Enterprischool (Chapter 11)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : nxviaif

.

.

.

Tiffany, Jun, Seohyun, dan Yoona tengah bersiap melakukan perjalanan liburan pertama mereka ke China. Setelah berjam-jam berada di pesawat tidak membuat mereka kelelahan, justru sebaliknya. Jun memimpin perjalanan menuju penthouse keluarganya yang ada di China. Mereka sangat menikmati perjalanan, bahkan Yoona beberapa kali mengambil selca ataupun memotret pemandangan dari balik kaca mobil.

“Apa kalian senang?” tanya Jun.

“Neeee.” balas ketiga sahabatnya bersamaan.

“Oppa, saat kita sampai di penthouse mu nanti akan ada banyak makanan, geujeo?”

Jun tertawa pelan. “Kau tenang saja, Yoong. Aku sudah menyuruh salah satu maid disana untuk membeli baaanyak makanan.”

Yoona meninju tangan kanannya di udara dan berteriak ‘yes’. Seohyun hanya bisa memutar bola matanya malas dan kembali memainkan ponselnya.

Selama menit kedepan, mereka berempat hanya diam, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tiffany yang berada di samping Jun yang mengemudi mobil mengerutkan keningnya melihat gelagat aneh dari Jun.

“Jun, waeyo?” tanya Tiffany khawatir.

“Eo? Hmm.. aniya. Nan gwaenchanseumnida.”

“Geojitmal.” balas Tiffany.

“Benar aku tidak apa-apa, Fany-ah.” Jun menoleh sejenak ke arah Tiffany dan tersenyum. Berusaha meyakinkan sahabatnya.

Tiffany menghela napas. “Arrasseo.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya saat melihat mobil hitam di belakangnya. Namun Tiffany hanya mengangkat bahu dan memejamkan matanya, berniat beristirahat sejenak.

 

***

 

Jessica menelan ludahnya. Dia tidak biasanya bersikap takut seperti ini. Terlebih hanya karena kedua teman idiotnya.

Yuri dan Sooyoung masih menatap Jessica dengan pandangan penuh selidik.

“Sica, bekerjasamalah dengan kami. Itu akan membuat semua lebih mudah.” ujar Sooyoung setelah bermenit-menit Jessica melakukan excuses.

“Be- bekerjasama apa maksudmu.” Jessica masih keukeuh pura-pura tidak tahu.

“Tiffany dan teman-temannya sekarang berada di China.” ucap Yuri.

“MWO?!” teriak Jessica.

“Assa! Kau pasti tahu sesuatu!” Sooyoung berdiri dan menjentikkan jarinya.

“Katakan pada kami mengapa kau seterkejut itu mendengar Tiffany berada di China? Apa kau takut dia bertemu Taeyeon disana?”

Jessica menggigit bibir bawahnya. “A- Apa yang kau bicarakan.”

“Sepertinya kau tidak benar-benar menganggap kami sebagai sahabatmu selama 10 tahun ini, Jessica-ssi.” Yuri tertawa kecut. “Tidak ada bedanya dengan that asshole midget.”

Yuri bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ya Kwon Yuri! Mau kemana kau?!” teriak Sooyoung namun Yuri tak mengindahkannya.

Sooyoung mengembuskan napasnya kasar. Dia menatap Jessica tajam untuk yang terakhir kali. “If you ever consider us as a bestfriend, you never think twice to run over us when you face a problem. Itulah gunanya sahabat.”

Setelah itu, Sooyoung bangkit dan mengejar Yuri. Meninggalkan Jessica yang kini meneteskan airmata. Gadis dingin itu mengepalkan tangannya dan menangis terisak. “I’m screwed up everything.”

 

***

 

“Nona Kim, kami mempunyai kabar untuk anda.”

Taeyeon yang sedang duduk dan mengerjakan beberapa berkas mengangkat wajahnya dan mengerutkan keningnya. Gadis pendek itu berdiri dari kursinya dan mendekati kedua gadis di depannya.

“Duduk.” perintah Taeyeon.

Kedua gadis itu mengangguk dan melakukan apa yang Taeyeon suruh. Disusul Taeyeon.

“Kabar apa?” tanya Taeyeon to the point.

Gadis berambut hitam yang diketahui bernama Ms. Zhou Jieqiong menatap temannya, Ms. Cheng Xiao Xiao dan mengangguk.

Setelah dimintai Taeyeon untuk memata-matai kekasihnya, Tiffany kedua gadis itu segera melaksanakan tugasnya. Jieqiong dan Cheng Xiao memang biasa menangani masalah memata-matai seseorang, kelompok, bahkan company sekalipun. Dan mereka terkenal sangat baik dalam melakukan tugas. Maka dari itu Taeyeon menghubungi mereka.

“Ms. Tiffany tengah berada di China bersama teman-temannya untuk liburan.” ucap Cheng Xiao.

Taeyeon membulatkan matanya. Hanya mendengarnya saja sudah membuatnya sakit. Tiffany, gadis itu sudah banyak tersakiti olehnya. Taeyeon tersenyum kecut.

“Pastikan mata kalian untuk tetap mengawasinya selama berada disini.” ucap Taeyeon.

Kedua gadis di depannya mengangguk.

“Kalian boleh keluar.”

Lagi-lagi mereka mengangguk. Namun sebelum itu, Jieqiong meletakkan map yang sedari tadi dipegangnya di meja.

“Mungkin anda membutuhkan ini. Kami pamit.”

Setelah mengatakan itu, Jieqiong dan Cheng Xiao berlalu meninggalkan Taeyeon.

Taeyeon meraih map tersebut dan membukanya. Jantungnya berhenti sejenak saat pertama melihat apa yang ada didalamnya.

Foto-foto Tiffany yang tengah tertawa bahagia bersama teman-temannya. Dibaliknya juga terdapat nomor ponsel baru Tiffany. Tanpa sadar Taeyeon menitikkan airmatanya. Jujur gadis itu begitu merindukan kekasihnya. Amat sangat merindukan Tiffany.

“Fany-ah..” lirih Taeyeon dengan suaranya yang serak.

 

***

 

Hyoyeon duduk disamping Hyejin yang tengah serius menatap layar laptop didepannya. Gadis blonde itu meletakkan mug berisi coklat panas di meja dekat laptop milik Hyejin.

“Kau bekerja terlalu keras, Hyejin-ah.”

“Eo.. gomawo Hyo.” ucap Hyejin.

Hyoyeon mengangguk. “Negara mana lagi yang akan kau kunjungi?” tanya Hyoyeon sembari menyesap coklat miliknya.

“Entahlah, kontrak dengan salah satu company di Jepang yang gagal membuatku mengurungkan niat untuk menyebarkan brand ku di overseas.”

Hyoyeon tertawa pelan. “Jelas saja gagal. Company yang akan kau ajak kerjasama itu merupakan company besar. Tentu saja mereka tidak akan mau bekerjasama denganmu.”

“Ya! Kau mengejekku ya?!”

“Kalau iya memang kenapa?” balas Hyoyeon dengan senyuman menantang.

Hyejin mendecakkan lidahnta sebelum menerjang Hyoyeon dan memukuli gadis blonde dengan membabi buta.

“Aw aw aw ya ya stop it! Aww yaa Hyejin-ssi aww..”

“Rasakan itu!”

“Okay okay mianhae okay. So please stop it.”

Hyejin menghentikkan pukulannya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Hyoyeon terkekeh. “Kau jangan putus asa. Satu company menolakmu mungkin saja beratus company akan menerimamu.”

Hyejin tersenyum. Dia memeluk Hyoyeon dengan erat.

“That’s my Hyonie.”

Hyoyeon tersenyum. Dia mengusap pelan punggung Hyejin.

“Jin-ah..” panggil Hyoyeon.

“Hm?”

“Kurasa aku ingin berbaikkan dengan saudariku.”

Hyejin melepaskan pelukannya dan menatap tak percaya me arah Hyoyeon. “Jeongmalyo?”

Hyoyeon mengangguk. “Tetap saja dia saudariku. Unnie satu-satunya yang kumiliki. Tidak seharusnya kakak-beradik bermusuhan benar?”

Hyejin tersenyum senang. Dia memeluk Hyoyeon sekali lagi.”Aku akan membantumu. Terimakasih sudah membuka hatimu pada Taeyeon.”

 

***

 

“Oppa, ayo kita ke amusement park!” seru Seohyun.

Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang tengah untuk membahas tempat mana yang akan mereka kunjungi.

“Aniya. Aku ingin ke pantai.” seru Yoona tak ingin kalah.

“Noo. Aku ingin ke pusat perbelanjaan.”

Ketiganya menoleh ke arah Tiffany.

“Wae? Apa yang salah?” tanya Tiffany yang merasa diserang.

Ketiganya menggelengkan kepalanya bersamaan dan melakukan aktivitasnya semula.

“Pokoknya aku ingin ke pantai.” keukeuh Yoona.

“Aniya, lebih menyenangkan amusement park!”

“Lebih baik ke pusat perbelanjaan!”

Jun menghela napasnya melihat tingkah ketiga sahabatnya yang terus berdebat. Dia menundukkan kepalanya di meja, tak ingin ikut perdebatan mereka.

“Jun! Kau setuju ke pusat perbelanjaan kan?” tanya Tiffany.

Merasa namanya dipanggil, Jun mengangkat kepalanya dan menatap Tiffany. “Aku..”

“Oppa! Kau lebih setuju ke pantai, kan?” sela Yoona.

“Oppa! Amusement park saja!”

Jun menutup matanya sejenak dan mengembuskan napasnya kasar.

“Yedeura kita bisa pergi ke pantai, amusement park, dan juga pusat perbelanjaan. Jadi jangan meributkan hal ini lagi, oke?”

“Arrasseo. Tapi pertama-tama kita ke amusement park terlebih dahulu.”

“NOOO PANTAI TERLEBIH DAHULU.”

“Kau bicara apa? Tentu saja pusat perbelanjaan terlebih dahulu.”

Jun memegang kepalanya yang pusing melihat mereka berdebat lagi. Dia bangkit dari duduknya dan pergi darisana. Jun memilih pergi ke taman belakang penthousenya. Dia duduk di kursi panjang disana seraya memijit pelipisnya.

Craaack

Jun terkejut mendengar suara tersebut. Dia berdiri dan berlari ke sumber suara.

“Siapa disana?!” teriak Jun.

Pria itu berlari untuk melihat namun yang dia dapat hanya kosong. Tidak ada siapapun disana.

“Isanghae..” gumamnya.

 

 

 

 

 

“Bodoh! Sudah kubilang jangan terlalu dekat!” Gadis berambut warna ungu menyalahkan temannya.

“Aku tidak tahu ada ranting didepanku!” bela gadis berambut hitam.

“Yedeura geumanhae. Yang terpenting kita tidak ketahuan.” ucap gadis yang paling tua diantara mereka.

“Tetap saja yang tadi itu hampir saja. Ini semua salah dia.” Gadis berambut ungu masih tak terima.

“Aku kan sudah meminta maaf!”

“Stop okay? Lebih baik kita pulang kerumah.” ujar gadis tertua. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Woooow long time no see wkwkwk. Udah sebulan lebih hampir dua bulan malah baru post. Sorry se sorry sorry nyaa. Gw bener2 baru sempet bikin hari ini. Mungkin sehabis ujian2 selese gw bakal fokus rampungin ini fic. Masih pada mau nunggu kan? T.T

And guess what? Yup gw nambahin cast disini. Cuman buat selingan doang sih krna ini fic kan hampir kelar. Ga mengganggu cast utama kok tenang aja.

Okayy pai pai yorobun~ see u next chippie and don’t forget to leave comment~

 

 

 

Advertisements

At Least.. We Still Exist

Taeyeon sampai di dorm ketika sudah larut, tapi dia mendengar suara tawa dari dalam sesaat setelah ia membuka pintu. Taeyeon melepas sepatunya dan menggantinya dengan slipper. Kemudian berjalan memasuki dorm. Dia lalu melihat Yuri dan Yoona tengah tertawa terbahak-bahak di ruang tengah. Taeyeon menaikkan alisnya sebelum mendekati keduanya.

“Apa ada hal lucu?” tanya Taeyeon seraya melepas hoodie nya.

Yoona mengusap sudut matanya yang berair dengan masih sedikit tertawa. Sedangkan Yuri terus memegangi perutnya selagi tawanya masih terdengar nyaring.

“Ya Unnie geumanhae.. bwahahaha~” Yoona tak kuasa menahan tawanya lagi melihat Yuri yang terus tertawa.

Taeyeon memutar bola matanya.

“Yedeura geumanhae.” seru Taeyeon.

Yuri menarik nafasnya dan menahan tawanya yang akan keluar lagi. “Puuufh~ kau akan tertawa saat melihat ini, Taeng.”

Yuri membuka ponselnya yang sedari tadi ia pegang dan menyerahkannya pada Taeyeon. Sang leader menerimanya dan mulai melihat apa yang Yuri tunjukkan. Detik kemudian tawanya pecah. Yoona dan Yuri yang mulai berhenti kembali tertawa melihat leader mereka tertawa.

“Kubilang juga apa, Taeyeon-ah.” ucap Yuri disela tawanya.

Didalam ponsel Yuri, terdapat video Hyoyeon yang tengah berbicara bahasa alien disaat tertidur. Disaat Yoona atau Yuri bertanya pada Hyoyeon, gadis itu dengan tak diduga menjawab pertanyaan mereka. Jelas saja hal itu mengundang tawa. Apalagi jawaban Hyoyeon menggunakan bahasa slang dengan logat yang lucu. Taeyeon tebak hal itu terjadi tak lama tadi sebelum dia kembali ke dorm.

Mereka bertiga masih tertawa berjamaah. Tak peduli hari telah larut dan tawa mereka sampai terdengar diluar.

“Aigoo, geumanhae geumanhae.. ahahaha..”

“Nyumnyungnyuumnyuuung aaiiuuung ahuhaauh~” Yoona menirukan suara Hyoyeon di video dan membangkitkan tawa mereka lagi.

“Dia sangat lucu hahaha~”

“Aaah perutku sakit, Unnie.” Yoona memegangi perutnya.

Setelah beberapa saat, ketiganya mulai berhenti.

“Kau darimana, leader?” tanya Yuri yang sudah kembali ke mode normal.

“Hanya berkeliling mencari udara segar. Eoh, apa Sunkyu belum pulang?”

Yuri menggeleng. “Tapi sebentar lagi dia pasti pulang. Ini sudah jam sebelas lebih.”

Taeyeon mengangguk.

“Eo, apa yang ada didalam situ, Unnie?” tanya Yoona yang menyadari sesuatu ditangan Taeyeon.

Taeyeon menurunkan pandangannya pada plastik yang tengah dibawanya. “Ah, ini patbingsoo dan kimbap. Kupikir kalian belum tertidur dan ingin memakan sesuatu. Beruntung tebakanku benar.”

Mata Yoona berbinar. Dia segera mengambil plastik ditangan Taeyeon dan membukanya. Gadis rusa menjilat bibirnya.

“Gomawoyoongg Unnieee~” aegyeo Yoona yang segera dibalas wajah merinding oleh Taeyeon. Dia merasa terganggu dengan aegyeo Yoona.

“Ga makanlah.”

Mereka berdua mulai memakan patbingsoo dan kimbap dengan lahap. Terutama Yoona. Mulut gadis rusa tak pernah absen untuk terus terisi.

“Kau tak makan, leader?” tanya Yuri. “Apa perlu ku suapi?” lanjutnya.

Taeyeon menggeleng. “Aeeesh tak usah. Aku sudah memakannya disana tadi.”

“Aku pulaaang~”

Mereka bertiga mendengar suara seperti anak kecil yang berasal dari pintu dorm. Tak lama kemudian, Sunny muncul dengan membawa kantung plastik ditangannya.

“Aah beruntung kalian belum tertidur. Aku membawa buah untuk kalian.” Sunny bergabung bersama mereka dan meletakkan kantung plastik di meja dan membukanya.

“Waaa rezeki gadis cantik~” ujar Yoona dramatis.

“Dimana Hyoyeon?” tanya Sunny seraya mengambil sepotong kimbap dan memakannya.

“Dia sudah tertidur. Apa perlu aku membangunkannya?” tanya Taeyeon.

“Tak usah. Biar dia kenyang makan di dunia mimpi saja.” balas Yuri.

“Ya kedelai hitam! Dia juga member kita, kau tahu!” Sunny melempar biji semangka ke arah Yuri yang langsung menempel di bawah matanya.

Yoona tertawa melihat Yuri. “Kau mengingatkanku pada Chaeso, Unnie.”

“Aah ne matta matta. Tiffany tak bisa memasukkan satu biji pun waktu itu.” timpal Yuri dan mereka pun tertawa.

Taeyeon hanya tersenyum pelan dan memakan jeruk nya dengan diam.

Setelah si kembar berhenti tertawa, mereka menghela nafasnya bebarengan. “Kalau saja babi pink itu masih disini.” ujar Yuri dengan nada sedih.

“Aeey kedelai hitam, berhenti menunjukkan wajah memelas seperti itu. Menjijikan.” Sunny yang merasa atmosfer diantara mereka berubah segera menggantinya.

“Kupikir Sunny Unnie benar, Yul Unnie. Wajahmu begitu menjijikan saat ini.” tambah Yoona yang langsung dihadiahi silau tajam dari Yuri.

“Aku setuju.” timpal Taeyeon.

Yuri mempoutkan bibirnya dan merengek seperti anak kecil.

“Ingat umurmu, kedelai hitam!” Sunny menjitak kepala Yuri.

Taeyeon dan Yoona tertawa melihat kedua member mereka yang seperti anjing dan kucing.

“Bagus sekali berkumpul tanpaku, hm?”

Mereka berempat menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Hyoyeon yang tengah berkacak pinggang.

“Kemarilah, Hyo.” ucap Taeyeon dengan menepuk tempat disampingnya.

Hyoyeon mendekati mereka dan mulai duduj disamping Taeyeon. Gadis itu mengambil patbingsoo di meja dan memakannya dengan malas. Dia masih kesal karena member tak membangunkannya dan mengajaknya.

“Aah aku merindukan saat-saat seperti ini~” Taeyeon meregangkan tangannya dan menatap membernya satu-persatu.

Mereka semua mengangguk mengiyakan ucapan Taeyeon. Sudah sangat lama semenjak mereka berkumpul bersama ditengah jadwal individu mereka. Apalagi ditambah ketiga member mereka yang memilih meninggalkan agensi. Rasanya mendapat waktu berkumpul berdelapan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Namun Taeyeon bersyukur masih bisa berkumpul dengan member yang tersisa seperti saat ini.

“Aku merindukan Pany Unnie, Syoung, dan Juhyunie.” Yoona memajukan bibirnya dan bermain dengan kulit jeruk menggunakan sumpit.

“Aah lupakan saja. Siapa yang ingin minum? Kalian free besok, bukan?” tanya Sunny.

Yuri dan Hyoyeon dengan semangat mengacungkan tangannya. Yuri menampar paha Yoona yang dibalas decakkan oleh gadis rusa. Kemudian Yoona ikut mengacungkan tangannya malas.

“Taeng?” panggil Sunny karena gadis mungil itu tak ikut mengacungkan tangannya.

“Arrasseo.” Dengan itu, Taeyeon mengacungkan tangannya.

“Tapi sedikit saja. Kau tahu toleransiku rendah terhadap alkohol.”

Sunny mengangguk. Gadis imut itu berdiri dan berjalan menuju pantry untuk mengambil beberapa botol soju dan gelas.

“Soju siaaaap~” Sunny menaruh soju dan gelas di meja.

“Let’s party! Yoong-ah nyanyikan bagianmu.” seru Yuri.

Yoona terkekeh dan mengangguk. “I like to party~”

Semua yang ada disana tertawa. Hampir seluruh member menyukai lagu dari album terbaru mereka yang berjudul All Night. Terlebih suara Yoona saat menyanyikan part tersebut.

Sunny mulai membuka soju dan menuangkannya di gelas masing-masing member. Setelah semua selesai terisi, dia mengangkat gelasnya yang diikuti oleh member lain.

“Geonbae!” seru mereka.

Taeyeon hanya meminum satu gelas saja. Selain karena tak ingin mabuk, dia juga harus mengurus membernya yang sepertinya akan berakhir mabuk. Selebihnya dia menonton aksi konyol YoonYulHyo. Hal itu sedikit menghiburnya.

Gelas demi gelas. Botol demi botol telah lenyap masuk kedalam perut mereka berempat. Yoona menyipitkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya gadis itu sudah mabuk. Yuri dan Hyoyeon terus menari dengan gila dan tak beraturan. Sama seperti Yoona, kedua gadis itu juga sudah mabuk. Taeyeon menghela nafasnya. Dia berganti menatap Sunny yang duduk disamping Yoona. Taeyeon sedikit terkejut melihat Sunny yang masih sadar padahal gadis imut itu telah menghabiskan bergelas-gelas soju.

“Kau lupa aku ini sama seperti kekasihmu yang tak gampang mabuk, huh?” ujar Sunny yang seperti membaca pikiran Taeyeon.

Taeyeon mengangguk. “Bagaimana dengan Yuri?” Taeyeon menatap Yuri yang tengah berangkulan dengan Hyoyeon dan bernyanyi absurd. Dia juga tahu Yuri tak gampang mabuk.

“Kau ini bodoh atau apa. Lihat sebanyak apa Yuri minum.” Sunny menunjuk botol soju didepannya.

“Ommaya!” terkejut Taeyeon. Sunny tertawa.

“Dia kedelai hitam yang gila.”

Taeyeon mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya.

Sunny tersenyum. Namun senyumnya segera pudar dan terganti dengan kesedihan di raut wajahnya. Taeyeon menyadari hal itu.

“Aku tahu mereka berpura-pura tegar belakangan ini. Kau lihat itu. Pada akhirnya mereka kalah oleh perasaan mereka juga.” Sunny menunjuk ketiga temannya menggunakan dagunya.

Yuri dan Hyoyeon sudah tidak bernyanyi aneh lagi. Mereka menunduk dan menangis. Menumpahkan segala isi hati mereka dengan mengumpat dan berteriak. Hati Taeyeon sakit mendengar apa yang mereka katakan. Berbeda dengan Yoona, gadis rusa hanya diam dan menatap poster mereka berdelapan yang terpajang di dinding dengan senyum kecut.

“Ini sulit… bagi mereka.. juga kita..” Sunny menatap Taeyeon.

“Menangislah kalau kau ingin menangis leader. Aku tahu sulitnya berada di posisimu.”

Taeyeon menggeleng meski dirinya ingin sekali menangis. Meskipun mereka tak mengatakan meninggalkan grup dan hanya meninggalkan agensi, namun secara tidak langsung, mereka pergi dari grup. Tidak satu agensi berarti mereka tidak lagi berkewajiban mengurus grup. Tidak terikat lagi dengan grup.

“Semua sudah terjadi, Sunkyu-ya. Mari hanya melihat kedepan, dengan atau tanpa mereka bertiga. Ini sudah pernah terjadi tiga tahun silam. Aku bisa meng-handle nya.” ucap Taeyeon dengan tersenyum lemah.

“Dia kekasihmu, Taeng.”

“Aku tahu. Maka dari itu aku melepasnya. Aku tak mau dia terus tersakiti jika harus bertahan.”

“Bagaimana dengan Syoung dan Juhyun?” tanya Sunny.

“Itu pilihan mereka, Sunkyu. Aku tak bisa melarangnya.”

“Kau tahu seperti apa agensi kita. Bagaimana jika.. kemungkinan terburuk itu benar terjadi.. dan kita hanya comeback berlima?”

Taeyeon mengangkat bahunya. “Setidaknya SNSD masih ada.”

“Taeyeon-ah..” Sunny mengerutkan keningnya.

Taeyeon terkekeh. “Sudahlah. Lebih baik ayo urusi bocah-bocah itu.”

Taeyeon bangkit dan mendekati ketiga membernya yang sudah tak sadar. Dia membantu memindahkan mereka untuk tertidur bersisihan karena tak mungkin membawanya ke kamar.

“Kau akan terus berdiam disitu, Sunny-ah?”

Sunny terenyak. Dia menggeleng.

“Tolong ambilkan bantal dan selimut untuk mereka.” pinta Taeyeon dan langsung dibalas ya oleh Sunny.

Taeyeon menatap figur sahabatnya yang sudah bersamanya selama hampir separuh usianya selagi menunggu Sunny membawakan selimut dan bantal untuk mereka.

Taeyeon tersenyum pelan melihat wajah polos mereka. Dia terkejut dan segera menghapus airmatanya yang menetes sebelum ketahuan oleh Sunny.

Taeyeon melihat kebelakang dan menghela nafasnya lega saat Sunny belum terlihat. Dia menolehkan pandangannya ke arah tiga sahabatnya lagi.

“Mianhae.. neomu gomawosseo..” ucapnya lirih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

Gw tau ini gaje. So maafkan ke gaje an gw yes. Gw jg mau menginformasikan kalo bulan ini dan bulan besok kalo gw jarang update tolong dimaklumin. Kalian tau sendiri lah kegiatan siswa tingkat ujung gimana. Yass gw sibuk sm intensifikasi dan sebagainya. Belum lagi try out dan teman2nya. Pwuuhh capek fisik capek otak pasti.

Gw update kalo bener2 sempet doang. Dan gw mohon jangan pada nganggep gw tutup wp ato mager nulis ato yg laine. Karena bener2 sulit bagi waktu belajar sm nulis walooun nulis hobby gw. So mohon kerjasamanya guys~ *bow

Okay see u next fic guys~

Enterprischool (Chapter 9)

Title : Enterprischool

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

“Apa kabar, Kim?”

Taeyeon menegang mendengar suara tersebut. Dia membalikkan tubuhnya dengan sangat pelan. Menelan ludahnya saat penglihatannya menangkap seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.

“Hyejin..”

Hyejin tersenyum miring. “Jadi apa kau masih mengingat ucapanku waktu itu? Siapa yang kau curigai?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Dia membulatkan matanya saat gadis yang dia kejar berjalan mendekat ke arahnya dan berhenti disamping Hyejin.

“H- Hyoyeon-ssi.” gumam Taeyeon.

Hyejin menoleh ke arah Hyoyeon kemudian ke arah Taeyeon. “Benar. Dia Kim Hyoyeon. Seseorang yang kau curigai akhir-akhir ini. Apa aku benar?”

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Bahkan hanya untuk menjawab ‘ya’.

“TaeTae!” teriak Tiffany. Namun Taeyeon masih berdiri kaku ditempatnya.

Tiffany berlari mendekat ke arah Taeyeon dan memegang lengannya. “Ya! Mengapa kau berlari dan meninggalkan belanjaanku?!”

Taeyeon masih diam. Tiffany mengerutkan keningnya. Dia mengikuti arah pandang Taeyeon dan terkejut saat melihat mantan kekasih Taeyeon dan seorang gadis blonde yang tidak diketahuinya. Mungkin kekasih Hyejin Unnie yang baru?

“Ah, biar kutebak. Dia pasti kekasih bocahmu, hm?”

Tiffany menaikkan satu alisnya. Dia ingin sekali berteriak kesal di depan wajah mantan kekasih Taeyeon itu. Enak saja mengatakan dia bocah. Kalau dia bocah, bagaimana dengan Hyejin? Nenek tua? Tiffany memutar bola matanya malas.

Tiffany tersenyum saat menemukan ide. Mengapa dia tidak meminta Jessica menyusul mereka kemari? Melihat Taeyeon yang hanya diam membisu seperti orang idiot tidak akan membantu. Setelah mengetik beberapa kalimat untuk dikirimkan ke Jessica, Tiffany menoleh ke arah Hyejin dan gadis unknown disampingnya.

“Hyejin Unnie. Apa kau keberatan untuk mentraktir kami ice cream? Aku ingin tahu bagaimana rasanya makan ice cream bersama mantan kekasih kekasihku.” Tiffany tersenyum mengejek.

Dia bisa melihat Hyejin mengeraskan rahangnya. Namun tak berselang lama. Hyejin tersenyum manis dan mengangguk. “Call!”

Mereka berempat pada akhirnya naik ke lantai atas, ke kedai ice cream favorit Taeyeon. Mereka memesan ice cream yang berbeda satu sama lain. Taeyeon masih tetap diam seperti orang dungu. Tiffany beberapa kali menyuapi kekasihnya itu karena hanya diam.

“Hyejin! Hyoyeon-ssi!”

Mereka berempat serentak menoleh ke arah suara dolphin yang memekakkan telinga.

“Sica!” Hyejin berdiri dan berlari menghampiri Jessica. Gadis itu memeluknya dengan erat.

“Oh my Gosh! Kenapa sulit sekali menghubungimu, huh?” Jessica berkata setelah melepas pelukan mereka.

“Mianhae. Kau tahu, akhir-akhir ini aku sibuk merintis usaha baruku.” balas Hyejin dengan wajah menyesal.

“Wow! Kau jadi membuat brand mu sendiri?” tanya Jessica berbinar. Mereka seakan melupakan keberadaan tiga orang dibelakangnya.

“Yeah. Bersyukur Hyonie mau membantuku.”

Jessica menolehkan pandangannya ke arah Hyoyeon yang tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.

“God! Hyoyeon-ssi!” Jessica berlari kecil lalu memeluk Hyoyeon.

“Kau apa kabar? Sudah sangat lama terakhir kita bertemu.”

Jessica melepas pelukannya dan mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.

Hyoyeon tertawa. “Kau tahu orang seperti apa diriku ini.” Hyoyeon membanggakan dirinya sendiri.

“Chill! Kau harus mentraktirku dinner mewah kali ini. Awas saja kau.” Jessica terkekeh begitu juga Hyoyeon.

Taeyeon menatap interaksi mereka bertiga dengan wajah dungu. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sedangkan Tiffany hanya bisa membuka mulutnya tak percaya. Dia pikir kalau seperti ini Jessica tidak akan membelanya nanti.

“Unnie..” panggil Tiffany lirih. Sedari tadi Jessica melupakan keberadaannya.

“Oh hey, Tiff. Kau disini juga?”

Tiffany meringis. Bukankah dia sendiri yang meminta Jessica kemari?

Tiffany tersenyum palsu dan mengangguk kaku. Benar. Jessica pasti tak akan membelanya dan melindunginya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka bersama kedua sahabat konyol Taeyeon.

“Taenggu, ada apa dengan wajahmu?” tanya Jessica yang menyadari wajah tak biasa sahabatnya.

Taeyeon menggeleng. “Gwaenchanha.”

Sore itu mereka isi dengan perbincangan yang menyenangkan. Sebenarnya bukan keseluruhan mereka, namun hanya Jessica, Hyejin, dan Hyoyeon saja. Sedangkan Taeyeon dan Tiffany hanya diam menyaksikan ketiganya berbincang. Jessica seakan melupakan masalah dan keresahan Taeyeon. Padahal saat ini kedua orang yang diduga menjadi informan berada tepat di depannya.

Taeyeon merasakan sakunya bergetar. Dia merogoh sakunya dan meraih ponsel berlogokan apel tergigit dan membukanya.

Sebuah pesan. Dari sahabatnya, Yuri.

Taeng, masalah besar! Tiffany dikeluarkan dari sekolah. Cepat ke kantor!

 

Mata Taeyeon melebar, bahkan terlihat hampir copot. Dia berdiri dengan cepat dan menarik tangan kekasihnya untuk keluar darisana. Tiffany yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunjukkan wajah bingungnya. Jessica berteriak memanggilnya namun tak dihiraukan oleh Taeyeon.

“TaeTae sebenarnya ada apa?” tanya Tiffany setelah mereka berada di mobil Taeyeon.

Gadis yang lebih tua tak menjawab apapun. Wajahnya berubah datar dan dingin. Tiffany sampai ketakutan melihat Taeyeon yang seperti ini. Bahkan gadis itu mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Tiffany hanya bisa menggenggam erat sabuk pengamannya.

Taeyeon menghentikan mobilnya di depan rumah Tiffany. Gadis yang lebih muda bersyukur mereka sampai dengan selamat.

“Masuklah kedalam.” ucap Taeyeon dingin tanpa menatap Tiffany.

Tiffany menundukkan kepalanya dan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Tiffany membuka pintu mobil dan keluar. Tak lama setelah itu mobil Taeyeon segera berbalik dan melaju dengan cepat. Tiffany menghela nafasnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi pada kekasihnya.

 

“What the f*ck! Apa maksudmu, Kwon Yuri?!” semprot Taeyeon setibanya ia di ruangannya.

Dia melihat Yuri dan Sooyoung yang menunjukkan wajah frustasi dan prihatin. Masalah mereka terus saja bertambah pelik.

Taeyeon menarik kerah kemeja Yuri. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi kali ini!”

Yuri melepas tangan Taeyeon di kerah kemejanya dengan kasar.

“Bisakah tak memasukkan emosi saat ini, hah?” teriak Yuri. Dia kesal dengan Taeyeon yang tak bisa menahan emosinya. Dia pikir Taeyeon sudah berubah. Mereka tahu tabiat Taeyeon yang kasar dan pemarah semenjak sekolah dasar.

“Hey hey hey, kita berkumpul disini bukan untuk bertengkar. Chill!” Sooyoung menengahi.

Yuri mengembuskan nafasnya kasar. Dia melonggarkan dasi miliknya dan duduk di sofa tanpa melihat Taeyeon. Dia masih kesal.

“Kau saja yang menjelaskan, Soo.” ucap Yuri. Sooyoung mengangguk.

“Kumohon kau tenanglah terlebih dahulu, Taeng. Dan jangan memasukkan emosi setelah aku selesai menjelaskan.” pinta Sooyoung.

Taeyeon menghela nafasnya dan mengangguk lemah.

“Tiffany dikeluarkan karena masalah Daddy nya.. kau tahu.. tuduhan penggelapan dana itu dan.. k- karena dia g- gay. Sekolah tak mau Tiffany merusak nama baik mereka.” jelas Sooyoung.

Taeyeon memejamkan matanya. Dia mengerang dan memukul meja didepannya hingga buku-buku jarinya memerah. Dia tidak peduli tangannya sakit dan lebam.

“F*ck!” umpatnya.

***

Hal tersebut tak butuh waktu lama sampai di telinga Tiffany. Gadis itu terduduk lemas dengan tatapan kosong. Daddy nya menatap puterinya dengan pandangan menyesal. Dia meminta maaf telah menyebabkan puterinya dikeluarkan dari sekolah. Pria paruh baya tersebut memeluk puterinya yang disusul isakkan dari gadis brunette. Tiffany menangis sesenggukan.

Keesokan harinya, Tiffany mengurung dirinya di kamar. Daddy nya terus membujuk puterinya untuk keluar dan sarapan bersama. Namun Tiffany tak menghiraukan dan memojokkan dirinya di pinggiran ranjang. Air matanya telah kering. Bahkan hingga sore hari Tiffany tak kunjung keluar. Hal itu membuat Daddy nya cemas. Dia teringat kunci cadangan yang ada di rak. Daddy Hwang membawa nampan berisi makanan dan membuka pintu kamar puterinya. Dia melihat Tiffany masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Jujur hal itu membuat hati Daddy Hwang sakit.

“Stephy, makanlah dulu, nak. Kau belum makan seharian.” pinta Daddy Hwang.

“Taruh saja di meja. Daddy boleh keluar.” ucap Tiffany dengan suara seraknya.

“Tapi, Steph-…”

“Daddy.. please..”

Daddy nya menghela nafasnya dan mengangguk. Beliau berdiri dan menaruh nampan berisi makanan di meja samping ranjang. Lalu mulai keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Setelah Daddy nya pergi, Tiffany menangis. Lagi.

Hal itu berlangsung selama tiga hari. Tiffany sama sekali tak keluar dari kamarnya. Daddy Hwang bertambah khawatir. Sebenarnya dia juga memiliki kegiatan untuk mencari pekerjaan lagi, tapi mengingat puterinya yang seperti itu mengurungkan niatnya.

Daddy Hwang mendengar bunyi bel. Dia berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya. Seorang pria muda tersenyum kearahnya seusai dia membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Choi Jun imnida, teman Tiffany.” Jun membungkukkan tubuhnya sopan.

“Apa Tiffany dirumah, paman?” tanya Jun.

Daddy Hwang memandang Jun dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Kemudian menghela nafasnya.

Daddy Hwang mengangguk. “Namun sudah tiga hari ini Stephy tidak keluar dari kamarnya. Dia pasti sangat shock dan sedih.” Daddy Hwang berkata dengan nada sedih.

Jun membulatkan matanya. Dia tidak mengira sahabatnya akan seperti ini. “P- Paman, bolehkah aku bertemu dengannya? Aku akan mencoba berbicara dengan Tiffany.” pinta Jun.

“Baiklah. Kuharap kau bisa membujuknya keluar.” Daddy Hwang menepuk bahu Jun dan mempersilakan Jun masuk kedalam.

Daddy Hwang membuka pintu kamar puterinya dan mempersilakan Jun masuk. Beliau kemudian pergi, membiarkan Jun membujuk puterinya.

“Tiff..” panggil Jun.

Tiffany mendongakkan wajahnya dan melihat Jun. Dia diam sebelum suara isakkan keluar dari mulutnya. Jun terkejut dan segeta berlari memeluk sahabatnya.

“Sssst. Gwaenchanha. Everything’s gonna be alright.” Jun mengelus punggung Tiffany. Sedangkan gadis brunette menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jun dan terus menangis terisak.

Sementara diluar kediaman Tiffany, seorang gadis mungil tengah menatap kosong kedepan di dalam mobil mercedes nya. Dia menghela nafas saat ucapan sahabatnya terngiang di kepalanya. Dan saat gadis itu menangkap sebuah motor sport berwarna hitam yang familiar, dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berbalik. Dengan perkataan sahabatnya yang melingkari kepalanya menemani perjalanan gadis mungil.

Taeyeon berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia amat tahu Tiffany pasti sangat sangat membutuhkannya saat ini. Namun dia tak ingin menunjukkan wajah sedihnya jika harus berhadapan dengan kekasihnya. Dia harusnya bisa menyemangati gadis brunette, tapi sepertinya hal itu tak bisa ia lakukan. Terlalu sakit membayangkan keadaan Tiffany untuk saat ini. 

Jessica masuk kedalam ruangannya dengan membawa berkas. Taeyeon menerimanya dan mulai membukanya. Taeyeon pikir Jessica akan keluar setelah menyerahkan berkas. Dia mendongak dan melihat Jessica menatapnya dengan serius. 

“Wae?” tanya Taeyeon. 

“Tinggalkan Tiffany.” ucap Jessica langsung tanpa basa-basi. Jelas saja hal itu membuat Taeyeon marah. 

“Why the hell, Jess!” Taeyeon menatap Jessica dengan berapi-api. 

Jessica menghela nafasnya. “Kau..” Jessica menunjuk Taeyeon dengan telunjuknya. “Pernahkah kau berpikir kalau kehadiranmu membuat kehidupan Tiffany berangsur memburuk?” 

Taeyeon mengerutkan keningnya. Tak paham dengan ucapan sahabatnya. 

“Apa maksudmu?” 

“Sebelum kau bersamanya, kehidupan Tiffany begitu mulus tanpa masalah apapun. Dan pada saat dia menjalin hubungan denganmu, satu persatu masalah muncul. Apa kau tidak pernah berpikir kearah sana?” Jessica menatap Taeyeon dengan dingin. 

Taeyeon diam. Jessica benar. 

“Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Taeyeon lemah. 

“Tinggalkan Tiffany. Aku tahu itu pasti sakit untukmu dan juga Tiffany. Tapi aku lebih sakit melihat Tiffany yang sudah kuanggap adikku sendiri menderita. Taeyeon.. bisakah?” Jessica menatap Taeyeon dengan tatapan memelas. 

Jujur dia sakit melihat sahabatnya semenjak bayi merasa sedih, tapi dia juga tak ingin mengorbankan adik kesayangannya juga jika mereka terus memaksa bersama.

Taeyeon mengembuskan nafasnya kasar. “Akan kucoba.”

Jessica memutari meja kerja Taeyeon dan memeluk sahabatnya. “Ini yang terbaik, Taenggu.”

***

Sebulan telah berlalu. Keadaan Tiffany semakin membaik dari hari ke hari. Dia sudah mulai membuka dirinya lagi dan bersikap ceria, seperti biasanya. Dan selama itulah Tiffany tak bertemu Taeyeon. Jujur hal itu membuatnya kecewa. Harusnya kekasihnya yang datang dan menyemangatinya. Namun dia tak merasa marah berlebih pada gadis mungil itu. Dia mencoba berpikir bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi terakhir kali dia melihatnya, Taeyeon terlihat sangat stress.

“Jun-ah, antarkan aku ke kantor ahjumma. Pleaasee.” pinta Tiffany pada Jun yang tengah bermain ke rumahnya dan menemaninya karena Daddy Hwang pada akhirnya mendapat pekerjaan lagi semenjak dua minggu yang lalu.

“Arra arra. Tapi..” Jun menunjuk pipi kanannya dengan senyum jahil.

Tiffany tertawa pelan. Dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Jun bermaksud mengecupnya. Namun detik kemudian Jun menolehkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Tiffany melebarkan matanya.

Jun melepas kecupannya dan tersenyum.

“Kajja!” ajaknya dan mulai berjalan menjauhi Tiffany.

Sementara gadis brunette masih diam ditempatnya dan merasakan pipinya yang terasa panas.

Tiffany tak berbicara selama perjalanan. Dia masih merasa malu dengan kejadian tadi. Dia tahu dia harusnya kesal pada Jun yang mencuri kecupannya. Namun dia tak bisa melakukan itu karena dia sendiri merasa jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkan kejadian tadi.

Sesampainya mereka di kantornya, Tiffany bertanya kepada resepsionis yang sama saat pertama kali dia datang di kantor Taeyeon.

“Unnie. Apa Taeyeon Unnie di ruangannya?” tanya Tiffany dengan semangat.

Wanita di depannya menunjukkan wajah sedihnya. “Maafkan aku, nona. Tapi sajangnim sudah hampir sebulan ini berada di China. Sepertinya sajangnim akan bekerja di anak perusahaan disana.”

Jawaban sang resepsionis tentu saja membuat jantung Tiffany mendadak berhenti berfungsi. Dia mengucapkan terimakasih kemudian mulai berbalik. Dia membuka ponselnya dan mulai menghubungi Taeyeon. Namun yang didengarnya hanya suara operator. Dia mencoba lagi dan suara operator yang menyapa pendengarannya.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Sudah lebih dari tiga puluh kali Tiffany mencoba menghubungi Taeyeon dan hasilnya tetap sama. Dia hampir menangis karena kekasihnya tak kunjung menjawab panggilannya. Dia mencoba sekali lagi dan suara operator kali ini meruntuhkan segalanya. Nomor kekasihnya sudah tidak terdaftar lagi. Itu berarti Taeyeon telah mengganti nomornya, tak lama tadi.

Perlahan airmata kembali menetes di pipi Tiffany. Jun yang melihatnya panik dan segera memeluk Tiffany.

“Dia meninggalkanku hiks~”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah ter-updatekan!

Eotte? Badai lagi kan muahahahaha *evillaugh

Okayy gw tunggu komen kece2 kalian *cyailah wkwkwk

Bubye~ see u next chap~

Date

Enjoy read~

 

Satu sentuhan lagi pada wajah cantiknya, gadis bermata indah selesai dengan riasannya. Dia memandang pantulan dirinya di cermin dengan senyum puas. Alat make-up nya ia letakkan di tas bermerk nya, kemudian disusul ponsel, dan juga dompetnya. Oh dan tak lupa beberapa camilan yang khusus dibawanya saat gadis itu merasa ingin memakan sesuatu.

Dia merapihkan sedikit penampilannya sebelum pergi dari ruangannya. Kencan yang dipersiapkan sejak tadi tinggal menghitung menit lagi. Kencan yang tidak ia duga. Kencan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Kencan dengan sahabatnya sendiri. Meskipun gadis itu memiliki kekasih- bukan- teman tapi mesra? *ewh– bukan- cem-ceman?- bukan!- friend with benefits? Ya, anggap saja seperti itu.

“Kau yakin dengan ini, Yul?” Tiffany bertanya saat mereka sudah menaiki mobil milik Yuri.

Gadis tan sedikit membantu Tiffany dalam memakai sabuk pengamannya sebelum melakukan hal yang sama pada dirinya.

“Mollasseo. Tapi apa salahnya mencoba?”

Tiffany mengerang lucu. “That lil’ jerk.”

Yuri tertawa pelan mendengar umpatan sahabatnya. Dia menggeleng pelan sebelum melajukan mobilnya melintasi jalan yang masih terasa asing namun dikenalinya.

“Want some ice cream?” Yuri bertanya tanpa melihat ke arah Tiffany. Gadis itu masih sibuk melihat cafes atau tempat untuk mereka datangi. Seperti yang dikatakan diatas. Mari anggap itu adalah kencan mereka.

“Kau tidak lupa kan sedang hangout denganku dan bukannya bocah imut itu?” Tiffany memberikan silaunya pada Yuri.

Yuri menaikkan bahunya dan mengetuk-ngetukan jarinya di stir mobil.

“Ini masih siang, Tiff. Tak ada club yang buka.” ujar Yuri seraya mendongakkan kepalanya kedepan.

“Hei, aku tidak bilang ingin pergi ke club!” protes Tiffany.

Yuri mengabaikan protesan Tiffany dan membelokkan mobilnya di salah satu kedai eskrim.

“Kalau kau ingin membuat si midget itu cemburu, lakukanlah dua point penting. Aku..” Yuri menunjuk dirinya sendiri. “..dan ice cream.”

Setelah mengatakan hal itu, Yuri melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya, disusul Tiffany.

Keduanya berjalan menuju kedai eskrim dan mulai memesan dua buah eskrim cone. Tiffany membasahi bibirnya dengan lidahnya saat gadis pirang tersebut memberikan eskrimnya.

“Come to mama come to mama~” girang Tiffany.

Yuri memutar bola matanya malas. “Siapa yang tadi tidak mau eskrim, huh?”

“I’m not!” sahut Tiffany dan berjalan mendahului Yuri.

“Yul cepat! Ayo kita selca!” teriak Tiffany.

Yuri mendekati sahabatnya dan duduk disamping gadis itu.

“Bagaimana dengan posenya? Haruskah aku mengecup pipimu?” Yuri memposisikan tubuh dan wajahnya disebelah Tiffany dengan matanya yang fokus melihat ke arah kamera.

“Ya! Kau ingin isteriku menceraikanku?!” protes Tiffany sekali lagi.

“Slow, Tiff. Baiklah, cepat ambil gambarnya.” Yuri menunjuk ke arah kamera Tiffany dengan dagunya.

Keduanya terlibat selca cukup banyak dan juga video. Untuk apa? Tentu saja mengunggahnya ke akun sosial media mereka. Tujuan mereka kencan hanyalah untuk membuat Taeyeon, atau kau bisa sebut isteri dari Tiffany Hwang cemburu.

Selain karena Yuri datang ke Amerika untuk melakukan operasi pada kakinya, dia juga menyempatkan membantu sahabatnya yang kebetulan berada disana seusai menyelesaikan pekerjaannya. Dia melihat hubungan kedua sahabatnya yang terlihat lesu dan berniat membangkitkannya lagi. Berdoa saja agar Taeyeon benar-benar cemburu dan menunjukan sifat posesifnya lagi terhadap Tiffany.

“Kudengar Sica berada disini juga?” Tiffany mengajukan pertanyaan random seraya memilah foto dan video yang akan ia unggah ke snapgram nya.

Yuri mengangguk tanpa berniat membalas pertanyaan Jessica. Dia sibuk memakan eskrim yang menggodanya untuk dimakan.

“Kalau hal ini berhasil, apa yang akan kau berikan untukku sebagai balasan, Fany-ah?” tanya Yuri antusias.

“Tiket liburan bersama Juran Unnie?” Tiffany menaikkan satu alisnya dan menahan tawanya melihat perubahan air muka sahabatnya.

“Kau tak asik, Fany-ah.” Yuri mengerucutkan bibirnya.

Pecah sudah tawa Tiffany. Dia meletakkan ponselnya di meja dan menutup mulutnya meredam tawanya yang keras.

“Juran atau Jessi, hm?” goda Tiffany lagi.

“Berhenti menggodaku atau Taeyeon kuberitahu tentang plan B mu.”

Tiffany mendelik. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Yuri menunjukkan smirk nya. “Lain kali hati-hati meletakkan buku diary mu, Miss.”

Tiffany membuka mulutnya dan menunjuk Yuri dengan penuh kekesalan. Dia mendecakkan lidahnya dan memakan eskrimnya cepat.

“Kau sudah selesai? Cepat pergi dari sini.”

“Kenapa terburu-buru?” tanya Tiffany.

Yuri menghela nafasnya. “Kau tidak lihat langit diluar sudah berubah warna? Kalau bukan karena photoholic mu, kita bisa pergi ke beberapa tempat lagi.”

Tiffany nyengir kuda seraya menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.

“Sudahlah. Kajja! Masih ada waktu untuk pergi ke lain tempat.”

***

“Apa ada kabar?” Yuri bertanya dengan membawa satu mangkuk sereal. Dia berniat memakannya sebelum teringat Tiffany yang mengurung diri di kamarnya.

Tiffany menggeleng lemah, tubuhnya ia biarkan tengkurap dan menatap datar layar ponselnya.

“GOSH!”

Yuri hampir menumpahkan serealnya saat mendengar teriakan Tiffany yang sangat keras. Bahkan gendang telinga nya hampir pecah.

“Ya!” kesal Yuri.

Tiffany terlonjak dari tengkurapnya dan berdiri tegak. Satu bantal berada di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang ponsel.

“Kyaaaaa~ Akhirnya Taeyeon mengirimiku pesan!”

Tiffany berteriak histeris. Bantal yang tadi berada di tangan kirinya kini sudah melayang dan mengenai Yuri. Otomatis mangkuk berisi sereal milik Yuri terjatuh ke lantai.

“Ddilfany sinting! Lihat! Serealku jatuh, bodoh! Argh!” semprot Yuri.

Tiffany menunjukkan wajah tak berdosanya.

“Mianhaee~”

Yuri memutar bola matanya malas. “Bereskan itu. Aku ingin tidur.”

Yuri berbalik meninggalkan kamar Tiffany. Tak lupa umpatan dan makian dia ucapkan di tiap langkahnya pergi.

Tiffany sendiri masih tak merasa bersalah dan membekap mulutnya sendiri. Menahan rasa histerisnya karena isterinya mengiriminya pesan terlebih dahulu setelah sekian lama mereka hilang kontak. Apalagi Taeyeon sangat sibuk dengan acara keliling dunianya.

Dan isi pesannya mampu membuat jantung Tiffany berdentum keras meskipun gadis imut itu tidak secara terang-terangan mengatakan bahwa ia cemburu.

Aku bisa membeli eskrim yang lebih enak dan mahal dari yang si monyet hitam berikan padamu. 

– Taeyeon

Senyum Tiffany mengembang liar. Dengan cekatan gadis itu membalas pesan sahabat tercintanya.

Oh yeah? Bisa kau berikan padaku sekarang?

– Tiffany

Tak menunggu waktu lama untuk mendapat balasan, notifikasi kedua terdengar dari ponsel gadis bereysmile.

Tidak sekarang, sayang.

– Taeyeon

Tiffany menggigit bibir bawahnya dengan memejamkan matanya. Dia menepuk-nepuk ranjang dan menahan teriakan histerisnya. Taeyeon memanggilnya ‘sayang’ for God sake! 

Lalu kapan, huh?

– Tiffany

Setelah membalas, Tiffany meletakkan ponselnya di ranjang. Kemudian mengatur nafasnya yang tak beraturan. Dia mendengar bunyi notifikasi lagi dari ponselnya.

Sekembalinya aku ke Korea. I give you an Ice cream and you give me strawberry shortcake ;’) 

– Taeyeon

Pesan terakhir Taeyeon membuat Tiffany membuka mulutnya tak percaya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali memastikan isi pesan tersebut asli dari sahabat tercintanya. Benarkah Kim Taeyeon memintanya untuk-…

Oh my God! Strawberry shortcakes?! 

Tiffany pasti gila membayangkan hal itu terjadi. Dan juga sejak kapan Taeyeon tahu kata-kata Urban tersebut?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END

 

 

 

 

 

Jangan tanya apa. Gw cuma kepikiran ni ff pas liat yulti date wkwkwk

See ya next chap~

 

 

Sweet Love (Chapter 10)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Taeyeon membuka matanya dengan menyipit. Dia menekan kepalanya yang terasa pusing. Tangannya ia edarkan ke samping, berharap isterinya masih disampingnya. Namun yang di dapatkannya hanya ranjang kosong. Tiffany pasti sudah bangun terlebih dahulu. Taeyeon mengerang. Dia menyandarkan tubuh polosnya di sandaran ranjang sebelum menutup matanya pelan. Dia bingung akan memberikan alasan apa pada Tiffany mengenai kejadian semalam. Taeyeon tidak mau membuat isterinya merasa sedih karena hal ini. Dia sedikit tahu bahwa ternyata orangtua Jessica, bahkan Yoona masih mengharapkan dirinya dan Jessica kembali bersama.

Saat masih memikirkan alasan untuk Tiffany, pintu kamarnya terbuka pelan. Dia melihat Tiffany dengan pakaian santainya. Wanita itu pasti sudah membersihkan dirinya. Taeyeon tersenyum kecil saat melihat beberapa tanda merah yang mulai membiru di sekitar leher isterinya. Hasil karyanya semalam. Tiffany mendekat ke arah Taeyeon dan mendudukan pantatnya di samping suaminya.

“Gwaenchanha? Kau terlihat pucat, TaeTae.” Tiffany meletakkan punggung tangannya di dahi Taeyeon. Wanita imut itu menggeleng. Dia meraih tangan Tiffany di dahinya dan mengecupnya. Disusul kecupan singkat di bibir isterinya.

“Nan gwaenchanha, sayang.”

Tiffany mendesah pelan. “Kalau begitu. Pergilah mandi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua.”

Taeyeon mengerutkan keningnya. “Mana sarapan wajibku?”

Tiffany memutar bola matanya. “Tak ada sarapan wajib. Kau sudah mendapatkannya semalam suntuk.”

Tiffany segera melarikan diri dari Taeyeon sebelum wanita itu menerkamnya kembali. Taeyeon berteriak, namun Tiffany mengacuhkannya dan tetap melangkah keluar. Taeyeon mengerucutkan bibirnya dan membuang selimutnya ke sembarang arah. Dia bangkit dan menghentakkan kakinya di lantai, persis seperti anak kecil yang tidak dituruti kemauannya. Dia akhirnya melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

 

Taeyeon menyeret kakinya malas kebawah, dimana isterinya berada. Dia masih kesal karena Tiffany tidak memberikannya morning kiss. Benar-benar tipikal suami kekanakkan. Tiffany yang melihatnya menghela nafasnya pelan. Dia mendekat ke arah Taeyeon dan langsung menarik wanita itu. Tiffany meraih wajah Taeyeon dan langsung melumat bibir suaminya dengan lumayan panas. Taeyeon yang melihatnya sedikit terkejut, namun detik kemudian, dia sudah melingkarkan tangannya di pinggang isterinya dan mulai membalas lumatan isterinya. Setelah keduanya hampir kehabisan oksigen, Tiffany yang berinisiatif melepas ciuman panas mereka. Keduanya terengah. Tiffany menjatuhkan kecupan singkat sebelum berbicara.

“Sudah, kan?”

Taeyeon menunjukkan cengiran lebarnya. Dia menggumamkan kata terimakasih sebelum memeluk isterinya kemudian menggandengnya ke ruang makan.

“Whoahh, ini makanan favoritku semua. Gomawo, Pany-ah.” Taeyeon menatap isterinya dengan berkaca-kaca sebelum menyantap sarapan mereka dengan semangat. Tak ada makanan yang lebih enak dari makanan buatan isterimu. Itu prinsip Taeyeon. Semua masakan Tiffany ia buat dengan cinta. Taeyeon menyukai itu.

Saat Taeyeon tengah asik menyantap sarapannya, Tiffany berdehem lalu mulai bertanya sesuatu pada suaminya.

“Me- Mengenai semalam…”

Taeyeon meletakan sumpit di meja cukup keras, membuat Tiffany menghentikan ucapannya. Tiffany melihat Taeyeon membawa kursinya dan menempatkannya di sampingnya lalu meraih kedua tangan Tiffany.

“Fany-ah, percaya padaku apapun yang terjadi. Meskipun langit runtuh, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun semua orang tidak berpihak pada cinta kita, aku berjanji tidak akan pernah melepasmu. Meskipun banyak yang lebih baik darimu, aku berjanji tidak akan pernah mencoba bermain di belakangmu. Itu janjiku, Fany-ah.”

Tiffany melihat raut kesungguhan di wajah Taeyeon. Itu yang membuat matanya memanas karena terharu. Dia mengangguk dan tersenyum manis. Setetes cairan bening mengalir di pipinya. Taeyeon menghapusnya sebelum memeluk isterinya erat. Tiffany terisak. Dia percaya pada ketulusan Taeyeon. Dia hanya merasa bahagia. Bahagia karena Taeyeon. Mengenai kejadian semalam biarlah tak diketahuinya. Tiffany percaya Taeyeon tak akan menyakitinya. Taeyeon sudah berjanji padanya. Tiffany merasakan kecupan di kepalanya disusul gumaman yang masih bisa di dengarnya.

“Mianhae, neol saranghae.”

***

Yuri membuka matanya perlahan karena sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamarnya dan menyilaukan indera penglihatannya. Dia melihat kekasihnya masih terlelap di sampingnya. Yuri tersenyum pelan. Dia mengelus wajah kekasihnya dengan sayang sebelum menjatuhkan kecupan di bibir mungilnya. Setelah itu, Yuri bangkit dari tidurnya dan bergegas membersihkan tubuhnya yang lengket karena berkeringat akibat kegiatan panas mereka semalam.

Butuh waktu tiga puluh menit untuknya membersihkan diri. Setelah selesai berpakaian, Yuri mendekat ke ranjang untuk membangunkan kekasihnya. Dia menghela nafas pelan. Membangunkan kekasihnya sama saja dengan membangunkan mayat hidup. Jessica adalah ratunya tidur. Dia tidak akan bangun meskipun ada gempa sekalipun. Dan cara ampuh untuk membangunkannya adalah menceritakan hal lucu untuk membuatnya tertawa dan akhirnya terbangun. Yuri berpikir lelucon apa yang akan diceritakannya pada Jessica.

Yuri mendesah. Dia tak punya bahan lelucon untuk Jessica. Dia akhirnya melakukan hal yang akan membahayakan dirinya sendiri. Sebelumnya Yuri juga pernah melakukan ini dan berakhir pipinya yang lebam beberapa hari. Yuri menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya, bersiap membangunkan Jessica.

“Jung Hee- maksudku- Sicaya~ bangun, sayang.” Yuri mengelus pipi Jessica sebelum mendekatkan wajahnya ke arah bibir mungilnya.

Yuri hanya menempelkannya sebelum bergerak melumatnya perlahan. Jessica masih tak sadar. Namun Yuri terus melumat, menggigit, dan menghisap bibir Jessica. Kali ini lebih menuntut. Jessica mulai merasa ada yang tidak beres diatas tubuhnya. Dia mengerjapkan matanya perlahan dan terkejut melihat seseorang sedang menciumnya. Jessica membulatkan matanya dan segera menendang seseorang diatasnya. Tak lupa disusul teriakan lumba-lumbanya. Yuri menahan napasnya saat pantat nya menyentuh lantai yang keras. Belum tendangan maut Jessica di perutnya tadi. Dia merasakan tubuhnya sakit hampir keseluruhan.

“Y-Yul..” lirih Jessica saat melihat Yuri terjatuh dibawahnya. Dia hendak menolong Yuri namun dia cepat-cepat berhenti saat melihat tubuh polosnya. Dia langsung lari terbirit dengan selimut yang melilit tubuhnya ke kamar mandi. Dia malu mengingat kejadian semalam. Jujur itu pertama kali mereka melakukan ‘itu’.

Yuri menghela nafasnya dan bangkit meskipun pantatnya terasa sakit. Sudah Yuri bilang, membangunkan Jessica dengan cara ini sangat berisiko. Dia akhirnya menunggu Jessica membersihkan dirinya sembari bermain game di ponselnya.

Jessica menghela nafasnya pelan sebelum melangkah keluar dari kamar mandi. Dia mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan Yuri yang pasti akan menanyainya tentang kejadian semalam. Jessica melihat Yuri menoleh padanya sekilas dan kembali memainkan ponselnya lagi. Dia mendekati Yuri dan duduk disampingnya.

“Yul..”

“Hmm.”

“Ya! Kenapa jawabanmu hanya hmm! Kau berani marah padaku?!”

Yuri menelan ludahnya melihat hell-sica. Dia segera menggelengkan kepalanya cepat dan melempar ponselnya di samping ranjangnya. Jessica menghela nafasnya. Tidak seharusnya wanita dingin itu yang marah, tapi bagaimanapun juga, Jessica benci jika Yuri mengabaikannya dan marah padanya.

“T- Tentang kejadian semalam..”

“Gwaenchanha. Aku menikmatinya.”

Jessica menatap Yuri dengan death glare nya. Yuri meringis dan mengangkat jarinya membentuk huruf V.

Jessica menghela nafas lagi. “Semalam Daddy mengajak dinner.. bersama Taeyeon. Entah apa yang ada dipikiran pria tua itu, dia mencampurkan obat perangsang di wine yang kami minum. Dan kau tahu bagaimana kelanjutannya hingga aku sampai di apartemenmu.”

Yuri menganggukkan kepalanya paham. Dia seperti berpikir sesuatu.

“Kau marah?” tanya Jessica.

“Untuk apa aku marah saat kekasihku ini sangat hebat menahan hormonnya untuk datang kesini? Kau tidak melakukan itu dengan Taeyeon kan meski dulu kau sering melakukannya dengan wanita pendek itu?”

Jessica tersenyum. Dia lalu memeluk Yuri dengan erat. Jessica tidak salah pilih orang untuk menjadi kekasihnya, bahkan calon tunangannya. Dia bersyukur mendapat seseorang yang sangat mengerti dirinya, selain Taeyeon pastinya. Lupakan, mereka hanya masalalu. Jessica semakin mengeratkan pelukannya pada Yuri.

“Gomawo, seobang. And I love you~” Jessica sedikit mendongak untuk mengecup bibir Yuri. Dia tertawa melihat ekspresi terkejut Yuri. Namun itu tak berlangsung lama. Yuri menyusul Jessica untuk tertawa bersama.

***

Sudah tiga hari semenjak tragedi dinner bersama Daddy Jung. Hubungan pasangan TaeNy dan YulSic makin menghangat. Mereka sudah melupakan kejadian hari itu dengan berpikir bijak. Kesetiaan pasangan mereka perlu diacungi jempol. Bahkan kini mereka berempat mengadakan double date di salah satu restoran favorit Tiffany. Restoran milik salah satu sahabatnya, Sooyoung. Beruntung bagi mereka, semua makanan yang mereka pesan tak berbayar alias gratis. Mereka awalnya menolak. Namun Sooyoung terus memaksa sehingga mereka mengalah. Sooyoung berkata bahwa itu adalah bentuk traktirannya karena tidak ikut hadir dalam acara pernikahan sahabatnya, Tiffany.

“Yul, kapan kau akan menikahi mantan kekasihku itu?” tanya Taeyeon yang dibalas deheman keras dari Jessica. Wanita itu juga berpura-pura batuk. Sedangkan Tiffany membalas pertanyaan Taeyeon dengan memutar bola matanya malas.

“W-Wae? Dia memang mantan kekasihku. Mantan terindah.” Taeyeon mengerucutkan bibirnya. Dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Itu adalah bentuk pencairan suasana darinya. Sesekali melempar lelucon tidak akan membunuhmu, iya kan? Jessica memperlihatkan ekspresi muntahnya setelah Taeyeon berkata itu.

“Hentikan ucapan idiotmu, Taeng. Kau membuatku ingin menumpahkan air ini ke wajah sok polos mu.”

“Aish lihat dia, Fany-ah. Dia sangat kasar. Beruntung sekarang aku memilikimu. Isteri tercantik dan terbaik sepanjang masa.” Taeyeon memeluk Tiffany dengan erat. Jessica memutar bola matanya malas.

“Aigoo aigoo. Lihatlah dia Sicababy. Kau harus bersyukur tidak jadi bersama wanita bocah seperti dia. Sangat menggelikan.” ucap Yuri membela kekasihnya. Jessica tertawa dan mengangguk.

“Ne, Seobang. Aku beruntung memiliki calon suami keren, dewasa dan TINGGI sepertimu.” balas Jessica menekankan kata ‘tinggi’ di hadapan Taeyeon.

“Yaish, kenapa ini menjadi acara review mantan isteri dengan isteri, sih? Kita kemari untuk makan bukan saling mengejek.” semprot Tiffany. Mereka bertiga langsung diam di tempat. Tak berani bicara melihat hell-fany.

“Lagipula Taeyeon sangat hebat di ranjang.” gumam Tiffany yang sayangnya masih bisa di dengar ketiga orang disana.

“YA!!!” koor semua. Tiffany menunjukkan cengiran lebarnya seraya mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.

“Dia juga romantis, kau tahu.”

“HWANG MIYOUNG!” teriak YulSic. Taeyeon menanggapinya dengan tertawa. Sepertinya double date kali ini lebih menyenangkan dari yang mereka pikir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

Waww did u guys miss meh? Wkk 😀

Ane bawa yg manis2 dulu sebelum badai (?) dateng. Tapi doain aja gaada eh tp klo gaada badai ga seru dong. Ah bodo wkwk. Yeps tunggu ajeu angin topannya hahaha.

Bye~ see u next chap

Tanya Iseng

Assalamu’alaikum

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jawab salam dulu sebelum lanjut baca..

Udah?

Ok bagus wkwk

Cuma nanya iseng doang sih. Gw mau ngasi usul gimana kalo bikin grup chat. Sekalian gw mau kenalan sama readers readers disini juga biar lebih deket (?)

Siapapun bisa join kok. Gak ada rules2 an basi lah. Cuma buat fun aja sama sharing2 info SNSD atau Taeny dan lain sebagainya. Bisa juga buat CPN kok (Curhat, Promo, Nanya) wkwk

Gimana?

Yang setuju kolom komentar terbuka buat absen siapa aja yg mau join. Yang gamau yaudah orang hak2 kalian ini.

Oh ya, buat yang pingin gabung nanti bakal ada kemudahan (?) kalo semisal ada ff yang gw protek nantinya. Moga2 aja sih gw baik terus biar gaada pw2 an wkwk.

Okeh sekian nanya iseng dr gw. Gw tunggu respon kalian.

Pai pai~ see ya

Sweet Love (Chapter 8)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Sub Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

Yoona masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan didengarnya. Meskipun Taeyeon sudah menjelaskannya hingga men-detail, dia tetap saja masih sulit menerimanya. Dia seperti dimainkan oleh takdir. Bagaimana bisa seseorang yang dinyatakan meninggal masih hidup sampai sekarang? Yoona bahkan tidak sampai berfikir ke arah sana. Dia masih menatap nanar Jessica di depannya.

“Aku tahu ini sulit untukmu, Yoong. Tapi dia benar Jessica, Unnie kesayanganmu.” ucap Taeyeon.

Jessica tak jauh lebih baik. Matanya memerah menahan tangis. Adik kesayangannya, yang bahkan tidak ia duga akan bertemu dalam kondisi seperti ini berada tepat di depannya. Sungguh dia sangat merindukan dongsaeng choding nya.

“Bagaimana kabar Soojungie, Yoong-ah?” tanya Jessica. Pertahanan Yoona runtuh. Dia berlari ke arah Jessica dan memeluknya erat. Air mata yang ditahannya keluar dengan deras. Begitu juga dengan Jessica. Dia menepuk-nepuk punggung Yoona, meski dirinya juga tak kuasa.

“Unnie bogoshipda, neomu.” lirih Yoona. Jessica mengangguk mengerti. Dia juga mengatakan hal yang sama pada Yoona.

Taeyeon melihatnya dengan haru. Dia mendekat ke arah Jessica dan Yoona untuk bergabung memeluk mereka.

“Aku juga merindukanmu.” ujar Taeyeon dengan tangisan yang dibuat-buat. Yoona melepas pelukan mereka dan menatap tajam Taeyeon. Jessica terkekeh melihat Taeyeon dan Yoona. Sudah lama dia tidak melihat interaksi seperti ini.

“Ck, kau mengganggu suasana, Unnie!” kesal Yoona.

Taeyeon tertawa ahjumma melihat reaksi adik nya. Dia senang menggoda Yoona. Beruntung apa yang dilakukannya bisa mencairkan suasana. Kalau boleh jujur, dia sedikit tak suka melihat orang yang disayanginya menangis.

Yoona mengusap air mata nya dengan punggung tangannya. “Maaf aku menanyakan hal ini pada kalian. Bagaimana dengan… h-hubungan kalian?” Jujur Yoona penasaran dengan Taeyeon dan Jessica. Mereka adalah couple favoritnya dari dulu. Bahkan dia menjadi orang pertama yang mendukung hubungan mereka. Yoong sangat menyayangi keduanya.

Taeyeon memandang ke arah Jessica dan tersenyum. “Kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami, sebagai seorang kakak dan adik.”

Terlihat raut kecewa dari wajah Yoona. “Padahal aku mengharapkan kalian bersama.” gumam Yoona yang sayangnya masih bisa di dengar Taeyeon.

“Ya! Kau tidak lihat isteriku disana? Dia tak kalah cantiknya dengan Sooyeon. Bahkan dia hebat di ranjang, kau tahu?” bela Taeyeon.

Tiffany mendelik mendengar ucapan suaminya. Namun Taeyeon mengabaikannya dan menatap Yoona kesal.

“Ye ye algesseumnida. Maaf karena tidak datang di acara pernikahan kalian.”

“Ya gadis nakal! Kenapa kau tidak datang, ha? Aku tahu kau sama sekali tidak sibuk di Paris.” Taeyeon menyedekapkan tangannya dan menatap Yoona dengan tatapan mengintimidasi.

“Ya jangan memarahiku! Aku hanya tak suka kau secepat itu menikah dan melupakan Sica Unnie!” balas Yoona tak mau kalah.

“YA!”

“YA!”

“IM CHODING!”

“KIM MIDGET!”

“HENTIKAN!” teriak Jessica. Dia menarik telinga Taeyeon dan Yoona dengan keras. Mereka menjerit kesakitan namun tidak dipedulikan Jessica.

“Kalian masih saja sama. Ingat umur kalian, apalagi kau Taenggu, kau sudah menikah!”

“Ne ne ne. Kami tidak akan melakukannya lagi. Jadi, lepaskan Sica-ya. Ini sakit. Yoong, lakukan sesuatu!”  Taeyeon menatap Yoona mencari bantuan.

“Taeng Unnie benar. Maafkan kami, kami tidak akan melakukannya lagi.”

Jessica mendengus dan melepas mereka berdua. Taeyeon segera berlari ke arah isterinya dengan merengek.

“Appo, Fany-ah.”

“Rasakan sendiri!” ucap Tiffany dingin. Taeyeon membuka mulutnya.

“Heol, daebak.” Dia menatap Yoona, Jessica, dan Yuri disana.

“Aku ada urusan dengan isteriku sebentar. Kalian ngobrol saja dulu, anggap saja rumah sendiri.” Setelah mengatakan itu, Taeyeon menarik Tiffany ke kamar mereka.

“W-Wae?” tanya Tiffany sesampainya mereka di kamar. Taeyeon mengunci pintu kamar dan mendekat ke arah isterinya.

“Kau harus dihukum karena tidak perhatian dengan suamimu yang cantik dan tampan ini.”

“Kau tidak bi-” Ucapan Tiffany terhenti saat bibirnya di bungkam dengan bibir milik Taeyeon. Taeyeon melepas kecupannya dan menatap manik isterinya.

“Kau tahu? Aku menahan hormonku sedari tadi.” Taeyeon menarik tangan Tiffany dan menjatuhkannya ke ranjang. Dia menindih tubuh isterinya dengan kedua tangannya berada di samping kepala Tiffany untuk menyangga.

“Kau tidak akan melakukan itu lagi, kan?”

Alis Taeyeon menyatu. “Itu ide bagus. Aku akan melakukannya lagi kalau begitu.”

“T-Taeyeon, kita sudah melakukannya berpuluh-puluh ronde. Kau tidak puas dengan itu?”

“Aku tidak akan pernah puas jika itu denganmu, sayang.” Taeyeon mengusap pipi isterinya, membuat Tiffany menelan ludahnya.

Taeyeon memajukan wajahnya dan mengecup leher isterinya. Tiffany sebenarnya ingin menolak, tidak sopan melakukan hal itu saat sedang ada tamu diluar. Namun apalah daya, dia selalu tak kuasa jika sudah dibawah kendali suaminya. Yang dilakukannya hanya menutup mata dengan menggigit bibir bawahnya dan menggenggam seprei dengan kencang.

Tangan nakal Taeyeon perlahan membuka kancing kemeja Tiffany. Selama itu pula bibirnya tak pernah lepas mengeksplor tubuh isterinya. Tangan kanan Tiffany ia gunakan untuk menjambak rambut Taeyeon dan menekannya.

“UNNIE! UNNIE! BUKA PINTU NYA!” Yoona menggedor pintu kamar TaeNy dengan keras, seperti terburu-buru.

Taeyeon menarik wajahnya dari dada isterinya dan berdecak pelan.

“UNNIE BUKA PINTU!” teriakan Yoona semakin kencang. Taeyeon mengusap wajahnya frustasi dan bangkit dari tubuh isterinya. Dia mengancingkan kembali kemeja Tiffany.

“UNNIE!”

“BERISIK! TUNGGU SEBENTAR!”

Setelah selesai mengancingkan kemeja Tiffany dan merapikan penampilan mereka, Taeyeon berjalan menuju pintu dan membukanya dengan kesal.

“Wae?” tanya Taeyeon malas.

“Sica Unnie ingin pergi ke rumah Daddy dan Mommy. Dia ingin menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka. Maka dari itu, kau harus ikut untuk membantu menjelaskan.” jawab Yoona dengan jelas.

Taeyeon tersadar. Jessica belum memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi kepada orangtua nya dan juga adiknya. Taeyeon juga sudah lama tidak berkunjung ke rumah mantan calon mertua nya itu. Dia masuk kedalam kamar untuk mengambil jaket.

“Ayo, Yoong.” Taeyeon menarik tangan Yoona. Dia menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu dan berbalik. Tiffany masih berdiri di depan pintu.

“Apa yang kau lakukan disana, sayang? Ayo ikut.”

Tiffany masih diam di tempatnya dengan wajah bingung. Taeyeon menepukkan dahinya dan berjalan ke arahnya lalu menarik tangan isterinya.

“Bagaimana kabar Daddy dan Mommy, Yoong?” tanya Taeyeon saat mereka turun dari tangga.

“Mereka baik-baik saja. Hanya terkadang, Daddy terkena flu saat kelelahan.” jawab Yoona.

Taeyeon mengangguk. Mereka memang sudah terbiasa memanggil orangtua Jessica dengan sebutan Daddy dan Mommy seperti yang dilakukan Jessica dan Krystal. Mereka sudah sangat dekat seperti orangtua kandung sendiri. Apalagi dulu Taeyeon dan Jessica sudah bertunangan, dan Yoona dengan Krystal merupakan sepasang kekasih.

Saat turun dari tangga terakhir, Taeyeon, Tiffany, dan Yoona sudah disambut dengan pasangan YulSic. Sepertinya Jessica sudah sangat tidak sabar bertemu orangtuanya.

“Kau begitu merindukan mereka, eoh?” tanya Taeyeon. Jessica mengangguk dengan semangat.

“Aku merindukan Mom, Dad, apalagi Soojungie.”

“Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang.” Taeyeon merangkul bahu isterinya dan berjalan ke luar rumah, dimana mobil mereka terparkir.

***

Sudah hampir sebulan semenjak kedatangan mereka ke rumah orangtua Jessica. Rumah tangga Tiffany pun bisa dikatakan semakin membaik dari hari ke hari. Taeyeon selalu memperlakukan Tiffany layaknya seorang puteri. Dia tidak pernah membuat Tiffany menangis lagi. Hanya ada kejutan romantic, malam yang penuh dengan kasih, hingga perhatian kecil dari wanita imut itu yang mengisi hari Tiffany. Wanita itu seperti sama sekali tidak kekurangan cinta dari Taeyeon.

Namun disamping itu semua, Tiffany selalu merenung sendirian saat sedang tidak bersama Taeyeon karena wanita itu tengah bekerja. Dia teringat percakapannya dengan orangtua Jessica. Ditambah fakta jika adik kesayangan Taeyeon, Yoona, yang belum menerima dirinya sepenuhnya. Dia pikir itu hal wajar karena Taeyeon dan Jessica sudah bersama selama bertahun-tahun. Orang-orang terdekatnya sangat mendukung mereka.

Tapi tetap saja. Tiffany adalah isteri sah Taeyeon. Bisakah mereka melihat itu? Dan kegelisahannya bertambah sejak seminggu yang lalu. Orangtua Taeyeon juga sama seperti orangtua Jessica dan Yoona saat mengetahui mantan kekasih Taeyeon itu masih hidup sampai sekarang. Mereka bahkan lupa Tiffany adalah menantunya.

Tiffany tidak pernah mengatakan hal ini pada Taeyeon. Dia tidak ingin Taeyeon merasa bersalah nantinya. Tiffany tahu Taeyeon sudah benar-benar menyukai, bukan, mencintainya. Dia merasakan ketulusan hati suaminya. Jikalau Taeyeon diberi pilihan untuk memilih satu diantara dia dan Jessica, sudah pasti Taeyeon akan memilihnya. Bukan Tiffany terlalu percaya diri, namun Taeyeon pernah mengatakan hal tersebut padanya. Dia merasa tenang dengan itu.

Namun bukan itu masalahnya. Orang-orang terdekat Taeyeon dengan tidak di duga (masih) mendukung dia dengan mantan kekasihnya itu. Itu adalah masalah baginya. Kalau saja Taeyeon menerima perjodohan mereka atas dasar permintaan orangtuanya, mungkin saja dia akan menuruti orangtuanya kembali jika orangtuanya itu meminta dirinya kembali pada Jessica, bukan?

Tiffany menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia mengerang dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ini adalah hal yang Tiffany benci dari pikirannya. Dia sudah tidak bisa berpikir bijak lagi seperti sebelum Taeyeon menghilang dengan Jessica dulu. Dia seperti sudah tidak akan pernah bisa melepas dan mengikhlaskan Taeyeon lagi. Praktisnya, dia sudah ketergantungan dengan suaminya, dia sudah terbiasa dengan keberadaan Taeyeon disisinya, dia sudah sangat mencintai Taeyeon-nya.

“Aaaaaargh~” teriak Tiffany.

Dia menoleh ke samping saat ponselnya berdering. Dia mengambilnya dan melihat nama suaminya terpampang disana. Dengan cepat, dia menggeser ikon berwarna hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.

“Yeoboseyo, Tae.”

“Ah, Fany-ah. Kau sedang apa dirumah?” 

“Aku? Hanya berbaring di ranjang. Kenapa?”

“Hum, maaf mengatakan ini. Tapi aku akan terlambat pulang. Kau tidur dulu saja, jangan menungguku pulang, ne?” 

“Apa pekerjaanmu sangat banyak?”

“Ne, sangat banyak. Kalau begitu, aku tutup telfonnya dulu ya. Annyeong.” 

“Tapi, Tae-…”

Tuut… tuut… tuut

Tiffany belum sempat bertanya lagi pada Taeyeon, suaminya itu sudah menutup telfonnya. Dia menghela nafasnya dan melempar ponselnya ke samping. Tiffany menggigit bibir bawahnya. Entah bagaimana, tetapi tiba-tiba perasaannya tak enak. Dia menutup matanya dan berdo’a semoga perasaannya salah. Ya, Tiffany berharap itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maapkeun atas keterlambatan post yang jadwalnya tadi malem. Gw ketiduran gaes hahaha.

Oke enjoy read~

Pai pai~ see u next chap~

Sweet Love (Chapter 7)

Title : Sweet Love

Main Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Other Cast : find by yourself

Genre : GXG

Author : N

.

.

.

 

 

Sunday morning di kediaman keluarga Kim. Meskipun jam menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit waktu setempat, tanda-tanda kehidupan belum muncul disana. Taeyeon asik bergumul dalam selimutnya yang menutupi tubuh polosnya. Hal yang sama berlaku pada Tiffany, tetapi bedanya, wanita itu sudah terbangun dan sibuk mengamati wajah suaminya yang tertidur pulas dengan memeluk pinggangnya. Ada perasaan yang membuncah mengingat kejadian semalam yang sangat luar biasa. Pipi Tiffany memerah membayangkannya. Itu merupakan malam pertama mereka sebagai suami-isteri walaupun mereka menikah sebulan yang lalu.

Tiffany merasakan pergerakan dari samping ranjangnya. Dia melihat Taeyeon menggeliat sebelum perlahan membuka matanya. Mata mereka bertemu pandang. Taeyeon tersenyum dan memajukan wajahnya untuk mengecup bibir yang kini menjadi candunya.

Good morning, yeobo.”

Tiffany tersenyum dan melakukan hal yang sama pada Taeyeon. “Morning, boo.

Taeyeon terkekeh. Dia mengelus wajah isterinya. “Ingin mandi bersama?” tanya Taeyeon dengan senyuman menggoda.

Tiffany membuang mukanya dan menutupinya dengan selimut. Taeyeon malah tertawa melihatnya. Dia menarik selimut dari wajah Tiffany dan menarik isterinya menuju kamar mandi. Tiffany menghembuskan nafasnya pasrah dan mengikuti suaminya ke kamar mandi untuk mandi bersama.

 

Mandi yang biasanya Tiffany habiskan selama empat puluh menit kini menjadi lebih lambat dua jam. Itu karena suaminya terus memakannya tanpa ampun. Apa semalaman suntuk bagi Taeyeon belum puas? Tiffany menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan byun suaminya. Meskipun begitu, dia tetap saja menikmati permainan Taeyeon yang begitu lihai. Dia tak menyangkalnya. Taeyeon-nya sangat sexy dan manly disaat yang bersamaan saat melakukannya.

“Pany-ah, aku lapar.” rengek Taeyeon.

“Kau lapar? Arrasseo aku akan membuatkan makanan.” Tiffany beranjak dari sofa menuju pantry. Dia membuka lemari pendingin untuk melihat apa saja bahan makanan yang mereka miliki.

“Taeyeon kita memiliki bahan makanan yang cukup lengkap. Kau ingin aku memasakan apa? Korean, western, chinese?” teriak Tiffany.

Taeyeon menunjukkan ekspresi berpikirnya. Dia meletakkan telunjuknya di dagu dengan kedua alisnya yang menyatu.

“TaeTae!” teriak Tiffany makin kencang karena suaminya lama tidak membalas.

“Arrasseo, western saja!”

“Bagaimana kalau bacon?” tanya Tiffany.

Call!

Tiffany mulai memasakan sarapan untuk mereka, sementara Taeyeon sibuk bermain game The Sims di laptopnya. Entah karena Tiffany terlalu lama atau perut Taeyeon sudah tidak bisa berkompromi lagi, Taeyeon malah berguling-guling tidak jelas di lantai. Game The Sims favoritnya tak bisa jadi penghiburannya.

“Astaga, Taeyeon! Apa yang kau lakukan?” Tiffany menurunkan rahangnya saat melihat kelakuan suaminya. Taeyeon menghentikan aksi guling-gulingnya dan berdiri.

“Apa makanannya sudah jadi?” tanya Taeyeon dengan berbinar. Tiffany mengangguk pelan.

“Assa! Suapi aku!” teriak Taeyeon girang.

“Kau bukan anak kecil lagi, Tae.”

Ucapan Tiffany malah membuat tingkah Taeyeon menjadi. Di berbaring di lantai dan terus berguling-guling dengan merengek tidak jelas.

Fine!” ucap Tiffany pada akhirnya. Taeyeon berhenti. Dia berdiri dengan senyum bahagia dan berlari ke arah isterinya. Dia meraih wajah Tiffany dan melumat bibirnya sebentar. Setelah itu menarik tangannya menuju meja makan. Dia seperti anak kecil yang menyeret tangan ibunya untuk membeli sesuatu yang diinginkannya saja.

Tiffany mulai menyuapi bayi besarnya. Sesekali menyuapi dirinya sendiri karena dia juga lapar. Taeyeon memakan masakan isterinya dengan terus memuji kemampuan memasak Tiffany.

“Ini sangat enak, Pany-ah. Aaah, beruntungnya aku memiliki isteri sepertimu.”

“Telan dulu makananmu, TaeTae!” Tiffany mengingatkan, namun suaminya tak mengindahkannya.

“Kau tahu, Sica tak bisa memasak. Setiap hari aku yang memasak, tidak sepertimu. Hwaa aku makin mencintaimu kalau seperti ini~” Taeyeon memeluk Tiffany erat dan mengecup bahu dan lehernya berkali-kali.

Tiffany senang mendengarnya meski harus dibandingkan dengan mantan kekasih Taeyeon. Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi. Taeyeon melepas pelukannya.

“Biar aku yang membukanya.” ucap Taeyeon dengan mengedipkan sebelah matanya genit. Tiffany tertawa dan mengusir Taeyeon untuk cepat membuka pintu.

“Tebak tamu kita siapa, Fany-ah?” Taeyeon tiba-tiba muncul di depan Tiffany. Wanita yang lebih muda menggeleng tak tahu.

“Taraa~” Taeyeon membalikkan tubuhnya dengan kedua tangan terulur ke depan, seperti mempersilahkan. Tiffany terkejut melihat siapa tamu mereka. Jessica dan Yuri. Ini kedua kalinya mereka bertemu.

“Annyeonghaseyo.” Jessica dan Yuri menundukan kepala tanda salam.

“A-Annyeong.” balas Tiffany dengan kaku.

“Santai saja, honey. Ayo kita ke depan untuk berbincang.” ajak Taeyeon. Jessica dan Yuri mengangguk. Mereka mulai berjalan ke ruang depan. Tak lupa Taeyeon menarik pinggang isterinya karena masih terkejut.

“Bagaimana kabar kalian?” tanya Taeyeon saat mereka sudah duduk. Dia masih memeluk pinggang Tiffany disampingnya.

“Kami baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?” tanya Yuri.

“Tak pernah sebaik ini…” Taeyeon tersenyum. “Ah ye, ada hal apa yang membuat kalian kemari?” tanyanya.

“Ah sebenarnya kami sengaja datang kemari agar lebih akrab saja. Kau tahu kan, ng- Jung H- maksudku Jessica- k-kami…” gagap Yuri. Taeyeon tertawa pelan.

“Ne ne, aku paham, Yuri-ah. Santai saja.”

“Tapi selain itu, ada hal tentang pekerjaan juga…”

“Kau ingin bekerjasama dengan perusahaan kami lagi, begitu?”

“Hmm seperti itulah.”

“Bagaimana kalau kalian membahas hal itu di tempat lain? Biar aku dan Tiffany mengobrol berdua dan kalian lebih leluasa membahas pekerjaan.” usul Jessica.

Taeyeon dan Yuri mengangguk setuju. Taeyeon menoleh ke arah isterinya dan mengecup keningnya. “Baik-baik dengan Sica, ne?” Setelah mengatakan itu, Taeyeon dan Yuri beranjak dan pergi ke ruang kerja Taeyeon di rumah.

Jessica tersenyum ke arah Tiffany setelah Taeyeon dan Yuri tidak terlihat. Tiffany membalasnya meski agak canggung.

“Jadi, Tiffany. Apa kau menerima pesan dariku seminggu yang lalu?” tanya Jessica.

Tiffany mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak. “Apa pesan dengan inisial JJ?”

“Ne, majayo. So, bagaimana Taeyeon padamu akhir-akhir ini?”

“Umm, dia menjadi sedikit lebih-… manja?”

Jessica membuka mulutnya dengan berbinar. “Jinjjaro? Whoah itu pertanda bagus!”

“Maksudmu?” Tiffany tak mengerti dengan ucapan Jessica barusan.

“Dulu saat kami belum resmi menjadi sepasang kekasih, Taeyeon sering bersikap manja kepadaku. Mungkin itulah cara Taeyeon untuk menunjukkan perasaannya dengan bersikap seperti itu agar mendapat perhatian lebih.”

“B-Benarkah?” tanya Tiffany. Dia senang mendengar kabar ini.

“Ne! Chukhahae, Tiff. Aku tahu bocah itu cepat atau lambat akan menyukaimu sebagai seorang wanita.” ucap Jessica dengan bersemangat. Dia senang mantan kekasihnya berhasil mencintai wanita lain selain dirinya. Dia ingin Taeyeon bahagia tanpa harus dengannya.

“Uhm, Jessie. Bolehkah aku bertanya?”

“Tentu, Tiff.”

“Selama Taeyeon tidak pulang ke rumah. Apa kau tahu dia ada dimana?”

Senyum yang mengembang di bibir Jessica lenyap setelah Tiffany bertanya hal tersebut. Dia melihat tatapan memohon dari Tiffany yang membuatnya tidak tega.

“Kumohon kau mendengarkan ini hingga selesai dan… kuharap kau tidak akan marah.” Jessica menggigit bibir bawahnya.

“Dia tinggal bersamaku. Itu adalah permintaan terakhirnya sebelum dia benar-benar melepasku, Tiff. Kumohon kau jangan salah paham.”

Tiffany tersenyum. Dia tahu itu pasti terjadi. Dia tahu Taeyeon pasti tinggal dengan Jessica. “Gwaenchanha, aku mengerti bagaimana perasaannya.”

Jessica tersentuh dengan ucapan Tiffany. Keputusannya benar untuk menyuruh Taeyeon tetap berada disisi Tiffany. Dia wanita yang begitu baik. Jessica menyesal pernah berpikir untuk kembali bersama Taeyeon saat tinggal bersamanya. Itu karena Taeyeon selalu membujuknya. Beruntung dia masih bisa berpikir waras dan tidak membiarkan perasaannya menang.

“Aku senang Taeyeon memiliki wanita secantik dan sebaik dirimu, Tiff.” Jessica menggenggam tangan Tiffany. Matanya terlihat berkaca-kaca. Tiffany melihat itu. Dia mengerti, dia sangat mengerti wanita di depannya masih mencintai suaminya itu dan merelakan perasaannya. Atau Tiffany sebut, perasaan mereka?

“Jika kalian masih mencintai, aku rela kalian bersama.” ucap Tiffany tiba-tiba. Jessica membulatkan matanya dan menggeleng cepat.

“Kau bicara apa, Tiff?! Jangan membuat ini semakin rumit. Taeyeon sudah mulai mencintaimu. Aku juga punya perasaan yang harus kujaga. Aku mencintai Yuri. Jangan bicara hal nonsense.” pekik Jessica.

“Meskipun aku masih memiliki perasaan pada suamimu, bukan berarti aku menginginkannya. Dia hanya masa laluku, Tiff. Begitu juga sebaliknya.” Ucapan Jessica berubah melembut.

“Berbahagialah dengannya, dan aku akan berbahagia dengan Yuri.” Jessica tersenyum tulus.

***

Seorang wanita berumur seperempat abad menepikan mobilnya di sebuah toko kue. Dia keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam. Dia melihat bermacam-macam kue terpajang di etalase. Namun dia tidak melihat kue yang ingin dicarinya. Dia memastikan kembali bahwa toko ini adalah toko langganannya dulu dengan kakaknya. Maklum saja, wanita itu baru pulang dari luar negeri selama bertahun-tahun.

“Permisi, apa disini ada kue-…”

Cheese cake matcha?” Belum sempat wanita itu menyebutkan nama kue yang dia inginkan, seorang pegawai disana sudah menyebutnya.

“Bagaimana kau ta- eoh, Shin Hye Unnie!” pekik wanita itu saat menyadari wanita di depannya adalah orang yang dikenalnya.

“Maaf, kami tidak memproduksi kue itu lagi karena pelanggan setia kami sudah tidak pernah membelinya.” sindir Shinhye pada wanita itu.

“Unnie…” rengek wanita itu.

“Hahaha. Baiklah, beruntung aku membuatnya tadi. Kau tunggu disini, ne?”

Wanita itu mengangguk dan menunggu Shin Hye mengambilnya.

“Ikeo kue nya. Tak usah bayar, anggap saja aku sedang mentraktirmu.”

“Whoaah, gomawo Unnie!”

“Cheonma. Cepat pergi hush hush. Kau pasti akan ke rumah Unnie mu itu kan?”

“Ne. Sekali lagi gomawo, Unnie. Aku pergi dulu, annyeong!”

Wanita itu keluar dari toko kue tersebut dengan kue favoritnya. Dia membayangkan reaksi Unnie nya saat dia membawakan kue tersebut untuknya.

Dia mulai melajukan mobilnya ke rumah yang akan dituju. Butuh waktu lima belas menit untuknya sampai kesana. Dia menepikan mobilnya disamping mobil lain di pelataran rumah tersebut. Dia berpikir itu adalah mobil Unnienya mengingat Unnie nya itu hobi gonta ganti mobil. Dia keluar dan berjalan ke pintu rumah tersebut.

“Apa passwordnya masih sama?” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Karena ingin memberi kejutan pada Unnie nya, wanita itu akhirnya mencoba membuka pintu dengan password yang dihafalnya dulu.

Klik

Pintu terbuka. Dia bersyukur Unnie nya belum mengganti password rumahnya. Dia segera berlari memasuki rumah.

“UNNIE AKU DATAAANG! TEBAK AKU MEMBAWA AP-…” Ucapan wanita itu terhenti saat melihat wanita yang dikenalnya. Mulutnya terbuka, matanya membulat sempurna. Dia menjatuhkan bungkusan kue ditangannya dan berjalan mundur.

“Tidak mungkin.” lirih wanita itu.

“Yoong?” panggil wanita di depan Yoong.

“Tidak mungkin.” Wanita itu masih menyerukan kalimat yang sama hingga dia terduduk lemas di lantai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

Gw gamau banyak cuap-cuap ah. Gw cuma mau minta maap apdet nya lelet. Wkwk gw masih pengin pacaran sama bantal dsb gaes wahaha alias tidur. Setelah stress mikirin tugas ukk dll kan enak tuh buat leyeh2 wkk. Oke bye.

Enjoy read~

Pai pai~ see u next chap ^^