral yang tak terlihat di sekolahnya dulu. Mereka akui Tiffany, atau yang mereka panggil Miyoung dulu telah bermetamorfosa menjadi wanita super cantik dan hot damn sexy. Tiffany tertawa keras dalam hati. Dia puas karena sudah lebih unggul dari mereka-mereka yang menganggapnya bukan siapa-siapa.

Ini adalah kali pertamanya datang ke acara reunian sekolah. Wajar jika semua orang disana takjub dengan penampilan berbeda dari Tiffany. Hal itu membuat Tiffany bangga. Namun kesenangannya harus terhenti saat melihat seorang wanita yang- kalau boleh jujur -telah mencuri hatinya semenjak SMA dulu.

Tiffany melihat Taeyeon yang berkali-kali mendesah bosan dan memutar bola matanya malas. Di tangannya, segelas tequilla menemaninya dari riuh pesta. Sesekali menyesapnya. Tiffany terus menatap pergerakan kecil Taeyeon tanpa bosan hingga mata itu bertemu pandang dengan miliknya.

Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, Tiffany mulai melangkahkan kakinya mendekati Taeyeon. Wanita imut itu tetap diam di tempat dengan kedua matanya yang terus menatap lekat mata Tiffany. Setelah berada pada jarak yang cukup dekat dengan Taeyeon, Tiffany tersenyum manis.

“Kita bertemu lagi, TaeTae.”

Sebisa mungkin Tiffany berusaha menutupi debaran jantungnya yang siap copot kapan saja. Dia ingin Taeyeon menghapus segala image bodohnya dulu dan digantikan dengan image dewasa dan sexy seperti yang teman-teman lain katakan padanya.

“Jika kau ingin aku merubah image bodohmu itu  dengan apa yang aku lihat sekarang, jangan harap. Kau. Tetap. Si bodoh. Miyoung.” ucap Taeyeon dengan menegaskan kata-kata terakhirnya.

Tiffany terkejut dengan ucapan Taeyeon barusan yang seperti membaca pikirannya. Dia mengeraskan rahangnya dan menarik kerah kemeja Taeyeon hingga hidung mereka bersentuhan. Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini Taeyeon juga sangat gugup. Kalau boleh jujur, dia sedikit terpana dengan penampilan Tiffany sekarang. Tapi Kim Taeyeon tetaplah Kim Taeyeon. Harga diri dia letakkan setinggi yang ia bisa.

Tanpa banyak berkata, Tiffany segera menyambar bibir Taeyeon yang sedari dulu ingin dia rasakan. Tentu saja Taeyeon terkejut. Dia berusaha melepas ciuman Tiffany. Dengan sedikit kasar Taeyeon berhasil melepaskan ciuman Tiffany.

“Apa yang kau lakukan, hah?!”

“Apa kau tak tertarik dengan tubuhku?” Tiffany balas bertanya.

“Jangan gila, Miyoung!”

“Yeah, aku gila! Aku gila karena menyukai manusia yang selalu menyebutku bodoh!” Tiffany berteriak frustasi.

Taeyeon melirik sekilas ke arah teman-temannya yang mulai memperhatikan mereka berdua. Dia memejamkan matanya dan mendesah pelan. Taeyeon menarik tangan Tiffany untuk keluar dari pesta. Mereka sampai di tempat parkir dan memasukkan Tiffany kedalam mobilnya.

Mereka berdua terus diam tanpa berniat melakukan sesuatu atau berbicara. Taeyeon berdecak dan mulai menghidupkan mobilnya. Dia lalu melajukan mobilnya keluar dari tempat acara reunian berlangsung.

“Yang tadi, lupakan saja.” Tiffany akhirnya berbicara setelah mereka sudah lumayan jauh meninggalkan gedung pesta.

Taeyeon tak berniat membalas ucapan Tiffany dan tetap fokus menyetir.

“Antarkan aku ke hotel.” kata Tiffany sekali lagi.

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Untuk apa? Kau tidak memiliki apartemen disini?”

“Taeyeon… tidurlah denganku.”

Taeyeon menginjak rem kuat-kuat, membuat tubuh mereka terpental kedepan. Terimakasih kepada sabuk pengaman yang bisa menahan mereka.

“Selain bodoh sekarang kau menjadi tak waras, Miyoung!”

“Kita sama-sama dewasa. Jadi apa salahnya melakukan itu? Kau juga harus perlu mengeluarkan hormonmu. Aku tahu kau juga tergoda dengan tubuhku tadi. Jangan kau kira aku tak melihatmu menelan ludah saat melihat tubuhku.”

Taeyeon memegang setir dengan erat. Wajahnya mengeras. Dia menghentikan mobilnya dan menepi ke tepi jalan.

“Fine! Seperti yang kau bilang tadi. Kita melakukan ini karena sama-sama dewasa.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh ke hotel terdekat dari tempatnya. Tiffany menyeringai dalam diamnya.

Mereka akhirnya sampai di hotel yang Taeyeon tahu adalah milik salah satu rekan bisnisnya. Setelah selesai check-in, wanita itu segera membawa Tiffany ke kamar hotel.

“Begitu tak sabarnya, huh?” ejek Tiffany saat mereka sampai di kamar mereka.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Miyoung yang dikenalnya dulu benar-benar berbeda dengan Miyoung sekarang.

“Kau yang menggodaku terlebih dahulu.” Taeyeon mendorong tubuh Tiffany ke ranjang dan segera menerjang bibir pink kissable nya. Tiffany tersenyum dalam ciumannya. Tangannya ia kalungkan di leher Taeyeon dan mendekapnya semakin erat.

Taeyeon memagut bibir bawah Tiffany. Sesekali menariknya masuk kedalam mulutnya. Dia mulai menggunakan lidahnya untuk menjilat bibir Tiffany, membuat wanita blasteran itu mendesah. Tiffany terus menekan kepala Taeyeon agar memperdalam ciumannya. Tanpa ragu Tiffany membuka mulutnya membiarkan lidah Taeyeon mengeksplorasi mulutnya.

“Aaaah~” erang Tiffany saat lidah Taeyeon menjilati langit-langit mulutnya lalu mengajak lidahnya menari bersama. Dengan mutlak, Tiffany mengatakan Taeyeon adalah pencium yang hebat.

Tak sampai disitu, Taeyeon beralih menciumi pipi, rahang, dan leher jenjangnya. Terus menjilat dibagian bawah rahangnya seperti menjilat eskrim. Tak lupa menggigit dan menghisapnya, membuat tanda kepemilikan.

“Taeyeonaaahh aaahss~” Tiffany menarik rambut Taeyeon saat wanita itu mulai meremas payudaranya yang masih terbungkus gaun.

Taeyeon kembali mencium bibir Tiffany dengan panas. Seakan hidup dan matinya bergantung darisana. Setelah nafas mereka tersengal karena kehabisan oksigen, Taeyeon melepasnya. Dia menatap wanita dibawahnya. Tiffany melihat mata Taeyeon yang sudah menghitam dikuasai nafsu. Dia tersenyum dalam hati. Setidaknya Taeyeon tak menolaknya saat dia meminta bercinta. Tiffany merasakan tubuhnya sedikit tertarik keatas. Taeyeon telah merobek gaunnya dengan sangat mudah, membiarkan kedua buah payudaranya terekspos jelas. Tak butuh waktu lama untuk Taeyeon menyerang payudaranya dengan mulutnya dan satu tangannya.

“Aaaahss Ttaaaeee~”

***

Flashback

 

Taeyeon baru saja akan memakan ramyun nya setelah selesai memasaknya, saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dia melihat nama ‘Si bodoh Miyoung’ disana. Dia menghela nafas kasar sebelum membuka ponselnya dan mengangkat telfon.

“Wae?”

“TaeTae hiks~ tolong aku hiks~”

Taeyeon menyatukan alisnya. “Ada apa?”

“Ke bukit biasa kumohon hiks~” 

Setelah selesai mengatakan itu, Miyoung mematikan sambungan teleponnya. Taeyeon memukul meja dan mengerang frustasi. Dia mengacak rambutnya kesal dengan tatapannya yang masih tertuju pada ramyun nya.

Dengan mengerucutkan bibirnya, Taeyeon meninggalkan ramyun kesayangannya dan mulai pergi dari rumah menyusul Miyoung. Padahal dia belum menyentuhnya sama sekali. Ramyun yang malang.

 

“Ya! Bodoh!” teriak Taeyeon saat sudah sampai di bukit yang biasa mereka- sebenarnya Miyoung yang memaksa Taeyeon -kunjungi.

“Kali ini apalagi?” lanjut Taeyeon.

Miyoung menarik ingusnya dan menghapus airmatanya sebelum berlari mendekati Taeyeon dan memeluknya erat. Gadis itu kembali menangis lagi di pelukan Taeyeon.

“Yah yah yah yah.” Tubuh Taeyeon kaku saat Miyoung memeluknya. Dia juga merasa canggung.

“Hwaaa TaeTae.. Miyeon hiks~ Miyeon meninggal hwaaa~”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Miyeon.. kucingmu?”

Tiffany mengangguk, masih sesenggukan di ceruk leher Taeyeon. Sebenarnya Taeyeon merasa geli dan panas saat merasa hembusan nafas Miyoung menerpa lehernya. Sebisa mungkin dia menahan dirinya agar tak lepas kendali. Jujur Taeyeon sedikit tertarik dengan Miyoung. Kebodohan dan keluguan Miyoung menjadi hiburan tersendiri bagi Taeyeon.

“Hei berhenti menangis.” Namun Miyoung sama sekali tak memghiraukan ucapan Taeyeon dan terus menangis.

Taeyeon berdecak. Dia membalikan tubuh Miyoung. Tangan kirinya dia tempatkan di belakang lehernya, sedangkan tangan kanannya mengangkat belakang lutut Miyoung. Taeyeon menggendong Miyoung ala bridal style.

“Kyaaaaa~” Miyoung berteriak. Tangannya dengan reflek dia kalungkan di leher Taeyeon.

Setelah berhasil mengangkat tubuh Miyoung, Taeyeon membawanya naik sedikit tepat diatas bukit dan menidurkannya di rerumputan hijau.

“Lebih baik kau tidur saja. Wajahmu terlihat sangat jelek saat menangis” kata Taeyeon.

“Tapi…”

“Diamlah. Aku akan menunggu disini. Cepat tidur dan berhenti menangis.” Taeyeon duduk memunggungi Miyoung. Sesuai perintah Taeyeon, Miyoung segera pergi ke alam mimpi. Karena terlalu lama menangis Miyoung jadi sedikit mengantuk dan dengan cepat tertidur.

Taeyeon menolehkan wajahnya kebelakang. Dia melihat Miyoung yang sudah terlelap. Senyum kecil mengembang di kedua bibirnya. Dia terus menatap wajah Miyoung tanpa bosan. Disaat seperti inilah dia bisa memandang wajah polos Miyoung dengan puas. Taeyeon mengusap surai rambut Miyoung dengan lembut. Taeyeon akui Miyoung memiliki wajah cantik yang alami saat tertidur. Tapi entah mengapa saat gadis itu membuka matanya, kesan cantiknya lenyap seketika.

Taeyeon mendekatkan wajahnya ke wajah Miyoung. Matanya terus menatap bibir Miyoung tanpa berkedip. Dengan sangat perlahan Taeyeon mengecup bibir Miyoung. Mendiamkannya lama sebelum bergerak melumatnya. Miyoung masih tertidur pulas, itu membuat Taeyeon bernafas lega. Setelah puas mencium bibir Miyoung, Taeyeon melepasnya.

“Saranghae.”

***

Tiffany mengerjapkan matanya. Dia mengerutkan keningnya karena merasa dingin. Dia lalu tersadar bahwa dia tak mengenakan sehelai benang pun. Tiffany melihat Taeyeon yang masih terlelap dengan memeluk pinggangnya protektif. Dia tersenyum dan mengecup bibir Taeyeon sekilas, membuat wanita imut itu merasa terganggu dan mulai mengerjapkan matanya.

Mata mereka bertemu. Tiffany tersenyum manis menyambutnya. “Morning, TaeTae.”

Taeyeon tersadar. Dia melebarkan matanya dan melepas pelukannya di pinggang Tiffany, membuat selimutnya tersibak dan menampilkan tubuh polosnya bagian atas. Taeyeon berteriak seraya menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Karena terlalu kuat menarik selimut, membuat tubuh polos Tiffany terlihat. Taeyeon berteriak lagi dan dengan gugup menutupi tubuh Tiffany. Tiffany tertawa pelan melihat tingkah Taeyeon. Dia menarik tubuh Taeyeon dan memeluknya. Payudara mereka bersentuhan membuat Taeyeon menelan ludahnya gugup.

“Santai saja, TaeTae. Kau tak ingat semalam? Kau begitu buas memakanku.”

“M- Miyoung, a- aku harus b- bekerja.”

“Baiklah kalau begitu. Mari mandi bersama.”

Belum sempat berkomentar, Tiffany sudah menariknya masuk kedalam kamar mandi. Taeyeon lagi-lagi menelan ludahnya dengan gugup.

 

Tiffany terkekeh pelan saat melihat wajah Taeyeon yang memerah bak kepiting rebus. Dia menggelengkan kepalanya heran karena Taeyeon mampu menahan hormonnya saat mereka mandi bersama. Padahal Tiffany sudah berkali-kali menggodanya.

Mereka saat ini tengah menunggu pesanan baju mereka karena baju yang dikenakannya semalam sudah tak terbentuk lagi.

“Taeyeon-ah, ingin mengulang kejadian semalam?” goda Tiffany dengan sedikit membuka belahan piyama handuknya di bagian dada. Taeyeon menggeleng gugup.

“Wae? Aku tahu sejak SMA kau menyukaiku.” Tiffany mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon menaikkan satu alisnya. Sepertinya icy personality nya telah kembali. Taeyeon tertawa sinis mendengar pernyataan Tiffany barusan.

“Kau sungguh memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi Ms. Hwang.”

Tiffany mengerutkan keningnya. “Oh yeah? Bagaimana kalau yang kukatakan tadi itu adalah fakta? Aku dengan jelas ingat saat di bukit dulu kau mencium bibirku saat aku tertidur dan mengatakan saranghae. Juga saat aku mabuk sebelum pindah. Jangan kau kira aku tak tahu kau selalu menolongku saat geng Hwanhee membullyku atau teman-teman lain. TaeTae bagiku kau seperti hero. Kau datang untuk menyelamatkanku tanpa menunjukkan wajah aslimu karena harga dirimu yang tinggi itu! Persetan dengan harga diri!”

Taeyeon menelan ludahnya mendengar penuturan Tiffany. Dia tiba-tiba merasa speechless, tak tahu harus berbicara apa lagi. Tiffany melangkah maju mendekati Taeyeon. Dia memegang erat kedua bahunya.

“Kau jahat! Kau kira dengan berpisah selama sepuluh tahun ini mampu mengikis perasaanmu padaku? Juga perasaanku padamu, huh?” Tiffany menatap sendu kedalam mata Taeyeon.

“K- kau.. apa?”

“Ya. Aku juga mencintaimu.” tegas Tiffany membuat Taeyeon terlonjak kaget. Tiffany tersenyum miring.

“Sebenarnya yang bodoh disini itu kau! Bagaimana bisa kau tidak peka dengan perasaanku? Jelas-jelas aku selalu mengikutimu kemanapun, melakukan apa yang kau suruh, dan terus saja mendekatimu meski berkali-kali kau tolak. Kim Taeyeon, pabo!”

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar dan menatap tajam. Dia tidak suka saat seseorang menyebutnya bodoh. Yang benar saja! Taeyeon adalah siswa tercerdas di SMA nya dulu dan mahasiswa terjenius yang pernah dimiliki Universitasnya.

“Geurae. Aku tak suka berbasa-basi kalau begitu.” ucap Taeyeon yang membuat Tiffany bingung. Taeyeon menyeringai pelan.

“Tiffany Hwang Miyoung, I’ll ask you this question. Please say yes or yes of course!”

Tiffany mengerutkan keningnya karena ucapan Taeyeon. Yang benar saja, yes dan yes of course tidak ada bedanya!

Perkataan Taeyeon selanjutnya dengan sangat sangat mengejutkan terlontar dari mulutnya. Tiffany sampai kehilangan kewarasannya sesaat saat Taeyeon mengatakan…

“Marry me?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OS buat selingan fic series..

Biasanya gw apdet series pas weekend tuh. Berhubung ni weekend gw rada sibuk dan ga sempet nulis, gw kasih oneshoot dulu yg udah lama kesimpen di draft. Entsch minggu depan di post insyaallah.

So how bout the story above?

Komen juseyo~

Pupye~ see u next fic~

Enterprischool (Chapter 3)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N/JRH

.

.

.

.

.

.

 

Tiffany menatap heran kekasihnya. Dia menemukan hal-hal aneh pada kekasihnya setelah pulang dari apartemen Jessica. Pertama, Taeyeon hampir menabrak salah satu pejalan kaki dalam perjalanan pulang. Kedua, Taeyeon bahkan mencoba membuka pintu apartemen yang tak bisa dibukanya, padahal dia harusnya menekan password terlebih dahulu. Ketiga, Taeyeon menawarinya makanan China yang dia tahu Tiffany sangat membencinya. Keempat, Taeyeon seringkali melamun dan tak mendengarkan ceritanya. Kelima, Taeyeon sama sekali tidak mencium kening dan bibirnya dan mengucapkan selamat malam sebelum tidur. Padahal sudah kebiasaannya untuk melakukan hal tersebut. Terakhir yang membuat Tiffany makin heran, Taeyeon menyuruhnya untuk absen sekolah.

What the hell.

Taeyeon sendiri yang selalu menyuruhnya belajar dan tidak boleh bolos kecuali sedang sakit.

“Ahjumma, aku harus berangkat. Aku sudah bolos kemarin, ingat?”

“Ani, Fany-ah. Sekolah itu milikku. Aku bebas melakukan apa saja termasuk kau. Temani aku hari ini.”

“Kau kan harus bekerja juga, ahjumma.”

“Tidak tidak. Aku ingin libur hari ini.”

“Ahjumma! Kau ini kenapa, sih?”

“Aku? Aku tak apa-apa. Wae?”

Tiffany menatap Taeyeon yang menunjukkan wajah polosnya. Dia menutup mata dan menghela nafasnya.

“Apa yang membuatmu menyuruhku untuk absen? Apakah kemarin Kang ssaem tahu aku bolos?” tanya Tiffany.

Taeyeon mengerjapkan matanya dan mengangguk. “Eo-eoh.. m-maka dari itu jangan berangkat ke sekolah.”

“Tapi aku kan harus bertanggungjawab.” Tiffany mengerucutkan bibirnya lucu.

Taeyeon selalu mengajarinya untuk selalu bertanggungjawab dengan apa yang dia lakukan dan kerjakan. Tapi sekarang? Apa gadis itu sedang mengajarinya untuk menjadi anak nakal?

“Itu tidak baik, TaeTae! Miyoung murid baik. Miyoung harus pergi ke sekolah untuk menebus perbuatan Miyoung!”

Taeyeon memejamkan matanya. Tiffany menunjukkan sikap ‘istimewa’ nya lagi. Dia mencoba menahan dirinya agar tak termakan sikap kekasihnya kali ini. Gadis itu harus menahan kekasihnya agar tak masuk ke sekolah. Dia tidak mau Tiffany mendengar kabar tak baik jika dia mengizinkan gadisnya sekolah.

“TaeTae~”

“Untuk kali ini..” Taeyeon menatap tajam Tiffany dan menggeleng. “No!”

Tiffany mengerucutkan bibirnya. “Arrasseo. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Disini membosankan, ahjumma!”

“Ya! Kau bosan denganku?” Taeyeon memicingkan matanya.

“Bukan begitu, ahjumma. Lihat! Apa yang bisa dilakukan di apartemen selain berbaring dan bermalas-malasan?”

“Kau ingin keluar?” tanya Taeyeon dan dibalas anggukan oleh kekasihnya.

“Arrass-…”

Ucapan Taeyeon terhenti saat ponsel milik Tiffany berbunyi. Gadis itu mengisyaratkan Taeyeon untuk menunda ucapannya selagi dia menjawab telepon.

“Yeoboseyo.”

“…..”

“Aku masih di apart- maksudku rumah. Wae?”

“…..”

Jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi setelah mendengar ucapan sahabatnya, Bora.

“A-Anioo. I-Itu hanya gosip Bo-…”

“…..”

Tiffany menelan ludahnya kaku. Taeyeon memandang kekasihnya. Dia penasaran dengan siapa Tiffany berbicara dan apa yang mereka bicarakan. Dari gelagat Tiffany saat ini, Taeyeon tahu gadis itu dalam keadaan tak baik.

“A-Aku b-bisa jelaskan-.. Boo? Yeoboseyo? Boo? Kau masih disana? Yeoboseyo?”

Tiffany memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Dia menurunkan ponsel dari telinganya kemudian membuka mata. Tatapannya ia jatuhkan pada kekasihnya yang dia yakin telah mengetahui hal ini sebelumnya.

“Mereka sudah mengetahui hubungan kita, geujo?”

Taeyeon menelan ludahnya. Dia tak mengira gadisnya akan mengetahui hal ini lebih cepat dari dugaannya. Jantung Taeyeon serasa teremas tangan yang tak terlihat. Begitu sakit membayangkan gadisnya pasti shock dan sedih. Tiffany masih SMA. Masa depannya masih begitu panjang. Hanya karena hubungan mereka, kini Tiffany harus menanggung beban. Sudah dipastikan gadisnya akan mendapat banyak masalah setelah ini.

“Mianhae.” Hanya itu yang dapat Taeyeon ucapkan. Dia menunduk, tak mau melihat wajah kekasihnya.

“Hei, aku tak apa. Sekarang atau nanti mereka juga akan mengetahuinya, kan?” Tiffany meraih dagu Taeyeon dan menatapnya dengan senyuman.

“T- Tapi kau akan mendapat masalah setelah ini, sayang.”

Tiffany menggeleng. “Asalkan TaeTae Ahjumma tidak meninggalkan Miyoung, Miyoung akan baik-baik saja.”

Taeyeon menarik kekasihnya kedalam pelukannya. Dia menepuk pelan punggung Tiffany dan mengucapkan kata maaf dan terimakasih berulang kali.

“Apa kau pindah sekolah saja, sayang?” usul Taeyeon setelah melepas pelukannya.

“Tak usah, ahjumma. Aku akan melewati ini.”

“Tapi, sayang-..”

“Ahjumma~ kalau aku pindah mereka akan semakin liar menghinaku nanti. Biarkan aku melewati ini. Dengan berlalunya waktu aku yakin mereka akan melupakannya.”

Taeyeon mendesah. “Baiklah. Tapi kalau ada yang mengganggumu, lapor saja padaku, arra?”

Tiffany tertawa pelan dan mengangguk dengan semangat. Taeyeon tersenyum dan mengacak rambut gadisnya untuk kemudian mengecup pipi Tiffany.

***

Tiffany mengusap kepalanya yang terasa sakit karena tertebas sesuatu. Dia mendongak dan melihat seseorang yang mungkin tak terpaut jauh dari usianya. Gadis diatas Tiffany membulatkan matanya dan menundukkan kepalanya seraya mengucapkan kata maaf.

Tiffany berdiri dari posisi jongkoknya seraya mengambil liontin yang tadi terjatuh.

“Aku tak apa-apa, agassi.” ucap Tiffany dengan senyum tulus.

“Sekali lagi aku minta maaf karena tidak melihat jalan.” kata gadis di depan Tiffany dan dibalas oleh Tiffany dengan anggukan dan senyuman.

“Kalau begitu aku pergi dulu, Ti ppa ny-ssi.” pamit gadis itu seraya melihat name tag milik Tiffany.

Saat gadis itu melangkah pergi dari hadapannya, Tiffany berteriak menahannya.

“Hei, apa kita bisa bertemu lagi?” teriak Tiffany.

Gadis itu menghentikan langkahnya dan mengerutkan keningnya. Dia heran, apa gadis yang bernama Tippany itu tidak mengenalnya? Yang dia tahu seluruh guru, staff, beserta siswa di sekolah ini tak ada yang tak mengenalnya, meskipun dia masih terbilang baru disana.

Gadis itu membalikkan direksi tubuhnya dan menatap Tiffany dengan heran.

“Kau tidak me-..”

Ucapan gadis itu terpotong oleh suara Tiffany. “Omo! Apa kau baru pindah kesini dan tidak tahu dimana ruang kepala sekolah?” histeris Tiffany. Dia ingat temannya pernah mengatakan padanya akan ada siswa baru yang pindah ke sekolahnya.

“Hei, harusnya kau bertanya padaku! Kalau begitu ayo aku antar kau kesana.”

Tiffany menarik tangan gadis itu. Reflek gadis itu melepas tangan Tiffany dengan kasar.

“Kim Taeyeon!”

Tiffany mengerutkan keningnya saat gadis di depannya sedikit berteriak.

“Kau tak tahu nama orang itu?” tanya gadis itu selanjutnya.

Tiffany mengerutkan alisnya. Dia mencoba mengingat nama yang tak asing di telinganya. Dia terus saja mengingat nama itu hingga membuat gadis di depannya jengah dan pergi meninggalkannya.

Saat Tiffany berhasil mengingatnya, dia berteriak girang dan hendak memberitahukan pada gadis mungil yang tadi bertanya padanya. Begitu dia sadar, Tiffany tak melihat gadis itu lagi disana. Tiffany makin mengerutkan keningnya.

“Untuk apa dia bertanya pemilik dan direktur sekolah kami?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Tiffany menggeleng dan mengabaikannya. Dia tersenyum liar mengingat pertemuannya dengan gadis mungil tak lama tadi. Dia terkekeh dan menutup wajahnya yang memerah.

“Kyaaa~ dia begitu imut! Omaygawd, mengapa jantungku berdetak cepat sekali?!”

Keesokan harinya, Tiffany melihat gadis imut yang ditemuinya kemarin. Kali ini gadis itu tengah duduk di booth dekat lapangan baseball dengan ditemani sebotol soda di tangannya. Tiffany merasakan dadanya yang meletup-letup. Dia menggigit bibir bawahnya karena bisa bertemu gadis imut itu lagi. Setelah menarik nafasnya dalam, Tiffany mulai mendekati gadis itu.

“Hei, kita bertemu lagi.” ujar Tiffany dengan senyum bulan sabitnya.

Gadis yang diberi label imut dari Tiffany mendongakkan kepalanya. Dia menaikkan satu alisnya. Tanpa permisi, Tiffany duduk di sebelah gadis itu dan menatap lurus kedepan. Senyumnya tak pernah ia lepaskan sedari tadi.

Gadis disamping Tiffany menghela nafasnya. “Aku tahu kau menyukaiku.” ujar gadis itu, sontak membuat Tiffany membulatkan matanya karena terkejut.

“Michinnya?! Aku masih straight! Catat, S.T.R.A.I.G.H.T!” Tiffany berdiri dari duduknya.

Gadis itu tertawa mengejek. Dia juga ikut berdiri dari duduknya dan mendekati Tiffany hingga wajah mereka berdekatan. Jelas hal itu membuat Tiffany memundurkan wajahnya dan menelan ludahnya, belum lagi jantungnya yang makin berdetak tak karuan.

“Aku melihat dari matamu itu, Hwang. Jangan memberi alasan kau straight sementara jantungmu berdetak cepat karenaku.”

Gadis itu menyeringai pelan.

“Aku bertaruh, setelah ini kau pasti akan terus memikirkanku dan tak bisa tidur karena ini.”

Gadis imut itu mendekatkan bibirnya ke telinga Tiffany dan berbisik.

“Kalau tebakanku benar, temui aku besok disini di waktu yang sama.” Gadis itu mengecup telinga Tiffany usai menyelesaikan ucapannya. Hal itu membuat Tiffany merinding dan berdiri kaku.

Malamnya, tebakan gadis imut itu benar. Tiffany sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Bayang-bayang gadis imut berambut hitam itu terus saja mengganggunya. Bahkan gadis Amerika itu sampai merasa frustasi. Tubuhnya juga menegang dan bulu kuduknya berdiri saat teringat kejadian siang tadi. Terutama saat gadis imut itu mengecup telinganya dengan sensual.

Tiffany mengerang. Dia bangkit dari tidurnya dan menatap keluar jendelanya.

“Siapapun kau gadis imut. Bertanggungjawablah karena membuatku seperti ini.” gumamnya dengan tatapan nanar.

Siangnya, Tiffany dengan mantap pergi ke tempat mereka bertemu kemarin. Dia mengerutkan keningnya saat tak melihat orang yang dicarinya.

“Mencariku, Hwang?”

Tiffany terkejut. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat gadis imut yang berhasil menjungkir-balikkan hatinya.

“Kau..” tunjuk Tiffany.

Gadis didepannya menyeringai. Dia sudah menduga Tiffany akan mengatakan kalau dia sudah jatuh kedalam pesonanya. Gadis imut itu memang dengan mudah membuat wanita straight sekalipun bertekuk lutut padanya. For your information, gadis itu merupakan playgirl. Dan Tiffany adalah korban kesekian.

Tiffany menarik napasnya dalam dan memejamkan matanya. Dia melangkah maju hingga tak ada sekat yang membatasi mereka. Gadis imut itu membulatkan matanya dan menahan napasnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Dia tak pernah merasakan hal ini dari korban-korbannya sebelumnya.

Tiffany memandang lurus ke iris kecoklatannya. “Teach me… how to love you.”

Dan pada saat itu juga, Kim Taeyeon merasakan jatuh cinta dalam waktu tiga detik. Sama seperti Tiffany Hwang.

***

Yuri mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Pekerjaannya sudah selesai dari satu jam yang lalu. Dia kini tengah mengunjungi kantor ayah Taeyeon dan menemui sahabatnya itu.

“Hentikan, Yul. Kau berisik!” tegur Taeyeon yang terganggu dengan ketukan jari Yuri.

“Ayolah, Taeng. Hentikan workholic mu. Meskipun aku juga Presdir aku tak sesibuk kau.” Yuri mengerucutkan bibirnya.

Taeyeon mencibir. “Kau presdir di perusahaanku, bodoh! Tentu saja aku lebih daripada lebih sibuk.”

Sebagai informasi, Taeyeon bekerja sebagai Presdir di Jacco Enterprise milik ayah angkatnya. Dia juga memiliki perusahaan dari hasil usahanya sendiri bersama kedua sahabatnya, Yuri dan Sooyoung.

Yuri nyengir kuda. Taeyeon memutar bola matanya malas. Terkadang para sahabatnya berubah menjadi orang bodoh sedunia meskipun IQ mereka diatas rata-rata, sama sepertinya.

“Kalau begitu kita pindah posisi. Kau jadi presdir di TYS Corp dan aku jadi CEO nya. Simple, bukan?” usul Yuri yang dihadiahkan lemparan bolpoin oleh Taeyeon.

“Your wish, silly!”

Yuri mengusap kepalanya bekas lemparan bolpoin dari Taeyeon dan menekukkan bibirnya. Tak lama setelah itu, Jessica masuk kedalam ruangan Taeyeon.

“Presdir, saya baru saja menda-… Oh hei, Yul. Kau disini?” tanya Jessica sesaat setelah melihat keberadaan Yuri.

“Yeah, sebenarnya dia datang untuk menggangguku. Bisa kau usir dia, Sica?”

Jessica tertawa pelan. Dia sudah menghilangkan keformalannya karena dia kira tak diperlukan lagi. Terlebih ada Yuri juga disini.

“Yaish! Kau jahat sekali pada sahabatmu sendiri.” Yuri menunjukkan gaya ingin memukul Taeyeon untuk candaan dan wajah pura-pura kesal.

“Lihat? Annoying sekali, bukan?” goda Taeyeon lagi pada Yuri.

Jessica tertawa lagi. Dia menggeleng pelan seraya menghentikan tawanya.

“Sudahlah, Taeng, Yul. Aku kesini karena mendapat informasi penting.” ucap Jessica.

“Apa aku harus keluar?” tanya Yuri. Dia sadar bukan bagian dari perusahaan Jacco, jadi dia bermaksud tak ingin mencampuri urusan perusahaan milik ayah angkat Taeyeon tersebut.

“Tak usah. Ini menyangkut Han Young Woo. Kau juga harus tahu, Yul.” kata Jessica.

Yuri semakin merapatkan tubuhnya ke arah dua sahabatnya. Informasi mengenai Young Woo jelas penting. Taeyeon yang memberinya amanat untuk memata-matai Young Woo kepadanya dan juga Sooyoung.

“Dimana Sooyoung?” tanya Jessica.

“Dia di Jepang. Ada masalah di cabang perusahaan di Tokyo.” jawab Yuri.

“Baiklah. Aku mendapat informasi kalau Tuan Han melakukan merger bersama JXK Corp. Kau tahu sendiri pengacara Hwang bekerja di salah satu anakan JXK.” terang Jessica.

Taeyeon menaikkan alisnya. “Jadi menurutmu, dia akan mengancamku dengan Daddy Tiffany sebagai taruhannya?”

“Itu baru spekulasi, Taeng. Tapi semoga saja dia pure merger bersama JXK tanpa niat terselubung.” balas Jessica.

“Ya Tuhan, aku juga belum memastikan apakah Tiffany baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Ditambah informasi ini.” Taeyeon memijit pelipisnya pelan. Dia sungguh merasa stress dengan ini semua.

Jessica mengusap punggungnya untuk menenangkan, begitu juga Kwon Yuri.

***

Tiffany mendudukan pantatnya di dudukan toilet. Dia memejamkan matanya, berharap menghalau airmatanya yang ingin keluar. Dia pikir dia bisa menghadapi ini semua. Dia pikir ini bukanlah masalah besar. Tapi nyatanya tidak.

Dari awal dia masuk ke sekolah, gadis itu mendapat tatapan tajam yang menusuk dan sindiran beserta ejekkan yang menghunus jantungnya. Tepat dan dalam. Tiffany mencoba menghiraukannya dan melenggang masuk ke kelas tanpa mempedulikan bisikan-bisikan di belakangnya.

Hal yang tak terduga selanjutnya pun terjadi. Bora, yang mana merupakan sahabatnya dari kelas X mengabaikannya dan menjauhinya. Dia merasa sakit mendapat perlakuan tersebut dari sahabatnya sendiri. Bahkan dia ingin menangis.

Kemudian saat dia ingin mengambil bukunya di loker, bukunya sudah basah kuyup akibat air yang disiram kedalam lokernya. Dia meremas buku tersebut dengan menahan emosinya yang siap meledak kapan saja.

Selanjutnya, gadis itu dipanggil ke ruang kepala sekolah dan disidang. Dia mendapat banyak kritikan dan teguran dari sana-sini. Meskipun dia bisa saja melaporkan hal ini pada Taeyeon, namun dia tak mau membuat hal ini semakin rumit.

Dan jadilah dia disini sekarang. Di salah satu bilik toilet. Menumpahkan segala emosinya yang dia pendam sedari tadi. Meskipun berusaha sekuat tenaga untuk tak menjatuhkan airmata, Tiffany tak kuasa. Dia menangis sesenggukan. Bahkan tissue toilet hampir habis setengah untuk mengelap airmatanya. Gadis itu ingin menelfon kekasihnya. Mengatakan bahwa dia sedang dalam keadaan yang sama sekali tak baik. Memeluknya dengan erat layaknya hari esok tak ada lagi. Tapi dia sadar, Taeyeon akan semakin terbebani dengan itu. Selain dia memikirkan keadaan Tiffany, dia juga pasti akan memecat atau menghukum siapa saja yang berani menyakiti kekasihnya. Dia tidak mau orang-orang terluka hanya karena dirinya. Belum lagi masalah pekerjaan Taeyeon. Gadis itu pasti merasa tertekan memegang kendali dua perusahaan besar sekaligus.

TOK TOK TOK

Tiffany mendengar suara ketukan pintu. Dia menghapus sisa airmatanya dan merapikan penampilannya. Setelah itu mulai bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Tiffany menaikkan satu alisnya melihat seorang gadis berkacamata di depannya. Dia cantik dan juga tinggi.

“Coklat bisa membuat moodmu lebih baik, Unnie.” kata gadis tersebut seraya menyodorkan sebatang coklat padanya.

Tiffany mengernyitkan keningnya. “Nugu?”

“Ahh.. Seo Joo Hyun imnida. Aku juniormu, Unnie.” Seohyun mengenalkan dirinya dengan membungkuk.

“Kau kenal denganku?” tanya Tiffany lagi.

“Unnie tidak mengingatku? Jalan Chungmuro. Malam hari.”

Tiffany mengerutkan keningnya dan berpikir. Dia mencoba mengingat sesuatu dan-…

“Ah! Kau gadis sepeda itu! Aku ingat. Tapi aku tidak tahu kau sekolah disini juga.” seru Tiffany.

Tiffany ingat gadis di depannya yang bernama Seohyun ini pernah bersepeda sendirian seusai mengunjungi rumah neneknya di malam hari. Saat itu jarang pejalan kaki maupun pengendara lewat. Dan sialnya Seohyun, ada tiga pria yang menghadangnya. Seohyun begitu ketakutan. Beruntung hari itu Taeyeon dan Tiffany tengah berjalan kaki karena motor antik milik Sooyoung yang dipinjamnya mogok. Mereka kemudian melihat Seohyun dan berniat membantunya. Berterimakasih pada Taeyeon, gadis itu adalah pemilik sabuk hitam judo. Tiga pria kerempeng itu bisa ditumpasnya dengan sangat mudah.

“Aku berhutang budi pada kalian, Unnie. Aku tahu kalian orang baik.” Seohyun tersenyum. Hal itu membuat Tiffany sedikit terkurangi bebannya. Setidaknya ada satu yang tidak menghina dan mencemoohnya di sekolah ini.

“Gwaenchanha. Sudah sepatutnya kita saling tolong menolong, bukan?”

Seohyun mengangguk menyetujui ucapan Tiffany. Namun wajahnya berubah murung. Dia menatap Tiffany dengan wajah penuh penyesalan.

“Tapi maafkan aku mengatakan ini, Unnie…”

Seohyun menarik napasnya dalam. “Semua siswa kelas XI diluar berdemo untuk meminta kau keluar dari sekolah.” ucap Seohyun dengan menggigit bibir bawahnya.

Mata Tiffany melebar. Jantungnya tiba-tiba kehilangan fungsinya. Kedua kakinya terasa lemas dan tak sanggup menahan tubuhnya. Beruntung Seohyun memeiliki reflek yang cukup bagus. Dia menahan tubuh Tiffany dan mendudukannya di dudukan toilet lagi. Gadis blasteran itu menatap kosong kedepan. Dia berpikir, ‘Apa masa remajaku akan hancur saat ini?’.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Gue nepatin janji kan apdet skrg ato besok. Krna gw cinta reader jd gw apdetnya skrg wkwkwk.

Itu udah sekalian ada flashback2nya ye. Tuh yg penasaran gmna si tehni bisa jadian.

Uokayy next chap masih ada badai2 lagi. Sweet2annya nanti aja hehehe.

Pupye~ see u next chap or fic~

It’s Love

IT’S LOVE

​​Author :

◈Bluemintice

Cast :

Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Jessica Jung

Choi Siwon

Warning

Typo Bertebaran!!!

Happy Reading

 

♚♔

 

“Taeyeon-ah apa kau benar-benar akan pergi? Benarkah keputusanmu ini sudah bulat?”

Taeyeon menatap sedih kearah Jessica yang masih menunggunya untuk berubah pikiran. Bukan dia tak mau membatalkan kepergian ini, dia tak ingin terluka lagi. Baginya melihat wanita itu bahagia dengan kekasih hatinya sudah cukup untuknya.

“Maafkan aku sica-ah. Maaf karna juga harus meninggalkanmu.”kata Taeyeon mengelus surai rambut gadis blonde itu. Jessica meraih Taeyeon kedalam pelukannya, airmatanya mengalir membasahi kemeja Taeyeon

“Jangan beritahu Tiffany mengenai kepergianku. Sudah cukup aku melihatmu menangis, aku juga tidak ingin melihatnya menangis. Kalian berdua sangat berarti untukku.”Jessica menganggukkan kepalanya dalam dekapan Taeyeon

“Apakah kau takkan kembali?” Taeyeon hanya tersenyum menanggapi perkataan Jessica. Dilepaskannya pelukan wanita itu. Kemudian berbalik arah mengambil kopernya

“Jaga dirimu Jess.. “ kata Taeyeon melambaikan tangannya pada Jessica yang masih berdiri mematung memandangi kepergiannya

 

From : sica

 

Jaga dirimu juga Tae…

Kau tau, aku akan selalu merindukanmu. Jadi, cepatlah kembali.

 

Taeyeon membaca pesan yang baru saja dikirim Jessica keponselnya. Ditatapnya foto mereka bertiga yang selalu menjadi walpaper pada ponselnya

“Aku juga akan selalu merindukanmu Sica-ah. Begitupun dirinya.”kata Taeyeon sembari mencabut baterai ponselnya dengan kasar. Kemudian mencabut kartu sim itu untuk segera dipatahkannya

“Selamat tinggal Seoul… ”

****

“Taeyeon-ah Siwon oppa mengajakku berkencan dia bilang dia menyukaiku. Apa yang harus aku katakan padanya?“ ucap gadis manis ber-eyes smile itu pada gadis mungil yang berada disisi ujung ranjang mereka

“Kenapa kau bingung, bukankah selama ini kau bilang kau menyukainya?” tanya gadis manis itu sedikit heran.

“Aku hanya sedikit nervous Tae.. Kau tau aku tak menyangka dia juga menyukaiku.”

 

“Sekarang berdandanlah yang cantik. Lalu katakan padanya jika kau juga menyukainya.” Taeyeon membetulkan poni Tiffany yang sedikit berantakan akibat ulah tangan gadis itu tadi yang mengacak-acak rambutnya

“Baiklah. Terimakasih Taeyeon-ah.”ucap Tiffany beranjak pergi setelah dia mengecup pipi Taeyeon

‘Melihatmu bahagia adalah tujuan utamaku Ppany-ah. Kuharap dia bisa menjagamu’

 

.

 

.

 

.

 

“Siwon oppa melamarku hari ini, Tae!“ kata Tiffany menunjukan cincin manis yang bertengger dijari manisnya. 

“Kenapa wajahmu tidak menyiratkan kalau kau bahagia? Seharusnya kau bahagia ppany-ah.” ucap Taeyeon yang membiarkan tiffany bermain-main dengan jari-jarinya

“Entahlah,aku juga tidak tau kenapa aku bisa begini. Aku bertanya pada Jessica, dan dia bilang aku hanya terkena syndrome pra-married.” Tiffany memeluk Taeyeon membiarkan bau parfum gadis itu memenuhi penciumannya.

“Benar apa yang dikatakan Sica, kau hanya terlalu takut.” kata Taeyeon tertawa menutupi rasa sedihnya. “Apa yang membuatmu tidak yakin pada Siwon oppa? Bukankah dia pria yang baik? Dia bahkan sangat menyayangimu.”

“Entahlah Tae, aku juga tidak tau. Tapi Taeyeon -ah, apa kita masih bisa seperti ini? Selalu bersama setelah aku menikah nantinya. Apa kita akan tetap bisa menghabiskan waktu dikedai ahjussi kwon sambil memakan ice cream? Dan juga apa aku masih tetap bisa memelukmu seperti ini?” tanya Tiffany mendongakkan wajahnya menatap Taeyeon yang menatap langit kamarnya yang ber-cat pink. Warna kesukaan gadis itu

“Ppany-ah ketika seorang gadis memutuskan untuk menikah dengan pria yang dicintainya, saat itu juga prioritasnya bukan lagi pada keluarganya ataupun sahabatnya. Kau mengerti maksudku kan?” Gadis itu menggeleng mendengar perkataan Taeyeon.

“Nanti kau juga akan mengerti perkataanku. Sekarang aku pamit pulang, karna besok aku harus mengurus beberapa berkas dikantor.”kata Taeyeon bangkit dari tempat ternyaman dalam hidupnya.

“Apa kita besok akan tetap bertemu?”

“Tentu saja… Aku selalu ada untukmu”

‘Setidaknya sampai aku merasa lega harus melepasmu pada pria yang tepat. Pria yang akan menggantikan posisiku untuk menjagamu ppany-ah‘

“Tidurlah ini sudah malam. Selamat tidur miyoung-ah”ucap Taeyeon mengecup kening Tiffany yang mulai memejamkan matanya

“Selamat tidur Tae… “

.

 

.

 

.

 

“Yak!!! Kim Taeyeon dimana kau sekarang!! Kenapa kau tidak datang ke acara pernikahan Tiffany. Cepat datang, sebelum aku memukul pantatmu” teriak Jessica kesal karna mendapati Taeyeon tak kunjung hadir ditempat ini.

“Maafkan aku Sica-ah.. Aku tidak bisa. Aku harus pergi”

“Mworago… Kau pikir bisa membodohiku? Cepat datang, jika kau tidak datang dalam kurun waktu 30 menit aku akan membakar kantor bodohmu itu. Kau menger… “ Ucapan Jessica terpotong oleh suara operator bandara Dia menatap ponselnya sekali lagi memastikan dengan benar bahwa itu nomor sahabatnya Kim Taeyeon.

“Kau bercanda kan, Kim?! Katakan dimana kau sekarang!“ emosi Jessica

“Incheon.”

Satu kata dari Taeyeon, membuat Jessica dengan cepat mematikan ponselnya. Menarik kekasihnya Kwon Yuri dengan cepat, membuat pria Tanned itu mengernyit heran.

“Antar aku kebandara sekarang!”

Kwon Yuri tanpa banyak kata melajukan mobilnya dengan cepat. Bukan tanpa sebab, mercedes merah itu melaju dengan batas laju diatas rata-rata. Dia melihat Tangisan Jessica, merasa ada yang tidak beres dengan itu. Hingga membuatnya melaju seperti ini. Membelah jalan Seoul secepat yang dia bisa.

****

4 Tahun kemudian…

 

“Ms. Kim, ini berkas yang anda minta.”

“Terimakasih Gustav. Nikmati makan siangmu dengan baik.” Lelaki manis dengan lesung pipi yang menggoda itu, pamit dari hadapan Taeyeon.

Dia melirik kalender yang berada disamping berkas, yang baru saja diletakan Gustav diatas meja kerjanya. 1 Agustus. Hari ulangtahun Tiffany. Dia tersenyum sembari memutar ulang, memori indahnya dengan gadis itu. Bagaimana setiap tahunnya, mereka selalu merayakan ulangtahun Tiffany tepat pada pukul 12 malam. Diatap balkon kamarnya. Menyisakan Jessica yang lalu mengomel pada mereka, karna kebodohannya yang tidak bisa bangun tepat waktu.

Dan ini sudah 4 tahun semenjak kepergiannya.entah bagaimana kabar gadis itu sekarang?  Dia tidak mau mencari tau, karna itu sama saja mengorek luka lamanya yang sudah susah payah disembuhkannya.

“Selamat ulangtahun Miyoungku.”

Taeyeon segera beranjak dari tempat duduknya, setelah mengucapkan kalimat yang sama selama 4 tahun ini diucapkannya ketika hari ulangtahun Tiffany tiba.

Setelah menerima sebuah pesan dari sekretaris-nya,Taeyeon melangkahkan kakinya meninggalkan gedung ini. Berharap dengan adanya bisnis hari ini, membuatnya sedikit lupa dengan ulang tahun gadis itu.

*****

“Kaukah itu Kim Taeyeon?”

Taeyeon mendongakkan kepalanya, melihat dengan pasti seseorang yang memanggilnya. Yuri langsung memeluk Taeyeon dengan erat, tak menyangka bisa kembali dipertemukan dengan sahabat dari gadis yang dicintainya

“Ya.. Kwon Yuri kau banyak berubah eoh. Kau terlihat semakin sexy sekarang.” ledek Taeyeon tanpa maksud pada Yuri

“Tentu saja midget. Setiap hari aku melakukan olahraga bersama sahabat baikmu itu. Dan hasilnya dia sekarang tengah mengandung anakku.” bangga Yuri

“Omo.. Kau dan si tukang tidur itu?“ kata Taeyeon menutup mulutnya tak percaya

“Begitulah Kami menikah 8 Bulan yang lalu. Dan hei… Bagaimana kabarmu?  Kami susah sekali menghubungimu selama ini. Apa kau sudah menikah?” cerocos Yuri tanpa henti.

“Kau semakin cerewet saja Kwon Yuri. Apa menikah dengan Jessica membuatmu jadi seperti ini?“ Selidik Taeyeon sambil menerima berkas yang disodorkan Yuri padanya dan mulai membaca berkas itu.

“Hmm.. Sedikitnya begitu. Semenjak dia hamil, dia semakin cerewet. Dan aku harus bisa tahan mendengar suara melengkingnya setiap hari.” Taeyeon hanya tersenyum mendengar perkataan Yuri. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sabarnya Yuri menghadapi Jessica sahabatnya yang terkenal cerewet dengan suara ultrasound lumba-lumba nya. ”Kau belum menjawab pertanyaanku sobat, apa selama ini kau berada disini?”

“Ya.. Selama 4 tahun aku berada disini. Dan jika kau menayakan aku sudah menikah atau belum, jawabanku adalah tidak. Aku belum menemukan seseorang yang tepat, dan maaf karna tidak bisa hadir dalam pernikahan kalian.” jawabnya

“Tidak apa Taeng.. Aku senang perjalanan bisnisku kali ini bisa bertemu denganmu. Tidakkah kau ingin tau keadaanya?”

Taeyeon menggenggam bolpoinnya dengan kuat, dia tau apa yang dimaksud Yuri dengan mengatakan itu. Tidak, dia sungguh belum siap dengan kabar itu.

“Sepertinya stempel perusahaanku tertinggal dimobil. Sebentar aku mengambilnya dulu.” Taeyeon mulai bangkit dari duduknya berusaha menghindar.

“Dia menderita Tae.” Satu kalimat dari Yuri membuat Taeyeon membeku ditempatnya berdiri. “Siwon menyakitinya dengan berselingkuh.”

Taeyeon membalikan tubuhnya menghadap Yuri. Menunggu penjelasan singkat dari Pria Tanned itu.

“Siwon selalu memukulnya ketika Tiffany hendak meminta cerai. Membuat Tiffany stress dan mengalami pendarahan. Dia kehilangan bayinya untuk kedua kalinya Taeyeon-ah.”

Taeyeon langsung terjatuh ditempatnya. Gadis itu menangis, membayangkan bagaimana Tiffany menderita tanpa ada dia yang bisa menjaganya disana, menenangkan gadis itu dari rasa takutnya.Yuri menuntun Taeyeon untuk kembali duduk ditempat mereka. Karna beberapa orang mulai memperhatikan mereka saat ini.

“Pulanglah bersamaku Tae. Dia membutuhkanmu.”

Taeyeon menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Yuri.dengan cepat dia mengurus segala kepindahannya saat ini, dia akan bertindak egois kali ini saja. Dia takkan melepaskan Tiffany untuk kedua kalinya. Tidak selama dia masih hidup dan bernafas, gadis itu akan bersamanya. Selamanya.

****

Ketika dia mendarat untuk pertama kalinya di Seoul setelah 4 tahun kepergiannya dari Negara ini. Taeyeon langsung menyuruh Yuri untuk melajukan mobil mereka ketempat dimana Tiffany berada.

Yuri hanya tersenyum mengiyakan permintaan Taeyeon. Dia tau gadis itu lelah, tapi dia juga tau memastikan keadaan Tiffany dalam keadaan baik adalah tujuan utama dari gadis yang sedari tadi duduk dengan gelisah disampingnya ini.

“Sepertinya tidak ada orang disini.” ucap Yuri ketika mereka sampai didepan rumah kediaman Tiffany. Lama mereka menunggu sampai akhirnya suara barang pecah membuyarkan lamunan mereka berdua.

“Yuri-ah suara apa itu? Aku akan masuk melihatnya. “ kata Taeyeon membuka pintu mobil mereka.

“Taeng, ini berbahaya. Jangan masuk kedalam.” cegah Yuri menahan pergelangan tangannya.

“Aku harus memastikan keadaanya Yul. Jika aku tidak keluar dalam 5 menit, tolong telfon pihak berwajib.”

Taeyeon berlari memasuki rumah itu. Mendobrak pintu dengan sedikit kuat, sampai pintu itu terbuka. Taeyeon mencari suara keributan dari dalam rumah tersebut. Dilihatnya Siwon yang hendak mendaratkan pukulannya kearah wajah Tiffany. Dia langsung berlari melindungi Tiffany, membiarkan dirinya yamg terkena pukulan dari tangan siwon.

Tiffany menjerit histeris melihat tubuh Taeyeon tersungkur didepannya dengan sudut bibir yang sobek.dengan cepat Taeyeon menghapus jejak darah dibibirnya. Kemudian meraih Tiffany dalam pelukannya. Melindungi gadis itu dari suaminya yang hendak kembali melayangkan pukulan.

“Jangan pernah berani memukulnya Siwon-ssi. Atau kau akan berhadapan denganku.“ ancam Taeyeon.

“Seorang Kim Taeyeon mengancamku? Kau bukan tandinganku, sekarang lepaskan istriku dan pergi dari sini.”

“Aku tidak akan pergi dari sini sebelum membawa Tiffany bersamaku.”

Siwon mengeram marah, dia menarik kaus Taeyeon dengan cepat dan memukul gadis itu dengan membabi buta.Taeyeon tidak peduli jika saat ini dia harus mati ditangan pria ini, dia pantas mendapatkannya karna telah membiarkan gadis itu menderita selama ini.

Taeyeon berteriak menyuruh Tiffany untuk keluar dari rumah ini, Tiffany menggelengkan kepalanya. Dia memohon pada Siwon agar melepaskan Taeyeon. Taeyeon berhasil menggulingkan Siwon yang memiliki badan kekar itu,didorongnya Tiffany keluar dari rumah ini. Membiarkan dirinya kembali menjadi sasaran empuk Siwon.

Taeyeon merasa dirinya diambang batas kesadarannya saat ini. Dia sudah tak sanggup lagi. Dia hanya bisa pasrah ketika Siwon hendak kembali memukulnya.

Suara teriakan polisi menghentikan pergerakan Siwon. Dengan cepat mereka menahannya, memborgol tangan pria. Yuri dan Tiffany langsung meraih Taeyeon.

“Taeyeon -ah.. “ kata Yuri menepuk-nepuk pipi Taeyeon yang setengah sadar.

“Kau selamat, maaf karna aku meninggalkamu sendiri ppany-ah.” ucap Taeyeon terbatuk-batuk

“Tae..buka matamu. ” Isak Tiffany melihat Taeyeon mulai memejamkan matanya.

“Kim Taeyeon tetap buka matamu.. Ambulans akan segera datang. Kau harus tetap sadar.”panik Yuri.

Taeyeon hanya tersenyum, dia menatap wajah mereka untuk terakhir kalinya sebelum kesadarannya hilang. Teriakan histeris Tiffany adalah hal terakhir yang didengarnya sebelum dia menutup mata.

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I’m back wkw.

Kali ini gw bawain ff karya author wp sebelah a.k.a bluemintice. Yang prnah mampir di wp nya pasti tahu.

Wokayy gw mau nanya yg di update cepetan Enterprischool nya dulu apa No Secret? Dua2nya msh dua chapter kan hehe.

Komen juseyo~

Kalo ngga besok ya minggu gw apdet tu dua ff, Entsch or NS.

Pupye~ See u next fic~

Late Love

Title : Late Love

Main Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon

Length : Oneshoot

Author : taengfanglove

Alih bahasa : JRH/N

.

.

.

.

.

Jangan dibaca kalo ngga mau kezel sama bingung.

I warn you guys~

 

Terkadang, Kita terlalu buta untuk melihat orang yang benar-benar ada untuk kita, peduli pada kita, dan yang benar-benar mencintai kita. Kita begitu terpikat pada pemikiran akan cinta yang sempurna dengan orang yang tepat yang kita inginkan untuk kehidupan seumur hidup. Kita selalu terganggu terhadap setiap fase dalam hidup dan apakah kita cenderung melupakan orang-orang yang dulu ada dalam hidup kita sampai seseorang datang dan menggantinya, karena secara tidak sadar kau mungkin beralasan.

Orang-orang datang dan pergi, tidak ada keraguan dalam hal itu, sebuah kenyataan menyedihkan yang harus dihadapi setiap orang karena tidak semua orang akan tetap berada di pihakmu sesuai keinginanmu. Kau akan ditinggalkan, dan kau juga harus pergi.

Namaku Tiffany Hwang, lulusan perguruan tinggi dan sekarang bekerja di perusahaan bisnis yang berlokasi di Seoul, aku berasal dari California, itulah yang menjelaskan nama Amerika-ku. Tapi aku pindah ke Korea karena seluruh keluargaku tinggal di sini dan kami tidak bisa tinggal di sana lagi karena masalah keuangan yang menyebabkan bisnis keluargaku bangkrut. Aku masih muda saat itu, mungkin sekitar usia 12 tahun? Aku pergi ke Korea bersama keluargaku dan itulah bagaimana perjuanganku dalam hidup dimulai. Kau tahu, aku sendiri tidak dapat berbicara bahasaku sendiri,  sangat buruk hingga teman sekelasku mencemooh karena begitu buruknya aksenku, jadi aku selalu terpojok, terisolasi dengan mereka karena aku tidak dapat berkomunikasi dengan sederhana. Mereka. Aku ingat ketika masih sekolah menengah pertama, aku dibully dan banyak diintimidasi sehingga keluargaku hampir mengajukan kasus terhadap anak laki-laki yang melempar barang kepadaku. Yang menuangkan minuman dengan tawa jahat. Seringkali karena aku tidak dapat berbicara, itu juga karena kulit Tan dan wajahku yang buruk yang menambah tawa mereka pada diriku.

Tapi mereka berhenti membully sampai aku bertemu gadis yang mengagumkan ini, yang menyelamatkanku dari anak laki-laki yang akan menghancurkan hariku lagi. Dia sangat keren sehingga aku menganggapnya sebagai superman yang mengalahkan anak laki-laki yang sedang terburu-buru itu. Dia membuat mereka menangis seperti bayi, memukul mereka dengan mikrofon di tangannya sampai mereka dengan sigap lari. Saat itu, aku sudah tahu bahwa dia akan menjadi temanku, saat itu juga, aku tahu dia adalah seseorang yang aku cari.

Pada usia 16, Kami telah tumbuh bersama, aku mengenalnya lebih baik begitu juga dengannya. Kami adalah sahabat, kami hangout, mengobrol di kelas, dengan sekadar pembahasan anak remaja. Dia bukan seorang pembicara, dia selalu menatapku dengan mata bulat saat dia mendengarkan segala sesuatu yang tidak masuk akal yang kukatakan. Dia akan memperbaiki tata bahasaku atau terkadang pengucapanku saat aku berbicara dengannya. Dia satu-satunya teman yang ku punya, dia adalah orang pertama yang bisa membuatku nyaman berbicara selain keluargaku tentunya. Sederhananya, hidupku telah berubah menjadi lebih baik karena dia, tidak ada lagi pengganggu di sekolah, teman untuk hiburan  ketika aku bosan, pendamping saat kau ingin mengeluarkan keluh kesahmu. Dia adalah satu-satunya teman yang kumiliki tapi aku sangat bahagia.

Pada usia ke-18, aku menjadi lebih bahagia, dengan dia dan lebih banyak orang yang ku temui selama tahun-tahun sebelumnya, Taeyeon mengatakan bahwa aku telah memperbaiki aksenku, begitupula kosakataku, dia mengatakan bahwa dia tidak menyukai bagaimana aku menjadi sangat pandai dalam kata-kata. Dia membencinya saat aku melihat dia dan itu kabar baik untukku. Dan begitu juga orang lain, mereka datang untuk menyukaiku, aku tidak bisa lebih bahagia dari ini, aku mendapatkan teman lain dan aku menyukainya.

Pada usia ke-19, aku mendapat pacar untuk yang pertama kali. Taeyeon berkata hati-hati, dan aku bilang aku akan melakukannya. Kami hampir tidak hangout bersama, karena aku bersama kekasihku dan dia bersama teman-temannya yang bahkan tidak ingin mengenalkan mereka kepadaku. Aku hangout bersamanya seminggu sekali, terkadang tidak sama sekali, ketika kita kebetulan bertemu satu sama lain kita berhenti dan menyapa dengan sangat tiba-tiba.

Pada usia ke-20, aku mengalami patah hati untuk yang pertama kalinya, kata Taeyeon, oke. Dan aku bilang tidak. Aku sangat terluka dan aku menangis dengan air mata mengacaukan makeupku selagi Taeyeon memelukku, menghiburku dengan kata-katanya. Aku ingat pernah berteriak padanya, menjerit padanya, tapi dia tidak pernah mengeluh, Dia membiarkanku sampai aku merasa lega dan tertidur di bawah pelukannya. Aku terbangun dengan wajah polosku yang sudah dibersihkan dan bajuku yang sudah diganti. Aku ingat mengerang malu. Aku mabuk namun aku merasa bersyukur aku telah berlari ke arahnya. Persahabatan kami sekali lagi kembali.

Pada usia ke 21, aku selalu bergonta-ganti pacar setiap bulan, Taeyeon mengatakan bahwa aku berubah, dan aku bilang tidak. Itu adalah tahun dimana aku tidak tahu apa yang kulakukan dalam hidupku. Aku benar-benar mengambil keuntungan dari orang-orang yang memberi perhatian mereka padaku, menyukai bagaimana aku bisa membuat mereka jatuh cinta padaku. Itu adalah tahun dimana aku kehilangan keperawananku. Setelah malam itu, salah satu dari orang yang aku kencani mengambil keperawananku. Aku berlari ke Taeyeon untuk mengakui semuanya, aku menangis, aku tidak tahu mengapa, tapi rasanya aku telah memberikannya kepada orang yang salah. Aku menyalahkan diriku sendiri saat aku menangis. Taeyeon memelukku erat-erat, dia mengatakan kepadaku bahwa semuanya akan baik-baik saja dan aku tidak perlu khawatir. Kata-katanya menghiburku, seperti biasa, dan malam itu, aku tidur dengan lengannya yang memelukku dengan erat, menepuk punggungku, saat aku meringkuk di lehernya. Aku ingat keesokan harinya, matanya bengkak, aku bertanya padanya apa yang terjadi, dia bilang dia baik-baik saja.

Pada usia ke-24 tahun, aku akhirnya merasa bahagia lagi, Taeyeon mengatakan bahwa dia bahagia untukku dan aku juga mengatakan bahwa aku bahagia untuknya, Itulah tahun dimana aku telah memiliki cincin pertunangan yang melilit jariku, kekasihku melamarku dan aku bilang iya. Aku berlari ke arah Taeyeon dan memberitahunya tentang hal itu. Dia mengucapkan selamat dan memelukku, pelukan yang tidak dapat aku lupakan, itu adalah yang paling erat dan paling tulus. Tapi aku tidak tahu, jadi aku mengatakan terima kasih, dengan mata berkaca-kaca saat kami berbagi kebahagiaan yang sama, atau begitulah yang ku pikirkan.

Pada usia ke-25 aku menikah, Taeyeon bilang dia meminta maaf, aku mengatakan tidak apa-apa, walaupun sebenarnya tidak. Dia mengatakan kepadaku bahwa dia harus menghadiri beberapa pertemuan penting di luar negeri, aku sangat marah kepadanya, mengatakan kepadanya bahwa apa lagi yang lebih penting daripada menghadiri pernikahan sahabatmu sendiri? Apa lagi yang lebih penting dariku? Aku mengeluh banyak, aku bahkan menangis karena perasaan tidak suka yang kumiliki. Kekecewaan, sampai akhirnya aku menyerah karena seolah-olah tidak ada yang bisa jadi alasannya tetap tinggal. Aku ingat aku tidak menghubunginya begitu lama sampai aku bertemu dengannya di kafe. Duduk di depan seorang wanita, aku tidak mengenali wajahnya. Aku ingat aku marah padanya dengan membara, silau yang kuberikan pada keduanya, yang sangat irasional bagiku. Aku akui aku merasa cemburu, aku mengepalkan tanganku dengan kesal, aku tidak tahu mengapa. Perasaanku sakit. Taeyeon melihatku, jadi aku lari. Lari darinya, aku tidak tahu mengapa aku bereaksi seperti itu tapi itu karena insting. Aku sangat merindukannya, aku benar-benar sangat merindukannya, aku ingin berbicara dengannya, memeluknya, tapi pandangan itu hanya meruntuhkanku saat aku melihatnya tersenyum dengan wanita lain dan bukannya aku.

Pada usia ke-27, aku pikir aku bahagia, tapi tidak. Aku pikir dia adalah satu-satunya untukku, pria yang ingin menghabiskan hidup bersama selamanya. Pria dalam hidupku, tapi ternyata, dia hanya infutituasi, sesuatu yang tidak sesuai, percikan di antara kita redup, cintaku untuknya memudar, pelukan, senyum, dan ciuman yang kami bagi tidak sekuat dan diinginkan seperti dulu. Dia berubah, dan aku pun begitu. Ada saat dimana aku langsung menuju rumah Taeyeon dan meninggalkan semua despresiku. Sejak dia keluar berlari mengejarku di kafe, dan menyeretku ke suatu sudut dan dia mendorongku ke dinding, dia mengatakan bahwa dia mencintaiku, aku bilang aku tidak mengerti, karena aku sudah tahu itu dan aku juga mencintainya. Tapi dia tidak menjawabku, dia hanya memelukku dan aku perlahan memeluknya kembali, aku ingat tubuhku merinding saat dia memelukku lagi bukan dinding, wajahnya meringkuk di bawah dadaku, dia mendongak ke arahku. Aku beserta jantungku berhenti. Matanya merah dan air mata baru saja menetes, aku tidak tahu mengapa dia menangis, wajah bayinya berantakan saat dia mengatakan bahwa dia minta maaf karena tidak menghadiri pernikahanku dan dia akan melakukan sesuatu untuk membuat kami kembali ke keadaan semula. Selamat tinggal lagi kemarahanku yang baru saja menguap ke udara, aku bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun sehingga aku hanya mengangguk padanya dan dia merasa bersyukur begitu saja. Dia bilang, aku bisa menghukum dia semua yang aku mau tapi dia tidak akan melepaskannya, dia tetap ingin bersamaku. Kata-kata itu tidak tenggelam dalam pikiranku tentang apa yang dia maksud dengan itu tapi aku hanya merasa bersyukur dia masih Teayeon yang kutemui 11 tahun yang lalu. Meski tidak sedekat sebelumnya, dia masih orang yang paling tulus yang pernah kukenal.

Pada usia ke-28, aku tidak pernah begitu yakin, aku telah jatuh cinta kepada teman terbaikku. Semua yang dia lakukan membuat hatiku berdebar-debar sehingga tidak ada satupun pria yang ku kencani membuatku jatuh, apalagi suamiku sendiri. Setiap senyum yang Taeyeon tunjukkan membuatku menahan nafas, cara dia tertawa membuatku tertawa juga, seperti yang dia lihat pada diriku membuatku mengunci matanya bersamanya. Setiap gerakan kecil yang dia berikan padaku membuat hatiku berdegup kencang. Aku tahu aku mencintainya, karena kami masih muda aku terus mengatakan hal itu padanya, dan aku selalu memastikan aku selalu membuatnya merasakan cinta yang kurasakan untuknya, hanya itu, aku tidak pernah berpikir bahwa apa yang aku lakukan untuk Taeyeon, bisa jadi cinta yang selalu aku bayangkan dengan orang yang berbeda. Saat aku menyadari hal ini, sudah terlambat, kau tahu, aku sudah menikah, tidak bahagia menikah, setiap malam aku selalu menangis diam saat pria yang kurasa suka memelukku dengan lengan tegap dan aku selalu berharap itu dia, Taeyeon. Memelukku bukan dengan tubuhnya yang lembut dan mungil dan akan mencium dahiku sebelum tidur. Aku jatuh cinta padanya, tapi terlambat, aku tidak pernah bisa mengembalikan waktu.

Itu adalah tahun dimana, untuk pertama kalinya, aku sangat kecanduan dengan sepasang bibir yang dimiliki oleh sahabatku, pertama kali kami berciuman. Itu adalah salah satu waktu yang kupikir akan tetap ada padanya, hampir semuanya tentang dirinya. Seperti apa bibirnya, apakah dia juga mencintaiku? Dan jadi hari itu tiba ketika aku tidak tahan lagi, aku menciumnya dengan panas sebelum meninggalkan rumah dan begitu aku berjalan dua langkah darinya, aku merasa pergelangan tanganku ditahan dan dia menciumku. Bibir menempel lagi padaku. Itulah malam aku bercinta dengannya, Perasaan itu tidak bisa dijelaskan begitu saja. Senyuman di bibir kami tidak pernah pudar sampai kami tertidur di lengan masing-masing.

Pada usia ke-29 tahun, perasaanku pada suamiku benar-benar hilang begitu saja, bahkan sepertinya aku tidak pernah mencintainya dari awal, aku tidak tahu mengapa aku mengatakan iya padanya saat dia melamarku. Aku memintanya untuk bercerai, dia mengatakan TIDAK pada awalnya, dan karena itu dia bersedia memaafkanku tentang pengkhianatan yang kulakukan padanya. Taeyeon tidak ada di sana setiap kali aku menuangkan kemarahanku. Dia bilang dia hanya sibuk.  Sampai akhirnya aku bercerai, aku tersenyum saat aku menunjukkannya pada Taeyeon, mataku bersinar dalam kegembiraan saat aku merasakan kebebasan untuk diriku sendiri, dan itu juga berarti aku bisa memiliki cinta sempurnaku dengannya, aku bilang akhirnya aku dan dia, Taeyeon bisa bersama. Tapi begitu bibirnya bergetar saat dia mencoba tersenyum, aku tahu ada yang tidak beres, aku mengerutkan kening melihat reaksinya, dia mendekatiku dan meletakkan tangannya di pinggangku, menarikku ke pelukan erat. Aku bertanya padanya apa yang terjadi? Dan jawabannya membuat hatiku hancur berkeping-keping.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

 

Gimana? Nyesel baca gak? Asli sumpeh parah gw baper baca itu ff. Njayy si tippa hwaaa. Gw jg kzl jg sih penasaran ama yg diomongin tae di bagian akhir.

Klo yg gatau ini tuh ff dr aff. Gw cuman nranslatin doang krna menurut gw ini bagus.

So how about the story? Tell meh wdyta tell mehh~